Behind The Knot – Part 2


160804-before-mozart-musical-with-kyuhyun4

Kyuhyun memandangi punggung Hye Hoon yang semakin menjauh darinya. Debaran jantung di dadanya masih memburu, sama seperti ketika perkataan Hye Hoon tentang kalung itu menusuk telinganya. Dia menyelipkan tangannya diantara lipatan sofa yang didudukinya, kemudian mengambil sesuatu berwarna hitam disana. Dibukanya benda persegi itu, yang menampakkan barang yang sama dengan perhiasan baru yang dikenakan oleh istrinya. Bibirnya terangkat sedikit, tersenyum miris meratapi apa yang terjadi padanya.

 

Dia selalu terlambat satu langkah dibanding Lee Donghae.

.

.

.

Cerita sebelumnya bisa dibaca disini https://elsagyu.wordpress.com/2013/12/19/behind-the-knot/

 

Kyuhyun semakin merapatkan matanya ketika guncangan di tubuhnya yang masih meringkuk di atas ranjang empuknya itu semakin lama berubah menjadi semakin cepat. Lengkingan ber-oktaf tinggi yang diterima telinganya yang malang itu kali ini sudah bisa diatasinya. Walaupun begitu, tubuhnya juga memiliki batasan untuk menerima salah satu gangguan dari hidupnya itu.

Lagipula, istrinya ini benar-benar jauh dari kata romantis. Dasar gadis bar-bar tak tahu aturan. Seharusnya Hye Hoon lebih mengerti jika suaminya hanya butuh ciuman selamat pagi yang panjang untuk bisa membuka matanya lebar, bukannya cara biasa yang dilakukan seorang Ibu terhadap anaknya. Ck! Dasar wanita gila!

“Kau yakin tak akan membuka matamu? Sayang sekali. Padahal aku sudah memakai koleksi terbaru Victoria Secret yang datang ke rumah kemarin. Aku akan menunjukkannya tapi kau—”

“Aku bangun”, jawab Kyuhyun sigap. Matanya dibuka selebar mungkin, sedangkan tubuh bagian atasnya sudah bangkit sehingga posisinya terduduk di atas ranjang. Kyuhyun melongo ketika melihat penampilan Hye Hoon yang jauh dari apa yang digambarkannya dalam khayalan menyimpangnya tadi. Gadis itu berpakaian lengkap dengan kaos dan celana training milik Kyuhyun yang terlihat longgar di tubuh mungilnya.

Tawa itu meledak bahkan sebelum tangan Kyuhyun dapat menggapai kepala cantik itu untuk memukulinya. Hye Hoon yang tak mau mendapat kesulitan karena menggoda lelaki buas itu segera berlari kencang menuju ruang tamu, dimana tiba-tiba terdengar suara bel dari arah luar.

Melihat Hye Hoon yang lengah, Kyuhyun pun menyeret gadis itu dan menyudutkannya di dinding. Bibirnya mengunci bibir Hye Hoon dengan cepat lalu melumatnya tanpa ampun.

Mereka saling merasai tubuh pasangannya yang masih tertutup kain. Keduanya tak menghiraukan tamu yang menyambangi kediaman mereka itu, hingga….

“Kyuhyun~ah, ini Hyunri. Apa kau ada di dalam?”

Bunyi plop terdengar ketika Hye Hoon melepas bibirnya. Dia mendorong Kyuhyun menjauh darinya menggunakan tangannya yang lemas. “Pacarmu datang”, katanya sambil tertawa. “Dia berjarak kurang dari seratus meter darimu dan kau sedang mencumbu wanita lain? Kau benar-benar bajingan, Cho”.

“Apa menurutmu begitu?”. Kyuhyun menatap Hye Hoon dalam. Hye Hoon tak bisa mendeskripsikan apa arti di balik tatapan Kyuhyun kali ini. “Kurasa aku tidak melakukan kesalahan apapun karena wanita yang kucium adalah istriku sendiri”.

 

Segera, Kyuhyun meninggalkan Hye Hoon yang tertegun di tempatnya. Dia mengibaskan kepalanya berulang untuk menyingkirkan pikiran-pikiran aneh dari kepalanya.

 

Benar. Kyuhyun berubah setelah Hyunri kembali. Tapi mengapa? Hye Hoon benar-benar tak punya ide apapun mengenai hal itu.

 

Klik.

 

Suara pintu yang tertutup membawa Hye Hoon kembali ke dunia nyata. Tatapan menyelidik dari Hyunri adalah hal pertama yang diterimanya sesaat setelah bertemu dengan wanita yang lebih tua darinya itu.

