The Reality


Hye Hoon tak punya firasat apapun ketika dia tak sengaja menangkap sosok yang telah lama dihindarinya itu duduk santai di flat miliknya. Dia tak pernah membayangkan bagaimana lelaki itu bisa masuk—dengan keadaan pintu itu terkunci rapat sejak tadi pagi

 

Mungkin dia menyuruh orang untuk membobol apartemennya? Ataukah malah mengancam pemilik bangunan itu untuk memberinya kunci cadangan agar bisa melenggang masuk tanpa bertindak sebagai seorang pencuri?

 

Well, Hye Hoon tak pernah meragukan kekuasaan yang dimiliki lelaki itu. Dan itu sudah cukup membuatnya muak.

 

“Hye Hoon~ah”, lafalnya halus ketika tatapan mereka bertemu.

 

Lelaki itu masih sama, dengan jas mahal yang melekat di tubuhnya yang indah, dengan sepatu mengkilatnya yang bernilai ratusan—atau bahkan jutaan dollar, dengan wajahnya yang begitu rupawan sehingga hanya perempuan bodoh-lah yang menolak lelaki semacam dia.

 

Dan satu-satunya wanita yang bodoh yang bisa ditemui itu adalah dirinya.

 

Berada satu ruangan dengan pria bermarga Cho itu, sungguh membuatnya tidak nyaman. Rasanya seperti memasuki rapat eksekutif sedangkan dirinya hanya berstatus staf level bawah. Sangat tidak biasa, dan membuat dirinya tegang.

 

Hye Hoon hanya terdiam. Tak bergeser sedikitpun dari tempatnya berdiri dan tak membalas satu kata pun dari sapaan yang dilontarkan pria tampan itu tadi. Ingin sekali dia memutar tumitnya dan pergi, ketika serpihan ingatan menyakitkan itu satu-persatu muncul di ingatannya. Namun, dia hanya tidak bisa.

 

Gadis itu tak bisa pergi dari Kyuhyun karena lelaki itu dapat dengan mudah menemukannya.

 

 

Tanpa disadarinya, lelaki itu bangkit dengan cepat dari sofa sempitnya dan mencengkram bahunya begitu kuat. Membuatnya begitu merinding karena ketakutan, membuatnya tak bisa melakukan apapun selain menahan jeritan yang tertahan di kerongkongannya.

 

Ditepisnya tangan yang memegangi bahunya itu dengan paksa.

 

“Hye Hoon~ah, aku menemuimu karena ingin kita bicara. Aku ingin menjelaskan semuanya. Aku tahu aku bersalah padamu, tapi kumohon, jangan memperlakukanku seperti ini. Aku terluka dengan sorot tajam matamu yang menyiratkan kebencianmu padaku”.

 

”Aku bukan seorang penjahat, Hye Hoon~ah. Aku melakukannya karena aku begitu mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu”, sambungnya putus asa.

 

Hye Hoon menggeram. Rahangnya beradu keras mendengar permohonan yang dikemukakan pria itu. Matanya yang mulai berkaca itu menatap mata Kyuhyun yang begitu memujanya itu dengan tatapan membunuh.

 

“Aku bisa melaporkan apa yang kau lakukan padaku kepada polisi. Apa kau masih berpikir bahwa kau bukan seorang kriminal, Kyuhyun~ssi?”

 

Bibir Kyuhyun pun mengatup. Tak bisa melakukan penyangkalan atas apa yang dibeberkan Hye Hoon padanya. Gadis itu benar, dia begitu bersalah dan pantas dihukum. Namun, itu benar-benar dilakukan di luar kendalinya.

 

Dia begitu mencintai Hye Hoon dan tak ingin gadisnya itu dimiliki orang lain.

 

“Malam itu”, ucapnya memulai cerita. Kyuhyun menangkap raut ketakutan yang muncul dari wajah Hye Hoon dan dia benci melihat itu. ”Aku melihatmu berdansa dengan pria itu. Aku tak sengaja mendengar jika lelaki itu berniat untuk menyatakan perasaannya padamu. Aku…aku terlalu cemburu karena aku tahu kau pun punya perasaan yang sama padanya”.

 

“Maafkan aku, Hye Hoon~ah”, ucapnya penuh rasa penyesalan. “Aku tak bermaksud menyakitimu. Aku hanya ingin mengikatmu agar aku bisa memilikimu”.

 

Hye Hoon menghela nafas panjang, meredam dadanya yang terbakar karena pembelaan lelaki itu. Hatinya menangis, namun dia tahu air matanya terlalu berharga untuk disia-siakan kepada lelaki bajingan itu.

 

“Apa kau pikir—merebut keperawananku agar kau bisa memilikiku, itu hal yang masuk akal, Kyuhyun~ssi?”, geramnya marah dengan suaranya yang meninggi.

 

Kyuhyun mendesah pasrah. Keangkuhan yang selama ini ditunjukkannya tiba-tiba menguap begitu saja. “Ya”, jawabnya mantap. “Aku ingin menikahimu, Hye Hoon~ah”.

