[Songfic] At Close


Typo. No edit. Enjoy. Lanjutan dari songfic one confession.

Recommended Song : Cho Kyuhyun – At Close

So your back was really pretty

I finally realized this after seeing you leave

So my heart aches when tears fall

I finally realized this after seeing you cry, after seeing you leave

 

*

 

Kyuhyun terpaku ketika matanya menangkap punggung seorang gadis yang dikenalnya beberapa bulan ini di pinggir sungai Han. Dari kejauhan pun, dia dapat melihat jika tubuh itu sangat lemas, sehingga bila ada seseorang yang tak sengaja menyenggolnya pun, gadis itu akan kehilangan keseimbangan dan jatuh ke dasar sungai.

 

Dia pun mempercepat langkah panjangnya, memikirkan kemungkinan terburuk yang terjadi pada gadis itu membuat kekhawatirannya bertambah. Setelah Kyuhyun dapat menyamakan posisi berdirinya dengan gadis yang diperhatikannya tadi, lelaki itu sama sekali tak berniat untuk menegur wanita bermarga Choi itu untuk mempertegas kehadirannya, yang sama sekali tak disadari oleh gadis itu.

 

Diliriknya wajah cantik itu, bukan hanya melirik sebenarnya karena dia bahkan memutar lehernya untuk memperhatikan lekukan wajah gadis yang biasa dipanggil Hye Hoon itu dengan seksama. Seolah tak ada lagi pemandangan yang lebih menarik yang bisa dinikmatinya. Padahal, dengan senja kekuningan yang terpantul di permukaan sungai saja sudah termasuk dalam keajaiban alam yang indah.

 

Wanita itu memandang jembatan raksasa yang membelah sungai lebar itu dengan matanya yang kosong. Tersirat rasa sedih yang mendalam yang terbaca dari mata cokelatnya. Kyuhyun membatin, mengumpat dirinya sendiri karena dia tega membuat wanita baik ini terluka.

 

Tiba-tiba gadis itu menoleh ke arahnya, membuatnya sedikit salah tingkah karena kelakuannya dipergoki. Hye Hoon pun kurang lebih sama, bulatan cokelatnya sedikit membulat menyadari bahwa orang yang diundangnya datang ke tempat ini sudah datang memenuhi janjinya.

 

Gadis itu tersenyum lebar, menarik kedua sudut bibirnya simetris seperti biasanya. Begitulah Hye Hoon. Meskipun gadis itu mengeluarkan air matanya banyak—seperti yang terjadi pada waktu terakhir mereka bertemu— Hye Hoon masih memiliki tenaga untuk menebarkan senyumnya yang entah sejak kapan dapat membuat jantung Kyuhyun bekerja lebih keras padahal seingatnya, dia tak pernah memiliki riwayat penyakit jantung.

 

Saat ini juga, gadis itu tak ada bedanya dari Hye Hoon yang bertemu dengannya tempo hari lalu. Bahkan mungkin keadaannya lebih parah dari sebelumnya. Kyuhyun dapat melihat kedua mata Hye Hoon yang bengkak, lingkaran hitam di bawah matanya tercetak semakin jelas. Hidungnya pun memerah, seperti orang yang terkena flu berat meskipun Kyuhyun tau apa alasan dibalik tubuh Hye Hoon yang terlihat tidak baik-baik saja.

 

“Hai”, sapa gadis itu dengan suara jernihnya yang riang sembari menjulurkan tangannya seperti mereka baru saja berkenalan. Kyuhyun menatap kelopak samudera milik gadis itu sekilas, berdehem untuk menyembunyikan rasa canggung yang kini dirasakannya, kemudian mengulurkan tangannya.

 

Rasa hangat yang berasal dari pertemuan kulit mereka itu menjalar sampai ke dalam hatinya. Dalam sekejap, Kyuhyun dapat merasakan bahwa suhu tubuh Hye Hoon jauh lebih hangat dari suhu tubuh normalnya. Alisnya mengerut, menatap gadis itu curiga namun Hye Hoon dengan tergesa kembali menarik tangannya.

 

Gadis itu kembali memusatkan pandangannya ke titik yang menjadi fokusnya sejak tadi. Sedangkan Kyuhyun, dia bahkan tak bisa mengalihkan kedua matanya dari wajah Hye Hoon yang semakin memucat.

 

“Kurasa kau sudah tahu mengapa aku mengajakmu bertemu hari ini, bukan?”, tanya gadis itu lemah, pita suaranya seakan terjepit ketika dia mengatakan itu.

 

Kyuhyun tak bersuara. Akan tetapi, bukan berarti jika dia tak tahu. Pikirannya seketika kosong saat menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya. Apa yang dikatakan gadis itu, semuanya, dia takut dia akan membuat gadis itu semakin terluka.

 

Hye Hoon melanjutkan pembicaraan itu tanpa Kyuhyun memintanya, meskipun nafasnya tercekat ketika lantunan kata yang seakan menjadi vonis bagi dirinya sendiri itu terucap dari bibirnya mungilnya.

