Red Lips (V)


Cuaca Seoul yang cerah membuat Hye Hoon semakin bersemangat menjalani jadwalnya kali ini. Bukan jadwal bersih-bersih yang setiap hari menjadi rutinitasnya dulu, tentunya. Dia tak main-main ketika menyatakan dirinya ingin berhenti.

Setelah merasa cukup dengan penampilannya, Hye Hoon keluar dari flat-nya dengan langkah ringan. Gerak kakinya terhenti ketika melihat mobil sport dengan warna mencolok terparkir rapi di luar gedung tempatnya tinggal.

“Apa kau akan pergi ke suatu tempat?”.

Dalam hitungan detik, Hye Hoon mendapati Kyuhyun berdiri dengan pakaian formal di hadapannya. Ah, Cho Kyuhyun rupanya. Pantas saja mobil itu terlihat familiar.

Hari ini adalah hari istimewa untuk Hye Hoon karena dia sengaja meluangkan waktu untuk mengelilingi Seoul sebelum pulang ke rumah lamanya di Busan. Hye Hoon tak ingin suasana hatinya kacau sehingga tak bisa menikmati acaranya karena kedatangan pria itu.

Membungkukkan punggungnya singkat, Hye Hoon berlalu tanpa kata. Kyuhyun yang tak terima segera menghentikan mantan karyawannya itu agar tetap tinggal.

“Kau mau pergi kemana?”, katanya masih berusaha bersikap manis. “Kuantar”.

“Tidak perlu”.

Kali ini nada memerintah keluar dari pria otoriter itu. “Aku memaksa”.

Hye Hoon melepaskan diri dengan susah payah. Gadis itu berlari secepat mungkin agar Kyuhyun tak dapat menangkapnya. Crap. Kyuhyun selalu saja seenaknya. Apa Kyuhyun tidak tahu apa arti kehadirannya untuk yeoja itu? Hye Hoon tak yakin bisa melupakan Kyuhyun jika sering melihat wajahnya.

Setelah menunggu sekitar lima menit di halte bus paling dekat dari tempat tinggalnya, bis yang ditunggu Hye Hoon pun datang. Hye Hoon tak begitu menyadari keadaan sekitar karena terlalu dalam berkutat dengan pikirannya.

Seonnim, pecahan uangnya terlalu besar”, sang Supir menyela tatkala salah satu penumpangnya masuk.

“Ambil saja kembaliannya. Aku tak peduli”.

Kyuhyun tanpa ragu mengambil tempat duduk di sebelah Hye Hoon. Gadis yang belum menyadari jika dia diikuti seseorang itu sibuk mendengarkan lagu dari ponselnya.

“Oh rupanya kau suka musik klasik juga”, komentarnya setelah mengintip benda yang digenggam Hye Hoon. “Selera kita sama”, ucapnya sambil tersenyum.

Hye Hoon memutar lehernya, menutup mulutnya dengan kedua tangan saat menyadari siapa orang yang duduk di sebelahnya. Hye Hoon yang kaget memperhatikan sekitar. Hye Hoon sangat yakin jika dirinya benar-benar berada di dalam bis yang biasa tumpangi bukannya mobil Kyuhyun yang mahal.

“Bagaimana bisa?”, katanya pada dirinya sendiri.

Bibir Kyuhyun terangkat melihat tingkah gadis itu. “Tidak semua orang kaya alergi naik kendaraan umum”, candanya. “Dulu, setiap hari aku memakai bis untuk berangkat ke kampus”. Kyuhyun mendekatkan bibirnya ke telinga Hye Hoon lalu berbisik disana. “Ini rahasia. Coba tebak, aku tak pernah menceritakan ini pada orang lain selain dirimu”.

.

.

.
Kyuhyun bersikap layaknya penguntit pada umumnya. Dia mengikuti kemana gadis itu pergi dengan berjalan beberapa langkah di belakangnya.

Sebenarnya, ini kali pertama Kyuhyun melakukan hal ini dan dia yakin jika dirinya tak berbakat. Hye Hoon tentu saja mengetahui jika dia sedang diawasi. Beberapa kali gadis itu menoleh ke arahnya dengan wajahnya yang masam.

Melihat ekspresi lucu gadis itu, Kyuhyun tak kuasa menahan senyuman lebar di bibirnya.

