Losing You ( 2nd Sequel Of My Sister’s Husband ) – Take 4a


“ Aku akan meninggalkan rumah ini secepatnya”.

 

Perkataan dingin lelaki itu membuat wanita yang sedang merias diri di hadapan cermin rias kamar mereka itu pun menghentikan gerakan tangannya yang sedang memoleskan bedak di pipinya. Dia tak mencoba berbalik untuk sekedar melihat wajah suaminya yang akan membuat hatinya semakin terluka.

 

Matanya menatap hampa bayangan dirinya di balik kaca. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat menahan jerit tangis yang sudah berada di ujung kerongkongannya. Secepat inikah? Tanyanya dalam diam. Dia bahkan belum pernah merengkuh kebahagiaan yang sebenarnya di pelukan lelaki itu, dan sekarang dia harus merasakan sakitnya dicampakkan. Dia harus rela, bukan?

 

Dia tak berhak untuk memaksa pria itu untuk selalu berada di sisinya, terlepas dari pengorbanannya yang dilakukannya terhadap lelaki yang tak pernah mencintainya itu.

 

“ Aku akan membawa mereka kembali ke sisiku”, lanjut pemilik suara tenor itu lagi, menyebabkan luka sayatan baru yang tercipta di rongga dadanya.

 

Seketika Hye Rin membalikkan badannya, menampakkan wajahnya yang kusut itu di hadapan pria yang berdiri tegap menghadapnya. Mata hitam legamnya memandang namja itu penuh tanya. Seakan mengerti bahwa ada sesuatu yang belum dibeberkannya, Donghae pun segera membuka rahasia yang telah disimpan mantan kekasih gelapnya itu rapat-rapat.

 

“ Il Jeong. Dia anakku, Hye Rin~ah”.

 

Dalam sekejap tubuh wanita itu menegang mendengar pengakuan suaminya. Hye Rin mendongakkan kepalanya menghadap langit-langit bercat putih di kamarnya, menahan cairan bening yang kini tak henti mengalir dari kedua matanya.

 

Sungguh demi apapun dia lebih baik tak tahu kebenaran yang membuatnya semakin terpuruk itu. Setelah beberapa tahun silam dia mengingat tentang hubungan terlarang yang dijalani suami dan adik kandungnya sendiri, dan sekarang, dia harus mengetahui bahwa terdapat buah dari perselingkuhan yang terjadi selama beberapa tahun itu.

 

Mungkinkah hanya dia sendiri yang tak tahu? Alasan empat tahun lalu ketika kondisi Hye Hoon yang hamil terbongkar, adik perempuannya itu bukan meraung dalam tangis karena menyesali kehamilannya yang terjadi di luar ikatan pernikahan, tapi karena Ayah dari janin itu adalah suami Hye Rin, kakaknya sendiri?

 

Seharusnya Hye Rin tahu sejak dulu, sehingga keadaannya tak lebih rumit daripada ini. Apalagi sekarang Kyuhyun sudah ikut terjerumus masuk ke dalam lingkaran neraka itu, membuat orang-orang yang tersakiti lebih banyak.

 

Toh, akhirnya pasti akan seperti ini. Donghae akan menjadi milik Hye Hoon, begitu pula sebaliknya.

 

Sekeras apapun Hye Rin memohon pada orang yang telah lama resmi menjadi suaminya itu untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka berdua, Donghae pasti akan menolaknya mentah-mentah. Dan dia hanya bisa menangis untuk sedikit mengobati perih yang membuat dadanya semakin sesak.

 

Wanita dengan tubuhnya yang semakin kurus itu bangkit dari kursinya, mengabaikan fakta bahwa kakinya yang lemas tak sanggup lagi menopang berat badannya. Dia menghampiri orang yang setulus hati dicintainya itu kemudian meletakkan tangan ringkihnya di kedua belah pipi Donghae. Hye Rin meraba pipi berwarna putih pucat itu lembut, dengan mata bengkaknya menatap mata sendu milik pria itu intens.

 

Donghae ikut terdiam, seakan terhanyut dalam kesedihan istrinya yang mendalam. Dia membiarkan jemari Hye Rin menari di wajahnya, diliputi rasa bersalah karena dia mengetahui bahwa dia menyakiti wanita itu terlalu dalam. Tetapi, jika tidak menyakiti wanita itu, dia tak akan merasakan kebahagiaan yang selama ini didambakannya, kan?

 

“ Pergi dariku adalah yang terbaik untukmu. Benar begitu, Oppa?”, ucap Hye Rin terbata ditambah sebuah senyuman tipis yang terlihat dipaksakan. Donghae tetap membungkam bibirnya, tak mengeluarkan sepatah katapun untuk menjawab pertanyaan retoris yang ditujukan Hye Rin padanya.

 

“ Kalau begitu pergilah. Kau harus hidup bahagia dengan adikku. Itu adalah mimpi yang selama ini ingin kau wujudkan, kan?”.

 

***

 

Perceraian. Satu kata itu terus menerus berputar di otaknya, membuat kepalanya semakin terasa pusing. Dia bahkan tak bisa melontarkan apapun ketika kata itu terucap dari bibir suaminya. Lidahnya terasa kelu, bahkan setelah beberapa jam berlalu dari kejadian itu dia tak bisa mengatakan apapun yang menjadi keputusannya.

 

Mengapa dirinya harus memilih? Mengapa semuanya berubah rumit ketika dia, Lee Donghae, orang yang selama ini diharapkannya, kembali ke kehidupannya?

