Red lips (III)


Air yang berkumpul di ruangan luas berbentuk kotak itu seakan menelannya hidup-hidup. Sejak kecil, karena dia dibesarkan di lingkungan yang kumuh dia tak pernah tahu bagaimana caranya berenang. Dia hanya memejamkan matanya rapat, nafasnya tersedot habis karena sebagian air menghambat tenggorokannya.

Suara berisik yang samar membuatnya tersadar jika dia tak sendiri di ruangan itu. Namun kenapa? Kenapa tak ada orang yang bersedia membuat pakaian mahalnya basah untuk menolong gadis itu? Apa karena dia gadis yang miskin dan tak punya apa-apa membuat dirinya tak berhak untuk hidup?

Jika dirinya adalah salah satu diantara orang-orang berkelas itu, mereka pasti berteriak panik dan berlomba-lomba untuk membawanya ke daratan.

Dia bahkan tak mengeluarkan suaranya. Hye Hoon cukup tahu diri untuk tak berteriak meminta tolong sedangkan dirinya adalah penyebab pesta mereka hancur.

Tubuhnya seakan melayang ketika tangannya diseret oleh kedua tangan kokoh yang entah dimiliki siapa. Dia mencoba membuka kelopak matanya yang berat, samar-samar melihat wajah seorang lelaki dengan wajahnya yang datar membawanya masuk ke rumah besar itu.

Tubuhnya pun merasa semakin lemas sehingga matanya tak bisa lagi membuka hingga dia kehilangan kesadarannya.

*

Seorang wanita cantik dengan pakaian pesta yang masih melekat di tubuhnya itu memasuki salah satu ruangan di rumah yang juga ditempatinya. Dia menaikkan alisnya ketika melihat ada seseorang yang duduk di balik meja sedang larut dalam pekerjaannya.

“Sepertinya kau tidak diajari sopan santun hingga rasanya susah sekali untuk mencoba mengetuk pintu ketika kau akan masuk ke ruangan orang lain, Noona”.

Desisan kasar itu adalah sebuah sapaan biasa yang diberikan Kyuhyun pada kakak perempuannya. Meskipun sudah sangat sering Ahra mendengar kata-kata semacam itu dari adiknya, namun setiap kali dia mendengarnya dia merasa semakin muak dengan lelaki itu. Harga dirinya seakan tercabik karena orang yang lebih muda darinya berani berkata padanya tanpa tata krama.

Wanita itu mendengus, sangat keras sehingga Kyuhyun bisa mendengarnya. “Seharusnya kau berkata begitu kepada dirimu sendiri. Beraninya mengajari kakakmu padahal kelakuanmu lebih buruk dibanding denganku”.

“Kau sepertinya tidak bisa menilai orang lain dengan baik, Noona”.

Ahra tersenyum picik. “Benarkah? Tapi kurasa aku tak salah menilai kekasihmu yang kau bawa itu. Wanita itu sangat cocok denganmu. Lelaki sepertimu memang pantas bersanding dengannya. Bukankah dia salah satu pelayanmu?”

Kyuhyun menekan bolpoin yang digenggamnya kuat sehingga membuat kertas yang berada di bawahnya berlubang. Matanya berkilat marah. “Apa maksudmu?”

Cham, aku lupa jika kau hanya memanfaatkannya demi kepentinganmu. Tapi, ada kemungkinan kau benar-benar tertarik padanya, bukan?”

“Itu bukan urusanmu”, ucapnya penuh penekanan. Untung saja, dia masih bisa mengendalikan emosinya dan tak terpancing dengan umpan yang diberikan wanita itu.

Ahra mendekati tempat dimana Kyuhyun duduk. Dia mengusap bahu lelaki itu dengan gerakannya yang tegas, seolah menunjukkan kuasanya yang lebih berpengaruh dibandingkan adiknya itu. “Tentu saja itu urusanku juga. Bukankah sebentar lagi aku akan menjadi kakak iparnya?”

Kyuhyun mendesis keras. Pertanyaan wanita itu adalah lelucon nyata baginya. “Kau tahu aku berpura-pura menjadi kekasihnya dan kau membicarakan soal pernikahan? Apa itu masuk akal?”

“Kenapa kau melakukan itu, Adikku sayang? Jika kau sudah bosan menjadi atasan di kantormu, bukankah sebaiknya kau mengundurkan diri secara baik-baik?”.

Kalimat itu sukses melumpuhkan otaknya. Perkataan Ahra yang mengandung racun itu sepertinya sedikit berefek pada dirinya. Kyuhyun mengangkat kepalanya, mengusap dagunya arogan sambil menatap lurus wanita yang menjadi rivalnya itu tajam.

“Aku hanya memberi pelajaran pada keluarga ini, bahwa tak semua hal bisa diukur dengan uang. Tidak ada salahnya sekali-sekali mempermalukan keluarga Cho. Sepertinya hasil yang kucapai malam ini cukup mengejutkan”.

“Tutup mulutmu, Cho Kyuhyun! Kau bahkan tak ada bedanya dengan Keluargamu itu. Untuk apa kau memanfaatkan gadis polos itu dan memperlakukannya bagai peliharaanmu yang tak berguna?”.

“Kau tak berhak ikut campur urusanku, Noona”, dengusnya tanpa tata krama. “Kau tahu pintu keluarnya dimana, bukan? Silahkan pergi lewat sana”.

*

Hye Hoon menggerakkan kakinya yang lemas itu dengan cepat setelah mendengar kalimat itu. Ya, dia mengetahuinya. Apa yang membuat Kyuhyun hanya membawanya jika ada pesta besar, membuatnya malu di depan banyak orang seperti apa yang dilakukannya malam ini, akhirnya dia tahu alasannya mengapa.

