Second Wife (Between Love and Guilty) – Scene 6


Gak ada feel, gak dibaca ulang. Beneran kayaknya ini ff makin sini makin gak jelas. Gapapa kan ya?

 

 

Hye Hoon menarik nafasnya dalam-dalam. Pernyataan Donghae terlalu banyak, sehingga dia tak yakin jika otaknya bisa menerimanya dengan cepat. Kalimat demi kalimat pengakuan yang diterimanya itu begitu membuatnya terkejut hingga tak menimbulkan reaksi apapun darinya.

 

Gadis itu hanya mematung di tempatnya duduk, matanya terpaku pada tangan halus Donghae yang memegangi tangannya. Dia merasa hangat. Sudah terlalu lama dia mendambakan semua perhatian Donghae yang kini tercurah padanya, Hye Hoon tahu dia akan terlarut dalam masa lalunya jika ini terus menerus terjadi. Sedangkan, dia sendiri menyadari bahwa tak ada lagi tempat yang bisa ditawarkannya pada namja itu lagi.

 

Hanya ada satu nama di hatinya. Dan sebuah nama itu, tak akan terhapus seketika meskipun cinta pertamanya itu mengakui perasaan cinta yang begitu lama dinantikannya.

 

Oppa, aku—”

 

“Jangan menjawabnya sekarang. Aku tahu kau perlu waktu untuk memikirkannya”.

 

Donghae memotong ucapan itu karena hatinya mendadak kalut. Dia tak mau menerima balasan yang dapat menyakiti hatinya. Lelaki itu masih belum yakin jika Hye Hoon bisa menerimanya, setelah apa yang dilakukannya selama bertahun-tahun lamanya.

 

“Tapi aku ingin menjawabnya sekarang”, ungkap gadis itu tegas. Hye Hoon menatap kedua mata yang pernah begitu didambanya itu tanpa berkedip, air matanya tiba-tiba muncul ketika dia mengingat apa yang tengah terjadi pada dirinya saat ini.

 

“Aku tak bisa, Oppa. Maafkan aku. Dengan ada atau tidaknya anak ini, aku tak bisa meninggalkan Kyuhyun lagi. Aku mengerti, suatu saat mereka akan menendangku keluar dari kehidupan mereka tapi untuk sekarang, mereka masih membutuhkan kehadiranku. Aku…….tak bisa pergi darinya sebelum waktuku habis, Oppa”.

 

“Lalu, kenapa kau mendatangiku ketika kau tahu jika kau mengandung anaknya, Choi Hye Hoon?”, ketusnya tajam. “Apa kau masih menganggapku sebagai sandaranmu ketika kau sedang butuh seseorang? Tak pernah lebih dari itu? Benar begitu, bukan?”.

 

Suaranya berubah parau. Mengucapkan dengan mulutnya sendiri jika dia tak pernah bernilai lebih di mata gadis itu, membuat paru-parunya semakin sesak. Dia mulai kesulitan bernafas, hingga membuatnya mengucap kata-kata itu dengan terengah.

 

Jika dia tak bodoh untuk menolak mengikuti permainan Hye Hoon pada waktu itu, mungkin saat ini status mereka sudah berubah. Dia bisa membuat gadis itu menoleh hanya ke arahnya, tak ada drama yang mengharuskannya untuk mengakui anak orang lain sebagai anaknya. Seandainya itu terjadi, kehidupan mereka tak akan serumit ini.

 

Dan pada akhirnya, kali ini karma itu berlaku baginya. Seorang Lee Donghae kini ditolak oleh gadis yang pernah mengajaknya menikah, batinnya mengejek.

 

“Dulu, aku selalu datang padamu meskipun kau mengacuhkanku. Kuakui, itu salah satu caraku untuk menarik perhatianmu. Kau mungkin tak pernah sadar jika aku bahkan jatuh cinta kepadamu belasan tahun yang lalu”.

 

Mata Donghae terbelalak mendengar pengakuan itu. “Kau…..”

 

Hye Hoon memaksakan bibirnya untuk tersenyum, walaupun hatinya merasa hancur ketika dia memutar ingatannya jauh ke belakang. “Sudahlah, lupakan. Kita terlalu banyak bicara pagi ini. Sudah terlalu siang, apa kau tak akan berangkat ke kantor?”

 

*

 

Donghae mengambil cuti pertamanya, yang membuat rumor itu merebak di kalangan karyawan perusahaannya. Semua orang tahu bagaimana sikap lelaki itu yang mementingkan pekerjaan di atas segalanya, tak terkecuali Hye Hoon. Yeoja itu mengangkat bahu dan terheran-heran ketika lelaki itu mengatakan dia akan istirahat di rumah hari ini.

 

Hye Hoon yang bosan pun memilih waktunya dihabiskan di depan televisi. Dia mengganti channel-nya ke salah satu stasiun televisi yang menayangkan film sepanjang hari, dan sepertinya dia beruntung karena film yang sedang ditayangkan bergenre komedi.

 

Dia pun menikmati acara itu ditemani cemilannya, sesekali tertawa karena tingkah konyol yang ditunjukkan sang pemeran utama. Hye Hoon memalingkan mukanya terkejut ketika ada suara lain yang mengikuti suara tawanya itu.

 

Bibirnya mengulum senyum, tatkala melihat pemandangan langka yang kini tersaji di depan kedua matanya.

 

Lee Donghae tertawa terpingkal sehingga menunjukkan deretan giginya yang putih. Wajah itu terlihat lebih muda dan tampan kala kerutan-kerutan mengerikan yang tinggal di dahinya menghilang. Hye Hoon pun terharu, sudah sekian lama dia tak mendengar suara tawa khas yang begitu dirindukannya itu.

 

“Apa kau sekarang mulai terpesona dengan cinta pertamamu lagi?”, tanya Donghae datar dengan matanya yang masih terpaku di layar. Dia tersenyum jahil, yang membuat Hye Hoon semakin terbawa perasaan sehingga cairan bening mengalir dari mata indahnya.

