Sequel Of My Sister’s Husband-Two Pieces(2nd Part)


 

 

Beep

Hye Hoon segera membereskan pekerjaannya yang sedang menata piring dan menu sarapan di meja setelah itu bergegas membuka pintu tanpa melihat ke layar yang berada di samping pintu tersebut.

Dan dia menyesalinya. Seharusnya sebelum membuka pintu dia mengetahui siapa yang datang agar dia bisa mempersiapkan hatinya. Jantungnya berdegup semakin cepat ketika dia tak sengaja bertatapan dengan mata teduhnya.

Dia ingin berhambur ke pelukannya. Dia merindukan lelaki itu. Sangat.

“ Annyeong Eonnie, Oppa. Ah, sebaiknya kalian segera masuk”.

Hye Rin memeluk adiknya singkat. Dan otomatis Hye Hoon membalas pelukannya itu dan dari ujung matanya dia tahu kalau dia sedang diperhatikan oleh seseorang.

Sejak Hye Hoon membuka pintu, Donghae hanya bisa menatap gadis itu dalam diam. Dia tidak pernah memalingkan matanya dari Hye Hoon. Wajah wanita itu masih pucat, sama seperti sebelumnya. Gadis itu terlihat seperti tertekan dan itu membuat hatinya sakit. Dia mengamati tubuh kurus gadis dihadapannya itu. Dan tak sengaja melihat tanda merah yang terdapat di leher gadis itu saat Hye Rin memeluknya.

Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia tidak rela Hye Hoon memadu cinta dengan orang lain, walaupun itu suami wanita itu sendiri. Apakah Hye Hoon sudah melupakan dirinya, dan mulai mencintai Kyuhyun?

Dia berharap semoga bisa keluar dari siksaan bathin yang dialaminya. Secepatnya.

***

Mereka memasuki apartemen itu dalam diam. Ini pertama kalinya Donghae dan Hyerin mengunjungi apartemen pengantin yang baru menikah beberapa bulan lalu tersebut. Ukuran apartemen ini memang kecil, tetapi terasa sangat nyaman apalagi jika hanya untuk tinggal berdua saja.

Ruang makan di apartemen itu juga berukuran kecil dan berada di sebelah dapur. Donghae menarik kursi di sebelahnya untuk mempersilahkan istrinya duduk. Hyerin tersenyum singkat untuk berterima kasih kepada suaminya itu, sementara adik perempuannya memalingkan muka dan pura-pura melihat ke arah kamar utama.

“ Kyuhyun dimana?”

Sesaat setelah Hyerin menanyakan hal itu, pintu kamar utama di apartemen itu perlahan terbuka. Kyuhyun muncul dengan baju santainya sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Dia sedikit terkejut dengan kedatangan kakak ipar dan suaminya, dan dengan seketika khawatir dengan perasaan wanitanya.

Pria bernama Kyuhyun itu mengelus pelan puncak kepala istrinya dan duduk di sampingnya. Hye Hoon menoleh dan tersenyum kecil. Mereka berpandangan sebentar sebelum suara dehaman mengganggu aktivitas mereka berdua.

“ Sepertinya ada pasangan lovey-dovey yang sedang menikmati indahnya awal pernikahan. Sangat romantis dan membuat orang di sekitarnya iri. Benar kan, Oppa?”

Lelaki itu masih memperhatikan pasangan di depannya dengan pandangan menerawang. Dan dia sedikit tidak suka dengan perkataan orang yang duduk di sampingnya. Dia hanya menanggapi celotehan istrinya itu dengan melempar senyuman kaku yang tidak tulus sama sekali.

“ Sudahlah Eonnie, jangan meledek kami. Sebaiknya kalian segera menikmati makanan yang tersaji di hadapan kalian. Eonnie dan Oppa pasti belum menikmati sarapan kalian karena terburu-buru kesini, kan?”

Hye Hoon berpura-pura bersikap biasa saja dan menghindari tatapan dari lelaki itu. Dia menyembunyikan tangannya di atas pahanya sendiri dan mengepalnya dengan kuat untuk mengatasi gugup berlebihan yang berasal dari tubuhnya. Dirasakannya sebuah tangan yang lebih besar darinya menggenggam tangan kirinya. Kyuhyun pasti mencoba menenangkannya sekarang, seperti yang biasa dia lakukan sebelumnya.

“ Hmm, ya. Tapi sebelumnya ada hal yang ingin kubicarakan. Apakah kalian mau ikut ke Bukhan-shan bersama kami? Aku sudah menyewa villa disana. Jadi kita bisa bersenang-senang di akhir pekan ini”.

Kyuhyun menatap Hye Hoon khawatir. Perasaan istrinya pasti makin kacau sekarang. Apalagi gadis itu harus menghabiskan waktu bersama pria itu dan kakaknya di tempat yang sama. Dan Hye Hoon pasti akan merasa tidak enak apabila menolak ajakan dari kakaknya. Kecuali jika dia sendiri yang menolaknya.

“ Maaf Noona, tapi….”

“ Aku mau. Maksudku, aku dan Kyuhyun pasti ikut. Sudah lama kita tidak berwisata bersama-sama, iya kan? Sepertinya ini akan sangat menyenangkan”.

Kyuhyun terperangah mendengar jawaban gadis itu. Dia mencoba melindungi gadis yang sangat dicintainya itu tetapi gadis itu malah menggali kepedihan hatinya sendiri.

Dia berpikir dalam hati. Apakah Hye Hoon menyetujui ajakan kakak kandungnya itu karena dia memang tak kuasa menolak permintaan perempuan itu, atau karena dia ingin bersama dengan pria cinta pertamanya?

Memikirkan kemungkinan kedua membuat hatinya sangat sakit, seakan hatinya dicabik tak berbekas.

***

Hye Hoon duduk bersantai di ruangan utama villa dan memandang pegunungan hijau yang terbentang di depannya. Dinding rumah itu memang diganti oleh kaca sehingga dia bisa dengan leluasa mengamati kedua insan yang sedang duduk di bangku taman itu.

Wanita itu menyandarkan kepalanya di bahu sang pria sambil menikmati hembusan angin sore yang menerpa mereka berdua. Sesekali wanita itu membenarkan letak rambut-rambut kecilnya yang tertiup angin. Hye Hoon yang hanya bisa melihat mereka dari belakang, hanya mampu terdiam dan terhanyut dalam lamunannya sendiri.

Dia membayangkan bahwa dirinyalah yang ada dalam posisi itu. Berada dalam pelukan lelaki pertama di hidupnya itu memeluknya di bawah sinar matahari senja. Saling mengucapkan kata-kata cinta, dan sesekali melemparkan candaan konyol yang membuat mereka tertawa bersama. Serta membicarakan tentang masa depan anak mereka setelah lahir nanti.

Air mata mengalir membentuk dua buah sungai kecil di pipinya. Bahkan dengan hanya membayangkannya saja terasa sangat indah untuknya.

Cairan tak berwarna itu semakin deras mengalir ketika dia mengingat kenyataan bahwa bahkan lelaki itu tidak tahu jika Hye Hoon sedang mengandung anaknya. Buah cinta mereka berdua. Dan jika Donghae tahu kebenarannya, mungkinkah hal itu akan merubah nasib keduanya?

Tidak. Karena Hye Hoon tidak ingin merubah nasib mereka demi menyakiti orang-orang di sekitarnya.

***

Kyuhyun melihat punggung rapuh gadis itu dari belakang. Dia segera menghampiri gadis itu dan duduk disampingnya. Tetapi gadis itu tak bergeming. Matanya tak fokus tetapi tetap tertuju kepada pemandangan di hadapannya. Kyuhyun mengikuti arah pandang Hye Hoon dan menemukan lelaki yang sangat dibencinya dan kakak iparnya disana.

Lelaki itu terdiam, tidak mengeluarkan sepatah kata pun dan membiarkan Hye Hoon larut dalam dunianya. Beberapa lama kemudian hatinya perih ketika melihat wanita itu mengeluarkan cairan bening yang menganak sungai di pipinya.

Dia melihat lelaki yang berada di taman depan rumah itu beranjak dari kursi tersebut dan berniat masuk ke dalam rumah yang ditempatinya ini. Dengan gerakan cepat Kyuhyun menarik wanita itu ke dalam pelukannya, membuat air mata wanita yang sedang menangis itu membasahi bajunya. Dia mengelus punggung gadis itu untuk memberinya kekuatan.

Dilihatnya bahwa lelaki beristri yang masih berdiri jauh didepannya itu mengepalkan tangannya. Serta urat-urat di lehernya menonjol,tanda bahwa dia sedang meredam amarahnya.

Dan Kyuhyun bisa menyimpulkan satu hal. Mereka masih saling mencintai. Sampai kapanpun mereka akan saling mencintai walaupun pada kenyataannya mereka tidak bisa menyatu.

TES

Setetes air mata yang tak bisa tertahankan keluar dari ujung matanya.

Seandainya Kyuhyun mengungkapkan isi hatinya kepada Hye Hoon terlebih dahulu, mungkinkah sekarang dia akan menjadi lelaki yang paling dicintai gadis itu?

