[Hye-Kyu Diary] Romantic Side of Us


Hye Hoon yang sedang bermalas-malasan di balik selimutnya segera beranjak tergesa ketika mendengar suara pintu dibuka. Dia berlari cepat tanpa memakai alas kaki yang tergeletak di samping ranjangnya, membuka pintu kamarnya serampangan tanpa memikirkan bentuk wajahnya yang kusut.

 

Wasseo?”, tanyanya antusias ketika melihat sosok yang selama beberapa hari ditungguinya itu sedang berkutat dengan tali sepatunya. Lelaki itu mendongak, menatap heran pada Hye Hoon yang tersenyum tanpa henti.

 

Setelah mengganti sneaker-nya dengan sendal rumahan, Kyuhyun pun dengan polosnya meraba pelipis yeochin-nya itu. “Suhu badanmu normal”, omongnya santai yang otomatis membuat Hye Hoon menganga.

 

Tapi, gadis itu benar-benar sudah tak peduli lagi dengan image-nya sekarang. Dengan gerakan cepat dia berhambur ke pelukan Kyuhyun dan memerangkap tubuh tegap itu dengan tangannya erat. Tubuh mereka sangat rapat sehingga Kyuhyun dapat mendengar bisikan yang sangat pelan dari bibir mungil gadis itu.

 

“Aku sangat merindukanmu”, begitu isi dari lirihan hatinya. Kyuhyun yang masih terkejut dengan perubahan sikap Hye Hoon yang berubah drastis itu pun tersenyum kecil. Dia mendekap tubuh mungil itu tanpa berniat melepasnya, menciumi wangi khas yang dirindukannya itu dari puncak kepala gadisnya.

 

“Aku juga. Aku juga sangat merindukanmu, sayang”, jujurnya.

 

Hye Hoon melepas pelukannya, namun Kyuhyun masih menahan tubuh gadis itu dalam jarak yang sangat dekat, merengkuhnya dengan pelukan longgar. Bulatan hitam Kyuhyun melebar ketika tanpa diduga permukaan bibir lembut gadis itu menyentuh keningnya, turun ke pipinya, lalu kemudian mengecup bibirnya sekilas.

 

“Why are you looking so damn gorgeous nowadays? Do you know that makes me so frustated because I want to see you right away?”

 

Gadis itu menggumamkan kalimat panjang dalam satu tarikan nafas. Kyuhyun hanya bisa mengerutkan alis karena tak menangkap apa yang gadsinya itu ucapkan. Sedetik kemudian, tawa Hye Hoon mulai terurai ketika melihat wajah bingung di hadapannya.

 

“Kau tak mengerti? Itu artinya aku kelaparan Cho Kyuhyun. Seharusnya kau membawa makanan ketika berkunjung ke rumah kekasihmu”.

 

Tentu saja itu bohong. Mana mungkin seorang Hye Hoon mengakui terang-terangan dihadapan kekasihnya yang memiliki self esteem yang sangat tinggi bahwa lelaki itu terlihat semakin tampan? Tidak, terimakasih.

 

Kyuhyun membulatkan bibirnya tanda dia mengerti, meskipun raut muka bingungnya tadi masih terlhat jelas di wajahnya. “Tapi aku lupa membeli makanan. Kau mau aku pesankan sesuatu?”

 

Hye Hoon pura-pura kesal, menjauhi lelaki itu dan menghempaskan tubuhnya di sofa. “Tidak perlu. Aku akan memesannya sendiri. Aku akan memesan sushi. Kau mau sesuatu yang lain?”

 

Kyuhyun ikut duduk di samping gadisnya, merangkul bahu Hye Hoon yang sedang sibuk dengan aplikasi di ponselnya itu lalu menjawab pertanyaannya dengan gumaman pelan. “Hmm…tidak perlu. Pesankan saja satu porsi yang sama untukku”.

 

Setelah Hye Hoon selesai dengan urusannya, gadis itu pun menyalakan televisi karena dia sedang tidak suka jika keadaan apartemennya terlalu hening. Apalagi, sudah beberapa hari ini dia tidur sendirian di rumah, membuatnya semakin kesepian saja.

