Second Wife (Between Love and Guilty) Scene 7


Kyuhyun tersenyum lebar ketika matanya menangkap bayangan wanita cantik yang meringkuk dengan tangannya yang mendekap perutnya yang mulai membesar itu di tempat tidurnya. Lelaki itu sengaja pulang cepat karena akhirnya Hye Hoon mengabulkan permintaan Kyuhyun untuk berbicara kepadanya ketika wanita itu menginginkan sesuatu untuk dimakan.

Sejak kejadian di kedai Naengmyun bulan lalu, Kyuhyun telah menyadari kesalahannya dan berjanji akan bersikap lebih baik pada istrinya, sedangkan Hye Hoon berusaha untuk lebih terbuka pada Kyuhyun mengenai perasaannya.

Tak mau membangunkan istrinya yang tengah tertidur lelap, Kyuhyun pun mencium lembut kening Hye Hoon sebelum dirinya berbalik pergi.

Baru beberapa langkah berjalan, suara yang mengalun lembut di telinganya membuat gerakan kakinya terhenti.

“Oh, kau sudah pulang?”, kata gadis itu sambil merapikan rambutnya yang kusut. Kyuhyun mendekat dan segera duduk di ranjang lalu mengelus pipi Hye Hoon lembut.

“Apa aku mengganggu tidurmu?”, sapanya hangat. Hye Hoon menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Aku terbangun bukan karena ciumanmu, tapi aku mencium bau makanan enak yang kau bawa”.

Mata Hye Hoon melirik kantung kertas yang berada di genggaman Kyuhyun, bibirnya menyeringai menggoda suaminya itu. Kyuhyun memutar bola matanya tak percaya. “Ck, kau pikir kau bisa membohongiku, hmm?”

“Ah!”, Hye Hoon mengaduh sambil memegang perutnya, membuat Kyuhyun panik dan ikut mengelus perut wanita hamil itu. “Kau tak apa?”, serunya cemas.

“Aku baik-baik saja. Sepertinya sesuatu dalam perutku bergerak sehingga perutku sedikit kram. Oh ya, aku sudah lapar. Bisa kau ambilkan pisau agar aku bisa memotong kuenya?”

Kyuhyun menyentuh bahu gadisnya dengan pandangan nanar. “Apa kau benar-benar tak menganggap sesuatu yang ada di janinmu itu bayi kita?”

Hye Hoon terdiam. Dia menggigit bibir bawahnya, menahan rasa pedih yang tiba-tiba begitu menyiksa dadanya.

Kerongkongannya terasa begitu pedih karena isakannya yang terhenti disana. Tak pernah dirinya membayangkan jika situasinya akan menjadi sesulit ini. Dulu, sejak awal dia memutuskan untuk menjalani semua ini, dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia bisa menjalaninya sambil menutup matanya, berpura-pura tak ada hal apapun yang terjadi kepadanya.

Namun, seiring berjalannya waktu, setelah mengetahui bagaimana perasaan Kyuhyun yang sebenarnya, dia tak bisa menyangkal bahwa dia menginginkan lebih. Hye Hoon tak ingin jika ini terjadi hanya sebentar, dan ingin selamanya hidup bersama Kyuhyun dan bayi yang tumbuh dalam rahimnya.

Untungnya, mata Cheonsa yang begitu berseri ketika dia mendengar bahwa dirinya mengandung membuat Hye Hoon dapat meredam keinginannya. Dia tahu itu tidak mungkin terjadi.

“Jika aku mengakuinya, apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan membiarkanku pergi dengan bayi ini…atau kau akan meninggalkan Eonnie dan membuatnya tak punya siapa-siapa?”

“Hye Hoon~ah”, bisik Kyuhyun parau.

Hye Hoon mendengus seolah tahu bagaimana jawaban yang akan diberikan Kyuhyun. “Aku tahu kau tidak bisa melakukannya, jadi bisakah kau tak mempertanyakan sesuatu yang sudah kau tahu pasti apa jawabannya? Pertanyaan itu sungguh membuat batinku lelah”.

“Meskipun dia tinggal di rahimku, dia bukan anakku, Cho Kyuhyun”.

Lirihan pedih itu membuat Kyuhyun meringis. Hye Hoon yang malang. Rasa bersalahnya semakin menjadi ketika Hye Hoon bahkan sudah tak bisa menunjukkan tangis itu kepadanya. Kyuhyun merengkuh tubuh ringkih gadis itu ke dalam pelukannya.