 

“Mungkin kau bahkan tak peduli dan merasa bahagia karena semuanya ini berakhir. Aku tahu—kau bahkan tak pernah menganggapku sebagai seseorang yang istimewa bagimu. Tetapi, kurasa karena aku mengawalinya sendiri aku harus mengakhirinya juga”.

 

Kembali, tetesan air mata itu jatuh bahkan sebelum Hye Hoon dapat menuntaskan pembicaraannya. Kyuhyun meringis dalam diam. Dari wajah gadis itu saja Kyuhyun tak dapat membayangkan bagaimana sakitnya ketika Hye Hoon mengatakan semua itu. Namun, dia berpura-pura dingin dan tak peduli. Padahal, hatinya ikut bergetar ketika melihat kondisi gadis itu yang sangat jauh dari kata baik-baik saja.

 

“Kau—”

 

“Kemarikan tanganmu”.

 

Gadis itu tak pernah mau mendengarnya, Kyuhyun tahu itu. Yang selama ini Hye Hoon lakukan adalah mengikuti apapun yang dia mau, tanpa mempedulikan apa yang dirasakan atau diinginkan Kyuhyun. Gadis manja dan egois, sungguh beberapa kali gadis itu dapat membuatnya menggeram karena menahan emosinya. Seperti saat ini, disaat Hye Hoon dengan cepat memotong kalimat yang hendak diucapkannya. Tapi dirinya tak berseru protes, Kyuhyun dengan bibirnya yang terkatup memberikan tangannya di hadapan gadis itu.

 

Dengan lancangnya, dia memperhatikan wajah cantik Hye Hoon yang sedang meneliti jemarinya. Entah sejak kapan dia memiliki hobi baru seperti itu, mengamati Hye Hoon ketika gadis itu sedang sibuk memperhatikan dirinya. Bukankah sekarang dia terlihat seperti memuja gadis itu diam-diam?

 

“Kau masih memakainya”, gumam gadis itu pelan yang masih dapat tertangkap oleh telinganya. Tersirat kesedihan ketika dia mengatakan hal itu, namun Hye Hoon bersikap pura-pura tegar seperti biasanya.

 

Kulit keduanya kembali bersentuhan, ketika Hye Hoon menarik lingkaran perak yang melingkar di jari manisnya beberapa bulan ini. Kyuhyun juga melihat bahwa gadis itu menarik cincin yang sama dengan paksa dari tangannya sendiri.

 

“Kurasa kita harus segera membuangnya”, ucap gadis itu diselingi tawanya yang hambar. Tanpa Kyuhyun sempat mencegah, kedua benda padat itu berdenting menimbulkan riak kecil di tengah sungai.

 

Gadis itu lalu mengulurkan tangannya yang gemetar dengan matanya yang menghindari mata Kyuhyun yang sedang memburunya. Sesekali isakan pelan terdengar disela bibir gadis itu, yang membuatnya harus menundukkan wajah untuk menyembunyikannya.

 

“Selamat tinggal”, serunya dengan senyuman yang tak sampai ke matanya. Kyuhyun tertegun, kemudian menggenggam jemari gadis itu lembut selama beberapa detik sebelum gadis itu memutus kontak keduanya.

 

“Ya, selamat tinggal”, sahutnya menimpali. Kyuhyun menatap gadis itu nanar ketika Hye Hoon berbalik menjauhi tempatnya berdiri, berjalan lurus tanpa berniat sekalipun menoleh ke belakang.

 

*

 

Kyuhyun menutup pintu mobilnya setelah mengambil ransel kecilnya di jok belakang. Udara pagi yang sejuk dalam sejenak membuatnya kembali tenang. Sudah berapa lama dia tak mengunjungi tempat ini? Tanyanya dalam hati. Dia kemudian tersenyum sendiri, menertawakan dirinya yang nekat untuk kembali menyambangi tempat ini.

 

Ada alasan kuat yang mendesaknya untuk menginjakkan kakinya di rerumputan yang basah itu. Namun, dia terlalu takut untuk mengiyakan apa yang ada di benaknya sehingga dia, orang yang tak begitu suka aktivitas luar dan memilih untuk menghabiskan akhir pekannya di rumah, repot-repot bangun pagi hanya untuk mendaki gunung.

 

Kyuhyun suka olahraga, tentu saja. Tapi bukan olahraga yang seperti ini. Dia lebih memilih untuk melakukannya di tempat yang simple seperti gym, bukan di alam terbuka yang akan membuat bajunya kotor.

 

“Oh, itu benar kau Kyuhyun Oppa?”

 

Pria itu menggerakkan kepalanya cepat ke arah seseorang yang memanggilnya. Seseorang yang dengan tega mencampakkan-nya di pinggir Sungai Han, seseorang yang membuatnya nekat untuk mendaki gunung sendirian hanya untuk menemukan gadis itu meskipun kemungkinannya mendekati nol, seseorang yang….kini tak pernah sedetikpun luput dari ingatannya.

