몼셍 겯 다 (You Are Ugly) – Step 1


Bener gak ya itu koreannya? hahaha ingin sesuatu yang beda pake judul korean, koreksi aja kalo salah karena itu hasil dr browsing google. By the way, gak bisa ngasih harapan lebih di ff ini karena aku emang bukan penulis ff yang bagus, ya syukur banget sih kalo ada yang baca juga haha

Seorang lelaki berdiri tegap di depan pintu kayu yang menghubungkannya dengan ruangan paling besar yang berada di lantai paling atas di dalam gedung ini. Tubuh menjulangnya sedikit gemetar karena ketakutan, mengantisipasi apa yang akan menimpanya ketika dia kembali menyodorkan secarik kertas itu pada atasannya.

 

Aisshhh terserahlah”, ucapnya frustasi sembari mengacak rambutnya yang tadinya rapi itu membuatnya sedikit berantakan.

 

“Aku tak peduli, yang penting aku sudah menyerahkannya. Persetan dengan nenek sihir yang cerewet itu”. Dia bergumam dengan bibirnya yang mengerucut, di belakangnya terdengar suara cekikikan wanita bertubuh gemuk yang berada di balik meja panjangnya itu.

 

Lelaki itu mengangkat sebelah tangannya yang kosong ke udara, lalu berteriak agak keras. “Hwaiting!”, ujarnya menyemangati diri. Dengan gerakan pasti, dia mendorong pintu itu sehingga menimbulkan debuman yang cukup keras.

 

Sesaat setelah dia membuka pintu, sepasang mata hitam milik atasannya itu seakan memberinya isyarat jika dia tak ingin diganggu jika tak ada hal penting. Lelaki yang duduk di balik meja kerjanya itu tak berkata apapun, melanjutkan pekerjaannya mencoret-coret beberapa lembar kertas yang menentukan nasib dari perusahaan mereka.

 

Kang Joon pun mendekati meja bos-nya itu dengan langkah yang dibuat sepelan mungkin. Untunglah ruangan dari CEO dari K Group itu dilapisi karpet mahal sehingga hentakan pentopel-nya dapat teredam.

 

“Apa ada sesuatu yang penting, Sekretaris Park?”, ucap lelaki itu tanpa menatap ke arahnya. Nada bicara lelaki yang berumur lebih muda tiga tahun darinya itu terdengar tak bersahabat. Oh, tentu saja. Tadi lelaki itu sempat berpesan untuk tidak ingin diganggu sampai jam pulang karena dia sedang banyak pekerjaan. Dan sekarang, dia malah mengganggunya dengan hal terulang yang pernah dilakukannya tadi pagi.

 

Aku tak bisa tinggal lebih lama disini, ungkapnya dalam hati. Dia pun meletakkan kartu undangan berwarna emas itu di atas tumpukan kertas yang sedang diperiksa oleh atasannya. “Sajangnim, maaf sebelumnya bukan aku bermaksud untuk memaksamu. Tapi, kau benar-benar harus hadir. Nyonya Kim berkata bahwa dia berencana untuk menarik kembali investasinya di proyek baru kita jika Anda tidak datang”.

 

“Bukankah sudah kubilang jika aku tak akan pernah datang ke acara seperti itu, Sekretaris Park?”, geram penguasa K Group itu dengan suara beratnya.

 

“Tapi Sajangnim, jika Nyonya Kim menarik investasinya maka kita akan mengalami kerugian yang……..”

 

“Pergilah, dan katakan kepada Nyonya Kim bahwa kita akan menghentikan kerjasama kita dengan perusahaannya”.

 

Sekretaris itu pun menurut. Dia menundukkan tubuhnya untuk memberi salam, lalu berjalan meninggalkan tempat itu. Bahunya terangkat karena dia benar-benar tak mengerti dengan sikap dari penerus utama perusahaan itu. Mengapa selalu menolak undangan untuk menghadiri acara fashion show padahal dia hanya perlu duduk untuk melihat wanita-wanita cantik?