 

Gadis itu melepaskan tangan kokoh yang melingkar di tubuhnya, kemudian menatap lelaki itu dengan serius. “Kenapa kau tak menghapus riasanmu? Ini sudah malam, lagipula siapa lelaki yang memakai full make up malam-malam begini kalau bukan kau?”. Tangan lentiknya meraba rambut bagian depan lelaki itu, merapikannya sambil menyunggingkan senyum. “Ngomong-ngomong, aku suka gaya rambutmu. Di musikalmu kali ini, kau benar-benar berubah, ya?”

 

Kyuhyun menatap gadis itu, meraba pipi halus Hye Hoon dengan jarinya yang panjang. “Kenapa kau tak datang? Bukankah kubilang aku akan terlihat sangat cool kali ini?”.

 

Lelaki itu menaikkan salah satu sudut bibirnya dengan memperlihatkan senyuman yang terlihat menyebalkan di mata Hye Hoon, menggoda kekasihnya yang sudah sering mengakui kecemburuannya itu.

 

Aigoo, jangan bilang kau masih cemburu melihatku berciuman dengan wanita lain?”, ejeknya.

 

Mwoya?”, sahut gadis itu tak terima.

 

“Ayolah, akui saja kau masih cemburu. Apa kali ini kau berniat memutuskanku lagi seperti dulu?”. Lengan Kyuhyun menyenggol tubuh gadis yang duduk di sampingnya itu dengan tawanya yang terdengar menyebalkan.

 

Kali ini Hye Hoon tak bereaksi yang sama seperti tadi. Gadis itu melingkarkan tangannya di perut Kyuhyun, sedangkan kepalanya disandarkan ke dada bidang lelaki itu. Pertahannya sudah semakin runtuh karena dia benar-benar merindukan lelakinya itu.

 

Sudah sebulan ini, Kyuhyun terlalu sibuk untuk menemuinya dan selalu menghabiskan waktunya untuk bekerja. Dia juga sibuk dengan tugas kuliahnya yang semakin hari semakin menumpuk sehingga tak ada waktu untuk hanya sekedar bertukar kabar lewat telepon.

 

“Tidak, bukan karena itu. Lelah sekali jika bertengkar terus-terusan hanya karena ciuman. Bukankah jika kau berhak mencium gadis lain aku bisa mencium pria lain sebagai gantinya?”, jawabnya tanpa ragu.

 

Kyuhyun menaikkan alisnya mendengar perkataan gadisnya itu.”Ya, aku hampir saja lupa kalau kau mencium ikan amis itu di hadapanku”.

 

“Sayang sekali aku hanya mencium pipinya saja. Seharusnya aku….”

 

Kyuhyun mengetatkan pelukannya sebelum Hye Hoon melanjutkan apa yang ingin diucapkannya, yang membuat dada gadis itu terasa sesak. “Lepaskan…Cho Kyuhyun….lepaskan…aku”, gumamnya putus-putus karena dia mulai kehabisan nafas.

 

“Lalu? Kenapa kau tidak datang kalau alasannya bukan karena itu?”

 

Hye Hoon menghembuskan nafas lelahnya, menjawab rasa keingintahuan kekasihnya itu dengan nada sedihnya. “Aku hanya tak ingin melihatmu mengorbankan hidupmu demi wanita lain. Melihatmu mati karena melindungi wanita itu, benar-benar romantis sekali. Aku merasa iri melihatnya”.

 

Kyuhyun menegakkan tubuh gadis itu, keduanya saling membangun kontak mata dengan suasana yang lebih serius. “Dengar, jika kau berada di posisi yang sama seperti itu, meskipun aku bukan Moo Yeol tapi Cho Kyuhyun, aku akan bersikap sama seperti peranku itu”.

 

Lelaki itu mendekatkan jarak diantara mereka berdua, semakin detik semakin dekat yang membuat keduanya menutup kedua mata mereka, hingga akhirnya Hye Hoon mengintrupsinya dengan menutup bibirnya sendiri dengan punggung tangannya.

