Sequel Of My Sister’s Husband-Losing You (Take 1)


 

 

 

Untuk paragraf yang dicetak miring, berarti flashback. Happy reading^^

 

Daun-daun yang satu persatu mulai berguguran dari dahan yang mengering, jatuh ke tanah karena pohon yang kehilangan asupan energinya. Pohon tersebut menggugurkan daunnya untuk mempertahankan kehidupannya. Mereka harus rela kehilangan daun, yang merupakan anggota tubuh mereka yang paling berharga karena telah menjadi sumber kehidupan mereka, agar dapat bertahan hidup dan tak musnah.

 

Musim gugur telah dimulai. Sangat banyak orang yang menyukai musim gugur seperti ini. Buktinya, mereka berbondong-bondong keluar dari tempat peristirahatannya, menuju taman-taman yang terletak di sekitar kota. Walaupun cuaca masih terasa dingin, tetapi mereka seakan tidak takut dengan hawa dingin yang menerpa kulit mereka. Mereka justru lebih menikmati suasana matahari yang sedikit menjadi penghangat dalam tubuh mereka, walaupun panas dari bintang berukuran besar itu tak cukup mengimbangi angin yang berhembus begitu kencang, membuat daun-daun yang berteteran itu tersapu, terbawa olehnya.

 

Keluarga kecil itu tidak seperti orang-orang di luar sana, dan lebih memilih untuk menikmati musim yang mereka sukai itu dari taman kecil di belakang rumahnya, menikmati kebersamaan yang selalu mereka rajut bersama.

 

Seorang anak laki-laki sedang berlari-lari mengejar bola yang dilemparkan oleh pria dewasa yang berada di hadapannya. Kaki kecilnya berpacu, mengimbangi laju benda bundar tersebut. Pria dewasa itu memberi si anak semangat dengan menepukkan kedua tangannya, dengan senyum lebar yang tak pernah lepas dari wajahnya.

 

Seorang wanita muda yang terletak tak jauh dari tempat itu, memperhatikan tingkah kedua lelaki itu dengan pikirannya yang melayang. Setiap kali melihat rupa anaknya, Cho Il Jeong, perasaannya selalu tak karuan seperti ini. Karena wajah milik anaknya itu, selalu mengingatkannya kepada seseorang yang selalu dirindunya.

 

Di satu sisi, dia merasa senang karena Tuhan mengabulkan pintanya. Mata anak lelaki itu sama persis dengan mata ayahnya. Mata yang tajam, sendu, dan selalu bisa menenangkan hatinya. Namun, di sisi lain, dia merasa anugerah itu merupakan suatu beban baginya, karena dirinya menjadi lebih sering untuk mengingat lelaki itu.

 

“ Sayang, sepertinya Il Jeong sudah kelelahan. Kita masuk?”

 

Hye Hoon kembali ke dunia nyatanya setelah mendengar seruan itu. Wanita itu segera menegakkan tubuhnya, menyambut Il Jeong yang mengulurkan kedua tangannya, berontak dari dekapan lelaki yang sedang menggendongnya. Kyuhyun tersenyum kecil, dan segera membiarkan tubuh mungil itu berada pada pangkuan ibunya. Tak lama kemudian, tangan besar lelaki itu menuntun bahu Hye Hoon memasuki rumah mereka.

 

***

 

Setelah sore hari tiba, mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu di ruang keluarga. Il Jeon, seperti biasanya, tak pernah bisa diam barang sedetik pun, membuat kedua orang tuanya menggeleng-gelengkan kepala mereka saat melihat anak kecil itu berlari-lari mengelilingi ruangan dengan helikopter mainan yang diangkatnya ke udara.

 

Kyuhyun dan istrinya tetap mengawasi anak lelakinya itu dari atas karpet yang diduduki mereka. Tangan kokoh milik lelaki itu merengkuh tubuh istrinya dari belakang, mengeratkan tubuhnya pada sweater yang dikenakan gadis itu.

 

“ Kyu, aku…ingin memberitahukan sesuatu padamu”, ujar wanita itu lirih. Ya, setelah beberapa tahun menikah pun Hye Hoon tetap memanggil nama tengah lelaki itu, seperti yang biasa dilakukannya dari semasa muda mereka dulu. Kyuhyun tak keberatan, karena menganggap panggilan itu terdengar special, karena hanya gadis itu yang menyapanya dengan sebutan itu.