Setelah beberapa lama mengelilingi Cheondamdong, Hye Hoon memutuskan untuk mengunjungi butik pertamanya. Dia bertekad untuk memanjakan dirinya sendiri dengan membeli pakaian-pakaian baru disana.

Selepas memilih beberapa dress, tas, dan sepatu dengan bantuan pelayan, Hye Hoon pun melakukan transaksinya di kasir. Dia mengeluarkan debitnya lalu mengernyit ketika wanita yang berjaga disana mengangkat tangannya.

“Semuanya sudah dibayar lunas”, katanya sambil tersenyum. Wanita itu menyerahkan beberapa kantong dari balik konternya. “Ini tambahannya ada beberapa koleksi terbaru dari kami yang dipesankan untuk anda. Semoga hari anda menyenangkan”.

“Siapa yang membayarnya?”.

“Pria disana yang melakukannya, Nona”.

Hye Hoon mendengus sebal. Tak ada yang bisa dilakukannya untuk mencegah Kyuhyun. Maka dari itu, Hye Hoon pasrah dan membawa semua belanjaannya lalu bergegas keluar. Dia segera menemui Kyuhyun lalu menyerahkan beberapa lembar lima puluh ribu. “Aku akan mentransfer sisanya. Tolong kirimkan nomor rekeningmu melalui pesan singkat”.

Kyuhyun mencekal lengan gadis itu agar tak bisa kabur darinya. Dia kecewa. Hye Hoon yang selalu bersikap hangat berubah menjadi es dan itu kesalahannya. Dia bertekad bulat untuk memperbaiki hal itu.

“Ambillah kembali. Aku tulus melakukannya untukmu”.

Hye Hoon tersenyum miring.”Kau tidak pernah tulus padaku”, katanya mencemooh. “Jika dulu kau melakukan ini, mungkin aku akan sangat bahagia. Tapi aku bukan lagi gadis bodoh yang bisa kau perdaya”.

“Maafkan aku”.

Ini sudah ke sekian kalinya Kyuhyun mengatakan kalimat itu. Hye Hoon merasakan kesungguhan dari pria itu semenjak dia membuka apa yang terjadi di rumahnya tempo lalu. Kyuhyun berubah tapi itu tidak mengubah keputusannya untuk menjauhi pria itu.

“Aku memaafkanmu jadi bisakah kau membiarkanku pergi?”.

Genggaman tangan Kyuhyun otomatis mengendur. Entah sejak kapan perkataan Hye Hoon dapat mengusiknya. Kyuhyun terluka karena Hye Hoon seolah tak mau lagi berurusan dengannya.

Kyuhyun diabaikan ketika dia mulai peduli pada gadis itu. Sungguh merupakan balas dendam yang sepadan, bukan?

.

.

.
Hye Hoon bukan tipe orang yang sering menggerutu tapi dia banyak melakukannya hari ini. Bagaimana tidak? Seorang yang dihindarinya setengah mati tanpa berdosa mengikutinya kemanapun pergi.

Ah, molla. Hye Hoon tinggal menganggap pria itu tak ada di dekatnya, lalu semuanya selesai bukan?

Hye Hoon benar-benar total memanjakan dirinya hari ini. Dia rela menghabiskan uangnya di salon, tempat terakhir dalam hidupnya yang dia ingin datangi- untuk mendapat penampilan barunya. Jika biasanya dirinya cukup puas memotong rambutnya sendiri di rumah, kali ini dia membiarkan orang profesional yang melakukannya.

Bagi seorang yang seumur hidupnya tak pernah rutin melakukan hal semacam ini tentulah mendapatkan perawatan adalah sesuatu yang membosankan. Hye Hoon beberapa kali menguap ketika hair stylist di salon kecantikan itu sedang menata rambutnya.

Eonni, Kau terlihat cantik dengan rambut barumu”, kata gadis itu berbicara. Hye Hoon melihat dirinya di balik cermin. Benar. Potongan rambut sebahu-nya membuatnya terlihat berbeda. Apalagi dengan poni yang biasa dibiarkannya panjang kini hanya menyentuh dahinya. Sungguh ini perbedaan yang begitu mencolok baginya.

“Benarkah?”, katanya memastikan. Gadis yang sepertinya lebih muda darinya itu mengangguk.

“Kurasa benar. Pacarmu sepertinya sependapat denganku. Dia sedari tadi tak bisa mengalihkan pandangannya darimu, Eonni”.