 

“Kalian terlihat berantakan. Apa kedatanganku mengganggu?”.

 

Hye Hoon menghampiri Hyunri lalu memberikan pelukan panjang. “Tentu saja tidak, Eonnie”, katanya disertai kekehan canggung. “Ini sudah sekian lama sejak kita terakhir bertemu. Aku merindukanmu”.

 

Gadis itu memberi isyarat agar Kyuhyun membantunya. “Itu benar, Hyunri~ya. Jangan hiraukan penampilan Hye Hoon. Setiap saat dia memang begitu. Dasar gadis malas yang berantakan”.

 

Hye Hoon mendelik tajam. Kyuhyun memang harus diberi pelajaran karena mulut berbisanya itu.

 

“Sudahlah. Kalian ini selalu saja bertengkar seperti anak kecil. Ngomong-ngomong, apa kalian sudah sarapan? Aku membawa bahan masakan dan berniat untuk memasak disini. Kau tak keberatan jika dapurmu kupakai, Hye Hoon~ah?”

 

“Kau selalu diizinkan melakukan apapun di rumah ini, sayang. Lagipula, gadis itu pasti senang karena dia tak harus membuatkanku makanan”. Kyuhyun mendahului istrinya untuk menjawab. Orang yang ditanyai malah mencebik kesal karena Kyuhyun selalu memanjakan kekasihnya.

 

Hyunri pun menyelesaikan acara memasaknya dalam waktu yang cukup singkat. Mengingat hari sudah mulai beranjak siang, gadis itu tak ingin membuat pasangan suami-istri itu kelaparan.

 

Kepalanya tiba-tiba berputar memikirkan status yang seharusnya bisa disandangnya itu.

 

Apalagi setelah apa yang terjadi ketika dia memasuki rumah ini tadi. Hyunri bukan wanita bodoh yang tak menyadari apa yang dilakukan kedua orang itu sebelum dirinya masuk. Dia hanya pura-pura menjadi orang bodoh.

 

Hyunri mengamati bibir Kyuhyun yang membengkak. Inderanya beralih melihat mata Kyuhyun yang sedang menunjukkan gelagat aneh. Namja itu diam-diam memperhatikan Hye Hoon yang sedang menikmati sarapannya dengan lahap.

 

Sebuah tusukan tajam menghantam dadanya. Tidak. Hyunri tak boleh membiarkan ini terjadi.

 

“Apa kau bisa mengantarku berbelanja untuk kebutuhan show-ku, sayang?”, tanya Hyunri memecah keheningan. Kyuhyun melihat gugup ke arah Hyunri, sebentar melirik Hye Hoon yang tak menunjukkan reaksi apapun, lalu kembali ke Hyunri.

 

“Oh, tentu. Aku akan mengantarmu kemanapun kau mau”.

 

Hye Hoon mengecek ponselnya yang berbunyi. “Kebetulan sekali jika kau pergi. Donghae Oppa baru saja mengirimkanku pesan jika dia ingin mengajakku keluar. Tapi aku sedang tak ingin. Untuk itu, aku berencana untuk mengundangnya kesini. Kau tidak keberatan, Cho?”.

 

“Untuk apa aku keberatan?”, balasnya sewot. Hyunri mengernyitkan dahi melihat sikap yang tak biasa ditunjukkan Kyuhyun itu. “Tapi aku tak akan mentolelir jika kalian berbuat macam-macam disini. Awas saja jika kau berani”.

 

“Lalu menurutmu kita hanya bisa mengobrol sampai bosan? Ya! Kau pikir apa lagi hal yang bisa dilakukan sepasang pria dan wanita di rumah yang kosong selain itu, hah?”.

 

Kyuhyun ternganga mendengar kalimat itu. Gadis itu benar-benar pandai menggunakan mulutnya. Untung saja Hyerin ada disini, jika tidak Kyuhyun tak akan membiarkan istrinya memanggil pria lain dan mengunci gadis itu di kamar mereka.

 

“Kau ini…….”.

 

Hyunri mengelus lengan Kyuhyun lembut. “Sudahlah, sayang. Aku yakin mereka sudah dewasa untuk mengetahui mana yang terbaik untuk mereka. Lagipula, bukankah mereka akan menikah? Kurasa tak apa jika kau memberi sedikit kebebasan pada Hye Hoon”.

 

Hye Hoon mengangguk membenarkan. Kyuhyun menatap kedua wanita itu bergantian dengan tatapan marahnya kemudian membanting sendoknya kasar.

 

Pria itu bergegas masuk ke kamarnya dengan hentakan keras yang mengiringi langkahnya.

