Second Wife (Between Love and Guilty) – Roll 5


Suara pecahan barang yang berdenting membuat Hye Hoon membuka kelopak matanya yang terasa lengket itu paksa. Dengan cepat dia memunguti pakaian yang layak dikenakannya, berlarian ke arah sumber suara meskipun selangkangannya terasa nyeri. Beberapa kali dia mengaduh tertahan ketika kakinya melangkah gesit di atas lantai.

 

Eonnie….”, serunya pelan setelah melihat Cheonsa yang terduduk di atas marmer yang dingin dengan tangannya yang berlumuran darah. Dia segera menghampiri wanita itu kemudian merobek ujung dari kaos kebesaran yang dipakainya lalu menyimpulnya di permukaan kulit Cheonsa yang terluka.

 

Eonnie…kau baik-baik saja?”.

 

Cheonsa terdiam. Wanita itu sepertinya tak mendengar apa yang ditanyakan Hye Hoon padanya. Cheonsa hanya tertegun melihat penampilan Hye Hoon yang berantakan, ditambah lagi gadis itu hanya mengenakan t-shirt milik suaminya yang longgar.

 

Seketika perasaan cemas diliputi rasa bersalah itu menyusupi kalbunya. Hye Hoon merasa dihakimi dengan tatapan nanar yang ditujukan Cheonsa ketika dia membantu istri pertama Kyuhyun itu untuk kembali berbaring di ranjangnya. Dia takut membuat Cheonsa semakin terluka meskipun sebenarnya kenyataannya berkata demikian.

 

Tak mendengar jawaban apapun dari Cheonsa yang melamun dengan wajahnya yang terlihat murung, Hye Hoon pun berusaha tersenyum. “Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan obat untuk mengobati lukamu. Aku tak akan lama”.

 

“Tidak perlu”, sahut wanita itu dingin. Cheonsa menampakkan senyuman tipisnya sambil mengelus lengan Hye Hoon dengan tangannya yang tak terkena pecahan pigura dari foto pernikahannya yang tak sengaja tersenggol ketika dia mencoba turun dari kasur untuk duduk di kursi rodanya. “Aku tidak apa-apa. Kau sebaiknya kembali istirahat Hye Hoon~ah, kau terlihat kelelahan”.

 

Terdapat maksud lain dari ucapan Cheonsa. Hye Hoon dapat merasakannya. Betapa tatapan penuh luka itu begitu menggores hatinya, betapa dia merasa jika dia jahat karena telah membuat wanita lain terluka karena dirinya.

 

“Tapi Eonnie….”

 

“Kembalilah ke kamar. Biar aku yang mengurusnya”.

 

Entah sejak kapan pemilik suara berat itu berada di ruangan yang sama dengan mereka. Hye Hoon menghindari mata lelaki itu lalu berjalan keluar dari kamar utama dengan langkahnya yang gontai.

 

Sebisa mungkin Hye Hoon menghindari mata lelaki itu dengan menundukkan wajahnya dalam. Sedangkan lelaki itu bahkan mungkin tak menyadari keberadaannya karena langkah kakinya yang cepat tertuju pada istrinya yang terbaring di atas ranjang.

 

“Maafkan aku….maafkan aku, sayang. Karena aku tak bisa menjagamu..kau…astaga, apa yang telah kulakukan?”

 

Gadis itu berbalik ketika kalimat itu berdengung di telinganya. Hye Hoon melihat lelaki yang menggumamkan penyesalannya itu mendekap tubuh istrinya yang terluka. Senyuman tipis terpatri di bibir wanita itu, membuatnya menyadari jika perhatian Kyuhyun adalah hal yang terpenting dalam kehidupan Ahn Cheonsa.

 

Dan sekarang, dengan bodohnya dia menghancurkan satu-satunya yang dimiliki wanita itu. Kau kejam sekali, Choi Hye Hoon.

 

*

 

Beberapa hari setelah kejadian itu, Hye Hoon menjauhi Kyuhyun sebanyak yang dia bisa. Dan sesuai dengan permintaannya, Kyuhyun pun menjalankan perannya dengan baik. Mereka kembali bersikap seperti orang asing tanpa memperdulikan satu sama lain, seperti yang selalu terjadi sebelum-sebelumnya.

 

“Apa ada sesuatu yang mengganggumu?”.

 

Cheonsa menegur Hye Hoon ketika gadis itu kembali tenggelam dalam dunianya sendiri. Wanita itu sering terlihat teman serumahnya itu melamun akhir-akhir ini, dan tentu saja itu membuatnya khawatir.

 

Hye Hoon sebisa mungkin menyunggingkan sebuah senyuman tulus agar wanita itu percaya dengan bualannya. “Aku baik-baik saja, Eonnie”.

 

“Jika kau memiliki masalah apapun, kau bisa menceritakannya padaku. Aku adalah salah satu bagian dari keluargamu sekarang”.

 

Keluarga? Apa yang dikatakan Cheonsa tentang hubungan mereka itu dirasanya berlebihan. Cheonsa memang memperhatikan Hye Hoon, dan sepertinya wanita itu juga tulus menyayanginya. Namun bukankah sebutan itu terlalu berlebihan karena nyatanya Hye Hoon tak pernah menemukan seorang anggota keluarga memanfaatkan anggota keluarga lainnya hanya demi kepentingannya sendiri.