 

Gadis itu tak menghiraukan keterkejutan Kyuhyun, tetap menyunggingkan senyuman manisnya seperti biasa. Kyuhyun dapat melihat bahwa gadis itu terlihat jauh lebih baik dibandingkan beberapa bulan lalu saat mereka bersama.

 

Dan itu membuat dirinya sedikit terluka.

 

Eum. Apa yang kau lakukan disini, Hye Hoon~ah?”, tanya Kyuhyun canggung.

 

Dia pun menyesali apa yang dikatakannya itu karena benar-benar terdengar tidak masuk akal. Cho Kyuhyun bodoh. Tentu saja dia kesini karena ini rutinitasnya setiap minggu, dan kau kesini untuk melihatnya bukan? Begitulah benaknya berkata.

 

“Aku senang kau ternyata diam-diam menyukainya. Padahal dulu aku pernah memergokimu mengumpat beberapa kali karena kau kelelahan, dan mengatakan bahwa kegiatan ini benar-benar membosankan”, cibir gadis itu diselingi tawanya yang khas.

 

Kyuhyun hanya bisa menggaruk rambutnya yang tidak gatal, merasa salah tingkah karena dia ketahuan. “Hmm…itu….”

 

Sebelum lelaki itu melanjutkan pembelaannya, Hye Hoon yang mengetahui bahwa Kyuhyun tidak nyaman dengan perkataannya tadi segera menarik tangan besar lelaki itu, membuat tangan mereka yang tidak dilapisi apapun itu saling bersentuhan.

 

“Ayo, Oppa. Kurasa kita harus segera naik jika tidak ingin kehujanan. Kau lihat? Awannya mendung sekali”.

 

*

 

Ah…Udaranya sejuk sekali”, gumam Hye Hoon dengan kedua sudut bibirnya yang tertarik lebar membuat sosoknya terlihat semakin cantik. Gadis itu memejamkan kelopak matanya sembari menghirup nafasnya dalam-dalam tanpa menghiraukan keadaan sekitarnya. Dia bahkan seakan lupa jika ada seseorang yang mengekorinya di belakang.

 

Kyuhyun mensejajarkan posisi berdiri mereka, membuka ransel dan mengeluarkan sebotol minuman. Dia meneguk cairan untuk mengembalikan sedikit tenagnya itu sambil melihat lurus ke depannya. Retina-nya menangkap gumpalan cahaya yang muncul malu-malu di balik celah gunung-gunung lain, yang sayangnya kali ini tak terlihat seindah biasanya karena tertutup awan. Benar kata gadis itu, sebentar lagi mungkin akan hujan.

 

“Bagaimana rasanya ketika cinta sepihak akhirnya terbalaskan? Apakah rasanya menyenangkan?”

 

Tiba-tiba gadis itu bersuara, membuat Kyuhyun menolehkan wajahnya cepat. Hye Hoon masih memejamkan matanya, senyuman lebarnya pun masih terpatri indah membingkai wajahnya. Kyuhyun bersyukur bahwa dia tak dapat melihat bulatan cokelat milik gadis itu karena jika dia melihatnya, dia yakin bahwa rasa bersalah yang dia rasakan akan semakin bertambah.

 

Kyuhyun kembali mengulang pertanyaan gadis itu di benaknya. Apakah rasanya menyenangkan? Apakah dia merasa bahagia? Jika gadis itu bertanya ketika gadis yang dicintainya menyambut cintanya saat itu, tanpa ragu dia pasti akan menjawab ‘ya’.

 

Namun, ketika mengingat wajah terluka yang ditunjukkan Hye Hoon ketika itu, dia mungkin saja menarik jawabannya. Batinnya seketika mengatakan jika bukan ini yang dia inginkan. Akan tetapi, Kyuhyun terlalu pengecut untuk mengakuinya.

 

“Ya, tentu saja. Tentu saja itu sangat menyenangkan”.

 

Setitik air mata melaju menuruni pipi halus gadis itu. Kyuhyun berjengit ketika Hye Hoon membuka matanya kemudian pandangan mereka beradu. Mata indah itu….mengapa kau baru menyadari bahwa kau mengaguminya, Cho Kyuhyun bodoh?

 

“Ya…tentu saja. Aku iri denganmu, kau tahu? Oh ya, sepertinya sebentar lagi akan segera hujan. Ayo kita pulang, Oppa”, ujar gadis itu sambil tergesa memalingkan wajahnya.

 

Kyuhyun tertegun di tempatnya, melihat punggung indah gadis itu semakin menjauh darinya. Selalu seperti itu. Hye Hoon tak pernah ingin mendengar penjelasannya dan memilih untuk menyimpulkannya sendiri dalam hatinya, yang tentu saja membuat dirinya semakin terpuruk.