***

Mereka berkumpul di ruang tengah setelah menikmati makan malam di hari pertama liburan mereka. Dan sekarang mereka duduk di pinggir meja sesuai dengan permintaan Hye Rin. Hye Rin mengajak tiga orang tersebut untuk bermain sebuah game. Di tengah-tengah meja pendek tersebut terdapat sebuah botol bekas minuman. Hye Rin mengusulkan mereka untuk bermain game “ Truth and Dare”. Dan dengan seenaknya dia mengganti peraturan permainan menjadi “ Tidak ada hukuman” dan semua orang di ruangan itu harus menjawab sejujur-jujurnya apa yang ditanyakan orang yang memutar botol tersebut.

“ Baiklah, aku akan memulainya terlebih dahulu”.

Hye Rin memutar botol itu sekencang mungkin sehingga botol tersebut berputar agak lama hingga akhirnya mulut dari botol itu mengarah pada Kyuhyun. Hye Rin terkekeh pelan dan menatap remeh adik iparnya itu.

“ Kau siap, Kyu?”

Kyuhyun mengangguk pasrah dan menunggu pertanyaan yang terlontar dari wanita yang terpaut dua tahun dengannya itu.

“ Sejak kapan kau mencintai Hye Hoon?”

Itu pertanyaan yang sangat mudah baginya. Dan sebenarnya dia juga ingin mengungkapkannya kepada Hye Hoon tetapi terlalu banyak ketakutan yang dirasakannya. Hye Hoon menatapnya penasaran, sepertinya dia juga tertarik dengan topik ini.

“ Aku mencintainya sejak kami masih di sekolah dasar. Sejak itu, aku melihatnya sedang membantu seorang nenek tua, membawakan belanjaan yang nenek tua itu bawa. Ya, aku mencintainya sejak pertama kali aku melihatnya”.

Hye Hoon bahkan sudah lupa kejadian itu dan dia juga tidak mengetahui jika Kyuhyun sudah mengenalnya sejak sekolah dasar. Karena Hye Hoon mengenal Kyuhyun di Sekolah Menengah, saat mereka ditempatkan dalam kelas yang sama.

“ Giliranmu, Kyu”.

Kyuhyun beranjak sedikit dari duduknya dan meraih botol itu ke dalam jangkauannya. Dia memutar botol berwarna hijau itu pelan dan ujung botol itu mengarah pada pria lain selain dirinya yang ada di rumah ini.

Kyuhyun terdiam sejenak dan menatap tajam pada pria yang sedang menjadi fokus orang-orang yang ada di tempat itu saat ini. Dia merasa seperti sedang bertarung untuk mendapatkan sesuatu dengan lelaki itu. Dan sebenarnya mereka adalah rival yang abstrak, tak terlihat.

“ Seandainya kau harus memilih dua orang wanita. Diantara dua orang itu, siapa yang akan kau pilih? Orang yang kau cintai, atau orang yang mencintaimu?”

Semua orang di ruangan itu terdiam, terbawa dalam pikiran mereka masing-masing. Hye Hoon menahan nafasnya, berharap bahwa jawaban yang diberikan Donghae bisa membuatnya lega. Sementara Hye Rin merasakan keringat dingin yang keluar dari tubuhnya, dan kepalanya terasa pening. Dirinya memang sedang sering mengalami sakit di kepalanya karena potongan-potongan masa lalunya muncul kembali di memorinya dan dia mencoba menghalau semua itu.

Donghae menatap wanita yang berada di hadapannya dengan tatapan yang selalu diberikannya kepada gadis itu. Dan dia bisa melihat gadis itu bergidik takut, takut bahwa jawaban yang dikemukakannya akan menyakiti gadis lainnya.

“ Aku akan memilih orang yang kucintai dan mencintaiku”.

Hye Hoon menghela nafasnya, sedangkan kakak perempuannya satu-satunya itu langsung berhambur ke pelukan Lee Donghae. Hye Hoon merasakan tatapan Donghae masih tak lepas darinya. Wanita itu menarik bibirnya ke belakang dan lelaki itu pun membalas senyumannya.

Donghae tahu pasti apa yang Hye Hoon inginkan.

Dan tidak terasa sekarang adalah pertanyaan terakhir. Dan sesuai ‘rules’ yang dibuat Hye Rin, sekarang adalah giliran pria bermarga Lee itu bertanya kepada Hye Hoon.

Hye Hoon gemetar. Dia takut Donghae menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan hubungan mereka berdua. Dia takut terlihat mencurigakan di depan kakaknya.

Mereka berpandangan cukup lama, hingga akhirnya Donghae membuka suara.

“ Aku akan menanyakan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang diberikan Kyuhyun~ssi padaku. Siapa yang akan kau pilih? Orang yang kau cintai, atau orang yang mencintaimu?”

***

Hye Rin menolehkan kepalanya ke sumber suara dimana dia mendengar gesekan pintu terbuka. Tampaklah pria yang sudah menjadi suaminya sejak beberapa bulan lalu itu keluar dengan hanya handuk yang melilit di tubuh bagian bawahnya. Dia menghampiri lelaki yang sedang memilih baju di lemarinya itu dan menghentikan kegiatan yang sedang dilakukan Donghae. Dia mengalungkan tangannya di leher Donghae dan menyisir rambut basah lelaki itu dengan tangan rampingnya.

“ Sudah selesai?”

Donghae hanya terdiam, tak menanggapi pertanyaan Hye Rin yang menurutnya tidak penting. Sedetik kemudian Hye Rin mendaratkan bibirnya di bibir lelaki itu. Hye Rin melumat bibir lelaki itu dan Donghae sama sekali tidak membalasnya. Hye Rin menggigit bibir bawah Donghae, berharap suaminya itu akan membuka mulutnya dan membiarkan lidah mereka bertemu.

Hye Rin melepaskan tautan bibir keduanya saat dirasakannya masih belum ada respon apapun dari suami yang sangat dicintainya itu. Air mata keluar dari matanya secara bertubi-tubi dan Donghae masih bungkam, bingung dengan tangisan tiba-tiba dari gadis itu.

“ Aku seperti wanita murahan. Aku menggoda suamiku sendiri agar dia mau menyentuhku. Aku bahkan berasal dari kalangan keluarga terhormat tetapi aku merendahkan harga diriku sendiri, bahkan aku ditolak. Apa yang kurang dariku, Oppa? Apakah aku kurang bisa melayanimu sebagai seorang istri? Atau aku memiliki kesalahan padamu? Katakan, Oppa. Katakan”.

Hye Rin mengguncang-guncangkan tubuh Donghae dan suara isakan yang keluar dari mulutnya semakin keras. Ini bukan pertama kalinya Donghae menolaknya, walaupun secara tersirat. Dan dia benci semua itu.

Pernikahan bahagia mereka hanya kamuflase karena sebenarnya, tidak ada seorang pun dari keduanya merasakan kebahagiaan itu.

***

“ Aku…. lebih memilih orang yang mencintaiku”.

Jawaban tegas dari mulut Hye Hoon terus saja terngiang di pikirannya, membuat dia sering tersenyum sendiri membayangkan ekspresi Hye Hoon saat mengatakan itu. Dia bahagia tentunya, karena secara tersirat, Hye Hoon lebih memilih dirinya dibandingkan Donghae.

Senyumannya semakin mengembang saat mendapati nama Hye Hoon terpampang di layar ponselnya. Mungkinkah istrinya itu sedang memikirkannya juga?

Tanpa menunggu lama, dia menggeser ikon telepon berwarna hijau yang ada di ponsel layar sentuhnya.

“ Yoboseyo?”

Kyuhyun tersenyum dan menunggu gadis itu menjawab sapaannya. Dia merindukannya, walaupun tadi pagi mereka baru saja bertemu.

“ Kau masih di kantor?”

Kyuhyun menganggukkan kepalanya. Sadar bahwa Hye Hoon tidak mungkin bisa melihatnya, akhirnya dia menyuarakannya.

“ Ne. Ada hal penting yang ingin kau katakan?”

Hye Hoon memang sangat jarang menghubungi Kyuhyun lewat telepon, kecuali ada sesuatu yang penting atau ada yang ingin disampaikannya.

Hening sejenak. Hye Hoon belum menjawab pertanyaan dari Kyuhyun dan lelaki itu pun tidak mau mengganggu Hye Hoon yang mungkin sedang memikirkan sesuatu.

“ Kau sedang sibuk? Bisa…. mengantarku ke suatu tempat?”

***

Kyuhyun mengamati wanita yang berada di hadapannya itu. Wanita itu melahap ice cream ukuran jumbo yang sudah kedua kali di pesannya. Sisa-sisa ice cream memenuhi sekitar bibirnya membuat Kyuhyun refleks mengambil tissue dan menghapus kotoran-kotoran yang memenuhi wajah cantik itu.

“ Kenapa kau tidak memakan ice cream-mu, Kyu?”

“ Aku sudah kenyang. Kau masih mau?”

Kyuhyun menggeser cup yang berada di depannya ke hadapan Hye Hoon. Hye Hoon menatap ice cream itu dengan mata berbinar, dan dengan gerakan cepat menyendoknya lalu memasukkan sendok itu ke dalam mulutnya. Di bulan ketiga kehamilannya, istrinya itu baru mengalami ‘ngidam’. Dia bersyukur karena istrinya yang sedang hamil itu tidak meminta macam-macam, dan hanya memintanya untuk mengantarkannya ke kedai ice cream.

Hye Hoon menghentikan kegiatan makannya ketika dia ingat ada sesuatu yang harus dia utarakan pada Kyuhyun.

“ Kyu, sebenarnya tadi aku ingin memintamu untuk mengantarku ke Dokter kandungan”.

Mata Kyuhyun menyipit. Dia menantikan kalimat selanjutnya yang akan dilontarkan gadis itu.