 

Yeoja itu memilih untuk menjawabnya dengan senyuman. Hye Hoon tak yakin jika dirinya bisa menceritakan perihal masalahnya kepada Cheonsa. Karena sebenarnya, apa yang menyelimuti otaknya sekarang adalah mengenai wanita itu.

 

Tak ingin selamanya membahas masalah itu, Cheonsa pun membelokkan topik pembicaraan mereka. “Oh ya, ngomong-ngomong apa kau sibuk hari ini?”

 

Hye Hoon menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. “Aku tak ada janji hari ini. Ada apa, Eonnie?”. Hye Hoon memutar lehernya, menyisir ruang tamu mereka itu dan merasakan ada keganjilan disana. “Pagi ini aku tak melihat Perawat Jung. Apa dia datang terlambat?”

 

“Aku berencana untuk mengunjungi Kyuhyun Oppa di kantornya siang ini. Dan mau tak mau, kau harus menemaniku”, tegas Cheonsa tanpa bersedia dibantah.

 

*

 

Wanita berpakaian formal dengan rok lurus sebatas lutut itu segera bangkit dari kursinya ketika melihat orang yang cukup dikenalnya datang. Dia membungkukkan kepalanya sedikit di balik meja resepsionis itu dengan senyuman sopan yang menghiasi wajah cantiknya.

 

Annyeong haseyo, Nona Hye—ehm—Nyonya Cho. Apakah anda datang kesini untuk bertemu dengan Direktur Cho?”, tanyanya lembut.

 

Hye Hoon membalasnya dengan senyuman tipis. Sedikit merasa tak enak karena Cheonsa menatapnya penuh arti. Wanita itu berusaha mengabaikan perhatian yeoja yang duduk manis di kursi rodanya itu dengan membuka suaranya, “Apa Cho Kyuhyun ada di ruangannya?”.

 

“Kebetulan beliau sedang berada di dalam. Mari saya antar”.

 

Pikiran Cheonsa sedikit terbagi karena kenyataan jika Sekretaris pribadi Kyuhyun itu mengenal Hye Hoon. Pantas saja, selama perjalanannya ke ruangan Kyuhyun banyak sekali karyawan yang berpapasan dengannya menyapa gadis itu dan memberikan selamat atas pernikahan mereka.

 

Cheonsa merasa seperti diabaikan, hatinya merasa sakit. Berbeda dengan Hye Hoon, tak ada seorang pun selain orang terdekatnya yang tahu bahwa dia adalah istri Kyuhyun juga. Apalagi mengetahui bahwa dia adalah orang pertama yang dinikahi lelaki itu.

 

“Sayang, kau datang?”, itulah kalimat yang pertama ditangkapnya setelah lamunan pendeknya berakhir. Cheonsa bahagia ketika melihat pancaran mata gelap suaminya itu hanya tertuju kepadanya. Wanita itu begitu saja terlupa dengan kejadian tak mengenakkan yang diterimanya tadi.

 

Dia mungkin orang asing di mata orang lain, namun Cheonsa-lah satu-satunya istri di mata Kyuhyun-nya. Dan itu lebih dari cukup untuk dirinya.

 

Kyuhyun berjongkok, menarik Cheonsa ke dalam sebuah pelukan hangat. Sekilas, dia melirik Hye Hoon yang memperhatikan mereka dengan wajah datarnya. Kyuhyun sangat merindukan gadis itu, namun dia tahu dia tak bisa berbuat apa-apa.

 

Oppa, apa kau sibuk?”, ujar Cheonsa antusias. Kyuhyun menggeleng singkat. “Tidak terlalu. Apa kau kemari untuk mengajakku makan siang bersama?”

 

Cheonsa menjawabnya dengan anggukan cepat. “Aku ingin makan di resto yang tempo lalu kau ceritakan”, balasnya sambil tersenyum senang.

 

Hye Hoon yang menyadari dimana seharusnya tempatnya berada itu pun segera mundur dari posisinya. Dia tahu dia tak mungkin merusak acara berdua mereka dengan mengikutinya.

 

Eonnie, aku ada janji dengan manajer lamaku. Tak apa jika aku tak ikut dengan kalian?”. Dia menekan suaranya sehingga tak terdengar serak. Sekuat mungkin mengabaikan rasa nyeri yang menderanya belakangan ini dengan merelakan lelaki yang dicintainya membahagiakan orang lain.

 

Pada detik itu juga dia merasa tak berguna ketika melihat Kyuhyun menatapnya nanar. Tak semudah itu dia menyembunyikan perasaannya, namun setidaknya usahanya membodohi Cheonsa tidak berakhir sia-sia.

 

“Ah, sayang sekali. Padahal aku juga ingin menikmati makanannya bersamamu. Kau janji, lain kali kau harus ikut, hmm?”.

 

Aku tidak bisa menjanjikan waktu lain untuk menjadi pengganggu acara kalian, Eonnie.

