Sequel Of My Sister’s Husband-Losing You (Take 2)




 

Recommended Song : BoA – Between Heaven and Hell

 

Sudah lewat tengah malam, namun anak lelaki itu tak kunjung memejamkan matanya. Mata hitam bulatnya itu tak henti mengeluarkan air mata yang mengalir di pipi tembamnya. Teriakannya pun semakin menjadi disertai dengan tangisannya yang membuatnya kesulitan bernafas.

 

Kyuhyun sudah berusaha semampunya untuk membuat anaknya tertidur pulas, namun Il Jeong terlalu keras kepala sehingga dia tak mendengarkan dirinya. Sudah beberapa jam Il Jeong dalam keadaan seperti ini. Matanya terlihat membengkak karena terlalu banyak menangis, begitupun dengan tubuh mungilnya yang lama kelamaan semakin melemah.

 

Sungguh, Kyuhyun tak tega melihatnya. Akan tetapi, tak ada hal yang bisa dilakukannya untuk membuat Il Jeong tenang.

Kyuhyun sempat mengecek suhu tubuh Il Jeong, yang ternyata melewati suhu normal. Lelaki itu segera menyiapkan baskom berisi air dingin dan meletakkan handuk putih disana. Ketika dia meletakkan handuk basah di dahi Il Jeong, anak itu melemparnya segera. Kyuhyun hanya bisa pasrah melihat kelakuan Il Jeong yang tak bisa diatasinya.

 

“ Eomma, eomma…”

 

Kembali, untuk ke sekian kalinya Il Jeong menyebutkan kata-kata tersebut. Kyuhyun mengelus rambut hitam anaknya yang sedang terbaring itu lembut, berharap jika lelaki bertubuh mungil itu bisa lebih tenang dan segera tidur. Serta melupakan Ibunya yang pergi meninggalkannya.

 

“ Tenanglah, sayang. Eomma pasti pulang. Berhenti menangis, hmm? Eomma pasti tak suka melihatmu seperti ini, Jeongi~ya”.

 

Kyuhyun khawatir jika kondisi Il Jeong seperti ini sampai beberapa waktu ke depan, kondisi tubuhnya akan semakin memburuk. Bukannya dia tak mau menghadirkan Dokter untuk memeriksa anaknya, ataupun membawa Il Jeong yang sedang sakit itu ke rumah sakit. Kyuhyun tahu, yang dirasakan anaknya itu adalah sebuah perasaan insecure yang menerpa pikirannya.

 

Seperti yang dirasakannya sekarang.

 

Lelaki itu ketakutan. Sungguh merasa takut ketika Nyonya Choi mengatakan jika Hye Hoon meninggalkan Il Jeong dan berada di rumah sakit menemani kakak perempuannya. Kyuhyun cukup mengetahui siapa yang akan ditemui mereka disana. Dia takut jika Hye Hoon tak menemukan jalannya untuk pulang kembali ke sisinya, setelah seorang yang dicintainya hadir kembali di dunia ini.

 

Sejak awal, dia bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang lelaki yang terlalu mencintai gadis itu, sehingga mengabdikan dirinya untuk menjadi penopang disaat tubuh gadis itu tak mampu berdiri lagi. Menjadi seorang yang selalu ada di sampingnya, mendengar semua keluh kesah yang mengganggunya.

 

Seharusnya dia tak berharap lebih ketika gadis itu menyatakan untuk mencoba mencintainya. Hye Hoon melakukannya hanya untuk membuat hatinya merasakan bahagia untuk sementara waktu, yang akan digantikannya dengan torehan luka yang lebih dalam di hatinya.

 

Dia mengelus puncak kepala anak lelaki yang sudah dianggapnya sebagai bagian dari hidupnya itu. Il Jeong sepertinya sudah kelelahan sehingga dia tertidur pulas. Diletakkannya handuk basah yang sejak tadi disiapkannya di dahi kecil Il Jeong yang bersuhu tinggi.

 

Sejenak, suara langkah yang tergesa membuatnya terkejut. Kemudian, terdengar suara gesekan pintu kamar Il Jeong yang membuatnya menoleh dengan gerakan lambat. Hatinya merasa lega ketika melihat sosok yang begitu dicemaskannya berdiri di depan pintu yang terbuka.

 

Dia kembali. Hye Hoon-nya sudah kembali untuknya.

 

***

 

Dua jam berlalu sejak operasi itu berakhir. Hye Rin duduk di samping ranjang dengan perasaan yang berkecamuk di dadanya. Dokter sudah memberitahukannya bahwa Donghae sudah jauh lebih baik dan kemungkinannya untuk bisa bangun dari tidur panjangnya jauh semakin besar.

 

Hye Rin menggenggam tangan kaku milik suaminya, lalu mengelusnya perlahan. Dia sangat berharap jika anggota gerak lelaki itu akan segera berfungsi kembali seperti sedia kala. Betapa dia sangat menginginkan lelaki itu kembali ke sisinya, walaupun pada akhirnya dia harus menyerah dan melepasnya jika suaminya sudah tak menginginkannya.

 

Batinnya menangis, merasa jika Tuhan begitu tak adil padanya. Tak ada orang yang menginginkannya di dunia ini. Tiada orang yang mencintainya sebagaimana dia menyayangi orang-orang sekitarnya. Tidak, dia tak mengharapkan sesuatu yang berlebihan, agar semua orang bisa mencintainya.

 

Dicintai oleh suaminya sendiri, itu lebih dari cukup.

 

Lingkaran hitam di matanya semakin terlihat jelas. Belum lagi, berat badannya yang menyusut membuat tubuhnya semakin ringkih. Namun, melihat tubuh Donghae yang tak berbeda jauh dengannya membuatnya tersenyum getir. Seharusnya, dia bisa bersyukur karena dirinya bisa memakan makanan normal untuk penunjang kehidupannya. Sedangkan lelaki itu hanya bertahan hidup dari sari makanan yang didapatinya dari selang-selang yang menyuplai makanan ke tubuhnya.

 

Hye Rin terperanjat ketika merasakan tangannya merasakan pergerakan dari tangan besar yang digenggamnya. Dengan gerakan cepat, dengan cemas dia mengamati kelopak mata Donghae yang perlahan bergerak, lalu membuka beberapa detik setelahnya.

 

Tak bisa dilukiskannya perasaan yang melingkupi dirinya sekarang. Suaminya, orang yang selama ini ditunggunya, sudah kembali ke kehidupannya. Sungguh, dia merasa jika kenyataan ini adalah hal terbaik yang dialaminya semasa hidupnya.

 

Suatu pelajaran yang dipetiknya, bahwa dia harus bersabar menghadapi suatu cobaan yang menimpanya, yang pada akhirnya akan memberikan kebahagiaan yang sangat amat melimpah untuknya.