Melihat bayangan Kyuhyun dari balik kaca, Hye Hoon pun mendesah berat. Lelaki itu belum menyerah rupanya.

“Ah, Eottokae. Aku sangat iri padamu, Eonni. Pacarmu itu selain tampan sepertinya orang kaya, ya? Dia sepertinya orang sibuk tapi menyempatkan diri untuk menemanimu”.

Hye Hoon melirik Kyuhyun yang sedang berbicara dengan seseorang di telepon. “Dia bukan kekasihku. Kau tahu? Orang biasa seperti kita tidak ditakdirkan berjodoh dengan pria dengan level atas sepertinya. Aku yakin kau pasti lebih bahagia dengan pria yang memiliki status yang sama”.

.

.

.

Gaun selutut berwarna putih melekat di tubuh mungilnya. Wajahnya terlihat berbeda karena ada goresan make up tipis dan pulasan lipstik berwarna merah yang menyapu bibirnya. Dandanan yang simple tapi menarik.

Sungguh perubahan yang mengagetkan karena seorang Choi Hye Hoon tak peduli dengan penampilan sebelumnya. Namun lambat laun dia mulai menyadari, sepertinya dia harus meng-upgrade penampilannya jika ingin orang lain memandangnya berbeda.

Nona”.

Hye Hoon berbalik tatkala ada lengan yang menepuk bahunya. “Kau keberatan jika aku mengajakmu minum kopi?”

Pria tampan berambut cokelat itu memiliki mata yang indah. Dia terlihat menarik bahkan hanya dengan kaos putih dan jeans robek di bagian lutut yang dikenakannya. Bukan tampilan pengusaha seperti Kyuhyun, namun lelaki itu masih terlihat rapi dengan sneakers-nya.

“Maaf. Aku sampai lupa mengenalkan diri”. Pria asing itu tanpa sungkan mengulurkan tangan.

“Namaku Donghae. Kebetulan aku punya kafe kecil di sekitar sini”.

Ini pertama kalinya Hye Hoon diajak berkenalan oleh seorang pria, di pinggir jalan pula. Sedikit enggan, Hye Hoon menuruti gerak pria bernama Donghae itu. Namun, seseorang meraih tangannya agar tak bersentuhan dengan pria di hadapannya.

“Terima kasih atas tawarannya, Donghae-ssi. Tapi Hye Hoon-ku tak bisa meminum kopi karena sakit di lambungnya”. Kyuhyun mengisyaratkan Donghae untuk segera pergi dengan bibirnya yang tersenyum. “Kuharap kau tidak keberatan jika dia tidak ikut denganmu”.

Wajah Donghae memerah. Dia benar-benar malu karena berani mengajak kencan seorang gadis tepat di depan kekasihnya. Membungkukkan badan tanpa ingin menunjukkan wajahnya lagi, Donghae pun dengan cepat meluncur dari tempat itu.

Wanita cantik itu mengulum senyum melihat tingkah keduanya. Kyuhyun memang keterlaluan, tapi dirinya bersyukur pria itu ada untuk melindunginya. Tunggu. Mungkinkah Kyuhyun tak ingin dirinya didekati lelaki lain karena cemburu?

Sama sekali tak berniat melepas genggaman tangannya, Kyuhyun pun menarik gadis itu pergi. Hye Hoon sempat berontak, namun dia sadar itu tak berpengaruh banyak. Kekuatan mereka berbeda sangat jauh. Jadi, yang dilakukannya adalah melakukan konfrontasi lewat mulutnya.

“Apa kau tak malu? Setelah mencampakkanku berkali-kali, sekarang kau mengklaim aku sebagai milikmu? Kyuhyun-ssi, tolong berhenti memperlakukanku sebagai budakmu”.

“Aku tak pernah melakukan apa yang kau tuduhkan”, balasnya tegas.

Kyuhyun membukakan pintu mobilnya yang diantarkan supir lalu melempar kantong belanjaan Hye Hoon ke bangku belakang. Mengambil tempat di balik kemudi, dia pun kembali melanjutkan ucapannya.

Pria itu menoleh ke arah Hye Hoon kemudian menunjukkan senyum termanis sebisanya. “Aku memang pernah memanfaatkanmu, tapi  tidak dengan kali ini. Aku tulus padamu, Hye Hoon-ah”.