 

“Kenapa Kyuhyun tiba-tiba marah seperti itu? Apa dia tak menyukai kekasihmu?”.

 

Hye Hoon menggedikkan bahunya. Benar, bukan? Pria itu sudah berubah banyak. Kyuhyun terlalu sensitif dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan dirinya.

 

Apalagi jika itu menyangkut tentang Donghae juga.

 

.

.

.

 

Hyunri bisa merasakan perubahan kekasihnya yang semakin mencolok. Sejak tadi, Kyuhyun hanya melamun dan menjawab sekenanya ketika dia bertanya tentang baju mana yang lebih pantas di tubuhnya. Padahal, biasanya Kyuhyun paling antusias melihat Hyunri berganti-ganti pakaian meskipun acara belanjanya itu berakhir dengan pria itu memaksa memborong semuanya.

 

Kini, keduanya tengah menikmati makan siang mereka di apartemen Hyunri. Mereka memang lebih sering menghabiskan waktu di tempat itu. Selain untuk menghindari wartawan dan gosip miring yang bisa mencoreng reputasi keduanya, itu juga berhubungan dengan rasa kenyamanan mereka.

 

Keduanya lebih senang berada di tempat yang tenang dan sunyi. Itulah salah satu definisi kebahagiaan dalam kamus mereka.

 

Pria tampan yang sedang menikmati makanan hasil olahan kekasih hatinya itu mengangguk puas setelah suapan pertamanya. “Emm…kau tak kehilangan keahlian memasakmu”, katanya bangga. Kyuhyun menyipitkan matanya menuduh. “Jangan bilang padaku jika kau memasakkan pria lain selama berada disana”.

 

“Aku tak punya waktu untuk melakukan hal seperti itu”. Nada bicara Hyunri yang serius membuat Kyuhyun merengut. Bukan ini yang dia inginkan. Kyuhyun ingin gadisnya menyerangnya dengan kata-kata kasar karena tuduhan perselingkuhan, layaknya apa yang biasa didengarnya dari gadis bar-bar yang tinggal seatap dengannya.

 

“Kau melamun lagi”, ucap Hyunri akhirnya. Kesabarannya sudah habis untuk menghadapi Kyuhyun-nya yang sering berada di dimensi lain. “Sebenarnya, apa yang terjadi padamu? Kau bahkan melupakan sesuatu yang penting yang harusnya kau lakukan ketika kau bertemu denganku”.

 

“Maaf, aku sedang ada banyak pekerjaan”. Tentu saja itu bohong. Kyuhyun tak pernah memikirkan masalah pekerjaannya ketika dia berada di luar kantor. Untung saja Hyunri tak curiga dan mengiyakan alasannya tadi.

 

“Oh ya. Tentang sesuatu yang penting itu…apa aku melupakan sesuatu?”

 

Pipi gadis itu berubah warna. Mana mungkin dia dapat bersikap gamblang dan memberitahukan bahwa hal yang dimaksud adalah tentang lamaran yang biasa dilakukan Kyuhyun.

 

Hmm….bukan apa-apa, Kyuhyun~ah”, jawabnya canggung. “Lanjutkan makananmu. Aku sengaja memasak banyak untukmu”.

 

.

.

.

 

Bukan hanya Hyunri yang heran dengan perubahan tingkah kekasihnya. Lelaki tampan yang mengenakan kaos putih polos dengan jeans biru tuanya itu juga merasakan demikian. Hye Hoon sedikit berbeda hari ini. Gadis itu lebih banyak diam dan hanyut dalam dunianya sendiri.

 

Keadaan ini membuat jantung Donghae berdebar kencang. Dia mempunyai firasat kuat bahwa ini adalah sesuatu yang buruk baginya.

 

“Kau yakin tidak ingin kemana-mana?”. Donghae bertanya untuk kesekian kali. Bukannya dia tak suka mereka berpelukan sepanjang hari, namun rasa bosan itu menghampirinya. Bayangkan, selama enam jam penuh mereka duduk di jok belakang mobil Donghae dengan posisi keduanya yang berpelukan sambil membahas hal-hal mengenai pernikahan mereka yang akan datang.

Itupun selalu Donghae yang memulai pembicaraan. Hye Hoon hanya menanggapi dengan kalimat singkat ataupun isyarat tubuh yang terkesan dipaksakan.

 

Oppa, apa semua lelaki akan berubah manis jika dia sedang jatuh cinta?”.

 

Hye Hoon menatap Donghae dari balik dada bidang kesayangannya itu. Sangat menyenangkan berada di pelukan calon suaminya, tapi dia tak bisa membohongi dirinya sendiri jika dia sedang memikirkan pria lain sekarang. Hye Hoon bahkan menuruti Kyuhyun untuk tidak membawa kekasihnya ke dalam rumah mereka.