 

Kyuhyun yang menyadari kelakuan gadis itu pun menggeram, tangannya mengacak rambutnya yang rapi itu frustasi lalu berteriak protes. “Wae?”, ucapnya seperti anak kecil.

 

Gadis itu memang selalu pintar mempermainkannya. Apakah Hye Hoon tak merasakan apa yang sedang dirasakannya saat ini. Ini hari kesepuluh sejak mereka bertemu. Kyuhyun sangat merindukan gadis itu, mengapa Hye Hoon tidak juga mengerti?

 

Mata Hye Hoon menyipit, menatap Kyuhyun dengan tatapan menyelidik. “Mengapa kau memaksaku menonton musikalmu, padahal temanmu yang tercinta itu sudah datang untuk mensupportmu? Kau juga terlihat senang sekali karena dia datang, apa gunanya aku datang kalau begitu”.

 

Kyuhyun semakin merasa pusing karena gadis itu tiba-tiba marah ketika di saat mereka terlihat akur seperti saat ini. Perubahan mood Hye Hoon memang sesuatu hal yang tak bisa dia tolerir.

 

“Demi Tuhan, Choi Hye Hoon. Ada apa denganmu? Kau tahu bagaimana hubunganku dengannya, dan kau masih saja cemburu?”

 

Hye Hoon mencebikkan bibirnya kesal, lalu membalas perkataan Kyuhyun dengan sindiran tajam. “Aku lupa jika kau tak pernah mencemburui Donghae Oppa. Aku juga lupa jika kau tak pernah menghukumku gara-gara aku meminta berfoto dengan Changmin Oppa”.

 

Suara bel berdenting terdengar. Kyuhyun hendak bangkit dari tempat duduknya, namun Hye Hoon mendahuluinya dan mencegah lelaki itu dengan mengangkat salah satu tangannya. “Aku saja. Aku tak mau terkena masalah karena penyanyi ballad terkenal membuka pintu apartemenku”.

 

Hye Hoon menjinjing dua kotak makanan yang dipesannya tadi, lalu kembali ke ruang tengahnya dengan senyum lebar seolah tak terjadi apa-apa. Kyuhyun menipiskan bibirnya, merasa heran karena suasana hati Hye Hoon yang berubah secepat kilat.

 

“Kenapa kau terlihat bingung?”, tanya gadis itu ketika melihat apa yang dilihatnya dari ekspresi wajah Kyuhyun. Dia menyuapkan sepotong sushi itu ke mulut Kyuhyun, dan lelaki itu mengunyahnya dengan pelan.

 

Gadis ini….suka sekali membuat kepalanya pusing.

 

*

 

Bukan hanya Kyuhyun ternyata yang menganggap jika sikap Hye Hoon sedikit aneh, lelaki yang sedang menyeruput strawberry milk-nya itu pun menatap Hye Hoon dengan pandangan menyelidik.

 

“Choi Hye Hoon, benar itu kau? Apa kau berganti kepribadian ketika kita tak bertemu beberapa hari?”, sergah lelaki bernama panggung Eunhyuk itu tanpa merasa bersalah. Kemudian, dia mengekori tingkah Hye Hoon dengan sudut matanya, mengaktifkan mode pertahanannya karena dia tahu apa yang akan gadis itu lakukan setelahnya.

 

Lelaki berambut pirang itu membelalakkan matanya ketika Hye Hoon malah tertawa lepas akibat perkataannya. Benar ‘kan? Gadis itu sedikit aneh, batinnya dalam hati.

 

“Memangnya apa yang salah dengan kepribadianku, Oppa?”, tanya gadis itu sambil memasang muka polosnya.

 

Hyukjae tersedak karena minumannya ketika melihat wajah Hye Hoon yang sama sekali tak marah padanya. “Itu…hari ini kau berbeda sekali dari biasanya. Kau mengikuti Kyuhyun kemanapun, memeluknya setiap waktu, bahkan kau seakan tak rela ditinggal olehnya sedetikpun. Bukankah…itu terlihat sedikit aneh?”