 

Dia memainkan jarinya dengan cemas. Semenjak kejadian sore tadi, suasana di rumah keluarga kecilnya itu berubah. Kyuhyun terlihat sangat menghindarinya, terlihat sekali jika pria itu tak ingin berada satu ruangan dengannya.

 

Ketika makan malam mereka tadi saja, mereka berakting di hadapan Il Jeong agar bocah itu tidak membaca gelagat mereka bahwa orang tuanya sedang bertengkar. Selama belasan tahun dirinya mengenal Kyuhyun, baru kali ini dia dijauhi oleh pria yang saat ini masih menjadi suaminya itu. Jadi, Hye Hoon tak tahu bagaimana cara mengatasinya. Biasanya, dulu, Hye Hoon-lah yang sering menjauhi Kyuhyun karena masalah kecil diantara mereka.

 

Suara kran air yang ditutup pun terdengar. Hye Hoon yang sedang duduk di samping ranjangnya pun segera mengarahkan pandangannya ke arah pintu kecil di kamarnya, mengantisipasi orang yang akan keluar dari kamar mandi itu.

 

Pintu terbuka, lalu untuk sesaat mata mereka bertumbuk. Hanya sebentar saja karena Kyuhyun dengan cepat membuang mukanya, menghindari mata Hye Hoon yang seakan meminta penjelasan atas peristiwa yang terjadi diantara mereka berdua.

 

Kyuhyun yang tak memperdulikan keberadaan Hye Hoon, terburu-buru mengganti balutan handuk putih yang menutupi tubuhnya dengan pakaian kasual yang sering dikenakannya di rumah. Pria itu hendak meninggalkan kamar mereka, sebelum kemudian suara lembut itu menghentikan langkah lebarnya.

 

“ Kyuhyun~ah”, panggil wanita itu dengan suaranya yang sangat pelan. Terlihat jika Hye Hoon ragu antara memanggil suaminya itu atau tidak. Kyuhyun menghela nafasnya beberapa detik, mengenyahkan rasa ngilu yang kini menggerogoti hatinya untuk melihat wajah cantik yang dicintainya itu terlihat sarat akan kebimbangan.

 

“ Ada apa denganmu? Apa kau……menghindariku?”, tanya wanita itu tanpa basa-basi.

 

Kyuhyun mengiyakan pertanyaan Hye Hoon dalam hati. Ya, dia memang menghindari Hye Hoon. Setelah perkataannya tentang perpisahan itu terucap, dia sudah bertekad untuk melupakan cinta pertamanya itu. Dia tak mungkin bisa melupakan Hye Hoon jika mereka bahkan tinggal di rumah yang sama, namun untuk hari ke depan dia sudah berencana untuk meninggalkan rumah mereka dan menghuni kembali apartemennya yang lama.

 

“ Apakah kau benar-benar ingin berpisah denganku?”, sambung wanita itu lagi, yang bahkan tak menunggu jawaban dari pertanyaannya tadi.

 

Tak pernah. Kyuhyun tak berniat sedikitpun untuk meninggalkan wanitanya, bahkan setelah wanita itu menyakitinya habis-habisan. Dia tak pernah mengeluh, ataupun memaksa Hye Hoon untuk menatapnya apalagi membalas perasaannya. Namun, perceraian itu diajukannya untuk mempermudah jalan Hye Hoon untuk kembali kepada satu-satunya orang yang dicintainya.

 

Dia selalu melakukan segalanya demi kebahagiaan Hye Hoon, bukan?

 

Pria itu menatap Hye Hoon tajam, mencoba menyembunyikan sisi lemahnya untuk tak menangis dan memohon wanita itu untuk memilih untuk tetap bersamanya. “ Ya, aku menghindarimu. Aku melakukannya agar aku lebih mudah meninggalkanmu, meninggalkan kalian berdua. Setidaknya aku bisa melupakan rasa sakit jika dalam waktu dekat ini kita akan segera berpisah. Bukankah aku tak punya pilihan lain?”

 

Setetes air mata luruh di pipi mulus gadis itu, merasakan nada dingin yang terlontar dari mulut suaminya itu menusuk ulu hatinya membuatnya merasakan nyeri yang tak terperi. Mendengar kata bahwa Kyuhyun sedang mencoba untuk melupakan cinta yang dimiliki lelaki itu untuknya entah mengapa membuat dadanya semakin menyempit.

 

Bagaimana jika sebenarnya Hye Hoon bahagia jika Kyuhyun tak meninggalkan wanita itu? Akankah Kyuhyun tetap bertahan di sisinya?

 

***

 

Sepi. Itulah hal pertama yang ditangkapnya di pagi ini. Berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya yang biasa dilaluinya bersama suaminya dengan penuh kehangatan. Kali ini, dia bahkan tak bisa melihat wajah tampan Kyuhyun karena pria itu bahkan tak ada di sampingnya.

 

Tempat sebelahnya yang setiap hari dihuni lelaki itu kosong. Kyuhyun masih menyalakan perang dingin yang dimulainya kemarin, mengabaikan dirinya agar menempati ranjang mereka sendiri tanpa bisa melihat sosok yang biasa menemaninya itu terbaring di sampingnya.

 

Ada sesuatu menelusup ke hatinya, yang membuat bagian itu merasa nyeri. Rasa kehilangan itu begitu kentara dirasakannya. Apa gerangan yang terjadi pada dirinya? Kenapa dia bahkan tak bisa membayangkan jika Kyuhyun benar-benar pergi dari kehidupannya?