 

Cairan bening itu mulai menetes di pipinya. Bukan air mata kesedihan yang selama ini dikeluarkannya tanpa henti. Tapi, sebuah wujud dari rasa bahagia, haru, dan rasa lega karena akhirnya penderitaan suaminya berakhir. Ditariknya kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman yang tulus yang sudah lama tak diukirnya.

 

Mata Donghae mengerjap, menyesuaikan diri dengan cahaya yang menerjangnya. Dirinya merasa sangat lelah, padahal sepengetahuannya dia hanya berbaring di ranjang, entah sejak kapan. Dia mengedarkan pandangannya yang terbatas, menemukan bahwa dirinya berada di sebuah ruangan bercat putih yang diyakininya adalah rumah sakit. Bau obat pun menusuk hidungnya, menandakan jika inderanya satu persatu mulai berfungsi.

 

Oppa….”

 

Suara seorang perempuan tertangkap oleh telinganya. Suara itu terdengar sangat familiar, sepertinya dia sudah terbiasa mendengarkan suara tersebut dari alam bawah sadarnya. Dia menggerakkan kepalanya yang terasa kaku, menoleh dengan keadaannya yang tak memungkinkan ke arah wanita yang memanggilnya tadi.

 

Wanita cantik itu terlihat berbeda dari Hye Rin yang biasa ditemuinya tempo hari. Rambutnya terlihat lebih panjang, kulit putihnya berwarna lebih pucat serta tulang pipinya lebih menonjol. Sudah berapa lama dia tertidur? Apa yang menyebabkannya terbaring di ranjang rumah sakit? Dia sama sekali tak mengingatnya.

 

Dia mencoba menanyakan wanita yang sedang menangis itu, namun lidahnya terasa kelu.

 

Seakan tahu jika dia kesulitan bicara, wanita yang masih menjadi istrinya itu mengelus kembali tangannya, menyuruhnya untuk lebih tenang. Lalu, Hye Rin memijit tombol yang berada di atas ranjangnya dan tak lama kemudian beberapa orang yang berjas putih masuk ke dalam ruangan itu.

 

Setelah pemeriksaan menyeluruh yang dilakukan oleh para dokter tersebut selesai, Hye Rin pun diijinkan masuk kembali dengan dibekali oleh beberapa informasi mengenai kondisi Donghae yang diberikan dokter kepercayaan keluarganya itu padanya.

 

Dia menempati kursi yang sudah sekian lama menjadi tempat favoritnya. Kali ini dengan perasaan bahagia yan g membuncah, bukan dengan rasa sedih yang sering sekali menyakitkan hatinya. Hye Rin menyentuh puncak kepala suaminya, lalu menyingkirkan rambut bagian depan Donghae yang mulai memanjang. Senyumnya kembali terbit, menghiasi wajah mungilnya yang lusuh.

 

“ Kau jahat. Kau tertidur sangat lama dan membiarkanku khawatir setengah mati. Tapi aku selalu yakin, bahwa suatu saat kau akan terbangun dari tidur panjang yang membuatmu jauh dariku. Ternyata benar, kan? Pada akhirnya penantianku selama ini terbayar sudah. Akhirnya, kau mau kembali kepada orang-orang yang sangat menyayangimu. Gomawo, Oppa. Terima kasih atas perjuanganmu untuk melawan rasa sakitmu”.

 

Hye Rin mengamati bibir Donghae di balik masker itu yang mulai bergerak, dengan kernyitan di dahinya akibat rasa sakit yang ditimbulkan dari pergerakannya. Anggota tubuh lelaki itu masih perlu pemulihan, alhasil Donghae belum bisa menggetarkan pita suaranya sekarang. Hye Rin harus sabar menunggu, walaupun dirinya merasa sangat merindukan suara merdu dari lelaki itu.

 

“ Ssst…kau tak boleh berbicara dulu, Oppa. Dokter bilang perlu waktu untuk mengembalikan semua fungsi tubuhmu. Bersabarlah, kita harus melalui ini bersama-sama, hmm?”

 

***

 

Kyuhyun menjulurkan tangannya, meraih helaian rambut hitam Hye Hoon diantara jemari panjangnya. Mereka saling berhadapan di sebuah ranjang yang cukup kecil, sehingga Kyuhyun bisa dengan leluasa mengamati setiap detail wajah gadisnya.

 

Mereka berbaring di tempat tidur Il Jeong, masih merasa cemas dengan keadaan anak lelaki itu yang belum sepenuhnya pulih. Hye Hoon telah memberikan obat penurun panas yang ditemukannya di kotak obat. Demam Il Jeong pun mulai menurun, serta tidurnya sudah tak gelisah lagi seperti sebelumnya, ketika menemukan Ibunya ada di sampinya.

 

“ Bagaimana keadaan Donghae hyung?”, tanyanya penasaran. Dia juga merasa khawatir dengan keadaan lelaki itu. Apalagi dengan kondisinya yang semakin memburuk akhir-akhir ini. Selain itu, tadi juga dia mendengar jika Donghae menjalani operasi untuk membantu pemulihannya.

 

“ Semakin membaik. Operasinya berjalan lancar dan Dokter mengatakan jika kemungkinannya untuk sembuh menjadi semakin besar”.

 

Kyuhyun tak bisa membaca raut wajah istrinya. Sepertinya Hye Hoon sudah mulai bisa mengendalikan emosinya di hadapan Kyuhyun, sehingga lelaki itu sulit menebak apa yang ada di pikirannya.

 

Tak ada pembicaraan selanjutnya. Mereka hanya saling menatap, membiarkan perasaan hangat yang mengaliri tubuh mereka ketika mata saling terikat. Hye Hoon menangkap ada sesuatu yang berbeda dengan Kyuhyun. Wajah Kyuhyun ditekuk, seperti diliputi kesedihan semenjak dia kembali ke rumah beberapa saat yang lalu.

 

“ Bagaimana jika seandainya suatu saat Donghae membuka matanya? Apakah kau…akan kembali padanya?”.

 

Pengandaian tersebut tak pernah terpikir oleh Hye Hoon sebelumnya. Bagaimana jika Donghae sadar? Apa yang akan dia lakukan?

 

Hatinya seakan diremas, terasa sakit bahkan saat dirinya ingin mencapai kebahagiaannya sendiri. Kakaknya berhak memiliki suaminya seutuhnnya, itu sudah pasti. Dan Hye Hoon sendiri, dia harus tetap menjalani kehidupannya sebagai istri dari seorang yang berada di sampingnya kini.

