Sequel Of My Sister’s Husband-Losing You (Take 3)


 

 

 

“Orang kedua adalah orang kedua.

Tidak bisa menggantikan orang pertama,

apalagi berubah posisi menjadi orang pertama”

 

 

Recommended song : Super Junior – Storm

         Henry Lau – I Would

       DBSK – Before U Go

 

Bayangan rasa penuh cinta itu masih terpancar di mata coklat gadisnya. Sebutlah dia berangan dengan apa yang baru saja disimpulkannya itu. Walaupun bola mata cokelat itu masih dipenuhi dengan titik-titik cairan bening yang tak henti membasahinya, namun Donghae tetap suka dengan cara gadis itu menatapnya.

 

“ Donghae..Oppa?”

 

Gadis itu menyebutkan namanya dengan suara lirih, akibat dari tangisannya yang belum sepenuhnya reda. Seketika rasa hangat menjalar di seluruh bagian tubuhnya. Jantungnya memompa darah lebih giat dari biasanya, sehingga dia bisa mendengar degup jantungnya sendiri saking kerasnya.

 

Donghae tak mau terbawa suasana yang dibangun oleh hatinya, untuk menangkap gadis itu dalam pelukannya saat ini juga. Dia terlalu merindukan gadis itu, hingga merasa di ambang batas kewarasannya. Tapi, bukan itu masalah utamanya sekarang. Ada nyawa seseorang yang harus ditolongnya, sosok yang begitu berarti bagi Hye Hoon-nya.

 

“ Kapan aku bisa melakukan tranfusi darah itu, Uisanim?”, tanya Donghae tegas. Beberapa pasang mata terlihat tak setuju dengan usulannya, termasuk orang yang ditanyainya. Lelaki paruh baya itu menggelengkan kepalanya, setelah melihat kondisi Donghae yang belum sepenuhnya pulih yang tak memungkinkan lelaki itu kehilangan cairan yang menunjang sebagian besar kehidupannya.

 

Hye Rin tak kuasa menahan air mata yang mendesak dari ujung matanya. Dia tahu, tak selamanya dia bisa berada dengan tegar di sisi suaminya. Wanita itu sudah menjadikan Donghae sebagai prioritas utamanya, namun berbeda sekali dengan lelaki itu yang menjadikan adiknya adalah sumber kehidupannya.

 

Sangat rumit, bukan?

 

Suaminya itu bahkan masih perlu obat untuk membuatnya lebih baik, dan sekarang, dia malah menawarkan diri untuk penyelamat dari seorang anak yang sangat membutuhkan darahnya. Hye Rin sangat ingin menentang keinginan Donghae habis-habisan. Dia tak mau keadaan lelaki yang merupakan orang yang selalu dijaganya itu kembali seperti dulu. Namun, apa yang bisa dia lakukan? Dia seribu persen yakin jika Donghae tak akan pernah mendengar kata-katanya.

 

Sebegitu tak pentingkah kehadiranku di hidupmu, Oppa?

 

Tangannya yang berada di bahu Donghae pun menerima sentuhan lembut dari lelaki itu. Pria berjubah putih yang tadi berada di sekitar mereka sudah tak ada lagi di tempatnya. Mungkin dia terlalu banyak melamun sehingga tak menyadari apa yang dibicarakan kedua orang itu selanjutnya. Donghae menganggukkan kepalanya pelan, menyuruhnya untuk membawa lelaki yang duduk di kursi rodanya itu untuk kembali ke ruangannya.

 

Hye Rin menoleh ke arah adik perempuannya sekilas, menangkap tatapan tak rela ketika dia membawa Donghae menjauh. Orang yang berada di dekat Hye Hoon menatap adiknya itu dengan tatapan nanar, seakan menyadari jika kedua orang yang pernah menjalin hubungan terlarang itu masih memiliki perasaan yang sama.

 

Kyuhyun~ah, apa kau merasakan perasaan yang sama denganku? Melihat orang yang kau cintai dengan terang-terangan memuja orang lain itu sangat menyakitkan, bukan?

 

ooo

 

Hye Hoon mendekati ruang rawat yang ditempati seseorang yang baru saja menawarkan diri untuk menjadi penyelamat nyawa anaknya itu dengan ragu. Seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya, dia mengamati lelaki itu dari balik kaca segiempat kecil yang sangat pas berada di depan kepalanya. Cairan kristal itu kembali menetes, membawanya ke dalam kerinduan serta rasa kesakitan yang mendalam.

 

Gadis itu menyeka air matanya dengan punggung tangannya sekilas, lalu meraih tangan seseorang yang sejak tadi berada di belakangnya. Dia menggenggam tangan yang berukuran lebih besar dari tangannya itu erat, seakan hal itulah yang menjadi sumber kekuatannya saat ini.

 

Dibukanya pintu bercat putih pucat itu dengan gerakannya yang lambat, mengulur waktu sambil menghirup udara hampa yang berada di sekitarnya untuk menetralkan kegugupan yang dirasanya. Setelah membuka kenop pintu yang dalam sekejap terbuka seluruhnya, Hye Hoon dapat merasakan keterkejutan dua orang yang menghuni ruangan tersebut.

 

“ Kurasa kita harus membicarakan tentang masalah tadi, jika kalian tak keberatan”, ujarnya kaku. Matanya mencari kedua pasang mata yang menuntutnya dengan sorot yang penuh akan rasa kebingungan itu dengan gugup.

 

Kyuhyun menyaksikan situasi di sekitarnya itu serba salah. Dia merasa tak berhak untuk mencampuri pembicaraan diantara mereka, mengabaikan status pernikahannya yang sudah resmi menjadi suami wanita yang saat ini sangat membutuhkan dukungan darinya. Tak sengaja matanya tertumbuk dengan mata teduh milik lelaki lain yang berada di ruangan itu, dan mengikuti arah pandangnya.

 

Donghae mengamati tangan mereka yang tertaut dengan pandangan buram.

 

Keadaan Hye Hoon yang lemah membuat Kyuhyun khawatir. Apalagi dengan tekanan yang diberikan Donghae karena kesediaannya itu tentu menyebabkan kondisi psikologis Hye Hoon menurun. Namja itu hanya bisa pasrah, karena dia tak bisa melakukan apapun selain berada di sisi istrinya, berjaga jika gadisnya itu sewaktu-waktu membutuhkannya.

 

“ Ada apa dengan kalian? Mengapa kalian semua bersekongkol untuk melarang apa yang ingin kulakukan?” sinis Donghae dengan tatapannya yang tajam mengarah pada pasangan yang di hadapannya kini. Donghae menaikkan tubuhnya agar bersandar di dashboard ranjang, dibantu oleh tangan Hye Rin yang memegangi tubuhnya.

 

Hye Hoon kembali menundukkan wajahnya, tak mampu membalas sorotan mata Donghae yang mengintimidasi. Dia menelan ludahnya berkali-kali, mengumpulkan kekuatan agar bisa mengungkapkan apa yang diinginkannya.

 

“ Kondisimu tidak memungkinkan, Oppa. Kami semua sangat khawatir sehingga tak mengizinkanmu untuk melakukannya. Kumohon, batalkan keinginanmu itu”.

 

Hye Rin meraih telapak tangan Donghae yang dingin itu ke dalam genggamannya, menghalau kabut amarah yang pasti sedang menyelimuti suaminya. Donghae sangat benci ditentang, Hye Rin tahu itu. Oleh karena itu, sejak kembali ke ruangan bernuansa putih ini tadi, dia menghindari percakapan yang berhubungan dengan topik ini. Tapi, dia sadar jika dia tak mungkin terlalu lama menghindarinya. Untunglah adiknya dan Kyuhyun segera bertindak, karena Hye Rin yakin dia tak akan bisa menghentikan pendonoran yang akan Donghae lakukan itu.

 

“ Aku sudah menyuruh semua staff-ku yang bergolongan darah yang sama dengan anakku untuk segera kesini, jadi kukira kita akan secepatnya mendapatkan donor”, timpal Kyuhyun menengahi.

