Sequel Of My Sister’s Husband – Losing You 4b



Donghae duduk di salah satu kursi restoran itu dengan nyaman. Bibirnya tak henti melengkungkan senyuman lebar yang syukurlah dia tak lupa bagaimana caranya. Terlalu lama dia terkungkung dalam lingkaran penderitaan yang tak ada habis-habisnya, yang membuatnya semakin menyerah bahwa dia dapat memperoleh akhir yang bahagia yang selama ini dia inginkan.

 

Namun, keajaiban pun datang. Semenjak dia bangun dari tidur panjangnya yang melelahkan, setitik demi setitik kebahagiaannya mulai muncul. Dimulai dari keberadaan anak kandungnya yang kini mulai dekat dengannya, perpisahan yang diajukan istrinya, dan yang terpenting adalah disaat orang yang dicintainya sebentar lagi akan kembali ke pelukannya.

 

Mungkin kenyataannya benar jika dia adalah orang terjahat di dunia ini, karena berani mengambil keputusan untuk merasakan kebahagiaan di atas penderitaan orang lain. Tapi, jika diambil dari sudut pandangnya keputusannya ini dirasa benar. Karena dia telah bertahun-tahun mengorbankan kebahagiannya demi orang lain, sungguh pantas rasanya jika dia berniat untuk merebutnya kembali kali ini.

 

Hye Rin. Bagaimanapun kejamnya wanita itu di matanya karena telah menghancurkan kisah cintanya, namun dia sama sekali tak meragukan rasa cinta yang sangat besar yang dimiliki Hye Rin padanya. Terbukti dengan ketulusan Hye Rin menemaninya disaat dia berada dalam masalah tersulit, dan dengan sabar menunggunya untuk membalas perasaan cinta itu.

 

Hatinya mulai menghangat ketika pikiran itu muncul ke permukaan secara tiba-tiba. Dia tak menyangka bahwa Hye Rin dapat memberikan efek semacam ini padanya.

 

Dia menghapus bayangan wanita itu ketika matanya menangkap sosok yang hampir serupa dengan wanita yang saat ini sedang berkeliaran di otaknya. Kedua sudut bibirnya kembali tertarik ke belakang, kali ini lebih lebar dari sebelumnya. Satu hal yang terlintas di pikirannya ketika melihat wanita itu adalah bobot tubuhnya yang terlihat menyusut.

 

Apakah wanita itu makan secara teratur? Apakah semua kejadian yang bertubi-tubi ini sangat mengganggu pikirannya sehingga dia merasa tertekan?

 

Donghae terperangah ketika sudut matanya melihat tangan wanita itu bertautan dengan seseorang yang kini berstatus sebagai suami dari wanita itu. Senyuman manisnya pun seketika menghilang. Donghae meremas celana bahan yang kini dipakainya, rahangnya mengeras karena emosinya yang berangsur naik.

 

Lelaki itu menutup matanya, memanjatkan doanya dalam hati. Jangan. Semoga apa yang dipikirkannya sekarang tak menjadi kenyataan.

 

Donghae menahan nafas ketika sepasang suami-istri itu mengambil tempat duduk di hadapannya. Suasana pun berubah tegang. Dia dapat melihat tatapan lembut Hye Hoon kembali menghujami matanya, membuatnya tak berkutik sehingga hanya duduk di tempatnya dengan mulut terbungkam.

 

Namun itu tak berlangsung lama, karena Donghae sudah benar-benar kehilangan kesabarannya. Dia tak menyangka jika hal ini dapat terjadi. Dari bagaimana cara Hye Hoon menggenggam jemari suaminya itu saja Donghae sudah tahu apa yang akan terjadi nanti. Tapi, bagaimana bisa? Bagaimana bisa setelah semua yang mereka lewati Hye Hoon lebih memilih lelaki itu?