 

*

 

Kyuhyun mematut tampilannya di depan kaca. Di belakangnya, terdapat Cheonsa yang mengamatinya dari balik kaca besar itu. Kyuhyun berbalik, tersenyum tipis pada istrinya yang kini duduk di kursi rodanya itu.

 

“Hei…kenapa dengan wajahmu? Apa ada sesuatu yang salah?”. Kyuhyun menangkap ada sesuatu yang tidak beres dibalik ekspresi Cheonsa yang murung. Tidak biasanya Cheonsa seperti ini. Sebelumnya, jika dia pergi wanita itu akan melepasnya dengan bibirnya yang tertarik simetris menunjukkan bahwa dia tak keberatan ditinggal sebentar.

 

Kyuhyun menangkup wajah mungil Cheonsa dengan tangan besarnya, matanya menatap tepat di manik mata istrinya itu. “Aku hanya akan menghadiri pestanya sebentar. Aku akan segera pulang secepatnya sebelum jam tidurmu”, katanya menenangkan.

 

Cheonsa tetap membisu. Raut wajahnya masih sama seperti tadi. Kyuhyun melirik jam tangannya sebentar, khawatir karena dia harus segera pergi sedangkan dia harus memiliki waktu lebih untuk membujuk Cheonsa terlebih dahulu.

 

Kyuhyun memilih untuk segera pergi setelah mengecup kening Cheonsa sekilas. Namun, ketika dia hendak melangkahkan kakinya keluar ruangan, suara bening Cheonsa menghentikannya.

 

Oppa, tunggu sebentar”, perintahnya tegas. “Kau tak seharusnya pergi ke acara perayaan keberhasilanmu atas proyek terbarumu seorang diri, sedangkan orang-orang tahu kau memiliki pendamping”.

 

Cheonsa menelan ludahnya pahit, matanya mulai panas karena air matanya mulai mendesak keluar. “Jangan pergi sendiri karena kau takut membuatku terluka. Setahun ini kau sudah cukup menderita karena keadaanku yang tak memungkinkanku untuk menemanimu. Jadi sekarang, karena ada seseorang yang bisa menggantikan peranku, kau bisa mengajaknya untuk—”

 

“Tapi sayang, aku—”

 

Cheonsa menggeleng yakin. “Aku tak menerima penolakan. Pergilah, biarkan Hye Hoon ikut bersamamu”.

 

Kyuhyun meringis dalam hati. Melihat kedua mata Cheonsa, dia bisa memastikan jika wanita itu terluka karena keputusannya sendiri. Jika saja Cheonsa tahu bahwa ini adalah sesuatu yang diinginkan Kyuhyun, mungkin rasa sakitnya akan bertambah berkali lipat. Dia tak bisa membayangkan, jika Cheonsa tahu, bagaimana hancurnya wanita itu.

 

Maafkan aku, Ahn Cheonsa.

 

*

 

Hye Hoon tak mengunjungi salon sebelum berangkat ke pesta, seperti yang sering dilakukannya jika mengunjungi pesta sebelum dia terikat. Menurutnya, tak sopan jika berpenampilan seadanya karena tak menghormati penyelenggara acara.

 

Jika kondisinya serba mendadak seperti ini, dia pun tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa membubuhkan make up tipis yang biasa dikenakannya jika keluar rumah.

 

“Sudah siap? Kau terlihat cantik sekali, Hye Hoon~ah”, Cheonsa menyapanya sesaat setelah dia keluar dari kamarnya. Hye Hoon sempat melirik Kyuhyun yang menatapnya datar dibelakang kursi roda Cheonsa, kemudian menyunggingkan senyum canggungnya tanpa berkata apa-apa.

 

Dalam sekejap, Kyuhyun membalikkan kursi yang Cheonsa tempati dan berjongkok di depannya. Tangannya terulur mengusap lembut puncak kepala wanita itu. “Kami akan pergi sekarang. Kau benar tak apa jika kutinggal?”.

 

Cheonsa mengangguk lemah. “Jangan khawatirkan aku. Perawat Jung ada disini untuk menemaniku, jadi kau bebas untuk tinggal sampai acaranya selesai”.

 

“Aku berjanji untuk pulang secepatnya. Tapi, kumohon lekas tidur dan jangan tunggu aku”. Kyuhyun menutup kalimatnya dengan sentuhan bibirnya di kening istrinya itu. Tanpa memikirkan ada orang lain yang melihat kemesraan mereka, tanpa memikirkan perasaan wanita itu ketika dia melakukan itu di depan kedua matanya.

 

Hye Hoon menekan dadanya yang terasa berat. Tidak, kau tidak boleh menangis karena hal sepele seperti ini, Choi Hye Hoon.

 

*

 

Kyuhyun menyampaikan ucapan terima kasihnya di depan khalayak yang menjadi tamu di acara pesta besarnya itu. Pesta itu diadakan untuk merayakan keberhasilannya merampungkan project baru, yang barang tentu menjadikannya sebagai pelakon utama. Mata hitam lelaki itu tak hentinya menatap istrinya sambil tersenyum bahagia sepanjang waktu, membuat semua hadirin yang hadir pun turut melihat arah pandang Kyuhyun.

