{friend-turned-love relationship} – Saying I Love You


Hai. Kali ini aku balik dengan oneshoot series yang tiap satu postingannya beda cerita. Tapi, temanya sama. Tentang persahabatan dan cinta. 

Warning! Sedikit 17+ karena ini tentang married life. Happy reading!

“Hye, ada sesuatu yang harus kukatakan padamu”.

Sudah lama sejak Kyuhyun memanggilku dengan sebutan seperti itu. Biasanya dia menggunakannya jika ada sesuatu yang diinginkannya dariku.

“Apa?”, kataku pura-pura acuh. Meskipun mataku tak lepas dari ponsel di tanganku, namun aku dapat menangkap gerak-gerik Kyuhyun yang menunjukkan kegelisahan.

“Orangtuaku memaksaku untuk segera menikah”.

Aku menatapnya sebentar, menilai raut wajahnya lalu kembali berkutat dengan artikel yang sedang kubaca.

“Lalu?”.

“Aku ingin kau yang menjadi pengantinku”.

Kali ini, aku tak bisa mengabaikannya lagi. Suara keras yang berdentum karena alat komunikasiku yang tertarik gravitasi adalah bentuk nyata jika aku kehilangan fokus.

Aku tertawa canggung untuk mencairkan suasana. Dan ternyata tindakanku malah membuat kondisi kami makin tak mengenakkan. Kali ini aku salah membaca situasi.

“Kau tak bisa menipuku, Cho Kyuhyun. Ini salah satu lelucon april mop-mu ‘kan?”.

“Kau bisa memiliki semua aset yang kumiliki jika aku tak serius dengan ucapanku tadi”.

Aku menggedikkan bahu. Memperlihatkan ekspresi tak-masalah-jika-kau-berbohong yang membuatnya berdecak kesal.

Mengamati bulatan hitamnya yang selalu mampu menghipnotisku dengan pesonanya, aku pun memberanikan diri untuk bertanya.

“Oke. Aku tak heran jika kau memutuskan untuk segera menikah di usiamu sekarang ini. Tapi masalahnya, kenapa harus aku?”.

Pria itu menggedikkan bahunya tinggi. Sialan. Dia yang mengajakku menikah tapi berlagak seperti butuh tak butuh padaku.

“Seperti yang kau tahu, aku tak punya pacar saat ini. Kau satu-satunya teman wanitaku. Kumohon bantu aku, Hye Hoon-ah. Aku tak ingin mengecewakan orang tuaku”.

Kyuhyun meraih tanganku lalu menggenggamnya dengan kedua tangan besarnya sekaligus. Dari gesturnya itu, aku membaca bahwa dia sedang meyakinkanku untuk memenuhi keinginannya.

Menikah adalah hal yang mudah, sebenarnya.

Andai dia mencintaiku seperti aku mencintainya. Aku pasti tak akan ragu untuk menjawab ya.
.

.

.


Jika orang lain mengatakan pernikahan adalah pelabuhan yang manis dari kisah cinta mereka, maka cerita kami lain. Pernikahan bagi kami adalah awal dari kisah cinta, dengan tokoh utama yang berbeda.

.

.

.

Tiga tahun berlalu sejak hari bersejarah itu. Hari dimana aku didaulat sebagai pengantin wanitanya. Seiring dengan berubahnya status kami, dia pun mulai menyesuaikan sikapnya terhadapku.

Tak ada ejekan atau gurauan yang biasa dilakukannya ketika kami berteman dulu. Dia benar-benar memperlakukanku selayaknya seorang istri. Dan itu membuatku semakin jatuh hati padanya.

Malam ini, Kyuhyun memasuki rumah dalam keadaan kusut. Dari keluhannya selama ini, dia sangat kesal karena setiap pulang selalu terjebak kemacetan.

Wajar saja, dengan jalanan Seoul yang padat di jam keluar kantor jika memaksakan diri pasti hal itu tak bisa dihindari.

Suamiku yang malang. Dia tak pernah mempedulikanku yang bersiteguh untuk kembali tinggal di apartemennya.

Dia selalu mengelak dengan alasan jika dia lebih suka tinggal di rumah daripada apartemen. Suasana di rumah lebih terasa hangat, katanya.

Kyuhyun datang dan memelukku dari belakang saat aku sedang menyiapkan meja. “Kau harum. Apa kau baru saja mandi?”.

“Ya. Cepat sana mandi. Nanti makanannya dingin”.

“Anak-anak?”.

“Sudah tidur. Mereka kekenyangan karena terlalu banyak minum susu”.

Dia mengangguk mengerti. Meskipun aku yakin suamiku sangat merindukan mereka, namun Kyuhyun tak pernah ingin mengganggu jika anak kami sedang tidur.

Kyuhyun mendekatkan bibirnya ke puncak kepalaku lalu mengecupnya sekilas. “Tunggu aku. Aku akan segera menyusulmu untuk makan malam”.
.

.

.
“Aku sudah meminta Bibi Hwang kesini. Dia akan mulai bekerja besok”.
Aku mengerucutkan bibir. Dia selalu melakukan apa yang dia mau tanpa ingin repot menanyakan persetujuanku. Dan aku tak suka sifatnya yang satu itu.
“Kyuhyun-ah, aku bisa melakukannya sendiri. Aku mencintai si kembar dan senang menjaga mereka. Mereka tak pernah membuatku kerepotan. Kau juga sering bergantian menjaga mereka di malam hari, kan? Untuk sekarang, aku masih bisa mengatasinya tanpa dibantu”.

Kyuhyun melotot. “Tidak. Kau tidak lihat bagaimana bentuk tubuhmu sekarang? Kau begitu kurus dan lingkaran matamu membengkak. Aku tak mungkin membiarkan istriku kelelahan dan tidak punya waktu untuk mengurus dirinya sendiri”.

Tanpa banyak perlawanan, aku pun menyerah. Aku tak bisa mendebat Kyuhyun. Dia benar. Aku kerepotan dan butuh tangan lain untuk membantu urusanku.

“Baiklah”, ucapku pasrah. “Tapi dengan satu syarat. Bibi Hwang tetap libur di akhir pekan. Jika ada kau, aku tak perlu bantuan dari orang lain. Keuchi?”.

Aku mendengar desahan berat Kyuhyun di seberang sana. “Baiklah, Nyonya Cho. Kau memang selalu tak mau kalah”, katanya. Aku tertawa melihat wajahnya yang terlihat kesal.
Dia mengganti topik setelah menghabiskan makanannya. “Ngomong-ngomong, kau masih ingat Yoora?”.
Seulas senyum terbit ketika Kyuhyun melafalkan nama itu. Aku berpura-pura terbatuk untuk menyamarkan deru nafasku yang melemah.
“Tentu saja, aku mengingatnya. Aku tak mungkin melupakan bagaimana wajahmu ketika tersedu menangisinya”.

Dia tertawa keras. Kyuhyun memang selalu tampan tak peduli apa yang dilakukannya. Namun, ketika dia tertawa, ketampanannya meningkat tajam. Jantungku berderap kencang saat memperhatikannya.

“Itu hal konyol juga buatku. Tapi, aku sungguh sedih waktu itu. Kau tahu sendiri. Dia satu-satunya orang yang paling lama menjalin hubungan denganku”.

Aku menutupi kesedihanku dengan senyuman tipis. Tak ingin merusak kebahagiaannya dengan wajahku yang murung.

“Kenapa kau menanyakan itu padaku? Apa jangan-jangan kau bertemu dengannya?”.

Air mukanya berubah semakin cerah. “Hmm. Kau benar. Dia penanggung jawab dari salah satu perusahaan yang mengajukan tender untuk proyek baru di Cho Corp”.


Aku tak pernah tahu, jika pernikahan kami terguncang sejak saat itu.

.

.

.
Pagi itu, Kyuhyun mengawali paginya mengajak Seol dan Seon jalan-jalan di sekitar komplek. Pria itu memang tak pernah menanggalkan kegiatan rutinnya di akhir pekan yang satu itu.
Aku bahagia karena tak sekalipun suamiku itu mengeluh ketika dia mengambil alih tugasku. Dia tampak senang menghabiskan waktu dengan anak-anak, meskipun dia pasti kelelahan karena setiap hari harus mengurus pekerjaan kantor yang tidak sedikit.

“Kalian sudah pulang?”.

Aku menyapanya yang baru saja menutup pintu depan. Kyuhyun terkejut lalu bergerak menyentuhkan jarinya di bibir. “Ssst. Mereka sedang tidur”.

Aku mengecek kedua anakku yang memejamkan matanya di keranjang mereka. Dengan usia mereka yang masih empat bulan, hal wajar jika mereka lebih sering tertidur.

“Aku akan membawa mereka ke kamar”, kataku menawarkan. Aku sudah selesai dengan pekerjaan rumah tanggaku hari ini. Lagipula, aku tak yakin Kyuhyun bisa memindahkan mereka ke tempat tidur.

“Tidak, aku saja”, ucapnya menolak.

“Aku bisa melakukannya sendiri. Aku berjanji tak akan membuat mereka terbangun”.

Dengan berat hati aku membiarkan Kyuhyun melakukannya. Meskipun aku cemas dengan keadaan si kembar, aku percaya Kyuhyun pasti dapat mengatasinya.

