You Are Ugly – Part 2


 

 

Tanpa terasa hari pun sudah beranjak senja. Hye Hoon mengelap meja dengan tangannya yang terasa sangat lemas, mungkin karena sejak selepas makan siang tadi dia tak pernah berhenti sedetikpun dari pekerjaannya. Apalagi, pagi tadi sebelum ke kafe dia membersihkan seluruh isi rumahnya yang berukuran cukup besar, yang tentu saja menyita sebagian tenaganya.

 

Noona, kau tidak apa-apa?”, ujar seorang lelaki pekerja part-time yang tadi pagi menjadi orang pertama yang ditemuinya di kafe dengan ornamen bernuansa coklat ini. Hye Hoon menggelengkan kepalanya, mengenyahkan lengan pemuda itu yang sempat menahan pinggangnya.

 

“Aku tidak apa-apa. Terima kasih”, jawabnya tulus.

 

Lelaki muda itu berdehem menghilangkan kecanggungan yang dirasakannya karena kelakuannya yang rasanya tidak sopan kepada pegawai baru di kafe tempatnya bekerja itu. “Kau terkenal sekali karena pernikahanmu ya? Kulihat sejak tadi tak ada satupun orang yang tak mengenalmu”

 

Hye Hoon menarik sudut bibirnya kaku, menjawab pertanyaan itu singkat. “Hmm..sepertinya begitu”.

 

Pelajar lelaki itu mengamati wajah Hye Hoon yang berkulit agak gelap lengkap dengan kacamata berbingkai kuno yang bertengger di hidung mungilnya dengan jarak yang terlampau dekat. Dia memainkan helaian rambut Hye Hoon yang bebas karena keluar dari ikatan kuncir kudanya, mengaitkannya di celah telinga gadis itu kemudian berbisik. “Kau benar-benar cantik, Noona. Kau adalah tipeku”.

 

Yak!”, lengkingan keras itu membuat semua pengunjung menatap ke arah mereka berdua. Jaehee yang sudah bersiap dengan sapunya memukul kepala bocah itu dengan keras. “Dia sudah bersuami. Berhentilah menggodanya, bocah tengil”.

 

Hye Hoon menahan gerakan tangan keras Jaehee dan menyuruh gadis itu untuk menghentikan perilaku brutalnya. “Sudahlah Jaehee~ya. Dia hanya bermain-main. Aku tahu dia tak bermaksud untuk menggodaku. Benar kan, Haksaeng?”

 

Remaja bernama Lee Jongsuk itu menjawabnya dengan satu kedipan mata, membuat sapu itu kembali terangkat dan kali ini sempat mengenai kepalanya.

 

Yak!”, kini giliran Jongsuk yang berteriak. Dan Jaehee hanya melongo karena lelaki yang jauh lebih muda darinya itu berbicara kasar padanya. Sedangkan Hye Hoon, dia mencoba untuk menahan tawanya yang meledak karena takut Jaehee akan marah kepadanya.

 

*

 

“Kau tahu? Kau terlalu keras kepada bocah itu”.

 

Jaehee mencibir tak suka. “Wae? Kau menikmatinya? Kau suka dia menggodamu walaupun kau jelek, begitu?”

 

Hye Hoon tertawa mendengar nada ketus yang dilontarkan sahabatnya yang memang memiliki sifat yang sedikit meledak-ledak. “Bukan begitu”, balasnya dengan suaranya yang melembut. “Kau hanya perlu memberi pelajaran kepadanya, bukan menggunakan kekerasan seperti itu. Lagipula, menyenangkan disebut cantik. Aku tak bisa memungkiri jika aku sangat menyukainya. Kau tahu, bukan? Bahkan suamiku sendiri saja tak pernah menyebutku begitu”.

