Wedding’s Disaster


Ini ff lama…..maklumin kalo ceritanya aneh…

Seorang gadis membiarkan tubuh mungilnya terdorong diantara himpitan tubuh gadis-gadis yang kebanyakan sebaya dengannya.  Seorang lelaki yang berada di ujung sana mengepalkan kedua tangannya di udara, memberi semangat kepada gadis itu.  Hye Hoon menyunggingkan senyumnya, menggerakkan bibirnya, mengucapkan kata “Fighting” kepada gadis yang memakai pakaian ala bridesmaid itu, walaupun Hye Hoon menyadari bahwa gadis itu hanya bisa melihat pergerakan bibirnya karena suaranya tidak akan terdengar dengan diganggu oleh suara yang sangat ribut dan jarak mereka yang lumayan jauh.

Hye Hoon dengan perlahan membalikkan tubuhnya, sehingga indera penglihatannya menangkap sosok kedua lelaki tampan yang salah satu diantaranya adalah lelakinya.  Hye Hoon menghela nafas sebentar, karena gaun putihnya yang panjang dan kepalanya yang dihiasi mahkota berwarna perak itu menyulitkan pergerakannya.  Hye Hoon mengangkat buket bunga yang digenggamnya ke udara, disambut dengan teriakan riuh dari gadis-gadis yang berada di belakangnya. 

“ Hana…dul…set”

Hye Hoon melempar rangkaian bunga itu sekuat tenaga, membuat suara langkah kaki berlomba-lomba untuk menggapai buket bunga tersebut.  Hye Hoon membalikkan tubuh rampingnya, melihat apakah sahabatnya itu yang menerimanya.  Sejenak pandangan Hye Hoon dan gadis itu bertemu, dan gadis itu menampakkan wajah murung dan membuat Hye Hoon dapat menebak hasilnya.

Gadis yang bernama Kim Younha itu segera menghampiri Hye Hoon.  Hye Hoon hanya bisa tersenyum, menenangkan hati Younha yang pasti sedang tidak baik.  Younha adalah tipe orang yang sangat mempercayai takdir dan hal sakral seperti ini.  Dan hal ini juga berlaku untuk masalah pernikahannya.

“  Sudah kubilang, kan?  Kau tidak akan pernah mendapatkannya, sayang”.  Perkataan lelaki itu, yang entah sejak kapan berada di dekat kedua gadis tersebut, tentu saja membuat Younha semakin cemberut.  Hye Hoon merasakan tangan besar memeluk pinggangnya, dan menoleh ke arah pemilik tangan kekar itu, menarik kedua sudut bibirnya ke belakang, yang direspon perlakuan yang sama oleh lelaki itu.

“  Oh, kalau begitu mungkin kita tidak jodoh?  Jadi, sepertinya kita harus membatalkan pernikahan kita”, ujar Younha sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang.  Lelaki tampan itu tentu saja tak terima, dan dengan bersungut-sungut menjawab perkataan Younha “ Tidak bisa begitu.  Pernikahan kita tetap akan dilangsungkan bulan depan.  Titik.”

Hye Hoon dan lelakinya, Lee Donghae, tersemyum geli melihat perdebatan sepasang kekasih itu.  Donghae melerai keduanya dengan sedikit menaikkan suaranya. “Hei, Kalian tidak boleh bertengkar di acara pernikahan kami, tidak malu dengan tamu yang lain, hah?”.

“ Hmm bagaimana kalau kita berfoto bersama?  Bukankah tadi Hyukjae melewatkan sesi foto kita?”.  Hye Hoon memanggil salah satu staff yang bertugas untuk mendokumentasikan pernikahan mereka.  Gadis itu tersenyum geli ketika melihat Younha mengacuhkan tunangannya yang berkali-kali meminta maaf kepada sahabatnya itu. 

Hye Hoon merasakan tangan kekar itu kembali melingkar di pinggangnya, kali ini sedikit lebih erat dan jarak tubuh mereka pun semakin dekat.  Mereka memfokuskan pandangannya terhadap kamera yang berada di tengah-tengah halaman luar tempat suci itu.