Seperti yang pernah didengarnya, tak ada kisah dari drama maupun dongeng fiksi yang terjadi di dunia nyata. Semua itu hanya khayalan omong kosong yang dibuat untuk menarik perhatian orang. Orang kaya ditakdirkan bersama dengan orang yang sederajat dengannya, begitu pula sebaliknya.

Hye Hoon terlalu berharap sehingga membuatnya seakan terbang di langit yang luas ketika Kyuhyun memperhatikannya. Padahal dia tak menyadari, bahwa semuanya akan kembali ke posisi awal dan dia akan merasakan bagaimana rasanya terjatuh dari mimpinya yang berjarak ribuan mil itu.

Sambil menatap langit-langit yang dihiasi lampu kamar yang mewah, air matanya menetes. Sangat lazim, hal ini terjadi. Sebagai orang yang baru saja bangun dari mimpi indahnya, dia pasti mengalami fase itu.

Seharusnya dari awal Hye Hoon tak menaruh perasaan begitu besar pada lelaki itu. Karena nyatanya, terlalu indah jika mereka memang ditakdirkan bersama. Dari sisi manapun, semuanya salah. Dia tak harus membohongi akal sehatnya dan terus menerus mencintai Kyuhyun.

Suara ketukan di pintu mewah itu membuatnya melangkahkan kakinya lebih cepat, tanpa menimbulkan suara apapun, lalu membungkus tubuhnya dengan selimut yang sempat ditanggalkannya tadi. Kepalanya miring, matanya dibuat terpejam padahal dia mendengar setiap hentakan sepatu yang semakin lama semakin nyaring di telinganya.

Parfum khas yang terhirup oleh hidung mancungnya membuat Hye Hoon tahu siapa orang yang menginjakkan kakinya di kamar mewah itu. Dia pun semakin merapatkan kedua matanya, tak ingin orang itu mengetahui kepura-puraannya.

Berikutnya, dadanya semakin berdegup kencang ketika terdengar suara deritan ranjang. Yang pasti, lelaki itu kini berada sangat dekat dengannya. Hye Hoon bergetar karena dia tak tahu apa posisi lelaki itu sekarang. Apa Kyuhyun juga ikut berbaring di ranjangnya?

“Aku tahu kau tidak tidur”.

Kalimat yang dialunkan oleh pemilik suara berat itu membuat Hye Hoon menegang. Kyuhyun mengetahuinya, jika dia hanya memejamkan mata dan pura-pura tidur, dan itu berarti secara otomatis Kyuhyun tahu jika dia mencuri dengar.

“Hubungan keluargaku sangat rumit”, ucap Kyuhyun memulai ceritanya. Lelaki itu tak mengomentari lebih jauh dan membiarkan Hye Hoon tetap menutup kelopak matanya. Hye Hoon menyimak dalam diam. Tak diragukan lagi sekarang keadaan detak jantungnya sudah lebih parah dari sebelumnya.

“Orangtuaku seorang yang terlalu sibuk memamerkan kekayaan dan mementingkan status sosialnya. Sedangkan kakakku, seperti yang kau tau menginginkan jabatan tinggi agar semua orang segan padanya. Aku dibesarkan di lingkungan seperti itu. Awalnya, aku tak ambil pusing dan melakukan semua yang orangtuaku pinta, termasuk menjadi pewaris dari perusahaan mereka”.

Kyuhyun mendesah panjang. Baru pertama kali dia menceritakan perihal kehidupannya kepada orang lain, dan itu membuat beban di dadanya perlahan berkurang.

“Tapi mereka tak pernah berubah. Jadi aku mencari cara untuk memberontak kepada mer   eka”.

Kyuhyun bangkit dari tempat tidur, menatap Hye Hoon dengan pandangan sendunya. “Maafkan aku karena telah memanfaatkanmu untuk tujuanku sendiri, Choi Hye Hoon”, ucapnya lirih lalu keluar dari ruangan itu tanpa menoleh ke arah kekasihnya yang sedang meringkuk sambil menahan tangis.

Hye Hoon menutup matanya yang terasa perih. Otaknya membuka kilasan memori-memori penghinaan yang diterimanya karena bertahan di sisi Kyuhyun. Dan kini, pengorbanan itu dibalas oleh perlakuan yang lebih menyakitkan.

Kyuhyun tak benar-benar tulus padanya. Lelaki itu hanya memanfaatkan keadaannya sebagai orang miskin, sedangkan Hyehoon sungguh mencintai Kyuhyun dengan segenap hatinya. Gadis itu tergugu dalam tangis, menangis sampai dia terlelap dalam tidurnya.

Semuanya telah berakhir.

-TBC-

Sampai disini dulu yaaaa. Trserahlah mau protes juga hahhahaha

75 thoughts on “Red lips (III)

  1. lebih baik hey hoon secepatnya keluar dan mengundurkan diri dari pekerjaannya karena percuma bertahan kalau setiap hari harus makan hati

  2. nancep mantep sakitnya dimanfaatin segitunya sama orang yg dicintai. rumitnya keluarga kyuhyun membawa dampak buat kehidupan hye hoon. poor you dear

  3. Cuma karena pgn bikin keluarganya sadar, kyuhyun sampe segininya ya??? Jahat bener bang ㅠ.ㅠ …. Kirain si kyuhyun punya trauma sama pacar yg dulu, trnyata gini ceritanya 😱😱😱 bagus sih agak beda ceritanya, soalnya rata rata pasti alesannya kyuhyun nyakitin cewe pasti krn balas dendam ato trauma masa lalu… Keren kak, banyakin nulis yang hurt hurt begini 👍👍👍👍👍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s