 

Mendengar sebutan Kyuhyun untuk anak laki-laki yang sedang tak sadarkan diri di unit gawat darurat itu membuat rahang Donghae mengeras. Tangannya yang bebas mencengkeram ujung selimut yang melapisi tubuh ringkihnya, melampiaskan rasa tak rela karena panggilan itu, apalagi ditambah dengan penolakan tak langsung yang Kyuhyun tujukan padanya, yang membuat Donghae mencibir.

 

Siapa dia? Siapa Cho Kyuhyun sehingga bisa memutuskan apa yang harus dilakukan atau tidak dilakukannya?

 

“ Untuk apa memanggil orang lain untuk menjadi pendonor sedangkan kau memiliki keluarga dekat yang bersedia untuk menolong anakmu, Kyuhyun~ssi. Kau tak ingin anakmu tertular penyakit mematikan karena darah yang berasal dari seseorang yang tak jelas asal-usulnya, bukan?”, ujarnya dengan penuh emosi.

 

Ketegangan di ruangan itu terasa semakin kentara. Apalagi, dengan pernyataan Donghae tadi yang membuat suasana menjadi memanas. Mungkin topik ini terlalu sensitif untuk dibicarakan di ruang rawat, atau terlibat perasaan-perasaan yang tak terselesaikan bagi aktor-aktor di dalamnya sehingga membuat masalah yang seharusnya tak begitu besar pun menjadi rumit.

 

Hye Rin tak mau tinggal diam. Jika dia terlambat menyudahinya, mungkin saja terjadi perpecahan diantara keluarga mereka. Wanita itu menatap sosok yang mempunyai marga yang sama dengannya penuh kelembutan, menyadari bahwa hanya adiknya-lah yang dapat mengambil keputusan yang berkaitan dengan anaknya ini.

 

“ Hye Hoon~ah, kurasa Donghae Oppa benar. Bisakah kau menerima niat baik Donghae Oppa saja? Aku tahu, kita sama-sama tak mau terjadi sesuatu karena kondisi Donghae Oppa yang lemah. Hajiman, aku yang menyaksikan bagaimana dirinya berjuang selama bertahun-tahun untuk sembuh, meyakini bahwa dia masih memiliki sisa kekuatan untuk menyelamatkan Il Jeong. Kumohon, kabulkan permintaan kakakmu ini, hmm?”

 

Hye Hoon mengangguk ragu, tapi sangat cukup untuk membuat semua orang yang berada di ruangan tersebut mendesah lega. Donghae memulai kontak mata dengan wanita yang mengisi hampir seluruh bagian di hatinya itu, mengulas sebuah senyum tipis yang merupakan senyuman tulus pertamanya semenjak dia kembali dari tidur panjangnya.

 

Gomawo, Hoon~ah”, ucapnya tanpa suara.

 

Dengan persetujuan Hye Hoon, akhirnya dengan masih menggunakan kursi roda yang selama ini menemaninya, Donghae pun bertolak ke laboratorium untuk mengecek kecocokan golongan darah dirinya dengan anak lelaki itu, kemudian berlanjut melakukan transfusi darahnya.

 

Namja yang masih berada dalam masa pemulihan itu masuk ke ruangan tersebut sendiri, karena Hye Rin yang merasa tak tega memilih untuk menungguinya di ruang tunggu di depan. Ini menguntungkannya, karena sebenarnya dia ingin melakukan sesuatu selain prosesi menyerahkan sebagian cairannya ke dalam tabung yang kini tersambung ke dalam tubuhnya lewat selang serta jarum suntik yang tertancap di lengannya.

 

Ada suatu hal yang ingin dipastikannya, yang selalu hadir dalam pikiran logis di otaknya.

 

Benar-benar terkesan egois, karena dulu dia sempat menyiakan kesempatan untuk bersama dengan orang yang dicintainya hanya karena rasa tak tega menghancurkan perasaan Hye Hoon jika dia meninggalkan istrinya. Setelah tragedi yang menimpanya kini, dia sadar jika perasaan cintanya untuk wanita itu tak akan pernah berubah. Sampai kapanpun.

 

Dan dia berencana untuk merampas kembali kebahagiaan yang pernah dilepasnya.

 

Setelah proses itu selesai, tubuhnya merasa berangsur melemas. Kepalanya berdenyut nyeri, mungkin itu adalah salah satu akibat karena dia kehilangan sebagian cairannya. Dia tak menyesal dengan rasa sakit yang dideritanya itu, sebaliknya malah merasa senang karena setidaknya dia bisa melakukan sesuatu untuk orang sekitarnya.

 

Gwenchana, hwanja-nim? Apakah anda merasa sakit?”, tanya perempuan muda yang mengenakan topi berbentuk segiempat itu dengan nada khawatir.

 

Donghae menjawabnya dengan sebuah anggukan singkat, yang membuat seorang suster yang membantu melepaskan jarum suntik dari pergelangan tangannya pun segera ingin beranjak setelah kegiatannya selesai. Namun, dengan kondisi tangannya yang masih lemah, dia mencekal lengan gadis muda itu yang merasa kaget dengan gerakan tiba-tiba yang diciptakannya.

 

“ Aku memiliki sebuah permintaan untukmu. Bisakah kau membantuku?”

 

ooo

 

Dokter mengatakan bahwa asupan darah itu berakibat sangat baik untuk kondisi Il Jeong, yang menyebabkan kerutan-kerutan khawatir di dahi Hye Hoon lama-lama berkurang. Bukan hanya itu yang membuatnya sedikit lebih lega, anak lelaki itu pun akan segera bangun dari tidur panjangnya. Wanita itu menunggunya dengan cemas, tak ingin melewatkan hal yang ditunggunya seharian itu menjadi nyata.

 

“ Berapa lama lagi aku harus menunggu, Kyu?”, tanyanya dengan suaranya yang masih lemah.

 

Kyuhyun mengusap dahi istrinya yang berkeringat itu penuh kelembutan. Sudah beberapa kali semenjak kepergian Dokter Jung yang adalah seorang dokter anak yang menangani Il Jeong, gadis itu selalu menyebutkan sebuah pertanyaan yang sama. Sebenarnya, dia tak bisa menjanjikan apapun kepada Hye Hoon, namun setidaknya kabar baik dari seorang gadis muda yang selalu menenteng stetoskop itu mampu membuat keyakinannya bertambah.

 

“ Sebentar lagi, sayang. Kau harus lebih bersabar. Jeong~ie juga pasti merindukanmu. Tenanglah, dia pasti segera akan kembali ke tengah-tengah keluarga kita”, jawabnya tenang.

 

Menyebut nama keluarga membuatnya mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya. Bagaimana sikap Donghae yang bersikeras menyumbangkan darahnya untuk Il Jeong,membuatnya kembali berpikir.

 

Apakah sudah saatnya dia melepaskan mereka?

 

Sosok Donghae tak akan terganti, bagi seorang Choi Hye Hoon maupun bagi Il Jeong. Mungkin selama ini dia berhasil menjadi suami dan ayah yang baik untuk mereka, namun itu tak akan ada apa-apanya bila dibandingkan jika Donghae yang berada di posisinya. Bayangan mereka bersama tertampil nyata di dalam otaknya, yang menyebabkan melumpuhnya fungsi kerja organ-organ pentingnya, yang tentu saja terasa sangat menyakitkan baginya.

 

Darah lebih kental daripada air. Sebesar apapun kasih sayangnya untuk Il Jeong, ayah biologisnya pasti memiliki sebuah hubungan tanpa garis yang terjalin diantara keduanya.

 

“ Hye Hoon~ah….”

 

Panggilan lembut dari seorang wanita paruh baya yang baru saja menghampiri mereka itu memutus pemikiran Kyuhyun tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depannya. Hye Hoon beranjak berdiri dari kursi yang tadi ditempati mereka, melepaskan pegangan Kyuhyun tanpa pemberitahuan, lalu meredam isak tangisnya di pelukan Ibunya. Bahkan, saat ini pun dia merasa perih ketika Hye Hoon pergi dari sisinya, tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hidup jika wanita itu meninggalkannya.

 

“ Bagaimana perkembangan keadaan Il Jeong, Kyuhyun~ah?”. Tangan Nyonya Choi masih bersarang di rambut Hye Hoon yang panjang, mengelusnya agar anak perempuannya dapat bersikap lebih tenang.