 

Dia pun kembali menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil memutar otak untuk mengatakan penolakan atasannya itu dengan kalimat yang lebih halus. Sekretaris itu pun menjambak rambutnya sendiri, menyuarakan rasa frustasinya karena memiliki atasan yang abnormal seperti Cho Kyuhyun itu.

 

Aish, nenek sihir itu. Dia pasti meneriakiku sampai membuat kupingku panas. Kau berhutang padaku, Cho Sajangnim”.

 

***

 

“Kau yakin penampilannya seperti itu? Apa dia benar-benar tak bisa dipoles?”, ujar seorang wanita yang berbisik-bisik itu sambil menatap objek yang berada di depan cermin dengan dahinya yang berkerut tak suka. Dia meringis ketika melihat wanita yang duduk di depan meja rias itu malah tersenyum lebar yang membuat kawat giginya yang jelek itu terlihat.

 

“Kurasa begitu”, sahut rekannya dengan raut wajahnya yang menunjukkan kesedihan yang sedikit dibuat-buat. “Kasihan sekali, semua orang ingin terlihat cantik di hari pernikahannya, tapi….dia? Oh ya, apa kau mendengar jika calon pengantin prianya tampan sekali? Ahh….aku benar-benar turut bersedih untuknya”.

 

Cicitan-cicitan itu terhenti setelah sosok wanita berusia sekitar setengah abad memasuki ruangan. “Anakku…..”,sapa wanita itu antusias. Gadis yang sejak tadi dijadikan bahan obrolan dari penata rias pengantin itu pun berdiri untuk menyambut Ibu mertuanya. Wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah tak lagi muda itu pun mengelus pipi calon menantunya pelan. “Aigoo…kau cantik sekali Hye Hoon~ah”, katanya dengan senyum mengembang.

 

Kedua orang di belakang mereka pun saling bertatapan dengan menunjukkan wajahnya yang menahan mual.

 

“Kau sudah siap?”, tanya Nyonya Cho bersemangat. Hye Hoon pun menarik kedua sudut bibirnya kaku, jantungnya mulai berulah karena terlalu gugup.

 

“Aku sudah siap, Eomonim”.

 

***

 

Suara riuh tepuk tangan yang meramaikan seluruh sudut ruangan besar itu tercipta sesaat setelah Master of Ceremony mengumumkan bahwa pengantin wanita akan segera datang. Semua orang memutar lehernya ke belakang, tempat dimana gerbang itu akan dibuka. Para reporter yang diundang sudah bersiap dengan kameranya, mengabadikan moment bersejarah ini dimana seorang pendamping dari pewaris utama K Group akan datang.

 

Detik-detik yang dinantikan itu pun segera tiba. Suara lonceng yang berdenting menandakan bahwa pintu besar itu akan segera dibuka. Suasana pun berubah tenang. Semua mata tertuju pada ujung dari karpet merah yang terbentang di tengah ruangan, tak terkecuali seorang lelaki tampan dengan tuxedo putihnya yang menanti calon pengantin wanitanya dengan was-was. Dia meremas jari-jarinya yang panjang dengan bibirnya yang bergerak memasang senyuman kaku.

 

Jangan…..Kumohon jangan….., bisik hatinya.

 

Sang mempelai wanita pun berdiri anggun dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Tangannya dikaitkan di lengan seorang pria yang sudah dua puluh tiga tahun ini menjadi penjaganya. Senyuman yang ditunjukkan Hye Hoon itu, celakanya tak membuat seluruh hadirin terpana. Tempat yang tadinya tenang itu kini kembali riuh dengan bisikan-bisikan yang berisi komentarnya pada calon pengantin wanita.

 

“Benarkah itu calon pengantin wanitanya?”

 

“Apakah pengantin prianya sudah buta?”

 

“Apa wanita itu tak pernah mencuci muka?”