Klik

Suara yang berasal dari benda berlensa itu menarik Hye Hoon ke dunia nyata.  Dengan gerakan spontan, Hye Hoon bangkit dari posisi berbaringnya seiring dengan matanya yang terbuka lebar.  Tangannya bergerak menyeka keringat dingin yang keluar dari pori-pori kulitnya.

Mimpi itu terasa sangat nyata baginya.  Semua detailnya persis sama seperti yang selama ini gadis itu bayangkan.  Bahkan gaun yang dia pakai di mimpinya itu pun adalah gaun yang dicobanya beberapa minggu lalu.

Tes.

Air mata dengan cepat merembes menuruni pipi mulusnya.  Hye Hoon tak ingin menangis lagi sebenarnya.  Tetapi justru air matanya malah meluncur turun begitu saja.  Dadanya terasa semakin sesak sehingga isakan pilu yang mati-matian disembunyikannya pun tak bisa dipendamnya lagi.

Mengapa disaat Hye Hoon akan mendapatkan kebahagiaan yang paling dia nantikan di hidupnya, justru sesuatu datang untuk menghalanginya?  Mengapa justru kejadian beberapa waktu lalu itu mengubah seluruh kehidupannya?  Apa tidak cukup penderitaan yang selama ini dia rasakan, sehingga Tuhan memberikan cobaan yang lebih berat padanya?

Hye Hoon terisak sambil memukul-mukul kakinya dengan tangannya yang terkepal.  Namun, sebanyak apapun tenaga yang dikeluarkannya, tak sedikitpun rasa sakit di kakinya itu dirasakannya.  Ayunan tangannya yang semakin brutal, justru malah membuat lengannya terasa sakit dan perlahan kehilangan seluruh energinya.

Kedua pasang tangan menghentikan pergerakan tangan Hye Hoon yang kembali terjadi.  Perlahan kesadaran Hye Hoon mulai menghilang saat cairan yang berasal dari jarum suntik yang ditusukkan ke lengannya itu masuk ke dalam tubuhnya.

***

“  Tadi siang Nona Hye Hoon bangun, tetapi sepertinya dia masih mengalami depresi yang cukup berat, sehingga kami terpaksa harus memberikannya obat penenang.  Untuk saat ini hanya hal itu yang dapat saya lakukan.  Kita tunggu saja hasilnya, semoga keadaanya bisa semakin membaik”.

Perkataan itu terus terngiang di telinga Donghae.  Donghae sangat mengkhawatirkan Hye Hoon, tentu saja.  Donghae yang sedang duduk di pinggir ranjang Hye Hoon pun beberapa kali menciumi tangan lembut Hye Hoon yang berada di genggamannya. 

Wajah Hye Hoon terlihat sangat pucat, dan Donghae bisa menangkap bekas air mata yang mengering di sekitar pipi gadis itu.  Donghae menghapus sisa-sisa air mata itu dengan lembut.  “Kau harus percaya padaku.  Kita bisa melewati semua ini bersama, hmm?”, ucap Donghae dengan suara pelan, tak berniat untuk membangunkan gadis yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit itu.

Kelopak mata Hye Hoon bergerak menyesuaikan cahaya yang sedikit demi sedikit masuk ke dalam retinanya.  Seketika rasa hangat menjalari tubuhnya, saat menyadari bahwa salah satu tangannya berada dalam genggaman seseorang.  Gadis itu menoleh ke samping, mendapati pria yang menggenggam erat tangannya itu tersenyum ke arahnya.  Senyumannya masih seperti biasanya, seperti tidak ada sesuatu yang salah terjadi diantara mereka. 

Tidak.  Tak ada sesuatu yang salah terjadi dengan Lee Donghae.  Tapi kesalahan itu terletak pada dirinya.

Dengan refleks, otak Hye Hoon memerintahkan tangannya untuk melepaskan kehangatan itu.  Ada rasa tidak rela muncul dari dalam dirinya, tetapi toh dia tetap melakukannya.  Hye Hoon menolehkan wajahnya ke samping, tak sanggup menatap mata hitam milik lelaki itu. 