 

Dia memukul dada Donghae main-main, sebelum lelaki itu mendekapnya ke dalam sebuah pelukan hangat. “Kau kembali, Oppa. Astaga, apa kau tahu sudah berapa lama aku dan Imo menunggumu berubah menjadi Donghae yang dulu?”, ucapnya diselingi isakan.

 

Donghae mencium rambut gadis kecilnya itu sambil tersenyum senang. Dia juga merasa bahagia karena akhirnya dia bisa kembali menunjukkan dirinya yang sebenarnya di hadapan orang yang begitu dicintainya. Mungkin ini sedikit terlambat, tapi setelah tahu gadis itu pernah mencintainya, dia meyakini jika dia tetap menjadi Donghae yang kaku dan tak peduli, dia tidak mungkin bisa merebut hati Hye Hoon kembali.

 

Mianhae. Aku banyak menyakitimu dulu. Itu karena aku menjadikan sikap dinginku perisai untuk melindungi diriku sendiri agar bisa melupakanmu. Tetapi, nyatanya itu tak berguna. Aku tak bisa melupakan perasaanku padamu meskipun aku mencobanya”.

 

Hye Hoon menoleh cepat, mengintip wajah Donghae dibalik tangan besar milik lelaki itu yang kini melingkupinya. “Bisakah kau tak membicarakan itu lagi, Oppa? Percayalah, jika pada akhirnya aku ditakdirkan untukmu, aku tak akan kemana-mana. Tapi, untuk saat ini biarkan aku menuntaskan janjiku. Kau juga butuh seorang wanita untuk kau kencani, Oppa. Kau sudah hampir tiga puluh, dan kau tak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun? Kau menyedihkan sekali”.

 

Suara ketukan pelan diiringi ringisan yang nyaring itu membuat keduanya kembali tertawa. Donghae menghadiahi Hye Hoon sebuah jitakan pelan di kepala karena berbicara seenaknya tentang dirinya. “Aku hanya mencintaimu. Kau pikir aku bisa berkencan dengan sembarang gadis?”

 

Geumanhae, Oppa”, kesal Hye Hoon karena lelaki itu mulai membahas tentang hubungan mereka lagi.

 

“Baiklah, baiklah. Aku tak harus menambah bebanmu karena semua ini. Kau masih memiliki masalah yang besar untuk dihadapi. Untuk itu, kau harus tahu bahwa aku akan selalu ada untuk membantumu”.

 

Hye Hoon mengeratkan pegangannya di lengan kekar Donghae. Mengingat tentang semua itu membuatnya kepalanya pusing. Dia belum siap dengan semua ini. Bagaimana menghadapi pasangan suami-istri itu mengenai anak yang berada di dalam kandungannya.

 

*

 

Cheonsa pura-pura menyibukkan dirinya dengan dua cangkir teh yang kini berada di hadapannya. Dia menambahkan beberapa sendok gula dan mengaduk-aduknya perlahan. Ujung matanya melirik Kyuhyun yang sedari tadi berkutat dengan laptopnya meskipun matanya sesekali mengintip ponsel yang tergeletak di sebelah macbook-nya itu.

 

Gadis itu tetap diam. Tak berusaha menanyakan apapun yang kini begitu mengganggunya, menahan rasa perih yang menjalari hatinya ketika kesekian kalinya dia melihat Kyuhyun mengkhawatirkan wanita lain.

 

Jika diingat lagi, Cheonsa bahkan tak tahu-menahu dengan hubungan suaminya dengan gadis yang menjadi orang ketiga di dalam rumah tangganya itu. Dia bahkan lupa untuk sekedar menanyakan keanehan yang terjadi pada gadis itu dan mertuanya.

 

Gadis itu menggeleng kepalanya keras. Tidak. Dia tak boleh curiga pada Kyuhyun. Bukankah dari awal Kyuhyun sudah meyakinkan dirinya untuk percaya seratus persen padanya? Mungkin sekarang Kyuhyun hanya gelisah karena wanita yang tinggal serumah dengannya tak memberikan kabar apapun selama dua hari. Sama seperti apa yang sedang Cheonsa rasakan sekarang.

 

“Apa Hye Hoon belum menghubungimu lagi, Oppa? Tenanglah. Mungkin sinyal di Mokpo buruk sehingga dia tidak bisa menelepon kita. Dia pasti baik-baik saja”.

 

Kyuhyun melengkungkan senyuman tipis. “Ya, mungkin seperti itu. Aku…..hanya khawatir karena dia tak pernah ke luar kota sendirian”.

 

“Dia sudah dewasa, jadi dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri. Percayalah padaku, Oppa”.
Berbohong. Itulah yang bisa Kyuhyun lakukan sekarang. Cheonsa tak boleh tahu jika Hye Hoon tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Dia tak ingin Cheonsa menyalahkan dirinya sendiri dan mempertanyakan kepergian gadis itu.

 

Berulang kali dia berdoa dalam hati agar Hye Hoon selalu baik-baik saja, dimanapun gadis itu berada. Kyuhyun terlalu mengkhawatirkan gadis itu hingga rasanya dia ingin mati karena mungkin penyebab gadis itu pergi tanpa peringatan adalah untuk menjauhi dirinya.

 

Deruan mesin mobil yang memasuki pekarangan rumahnya membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Kyuhyun berlari cepat ke arah pintu, tanpa mempedulikan Cheonsa yang terheran-heran melihat suaminya bersikap begitu. Langkah kaki Kyuhyun terhenti ketika melihat seseorang turun dari mobil yang terlihat tak begitu asing itu.

 

Tangannya terkepal erat ketika orang yang dilihatnya tadi membantu istrinya keluar dari mobil. Pemandangan itu membuat matanya panas. Ini sungguh menyakiti hatinya. Membuatnya ingin segera berlari dari tempatnya berdiri dan menghujamkan pukulan bertubi-tubi di tubuh pria itu.

 

Terlebih ketika Kyuhyun melihat mereka tertawa akrab, dengan mata saling menatap satu sama lainnya, hingga senyuman di bibir Hye Hoon pudar ketika gadis itu menangkap kehadirannya. Kyuhyun berdesis marah, karena dia sekarang seolah berperan menjadi perusak kebahagiaan kedua orang itu.