 

Kyuhyun melirik Il Jeong sekilas, sebelum kemudian menempatkan dagunya di bahu gadisnya. Alisnya bertaut yang membuat wajah tampannya mengerut halus. Terlihat jika dia sungguh penasaran hal apa yang membuat nada bicara istrinya itu seserius ini.

 

“ Apa ada yang mengganggumu? Katakan padaku, sayang”.

 

Helaan nafas terdengar, membuat Kyuhyun menyadari jika benar-benar ada sesuatu hal yang mengganggu istrinya. “ Aku tidak hamil. Dokter Kim sudah memberitahukan padaku kemarin jika hasil check-up milikku tertukar dengan milik pasiennya yang lain. Kyu, kau tidak marah padaku, kan? Aku…takut jika kau kecewa dengan kenyataan ini”.

 

Kyuhyun merasakan suara Hye Hoon semakin bergetar, ketika dia mengungkapkan kecemasannya. Gadis itu tahu, betapa Kyuhyun ingin memiliki anak darinya. Dan Hye Hoon tak rela, karena dia harus menukar tawa bahagia yang keluar dari bibir suaminya digantikan oleh senyuman getir yang melindungi perasaan kecewa yang dirasakannya.

 

“ Lupakan saja, sayang. Mungkin itu memang belum waktunya. Aku bisa membuatmu hamil kapanpun aku mau, eo?”

 

Bahu gadis itu bergetar, membuat Kyuhyun semakin menyisir jarak diantara keduanya. Gadis itu pasti terpukul mendengar berita ini. Dan Kyuhyun tak habis pikir, mengapa Hye Hoon selalu memendam semuanya sendirian.

 

“ Uljima, sayang. Kau tak mau Il Jeong melihatmu menangis, kan?” . Kyuhyun melirik jagoan kecil mereka itu sekilas, bibirnya bergumam lega karena anak itu sedang asyik pada hot weels yang baru dibelinya.

 

“ Lagipula, bukankah besok kau akan mengantarkan Jeongie ke rumah Eomeonim? Kita bisa berusaha untuk mempunyai anak lagi, bagaimana?”

 

Hye Hoon memukul pelan lengan suaminya, melampiaskan rasa kesal yang dirasanya karena perkataan jahil yang dilontarkan Kyuhyun. Pipinya merona merah, mengulangi respon yang sama saat gadis itu menyadari jika dia telah jatuh pada pesona suaminya itu.

 

Sementara itu, Il Jeong yang mendengar namanya disebut segera berlari kecil menghampiri kedua orang tuanya. Dengan gerakan singkat, Hye Hoon menghapus cairan yang mengalir di pipinya dan segera menetralkan suaranya yang serak. Dia tak mau Il Jeong menyadari ada sesuatu yang berbeda dengannya

 

“ Ada apa, sayang? Kau jangan berlari seperti itu. Bagaimana jika kau jatuh, hmm? Kau harus lebih hati-hati, Jeongi~ya”.

 

“ Ne, Eomma. Mianhae. Eomma, besok Jeongie menginap di rumah Halmeoni, kan?”

 

Kyuhyun pun mengacak rambut anak lelakinya itu pelan. Mendengar suara jernih Il Jeong selalu bisa membuat suasana hatinya nyaman. Dan untuk sesaat, dia bisa melupakan masalah anak yang menjadi sumber kesedihannya beberapa menit lalu. Dia sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang, tetapi anak keduanya kelak mungkin akan menyempurnakan kebahagiaan keluarga kecil itu.

 

“ Iya, sayang. Jadi, hari ini kau harus tidur cepat, arachi? Besok pagi kita akan berangkat”.

 

Il Jeong pun melompat kegirangan serta cepat-cepat menarik tangan Ibunya untuk segera masuk ke kamarnya. Kyuhyun pun tersenyum geli melihat tingkah Il Jeong yang terlihat sangat antusias jika mengunjungi rumah neneknya. Pantas saja, karena Nyonya Choi akan lebih memanjakan anak itu dibandingkan dengan orang tuanya sendiri. Neneknya itu pasti akan menuruti apapun keinginan dari Il Jeong, membuat Kyuhyun menggeleng pelan menyadari jika anak itu pasti akan mempunyai sifat manja yang diturunkan Ibunya.

 

***

 

Hye Hoon berteriak ketakutan ketika Il Jeong berlari kencang menggunakan kaki-kaki kecilnya itu. Lalu, dia mendesah lega ketika melihat anaknya itu telah pindah ke pangkuan Eommanya. Nyonya Choi menggendongnya dengan penuh kasih sayang, lantas masuk ke dalam rumah megahnya itu. Hye Hoon hanya bisa tersenyum sambil mengangkat kantong kecil yang berada di genggamannya, mengetahui fakta bahwa Ibunya sudah lupa untuk menyapanya.