 

“Aku mengerti jika kau masih belum bisa menentukan pilihanmu dan kau merasa kebingungan saat ini. Aku bisa memberimu sedikit waktu lagi untuk menyelesaikan semuanya dan kembali padaku”, ucap Donghae sambil melirik ke arah Kyuhyun. “Pikirkan baik-baik, saat ini kau hanya terbawa perasaan sesaatmu. Kau, hanya mengasihaninya, Hoon~ah”.

 

Terdapat jeda panjang saat Donghae kembali membuka mulutnya dengan pernyataan final. Donghae membangun kontak matanya dengan satu-satunya wanita yang dicintainya itu. “Kau hanya mencintaiku”.

 

Tak ayal, pernyataan itu membuat Kyuhyun menundukkan wajahnya dalam. Ucapan Donghae itu seperti benda tajam abstrak yang menusuk-nusuk ulu hatinya. Kyuhyun merasa jika keberadaannya membuat semuanya menjadi rumit. Padahal, sejak dulu dia rela menyerahkan Hye Hoon jika Donghae kembali. Sering mengesampingkan perasaannya karena lelaki itu menempatkan kebahagiaan Hye Hoon di atas segalanya.

 

Lelaki itu pun hendak bergerak bangkit, sebelum tangan Hye Hoon dengan sigap menghentikan aksinya. Mereka saling beradu pandang, Kyuhyun luluh ketika melihat mata sendu yang ditunjukkan istrinya itu.

 

“Kumohon, jangan pergi”, bisik Hye Hoon lemah.

 

Permintaan Hye Hoon itu seakan menyiratkan jika wanita itu mantap memilih untuk tetap mempertahankan rumah tangga mereka. Kyuhyun pun terenyuh, merasakan hatinya meluap karena bahagia.

 

Perasaan berbeda dirasakan Donghae. Lelaki itu membuang mukanya kasar, rahangnya semakin mengeras karena emosinya yang semakin naik. Namun, harapannya masih melambung. Dia yakin jika Hye Hoon tak akan mengorbankan dia dan anak mereka hanya demi mempertahankan agar Kyuhyun tetap berada di sisi gadis itu.

 

Hye Hoon menundukkan wajahnya dalam, merasakan penyesalan yang teramat dalam. “Maafkan aku, Oppa. Aku……..”

 

“TIDAK!”, bentak Donghae dengan suaranya yang keras. Namja itu bangkit dari kursinya sembari menghentakkan kedua tangannya dengan wajahnya yang merah padam. Untung saja saat ini masih pagi sehingga tidak ada pengunjung lain yang datang kecuali mereka bertiga. Hanya para pelayan yang menyaksikan drama itu dalam diam, bersikap seolah-olah mereka tak tahu apapun dan menjauhi meja yang ditempati pelaku kegaduhan.

 

“Jika kau lebih memilih dia…..”, geram Donghae dengan matanya yang berkilat mengarah ke arah lelaki yang duduk di samping wanitanya itu. “Kau tahu apa akibatnya”, sambung lelaki itu tajam.

 

“Kau akan kehilangan anakmu. Kau akan kehilangan Il Jeong. Apakah kau ingin hal itu terjadi? Apakah kau rela menukar kebahagiaan semu yang ditawarkan lelaki itu padamu dengan kebahagiaan anakmu sendiri? Pikirkan kembali, Hye Hoon~ah. Aku tahu kau sedang dalam keadaan tidak baik saat ini. Kau….”

 

“Aku akan tetap bersamanya”, tandas Hye Hoon tegas. Dia mendongak, menatap mata hitam Donghae dengan matanya yang berair. Suaranya tersendat ketika dia berkata begitu. Namun, dia tetap melanjutkan perkataannya karena dia tahu, dia tak bisa menundanya lagi.

 

Hye Hoon menutup kedua matanya rapat, membiarkan cairan bening di matanya mengalir membuat kedua lelaki itu ikut teriris melihat wanita yang dicintainya begitu terlihat rapuh dan menderita.

 

“Kau bisa mengambil Il Jeong, tapi kau harus mengasuh anakku bersama-sama dengan Hye Rin Eonnie”.