Setelah selesai dengan tugasnya, tanpa berucap sepatah kata pun Kyuhyun memelukku erat. “Terima kasih karena menjaga anak kita dengan baik, Hye Hoon-ah”.

Setetes air mata keluar dari sudut mataku. Dia sangat menghargaiku, dan aku terharu karena ketulusannya.

“Terima kasih juga karena telah menafkahi kami”.

Kyuhyun melepas pegangannya sambil terkekeh pelan. “Itu benar, tapi mengapa terdengar sangat menggelikan?”.

Kami tertawa bersama.

Entah sejak kapan kami mulai terbawa suasana. Dia menipiskan jarak diantara kami lalu memagut bibirku dengan bibir tebalnya.

Kami berciuman cukup lama hingga aku kehabisan nafas dan dengan terpaksa melepaskan tautan bibir kami.
Dahi kami masih menempel satu sama lain. Dia menggenggam tanganku erat.

“Bolehkah aku menyentuhmu?”.
Kyuhyun selalu bersikap sopan dan bertanya jika dia ingin lebih dari sebuah ciuman.

Ada sebuah palu abstrak yang memukul-mukul hatiku karena perlakuannya. Jika dia masih meminta izin, bolehkah aku asumsikan bahwa dia masih merasa asing denganku?

Aku tak bisa berbohong. Aku sudah tersulut gairah dan tak mungkin bagiku untuk menghentikannya. Terselip rasa ingin tahuku, bagaimana jika aku menolak? Apakah dia akan merobek pakaianku dan memaksakan kehendaknya?

Kyuhyun bukan orang yang kasar. Tapi aku ingin dia mengenyahkan tata kramanya padaku.

“Lakukanlah”, kataku memberi sinyal.

Aku benar-benar pengecut. Aku tak ingin mengetahui perasaan Kyuhyun yang sebenarnya dengan menanyakannya langsung.
Aku terlalu takut jika jawabannya tak sesuai harapanku.

Kyuhyun menjauh kemudian menutup gorden kamar yang terbuka. Ini masih pagi dan kami akan melakukan hal tak senonoh. Aku menutup mukaku karena malu.

Tak lama, suara derikan ranjang menandakan Kyuhyun sudah bergabung. Dia menyingkirkan tangan yang menghalangi wajahku yang merah padam.

“Kau tak perlu malu. Tidak ada orang lain di rumah ini dan aku yakin tak ada tamu yang akan berkunjung”.

Aku mengangguk sambil tersenyum. Kyuhyun mulai membuang kaosnya dan menyudutkanku di ranjang. Pada tahap ini, aku selalu menatap matanya. Mencoba menelisik apa arti dari tatapannya padaku.

Aku ingin setidaknya ada secercah harapan jika dia mulai membalas cintaku. Namun, jawaban yang kuterima selalu sama.

Dia hanya menyayangiku seperti seorang sahabat. Tak pernah lebih.
Setiap dia membuka satu persatu pakaianku, hatiku menangis. Dia tak pernah menganggap ini lebih dari sekedar seks. Dia menjamahku dengan lembut, namun aku tak bisa merasakan cinta di balik sentuhannya.
Sulit sekali menahan tangisan ketika orang yang kutangisi begitu dekat denganku.

Batinku mulai meragu. Apa pilihanku ini salah? Apa tak seharusnya aku menikah dengannya?
.

.

.
Tidak terasa, Seol dan Seon sudah menginjak usia enam bulan. Mereka mulai memperlihatkan progress yang baik untuk anak seusianya. Mereka sudah mulai bicara meskipun yang terdengar hanya erangan tak jelas.

“Seon, kau belum juga mengantuk?”, kataku sambil menjawil pipinya. “Kau menunggu Appa?”. Dia menjawab dengan “Pa…..Pa….”.

Aku tersenyum bangga. Inilah rasa bahagia yang dirasakan seluruh Ibu ketika mendengar kata pertama dari anaknya. Aku melirik jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.

“Aigoo, kau harus tidur. Ini sudah larut”. Aku memberinya susu supaya dia cepat terlelap. Dan cara ini tentu saja berhasil. Beberapa menit setelah lelah menyedot susunya, Seon pun tertidur.

Aku kembali ke ruang televisi. Tak ada tanda-tanda jika Kyuhyun akan segera pulang. Dia memang berubah akhir-akhir ini. Tak pernah pulang cepat seperti biasanya, dan aku selalu mencium bau alkohol menguar dari tubuhnya. Dia selalu menghindar ketika aku bertanya. Namun, aku bertekad untuk mendapatkan penjelasannya malam ini.

Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Aku sungguh mengantuk. Tapi aku tetap memaksakan kedua mataku terbuka. Hingga akhirnya, pengorbananku tak sia-sia. Suara derak pintu mengisyaratkan jika orang yang kutunggu sudah pulang.

“Kau belum tidur?”, katanya heran.
“Aku sengaja menunggumu”.

Dia hanya ber’oh’ria dan bergegas menuju kamar. Aku mencekal lengan besarnya agar dia tetap tinggal. “Apa yang kau sembunyikan dariku?”.
“Tidak ada, Hye Hoon-ah”.

Aku menggeleng keras. Kini, aku berpindah posisi dan berdiri berhadapan dengannya.

“Kau berbohong. Ini seperti bukan dirimu, Cho Kyuhyun. Katakan apa yang mengganggumu. Bagaimanapun, bukankah aku ini temanmu?”.

Dia menarik rambutnya gusar. Pada saat tatapan menyedihkannya tertuju padaku, detik itu aku tahu jika kabar buruk ini ada hubungannya denganku.

“Besok saja. Aku akan menceritakan segalanya besok. Aku berjanji”.

Aku dengan tegas menolak.”Tidak. Aku tak yakin bisa tidur jika kau tak mengatakannya sekarang”.

Kyuhyun terdiam. Dia seperti sedang berpikir keras untuk mengatakannya padaku atau tidak. Tubuhku gemetar menunggu keputusannya. Firasatku mengatakan jika kejujurannya berpotensi menyakitiku.
“Aku tak bisa melupakan Yoora”.

Kalimat pembuka itu cukup membuat pertahananku runtuh. Ya, aku tahu dia tak pernah mencintaiku dan akan mudah kembali pada cinta masa lalunya.

“Itu bukan kesalahan. Lalu mengapa kau terlihat kacau setiap malamnya?”.

Kyuhyun menarik nafasnya panjang. Sedangkan aku? Aktingku masih baik untuk berperan sebagai seorang istri yang tidak peduli jika suaminya mencintai wanita lain.

“Apa kau benar-benar tak tahu letak kesalahannya? Aku suamimu, Choi Hye Hoon”.

Senyuman tipis terbit di sela bibirku yang diam-diam meringis. Aku terenyuh karena orang lain lebih mengkhawatirkan perasaanku daripada diriku sendiri.

“Jangan pernah merasa bersalah padaku. Kau membuatku terlihat buruk”.

“Hye Hoon-ah…..”.

Dia terluka karena mencoba menjaga perasaanku. Pria itu selalu bisa membuatku makin mencintainya. Mungkin sebuah pelukan persahabatan bisa membuatnya lebih baik.

Aku pun tanpa ragu memberikan pelukan untuk menenangkannya.
“Sejak awal, tak ada cinta diantara kita. Tak ada salahnya jika kau menemukan cintamu dari wanita lain. Jangan menghindari takdirmu, Kyuhyun-ah. Mungkin saja dia jodoh yang Tuhan berikan untukmu”.

Cairan bening yang kutahan bermain di pelupuk mata. Aku segera mengusapnya kasar agar pria itu tak dapat melihat jejaknya.

Aku baik-baik saja.

.

.

.

Hari-hari berikutnya aku tetap bersikap seperti biasanya. Seolah tak ada apapun yang terjadi malam itu. Kyuhyun agak canggung pada awalnya, tapi dia mengikuti alurku dengan baik.

Meskipun begitu, sekarang kami lebih irit bicara. Kyuhyun juga tak pernah mengungkit tentang Yoora di hadapanku. Pria itu selalu mengabariku jika dia pulang telat. Aku diam meskipun tahu jika dia menghabiskan waktu dengan wanita yang dicintainya.

Menyebut Yoora sebagai wanita yang dicintainya membuatku tersudut. Sebenarnya, bukankah akulah yang menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka?

Aku sedang mengecek list kebutuhan si kembar ketika dia duduk di ranjang kami. Dari ujung mataku, aku dapat menangkap dia sedang gelisah sembari beberapa kali mencuri pandang ke arahku.

“Hye Hoon-ah, ada yang ingin kukatakan padamu”.

Sangat mudah menipu pria ini. Aku hanya menyunggingkan senyum lalu dia tak curiga dengan keadaanku.

“Melihat tingkahmu, sepertinya ini berhubungan dengan Yoora”. Dia mengangguk perlahan. Hatiku tercambuk karena itu.

“Yoora meminta kejelasan hubungan kami”, cicitnya pelan. “Maafkan aku. Tak seharusnya aku memberitahumu masalah ini”.
Aku tahu lambat laun hal ini akan terjadi. Sebenarnya, aku masih bisa bertahan dan sama sekali tak memikirkan keadaanku. Aku tak apa jika Kyuhyun memilih wanita lain daripada aku.

Tapi, bagaimana nasib anak-anak yang masih terlalu kecil untuk mengerti?