 

Gadis itu tersenyum singkat, melirik ke arah Kyuhyun yang juga menanti jawaban atas rasa penasaran Hyukjae itu. “Oh, mungkin kau tak terbiasa dengan lingkunganmu karena kau terlalu lama sendiri, Oppa. Apa kami kelihatan sangat mesra sehingga membuatmu iri setengah mati?”

 

“Ne?”, sahut Hyukjae dengan mulut yang terbuka lebar. Dia menghempaskan kardus susu strawberry-nya kesal, kemudian berlalu ke arah pintu depan. “Aku akan pergi dari sini agar kalian leluasa bermesraan”, ucapnya yang menyerupai sebuah geraman.

 

Terdengar suara derik pintu yang cukup keras beberapa saat kemudian. Hye Hoon menggerdikkan bahunya tak peduli, kemudian menepuk pahanya menyuruh Kyuhyun agar berbaring disana.

 

Kyuhyun pun menuruti keinginan gadis itu tanpa bertanya. Dia memang diperlakukan seperti ini sejak kemarin malam. Hye Hoon begitu bersikap manis padanya, dan dia bahkan tak tahu alasannya mengapa. Dia suka dengan perubahan kekasihnya itu, namun kadangkala dia merasa sepi karena Hye Hoon sukar diajak berdebat sekarang.

 

“Kenapa tiba-tiba kau begitu manis? Apa kau menginginkan sesuatu dariku?”. Kyuhyun sudah tak bisa lagi menahan lidahnya yang tajam itu untuk tak bereaksi. Kyuhyun benar-benar siap jika kenyataannya Hye Hoon bersikap selayaknya seorang kekasih normal hanya karena ingin permintaannya dikabulkan, meskipun dia tak tahu permintaannya itu apa.

 

Hye Hoon mengerutkan dahinya, menghentikan gerakannya yang sedang mengelus rambut milik lelaki yang tidur di pangkuannya itu sekejap karena mencerna pertanyaannya, namun melanjutkannya lagi ketika dia sudah mengerti.

 

“Aku sedang tak ingin bertengkar. Jadi, bisakah kau hanya menerima perlakuanku saja? Jika kau tak suka, aku akan pergi”.

 

Kyuhyun sedikit panik. Dia dengan tergesa meraba telapak tangan gadisnya dan menggenggamnya erat. “Tidak, jangan pergi”. Lelaki itu menatap mata cokelat Hye Hoon dengan tatapan sendunya. “Aku menyukainya. Tapi, kau yakin tak ada yang kau sembunyikan padaku?”

 

Hye Hoon menghela nafas, tangannya yang bebas digunakannya untuk kembali mengelus rambut tebal milik Kyuhyun. “Kalian terlalu sibuk. Maksudku..kau dan Appa. Aku merasa seperti hidup sendiri karena tak ada orang yang memperhatikanku. Aku merindukanmu, aku juga merindukan Appa. Tapi aku tak mungkin merengek kepada kalian untuk meninggalkan rutinitas kalian demi aku. Aku tak bisa bertemu dengan Appa, tapi setidaknya aku bisa bertemu denganmu. Kau mengerti, bukan? Aku hanya ingin selalu berada di sisimu ketika kita bisa bersama, itu saja”.

 

Kyuhyun bangkit dari posisinya, kemudian menghapus tetesan air mata yang mengotori pipi gadis itu dengan ibu jarinya dengan lembut. “Jangan menangis. Kau seperti bukan Choi Hye Hoon jika kau cengeng seperti itu”.

 

Dia menarik tubuh Hye Hoon ke dalam pelukannya, menenangkannya dengan mengelus punggung gadis itu dengan gerakan teratur. “Aku lebih merindukanmu. Aku takut jika aku menghubungimu, aku akan nekat menemuimu dan menghancurkan semua jadwalku. Maafkan aku, sayang. Aku berjanji aku tak akan mengulanginya lagi”.

 

*

 

Hye Hoon melangkah masuk dengan ragu ke ruangan yang ramai dengan orang yang berlalu lalang itu. Dia menarik ujung jaket yang digunakan lelaki yang telah maju satu langkah lebih jauh darinya, lalu berkata dengan sedikit berbisik. “Apa benar tidak apa-apa aku masuk, Oppa? Aku sebaiknya menunggu di van saja”.