 

“Kau kasihan sekali, princess. Bahkan kau tak bisa terlihat cantik di hadapan suamimu sendiri”, ujar Jaehee dengan wajah sedihnya yang dibuat-buat. Hye Hoon hanya mencebikkan bibirnya kesal karena gurauan gadis itu.

 

Jaehee menghentikan langkahnya ketika matanya menangkap sosok seseorang yang berada dalam daftar orang yang ingin ditemui gadis itu beberapa bulan ini. Jaehee menarik lengan Hye Hoon yang belum menyadari kehadiran suaminya, dan dalam waktu singkat mereka pun berdiri di hadapan lelaki itu.

 

Sebelum Hye Hoon sempat bertindak, Jaehee sudah membuka mulutnya cepat. “Annyeonghaseyo. Senang akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Perkenalkan, namaku Park Jaehee, teman istrimu ”.

 

Jaehee menyapa suami dari sahabatnya itu dengan cengiran lebar yang nampak di wajahnya sembari mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan, namun tak kunjung disambut oleh lelaki itu. Dia menangkap perubahan ekspresi di wajah Kyuhyun, yang tentunya bukan merupakan pertanda baik di pertemuan perdana mereka.

 

Hye Hoon menggigit bibir bawahnya sendiri, merutuki dirinya sendiri karena lupa bahwa Kyuhyun sudah berjanji bahwa lelaki itu akan menjemputnya. Dia merasa sangat cemas ketika melihat mata Kyuhyun yang bergerak-gerak, melihat objek apapun selain wanita yang menunggu respon darinya.

 

Tanpa mengucapkan apapun, Kyuhyun berbalik dan masuk ke dalam mobilnya, disusul Hye Hoon yang berlari masuk ke mobil yang sama, dengan pintu masuk yang berbeda.

 

Jaehee hanya terdiam di tempatnya, mulutnya sedikit menganga karena kelakuan pasangan baru itu yang terasa sangat aneh di matanya. Gadis itu menggeram karena sikap Kyuhyun yang sangat tidak sopan dengannya. Dia hanya menawarkan hubungan pertemanan yang baik, mengapa lelaki itu seakan tidak suka?

 

Tunggu….apa jangan-jangan lelaki itu tak mau mengenalnya karena strata mereka yang tak setara?

 

*

 

Hye Hoon duduk dengan resah seraya menatap khawatir ke arah Kyuhyun yang sedang menyetir dengan kecepatan di bawah rata-rata. Banyaknya keringat yang bercucuran di dahi suaminya itu, membuat kecemasannya semakin meningkat.

 

“Kyuhyun~ssi, apakah kau baik-baik saja?”, tanyanya takut-takut.

 

Kyuhyun tak merespon sedikitpun pertanyaannya. Hye Hoon pun menyenderkan punggungnya sambil menarik nafas panjang. Apa yang harus dikatakannya pada Jaehee nanti? Gadis itu pasti akan berpikir macam-macam tentang Kyuhyun, dan dia tak mungkin bisa menyangkalnya.

 

Hye Hoon sepertinya kelelahan hingga dia tak sadar bahwa dia tertidur di mobil. Suaminya itu pun melirik Hye Hoon yang terpejam dengan wajahnya yang terlihat damai, tiba-tiba merasa marah pada dirinya sendiri karena dia bahkan tak bisa menjawab pertanyaan sederhana dari istrinya.

 

Kau bahkan tak bisa jujur pada istrimu sendiri, Cho Kyuhyun

 

*

 

Dalam waktu yang singkat, mereka pun tiba di kediaman yang baru mereka tempati itu dengan Kyuhyun yang masih belum sembuh dari rasa cemasnya. Banyak hal yang kini berputar di kepalanya, membuatnya semakin pusing saja. Dia menyalahkan dirinya sendiri sebagai gantinya. Mengapa masalah kecil seperti ini saja dia tidak bisa mengatasinya? Batinnya putus asa.