 

Hye Hoon yang menyadari orang-orang lebih memperhatikan dirinya daripada lelaki yang kini beranjak menuruni podium. Dia hanya menundukkan wajahnya kaku beberapa kali karena sebenarnya dia tak begitu suka disorot oleh publik.

 

Apalagi sekarang dia menjadi perhatian karena statusnya, sungguh itu bukan hal yang ingin didapatkannya.

 

“Maaf, aku membuatmu tidak nyaman”, ujar Kyuhyun ketika dia akhirnya dapat berduaan lagi dengan gadisnya. Kyuhyun sempat memperhatikan pandangan banyak tamunya yang tertuju kepada Hye Hoon, dan sikap yeoja itu menunjukkan bahwa dia merasa tak nyaman.

 

Hye Hoon tersenyum tipis. “Kau tak perlu meminta maaf”, katanya santai. “Tapi, bukankah itu salahmu juga? Kenapa kau terus saja memandangiku padahal semua orang tengah fokus dengan pidatomu? Kau tak seharusnya melakukan itu, Cho Kyuhyun”.

 

Kyuhyun menempatkan tangan besarnya di pipi Hye Hoon. “Aku tak bisa memandangimu sepuas hati jika ada Cheonsa. Itu membuatku tersiksa, kau tahu?”

 

Raut wajah Hye Hoon berubah drastis. Mengingat tentang wanita itu, membuatnya merasa bersalah. Dia telah menggantikan posisi Cheonsa sebagai satu-satunya istri Kyuhyun yang dikenal orang banyak. Parahnya lagi, dia adalah satu-satunya wanita yang ada di hati Kyuhyun. Itu membuat posisi Cheonsa serasa lebih sulit dan menyedihkan.

 

Kyuhyun yang menangkap ada sesuatu yang salah dari ucapannya itu pun mengangkat dagu Hye Hoon, memaksa gadis itu untuk menatap ke arahnya. “Mulai sekarang, tak ada nama Cheonsa terucap jika kita menghabiskan waktu berdua. Aku tahu itu menyakitimu. Kau orang yang sangat baik, dan kau tak akan tega menyakiti orang lain. Buanglah pikiran bahwa kau bersalah karena semua yang terjadi adalah salahku. Kumohon, hmm?”

 

Hye Hoon menggigit bibirnya kuat, menahan laju air matanya yang nyaris keluar. “Aku tak bisa mendebatmu. Kau benar”. Wanita itu menarik kedua sudut bibirnya samar. “Aku mencintaimu”.

 

Senyuman yang sama tersungging di bibir Kyuhyun. “Aku juga mencintaimu”, ungkapnya tulus. “Sekarang, apa kau mau berdansa denganku?”.

 

Tanpa ragu, Hye Hoon melingkarkan tangannya di leher suaminya itu. Kyuhyun pun membalasnya dengan semakin mendekatkan jarak mereka berdua dengan menempatkan tangannya di pinggang gadis itu.

 

Semuanya terasa benar.

 

Keduanya kembali terhanyut dalam memori mereka yang mulai usang. Dulu, ketika mereka bersama, lebih banyak kebahagiaan yang tercipta dibandingkan kemuraman yang terjadi seperti sekarang. Kali ini, takdir memberi cobaan berat pada mereka. Mereka tak bisa berharap lagi bahwa mereka akan bersama selamanya. Yang keduanya bisa lakukan hanyalah menikmati waktu yang ada, sebelum kemudian waktu itu pula-lah yang memisahkan mereka.

 

Hye Hoon menempelkan kepalanya di bahu Kyuhyun, memejamkan matanya ketika dia mencium wangi parfum yang melekat di jas yang dikenakan lelaki itu. “Kau lebih menginginkan anak laki-laki atau anak perempuan?”, tanyanya dengan suaranya yang serak.

 

“Apa aku harus menjawabnya?”, balas Kyuhyun ringan.

 

Gadis itu mengangguk di pelukan Kyuhyun. “Aku hanya ingin tahu. Dulu, kita bahkan tak pernah membicarakan tentang anak. Tapi sekarang, aku sangat penasaran”.

 

Mata Kyuhyun menerawang ke arah langit-langit ballroom hotel yang megah, setitik air mata menetes dengan tiba-tiba. “Mungkin, jika kau menanyakannya setahun lalu, jawabannya akan berbeda. Namun sekarang, Aku ingin seorang anak perempuan, yang sangat mirip denganmu. Agar aku bisa terus menatapmu ketika kau sudah tak berada di sisiku lagi”.

 

Hye Hoon mengusap wajah Kyuhyun, merasa iba dengan wajah sedihnya yang membuat hatinya ikut menderita itu. “Kau akan mendapatkannya. Kau bisa mendapatkan apapun yang kau inginkan, Cho Kyuhyun”.

*

 

Melihat rumah yang sepi, Hye Hoon pun tak segera melepaskan pelukannya di lengan Kyuhyun. Keduanya menaiki tangga dengan langkah ringan, saling berpandangan dengan melempar senyum tulus, bukannya senyuman palsu yang sering mereka pamerkan.

 

Biarlah hanya malam ini, mereka kembali merasakan indahnya berada di pelukan satu sama lain. Hanya malam ini.