Dengan lancang tanganku beralih mengelus pipinya. Banyak makna yang tersirat dari sentuhanku itu. Mataku tak lepas dari bulatan hitamnya yang linglung karena gerakan tiba-tiba yang kulakukan.

“Hye Hoon-ah…..”. Dia mendesahkan namaku seolah dirinya tahu sakit yang kurasakan.

“Kau selalu terlihat merasa bersalah setiap kali nama Yoora terucap dari bibirmu. Jujur, itu membuatku merasa dihargai. Meskipun kita menikah tanpa cinta, kau selalu memperlakukanku sebagai istrimu”.

“Apa yang kau bicarakan? Hye Hoon-ah, tolong jangan menilai jika apa yang kulakukan ini benar”.

Aku tersenyum tipis. “Kau memang tak bersalah”, kataku ringan. “Mencintai seseorang bukanlah sebuah dosa, Kyuhyun-ah. Sebagai wanita, aku juga mengerti Yoora. Dia butuh kejelasan. Apalagi dengan statusmu yang masih menjadi suamiku sekarang. Yoora takut kehilanganmu, dan seharusnya kau merasa senang”.

Aku menggodanya dengan mencubit pinggangnya main-main. “Hei, sepertinya dia yang lebih mencintaimu kali ini. Benar, kan?”.

Kyuhyun masih memasang ekspresi sekeras batu. Itu cukup membuat hatiku terenyuh. Kyuhyun memang pria baik, dan aku beruntung karena memilikinya di sisiku.

“Sepertinya kita harus membicarakan persoalan ini secepatnya. Ajaklah Yoora ke rumah. Aku akan menyiapkan makan malam istimewa untuknya”.

.

.

.

“Shim Changmin?”.

Aku terkejut ketika pintu di hadapanku terbuka. Sosok pria tampan yang digilai para gadis itu berdiri di depan rumahku. Seingatku, aku melihatnya terakhir kali ketika dia bertolak ke Amerika dan itu sekitar setahun yang lalu.

Bagaimana dia bisa hadir di kondisi yang tidak tepat seperti saat ini?

Changmin tanpa ragu melebarkan tangannya dan memelukku.

Tak ada batasan di antara kami.Aku, Changmin, dan Kyuhyun adalah sahabat dekat semenjak kecil. Meskipun aku berasal dari golongan keluarga yang biasa saja -berbeda dengan mereka yang terlahir dengan golden spoon di tangan mereka-, Changmin maupun suamiku tak pernah mempermasalahkannya.

“Kapan kau datang?”.

“Baru saja. Aku sungguh ingin melihat keponakanku makanya begitu aku menginjakkan kakiku di Korea aku langsung menuju kemari. Aku sungguh aku menyesal karena tak bisa pulang saat kau melahirkan dulu”.

Suara ketukan langkah menyita perhatian kami. Disana, Kyuhyun menggandeng seorang wanita yang kini adalah kekasihnya. Aku menggigit bibirku gugup.

Ini buruk.

Aku tak begitu pandai berakting. Kututupi wajah sedihku dengan tawa hambar dan semua orang melihat ke arahku. “Changmin-ah, bukankah kau ingin bertemu anak-anak? Mereka ada di kamar jadi…..”

Bugh.

Pergerakan Changmin begitu cepat hingga aku ataupun orang-orang yang berada disini tak bisa menahannya. Teriakan histeris Yoora membuatku tersadar dan menarik Changmin menjauh.

“Hentikan! Kau tak tahu apapun, Changmin-ah”.

Changmin beralih menatapku. Matanya yang memerah cukup mengisyaratkan bagaimana keadaaannya detik ini. “Kau pikir aku bodoh, hah? Suamimu membawa wanita lain ke rumah kalian dan kau masih membelanya?”.

Aku menyalak marah.”Ini bukan urusanmu, Shim Changmin. Kau tidak berhak memukul suamiku dan mengacaukan isi rumahku”.

Bodoh.

Tak ada orang yang lebih dungu daripada aku saat ini. Aku yang menyakiti orang yang jelas-jelas membelaku. Aku yang mengabaikan orang yang begitu menyayangiku.

“Maaf”, katanya setelah kami berdua menjauh. “Aku tak menyesal dengan apa yang kulakukan padanya, Hye Hoon-ah”.

“Meskipun kau tahu jika dia tidak pernah mencintaiku?”. Aku menatapnya dengan pandanganku yang kabur. Masih ada sisa-sisa kemarahan dari balik matanya. Dia menggertakkan giginya sambil menghembuskan nafasnya keras.

“Apa maksudmu dia tak pernah mencintaimu? Kalian menikah, bahkan mempunyai anak. Sial…Choi Hye Hoon, apa kalian membohongi kami semua?”.

“Tak ada aturan yang menyebutkan bahwa kita harus saling mencintai agar bisa menikah”,balasku tanpa ragu.
Changmin melihat sayu ke arahku seolah aku adalah orang yang paling menderita di dunia ini. Hebat. Bahkan, sahabatku saja mengasihaniku sekarang?

“Changmin-ah, kami sudah memutuskan untuk segera berpisah. Kuharap kau menghormati keputusan kami”.

.

.

.

Aku cemburu. Ketika ada orang yang bisa merawatnya lukanya lebih baik daripada aku, membuatnya tersenyum lebih banyak daripada aku.

Anak-anak bahkan merasa nyaman berada dekat wanita itu. Mereka tidak rewel dan membiarkan Yoora menggendongnya bergantian.

Aku, hanya terdiam dan mengamati mereka dari sudut. Hatiku menyayangkan mengapa hal ini tak terjadi lebih awal.

Mengapa Kyuhyun harus lebih dahulu menikah denganku sebelum bertemu kembali dengan Yoora? Mengapa aku harus berperan menjadi penghalang kebahagiaan orang yang kucintai?

“Aku minta maaf karena sikapku tadi”. Changmin membuka pembicaraan ketika kami duduk berempat setelah menikmati makan malam.

“Kyuhyun-ah, gigimu tidak retak, kan?”.

Kyuhyun tertawa. Dia seakan telah melupakan hal buruk yang menimpanya tadi. “Kau pikir tenagamu sebesar itu? Untung saja aku tak melawanmu. Jika aku menyerang balik, kau pasti akan kalah”.

“Aku juga meminta maaf atas kejadian tadi, Yoora-ssi”, kataku tulus. “Aku yang mengundangmu kesini, tapi aku tak bisa menjamu tamuku dengan baik”.

“Ah, tidak apa-apa, Hye Hoon-ssi. Ini hanya kesalahpahaman biasa. Aku mengerti”.

Yoora menatap Kyuhyun lalu mereka saling melempar senyum. Aku menelan ludahku pahit. Dari sudut mataku, aku bisa merasakan Changmin melirikku khawatir.

“Changmin-ah, bisakah kau pulang?”.
Dia menggeleng, mengisyaratkanku untuk tetap membiarkannya tinggal.

“Pulanglah, kumohon”.

Pria jangkung itu pun menyerah. Dia bersedia pulang dengan syarat untukku bertemu dengannya besok untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dan aku menyetujuinya. Meskipun aku tahu akan menggunakan beribu alasan untuk tak menemuinya lagi.

“Aku sudah menceritakan semuanya pada Yoora tentang hubungan kita. Kuharap itu bukan masalah untukmu, Hye Hoon-ah”.

“Aku senang jika Yoora-ssi sudah mengetahui semuanya. Ada hal yang harus aku bicarakan mengenai hal ini. Pertama, aku tak keberatan dengan hubungan kalian. Kedua, tentang perceraian aku dan Kyuhyun…..”.
Aku menggantungkan kalimatku karena meragu. Pantaskah aku meminta hal ini darinya?

“Aku mohon agar bisa ditunda hingga ulang tahun pertama kedua anakku. Maafkan aku karena terlalu mementingkan diriku sendiri tapi aku hanya ingin mereka melihat kami bersama di hari bersejarah untuk mereka”.

Raut kecewa terpetak jelas di wajah Yoora. Namun, beberapa waktu kemudian dia dapat menyembunyikannya dengan senyuman segaris miliknya.

“Tentu saja. Aku mengerti keadaanmu, Hye Hoon-ssi. Itu yang terbaik. Benar, kan sayang?”.

Kyuhyun mengangguk setuju. Dia menggumamkan terima kasih padaku lalu menggenggam tangan kekasihnya mesra.

.

.

.

Suara tangis bayi yang keras terdengar diselingi desahan penuh permohonan dari seorang lelaki dewasa memenuhi ruangan. Aku tak bisa menahan tawa melihat ekspresi suamiku yang kerepotan karena Seol menangis ketika Ayahnya memakaikan baju untuknya.

Sedangkan Seon terlelap di gendonganku tanpa terganggu dengan kegaduhan yang tercipta karena tangisan adiknya.

Seol memang putri kecil Ayahnya yang manja. Dia selalu mencari perhatian Ayahnya diantaranya dengan menangis keras seperti itu. Padahal Kyuhyun tak melakukan kesalahan apapun ketika memandikannya.
“Sayang, Seon sudah tidur kan? Cepatlah tidurkan dia dan datanglah kesini”.

Aku menuruti perintahnya lalu mengambil alih pekerjaannya mendandani Seol. “Dia memang selalu manja padamu”, ucapku meledek. Dia mengecup keningku sekali lalu berkata.