 

Matanya memanas, ketika merasa jika semua ini terlalu menyakitkan baginya. Namun, senyuman manis ditunjukkannya, yang membuat hatinya meringis ketika menyadari jika dia tak pernah menyuarakan isi hatinya yang sebenarnya.

 

Dia menyentuh pipi lelaki itu, merasakan kehangatan yang didapat sebagai akibatnya. Kyuhyun selalu bisa membuat hatinya yang dipenuhi rasa bersalah dan kesedihan itu menjadi lebih baik. Tak ada orang yang lebih mengerti dirinya dibanding lelaki itu. Dan dia bersyukur jika lelaki itu tak pernah berniat sedetikpun untuk meninggalkannya, walau sejak dulu hanya penderitaan yang menyiksa yang hanya bisa diberikannya.

 

“ Tidak. Kehidupan yang kita jalani akan berjalan seperti biasanya, suamiku. Aku akan tetap denganmu. Dan Il Jeong akan tetap menjadi sumber kebahagiaan kita”.

 

Kyuhyun tak sanggup menyembunyikan senyum bahagianya. Apakah ini semua adalah akhir yang dinantinya? Apakah pada akhirnya, semua pengorbanannya akan berbuah manis? Jika iya, dia sangat menginginkan jika akhir ini adalah klimaksnya.

 

Happy Ending, apakah masih berlaku untuknya yang tak pernah merasakan kebahagiaan yang utuh?

 

***

 

A Few Months Later

 

Donghae mendorong kursi rodanya menuju tempat yang berada paling dekat dengan jendela kamarnya. Dia masih berada di bangunan tinggi yang ditempatinya beberapa tahun terakhir, karena dia masih memerlukan perawatan intensif dari dokter yang ada disana.

 

Dia menutup matanya, sembari menghela nafasnya dalam-dalam, merasakan udara sejuk yang menerpa wajahnya. Setiap pagi, dia menghabiskan waktunya untuk memandangi jalan yang berada tepat di depan gedung itu, mengamati setiap orang yang berkeliaran disana, berharap jika suatu saat orang yang ditunggunya segera menemuinya.

 

Namun nihil. Sampai saat ini pun gadis itu tak pernah menjenguknya seperti semua orang terdekatnya. Padahal, ketika dia tak sadarkan diri dulu, dia sering bermimpi mendengar suara lirih gadis itu menangisinya, memintanya untuk segera bangun dari tidurnya.

 

Dia menarik salah satu sudut bibirnya, menertawakan dirinya sendiri yang larut dalam angannya. Mana mungkin hal itu terjadi?

 

Dadanya terasa sesak, karena menyadari jika gadis itu sudah menjalani hidup yang bahagia dengan suaminya. Mungkin rasa cinta itu juga sudah memudar seiring dengan waktu yang berjalan. Hye Hoon sudah memiliki kehidupannya sendiri, dan dirinya tak termasuk di dalamnya.

 

Ya, mungkin gadis itu sudah melupakannya.

 

Dia menemukan bayangan lain dari kaca jendela di depannya. Wanita yang terpantul dari bayangan itu terlihat lebih segar dengan dress selutut bermotif bunga yang dikenakannya. Donghae merasa posisi wanita itu semakin mendekat ke arahnya. Dia bisa merasakan tangan lembut gadis itu melingkar di lehernya, dengan dagu yang diletakkan di puncak kepalanya.

 

“ Kau tahu? Seringkali aku memandangi langit ketika kau sedang terlelap. Entah mengapa awan-awan putih di atas sana selalu membuat perasaanku bisa lebih baik. Setiap kali aku memandanginya, aku selalu berharap jika aku bisa melihatmu sembuh. Sepertinya, awan-awan di langit itu mendengarkan permohonanku, dan memberitahukannya kepada Tuhan agar mengabulkannya. Dan ya, kau akhirnya sembuh. Sejak saat itu, aku sering meminta kepada mereka jika aku menginginkan sesuatu. Kau juga punya keinginan, Oppa? Kau harus mengatakan pada langit kalau begitu”.

 

Donghae menatap hamparan langit biru itu, kemudian menuruti saran Hye Rin untuk menyampaikan permohonannya. Gadis yang berada di belakang kursi rodanya itu sepertinya senang dengan sikap Donghae yang mulai berubah. Lelaki itu mulai menghargai keberadaan istrinya di sisinya, tak sedingin ketika mereka menjalin hubungan dulu. Setelah matanya kembali terbuka, gadis itu mulai mendorongnya menjauhi jendela itu, membalikkan badannya dan membawanya keluar kamar yang selama ini ditempatinya.

 

“ Aku akan membawamu ke taman, Oppa. Uisanim berkata jika udara sejuk baik untuk perkembangan kesehatanmu”.

 

***

 

Pagi itu, Kyuhyun bangun lebih awal dari biasanya. Wanita di pelukannya masih terlelap, tak terganggu sedikitpun ketika dia melepaskan pelukannya dan meregangkan otot-ototnya. Lelaki itu berencana untuk sedikit berolahraga sebentar sebelum berangkat ke kantor.

 

Setelah berganti pakaian, dia segera bergegas keluar rumah, menghirup udara bersih dari pekarangan rumahnya.

 

Kurang lebih lima belas menit waktu yang dibutuhkan Kyuhyun untuk berlari kecil di sekitar rumahnya. Sebagai seorang yang lebih banyak menghabiskan waktunya di depan layar, tentu olahraga ringan seperti ini saja membuatnya sangat kelelahan. Sepertinya dia harus sering melatih tubuhnya agar semakin sehat. Lain kali dia berjanji akan membawa Hye Hoon dan Il Jeong bersamanya.

 

Setelah meneguk air dingin dari lemari es di dapur, dia segera menuju kamarnya lagi. Rumahnya terlihat sangat sepi, karena mereka hanya tinggal bertiga di penthouse itu. Sebenarnya Eomma Kyuhyun sudah menawarkan seorang asisten rumah tangga untuk membantu Hye Hoon mengurus rumah, namun istrinya itu menolaknya.

 

Ngomong-ngomong tentang istrinya yang cantik, apakah gadis itu sudah bangun?

 

Aroma sabun menguar yang seantero ruangan ketika Kyuhyun membuka pintu kamar adalah jawabannya. Gadis itu sudah tampak segar dengan rambut basah, melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi sambil bersenandung. Hye Hoon yang hanya mengenakan jubah handuk itu berdiri di depan lemari kayu besar dan tinggi yang terbuka untuk memilih baju yang akan dipakainya hari ini.

 

Kyuhyun pun menggoda gadis itu dengan pelukannya yang tiba-tiba, membuat jantung Hye Hoon seakan melompat dari tempatnya. Istrinya sempat menjerit karena perlakuan spontan yang dilakukan Kyuhyun, namun dirinya mengabaikannya dan lebih berkonsentrasi menciumi wangi tubuh Hye Hoon dari lekukan leher gadisnya.

