Red Lips (IV)


Kita hidup di dunia berbeda. Kau dengan duniamu, dan aku dengan duniaku. 

Sehari berselang, Hye Hoon menarik nafas panjang ketika dia sampai di seberang gedung megah pencakar langit itu. Lehernya mendongak, berniat meihat tempat tertinggi bangunan itu, tempat di mana orang yang pernah dikasihinya berada. Namun, teriknya sinar matahari tak memuluskan keinginannya.

Sebuah mobil mewah berwarna hitam metalik melesat dengan cepat. Dia mengaduh, merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya kemudian menyadari bahwa itu terasa karena mobil itu sempat mengenainya. 

Hye Hoon meringis tatkala kakinya mendadak lemas dan tubuhnya terjatuh. Dia memegangi lututnya yang mengeluarkan darah, mengigit bibirnya kuat karena perih yang dirasainya begitu menyiksa. Suara debuman keras di sekitarnya membuatnya menyadari jika mobil hitam itu tak pergi. Pintu benda itu terbuka, menampakkan seorang pria paruh baya tergopoh-gopoh menghampirinya.

Sekilas, dia menangkap bayangan seseorang yang dikenalnya duduk tenang di kursi belakang. Kepalanya seketika merunduk, tak ingin orang itu mengenali wajahnya.

Agashi, apa kau baik-baik saja?”

Hye Hoon mengangguk pelan. Dia tak mengatakan apapun dan mencoba bangkit. Namun, kakinya yang sakit menahan gerakannya. Apa yang bisa dilakukannya dalam kondisi seperti itu? Tentu saja hanya satu.

Menangis.

Gadis itu terisak keras sambil memukul-mukul kakinya sendiri karena merasa bodoh. Supir itu bingung dan hanya bisa terdiam di tempatnya menyaksikan Hye Hoon dengan penuh rasa bersalah. 

“Kim Ahjussi, Kembalilah ke mobil. Biar aku yang mengurusnya”.

Kyuhyun yang sejak tadi mengamati mereka dari balik kaca mobilnya itu pun akhirnya mengambil tindakan. Tanpa mempedulikan tatapan penuh ingin tahu yang diberikan oleh karyawannya yang berlalu-lalang, Kyuhyun menggendong gadis itu di pelukannya.

Hye Hoon berontak, tentu saja. Tapi Kyuhyun tak melepaskannya. 

“Kyuhyun-ssi, tolong turunkan aku. Semua orang memperhatikan kita”.

Pria itu mendelik tajam. “Aku pimpinanmu. Dan kau harus menuruti semua perintahku. Diam dan jangan bergerak. Bukankah kakimu itu sedang sakit?”.

“Mulai sekarang aku bukan lagi bawahanmu”, balas Hye Hoon dengan bibir bergetar. Kyuhyun berpura-pura tak terpengaruh dan mempercepat langkahnya menuju klinik kecil di kantornya itu.

.

.

.

Semua orang sigap menyambut kedatangan mereka. Security di depan sudah memberitahukan bahwa orang paling berpengaruh di perusahaannya membawa pasien yang merupakan teman terdekat beliau untuk diobati. Mereka terganggu dengan status gadis itu yang hanya merupakan seorang cleaning service saja. Akan tetapi, meskipun dalam hati mereka menggerutu karena iri dan cemburu, mereka tetap melaksanakan tugasnya dengan benar. 

Hye Hoon pun menjalani pemeriksaan tanpa bantahan. Dia menerima pengobatan yang diberikan Dokter tanpa meringis sedikitpun. Memang, raganya sedang terluka. Badannya linu dan kakinya tak bisa digerakkan. Namun, itu tak sebanding dengan yang dialami batinnya sekarang.

Luka luarnya bisa segera diobati, namun luka di dalam hatinya tidak. Hye Hoon bahkan harus melihat dengan mata kepalanya sendiri penghancur hatinya itu berdiri tegap di sekitarnya.

“Keadaannya sudah membaik. Tapi Agashi ini harus bedrest sampai beberapa jam ke depan. Aku berharap dengan tulus semoga kekasihmu cepat sembuh, Cho Sajang

“Terima kasih, Doc“, jawab Kyuhyun singkat.

Hye Hoon membalikkan posisi kepalanya sesaat setelah pria berjubah putih itu pergi. Dia hendak meringkuk ke sisi lain agar tak melihat wajah pria itu namun gerakannya terbatas.

Kyuhyun tersenyum tipis melihat tingkah mantan pacarnya. Sikap Hye Hoon yang berbeda dari wanita-wanita lain yang dikenalnya membuatnya selalu terhibur dengan kehadiran gadis itu. Kyuhyun menyentuh pipi Hye Hoon lembut, lalu memaksa wajah cantik itu menoleh ke arahnya.

“Aku mengerti kau tak ingin melihat wajahku. Tapi, kau juga harus melihat kondisimu. Jika infusmu lepas, kau akan merasa sakit. Dan itu akan semakin membuatku merasa bersalah padamu”.