 

Hye Hoon memutar kembali ingatannya ke waktu tiga hari lalu, disaat dia diseret paksa masuk ke dalam rumah mewah lelaki itu. Kejadian itu masih begitu membekas baginya. Kyuhyun memang tak sepenuhnya melakukan kekerasan padanya. Lelaki itu menyentuhnya dengan begitu lembut, namun dia tak bisa merasakan apa-apa. Dia hanya bisa menahan isak tangis dan menggigil ketakutan di bawah tubuh pria itu.

 

Hye Hoon tak pernah meragukan cinta yang dimiliki Kyuhyun padanya. Dia tahu, pria itu sungguh-sungguh ketika lelaki itu mengatakan bahwa dia ingin menikahinya.

 

“Kau tahu mengapa aku tak pernah membuka hatiku untukmu, Cho Kyuhyun~ssi?”, jujurnya dengan nadanya yang tenang.

 

“Semua orang disekitarku bahkan mungkin menganggapku wanita bodoh karena menolak tangkapan bagus sepertimu. Kau tampan, kaya, pintar, dan memiliki segalanya. Dan hal itu yang membuatmu berpikir kau bisa mendapatkan semua yang kau inginkan. Kau begitu sombong dan arogan dan justru itu salah satu magnet mengapa banyak wanita menempel padamu”.

 

Hye Hoon menghentikan kalimatnya dan tersenyum tak ikhlas. ”Tapi sayangnya aku bukan perempuan seperti itu. Aku hanya gadis biasa yang menyukai pria yang baik hati yang bisa mencintaiku apa adanya. Tanpa embel-embel status atau apapun. Kau salah, jika kau mengira aku menyukai Choi Siwon—lelaki yang berdansa denganku tempo hari itu—karena dia sama persis sepertimu”

 

Kyuhyun kalah telak. Lututnya melemas ketika dia mengetahui kesalahannya. Kecemburuannya yang tak mendasar itu membuatnya kehilangan Hye Hoon. Kyuhyun menyadari jika dia menyakiti wanita itu begitu dalam, ketika Kyuhyun melihat gadis itu, saat ini, tergugu di hadapannya.

 

“Kau membuat masa depanku hancur. Kau pikir aku bisa dengan mudah menerima permintaan maafmu, dan menerimamu sebagai suamiku setelah apa yang kau lakukan padaku?”.

 

Hye Hoon menghirup nafas dalam-dalam untuk menghentikan isak tangisnya. Namun sepertinya itu sia-sia karena dadanya yang terasa semakin sesak.

 

“Aku bahkan ketakutan ketika melihatmu, dan aku sangsi jika aku dapat mengobati traumaku seumur hidupku. Aku akan selalu mengingatnya dan kau tahu, itu adalah sesuatu yang buruk”.

 

“Pukul aku, lakukan apapun padaku agar kau dapat mengobati itu semua, Hye Hoon~ah. Aku akan melakukan apapun untukmu dan mencarikan Dokter terbaik untuk mengatasi traumamu. Jadilah istriku. Kau takkan pernah tahu jika sekarang, di rahimmu telah berkembang hasil hubungan kita. Kau hanya perlu menjawab ‘Ya’, dan aku akan bertanggung jawab pada kalian”.

 

Hye Hoon mendesis. Rasanya ingin sekali memecahkan tempurung pria itu agar dia bisa tahu apa isi dalam otaknya. “Apakah hanya hal itu yang ada di otakmu? Kesombonganmu, karena kau bisa mengatasi segalanya dengan uang? Kau benar-benar tertebak, dan aku kecewa kenapa kau bahkan mengemis pada gadis biasa yang tak punya apa-apa—sepertiku”.

 

“Oh ya. Asal kau tahu, aku tak akan membiarkan perbuatan bejatmu itu menghasilkan apa yang kau inginkan untuk selamanya memaksaku agar tetap disisimu. Jika pun itu terjadi, aku akan menyembunyikannya serapi mungkin, agar kau tak pernah tahu”.

 

“Aku bukan wanita yang bisa hidup dengan orang yang merebut kesucianku dengan paksa. Sampai kapanpun, aku tak akan pernah bisa menerimamu menjadi pendampingku, Kyuhyun~ssi”.

 

*

 

Udah lumutan di otak ceritanya, dan mampunya nulisnya gini. Terinspirasi dari comment salah satu novel terkenal, yang bikin aku berfikir ulang dengan cerita-cerita seperti ini. Ini hanya cerita dari sudut pandang berbeda aja.

45 thoughts on “The Reality

  1. Simple, pendek, langsung dapet feelnya, menyentuh. Da best lah, dah lama gak baca ff yg simple gini 👍
    Kyu, uang gak bisa buat dapetin segalanya, apalagi sama yg namanya cinta. Cinta itu dari ketulusan hati, juga kalo masih jadi gebetan jangan over gitu wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s