 

Tak lama, suara tawa terdengar di ruang keluarga mansion yang dimiliki Tuan Choi itu. Kehangatan yang selama ini didambanya, justru hadir karena seorang anak yang dulu ditentang keberadaannya. Mereka tak pernah mengungkit masa lalu yang terjadi, menutup mulut rapat-rapat dan mencoba melupakan kenangan pahit yang menimpa keluarga mereka dulu.

 

Canda tawa itu seolah tertarik, saat seseorang dengan penampilan lesunya berjalan melewati ruang keluarga. Il Jeong yang terlihat kebingungan pun diculik kakeknya menuju taman belakang, meninggalkan hanya Hye Hoon dan Eommanya di ruangan itu.

 

Suasana pun menjadi tegang. Hye Hoon tahu, ada sesuatu yang ingin disampaikan Eommanya kepada dirinya. Ini semua pasti tentang kakaknya, pikirnya. Dan tentu saja, jika itu berhubungan dengan kakaknya, maka akan berhubungan dengan seseorang lainnya, yakni suami dari kakaknya.

 

“ Hye Rin berencana untuk memindahkan Donghae ke Jerman. Dia ingin suaminya menjalani pengobatan disana”.

 

Satu-persatu kata yang diucapkan Eommanya pun diresapinya. Dia tak mau menangkap maksud yang salah dari perkataan Ibunya tersebut. Gadis itu pun menggigit bibir bawahnya, merasakan dadanya seakan terhimpit oleh batu besar sehingga dia kesulitan menghirup udara di sekitarnya. Kalimat itu seakan membuatnya mati perlahan memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

 

Sebelum dia dapat bereaksi apapun, Eommanya menambahkan lagi. “ Eomma tak pernah setuju dengan rencana itu. Eomma tak mau Hye Rin lebih lama lagi menggantungkan hidupnya pada lelaki itu. Sudah empat tahun berlalu, Hye Hoon~ah. Seharusnya, Hye Rin merelakan Donghae agar kakakmu itu dapat merasakan kebahagiaan seperti yang kau rasakan”.

 

Hye Hoon membeku mencerna setiap kalimat-kalimat yang terdengar di telinganya. Otak gadis itu membenarkan apa yang dikatakan oleh Eommanya, tetapi hati kecilnya tidak. Cairan tak berwarna itu meleleh begitu saja ketika mengingat seperti apa keadaan lelaki itu sekarang. Sungguh, hatinya merasa sangat sakit saat melihat lelaki itu terbaring lemah dengan selang yang menempel di tubuhnya.

 

Banyak pengandaian yang muncul di pikirannya. Bagaimana jika dulu Donghae tak pernah memaksa untuk bertemu dengannya? Bagaimana jika Hye Hoon menerima ajakan Donghae untuk kembali bersama ? Bagaimana jika saat itu dia datang ketika lelaki itu memintanya?

 

Dia tidak akan berakhir dengan kondisi seperti itu. Demi apapun, Hye Hoon lebih memilih dirinya yang menderita, dibandingkan melihat orang yang dicintainya terluka. Ditambah dengan rasa sakit yang selalu diterima kakaknya, yang selama ini dengan setia menjaga suaminya dengan harapannya jika suatu saat suaminya akan bangun dari tidur panjangnya.

 

“ Tolong bujuk Hye Rin untuk membatalkan rencananya ini. Eomma tak mungkin membiarkan dia sendiri disana untuk mengurus Donghae. Tolong Eomma, Hye Hoon~ah”

 

Hye Hoon menyanggupi permohonan Nyonya Choi dengan anggukan kepalanya, dengan hatinya yang berdebat untuk siapa sebenarnya hal ini dilakukannya. Karena permintaan Ibunya? Jelas hal ini tidak mempengaruhi, ada yang lebih penting untuk sekedar memenuhi keinginan Ibunya.

 

Bukan demi Ibunya, demi kakaknya, ataupun demi keluarganya. Hye Hoon melakukan ini demi dirinya sendiri. Dia tak mau berpisah dengan raga yang masih utuh yang dimiliki lelaki itu. Dia tak mau menghapus kegiatan rutinnya yang diam-diam menyambangi ruangan rawat Donghae tanpa siapapun mengetahuinya.

 

“ Eonnie ada di kamarnya, kan? Aku akan menemuinya, Eomma”.