 

“ Setelah disuplai kembali asupan darah yang sempat banyak keluar dari tubuhnya, dia semakin membaik. Dimana Aboeji, Eomonim?”

 

Appa sedang memarkirkan mobil, sebentar lagi dia pasti kesini. Kyuhyun~ah, benarkah jika Donghae yang mendonorkan darahnya untuk cucuku?”, sebutnya hati-hati.

 

Kyuhyun menahan nafasnya sebentar, menangkap punggung Hye Hoon yang menegang akibat pertanyaan yang dilontarkan Eomma barusan. Sebuah anggukan lemah diberikan sebagai balasannya, berjengit ketika matanya merekam tatapan tak percaya yang ditunjukkan wanita yang kulitnya mulai terhiasi dengan kerutan halus tersebut.

 

Eomma…aku tak bermaksud merepotkannya, aku sempat menolak hanya saja dia…”

 

“ Tidak apa-apa, Hye Hoon~ah. Ini bukan salahmu. Keunde, Eomma hanya sedikit tak mengerti. Kenapa golongan darah Il Jeong tak sama dengan kau maupun Kyuhyun, sedangkan Donghae yang malah memiliki kesamaan itu?”

 

Lelaki itu meremas tangannya yang tersimpan di atas celana kerjanya. Rasa pedih yang menelusup batinnya mulai menyiksanya. Kenyataan pahit yang selama ini disimpan mereka rapat-rapat perlahan mulai terkuak. Dia tak sanggup lagi menerima sorotan mata penuh dengan rasa ingin tahu yang menyerangnya. Hye Hoon pun memegang bahu Nyonya Choi lebih kuat, dengan matanya yang menghindar dari kontak mata yang kemungkinan besar akan terjadi diantara keduanya.

 

“ Ini tak mungkin sebuah kebetulan, kan?”, desak wanita berkacamata tipis itu lagi.

 

Air mata Hye Hoon luruh begitu saja. Dia tak pernah tahu jika Eommanya akan menanyakan hal sejauh ini. Gadis itu belum siap. Dia belum dan tak akan pernah memberitahukan status ayah Il Jeong kepada siapapun. Lagi-lagi, dia menggunakan Kyuhyun untuk satu alasan itu.

 

Untung saja, ketika orang yang melahirkannya itu menuntut sebuah kejelasan, seorang yang bertubuh tegap di usianya yang sudah tak muda lagi itu pun datang dengan topik yang berbeda. Wajahnya terlihat kelelahan karena jarak tempuh Jinan-Seoul cukup jauh, apalagi ditambah dengan rasa khawatir yang menderanya karena keadaan cucu kesayangannya yang sedang tergolek lemah di atas ranjang rumah sakit itu membuat keadaannya semakin berantakan.

 

Fakta yang tak ingin diungkapnya justru malah membeberkan sebuah clue yang tak patut disebar. Apakah jika ini terungkap akan membuat keluarganya hancur lebur? Dan seorang penghancur keluarganya tak lain adalah dirinya sendiri.

 

ooo

 

Eomma”, gumam seseorang yang ditungguinya itu lemah. Hye Hoon beringsut bangun dari pangkuan Kyuhyun, lalu menghampiri pinggir ranjang dengan senyum tipisnya. Kebahagiaan yang sangat pekat terpancar dari wajah kusutnya, melihat anaknya yang masih terbalut piyama rumah sakit telah bangun dari tidurnya.

 

“ Iya sayang. Eomma disini, Jeong-ie~ya. Ada yang sakit, sayang?”

 

Kyuhyun pun mengelus perlahan dahi Il Jeong yang tertutup perban, mengetahui jika gerakan menggeleng yang anak itu lakukan untuk menyembunyikan rasa sakitnya. Il Jeong mulai mengerti bagaimana cara membuat Ibunya dapat lebih tegar dengan sikapnya itu.

 

Seseorang berjubah putih segera masuk ke ruangan itu, setelah tadi Hye Hoon sempat menekan alarm pemberitahuan untuk menyuruh wanita cantik itu segera memasuki ruangan rawat tersebut. Dokter muda bernama lengkap Jung Min Ra itu lalu mengecek keadaan Il Jeong secara menyeluruh.

 

“ Kondisinya semakin membaik. Kurasa kalian akan bisa membawanya pulang dalam beberapa hari”, ucapnya canggung. Matanya sejak tadi menghindari mata seseorang yang menatapnya dengan serius. Ini pertama kalinya bagi Min Ra, semenjak dia memutuskan untuk mengesampingkan masalah berhubungan dengan lawan jenis, jantungnya berdebar berkali lipat melihat seorang lelaki yang sangat mempesona di matanya.

 

Kamsahaeyo, Uisa-nim”, ucap Kyuhyun tulus.

 

Pipi gadis itu merona, mendengar suara Kyuhyun yang terdengar menyenangkan di telinganya. Kemudian, ditambah ucapan terima kasih yang dilantunkan namja itu, mengalun bagaikan kalimat cinta yang menyebabkan getaran kencang di dadanya.

 

“ Tak perlu berterima kasih. Itu sudah kewajibanku, Tuan”, katanya merendah. Min Ra mengalihkan pandangannya kepada seorang wanita yang diketahuinya sebagai orang tua dari pasiennya. “ Nyonya, anda bisa menebus resepnya besok pagi. Ini sudah terlalu larut, sehingga apotek rumah sakit sudah tutup. Il Jeong~a, jaga kesehatanmu. Kita bertemu lagi besok”.

 

“ Anda akan menyetir semalam ini, Jung Uisa-nim?”, tanya Hye Hoon dengan raut muka cemas. Tentu saja Hye Hoon khawatir, dengan pekerjaan sebagai seorang Dokter yang melelahkan fisiknya, selain rasanya sangat berbahaya jika seorang perempuan mengendarai kendaraannya di tengah malam seperti ini.

 

Min Ra mengangguk ragu untuk membenarkan. Walaupun dia sedikit merasa aneh dengan pertanyaan yang ditujukan Hye Hoon kepadanya.

 

Wanita bermarga Choi itu melirik suaminya sekilas, dan dengan lantang menyuarakan pendapat terbaik menurutnya. Dia memang hendak membantu, namun ada alasan lain yang membuatnya menyuruh lelaki itu melakukannya.

 

“ Kurasa Kyuhyun bisa mengantarkanmu pulang. Mungkin kau bisa meninggalkan mobilmu di parking lot rumah sakit, Jung Uisa?”

 

ooo

 

Ada perasaan berbeda yang dirasakannya ketika Kyuhyun sama sekali tak membantah keinginannya. Lagipula, kapan lelaki itu mengabaikan permintaannya? Rasanya tidak pernah. Bahkan tanpa diminta, Kyuhyun akan melakukan sesuatu yang sangat tentunya bermakna untuk hidupnya.

 

Walaupun tak bisa membalasnya, tapi mungkin saat ini dia sedang berusaha melakukan sesuatu yang menguntungkan bagi Kyuhyun.

 

Dokter bernama belakang Jung itu berkali-kali mencoba menolak untuk diantarkan, dan bersikukuh untuk membawa mobilnya sendiri. Namun, hanya satu kata yang diucapkan Kyuhyun, dapat membuat benteng pertahanan yang dibangun gadis itu runtuh begitu saja. Dia tidak buta untuk luput dari pengetahuannya tentang gejala-gejala yang ditunjukkan Jung Uisa terhadap Kyuhyun. Dan dia bukannya menentang, malah mendorong gadis itu untuk mendekati seseorang yang masih berlaku sebagai suaminya itu terang-terangan.

 

Kyuhyun berhak menemukan kebahagiaan nyata untuknya. Itulah yang berada di benaknya sekarang. Mungkin ini sedikit terlambat, karena dia memanfaatkan kebaikan Kyuhyun terlalu lama, sehingga Kyuhyun seakan terpenjara dalam kurungannya.

 

Suara derak pintu mengalihkan pandangan matanya dari jam berbentuk lingkaran yang tak pernah berhenti berdetak. Wajah suaminya yang kuyu, itulah hal pertama yang diperhatikannya. Dua hari ini, mereka memang kurang tidur karena menjaga Il Jeong semalaman. Namun untuk malam ini, sepertinya mereka dapat tidur lebih nyenyak karena anak lelaki itu sudah melewati masa kritisnya.