“ Oh, Baiklah. Aku tadi memang sedang sangat ingin memakan ice cream, dan aku butuh seseorang menemaniku. Dan tadi saat memakan ice cream ini, aku teringat kalau aku harus ke rumah sakit. Kau puas?”

Kyuhyun mengerutkan keningnya. Apakah sesuatu terjadi pada kandungan Hye Hoon?

“ Kau baik-baik saja, kan? Kandunganmu tidak kenapa-kenapa, kan?”

Hye Hoon terkekeh pelan. Kyuhyun memang tidak pernah mengantarkannya untuk check up, jaldi wajar saja dia tidak paham dengan urusan janinnya.

“ Hanya pemeriksaan rutin. Oh ya, Dokter bilang kita bisa melakukan USG hari ini”.

***

“ Kau belum tidur? ”

Hye Hoon menggelengkan kepalanya yang berada di depan dada suaminya itu. Merasakan degup jantung suaminya yang tak beraturan, entah kenapa lebih membuat hatinya tenang. Dan setiap kali dia tidur di pelukan Kyuhyun, dia merasa hangat dan merasa dilindungi.

Dia belum bisa tidur, walaupun rasa letih yang dirasakannya sudah mencapai taraf maksimal karena kegiatannya seharian tadi.

Sejenak hening menyelimuti mereka berdua. Hye Hoon hanya mendengar suara detak jantung dan jam dinding di kamar mereka. Hingga akhirnya dia merasakan tangan kekar yang sedang memeluknya itu melonggar dan lelaki itu memposisikan dirinya menyender ke kepala ranjang membuat dirinya harus mendongakkan kepalanya sedikit untuk menatap wajah sempurna lelaki itu.

“ Kau tahu? Aku sedang memikirkan anak kita. Jagoan kecil kita. Apartemen sederhana ini pasti akan terasa lebih ramai karena kehadirannya”.

Hye Hoon terharu mendengar penuturan Kyuhyun, yang selalu menganggap janin yang dikandungnya adalah anaknya sendiri, membuatnya tak perlu khawatir anaknya kelak akan kekurangan kasih sayang dari seorang ayah karena kenyataannya Kyuhyun sangat menyayangi anak itu.

“ Aku sudah menyiapkan nama untuknya.”

Kyuhyun membelai rambut panjang wanita itu dengan lembut. Dia menelusupkan jari-jarinya diantara helaian rambut gadis itu. Dia penasaran dengan nama yang akan diberikan istrinya itu untuk anak mereka.

“ Il Jeong”.

“ Cho Il Jeong?”

“ Hmm”.

“   Bukankah sebuah nama itu memiliki arti? Baiklah, sebaiknya kau menjelaskan padaku apa arti dari nama itu, istriku sayang”.

Hye Hoon berpura-pura berpikir keras, mencoba menggoda suaminya itu. Kyuhyun yang tidak tahan akhirnya menyentil dahi gadis yang sedang hamil itu dengan kedua jarinya, yang membuat Hye Hoon mengerucutkan bibirnya.

“ Arasso. Aku akan menjelaskannya. Il Jeong. Il berarti tulus. Dan itu menunjukkan salah satu sifatmu. Bagaimana caramu mencintaiku dengan tulus, dan menerima anakku dengan tulus juga. Aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu, Kyu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada kau di hidupku. Gomawo, Kyu”.

Kyuhyun mengecup singkat bibir gadis itu. Dia menghapus air mata yang berlinang di pipi mulusnya. Dia khawatir Hye Hoon akan menangis lagi, tetapi kemudian dia lega karena gadis itu menghentikan tangisannya dan melanjutkan pembicaraan yang sedang berlangsung diantara keduanya.

“ Jeong, berarti suci. Walaupun anak ini adalah hasil dari sebuah kesalahan yang dilakukan kedua orang tuanya, tetapi anaknya tetap suci. Kelak dia akan dilahirkan dalam keadaan bersih, dan perbuatan orang tuanya itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap kesucian seorang bayi yang polos dan tidak tahu apa-apa ”.

Hye Hoon tidak menangis lagi. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia harus lebih tegar sekarang. Demi dirinya sendiri, dan demi anak yang berada di rahimnya. Tetapi, tetap saja hatinya yang menangis. Mengingat kejadian masa lalunya itu membuat hatinya perih. Sementara, di balik kepedihan itu masih tersimpan perasaan bahagia yang membuncah di dadanya manakala dia mengingat semua kenangan indahnya bersama pria itu.

DEG

Detak jantungnya semakin cepat saat dia memikirkan lelaki itu. Apalagi saat ini dia sedang bersama dengan suaminya, membuatnya seperti seorang istri yang tega berkhianat di depan mata suaminya sendiri.

Dan dia tidak tahu sampai kapan pengkhianatan hatinya itu akan terjadi.

“ Hoon~ah?”

“ Hmm”.

“ Kau harus bersyukur anak kita akan bermarga Cho nantinya”.

Hye Hoon menatap Kyuhyun tajam. Dia tahu apa yang akan dikatakan lelaki itu selanjutnya.

“ Yak! Berhenti memuji dirimu sendiri, Tuan Cho! Kau akan memuji dirimu sendiri kalau kau tampan, kan? ”

Tepat sasaran. Kyuhyun mendelik. Dia tidak mau harga dirinya jatuh ke dasar jurang terdalam, dan membalas perkataan istrinya.

“ Aku memang tampan. Dan aku yakin anak kita pasti akan lebih tampan dari Appanya sendiri. Ahh…. sebentar lagi aku akan mendapatkan saingan dalam hal ketampanan”.

Hye Hoon terdiam. Sesaat dadanya sesak karena perkataan Kyuhyun tadi.

Ya, dia akan menjadi pria tampan, seperti ayah kandungnya. Dan dalam hati Hye Hoon berharap jika calon anak dalam kandungannya akan mewarisi mata menawan ayahnya.

***

Donghae masih memperhatikan gedung bertingkat itu di balik kaca mobilnya. Sebenarnya dia hanya memperhatikan salah satu kamar di lantai sepuluh bagunan mewah tersebut. Kegiatan itu dilakukannya hampir setiap pulang kerja. Sekilas dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan tepat pada saat itu seorang wanita muda melewati tepat di hadapan mobil yang dia tumpangi. Dia dapat dengan jelas melihat sosok itu, tetapi orang tersebut tidak akan tahu siapa yang berada di mobil audy ini karena dari luar kacanya akan terlihat hitam.

Dia mengamati sosok wanita tersebut berdiri di sisi jalan, dengan hanya memakai gaun tipis pendek tanpa pakaian hangat. Hari sudah gelap. Kemudian lelaki itu mengecek jam tangan yang bertengger di pergelangan tangannya. Jam tujuh malam. Tidak seharusnya gadis itu berkeliaran semalam ini. Serta sesuai dengan pengamatannya selama ini, Kyuhyun pulang ke apartemen mereka sekitar jam delapan malam. Kemungkinan besar Hye Hoon tidak berpamitan kepada lelaki itu, pikirnya.

Dia segera menstarter mobilnya saat Hye Hoon sudah memasuki taksi yang tadi diberhentikannya. Dia mengikuti arah kemana taksi itu melaju dengan membiarkan mobilnya berada dalam jarak dekat dengan taksi yang Hye Hoon tumpangi tersebut. Setelah melewati jalanan yang cukup dia kenal, taksi itu berhenti di suatu tempat yang sangat tidak asing baginya.

Mungkinkah Hye Hoon ke tempat ini karena dia masih mengingat semua memori mereka berdua? Mungkinkah Hye Hoon masih belum bisa melupakannya, sama seperti dirinya yang tidak bisa melupakan wanita pertama dalam hidupnya itu ?

***

Donghae mengikuti wanita itu dari belakang. Dia tetap menjaga jarak yang cukup jauh dari wanita itu, agar dia tidak curiga bahwa di tempat ini ada orang lain selain dirinya. Donghae melihat gadis itu menghampiri salah satu tempat favorit mereka berdua. Suatu bangku taman yang langsung menghadap ke arah danau kecil berair jernih. Dia hanya bisa melihat wanita itu dari samping, di balik pohon tempatnya bersembunyi.

Wanita itu memandangi danau buatan itu tak fokus. Dan tak lama kemudian dia menangis dengan keras, dan merapatkan kedua tangannya, seakan ingin memberi kehangatan kepada tubuhnya sendiri. Donghae pun tak kuasa melihatnya. Perlahan dia mendekati gadis yang sedang duduk itu dengan langkah ragu. Tanpa suara, dia mengambil tempat duduk di tempat yang sama dengan gadis itu. Hye Hoon yang belum menyadari keberadaannya, menggumamkan isak tangis yang menusuk telinga lelaki itu.

Dia sudah tidak bisa menahan rasa rindunya lagi. Laki-laki berparas rupawan itu menarik Hye Hoon ke dalam pelukannya dengan gerakan cepat, sehingga gadis itu tidak dapat memberontak dengan perlakuan pria asing tersebut.

Tidak. Pria ini bukan pria asing baginya.

Wangi tubuhnya, tangan kekarnya, dada lebarnya, punggung hangatnya……

Hye Hoon sangat mengenalnya.

Dia tidak mungkin salah. Hye Hoon sangat mengenal pria itu. Hal yang seharusnya dilakukan Hye Hoon sesaat setelah mengetahui lelaki itu adalah melepaskan kontak fisik diantara mereka. Ya, seharusnya hal itu yang pertama yang dia lakukan.