 

Hye Hoon menatap lurus ke arahnya ketika lelaki yang mengantarkannya kembali ke rumahnya itu memeluknya mesra. Kyuhyun hendak berbalik, namun gerakannya terhenti ketika mendengar suara deritan roda yang mendekat ke arahnya.

 

“Hye Hoon sudah pulang?”, tanya Cheonsa memecah keheningan. Kyuhyun melirik kedua insan itu sekali, dengan tatapan tajamnya, sebelum kemudian mendorong Cheonsa kembali masuk ke rumah mereka.

 

“Sudah malam, sayang. Ayo kita masuk, kau pasti kedinginan”.

 

“Tapi Oppa—Aku juga ingin mengenal lelaki yang bersama Hye Hoon. Apakah dia salah satu kenalan Hye Hoon yang berada di Mokpo?”.

 

Kyuhyun menahan emosi yang meluap-luap di dadanya. Memori tentang kejadian tadi masih begitu nyata di pikirannya, sehingga dia tak yakin dia bisa lebih lama berakting sebagai suami yang lembut lebih lama lagi untuk malam ini.

 

“Kau bisa menanyakannya pada Hye Hoon besok. Sekarang, waktunya kau untuk tidur”.

 

*

 

Hye Hoon tak bisa tidur tadi malam. Dia berharap jika Kyuhyun mengendap ke kamarnya untuk menemuinya, karena itu dia menunggunya dan terjaga sepanjang malam. Ketika dia membuka mata, dia mendapati bahwa Kyuhyun sudah pergi. Cheonsa mengatakan bahwa Kyuhyun ada rapat pagi-pagi sekali sehingga dia tak menghabiskan sarapan di rumah dan segera berangkat ke kantor.

 

Mungkin Cheonsa tak menyadari apa-apa. Tapi Hye Hoon tahu, jika Kyuhyun berbohong hanya untuk menghindarinya.

 

Mungkin ada baiknya jika dia sedikit menunda untuk memberitahukan perihal kehamilannya kepada kedua orang itu. Lagipula, dia belum siap menerima perlakuan Cheonsa yang berlebihan jika mengetahui dirinya hamil. Untuk sekarang, cukup Donghae Oppa-nya yang bersikap over protective dengan mengiriminya pesan selama lima belas menit sekali untuk menanyakan kabarnya.

 

“Hye Hoon~ah, bagaimana perjalananmu ke Mokpo? Apa pantai disana sangat indah?”

 

Gadis itu menghentikan suapan nasi di mangkuknya yang sudah hampir habis itu dan mengalihkan pandangannya ke arah Cheonsa. Dia hampir tak bisa mengendalikan ekspresi terkejutnya ketika wanita di hadapannya itu menanyakan hal itu padanya.

 

“Oh, ya. Perjalanannya sangat menyenangkan. Pantainya sangat indah, kau pasti menyukainya”.

 

Mata Cheonsa berbinar, wajahnya begitu antusias seperti anak kecil ketika mendengar tentang pengalaman teman serumahnya itu. “Benarkah? Kuharap suatu saat aku bisa mengunjunginya. Bagaimana keadaan bibimu disana?”

 

Hye Hoon terbatuk. Dia tak terbiasa berbohong sehingga sulit rasanya untuk mengarang cerita untuk menyempurnakan apa yang telah ditutupi suaminya. “Bibi baik-baik saja. Halmoni juga. Mereka menitipkan salam untuk kalian”, katanya dengan senyuman tulus.

 

“Kulihat tadi malam kau diantar seorang pria. Apa pria itu yang mengantarmu kesana?”

 

Hye Hoon sempat lupa jika Cheonsa melihat Donghae juga. Pasti dia juga melihat mereka berpelukan, astaga. Hye Hoon berharap semoga Cheonsa tak berpikiran macam-macam.

 

“Ya, pria itu Lee Donghae. Dia anak dari bibiku”. Suara Hye Hoon mulai tersendat karena dia takut Cheonsa menanyakan hal yang lebih dalam tentang hubungannya dengan lelaki itu.

 

Hye Hoon menghembuskan nafasnya lega ketika dia hanya mendengar tanggapan ringan dari wanita itu. “Dia terlihat tampan dan baik. Kapan kau akan mengenalkannya padaku?”

 

Dia orang yang masih mencintaiku, yang menginginkanku meninggalkan kalian untuk menjaga anak ini bersamaku. Apakah kau masih menganggap orang itu baik jika kau tahu siapa dia sebenarnya, Eonnie?

 

*

 

“Jadi, kau sudah berhasil memaksaku untuk keluar rumah dan duduk di mobilmu. Sampai kapan kau akan menutup mulutmu dan tak mengatakan apapun kemana kita akan pergi, Tuan?”

 

Lelaki yang sedang sibuk dengan gagang setir dan jalanan di hadapannya itu tersenyum kecil. Dia mengabaikan ocehan gadis di sampingnya sejak tadi, dan sepertinya gadis itu mulai kesal dan memanggil namanya dengan sapaan formal.

 

“Bersabarlah. Kau pasti akan tahu nanti”, jawabnya dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya. Sekian lama dia menunjukkan kepada orang bahwa dia tak mudah tersenyum namun dia menebar senyumannya dengan mudah di hadapan gadis itu.

 

Hye Hoon mulai menatap pria itu curiga. “Kau tak akan menculikku, kan?”, tanyanya ngeri. “Ya, ya, ya Lee Donghae~ssi kau tahu? Senyumanmu itu terlihat seperti senyuman seorang kriminal”.

 

Donghae mencubit hidung gadis itu gemas, hampir saja dia kehilangan fokusnya menyetir karena terlalu bahagia melihat wajah Hye Hoon yang memberengut padanya. “Mana ada orang yang mau menculik gadis jelek sepertimu, hah?”