 

Kyuhyun melirik istrinya yang tengah dihindarinya itu dengan tatapan menyesal. Hye Hoon masih dalam posisi yang sama seperti apa yang dia lihat terakhir kali. Wajahnya terlihat sayu, mungkin karena gadis itu kelelahan. Meskipun kulitnya tidak memiliki warna putih pucat seperti orang asia timur kebanyakan, namun gadis itu tetap terlihat menarik.

 

Setelah pikiran itu bersarang di otaknya, jantungnya pun berulah dengan berdetak jauh lebih cepat dari tempo normal seperti biasanya. Dadanya terasa sakit, akan tetapi perasaan lain yang tak bisa dijabarkannya lebih mendominasi membuat rasa nyeri itu tertutupi karenanya.

 

“Ada apa denganku?”, gumamnya pelan.

 

Kyuhyun pun mencoba tak mempedulikan perasaan aneh yang menyergapnya itu dan fokus untuk membawa istrinya ke dalam rumah tanpa mengganggu tidurnya. Pertama-tama,dia mencoba membuka sabuk pengaman yang mengikat tubuh Hye Hoon. Posisi mereka yang sangat dekat membuat jantunya kembali bereaksi. Ayolah, dia kemarin tak merasakan apapun ketika berada dengan jarak yang minim dengan gadis yang sama. Mengapa sekarang keadaannya jauh berbeda?

 

Apakah efek bertemu temannya tadi itu masih terasa sehingga dia merasakan hal seperti ini?

 

Tentu saja jawabannya tidak. Yang dirasakannya tadi adalah rasa pusing seperti ketika seseorang mengalami mabuk laut, bukan seakan terkena serangan jantung seperti sekarang ini.

 

Kyuhyun pun menghirup nafasnya panjang untuk meredakan reaksi tubuhnya yang berlebihan. Lalu, dengan mengumpulkan tenaganya dia membopong gadis itu untuk masuk ke rumah mereka dengan hati-hati.

 

Setelah dia berada di depan pintu, dia merasa kesusahan karena harus menopang tubuh Hye Hoon dengan satu tangannya sedangkan tangannya yang lain digunakannya untuk menekan kata sandi untuk membuka pintu rumahnya itu.

 

Bruk…

 

Suara sesuatu yang terjatuh membuatnya terkejut setengah mati. Dia juga merasa aneh karena beban yang sedang dipikulnya terangkat begitu saja. Hingga telinganya menangkap suara desahan yang berasal dari depan pintunya membuatnya menyadari apa yang tengah terjadi.

 

Lelaki itu segera berjongkok untuk mengamati keadaan wanita yang tadi berada di pelukannya itu kini berpindah ke atas lantai dingin di teras rumahnya. Dia berseru panik. “Kau baik-baik saja? Bagian mana yang sakit? Maafkan aku, Hye Hoon~ssi. Aku seharusnya tidak membiarkanmu jatuh. Apa kita perlu ke dokter?”

 

Hye Hoon yang masih belum mencerna apa yang terjadi karena nyawanya yang belum seluruhnya masuk ke tubuhnya itu pun hanya bisa menggeleng untuk menjawab pertanyaan terakhir lelaki itu. “Aku tidak apa-apa”, jawabnya sambil mencoba untuk berdiri. Kyuhyun tak berdiam saja. Dia membantu Hye Hoon bangkit dengan menahan pinggang ramping gadis itu.

 

Mereka tak sengaja bertatapan wajah dengan jarak yang sangat dekat. Hye Hoon bahkan dapat merasakan nafas hangat Kyuhyun menerpa wajahnya. Mata gadis itu bergerak-gerak mengamati perubahan yang terjadi di wajah lelaki di hadapannya.

 

Tidak ada yang terjadi dengan Kyuhyun. Sebagian besar bagian dari hatinya bahagia karena Kyuhyun tak mengalami kesakitan yang sama seperti apa yang terjadi sore hari tadi. Akan tetapi, sebagian lainnya merasa nyeri karena tak ada jaminan jika Kyuhyun akan tetap seperti ini jika topengnya dibuka.