 

***

Hye Rin memicingkan matanya, menajamkan penglihatannya ketika melihat siapa orang yang masuk ke kamarnya. Tadi, dia sempat melihat adiknya, yang membawa serta anak lelakinya itu sedang bercengkrama dengan kedua orang tuanya. Gelak tawa mereka membuatnya meringis, membuat langkahnya semakin berat karena sakit yang menusuk di palung hatinya.

 

Beberapa tahun ini, Hye Rin sedikit menjauh dari keluarganya. Dia pun sangat keberatan saat orang tuanya memutuskan untuk memboyongnya kembali ke rumahnya. Wanita itu hanya merasa bersalah atas keadaan yang menimpa keluarganya yang disebabkan dirinya sendiri. Rasa bersalah yang terkungkung di dadanya seolah semakin bertumpuk, membuat dia tak bisa menegakkan kepalanya di depan kerabat terdekatnya.

 

Terutama di hadapan adiknya.

 

Wanita itu menghentikan gerakannya yang sedang membereskan pakaian-pakaian miliknya. Bangkit dari posisinya dan segera berdiri tegak, mengisyaratkan Hye Hoon untuk memasuki ruangannya. Adik kandungnya pun menurut, menghampirinya yang berdiri di ujung ranjang dengan memberikan pelukan hangat padanya.

 

Hye Rin tak bisa membendung air matanya saat dia mendekap erat tubuh gadis yang sejak masa kanak-kanak dikenalnya, gadis manja yang selalu merengek meminta mainannya justru malah memberikan kebahagiaan yang tak terperi untuknya. Gadis itu bahkan rela mengorbankan seseorang yang paling berarti di hidupnya, hanya semata demi kebahagiannya.

 

Dan dia egois untuk menerima semua pengorbanan yang dilakukan gadis itu.

 

“ Eonnie, aku yakin kau orang yang tegar. Bersabarlah, Eonnie~ya. Sebentar lagi, Donghae Oppa pasti akan kembali untukmu”.

 

Nada lirih yang disampaikan gadis itu membuat dirinya tersadar, jika mungkin rasa takut kehilangan dari gadis itu justru lebih besar daripada rasa takutnya sendiri. Dia tahu, seberapa besar rasa cinta yang dimiliki adiknya untuk seseorang yang dicintainya itu. Begitu pun sebaliknya. Hye Rin baru menyadari, jika rasa cinta yang dimilikinya untuk Donghae itu terlalu besar, namun terselip obsesi yang sepadan yang menjadi pelengkapnya.

 

Hye Hoon menghembuskan nafasnya berulang kali, merasakan canggung saat dia duduk di samping Hye Rin. Gadis itu gugup, saat mengetahui jika kakaknya sedang menatapnya lamat, mungkin menunggu Hye Hoon untuk mengungkapkan alasannya datang ke ruangan pribadi kakaknya.

 

Batinnya berperang, di satu sisi dia ingin Donghae tetap berada di Korea, tetapi di sisi lain, dia takut jika Hye Rin marah padanya karena dia dengan lancang mencampuri urusan rumah tangga mereka. Hye Hoon tahu pasti, jika Donghae bukan miliknya. Dan menyadari kenyataan itu, dirinya merasakan sakit di salah satu sudut di hatinya.

 

“ Eonnie, benarkah kau akan membawa Donghae Oppa berobat ke Jerman?”

 

“ Hmm iya. Kau tahu darimana? Eomma memberitahumu?”

 

Hye Hoon merespon pertanyaan gadis cantik itu dengan menganggukkan kepalanya ragu. Beberapa waktu kemudian, hanya kebisuan yang memenuhi seluruh penjuru ruangan. Hye Rin, yang belum mengerti arah pembicaraan Hye Hoon hanya bisa mengatupkan bibirnya, tak tahu harus memulai membincangkan perihal apa yang membuat suasana tegang diantara keduanya segera mencair. Sedangkan Hye Hoon sedang mempersiapkan keberaniannya untuk mengutarakan apa maksud yang ingin dicapainya. Setelah beberapa saat berlalu, akhirnya gadis itu membuka suaranya juga.

 

“ Eonnie, Bisakah kau membatalkan rencana itu? Eomma, dia tak setuju dengan keputusanmu, Eonnie~ya. Dia khawatir jika membiarkanmu sendirian disana. Dan aku, aku juga tak mau kau bertindak seperti itu, Eonnie~ya. Kurasa pengobatan di Korea pun tak beda jauh dengan pengobatan disana. Aku mohon, pikirkan kembali semuanya, Eonnie~ya”.