 

Gadis itu kembali membuka mata hazelnya dan menemukan wajah Donghae yang murung tertangkap oleh retina matanya. “Maafkan aku, Oppa. Aku benar-benar tak bisa kembali padamu. Bukan karena aku kasihan dengan Hye Rin Eonnie. Tidak—tidak sama sekali. Aku menyadari bahwa cinta kita telah pupus semenjak kau menikah dengan kakakku. Kita hanya terkungkung dalam masa lalu dan mengira bahwa kita masih seperti dulu, Oppa. Padahal, nyatanya tidak. Aku sudah lama melupakan cintaku padamu, begitupun kau”.

 

“Tidak—Omong kosong apa yang kau katakan, Hoon~ah? Bagaimana bisa kau mengatakan itu bahkan setelah kita melalui kesengsaraan karena kita tak bisa saling memiliki sebagaimana mestinya?”. Donghae menggenggam kedua tangan Hye Hoon dengan tak sabar, lalu menuntut gadis itu dengan kedua matanya untuk memohon.

 

“Sekarang lah waktunya. Ini akhir dari kisah kita. Akhir yang selalu kita impikan saat ini akan segera menjadi kenyataan. Sadarlah, sayang. Kita bisa menghabiskan sisa hidup kita selamanya dengan bahagia. Aku, kau, dan anak kita”.

 

Hye Hoon menghempaskan tangan kakak iparnya itu dengan kasar. Dari sudut matanya dia dapat melihat bahwa suaminya sedang menahan emosinya itu kuat-kuat. Lagi-lagi, dia menyakiti Kyuhyun dengan semua drama memilukan ini. Kapankah semuanya berakhir?

 

“Cukup. Jika dulu kau yang memberiku pilihan, kali ini giliranku memberimu pilihan. Jika kau ingin mengambil anakku, kau harus tetap bersama kakakku tapi jika tidak—jangan harap aku akan mengizinkanmu bertemu dengan anakku, kakak ipar”.

 

***

 

Eomma! Appa!”.

 

Teriakan sumringah dari bocah empat tahun itu membuat suasana mansion Cho yang biasanya senyap menjadi sangat gaduh. Il Jeong pun dengan tak sabar merengkuh kedua orang dewasa yang sengaja menundukkan tubuh mereka untuk memeluknya pun dengan antusias. Dia sangat merindukan orang tuanya itu.

 

Walaupun kakek-neneknya memanjakannya dengan cara yang tak pernah dilakukan orang tuanya yang kadang-kadang sedikit keras padanya, dia tetap lebih nyaman tinggal bersama Eomma dan Appa-nya.

 

“Kalian tak merindukanku? Mengapa tak menghubungiku sama sekali?”, cerocos anak lelaki itu dengan mulutnya yang mencebik lucu. Ibunya yang gemas segera mencubit kedua pipi tembam Il Jeong sedangkan Kyuhyun mengelus dahi anak lelakinya itu penuh sayang.

 

“Kami sangat merindukanmu, Jeongie~a. Tapi…sepertinya Eomma-mu lupa untuk menghubungimu karena berduaan dengan Appa. Bukan begitu, sayang?”

 

Hye Hoon tertawa lepas mendengar candaan suaminya. Dia merangkum kedua belah pipi tembam Il Jeong lalu menciumi wajahnya hingga puas. “Jangan dengarkan Appa-mu”, katanya sambil tersenyum simpul.

 

Wanita itu menarik Il Jeong ke dalam pelukannya. Dia mendekap bocah lelaki itu dengan erat, tak mau ada celah sedikitpun seakan takut kehilangan anak itu. Hye Hoon mengelus punggung Il Jeong dengan telapak tangannya lembut, lalu menghujani pelipis anak itu dengan ciuman kecil.

 

Eomma sangat menyayangimu, Il Jeong~ah”, ucapnya dengan suaranya yang bergetar.