 

Masalahnya, sampai kapan dia bisa memakai topengnya ini? Lambat laun, penyamarannya ini akan terbongkar, bukan?

 

*

 

Setelah makan malam usai, mereka memutuskan untuk berbincang di balkon kamar mereka. Udara yang cukup dingin membuat Hye Hoon menawarkan secangkir cokelat panas yang disambut antusias oleh Kyuhyun. Dari profil yang diberikan Kyuhyun kepadanya, Hye Hoon sekarang tahu jika lelaki itu tak menyukai kopi. Itulah mengapa dia ber-inisiatif menawarkan cokelat yang juga sangat disukainya.

 

“Bagaimana pekerjaanmu hari ini?”

 

Tak pernah wanita itu duga, Kyuhyun selalu mencoba mencairkan kecanggungan yang tercipta diantara mereka. Setiap kali Hye Hoon berada di dekat lelaki itu, entah mengapa lidahnya seakan tak bisa digerakkan. Itu sebabnya dia tak mampu hanya untuk memulai sebuah percakapan biasa.

 

Hye Hoon menatap lelaki itu dengan senyum yang bertengger manis di wajahnya. “Sangat menyenangkan. Aku merasa senang karena banyak menemui orang-orang baru. Tapi, aneh sekali karena kau menanyakan hal ini padaku. Bukankah pertanyaan ini seharusnya ditujukan untukmu?”

 

Kyuhyun tertawa kecil karena jawaban polos yang dikatakan gadis itu. “Aku juga ingin tahu bagaimana keseharianmu”.

 

“Yang pasti aku tak sesibuk dirimu. Aku hanya mengerjakan pekerjaan ringan, tapi hari ini rasanya sangat melelahkan”.

 

Hye Hoon memeluk tubuhnya sendiri karena suhu di luar ruangan semakin menurun. Kyuhyun memperhatikan istrinya yang kedinginan itu tanpa melakukan apapun. Bukankah seharusnya di saat seperti seorang lelaki menghangatkan pasangannya dengan memeluk serta menyimpan sepasang tangan gadisnya ke dalam saku mantelnya? Dan seperti orang bodoh dia hanya terdiam kemudian menggeser pintu yang terhubung ke kamar mereka itu untuk menyuruh Hye Hoon segera masuk.

 

“Ini sudah malam dan kau juga kedinginan. Masuklah”.

 

Seusai menyalakan pemanas ruangan, Kyuhyun pun menyenderkan punggungnya pada kepala ranjang. Dia melirik Hye Hoon yang terbaring memunggunginya. Tiba-tiba dia merasa bersalah karena mereka terlihat seperti orang asing di tempat tidur mereka sendiri. Mungkin Hye Hoon tak menunjukkannya di hadapannya namun Kyuhyun mengerti jika pikiran-pikiran negatif pastilah mengganggu gadis itu.

 

“Kau sudah tidur?”, tanyanya dengan suara rendah. Hye Hoon mengambil kacamata bulatnya di atas nakas lalu mengenakannya lalu membalikkan tubuhnya dan menatap lelaki itu heran. “Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?”, tanyanya khawatir.

 

Kyuhyun menatap lurus ke depan, matanya menunjukkan jika dia sedang tak fokus. Pikirannya diselimuti oleh ketakutan-ketakutan tak beralasan karena dia belum bisa mengungkap jati dirinya dihadapan istrinya itu.

 

“Sudah dua malam kita tidur di ranjang yang sama. Kau pasti merasa tak percaya diri karena kau tahu—aku sama sekali tak mencoba untuk berbuat macam-macam denganmu”.