Tetapi dia meyakinkan hatinya sendiri. Ini terakhir kalinya dia merasakan kehangatan tubuh Lee Donghae. Akhirnya gadis itu lebih memilih diam, hanyut dalam dekapan pria itu. dia merasakan kehangatan lelaki itu sebisa yang dia mampu. Dia memeluknya erat seakan ini adalah terakhir kalinya mereka bertemu di dunia.

Dan saat dia berada di pelukan Donghae seperti ini, dia bisa merasakan perbedaannya.

Perasaan ketika Kyuhyun memeluknya tidak seperti ini. Dia tidak merasakan degup jantungnya bertambah cepat berkali-kali lipat, tak memperdulikan hal yang berada di sekitarnya, dan dia tidak merasakan seakan ada banyak kupu-kupu yang beterbangan di sekitar perutnya.

Saat dia mengingat nama suaminya itu, nafasnya tercekat. Tidak. Dia tidak boleh melakukan pengkhianatan lagi. Ditambah sekarang bukan hanya satu orang yang akan menderita karena hal itu.

Hye Hoon melepaskan tangan Donghae yang melingkar di pinggangnya. Donghae melepaskan tubuh mungil gadis itu dengan enggan. Sebagai gantinya, mereka melihat pantulan diri mereka sendiri dari mata orang yang berada di hadapannya, mendalami perasaan cinta yang mungkin tak pernah akan terhapuskan dari benak mereka berdua.

“ Aku sangat merindukanmu”.

Bisikan lirih itu terdengar seperti lagu sedih di indra pendengaran Hye Hoon. Wanita cantik itu pun hanya tersenyum getir menanggapinya, dengan sisa air mata yang masih menempel di pipi pucatnya.

Hye Hoon tertawa hambar.

“ Apakah aku harus mengatakan aku merindukanmu juga? Oppa, kita baru bertemu beberapa hari lalu jadi kurasa aku belum merindukanmu”.

Hye Hoon hanya ingin mencairkan keadaan kaku diantara mereka. Walaupun dia tahu itu tidak membantu sama sekali. Hubungan mereka sangat kompleks. Dan butuh waktu untuk membuatnya menjadi seperti dulu lagi.

Donghae hanya memandang lurus ke arah wanita itu. Cairan tak berwarna turun tetes demi tetes dari pelupuk matanya, tanpa dia sadari. Dan keadaan Hye Hoon, tidak jauh berbeda dengannya.

Mereka menangis, menangisi keadaan lebih tepatnya. Keadaan yang membuat mereka menjadi seperti ini. Situasi ini yang membuat mereka terluka. Siksa bathin yang mereka rasakan terlalu menyiksa. Mereka lelah untuk berbohong kepada semua orang bahwa mereka baik-baik saja tanpa satu sama lain.

“ Kau tahu apa keinginan terbesar di hidupku? Menjadi orang pertama saat kau membuka mata di pagi hari, mengatakan ‘ aku mencintaimu ‘ setiap hari, memastikan kau terbangun dan masih bernafas untukku. Sesederhana itu. Tetapi, mengapa aku tidak diberi kesempatan untuk melakukannya, Hoon~ah?”

Hye Hoon menyunggingkan senyum kecutnya. Dia membelai wajah Donghae, membuat cinta pertamanya itu memejamkan matanya, membiarkan air mata di pelupuk matanya mengalir membasahi pipinya.

“ Kau tahu apa keinginan terbesarku di dunia ini? Aku ingin melihat semua orang di sekitarku bahagia”.

Donghae membuka kelopak matanya perlahan. Selalu. Selalu kata-kata itu yang dilontarkan Hye Hoon, sampai dia muak dan bersumpah ingin membunuh siapapun yang pertama membuat kata-kata mutiara itu. Donghae memunculkan seringaiannya, tetapi wajahnya tetap diselimuti oleh duka yang mendalam.

“ Dan menyakiti dirimu sendiri? Kau lupa kalau kau menyakitiku juga”.

“ Mianhae, Oppa. Aku…..”

“ Sssttt…. Aku tidak perlu kata maaf darimu. Ini juga salahku, karena mencintaimu membuat diriku sendiri sangat bodoh sehingga aku dengan mudahnya mengikuti semua permintaanmu”.

Hening. Selanjutnya yang terdengar hanyalah suara desiran angin, gemericik air, dan suara khas hewan-hewan kecil yang beraktivitas di malam hari.

Donghae mengamati wajah Hye Hoon, menyimpan lekuk wajah wanita itu dalam ingatannya. Sekilas dia menatap bibir merah gadis itu, membuatnya mengumpat dalam hati.

Baiklah, kali ini dia membiarkan hawa nafsunya menang dibandingkan logikanya sendiri.

Detik berikutnya dia sudah menikmati bibir merah itu dengan rakus, tidak menghiraukan pemberontakan yang dilakukan gadis itu. Penolakan yang dilakukan Hye Hoon hanya sesaat, karena tak lama kemudian gadis itu pun melingkarkan kedua tangannya di leher jenjang Donghae, seakan memintanya untuk tidak melepaskan tautan bibir mereka. Gadis itu pun membalas kecupan-kecupan Donghae, sama rakusnya.

Donghae menggigit bibir bawah Hye Hoon, membuat gadis yang ada dipelukannya iut mendesah, membuka bibir seksinya, dan dengan mudah Donghae menelusupkan lidahnya di rongga mulut Hye Hoon sehingga lidah mereka beradu.

Tangan Donghae tidak diam saja. Tangan nakalnya membuka dua kancing teratas dari baju terusan yang digunakan Hye Hoon, menelusupkan tangannya di balik bra gadis itu dan mulai meremas dada Hye Hoon tanpa membuka kaitan dari bra tersebut.

Tangan Hye Hoon pun mulai liar membuka satu-persatu kancing kemeja putih yang dikenakan pria itu, menggoda lelaki itu dengan meraba permukaan dari perut kotak-kotak Donghae, membuat lelaki itu mendesah tertahan di balik tautan bibir keduanya.

“ HENTIKAN!!!”

Suara histeris itu terdengar sangat menyedihkan bagi siapapun yang mendengarnya. Seorang wanita muda yang berjarak dekat dengan pasangan yang memadu kasih itu memegang erat kepalanya dengan kedua tangannya sendiri.

Tangisan pedih meluncur dari bibirnya. Dia membiarkan seluruh emosinya keluar. Semua rasa sedang bercampur aduk dalam hatinya. Dan rasa sakit yang paling mendominasi.

Kedua orang di hadapannya tertegun sejenak dengan apa yang terjadi lalu merapikan diri mereka masing-masing. Sang lelaki hanya terdiam di tempatnya berada sedangkan dengan langkah terputus, wanita yang lebih muda darinya itu menghampirinya.

Hye Rin menatap adik perempuannya jijik, walaupun pandangannya buram karena tertutup air mata saat Hye Hoon sudah berada dengan jarak yang dekat dengannya.

Mata merah kakaknya tidak terlihat menyeramkan sedikitpun di mata Hye Hoon. Gadis itu hanya melihat kesedihan dalam sorot matanya.

“ Eonnie….”

PLAK

Dia memegang pipinya sendiri. Sakit. Tetapi rasa sakit yang dia rasakan di tubuhnya tidak akan sebanding dengan sakit yang dirasakan wanita yang dua tahun lebih tua darinya itu sekarang.

Hye Rin mengangkat tangannya lagi, hendak melayangkan tamparan kedua bagi wanita yang terlihat pasrah di hadapannya itu tetapi sebuah tangan kekar menahan gerakannya. Dia mendongak menatap pemilik tangan kekar itu dan air matanya semakin turun saat dia mengetahui jika suaminya itu lebih membela selingkuhannya dibandingkan dirinya yang merupakan istri dari lelaki itu.

“ Kau…. Kau lebih membela wanita jalang ini dibandingkan aku, Oppa? Apa kelebihan dia yang tidak aku miliki, hah? Apakah dia lebih seksi dariku? Apakah dia yang pertama menggodamu? Apakah permainannya di ranjang sangat hebat? Apakah aku tidak bisa melayanimu seperti yang dia lakukan? Mungkin dia sering menjual dirinya sendiri kepada suami-suami orang di luar sana sehingga pengalamannya dalam bercinta tak dapat diragukan lagi, benar kan, adikku?”

Hye Hoon hanya menangis dalam diam mendengarkan semua penghinaan yang dilontarkan wanita itu. Dia memang pantas mendapatkannya. Benar. Dan sekarang dia malah mengkhawatirkan bagaimana keadaan kakaknya. Eonni-nya itu pasti akan merasa sangat terguncang.

Sedangkan Donghae, yang tidak terima dengan semua perkataan itu, membalas kata-kata yang dilontarkan istrinya.

“ Cukup Hye Rin~ah. Sampai kapan kau akan membohongi dirimu sendiri? Sampai kapan kau akan mengubur semua memori masa lalu, agar membuat dirimu sendiri bahagia? Sampai kapan kau akan menyakiti adik kandungmu sendiri? Dia berbuat apapun untuk membuatmu bahagia,   Dia berkorban segalanya untukmu. Dan ini balasan yang didapatnya darimu? Tanpa kau sakiti pun dia sudah sangat menderita, Hye Rin~ah”.