 

” Kau keterlaluan. Bagaimana jika aku mempunyai riwayat penyakit jantung dan terkena serangan karena ulahmu? Kau siap menjadi single parent di usia muda, Kyu? Atau kau akan senang karena kau bisa menikahi wanita lain, begitu?”

 

Kyuhyun terkekeh mendengar ocehan Hye Hoon yang menurutnya sangatlah lucu. Andai posisi mereka berhadapan, Kyuhyun yakin jika bibir cemberut gadis itu akan habis dilahapnya. Lelaki itu menjawil pangkal hidung Hye Hoon gemas, lalu mengeratkan dekapannya di pinggang gadis itu.

 

“ Jangan marah begitu, sayang. Aku hanya rindu dengan celotehanmu. Kau tahu? Akhir-akhir ini kau terlihat sangat murung. Ah, sepertinya kau mulai cemburu denganku, keudachi?”

 

A-Anieyo. Kau terlalu percaya diri, Tuan Cho”. Hye Hoon menjawabnya dengan suara tersendat, karena kerja jantungnya semakin menggila ketika mencium aroma khas dari tubuh suaminya yang dipenuhi peluh. Apalagi dengan posisi mereka yang sangat intim, membuatnya semakin kesulitan bernafas.

 

“ Tapi kau suka, kan?”, kelakarnya. Dan pernyataan itu sukses membuat Hye Hoon membatu di tempatnya. Gadis itu salah tingkah, lantas membuatnya mengusir suaminya itu dari jarak pandangnya.

 

“ Cepat mandi, ini sudah siang. Lagipula tubuhmu itu bau keringat, Kyu. Seharusnya kau tak mendekatiku”.

 

“ Baiklah, Nyonya Cho yang cerewet. Oh ya, kau terlihat lebih seksi dengan baju handukmu itu”. Ujar Kyuhyun dengan nada menggoda, yang diselingi kedipan matanya yang bersinar jahil. Hye Hoon melayangkan tatapan tajamnya, berbanding terbalik dengan pipinya yang memerah.

 

“ Yak! Kemari kau Cho Kyuhyun”

 

***

 

Kyuhyun mendekati meja makan dengan senyum mengembang di wajahnya. Disana terdapat tiga piring yang terbuka, dengan beberapa gelas dengan isi berbeda di sampingnya. Satu gelas bening tinggi berisi segelas cairan berwarna putih yang diyakininya adalah susu formula milik anaknya yang masih balita, sedangkan dua cangkir lainnya berisi teh panas yang asapnya mengepul.

 

Keluarga kecilnya. Keluarga kecil yang menjadi sumber kebahagiaannya.

 

Dia menarik kursi yang biasa didudukinya, lantas mendaratkan badannya pada benda empuk itu. Sedetik kemudian suara langkah kaki yang tergesa mengalihkan pandangannya dari permukaan meja tersebut, menangkap tubuh mungil jagoan kecilnya yang sedang berlari sambil berteriak nyaring memanggilnya.

 

Appaaaaaa….”

 

Kyuhyun mendekap Il Jeong yang sepertinya belum sepenuhnya bangun dari tidurnya. Mata bulatnya itu masih menyipit, namun tangan kecilnya mendekap perut Kyuhyun erat. Kyuhyun tertawa kecil melihat tingkah lucu anaknya yang menggemaskan itu.

 

“ Masih mengantuk, sayang? Tidur lagi saja kalau begitu. Ini masih terlalu pagi, Jeongi~ya”.

 

Il Jeong menggelengkan kepalanya, kemudian menaikkan wajahnya menatap Kyuhyun dengan matanya yang belum sepenuhnya terbuka. Bibir mungilnya mengerucut, seperti tak suka dengan perkataan yang dilontarkan Ayahnya.

 

Shireo. Aku ingin bersamamu, Appa. Aku hanya bisa bertemu Appa pagi-pagi, setelah itu Appa pasti akan pulang saat aku sudah tidur. Jadi, aku tak mau bangun siang, Appa”.

 

Kyuhyun mengangkat tubuh anak lelakinya itu sejajar dengan wajahnya. Sepertinya Il Jeong mulai merajuk lagi, setelah sebelumnya sogokan mainan dan liburan ketika weekend nya terputus begitu saja karena Kyuhyun sering lupa untuk membelikan hadiah untuk Il Jeong serta akhir-akhir ini dirinya lebih sering menghabiskan akhir pekannya bersama istrinya, yang barang tentu membuat Il Jeong kesal.

 

“ Ya sudah, bagaimana jika Appa mengajakmu ke bioskop nanti? Kau pasti ingin menonton film cartoon seperti waktu itu, kan? Appa juga akan memberikan pop corn berukuran besar untukmu. Deal?”

 

Wajah Il Jeong seketika terlihat bersemangat. Dia mengangguk-anggukkan kepalanya berulang kali, serta memamerkan deretan gigi susunya yang terlihat rapi.

 

“ Jeongi~ya, jangan ganggu Appamu makan. Duduk di kursimu”.

 

Wanita yang baru saja keluar dari pantry itu pun segera mengambil Il Jeong ke dalam pangkuannya, dan mendudukkannya di sebelah Kyuhyun. Sedangkan dirinya mengambil tempat duduk tepat di sebelah anaknya itu.

 

Drrrttt

 

Hye Hoon segera merogoh telepon genggamnya yang bergetar, segera menggeser icon berwarna hijau itu setelah melihat siapa yang memanggilnya.

 

“ Ya, Eonnie?”, jawabnya singkat.

 

“ Hye Hoon~ah, aku sangat merindukanmu. Aku ingin bercerita banyak padamu. Ah ya, aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Haruskah aku menjemputmu? Aku benar-benar butuh seseorang untuk mendengarkanku. Kau harus ikut, eo?”.

 

Hye Rin terdengar bersemangat ketika mengajak adiknya itu untuk mengunjungi suaminya. Namun, dia tak menyadari perubahan yang terjadi pada diri Hye Hoon ketika rentetan kalimat tersebut terngiang di telinga gadis itu.

 

De? Aku tidak bisa ikut, Eonnie. Mianhae. Saat ini, Kyuhyun sedang sibuk sedangkan Il Jeong tak mungkin aku tinggal sendiri. Mungkin lain kali kita bisa bertemu di tempat berbeda? Aku tak mungkin membawa Il Jeong ke rumah sakit”.

 

Hye Hoon memang pembohong yang baik. Dia bahkan bisa berkelit dengan mudahnya, ketika kakak perempuannya itu mengajaknya untuk menemui Lee Donghae. Dia belum siap. Hatinya belum cukup kuat untuk menatap mata teduh favoritnya itu lagi.