Kini, dia mengerti mengapa saat itu Hye Hoon lebih memilih pergi ke tempat Lee Donghae, ketika pertama kali istrinya itu tahu bahwa dirinya tengah mengandung. Hye Hoon butuh seserang untu berlindung. Dari seseorang yang jahat seperti dirinya, yang hanya bisa memberikan luka daripada membahagiakannya.

Dia sungguh bejat, karena dia bahkan tak bisa membiarkan seorang Ibu mengakui bayi yang berada di rahimnya. Kyuhyun menyesal. Seharusnya dia tak menyeret Hye Hoon ke dalam hidupnya yang penuh kebohongan.

*

Suara bel yang berbunyi nyaring membuat Cheonsa bergegas mendekati pintu depan. Dia sedikit kerepotan karena harus susah payah mengayuh kursi rodanya sendiri, tapi hal sekecil itu untungnya masih bisa diatasinya sendiri.

Senyuman bahagia menghiasi wajahnya karena dia sangat mengantisipasi siapa yang mendatangi rumah mereka sepagi ini. Maklumlah, Cheonsa tak sering keluar rumah, tak punya satupun teman atau sanak saudara yang bisa mengunjunginya. Yang pasti itu bukan orang yang setiap hari menemaninya. Setiap hari libur, Perawat Jung tak akan datang karena Kyuhyun pasti akan menghabiskan waktunya di rumah.

Dengan cepat dia menekan tombol intercom dan wajah tamunya itu terpampang di layar. Bibir Cheonsa semakin mengembang ketika tahu Ibu mertuanya-lah yang berada di teras rumahnya.

Klik.

Setelah pintu terbuka, Cheonsa segera mendorong kursi rodanya ke depan agar terlihat oleh wanita paruh baya itu.

Eomma, kau datang?”, sambutnya antusias. Senyuman lebar yang sejak tadi terpatri di wajah Nyonya Cho luntur ketika melihat Cheonsa yang menyambutnya di pintu depan. Namun, dia tersadar dan kembali membenahi raut mukanya dan menyapa Cheonsa dengan ramah.

“Oh, Cheonsa~ya. Apa kau melihat Hye Hoon?”

Sret.

Pegangan tangan Cheonsa yang mengendur membuat kursi rodanya sedikit mundur ke belakang. Dia tak bisa menyembunyikan ekspresi kekecewaannya ketika Nyonya Cho sama sekali tak memperdulikan keberadaannya dan lebih mementingkan Hye Hoon.

Wanita itu mencoba tersenyum, meski terlihat tak ikhlas, lalu menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawabannya. Suara langkah yang terketuk membuat keduanya melihat ke sumber suara dan melupakan sedikit ketegangan yang baru saja terjadi.

“Hye Hoon~ah“, sapa Nyonya Cho sambil sedikit berlari ke arah menantu kesayangannya. Dia melebarkan tangannya untuk memberikan pelukan untuk menantu kesayangannya itu sambil tertawa bahagia. Hye Hoon yang terkejut tetap membalas pelukan itu, matanya melirik Cheonsa yang masih diam di tempatnya semula dengan wajahnya yang tertunduk.

“Aku tak percaya aku akan segera menimang cucu. Bagaimana keadaan kandunganmu? Apa kau baik-baik saja?”

Hye Hoon hendak membuka mulutnya, namun Cheonsa mendahuluinya dengan menjawab pertanyaan yang bukan ditujukan kepada dirinya sendiri itu lantang. “Kami akan selalu menjaga Hye Hoon, Eomma. Kau tak perlu khawatir. Anak ini adalah anak yang kami inginkan, tentu saja kami tak akan menyia-nyiakannya”.

Perkataan penuh percaya diri itu membuat Hye Hoon mengubah pandangannya tentang Cheonsa. Senyuman lebar dibalik pipinya yang dihiasi jejak air mata itu menegaskan bahwa Cheonsa tak selemah yang Hye Hoon kira.

Eonnie benar. Mereka benar-benar memperlakukanku seperti seorang putri”, canda Hye Hoon diiringi gelak tawanya yang hambar. Otaknya memutar ingatan ketika dia dilarang melakukan apapun meskipun hanya membawa beberapa lembar baju ke kamarnya.

Dia lalu mengalihkan pembicaraan dan menatap Ibu mertuanya dengan penuh permohonan. “Eomma, bisakah kau membawaku ke kedai sushi? Aku benar-benar ingin memakannya”.