 

Lelaki itu menarik Hye Hoon dan mendudukkan gadis itu di tempat duduk terdekat. “Sebentar lagi mereka selesai. Kau tenang saja. Oh, aku mau membeli minuman. Kau mau apa?”

 

“Tidak usah, Oppa. Terimakasih atas tawarannya”.

 

Namja bernama depan Kim itu lalu tersenyum sambil menepuk punggung Hye Hoon pelan. “Aku tinggalkan kalian sebentar. Kalau kau perlu apa-apa, hubungi aku”.

 

Gadis itu membalas senyumannya, menganggukkan kepalanya tanda jika dia mengerti. Dia memandangi salah satu manajer yang bertugas melayani Kyuhyun itu sampai lelaki itu menghilang di balik pintu. Dia menghembuskan nafasnya berat. Banyak sekali wanita yang kini mengerubungi Kyuhyun, meskipun dia tahu itu pekerjaan mereka tapi Hye Hoon tetap merasa tak nyaman.

 

Dia duduk bersandar di sofa itu, mencoba memejamkan matanya meskipun dia tak bisa tidur karena suara ramai dan tatapan aneh yang tertangkap oleh ujung matanya itu sungguh mengganggunya. Hye Hoon pun mencari headset yang berada di tas tangannya, menyambungkannya ke ponselnya lalu menutup kedua telinganya dari bisikan-bisikan yang tak dihiraukannya itu.

 

Untunglah, hal itu tidak berjalan beberapa lama. Beberapa orang wanita tadi segera keluar ketika mereka selesai dengan urusannya.

 

“Mereka memang begitu. Tapi tenanglah, mereka bisa dipercaya. Mereka tak akan mencampuri urusan pribadiku”.

 

Hye Hoon tak menanggapi. Dia berdiri menghadap lelaki itu, mempersempit jarak mereka sehingga membuat nafas Kyuhyun tercekat. Gadis itu menaikkan kerah kemeja putih Kyuhyun, merampas dasi yang dipegang lelaki itu lalu memasangkannya dengan rapi.

 

“Kenapa kau tak meminta coordi-mu untuk memasangkan dasimu juga?”.

 

Kyuhyun menatap lekat gadisnya yang terletak sangat dekat dengannya, bahkan lelaki itu dapat mencium wangi khas gadis itu dengan sangat jelas yang membuat dirinya semakin tersiksa. “Karena aku sedang mencoba mencari cara untuk menggodamu. Apakah ini berhasil?”

 

Kyuhyun menundukkan wajahnya, dengan waktu yang sangat singkat bibir mereka pun bertemu. Lelaki itu mengecapi seluruh bagian dari bibir mungil gadisnya tanpa terkecuali, menggerakkan kepalanya ke berbagai posisi agar dapat melumat bibir itu lebih dalam.

 

Keduanya berhenti setelah Hye Hoon mulai sadar karena remasan jarinya di jas lelaki itu membuatnya sedikit lecet. “Astaga, bajumu. Untung saja ini masih terlihat rapi. Bagaimana jika aku meremasnya terlalu kuat? Aku pasti akan membuatmu malu”.

 

Kyuhyun tertawa pelan, tangannya segera mengacak rambut gadis itu sehingga rambutnya yang diikat menjadi sangat berantakan. “Tak apa. Walaupun bajuku terlihat sedikit kusut, aku tetap terlihat tampan”.

 

Cish, percaya diri sekali kau”, decak Hye Hoon sambil mencebikkan bibirnya kesal.

 

Kyuhyun tidak bohong. Dia memang terlihat tampan. Dengan tuxedo pas badan serta dasi kupu-kupu yang melingkar di lehernya membuat lelaki itu tampak istimewa, meskipun hampir semua lelaki yang berjalan di Red Carpet yang sama mengenakannya juga. Jangan lupakan soal rambutnya, dia benar-benar terlihat menyilaukan dengan keningnya yang sedikit terbuka seperti itu.