 

Kyuhyun mengambil tempat di sebelahnya, seperti tak perduli walaupun Hye Hoon belum memejamkan matanya. Gadis itu tentu bisa merasakan perbedaan perilaku Kyuhyun, karena dia sangat tahu bagaimana suaminya itu bersikap padanya.

 

Gomawo, Kyuhyun~ah. Aku bahagia Jung Uisa bisa pulang dengan selamat berkat bantuanmu. Aku sempat mendengar tadi jika dia mengalami sakit kepala karena jadwal makannya yang kurang teratur akibat kesibukannya. Untunglah, kau bisa membantu”.

 

“ Kulihat Min Ra~ssi sangat senang karena permintaanmu dikabulkan. Dan aku tahu mengapa kau melakukan itu. Aku tahu, kau….”, ujarnya dengan suara parau. Nadanya terasa menyakiti telinganya sendiri karena itulah ungkapan dari keputusasaannya.

 

“ Kau berusaha menjodohkanku dengannya? Menjodohkan suamimu dengan wanita lain? Apakah ini yang kau ingin lakukan padaku? Membuangku begitu saja ketika orang yang kau tunggu kembali ke duniamu?”, lanjutnya dengan getaran pita suara yang mengencang. Lengkingan sarat akan rasa kesakitan yang terlalu dalam, hingga dia tak bisa lagi mengukurnya.

 

Dia terlalu terluka. Dia sudah tak bisa mengendalikan dirinya sendiri untuk tak marah di hadapan istrinya.

 

“ Aku hanya berpikir, jika aku telah merebut kebahagiaan yang seharusnya kau punya. Kau bisa mendapatkan wanita cantik berwawasan tinggi seperti dirinya, bukan terjebak dalam hidup menyedihkan bersamaku dan anak yang bahkan bukan darah dagingmu. Kau pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Mianhae, mungkin aku terlalu egois untuk mengekangmu terlalu lama. Dan..ini tak ada hubungannya dengan Donghae Oppa. Ini tentangmu. Aku hanya ingin kau mencapai kebahagiaan di hidupmu, itu saja”.

 

Mata Kyuhyun meredup, dengan genangan kaca yang menghambat pandangannya. Dia tersentuh dengan perkataan Hye Hoon yang memikirkan kebahagiaannya. Namun, pandangan gadis itu salah. Dia tak ingin keluar dari sesuatu yang disebut kekangan oleh Hye Hoon. Persetan dengan wanita lain yang katanya lebih segalanya dari gadis itu. Kyuhyun bahkan meramalkan bahwa hidupnya pasti akan hancur jika tak ada Hye Hoon dan Il Jeong di hidupnya.

 

Lelaki itu meraih pipi Hye Hoon yang basah, tangannya gemetar karena ketakutan. Dia tak tahu, sampai kapan air mata itu dapat mengotori wajah istrinya. Hidup gadis itu terlalu berat. Hye Hoon terlalu sering mengorbankan kebahagiaannya untuk orang lain, terutama soal kasus kakaknya. Kyuhyun kurang lebih tahu seberapa dalam cinta yang dimiliki Hye Hoon untuk Donghae, yang seringnya membuat dadanya sesak.

 

Dia tahu, dia tak punya harapan lebih banyak.

 

“ Kenapa kau sangat tidak peka? Yang kumau hanyalah kau, dan Il Jeong adalah pelengkapnya. Apakah kau pernah tahu, seberapa besar rasa cintaku terhadap kalian? Jangan melakukan sesuatu yang bodoh seperti itu lagi, hmm?”

 

Kyuhyun lalu menarik punggung Hye Hoon ke dalam dekapannya, melupakan rasa marah yang tadi menyergapnya. Dia bahkan merasa jika dia yang menyakiti wanita itu sekarang. Dia memejamkan kedua matanya, memeluk tubuh istrinya lebih erat seakan Hye Hoon dapat menghilang dalam sedetik saja.

 

Ya, lambat laun keadaan akan membuat Hye Hoon menghilang, karena pasti lelaki itu akan mulai mengambil apa yang menjadi haknya.

 

ooo

 

Masih terlalu pagi untuk memulai rutinitas. Tapi, dia hanya bosan terdiam di ranjangnya. Sejak kemarin, sekitar kurang lebih delapan belas jam lamanya dia tertidur karena pengaruh obat. Karena jangka waktu istirahatnya yang berlebihan itu, dia merasa badannya kembali bugar. Bahkan setelah satu hari yang lalu kehilangan sebagian cairan tubuhnya.

 

Dengan sedikit susah payah dia berhasil memindahkan tubuhnya dari tempat tidur ke sebuah kursi besi yang jauh lebih pendek daripada tubuhnya. Untunglah, dia sudah mulai bisa berdiri walaupun harus mengandalkan sesuatu untuk menopang tubuhnya sehingga prosesnya bisa lebih mudah.

 

Dia mengarahkan kursi bantu yang rodanya menggantikan fungsi kedua kakinya itu menuju ke sebuah ruangan. Beberapa perawat yang mengenalinya segera menawarkan diri untuk membantu membawanya ke tempat tujuan, namun dia menolak. Selain tak ingin merepotkan orang lain, dia juga tak merasa kesulitan untuk mengendalikan kursi rodanya.

 

Setelah beberapa menit mengarahkan kursinya melalui koridor, akhirnya dia sampai di tempat yang menjadi tujuannya.

 

Awalnya, dia tak berniat sedikitpun untuk menampakkan batang hidungnya di hadapan kedua pasang mata yang kini memandanginya dengan tatapan yang berbeda. Dia hanya ingin mengamati mereka berdua dari jauh, memastikan bahwa keadaan orang yang ditolongnya telah membaik dari sebelumnya. Namun, kenyataan berkata lain. Dengan pintu kamar rawat Il Jeong yang terbuka, tentu saja kehadirannya tak dapat dihindarkan dari pengetahuan kedua orang tersebut.

 

Tak ada alasan untuk menghindar. Lama-kelamaan dia pun harus berada di tengah mereka. Namun, jika sekarang itu yang terjadi sungguh terasa terlalu cepat baginya. Dia bahkan tak menyiapkan diri ketika melihat tatapan nanar yang ditunjukkan wanita yang sangat dicintainya untuknya.

 

Apakah dia menyakiti wanita itu lagi?

 

Rasanya ingin sekali pergi menjauh, lari secepat mungkin seperti yang selalu dilakukan seorang pengecut sepertinya. Dia telah melakukan hal tersebut beberapa kali, sehingga mungkin jauh lebih mudah untuk melakukannya kali ini.

 

Eomma, siapa Ahjussi itu? Apa kau mengenalnya?”.

 

Suara jernih yang pertama kali terdengar oleh telinganya itu menghentikan gerakan tangannya yang hendak membalikkan kursi rodanya melawan arah. Dia melihat anak yang berbaring itu bangkit. Mata bulat yang memandangnya penuh rasa ingin tahu, membuatnya salah tingkah.

 

Mata hitam itu tak asing baginya.

 

Lelaki itu melihat wanita yang semakin bertambah dewasa di matanya itu meremas kedua tangannya gugup. Status Donghae bagi Il Jeong sudah sangat jelas, namun sepertinya ada alasan lain yang membuat Hye Hoon tak kunjung membeberkan tentang silsilah keluarga mereka kepada anaknya.

 

Donghae menekan tombol otomatis yang membuat alat bantunya itu dapat berjalan lurus memasuki ruangan rawat inap yang tak seluas ruangannya, mendekati ranjang anak itu dari sisi yang lain sehingga posisinya tepat berhadapan dengan wanita itu.

 

“ Aku Samcheon-mu. Panggil saja Donghae Samcheon”, ucap Donghae lengkap dengan senyuman khas-nya. Gerakan lidahnya terasa melambat ketika menyebutkan siapa dia bagi anak itu. Mungkin sisi naluriah-nya muncul, membangun kepercayaan diri jika dirinya memiliki hubungan yang terbilang sangat dekat dengan anak tersebut.

 

“ Dia suami Imo-mu, Il Jeong~ah. Ayo, perkenalkan dirimu kepada Samcheon”.