“ Hye Hoon~ah…”

Hye Hoon terkesiap mendengar panggilan itu lagi.  Suara yang selalu menghiasi hidupnya selama beberapa tahun terakhir, yang setiap pagi mengganggu tidur lelapnya dengan hanya sekedar mengucapkan selamat pagi untuknya.  Kembali, air mata itu seakan cairan yang sangat ringan sehingga lagi-lagi dia tidak bisa menahan cairan itu untuk tidak mengalir.

“  Tinggalkan aku.  Aku butuh sendiri”.  Hanya gumaman itu saja yang bisa keluar dari bibir Hye Hoon.  Dan sepertinya Donghae tidak menghiraukannya, dan justru berulang kali memanggil nama gadis itu agar Hye Hoon tak mengacuhkannya.

Donghae bangkit dari kursinya, dan mendekatkan jarak dirinya dengan gadis itu.  Donghae menarik dagu Hye Hoon agar gadis itu melirik ke arahnya.  Lalu tangan besarnya berpindah memegang kedua belah pipi mungil gadisnya.  Ibu jarinya bermain di pipi Hye Hoon, menghapus cairan bening yang masih memenuhi wajah gadis itu.

“  Hye Hoon~ah..”

“  Lee Donghae, kau tidak perlu datang kesini lagi.  Hubungan kita sudah berakhir sejak beberapa hari lalu.  Aku…aku bukan calon istrimu lagi”.

“  Sssttt..”. Donghae menempelkan telunjuknya di bibir Hye Hoon.  Donghae tak ingin lagi mendengar kata-kata itu, yang membuat hatinya semakin perih setiap kali mendengarnya.  Sikap Hye Hoon yang seperti ini membuat Donghae semakin terpukul dengan kejadian yang beberapa lalu menimpa gadisnya. 

Hye Hoon seharusnya tahu, jika Donghae tidak pernah menuntut gadis itu untuk memiliki fisik sempurna.  Donghae mencintai Hye Hoon tanpa syarat apapun, dan ini akan berlaku sampai kapanpun jika dia masih berada di dunia.

“  Kau akan tetap jadi pengantinku, sayang.  Aku pastikan itu”.

***

Sudah dua bulan setelah kejadian itu, Donghae tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi.  Hye Hoon semakin yakin, jika kata-kata itu hanya bualan Donghae saja.  Mana mungkin Donghae mau memperistrinya dengan keadaan fisiknya yang seperti ini?  Tuan Muda itu pasti bisa mendapatkan istri jauh lebih baik darinya, tanpa harus mengeluarkan tenaga untuk mencari, karena banyak gadis yang akan menyodorkan dirinya pada lelaki itu.

“  Hei, kau melamun lagi?  Aissh apa susahnya untuk mengakui perasaanmu sendiri, Hye Hoon~ah? Berhenti untuk membohongi dirimu sendiri, dan biarkan dia berada di sampingmu.  Kau membutuhkannya, Hye Hoon~ah.  Disaat seperti ini, kehadirannya-lah yang bisa membuatmu lebih baik.  Dan asal kau tahu, Donghae tidak pernah mempersalahkan keadaanmu sekarang.  Kumohon, berilah dia kesempatan, hmm?”.

Perkataan yang dilontarkan Younha semuanya benar.  Dan Hye Hoon benci mengetahui hal itu.  Baiklah, Hye Hoon memang membutuhkan lelaki itu untuk berada di sampingnya, tetapi ego yang dimilikinya membuat dirinya membuang jauh-jauh semua perasaan itu.

Donghae hanya kasihan padamu, Choi Hye Hoon. 

Begitulah isi otaknya saat ini.  Kebersamaannya bersama Donghae yang dijalani selama bertahun-tahun dengan penuh liku itu sama sekali tak mempengaruhinya.  Dan kenangan-kenangan itu, dia mencoba melupakannya.  Karena Hye Hoon dulu dan Hye Hoon sekarang itu berbeda.

Hye Hoon menjalani hidup barunya sekarang.