 

Gadis itu berjalan satu langkah di depannya dengan tempo yang lambat. Bahu gadis itu yang bergetar membuat Kyuhyun menghela nafas beratnya. Berkali-kali tubuh lemasnya itu limbung dan hampir saja jatuh, namun Kyuhyun tak dapat hanya sekedar untuk menopangnya. Tangannya selalu saja terhempas di udara karena dia tak punya keberanian lebih untuk menyentuh gadis itu.

 

Kyuhyun mengikuti langkah Hye Hoon dengan kakinya yang lunglai. Matanya menatap lurus ke depan tanpa memperhatikan apa yang hendak dipijaknya. Hingga kemudian dia mendengar jeritan tertahan dari bibir gadis itu, dia tahu jika dia tak bisa menahan egonya lagi untuk tak menyentuh gadis itu.

 

Dia menyentuh pergelangan kaki yang sejak tadi dipegangi Hye Hoon yang masih terisak. Dan seperti dugaannya, gadis itu menahan desahan kesakitannya dengan menggigit bibir bawahnya kuat.

 

Hye Hoon memang seperti itu. Dia begitu sering menyembunyikan rasa sakitnya meskipun matanya selalu menyiratkan apa yang dirasakannya. Dia begitu lihai membuat orang di sekitarnya mempercayainya bahwa dia adalah sosok gadis yang begitu tegar, meskipun kenyataannya tidak seperti itu.

 

“Naiklah”, titah Kyuhyun setelah lelaki itu membalikkan letak ranselnya kemudian berjongkok tepat di hadapan gadis itu.

 

Gadis keras kepala itu tentu saja tidak mudah untuk mematuhi perintahnya. Dia masih mencoba bangkit dari posisi duduknya, menggerakkan kakinya yang membuatnya menjerit kesakitan. Tak tahan melihat itu, Kyuhyun pun menarik pergelangan tangan Hye Hoon paksa agar gadis itu dapat naik ke punggungnya.

 

Dengan air mata yang kembali tergenang, Hye Hoon pun melingkarkan tangannya di sekitar bahu lelaki yang selalu berada di benaknya itu dengan hati-hati. “Kau harusnya tak melakukan ini. Jika kau bersikap manis kepadaku, aku akan semakin sulit melupakanmu. Apakah kau tahu itu?”

 

Kyuhyun tertegun. Dia tak menyangka jika kalimat itu dapat berdampak begitu besar pada suasana hatinya. Matanya bergerak ketika Hye Hoon memukul punggungnya pelan seiring dengan tawa khasnya yang mengiringinya. “Aku hanya bercanda, Oppa”.

 

Hye Hoon membuka suaranya lagi. Kali ini suaranya mengalun dengan nada sendu yang biasanya dapat dengan baik disembunyikannya. “Banyak pertanyaan yang muncul di benakku ketika kau menginjakkan kaki di tempat yang tak kau sukai ini. Apakah kau datang untuk menemuiku? Apakah kau datang untuk membuatku melihat senyuman bahagiamu karena keinginanmu untuk memilikinya telah tercapai ataukah….kau datang untuk melihat apakah aku baik-baik saja setelah kejadian itu?”

 

Kyuhyun berpikir keras. Dia tahu apa jawabannya, namun lidahnya seakan kelu hanya untuk berterus terang untuk mengungkapkan hatinya yang bimbang setelah gadis itu pergi dari kehidupannya.

 

Pada akhirnya, dia membuat gadis itu menyerah dan membuatnya mengambil apa yang tertera di pikirannya untuk menghapus semua harapannya tentang kedatangan Kyuhyun itu.

 

Cham, aku benar-benar percaya diri sekali bukan? Tidak mungkin kau kesini hanya untuk menemuiku”.

 

Keduanya pun terdiam beberapa lama. Hye Hoon mulai lancang menenggelamkan wajahnya di sela bahu Kyuhyun yang berkeringat, seolah gadis itu sedang memeluk Kyuhyun dari belakang. Tetesan air pun mulai turun dari langit. Namun mereka masih terbawa oleh pikiran mereka masing-masing, tak berniat untuk sekedar berteduh di bawah pohon yang rindang untuk menyelamatkan pakaian mereka yang terlanjur basah.

 

“Apakah kau bahagia karena kau melepasku?”

 

Tanpa menghentikan langkahnya, Kyuhyun pun membuka suara. Hatinya merasa teriris ketika kata-kata itu meluncur dari mulutnya sendiri. Salahkan dirinya, karena dia tak egois dan tak mau Hye Hoon bahagia tanpanya sedangkan sejak dulu yang hanya bisa Kyuhyun berikan kepada gadis itu hanyalah air mata.

 

Hye Hoon menghapus kasar air matanya, menggigit lidahnya sendiri untuk menahan isak tangisnya. “Ya, tentu saja”, sahutnya tegas walaupun suaranya terdengar agak sedikit bergetar. “Cinta yang besar adalah cinta yang mampu melepaskan orang yang dicintainya agar orang itu bahagia. Jika aku mengekangmu untuk berada di sisiku hanya untuk menyenangkanku saja, itu bukan cinta tapi obsesi untuk memiliki”.

