Seven


Seven

 

 

Eomma

 

Kyuhyun berbisik pelan di balik ruangan, tangannya masih memegang kenop pintu yang tak sepenuhnya terbuka. Dia mengerti jika di saat jam makan siang seperti ini aku selalu memisahkan dia dan baby Hwan karena ini waktunya anakku untuk tidur siang.

 

Mungkin dia kebosanan karena bermain sendiri, akhirnya memutuskan untuk menyusulku ke kamar yang ditempati bayi berusia tiga tahun itu dengan membawa salah satu mainan robot kesukaannya.

 

Aku mendesah pelan. Tidak cukup mengurusi satu bayi yang sedang dalam masa aktifnya yang membuatku kerepotan, aku harus mengurusi bayi besar yang mentalnya sedang bergeser menjadi anak berusia empat tahun lebih tua dari anaknya sendiri.

 

Mungkin terdengar sangat tidak masuk akal, namun itulah kenyataannya.

 

Entah sejak kapan Kyuhyun sudah duduk menyamping di ranjang milik Hwan, diseberang tempatku tertidur untuk mengelus rambut anaknya itu lembut. Meski ingatannya tentang Hwan terhapus karena kepribadiannya yang berubah, perlakuan penuh kasih sayang itu masih sama seperti sebelumnya.

 

Dia menatapku dengan wajah polosnya yang membuat kekesalanku dua hari kebelakang karena perlakuannya yang seperti anak kecil itu seketika menguap. Aku mengelus pipinya pelan dan menyunggingkan senyuman tulus ketika dia berujar, “Eomma, aku lapar”.

 

Aku bangkit dari tempat tidur Hwan dengan bergerak sepelan mungkin agar anak itu tak terbangun. Kyuhyun pun mengikutiku dengan mengendap-endap seperti yang kulakukan, membuatku tersenyum kecil melihat tingkah lucunya. Kyuhyun kecil memang tak begitu buruk. Namun, aku merindukan suamiku yang menyebalkan.

 

Dia melahap makanannya dengan cepat, meskipun cara makannya yang seperti anak kecil itu membuat mulutnya belepotan. Jika melihat Hwan seperti itu, mungkin sudah menjadi pemandangan yang biasa. Tapi, melihat pria dewasa sepertinya bertingkah laku seperti itu tak pelak membuatku tertawa.

 

Aku mengambil beberapa helai tisu dan menyeka kotoran di sekitar mulutnya, masih dengan bibirku yang menahan tawa. Dia hanya melihatku dengan matanya yang polos kemudian lambat laun mulai mencebikkan bibirnya.

 

“Kau tertawa karena aku makan belepotan, Eomma? Bukankah wajar jika anak berusia tujuh tahun sepertiku makan dengan cara seperti ini?”

 

Kyuhyun memang bocah yang sangat kritis. Sejak dulu, aku selalu kalah jika berdebat dengannya. Kami berteman sejak kecil, tentu saja aku tahu bahwa dia memiliki kepintaran di atas rata-rata serta pribadi yang lebih dewasa dibandingkan anak seumuran kami. Bahkan terkadang aku tak bisa memahaminya seperti aku memahami dirinya saat ini, ketika aku sudah menjadi wanita dewasa.

 

Arra. Aku tak akan menertawakanmu lagi, Kyu. Kau terlihat sangat menggemaskan, kau tahu?”, ujarku kembali menggodanya. Kali ini dia menggembungkan pipinya yang membuatku tak lagi menahan diri untuk mencubit kedua belah pipinya. Dia berteriak kesakitan sambil mencoba melepaskan tanganku dari pipinya, namun usahanya itu tak berhasil karena di pikirannya dia hanya seorang anak kecil yang tenaganya tak sekuat orang dewasa.

 

Setelah puas menggodanya, aku pun kembali melanjutkan aktivitasku memperhatikan dirinya yang sedang melanjutkan makan siangnya.

 

“Aku ingin bertemu dengan Ibuku”, rengeknya tiba-tiba. Sudah beberapa kali dia memintaku untuk membawanya pulang ke rumahnya sendiri dan bertemu dengan keluarganya. Itu hal yang biasa mengingat dia yang merasa dirinya masih anak kecil tak bisa tinggal jauh dari Ibunya.

 

“Untuk saat ini kita tidak bisa pulang ke rumahmu, sayang. Orang tuamu sedang ada urusan di luar negeri. Sebentar lagi mereka pulang”.

 

“Dua hari lalu kau berkata begitu juga”, jawab Kyuhyun dengan suaranya yang lemah.

 

Tak sampai satu detik berlalu tangisnya yang kencang membuatku terkesiap. Dia meraung dalam tangis, salah satu tangannya digunakan untuk menggosok matanya yang berair.

 

Aku tak tega melihatnya seperti ini. Namun, apa yang bisa kulakukan selain ini? Tak ada. Aku hanya harus bersabar daripada harus mengantarkannya ke rumahnya yang sekarang pasti kosong karena semua orang tak mungkin berada di rumah.

 

Terlebih lagi, aku sedang mati-matian merahasiakan perubahan Kyuhyun ini dari keluarganya. Aku tak mungkin menyerah karena ikut merasa sakit ketika Kyuhyun kecil merindukan Ibunya.

 

Aku memeluknya tubuhnya, mengusap-usap rambut pendeknya dengan tanganku halus. Jika sudah begini, tak ada lagi yang bisa kulakukan selain menyogoknya dengan cara jitu yang kemungkinan keberhasilannya mencapai 99%.

 

Uljima, Kyu. Jika kau berhenti menangis, aku akan membelikan robot Gundam kesukaanmu, berapapun yang kau mau”.

 

Dia terlonjak dari dekapanku, mata bulatnya yang memerah menatapku tak percaya. “Benarkah?”, sahutnya memastikan.

 

Aku mengangguk cepat. Baiklah, Cho Kyuhyun. Kali ini kau menang. Aku akan mengambil kartu kredit limited miliknya untuk membayar tagihannya nanti. Aku memang tak dirugikan, tapi aku paling tak suka jika menghamburkan uang untuk mainan yang nantinya akan berakhir di tempat sampah.

 

Ugh, aku tak pernah menemukan satupun Ayah yang lebih manja dan lebih merepotkan daripada anaknya. Kutunggu kau kembali dan aku akan menyiksamu habis-habisan, Cho Kyuhyun!

 

*

 

Apa ya ini? Drabble? Atau teaser? Sebenernya aku lumayan suka sama cerita ini. karena aku lagi demen drama yang macem begini sih sekarang. Tapi takut kalo cerita ini udah pasaran(?) kan gak rame jadinya. Harus lanjutin apa engga, ya?

 

 

53 thoughts on “Seven

  1. Author….. sya suka, saya suka. Lanjutin ya Thor… ‘3 Demi reader kesayanganmu ini… Kkkkkkk :-D Pokoknya lanjutin Thor

  2. Lanjuuutttt, aku ga pernah baca cerita kek gini sebelumnya. Kalo hilang ingatan trus jadi kaya anak kecil pernah. Tapi kalo udah punya anak ga pernah baca. Jadi Lanjut aja authornim. :)

  3. Hai kaa ,ada postingan baru ahayyyyyy , lanjut dongg gapasaran ini mah /? Lucu deh . penasaran gimana bisa kyuhyun jadi begitiu semangat kaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s