Hye Hoon mendengus namun tak mengatakan apapun. Kyuhyun tak berhak mengetahui bagaimana perasaannya saat ini. Siapa dia? Pria itu hanyalah mantan majikannya yang pura-pura memacari dirinya hanya karena statusnya yang seorang pegawai rendahan.

“Tidurlah. Aku akan menungguimu”.

Kyuhyun mengambil kursi kecil dan mendudukinya. Bola mata Hye Hoon tak henti mengikuti gerakan pria itu. Kyuhyun yang menyadari tatapan Hye Hoon pun bertanya. “Apa kau membutuhkan sesuatu?”.

Pria tampan itu menahan senyum ketika menangkap pipi Hye Hoon yang berubah warna sebelum gadis itu membuang muka. “Pergilah”, katanya serak.

“Tidak. Aku tak akan pergi sebelum melihatmu sembuh. Aku bertanggung jawab sepenuhnya dengan keadaan fisik dan hatimu”.

“Apa kau masih menganggapku mainanmu?”, sentak Hye Hoon dengan nada tinggi. “Aku memang wanita miskin yang tak punya kekuasaan apapun, yang bisa kau perlakukan segalanya seperti sampah. Sejak kapan kau memperdulikan perasaanku? Tidak pernah, Kyuhyun-ssi. Meskipun aku tak punya apa-apa tapi aku tak membutuhkan rasa belas kasihanmu”.

“Tidurlah. Semua orang mendengarmu. Kita bicarakan ini nanti”.

Sret

Tirai yang menutupi ranjang kecil itu terbuka, menampakkan seorang gadis cantik yang enggan melepas predikat fashionista yang melekat padanya. Meskipun hanya memakai pakaian kasual semacam turtle neck sweater dan denim, wanita itu tetaplah mempesona.

“Oh”, ucapnya dengan bibir membulat sempurna. Dari raut wajahnya terlihat kesan jika ekspresi kagetnya itu dibuat-buat.

“Tadi aku sempat khawatir ketika sekuriti memberitahukanku jika kau sedang di klinik”. Dia mendekati Kyuhyun dan menyentuh dagu pria yang diklaim sebagai miliknya itu dengan menyentuhkan kuku panjangnya.

“Kau baik-baik saja, chagi?”

.

.

.

Kyuhyun tak bereaksi. Mungkin dia kaget karena wanita yang selama ini menggodanya itu datang kepadanya. Timing-nya sama sekali tidak pas.

Hye Hoon melihat keduanya dengan mata sembab. Entahlah, berapa kalipun Kyuhyun menyakiti dirinya, Hye Hoon seolah kebal dan masih saja menyimpan cintanya.

“Lagi-lagi kau”. Yoo Kyung menyeringai tatkala matanya melihat ranjang. “Apa kejadian di pesta belum menyadarkanmu dimana seharusnya tempatmu?”.

“Maafkan aku”, jawabnya singkat. Hye Hoon melepaskan selang infus yang menancap di nadinya paksa. Dia sempat mengaduh karena kesakitan, dan suara itu membuat Kyuhyun segera mendekat padanya.

“Sudah kubilang jangan kemana-mana”. Kyuhyun meraih tangan Hye Hoon lalu memaksanya berbaring. “Kau tidak boleh pergi sebelum Dokter membolehkanmu. Jangan memikirkan apapun. Aku melakukan ini karena aku yang bertanggung jawab atas kecelakaan ini”.

“Jika itu alasannya, panggil supirmu kemari”. Hye Hoon berteriak kesal. “Aku sudah muak mendengar orang-orang membicarakanku karenamu. Jika kau tak ingin aku pergi, aku ingin kalian pergi darisini”.

Yak! Beraninya kau mengusirku!”.

Kyuhyun tak berkomentar apapun. Dia menyeret Yoo Kyung pergi sebelum gadis itu dapat melayangkan pukulannya. 

“Lepaskan! Aku harus memberi pelajaran pada gadis miskin tak tahu diri itu”.

Kyuhyun tak bergeming. Pegangannnya pada lengan Yoo Kyung semakin erat hingga dia kesakitan. Setelah keduanya sampai di luar gedung, Kyuhyun melepaskan genggaman tangannya itu.

“Pergilah sebelum aku memanggil sekuriti untuk mengusirmu”.

Yoo Kyung melebarkan matanya tak percaya. “Kau….mengusirku?”. Dia mengibaskan tangannya, menghilangkan hawa panas yang muncul karena kemarahannya. “Kau mengusir aku hanya karena gadis miskin itu?”.

Kyuhyun berbalik tanpa berniat mendengarkan ocehan Yoo Kyung. Tentu saja itu membuat Yoo Kyung semakin kesal. Ini pertama kalinya dirinya diabaikan oleh seorang pria dan itu karena seorang gadis yang bahkan tidak sebanding dengannya.

Hal itu sungguh melukai harga dirinya.

Tatapan dari orang-orang sekitarnya yang memandangnya aneh membuat dirinya semakin berang. Apalagi, beberapa dari mereka berbisik seolah menggosipkan apa yang baru saja terjadi. Dengan terburu-buru dia mengambil kacamata hitam di tas Prada-nya lalu memakai benda itu untuk menutupi wajahnya.