 

Hal itu membuatnya frustasi. Padahal, tak ada yang berubah jika memang Kyuhyun benar menyukainya. Benar, bukan?

 

Wajah pria itu berubah kusut. Dia tidak bodoh untuk mengetahui apa maksud Hye Hoon. Firasatnya benar. Sepertinya Kyuhyun mulai menyukai istrinya sendiri.

 

“Itu salah satu kemungkinannya. Tapi ada kemungkinan lain yang bisa saja terjadi”.

 

Hye Hoon mengernyit. “Apa itu?”.

 

Donghae yang tergoda melihat ekspresi lucu yang ditunjukkan gadis itu pun mencium bibir ranumnya sekilas. “Lelaki selalu bersikap manis terhadap orang-orang yang dikasihinya. Contohnya, seorang adik?”.

 

”A-Adik?”. Hye Hoon membuka mulut sambil memasang ekspresi terkejutnya. Dia merasa terhina jika Cho Kyuhyun yang menyebalkan itu hanya menganggapnya tak lebih dari seorang adik. Siapa juga yang mau menjadi adik dari namja sialan seperti dirinya?

 

Darahnya naik ke ubun-ubun. Dia sungguh marah dengan Kyuhyun. Dan untuk menetralkan tekanan darahnya, satu-satunya yang dibutuhkannya saat ini adalah alkohol.

 

Ah..aku merindukan Seungwoo Oppa. Jika kita ke bar malam ini, kau tak keberatan?”.

 

Bibir Donghae memamerkan senyum ganjilnya. “Tentu saja, sayang. Apapun untukmu”.

 

.

.

.

 

Noraebang?”

 

“Iya. Aku ingin sekali pergi kesana”.

 

Hyunri melirik pria tampan yang sedang fokus dengan gagang setir di cengkramannya itu. Tak ada perubahan raut wajah atau apapun yang membuatnya bisa menyimpulkan bahwa prianya sedang bercanda.

 

“Ini sama sekali bukan style-mu, Cho Kyuhyun”, sindirnya. “Kau paling tahu jika aku tak suka tempat berisik yang murahan seperti itu. Kau juga sama sepertiku. Kita bukan anak kecil lagi yang bisa bersenang-senang di tempat karaoke, Kyuhyun~ah”.

 

Jika itu Hye Hoon, gadis itu pasti akan menyambut ajakannya dengan sukacita.

 

Sadarlah, Kyuhyun. Sejak kapan kau terus membandingkan kekasihmu dengan anak kecil itu? Tentu saja mereka berbeda. Sifat mereka seperti satu titik yang membentuk garis berlawanan.

 

“Aku melupakannya. Maafkan aku, sayang. Otakku terlalu penat akhir-akhir ini”. Kyuhyun menyesal telah mengatakannya. Dia harusnya menjaga omongannya agar pacarnya tak berpikiran macam-macam.

 

“Apa itu yang membuatmu melupakan kebiasaanmu setiap aku pulang? Kau bahkan tak sempat menunjukkan cincin yang baru padaku”.

 

Denyut nadi Kyuhyun seakan berhenti setelah mendengarnya. Lupa? Tentu saja tidak. Dia hanya sedang terombang-ambing dengan perasaannya sendiri. Pria itu tak yakin dengan cintanya pada Hyunri. Dia bahkan takut jika seandainya kali ini Hyunri menerima lamarannya.

 

Kyuhyun yang pengecut, akhirnya lebih memilih bungkam. Ini hal terbaik yang dapat dilakukannya sekarang.

.

.

.

 

Hye Hoon menyelesaikan gelas ketiganya dalam sekali teguk. Dia tersenyum manis ketika pria tampannya merengkuh tubuhnya dalam dekapan hangat. Hanya itu yang dibutuhkannya sekarang. Kehadiran seorang Lee Donghae merupakan anugerah terbesar di hidupnya. Hye Hoon tak perlu memikirkan lelaki lain—apalagi bagaimana perasaan lelaki itu—ketika dia mempunyai lelaki yang tulus mencintainya.

 

“Kalian ini selalu membuatku iri”, sahut seseorang di balik meja bar di seberang pasangan itu. “Andai aku punya pacar, aku pasti akan membuat kalian merasakan apa yang aku rasakan”.

 

Hye Hoon tertawa senang. “Aku tak perlu cemburu dengan keromantisan orang lain karena aku akan bisa melakukannya sendiri. Benar kan, Oppa?”