 

Tak mau Cheonsa memergoki mereka yang tengah seperti orang yang dimabuk cinta, Hye Hoon dengan cepat menarik Kyuhyun memasuki kamarnya. Setelah menutup pintu di belakangnya, gadis itu pun menatap prianya dalam.

 

“Cepat selesaikan ini dan kau harus segera kembali ke kamar Eonnie. Aku tak mau kejadian tempo hari terjadi lagi. Aku tak sanggup melihatnya terluka, karena kita. Lagipula, kau telah berjanji untuk segera kembali ke sisinya”.

 

Kyuhyun menghela nafasnya yang terburu, tangannya menggapai wajah Hye Hoon yang berjarak tak jauh dari tempatnya berdiri. “Jangan menyiksaku dengan menjauhiku seperti kemarin. Kumohon”.

 

Hye Hoon bungkam. Dia tahu, jika dia tak dapat menjanjikan hal itu kepada Kyuhyun. Jika mereka terlihat dekat, jelas itu akan membuat Cheonsa hancur. Dengan tekad yang dimilikinya, dia akan menyelesaikan urusan mereka secepatnya, sehingga dia dapat pergi dari kehidupan rumah tangga Kyuhyun dan Cheonsa untuk selamanya.

 

“Kau tahu aku tidak bisa”, Hye Hoon mendesah pasrah. “Selesaikan semua ini dan cepat pergi, please?”.

 

Wanita itu memundurkan kakinya selangkah, tangannya meraba resleting yang berada di punggungnya, hingga menggerakkan bahunya untuk memaksa kain itu turun disela kakinya yang terbalut sepatu hak tinggi.

 

Dengan cepat Hye Hoon menarik leher Kyuhyun untuk mempertemukan bibir mereka.

 

*

 

Sebulan berlalu semenjak acara pesta malam itu. Tak pernah ada yang berubah dalam kehidupan rumah tangga itu. Kyuhyun masih tetap menjalankan sandiwaranya dengan Cheonsa, kemudian pada malam harinya mengendap mengunjungi kamar istri keduanya untuk menghabiskan waktu bersama.

 

Tanpa sepengetahuan Cheonsa, tentunya.

 

Tak setiap malam Kyuhyun melakukan hal itu. Namun, lelaki itu setidaknya terhibur karena dapat menghabiskan waktu dengan wanita yang dicintainya. Menjadi seorang Kyuhyun yang melakukan segalanya tanpa beban, seperti jika ada Cheonsa di sekelilingnya.

 

Hye Hoon pun kurang lebih begitu. Mereka seakan terjebak dalam situasi dimana keduanya harus melakukan opera sabun di rumah itu, kecuali di waktu mereka terjebak sendirian.

 

Seorang wanita yang terlelap di tempat tidurnya itu terhuyung menuju kamar kecil tatkala rasa mual yang melandanya itu memaksanya untuk bangun dari tidur lelapnya. Dia terburu membungkukkan tubuhnya di kloset, mencoba mengeluarkan apa yang tertahan di tenggorokannya. Namun, tak ada apapun selain cairan di dalam tubuhnya yang keluar dari mulutnya.

 

Menatap wajahnya di cermin, wanita itu membasuh wajahnya yang semakin pucat. Dia memang mengabaikan gejala tak menyenangkan yang terjadi pada tubuhnya belakangan ini. Dia merasa jika dirinya hanya kelelahan karena melakukan olahraga yang cukup berat semenjak seminggu lalu.

 

Akan tetapi, setelah kejadian pagi ini dia merasa ragu. Matanya melotot tak percaya ketika dia menyadari apa alasan kuat dibalik sakit yang dirasakannya beberapa hari ini.

 

Morning sickness. Ya, mungkin saja penyebabnya adalah karena dia hamil.

 

Hye Hoon mengacak kotak obat yang ada di kamar mandi luasnya. Mengeluarkan beberapa macam bungkusan berbeda dengan isinya yang kurang lebih sama, beberapa tabung mungil berwarna putih polos yang dapat mendeteksi kehamilannya. Hye Hoon sengaja mempersiapkannya karena inilah alasan dia berada disini. Itulah sebabnya dia melakukan banyak hal untuk mengantisipasi hal yang tak terduga seperti sekarang ini.

 

Setelah menampung air seninya dalam gelas plastik kecil, dia pun menaruh ketiga macam benda itu di tempat yang sama. Matanya mengikuti gerakan jarum jam yang terasa semakin melambat, berbanding terbalik dengan denyut nadinya yang berdegup sangat kencang.

 

Dia menggigiti jarinya cemas, dengan hati-hati mengambil salah satu alat test pack itu dengan tangannya yang bebas.

 

Negatif.

 

Hanya ada satu garis merah yang melintang di atas benda tumpul itu. Dengan tangan gemetar dia mengambil dua alat tersisa secara bersamaan, dan dengan cepat benda itu meluncur jatuh ke lantai.

 

Positif. Positif.

 

Kedua benda itu menyatakan hal yang sama. Dia menangkupkan tangannya di wajahnya sendiri, terisak dalam tangis atas keajaiban yang terjadi kepadanya. Apakah itu tangisan bahagia? Atau dia merasa sedih karena dia harus mengakui bahwa anak itu bukan miliknya?