 

Berbagai pertanyaan yang tak pernah terlintas itu tiba-tiba memenuhi kepalanya. Dia menghalau pemikiran-pemikiran yang sekarang dianggapnya buruk itu lalu segera beranjak dari kasurnya.

 

Ketika dia menutup pintu kamar, hal yang pertama dilihatnya adalah figur seorang pria yang terlelap di sofa ruang keluarganya. Dia sedikit kesal melihat kelakuan suaminya itu. Lihatlah, bahkan benda empuk berwarna coklat muda itu tak mampu menampung seluruh tubuhnya, sehingga membuat kaki panjangnya bergantung di pinggir sofa. Padahal, tempat tidur di kamar mereka terlalu luas untuk digunakannya sendirian.

 

Detak jantungnya berubah tempo, saat semakin menipis jarak yang terbentang diantara keduanya. Dia menahan nafasnya sebentar, lalu menekan dadanya agar berhenti berdegup dengan frekuensi berlebihan. Akan tetapi, usahanya itu sepenuhnya gagal. Selanjutnya, dia pun tak mencoba untuk meredakan denyut jantungnya yang menggila.

 

Tangannya dengan lancang menyingkirkan sejumput helai rambut yang menutupi wajah Kyuhyun, meneliti wajah rupawan itu dengan seksama. Dia bahkan tak pernah melakukan itu ketika mereka berada di dalam satu ranjang. Hye Hoon lebih suka berada di dalam dekapan suaminya itu tanpa menoleh wajah Kyuhyun sama sekali.

 

Baru disadarinya, jika dia sangat merindukan kebersamaan mereka bersama Il Jeong tentunya. Dia merasa kehilangan karena dia sangat merindukan kehadiran suaminya. Meskipun sekarang mereka tinggal di satu atap yang sama, tetapi jika Kyuhyun sama sekali tak berinteraksi dengannya itu sama saja dengan mereka tinggal di belahan dunia yang berbeda.

 

“ Aku sangat merindukanmu, Kyu”, akunya pelan, sama sekali tak ingin jika pria yang masih berada di alam mimpinya itu bangun dan mendengar pengakuan hatinya.

 

Tubuhnya merangkak naik, mengikis rentang yang menghalangi tubuh keduanya untuk kemudian memeluk tubuh lelakinya erat. Hye Hoon memposisikan kepalanya di dada pria itu, mendengarkan detak jantung yang anehnya memiliki irama yang sama dengannya.

 

Beberapa menit dia dalam posisi yang seperti itu, seakan tersadar bahwa matahari sebentar lagi muncul dan pria yang berada di dalam dekapannya itu akan segera bangun, Hye Hoon pun menarik tangannya dari pinggang lelaki itu lalu melangkahkan kakinya menuju dapur.

 

Hye Hoon beranjak menuju kamar lain yang berada di rumah mereka, tapi sebelum dia sempat melangkah lebih jauh, kakinya berhenti bergerak ketika menangkap pemandangan yang sangat lucu di matanya. Il Jeong, anaknya, menutup pintu kamarnya sendiri lalu berjalan dengan kaki kecilnya walaupun belum sepenuhnya terbangun dari tidurnya. Anak itu mengucek matanya sendiri dengan sebelah tangannya, mencoba mengembalikan fungsi penglihatannya agar kembali normal.

 

Wanita itu menggendong Il Jeong dalam pelukannya, membawanya ke kamar mandi untuk memandikannya. “ Ja, sekarang kita mandi dulu, hmm?”, ucapnya sambil menjawil pipi tembam bocah itu. “ Lain kali, Eomma akan mengajarimu agar kau bisa mandi sendiri, kau sudah besar, anak nakal”.

 

Il Jeong malah kembali memejamkan matanya, tak peduli dengan Eommanya yang terus saja mengoceh sepanjang wanita itu membantu Il Jeong melakukan rutinitas paginya.

 

Satu jam berlalu, mereka pun sudah siap untuk segera menjalankan aktivitas. Hye Hoon dan Il Jeong terlebih dahulu menempati tempat masing-masing di meja makan, lalu selanjutnya Kyuhyun datang dengan dasinya yang berantakan, mencium pipi bulat Il Jeong sambil mengacak rambut anak lelaki itu yang telah rapi, lalu mengambil tempat duduk di kursinya yang biasa.

 

“ Pagi, Il Jeong~ah”, sapa namja itu riang, tak melirik sedikitpun kepada istrinya yang hanya menunduk memandangi roti polosnya.

 

“ Pagi, Appa. Kau tak menyapa Eomma juga?”, jawab Il Jeong sambil menatap kedua orang tuanya kebingungan.

 

Kyuhyun salah tingkah. Beberapa saat dia mencerna ucapan anaknya, kemudian dengan canggung memalingkan wajah ke arah istrinya, bergerak mendekati kursi wanita itu lalu memberikan suatu kecupan singkat di dahi, seperti yang biasa dilakukan setiap paginya.

 

“ Pagi “, ujarnya pelan.

 

Hye Hoon hanya menyunggingkan senyum tipisnya untuk membalas perlakuan tak tulus dari suaminya itu. Pagi ini berbeda dengan sebelumnya, itu jelas terlihat dari keduanya yang bersikap layaknya orang asing. Tapi, mereka mencoba meredam masalah pribadi mereka di depan Il Jeong. Jujur, itu membuat hati Hye Hoon sangat sakit.