 

Donghae dapat melihat raut muka Hye Hoon yang mencoba pura-pura larut dalam keceriaan. Sepertinya wanita itu ingin menyembunyikan perasaan sebenarnya dari anaknya. Ada sesuatu yang Hye Hoon sembunyikan, dia tahu itu.

 

Annyeong Samcheon. Cho Il Jeong imnida. Bangapseumnida. Yeay! Akhirnya aku mendapatkan teman baru selain Harabeoji yang membosankan itu. Harabeoji sering menggendongku dan memutarkan tubuhku sehingga aku merasa pusing. Kau tinggal di rumah Harabeoji bersama Imo, Samcheon?”.

 

Donghae tersenyum lucu mendengar nada bicara Il Jeong yang menggemaskan. Walaupun keadaannya terbalik saat anak lelaki itu menyebutkan marganya. Hatinya terasa dipukul, sakit sekali rasanya. Tangannya dengan lancang terulur meraih rambut lelaki kecil dengan rambut hitam legam itu dengan lembut, mengelusnya perlahan.

 

“ Tentu saja. Sebentar lagi Samcheon akan pulang ke rumah itu. Kau harus sering mengunjungi Samcheon, nanti Samcheon akan mengajakmu ke lapangan sepak bola di dekat rumah. Kau pasti belum tahu tentang itu, kan?”

 

Mata Il Jeong berbinar ketika Donghae menyebutkan tentang rahasia kecil yang diketahuinya. Donghae senang, karena dugaannya benar. Il Jeong memiliki ketertarikan lebih mengenai olahraga yang satu itu, sama sepertinya.

 

Apakah DNA itu benar-benar menurun darinya?

 

Hye Hoon melihat interaksi keduanya yang akrab, merasa khawatir karena Il Jeong sepertinya mulai menyayangi Samcheon-nya. Walaupun kepalanya sering merasa berdenyut nyeri, namun anaknya itu seakan mendapatkan obat terbaru baginya. Beberapa kali mereka berbincang seru karena Donghae seringkali melontarkan humor lucu kepada anaknya. Hye Hoon menanggapinya dengan tersenyum datar, karena perasaan tak menentu yang sedang mengerubungi batinnya.

 

Sebagian besar karena takut. Dia takut Donghae mengetahui segalanya.

 

Melihat tawa menyenangkan yang ditunjukkan keduanya saat bercakap-cakap membuat hatinya merasa teriris. Ada perasaan bahagia membuncah di dadanya, menyadari jika mereka bertindak seperti keluarga normal sekarang. Hati kecilnya acapkali mengharapkan situasi ini terjadi, mengharapkan lelaki itu kembali menjadi bagian dari hidupnya.

 

Eomma”, ulang Il Jeong agak keras. Anak itu terlihat sedikit kesal karena Hye Hoon yang tak kunjung keluar dari lamunannya. Donghae menetralkan tenggorokannya yang mendadak geli karena tingkah bocah kecil itu, menahan tawanya yang mungkin akan meledak kapan saja.

 

“ Donghae Samcheon akan mengajakku ke taman hiburan setelah kita keluar dari rumah sakit nanti. Kau mengizinkanku pergi, Eomma?”

 

Hye Hoon tersenyum malu, lalu mengecup dahi Il Jeong dengan gerakan cepat. “ Tentu saja, sayang. Tapi kau harus mengajak Eomma juga. Yakseok?”

 

Donghae menatap pemandangan itu tanpa berkedip, seakan takjub melihat interaksi yang terjadi di hadapannya. Dia merasa dadanya bergemuruh karena rasa bahagia yang menggebu. Ini hanya permulaan, pikirnya.

 

Donghae akan mendapatkan kebahagiaan itu lebih lama. Dia hanya tinggal menunggu waktu, sampai semuanya menemui akhir. Ini kesempatan kedua sekaligus terakhir untuknya, dan dia tidak akan pernah menyiakannya begitu saja.

 

Dia akan membawa wanita yang dicintainya beserta anak kandungnya kembali ke tengah-tengah kehidupannya. Dia mempertaruhkan hidupnya untuk itu.

 

ooo

 

Kyuhyun melihat wanita yang duduk di seberang kursinya dengan penuh rasa iba. Wanita itu sama seperti dirinya, sedang menahan emosi yang memuncak karena kejadian tak biasa yang mereka saksikan tadi. Kyuhyun menggertakkan rahangnya keras, menahan diri agar tak bersikap bodoh untuk menangis di hadapan kakak iparnya.

 

Wanita itu mengusap dahinya yang justru mengeluarkan cairan berlebih dengan sapu tangan yang tadi diberikannya, meskipun mata berkantung hitam itu layu karena dipenuhi oleh kepedihan. Kyuhyun mengerti, jika Hye Rin juga mencoba bersikap tegar, sama sepertinya.

 

“Sepertinya Il Jeong sudah sembuh total. Dia bahkan sudah bisa tertawa lepas seperti itu. Aku senang melihatnya. Ah, sayangnya aku bukan bibi yang baik, bahkan tidak pernah mengajaknya bermain. Jujur saja, setiap aku melihat Hye Hoon membawa anaknya, aku merasa iri. Dia bisa merasakan bagaimana hidup bahagia dengan keluarga lengkap, berbeda denganku yang harus menunggui suamiku di rumah sakit setiap hari. Aku bahkan tak bisa menyelamatkan bayiku sendiri, menjadikan nasibku tampak lebih malang. Namun, aku menyadari bahwa Tuhan merencanakan sesuatu untukku, dan aku pantas mendapatkannya. Aku pantas mendapatkan karma karena perilaku jahat yang kulakukan. Aku bersalah, karena memisahkan kedua orang yang saling mencintai. Aku jahat, Kyuhyun~ah…Aku merasa lebih jahat karena aku tak rela melihat mereka berdua bahagia”, ungkapnya sedih.

 

Kyuhyun melihat mata Hye Rin yang kini berderai air mata, menceritakan kebodohannya sendiri seakan mereka adalah teman dekat. Ya, Hye Rin memang adalah sumber dari semua masalah ini. Tapi dia juga terluka. Mencintai seseorang dengan tulus yang tanpa mendapat balasan itu rasanya sakit sekali.

 

Dia mengatakan itu karena dia tahu persis bagaimana rasanya.

 

Lelaki itu memainkan tangan panjangnya di atas meja, tak tahu harus seperti apa menghadapi pengakuan yang dilontarkan wanita rapuh yang usianya lebih matang darinya. Setelah melihat keakraban di balik ruangan rumah sakit itu, mereka merasakan hal yang kurang lebih sama. Merasakan jantungnya ditusuk samurai hingga berdarah karena melihat keduanya bahagia.

 

Sesuatu yang basah menyentuh lengannya. Dengan gerakan cepat, diusapnya matanya sendiri yang menjadi sumber air yang menetes itu, menghindari orang lain yang berada di kafetaria yang sama dengannya ini melihatnya begitu cengeng seperti anak kecil.

 

“ Kau tahu kenyataannya, kan? Kau mengetahuinya sejak awal tapi selalu bungkam. Mungkin menghindari kenyataan karena kau buta karena cintamu yang begitu besar padanya. Tapi, kita tak bisa lari dari kenyataan lebih lama lagi. Aku…akan kehilangannya, begitupun kau”.

 

Mata Hye Rin yang biasanya lembut itu kini berubah menyedihkan. Dia seakan melihat pantulan dari keadaan dirinya sekarang. Kyuhyun telah mempersiapkan dirinya sejak lama sebelum hal ini terjadi. Dari awal dia sudah menyadari, jika suatu saat dia akan kehilangan kedua orang yang sangat berarti di hidupnya.

 

Namun, mengapa dia masih tidak rela? Mengapa sakitnya semakin terasa, bahkan bertambah setiap detiknya?

 

“ Setelah kecelakaan itu, aku sudah merelakannya. Aku telah melepasnya untuk adikku. Dan itu berarti, tak ada halangan untuk mereka berdua kembali bersama”, isak wanita itu sambil menyeka cairan di ujung matanya, untuk ke sekian kalinya.