 

“ Baiklah. Padahal aku sangat bosan, kau tahu? Disana aku hanya akan bertemu dengan beberapa orang berbaju putih yang selalu mondar-mandir dengan berbagai peralatan medis di tangannya. Selain itu, Donghae Oppa tidak banyak bicara sehingga membuatku kesal karena harus mengalami pembicaraan satu arah setiap saat”.

 

Kesal? Bahkan suara Hye Rin terdengar sangat riang untuk dikategorikan ke dalam golongan itu. Hye Hoon memejamkan matanya sesaat, merasakan kedutan nyeri di hatinya ketika nama itu disebut. Rindu yang dirasanya semakin memuncak, apalagi mengetahui jika lelaki itu bisa membalas tatapannya sekarang.

 

“ Hoonie~ya? Kau masih disana?”

 

“ Iya, Eonnie. Mian, aku tak begitu mendengarkanmu tadi. Ada apa?”

 

“ Aku akan membuat pesta penyambutan di rumah ketika Donghae Oppa pulang nanti. Kau mau membantuku untuk menyiapkannya, kan?”

 

Hye Hoon merasa selera makannya hilang begitu saja. Dia memegang handphonenya dengan tangannya yang lunglai, sesaat setelah sambungannya terputus. Hye Hoon sudah berusaha untuk melenyapkan semua pikirannya tentang Donghae, namun ingatannya kembali terkuak hanya karena mendengar namanya tersebut dari orang yang sangat disayanginya melebihi apapun.

 

Sementara itu, Kyuhyun mengamati kejadian tersebut dalam diam. Pun ketika dia menemukan tetesan air mata Hye Hoon yang membasahi pipi gadis itu. Dia kembali ke dalam peran yang sama, seperti dahulu yang sudah terlalu sering dilakukannya.

 

Terasa lebih menyakitkan, ketika dia harus melihat orang yang dicintainya patah hati, daripada dia sendiri yang mengalami hal itu.

 

***

 

Kyuhyun membolak-balikkan kalender meja yang berada di genggamannya, meskipun tak ada hal yang menarik dari hal yang dilakukannya itu. Matanya kembali tertuju kepada lingkaran kecil yang berada di kalender itu, tanda merah yang mengingatkannya jika hari ini hari yang special.

 

Apakah dia mengingatnya juga?

 

Sekelibat pemikiran itu menghantam pikirannya. Sepertinya tidak. Buktinya, gadis itu tak memberikan ucapan apapun ketika mereka bangun tidur sampai mengantarkannya ke pagar rumah. Dia tak boleh berharap lebih, kan? Selain Hye Hoon memang termasuk orang yang pendek ingatannya, wanita itu juga mungkin tak menganggap hari ini sebagai hari yang istimewa untuknya.

 

Suara ketukan high heels setiap kali bertemu dengan lantai marmer itu membuatnya menoleh malas. Tanpa dia lirik pun, sebenarnya dia sudah tahu siapa yang akan menemuinya dengan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu maupun meminta izinnya itu.

 

Gadis berambut sebahu itu duduk di seberang mejanya, meletakkan tas tangannya dengan anggun di pinggir meja. Setelah itu, tatapan menyelidik tertuju padanya, seperti yang biasa ditunjukkan gadis itu kepada orang-orang di sekitarnya. Ini saat-saat menegangkan untuknya, karena dia harus mengontrol ekspresi mukanya dengan baik agar gadis itu tak bisa membacanya.

 

“ Katakan, mengapa wajahmu sekusut ini? Kau menjelaskannya sendiri padaku, atau ingin aku yang memberitahumu apa yang terjadi padamu?”

 

Lelaki itu menghela nafasnya perlahan, mendengar ancaman yang dicetuskan oleh wanita yang sering menjadi teman berbincangnya itu. Tanpa mengetuk pintu, bahkan tanpa diundang, wanita itu dengan santainya menyita waktu kerjanya dengan sikap detektif yang seakan melekat pada dirinya.

 

Ah ya, dia lupa sesuatu. Mahasiswi psikologi yang satu ini sudah sedikit terganggu mentalnya karena terlalu sering menyampaikan hipotesa konyolnya.

 

“ Silahkan saja berasumsi sesukamu. Aku tak keberatan”.

 

Gadis itu mendesis, kesal dengan sikap yang menjadi tanggapan Kyuhyun. Tak perlu menunggu lama, ataupun membiarkan lelaki itu bercerita, gadis itu tahu tentang apa dan siapa yang membuat Kyuhyun terlihat menyedihkan.

 

“ Hye Hoon Eonnie lagi, kan? Kau takut jika dia pergi darimu karena Donghae Oppa telah sadar dari komanya, begitu? Kyuhyun Oppa, kau bodoh atau idiot, hmm? Hye Hoon Eonnie itu istrimu, dia milikmu, Oppa. Kau berhak menyuruh apapun padanya, termasuk untuk melupakan lelaki tak bertanggung jawab itu. Kau bilang kau jauh lebih pintar dibanding anak kecil sepertiku, tetapi kau bahkan tak tahu pengetahuan dasar tentang pernikahan”.

 

Perkataan Yoora benar. Dia berhak melakukan apapun untuk menahan Hye Hoon tetap di sisinya. Mereka memiliki hubungan yang cukup untuk dirinya melakukan itu. Namun, hal itu tak semudah yang Yoora pikirkan. Ada perasaan Hye Hoon yang harus menjadi pertimbangannya.

 

“ Bukan, bukan itu yang kutakutkan, Yoora~ya. Aku takut jika Hye Hoon bertahan disisiku karena merasa bersalah kepadaku. Sekarang, dia mencoba menjauhkan dirinya dari kehidupan Donghae hyung, tapi aku tahu hal itu membuatnya terluka. Aku tak mau melukainya, Yoora~ya”.

 

“ Hye Hoon Eonnie hanya ingin solusi terbaik untuk kalian semua, itu yang aku tangkap dari semuanya. Dia tak ingin melihatmu dan kakak perempuannya terluka jika dia memutuskan untuk kembali ke pelukan Donghae Oppa. Kau tahu? Sebaiknya kau memaksa Hye Hoon Eonnie untuk membalas cintamu yang terlampau besar itu, dan semua masalah akan teratasi. Kau harus bisa membuatnya jatuh cinta padamu, hmm?”

 

Walaupun terkadang menyebalkan, namun gadis kecil itu seakan memberinya sebuah titik terang dari kerumitan kisah cintanya. Pikirannya terasa lebih ringan, namun hatinya tetap bergemuruh, tak ingin jika keegoisannya malah melukai orang yang dicintainya.