 

Selentingan kalimat-kalimat menjatuhkan itu pun menyuarakan kekesalan mereka. Bayangan mereka tentang calon pendamping seorang Cho Kyuhyun yang serasi lenyap begitu saja. Mereka mungkin hanya bisa mendesis tak suka, menyesali pilihan Kyuhyun yang jauh dari ekspektasi mereka tanpa bisa melakukan apapun.

 

Wanita itu terlihat sama sekali tak terpengaruh dengan omongan-omongan yang menyudutkannya itu. Dengan mengangkat dagunya, dia tersenyum ke arah Ayahnya yang menatapnya cemas. Menggumamkan kalimat bahwa dia baik-baik saja dengan semua opini orang-orang itu.

 

Kemudian, dengan cepat mata coklatnya mengarah ke depan, melihat bagaimana tanggapan lelaki itu tentang dirinya, mengakui bahwa gaun pengantin yang dikenakan wanita itu malah lebih cantik dari orang yang memakainya. Namun, apa yang ditakutkannya itu sama sekali tak terjadi. Kyuhyun terlihat tenang. Dia sama sekali tak berniat untuk mundur atau membatalkan pernikahan mereka hanya karena penampilannya yang sama sekali tak bisa dibilang cantik.

 

Hye Hoon pun menarik kembali air matanya yang hendak menetes. Asalkan Kyuhyun tak keberatan, tak masalah baginya untuk terlihat jelek di mata orang lain.

 

Kyuhyun tertegun ketika jemari gadis itu terulur ke arahnya. Dia mencari sepasang mata dari seseorang yang sangat dicintainya sehingga dia melakukan semua ini, lalu menggenggam tangan itu ketika tatapan wanita itu mengisyaratkan demikian.

 

Keduanya pun mendengarkan nasehat pernikahan dengan khidmat. Saling mengucapkan janji sehidup semati dengan lantang, mengikat janji suci mereka itu dengan sepasang cincin yang kini tersemat di jari manis mereka. Untunglah, prosesi itu tidak terlalu panjang sehingga mereka dapat segera melemaskan otot mereka yang tegang. Namun, mereka hampir saja melupakan satu hal yang penting dalam upacara pernikahan.

 

“Kau boleh mencium istrimu, Tuan Cho”.

 

Hye Hoon menggigit bibirnya, mengantisipasi apa yang akan dilakukan lelaki yang kini telah sah menjadi suaminya itu. Dia tahu Kyuhyun tak bisa melakukannya. Akan tetapi, dugaannya salah. Sepasang matanya melebar ketika wajah lelaki itu mulai mendekat ke arahnya. Sedetik kemudian dia menutup rapat kelopak matanya, bibirnya menahan senyum ketika sebuah material lembut menyentuh keningnya.

 

Tuhan, semoga pernikahan kami berakhir bahagia….

 

***

 

Hye Hoon membuntuti langkah kaki Kyuhyun dengan menggigiti jarinya sendiri karena gugup. Mereka menempati salah satu rumah milik Kyuhyun yang terletak di dekat kantornya. Rumah tersebut tidak pernah dihuni sama sekali karena pria itu lebih sering pulang ke rumah orang tuanya ketika masih melajang. Namun sekarang, setelah dia memiliki pendamping, dia pun berencana untuk memakai rumahnya itu.

 

Setelah sampai di salah satu kamar, Kyuhyun pun memasuki ruangan itu dengan tangannya yang menarik dua buah koper besar milik keduanya, namun Hye Hoon tak berani masuk dan hanya berdiri di ambang pintu. Kyuhyun pun menyadari bahwa gadis itu sudah tak mengikutinya, menatap Hye Hoon dengan memasang wajah datarnya.

 

“Masuklah, sampai kapan kau akan berdiri disitu?”, tegur Kyuhyun tak suka.