Nyonya Cho mengiyakan dengan semangat sambil menarik tangan Hye Hoon tanpa mengetahui maksud wanita hamil itu mengajaknya keluar. Alasan yang sangat sederhana, sebenarnya. Hye Hoon hanya tak ingin Cheonsa melihat mertuanya memperlakukannya dengan istimewa sedangkan Hye Hoon mengetahui jika Nyonya Cho tak pernah memperlakukan Cheonsa seperti demikian.

Hye Hoon berpamitan dengan raut muka menyesal, tapi Cheonsa tetap membalasnya dengan senyuman tulusnya. Meskipun sedikit banyak Hye Hoon mengerti, jika Cheonsa terluka dan mencoba menyembunyikannya.

Sebelum benar-benar pergi, Hye Hoon mengirim pesan kepada Kyuhyun untuk menjaga dan menghibur Cheonsa. Karena Hye Hoon tahu, hanya Kyuhyun-lah yang dapat membuat Cheonsa merasa lebih baik seburuk apapun perlakuan orang lain kepada wanita itu.

Padahal sebenarnya, jauh di lubuk hatinya, Hye Hoon lebih membutuhkan Kyuhyun untuk membuatnya lebih baik. Karena tak lama lagi Hye Hoon akan kehilangan dua orang yang paling dicintainya.

*

Ting.

Lelaki yang sedang menyandarkan tubuhnya yang lemas itu mengecek pesan yang tertera di layar ponselnya. Matanya yang mengintip di balik tirai kamarnya itu menatap nanar punggung Hye Hoon yang mulai menjauhinya. Perkataan Cheonsa yang secara tersirat mengatakan bahwa anak yang dikandung Hye Hoon bukan milik gadis itu membuat hatinya tersayat.

Ya, Kyuhyun mengetahuinya. Sejak tadi dia melihat dan mencuri dengar gerak-gerik dari ketiga wanita itu tanpa ingin keberadaannya diketahui. Awalnya, dia hanya tak ingin Ibunya mengungkapkan kebahagiaannya yang berlebihan itu kepadanya di depan Cheonsa. Namun, tak disangkanya jika hal yang terjadi lebih buruk dari ini.

Eonnie pasti merasa sedih karena Eomma sedikit mengacuhkannya. Buatlah dia lebih baik, dia sangat membutuhkanmu.

Choi Hye Hoon

Kyuhyun membaca isi pesan yang dikirimkan Hye Hoon dengan bulatan hitamnya yang mulai berkaca-kaca. Gadis bodoh itu bahkan masih memperdulikan keadaan orang lain disaat dirinya sendiri yang tersakiti lebih parah.

Dengan gerakan cepat, Kyuhyun mendorong pintu kamarnya hingga terbuka. Dia menghampiri istrinya yang menunduk sedih di atas kursinya itu dan bersimpuh untuk mensejajarkan tinggi badan mereka.

“Apa tadi ada seseorang yang datang?”, tanyanya dengan wajah polos seakan dia tak tahu jika ada orang lain—dalam hal ini Ibunya— yang memasuki kediaman mereka.

Cheonsa tak menjawab. Bibirnya yang terkatup membuat Kyuhyun menatap wajah istrinya itu cemas. “Apa terjadi sesuatu?”, katanya lagi. Namja itu tak benar-benar bertanya karena dia tahu apa yang terjadi pada Cheonsa. Wanita itu cemburu karena perhatian yang Ibunya berikan kepada Hye Hoon.

Eomma sepertinya sangat menyayangi Hye Hoon. Mungkin ini hanya firasatku saja, tapi apa mungkin Eomma tidak benar-benar menyayangiku? Maksudku, sikap yang ditunjukkannya kepadaku berbeda sekali dengan apa yang ditunjukkannya terhadap Hye Hoon”. Air mata mulai menetes membasahi pipinya, sedangkan Kyuhyun tak melakukan apapun dan membiarkan istrinya melanjutkan ceritanya.

“Suatu hari, aku melihat sisa makanan yang dibawa Eomma untuk Hye Hoon sedangkan dia tak pernah sekalipun memasakkan—ani—dia bahkan sepertinya tak tahu apa makanan kesukaanku. Sejak kita menikah, Eomma tak pernah berbicara banyak denganku tapi dia begitu hangat dan terbuka pada Hye Hoon”.

“Apakah karena aku cacat sehingga Eomma tak menginginkanku sebagai menantunya? Benar begitu, Oppa?”