 

Kau bukan anakku…..Kau bukan anakku…..

 

Suara kecilnya itu membuat air matanya semakin mengalir deras. Dadanya terasa sakit menghadapi kenyataan yang sebenarnya sudah diketahuinya sejak dulu itu. Dia bingung. Sama sekali tak tahu harus bagaimana menghadapinya.

 

Tok Tok….

 

“Kau sudah bangun?”

 

Suara yang berasal dari luar ruangannya itu membuyarkan lamunannya tentang anak yang kini diketahuinya sedang berkembang di dalam rahimnya. Dengan cepat Hye Hoon mengambil air lalu membasuh mukanya, membilasnya dengan handuk agar air matanya dapat tersamarkan.

 

“Ya, Kyuhyun~ssi. Apa ada yang kau butuhkan?”, ucapnya ketika melenggang keluar dari kamar mandinya.

 

Hye Hoon terkesiap ketika tanpa peringatan Kyuhyun memeluk tubuhnya erat. “Cheonsa sudah pergi pagi-pagi sekali. Dia ada pemeriksaan rutin”, jelasnya tanpa diminta.

 

Gadis itu pun mengangguk dan melingkarkan lengannya di pinggang Kyuhyun. “Aku merindukanmu”, ungkapnya. Hye Hoon pun kembali memikirkan tentang kehamilannya ini. Kyuhyun berhak tahu hal ini—tapi dia benar-benar belum siap untuk memberitahukannya. Pikirannya masih bimbang.

 

“Hei, kau terlihat pucat. Apa ada sesuatu hal buruk terjadi padamu?”. Kyuhyun menelusuri pipi Hye Hoon dengan tangan besarnya. “Mata dan hidungmu juga memerah. Apa kau terkena flu?”

 

Hye Hoon tertawa kecil, menyembunyikan rasa pahit yang begitu menyiksa kerongkongannya. Berita baik ini seharusnya merupakan sebuah kejutan yang manis jika mereka berada dalam hubungan yang normal. Merayakannya dengan sukacita karena akhirnya mereka mendapatkan anugerah yang tercipta karena rasa cinta yang dimiliki satu sama lainnya.

 

Namun kenyataannya, dia bahkan tak bisa memberitahukan suaminya tentang janin yang kini berkembang di rahimnya.

 

“Mungkin”, jawabnya serak. “Aku akan meminum obatnya nanti, setelah sarapan. Kau tak perlu khawatir”. Hye Hoon membenarkan letak dasi Kyuhyun yang sedikit miring, disambut dengan senyuman tulus dari suaminya itu.

 

Kyuhyun meraih dagu Hye Hoon agar mendongak ke arahnya dan mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir gadis itu. “Ibu mengajak kita untuk makan siang bersama. Datanglah ke tempat biasa siang nanti”.

 

*

 

“Apakah ponselnya masih belum bisa dihubungi?”

 

Kyuhyun menggeleng keras. Lelaki itu dapat melihat guratan kekhawatiran tercetak di wajah ibunya. Dia mencoba menyentuh tombol hijauh di ponselnya lagi, namun tak ada tanda-tanda jika orang yang berada di seberang sana akan menjawab panggilannya.

 

Hingga dalam percobaan ketiga kalinya, dia mendesah lega karena akhirnya Hye Hoon mengangkat teleponnya. “Hye Hoon~ah, kau—”

 

“Maaf, Tuan. Aku bukan Nona Hye Hoon. Aku perawat Jung. Sejak tadi telepon Nona berdering jadi Nyonya menyuruh saya mengangkatnya”.

 

Beban berat seakan kembali menimpa pundak Kyuhyun ketika mengetahui bahwa bukan gadis itu sendiri yang sekarang berbicara dengannya. “Kau tahu dimana Hye Hoon berada?”

 

“Maaf, Tuan. Saya tidak melihatnya sejak kami pulang”.

 

Kyuhyun memijit pelipisnya yang tiba-tiba pening. Tak biasanya Hye Hoon pergi tanpa memberi kabar apapun selama ini. “Baiklah. Tolong jangan sampaikan apapun kepada Cheonsa. Bilang saja jika Hye Hoon sedang keluar sebentar untuk berbelanja. Kau mengerti?”

 

“Baik, Tuan. Saya tidak akan mengatakan apapun kepada Nyonya”.

 

Nyonya Cho mengetahui ada sesuatu yang ganjil saat melihat wajah putranya yang muram. “Bukan Hye Hoon yang mengangkat ponselnya?”. Kyuhyun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. “Kurasa acara kita kali ini batal. Mianhae, Eomma. Tapi sepertinya sekarang aku harus pergi untuk mencari istriku”.

 

Hanna hanya membalasnya dengan senyuman kecil. Dia juga sama khawatirnya seperti yang dirasakan Kyuhyun sekarang. Bagaimanapun Hye Hoon adalah menantu kesayangannya. “Pergilah. Aku bisa pulang sendiri. Jangan mengkhawatirkanku”.