 

“Aku tak bisa memaksanya, Yoora~ya. Dan dia pun tak bisa memaksakan perasaannya padaku. Tugasku adalah disampingnya, melindunginya, dan menjadi penopangnya ketika dia rapuh. Bukan memaksanya untuk membalas semua perasaanku. Itu tak penting, sepupu. Bukankah yang terpenting adalah melihat orang yang kucintai bahagia?”

 

Yoora terharu mendengar perkataan tulus dari seorang Cho Kyuhyun. Dia sendiri tahu, seberapa besar pengorbanan yang Kyuhyun lakukan untuk istrinya. Kadang Yoora berfikir, apakah hati Kyuhyun terbuat dari besi? Atau sudah membatu? Hal itu mengingat betapa Kyuhyun mengecap beribu perih ketika dirinya harus berdiri tegak menerima kekalahannya sendiri.

 

“ Bukankah lebih baik kau meninggalkannya? Atau jangan-jangan…kau memiliki rencana untuk melepasnya jika Hye Hoon Eonnie kembali padanya? Oppa, andai aku jadi Hye Hoon Eonnie, aku akan sangat beruntung mendapatkan cinta yang sangat besar dari seseorang sepertimu”.

 

Kyuhyun menelan ludahnya yang terasa pahit. Lelaki itu hanya ingin menjadi orang yang serakah, memiliki raga gadis itu walaupun gadis itu tak pernah menginginkannya. Mungkin untuk meninggalkan gadis itu, dirinya tak mau. Kecuali jika gadis itu ingin lepas darinya.

 

Kyuhyun melirik arloji di pergelangan tangan kirinya sekilas. Berpura-pura sedang dalam keadaan sibuk di jam-jam istirahatnya. Hal itu dilakukannya untuk menghindari pertanyaan Yoora yang tak pernah bisa dijawabnya.

 

“ Aku harus meeting sekarang, kau tahu pintu keluar dimana, kan?”

 

***

 

Kyuhyun melangkah gontai ke arah rumahnya yang sudah gelap. Setelah memasukkan kode yang dihapalnya, dia segera melangkah menuju kamarnya. Pikirannya lelah memikirkan perkataan-perkataan Yoora yang menusuk tepat ke jantungnya. Ingin menolaknya pun, semua perkataannya itu terasa begitu benar.

 

Dia membuka pintu kamarnya, yang sama gelapnya dengan ruang tamu yang tadi dilaluinya. Dahinya berkerut keheranan. Biasanya, Hye Hoon tak pernah mematikan lampu ketika dia tidur karena phobianya akan kegelapan yang telah diidapnya sejak kecil.

 

Cahaya lilin yang menerangi ruangan gelap tersebut semakin mendekat ke arahnya. Bayangan orang yang dicintainya itu semakin mendekat, hingga berhenti tepat di hadapannya. Bibir gadis itu melengkungkan sebuah senyuman, yang membuat hatinya menghangat. Sebuah kue yang dibawanya dengan kedua telapak tangannya membuat Kyuhyun semakin terharu.

 

Choi Hye Hoon tidak melupakannya. Bahkan menyiapkan sebuah kejutan kecil untuknya. Adakah yang lebih membahagiakannya dari hal ini?

 

Hye Hoon mengomando dengan menghitung angka satu sampai tiga, lilin-lilin kecil itu pun padam oleh nafas yang ditiupkan keduanya. Mereka saling berpandangan dengan senyum yang melebar, menikmati kebersamaan mereka yang tak terasa sudah sampai empat tahun lamanya.

 

“ Kyu, nyalakan lampunya. Aku takut”.

 

Kyuhyun tak menggubris permintaan istrinya. Dia mengambil kue yang berada di tangan Hye Hoon, dan meletakkannya di atas meja yang terkena cahaya dari luar. Hye Hoon yang ketakutan, segera menghamburkan diri di dada lelaki itu. Mereka menikmati posisi itu cukup lama, hingga akhirnya Kyuhyun menggetarkan pita suaranya untuk mengucapkan ungkapan hatinya.

 

“ Gomawo, Hye Hoon~ah. Aku sangat senang karena kau mengingatnya. Dan untuk kejutannya, semuanya terasa sempurna”.

 

Hye Hoon hanya menganggukkan kepala untuk menjawabnya. Dia terhanyut dalam dekapan Kyuhyun yang selalu membuatnya damai. Apalagi tangan besar Kyuhyun yang terulur mengusap puncak kepalanya. Ketakutannya lenyap seketika karena dia yakin Kyuhyun akan selalu melindunginya.

 

“ Bolehkah aku mengambil hadiahnya? Hadiah ulang tahun pernikahan kita?”

 

Hye Hoon mengangguk lagi, kemudian segera beranjak mengambil bungkusan yang disiapkannya. Namun, tarikan tangan Kyuhyun menahannya. Sebelum dia melayangkan protesnya, Kyuhyun sudah membungkamnya dengan ciuman tepat di bibirnya.

 

Ciuman itu terasa begitu intim, namun penuh dengan perasaan di dalamnya. Kyuhyun menyalurkan rasa cintanya lewat sentuhan itu, memperlakukan gadisnya seakan Hye Hoon adalah benda yang mudah retak. Bibirnya menekan bibir gadis itu berkali-kali, lalu memagutnya dengan kecupan-kecupan yang dalam. Hye Hoon pun membalas kecupan itu dengan senang hati, tapi tetap membiarkan suaminya mendominasi.

 

Ketika nafas mereka mulai terengah, mereka saling melepaskan diri. Kyuhyun merapatkan tubuhnya dengan cara menarik pinggang gadis itu sampai batas yang tak terlihat diantara keduanya. Hye Hoon meresponnya dengan melingkarkan kedua tangannya di leher lelaki yang masih mengenakan jas hitamnya itu.

 

“ Jadi ini yang dimaksud kadomu? Apakah kau menginginkannya?”. Hye Hoon memainkan dasi Kyuhyun yang masih terpasang di leher jenjang lelaki itu. Dan efeknya sangat terasa untuk Kyuhyun. Dia merasa tubuhnya menegang karena sentuhan gadis itu. Kyuhyun menatap gadisnya intens, kemudian tubuhnya berteriak senang karena menemukan ketulusan di mata Hye Hoon.

 

“ Hmm. Aku ingin anak kedua darimu, sayang”.

 

***

 

“ Jadi, mana hadiahku? Kau tak boleh curang, Kyu. Apa jangan-jangan kau lupa? Ya, kau pasti lupa dengan hari pernikahan kita. Huh, padahal biasanya kebanyakan seperti di drama atau novel, suami yang akan memberikan dinner romantis di ulang tahun pernikahan mereka”.