 

Dia tak suka dengan situasi seperti saat ini. Rasanya Kyuhyun berada sangat jauh darinya, sehingga dia bahkan tak bisa menggapai lelaki itu. Dia membencinya, melebihi apapun. Dia tak ingin kehilangan waktu bersama orang-orang dicintainya. Apalagi ini terjadi karena dirinya.

 

Apakah semuanya akan kembali seperti sedia kala? Jawabannya tentu saja tidak, jika Hye Hoon masih bimbang dengan keputusannya.

 

***

 

Benda keras itu kembali menimbulkan suara kala wanita berambut panjang itu untuk kesekian kalinya melemparkan batu berukuran kecil itu ke dalam permukaan air danau yang luas. Dia sedang termenung, merenungi apa yang harus menjadi pilihannya nanti. Sejujurnya, jika menilik dari rasa cintanya yang sangat besar kepada satu-satunya lelaki yang memenuhi relung hatinya itu, dia akan dengan senang hati kembali ke pangkuan pria itu tanpa merasakan bimbang sedikitpun.

 

Suaminya sudah menyetujui untuk berpisah, dan untuk kakak yang sangat disayanginya, sepertinya akan bersikap sama dengan lelaki itu untuk melepas Lee Donghae. Lalu, semuanya selesai. Hye Hoon akan mengalami akhir yang bahagia dengan pria yang dicintainya beserta buah hati mereka.

 

“ Aku tahu kau pasti disini”, sapa seseorang dengan suara selembut kapas itu mengganggu lamunannya. Hye Hoon mengikuti sumber suara itu, menemukan seorang wanita dengan wajah yang hampir mirip dengannya.

 

Hye Rin mengambil posisi yang kosong di sebelahnya, ikut melemparkan kerikil-kerikil kecil ke arah danau buatan itu seperti yang sejak tadi Hye Hoon lakukan. Hye Rin meluaskan pandangannya, melihat keindahan taman belakang kampus yang terakhir kali dikunjunginya dengan berbalut air mata kepedihan itu takjub.

 

Pantas saja mereka sangat suka menghabiskan waktu di tempat ini, batinnya. Kebersamaan mereka di tempat ini, Hye Rin-lah yang mengubah kebiasaan itu.

 

Mengingat peristiwa yang terjadi empat tahun lalu di lokasi yang sama, sudah barang tentu rasa sesak itu masih menyelimuti dadanya. Kejadian itu adalah kedua kalinya dia melihat suaminya bercumbu dengan wanita selain dirinya yang tak lain adalah adik perempuannya sendiri. Namun, sepertinya sesaknya sudah berkurang. Dia sudah akan mencoba melupakan, walaupun itu adalah hal yang sangat mustahil baginya.

 

“ Kehidupan percintaan kita sangat rumit, bukan? Dari awal, kita mencintai seorang lelaki yang sama yang mengharuskan salah satu dari kita mengalah. Aku yang masih menjunjung tinggi egoku kala itu, tak mau melepaskannya. Tapi lihatlah, pada akhirnya aku yang kehilangan. Kalian memang ditakdirkan untuk bersama, sebanyak apapun aku berjuang untuk menahannya di sisiku, kalian pasti kembali bersatu”.

 

Hye Hoon menelusuri lekuk wajah kakaknya dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya. Di matanya, Hye Rin sudah terlihat pasrah dengan apapun yang terjadi pada kehidupan rumah tangganya dengan Lee Donghae. Wanita yang lebih dewasa darinya itu terlihat tak berdaya dan lebih memilih tegar dan menyimpan rasa sakitnya dalam hati. Tegakah dia? Tegakah dia merengkuh kebahagiaan bersama pria yang saat ini dianggapnya masih sangat dicintainya, sedangkan kakak perempuannya mengalami keadaan yang semakin terpuruk?

 

Sedangkan dia, masih diliputi kebimbangan yang membuat kepalanya pening. Dia bahkan ragu dengan perasaannya sendiri. Benarkah dia masih memiliki perasaan yang sama pada Donghae-nya? Ataukah perasaan yang dirasakannya sekarang hanya obsesi atau keinginan besarnya untuk memiliki lelaki yang amat sangat dicintainya dulu itu semata?

 

Hatinya membenarkan bahwa dia masih mencintai lelaki yang pernah mengisi hidupnya itu, namun dalam kadar yang terbilang sedikit. Sedangkan, tanpa dia sadari, sebagian besar hatinya diisi oleh sebuah nama yang selalu mengisi hari-harinya dengan senyuman, seseorang yang rela mengorbankan apapun demi kebahagiaannya.

 

Cho Kyuhyun. Ya, dia mencintai lelaki itu bahkan di luar kesadarannya sendiri.

 

Dia menggumamkan nama suaminya itu dengan bibirnya yang tertarik ke belakang. Ternyata, semudah itu menanggalkan kegalauan hatinya. Hanya karena tersentuh dengan kekuatan cinta yang ditunjukkan Hye Rin kepadanya, dia bisa memecahkan misteri yang selama ini mengganggu otak dan pikirannya.

 

Menyadari jika dia bahkan belum membalas pertanyaan Hye Rin, wanita yang telah memiliki satu anak itu menoleh ke arah lawan bicaranya itu dengan senyuman penuh kebahagiaan. “ Kau salah, Eonnie. Donghae Oppa bukan ditakdirkan untukku, tapi untukmu. Akulah yang melawan takdir. Kami-lah yang memaksa keadaan sehingga dulu kami sempat dibutakan oleh cinta dan berusaha untuk tetap bersama”.