 

Keduanya kembali saling berbagi tawa. Hye Hoon mulai memicingkan matanya ketika mobil Donghae berbelok ke kawasan rumah sakit. Dia menyandarkan tubuhnya yang tiba-tiba lelah. Ketika mengingat bahwa dia tengah mengandung, entah mengapa membuat beban di kepalanya bertambah berkali-kali lipat.

 

Donghae melirik gadis itu dari sudut matanya, mengamati perubahan air muka Hye Hoon yang terlihat sedih. Apakah bayi itu benar-benar membuat dirinya begitu terluka? Sayang sekali, kehadiran suatu kehidupan baru di muka bumi ini malah membuat petaka untuk beberapa orang padahal seharusnya mereka bersyukur atas kehadiran anugerah luar biasa itu.

 

Donghae mengelus pelipis Hye Hoon yang mulai dikotori keringat. “Ayo turun. Kita sudah sampai”.

 

Keduanya pun segera memasuki rumah sakit termegah di Seoul itu. Donghae menanyakan kepada informasi dimana poli kandungan berada, lalu mereka berjalan menuju kesana. Tak berapa lama menunggu, seorang perawat lelaki menghampiri keduanya.

 

“Nyonya Lee, sekarang giliran anda”.

 

Hye Hoon menunjuk dirinya sendiri karena heran.”Nyonya Lee? Aku?”. Donghae tersenyum penuh arti lalu membantu Hye Hoon untuk segera bangkit dari duduknya dengan merengkuh pinggang gadis itu mesra.

 

“Ayo, Nyonya Lee. Kau sudah ditunggu”. Senyuman nakal yang masih bermain di bibirnya membuat Hye Hoon tertawa dan mencubit lengan yang melingkar di tubuhnya itu pelan.

 

Ketika keduanya memasuki ruangan, terlihat seorang wanita muda dan cantik menyambut kedatangan mereka dengan mengenakan jubah putih kebanggaannya. Wanita muda itu tersenyum ramah hingga kemudian menyadari siapa pasangan di depannya, lalu senyuman itu berganti dengan sebuah bisikan lirih yang menyakitkan.

 

“Donghae….Oppa?”

 

*

 

“Bayinya berusia dua minggu. Dia dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Nyonya Lee, saya perlu meresepkan beberapa macam vitamin agar kondisi anda terjaga”.

 

Wanita itu berucap dengan nadanya yang datar, wajahnya yang dingin tanpa senyum membuat kedua orang di depannya mengernyit heran. Hye Hoon masih bisa menjaga raut wajahnya agar terlihat tersenyum, namun tak dipungkiri dia heran dengan sikap temannya itu.

 

“Bagaimana kabarmu, Soojin~ah? Sudah lama sekali kita tidak bertemu”. Hye Hoon mencoba membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana. Dia menyenggol lengan Donghae untuk membantu usahanya, namun lelaki itu tak bergeming dan tetap memasang wajah datarnya.

 

Soojin yang telah selesai menulis resepnya dalam secarik kertas itu pun tak menanggapi basa-basi Hye Hoon sama sekali. Dia menyerahkan kertas itu pada lelaki di seberang mejanya dengan ekspresinya yang terlihat murung.

 

“Kau bisa menebusnya di apotek yang berada di rumah sakit ini. Dan jangan lupa untuk memeriksakan kandungan istrimu setiap bulan”.

 

Hye Hoon menutup mulutnya karena takut suara tawanya yang keras mengganggu di ruangan itu ketika akhirnya dia menyadari alasan mengapa Soojin bersikap tak bersahabat dengan mereka berdua. Sejak duduk di bangku kuliah dulu, gadis itu adalah penggemar berat Lee Donghae yang bersedia berteman dengannya agar dapat berdekatan dengan lelaki itu.

 

Meskipun hubungan Donghae dan Hye Hoon buruk, namun Soojin tahu jika Hye Hoon satu-satunya teman yang mengenal baik Donghae. Itu sebabnya Soojin mendekatinya agar dia lebih tahu segala sesuatu tentang lelaki pujaannya itu.

 

Soojin menatap Hye Hoon aneh, tak mengerti mengapa wanita itu tertawa karena ucapannya tadi. Apa ada sesuatu yang salah? Batinnya kesal. Wanita itu, apa dia tak puas sudah merebut Donghae darinya dan sekarang beraninya Hye Hoon menertawakannya seperti itu? Keterlaluan.

 

“Soojin~ah, kau salah paham”, ujar Hye Hoon ketika tawanya mulai mereda. “Donghae Oppa bukan suamiku. Dia hanya mengantarku untuk check-up, dan tak disangka kami bertemu denganmu. Kau tak perlu cemburu padaku, Soojin~ah”, ucapnya menggoda.

 

Soojin mencoba mengontrol raut mukanya yang kegirangan, namun senyuman bodohnya itu tentu saja tak bisa begitu saja dihilangkannya. “Jadi, kalian bukan sepasang suami-istri?”, tanyanya memastikan.

 

Donghae hanya terdiam dan membuang mukanya. Dia tak suka dengan topik bahasannya ini. Hye Hoon justru berbeda sekali dengan lelaki itu. Gadis itu malah tersenyum lebar dan mengangkat tangan kiri Donghae untuk menunjukkannya pada Soojin.

 

“Lihatlah, tidak ada cincin yang menghiasi jari ini, bukan?”

 

Soojin melirik Donghae dan menarik bibirnya yang terasa ringan itu ke belakang. Tidak sia-sia rasanya menunggu lelaki itu sekian lama, dan sekarang takdir sedang berpihak padanya. Lee Donghae, seorang taipan muda tampan yang mempesona itu masih single! Batinnya bersorak senang.

 

*

 

Kedua kalinya Kyuhyun memergoki Hye Hoon diantar oleh lelaki bermarga Lee itu. Kali ini dia tak perlu berakting karena Cheonsa sudah terlelap sendiri di kamar mereka. Efek dari obat yang dikonsumsinya beberapa jam lalu mulai bereaksi sehingga dia tak bisa terjaga lebih lama.