Hye Rin memegang erat kepalanya. Dia merasakan sakit yang teramat parah disana. Dia mengerang untuk menyuarakan rasa sakitnya itu. Demi apapun, dia tidak pernah merasakan rasa sakit melebihi yang dia rasakan saat ini. Dia merasakan tubuhnya semakin lunglai, pandangannya kabur, dan semuanya berubah menjadi gelap.

***

Dia melihat semuanya. Bayangan-bayangan ketika dia pertama kali berpapasan dengan lelaki itu di salah satu lorong yang berada di gedung fakultasnya, di tahun pertamanya kuliah. Dia merasakan dunia tak berputar pada waktu itu, dan menyadari bahwa laki-laki itu akan mengubah seluruh hidupnya.

Dia mengagumi namja yang merebut hatinya itu dari jauh. Dia hanya mengetahui nama lengkapnya, fakultas serta jurusan yang dia ambil, olahraga kesukaannya. Hanya itu. Dan hal itu juga diketahuinya dari teman-teman terdekatnya yang sama sepertinya, tergila-gila pada lelaki paling populer di kampusnya.

Tidak. Dia tidak berani untuk sekedar menyapa orang itu. Dia terlalu gugup karena ini adalah kali pertama dia jatuh cinta kepada seorang pria.

Semakin lama, tanpa dia sadari, lelaki itu adalah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya, menjadi nafas kehidupannya.

Dan tragedi itu datang. Ketika Hye Hoon, adiknya, memperkenalkan lelaki yang dicintainya itu sebagai kekasih darinya. Dan ternyata, hubungan mereka sudah beranjak ke usia satu tahun. Satu tahun. Kedua orang itu membohonginya selama satu tahun. Mereka menyakitinya selama itu. Dia menyesali dirinya sendiri, karena wanita bernama Hye Rin lebih dulu mencintai pria itu.

Hatinya hancur.

Dia tak bisa berpura-pura bahagia, dan melampiaskan kemarahannya kepada mereka berdua. Mengungkapkan segala perasaannya kepada Lee Donghae dan meluapkan segala kemarahan yang bersarang di dalam dadanya.

***

Kilasan selanjutnya muncul di otaknya. Ketika dia, dengan mata terpejam, mendengarkan percekcokan di antara anggota keluarganya.

“ Kau harus pergi, Hye Hoon~ah”.

Suara bass dari lelaki itu terdengar sangat khas di telinganya. Ya, dia tidak mungkin tidak tahu suara ayahnya sendiri.

“ Wae? Mengapa aku harus pergi, Appa? Aku tidak mau pergi kemana-mana”.

Dia bisa menangkap bahwa adiknya itu sedang menangis. Terdengar dari suaranya yang parau dan isakan terdengar di setiap penggalan katanya.

“ Kau tidak melihat keadaan kakakmu? Dia mencoba mengakhiri hidupnya sendiri. Dia sangat membutuhkan pria itu, dia sangat membutuhkannya dibandingkan dirimu, Hye Hoon”.

Sedetik kemudian terdengar suara sesuatu yang menghantam lantai. Setetes air mata keluar dari ujung matanya. Dia tahu, adiknya itu sedang memegang kaki ayah kandungnya, memohon lelaki paruh baya itu untuk tidak menyuruhnya pergi.

“ Aku tidak akan pergi kesana. Andwae. Berhenti memaksaku, Appa. Jebal.”

***

Selanjutnya, dia mengingat dirinya sedang mengemudikan mobil berwarna putih kesayangannya. Dia mengikuti sebuah mobil dengan plat nomor yang sangat dikenalinya memasuki sebuah gedung apartemen. Diam-diam, dia membuntuti kemana suaminya itu pergi, walaupun dia sudah menebak siapa yang akan ditemui suaminya. Dia menghalau semua sangkaan negatifnya, tidak, mungkin apa yang dipikirkannya sangat berbeda jauh dengan apa yang terjadi.

Hye Hoon sudah berjanji padanya untuk meninggalkan dan melupakan Donghae. Lagipula, bukankah dirinya dan Donghae sudah memiliki ikatan yang diakui agama dan hukum?

Tiga hari setelah pernikahannya dengan Donghae, dan baru tiga hari juga Hye Hoon kembali ke negara ini. Mungkin suaminya itu hanya merindukan Hye Hoon, mungkin mereka hanya ingin mengobrol berdua. Itu adalah kemungkinan yang dipikirkan wanita itu saat ini.

Dia melirik jam tangannya. Sudah jam dua belas malam lebih tiga puluh menit, dan dia tidak menyadari bahwa dia berdiri di depan pintu apartemen itu selama kurang lebih dua jam. Dia memang sengaja tidak membuka pintu, walaupun dia tahu passwordnya karena dia sendiri yang menyiapkan apartemen ini untuk Hye Hoon. Alasannya, dia hanya tidak ingin mengganggu privasi mereka berdua.

Sebenarnya bukan karena hal itu. Di dalam lubuk hatinya dia sendiri tahu mengapa dia tidak ingin masuk ke dalam ruangan itu.

Dia takut. Takut jika semua kekhawatiran-kekhawatirannya menjadi kenyataan.

Akhirnya, dia mengumpulkan segenap keberaniannya dan memencet angka-angka yang diingatnya di dekat knop pintu. Berhasil. Ternyata Hye Hoon tidak mengganti password yang diberikannya dulu.

Ruangan tamu sepi. Tetapi cahaya lampu di ruangan itu belum dimatikan. Dia menelusuri apartemen tersebut sampai dia sampai di ruang tengah. Tetapi dia juga tidak menemukan siapapun disana.

Hye Rin melirik salah satu pintu kamar yang sedikit terbuka, dan dengan tidak sopannya dia menghampiri ruangan itu. Dari celah itu dia melihat pemandangan yang sangat menyakitkan.

Pakaian berserakan di lantai. Seprai putih yang menutupi kasur sudah tak berbentuk lagi. Dan dia melihat sepasang lelaki dan wanita , dengan hanya selimut yang menutupi mereka berdua, sedang tidur berpelukan di ranjang dengan lelapnya.

Tangisnya pecah. Dua orang yang paling disayanginya tega mengkhianatinya. Mereka melakukan perselingkuhan di belakangnya.

Lee Donghae bahkan belum pernah menyentuhnya, sejak mereka menikah beberapa hari lalu.

Dia tergesa keluar dari apartemen itu. Berlari secepat mungkin dengan air mata yang masih mengucur deras di pipinya. Dia lepas kendali dan mengemudikan mobilnya secepat mungkin, tak peduli dengan bunyi klakson yang bertubi-tubi memperingatkannya.

Dan selang beberapa waktu kemudian, dengan sengaja dia menabrakkan mobilnya ke pembatas jalan. Kepalanya terbentur dashboard mobilnya tersebut sehingga terdengar bunyi benturan yang cukup keras. Darah segar mengalir deras dari pelipisnya. Matanya terpejam, menahan sakit yang amat parah yang dirasakan di sekitar kepalanya.

Dalam keadaan seperti itu, di otaknya masih terngiang satu hal.

‘ Sampai kapanpun Lee Donghae hanya menjadi milikku, dan aku tidak peduli dia menyukainya atau tidak’

***

Dan setelah malam itu, dia mengalami gegar otak yang cukup parah. Serta dengan sengaja, dibantu oleh keinginan di alam bawah sadarnya, dia mengubur semua kenangan pahitnya jauh di dasar pikirannya. Dia menghapus semua kenyataan antara Donghae dan Hye Hoon hingga tak berbekas.

Dia lari dari kenyataan. Dia mementingkan dirinya sendiri. Dia mementingkan kebahagiaannya sendiri.

Hye Rin baru menyadari jika semua tindakannya di masa lalu hanya membuatnya semakin terluka. Bukan hanya menyakiti dirinya sendiri, dia juga menyeret orang-orang yang dicintainya untuk merasakan semua rasa sakit yang melandanya, mungkin lebih buruk daripada yang dia rasakan.

Dia merasakan sebuah tangan hangat menggenggam tangannya. Perasaannya menjadi lebih tenang. Tanpa melihat pun, dia sangat mengetahui siapa pemilik tangan yang menggenggam tangannya kini.

Dia tidak mau membuka matanya sekarang. Dia masih takut, dia harus menghadapi kenyataan sebenarnya sekarang karena dia sudah mengingat semuanya.

Jika dulu dia akan berasumsi jika pria itu menemaninya karena dia sangat mencintainya, kini anggapannya berubah.

Rasa bersalah. Itulah perasaan yang lelaki itu rasakan.

Tidak pernah, Donghae tidak pernah mencintainya, dan dia tidak akan bisa membuat Donghae melirik sedetikpun ke arahnya.

Karena pusat kehidupan pria itu hanya seorang wanita, dan mirisnya, wanita itu merupakan adiknya sendiri.

***

Hye Hoon memegangi dadanya, sakit tak tertahankan itu muncul kembali saat melihat adegan di balik pintu yang menghalanginya.

Dia tak tahu pasti apa yang membuatnya merasakan perih di hatinya.

Melihat kakak perempuannya terbaring di ranjang rumah sakit karenanya, atau karena cemburu saat melihat lelaki itu duduk di samping ranjang, memegang tangan wanita lain yang merupakan istrinya sendiri?

Hye Hoon merasa dirinya adalah adik terjahat di dunia ini karena dia lebih mementingkan perasaan cemburunya dibandingkan keadaan kakak kandungnya, sedangkan dirinya yang membuat gadis itu tak sadarkan diri.