 

Hye Hoon menipiskan bibirnya. Dia tahu apa yang dimaksud suaminya itu. Hal itu ada baiknya juga, sebaiknya memang hubungan mereka mengalir dan tak memaksakan diri untuk berlaku seperti pasangan suami-istri. Bukannya Hye Hoon keberatan, tidak—tidak sama sekali. Dia hanya ingin Kyuhyun merasa nyaman dengannya, itu saja.

 

“Tenanglah, aku tidak pernah menganggap diriku seperti itu. Aku mengerti. Kita dipaksa bersama dalam waktu yang sangat singkat dan itu pasti memberatkanmu. Kau juga sudah berusaha untuk mencoba mendekatkan diri padaku dan membuatku nyaman, bukan? Kurasa, sejauh ini usahamu cukup berhasil”.

 

Rasa menyesakkan di paru-parunya seakan sirna ketika gadis itu berkata seperti itu padanya. Kyuhyun merasa beruntung karena Hye Hoon tak pernah menuntut apapun ataupun mempertanyakan keanehannya. Meskipun belum ada perasaan lebih yang dirasakannya terhadap gadis itu, karena ada nama seseorang yang masih tersimpan di hatinya.

 

“Terima kasih karena kau sudah mencoba mengertiku”, balasnya ringan. Dia menghembuskan nafas beratnya karena ada satu hal lagi yang mengganggu pikirannya.

 

“Mengenai masalah temanmu tadi, kau pasti terkejut. Gadis itu pasti menganggapku sebagai lelaki yang tak sopan dan kurang ajar karena mengacuhkannya seperti itu. Kau juga pasti berpikiran yang sama dengannya. Sebenarnya, bukan maksudku bersikap begitu hanya saja aku—”.

 

Kyuhyun menghentikan ucapannya ketika tak dirasakannya respon dari gadis yang meringkuk di sampingnya. Bibirnya melengkungkan sebuah senyuman tatkala melihat istrinya sudah terlebih dahulu berkelana ke alam mimpinya, sedangkan dirinya kewalahan untuk mencoba menjelaskan kebenarannya.

 

Dia kembali mencoba menyentuh gadis itu dengan mengelus rambutnya pelan. Senyumannya semakin lebar karena dia tak merasakan efek apapun dari perlakuannya itu. Dia ikut membaringkan diri, menopang kepalanya dengan tangannya sendiri dan membiarkan tubuhnya menyamping. Memperhatikan Hye Hoon yang sedang tertidur, membuat jantungnya kembali berulah.

 

Kyuhyun memegang dadanya sendiri, merasakan detak kehidupannya itu berdebar kencang untuk kali kedua di dalam hidupnya. Mungkinkah……dia jatuh cinta lagi?

 

*

 

Rasanya ingin sekali Hye Hoon tak bekerja hari ini. Kejadian kemarin membuatnya ingin menghindari sahabat wanitanya itu karena tak ingin Jaehee bertanya apapun padanya. Namun, karena rasa profesionalitasnya yang sudah memohon pekerjaan ini kepada Jaehee, dia tak mungkin mengabaikan tanggung jawabnya. Apalagi, Kyuhyun menawari untuk mengantarkannya ke tempat kerja membuatnya tak bisa kabur begitu saja.

 

Bisa saja Hye Hoon menghindari sahabatnya dengan berbagai alasan, dia hanya tak ingin Kyuhyun curiga.

 

Hye Hoon menatap lelaki yang berada di balik gagang setir itu ketika mobil mereka sudah sampai di pelataran parkir sekitar kafe tempatnya bekerja. “Kyuhyun~ssi, apakah kau mau mampir terlebih dahulu untuk menikmati secangkir kopi?”, tanyanya sambil membenarkan kacamatanya gugup.

 

Ne?”, jawab Kyuhyun terkejut. Dia tak menyangka jika Hye Hoon akan mengajaknya masuk setelah kejadian kemarin Sebenarnya, Kyuhyun sedikit tergiur dengan ajakan istrinya karena di cuaca yang dingin seperti ini cocok sekali untuk dihabiskan untuk menghirup aroma kopi yang hangat.