 

Tanpa disadari, cairan bening yang sama mulai menuruni pipi lelaki itu. Kyuhyun bersyukur, setidaknya tetesan air hujan bisa menyamarkan air matanya sehingga dia tak terlihat lemah dihadapan gadis itu.

 

Sekarang tugasnya adalah bahagia dengan wanita pilihannya. Setidaknya itu akan membuat rasa bersalahnya terhadap gadis itu dapat sedikit terbayarkan.

 

*

 

“Hye Hoon~ah”.

 

Sosok lelaki jangkung yang menggengam sebuah payung berwarna bening itu berseru dengan suara beratnya yang terdengar menawan. Dengan kecepatan tinggi lelaki itu berlari ke arah Kyuhyun yang masih terdiam, kemudian mengangkat tubuh mungil Hye Hoon dan memangkunya ke dalam pelukannya.

 

Gadis itu berontak di pangkuan lelaki asing itu dengan berderai tawa, sesekali memukul pelan dada bidang lelaki itu dengan tangan kecilnya yang terkepal. Mereka seakan berada di dunia mereka sendiri sehingga melupakan seorang lelaki yang terpaku di tempatnya berdiri, menatap pemandangan itu dengan tatapan nanar karena pertunjukkan mereka seakan dapat merobek jantungnya.

 

Samar-samar dia dapat mendengar wujud kekhawatiran lelaki itu dengan perkataannya yang diselingi gurauan. Seringkali Hye Hoon membalasnya dengan mengerucutkan bibirnya atau menggembungkan pipinya, salah satu kebiasaan gadis itu jika sedang kesal.

 

Betapa dirinya ingin melakukan hal itu juga. Namun dia tahu, jika dia tak pantas.

 

“Terima kasih atas bantuanmu, hyung. Lain kali jika kita bertemu, aku akan mentraktirmu minum”, ucap lelaki itu dengan senyumannya yang ringan. Seolah kejadian wanitanya berada di pelukan lelaki lain itu bukan merupakan perkara yang besar untuknya.

 

Kyuhyun menatap Hye Hoon yang tak mengucapkan sepatah kata pun, namun senyumannya yang dipaksakan adalah senyuman terakhir yang dilihatnya pada hari itu. Begitu mencabiknya, begitu menegaskan jika dia adalah pengecut handal yang hanya dapat menyakiti gadis itu.

 

Mungkin pilihannya adalah benar.

 

*

 

“Jadi lelaki itu?”

 

Hye Hoon menatap sepupunya itu heran, dahinya berkerut samar. “Hmm?”,tanyanya memastikan.

 

“Lelaki itu…lelaki yang tempo hari menggendongmu. Dia orang yang kau ceritakan itu, bukan?”

 

Hye Hoon terpaku beberapa saat, matanya menatap lelaki yang bermarga sama dengannya itu dengan tatapan kosong. Gadis itu akhirnya memilih menghindar. Dia membuka pintu mobil buru-buru, keluar dari ruang pengap itu tanpa meminta persetujuan Minho terlebih dahulu.

 

Hye Hoon sedikit menyesal karena tindakannya yang ceroboh. Dia melihat pasangan yang berbahagia itu sedang bercakap mesra, dengan sesekali lelaki itu mengelus rambut gadisnya yang sedang tertawa.

 

Dia hanya merasakan perih yang menjalari hatinya. Untung saja, dia sudah terlalu lelah menangis sehingga yang bisa dia lakukan hanya menundukkan wajah, menghindari pemandangan yang membuat dadanya menyempit.

 

“Kita tidak usah masuk jika kau belum sanggup melihatnya”. Minho berucap dengan santai, membuka kembali pintu mobilnya dan mencekal lengan gadis itu untuk duduk di tempatnya semula. “Ayo, kita makan siang di tempat lain”.

 

Hye Hoon melepaskan genggaman tangan kokoh yang menariknya itu dengan paksa. Dia berjalan terlebih dahulu, mendahului Minho yang bingung akan sikap gadis itu lalu tanpa pilihan lain lelaki itu pun mengikutinya.

 

“Setidaknya aku harus memberi salam. Setelah itu, kita akan pergi kemanapun yang kau mau”.

 

Suasana yang cair itu seolah menguap beberapa detik setelah keduanya memasuki ruangan serba cokelat itu. Pasangan yang sejak tadi mengumbar kemesraan mereka merasa kaku setelah melihat orang yang berasal dari masa lalu menyapa mereka dengan senyuman merekah yang kontras sekali dengan wajahnya yang pucat pasi.

 

Eonnie, selamat atas pembukaan restaurant barumu. Maaf, aku belum menyiapkan hadiahnya. Oh ya, salahmu juga baru memberitahuku kemarin. Apakah kau melupakanku, Eonnie. Ah, aku terluka sekali”.