 

“ Apa ada alasan lain darimu?”, sinis Hye Rin. Entah mengapa jika melihat Hye Hoon memperhatikan Donghae, wanita itu selalu merasakan rasa cemburu yang melebihi kadar biasa. Tanpa disadarinya pun, pertanyaan dingin itu ditanyakannya kepada Hye Hoon, membuat gadis yang ditanyainya melonjak kaget.

 

“ Eonnie~ya, jangan salah paham. Aku….”

 

“ Aku sering memergokimu saat mengunjunginya, Hye Hoon~ah. Aku tahu jika kau masih peduli padanya, masih memperhatikannya dan masih mencintainya”.

 

Hye Rin berbisik lirih, karena pita suaranya seakan terputus saat kata-kata itu terlontar dari bibirnya. Dia merasa ada sesuatu yang membuat hatinya menganga, seakan sebuah lubang besar ada diantaranya. Sakit, ringisnya. Rasanya terasa sakit saat terkaannya itu justru menjadi fakta.

 

Mereka saling mencintai, dan selamanya pun begitu.

 

Sebanyak apapun cinta atau pengorbanan yang diberikan Kyuhyun maupun dirinya, tak akan ada yang bisa menghapus cinta yang bersemi diantara keduanya. Mungkin mereka selalu bersikap baik-baik saja tanpa satu sama lain di hadapan semua orang, dan menyimpan semua kegundahannya di hati mereka masing-masing.

 

“ Aku tidak akan membawanya jika kau memintaku untuk itu, Hye Hoon~ah. Aku tak akan menjadi orang yang egois lagi kali ini. Mungkin Donghae Oppa juga membutuhkan orang-orang yang disayanginya, termasuk kau”.

 

***

 

Kyuhyun menyambut istrinya dengan sukacita saat dia melihat sosok gadis itu masuk ke kamar mereka. Wajah gadisnya terlihat lesu, membuat rasa khawatir yang berlebihan yang tiba-tiba menyergapnya. Dia menghiraukan pikiran buruknya sejenak ketika melihat seulas senyum yang ditujukan padanya saat mata mereka bertemu. Tentu saja, Kyuhyun membalasnya dengan senyuman lebar yang membuatnya jauh lebih tampan.

 

“ Kelelahan, sayang? Mau kubuatkan teh hangat?”

 

Hye Hoon menggeleng lemah, segera berbaring di samping suaminya tanpa mengganti dress santai yang sejak tadi digunakannya. Sepertinya dia kelelahan karena menyetir sendiri selama kurang lebih tiga puluh menit, karena Kyuhyun yang tiba-tiba harus meninjau salah satu pabriknya tak bisa mengantarnya ke rumah yang ditempatinya sejak kecil itu.

 

Kyuhyun merebahkan badannya, membiarkan dada bidangnya menjadi alas kepala bagi Hye Hoon. Hye Hoon pun tak memberikan komentar, melingkarkan tangannya di perut suaminya itu. Kyuhyun semakin merapatkan tubuh mereka, menyalurkan kehangatan yang didapatnya kepada tubuh gadisnya yang terasa dingin.

 

“ Kau terlihat pucat. Ada sesuatu yang kau pikirkan?”

 

Hye Hoon menangkap nada kekhawatiran dari pertanyaan Kyuhyun tadi, seperti biasanya. Gadis itu pun tak berniat untuk berbohong kepada lelaki itu, karena dia benar-benar butuh tempat untuk mencurahkan isi hatinya sekarang.

 

“ Kyuhyun~ah, aku merindukannya. Mengapa rasa ini tak pernah hilang? Mengapa dadaku merasa sesak ketika mengetahui bahwa aku tak bisa berada di sampingnya, bukan seseorang yang bisa merawatnya, dan bukan pula menjadi alasan untuknya hidup? Aku bahkan merasakan sakit yang luar biasa saat mengetahui jika ada gadis lain yang mencintainya lebih dari apapun, Kyuhyun~ah. Aku iri pada wanita itu, yang bisa dengan terang-terangan memberikan perhatian pada orang yang dicintainya”.

 

Kyuhyun memejamkan matanya, merasakan paku-paku kecil yang menusuk setiap ruang di hatinya. Sungguh, rasanya terlalu sakit. Dia ingin menulikan telinganya sendiri saat suara indah itu mengalunkan lagu sedih tentang kisah cintanya. Hatinya berteriak marah, namun perlakuannya malah melakukan hal yang sebaliknya. Dia mengelus rambut gadis itu lembut, memberikan ketenangan di setiap sentuhannya. Tak disangka, hal itu justru menimbulkan isak tangis yang nyata yang bergetar di dada bidangnya.