 

“Terima kasih, Eomma. Kami pasti akan menemuimu lain kali”.

 

Dengan cepat Kyuhyun menyambar kunci mobil yang terletak di mejanya, mengemudi dengan pikiran kosong tanpa arah tujuan, dengan matanya bergerak mencari sosok yang baru saja menghilang dari jangkauannya.

 

Tidak. Kau tak boleh pergi dariku lagi, Hye Hoon~ah.

 

*

 

Donghae menarik dasinya sampai tali yang mengikat sesak lehernya itu melonggar, setelah itu membuka kancing teratas dari kemejanya. Pikirannya berubah kacau ketika mendapat telepon dari lelaki yang menempati posisi teratas dari jajaran orang yang dibencinya itu dan menanyakan apakah dirinya tahu dimana Hye Hoon saat ini berada.

 

Meskipun dapat menutupinya dengan menjawab memakai suara ketus di seberang lelaki bejat itu, namun dia tak dapat menyembunyikan perasaannya sendiri. Dia gelisah, takut jika terjadi apa-apa yang membahayakan keselamatan gadis itu. Apalagi, hari ini Seoul dibanjiri oleh hujan badai yang tak kunjung reda sejak sore tadi.

 

Dia tak bisa mencari Hye Hoon dengan cuaca seperti itu. Jadi, dia lebih memilih untuk mengistirahatkan dirinya di rumah, karena Donghae sudah tak bisa melanjutkan pekerjaannya sedangkan pikirannya melantur kemana-mana.

 

Setelah berhasil membuka pintu apartemennya, dengan kesadaran yang mulai menurun dia pun melangkahkan kakinya ke ruang tamu. Donghae terkejut karena lampu di ruangan itu menyala. Seingatnya, dia pulang ke rumahnya tiga hari lalu dan meninggalkannya di pagi hari. Dia tak mungkin lupa mematikan penerangan di apartemennya yang tak begitu terpakai itu.

 

Matanya menelisik ruangan dapur. Jika Ibunya tengah berkunjung, biasanya jam makan malam seperti ini Ibunya pasti berkutat di dapur. Namun, tak ada tanda-tanda kehadiran Ibunya disini jadi dia meneruskan langkahnya ke kamar tidurnya yang gelap.

 

Setelah menekan saklar lampu, dia terkejut ketika melihat seseorang menggigil dibalik selimut tebalnya. Berbagai perasaan yang didominasi oleh rasa cemas yang berlebihan itu mengumpul di gumpalan hatinya.

 

Oh Tuhan, mengapa gadis ini selalu berada di dekatnya, dan dia tak bisa berbuat apapun seperti yang terjadi di masa lalu?

 

Dia mengusap matanya yang berair dengan punggung tangannya kasar. Mendekati ranjang dengan kakinya yang tiba-tiba lemas, Donghae menyingkirkan helaian rambut basah yang menutupi wajah wanita itu.

 

Hye Hoon masih memejamkan matanya, bibirnya yang membiru membuat Donghae yakin jika gadis itu kedinginan. Gadis itu masih mengenakan bajunya yang basah, sehingga mau tak mau Donghae segera mengambil baju bersih miliknya lalu menggantikannya.

 

Ketika lelaki itu hendak bangkit dan menuju sofa di ruang tengah, lengan Hye Hoon menariknya sehingga dia ikut terbaring di ranjangnya itu. Hye Hoon memeluk tubuh Donghae erat dengan matanya yang terpejam rapat, seakan mencari sisa-sisa kehangatan yang saat ini dibutuhkannya.

 

“Tolong aku. Aku…..hik…tak mau anakku kedinginan”.

 

Mata Donghae membulat. Dia merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Kebahagiaan yang dia dapatkan karena akhirnya dia dapat melihat wajah gadis itu setelah sekian lama terhempas begitu saja. Donghae menggigit bibir bawahnya kuat, matanya dihalangi kaca bening yang semakin berkabut ketika melihat Hye Hoon tergugu disampingnya.

 

Lelaki itu memerangkap gadis itu di dalam pelukannya. Meskipun dunianya hancur karena mendapati gadis yang dicintainya mengandung benih dari lelaki yang selama ini dibencinya, namun dia tahu jika apa yang dia rasakan tak sebanding dengan sakit yang dirasakan Hye Hoon sekarang.

 

*

 

Hye Hoon melewati pagi yang canggung karena mendapati dirinya tidur di dalam pelukan lelaki lain yang notabene-nya adalah lelaki yang pernah menempati tempat yang istimewa di hatinya. Oke, dia memang dalam keadaan tak sadar tadi malam. Namun, apa yang dilakukannya ini tak patut dibenarkan. Hye Hoon memiliki seorang suami yang mungkin sekarang sedang mencari keberadaannya, namun dia tanpa rasa bersalah terlelap di pelukan lelaki lain sepanjang malam.

 

Setelah menyelesaikan sarapan yang dipersiapkan oleh sang pemilik rumah, Hye Hoon pun berdehem untuk menarik perhatian lelaki itu. Donghae pun mendongakkan lehernya, masih dengan mempertahankan ekspresi datarnya. Semua orang—kecuali Hye Hoon—sudah mengetahui bahwa Donghae pandai sekali menyembunyikan perasaannya.