 

“Kau terlihat seperti pengantin pria yang akan menghadiri upacara pernikahan”, guraunya dengan senyum yang terurai.

 

Kyuhyun menaikkan alisnya, lalu membalas perkataan gadis itu dengan kembali mengikis jarak diantara keduanya. “Benarkah? Kalau begitu kau harus mengganti bajumu yang lusuh itu dengan gaun putih supaya kau bisa berdampingan denganku. Mana mungkin aku menikah dengan seorang wanita yang hanya mengenakan kaos dan celana jeans selutut seperti dirimu itu”.

 

“Kau sedang melamarku? Kalau begitu kau harus membiasakan dirimu melihatku memakai gaun seksi, bodoh. Kau tak ingat beberapa minggu yang lalu di acara pernikahan temanmu kau memaksaku meninggalkan resepsi pernikahan karena libidomu yang tinggi itu?”.

 

Tawa lelaki itu menguap. Dia ingat saat itu dia menyeret Hye Hoon ke salah satu ruangan kosong di gedung mewah itu hanya karena gairahnya yang mengerikan. Dia menangkap rona merah yang menyembul di balik pipi gadis itu, muncul keinginannya untuk menggodanya lebih.

 

“Kita hanya harus menyelesaikan urusan kita terlebih dahulu, membiarkan semua orang menunggu kemudian kembali merapikan pakaian kita. Bukankah itu solusi yang bagus?”

 

*

 

Kejutan!

 

Hye Hoon merasa ada beragam pita dan balon yang mengisi mobil berwarna hitam legam itu sesaat setelah dia membuka pintu. Mungkin sekarang wajahnya sangat terlihat bodoh karena dia bahkan tak bisa mengontrol bibirnya untuk tak terbuka ketika melihat kedua pria tampan sedang tersenyum manis ke arahnya.

 

“Tutup mulutmu, bodoh”, teriak seseorang tepat di telinganya yang membuat Hye Hoon merapatkan bibirnya sembari menutup kupingnya yang terasa sakit.

 

Seorang dari kedua orang pria tampan tadi mengangkat tangannya, menyapa gadis itu dengan senyuman khasnya yang pasti bisa membuat semua wanita meleleh karenanya. “Annyeong Hye Hoon~ah. Kita bertemu lagi”.

 

Hye Hoon membalasnya dengan senyuman canggung. Dia tahu lelaki di sebelahnya ini pasti akan menyela jika dia menjawab sapaan itu dengan wajah sumringah. Bukan hanya Changmin yang menyapanya, sesosok lelaki lain yang mengambil tempat duduk berbeda di mobil itu pun menganggukkan kepalanya sedikit untuk memberi salam padanya.

 

“Lagi?”, ucap Kyuhyun tak mengerti. Dia menatap kekasihnya dan sahabat karibnya itu bergantian. Hye Hoon pun membuka mulut sebelum lelaki itu semakin menyecarnya. “Aku menonton konser TVXQ beberapa hari lalu dan Changmin Oppa mengundangku ke backstage. Jeongmal Kamsahamnida, Oppa”.

 

Kyuhyun masuk ke mobil dengan muka kesal, mau tak mau Hye Hoon pun membuntutinya. “Menonton konser, huh?”, gerutu lelaki itu tanpa sadar. Gadis itu pun tersenyum geli melihat tingkah menggelikan lelakinya itu.

 

“Maafkan sikapnya yang menyebalkan, Oppa. Kau tahu, bukan? Dia itu sangat kekanakkan”.

 

Keduanya pun mengangguk sambil menahan tawa yang mereka sembunyikan di balik punggung tangannya. Sedangkan Kyuhyun, tentu saja semakin kesal dan mengabaikan kekasihnya itu.

 

Benar bukan? Lelaki itu memang kekanakkan.

 

*

 

Hye Hoon menginjakkan sepatu kesayangannya berkali-kali ke atas trotoar dengan keras. Dia bahkan tak peduli jika sepatu itu rusak saat itu juga. Karena jika sepatu itu sampai tidak bisa dipakai lagi, dia pasti akan meminta ganti rugi kepada seseorang yang membuatnya kesal itu.

