[Hye Kyu Diary] Big Boss’ Effect


Kyuhun hampir saja tersedak kopi panasnya ketika melihat Hye Hoon membuka kembali sebungkus keripik kentang berukuran jumbo yang tadi dipesannya. Memang, Hye Hoon tak pernah mengalami penambahan berat badan yang ekstrim jika gadis itu makan banyak. Tapi, tetap saja lelaki itu selalu ngeri melihat nafsu makan Hye Hoon yang besar.

“Ck, jika kau seperti ini terus kau akan berubah menjadi babi, kau tahu?”.

“Lalu? Kau masih mau pacaran dengan seekor babi?”. Hye Hoon memasukkam salah satu potongan chips itu santai sambil bergumam. “Jangan mencari gara-gara denganku. Kau mau dorm-mu kupasangi ranjau, hah?”.

Mata Hye Hoon masih melekat pada layar televisi tanpa berminat sedikitpun menoleh ke arah Kyuhyun. Lelaki itu berdecak kesal. Ayolah, gadis itu sama sekali tak merindukannya setelah sebulan ini tak bisa bertemu dalam waktu yang lama? Giliran Kyuhyun mendapat jatah libur, Hye Hoon malah asyik dengan tontonannya dan memanfaatkan kedatangan pacarnya itu sebagai pemasok cemilannya.

Ini tak adil! Kyuhyun merasa dimanfaatkan. Sepertinya dia harus mengadukan hal ini di depan hyungdeul-nya.

Oh, bukan hanya itu. Tak cukup hanya diacuhkan dan dimanfaatkan, Kyuhyun juga harus rela telinganya diracuni teriakan Hye Hoon yang memuji-muji sang aktor yang sekarang menjadi kesukaannya. Apalagi saat para doves datang tanpa sehelai benang pun di tubuh bagian atasnya, gadis itu seakan lupa diri dan berteriak penuh kemenangan.

Apa yang bagus dari perut kotak-kotak semacam itu, sih?, protes Kyuhyun tanpa ingin membuka mulut.

Dan lihatlah apa yang tadi dikatakan gadis itu. Ranjau? Sejak kapan Hye Hoon tertarik dengan hal berbau perang dan darah seperti itu? Benar-benar mengesalkan.

Kyuhyun menyenderkan kepalanya di bahu kekasihnya, tangannya mengelus lengan Hye Hoon lembut. “Kau tak merindukanku? Apa kau lebih mementingkan menonton rerun drama daripada berduaan dengan kekasihmu? Lagipula, kau sudah menonton semua episode-nya kan? Untuk apa melihatnya lagi jika kau sudah tahu bagaimana ceritanya?”.

Hye Hoon mendengus sebal. Dia paling tak suka direcoki ketika sedang asyik dengan tontonannya. “Kau cerewet sekali. Pulang sana”.

“Kau…mengusirku?”, ujar Kyuhyun dengan tatapan horror tak percaya dengan tangannya menunjuk lurus wajah gadisnya yang masih asyik dengan layar segiempatnya itu. Hye Hoon tersenyum misterius, tangannya meraih tubuh Kyuhyun mendekat lalu memeluknya erat.

“Kita sulit bertemu, ketika kau ada disampingku seperti ini, aku harus memanfaatkannya untuk bisa berduaan denganmu, bukan? Tapi, kau harus diam dan jangan mengganggu konsentrasiku.”

Kyuhyun membalas dengan anggukan patuh. Dia mengusir kebosanannya dengan memainkan rambut panjang Hye Hoon sambil sesekali menciuminya lembut.

“Cho Kyuhyun”. Hye Hoon memanggilnya tiba-tiba ketika akhirnya gadis itu sudah lelah berkutat dengan dramanya. Kyuhyun menoleh cepat, yang tentunya membuat keduanya saling menatap dengan jarak yang begitu minim.

Lelaki itu mencuri kesempatan dengan menyentuh hidung Hye Hoon dengan hidungnya sendiri, yang membuat gadis itu terkesiap kaget. “Apa?”, katanya sambil tak melepas matanya dari bulatan hitam kekasihnya itu.

Hye Hoon mendadak blank. Terang saja. Siapa yang bisa tetap berkonsentrasi ketika dia berhadapan dengan lelaki penuh pesona seperti Kyuhyun? Dengan posisi yang intim pula. Oh, ya. Andai saja Kyuhyun bisa membaca pikirannya saat ini, mungkin lelaki itu akan mengejeknya habis-habisan.