 

Kyuhyun menyaksikan pemandangan itu dengan hati teriris. Mengingat dialah alasan mengapa Hye Hoon memutuskan untuk melepaskan darah dagingnya sendiri membuatnya meringis. Perkataan Donghae sepenuhnya benar. Dia hanya bisa memberikan kebahagiaan semu untuk wanita itu, sedangkan Il Jeong adalah segalanya bagi Hye Hoon. Tegakah dia? Tegakah dia memisahkan seorang anak dari Ibunya hanya karena keegoisannya sendiri?

 

Lamunannya terputus ketika derap langkah kaki mulai mendekati ruang tamu rumah kedua orang tuanya itu. Kyuhyun mendekati Ibunya, mencegahnya untuk merusak moment antara istri dan anak tunggalnya itu. Kyuhyun bergelayut manja di lengan wanita yang melahirkannya itu, lalu menyeretnya ke ruang makan.

 

“Aku sangat merindukan masakanmu, Eomma”, ucapnya merajuk. Hanna hanya tersipu malu menerima perlakuan manja dari anaknya, dan melupakan keinginannya yang semula ingin menyapa menantu dan cucunya.

 

***

 

Hye Hoon terlihat lebih pendiam daripada biasanya. Tadi, ketika mereka makan malam bersama wanita itu tak terlibat perbincangan Kyuhyun dengan kedua orang tuanya dan hanya menyuapi Il Jeong dengan tatapan matanya yang berbeda. Kyuhyun yang cemas dengan keadaan Hye Hoon pun memilih diam karena dia tak ingin dicurigai oleh orang tuanya. Untung saja, Tuan dan Nyonya Cho tidak menyadari keganjilan yang terjadi dan hanya menyimpulkan sendiri bahwa Hye Hoon hanya sangat merindukan anaknya.

 

Kyuhyun mendesah ketika melihat tempat sebelahnya kosong. Barulah dia merasakan kebahagiaan itu kemarin, namun hari ini dia harus rela merasakan pedih seperti sebelum-sebelumnya.

 

Hanya sehari, kebahagiaan itu bertahan.

 

Selanjutnya, dia tak tega jika harus mengorbankan Il Jeong dalam masalah yang terjadi pada orang-orang dewasa di sekitarnya. Astaga, mengapa semuanya berubah rumit seperti ini? Akan lebih baik jika Hye Hoon lebih memilih kembali ke pelukan Donghae dan meninggalkan dirinya. Meskipun Kyuhyun tak bisa membayangkan jika itu terjadi apakah dia dapat menjalani kehidupannya dengan benar atau tidak.

 

Kyuhyun segera merebahkan tubuhnya di kasur dan mulai menutup kedua matanya. Tapi, suara derapan kaki pelan itu membuat kelopak matanya kembali terbuka. Kyuhyun menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, ketika dia menangkap sosok istrinya yang menatap ke arahnya dengan pandangan kosong.

 

Sesak di dadanya semakin menjadi kala melihat sosok lemah itu berangsur menaiki ranjang. Hye Hoon segera menyandarkan kepalanya di dada Kyuhyun, dan Kyuhyun membalasnya dengan mengelusi puncak kepala Hye Hoon dengan penuh kelembutan.

 

“Aku tahu kau masih merindukan Il Jeong dan aku tak keberatan untuk tidur sendiri. Mengapa kau malah datang ke kamarku, hmm?”

 

Mereka memang masih tinggal di mansion keluarga Cho, itu mengapa Kyuhyun merujuk kamar yang ditempati mereka adalah kamar miliknya. Hye Hoon menjawab pertanyaan Kyuhyun dengan gelengan pelan, lalu berkata dengan tenang. “Aku tak bisa tidur. Aku tahu kau juga belum tidur, jadi kurasa aku harus segera menjelaskannya padamu soal tadi”.

 

Kyuhyun memang tak pernah menanyakan kejadian di rumah makan tadi di perjalanan mereka menuju rumah orang tua Kyuhyun. Seperti biasanya, lelaki itu memilih diam dan pura-pura tidak tahu agar Hye Hoon tak lebih merasa tertekan lagi. Namun, kali ini Hye Hoon mengerti akan sikap Kyuhyun dan memiliki inisiatif sendiri untuk menjelaskan apa yang dirasakannya kepada suami yang sangat dicintainya itu.