Cheonsa tak dapat menghentikan isak tangisnya ketika Kyuhyun mendekap tubuh mungil wanita itu ke dalam pelukannya. Kyuhyun menatap datar dinding di depannya meskipun tangannya bekeja untuk meredam tangisan istrinya itu.

“Jangan berpikiran macam-macam. Eomma menyayangi kalian berdua. Pikirkanlah hal-hal baik yang pernah diberikan Eomma kepadamu. Aku yakin, itu jauh lebih banyak dari yang Hye Hoon dapatkan saat ini”.

Kyuhyun melepas tangan Cheonsa yang melingkari pinggangnya. Lengan besarnya membingkai wajah mungil wanitanya itu dan menggerakkan jari-jarinya untuk menyeka cairan tak berwarna yang mengotori wajah Cheonsa.

“Jangan bersedih. Sebentar lagi kau akan menjadi seorang Ibu, kau ingat? Bagaimana anak kita akan melihatmu jika kau masih cengeng seperti ini, hmm?”, guraunya dengan diimbuhi cengiran lebar.

Cheonsa yang sudah merasa lebih baik pun meresponnya dengan senyum, hingga berubah menjadi tawa ketika Kyuhyun menunjuk hidungnya yang memerah, meski isakannya belum sepenuhnya reda.

Matanya mengamati Kyuhyun dengan batinnya yang mengucap syukur, betapa beruntungnya dia karena memiliki seseorang yang dapat membuatnya bahagia meskipun dia telah kehilangan segalanya.

Dia percaya jika Kyuhyun adalah malaikat yang dikirimkan Tuhan padanya.

*

“Cheonsa pasti mengira jika anakku seperti seorang malaikat yang sengaja diberikan Tuhan untuk menghapus kesedihannya”.

Hye Hoon menyimaknya dengan seksama, melihat pandangan Nyonya Cho yang terlihat begitu tersiksa membuat rasa penasarannya semakin meningkat. Tak ada alasan mengapa mertuanya itu tiba-tiba mengungkapkan apa yang selama ini dirasakannya. Mungkin efek sake yang dikonsumsinya membuatnya lebih sensitif dan mengungkapkan beban yang memberatkan pikirannya.

Aniya—itu tidak benar”, tangannya mengibas beberapa kali untuk meyakinkan Hye Hoon. “Kyuhyun melakukan itu untuk menebus dosa Ayahnya”.

Eomma, sebaiknya kau tak perlu menceritakannya padaku jika kau—”

Nyonya Cho meletakkan satu jarinya di bibir untuk menghentikan penolakan Hye Hoon. “Aku sama sekali tidak mabuk. Aku hanya ingin menceritakannya padamu agar kau tahu dan tak salah paham dengan alasan mengapa Kyuhyun meninggalkanmu”.

Wanita berusia lima puluh tahunan itu menggenggam tangan Hye Hoon erat, mata sendunya menatap wajah gadis itu dengan penuh kasih sayang. Hye Hoon yang tak tahu harus berbuat apa hanya mengangguk ragu dan mendengarkan apa yang dikatakan wanita di hadapannya itu selanjutnya.

“Mendiang suamiku adalah pebisnis yang sangat arogan. Dia mementingkan kejayaan perusahaannya dan banyak menindas perusahaan-perusahaan kecil dan membuat perusahaan mereka hancur berantakan. Salah satu diantara yang menjadi korbannya adalah perusahaan yang dimiliki keluarga Cheonsa”.

“Sebenarnya, itu kasus terakhir sebelum suamiku akhirnya meninggal. Itulah mengapa Kyuhyun cepat mengetahui dan mengambil tindakan sesaat setelah dia mengambil alih perusahaan”.

Hye Hoon membasahi bibirnya yang tiba-tiba terasa kering. Dia sedikit tahu tentang Ayah Kyuhyun, tapi dia tak menyangka jika di balik sikap lembutnya dia menyimpan rapat kejahatan yang dilakukannya.

Keuromyeon, apa yang terjadi selanjunya, Eomma?”, ucapnya ingin tahu.

“Ayah Cheonsa yang putus asa karena perusahaannya bangkrut memilih untuk mengakhiri hidupnya. Bukan hanya itu, dia juga membawa putrinya bersamanya. Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan dengan sengaja menjatuhkan diri ke jurang”.