 

“ Dan sekarang, aku sudah menemukan seorang pria yang nyatanya ditakdirkan untukku, Eonnie. Aku saja terlalu bodoh untuk menyadarinya lebih cepat”, lanjutnya dengan senyuman yang semakin merekah.

 

Hye Hoon meraih lengan ringkih kakaknya itu dengan penuh kasih sayang. Kontak mata mereka terjalin begitu saja, dengan Hye Rin yang masih terlihat bingung dan takjub dengan lontaran kalimat yang diucapkan adik semata wayang-nya.

 

“ Aku tak akan kembali kepadanya, Eonnie. Dan aku berjanji, aku akan membantumu menahan Donghae Oppa untuk tetap bertahan di sampingmu. Aku mempertaruhkan segalanya untuk itu”.

 

Hye Rin tersentak ketika indera pendengarannya menangkap maksud dari kata-kata Hye Hoon. Mencari celah dari wajah wanita yang bisa saja mempermainkan perasaannya itu dengan kebohongan lagi. Namun, meskipun dia berusaha mencari pembenaran jika perempuan itu mengatakan sesuatu yang tak benar, dia tak bisa menemukannya.

 

Kali ini, Hye Hoon bukan untuk kedua kalinya mengorbankan cintanya pada Donghae demi Hye Rin, tapi demi kebahagiaan dirinya sendiri.

 

“ Bagaimana dengan Il Jeong? Dia anakmu dengan Donghae Oppa, bukan?”, sahut Hye Rin tanpa merasa bersalah ataupun sakit hati melafalkan dengan mulutnya sendiri status dari anak itu dengan suaminya.

 

Hye Hoon sebisa mungkin menahan air mukanya yang memerah karena malu dengan pernyataan yang diucapkan Hye Rin. Menarik, memang. Hye Rin mengatakannya seolah tak ada yang salah dengan fakta bahwa Il Jeong adalah anak dari Donghae. Hye Hoon berusaha tenang dengan menarik kedua sudut bibirnya simetris, meskipun hatinya berkecamuk karena hal itulah yang paling ditakutkannya sekarang.

 

“ Ya. Tapi Eonnie, kau akan selalu mendukungku, kan? Jika aku tak bisa meyakinkan Donghae Oppa, bisakah aku meminta bantuanmu?”

 

***

 

“ Jeongie~ya, Eomma pulang. Kau dimana, sayang?”

 

Tak ada jawaban yang didapatnya, menimbulkan rasa curiga yang kini menggelayuti pikirannya. Sebelumnya tadi, setelah pertemuan tak terduganya dengan Hye Rin Eonnie-nya berakhir, dia sempat mengunjungi pre-school dimana Il Jeong belajar.

 

Memang, beberapa minggu setelah kejadian itu Hye Hoon mengirim Il Jeong untuk mengenal dunia luar. Dia tahu jika anak lelakinya itu butuh teman bergaul, karena yang hanya bisa ditemuinya di rumah hanyalah kedua orang tuanya.

 

Park Seongsaengnim yang dikenalnya sebagai wali kelas Il Jeong mengatakan jika Il Jeong sudah dijemput oleh seorang pria yang mengaku sebagai Ayah dari anak itu. Batinnya mulai kalut. Mungkinkah bukan Kyuhyun orang yang dimaksud, melainkan pria bermarga Lee yang mati-matian dihindarinya?

 

“Tadi orang tuaku baru saja kembali dari Jepang. Mereka tak sabar ingin bertemu Il Jeong dan memaksaku membawanya untuk menginap. Maaf jika sebelumnya aku tak sempat memberitahumu. Tak masalah denganmu, bukan? Atau kau bahkan tak mengizinkannya?”

 

Hye Hoon menarik nafas lega. Meskipun nada bicara Kyuhyun yang terdengar tak bersahabat di telinganya, namun dia bisa mengabaikannya karena ketakutannya jika Donghae yang membawa anaknya tak menjadi kenyataan.

 

“ Aku tak keberatan sama sekali”, jawabnya santai. Dia melirik Kyuhyun yang sedang memainkan sebuah map yang berada di tangannya. “Lagipula Eomma dan Appa pasti sangat merindukan Il Jeong karena mereka jarang sekali bertemu”, tambahnya menimpali.

 

Hye Hoon memperhatikan penampilan prianya yang masih rapi dengan menggunakan setelan jas yang dipersiapkannya tadi pagi. Dia melirik jam tangan kecil yang melingkar di lengan kirinya sekilas lalu bulatan mata coklatnya beralih pada pria itu lagi.

 

“ Kau akan kembali ke kantor?”, tanyanya singkat tanpa membubuhkan nama panggilan yang tak luput digunakannya kepada lelaki itu, menimbulkan kesan asing yang mempertegas hubungan mereka yang sedang merenggang.

 

Kyuhyun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Dia mendekati kursi yang berada di ruang tamu rumah mungil mereka, kemudian mengisyaratkan Hye Hoon untuk duduk di seberangnya. Hye Hoon pun menurut tanpa membantah atau bertanya sedikitpun, bulatan cokelatnya menangkap gelagat aneh dari Kyuhyun yang kebanyakan memalingkan mukanya.

 

Map berwarna merah yang sedari tadi berada di tangan Kyuhyun kini diletakkan lelaki itu di atas permukaan meja. Kyuhyun memandang Hye Hoon waspada, menyadari kerutan halus yang timbul di dahi gadisnya itu.