Suara derap langkah kaki yang tergesa membuat dirinya berbalik. Hye Hoon mendapati suaminya dengan nafas terengah dan sedikit keringat mengucur di dahinya, dengan pakaian resmi yang melekat di tubuh jangkungnya.

Hye Hoon tersenyum sekilas. Kyuhyun tidak membalasnya, melainkan menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.

Tanpa penjelasan apapun, Kyuhyun tahu. Kyuhyun sangat mengetahui bahwa keadaan gadisnya itu sedang tidak baik-baik saja. Dia terlalu memahami semua tentang Hye Hoon.

Sekilas dia mengedarkan pandangannya ke arah ruangan di hadapannya. Dan dia mengerti mengapa gadis yang dicintainya itu tidak baik-baik saja sekarang.

Rasa cemburu itu memang sangat menyakitkan. Dia terlalu sering mengecap semua rasa sakit itu sehingga mungkin dia sudah sedikit terbiasa sekarang.

Salah. Walaupun sudah terbiasa dengan semuanya, tetapi Kyuhyun tetap merasakan tusukan-tusukan kecil di hatinya yang membuatnya nyeri.

Rasa cemburu itu….mungkin akan dia rasakan seumur hidupnya.

***

Satu bulan kemudian……

Kyuhyun sedang berkutat dengan laptopnya, mengerjakan pekerjaan kantor yang dibawanya ke rumah karena seharian tadi dia belum bisa menyelesaikannya. Sejak tadi pagi, dia merasakan kepalanya pusing sehingga susah baginya untuk berkonsentrasi, sedangkan deadline dari pekerjaannya itu harus diselesaikan secepatnya.

“ Kyu, sebaiknya kau minum dulu. Aku sudah membuatkan teh hangat untukmu”.

Kyuhyun tidak menggubris perkataan istrinya, yang membuat Hye Hoon sedikit kesal. Gadis itu menduduki sofa yang juga sedang dipakai Kyuhyun untuk bercengkrama dengan laptopnya tersebut. Teh yang sengaja tadi dia buatkan untuk suaminya, dia simpan di atas lemari kecil di samping sofa.

Lelaki itu sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari layar di depannya. Dahinya berkerut, tanda kalau dia benar-benar sedang fokus dan tidak ingin diganggu. Muncul keinginan dari Hye Hoon untuk menggoda suaminya yang sedang serius seperti itu.

CUP

Dengan gerakan cepat dia mendaratkan ciuman di pipi Kyuhyun, membuat pipi lelaki itu bersemu merah. Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari laptop dihadapannya, dan menatap Hye Hoon dengan pandangan yang sulit diartikan.

Pipi Hye Hoon memanas. Dia tidak tahu mengapa tiba-tiba dia merasakan malu di hadapan Kyuhyun, padahal sebelumnya dia tidak pernah merasakan hal itu kecuali pada saat mereka menikmati malam pertama mereka pada waktu itu.

Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.

Dia menggelengkan kepalanya pelan. Mungkinkah dia mulai menyukai Cho Kyuhyun?

Kyuhyun menyadari perubahan sikap Hye Hoon. Gadis itu terlihat sedang gugup sekarang. Apakah Hye Hoon gugup karena berada di dekatnya? Mereka tinggal serumah, dan setiap hari tidur di ranjang yang sama. Tidak ada alasan untuk Hye Hoon merasakan gugup di hadapannya, kan?

“ Kau kenapa, sayang?”

“ De? A…Aku tidak apa-apa.”

Kyuhyun meletakkan laptop yang tadi berada di pangkuannya itu ke meja terdekat dari sofa tersebut. Dia mendekatkan jarak dirinya dengan gadis di dekatnya dengan merangkul bahu Hye Hoon, membuat gadis itu menyandarkan kepalanya pada bahu tegapnya.

Dengan tangan lainnya, dia mengelus perut Hye Hoon yang mulai kelihatan membuncit dengan penuh kasih sayang. Hye Hoon tersenyum geli dengan perlakuan suaminya itu.

“ Anak kita, baik-baik saja kan? Dia tidak merepotkan Eomma-nya, kan?”

Mendengar kata “ Eomma” entah kenapa membuat Hye Hoon merasa senang. Gadis itu menarik bibirnya simetris untuk menunjukkan rasa bahagia yang dia rasakan.

“ Anieyo. Dia tidak manja, dan sangat pengertian terhadapku. Dia sama sekali tidak merepotkan. Aku bisa melakukan pekerjaanku dengan baik”.

“ Kau masih bekerja? Hye Hoon~ah, sudah berapa kali aku bilang kalau kau….”

“ Kyu, aku baik-baik saja. Yang aku kerjakan hanya duduk di depan komputer, dan aku tetap di rumah, tidak pergi kemanapun”.

Kyuhyun menghela nafas. Hye Hoon memang sedikit keras kepala. Berapa kali pun dia sudah memperingatkan gadis itu untuk berhenti dari pekerjaannya, dia terus saja membangkang. Dan sepertinya sampai kapanpun gadis itu memang sulit untuk diatur.

“ Baiklah, aku akan mengizinkanmu untuk bekerja, asalkan kau harus menjaga dirimu dan anak kita dengan baik”.

Hye Hoon menganggukkan kepalanya pelan dan melingkarkan tangannya di perut Kyuhyun, semakin memperkecil jarak mereka berdua. Dia merasakan suhu tubuh Kyuhyun tidak seperti biasanya. Apalagi saat ini Kyuhyun hanya memakai kaos tipis, sehingga Hye Hoon bisa dengan mudah merasakan suhu dari tubuh Kyuhyun yang hangat.

“ Kyu, kau sakit”.

Hye Hoon menatap dengan cermat wajah suaminya itu, dan dapat melihat betapa pucatnya wajah lelaki itu sekarang. Bibir tebalnya memutih. Dan mata hitamnya terlihat sayu.

“ Aku baik-baik saja, sayang.”

Hye Hoon sedikit meninggikan tubuhnya dan menyentuh dahi Kyuhyun. Panas. Akhir-akhir ini Kyuhyun memang sedang sibuk mengerjakan suatu proyek di perusahaannya, membuat dirinya sering tidur larut malam dan membuatnya tidak memperdulikan kesehatannya sendiri.

“ Kau demam. Aku akan mengambilkan obat dan kompres untukmu. Kau sebaiknya berbaring di tempat tidur agar tidak pusing. Jangan membantah, Tuan Cho”.

***

Setelah beberapa saat akhirnya Hye Hoon kembali dengan membawa baskom kecil dan obat penurun demam. Setelah meletakkan benda yang tadi dibawanya di atas lemari kecil yang terletak di samping ranjang, dia duduk di pinggir ranjang tempat Kyuhyun tertidur.

Hye Hoon mengambil kain putih dari baskom kecil yang berisi air dingin itu dan memerasnya agar air yang terkandung di dalam serat-serat halus kain itu tidak terlalu banyak. Setelah itu, dia meletakkan kain putih tersebut di dahi Kyuhyun.

Kyuhyun yang notabene-nya belum tidur, segera membuka kelopak matanya ketika dirasanya sesuatu yang dingin dan basah menempel di dahinya. Dia tersenyum ketika melihat istrinya menatap dirinya lembut. Dan jarak keduanya pun memang terlampau dekat sehingga dia bisa melihat garis-garis wajah dari wanita cantik itu dengan jelas. Apalagi dengan senyuman yang membuat lesung pipinya terlihat, walaupun sekarang Hye Hoon sedikit gemuk, tetapi tidak mengurangi sedikitpun kecantikan yang dimiliki gadis itu.

“ Tidurlah, Kyu. Kau butuh banyak istirahat”.

Kyuhyun tidak menjawab. Tangannya bergerak merapikan rambut yang menghalangi wajah menawan milik Hye Hoon, dan menyampirkannya di belakang telinga gadis itu. Dia mengagumi wajah gadis itu yang menurutnya sempurna. Walaupun dia bukan gadis tercantik di dunia ini, tetapi dia adalah gadis tercantik yang pernah dilihatnya.

Tanpa sadar Kyuhyun memejamkan matanya, dan mendekatkan jarak mereka berdua. Hye Hoon ikut menutup kelopak matanya, menunggu pertemuan dari kedua bibir mereka.

Kyuhyun mengecup bibir Hye Hoon tanpa nafsu, melainkan meluapkan semua perasaan cintanya pada gadis itu. Rasa manis dari bibir gadis itu masih sama, dan membuat dirinya ingin lebih mengeksplorasi bibir istrinya tersebut. Tetapi kemudian dia merasakan gadis itu sedikit mendorong dadanya untuk menjauh, membuat Kyuhyun mendesah kecewa.

“ Kau harus tidur, Kyu. Ayolah. Besok kau harus ke kantor, hmm?”

Kyuhyun masih sedikit memanyunkan bibirnya membuat Hye Hoon terkekeh pelan. Memang, kalau sedang sakit seperti ini, Kyuhyun akan berubah menjadi anak kecil yang sangat manja, dan dia pasti akan lebih sering merajuk seperti yang dilakukannya sekarang.

“ Kyuhyun~ah, jangan bertingkah seperti itu, kau tidak malu pada anakmu, hah? Kyu…”

Kyuhyun menarik Hye Hoon ke dalam pelukannya sebelum gadis itu sempat menyelesaikan apa yang ingin dibicarakannya. Entah kenapa dia merasa lebih baik saat gadis itu berada di pelukannya. Semua rasa sakit yang dialaminya tadi lenyap begitu saja saat dia mendekap tubuh mungil gadis itu. Dan Kyuhyun baru menyadari, bahwa segala apapun pada tubuhnya, pada perasaannya, hanya bisa dikendalikan oleh gadis itu.