Nyonya Cho menghela nafas untuk meredakan sesak yang tiba-tiba menggelayutinya. “Kyuhyun merasa bersalah, karena Cheonsa kehilangan kakinya, selain itu tak punya siapapun dan itu disebabkan oleh keserakahan Ayahnya. Itulah mengapa dia begitu bersikeras menikahi Cheonsa untuk memberi keluarga baru untuknya”.

Hye Hoon terhenyak. Dia teringat kata-kata dan perlakuan kasar yang ditujukannya untuk Kyuhyun dulu yang kini disesalinya. Meskipun Kyuhyun meninggalkannya dengan caranya yang begitu kejam, namun dia tak berhak marah. Kyuhyun benar, Cheonsa lebih membutuhkan Kyuhyun daripada dirinya.

Kini, kesedihannya semakin bertambah karena sekarang dia seakan memikul penderitaan yang mereka alami yang disebabkan olehnya. Dia berlari, membuat dirinya basah karena air hujan yang menerpa tubuhnya.

Dia mengangkat lehernya ke atas, membiarkan butiran-butiran air menerpa wajahnya yang basah karena cairan bening yang berasal dari salah satu inderanya.

Aku tak ingin kau terluka lebih dalam daripada lukaku. Aku merasakan rasa sakit yang terperi ketika dulu kau meninggalkanku tanpa alasan dan aku tak bisa membayangkan betapa menderitanya dirimu saat itu.

 

Kyuhyun~ah, apa kau rela untuk menderita seumur hidupmu hanya karena rasa bersalahmu pada Cheonsa?

 

Jika kau menjawab ya, maka aku akan meninggalkanmu. Dan tak ada alasan bagiku untuk kembali lagi ke pelukanmu.

 

*

Cheonsa menjulurkan tangannya untuk meraba apapun yang berada di sekelilingnya. Tapi, nihil. Tak ada apa-apa selain angin yang berhembus kencang yang dapat dirasakannya. Cheonsa tersenyum ketika sesuatu yang hangat menutupi tubuh bagian bawahnya. Meskipun dia tak dapat melihat siapa yang memakaikan selimut tebal di kakinya, tapi dia tahu suaminya-lah yang melakukannya. Pipinya memanas memikirkan Kyuhyun yang begitu peduli padanya.

“Apa aku masih belum boleh membuka penutup mataku?”, katanya sambil berusaha menyembunyikan senyum bahagianya. Meskipun dia yakin jika dia dapat melakukannya dengan baik dihadapan Kyuhyun.

Pria itu dapat membaca apa yang sedang dipikirkan atau dirasakannya. Buktinya, ketika Cheonsa merasa sedih karena kejadian tadi, suaminya itu menghiburnya dengan memberi kejutan yang manis untuknya.

Bau asin dan angin semilir yang mengelilinginya membuat Cheonsa dapat menebak dengan benar tempat yang mereka datangi, tanpa harus menggunakan indera penglihatannya.

Begitu ikatan di kepalanya terlepas, Cheonsa mengerjapkan mata dan melihat pemandangan yang sangat indah melalui iris matanya. Cho Kyuhyun, suaminya yang begitu dia cintai, tersenyum manis dengan bulatan hitamnya yang berbinar dengan laut yang luas sebagai latar belakangnya.

“Kau menyukainya?”, tanya lelaki itu sedikit tak yakin. Ini pertama kalinya mereka datang ke pantai bersama-sama. Meskipun ya, Kyuhyun sempat mendengar apa yang Cheonsa utarakan pada Hye Hoon waktu itu jika dia sangat ingin mengunjungi tempat ini.

Cheonsa mengerucutkan bibirnya. “Aku membencimu”, ucapnya sambil memukul bahu bidang Kyuhyun. “Bagaimana kau bisa tahu apapun yang kuinginkan, hmm? Kau membuatku begitu ketergantungan kepadamu, hingga aku tak bisa membayangkan bagaimana caranya aku hidup tanpamu. Kau begitu jahat padaku, Kyuhyun~ah“.

Ssst….kau berbicara terlalu banyak, sayang. Jangan pernah memikirkan hal-hal buruk karena apa yang kau katakan itu tak akan pernah terjadi. Kau harus percaya padaku”.

Cheonsa menarik kedua sudut bibirnya tipis. Guratan kekhawatiran nampak jelas di wajahnya. “Aku teringat apa yang Hye Hoon katakan ketika dia pertama kali bertemu denganku. Apa kau tak takut jika Kyuhyun berpaling padaku? Dia mengatakan itu. Tapi, aku terlalu percaya padamu sehingga dengan mudah mempercayai bahwa kau tak akan pernah berpaling padanya”.