 

“ Hmm. Aku juga tak pernah memaksanya untuk terus di sisiku. Dia bisa pergi dariku kapan saja. Terima kasih, Noona. Terima kasih karena kau akhirnya memberikan seseorang yang telah dinanti Hye Hoon sejak lama. Dia pasti akan sangat bahagia bersamanya. Dan tentu saja, aku juga akan turut bahagia melihatnya”.

 

Hye Rin mengangguk pasrah, walaupun cairan yang berasal dari matanya tak kunjung berhenti, membuat matanya bengkak. Dia melihat wajah Kyuhyun yang kehilangan fokus, terlihat lebih menyedihkan karena lelaki itu menahan semua emosi dan rasa perih yang dirasakannya.

ooo

 

A weeks later……

 

Min Ra kembali memasukkan alat-alat medis ke dalam saku jas putihnya, kemudian tersenyum manis ke arah Il Jeong yang menatapnya penuh kagum. Pengecekan terakhir. Akhirnya, dia merasa sedikit lega anak itu keluar dari rumah sakit tempat prakteknya. Walaupun ada setengah rasa sakit yang masih dirasakannya, mengingat kejadian yang menimpanya beberapa hari lalu. Merasa malu, karena dengan terang-terangan menyukai lelaki –yang diketahuinya lima hari lalu– merupakan Ayah dari anak itu.

 

Bodoh. Otaknya memang tak berfungsi dengan semestinya jika berhubungan dengan cinta.

 

“ Il Jeong sudah bisa pulang. Tapi sebulan sekali kau harus tetap mengantarnya check up untuk mengetahui kondisi kepalanya. Aku takut sesuatu terjadi pada organ vitalnya, karena kondisi tulang tengkoraknya masih rentan di usia seperti dirinya. Sepertinya aku harus pergi, Nyonya Cho. Ada seorang pasien baru yang harus kutangani. Il Jeong~ah, jaga dirimu baik-baik”.

 

Kamsahaeyo, Uisa-nim. Lain kali kau harus mengunjungi rumahku. Aku senang jika kau bisa datang”.

 

Min Ra menyunggingkan senyumnya yang dipaksakan, membungkuk ke arah Hye Hoon dan Kyuhyun dengan gerakan cepat, lalu berlalu dengan kakinya yang melangkah dengan kecepatan super. Dia merasa malu berada di dekat pasangan muda itu sekarang. Alasannya, apalagi kalau bukan karena rasa sukanya pada Kyuhyun yang ditunjukkannya tempo lalu.

 

“ Kau membuatnya malu”, gurau Hye Hoon sambil terkekeh. Dia mendekap tangan suaminya yang sedang menatap kosong ke arah pintu, membuatnya merasa aneh karena ini bukan pertama kalinya pikiran Kyuhyun hilang entah kemana ketika sedang berada di dekatnya.

 

Mungkin sedang banyak pekerjaan di kantor yang menyita pikirannya.

 

Ppalli, Appa. Kau bilang kau akan menggendongku sampai mobil”, rengek anak kecil yang sudah siap dengan pakaian biasanya itu, mengganggu lamunan Kyuhyun yang seketika buyar.

 

Hye Hoon melepaskan pegangannya di lengan Kyuhyun, lalu bersiap mengangkat tas jinjing yang berisi pakaian ganti mereka berdua. Namun, tanpa suara suaminya itu mengambil alih pekerjaannya, berjalan di belakang Kyuhyun dengan gerakan kakinya yang cepat karena langkah kaki Kyuhyun yang lebar membuatnya tertinggal.

 

Dentingan suara lift yang terbuka membuat keluarga kecil itu bersiap-siap untuk meninggalkan tempat membosankan itu menuju rumah mereka yang sangat nyaman. Hye Hoon memalingkan mukanya gugup, menyadari siapa penumpang yang berada dalam kotak besi tersebut.

 

Samcheon…”, teriak Il Jeong lantang.

 

Anak itu bahkan tak menyadari sikap canggung diantara keempat orang dewasa itu. Kyuhyun menundukkan wajahnya, merasa ada sesuatu yang menyerang jiwanya sehingga tiba-tiba dadanya merasa perih. Melihat Il Jeong begitu menyayangi paman-nya membuatnya merasa ada sesuatu yang hilang darinya, atau mungkin karena merasakan jika kehilangan itu akan benar-benar terjadi padanya.

 

“ Kau juga pulang sekarang, Jeong~ie?”, tanya Donghae lembut. Il Jeong menjawabnya dengan anggukan semangat, membuat sebuah senyum bahagia tersungging di bibir tipis Donghae.

 

Lelaki itu sudah berhasil melewati masa-masa penyembuhannya, yang ajaibnya, tidak dilaluinya dalam waktu yang lama. Mungkin itu disebabkan karena motivasinya untuk sembuh sangat besar. Sekarang, dia bahkan sudah bisa berjalan tanpa tongkat walaupun Hye Rin yang masih khawatir selalu memegangi tubuh Donghae agar keseimbangan tubuh namja itu terjaga.

 

Wajahnya tak terlalu pucat sekarang. Berat badannya pun naik dengan cukup drastis. Donghae terlihat sehat, tak seperti orang yang baru saja beberapa tahun lalu mengalami koma.

 

Donghae melihat pantulan wajah Hye Hoon dari balik pintu kaca elevator. Dia merasa kembali ke masa lalu. Ketika itu, dia bahkan harus melihat gadis itu diam-diam di belakang istrinya, walaupun jarak mereka yang hanya beberapa jengkal saja. Setidaknya sekarang lebih baik. Dia bahkan bisa mencium wangi khas gadis itu walaupun dadanya sesak karena tak bisa mengungkapkan rasa rindunya.

 

Appaaaa..Geumanhaeee….”.

 

Donghae mengamati dari balik pantulan kaca itu, Il Jeong tertawa lepas ketika Kyuhyun menggerakkan hidungnya di permukaan perut anak itu, yang membuat Il Jeong berteriak geli. Rasa cemburu berlebihan menerpa hatinya, membuat dadanya geram. Jantungnya tiba-tiba berdetak semakin lemah, merasakan matanya perih karena melihat betapa bahagianya kehidupan mereka bersama Kyuhyun sekarang.

 

“ Hye Hoon~ah, kau masih ingat tentang rencanaku tempo lalu? Kurasa kalian harus datang ke rumah untuk merayakannya. Bagaimana jika akhir minggu ini saja?”

 

Hye Hoon memberikan senyum tipisnya untuk kakaknya itu, lalu menganggukkan kepalanya sekali. “Kami pasti datang, Eonnie”.

 

ooo

 

Acara yang katanya adalah penyambutan untuk Donghae sekaligus Il Jeong itu seharusnya berlangsung meriah, dengan orang-orang yang mengalami kebahagiaan besar di dalamnya. Mungkin hanya Il Jeong-lah yang merasakan kebahagiaan itu, karena dia bisa berkumpul dengan orang-orang tersayangnya. Berbeda dengan orang dewasa di sekitarnya, yang walaupun menebar senyum kehangatan di sekitarnya, tetap saja tak bisa menyembunyikan ketegangan dan kesedihan di balik matanya.

 

Mereka telah melewati makan siang bersama sebagai sebuah keluarga. Meskipun, mereka tak banyak bercakap dan hanya bicara sekedarnya saja. Kemudian, Donghae menepati janjinya untuk membawa Il Jeong bermain di lapangan yang dikatakannya tempo hari. Hye Rin memaksa ikut, dengan alasan dia ingin lebih dekat dengan Il Jeong karena wanita itu sering mengabaikan anak kecil itu tempo hari.

 

Membiarkan mereka memiliki waktu yang berharga seperti sebuah keluarga, Hye Hoon pun tak ingin mengganggu kebahagiaan kakaknya, memilih untuk menghabiskan waktunya duduk dibalik dinding kaca mengamati interaksi yang terjadi diantara mereka. Kepalanya bersender di dada bidang milik suaminya, merasakan gerakan naik turun yang teratur dari balik kemeja putih yang dikenakan lelakinya, menjaga agar oksigen yang masuk tetap stabil. Tubuhnya merasa hangat karena lengan kokoh itu melingkupinya, membuatnya merasakan aman sekaligus nyaman dalam dekapan suaminya.