 

Kyuhyun memandang Hye Hoon dengan serius untuk mendengarkan cerita dari istrinya itu. Kali ini, Hye Hoon melepaskan diri dari pelukan Kyuhyun dan duduk menyamping menghadap namja itu. Tangannya mengusap rambut tebal Kyuhyun dengan gerakan teratur seperti yang dilakukan Kyuhyun terhadapnya tadi.

 

“Jangan pernah merasa jika kau yang bersalah karena kausecara tidak langsung menjauhkanku dari Il Jeong. Tidak, Kyuhyun~ah. Jangan pernah berpikir begitu. Aku sudah memikirkan hal ini matang-matang. Untuk saat ini aku benar-benar tak sanggup untuk kehilanganmu, tapi Il Jeong— aku merasa lega karena walaupun dia lepas dari genggaman kita, kakakku dan ayah kandungnya dapat menjaganya dengan baik. Mereka menyayangi Il Jeong seperti kita menyayanginya”.

 

“Tapi—”

 

Hye Hoon menempatkan jari telunjuknya di permukaan bibir Kyuhyun untuk menghentikan lelaki itu bicara. “Apakah kau ingin melihat Hye Rin dan Donghae Oppa bahagia? Kumohon, percayalah padaku. Il Jeong sudah memberikan keajaiban untuk kita dan aku yakin, dia juga akan memberikan keajaiban yang sama untuk mereka”.

 

Kyuhyun menarik nafasnya lega mendengar penuturan istrinya itu. Ternyata, bukan tanpa alasan Hye Hoon melepas Il Jeong untuk Donghae. Kyuhyun berharap semoga rencana Hye Hoon dapat berjalan dengan baik sehingga pasangan suami istri itu dapat merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakannya sekarang.

 

***

 

Tujuh hari berlalu semenjak keputusan sepihak Hye Hoon yang sangat merugikannya itu, membuatnya berfikir dua kali sebelum keluar dari rumah yang ditempatinya dengan wanita yang masih berstatus sebagai istrinya. Rumah yang mereka tempati sejak pernikahan mereka, yang sama sekali tak menyimpan kenangan apapun di dalamnya. Akhirnya, karena Donghae butuh lebih berpikir banyak, dia memilih tetap tinggal dan menerima perlakuan khusus wanita itu seperti sebelumnya.

 

Sedangkan Hye Rin, tentu saja wanita itu menerima keputusan Donghae itu dengan sukacita.

 

“Sarapanmu sudah selesai, Oppa?”, tanya Hye Rin dengan wajahnya yang tak pernah luput dari senyuman, membuat getaran yang tak dapat diartikannya itu kembali menyengat dadanya.

 

Donghae hanya menganggukkan kepalanya sekali, lalu kembali memfokuskan diri pada koran yang dibacanya. Hye Rin yang sudah biasa dengan perlakuan dingin Donghae pun tak banyak protes. Donghae masih bertahan di rumah mereka saja, dia sangat senang. Apalagi sikap suaminya itu yang sedikit demi sedikit berubah membuatnya merasa bahagia.

 

Sepertinya keputusan Hye Hoon itu berefek besar pada hubungan mereka berdua.

 

“Hye Rin~a”, panggil lelaki itu pelan sebelum dirinya sempat meninggalkan ruang makan dengan piring-piring kotornya.

 

Hye Rin sedikit terkejut dengan panggilan yang sudah lama tak didengarnya dari bibir Donghae itu. Dia menajamkan telinganya, memastikan apakah pendengarannya masih benar atau tidak. Suaminya pun kembali mengulang panggilannya, membuat Hye Rin menyunggingkan senyuman bahagianya.