“Cheonsa~ya…..”.

Wanita itu menegakkan lehernya, melihat kedua lensa mata Kyuhyun dengan pandangannya yang sendu. “Aku meragukannya sekarang. Bagaimana kau bisa tidur dengannya, sedangkan kau tak pernah menciumku sekalipun?”.

Kyuhyun memeluk gadis itu sambil mengecupi puncak kepala Cheonsa lembut, berusaha menenangkan istrinya yang sedang kalut. “Kau tak pernah tahu betapa aku khawatir dengan keadaanmu. Aku takut jika aku dapat kehilangan kontrol dan membuatku terluka. Kau tak pernah tahu betapa kau sangat berharga bagiku, Ahn Cheonsa. Aku tak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika aku menyakitimu”.

Hati Cheonsa menghangat. Dia lega karena ucapan tulus dari suaminya itu dapat membuat kecemasannya hilang tak berbekas. Tanpa dia tahu, jika itu adalah kebohongan lain yang diucapkan Kyuhyun padanya.

 

Kebahagiaan Cheonsa berasal dari kebohongan Kyuhyun. Cheonsa seakan hidup di dunia khayal karena memiliki seorang pangeran baik hati yang selalu mementingkan kebahagiaannya.

 

Dan rasa bersalah Kyuhyun, tanpa disadarinya, semakin bertambah ketika dia mengucapkan kebohongan-kebohongan itu di hadapan Cheonsa.

 

Cinta yang dimiliki Cheonsa dibalas Kyuhyun dengan rasa bersalahnya. Itulah mengapa Kyuhyun tak akan pernah merasakan kebahagiaannya saat dia bersama Cheonsa.

 

Dan dia harus menanggung rasa itu seumur hidupnya. Akan tetapi, mampukah dia bertahan dalam kondisi itu, selamanya?

*

Selesai mengoleskan gel di perut Hye Hoon, Soojin menempelkan alat pendeteksi kandungan itu dengan wajahnya yang cerah. Melihat kandungan Hye Hoon yang semakin membesar, entah mengapa membuatnya begitu bahagia.

“Janinnya dalam kondisi baik. Meskipun kau terlihat semakin kurus, tapi untungnya itu tak berpengaruh pada bayimu. Bobot tubuhnya normal untuk janin berusia dua puluh minggu sepertinya. Kau hanya harus memperbanyak olahraga agar kandunganmu lebih kuat.”

Penjelasan Soojin terhenti ketika matanya tak sengaja melirik teman yang baru dikenalnya–yang diketahuinya bernama Ahn Cheonsa itu– meraba layar hitam putih itu lembut dengan senyuman lebar begitu kentara.

Ekspresi yang seharusnya ditunjukkan Hye Hoon, meskipun Soojin tak pernah melihat wanita yang sedang mengandung itu mengutarakan kebahagiaannya. Hye Hoon malah terlihat lebih banyak diam, menunjukkan wajah tanpa senyum dengan matanya yang kosong.

“Jadi, apakah bayi ini dapat lahir normal pada waktunya, Seonsaengnim?”.

Soojin melirik Hye Hoon, gadis itu menjawabnya dengan mengangkat bahunya sedikit kemudian tersenyum lemah. “Tentu saja, Cheonsa~ssi. Jika Hye Hoon dapat menjaga asupan nutrisinya kurasa semuanya akan berjalan baik”.

Soojin yang bingung itu pun segera menyuruh Hye Hoon untuk duduk di seberang mejanya sambil menunggu resep yang dituliskannya.

“Chogi, Park Soojin~ssi”, kata Cheonsa menginterupsi. Soojin pun menghentikan gerakan penanya dan mengalihkan pandangannya ke arah Cheonsa.

“Ya?” jawabnya singkat.

Pipi Cheonsa memanas. Dia tak tahu jika ini hal yang harus dilakukannya. Namun, sejak dia bersikeras mengantar Hye Hoon memeriksakan kehamilannya, dia memang sudah merencanakan hal ini.

“Bisakah kau memeriksakan kondisiku?”, katanya malu-malu. “Em..sebenarnya aku hanya ingin mengetahui apakah aku bisa berhubungan….em…maksudku….dengan suamiku….”.

Soojin menoleh ke arah Hye Hoon dengan tatapan kau-harus-menceritakan-semuanya-padaku-tanpa-kecuali dan itu cukup membuat tubuh gadis itu menegang.