Dada Hye Hoon berdebar kencang setelah mendengar pengakuan Kyuhyun. Dia mulai salah tingkah. Kyuhyun tertawa melihat sikap gadis yang disukainya itu.
.

.

.

Lotte World. Semua orang tahu tempat apa itu. Anak-anak pasti kegirangan hanya dengan mendengar namanya. Kyuhyun menyaksikannya sendiri hari ini. Bagaimana seseorang bisa begitu senang karena diajak ke taman bermain. Bedanya, kali ini bukan anak-anak lah pelakunya.

Itu adalah Hye Hoon, tentu saja. Gadis polos yang selama ini selalu berada di dekatnya tanpa tahu rencana jahatnya. Hye Hoon yang tak pernah menolak apapun permintaannya meskipun hal itu menyebabkannya terluka. Apa yang dilakukan gadis itu selalu tulus dari hatinya.

Dan sekarang, Kyuhyun harus menyaksikan sendiri gadis itu berubah seratus delapan puluh derajat karena dirinya.

Hye Hoon yang terlalu kegirangan bahkan tak mencoba untuk menyembunyikan senyumannya dari Kyuhyun. “Bagaimana kau bisa mengetahui bahwa aku ingin kesini?”, katanya heran. Memutar otaknya untuk mengingat, Hye Hoon tak yakin pernah mengatakannya pada Kyuhyun di masa lalu.

Kyuhyun terkekeh ringan sebelum membuka suaranya. “Kau mudah sekali ditebak. Pertama, kau berasal dari luar Seoul dan datang sendiri untuk mencari pekerjaan. Kedua, setelah kau mendapatkan pekerjaan kau tak punya waktu untuk sekedar liburan. Dan terakhir, pikiranmu  masih seperti anak kecil, aku sangat yakin kau akan menyukai tempat ini”.

Hye Hoon menyeringai angkuh. “Ini hanya kebetulan. Jangan pernah menganggap bahwa kau tahu segalanya tentangku”.

.

.

.
Bukan Kyuhyun namanya jika tak menerima perhatian orang banyak. Dia bukanlah seorang selebriti, namun kepopulerannya boleh dibilang menyamai profesi yang menuntut pelakonnya untuk dikenal masyarakat itu.

Selain sering menjadi cover majalah bisnis wajahnya juga terkadang muncul di acara berita televisi. Apalagi yang dibahas kalau bukan kesuksesannya sebagai CEO termuda dari perusahaan raksasa di Negara ini.

Lotte World cukup lengang karena hari ini bukan hari libur. Tapi tetap saja pengunjungnya tidak sedikit. Kyuhyun tak nyaman ketika tak sengaja melihat ada segerombolan gadis maupun wanita setengah abad- yang umurnya tak beda jauh dengan Ibunya- mengikutinya.

Mereka berbisik satu sama lain membicarakan ketampanan pria itu. Bahkan, Kyuhyun tak sengaja mendengar ada salah satu Ahjumma menyuruh anaknya untuk menggoda Kyuhyun agar bisa menjadikan dia sebagai menantunya.

Sontak Kyuhyun yang ketakutan pun mempercepat langkahnya. Dia mensejajarkan dirinya dengan Hye Hoon.Untuk mengelabui wanita-wanita itu, tangannya bergerak cepat merangkul bahu gadis itu mesra.

Kyuhyun menatap gadis itu dengan bibirnya yang mengembang. Dia berdehem lalu mengeraskan suaranya agar semua orang mendengar apa yang dikatakannya.

“Sayang, apa kau mau es krim?”.
.

.

.
Jantung Hye Hoon seolah melompat keluar. Kyuhyun senang sekali membuat dirinya kehilangan kontrol atas detak nadinya sepertinya. Hye Hoon meraba pipinya yang hangat merasakan tangan besar Kyuhyun melingkar di bahunya. Refleks bibirnya tertarik ke belakang ketika matanya tak sengaja melirik tangan Kyuhyun yang menggantung di samping tubuhnya.

“Sayang, apa kau mau es krim?”.

Mata keduanya bertemu. Ada sengatan aneh yang dirasakan mereka saat itu terjadi. Hye Hoon seolah merasakan detak jantung Kyuhyun berdebar sekencang miliknya. Oleh karena itu, dia membuang wajahnya yang semakin panas.