 

Hmm…sebentar lagi kita akan menikah. Kau pasti akan semakin iri padaku, Seungwoo~ya”. Donghae melayangkan kedipan mata untuk teman kuliahnya itu. Dia melirik gadis yang ada di pelukannya, terkejut saat mendapati Hye Hoon menatap kosong rentetan botol di depannya.

 

Di sisi lain tempat yang sama, Kyuhyun tertegun saat retinanya menangkap pemandangan yang menusuk-nusuk hatinya. Dari punggungnya saja, Kyuhyun dapat memastikan jika gadis yang ada di pelukan sesosok pria tak asing itu adalah istrinya.

 

Tanpa sadar, Kyuhyun mengepalkan tangannya kuat. Telinganya memerah karena darahnya yang mulai panas. Melihat seorang bartender yang berbincang akrab dengan mereka, Kyuhyun dapat memastikan bahwa mereka pelanggan tetap di tempat eksklusif ini.

 

“Oh…Kyuhyun~ah, bukankah itu Hye Hoon?”

 

Tanpa persetujuan Kyuhyun, Hyunri mendekati tempat duduk gadis itu. Kyuhyun mengacak rambutnya kesal. Dia tak punya pilihan lain selain mengikuti kemana yeojachingu-nya pergi.

 

“Hye Hoon~ah”.

 

Hye Hoon melepaskan dirinya dari pelukan Donghae. “Kita bertemu lagi, Eonnie”, sapanya canggung. Matanya melebar saat mendapati pria yang mengacaukannya itu berjalan santai di belakang Hyunri.

 

“Kyuhyun~ssi? Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu disini”. Kyuhyun membalas perkataan basa-basi Donghae dengan anggukan kepalanya.

 

Dengan gerakan cepat Hye Hoon memalingkan muka. Gadis itu kembali mengisi penuh gelas kecilnya lalu meneguknya cepat. “Jangan terburu-buru seperti itu, sayang. Aku takut kau tersedak”, ucap Donghae khawatir.

 

Hye Hoon menyunggingkan bibirnya tipis sebagai jawaban. Dia tak ada mood untuk membuka mulutnya sekarang. Sungguh, dia tak menyangka jika kehadiran pria itu dapat mempengaruhi perasaannya.

 

“Apa kau Lee Donghae?”. Kalimat itu membuat semua orang menatap Hyunri dengan sorot mata yang berbeda. Donghae mengeluarkan senyum mautnya. “Benar. Bagaimana kau mengenaliku?”.

 

“Hye Hoon pernah menceritakan tentangmu padaku. Dan kurasa dia tak bohong dengan pujiannya. Kau benar-benar pria gentleman”.

 

Kyuhyun yang tak suka Hyunri ikut memuji kekasih istrinya itu pun menarik tangan gadis itu untuk meraih perhatiannya. “Sayang, aku sudah memesankan wine untukmu”.

 

Hyunri mengernyit ketika melihat tak ada gelas di depan Kyuhyun.”Kau tak minum?”, tanyanya heran. Tidak biasanya Kyuhyun melewatkan minuman favoritnya. Ini pertama kalinya.

 

“Tidak, sayang. Kau saja”.

 

Bibir Hye Hoon gatal untuk tak berkomentar. “Tumben sekali. Tidak biasanya kau menolak wine kesukaanmu, Kyuhyun~ssi”. Hye Hoon bangkit dari kursinya dan berjalan sempoyongan. Efek yang ditimbulkan minuman keras itu membuatnya pusing.

 

“Sayang…”, ungkap Donghae cemas setelah menangkap Hye Hoon yang hampir terjatuh.

 

“Aku harus ke toilet”.

 

“Kuantar”.

 

Hye Hoon mengaduh ketika badannya ditarik paksa. Jantungnya berdetak cepat ketika pandangan buramnya menangkap sosok Kyuhyun menyangga tubuhnya. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk meyakinkan penglihatannya.

 

“Biarkan aku yang mengantarnya, Donghae~ssi”. Kyuhyun membawa tas dan mantel Hye Hoon lalu menyeretnya pergi. “Ayo kita pulang”, katanya tak ingin dibantah.

 

Hye Hoon tak menerima begitu saja. Dia meronta di dekapan Kyuhyun, walaupun sepertinya itu tak akan berhasil. Kyuhyun tak akan melepaskannya pergi begitu saja. Pada akhirnya, Hye Hoon menyerah. Dia memejamkan matanya sambil menghirup aroma tubuh Kyuhyun yang seperti candu.

 

Hye Hoon terlalu nyaman hingga dia tak menyadari bahwa dirinya terlelap di pelukan suaminya.