Ketergantungan. Mungkin itulah yang dialami Kyuhyun sekarang. Dan dia merasakan ketakutan sekarang. Bagaimana jika tiba-tiba Hye Hoon meninggalkannya? Apa…. yang harus dia lakukan?

DRRRRTTT..

Suara getaran handphone yang berasal dari laci di dekat ranjang tempat tidur itu membuat Hye Hoon mencoba bangkit dari dekapan suaminya. Tetapi ternyata Kyuhyun tidak melepaskannya begitu saja dan malah semakin mempererat pelukannya di pinggang Hye Hoon.

Deringan ponsel itu tidak berhenti juga, membuat Hye Hoon mendongak dan mendelik kepada suaminya tersebut, membuat lelaki itu melepaskan tubuh Hye Hoon.

Setelah Hye Hoon bangkit dari tempat tidur, dia langsung menyambar benda mungil miliknya itu, dan menatap kosong tampilan layar handphone nya.

LEE DONGHAE

Nama itu terpampang di layar ponselnya, membuat dia menatap kosong benda tersebut. Sejenak dia menimang, apakah harus menerimanya atau tidak? Tetapi dia merasakan suaminya menatapnya sedikit curiga sehingga dia bersikap biasa saja dan menempelkan benda itu pada telinganya setelah mengangkat telepon itu.

“ Hoon~ah… tolong aku..aku mohon…”

Suara lelaki itu sedikit tersendat seperti menahan sakit yang amat luar biasa. Hye Hoon menutup mulutnya dengan tangannya yang bebas dan tanpa disadarinya, air mata bercucuran membasahi wajah cantiknya.

“ Sakit.. ini sangat sakit, Hoon~ah. Aku mohon…”

Hye Hoon terisak mendengar suara lelaki itu, dia semakin terisak ketika membayangkan sesuatu yang terjadi kepada lelaki itu yang membuatnya meringis kesakitan seperti saat ini.

“ Apa yang terjadi, Oppa. Jawab aku, kau dimana?”

***

Kyuhyun segera bangkit dari tempat tidurnya ketika dia melihat Hye Hoon menangis keras dengan telepon genggam yang masih menempel di telinganya. Dia segera merengkuh tubuh gadis itu, membuat isakannya semakin mengeras.

“ Siapa yang meneleponmu, Hoon~ah? Dan apa yang terjadi?”

Hye Hoon tidak menanggapi pertanyaannya. Gadis itu malah melepaskan pelukan mereka dan menatap mata coklat Kyuhyun, membuat lelaki itu semakin tak tega saat melihat air mata yang membasahi mata indah milik istrinya.

“ Aku harus pergi, Kyu. Aku harus menolongnya. Donghae Oppa…dia…dia mengalami kecelakaan”.

Kyuhyun mencelos mendengar perkataan istrinya. Donghae lagi? Sampai kapan lelaki itu akan menyakiti Hye Hoon-nya? Dan kapan Hye Hoon bisa melupakan lelaki itu?

“ TIDAK. Aku tidak akan pernah mengizinkanmu bertemu dengannya lagi, Hoon~ah. Dan aku…aku juga membutuhkanmu disisiku sekarang. Bisakah kau tetap tinggal disini, menemaniku? Aku juga sedang sakit, Hoon~ah.”

Suara Kyuhyun meninggi. Dan demi apapun, dia tidak bermaksud untuk membentak gadis itu. Dia hanya ingin Hye Hoon terlepas dari bayang-bayang Lee Donghae. Itu saja. Mengapa hal itu kelihatannya sangat susah?

Kyuhyun melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat dengan gerakan perlahan Hye Hoon menjatuhkan badannya, dan berlutut di hadapannya.

Hatinya merasakan sakit yang teramat parah saat melihat Hye Hoon, dengan posisi berlutut, menatapnya dengan penuh permohonan dengan matanya yang masih berair.

“ Izinkan aku untuk menemuinya, Kyuhyun~ah. Jebal.”

Kyuhyun tak bergeming sedikitpun dari posisinya. Dia menatap mata Hye Hoon yang penuh dengan rasa cemas dan takut yang berlebihan. Apakah Hye Hoon mencintai Lee Donghae sedalam itu, sehingga dia bisa melakukan apapun untuk lelaki itu?

Memikirkan hal itu membuat luka hatinya semakin parah, sehingga dia tidak tahu apakah dia bisa mengobati sakit itu ataupun tidak.

Hye Hoon terperangah ketika melihat suaminya berlalu begitu saja dari hadapannya dan duduk di ranjang, dengan telepon rumah yang berada di genggamannya. Dia tidak bisa menebak alasan kenapa Kyuhyun melakukan semuanya itu karena di benaknya sekarang dia hanya memikirkan bagaimana keadaan lelaki yang sangat dicintainya. Dia takut terlambat menolong lelaki itu sehingga kemungkinan terburuk akan terjadi.

ANDWAE. Hye Hoon tidak mau kehilangan lelaki yang dicintainya, walaupun pada kenyataannya dia memang sudah tidak bisa memilikinya.

Dia tidak menyadari Kyuhyun sudah berada di sisinya, menggendongnya yang masih berlutut di lantai dan membaringkan tubuhnya di ranjang mereka berdua. Hye Hoon menatap wajah lelaki itu dengan seksama.

Tak ada tatapan hangat yang selalu diberikan padanya. Yang ada hanyalah tatapan dingin dari lelaki itu, yang membuat Hye Hoon menyadari suatu hal.

Kyuhyun sudah sering tersakiti dengan semua sikap gadis itu selama ini, tetapi dia hanya terdiam dan tidak pernah menunjukkan semua itu di hadapannya. Dia terlalu egois untuk memikirkan lelaki lain dibandingkan suaminya sendiri.

Haruskah seperti ini? Mengapa dia, yang selalu menginginkan semua orang terdekatnya bahagia, malah menyakiti semua orang?

“ Aku sudah menelepon ambulance untuk menjemput Lee Donghae. Kau tidak perlu khawatir. Tidurlah, besok aku akan menemanimu ke rumah sakit”.

Mata Kyuhyun basah. Apakah hanya permintaan maaf darinya sudah cukup untuk menebus semua kesalahan yang dilakukannya terhadap suaminya?

***

4 Years Later…

Hye Rin tersenyum senang saat dia bisa menyelesaikan pekerjaan yang dia lakukan sejak lima belas menit yang lalu. Hanya memotong kuku yang sudah memanjang memang, tapi dia sangat senang karena setidaknya dia bisa melakukan sesuatu untuk suaminya.

Dia menggenggam erat tangan lelaki itu. dingin. Tangan itu terasa dingin saat bersentuhan dengan kulitnya.   Dia tidak bisa dengan bebas menarik tangan itu kemana saja karena ada selang infus yang menempel di punggung tangannya.

Dia beranjak untuk merapikan rambut pendek lelaki itu. Keadaannya masih sama. Dia masih terpejam, dengan alat dilengkapi selang yang membuat mulutnya terbuka, yang berfungsi untuk memasukkan oksigen dan makanan ke dalam tubuhnya.

Tubuh lelaki itu semakin ringkih, membuat Hye Rin tidak tega melihatnya. Tetapi Hye Rin harus tetap tegar, dan berada di sisi suaminya, untuk memberi kekuatan untuknya.

Hanya mereka berdua yang tersisa dari keluarga kecil idamannya.

Janin yang dikandungnya terlalu lemah dan membuat dirinya keguguran. Dokter sudah memperingatkannya dari awal kehamilannya, bahwa rahim wanita itu tergolong lemah sehingga dia tidak boleh mengalami stress di masa kehamilannya.

Dan ternyata, semuanya terjadi. Dia mengalami keguguran satu minggu setelah Donghae mengalami kecelakaan. Saat itu dia mendengar dokter dari rumah sakit ini mengatakan bahwa Donghae divonis koma.

Itu semua benar. Donghae mengalami koma, dan selama empat tahun ini dia tidak pernah sekalipun membuka matanya.

Dokter sempat menyatakan bahwa lelaki itu tidak bisa hidup tanpa alat bantu yang menempel di tubuhnya. Dalam artian, sebenarnya suaminya bisa meninggal jika Dokter melepas semua alat-alat itu.

Dia tidak mau. Dia tidak mau membiarkan Donghae meninggalkannya begitu saja.

Dia percaya keajaiban. Dan dia berharap keajaiban itu dapat membuatnya berkumpul kembali dengan suaminya.

***

Seorang anak lelaki yang berumur sekitar tiga tahun tersebut sedang asyik dengan mainan di hadapannya, asyik dengan dunianya sendiri. Sesekali dia menepuk, membanting, dan mengelus-elus mainannya tersebut membuat wanita yang sedang mengamatinya terkekeh pelan.

Suara derap langkah kaki mengacaukan semua perhatian anak lelaki itu. Dengan gerakan cepat dia berdiri, berjalan tergopoh-gopoh menuju lelaki dewasa yang baru saja memasuki rumah ini. Dan lelaki itu juga menambah kecepatan langkah kakinya untuk menggapai anak lelakinya, menggendong anak itu ke dalam pelukannya.