“Mirip sekali dengan Ibunya”.

“Ngomong-ngomong, kau ke kantor setelah makan siang, bukan?”.

Dia memelukku dari belakang. Kepalanya disandarkan di bahuku. “Hmm-hmm. Kenapa?”.

“Bisakah kau menjaga anak-anak sebentar?”.

Kyuhyun melepaskan pelukannya dan menatapku penasaran. “Kau mau kemana?”, tanyanya penasaran.

Aku pura-pura acuh dan menjawabnya sambil memberikan susu untuk Seol.

“Changmin memintaku untuk menemaninya mencari kado”.

Kyuhyun menaikkan alis. “Apa harus kau?”.

Aku menggedikkan bahu. “Dia memintaku. Lagipula, aku sudah berjanji padanya untuk menceritakan apa yang terjadi. Kita tak bisa selamanya menyembunyikan tentang kita darinya, bukan?”.

Ujung bibir Kyuhyun mengencang. Sepertinya dia agak terganggu karena aku memutuskan untuk bercerita tentang hubungan kami kepadanya.

“Kau tak punya kewajiban apapun untuk menjelaskan. Dia hanya seorang sahabat, Hye Hoon-ah“.

Kalimat terakhirnya itu menghantam hatiku sampai ke dasar. Ini seperti mempertegas bahwa aku bukan siapa-siapa baginya. “Ya, dia hanya seorang sahabat”, ucapku lirih.

“Hye Hoon-ah, bukan maksudku…aku…..”.

“Aku mengerti”,putusku cepat. Aku membelai pipinya dengan jariku, memaksa bulatan hitam indahnya menatapku.

“Kyuhyun-ah, bisakah aku meminta sesuatu padamu?”.

.

.

.

“Aku pulang”.

Sebuah bisikan di telingaku membuatku menoleh dan tersenyum ketika mendapati suamiku datang dengan senyum lelah yang mengganggu ketampanannya.

Kyuhyun menyerahkan sebuket bunga berwarna-warni yang kusambut dengan sukacita. Hingga kemudian sebuah ingatan menyeruak ke permukaan yang membuat senyuman di bibirku lambat laun semakin memudar.

“Kyuhyun-ah, aku tahu ini berlebihan tapi aku ingin kau berpura-pura menjadi suami yang benar-benar mencintaiku. Aku ingin membuat kenangan indah agar aku tahu apa yang bisa kuceritakan tentangmu pada anak kita”.

Kyuhyun tak menangkap reaksiku yang kelam. Tanpa aba-aba dia menciumku tepat di bibir. Kecupannya begitu dalam dan membuatku terbuai. Dia menggunakan kemampuannya dan menghipnotisku untuk membalas ciumannya. Bibirnya yang lembap merenggut kewarasanku untuk tak lebih jatuh dalam pesonanya.

Nafasku habis dan dengan tak rela aku melepas candu yang diberikannya. Kami saling bertatap tanpa kata, lalu dengan lancangnya dia berkata.

“Aku mencintaimu”.

Aku menggigil. Darahku berdesir. Jantungku berpacu keras. Hampir saja aku menangis bahagia karena ungkapan cintanya. Penantianku selama belasan tahun mencintainya….menunggunya sendiri untuk membalas perasaanku…..apakah ini akhirnya

Hanya dalam satu kedipan mata, aku mendapatkan kewarasanku kembali. Sebuah palu raksasa memukul batinku hingga tak bersisa. Ini semua tak nyata. Ini adalah sandiwara yang dilakukannya karena permohonanku padanya.

Rasanya ingin sekali membunuh diriku sendiri karena lupa akan hal sepenting itu.

Tes.

Secepat air mata itu mengalir, secepat itu pula aku menjauh. Aku tak mau dia melihat aku yang bodoh karena tertipu oleh tipuan yang diciptakannya sendiri.

“Kau baik-baik saja?”.

Aku mengangguk. Tak kuasa menyuarakannya karena takut ada nada lirih yang keluar. Kyuhyun tidak dengan mudah percaya. Maka dari itu, dia memutar balik tubuhku paksa dan menatap wajahku lamat.
“Kau menangis”.

Itu adalah pernyataan, bukan pertanyaan. Dia meyakininya.

“Kenapa?”.

Itu ungkapan rasa tak percaya. Dia sama sekali tak memiliki ide apapun tentang tangisanku.

Aku mulai linglung. Berpikir, Hye Hoon. Berpikir.

Baby blues syndrome. Kau pasti sering mendengarnya. Aku hanya terlalu sensitif karena sangat bahagia ketika suamiku memperhatikanku ketika aku sibuk mengurusi anak-anak”.

Dia begitu saja menerima jawabanku. Diam-diam aku menyunggingkan bibirku lega.

.

.

.

Paginya, Kyuhyun antusias mengajakku menjemur  si kembar di teras belakang. Kami duduk di bangku dengan kedua boks bayi yang berada di depan kami.

Seol dan Seon terdengar sangat ceria pagi ini. Mereka terus tertawa dan mengoceh tak jelas ketika Ayahnya mengajak mereka bermain.

Aku memetik bunga dan menyelipkannya satu-persatu di telinga mereka. “Wah, kalian memang cantik”, kataku takjub.

“Seon itu pria, sayang. Jangan memberinya barang feminim seperti itu”.

“Tidak apa-apa. Toh dia masih kecil. Kau memang Ayah yang cerewet, sayang”.

Kyuhyun mencubit hidungku. “Ah, sakit”, kataku sambil memegang jejak jarinya. “Kau ini….”.

Drrrrtt

Kyuhyun menatapku lama. Terkesan jika dia ingin meminta izin tanpa mengucapkan suara. “Yoora-ssi? Angkat saja. Aku akan menjaga mereka disini”.

Beberapa hari melakoni peran sebagai suami-istri yang saling mencintai membuatku lupa jika Kyuhyun bukan milikku. Aku dengan cerobohnya membiarkan diriku semakin jatuh hati padanya. Aku harusnya sadar, jika pada akhirnya aku sendiri yang akan terluka.

Aku mengusap pipiku yang basah ketika dua malaikat kecilku ikut menangis bersamaku .

Jangan menangis, sayang. Meskipun Ayahmu tidak pernah mencintaiku tapi aku yakin dia sangat mencintai kalian.

.

.

.

Membawa bayi dalam perjalanan jauh adalah hal yang paling merepotkan yang dialami orang tua. Hanya perlu dua jam untuk sampai di Jeju-do , namun tetap saja itu melelahkan.

Kyuhyun yang bersikap sebagai suami siaga, mengusap peluh di dahiku ketika aku masih menggendong Seol yang menangis di pelukanku.

Seon sama sekali tak terganggu dan tidur di pelukan Uncle Shim-nya. Ya, entah mengapa jagoanku itu suka sekali dengan Changmin. Aku hanya berharap sifat playboy-nya tak menurun pada anakku.

“Biar aku yang menggendongnya”, pinta Kyuhyun dengan bibir menekuk. Dia sedang kesal karena Seon yang lebih memilih diasuh oleh Changmin daripada dirinya. Sisi kekanakkannya keluar disaat seperti ini.

Lucu sekali.

Disaat aku menyerahkan Seol kepada Kyuhyun, bellboy pun memandu kami untuk segera masuk. Aku berterima kasih pada Changmin lalu mengambil alih Seon dan mengekori Kyuhyun.

Kami masuk ke ruangan dan terkejut menemukan Ibu mertua dan dua orang wanita tak kukenal menyambut kami.

Eomma sengaja menyewa babysitter untuk menjaga anak kalian”.

Dia menyerahkan sebuah kunci pada Kyuhyun lalu tersenyum penuh arti padaku.

“Kalian belum benar-benar menikmati bulan madu. Lagipula, sudah saatnya Hye Hoon beristirahat. Aku juga ingin mengasuh cucuku”.

Aku tetap keberatan dengan keputusannya. “Tapi Eomma-“.

“Tidak. Aku tak menerima penolakan. Kalian tak percaya padaku?”.

Kyuhyun mengisyaratkanku untuk pergi. Aku pun tak punya pilihan lain selain mengikutinya.

Setelah menemukan kamar yang dituju, aku pun kaget ketika melihat suasana kamar yang romantis dan sepertinya didesign khusus untuk pasangan yang melakukan bulan madu.

“Apa ini tidak berlebihan? Kurasa kita bisa mengganti kamarnya”.

Aku merinding melihat aksen bunga mawar dan lilin yang bertebaran di tempat tidur. Bahkan di kamar mandi juga. Ini sama sekali tidak benar. Kami kesini untuk merayakan ulang tahun pernikahan Nuna-nya Kyuhyun, bukannya untuk berbulan madu.

“Tidak perlu. Lagipula, yang dikatakan Eomma benar. Kita memang belum sempat berbulan madu”.

Bersamaan dengan itu, darahku berdesir ketika tangan Kyuhyun melingkar di pinggangku. Bibirnya mengecup telingaku singkat lalu turun ke tengkuk.

Tangannya yang nakal menelusup di balik kemejaku, mengelus perutku dengan lembut.

“Hye Hoon-ah, apa kau mencintaiku?”.

Bibirnya bermain di cuping telingaku, dengan tangannya yang merembet ke gundukan dibalik bra yang kukenakan.