 

Kali ini, dia tak tinggal diam seperti yang dilakukannya kemarin. Kyuhyun keluar rumah dengan rahangnya yang keras, tangannya terkepal ketika melihat kemesraan kedua orang itu lagi. Terlihat Donghae sedang membenarkan letak jaket yang dikenakan istrinya, dan Hye Hoon tersenyum tulus sambil menatap lelaki itu.

 

“Kukira kau sudah lupa rumahmu dimana, Choi Hye Hoon~ssi. Apa kau tak berniat menginap di rumah teman lelakimu lagi?”.

 

Ucapan yang dilontarkan oleh pria yang berdiri tegap di hadapan kedua orang itu membuat Hye Hoon bergidik takut. Kalimat itu begitu tajam hingga membuat hatinya berdarah seketika. Dia hampir saja kehilangan nafasnya ketika dia tahu orang yang dicintainya kini begitu membencinya.

 

Hye Hoon tahu dia bersalah. Namun, dia tak punya pilihan lain. Dia hanya butuh seseorang untuk menjadi penopangnya ketika dia merasa lelah dengan kehidupannya bersama Kyuhyun. Apakah itu tidak dibenarkan?

 

Donghae hampir saja menerjang lelaki berdarah dingin itu, jika saja Hye Hoon tak menahan lengannya. Itu membuatnya sadar. Dia tak boleh menghadapi seorang Cho Kyuhyun dengan kekuatan ototnya. Perbuatan itu hanya dapat membuatnya kehilangan tenaganya saja.

 

“Tadinya aku memang akan membawanya kembali ke rumah, tapi sepertinya Hye Hoon takut jika istrimu curiga. Oh ya, aku tak melihat istrimu. Apakah dia sudah tidur sehingga kau bisa keluar rumah dan menghardik istrimu yang lain? Kau bersikap kurang adil, Tuan Cho”

 

Gigi Kyuhyun beradu keras, tenaganya sudah berkumpul di kepalan tangannya sehingga urat-uratnya terlihat. “Tutup mulutmu, bajingan!”, sentaknya. Tanpa disadarinya, kakinya melangkah dengan hentakan cepat hendak melemparkan tinjunya di wajah lelaki itu.

 

Hye Hoon bergerak maju, merentangkan tangannya di depan Donghae untuk melindunginya sambil memejamkan matanya rapat. Kyuhyun yang tersadar dengan situasi itu segera memundurkan kembali langkahnya ke belakang.

 

Disaat Hye Hoon membuka mata, satu hal yang dilihatnya adalah mata Kyuhyun yang terlihat begitu terluka. Oh Tuhan, betapa dia benci melihat Kyuhyun seperti itu karena dirinya. Namun, dia tak berani berbuat apapun. Dia mengisyaratkan sahabatnya untuk segera pergi, dan lelaki itu mematuhinya tanpa berbicara.

 

Setelah melihat mobil Donghae meluncur melewati gerbang rumah mereka, Hye Hoon pun terduduk lemas di bangku taman terdekat yang dapat dilihatnya. Dia melihat langit malam yang begitu gelap, yang membuat air matanya turun meleleh di pipinya.

 

Kyuhyun masuk ke dalam rumahnya tanpa menoleh sedikitpun, membuat Hye Hoon semakin terpuruk dan menangis sejadinya. Dia tahu, sekarang dia membuat Kyuhyun menjauh darinya. Semua janji yang pernah mereka ucapkan untuk menghabiskan sisa waktu mereka untuk bersama seakan musnah begitu saja.

 

Hye Hoon tahu pasti, jika sekarang Kyuhyun marah padanya dan tak akan memperdulikan kehadirannya. Dia tersenyum getir. Mungkin dia hanya satu-satunya wanita yang rela dibenci suaminya hanya agar mereka tak terluka nantinya saat perpisahan itu semakin dekat.

 

Apakah hidupmu se-menyedihkan ini, Choi Hye Hoon?

 

*

 

Seperti biasa, yang kulakukan pagi hari adalah menyeduh tiga cangkir teh dan menata roti dan selai di meja. Yang berbeda dari yang kulakukan sebelumnya adalah aku mengeluarkan beberapa macam buah dari kulkas. Pagi ini, aku tak sedang ingin makan sesuatu yang berat, aku hanya ingin memakan buah-buahan segar yang sedikit masam.

 

Aku tersenyum kecil sambil mengusap perutku perlahan. Sepertinya bayi yang berada di dalam kandunganku mulai menginginkan makanan-makanan seperti itu.

 

Suara hentakan kaki yang mendekat membuatku mempraktekkan bibirku untuk menyunggingkan senyuman indah. Tak ada yang berbeda, mereka keluar dengan Cheonsa yang berada di pangkuan Kyuhyun, dengan Kyuhyun yang memberikan ciuman-ciuman halus di sekitar wajah wanita itu.

 

Aku menggigit bibir bawahku menahan laju air mata yang keluar, yang seakan tak pernah habis ketika aku bahkan sudah sangat terbiasa melihat pemandangan itu. Kutegakkan wajah, melihat ke arah mereka berdua dengan menerbitkan senyum yang sempat kupraktekkan tadi.

 

“Selamat pagi”, sahutku riang. Kulihat Cheonsa membalas senyumanku dan menjawab sapaanku dengan suara lembutnya. Sedangkan lelaki itu hanya menatapku tajam sambil mengangguk dan kembali berkonsentrasi dengan roti yang ada di piringnya.

 

Jika beberapa hari lalu, atau beberapa bulan lalu Kyuhyun melakukan itu hanya karena akting yang dimainkannya, kali ini dia benar-benar tulus. Dengan tangan gemetar, aku mengambil sebuah jeruk lalu mengupasnya perlahan.

 

“Hye Hoon~ah, kau tidak makan?”. Cheonsa menatapku heran. Pandangannya beralih pada buah jeruk yang sedang kugenggam. Alisnya semakin mengerut tajam. “Kau lebih memilih mengganjal perutmu dengan buah yang masam? Setidaknya penuhi asupan karbohidratmu dulu, Hye Hoon~ah. Kau tidak boleh memakan makanan seperti itu jika perutmu masih kosong”.