 

“ Ini terlalu cepat bagiku. Aku tak menyangka semuanya berubah dalam hitungan hari. Melihatnya di hadapanku, menatapku dengan tatapan sendunya yang sama seperti dulu. Batinku selalu bertanya setiap kali menatapnya, Apakah aku bermimpi? Apakah sosoknya hanya bayanganku saja?

 

Air mata Kyuhyun luruh begitu saja, tanpa bisa dicegahnya. Dia menangis. Entah karena mendengar nada sedih sekaligus isak tangis yang tertangkap oleh telinganya, ataukah rasa sakit yang kembali menghujam dadanya, tepat dimana hatinya berada. Dia telah mencoba menebalkan dinding-dinding hatinya yang terluka, namun tetap saja perihnya terasa. Apalagi sekarang keadaannya lebih menyakitinya, dengan hadirnya sosok nyata itu di hadapan orang yang paling dicintainya.

 

Bukankah dia sudah bersiap untuk melepaskan? Namun, mengapa rasanya masih tak rela?

 

Dengan melupakan rasa yang membunuh perasaannya, Kyuhyun mengecup puncak kepala wanita itu dengan lembut. Tak tahu apa yang harus diucapkan, atau diperbuatnya untuk membuat perasaan Hye Hoon lebih baik.

 

“ Aku sangat bingung ketika pertama kali melihatnya mendekati ruangan Il Jeong. Aku juga ketakutan, Kyuhyun~ah. Aku takut jika dia tahu yang sebenarnya, aku takut jika rahasia ini terbongkar, aku…..”

 

Suara Hye Hoon bergetar. Kyuhyun mengetahui apa yang bisa saja dirasakan Hye Hoon saat Donghae tiba-tiba kembali ke hidupnya. Wanita itu pasti merasa sangat bahagia, tentu saja. Namun, ada beberapa hal yang membayanginya.

 

Tentang Il Jeong, Hye Rin, atau mungkin tentangnya.

 

Tak terhitung berapa kali Hye Hoon menyakitinya, Kyuhyun tak peduli. Karena bukan Hye Hoon yang menyakiti hatinya sampai sedalam ini, melainkan dirinya sendiri. Dia yang menenggelamkan diri dalam harapan yang besar jika suatu saat Hye Hoon dapat menoleh ke arahnya, mengabaikan pengetahuannya tentang perasaan yeoja itu yang sangat besar terhadap lelaki yang merupakan seorang suami dari wanita lain yang disayanginya.

 

Bukan salah Hye Hoon jika suatu saat wanita itu meninggalkannya, juga bukan salahnya jika tak lama lagi dia akan melepas gadisnya.

 

“ Kau tak perlu takut, Hye Hoon~ah. Donghae Hyung berhak tahu tentang identitas Il Jeong sebenarnya. Il Jeong juga harus tahu, siapa ayah kandungnya sebenarnya”.

 

Hye Hoon menegakkan tubuhnya, menatap tak percaya pada Kyuhyun yang menatapnya nanar. Mata Kyuhyun yang hitam sedikit berair, membuatnya merasa bersalah karena tak pernah memikirkan perasaan suaminya. Dia merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling tersakiti dalam kisah ini. Namun kenyataannya tak begitu. Ada orang lain yang lebih menderita dibandingkan dengan yang dialami olehnya.

 

“ Selamanya kau adalah ayahnya, itu yang Il Jeong tahu. Aku tak ingin itu semua berubah. Maafkan aku karena selama ini aku menyakitimu, tapi kumohon, jangan pernah berhenti menyayanginya. Dia hanya membutuhkanmu, Kyu. Begitupun aku”.

 

Hye Hoon menarik leher Kyuhyun untuk mendekatkan jarak diantara wajah keduanya. Memejamkan matanya sementara Kyuhyun masih menatap bingung ke arahnya. Hye Hoon yang seolah tak peduli, menempelkan bibirnya pada permukaan lembut dari bibir penuh Kyuhyun, mengecupnya berkali-kali dengan gerakannya yang tergolong pelan.

 

Kyuhyun tak mengerti, apa yang sebenarnya dirasakan yeoja itu. Di satu sisi, dia selalu meyakinkan Kyuhyun bahwa cintanya pada Lee Donghae tak pernah surut termakan waktu. Namun, di sisi lain, Hye Hoon sering menunjukkan jika dirinya pun adalah lelaki yang berharga baginya.

 

Kyuhyun tak ingin ambil pusing dengan menarik kesimpulan dari perlakuan Hye Hoon padanya yang berubah-ubah. Dia hanya ingin melewati hari-harinya dengan orang yang dicintainya, sampai suatu saat dia harus rela untuk melepasnya.

 

Tanpa mereka sadari, seseorang yang berada dalam ruang yang berbeda mencuri pandang ke arah kedua orang tersebut dengan matanya yang memerah. Melihat dengan mata kepalanya sendiri jika gadisnya yang melakukan inisiatif atas kemesraan yang mereka tunjukkan itu membuat dadanya bergemuruh.

 

Dia akan mengambil apa yang menjadi miliknya segera, sebelum semuanya berakhir tak sesuai rencananya.

 

ooo

 

Jalanan yang lengang membuat siang itu terasa tak biasa. Jam kecil di tangannya menunjukkan jika ini sudah masuk jam makan siang, yang seharusnya trotoar yang di sampingnya berjejer restaurant dan cafe terkenal itu akan penuh karena pekerja kantor yang mencari makanan.

 

Mungkin keadaan sekitar sudah berubah, pikirnya.

 

Dia sudah tak pernah pergi sendiri seperti yang terjadi sekarang ini. Sebenarnya, dia merasa tak tega meninggalkan Il Jeong, tapi dia akan merasa lebih tak tega lagi jika membiarkan Il Jeong bangun demi ikut mencari bahan-bahan makanan bersamanya. Untung saja, ada tetangganya yang baik hati bersedia menjaga Il Jeong ketika dia pergi. Jadi, dia tak perlu khawatir jika sewaktu-waktu Il Jeong bangun dan mencari Ibunya.

 

Hye Hoon menghentikan langkahnya, ketika matanya menangkap sosok namja yang sangat dikenalinya. Tubuhnya melemas, sehingga tangannya yang kehilangan tenaga itu melepaskan kantong-kantong yang berisi apa yang dibelinya di minimarket yang jaraknya cukup dekat dari rumahnya.

 

Wanita itu terpaku di tempatnya, ketika orang yang dilihatnya tadi semakin mendekat ke arahnya. Dia sama sekali tak berkutik, manakala lelaki itu memungut kembali kantong belanjaannya yang terlepas, lalu menarik lengan Hye Hoon untuk mengikuti langkahnya.

 

Ada sengatan tak asing di indera perasanya, ketika kulit mereka mengalami kontak.

 

Tersadar dari apa yang sedang dialaminya, Hye Hoon pun mencoba melepaskan pegangan tangan Donghae di lengannya. Namun, dia terlambat. Donghae menyeretnya memasuki sebuah rumah makan yang tertutup, tanpa memberikannya celah untuk kabur.

 

Tak lama kemudian, tubuhnya sudah terjatuh duduk di sebuah kursi yang berhadapan dengan lelaki itu. Hye Hoon menundukkan kepalanya, tak mau melihat wajah Donghae yang pasti sedang menatapnya intens.

 

“ Kau semakin cantik”, puji Donghae dengan suara lembut. Hye Hoon memberanikan dirinya, mensejajarkan wajahnya dengan mata sendu milik Donghae memandangnya dengan pandangan memuja.

 

Donghae menarik tangan gadis itu, mengelusnya dengan kedua tangannya. Setitik cairan tak berwarna meleleh di ujung matanya, tak menyangka jika hal ini akan terjadi lagi padanya. Sungguh, dia terlalu merindukan gadis itu, karena sampai kapanpun, Donghae tak akan pernah hidup dengan benar jika tak ada wanita yang berada di hadapannya itu disampingnya.

 

“ Aku sudah kembali untukmu, untuk anak kita. Kali ini aku tak akan melepaskanmu lagi, Hye Hoon~ah. Kumohon, kembalilah padaku”, ucapnya penuh dengan siratan pengharapan.

 

“ Anak kita? Maksudmu…kau…..”