 

Kedua orang yang ditinggalkan tak dapat melakukan apapun. Hyunri yang kesal dengan keadaan ini pun menenggelamkan dirinya pada alkohol yang dikonsumsinya. Berbeda dengan Donghae yang bersikap lebih tenang. Pria itu sudah memprediksi lambat laun hal ini dapat terjadi. Namun, tetap saja ini menyakitinya. Dia tak rela Hye Hoon berada di pelukan Kyuhyun.

 

Andai dia pulang lebih awal, mungkin keadaannya akan berbeda. Hye Hoon tak akan menjadi milik orang lain selain dirinya.

 

“Donghae~ya, siapa pria itu? Mengapa dia membawa Hye Hoon pergi?”.

 

Pria itu mengeratkan pegangannya pada gelas yang sedang digenggamnya. Dia menatap gelas itu dengan tatapan gelapnya. “Untuk saat ini, pria itu adalah suaminya. Dan sebentar lagi aku yang akan mengganti posisinya”.

 

Seungwoo yang tak tahu menahu tentang status Hye Hoon pun menganga. Dia tak menyangka hubungan pasangan yang selalu mengumbar romantisme-nya itu memiliki masalah yang rumit.

 

Don’t judge book by it’s cover. Peribahasa itu sungguh cocok untuk pasangan itu.

 

.

.

.

 

Hye Hoon tak begitu ingat apa yang terjadi di bar tadi malam. Dia mendapatkan kembali kesadarannya ketika dirinya tertidur nyaman di dada suaminya, menghempaskan pikiran buruk apapun dan kembali melanjutkan tidurnya.

 

Hingga kemudian dia mengecek ponselnya yang penuh dengan notifikasi panggilan tak terjawab dan pesan singkat dari Lee Donghae. Hye Hoon yakin jika bukan Donghae yang mengantarnya pulang. Lalu siapa?

 

Dia tertawa tak percaya ketika nama Kyuhyun terlintas di pikirannya. Eii….tidak mungkin. Kyuhyun datang bersama pacarnya kemarin. Buktinya, sekarang saja pria itu tak peduli dengan istrinya yang sedang kepayahan.

 

Gadis itu perlu konfirmasi. Untuk itu, dirinya tak segan untuk berjalan sempoyongan mencari Kyuhyun. Hye Hoon berkacak pinggang setelah menemukan suaminya sedang bermain game.

 

Apa-apaan ini? Sepertinya pria itu tak pernah mempedulikanku. Tapi, memangnya aku peduli jika dia peduli padaku atau tidak?

 

“Kau sudah bangun?”.

 

Hye Hoon menjawab ketus. “Seperti yang kau lihat”.

 

“Makanlah. Aku sudah menghangatkan sup ayam ginseng untukmu. Disitu ada obat pereda hangover juga”. Hye Hoon merasakan dadanya berdesir mendapat perlakuan istimewa dari suaminya.

 

“Lain kali, jika kau berkunjung ke tempat seperti itu jangan biarkan seorang pria mencekoki minuman sampai mabuk. Tidak ada yang menjamin jika pria itu tak akan mengambil keuntungan dari ketidaksadaranmu”.

 

“Donghae Oppa bukan orang seperti itu”, belanya dengan suara meninggi. Kyuhyun masih memfokuskan pandangan pada televisi di hadapannya. Namun, mata dan telinganya sebenarnya mengamati gerak-gerik gadis itu.

 

Kyuhyun tersenyum tipis ketika mendengar hentakan kaki jenjang istrinya.

 

“ Kau akan tetap menikah dengannya? Lee Donghae itu?”

 

Hye Hoon melirik orang yang sejak tadi sibuk dalam dunianya sendiri itu dengan tatapan heran. Ini pertama kalinya suaminya menanyakan hal ini padanya. Biasanya, Kyuhyun selalu bersikap tak acuh dengan hubungannya dengan Donghae.

 

Mungkin saja Kyuhyun mencoba menyembunyikan rasa penasarannya, Hye Hoon juga tak tahu. Yang jelas, sejak pertama dia bertemu kembali dengan Donghae pun, Kyuhyun sudah tahu. Tak ada rahasia diantara mereka. Kecuali satu hal. Donghae tak tahu jika dia telah melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, yakni memuaskan hasrat kelelakian yang dimiliki suaminya.

“Kau sendiri tahu, itulah keinginan terbesar dalam hidupku. Menjalani prosesi pernikahan yang sakral tanpa kemewahan, dengan lelaki bernama Lee Donghae yang menungguku di ujung altar”.