 

Aku kehilangan kesadaranku selama beberapa saat. Tak bisa menjawabnya dengan kalimat apapun selain dengan seulas senyum. Kyuhyun melirikku dengan tatapannya yang masih tak bersahabat.

 

“Jangan-jangan kau……Hye Hoon~ah, katakan padaku. Apa kau hamil?”

 

Kedua pasang mata itu memburuku dengan mata yang tersirat dalam rasa ingin tahu yang kurang lebih sama. Badanku menegang, merasa jika aku dalam posisi yang sama dengan terdakwa yang sedang diinterogasi tentang kasusnya.

 

Aku tahu, aku tak bisa menundanya lebih lama lagi. Lambat laun, seiring dengan perubahan fisik yang kualami, mereka pasti tahu. Toh, aku juga tidak bermaksud untuk menyembunyikan perihal kehamilanku dari mereka. Dulu, aku menghindar karena aku belum siap, meskipun aku yakin sekarang keadaannya sama saja.

 

Kutegakkan kepalaku, lalu tersenyum seolah sedang bahagia, meskipun hatiku berteriak kesakitan. “Ya….kau benar, Eonnie. Aku baru mengetahui beberapa hari lalu bahwa aku tengah mengandung”.

 

Melihat binar yang terpancar dari kedua mata Cheonsa yang melihatku tak percaya membuatku tahu bahwa dia sangat bahagia. Lebih bahagia dari aku, ataupun Kyuhyun. Lelaki itu tak menunjukkan ekspresi senangnya sedikitpun. Dia menatapku nanar, dan sepertinya dia semakin jijik untuk melihatku.

 

Cheonsa berhambur ke pelukan Kyuhyun, dan saat itu pula lelaki itu mulai menjalankan aksinya. Dia tersenyum lebar sambil menciumi rambut istrinya, membuat pelukan Cheonsa di sekeliling tubuh Kyuhyun semakin erat.

 

“Astaga, apa kau percaya ini, sayang? Kita akan segera mempunyai anak”.

 

Kalimat itu seakan menusuk jantungku tajam. Seharusnya, aku yang berperilaku seperti Cheonsa ketika aku tahu bahwa sesuatu sedang berkembang di rahimku. Aku yang memeluk Kyuhyun seperti itu ketika berita baik ini kuberitahukan kepadanya. Tapi, aku tak bisa melakukannya, bahkan untuk memberitahukannya dengan nada bahagia saja aku tidak mampu.

 

Aku tak berhak melakukan apapun karena anak yang tumbuh di perutku bukan anakku sendiri. Dia bukan anakku.

 

*

 

Malam harinya, Kyuhyun datang ke rumah dengan keadaan kacau. Dia berjalan dalam keadaan setengah sadar, dari tubuhnya tercium bau alkohol yang sangat menyengat. Untunglah, hari itu sudah tengah malam dan pikirannya masih waras untuk tidak membuat keributan. Jika Cheonsa memergokinya, Kyuhyun tak punya pembelaan apapun untuk dijelaskannya.

 

Setahun berlalu, meskipun kehilangan orang yang begitu dicintainya, Kyuhyun masih bertahan dan tak berlaku bodoh untuk merusak dirinya dengan meneguk minuman keras sebagai jalan pintas agar dia tak mengingat gadis itu. Dia masih bisa mengendalikan diri dengan bersikap begitu lembut dan baik dihadapan orang yang tak pernah sedikitpun menempati tempat istimewa di hatinya.

 

Namun, ketika gadis itu kembali—lebih tepatnya dia membawa gadis itu kembali dan sekarang gadis itu meruntuhkan kepercayaannya, pertahanannya runtuh. Membayangkan Lee Donghae adalah orang pertama yang mengetahui bahwa istrinya hamil membuat nafasnya sesak.

 

Dia terlalu cemburu, karena Donghae adalah seorang yang pernah dicintai Hye Hoon dan sekarang lelaki itu sedang gencar mengincar istrinya. Hubungan tak sehat antara dirinya dan Hye Hoon membuat Kyuhyun berpikir jika Hye Hoon dapat dengan mudah meninggalkannya.

 

Dan dia belum siap untuk ditinggalkan oleh gadisnya itu.

 

Mendengar suara gaduh di depan kamarnya, Hye Hoon pun bangun dari tempat tidur dan membuka pintu. Dia menutup mulutnya ketika melihat Kyuhyun duduk di depan pintu dengan kepalanya yang menunduk, bau alkohol tercium dari tubuh tegapnya.

 

“Hye Hoon~ah….Hye Hoon~ah….jangan pergi”.

 

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya saat ini, Hye Hoon pun membopong tubuh suaminya hingga Kyuhyun terlentang di ranjang. Matanya berkaca-kaca ketika melihat keadaan Kyuhyun yang berantakan. Hye Hoon bahkan bisa melihat cairan bening yang mengalir dari mata indah lelaki itu.

 

Beberapa kali, Kyuhyun menyebut namanya dan memintanya untuk jangan pergi. Itu membuatnya yakin jika suaminya itu tak pernah membencinya.

 

Hye Hoon mengelus pipi lelaki itu, lalu menenangkannya. “Aku tak akan pergi kemana-mana, Kyuhyun~ah. Aku disini”.

 

Mata Kyuhyun terbuka dengan cepat. Bulatan hitam itu menelisik wajah Hye Hoon lamat, memastikan pandangannya sendiri jika ini bukan halusinasinya. “Ini benar kau, Choi Hye Hoon?”, tanyanya seperti anak kecil. Hye Hoon menganggukkan kepala sebagai jawabannya.

 

Gerakan Kyuhyun yang cepat membuat Hye Hoon tak bisa menolak ketika lelaki itu mendekapnya erat. Pelukan yang berbeda dengan pelukannya tadi pagi dengan Ahn Cheonsa. “Oh Tuhan, aku sangat merindukanmu. Kau harus berjanji bahwa kau tak akan pergi dariku lagi”.