 

“ Ssshh.. Aku yakin suatu saat nanti kau bisa melakukannya, Hoon~ah. Kakakmu itu, nanti pasti akan memberikan pengertian dan kerelaan agar kalian bisa bersama”.

 

Kyuhyun menggigit lidahnya sendiri, memberi hukuman kepada indera pengecapnya yang lancang memberikan harapan yang akan membuat dirinya sendiri terluka. Namun, itulah kenyataannya. Kapanpun, dia harus siap untuk kehilangan istrinya. Walaupun setiap saat Hye Hoon selalu mencoba menjadi istri yang baik untuknya, dan mulai belajar untuk mencintainya, namun Kyuhyun tahu jika itu semua tak akan mengubah perasaannya terhadap Lee Donghae.

 

Sebaik apapun perlakuan Kyuhyun, sama seperti dulu, dia hanyalah orang kedua bagi gadis itu. Kyuhyun pun tak berharap lebih, jika pernikahan mereka selama beberapa tahun ini mengubah perasaan gadis itu. Seakan bisa membaca isi hati Hye Hoon, lelaki itu mengetahui jika apa yang dirasakan Hye Hoon padanya lebih dari rasa sayang seorang sahabat. Tetapi, rasa itu masih sangat kecil, dan tentu saja dirinya tahu siapa yang mendapat tempat mayoritas di hati gadisnya itu.

 

Kyuhyun menghapus butiran keringat yang membasahi dahi gadisnya. Dia menatap wajah gadis itu lekat, menemukan bahwa gadis itu masih membawa semua perasaannya ke dalam alam bawah sadarnya. Tidurnya tak begitu lelap, seperti biasanya.

 

Sudah empat tahun semenjak kejadian itu, Hye Hoon seringkali terbangun larut malam. Dia selalu mendapat mimpi buruk setiap malamnya. Dan mimpi yang dialami gadis itu pun selalu sama.

 

Dia bermimpi jika Lee Donghae, orang yang dicintainya, meninggalkannya.

 

Kyuhyun, seperti sejak dulu, selalu berpura-pura tak tahu apa-apa. Hye Hoon selalu berkata bahwa tak ada yang terjadi padanya. Tetapi justru perkataan di alam bawah sadarnya itu yang memberitahukan segalanya.

 

Kyuhyun memegang dadanya kali ini, menahan rasa sakit yang seolah membunuhnya perlahan. Rasa yang tak akan pernah hilang ditelan waktu, rasa cintanya pada gadis itu dan kepedihannya karena menyadari bahwa bukan dirinya yang dipilih gadis itu untuk dicintainya.

 

Haruskah selamanya seperti ini? Bisakah Tuhan membiarkan Lee Donghae hidup kembali, agar gadis yang dicintainya bisa merasa bahagia?

 

***

 

Semuanya kembali seperti biasanya. Hye Rin sudah kembali ke rumah semenjak tiga minggu lalu dan menjalani kehidupannya sebagai istri seperti biasanya.

 

Tetapi semuanya terasa berbeda.

 

Dia sekarang bisa mengetahui mengapa suaminya sering berada dalam dunianya sendiri, mengapa suaminya hanya memancarkan tatapan nanar setiap harinya, mengapa suaminya itu tidak pernah terlihat bahagia sedikitpun ketika sedang bersamanya.

 

Dia sangat tersiksa dengan semua itu. Ternyata, melihat orang yang sangat dicintainya menderita, lebih parah daripada membiarkan dirinya sendiri yang merasakan penderitaan itu.

 

Dan hari ini, dia bertekad akan menyelesaikan semuanya. Bukankah semua ini terjadi karena dirinya?

 

Setelah hal ini terjadi, dia tidak tahu apa yang terjadi padanya. Tetapi untuk sekarang dia lebih mementingkan perasaan orang-orang yang sangat menyayanginya. Biarlah sekarang giliran dia yang berkorban demi kedua orang yang paling dicintainya di dunia ini.

Hye Rin mendengar suara decitan pintu yang bergesekan dengan lantai. Dia mengusap pipinya yang basah karena air mata yang entah kapan keluar dari sudut matanya.

 

“ Oppa, kau sudah pulang?”

 

Seperti biasanya, Donghae hanya diam dan tidak memperdulikannya. Lelaki itu membuka jas yang dikenakannya itu sendiri, tanpa menoleh sedikitpun kepadanya.