Dengan cepat Soojin mengubah ekspresinya dan tersenyum ramah kepada orang yang duduk di hadapannya itu. “Aku mengerti maksudmu, Cheonsa~ssi. Baik, aku akan memeriksa keadaanmu sekarang. Hye Hoon~ah, kau bisa mengambil obatnya sendiri, bukan?”.

*

Hye Hoon tak dapat menghindar ketika Soojin terus saja mendesaknya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dokter cantik itu pun dapat merayu Cheonsa untuk segera pulang dengan Perawat dan supirnya, membuat Hye Hoon tak bisa menghindar kemanapun.

“Choi Hye Hoon, kau benar-benar membuatku bingung. Bagaimana bisa kau bahkan tak terlihat bahagia dengan kehamilanmu sedangkan orang lain yang tak kukenal begitu antusias tentang janin yang berada di rahimmu?”.

Hye Hoon menutup rapat bibirnya. Tak sepatah katapun yang dia katakan untuk menanggapi ocehan Soojin, dan itu cukup membuat Soojin frustasi.

“Jika itu bayi tabung, itu tak mungkin karena Cheonsa~ssi bahkan dalam kondisi yang sangat baik untuk mengandung anak”.

Hye Hoon terhenyak. Jantungnya berdetak lebih cepat, suhu tubuhnya naik karena panik atas kenyataan yang baru diketahuinya.

Dia berdeham untuk menyembunyikan keterkejutannya. “Apa Cheonsa Eonnie tahu tentang hal ini?”, tanyanya memastikan. Soojin mengangguk mengiyakan. Tak lama berselang, Hye Hoon buru-buru bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Soojin yang masih diliputi banyak tanya.

“Apakah aku melakukan hal yang salah?”.

*

Sore hari itu, Kyuhyun yang baru saja pulang dari kantor langsung menuju ke kamar utama. Dia sudah melihat mobil yang dipakai istrinya tadi sudah kembali terparkir rapi di garasinya dan mengasumsikan bahwa Cheonsa berada di kamar. Sebelum dia menuju tujuannya itu, dia sempat melirik kamar Hye Hoon namun tak ada tanda-tanda jika gadis itu berada disana.

Lelaki itu mendesah berat. Dia tak mau jika Hye Hoon berhubungan lagi dengan pria yang pernah dicintainya itu.

Diputarnya knop pintu bercat putih itu, namun anehnya pintunya terkunci. Alis Kyuhyun mengerut keheranan. Kyuhyun tahu jika Cheonsa tak akan pernah mengunci pintu ketika dia berada di ruangan pribadi mereka itu sendirian, dan itu dilakukan gadis itu atas perintahnya. Kyuhyun terlalu khawatir jika ada sesuatu yang buruk yang menimpa Cheonsa ketika dia sedang sendirian.

“Sayang, apa kau di dalam?”, serunya panik sambil menggedor benda kayu itu tak sabar. Kyuhyun berbalik ketika ujung matanya menangkap ada seseorang di sekitarnya.

“Perawat Jung”, panggilnya serak. “Apa istriku ada di dalam?”.

Wanita itu menundukkan kepalanya dalam untuk menyampaikan rasa penyesalannya. “Maafkan aku, Tuan. Sejak pulang ke rumah, Nyonya terlihat murung dan langsung mengunci dirinya di kamar. Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi Nyonya tak mau membukakan pintu untukku”.

“Baiklah. Tolong ambilkan kunci cadangan di gudang”.

Crek.

Suara pintu yang terbuka membuat mereka berdua memandang ke arah pintu yang terbuka sedikit. Perawat Jung membungkukkan badannya sedikit untuk pamit, sedangkan Kyuhyun memasuki kamarnya dengan langkah tergesa.

Dia menghampiri istrinya yang masih terduduk di atas kursi rodanya dengan seulas senyum, merasa lega karena apa yang dicemaskannya tak terjadi. Cheonsa tak terluka sedikitpun, meskipun wajahnya yang murung mengisyaratkan keadaan lain.

Kyuhyun berjongkok untuk menyetarakan tubuh mereka. “Tak biasanya kau seperti ini. Apa kau baik-baik saja, sayang?”.

Cheonsa bungkam. Dia memainkan kedua tangannya sebagai indikasi jika yeoja itu sedang gugup. Kyuhyun yang tak tahan melihat Cheonsa seperti itu bergerak menaikkan dagu Cheonsa untuk bisa melihat ke arahnya.