 

“ Apa tadi masih kurang? Kau mau melakukannya lagi? Baiklah..sepertinya aku masih kuat memuaskanmu selama beberapa jam ke depan”.

 

“ Kyu…”

 

Pipi Hye Hoon merona, namun dia pura-pura marah pada suaminya itu. Dilanjutkan dengan bibirnya yang mencebik kesal, lalu melepaskan pelukan Kyuhyun. Setelah itu membalikkan tubuhnya memunggungi lelaki yang memakai satu selimut yang sama dengannya itu.

 

Beberapa saat kemudian, dia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh lehernya yang tak tertutup apapun disertai dengan sebuah kecupan hangat yang mendarat di rambutnya yang basah oleh keringat. Kyuhyun memeluknya dari belakang, membuat punggungnya terasa nyaman karena bersentuhan dengan dada telanjang lelaki itu.

 

Hye Hoon menundukkan kepalanya, kemudian menyentuh benda yang menghiasi leher jenjangnya. Seulas senyuman lolos dari bibir tipisnya. Sebuah liontin hati berwarna shappire blue yang terbuat dari kristal swarovski dengan butiran-butiran berlian kecil yang mengelilinginya tersampir di lehernya. Dia membukanya, sedikit aneh ketika menemukan bukan foto merekalah yang ada di dalam liontin tersebut.

 

“ Mengapa kau malah memasukkan foto Il Jeong disini?”. Sungguh, dia tak mengerti mengapa Kyuhyun melakukan itu. Bukankah kebanyakan lelaki menyimpan fotonya sendiri, atau foto pasangannya di dalam jenis kalung seperti ini?

 

“ Jika kau ingin mengetahui alasannya, itu karena dia yang mengikat kita. Walaupun kutahu Il Jeong tak ada hubungan darah denganku, namun berulang kali aku mengatakan padamu bahwa aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri. Dia yang membuat pernikahan kita terlaksana, dia yang memberi kebahagiaan yang teramat besar karena kehadirannya. Dia sangat berharga untukku, Hye Hoon~ah”.

 

Lelehan cairan tak berwarna itu tak dapat dibendungnya. Betapa dia sangat menyukai fakta bahwa Kyuhyun sangat mencintai anaknya. Dia sangat bersyukur, karena kebaikan hati Kyuhyun membuat Il Jeong tak kehilangan sosok ayah baginya serta dirinya yang tak harus menanggung malu karena memiliki seorang anak tanpa ikatan yang sah dengan seorang pria.

 

Bisakah dia membalas kebaikan hati Kyuhyun suatu saat nanti? Ataukah sampai kapanpun dia tak akan pernah bisa membalasnya?

 

***

 

Grocerry shopping yang dilakukannya bersama Il Jeong berakhir melelahkan. Badannya terasa remuk karena mengejar Il Jeong yang sangat aktif berlari-lari di sepanjang lorong supermarket. Begitu juga dengan mengambil semua makanan ringan kesukaan anaknya itu ke dalam trolly yang didorongnya. Belum lagi, list yang diperlukan untuk keperluan rumahnya sangatlah banyak, mengingat Hye Hoon yang menunda acara bulanannya itu karena menyiapkan kejutan ulang tahun pernikahan.

 

Mengingat kejadian beberapa hari lalu tersebut membuat hatinya berbunga.

 

Il Jeong dengan tanpa bersalahnya duduk santai di kursi penumpang, dengan tangan mungilnya yang menggenggam ice cream yang meleleh di tangannya. Hye Hoon, di sela kegiatannya menyetir berkali-kali mengelap sudut bibir anaknya itu dengan tissue, namun tetap saja terlihat belepotan. Pada akhirnya, dia menyerah dan lebih berkonsentrasi dengan gagang setirnya.

 

Jalanan yang macet membuatnya harus menjalankan mobilnya perlahan. Mereka sudah memasuki kawasan komplek perumahan tempatnya tinggal. Sudah beberapa hari ini dilakukan perbaikan jalan di sekitar rumahnya sehingga membuat Hye Hoon malas untuk keluar rumah.

 

Dia melirik Il Jeong sekilas, hendak membereskan sisa-sisa es krim coklat yang meleleh di wajahnya. Namun, anak lelakinya itu tak mengalihkan pandangannya dari luar jendela. Mata beningnya terfokus kepada sebuah area permainan dengan lahan yang terbilang kecil. Disana terdapat beberapa alat permainan sederhana yang menarik perhatian Il Jeong. Apalagi banyaknya anak kecil yang kurang lebih seusia dengan anaknya itu membuat Hye Hoon sadar jika selama ini Il Jeong tak punya teman sepermainan.

 

Selama ini, teman bermain Il Jeong adalah dirinya, Kyuhyun, ataupun kedua orang tuanya. Il Jeong terlihat sangat iri dengan suasana keakraban yang dibangun di arena bermain itu. Gadis itu melihatnya iba, merasa bahwa dirinya gagal sebagai seorang Ibu. Bisa saja dia memberi banyak mainan untuk anaknya tersebut, namun Il Jeong jauh lebih membutuhkan teman untuk menjadi partner untuk menemaninya bermain.

 

Kaja, kita kesana. Kau mau mencoba permainan-permainan itu kan, sayang?”

 

Il Jeong pun mengangguk dengan semangat. Setelah Hye Hoon memparkirkan mobilnya, dia segera membawa Il Jeong untuk berbaur dengan anak-anak yang berada disana. Kelihatannya anak-anak tersebut juga menyambut Il Jeong dengan sukacita, sehingga mereka mudah akrab.

 

Setelah beberapa lama Il Jeong bermain, Hye Hoon menerima sebuah email yang ternyata berasal dari sekretaris Kyuhyun. Wanita itu memintanya untuk memberikan pendapatnya mengenai proyek baru di perusahaan Kyuhyun, yang kebetulan berhubungan dengan studi yang didalaminya semasa kuliah. Lama dirinya berkutat pada kegiatannya mengetik di smartphone miliknya itu, sebelum kemudian sebuah suara debuman terdengar oleh telinganya.

 

BRUK

 

Hye Hoon merasa kepalanya berputar dengan cepat ketika melihat kejadian di depan matanya. Il Jeong tergeletak tak berdaya dengan cairan pekat yang mengalir di dahinya setelah jatuh dari permukaan salah satu alat permainan yang rubuh. Bulir-bulir air matanya keluar tanpa henti, disertai isakan memilukan yang terucap di bibirnya.

 

“ Il Jeong~ah, buka matamu sayang. Kau harus bertahan demi Eomma, eo?”