 

“ Tadi sebelum aku menjemput Il Jeong, pengacaraku datang. Dia mengantarkan surat ini padaku, menyuruh kita untuk menandatanginya agar berkas kita dapat segera diproses. Kuharap kau………”

 

“ Apa maksudmu Cho Kyuhyun?”, serobot Hye Hoon tak terima. Volume suaranya dinaikkan, menandakan jika dia benar-benar membenci apa yang baru saja Kyuhyun sampaikan. Wanita itu tak harus melihat apa isi dari map yang disodorkan Kyuhyun untuk mengetahui isinya. Dia cukup tahu bahwa dokumen itu yang akan menghantarkannya kepada sebuah perpisahan bersama dengan suaminya.

 

Matanya terdesak oleh cairan tak berwarna yang kini mengumpul di pelupuk matanya. Kyuhyun tak main-main dengan ucapannya beberapa hari lalu mengenai perceraian mereka. Buktinya, lelaki itu sudah mempersiapkan kertas laknat yang menjadi saksi atas runtuhnya rumah tangga mereka.

 

Apakah Kyuhyun merasa antusias sekali dengan perpisahan mereka? Batinnya meringis. Berbagai pertanyaan yang tak sanggup diutarakannya seakan meledak di kepalanya. Mungkinkah Kyuhyun sudah tak mencintainya lagi? Mungkinkah Kyuhyun sudah menyerah padanya?

 

Hal itu wajar, mengingat sudah lama sekali Kyuhyun mengejar cintanya tanpa mengharapkan balasan maupun kepastian darinya. Ini merupakan sebuah karma baginya. Dan dia pantas mendapatkan semuanya itu. Paru-parunya seakan berhenti bekerja, menimbulkan rasa sesak yang tak terdeskripsikan di rongga dadanya.

 

Lidahnya seolah beku karena dia bahkan tak sanggup mengutarakan apa yang menyebabkan rasa perih di hatinya. Dia memilih bungkam, tak berkata apapun dengan kepalanya yang tertunduk menatapi porselen yang sama sekali tak bisa mengalihkan rasa pedih yang bersumber di gumpalan hatinya.

 

Tangan Hye Hoon yang terasa begitu lemas meraba map yang berada tepat di depannya itu. Tubuhnya semakin gemetar. Kyuhyun tak mengomentari apapun yang dilakukannya, namun mata hitam legam itu mengikuti setiap pergerakan yang dilakukannya. Pun ketika gadis itu meraih kertas putih itu dan membacanya sekilas, kemudian dengan kasarnya merobek surat perceraian itu menjadi kepingan-kepingan yang tak berarti.

 

“ Sampai kapanpun aku tak akan menandatangani kertas sampah ini”.

 

Keduanya larut dalam keheningan setelahnya. Kyuhyun terlalu terpana dengan apa yang terlontar dari bibir mungil istrinya. Dia merasakan kelegaan yang luar biasa karena Hye Hoon menolak mentah-mentah surat itu.

 

Entah bagaimana prosesnya, mereka telah berpelukan di tengah-tengah ruangan itu. Kyuhyun menggunakan tangannya untuk memerangkap tubuh istrinya dalam suatu pelukan yang posesif, dadanya bergetar hebat karena debaran jantungnya yang meluap-luap. Sama halnya dengan Hye Hoon, yang tak bisa menahan rasa bahagianya dengan menyunggingkan senyuman yang tiada henti. Mendengar degupan jantung Kyuhyun yang berderap kencang, dia telah mengetahui jawaban atas sesuatu yang harusnya tak perlu dikhawatirkannya.

 

Kyuhyun masih mencintainya. Dan akan tetap selalu mencintainya.

 

“ Mengapa? Mengapa kau tak mau melepaskanku, Hye Hoon~ah? Bukankah dia sudah kembali? Kau, sangat memimpikan untuk menjalin kembali rajutan kisah cinta kalian yang sempat terhalang, bukan?”

 

Kyuhyun akhirnya menyuarakan pertanyaan mengenai Lee Donghae yang biasanya dipendam olehnya. Dia tak ingin terlalu cepat mengambil kesimpulan yang akhirnya akan menghempaskannya dalam harapannya yang tak tercapai.

 

Hye Hoon melonggarkan pegangan di pinggang Kyuhyun. Lalu, keduanya saling mengamati pantulan wajah masing-masing yang semakin terlihat berseri di setiap detiknya. Kyuhyun melihat mata Hye Hoon yang seakan memberikan isyarat lain, yang membuat tubuhnya makin merasa gugup karenanya.

 

“ Maaf karena aku membutuhkan waktu yang banyak untuk menyadarinya. Membiarkanmu larut dalam penderitaan yang begitu menyesakkan, melakukan segala pengorbanan untuk membuatku bahagia, bahkan saat aku mengabaikan perlakuanmu itu, kau tetap sabar dan menungguku di tempat yang sama”.

 

Hye Hoon merangkum kedua belah pipi Kyuhyun menggunakan tangannya, sambil memfokuskan pandangannya pada mata berwarna hitam yang kini sangat digilainya itu.

 

“ Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun. Aku sangat mencintaimu”.

 

Perlahan, Kyuhyun mencerna kalimat menyenangkan itu dan menyimpannya di otaknya baik-baik. Rasanya dia ingin mencubit pipinya sendiri, untuk membedakan jika ini kenyataan atau hanya bunga tidurnya saja.