Disela godaan itu, dia mendesak jawabanku terua-menerus.

“Apa kau menginginkan jawaban yang jujur?”.

Aku sengaja merapatkan tubuh bagian bawah kami dan Kyuhyun mengerang keras.

“Apapun”.

Aku terdiam. Dia menggendongku, membaringkanku di ranjang penuh bunga tadi lalu menaiki tubuhku.

“Jawablah”, katanya menuntut.

Aku menatap matanya, membiarkannya membaca isi hatiku, kemudian berbisik.

“Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun”.

.

.

.

Mendengarkan detak jantungnya tanpa penghalang apapun adalah hal yang paling kusukai setiap kali aku tidur di pelukannya. Memastikan jika dia masih hidup dan berada di alam yang sama denganku.

Jikalau hatinya bukan untukku, itu tidak masalah.

Aku hampir menghabiskan seumur hidupku menjadi sahabatnya, bukankah menakjubkan karena aku bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi istrinya juga?

“Kau berjanji untuk hati-hati, tapi kau…Ck, semua lelaki memang sama saja. Aku menyesal sudah percaya padamu”.

“Kau menyalahkanku? Kau bersalah karena menggodaku, sayang.”. Kyuhyun memang semakin manis di atas ranjang. Dia benar-benar tahu bagaimana cara memperlakukan wanita dengan baik.

“Aku tidak menggodamu”, sergahku tak terima. “Kau yang memulainya, Cho Kyuhyun”.

“Ini salah Eomma. Jika dia punya waktu untuk mempersiapkan bunga dan lilin, seharusnya dia menyediakan penga-“.

Aku berteriak heboh ketika mengingat satu hal. “Anak anak!”.

Suamiku yang tampan itu mengikatku dengan kakinya ketika aku hendak keluar dari tempat tidur. “Ini sudah malam, sayang. Anak-anak pasti sudah tidur”.

“Aku akan tetap kesana untuk menengok mereka”.

Dia menggeleng keras. “Aku tidak mengizinkannya. Jangan terlalu khawatir, Eomma pasti mengurus mereka dengan baik. Lagipula, aku merindukanmu”.

Aku tak punya nyali lebih untuk mempertanyakan apa maksud kalimat rindu yang dia sampaikan. Aku terlalu takut jika aku tenggelam dalam fantasiku sendiri sedangkan kutahu dia mencintai seseorang di luar sana.

“Apa kau sudah memikirkan masa depan mereka? Aku tak keberatan jika kau ingin mengambil hak asuh mereka. Aku tahu hidup mereka akan lebih baik jika mereka dibesarkan olehmu. Itupun jika Yoora-ssi tidak keberatan”.

“Kenapa? Apa kau tak ingin mengasuh mereka?”.

“Kau bisa memberikan keluarga yang komplit untuk mereka. Seorang Ayah, Ibu, Kakek dan Nenek yang menyayanginya…..”.

Dia kembali menuntutku dengan pertanyaannya. “Lalu apa kau tidak bisa?”.

Kyuhyun memaksaku untuk menatapnya. “Hmm?”, tanyanya lagi. Aku seperti biasa hanya menanggapinya dengan senyuman. “Untuk saat ini, aku belum terpikir untuk menikah lagi”.

Kali ini, dia menyuruhku untuk meletakkan kepalaku di atas tangannya. Kami bertatapan lama hingga aku mulai memejamkan mata karena kelelahan.

“Terima kasih, Kyuhyun. Aku bersyukur karena kau adalah Ayah dari anak-anakku”.

.

.

.

Ballroom megah itu semakin semarak karena panggung dan meja yang ditata rapi memenuhi seluruh ruangan. Meski tema yang diusung adalah putih yang membuat suasananya bersih dan nyaman, tetap saja kesan mewah tak luput dari pandangan.

Aku sudah hadir ke banyak pesta seperti ini-bahkan pesta pernikahanku pun juga serupa-, Namun aku tetap tercengang. Maklumlah, aku bukanlah kalangan konglomerat seperti mereka yang biasa dengan hal seperti ini.

“Kau disini?”.

Aku berbalik ketika seorang wanita cantik nan anggun menghampiriku.

Eonni!”, panggilku riang. Aku berhambur ke pelukannya dan dia terkekeh karena perlakuanku itu.

“Sudah lama sekali”.

“Ya, sudah lama sejak kita tidak bertemu. Kau semakin kurus, adik ipar. Apa keponakan-keponakanku merepotkanmu?”.

“Begitulah. Sulit sekali mengurus anak kembar”.

Aku beralih menyapa pria tampan di sebelah kakak iparku.

Annyeong haseyo, Jung Oppa“.

Annyeong Hye Hoon-ah”.

Aku tersenyum canggung ketika suara bayi dari troller menyela perbincangan kami. Mereka pun berpamitan karena ada beberapa hal yang harus mereka urus sebelum pesta dimulai nanti malam.

“Apa Seon menangis?”.

Changmin dengan cekatan menggendong salah satu anakku itu dalam pangkuannya. Beberapa detik setelah Seon melihat wajah Pamannya itu, tangisannya pun berhenti.

Aku berdecak kagum.

“Aku heran. Darimana kau belajar menggendong anak ketika setiap harinya kau hanya hang out di pub?”

“Ck, mulai mengajarkan hal tak baik depan anakmu?”, kekehnya menggoda.”Sekali-kali aku juga suka ke panti asuhan untuk melakukan kegiatan amal, asal kau tahu”.

“Oh ya, kemana Kyuhyun?”.

Aku menggeleng. “Sejak tadi aku belum melihatnya”.

Kami tak banyak bicara dan hanya mengamati anak kembarku dalam diam. “Hye Hoon-ah”, tanyanya ragu. “Apa urusanmu dengan Kyuhyun sudah selesai?”.

“Mengenai Yoora-ssi?”.

Changmin mengangguk. Aku menghela nafasku panjang sebelum bercerita. Sungguh sangat menyakitkan ketika harus berbagi mengenai hal ini kepada orang lain.

“Kami sudah membicarakannya. Aku dan Kyuhyun akan bercerai ketika usia Seon dan Seol sudah menginjak satu tahun”.

Changmin menepuk bahuku, memberiku kekuatan dari gestur sederhananya itu. Bibirku bergetar lemah. Mataku tak lepas dari kedua bayi yang ada di hadapanku. Melihat mereka yang begitu lemah dan tak tahu apa-apa membuat cairan bening di mataku mengalir.

“Aku bersalah kepada mereka. Seharusnya aku mempertimbangkan apa yang akan terjadi jika anak lahir dalam pernikahan tanpa cinta. Jika mereka tidak ada, mungkin keadaannya tak akan rumit seperti sekarang”.

“Ini sudah takdir kalian, Hye Hoon-ah. Kau tak perlu menyalahkan dirimu sendiri”.

Pria itu membiarkanku bersandar di dadanya. Dia mengelus rambutku penuh kasih sayang seperti perlakuan seorang kakak terhadap adiknya. Aku mulai melupakan kesedihanku dan kami pun saling melempar senyum.

“Terima kasih karena sudah membuatku lebih baik”.

Tak berapa lama kemudian Kyuhyun datang dengan wajahnya yang muram. Dia segera mengecek keadaan anak-anak lalu mengajakku untuk segera masuk ke hotel tanpa menyapa Changmin sama sekali.

Aku sedang bermain dengan si kembar ketika dia duduk frustasi di sofa seberang tempat tidur. Beberapa kali dia melirikku cemas.

Aku berusaha mengabaikan sikapnya itu. Aku sama sekali tak mengerti mengapa Kyuhyun berubah dingin setelah menghilang sejak tadi pagi.

“Aku tahu kalian berteman. Dia juga sahabatku. Tapi, Changmin adalah pria lajang sedangkan kau ini istriku. Aku tak mau ada orang yang salah paham dengan hubungan kalian”.

“Jadi itu yang kau khawatirkan sejak tadi?”. Aku menangkap ekspresi terkejut di raut wajahnya. “Tenanglah. Keluargamu tahu bagaimana hubungan kita. Tak akan ada yang mencurigai sekalipun jika aku benar menjalin hubungan dengan Changmin”.

Wajahnya semakin keruh dan aku tertawa karenanya. “Kau lucu sekali. Aku jadi tahu sifat sensitif Seon menurun dari siapa sekarang”.

“Terus saja meledekku. Aku tak keberatan”.

Kyuhyun mendekati ranjang lalu ikut berbaring di samping Seol. Dia mengecup satu persatu pipi tembam mereka sampai kemudian kembali melirik ke arahku.

“Aku tak sengaja bertemu Lee Donghae tadi pagi”.

Lee Donghae. Sebuah nama yang tak asing di telingaku. Dia, orang yang kupanggil dengan sebutan cinta pertamaku. Satu-satunya pria yang pernah menjalin hubungan lebih dari sekedar pertemanan denganku. Kyuhyun tak pernah tahu jika aku bohong soal dia-yang-adalah-cinta-pertamaku- itu.

“Donghae-ssi salah satu kenalan Jung, jadi dia juga akan datang ke pesta nanti”, jelasnya tanpa kupinta. Aku hanya menggumam menanggapinya. Toh, itu sama sekali tak berefek bagiku. Kami berpisah dengan cara yang tidak baik dan dia tak berusaha memperbaiki hubungan kami yang rusak.