Wanita berdarah mandarin itu pun mengangkat kedua tangannya seraya menjawab perkataan gadis itu dengan suara gugup.”A-anieyo. Maafkan aku, Hye Hoon~ah. Aku terlalu sibuk mempersiapkan detail kecil sehingga aku melupakan undangan untuk teman-temanku”. Wanita itu melihat ke arah seorang lelaki yang berada di samping Hye Hoon, lalu bertanya. “Nugu..seyo?”

 

Minho membungkukkan badannya, menyapa kedua orang itu dengan senyuman riang. “Hi! Namaku Minho. Nice to meet you. Oh hyung, kita bertemu lagi disini”.

 

Kyuhyun membalas sapaan itu dengan menundukkan wajahnya sedikit. Dia melirik ke arah Hye Hoon yang menghindar dari matanya, merasa sedikit lega karena gadis itu dapat melengkungkan senyumnya seperti biasanya. Dia sedikit terkaget ketika wanita di sampingnya itu bertanya. “Kalian saling mengenal?”

 

“Oh..itu…kami bertemu tidak sengaja di dalam suatu kondisi tertentu”.

 

Suara langkah kaki yang menghentak membuat mereka menghentikan percakapan canggung yang tercipta. Hye Hoon melihat tubuh wanita itu menegang ketika melihat orang yang tak diundangnya itu datang meskipun dia muncul dengan cara baik-baik, bukan dengan wajah berbalut emosi seperti biasanya.

 

Ketika jarak lelaki itu semakin dekat, Kyuhyun memeluk kekasihnya dan membiarkan wajah gadis itu bersandar di dada bidangnya. Mungkin niat lelaki itu baik. Dia hanya tidak mau Song Qian berhadapan dengan pria yang tempo hari melukainya. Namun, dia tak pernah sadar jika dia bahkan dengan tega menyakiti seseorang di sekitarnya.

 

Merasa tak pantas untuk berada diantara ketiga orang itu, Hye Hoon pun menarik Minho untuk segera keluar bersamanya. Dia berjalan cepat menghindari kenyataan yang harus dihadapinya karena dia yakin hatinya sudah tak sanggup lagi menanggung lukanya. Gadis itu tak mau terlihat lemah seperti kemarin. Apalagi di hadapan orang yang beberapa kali membuat hatinya terluka itu.

 

*

 

“Kita harus segera pergi. Kaja”.

 

Hye Hoon menatap Minho dengan puppy eyes-nya, salah satu cara yang biasa dilakukannya jika dia ingin keinginannya dikabulkan. “Sebentar lagi. Kumohon Minho~ya”.

 

Tak kuasa untuk menolak permintaan itu, Minho pun mendesah gusar. “Kau tak dengar? Sebentar lagi pesawat kita take off, Hye Hoon~ah. Apa kau mau kita ketinggalan pesawat?”

 

Arasso. Aku hanya meminta waktu sebentar.”

 

Minho mengacak rambutnya frustasi. Kelakuan Hye Hoon itu membuat dirinya kesusahan. Apa gadis itu tak tahu jika dia harus kembali bekerja besok lusa? Jika tidak, dia yakin Ayahnya akan memarahinya di depan karyawannya. Membayangkannya saja dia sudah bergidik ngeri.

 

“Sebenarnya apa yang kau tunggu, Hye Hoon~ah? Apa kau menunggu seseorang?”, tanya lelaki itu sambil melongokkan kepalanya entah mencari siapa. Dia hanya ingin gadis itu segera menuruti perintahnya dan berhenti menunggu orang itu.

 

“Aku bodoh, bukan?”, tiba-tiba gadis itu berucap. Kepalanya menunduk, matanya tertumbuk pada sepatu yang dikenakannya. “Aku menunggunya padahal…padahal aku tahu dia tak akan pernah datang”, terangnya dengan suaranya tercekat.

 

Dia menegakkan wajahnya membuat Minho dapat melihat cairan bening yang mengotori pipi gadis itu. “Mungkin kau akan setuju jika aku berkata bahwa aku terlihat sangat menyedihkan”.

 

Minho yang tak tahan melihat salah satu orang terdekatnya terluka pun meraih gadis itu dalam sebuah pelukan. Dia berharap jika Hye Hoon dapat tegar menjalani kisah cintanya yang tak sesuai yang diharapkannya.

 

Dan tanpa sepengetahuan mereka, seorang lelaki menyandarkan tubuhnya yang lemas di balik salah satu pilar raksasa di belakang mereka. Dia meremas dadanya yang terasa sakit ketika melihat wanita yang dicintainya berada di dalam pelukan lelaki lain.

 

Love is so….my love is so foolish.

 

*

 

Minho menghampiri salah satu karyawannya dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya. “Hei”, katanya sambil menepuk bahu gadis itu. “Mau makan siang bersama?”.

 

Gadis yang ditanyainya itu menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawabannya. Dia mengikuti langkah panjang Minho dengan berjalan pelan karena tubuhnya yang merasa lemas. Setelah mereka masuk ke kafetaria kantor dan mengambil jatah makan siang mereka, Hye Hoon pun mencari bangku kosong yang terletak cukup jauh dari pegawai lainnya. Entahlah, dia hanya tak ingin digunjingkan banyak orang karena dia makan bersama dengan salah satu Manager yang terkenal dengan ketampanannya.