Karena sikapnya itu, Hye Hoon akhirnya menyadari jika mereka sedang diperhatikan. Ada beberapa orang berbisik-bisik membicarakan Kyuhyun dan wanita yang sedang bersamanya sekarang.

Tentu saja itu adalah dirinya.

Meskipun sering menjadi bahan cemoohan orang-orang karena dia bersanding dengan The Great Cho Kyuhyun itu, Hye Hoon tetap tak bisa terbiasa dengan semuanya.

Dulu, dia sempat bertahan karena Kyuhyun. Hye Hoon bisa melewatinya karena dia pikir Kyuhyun akan selalu melindunginya.

Namun, kenyataan tak pernah sama dengan apa yang diimpikan. Kyuhyun hanya memacarinya untuk menyetel sandiwaranya di hadapan orang-orang.

Hatinya seakan terlontar jauh dari tepi jurang mengingat hal ini. Jadi, apa Kyuhyun melakukan ini hanya karena pertunjukkannya lagi? Apa pria itu tega melakukan hal ini untuk ke sekian kalinya?

Hye Hoon meredam emosinya. Dia berencana untuk mengikuti yang alur yang diciptakan Kyuhyun. Bukankah ini kesempatan terakhir dia bisa menjadi kekasih pura-pura dari pria itu? Setidaknya dia tak akan pergi dari Seoul tanpa kenangan manisnya dengan Kyuhyun.

Mengaitkan tangannya di pinggang Kyuhyun, Hye Hoon pun tersenyum. “Kau selalu tahu apa kesukaanku. Ayo pergi. Aku sungguh menginginkannya sekarang juga”.

Seketika para wanita itu menjauh dengan wajah muram mereka. Hye Hoon pun melepaskan tubuhnya dari pelukan Kyuhyun karena perannya telah usai.

Namun, Kyuhyun tak membiarkannya. Dia mengacak rambut Hye Hoon lalu kembali merapikannya dengan gerakan tangannya yang lembut.

“Terima kasih, Hye Hoon-ah”.

Lagi-lagi. Alat vital di tubuh Hye Hoon bereaksi karena kalimat sederhana itu. Sungguh dia tak mengerti. Sihir macam apa yang dilontarkan Kyuhyun padanya sehingga membuat dirinya selalu tak berkutik di hadapan pria dengan sejuta pesonanya itu?

“Ayo kita nikmati hari ini. Kau pasti butuh seseorang untuk menemanimu menjelajahi tempat ini”.

Kyuhyun meraih tangan gadis itu, menggenggamnya erat hingga jemari mereka bersatu. Pria itu tak memberikan ruang untuk Hye Hoon melarikan diri.

Dan sepertinya, Hye Hoon pun tak ingin lepas dari Kyuhyun sebelum hari ini berakhir.

.

.

.

29 thoughts on “Red Lips (V)

  1. kyu habis kejedot pintu apa gimana cepet amat berubahnya mas ? atau jangan2 kamu bipolar wkwk. eh becanda kok kyu kak elsa hehe. ini kyuhyun emang kayaknya udah suka deh sama hye hoon dari dulu tapi karna dicuekin aja dia ngerasa gasuka dan perlu mempertahankan hyehoon sbg sesorang yg memuja dan pasrah sama kyuhyun. sukanya kyuhyun disini masih ngambang bukan cinta sih menurut aku lebih ke tertarik ? iya gasih aku sotoy nih hehe

  2. 😢😢😢😢 penyesalan selalu datang terlambat …. Tapi masih sakit hati sama kyuhyun, jadi buat kyuhyunnya menderita ajalah ini….
    Semangat nulisnya thor, next partnya ditunggu banget😄😄😄

  3. Lanjutkam hye hoon..semoga aja ga luluh lagi sama kyuhyun..pengennya hye hoon bisa kembali ke busan secepatnya tanpa sepengetahuan kyu..

  4. Abis ini aku ngubek library deh buat liat crita sebelumnya…..
    Tapi dari interaksi mereka si kyuhyun dlunya cma manfaatin hye hoon aja..sekarang pas hye hoom tau dan mutusin pergi malah kyuhyun yg mendekat

  5. kyuhyun itu knapa sih, dulu dia g gitu… pas si hyehoon mau ninggalin dia eh malah kyuhyun yg ngejar balik..
    ditunggu lanjutannya
    semangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s