 

Kemana sosok Donghae yang sangat mengkhawatirkannya saat di rumah sakit? Donghae yang tak pernah beranjak dari sisinya, Donghae yang selalu mengkhawatirkan keadaanya, Donghae yang …

 

Ah, dia lupa. Bagaimana bisa dia melupakan kata ‘rasa bersalah’ yang membuat sikap lelaki itu berubah padanya, ringisnya.

 

Hye Rin menghampiri suaminya, memegang kedua tangan suaminya itu, sedikit memaksa lelaki itu untuk membalas tatapannya. Seperti sebelumnya, hanya tatapan kosong yang didapatnya di mata hitam Donghae. Hatinya seakan remuk, merasakan tak ada cinta sedikitpun dari lelaki itu untuknya

Perlahan gadis itu menghirup nafasnya dalam-dalam, mengumpulkan keberanian yang dibangunnya sejak lama. Keberanian untuk mengungkapkan semuanya, tanpa terkecuali. Dia tahu apa yang menjadi resikonya, sehingga dia sengaja untuk memperlambat moment ini agar tekadnya yang kuat itu akan luntur dengan sendirinya. Namun, sepertinya dia tak bisa menunggu lama lagi, saat melihat tatapan tak sabar yang dipancarkan mata indah itu padanya

 

“ Aku….aku sudah mengingat semuanya”.

 

Diam. Donghae tidak memberikan respon apapun, membuat Hye Rin melanjutkan apa yang ingin diucapkannya, sambil menahan isak tangis yang sangat ingin keluar dari bibirnya.

 

“ Kau dan Hye Hoon…aku…..semua salahku…”

 

Hye Rin mengeluarkan kata-kata dari mulutnya dengan suara tersendat. Dia tidak sanggup mengatakannya lagi. Terlalu banyak perasaan yang berkecamuk di dadanya, membuat lidahnya kelu dan tenggorokannya mencekat. Pita suaranya pun seakan keluar dari tempatnya, sehingga dia berbicara seperti layaknya seorang tuna wicara.

 

Donghae terperangah mendengar penuturan istrinya itu. Dia tak menyangka, secepat ini Hye Rin mengingat semuanya. Tetapi dia menyembunyikan semua keterkejutannya itu dengan sikap dingin dan tak pedulinya.

 

Hye Rin melanjutkan kalimat yang akan diucapkannya, seusai dia menghentikan isak tangis dari bibirnya. Jantungnya berdetak lebih kencang, ketakutan dengan apa yang akan menimpanya nanti.

 

“ Dan sekarang…..kurasa aku tidak boleh menyakiti kalian berdua lebih dalam lagi. Walaupun semuanya terlambat, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali, kan?”

 

Donghae sangat tertarik dengan topik yang dibicarakan gadis di hadapannya itu. Dia berkata dalam hatinya sendiri. Mungkinkah? Kemudian, tak lama indera pengecapnya memastikan

 

“ Apa maksudmu?”

 

Hye Rin menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Air matanya masih mengalir di pipinya. Dia menatap mata teduh suaminya itu intens, lalu mengumpulkan semua sisa tenaga yang seakan hilang secara serentak dari tubuhnya.

 

“ Aku…..akan melepasmu. Aku menunggu surat cerai darimu. Mulai sekarang, aku akan pergi dari rumah ini. Dan untuk anak yang aku kandung, aku yang akan mengurusnya sendiri”.

 

Donghae terkejut bukan main dengan semua kalimat yang dilontarkan gadis dihadapannya itu. Setitik cahaya kebahagiaan mulai tampak dalam kehidupannya. Selanjutnya dia tahu, titik kebahagiaan itu akan menyebar menjadi ruang yang tak terhingga batasnya.

 

Akhirnya, dia dapat menemukan semua kebahagiaan dalam hidupnya. Dia…bisa memiliki wanita yang dicintainya. Seutuhnya.

 

***

 

Melepaskannya, itu adalah rencana yang semula dibuat Hye Rin untuk memberikan bagian terpenting dalam hidup suaminya. Semua itu lenyap begitu saja ketika Hye Rin seakan diberi kesempatan kedua dalam hidupnya. Wanita itu sama sekali tak pernah menyiakan kesempatan itu, sebelum kemudian kenyataan itu menimpanya lagi.

 

Dia harus melepas Donghae untuk kali kedua.

 

Dari balik tirai ruangan VVIP rumah sakit terbagus di Seoul, dia melihat pemandangan yang menusuk matanya. Indera penglihatannya mulai mengabur, karena percikan air mata yang seakan tak henti keluar dari tubuhnya.