 

Meskipun ya, banyak orang mengetahui hubungan darah diantara keduanya.

 

“Minho~ya, apakah kau ingin ikut denganku ke Korea?”

 

Lelaki itu pun mengerutkan kening karena terkejut dengan pertanyaan Hye Hoon yang tiba-tiba. Sudah dua tahun mereka menetap dan tak sekalipun Hye Hoon tertarik untuk kembali meskipun di masa liburan mereka.

 

“Kenapa tiba-tiba?”, tanyanya sambil menyuapkan sepotong makanan ke mulutnya.

 

“Qian Eonnie akan menikah akhir bulan ini”.

 

Bulatan hitam Minho seketika melebar ketika mendengar pernyataan itu. Dia hampir saja menyemburkan makanan yang tersisa di mulutnya ketika melihat wajah Hye Hoon yang datar, seolah tak terjadi apa-apa.

 

Wae? Kau kenapa Choi Minho? Apakah ada sesuatu yang salah?”.

 

Minho mendengus pelan. Dia kesal karena sepupunya itu benar-benar tak peka dengan apa yang dikhawatirkannya. “Kau masih bersikap begini ketika mantan kekasihmu yang sangat kau cintai itu menikah dengan wanita lain?”.

 

“Itu hanya pura-pura, Choi Minho. Bukankah aku sudah bilang jika aku memaksanya menjadi kekasihku agar dia bisa menutup mulutku tentang perasaannya kepada wanita yang sejak dulu dicintainya?”.

 

Dadanya yang sesak membuat nafasnya putus-putus ketika dia mengatakan hal itu. Hye Hoon tahu jika dia tak pintar menyembunyikan perasaannya, apalagi di depan sepupunya yang satu ini.

 

Minho menatap Hye Hoon dengan pandangan khawatir. Dia lebih tau dari siapapun bagaimana penderitaan gadis itu selama dua tahun terakhir. Bagaimana gadis itu ingin menghadiri pernikahan orang yang dicintainya dengan kondisi seperti ini?

 

Seakan mengetahui apa yang ada di pikiran Minho, Hye Hoon pun meyakinkan lelaki itu dengan sebuah senyuman tulus. “Mereka temanku, dan orang yang kucintai. Aku hanya ingin melihat mereka berdua tersenyum karena terlalu bahagia. Setidaknya, itu membuat pengorbananku tak sia-sia. Mianhae, Minho~ya. Tapi aku harus benar-benar datang”.

 

*

 

Hye Hoon yang sengaja mengajak Minho duduk di deretan paling belakang itu tak pernah melepaskan tautan jemari mereka. Meskipun bibirnya terulas senyum, namun tubuh gadis itu bergetar karena takut. Dia tahu jika yang dia butuhkan sekarang adalah dukungan dari orang yang selalu ada untuknya. Syukurlah, cara itu cukup efektif sehingga dia dapat sedikit demi sedikit meredakan dadanya yang terasa sesak.

 

“Pengantin wanita akan segera tiba”.

 

Seruan itu membuat Hye Hoon semakin mengetatkan jemarinya diantara lengan besar milik lelaki di sampingnya. Minho menggunakan tangannya yang bebas untuk mengelus lengan gadis itu, memberikan Hye Hoon kekuatan lebih untuk melihat upacara pernikahan yang pasti akan sangat menyakitinya.

 

Tak berapa lama, lonceng pun berbunyi. Sang pengantin pria yang berada di ujung altar membalikkan tubuhnya, menanti calon pengantin wanitanya yang akan segera berjalan menemuinya. Tubuh Hye Hoon menegang. Dia menggigit bibir bawahnya untuk meredam tangis, sementara ujung matanya melirik sosok yang berjalan melewatinya untuk keluar dari ruangan itu.

 

Dia berlari secepat mungkin, meskipun kakinya yang lemah tak sanggup lagi menahan berat badannya. Minho yang telah menyadari situasi yang dialami gadis pun melihat Hye Hoon dengan tatapannya yang sulit diartikan. Dia menghembuskan nafas lega karena gadis itu tak perlu menangis semalaman karena orang yang dicintainya terikat dengan wanita lain.

 

Sementara itu, Hye Hoon dengan tubuhnya yang lemas itu tersungkur di atas rumput karena dia tak bisa melihat apa yang dipijaknya karena pandangannya yang kabur. Sosok yang diikutinya pun berbalik ketika mendengar suara aneh di belakangnya. Orang itu berjalan cepat ke arah Hye Hoon yang tak pernah melepas pandangan mata gadis itu darinya.

 

Lelaki itu berjongkok kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri. Namun, Hye Hoon tak menerima uluran tangannya. Tangan lemahnya yang terkepal memukul pundak lelaki itu berkali-kali dengan gerakannya yang pelan. Matanya semakin berair ketika dia melakukan hal itu.