“Katakan, apa sesuatu yang buruk terjadi? Apakah medical check-up-nya tidak berjalan lancar? Mungkinkah ada sesuatu yang salah dengan bayinya?”

Cheonsa menutup kelopak matanya. Tiba-tiba dia merasa beban di dadanya begitu menghimpitnya sehingga membuatnya sesak. Nafasnya mulai tak beraturan. Sudah lama dia tak merasakan sakit yang seperti ini. Dan dia lupa bagaimana cara mengatasinya.

Karena sebenarnya, bukan dia sendiri yang bisa mengatasi sakit di hatinya. Kyuhyun-lah yang membantunya untuk dapat tegar. Kali ini, Cheonsa tak tahu apa yang harus diperbuatnya ketika lelaki itu yang membuatnya tersiksa.

“Sayang, katakan padaku apa yang kau pikirkan, aku benar-benar khawatir terjadi sesuatu…..”

“Cukup!”, bentak Cheonsa dengan suara tinggi. Kyuhyun terkejut, namun dia masih bisa mengontrol raut wajahnya.

“Berhenti bersikap baik di hadapanku, Cho Kyuhyun. Kau menyembunyikan semuanya dariku. Kau menyembunyikannya agar kau….Astaga, aku bahkan tak mengerti mengapa. Apa ini semua karena Hye Hoon? Apa dia alasan kau membohongiku?”

Kyuhyun menggenggam lengan Cheonsa lembut, menatap wanita itu dengan tatapan penuh kasih sayangnya yang membuat Cheonsa tersentuh. “Apa maksudmu, sayang? Bisakah kau menjelaskannya padaku?”.

“Kau tahu jika aku…..aku tak apa-apa. Hanya kakiku saja yang cacat tapi aku bisa melayanimu sebagai seorang istri. Mungkin kondisiku lemah tapi aku bahkan bisa mengandung anakmu. Kau jahat, Cho Kyuhyun. Kau jahat!”.

Tangan Cheonsa yang terkepal memukul bahu suaminya sekuat tenaga. Meskipun pukulannya begitu lemah karena tangisan pilu mulai keluar disela bibir tipisnya. Kenyataan ini begitu menyiksanya. Di satu sisi, ini adalah kabar baik baginya karena dia bahkan bisa memiliki anak dari rahimnya sendiri. Namun, di sisi lain dia kecewa karena ada kemungkinan suami yang begitu dicintainya itu menyembunyikan fakta yang penting ini darinya.

Banyak hal yang berputar di pikirannya, dan itu membuat Cheonsa merasa pusing. Sejak awal, dia tak pernah sedikitpun mencurigai suaminya karena kasih sayang yang dicurahkan lelaki itu padanya begitu besar.

Begitu pula ketika dia memohon Kyuhyun untuk menidurinya, agar mereka memiliki keturunan dan Kyuhyun menjelaskan jika Dokter tak menyarankan hal itu terjadi karena kondisi fisik Cheonsa yang tak memungkinkan.

Kyuhyun masih bisa bersikap tenang, meskipun hatinya bergejolak mendengar tuduhan Cheonsa. Pria itu meraih tubuh Cheonsa yang sedang kalut itu ke dalam dekapan hangatnya, berharap jika gadis itu akan melupakan kesedihannya.

Serangan tiba-tiba itu tak pernah diduganya. Kyuhyun mengatakan semua hal itu karena dia yakin, Cheonsa tak akan meragukan perkataannya apalagi mencari tahu. Tapi, perkiraannya salah. Cheonsa tak mudah dibodohi dengan perkataan dusta yang dangkal seperti itu.

Kyuhyun mulai ragu. Dia ingin membeberkan segala sesuatu yang sebenarnya terjadi, agar dia bisa tetap bersama Hye Hoon dan anak mereka. Namun, rasa kemanusiaan yang dimilikinya membuatnya tak tega berbuat begitu terhadap Cheonsa.

Dalam kondisinya seperti ini, sebenarnya hatinya-lah yang berperan. Akankah dia memilih cinta? Ataukah rasa bersalah yang sebenarnya tak harus dipikulnya?

To Be Continued……..

Thanks buat yang udah nunggu lama Next part will be the last part. Thank you all^^

391 thoughts on “Second Wife (Between Love and Guilty) Scene 7

  1. ngomong yang jujur harus terus terang justru kubohongan akan semakin menyakiti bukan cuma satu pihak tapi semua pihak. dan kejujuran memang pahit tapi itulah satu2nya solusi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s