Hye Hoon tersenyum melihat pemandangan di hadapannya itu. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati suami dan anaknya, lalu membawakan tas hitam yang dibawa oleh lelaki itu. Kyuhyun mencium keningnya sekilas, mengabaikan bocah kecil yang dipangkunya dengan sebelah tangannya yang sedang menarik-narik dasi yang bertengger di lehernya, seakan anak itu menemukan mainan baru untuknya.

“ Kyu, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Mandilah, aku akan menidurkan Il Jeong dulu. Ini sudah terlalu malam untuknya”.

Hye Hoon meraih Il Jeong ke dalam pangkuannya, tetapi anak itu sepertinya enggan melepaskan diri dari pangkuan Kyuhyun sehingga membuat Kyuhyun sedikit tidak tega untuk melepasnya.

“ Besok Appa libur. Kita akan bermain sepuasnya, hmm?”

Il Jeong seakan mengerti dengan perkataan ayahnya tadi dan tidak menolak sedikitpun saat Hye Hoon membawanya ke kamarnya.

Seringkali, Hye Hoon iri dengan kedekatan Kyuhyun dengan anak berusia tiga tahunan itu. Mereka sangat dekat sehingga tak jarang Il Jeong hanya mendengarkan perintah Kyuhyun dibandingkan dirinya.

Dalam hati dia bersyukur. Setidaknya, Il Jeong tidak kehilangan kasih sayang seorang ayah. Kyuhyun sudah memberi anak itu kasih sayang yang lebih dari cukup.

Hye Hoon tersadar dari lamunannya ketika dia merasakan ranjangnya berderit. Dia menoleh ke sampingnya dan mendapati Kyuhyun sudah mengganti jas nya dengan piyama biru, dan wangi sabun menguar dari tubuhnya.

“ Sedang memikirkan apa, sayang?”

“ Anieyo”.

Kyuhyun mendekatkan jarak mereka berdua. Dia juga menyenderkan punggungnya pada ujung ranjang, sama seperti yang gadis itu lakukan. Dia memeluk perut Hye Hoon, setelah itu mengecup singkat puncak kepala gadis itu.

Kyuhyun memamerkan senyum terbaiknya saat mata mereka berdua bertemu. Dia bersyukur, gadis itu masih berada di sisinya sampai sekarang.   Ditambah dengan kehadiran anak lelaki menggemaskan di dalam keluarga kecilnya membuat Kyuhyun merasa dia adalah lelaki paling bahagia di dunia.

“ Terima kasih, Hye Hoon~ah. Terima kasih karena kau sudah memberikan kebahagiaan yang melimpah untukku”.

Hye Hoon tersenyum mendengar perkataan suaminya. Kyuhyun masih tersenyum sekarang, sehingga dia bisa melihat ketampanan suaminya itu bertambah beribu kali lipat. Dia menyadari sekarang, kenapa dari dulu banyak sekali wanita yang ingin berkencan dengan Kyuhyun, tetapi dengan bodohnya lelaki itu hanya tergila-gila pada dirinya, sehingga membuatnya harus mengalami semua penderitaan itu.

Tapi setidaknya sekarang Hye Hoon bisa membahagiakan Kyuhyun-nya.

Hye Hoon tidak menyadari saat Kyuhyun mempertemukan bibir mereka, dan sekarang dia bisa merasakan bibir basah lelaki itu mengecup bibirnya. Gadis itu menjerit tertahan saat Kyuhyun mulai melumat bibirnya pelan, dan menggigit bibir bawahnya.

Tangannya pun bergerak nakal menyentuh dada Hye Hoon dari balik piyamanya. Meremasnya pelan sehingga gadis itu mendesah pelan.

Setelah itu, Kyuhyun melanjutkan permainan yang dimulainya tadi dengan membuka satu-persatu kancing dari piyama yang dipakai gadis itu, sedangkan bibirnya mereka masih menempel dan saling melumat satu sama lain.

Kyuhyun mendesah kecewa saat gadis itu mendorong dadanya pelan, membuat dia dengan terpaksa harus menghentikan perlakuannya tergadap istrinya tersebut.

“ Kyu…. Kita tidak boleh sejauh ini. Kau tahu kan, aku sedang….”

“ Aku akan melakukannya dengan perlahan, sayang. Aku juga tidak mau menyakitimu dan anak kita”.

Kyuhyun mengelus perut Hye Hoon yang sudah tidak tertutup kain. Hye Hoon merasa geli saat suaminya mengelus salah satu bagian sensitif di tubuhnya itu, padahal Kyuhyun tidak bermaksud menggodanya. Kyuhyun hanya ingin menyalurkan rasa sayangnya terhadap janin yang kini telah dikandungnya. Ya, mereka baru mengetahui satu minggu lalu bahwa Hye Hoon mengandung kurang lebih selama satu bulan.

Kyuhyun mendekatkan jarak mereka berdua, sehingga menyebabkan hidung mereka bersentuhan. Dia menatap gadis itu dengan rasa cinta yang besar terpancar dari mata hitamnya. Dia mengelus pipi gadis itu, membuat Hye Hoon dengan perlahan memejamkan kedua matanya.

“ Malam ini kau milikku, sayang. Ani, bukan hanya malam ini, tapi selamanya kau milikku. Hanya milikku”.

END

40 thoughts on “Sequel Of My Sister’s Husband-Two Pieces(2nd Part)

  1. Gr2 ke egoisan 1 org, akhrny sma mnderita oya thor ko aq ngerasa d part ni pmutusan tiap adeganny agk jauh,jd emosi udh mcak tuh pgn nangis tb2 k putus, jd fillny pts2 jg he… Over all smany bgs ampe sy bngung dsni hrs kshn sm spa krn smany trluka :(

  2. Kasian liad kyu dsni..kasian juga donghae komaa tp salut sm hyerin tg ngguin donghae slma 4thn..tp dsni hyehoon mnjga prsaan kyu..khdiran il jeong sgt brti bgi kyu..bgu mrka b2 huffffgg

  3. Complicated bgt,dobghae koma smpe 4 th,hye hoon hamil lg?kyuhyun msh setia aj sm hye hoon,ternyata hye hoon sm donghae itu dulu udh pacaran,pntesan mau di jadiin selingkuhnnya..

  4. hidup hye hoon dan kyuhyun bebar-benar membuat sedih, tapi tetap lebih menyesakkan persaan kyuhyun.
    but well semoga hye hoon bisa menerima dan mencintai kyuhyun.

  5. baru kali ini nemu fanfic yang ceritanya kyuhyun jadi orang yang diabaikan. agak nyesek sih bayanginnya. hidup sama orang yg gak kita cintai. dan apalah maunya si hye hoon ngarep suami kakaknya -_-

  6. Hye Hoon rela sakit demi orang yg disayangnya bahagia,tapi semuanya pada menderita,ga tau mau di pihak yang mana,tpi akhirnya masih belum jelas itu hye hoon udah cinta belum sama kyu?ㅠㅠ

  7. wow,pling seru bgian ini ni thor… pnsaran gmn klnjutannya…konflik dh mulai terlihat…sebaik2nya bsngkai disembunyikan,psti akn tercium juga… trz gmn ya,hub.persaudaraan hyehyoon dan kk nya?psti skit bgtlh,dikhianati adk n suaminya sndri… suami gt lhoh… kl msh pcar,mgkn msh mndinglah…
    msh hdupkh tu donghae?msa koma mpe 4th… btw,tu hyehoon lg hamil lgi ya,brti kli ini anknya kyuhyun ya?krn ankny ma donghae kn dh berumur 3th…
    smg part2 selnjutnya mkin mnrik ya…cz konfliknya dahsyat di setiap partnya… wlpun perasaan donghae n hyehoon kdg2 agk lebay c…p lgo hyerin,lebay bgt,mpe nyoba bunuh dri sgla… so,fighting thor!!!

  8. Hye Hoon rela sakit demi orang yg disayangnya bahagia. Huufftt kasian Donghae koma. Berharap kalau Hye Hoon mulai sayang sama Kyuhyun.

  9. Hye hoon itu trlalu baik sma kakaknya smpe” hye hoon merasakan siksaan batin dan aku kesel bngt sma donghae, dia ganggu momen paling bahagia untuk kyuhyun 😡 Huh kesel bngt

  10. gatau harus memihak siapa.konfliknya berlarut larut.semuanya menderita disini.kapan mereka bahagianya author?? please happy ending ya

  11. kesell bgtt sama si Hye rin. jadi ternyata dlu ceritanya seperti it.. duuhhh baik bgt si adenya hye rin. dia relaaa bgt.
    skrng smuanya terungkap. tapi menyebalkan sekalii si hye hoon.. huhu dia ga mikir apa kyuhyun dh serng sakit hati. mana si kyuhyun lg sakit lg. tapiiii akhirnyaa bahagia juga. semoga si hye hoon udh ga cinta sama donghae. kurangnya satu. kyuhoon nya sedikit hehe. tapi over all aku suka..

  12. Dia(donghae) berharap semoga bisa keluar dari siksaan bathin yang dialaminya. Secepatnya.
    Hellooo sadar dong ikan , yg selama ini pling kesiksa itu kyupil sampek akhir cerita kyak.nya kyuhyun menderita. Aigoo author bener bener jjang kalo bikin sakit hati orang. Trus hyehyoon ngeselin bnget sih ,udah tau udah jadi istri kyuhyun masih aja doyan d grepe grepe sama ikan amis. Jadi kebawa emosi ni gue.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s