 

Dengan tangannya yang gemetar, Hye Hoon mengambil amplop coklat yang diserahkan Donghae kepadanya. Kemudian, dengan hati-hati dia mengeluarkan selembar kertas putih di dalamnya. Tangannya yang bebas menelungkup mulutnya yang terisak karena mengetahui kebenarannya. Donghae tahu tentang status Il Jeong yang merupakan anak kandungnya, sejak beberapa hari lalu.

 

“ Kumohon, berikan kesempatan untukku menikmati kebahagiaan bersama kalian, aku tak ingin hidup dengan keterpaksaan lagi, Hye Hoon~ah. Sudah cukup aku mengorbankan kebahagiaanku demi membuat orang lain senang karena kehadiranku di sisinya. Aku tahu kau juga masih mencintaiku. Berhentilah mengorbankan perasaanmu. Kau juga berhak bahagia, Hoon~ah”.

 

Hye Hoon merasa kepalanya berputar. Dia benar-benar tak siap dengan perubahan yang terlalu mendadak baginya. Namun, ada gelenyar hangat melingkupi hatinya, ketika permohonan itu terucap dari bibir orang yang selama ini menjadi sumber kekuatan baginya. Apa yang harus kulakukan? Batinnya kalut.

 

Seketika bayangan wajah Kyuhyun yang penuh luka muncul di otaknya, membuat air mata yang mengalir di sudut matanya semakin deras. Pilihan yang menggiurkan itu terasa sangat berat untuknya.

 

“ Aku tidak bisa, Oppa. Akan banyak orang yang terluka jika kita bersama. Aku tak mau itu terjadi, Oppa. Kumohon, hentikan semua ini. Keadaannya jauh lebih berbeda dengan apa yang kita alami dulu. Tolong, lupakan aku dan anggap saja kau tak pernah tahu siapa Il Jeong bagimu. Itu yang terbaik, Oppa”.

 

Donghae meringis penuh sesal, merasakan sakit di ulu hatinya ketika penolakan tegas itu terdengar oleh indera pendengarannya. Matanya berkilat penuh amarah, menyadari jika Hye Hoon tetap bersikukuh mengorbankan cinta mereka hanya demi orang-orang yang bahkan tak akan mengerti dengan apa yang mereka rasakan.

 

“ Hanya ada dua pilihan untukmu. Kau dan Il Jeong kembali padaku, atau…kau kehilangan Il Jeong dari sisimu”.

 

ooo

 

Telah beberapa hari berlalu sejak Kyuhyun melihat senyuman manis terpatri di wajah cantik istrinya. Hye Hoon tertutup padanya akhir-akhir ini. Lingkaran hitam serta wajah pucat yang menyambutnya tiap malam membuat Kyuhyun tak kuasa menahan rasa sedihnya ketika melihat kehancuran yang dialami istrinya. Dan dia seakan orang bodoh yang tak bisa melakukan apapun karena dia tak mengetahui sebabnya.

 

Apakah ini tentang Lee Donghae? Apakah sudah saatnya untuk melepas keluarga yang berada di genggamannya itu kepadanya?

 

Kyuhyun melemparkan tas kerjanya sembarangan, kemudian duduk di samping istrinya yang memandang lurus ke arah televisi yang sejak tadi mati. Dia meraih tubuh ringkih Hye Hoon ke dalam pelukannya, mengecup dahi Hye Hoon kemudian merasa dadanya ditikam ketika melihat sudut mata wanita itu dihiasi oleh air matanya yang mengering.

 

“ Oh, kau sudah pulang?”, bisik wanita itu menatapnya di balik dekapannya.

 

“ Kau tak berminat bercerita apapun padaku?”, tanyanya merubah topik pembicaraan. Sudah cukup lama dia berpura-pura tak tahu. Jika dia lebih lama lagi berpura-pura, dia sangat khawatir jika keadaan Hye Hoon akan semakin buruk dari keadaannya sekarang.

 

Sedetik kemudian Kyuhyun terkejut ketika Hye Hoon menangis di balik kemeja kusutnya, meluapkan rasa sakit yang juga menjalar ke hatinya. Dia merasa tersiksa melihat Hye Hoon terlihat sangat menderita. Sungguh, dia akan melakukan apapun agar air mata tak lagi membasahi mata gadisnya. Tak apa, jika nantinya Kyuhyun sendiri yang akan menanggung rasa sakitnya, tapi jangan Hye Hoon-nya.

 

Tubuh Hye Hoon melemas di pelukannya. Isakannya yang hebat benar-benar menguras tenaga wanita itu. Kyuhyun yang tak tega melihat kondisi Hye Hoon yang sangat menyedihkan, mengusap kedua pipi gadis itu agar bebas dari cairan bening yang membasahinya. Matanya menghujani mata yeoja itu dengan kasih sayang yang tulus, yang mungkin tak akan pernah didapatkan Hye Hoon dari lelaki manapun di dunia ini.

 

“ Apa yang harus kulakukan, Kyu? Dia….dia memintaku untuk kembali ke sisinya. Dia tahu tentang Il Jeong. Dia memaksaku kembali jika aku tak ingin kehilangan Il Jeong. Tidak, Kyuhyun~ah. Aku tak mungkin kembali ke sisinya. Bagaimana dengan Eonnie? Bagaimana denganmu? Sembunyikan Il Jeong, Kyuhyun~ah. Aku tak mau dia mengambilnya dariku”

 

Deritan penuh rasa putus asa itu menorehkan luka baru di hatinya. Kyuhyun merasa sangat bersalah, karena dia mengambil peran dalam kebimbangan yang menyiksa istrinya. Dia menguatkan hatinya yang telah retak, bersikap sebagai seorang lelaki tanpa perasaan yang rela melepas orang yang dicintainya.

 

Dia sudah telah lama mempersiapkan diri, namun rasa takut itu ,masih menelusup benaknya. Seharusnya, inilah yang dia inginkan dari dulu. Dia hanya ingin melihat Hye Hoon menemukan kebahagiaannya, bukan? Tugasnya sebagai perantara sudah berakhir, dan dia tak berhak mengekang Hye Hoon untuk tinggal lebih lama di sisinya.

 

“ Kembalilah padanya.  Aku tak mau menjadi penghalang kebahagiaanmu.  Dari awal, aku tak pernah meminta lebih.  Tetapi aku bersyukur karena setidaknya aku pernah menjadi bagian dari hidupmu. Sepertinya, aku akan mengurus surat perceraian kita secepatnya”.

 

-TBC-

 

 

52 thoughts on “Sequel Of My Sister’s Husband-Losing You (Take 3)

  1. gemes sama donghae akunyaaaaaa,ayolahh lihat disebelahmu ada wanita yang sayang banget sama kamu #maafgemeslihatdonghae
    berharap suatu saat donghae bakal nyesel nyia-nyiain cewek kayak hye rin hufft
    semangat minnn :)

  2. Sy ga bs mnilai mn yg lbh egois???
    Donghae?tp dia jg trsakiti krn slma ni dia brusha ttp d si2 hyerin wlaupun htny jg skt, aplgi ii jeong ank biologisny. HYehoon? Dia jg mnderita dsni hrs ngorbanin prasaan demi ka2ny.ribet bnr ksh cinta mreka….

  3. Noooooooooo.. 😢😢😢😢 so saddddd..whyyyyyyyy kyuuuu????
    Donghae egois..bbyk org yg trsakitiii..
    Hyehoon jng ikut”an egoiss dongg ksian kyu ny..kyu udh nyerah tp gk relaaa..demi hyehonn lagi” kyu yg tersakitiii..😧😧😧😧😧😧

  4. Wah Donghae meskipun dia masih belum sembuh total dan juga menderita krn mengorbankan perasaannya sendiri tapi ntahkenapa gue benci banget sama si ikan mokpo ini.. ckck dia egois sekali..
    Mau nyari suami kayak kyuhyun dimana coba? He is so lovable and perfect hubby.. kalo sampe hyehoon lepasin kyu, mending kyu buat gue aja hahahai..

  5. sungguh Donghae egois banget. Hye Hoo seharusnya bisa menjaga perasaan suaminya juga dgn tidak mengatakan apa-apa.. Aku sebel dgn keegoisan mrk berdua. aku mau hoon tetep sama kyu. Titik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s