“  Hye Hoon~ah…”  Suara gadis itu menyapa telinganya lagi.  Dan sebelum Younha dapat menyelesaikan ucapannya, Hye Hoon menyelanya terlebih dahulu.  “ Sudahlah, jangan bicarakan tentangnya lagi di hadapanku.  Dia sepertinya sudah melupakanku, dan begitupun aku.  Terakhir kali kita bertemu, aku sudah memutuskan hubunganku dengannya..”, Hye Hoon menelan ludahnya sendiri, karena kata-kata itu membuat lidahnya kaku, dan bibirnya mulai bergetar.  “  Aku….aku bukan tunangan Lee Donghae lagi, Younha~ya”.

Drrrttt drrtt

Younha sepertinya enggan menjawab panggilan di handphonenya, karena gadis itu masih ingin menenangkan hati sahabatnya yang sedang tak baik.  Hye Hoon hanya memberikan senyuman menenangkan untuk meyakinkan Younha bahwa dirinya baik-baik saja.  Akhirnya, Younha mengangkat benda elektronik miliknya yang telah berdering sejak tadi itu pun dengan enggan.

Hye Hoon memperhatikan tingkah Younha yang terlihat sebal, tetapi gadis itu tetap melihat mata Younha yang bersinar.  Itu pasti telepon dari Hyukjae, pikirnya.  Mereka sedang sangat sibuk mempersiapkan pernikahannya sekarang, yang akan dilaksanakan satu bulan ke depan.

Hye Hoon juga pernah mengalami hal itu, saat…

Tanpa dia sadari, matanya mengeluarkan cairan kristal yang setetes mengalir di pipinya.  Memikirkan tentang pernikahan, selalu membuat dadanya sesak.  Padahal, beberapa bulan lalu dia pasti akan tersenyum bahagia jika masalah pernikahannya diungkit.

“  Hye Hoon~ah, hei, kau tak apa?”

Hye Hoon menghapus kasar air matanya dengan punggung tangannya sendiri, tak ingin sahabatnya melihat keadaanya yang semakin buruk.

“  Itu Hyukjae?  Dia memintamu menemuinya?”.  Hye Hoon mencoba meredakan isak tangisnya, tetapi tetap saja, kata-katanya terputus saat bibirnya mencoba mengeluarkan suaranya.

“  Hmm.  Tak perlu dipikirkan, dia hanya lelaki manja yang belum juga dewasa.  Bagaimana bisa dia harus memintaku meninggalkanmu hanya karena mengurus jas yang akan dipakainya di pernikahan nanti?  Aissh jinja.  Apakah dia pikir dia akan terlihat lebih tampan karena baju yang setiap hari dipakainya?”

Gadis itu tertawa lepas ketika mendengar gerutuan yang keluar dari bibir sahabatnya.  Dia merasa bebannya sedikit terangkat saat tawanya terdengar. 

“  Pergilah, Younha~ya.  Hyukjae pasti ingin terlihat hebat di matamu”.

***

Bruk

Sakit.  Kakinya tidak merasakan apapun saat tubuhnya membentur lantai, tetapi justru hal itu lebih menyakitkan daripada melihat kakinya berdarah.  Saraf di penyangga tubuhnya itu sudah tidak berfungsi, sehingga benda itu tetap kaku dan tidak bisa merasa apapun. 

Hanya mencoba mengambil gelas yang terletak di meja terdekat saja, Hye Hoon harus merasakan dinginnya lantai rumah sakit.  Sekarang, dia sama seperti seonggok sampah yang tak berguna, tak ada yang bisa dilakukannya tanpa orang lain di sekitarnya.  Air matanya tak keluar, mungkin karena cairan itu sudah mengering di dalam tubuhnya.

Krek.

Suara gesekan pintu itu membuatnya menengadah, memperhatikan seseorang yang baru saja memasuki ruangan ini.  Gadis itu memalingkan mukanya, sebagai cara satu-satunya yang bisa dilakukannya untuk menghindari sosok itu.  Derap langkah kaki itu semakin mendekat, dan Hye Hoon mengaduh saat tubuhnya terangkat dari lantai yang dingin itu. 