“Sepertinya kau masih marah padanya”.

“Kau tahu pasti”.

“Dia tidak banyak berubah, masih saja menyebalkan. Aku heran kenapa dulu kau bahkan pernah menyukainya”.

Aku cemberut. “Kau selalu meremehkan seleraku terhadap pria. Kau pikir dirimu itu lebih baik dari pria-pria yang kukagumi, hm?”.

“Setidaknya aku tak penuh curiga dan pencemburu seperti mantan pacarmu itu”, terselip nada kesal dari kalimat Kyuhyun. “Dia masih saja mengungkit masa lalu dan menuduhmu menyukaiku saat kalian masih berpacaran. Kau tahu apa yang selanjutnya dia katakan? Keparat itu mengatakan dengan angkuh bahwa dirinya benar karena sekarang kita sudah menikah”.

Kyuhyun meredam suaranya agar tidak terlalu keras dan mengganggu anak-anak. “Dia tak tahu saja alasan sebenarnya dan membangun asumsinya sendiri.”.

Aku menepuk-nepuk paha Seon agar putraku itu dapat segera tidur. “Aku juga tidak tahu alasan kenapa kita menikah”, balasku ringan. “Kyuhyun-ah, jika seandainya apa yang dikatakan Donghae benar, apa yang akan kau lakukan?”.

Bukan maksudku untuk mengungkapkan perasaanku disaat kondisi kami seperti ini. Sampai kapanpun aku tak percaya diri jika ada waktu yang tepat untuk jujur tentang perasaanku padanya.

Well, aku hanya ingin mengukur bagaimana tanggapannya akan pernyataanku.

Reaksi Kyuhyun di luar dugaan. Dia mengeluarkan ekspresi itu lagi. Ekspresi yang sama persis ketika dia bercerita tentang kembalinya Yoora padaku.

Kyuhyun merasa bersalah karena tak bisa membalas perasaanku. Mengapa rasanya masih saja perih?

Aku memaksakan otot-otot wajahku untuk membentuk gerakan serupa tawa. Dengan suaraku yang lirih, aku berdoa dalam hati semoga Kyuhyun tak curiga.

“Kau selalu mudah tertipu, Cho Kyuhyun”. Aku memegang perutku, pura-pura kesakitan karena terlalu banyak tertawa. Air mata pun kusamarkan menjadi cairan tak berarti yang keluar karena reaksiku yang berlebihan.

“Kau ini…..bagaimana bisa bercanda dengan hal serius seperti itu?”.

.

.

.

Sejak menjadi pendamping Kyuhyun di muka publik, aku mulai terbiasa menghadiri acara semacam ini. Mengaitkan tanganku pada Kyuhyun dan beramah tamah pada semua tamu, menyapa orang yang bahkan belum pernah kutemui sebelumnya adalah hal yang lazim terjadi di pesta.

Tapi sepertinya, aku harus menikmati malam ini. Mungkin saja ini malam terakhirku berada di pesta sebagai istri Kyuhyun.

Memikirkannya saja membuat otakku berubah kisut.

Setelah kembali dari main stage untuk menyapa si empunya acara, aku pun mengeluh. “Aku rindu Seol dan Seon”. Setelah mengandung hingga sekarang, aku tak pernah lagi memakai hak tinggi. Dan itu cukup membuatku tersiksa karena belum membiasakan diri lagi.

Kyuhyun tersenyum. “Mau kupijit? Sepertinya kau kesakitan karena sepatumu terlalu sempit”.

Aku heboh memeluk tubuhnya kegirangan. “Yes, please“.

Kami pun memutuskan untuk keluar dari kerumunan lebih awal. Kyuhyun membawaku ke lobi hotel karena tempatnya yang dekat dengan ruangan tempat diadakannya pesta.

Aku menatap wajah tampannya yang berkilau saat dia berlutut dan melepaskan sepatuku. Tangannya dengan lihai memijit telapak kakiku bergantian. Aku merona saat orang-orang yang berlalu-lalang menatap kami iri. Mungkin, mereka mengira jika kami adalah pasangan suami-istri yang selalu menebar kemesraan dimanapun kami berada.

“Kau belum menyebutkan ‘aku mencintaimu’ hari ini”.

Gerakan tangannya di kakiku terputus. Ragu, dia melihat ke arahku penuh tanya. Kali ini aku tak bisa membaca sorot matanya. Dengan gerakan lambat seakan menikmati momennya, dia mendekatkan wajah kami.

Dia mengecup dahiku lembut. Turun pada kelopak mata. Ke hidung. Lalu berujung di bibir.

Aku masih bisa merasakan nafas hangatnya ketika dia berbisik. “Aku mencintaimu, Hye Hoon-ah”.

Aku merekam suaranya dalam ingatanku berharap jika selamanya otakku akan mengingat bagaimana kalimat itu terucap dari celah bibirnya. Meskipun ini palsu. Meskipun ini dilakukannya atas dasar kemanusiaan- aku tak peduli. Aku ingin setidaknya aku mendapat jawaban yang layak atas cinta diamku untuknya belasan tahun ini.

Kali ini aku berinisiatif mengecup singkat bibirnya. Tersenyum, lalu membalas pengakuan palsunya dengan kalimat sama.

“Aku juga mencintaimu, Cho Kyuhyun”.

.

.

.

Dua bulan sebelum ulang tahun pertama Seol dan Seon, aku menemukan diriku terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Supir yang membawaku kesini bilang jika aku pingsan di halaman rumah setelah pulang dari minimarket.

Aku bersyukur setidaknya aku tidak tergeletak di tengah jalan.

Kyuhyun tak ragu untuk meninggalkan pekerjaannya di kantor yang menumpuk untuk menemaniku. Berkali-kali aku menyuruhnya pergi, dia tak mendengar.

Akhirnya aku menyerah dan membiarkan dia menginap semalaman.

Sekarang adalah hari kedua aku dirawat. Ibuku datang menjenguk dan suamiku pun akhirnya mengalah untuk pulang sebentar.

“Apa perlu aku ke rumahmu untuk mengurus anak kalian?”.

Ibu menyuapkan satu potong buah jeruk di tangannya pada mulutku. Aku menggeleng. “Sekarang mereka ada di rumah orang tua Kyuhyun”.

“Setidaknya aku harus turut andil membantu. Dari awal selalu keluarga suamimu yang mengurus segalanya”.

Aku mengelus tangannya lembut. “Tidak apa-apa, Eomma. Mereka memang begitu. Kau juga sudah repot menjaga toko. Aku juga tak mau merepotkanmu”.

“Tetap saja, seharusnya kau juga tak membebani mertuamu. Kau terlalu memporsir dirimu sehingga kelelahan seperti ini. Ck, padahal hidupmu begitu mudah sekarang. Kau bisa menunjuk siapapun untuk mengasuh dua anakmu itu”.

“Aku tetap ingin mengasuhnya sendiri. Aku takut kehilangan momen perkembangan mereka”.

Setelah menaruh piring kecil di meja sebelah ranjang, Ibu menatapku serius.

“Apa terjadi sesuatu pada rumah tanggamu?”.

Mataku mengerjap. Aku memeluknya tanpa berkata apapun. Aku tak bisa menyembunyikan apapun darinya. Eomma mengerti keadaanku. Dia membiarkan aku menangis tersedu di pelukannya, tanpa menanyakan apa yang terjadi hingga aku lelah dan tertidur.

.

.

.

Kyuhyun membantuku kembali berbaring di kasur setelah aku kembali dari kamar kecil. Selang infus membuatku kerepotan dan tak bisa bergerak bebas. Dan dia dengan setia mengurusku sendiri tanpa ingin memanggilkan perawat.

“Besok kau sudah boleh pulang”.

“Baguslah. Aku sudah bosan di rumah sakit. Anak-anak pasti merindukanku. Apa mereka merepotkan Eomma?”.

Kyuhyun mengambil sisir dan membantu membereskan rambutku tanpa dipinta. “Eomma terlalu senang cucunya tinggal bersamanya. Untuk saat ini semuanya bisa diatasi. Meskipun kadang mereka rewel dan memanggil-manggil Ibunya”.

Mataku tak lepas dari wajahnya yang kini membantu mengaplikasikan krim di wajahku. Dia bahkan menggulung lengan kemejanya sendiri agar lebih leluasa bergerak.

“Kyuhyun-ah”, panggilku ragu. Dia menghentikan apa yang dilakukannya lalu menatapku. “Aku ingin mempercepat perceraian kita”.

Air mukanya turun. Ada segaris kesedihan yang nampak dari wajahnya. Aku menguatkan diriku untuk tak menangis di hadapannya. Meskipun itu sulit karena sesak telah berkumpul di dadaku.

“Setelah aku keluar dari sini, aku akan segera mencari tempat tinggal. Dan untuk sementara-jika kau tak keberatan aku akan membawa Seol dan Seon tinggal bersamaku”.

Sejujurnya, dia tahu kondisiku. Aku mencuri dengar ketika Dokter menjelaskan pada Kyuhyun mengenai alasan aku drop hingga sempat tak sadarkan diri. Kondisi fisikku memang lemah, tapi hal yang paling mempengaruhi adalah tekanan batin yang kualami.