 

Tapi dia bukanlah tipe orang yang bisa berbaur dengan banyak orang di tempat terbuka seperti itu.

 

Tempat yang sering didatanginya hanyalah kantor, rumahnya, ataupun rumah orang tuanya. Dia selalu menolak ajakan klien-nya untuk meeting di ruangan yang terdapat banyak orang. Itulah mengapa dia sering membuat sekretarisnya pusing.

 

Lelaki itu pura-pura melirik jam tangannya kemudian memasang wajah menyesal. “Maaf. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku sebelum waktu makan siang. Lain kali aku pasti mampir ke tempatmu”.

 

Hye Hoon pun mengangguk mengerti. “Aku sudah menyiapkan makan siangmu yang kutaruh di jok belakang mobil. Kudengar kau hanya makan siang di kantormu saja, ‘kan? Daripada setiap hari kau memesan makanan delivery, lebih baik kau makan bekal dari rumah saja. Maaf jika aku lancang sekali. Kuharap kau tak keberatan”.

 

“Tentu saja tidak”, ujar Kyuhyun sembari menyunggingkan senyum bahagianya. “Terima kasih. Aku pasti akan memakannya dengan lahap”.

 

“Kalau begitu aku pamit. Terima kasih juga atas tumpanganmu hari ini. Hati-hati”.

 

Hye Hoon terkesiap ketika tangan Kyuhyun kembali mengacak rambutnya yang diikat itu pelan, kali ini gerakannya tak se-kaku saat suaminya itu pertama kali melakukannya. “Kau juga. Jangan bekerja terlalu keras, kau bisa kelelahan. Sampaikan juga permintaan maafku pada temanmu. Sikapku kemarin benar-benar tak bisa ditolelir. Aku merasa bersalah dengannya”.

 

Kyuhyun kembali menyunggingkan senyuman mautnya yang membuat Hye Hoon seakan meleleh di tempat duduknya.

 

Akankah kau bersikap seperti ini jika kau tahu siapa aku sebenarnya, Kyuhyun~ah?

 

*

 

Agashi, tolong ambilkan gula rendah kalori untukku”.

 

Hye Hoon yang sedang mengelap meja yang sebenarnya masih bersih itu segera meninggalkan tempatnya dan beranjak menuju dapur. Jaehee yang sedari tadi merecoki gadis itu pun sudah mulai kelelahan karena ulahnya, memilih duduk di kursi yang sedari tadi dibersihkan Hye Hoon.

 

Tak ada alasan yang kuat untuk Hye Hoon menghindar, karena nyatanya keadaan kafe di pagi hari itu sangat sepi, berbeda dari hari biasanya. Tentu saja hal itu membuat Hye Hoon kewalahan karena tak bisa bersembunyi dari kejaran Jaehee. Yang bisa gadis itu lakukan hanyalah bungkam, seperti apa yang sudah dipraktekkannya beberapa jam ini.

 

Jaehee yang tak mampu lagi menghadapi Hye Hoon segera bangkit dari kursinya, mencekal pergelangan tangan gadis itu lalu menariknya pergi. “Eonnie, aku titip kafenya padamu, aku ada urusan penting dengan si jelek ini”, katanya pada salah satu pegawai yang juga bekerja di tempatnya.

 

Gadis itu, tentu saja meronta karena dia tak mau membicarakan apapun. Tapi, tidak semudah itu. Jaehee terlalu tangguh untuk dia lawan. Pada akhirnya, Hye Hoon yang tak mampu lagi untuk memberontak, menyerah kepada temannya itu dengan mengikuti kemana langkahnya pergi.

 

Jaehee mendudukkan tubuh Hye Hoon paksa di salah satu bangku taman yang kosong. Untunglah, tidak ada orang lain selain mereka berdua di tempat itu. Tentu saja, siapa orang bodoh lainnya memilih duduk di tempat duduk yang beku dengan udara dibawah nol derajat, seperti mereka?