“Kapan kau wamil?”.

Sepi.

Bibir keduanya tak bisa bergerak, mungkin karena terlalu rakus melahap oksigen yang semakin menipis di ruangan itu. Hye Hoon ingin sekali menampar bibirnya yang lancang, karena begitu mudahnya menanyakan hal se-sensitif ini didepan seorang lelaki Korea yang sudah menginjak umur tiga puluh tahun.

Tapi, jangan salahkan bibirnya! Salahkan saja aura Kyuhyun yang membuat otaknya beku seketika.

Hye Hoon yang merasa bersalah mencoba melonggarkan pelukannya dan menghindar, namun Kyuhyun tak membiarkannya begitu saja.

“Memangnya kenapa?”, tanya pria itu santai seolah tak ada kecanggungan yang terjadi diantara mereka tadi.

“Kau tahu, sekarang aku—ralat—semua wanita korea atau bahkan seluruh dunia sedang tergila-gila pada seorang tentara yang sangat tampan dan romantis. Aku hanya ingin tahu, kapan aku akan melihatmu memakai seragam ala prajurit. Alasannya hanya karena itu”.

“Oh—kau begitu tergila-gila dengan drama itu, ya? Apa kau merubah tipe idealmu menjadi seorang yang romantis dan tukang gombal hanya karena Yoo Shijin—atau apalah namanya itu? Bukannya kau anti sekali dengan cerita picisan macam itu, huh?”

Hye Hoon mendengus kesal. “Ini bukan karena Yoo Shijin—kau tahu? Apa kau mau mengelak dari pertanyaanku tadi? Jadi, kapan kau akan melaksanakan tugas negaramu itu, Cho Kyuhyun?”

Kyuhyun menghindar, menyenderkan kepalanya ke sofa di belakangnya dan melipat tangannya di depan dada. Pandangannya lurus ke depan, banyak hal yang berseliweran di otaknya sekarang.

“Apa kau ingin aku segera wamil agar kau bisa terbebas dariku dan mencari pria lain?”, katanya parau. “Kau tahu, itulah hal pertama yang terlintas di pikiranku ketika aku mendengar pertanyaan laknat-mu itu. Tapi sayangnya, aku tak akan pergi secepat itu. Maaf, jika aku mengecewakannmu”.

Hye Hoon memukul lengan Kyuhyun keras, sambil bergumam kesal. “Bodoh. Apa kau begitu takut kehilanganku, huh? Aku hanya ingin melihatmu memakai seragam tentara, mengapa kau berpikir yang macam-macam seperti itu?”.

Gadis itu tertegun, raut wajahnya berubah ketika teringat akan sesuatu. “Chakkamman. Aku lupa. Kau tak akan memakai baju tentara ataupun polisi ketika kau wamil. Heol. Ternyata kau wajib militer pun tak ada gunanya. Apa untungnya aku membandingkanmu dengan Yoo Shijin kalau begitu?

Mata Kyuhyun melebar tak percaya.

“Satu lagi, Cho Kyuhyun. Bukankah seharusnya kau lebih takut jika kau lebih lama menunda wamilmu? Mungkin saja ketika kau kembali aku sudah menikah dengan Lee Donghae? Shim Changmin? Atau mungkin saja Choi Siwon? Kau tak tahu jika kebanyakan lelaki menawan itu berumur dua tahun di atasmu, bukan?”

Kyuhyun yang sedang kesal itu meraih sejumput rambut Hye Hoon, membuat gadisnya itu mengaduh kesakitan, lalu membungkam teriakan itu dengan mulutnya sendiri hingga gadis itu ikut terhanyut dalam ciuman panasnya.

Pria itu membuka kedua matanya, melihat gadis itu terpejam menikmati kelihaian permainan bibirnya, kemudian tersenyum miring.

Coba saja, Choi Hye Hoon. Kau akan terikat denganku sebelum apa yang kau katakan itu terjadi.

*

 

 

Absurd? Yes!

Maafkan….ini dibikin ketika bosen gatau harus ngapain dan itung-itung merealisasikan apa yang ada di pikiran aku akhir-akhir ini.

 

43 thoughts on “[Hye Kyu Diary] Big Boss’ Effect

  1. Baru baca yg ini gara2 tertarik sama judulnya, ada bigboss nya gitu 😂
    Dan ternyata manisss bangett couple satu ini, cus baca next series 😆😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s