 

“Aku telah lancang memasuki rumahmu dan menempati tempat tidurmu tanpa izin. Maafkan aku”.

 

Hye Hoon mengutarakan hal itu gugup di bawah tatapan dingin yang ditunjukkan lelaki yang berada di seberang mejanya. Donghae tak akan berubah dalam semalam menjadi seorang yang lembut seperti yang dikenalnya sejak kecil. Akan tetapi, lelaki itu selalu menjadi tujuannya ketika dia sedang kesusahan. Itulah satu-satunya hal yang tersisa ketika hubungan mereka bahkan tak pernah membaik sampai sekarang.

 

Donghae menatap Hye Hoon tanpa berkedip, matanya melembut melihat wajah Hye Hoon yang pucat dan kotor dengan air mata. “Kau tahu password apartemenku”.

 

Hye Hoon mengigiti bibir bawahnya, lehernya menunduk karena takut. “Aku hanya menebak kombinasi angkanya. Aku tak menyangka jika kau menggunakan tanggal ulang tahunku sebagai kata sandinya”.

 

Donghae tak menjawab. Dia merasa tak ada apapun yang mesti dijelaskan tentang fakta itu. Beberapa fans saja menggunakan tanggal lahir idolanya sebagai kata sandi favoritnya, tak ada salahnya bukan jika dia menggunakan tanggal istimewa sahabatnya sendiri?

 

Hye Hoon tentu saja tak menganggap itu wajar. Dia hampir saja menangis mengetahui bahwa orang tercintanya itu masih sangat peduli padanya.

 

Donghae bangkit dari tempat duduknya, beberapa detik kemudian menyodorkan bungkus plastik di hadapan wanita itu. “Ini obatmu”.

 

“Tidak usah, Oppa. Aku baik-baik saja. Sebentar lagi demamku pasti turun”, tolak Hye Hoon lembut. Tangannya refleks menyentuh perutnya sendiri, bersikap defensif melindungi sesuatu yang mulai berkembang disana.

 

Donghae masih kukuh menyodorkan obat itu meskipun Hye Hoon tak menginginkannya. “Tenanglah. Aku yakin hanya obat penurun demam tak akan membahayakan janinmu”.

 

Kepala Hye Hoon bergerak cepat, matanya terpaku pada rahang Donghae yang mengeras. Lelaki itu mengetahuinya. Dia tahu jika Hye Hoon sedang mengandung, dan sekarang dia marah. Rasanya ingin sekali dia ditelan bumi daripada menerima tatapan penuh intimidasi dari lelaki itu.

 

O-oppa, kau…tahu?”

 

Donghae mengangguk lemah, lalu menurunkan tubuhnya hingga dia berlutut sejajar dengan wanita itu. Kini, cairan bening yang mati-matian ditahannya itu kembali membasahi pipinya. Tak tahan melihat wanita yang dicintainya menangis, Donghae pun merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Hye Hoon tak menolak. Gadis itu membalas pelukan Donghae dengan melingkarkan lengannya di pinggang lelaki itu.

 

“Kenapa kau menangis disaat kau mendapatkan apa yang menjadi tujuanmu selama ini? Aku melepasmu karena aku tahu kau menginginkannya”.

 

“Aku takut….aku takut aku tak bisa melepasnya untuk orang lain, Oppa. Aku takut.”, ucapnya disela isakan tangis.

 

Donghae menatap manik mata Hye Hoon lamat, tangan besarnya menangkup pipi gadis itu dalam genggamannya. “Jika kau tak mau melepasnya, kau bisa membesarkan anak ini bersamaku. Tinggalkan dia, dan kau tak perlu menyerahkan anak ini untuk mereka. Aku akan menjaga kalian seumur hidupku”.

 

Hye Hoon tertegun mendengar kalimat tulus yang diucapkan lelaki itu. Dia membalas kontak mata yang diciptakan Donghae dan tak menemukan sedikitpun keraguan di balik bulatan hitamnya.

 

Donghae menggenggam tangan Hye Hoon erat, mata gadis itu pun beralih mengikuti gerakan yang diciptakan Donghae. “Maaf, karena egoku dulu aku bahkan tak bisa menjagamu. Sejak itu aku berjanji, jika kau datang lagi padaku maka aku tak akan melepasmu untuk ke sekian kalinya”.

 

I’ve always loved you. Sejak kita kecil dan melihat bintang bersama, sejak kau tumbuh menjadi wanita remaja di hadapanku. Untuk kali ini, biarkan aku melakukannya dengan benar. Choi Hye Hoon, would you marry me?”

 

*

 

 

I do!!!! I do!!!!!

Hahhahhahaha

Gak baca ulang ya maaf kalo ada typo2nya dan kata2nya yang aneh. Maaf juga nih ff ujung-ujungnya kok kayak my sister’s husband.____. Gak ngerti hahahahaha imajinasiku cuma segitu jadi harap maklum. Tapi aku jamin kalo cerita selanjutnya gak akan ketebak(?) /okepedebangetyague

182 thoughts on “Second Wife (Between Love and Guilty) – Roll 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s