 

***

 

Donghae mengamati lorong rumah sakit itu dengan malas. Hye Rin membiarkannya menunggu sendirian karena dia harus ke apotek untuk mendapatkan obatnya, dan Donghae tak boleh masuk kesana. Beberapa menit kemudian ditungguinya, namun wanita itu tak muncul juga. Donghae akhirnya memutuskan untuk ke ruangannya sendiri, tanpa bantuan dari istrinya itu. Untunglah, ruangannya juga berada di lantai yang sama, sehingga dia tak perlu menaiki elevator yang akan membuatnya kesusahan.

 

Dia tertegun ketika seseorang yang sangat dikenalinya tertangkap oleh mata hitamnya. Jantungnya berdetak tak karuan ketika melihat sosok yang dirindunya itu sedang terduduk di bangku yang tersedia di pinggir lorong. Wajah cantiknya menyiratkan kepedihan yang amat dalam, juga terlihat khawatir karena kerutan halus di dahinya mulai terlihat.

 

Dia mengayuh kursi yang mengganti fungsi kakinya itu semakin cepat. Dia ingin menenangkan gadisnya yang terlihat sangat kesakitan. Namun, kayuhan tangannya itu kalah cepat dengan langkah lebar seorang pria yang selama ini dikenalnya. Lelaki itu menarik tubuh Hye Hoon ke dalam pelukannya, yang dibalas oleh gadisnya dengan melingkarkan tangannya di pinggang lelaki itu. Hye Hoon membenamkan wajahnya di dada lelaki itu, membuat hati Donghae kembali mengerang kesakitan.

 

Mata Donghae memanas ketika pemandangan yang terjadi di rumahnya beberapa tahun lalu kembali disaksikannya.

 

Oppa,aku mencarimu kemanapun. Ternyata kau disini?”

 

Donghae tak mendengar dengan apa yang ditanyakan istrinya. Mata lelaki itu masih menuju titik yang sama, dimana Kyuhyun dan istrinya saling berpelukan. Hye Rin melihat objek yang membuat Donghae tak mengedipkan matanya itu, sedetik kemudian dia merasa menyesal.

 

Donghae masih mencintai adiknya. Dia cemburu melihat Hye Hoon berpelukan dengan suaminya.

 

Hye Rin bahkan kehilangan pikiran jernihnya, mengikuti kegiatan suaminya yang mengamati pasangan itu dari jarak yang cukup jauh. Dia bahkan tak mampu untuk menemui adiknya, setelah fakta yang kembali menyakitinya kembali muncul di otaknya.

 

Padahal, dia ingin melupakan semuanya. Tentang affair yang terjalin antara suaminya dan adiknya, serta tentang perasaan cinta yang selalu dipendam suaminya, untuk adiknya juga.

 

Tak lama seorang dokter keluar dari ruangan, yang membuat fokus semua orang teralihkan. Kyuhyun dan istrinya segera menghampiri lelaki berkacamata tersebut. Dokter menjelaskan beberapa hal, yang berkaitan dengan hal yang dialami Il Jeong, serta keadaannya yang masih terbilang kritis sekarang.

 

“ Pasien kehilangan banyak darah. Dan sayang sekali, kebetulan persediaan golongan darah yang sama dengannya di rumah sakit ini habis, sama halnya dengan yang ada di red cross. Adakah dari keluarga yang mempunyai golongan darah AB negatif, yang sama dengannya?”

 

Kyuhyun menggeleng pelan dengan raut wajah menyesal, sedangkan Hye Hoon kembali larut dalam tangisannya. Berkali-kali dia menyalahkan dirinya sendiri, karena musibah yang menimpanya diakibatkan oleh kelalaiannya sendiri. Apalagi, saat ini rasa bersalahnya bertambah ratusan kali lipat karena dia tak bisa membantu mendonorkan darahnya, karena golongan darah mereka berbeda.

 

“ Aku mempunyai golongan darah yang sama dengannya, Uisanim. Kau bisa mengambil darahku sebanyak apapun yang kalian butuhkan”.

 

Suara itu seakan menjadi penyejuk baginya. Disaat dia sudah putus asa, kehilangan harapan untuk menyembuhkan anaknya, orang yang memberikan asa baru baginya itu muncul. Hye Hoon melepaskan rangkulan Kyuhyun di pinggangnya. Matanya yang berair mencari ke arah seorang lelaki yang menjadi malaikat penolong bagi anak tunggalnya, seketika merasa tubuhnya kaku ketika mengetahui orang tersebut tak lain adalah kakak iparnya.

 

“ Donghae Oppa?”

 

***

 

Akhirnya part 2!!! Udah cukup panjangkah? Apa masih kurang?

Mau curhat dikit nih, aku bikinnya sampe pagi buta, terus pas mau editing tiba2 tangan aku kram eh enggak deh kesemutan tapi lama banget aneh kan huhu

Oke, next part pasti bakalan seru sih menurut aku. Hye Hoon yang labil akan kembali -__-

Aku udah menuhin permintaan kalian buat bikin Kyuhyun bahagia disini, semoga memuaskan

Thanks yang masih support ini fanfic yang udah kayak sinetron aja ceritanya. Apalagi part akhirnya, sinetron banget itu -_- tapi teteplah, ff ini yang paling aku suka hahahaha /ketawagaje/ /abaikan/

 

57 thoughts on “Sequel Of My Sister’s Husband-Losing You (Take 2)

  1. Kyu dsni miris bgt yah..kyuu bertahan la hbis gelap terbit la terang kyuuuu..
    Hyehoon jd ngecewain kyu trus..ntr nyesel..bayangin dri SD kyu mendem perasaan ..😭😭😭😭

  2. Greget bgt bacanya, si hye hoon juga udah 4 thn kurang bisa hargain pengorbanan suamianya, kyuhyun.. rasanya itu gimana gitu kurang apa coba tuh si kyuhyun

  3. wh miris bgt ya khdupan donghae n istrinya… mnrutku ttp donghaelah yg slh,dy pntas mndptkn hkuman dr kslhannya di masa lalu…
    mlah anaknya yg jdi korban…smg bs terselamatkan…

  4. Ikut ngerasaim apa yg Kyuhyun rasain, takut Hye Hoon kembali ke Donghae. Hye Hoon yang labil akan kembali, berarti Kyuhyun harus lebih kuat.

  5. Di part inipun kyuhyun disakiti lagi aduh udh apa si kyuhyun tinggalin hye hoon biar dia nyadar klo skrng yg dicintainya itu si kyuhyun dan aku kasian juga sih sma hyerin 😭

  6. marathon baca ff ini mulai dari my sister husband smpe losing you.mata udah panas antara pengen nangis sma ngantuk.tapi ceritanya keren bikin penasaran.walau sdikit ala-ala sinetron kyak kata author :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s