 

“Ya? Ada apa, Oppa?”, jawabnya sedikit cepat, merasa takut bila tiba-tiba Donghae berniat untuk menghentikan pembicaraan mereka.

 

Donghae menahan senyum gelinya ketika melihat istrinya yang terlihat sangat antusias. Lelaki itu menganggap tingkah polah istrinya itu sangat lucu di matanya. Ya ampun, apa yang terjadi padamu sebenarnya, Lee Donghae?

 

“Apakah kau keberatan jika Il Jeong juga tinggal disini?”

 

Terdapat jeda yang panjang ketika pertanyaan itu terucap. Hye Rin tak lagi menjawab Donghae dengan cepat seperti yang dilakukannya tadi. Dia seperti kehilangan fokusnya dengan kata-kata yang sungguh membuatnya terkejut itu.

 

Apakah berarti Donghae akan membawa anak di luar perkawinannya itu ke dalam keluarga kecil mereka? Hye Rin teringat dengan perkataan adiknya tempo lalu, ketika itu Hye Hoon berkata jika dia membutuhkan bantuan dirinya ketika itu? Dia bersyukur dalam hati bahwa dia memiliki adik berhati malaikat seperti Hye Hoon. Jadi, gadis itu merelakan Il Jeong agar Donghae tetap berada di sisinya?

 

Hye Rin akhirnya dapat menggerakkan lidahnya yang kelu itu dengan anggukan tegas. “Tentu. Aku tidak keberatan jika Il Jeong tinggal disini. Kapan kita membawanya, Oppa?”

 

***

 

Tak sampai satu jam setelah Hye Rin bertanya kapan tepatnya Donghae membawa Il Jeong ke rumah mereka, pasangan itu telah sampai di kediaman adik mereka. Hari masih sangat pagi. Hye Rin juga belum sempat menghubungi Hye Hoon dan menyebutkan perihal keinginan Donghae untuk membawa Il Jeong saat ini juga.

 

Dia tak bisa membayangkan betapa hancurnya kedua orang itu ketika anak yang sangat mereka cintai itu diambil dengan paksa.

 

“Ayo keluar”, ucap Donghae mengetuk jendela kaca mobilnya untuk memecah lamunan wanita itu. Hye Rin pun segera keluar dari mobil menyusul suaminya yang sudah melewati pagar rumah keluarga kecil adiknya itu.

 

Hye Rin melangkah lebih cepat, mencoba untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh tegap lelaki itu kemudian dengan lancang menarik ujung mantel yang digunakan Donghae untuk menghentikan pergerakan lelaki itu.

 

Donghae berbalik, mengernyitkan alisnya karena merasa terganggu dengan tindakan Hye Rin itu. Namun, Donghae tetap diam dan membiarkan wanita itu menjelaskan mengapa dia dengan sengaja menghentikan Donghae.

 

Hye Rin menundukkan wajahnya takut-takut, menatap ujung sepatunya yang terkena debu. Hatinya menimang apakah dia harus mengatakan hal ini atau tidak, namun pada akhirnya dia memilih unutk mengatakannya. “Itu…bagaimana jika kita menjemput Il Jeong lain kali saja, Oppa? Kurasa Hye Hoon dan Kyuhyun akan sangat terkejut jika kita mengambil anak mereka sekarang. Mereka…..”

 

“Aku tak peduli dengan perasaan mereka!”, sentak Donghae dengan suara tinggi. Hye Rin semakin menundukkan kepalanya, sedangkan hatinya bergetar hebat. Donghae pun menyentuh kedua sisi tubuh Hye Rin, lalu meremasnya dengan sedikit kuat. Hye Rin memberanikan dirinya membalas tatapan Donghae yang tertuju tepat di manik matanya, melihat dengan langsung mata Donghae yang memerah.

 

“Dengar, kapanpun aku ingin mengambil Il Jeong itu adalah hak-ku. Aku ayah kandungnya. Aku telah berpisah dengannya bahkan sejak dia dalam kandungan Ibunya. Bukankah ini wajar jika aku ingin membawanya kembali?”. Suaranya melembut ketika dia mengatakan semua itu.