 

Pagi ini, dia bahkan sempat bermimpi jika Hye Hoon memeluknya, kemudian menyatakan jika wanita itu merindukannya. Mungkin itu bukan benar-benar mimpi yang ada karena khayalannya saja, namun tak pernah disangkanya semua itu adalah kenyataan.

 

Kyuhyun menyelipkan helaian rambut yang menghalangi wajah istrinya, kemudian mengusap pipi putih pucat itu dengan lembut. “ Aku juga mencintaimu, Hye Hoon~ah. Kau tahu itu, bukan?”

 

Gadis itu terkekeh kecil mendengar pengakuan suaminya. “ Ya, aku sangat mengetahuinya”, guraunya. Dia memberikan penekanan di setiap kata-kata yang dilontarkannya tadi.

 

Kyuhyun sedikit memanyunkan bibir penuhnya. Kemudian, tawanya mulai menghiasi ruangan besar nan sepi itu ketika dia menggerakkan jari-jarinya di permukaan pinggang sempit gadisnya, menggelitikinya sampai Hye Hoon ikut tertawa karena merasa kegelian.

 

“ Jadi kau pikir itu lelucon,huh? Rasakan akibatnya jika kau berani macam-macam padaku”, ancam lelaki itu disertai seringaiannya yang membuat Kyuhyun semakin terlihat menawan.

 

Arasso, yeobo. Bisakah kau menghentikannya sekarang?”.

 

Kyuhyun pun mematuhi apa yang diperintahkan wanita itu. Dia menelusupkan jari-jarinya ke belakang tubuh Hye Hoon, mendekatkan jarak diantara keduanya dengan memeluk pinggang istrinya itu erat.

 

“ Katakan sekali lagi”, ucapnya serius.

 

Hye Hoon pura-pura tak mengerti, lalu mengulang kalimat yang dikatakannya tadi tanpa sebutan apapun. “ Hentikan….sekarang?”.

 

Kyuhyun pun mendengus kesal.

 

Hye Hoon berjinjit, menyamakan tubuhnya yang kurang tinggi itu sehingga kedua wajah mereka sejajar, kemudian mendaratkan kecupan kecil di bibir penuh lelaki itu. “ Saranghae, yeobo “, ujarnya singkat.

 

Perkataan sederhana itu mampu membuat hati Kyuhyun menghangat. Pupus sudah semua rasa sakit yang pernah dideritanya belasan tahun lamanya karena mengalami cinta sepihak dengan gadis itu. Dia bahkan tak sanggup mengingat bagaimana rasanya penderitaan yang dikecapnya selama ini. Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah masa-masa indah yang dia lalui dengan gadisnya, yang tak pernah sedikitpun terkikis di ingatannya.

 

Penantiannya tak sia-sia. Pengorbanannya tak percuma. Penderitaan itu hanya kenangan, dan yang terpenting adalah saat ini dan seterusnya dia dapat merasakan kebahagiaan bersama pendampingnya.

 

***

 

Ini sungguh berbeda. Walaupun tak terhitung berapa banyak malam yang dihabiskan bersama istrinya di kamar pribadi mereka, sekarang Kyuhyun merasa jika malam ini adalah malam terindah yang pernah dilaluinya dengan wanitanya.

 

Tak ada perasaan takut, seperti yang biasa dirasakannya. Ya, dia sangat khawatir jika Hye Hoon tak menginginkan ini. Jika Hye Hoon menangis ketika pagi seperti yang pernah didengarnya di saat yang pertama kalinya untuk mereka, menyadari kejadian yang mungkin saja dianggapnya sebagai kesalahan yang dilakukannya.

 

Gadis itu cantik—apapun keadaannya. Bahkan ketika dengan wajahnya memerah dan rambut berantakan meringis sekuat tenaga ketika dalam proses untuk melahirkan anak mereka, Hye Hoon tetap cantik di matanya. Seperti saat ini, wajahnya memerah karena sesuatu yang berbeda, menggigiti bibir bawahnya sendiri mungkin di luar kesadarannya, menatap dirinya dengan mata sayu yang benar-benar menghipnotisnya.

 

Kyuhyun tersenyum lebar. Dia mengelus rambut wanita yang dihimpitnya dengan menggunakan tubuhnya itu, menatap bibir merah itu lagi, kemudian rasa ingin mencecap manisnya bibir itu muncul kembali.

 

“ Kau tak pernah menggoda lelaki lain selain aku, bukan?”.

 

Rasa posesif yang berlebihan tiba-tiba saja dirasakan Kyuhyun. Padahal, jelas-jelas lelaki itu tahu jika Hye Hoon tak pernah bermain mata dengan lelaki manapun, setidaknya saat mereka terikat dalam hubungan pernikahan.

 

“ Tidak. Untuk apa menarik perhatian lelaki lain, jika aku memiliki lelaki sempurna sepertimu?”.

 

Lelaki sempurna. Jadi, begitu penilaian Hye Hoon tentang dirinya? Batin Kyuhyun senang. Kyuhyun mengulum senyumnya agar tak memamerkan senyuman bodohnya di hadapan yeoja-nya itu.

 

Kyuhyun kembali memagut gadis itu ke dalam sebuah ciuman panjang. Saling menyalurkan hawa panasnya satu sama lain, menjalin kembali hubungan yang beberapa waktu lalu sempat merenggang.