Berada disini dengan keadaan seperti ini membuatku merenung tentang hubungan kami. Aku menyimpulkan, menjauh dari Kyuhyun adalah hal yang paling tepatkulakukan.

Tenagaku terkuras habis karena selalu pura-pura bersikap biasa saja di hadapan Kyuhyun.

“Apa hubungan ini membuatmu tertekan? Aku mengerti jika aku egois karena aku yang mengajakmu menikah dan aku pula yang ingin mengakhiri hubungan ini”.

Kyuhyun mengurut pelipisnya. “Hye Hoon-ah, aku sungguh menyayangimu. Kumohon, bertahanlah sebentar lagi. Aku butuh waktu untuk memikirkan tentang kita”.

“Apa kau mencoba menahanku untuk tetap di sisimu?”. Emosiku keluar begitu saja. Aku marah karena diperlakukan tak adil.

“Kau tidak bisa memiliki dua wanita dalam satu waktu, Kyuhyun-ah. Oke, aku tahu jika kau tak punya perasaan apapun padaku. Tapi, apa kau pikir selamanya Yoora akan sabar menunggumu?”.

“Ini bukan tentang Yoora. Ini murni tentangmu. Aku tak mau melepasmu dengan keadaan seperti ini”.

Kurangkum wajahnya dengan telapak tanganku sendiri. Membiarkan air mataku mengalir dengan bebas tanpa menyembunyikannya dari Kyuhyun. Mungkin ini sudah saatnya aku mengorbankan hubungan pertemanan kami dan mengungkapkan perasaanku padanya.

“Apa sekalipun kau pernah berpikir tentang alasan mengapa aku mau menikah denganmu? Aku sungguh mencintaimu, Kyuhyun-ah. Aku mau menikah denganmu bukan karena sekedar membantumu dari kejaran keluargamu yang mendesakmu untuk segera menikah. Kau pikir aku rela mengorbankan masa depanku hanya karena permintaan konyolmu itu?”.

Bibirku bergetar. Bukan hal mudah untuk mengakui hal ini di hadapannya.

“Setiap hari aku berharap kau membalas perasaanku. Pada saat anak kita lahir, aku berharap setidaknya kau mencintaiku karena kehadiran mereka mengikat kita. Namun, sampai saat ini pun kau tak pernah membalasnya. Kau tidak mencintaiku”.

Aku melepaskannya lalu meringkuk ke arah berlawanan. “Pergilah. Aku ingin sendiri”.

Segera setelah pintu tertutup, aku termenung memandangi pemandangan di balik jendela kamar. Aku sudah tidak bisa menangis lagi. Air mataku sudah kering karena sudah terlalu banyak keluar.

Sungguh, betapa bodohnya aku karena lebih memikirkan bagaimana keadaan Kyuhyun disaat diriku sendiri lebih terluka.

.

.

.

“Nyonya, apakah ada barang lain yang perlu kami pindahkan?”.

Aku melihat sekitar. Semua barang yang sejak tadi malam terkumpul di sudut kamarku maupun kamar anak-anak sudah tak nampak. Aku tersenyum tipis pada lelaki berseragam itu lalu menyerahkan secarik kertas.

“Semuanya sudah siap. Ini alamatnya. Kau hanya perlu meletakkan barang-barangnya sesuai dengan arahan Ibuku”.

Aku mengecek jam tangan berwarna gold milikku sekilas. “Beliau akan sampai sekitar lima belas menit lagi. Kau bisa pergi sekarang”.

“Apakah Seol dan Seon masih tidur?”.
Aku bertanya ketika Bibi Hwang keluar dari kamar si kembar. “Mereka masih tidur. Apa kalian akan pergi sekarang?”.

Dia tak banyak ikut campur urusan kami. Namun, tetap saja dia tak bisa menyembunyikan kecemasan di wajahnya. “Aku akan menunggu sampai mereka bangun. Terima kasih, Bi”.

Drrrtt

Aku tertegun ketika nama Kyuhyun muncul di layar. Kami tak banyak bicara semenjak pengakuanku di rumah sakit tempo lalu. Ada pembatas kasat mata yang membuat kami menjaga jarak. Dan aku sama sekali tak berniat menghancurkan penghalang itu.

“Halo?”.

Terdapat jeda beberapa saat sebelum dia menjawab sapaanku. “Apa kau masih di rumah?”.

“Ya”.

“Oh. Apa urusan kepindahanmu sudah selesai? Aku hanya ingin memastikanmu untuk bersedia diantar supir. Aku tak ingin kalian mengendarai taksi”.

“Ya, semuanya sudah selesai. Aku hanya tinggal menunggu anak-anak bangun. Terima kasih, Kyuhyun. Aku pasti akan memakai mobilmu”.

Hening. Kami tak berbicara apapun selama beberapa detik. Aku memilin kemeja yang kukenakan sambil bertanya dalam hati. Bagaimana perasaan dia sekarang?

“Jaga dirimu baik-baik. Aku titip Seon dan Seol padamu”.

“Kau juga. Aku berharap kau selalu bahagia”.

Ketika aku tak bisa membahagiakan orang yang kucintai, aku berharap orang yang dicintainya memberi kebahagiaan yang besar untuknya.

.

.

.

Satu bulan berlalu, dan aku tak pernah mendengar apapun mengenai Kyuhyun. Percakapan terakhir kami adalah ketika dia meneleponku sebelum kepindahanku dari rumahnya.

Ada rasa cemas menghampiri. Namun, tak dipungkiri jika rasa takut lebih mendominasi benakku. Aku tak masalah jika dia tidak mau lagi menjalin hubungan apapun denganku, tapi bagaimana dengan anak-anak? Apakah Kyuhyun tega membuang anak kandungnya sendiri karena tahu bahwa aku mencintainya?

Aku menggelengkan kepalaku berulang kali, mengusir pikiran jahat yang mengusikku. Tidak. Aku mengenal Kyuhyun lebih dari siapapun. Itu hal yang mustahil terjadi.

Lalu, apa ini berhubungan dengan Yoora? Apa mereka sibuk mempersiapkan pernikahan mereka sehingga tak punya waktu untuk menanyakan keadaan kami?

Lagi-lagi, memikirkan hal itu membuat dadaku nyeri. Rasa mual dan pening menjalar di kepalaku. Begini akibatnya jika batinku bermasalah, tubuhku pasti terkena dampaknya juga.

Ting Tong.

Aku melirik jam yang mengarah ke angka lima. Siapa orang yang bertamu pagi-pagi begini? Tak begitu memikirkan kemungkinan siapa yang datang, aku pun membuka pintu dengan cepat karena takut Seol dan Seon terbangun karena kegaduhan yang tercipta.

Pria itu tanpa basa basi menarikku dalam pelukannya. “Aku merindukanmu, Hye Hoon-ah”, katanya diselingi cengiran lebar.

Aku melepaskan diri dengan paksa lalu meletakkan tanganku di pinggang. “Ini masih terlalu pagi untuk bertamu. Pulanglah ke rumahmu dan datanglah siang nanti. Aku tak ingin anakku terbangun”.

Dia mengerucutkan bibir yang membuatku tertawa. “Kau mengusirku?”.

“Kau benar.”.

“Meskipun aku membawa banyak oleh-oleh untuk Seol dan Seon?”.
Aku sedikit tergiur. “Apakah ada sesuatu untukku juga?”.

Melihat aku sedikit lengah, dia pun seenaknya menerobos rumah. Changmin meletakkan satu koper besar dan aku takjub ketika melihat isinya. “Apa ini semua untuk si kembar?”.

“Kau pikir untuk siapa lagi”.

Aku mendecak sebal. Kau memberikan sekoper besar baju dan mainan untuk mereka dan tak ada apapun untukku”.

Dia tersenyum geli. “Hadiahmu akan sampai sebentar lagi”, katanya sok misterius. Kami tertawa dan aku memukul bahunya main-main.

Suara derikan pintu membuatku mendongakkan kepala. Sesaat, aku kehilangan kata-kata melihat Kyuhyun yang berdiri di depan pintu apartemenku. Dia terlihat kusut dengan wajah lelah dan tak terawatnya. Aku ingin marah karena dirinya muncul tiba-tiba setelah mengabaikanku dan anak-anak selama ini.

“Hei, masuklah”, kata Changmin mempersilahkan sahabat prianya itu seakan dia adalah tuan rumah. Dia menyikut lenganku lalu berbisik. “Apa kau suka kadoku?”, tanyanya menggoda.

Aku melotot dan tak menanggapi omongannya. Kyuhyun duduk dengan kaku di samping Changmin, sedangkan pria yang berada di tengah-tengah kami itu melirik kami bergantian.

Changmin memegang kepalanya. “Ah, aku lupa. Aku harus pergi kencan buta siang ini”, katanya beralasan. Aku tahu dia hanya ingin memberikan kami ruang untuk berbicara.

“Aku pulang. Sampaikan salam sayangku untuk keponakan-keponakanku. Aku akan mengunjungimu lain kali”.

Semudah itu, Changmin pun berkelit dari kecanggungan yang terjadi diantara kami.

“Sebenarnya, kami baru saja pulang dari Amerika”. Kyuhyun menggaruk kepalanya canggung.

“Changmin bilang jika dia sangat merindukan Seol dan Seon lalu cepat-cepat mengajakku kemari begitu kami mendarat”.