 

Hye Hoon meresponnya dengan anggukan cepat, kakinya melangkah hati-hati ke tempat lelaki itu berdiri. “Apakah…..kita akan tidur di kamar yang sama?”, tanyanya dengan suara yang dibuat sepelan mungkin. Wajahnya menunduk karena menyembunyikan pipinya yang kini merona karena malu.

 

“Tentu, kita harus menempati kamar yang sama. Meskipun kita menikah karena perjodohan, tapi status kita sekarang adalah suami-istri. Keunde, maafkan aku karena aku…..”

 

Beep…Beep…Beep….

 

Suara telepon genggam Kyuhyun yang bergetar memutus perbincangan mereka. Kyuhyun mengisyaratkannya untuk segera membersihkan diri sementara dia keluar untuk menjawab panggilannya.

 

Hye Hoon menyunggingkan senyumannya karena merasa lega. Tak disangkanya jika sosok Kyuhyun yang terlihat dingin pada setiap wanita itu malah bersikap hangat pada gadis jelek yang kini menjadi istrinya. Dia pun mengabaikan perintah Kyuhyun untuk segera mandi dan beristirahat, memilih untuk membuka dua koper berukuran besar itu untuk merapikannya ke dalam walk-in-closet mereka.

 

Sepertinya kehidupannya akan lebih menyenangkan mulai sekarang, pikirnya senang.

 

***

 

“Ya, kita bicarakan di kantor besok”, tutupnya singkat sebelum dia menjauhkan benda elektronik itu dari telinganya. Kyuhyun kembali memasuki kamarnya dan berencana untuk mengistirahatkan badannya yang lelah, karena setelah acara pernikahannya sore tadi dia pun masih harus mengurus perusahaannya lewat percakapannya dengan salah satu kaki tangan Ayahnya.

 

Kyuhyun tertegun ketika melihat istrinya yang sudah mengenakan piyama kotak-kotaknya itu tidur dengan posisinya yang sedang terduduk di depan lemari yang terbuka. Hatinya tergelitik melihat pemandangan langka itu, dia merasa jika tingkah gadis itu sangatlah lucu. Dia pun berjongkok, dengan cepat menahan punggung gadis itu ketika tiba-tiba posisinya hampir terjungkal ke belakang.

 

Pria itu segera melepaskan pegangannya ketika pikirannya kembali tersadar. Dengan gerakan cepat Kyuhyun meraba keningnya sendiri, mengecek keadaannya dan tertegun karena dia baik-baik saja.

 

Tak mau berlama-lama memandangi gadis itu, Kyuhyun pun akhirnya memanggil nama Hye Hoon beberapa kali hingga akhirnya dia terbangun. “Pindahlah ke tempat tidur, badanmu akan pegal jika kau tidur dengan posisi seperti itu”.

 

Hye Hoon pun bangkit dari posisinya, menatap punggung Kyuhyun yang sedikit menjauh dengan handuk yang melingkar di lehernya itu dengan bibirnya yang mengembang. “Terima kasih”, balasnya tulus.

 

Hye Hoon membaringkan tubuhnya di ranjang mereka yang sangat besar itu. Dia memutar kembali ingatannya sehingga dia dapat menikah dengan orang yang sejak lama dicintainya itu. Satu kalimat yang selalu berputar di otaknya di pertemuan mereka yang pertama, tentang alasan mengapa pria itu setuju untuk menikahinya, membuat kepalanya terasa pening.

 

“Aku menikahimu karena suaramu sangat mirip dengan suara orang yang kucintai. Apakah itu cukup untuk menjawab pertanyaanmu?”

 

Ikatan diantara mereka memang terjalin karena Nyonya Cho yang mengenalkan dirinya dengan Kyuhyun. Bukan sebuah perjodohan bisnis, karena nyatanya mereka dipertemukan dan pria itu dapat memilih apakah dia dapat menikahi Hye Hoon atau tidak. Namun, untunglah pria itu menyetujui usulan Ibunya.