 

“Jadi katakan, apa Kyuhyun tak mau mengenalku karena aku bukan orang kaya seperti kalian? Sombong sekali dia. Apakah dia bersikap begitu kepada setiap orang yang tak sederajat dengannya?”.

 

Pendapat Jaehee tentang Kyuhyun mungkin valid untuk seseorang yang baru bertemu suaminya itu, seperti yang dirasakan sahabatnya sekarang. Ada rasa sakit yang menusuk dadanya ketika dia mendengar sendiri orang terdekatnya berbicara seperti itu mengenai suaminya. Namun, itu sungguh wajar karena teman wanitanya itu tidak tahu apa-apa.

 

“Kyuhyun menyampaikan permintaan maafnya padamu. Dan dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Jaehee~ya, tolong jangan ungkit lagi masalah ini, hmm? Kumohon”, pinta Hye Hoon dengan menunjukkan wajah memelasnya.

 

Jaehee menatap gadis yang duduk disampingnya itu lamat. Dia memutar ingatannya ketika pertama kali dia mengetahui jika Hye Hoon menyamar menjadi seorang wanita dengan kecantikan di bawah rata-rata hanya untuk dijodohkan dengan seseorang bernama Cho Kyuhyun. Hal itu terjadi secara tiba-tiba. Dia bahkan tak bisa menghentikan aksi nekat Hye Hoon ketika itu.

 

Jaehee mulai menaruh kecurigaan dengan perubahan Hye Hoon. Apa ada sesuatu yang salah dengan pernikahan mereka?

 

“Kau menyamar menjadi wanita jelek untuk mendekati lelaki itu, bukan?”, tanyanya memastikan. Hye Hoon membalasnya dengan anggukan ragu. “Kau yakin suamimu itu normal? Maksudku—dia seorang pewaris sebuah perusahaan besar, wajahnya juga sangat tampan. Pasti banyak wanita cantik mendekatinya. Kenapa dia lebih memilihmu?”

 

“Kau bicara apa, Jaehee~ya?”

 

“Aku hanya merasa ada sesuatu yang janggal”, ucap Jaehee sambil meletakkan telunjuknya di keningnya sendiri. Dia memikirkan sikap Kyuhyun yang berbeda dari orang kebanyakan. Jika namja itu benar-benar tidak sopan dan dingin, seperti yang Jaehee asumsikan, lelaki itu tak mungkin meminta maaf kepadanya. Mungkin yang diterimanya bukan permintaan maaf, tapi cacian yang semakin menjatuhkan harga dirinya.

 

“Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku, Choi Hye Hoon?”

 

Keringat dingin menetes di sela rambut-rambut kecil Hye Hoon yang keluar dari ikatannya. Dia mulai membasahi bibirnya gugup, karena Jaehee mulai mencium keanehan dari suaminya. Dia tahu jika lama-lama rahasia tentang Kyuhyun itu akan terbongkar, namun untuk saat ini, rasanya terlalu cepat.

 

Hye Hoon berencana memberitahukan yang sebenarnya kepada Jaehee ketika dia sudah bisa memikat hati Kyuhyun. Sayangnya untuk saat ini, sepertinya dia belum berhasil melakukannya.

 

Wajah Hye Hoon yang terlihat ketakutan membuat kecurigaan Jaehee semakin menumpuk. Otaknya berpikir, bagaimana caranya agar gadis itu mengaku? Hingga kemudian suatu ide cemerlang terlintas di pikirannya. Sepertinya, ini gagasan paling baik agar Hye Hoon berkata jujur kepadanya.

 

“Kau harus memberitahuku. Jika tidak…..aku akan memberikan fotomu yang asli kepada Cho Kyuhyun”, bisiknya pelan, namun terdengar menakutkan.