 

Hye Hoon terlalu terbuai, hingga wanita itu tak tahu jika tubuhnya masih berada di atas tempat tidur atau tidak. Belaian Kyuhyun yang lembut itu seolah membuyarkan pikirannya. Hye Hoon tahu, jika kali ini Kyuhyun benar-benar tak memikirkan pemikiran negatif apapun karena saling mencintai sekarang.

 

Dan dia sepenuhnya lega. Melihat orang yang dicintainya begitu bahagia karena dirinya. Hye Hoon adalah wanita paling beruntung yang berada di dunia ini. Dia sangat menyadari itu.

 

***

 

Pagi hari, Kyuhyun yang lebih dulu terbangun. Dia menyiapkan sarapan masih dengan mengenakan baju handuk dengan bau sabun mandi yang melekat, kemudian membawa makanan yang disiapkannya itu ke kamar mereka.

 

Sewaktu Kyuhyun memasuki ruangan itu, dia melihat jika istrinya sudah terbangun, berdiri memunggungi namja itu sambil mengikat asal rambut hitamnya, dengan sudah mengenakan pakaian lengkap. Ketika mendengar suara berisik dari arah pintu, Hye Hoon pun menyadari kehadiran suaminya. Wanita itu memamerkan senyum malaikatnya, yang membuat Kyuhyun terpana sebentar lalu membalas dengan menarik bibirnya ke belakang.

 

“ Eh? Kau membawa makanannya ke ranjang? Aku sudah bangun, Kyu. Jadi, bagaimana jika kita sarapan di meja makan saja?”, tawar Hye Hoon ketika melihat suaminya membawa nampan yang berisi makanan cepat saji untuk dua orang itu ke kamar mereka. Namun Kyuhyun tak menggubrisnya. Dia malah menaikkan matanya mengarah pada tempat tidur, menyuruh gadis itu untuk kembali ke kasurnya.

 

“ Jangan membantah. Aku sedang tak ingin keluar kamar hari ini. Ayolah, kita jarang sekali berduaan jika Il Jeong ada disini. Kau tidak menginginkannya, hmm? Kau tak ingin menghabiskan waktu berdua denganku saja?”

 

Hye Hoon memukul dada bidang Kyuhyun sekali, tepat setelah lelaki itu meletakkan meja kecil itu di tempat tidur. “ Kau tak suka Il Jeong tinggal disini, hmm?”.

 

Kyuhyun seketika menegang, takut jika Hye Hoon salah mengartikan ucapannya barusan. “ Maksudku….”

 

Hye Hoon memotong ucapan Kyuhyun dengan mengecup pipi suaminya sekilas. “ Aku mengerti, Il Jeong Appa”.

 

Terdengar nada dering yang berasal dari handphone Hye Hoon. Gadis itu mengatakan pada Kyuhyun untuk menunggunya sebentar, kemudian menghampiri laci di tempat tidurnya itu untuk mengambil ponselnya.

 

Tangannya gemetar ketika melihat siapa yang menghubunginya pagi-pagi sekali. Dia tak memperkirakan jika waktunya begitu cepat. Hye Hoon bahkan masih menikmati masa-masa indahnya bersama suami yang kini disadarinya sangat dicintainya, namun sekejap kemudian lelaki itu kembali hadir untuk merebut kebahagiaannya.

 

Dia menegakkan wajahnya untuk melihat ke arah Kyuhyun yang sepertinya kebingungan melihat tingkahnya, sebisa mungkin membentuk senyuman tulus untuk membuat suaminya tenang.

 

Kemudian, dia menekan tombol hijau dan mendekatkan teleponnya ke telinga dengan gerakan yang sangat pelan. Tanpa sapaan, lelaki itu langsung membicarakan apa tujuannya yang membuat Hye Hoon kembali merasakan bagaimana sulitnya bernafas.

 

“ Aku tunggu jawabanmu siang ini, di tempat terakhir kita bertemu. Sampai jumpa”.

 

-TBC-

 

 

 

52 thoughts on “Losing You ( 2nd Sequel Of My Sister’s Husband ) – Take 4a

  1. seneng bgt, akhrnya penantian kyu selama ini ga sia sia n cintanya terbalaskan, seneng bgt bgt bgt pas hoon robek kertasnya n blng cinta sama kyu^^ donghae malesin ih -,-

  2. Bnran deh author br kali ni bc ff smpe bikin pala eyke pusing he… :) bnr2 ga ktebak jln crtany… Daebak..ga tau lg hrs blg apa
    Ngebut2 k part slanjutny :)

  3. elsaaaa..ini kmn comment aq sblm’a???yg dr thn lalu ga muncul lg y comment’a???trux gmn mw mnta pw buat part ending nih klo comment aq ilang gtu??

  4. akhirx penantian kyu oppa berbuah manis jga saat hye hoon bilang cinta ama kyu,ksiand jga lihat kyu oppa yg cinta mati ama istrinya,, lanjut eonnii

  5. aku senyum senyum sendiri loh author, author ini hebat membolakbalikan hati para pembaca niih, itu yg nelpom pasti donghae degdegan jga. smoga donghae cepet saaadar dan biar happy ending mskipun suliiit..

  6. seneng banget tau kalo ff ini di post ulang, berasa obat penawar kecewa setelah dulu author’y mutusin menghapus ff ini gegara reader yg iseng.. sebelum’y makasih ;)

    meski udah baca part ini tetep deg”an n penasaran apa reaksi donghae dengan keputusan yg hye hoon ambil ok langsung tancap next chap :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s