“Lalu kau? Apa kau tak merindukan mereka juga?”.

Diam. Dia tak membalas apapun setelah mendengar nada suaraku yang meninggi. Terang saja aku marah. Sekitar tiga puluh hari berlalu setelah kami bertemu dan dia pun sama sekali tak menanyakan kabar anak-anaknya.

“Aku menghabiskan waktuku untuk berpikir”, ungkapnya memulai cerita. “Setelah kau menyatakan perasaanmu padaku waktu itu, aku mulai berpikir ulang mengenai hubungan kita. Tak lama setelahnya aku memutuskan untuk berpisah dengan Yoora”.

Aku membasahi bibirku gugup. Pupilku melebar tak percaya. “Kau….”

Dengan cepat dia menempelkan bibinya di jariku. Aku bahkan tak ingat kapan jarak kami menjadi sedekat ini.

“Biar aku menjelaskannya”. Dia tersenyum manis lalu membelai pipiku. “Maaf karena telah membuatmu menunggu. Aku perlu waktu untuk meyakinkan perasaanku sendiri. Ini hal yang sangat penting bagiku. Aku tak mau mempertaruhkan persahabatan kita dengan menjalin hubungan cinta yang singkat denganmu”.

“Lalu, apa kau sudah tahu apa jawabannya sekarang?”.

Dia menjawabnya dengan merengkuh tubuhku dalam sebuah pelukan. Aku bahagia.

“Aku mencintaimu, Hye Hoon-ah. Aku sungguh mencintaimu dengan segenap hatiku”.

Dia mengecup bibirku singkat. Mengulanginya lagi, dan lagi sampai kami terlibat dalam sebuah ciuman panjang. Kami saling melempar senyum, lalu dia menggigit kecil bibirku.

“Aku merindukanmu”, katanya lalu menempelkan bibirnya lagi. Aku melingkarkan tanganku di lehernya ketika dia mulai menyerangku lagi.

Eommaaaa……”.

Tangisan keras itu membuat kami tersadar dan saling melepaskan diri. “Astaga, aku bahkan lupa melihat anak-anak”, sesal Kyuhyun. Dia berlari ke kamar lalu menggendong Seol yang menangis.

Aku senang melihat Kyuhyun kembali berkumpul dengan mereka.

Rasa pening itu kembali datang. Aku memegang kepalaku yang berdenyut. “Sayang, kau baik-baik saja?”.

Suara menjijikkan keluar dari mulutku karena aku kembali merasa mual. Perutku melilit. Aku tak begitu memikirkannya, tapi melihat Kyuhyun di depanku sekarang membuatku teringat satu hal.

Aku menatapnya horor. “Sayang, apa kau perlu obat? Aku akan membelikannya untukmu”.

Kyuhyun terheran ketika aku sama sekali tak merespon. Dia menyetuh bahuku khawatir.

“Cho Kyuhyun, mati kau!”, kataku sambil melemparkan pukulan-pukulan di tubuhnya. “Aku sudah memperingatkanmu untuk hati-hati tapi kau…..”

“Sebentar, sayang. Hentikan. Setidaknya jelaskan dulu kenapa kau memukuliku”.

Aku mengacak rambutku frustasi. Sungguh, tak ada satu kata pun yang bisa kudeskripsikan mengenai keadaan sekarang ini.

“Sepertinya beberapa bulan lagi mereka akan punya adik”.

Kyuhyun melebarkan pupilnya. Oh, sungguh. Senyuman penuh kemenangannya itu semakin membuatku kesal.

Dia meraih tubuhku dengan tangannya yang bebas, mengecup rambutku sekejap lalu bergumam.

“Terima kasih karena tak pernah menyerah padaku”.

-End

Yaampun ini full ngetik pake tab loh gegara males buka laptop. Pake dua jempol ngetik padahal biasanya pake sepuluh jari. Tapi panjang juga ya ternyata hahaha

Kalo mood ada, satu ff lagi tentang ini masih dikerjain. See you when I see youπŸ’‹

Ditunggu yaaaaa responnya thankyou!

40 thoughts on “{friend-turned-love relationship} – Saying I Love You

  1. Dari awal udah pengen getok pala ny kyu rasanya.. Knp ga loading2 tuh otak?? Haahha..
    Apalagi pas yoora nongol, ugh, rasa mau nimpuk kyu pake sandal..
    Sampe menitikkan air mata saking terharu ny nah dgn sikap hye yg kyk gitu.. Sungguh jd cewe tangguh bgt..
    San untungnya otak ny kyu balik normal lg.. Ga kebayang klo mrka smpe pisah.. Hiks
    Dan slamat cho, bakalan ada adeknya s kembar.. πŸ˜‚πŸ˜‚

  2. Aduh cho kyuhyun, u tu gimana??? U yg meminta hyehoon untk mau menikah dgn u, dan u sendiri yg melukai hyehoon dgn sadisnya!! Untung u cpat sadar dan tdk jd bercerai, coba kalau udah bercerai baru sadar bhwa yg u cintai bukn yoora, bisa menyesal…

  3. akhirnyaaa ga jd ceraiii.. hikkss kyu mmng keterlaluan bgt kalo smpe jd cerai sm hye hoon scra dia yg ngajak nikah maaa dia mau akhirin jg.. fiuhh syukur lah kyu udh putus sm yoora keputusan yg bagu cho hikkss senang bgt mrka bs sama2 lg..

  4. friend turned suami istri relation ship asgddbhav kereeen kaa ceritanyaaa hye hoonya pasrah bgt ngalah sama cinta lamanya kyuhyun biar kyuhyunnya bahagiaa u,u masi baik sm ngasih jath pulaa (?)
    untungnya kyuhyun sadar happy ending yaiy
    ditunggu cerita selanjutnya kaa

  5. suka banget ma cerita ffnya..
    alur klimaksnya bener2 keren..
    awalnya slow makin lama makin naik, jadi inget naik wahana roler coster..
    bener2 keren pokoknya, perasaanq pun jg seperti naik roler coster waktu baca ff ini..
    awalnya slow makin lama makin negangin..
    4 jempol buat author elsa..
    endingnya top banget..
    ditunggu ff selanjutnya, semoga sehat selalu..
    keep writing ya and fighting..

  6. Awalnya nyesek banget menikah tapi tanpa cinta. Untung akhirnya kyu membalas cinta hyehoon. Ketulusan cintanya berbuah manis. Elsagyu bener2 bikin baper deh jjang!!!

  7. Keren pisannnn.. sampe baper gini, Hyehoon sama aku satu nasib😁 aku selalu suka sama ffnya ka elsa, selalu aja ngena dihati sampe nangis atau bahkan nyengir geje, suka sama kehadiran Changmin yg menggantikan posisi Dongek 😁.. sequelnya ditunggu kakkkk

  8. paraaaah tadi udah ngetik komen panjang panjang, salah pake emailπŸ˜ͺπŸ˜ͺπŸ˜ͺ
    intinya suka banget sama oneshot begini, endingnya apa lagiiiii 😁😁😁 mereka mau punya adik😁😁😁😁
    dari awal baca udah bikin panas dingin, seenak jidat ngajak sahabat nikah, terus ternyata sahabatnya itu dari dulu ternyata udah memendam cintanya, terus akhirnya mereka nikah dan punya anak,terus dia, si kyuhyun itu, minta cerai gara gara kepincut pada lubang yg sama (read:mantan), terus masih juga minta jatah/?😰😰😰😰 so what! sumpah pengen garuk kyuhyun biar sadar, tapi untung di endung dia sadar 😁😁😁😁
    pokoknya di tunggu after storynyaaaa yaaaa,seneng banget pas lagi buka rmail ada notif dari blog ini😁😁😁
    aku masih setia nunggu second wife looooh heheh

  9. Selalu yaa. Cerita kamu bikin orang speechless wkwk Feelnya dapet bgt. Apalagi pas Hyehoon menyatakan perasaannya itu. Untung aja Kyuhyun cepet menyadari kalo dia jg ada rasa sama Hyehoon. Alhamdulillah happy ending lol

  10. kirain bakalan sad ending… ternyata happy ending Dan itu bener2 manis bgt… ada changmin juga sebagai pemanis ending nya. suka bgt sama ff nya kakak

  11. aku kira kyuhyun bakal ninggalin hyehoon dan dia g punya rasa cinta sama sekali buat hyehoon… untung aja sebelum mereka pisah khyuhyun udah sadar.. gimana nasibnya yoora ya, siapa suruh mau sama kyuhyun padahal kyuhyun udah punya istri… ff elsa itu selalu bikin nyesek, senyum-senyum sendiri, ditunggu terus karyanya :)
    semangat :D

  12. as always, your story is always complete. nano nano bgt feelnya. sahabat, nikah, dilema, lalu anak. itu bagai satu kesatuan. kesabaran hye hoon dan kesadaran kyuhyun apa arti hye hoon untuknya membuat rumah tangga mereka terselamatkan ☺☺

  13. selalu suka baca ff disini, bikin baper n melow abis :)

    udah q duga hadir’y changmin mengusik cinta yg terpendam dalam diri kyuhyun, seneng banget mereka ga jadi pisah, malah dapet bonus bakal punya adik buat cho twins..

    jd penasaran sama nasib’y yoora setelah kyuhyun putuskan, ok ditunggu kisah selanjut’y ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s