 

Air mata kembali mengalir di pipi Hye Hoon. Dia mendekap mulutnya sendiri menahan isakannya agar tak terdengar. Kyuhyun tak ingin dia pergi, Kyuhyun mencintainya lebih dari siapapun. Hye Hoon tak bisa menjanjikan apapun karena dia tahu suatu saat dia pasti akan meninggalkan suaminya.

 

Untunglah, Kyuhyun tak mendesaknya lebih jauh karena lelaki itu mulai terlelap. Hye Hoon melepaskan pelukannya kemudian mengamati wajah suaminya yang tenang. Tangannya bergerak mengusap bagian wajah Kyuhyun yang dikotori air mata.

 

Lelaki ini menangis untuknya. Betapa dia tak ingin melihat lelaki ini menangis di hadapannya lagi. Kyuhyun-nya begitu menderita. Dan dia merasa tidak berdaya karena tak bisa berbuat apa-apa.

 

*

 

Hye Hoon tersenyum cerah ketika Kyuhyun bangun dari tidurnya. Wanita itu sudah dalam keadaan segar, sedang menyiapkan alat mandi untuk suaminya. Kyuhyun membuang muka. Dia mengaduh ketika mencoba bangkit dari tempat tidur karena pusing yang dirasakannya.

 

“Minumlah”, titah Hye Hoon sambil menyodorkan segelas air putih dan untuk meredakan hangover karena alkohol yang diteguk lelaki itu semalam. Kyuhyun menatap gadis itu sekilas lalu menurutinya. Segera dia beranjak dari tempatnya dan keluar dari kamar tanpa memperdulikan istrinya.

 

Hye Hoon menghela nafas beratnya, lalu mendudukkan dirinya di ranjang besarnya. Dia tak berniat untuk sekedar menjelaskannya kepada Kyuhyun. Tentang kehamilannya yang tiba-tiba, ataupun tentang Donghae yang kembali dekat dengannya.

 

Dia membuat Kyuhyun berasumsi apa yang terjadi dan memusuhinya seperti ini.

 

Setelah mereka bertiga menyelesaikan makan pagi mereka, dengan Cheonsa yang begitu perhatian dengan Hye Hoon karena janin yang dikandungnya, Kyuhyun pun bersiap untuk berangkat. Cheonsa mengikuti suaminya sampai depan pintu. Sedangkan Hye Hoon, dia hanya mengamati mereka dari tempat jauh seperti yang dilakukannya pagi-pagi sebelumnya.

 

Kyuhyun selesai memberi ciuman lembut di dahi Cheonsa dan hendak pergi, namun lengan Cheonsa menahan kepergian lelaki itu.

 

“Hye Hoon~ah, apa kau ingin sesuatu untuk dimakan? Kau bisa meminta Kyuhyun untuk membelikannya”, katanya dengan suara agak keras mengingat jarak mereka yang lumayan jauh.

 

Hye Hoon melirik ragu ke arah Kyuhyun. Mereka saling beradu pandang, hingga Kyuhyun memutus kontak mata diantara mereka. Gadis itu menelan pahit rasa kecewanya. Dia mencoba tersenyum lalu menjawabnya dengan gelengan pelan.

 

“Aku tak ingin apapun, Eonnie”.

 

*

 

Beberapa hari berlalu semenjak kejadian di malam dia pulang ke rumah dalam keadaan mabuk, situasi diantara dirinya dan Hye Hoon tak kunjung membaik. Cheonsa tak mencium ada yang salah tentunya, karena itulah yang biasa dipertontonkan mereka di hadapan gadis itu setiap saat.

 

Sejak itu, Kyuhyun kehilangan konsentrasinya dan tak bisa memikirkan apapun selain Hye Hoon dan anak yang sedang dikandungnya. Dia marah karena Hye Hoon pergi tiba-tiba dan kembali dengan lelaki lain yang ada di pelukannya. Apalagi, akhir-akhir ini Hye Hoon selalu pulang malam. Dan Kyuhyun tahu jika mereka pergi bersama.

 

“Tolong urus pekerjaanku hari ini. Jangan lupa pindahkan jadwal meeting penting menjadi esok hari”.

 

Klik.

 

Kyuhyun bahkan tak menunggu bawahannya untuk merespon. Dia memutuskan sambungan teleponnya begitu saja dan kembali mengamati keadaan sekitarnya layaknya penguntit. Kurang lebih dia memang sedang melakukan hal itu sekarang, tapi dia tetap tak mau mengakuinya.

 

Kyuhyun hanya ingin tahu apa yang dilakukan istrinya selama ini. Mereka saling mengenal, jadi dia tak bisa dikategorikan sebagai penguntit bukan?

 

Tak lama, Kyuhyun melihat mobil putih yang dikenalnya melewati pagar rumahnya sendiri. Dia segera menyalakan mobilnya, lalu membuntuti mobil itu namun tetap dapat menjaga jarak.

 

Setelah beberapa lama menyetir, akhirnya Hye Hoon memarkirkan mobilnya di salah satu kafe kecil yang terletak tak jauh dari perusahaan milik Donghae. Kyuhyun menyimpan mobilnya di seberang kafe itu, tetap berada di dalam mobil untuk mengawasi pergerakan Hye Hoon.

 

Sial. Hye Hoon pasti sedang menunggu Donghae, pikirnya marah. Dia melampiaskannya dengan memukul gagang setirnya kencang. Dasinya ia longgarkan karena hawa panas mulai merasuki tubuhnya.

 

Beberapa saat menunggu, nampak seorang wanita berjubah putih duduk di depan Hye Hoon. Memang, posisi gadis itu yang duduk di dekat jendela kaca membuat Kyuhyun dapat lebih leluasa mengamatinya. Kyuhyun memutar otaknya. Gadis itu sepertinya tak asing baginya.

 

Tak ada tanda-tanda kedatangan Donghae sampai Hye Hoon kembali memasuki mobil. Kyuhyun mendesah lega. Dia pun meneruskan kegiatannya mengikuti kemana istrinya pergi, dimana kali ini istrinya itu menghabiskan waktu di sebuah pasar tradisional.