Mata Hye Hoon melebar setelahnya, menatap iba pada Kyuhyun yang masih dalam keadaan tak stabilnya. Oh, mungkin masalah pernikahan ini diangkat karena Kyuhyun sedang mengalami patah hati akibat hal yang berhubungan dengan persoalan itu, pikirnya logis.

Wae? Apa Hyunri Eonnie menolak lamaranmu lagi?”, tanyanya ragu.

Kyuhyun melihat wajah Hye Hoon tak suka. Wajahnya semakin keruh mendengar pertanyaan Hye Hoon tadi. Dia menghampiri istrinya, kedua tangannya berpindah memegang bahu Hye Hoon yang kebingungan melihat sikapnya. Apalagi setelah Kyuhyun mengunci mata hazel gadis itu dengan mata hitamnya yang berubah tajam.

“ Dengar, aku hanya mengatakannya sekali. Menikahlah denganku, Hye Hoon~ah

Mata hitam legam Kyuhyun bergerak mengamati perubahan wajah gadisnya. Kyuhyun memang mengambil keputusan ini setelah semalaman dia berpikir keras tentang perasaannya pada Hye Hoon. Mengingat rencana pernikahan Hye Hoon dan Donghae yang sudah matang, Kyuhyun yakin jika waktu yang dimilikinya tak lama lagi.

Dia rela mengambil resiko untuk mengungkapkan perasaannya sebelum dirinya terlambat.

Hye Hoon yang masih tak percaya dengan apa yang didengarnya itu menepis tangan Kyuhyun yang bersarang di bahunya. “Kita sudah menikah, Cho. Apa maksudnya dengan kau mengajakku menikah lagi?”.

“Bukan pernikahan seperti ini yang aku inginkan. Aku ingin pernikahan nyata seperti yang kau impikan bersama namja itu. Aku mencintamu, Choi Hye Hoon”.

Aniya. Ini kesalahan. Kau pasti sedang mabuk dan meracau tak jelas. Ini bukan dirimu. Atau ini hanya halusinasiku saja?”. Hye Hoon mencubit pipinya sendiri dan mengaduh. Tidak, ini bukan khayalannya. Ini nyata.

Hye Hoon melebarkan matanya. Dia masih bingung dengan situasi ini. “Kau serius dengan ucapanmu?”.

Kyuhyun mengangguk cepat. Dan jawaban itu seperti bom waktu yang membuat kepala Hye Hoon meledak dalam sekejap mata.

.

.

.

Hye Hoon tak bisa tinggal di rumah dengan Kyuhyun yang seperti memiliki kepribadian ganda. Bagaimana tidak? Hye Hoon yang sudah biasa mendapatkan perlakuan tak manusiawi dari lelaki itu sekarang diagungkan layaknya tuan putri.

Tak dipungkiri ada degupan-degupan aneh di dadanya ketika Kyuhyun bersikap manis padanya. Wajar, seorang wanita pasti senang diperlakukan special oleh pria. Hye Hoon berharap perasaannya hanya sekedar itu saja.

“Hai, sayang”.

Bibirnya tertarik ke atas saat matanya menangkap sosok kekasihnya yang berjalan menghampirinya. Lelaki itu tak lupa memberi kecupan singkat di keningnya seperti yang biasa dilakukannya.

Donghae menempati kursi di samping gadisnya. Chief Executive Officer dari perusahaan elektronik terbesar se-Asia itu mengernyitkan dahinya karena kecanggungan Hye Hoon.

“Apa kau yang mengantarkanku ke rumah tadi malam?”.

Donghae sejenak berpikir. Jika bisa memilih, pria itu sebenarnya lebih ingin menyembunyikan faktanya. Tapi, apa daya. Donghae tak akan menggunakan cara licik untuk mendapatkan orang yang dicintainya.

“Bukan aku, tapi suamimu. Dia bersikeras menyeretmu pulang karena kau terlalu mabuk”.

“Dan kau tak mencegahnya melakukan itu?”, ungkapnya frustasi. “Disana ada Hyunri Eonnie juga. Apa sebenarnya yang pria itu inginkan dariku?”.

Tangan lembut Donghae terulur menggenggam jemari gadisnya. “Aku sangat ingin. Tapi, untuk sekarang dia orang yang paling berhak atas dirimu”.

Oppa, apa menurutmu itu masuk akal? Cho Kyuhyun berusaha untuk menikahi kekasihnya dan dia mengacaukan usahanya itu hanya dalam satu malam. Otaknya sudah tidak waras”.

“Dia menyukaimu”.

Jantung Hye Hoon seakan melompat keluar. Gadis itu mulai salah tingkah dan bersikap seperti orang yang kepergoki. Donghae melihat dengan jelas pipi Hye Hoon yang merona. Dia hanya tersenyum kecut ketika Hye Hoon menolak asumsinya.