 

Wae? Kenapa bukan kau yang menjadi pengantin pria-nya, huh? Mengapa kau bodoh sekali? Kau sudah mencintainya sejak lama dan kau pada akhirnya memilikinya. Kenapa kau menyerah? Mengapa kau membiarkan wanita yang kau cintai menikah dengan pria lain, hah? Jawab aku…”.

 

Dia berkata sambil menahan isak tangisnya yang membuat siapapun yang mendengarnya akan merasakan pilu. Tak terkecuali dengan Kyuhyun. Lelaki itu pun menarik tubuh Hye Hoon ke dalam pelukannya, membiarkan gadis itu menumpahkan kekesalan dan kekecewaan yang dirasakannya dengan menangis sejadi-jadinya.

 

“Kau mencintaiku. Bukankah seharusnya kau senang karena aku tak menikah dengan gadis lain?”.

 

Hye Hoon mengeratkan pelukannya membiarkan kemeja Kyuhyun basah karena air matanya yang bereksresi lebih. Tak dipungkirinya, ada perasaan lega yang melingkupinya ketika dia mengetahui jika bukan Kyuhyun yang akan menikah dengan sahabatnya itu. Namun, seperti biasa, dia selalu menyampingkan perasaannya dan lebih memikirkan perasaan Kyuhyun.

 

“Itu pemikiran picik. Jika orang yang kucintai menikah dengan wanita yang bisa membahagiakannya, aku pasti akan bahagia”. Dia mendongakkan wajahnya, melihat wajah lelaki yang selama ini dirindukannya. “Dan aku tahu siapa yang bisa membuatmu bahagia”.

 

Kyuhyun menarik kedua sudut bibirnya ke belakang. Dia bahkan lupa kapan terakhir kalinya dia tersenyum tulus seperti saat ini. Tangan lelaki itu mulai lancang menghapus cairan yang mengotori pipi Hye Hoon dengan bulatan hitamnya yang tak lepas dari mata cokelat yang kini diakuinya sangat dirindukannya.

 

“Kau tak tahu, Hye Hoon~ah. Kau tak pernah tahu karena kau tak memberiku ruang untuk berbicara dan menyimpulkan pendapatmu sendiri tentangku”.

 

Dengan cepat bibir Kyuhyun menekan bibir gadis itu yang terasa lembab. Hye Hoon yang belum mencerna apa yang terjadi padanya membiarkan bibir Kyuhyun menciumnya dengan matanya yang terbuka.

 

Hingga pada saat Kyuhyun mengetatkan jarak diantara keduanya, kelopak mata gadis itu pun mulai tertutup. Dia mulai membuka celah diantara bibirnya membuat Kyuhyun bisa merasakan rasa manis gadisnya itu lebih dalam.

 

Hye Hoon membiarkan Kyuhyun mengendalikannya. Tangannya tergelung pasrah di sekitar leher lelaki itu untuk membuat Kyuhyun lebih leluasa. Berciuman dengan orang yang dicintainya, rasanya benar-benar tak bisa digambarkan. Dia merasakan ada kupu-kupu yang beterbangan di atas perutnya dan rasanya sangat menyenangkan.

 

Mereka pun terpaksa harus menyudahi kegiatan mereka karena pasokan oksigen yang semakin menipis. Hye Hoon membuka matanya dengan ragu dan melihat Kyuhyun yang menatap matanya lembut. Kening mereka yang masih beradu membuat gadis itu dapat merasakan hembusan nafas hangat Kyuhyun mengenai wajahnya. Kedua belah pipinya semakin merona karena sejujurnya dia tak pernah sedekat ini dengan Kyuhyun sebelumnya.

 

“Apa sekarang kau tahu apa jawabannya?”. Kyuhyun menyelipkan sebagian rambut Hye Hoon di balik telinga gadis itu, kemudian berbisik disana. “Kau. Kaulah orang yang bisa membuatku bahagia”.

 

*

 

Beres yeaaaahhh….

Ini songfic at close tapi endingnya gak sesuai banget hahaha

Gak nyangka malah jadi oneshot.

Oh ya itu pengantin prianya bukan changmin yaaaaa ^^

Doain semoga aku gak down lagi dan bisa update cepet. Byebye

48 thoughts on “[Songfic] At Close

  1. Sempet ngira minho itu penggantinya kyuhyun, eh ternyata kakak kandungnya.
    Hyehoon aduh, yakin deh perasaan lu pasti kayak naik bianglala. Muter secara perlahan, ya kalau ps diatas ntar bisa turun lah kalau macet? Yah gitu kayak udah diterbangin dengan berpura” tuli dgn perasaan kyuhyun tp akhirnya harus direlain walau akhirnya dia yg memang jodoh kita akan kembali pada kita bagaimanapun caranya. Huftt.. Need sequel nih kak:D

  2. Hoho ahirnya nyatu juga tu pasangan….
    Sukurlah…..setelah pesakitan hye hoon..di tambah dia pergi slama 2 th bisa nyatu juga ma cintanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s