“ Lepaskan aku”, bisiknya.  Hye Hoon menyadari jika sekarang dia sedang berada di bangunan tempat dimana orang yang sakit mengalami proses penyembuhan, tentu saja tidak bisa berteriak dengan kencang.  Dan dekapan dari lelaki yang selalu ada di pikirannya itu, membuatnya linglung, tak tahu harus melakukan apa di depannya. 

Donghae membaringkan gadisnya di ranjang putih itu.  Jantungnya berdegup lebih cepat saat pandangan mereka bertemu.  Sungguh, lelaki itu sangat merindukan Hye Hoon.  Dia tak bisa sedetikpun berada jauh dari gadis itu.  Tetapi keadaannya memaksanya demikian, dan dia membenci hal itu.

“  Hye Hoon~ah…aku merindukanmu”, bisiknya.  Hye Hoon menggigit bibir bawahnya sendiri, menahan bibirnya untuk tak mengucapkan hal yang sama.  Hatinya merasa sangat senang, sehingga dia tak bisa menahan rasa harunya.  Namun, Hye Hoon bertekad untuk tak menunjukkannya di hadapan lelaki itu.

“  Aku sudah tak ingin bertemu denganmu.  Tolong, segera pergi dari sini, sebelum aku memanggilkan suster untuk mengusirmu”.

Mata Donghae terlihat sayu, membuat pertahanan Hye Hoon runtuh seketika.  Gadis itu dengan sisa tenaga yang dimilikinya menarik Donghae ke dalam pelukannya.  Hangat.  Itulah yang tubuhnya rasakan ketika merasakan tubuh Donghae di dalam dekapannya.  Bagi Hye Hoon, tubuh lelaki itu seperti tungku panas di musim dingin yang bisa selalu menghangatkan tubuhnya, dan hatinya tentu saja.  Dia tak bisa lebih jauh membohongi dirinya sendiri.  Dia membutuhkan Lee Donghae di sisinya.  Sangat.

Pelukan itu berlangsung cukup lama, dengan isak tangis yang menyertainya.  Hye Hoon bisa merasakan bahu lelakinya itu bergetar, menandakan bahwa Donghae juga menangis, sama sepertinya.  Hye Hoon memberikan sebuah pengakuan, yang membuat dadanya terasa lega.

“  Aku mencintaimu, Lee Donghae.  Sangat mencintaimu”.

-END-

Posted from WordPress for Android

36 thoughts on “Wedding’s Disaster

  1. Kirain gagal nikah karena donghae mati. Kurang panjang, sama kurang nandes endingnya, tp ga papalah masih happy ending

  2. Haloo elsa…
    Ini aku yg kayanya uda lama nga berkunjung ke sini…..

    Setelah sekian lama, bacanya dari sini aja yaa hehehe

    Ahh ini sih nanggung… Endingnya kurang greget #banyakmau
    Hmmm, donghaeknya ga dijelasin kenapa ga muncul bbrp minggu…
    Ga ada sequelnya? #plak

  3. ya ampun gw mewekkkkkkk huwaaaa
    donghae aku makin mengagumi kamu sumpah ya bikin merinding
    hye hoon beruntung memiliki donghae dia bener” tulus mencintai hye hoon
    jangan acuhkan donghae lagi hye

  4. jd inget film India jadul . mau nikah si cewek kecelakaan sampe kakinya diamputasi.
    tp tetep sweet ending .. haha .. ^_^’

  5. kirain mereka gagal menikah gara gara donghae meninggal karna kecelakaan, teryata hyehoon yg kayanya kecelakaan tp kakinya lumpuh

  6. JEDER banget kan nih FF…
    kenalkan. aku reader baru. baru nemu FF ini pas ngubek-ngubek gugel.
    ceritanya singkat. nggak muluk2 dan tata bahasanya juga rapih… dan yang paling penting. HAAPY ENDINGGG YEEYYY *pasang petasan…
    over all. i like it. ^^

  7. Singkat tapi menyentuh hati banget….donghae kmana selama ini…tiba tiba dateng lagi n bilang masih cinta…..ternyata mereka masih saling mencintai ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s