 

Jika dulu adiknya melakukan hal ini dalam diam, berharap tak ada seorang pun yang mengetahuinya –walaupun Hye Rin seringkali memergokinya- sekarang wanita itu yang mengizinkan Hye Hoon untuk berduaan dengan suaminya.

 

Dokter pernah mengatakan padanya, jika kesembuhan Donghae bukanlah sesuatu hal yang tidak mungkin. Dan hal yang paling penting dalam membantunya pulih adalah keinginan dirinya sendiri untuk sembuh, dan salah satu faktor penunjang agar pengobatan dengan cara itu berhasil adalah dorongan yang kuat dari orang-orang terkasihnya.

 

Hye Rin merasakan setiap goresan luka, ketika Hye Hoon beberapa kali membelai wajah suaminya dengan penuh rasa kasih sayang. Sesekali gadis itu tertawa getir dengan percakapan satu arahnya, seakan mencoba menghidupkan suasana canggung yang dilaluinya bersama lelaki yang sedang tak sadarkan diri itu.

 

Air matanya semakin mengucur deras, bahkan tak pernah habis setelah kesekian kalinya dia mengusap cairan itu dengan punggung tangannya. Dia memukul dadanya berulang kali, mencoba melenyapkan rasa sakit yang menderanya. Sedetik kemudian sendinya terasa kaku, saat melihat pergerakan bibir Hye Hoon yang mengucapkan suatu kata yang dia sendiri tak tahu apa artinya.

 

“ Aku mencintaimu…sangat mencintaimu, Donghae Oppa”.

 

Gadis itu memilih untuk menghentikan kegiatan tak biasa yang dilakukannya, menyeka pipinya yang basah dan menetralkan nafasnya yang tak beraturan. Kata-kata itu semakin meyakinkannya bahwa tak ada ruang sedikitpun untuk perasaannya berlabuh, karena sampai batas waktu kapanpun dia tak bisa menggantikan posisi Hye Hoon di hati Donghae. Dengan pengakuan gamblang adiknya kali ini, Hye Rin semakin yakin jika itu tak ada bedanya dengan apa yang terjadi dengan hati Choi Hye Hoon.

 

Derap langkah beberapa pasang kaki yang tergesa membuat kepalanya yang semula tertunduk menolehkan arah pandangnya kepada beberapa orang berpakaian serba putih itu. Dia mengernyit heran, ketika dilihatnya para dokter dan perawat itu menuju ke ruangan yang sama, yakni ruangan yang ditempati suaminya.

 

Beberapa perawat yang berjalan cepat di belakang dokter itu berbisik, membicarakan tentang hal apa yang terjadi sehingga banyak dokter unggulan yang sepertinya ditugaskan untuk memeriksa keadaan pasien yang bertahun-tahun ditangani di rumah sakit itu.

 

“ Jemari tangan Tuan Lee akhirnya mulai bergerak, dan sepertinya, kondisinya akan semakin membaik dan semoga dia akan segera sadar dari komanya ”.

 

Cairan bening itu pun kembali muncul ke permukaan, mengotori wajah cantiknya yang pucat. Akhirnya, penantiannya selama ini berbuah hasil. Semua pengorbanan dan pengabdian yang dilakukannya tak sia-sia. Waktu yang ditunggunya akhirnya tiba.

 

Tapi…

 

Apakah waktu empat tahun yang dilakukannya untuk lelaki itu, tak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan satu jam waktu yang dilakukan Hye Hoon terhadap suaminya?

 

It’s hurts. It’s hurts too much.

 

***

 

42 thoughts on “Sequel Of My Sister’s Husband-Losing You (Take 1)

  1. Bingung mo blg ap yah sm hub ni, ga ad yg bs d slhkan krn mreka msg2 ttp brtahan sm cintany, mgkn kl dr awal hyerin mngalah hnya dia n kyu yg skt. Kl skrg kan 4 org yg skt krn cinta :(

  2. Kirain hyehoon udh bisa nglupain donghae..tp ssh mmg ngulapain cinta prtma aplg kmrin pisah ny d pksa olh org lain bkn kemauan sendri..
    Tp donghae tega yah hyerin tiap hri gk respon giliran hyehoon lgsng deh..kasian liad hyerin gk d anggep tp gmna jg yah kalo gk cinta..pusing mikirin ny jdny hwhwjwhwh
    Sbar aja deh bagi yg tersakiti dsni 😥😥😥😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s