 

Hye Hoon membeli beberapa jajanan tradisional. Dia makan dengan lahap sampai tak memperhatikan apapun di sekitarnya. Kyuhyun tersenyum tipis. Nafsu makan gadis itu pasti bertambah karena kehadiran bayi mereka.

 

Dia mengingat ketika Cheonsa menanyakan apa makanan yang diinginkan Hye Hoon saat itu. Dan wanita itu menolak dibelikan apapun. Kenyataannya, Hye Hoon membeli apa yang diinginkannya sendiri.

 

Kyuhyun menyandarkan kepalanya pada pilar yang ada di belakang kepalanya sambil mendesah lelah. Paru-parunya terasa begitu sesak karena beban berat menghantam dadanya. Sungguh, dia seorang suami dan ayah yang kejam bagi istrinya. Hanya karena rasa cemburu butanya, dia tega menelantarkan orang-orang terpenting yang ada di kehidupannya.

 

Dia mengetuk-ketukkan kepalanya kasar, menghukum dirinya sendiri atas perbuatannya. Dia bersalah dan dia pantas dihukum lebih dari itu.

 

*

 

Hye Hoon memasuki sebuah kedai yang beberapa ini tak luput dikunjunginya. Memakan naengmyeon di siang hari adalah salah satu kebiasaannya beberapa hari ini. Atau bukan sebuah kebiasaan, melainkan karena keinginan yang berasal dari sesuatu yang berkembang di rahimnya. Namun, dia selalu menolak. Hye Hoon tak ingin melakukan apapun untuk bayi itu.

 

Alasannya sama, karena bayi itu memang bukan miliknya.

 

“Kau ingin memesan makanan yang sama, Agashi?”, seorang wanita paruh baya mendekatinya dengan senyuman ramah yang tak lepas dari wajahnya.

 

“Ya. Seperti biasanya.Geomapseumnida, Eomoni”, balasnya sopan.

 

Setelah meneriakkan pesanan Hye Hoon, wanita itu mendekatinya lalu duduk di hadapan gadis itu. “Aigoo, kau benar-benar terlihat cantik. Kudengar, kecantikan dari seorang perempuan akan terpancar berkali lipat ketika dia sedang hamil. Apa kau sudah tahu apa jenis kelamin bayimu, Nona?”

 

“Aku harus menunggu beberapa bulan lagi untuk mengetahuinya”.

 

Ahjumma itu mengangguk mengerti. “Kau datang sendiri lagi?”, tanyanya lagi. Hye Hoon hanya bisa tersenyum tipis untuk menjawab pertanyaan wanita berusia empat puluh tahunan itu.

 

“Kali ini dia datang bersama suaminya, Eomoni”, pemilik suara berat itu menimpali. Hye Hoon menoleh cepat mendapati Kyuhyun yang berdiri tegap di dekat mejanya, terlihat begitu tampan seperti biasanya.

 

Gadis itu bertanya-tanya dalam hati mengapa Kyuhyun bisa sampai ke tempat ini. Ada satu kemungkinan yang muncul di pikirannya, tapi dia menepis pikiran itu jauh-jauh.

 

Kyuhyun tidak mungkin membuntutinya, kan?

 

*

 

Sempet mau dilanjutin tapi kayaknya mood untuk nangis-nangisannya gaada. Jadilah sampai sini aja. Komentarin yaaa apa kekurangannya ff ini, ditunggu. Oh ya, next chap sepertinya mulai lebih ke Cheonsa deh. Semoga aja aku inget haha

172 thoughts on “Second Wife (Between Love and Guilty) – Scene 6

  1. Nyesek, ini bukan bayiku.
    Aduh, emang udah ada hitam diatas putih kalau misal hyehoon hamil anak itu nanti sepenuhnya jadi hak cheonsa-kyuhyun?
    Nyesek lho ini, gatau mesti gimana jg sama si donghae si ikan amis ganteng itu:v wkwk *canda ya canda

  2. Kesel ama istrinya kyuhyun… dia kyak bersembuyi dibalik wajah yg rapuh.. dan yg tersakiti itu org org terdekatnya.. aku harap nih masalah gak jadi rumit spya hye hoon jga bisa dpt kebahagiaan nya

  3. Rada pendekan ya thor cerita yang ini 😅😅😅??? Alurnya rada kecepetan ini kayaknya, yang pas cheonsa nanya apa hye hoon hamil itu… Cuma nggak terlalu masalah juga, feelnya juga dapet ini 😍😍😍 …. Jadi ternyata hye hoon udah suka duluan sama donghae gitu, ya ampun kenapa nggak jadian aja dulu, jadi nggak bakal deh kenal kyuhyun trz jadi sakit sendiri jadinya 😢😢

  4. Kshn bgt hyehoon,hamill ada suami tp spt tak ada suami,knp kyuhyun g jujur aj sih biar g ada lg yg tersakiti,klo jujur kn bisa diselesaikn bersama,sedih trs bc ini

  5. Kyuhyun g bs adil nih, ngapain di hamilin klo dicuekin. Gregetan kenapa ga jujur aja jd stop menyakiti semuanya.

  6. itu anak hye hoon anak yg di kandung nya tp kenapa hye hoon tdk bisa mengakui anaknya sendiri hati ibu mana yg ngga sakit saat anaknya sendiri diakui anak oleh orang lain
    oh… astaga nangis kalau udah liat penderitaan hye hoon tuh

  7. si kyu segtu ajh cembruu..coba jdi hye hoon jauh lbih sakit tpi hye hoon dia sllu ttep mngerti keadaan suami y…
    ksian hye hoon lgi hamil mlah di cuekin suami y trs dia ngidam jga hrus rela beli sendri n apa2 sndri shàrus y diperhatiin sma suami ehh mlah dicuekin nyssek kan…😢😢😢

  8. sama donghae aja,.aq g kuat bacanya nyesek bgt lok m kyuhyun…. hidup itu pilihan lok gini terus namanya tu jd pnderitaan tiada akhir…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s