“T-Tidak mungkin. Itu hal yang mustahil”.

Sikap protektif dalam diri Donghae mulai muncul. Dia mengeratkan genggaman tangan mereka yang melekat di atas meja. “Jika pun benar, itu tak masalah”, ucap pria itu penuh percaya diri. “Tak penting jika dia menyukaimu, kecuali kau membalas perasaannya”.

Hye Hoon bungkam. Donghae menaikkan dagu gadisnya lalu mendekatkan wajah mereka. Gadis itu memejamkan matanya ketika sebuah material lembut menyapu bibirnya. Entah berapa lama mereka terhanyut dalam cumbuan itu. Mereka seakan lupa jika keduanya berada di sebuah tempat umum yang dilalui banyak pasang mata.

“Choi Hye Hoon!”.

Lengkingan nyaring dengan suara wanita yang familiar di telinga Hye Hoon sontak menghentikan aksi kedua sejoli itu. Hye Hoon dengan lipstiknya yang berantakan itu menoleh ke arah orang yang memanggilnya.

Karena terkejut, otomatis gadis itu bangkit berdiri dari tempat duduknya. Wanita paruh baya         yang terlihat cantik di usianya yang sudah tak lagi muda itu menghampirinya dengan langkah panjang.

PLAK

Hye Hoon mengaduh sakit karena mendapat tamparan keras yang baru saja diterimanya. Tangan kanannya memegang pipinya yang memiliki bekas merah pada kulitnya yang berwarna putih pucat. Sedangkan, tangannya yang lain menggenggam tangan lelaki yang berada di samping badannya, menahan lelaki itu agar tak membalas perlakuan seorang wanita yang kini sedang meluapkan amarah padanya.

“ APA YANG KAU LAKUKAN DI BELAKANG ANAKKU?”, suara itu kembali menggema di seantero cafe. “Kau…aku tak menyangka kau tak berbeda dengan gadis jalang yang menggoda putraku. Aku telah salah memilih wanita untuk anakku sendiri. Oh Tuhan, Kyuhyun-ku yang malang. Aku menyesal menjodohkan putra kesayanganku dengan gadis tak tahu diri seperti kau!”.

Eomoni…..”.

Nyonya Cho menunjuk bibir gadis itu penuh amarah. “Tidak. Jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu. Aku tak sudi mempunyai menantu sepertimu”. Wanita itu terengah karena kehabisan nafas. “Detik ini juga aku akan menyuruh anakku untuk menceraikanmu”.

Kini telunjuknya mengarah kepada Donghae. “Dan kau…..Kuharap kau tidak menyesal memilih gadis jalang ini sebagai kekasihmu”.

.

.

.

 

45 thoughts on “Behind The Knot – Part 2

  1. Annyeong, author elsa..
    akhirnya bs baca ff u lge..
    bener2 kangen baca ff disini..
    apalagi nama blognya, udah ganti ada hangulnya..
    sempet gak ngenalin blog ini jadinya..
    untungnya qnya cepet sadar, meski terlambat jg baca ff disini hehehe..
    ff disini memang beda..
    apalagi ciptaan u..
    beda dari genre biasanya, author elsa memang daebak..
    meski ff disini kebanyakan menyayat hati readernya, tapi selalu ditunggu2 lanjutan ceritanya..
    seneng banget bisa baca lanjutan ff disini..
    maaf ya kali ini q byk komenin authornya..
    semoga gak bosen baca komenq..
    keep writing ya and fighting..

  2. Waahh akhirnya di lanjut juga… nah loh ketauan sama ibu mertua disaat kyuhyun udah menyatakan perasaannya pada hyehoon … gak sabar nunggu kelanjutannya….

  3. wah g nyangka kyuhyun ngungkapin perasaannya secepet ini, dan aku rasa hyehoon juga sebernya ada rasa sama kyuhyun tapi dia selalu nyangkal… tapi masalah baru muncul lagi, knapa hyehoon haru sketahuan ibunya kyuhyun….
    ditunggu lanjutannya
    semangat :D

  4. dan akhirny hyehoon mendapatkan balasannya, rasanya kok kyuhyun yg paling trsakiti ya dr pada hyehoon hihi mngkin efek kyuhyun udh menyatakan prsaannya ya..

  5. uwaaa baru nyatain perasaan baru ngelamar (?) ada yg nyuruh cere u,u wkwkw
    donghaenya udh tau jg hyehoon suka kyu, penasaran gimana kelanjutannyaaa
    ditunggu bgt kelanjutannya semangat buat nerusinnya ka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s