Sialan kau, Cho Kyuhyun.

.

.

.
Kyuhyun kembali ke klinik dengan membawa rantang berisi bubur yang disiapkan sekretarisnya. Dia sungguh merasa bersalah dengan apa yang terjadi dengan Hye Hoon. Ditambah lagi masalah Yoo Kyung. Sungguh, itu membuat kepalanya semakin pusing.

“Kau pasti belum makan siang”, katanya setelah melihat Hye Hoon yang masih berada dalam posisi yang sama ketika dia meniggalkannya tadi. Dia mengacungkan tangan kanannya lalu tersenyum. “Aku membawakan bubur untukmu”.

“Aku tidak lapar”, tolak Hye Hoon. Dia menatap Kyuhyun sejenak lalu kembali membuang muka. “Aku sudah terlalu lama disini. Sebenarnya aku kesini hanya untuk memberikan surat pengunduran diri”.

“Kau tak perlu berhenti bekerja hanya karena aku”. Kyuhyun duduk di samping ranjang Hye Hoon sambil memperhatikan wajah gadis itu lamat. “Aku sudah mempersiapkan posisi baru untukmu. Kau bisa mulai bekerja jika kau sudah sembuh”.

Jadi, ini seperti Kyuhyun memberikan kompensasi karena dia telah memanfaatkannya? Hye Hoon tak habis pikir. Kyuhyun hanya memacarinya karena status dirinya yang merupakan pekerja level bawah. Itu masuk akal kenapa Kyuhyun tak pernah memberikan tawaran bagus untuk kekasihnya sedangkan dia pemilik perusahaan.

“Aku bukan berhenti karenamu”. Hye Hoon jujur, dia memang berhenti karena pandangan orang lain tentangnya- walaupun Kyuhyun juga salah satu dari sekian banyak alasannya. “Sebenarnya aku tak ingin memberitahukan padamu, tapi aku akan pindah”.

.

.

.
Suasana rumah yang ramai membuat Yoo Kyung mengernyitkan dahi. Benar, dia memang memiliki puluhan pegawai yang bekerja di rumahnya, tapi mobil-mobil besar yang terparkir di depan rumahnya membuatnya berpikir ada sesuatu yang ganjil.

Yoo Kyung memasuki rumahnya seperti biasa. Dia tersenyum angkuh ketika banyak orang berbaju hitam berkeliaran di ruang tamu. Namun, keangkuhannya itu memudar ketika melihat stiker merah ditempel di setiap perabotan mahalnya.

“Apa yang kalian lakukan di rumahku?”

-Tbc

Hai. Salah satu ff yang aku beneran gatau digimanain lagi ya ff ini. Tadinya emang aku bakal pairing Kyuhyun-Yookyung di ff ini tapi di pertengahan rasanya aku ga rela karena Hye Hoon juga muncul makanya aku males banget lanjutin ff ini. Kenapa? Karena aku bingung apa aku gapapa kalo jadi pairing Kyuhyun sama Hye Hoon? Untuk semua yang suka ff ini, menurut kalian aku harus gimana? Hahaha

32 thoughts on “Red Lips (IV)

  1. kyuhyun-hyehoon of course. kadang aku emng suka sama kadakter cewek yg songong tapi kali ini aku lebih suka hye hoon gimana yah dia itu lemah tapi kuat dan yg pasti dia ga mengiba cintanya kyuhyun, kalo cinta ya “bejo” kalo enggak yaudah gitu pasrah aja hye hoon.

  2. Kyuhyun gimana siiii. Masih gengsi aja sama perasaannya ntar bener bener ditinggalin ajaa mewek hehehehe. Hyehoon nya untung strong. Aku masih belom ngerti sebenernya yoo kyung itu disini sebagai pemeran apa. Btw aku lebih suka kalo kyuhyun pairing ama hyehoon kak!!!!! Heheheh lebih cocok aja sii. Pokonya terus semangat buat lanjut ya kaaaaa

  3. Kyuhyun kyuhyun lo kenapasi suka labi gitu,care tapi sebatas loyalitas,jangan sama yookyung please,balikan lagi balikaaan……lanjut kak lanjuttt

  4. tetep dilanjutin..
    gak rela kalau ff ini berhenti sebelum waktunya..
    gak rela kalau kyu dipasangain ma cewek lain..
    terutama si yookyung, bikin sebel aja..
    untung aja si hye hoon sabar..
    kalau q di posisiny mungkin udah q jambak si yookyung..
    semoga si hye hoon segera mendapatkan kebahagiaannya..
    segalanya pasti indah pada waktunya..
    ditunggu kelanjutannya..
    keep writing ya and fighting..

  5. Mending hyehoo dari pada yoo yoo siapa itu td hhhh wanita sadis gituh cihhh sukurun luhh barang” dirumah’a disita bangkrut pasti tuh hhhh ngatain hyehoon miskin sekarang duri’a miskin jg :-P,
    sdhlah hyehoon’a pergi aja dari kyuhyun biar hidup’a bisa tenang gk jd bhan olok”an

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s