 

Siapa lagi kalau bukan lelaki pencemburu yang kekanakkan itu.

 

Kyuhyun tak bersedia untuk mengganti tempat mereka makan dengan restaurant yang lebih tertutup. Beberapa kali pun kedua sahabatnya itu membujuknya, Kyuhyun tetap pada pendiriannya. Akhirnya mereka sepakat untuk mengikuti rencana awal dan membiarkan Hye Hoon berjalan jauh di belakang mereka.

 

Oh ya, mana mungkin dia bersisian dengan ketiga pemuda tampan itu di depan umum. Jika ya, dia benar-benar ingin mati di tempat. Sebut saja dia beruntung karena van diparkirkan di tempat yang sepi, sehingga tak mungkin ada orang yang melihatnya keluar dari mobil yang sama dengan para pria itu.

 

Jika dia ketahuan, sudah tertebak apa yang akan terjadi dengannya.

 

Ketiga orang itu masuk ke dalam rumah makan tradisional yang sempit itu dengan bercakap ramai. Hye Hoon yang masih mempertahankan wajahnya yang ditekuk itu pun masuk beberapa saat kemudian.

 

Gadis itu melihat sekeliling. Tak ada banyak orang yang berada di tempat ini. Dua meja yang terisi lainnya ditempati oleh sekumpulan namja yang berpakaian formal yang sepertinya baru pulang dari kantor. Sementara satu meja lagi diisi oleh dua orang kakek yang sedang bermain kartu.

 

Baguslah, setidaknya telinganya tak akan terinfeksi karena jeritan-jeritan para gadis yang mengidolakan mereka.

 

Seorang wanita paruh baya berambut keriting memberinya segelas air dan sebuah buku yang ukurannya lumayan besar. Setelah melihat isi menu yang ditawarkan, Hye Hoon pun menunjuk beberapa makanan yang ingin dimakannya sambil sesekali melirik meja sebelahnya itu dengan ekor matanya.

 

Tidak perlu mempunyai pendengaran super untuk mencari tahu apa yang mereka bicarakan. Tentu saja, apa yang dibicarakan ketiga lelaki single yang sedang berkumpul kecuali masalah perempuan? Apalagi ada oknum tertentu yang sengaja mengeraskan suaranya untuk menyebut nama-nama wanita cantik yang selalu berkeliaran di televisi untuk membuat gadis itu berang.

 

Hye Hoon menanggapinya dengan melatih pernafasannya agar hawa panas yang dirasakannya tidak masuk ke seluruh organ tubuhnya.

 

“Tenanglah, Hye Hoon. Kau harus tenang”, bisiknya pada dirinya sendiri.

 

Dia pun melahap makanannya yang masih mengepul, tak peduli jika lidahnya terbakar karena kelakuannya itu. Dia hanya perlu otak yang dingin untuk membalas kelakuan pria itu. Tak lama kemudian, apa yang ditakutkannya pun terjadi. Segerombolan anak wanita yang masih mengenakan seragamnya berhamburan masuk, dan mengerubungi meja di sebelahnya.

 

Karena terganggu, lelaki-lelaki kesayangannya itu pun mengumbar senyum sambil perlahan meninggalkan restoran. Hye Hoon melihat Kyuhyun yang meliriknya dengan penuh rasa bersalah sebelum mereka pergi, namun dia tahu jika dia tak mungkin kembali pulang dengan mereka sekarang.

 

Tiba-tiba dia teringat jika dia meninggalkan semua barangnya di mobil. Dengan tergesa dia meraba saku pakaian dan jaketnya dan tidak menemukan apapun disana. Bahkan ponsel pun tak ada.

 

Astaga…apa yang harus dilakukannya sekarang?

 

*

 

Hye Hoon melangkah keluar dari rumah makan itu dengan kakinya yang lunglai. Dia tak menyangka jika hari sial ini akan datang kepadanya juga. Dia membayar makanan itu dengan merelakan jam tangan favoritnya, tak hanya itu, dia harus membujuk ahjumma pemilik restoran itu untuk membiarkannya membayar dengan benda itu dan meyakinkan jika jam tangan itu benar-benar asli dan bisa dijual seharga beberapa kali lipat dari harga makanan yang dimakannya tadi.