 

Hye Rin pun tak kuasa menahan tangis. Dia menangis di hadapan Donghae, meluapkan hatinya yang berkecamuk dengan air mata yang tak kuasa dibendungnya. Dia berlari kencang, berbalik menjauhi rumah itu dengan matanya yang basah.

 

Donghae membisu, terdiam di tempatnya menatap punggung sempit istrinya yang bergetar. Dia tahu, dia menyakiti Hye Rin lagi. Tapi, dia membiarkan wanita itu pergi dengan hatinya yang hancur, sedangkan dia tak melepaskan niatnya untuk menghancurkan kebahagiaan orang yang dicintainya.

 

Dibukanya pintu kayu yang tak terkunci itu dengan hati-hati. Sesaat setelah memasuki rumah itu, hanya rasa hangatlah yang bisa dia rasakan. Matanya tertuju pada ketiga orang yang sedang menikmati sarapan pagi mereka dengan sukacita. Kegiatan rutin yang biasa dilakukan sehari-hari, namun terlihat sangat bermakna untuk mereka. Donghae dapat melihat Il Jeong yang bermanja-manja di pangkuan Kyuhyun, membuat dadanya bergemuruh hebat.

 

Dia sudah tak menggunakan akal pikirannya lagi. Dengan cepat Lee Donghae berjalan ke arah ruang makan, dimana keluarga kecil pemilik rumah itu terasa sangat terkejut karena kedatangannya yang tiba-tiba. Hye Hoon panik. Tanpa disadarinya, wanita itu menarik paksa Il Jeong dari pangkuan Kyuhyun lalu mendekapnya erat-erat.

 

Kyuhyun yang masih dalam keadaan yang lebih baik dari kedua orang dewasa yang sedang dalam kondisi mereka yang menegang itu pun mencoba menengahi. Dia menyapa Donghae dengan senyuman tipis terpoles di bibirnya, meskipun jantungnya berdebar mengantisipasi hal yang akan terjadi.

 

“Ada perlu apa kau kemari, kakak ipar?”

 

Donghae mendengus meremehkan, mendengar sapaan Kyuhyun yang terkesan tak ramah padanya membuatnya darahnya semakin naik. “Kau masih bertanya?”, balasnya sinis. Pandangan lelaki itu tak lepas dari Hye Hoon yang mendekap erat bocah kecilnya dengan mata cokelat itu memancarkan rasa takut dan was-was.

 

Il Jeong yang tak mengerti situasi yang dihadapi orang-orang dewasa itu pun malah loncat dari dekapan Ibunya, berlari riang dengan kakinya yang kecil ke arah lelaki dewasa yang kini disebutnya sebagai paman.

 

“Donghae Samcheon!”, teriaknya girang.

 

Dalam sekejap, anak lelaki itu pun berada dalam pangkuan pamannya, membuat Donghae melirik sinis ke arah adik ipar lelakinya. Lelaki tampan itu lalu mengacak rambut anaknya itu sambil menunjukkan senyum terbaiknya.

 

“Hai, jagoan. Apa kabarmu?”, sapa Donghae ringan. Dia mengacak rambut Il Jeong sambil tersenyum miring ke arah lelaki dewasa lain yang berada di sisi wanita yang dicintainya. Dari sudut matanya, dia dapat melihat Hye Hoon dengan matanya yang berkaca.

 

Lee Donghae, kau sungguh keterlaluan! marahnya pada dirinya sendiri.

 

Namun, Donghae tahu jika Hye Hoon hanya butuh sedikit gertakan untuk kembali padanya. Dia sangat memahami bagaimana sifat gadis itu. Hye Hoon tak akan pernah sudi membuat orang di sekitarnya terluka karena pilihannya, dan memilih untuk melukai dirinya sendiri sebagai gantinya.