 

Kedua mata Hye Hoon sontak melebar. Dia tak menyangka jika Jaehee akan mengancamnya dengan cara seperti ini. Tak ada pilihan lain yang bisa dilakukannya selain menyerah. Dia menghembuskan nafasnya yang dirasanya semakin berat, menatap Jaehee ragu karena takut jika wanita itu tak bisa menjaga apa yang harusnya menjadi kehidupan privasi lelaki yang dicintainya.

 

“Kau harus berjanji padaku kau tak akan memberitahukannya kepada orang lain”, ucapnya lemah. Dengan cepat Jaehee mengangkat kedua jarinya membentuk kode bahwa dia akan menjaga rahasia itu dengan segenap hatinya. “Aku berjanji”, katanya mantap.

 

“Kyuhyun bukan orang yang dingin atau sombong, seperti yang kau katakan. Dia hanya…”, runtutnya sembari meremas ujung gaun yang dipakainya. Jaehee mendengarkannya dengan seksama tanpa menyela ataupun meminta penjelasan. Wanita itu sepertinya menunggu Hye Hoon untuk menjelaskannya secara rinci.

 

“Kyuhyun hanya tak bisa berdekatan dengan wanita cantik. Dia seringkali merasa pusing atau berkeringat banyak ketika melakukan kontak atau bertemu dengan beberapa wanita”.

 

“Jadi…maksudmu…kau….”. Jaehee berucap terbata sedangkan mulutnya tak bisa mengatup karena terlalu terkejut.

 

Hye Hoon tersenyum miris sambil mengamati pantulan wajahnya dibalik iris mata Jaehee. “Ya, aku berdandan seperti ini karena dia. Aku melakukan ini semua agar dia tak takut denganku, agar dia mau sedikit demi sedikit menerimaku. Dia seorang venustraphobia, jadi aku tak boleh menjadi wanita cantik jika ingin menjadi istrinya. Aku tak mau dia takut denganku, seperti rasa takut yang dirasakannya ketika bertemu denganmu, Jaehee~ya”.

 

Jaehee menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi wajahnya yang kentara. “Jadi, dia takut kepadaku karena aku…cantik?”

 

*

 

Ini hanya fiksi. Apapun cerita yang aku tulis yang berhubungan dengan medis aku gak bisa bilang kalo ini akurat. Maklum, aku cuma comot info dari google. Aku akhir-akhir ini nonton drama yang bahas masalah psikologi dan katanya mereka sih gak semua gejala sesuai dengan ilmunya. Jadi aku pikir sah-sah aja kalo mau nulis beginian. Ada yang punya pendapat lain? Silahkan komentar^^

52 thoughts on “You Are Ugly – Part 2

  1. OMG baru tahu ada phobia sama cewek2 cantik … jae hee pastinya shock bukan karena hanya masalah phobia tapi dia juga senang karena secara tidak langsung dia di anggap cantik :D tapi hye hoon tidak boleh diam saja dia juga harus mencari solusi untuk menyembuhkan phobia itu, therapi misalnya

  2. Oh ternyata ini rahasia yg disembunyiin sama hyehoon. Tapi lambat laun pasti bakal ketauan. Makin seruuu ditunggu next chapternya ya

  3. sumpah ni cerita menarik banget.. sayang kalo ga di lanjut :)

    entah kenapa q suka banget sama cerita nyangkut psikologi
    ternyata itu alasan hye hoon merubah penampilan’y..

    kyak’y orang yg kyuhyun suka tuh hye hoon yg cantik, berhubung dy punya masalah ketakutan sama cewe cantik jadi ga berani deketin hye hoon.. ya ampun q denger’y seneng tapi nyesek jg hee :)

  4. Hai kak, aku reader bru. Maaf krna g smpet komen dan malah lngsung baca crtanya. Crtanya bgus kak dan bner2 buat pnsaran. Kpn crtanya d lnjut kak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s