 

Dia menyalahkan dirinya sendiri dengan memukulkan kepalanya ke tiang beberapa kali sambil bergumam ‘Kau bodoh’, hingga kepalanya terasa nyeri. Bagaimana sekarang? Dia harus berjalan ke apartemennya padahal tempat itu sangat jauh darisini.

 

Setelah beberapa lama berjalan, kakinya pun merasa lelah. Dia berhenti berjalan lalu berjongkok di pinggir jalan, terisak menangisi kisah hidupnya yang menyedihkan. Dia tak mungkin menyetop taksi karena letak apartemennya di lantai duapuluh. Dia pun tak punya ID untuk meyakinkan bahwa dia akan membayar segera setelah dia sampai di rumah.

 

Cukup lama dia menyembunyikan wajahnya di balik lututnya yang ditekuk, seseorang datang dan menyampirkan jaket tebal di bahunya. Orang itu mensejajarkan dirinya dengan Hye Hoon, menghapus pipi gadis itu yang basah karena terlalu banyak menangis. Gadis itu menerima perlakuan orang asing itu begitu saja, karena jujur meskipun wajah dari sosok itu tertutup helm, dia seratus persen yakin orang itu siapa.

 

“Cho Kyuhyun?”, tanyanya terlampau pelan yang menyerupai sebuah bisikan.

 

Pria itu pun membantu Hye Hoon berdiri, lalu meraih tubuh gadisnya dalam sebuah pelukan. “Maafkan aku….maafkan aku”, lirihnya penuh rasa penyesalan.

 

Hye Hoon pun tersenyum di sela tangisnya, menyerang lelaki itu dengan pukulannya yang lemah. “Bodoh..kau harusnya tak meninggalkanku. Aku benar-benar ketakutan”.

 

“Aku tahu. Maafkan aku, sayang”. Kyuhyun melepaskan pelukannya kemudian meraba pipi Hye Hoon yang masih lengket dengan ibu jarinya. “Kau tak perlu takut, karena aku ada disini untukmu. Aku akan selalu menjagamu, Hoon~ah”.

 

Lelaki itu menaikkan setengah dari kaca yang menutupi wajahnya kemudian menarik pinggang gadis itu semakin mendekat ke arahnya. “Kau tak keberatan jika aku menciummu disini?”, ujarnya dengan suara berat dan gadis itu yakin tak akan ada wanita yang dapat menolaknya jika mendengar permintaannya dengan suaranya itu.

 

Sebelum Hye Hoon menjawab, bibirnya terlebih dahulu dibungkam oleh bibir tebal Kyuhyun yang menyapu bibirnya. Bibir pria itu bergerak lihai di atas bibirnya, mengambil kendali atas ciuman publik pertama kali mereka.

 

Terima kasih karena kau mempercayakanku untuk menjagamu, sayang.

 

*

 

 

It’s a longshot!!! Yeay!!For the first time in forever~~~~~

Pertama-tama, makasih buat yang udah baca sampe akhir! Sorry karena aku males banget untuk cek typo atau edit apapun karena ada ff lain yang lagi aku kerjain.

Don’t expect too much sama hye-kyu diary. Isinya pasti absurd, gaje, cheesy gak jelas dan tentunya bikin yang baca mual. Hahahaha

Untuk kak fanny, sorry gak include soal ‘itu’ soalnya kayaknya udah kelamaan jadi takut mengorek lagi luka yang belum kering *maafinbahasanyaalay*

Let’s go nulis ff lain~~ bye bye

67 thoughts on “[Hye-Kyu Diary] Romantic Side of Us

  1. duhhh punya hubungan sama artis emg hrus kebal bgt yak.. salut sama hye hoon.. padahal dri ff yg aku baca sblmnya kyuhyun yang tersiksa. haha
    btw eonni ga bkin hurt lg XD canda eonni.. tapii rasanya kebanyakan percakapan jdi feelnya krang kak..saranku deskipsian yg seperti biasa tetep dipertahankan ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s