 

Meskipun benar, Donghae dapat melihat bahwa Hye Hoon mencintai lelaki yang menjadi rivalnya itu. Tapi cinta itu tidak sebanding dengan cinta yang dimiliki gadis itu padanya. Mungkin, hanya seberkas rasa kasih sayang dan rasa kasihan yang membuat yeoja itu sedikit terlena.

 

Donghae menatap pantulan mata hitamnya ketika anak lelaki itu tersenyum penuh antusias. “Aku sangat merindukanmu, Samcheon”, cicitnya senang. Donghae menanggapinya dengan kekehan ringan yang menunjukkan keadaan hatinya yang sangat bahagia.

 

Jinjayo? Keureyo?”, tanyanya berulang dengan ekspresi lucu. Dia melemparkan tubuh mungil Il Jeong beberapa kali ke udara, membuat tawa mereka saling bersahutan.

 

Donghae melirik ke arah kedua orang yang terdiam di tempatnya sejak tadi, lalu kembali memasang muka manisnya di hadapan Il Jeong. “Jeongie~ya? Kau rindu bermain dengan Samcheon?”, anak itu mengangguk berulang kali dengan memamerkan senyum tiga jarinya. “Kau ingin bermain di rumah Samcheon? Kau tahu, ada lapangan yang sangat luas disana. Kita bisa bermain sepak bola seperti dulu”, bujuknya kedua kali.

 

Tak disangkanya respon Il Jeong masih tetap sama seperti ketika menjawab ajakan pertamanya. “Aku mau, Samcheon”, jawabnya dengan nada bicaranya yang lucu. Donghae mencoba peruntungannya lagi, kali ini dia langsung ke inti pembicaraan penyebab dirinya menyambangi rumah keluarga kecil itu sepagi ini.

 

“Jika kau tinggal di rumah Samcheon, kita dapat bermain sepuasnya. Aku akan menemanimu bermain setiap hari, disana juga ada Hye Rin Imo yang akan memasakkan kue lezat untukmu. Apa kau mau tinggal di rumah Samcheon?”

 

Il Jeong terlihat sedikit berpikir. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali, lalu meminta Donghae untuk menurunkannya. Dia menatap lekat pamannya itu sambil mengerucutkan bibirnya. “Aku hanya ingin tinggal dengan Eomma dan Appa. Tapi, jika hanya bermain, aku bersedia bermain denganmu, Samcheon”.

 

Donghae memalingkan mukanya, tatapan matanya menembus mata coklat yang selama ini selalu membayangi pikirannya. Dia menyunggingkan senyum kemenangannya yang padahal membuat hatinya malah merasa hampa, berkata dengan nada tegas yang ditujukan pada wanita itu.

 

“Tapi Eomma-mu akan memaksamu tinggal denganku, Il Jeong~a. Mulai hari ini, kau akan tinggal di rumah Samcheon. Benar begitu, Nyonya Cho?”

 

***

89 thoughts on “Sequel Of My Sister’s Husband – Losing You 4b

  1. akhir’a stlh sekian lama ga buka web kamu nih elsaaaa..ditmbah efek baper gara2 komen2 aq ga ada yg dr thn kmrnan T_T

    ahhhh ini tagline’a angst truz ending’a bagaimana ini???
    donghae ky’a udah mulai ada rasa nih sm istri’a yakk

    mw pw ky biasa’a aq dpt dr twitter tp ada syarat baru yak elsa??
    oukehh aq coba2 berhadiah yak..smg bs dpt pw dr kamuhh :*

  2. Cinta gk bisa d pksain..walaupun cinta it egois tp hrus mikirin prsaan pasangan kita..kalau hnya mmenting kan dri sndri it buka cinta namany..
    Ribet yahhh..Walaupun il jeong anak kndung donghae tpi kyu sm hyehoon yg ngrawat slma in..moga iljeong ttp sayang sm kyu walaupun bkan pp kndung ny..

  3. donghae jaaahat baanget, tega. urus bareng2 anaknya.. kasian hyehoon sama kakanya.. smoga sadaar ya km, untung kyuhyun punyaa hati yang laapang syekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s