 

Ibu Kyuhyun yang sedikit cemas karena anaknya yang belum menikah di usianya yang hampir menginjak kepala tiga itu pun dapat menarik nafasnya panjang.

 

“Kau belum tidur?”

 

Hye Hoon menolehkan kepalanya ke arah suaminya yang sedang duduk di pinggir ranjang mereka dengan menggesekkan handuk pada rambutnya yang basah. Gadis itu pun menggeleng pelan, kemudian memilih untuk menyuarakannya ketika disadarinya lelaki itu sama sekali tak menoleh ke arahnya.

 

“Belum. Sepertinya aku belum mengantuk”, jawab gadis itu sembari menutup mulutnya yang menguap lebar karena nyatanya dia berbohong tentang rasa kantuknya.

 

Hening kembali menyelimuti mereka untuk beberapa saat. Kyuhyun masih berkutat dengan pekerjaannya yang mencoba mengeringkan rambut sedangkan Hye Hoon bingung untuk memulai percakapan.

 

“Hmm…Kyuhyun~ssi, maaf jika aku sedikit lancang. Aku tahu aku tak seharusnya meminta ini padamu. Tapi, dengan status kita sekarang….kurasa…ada baiknya jika aku mengetahui semua hal tentangmu”, pintanya sedikit ragu.

 

Kyuhyun menoleh cepat, membuat Hye Hoon harus rela menahan nafasnya karena melihat rambut basah dan kaos longgarnya itu semakin membuat prianya terlihat sangat seksi. “Oh, soal itu. Aku akan meminta sekretarisku membuat salinan dari resume-ku. Aku akan membawanya besok”.

 

Resume? Seperti orang yang hendak melamar pekerjaan saja”, gumam Hye Hoon tanpa sadar jika dia telah mengeluarkan apa yang dipikirkannya di kepala cantiknya.

 

Kyuhyun tertawa geli. Dia mengetahui jika istrinya ini sangat polos dan mudah sekali membuat orang di sekitarnya merasa nyaman. Poin plus untuk seorang wanita pertama selain Ibunya yang memiliki frekuensi yang sering untuk berinteraksi dengannya.

 

Sedangkan, tanpa lelaki itu sadari Hye Hoon tersenyum simpul melihat tawa yang mengalun dari bibir suaminya. Pertama kali dia melihat Kyuhyun tak sekaku ini, dan dia senang jika pria itu jauh dari apa yang selama ini dia pikirkan. Selain itu, dia tak pernah melihat seorang pria yang nampak jauh sekali berbeda, jauh terlihat lebih tampan ketika pria itu tertawa.

 

“Aku hanya memudahkanmu saja”, tuturnya dengan diselingi tawa yang belum sepenuhnya reda. ”Kurasa lebih baik jika kau melihat profilku terlebih dahulu untuk mengetahui hal dasar yang harus kau ketahui tentangku, dan selebihnya kau bisa tanyakan sendiri padaku. Kurasa karena kita tinggal bersama kita akan lebih mengenal satu sama lain seiring berjalannya waktu. Dan ya, aku juga tertarik untuk mengenal dirimu lebih jauh”.

 

Hye Hoon menyembunyikan euphoria-nya dengan pura-pura memainkan bibirnya sendiri. Ini baru hari pertama, Choi Hye Hoon. Kendalikan dirimu!, otaknya mengingatkan.

 

“Boleh aku bertanya sesuatu yang lain?”, lanjutnya ketika Hye Hoon mulai bisa mengendalikan detak jantungnya yang menggila.

 

Kyuhyun meletakkan handuknya di sisi nakas, lalu ikut merebahkan diri di pinggir ranjang, terkesan sekali jika pria itu tak mau terlalu dekat dengan istrinya. Lelaki itu mulai cemas dengan pertanyaan yang diajukan Hye Hoon, namun dia tetap menganggukkan kepalanya ringan.

 

“Apakah kau menelusuri latar belakangku? Kudengar orang kaya sepertimu sering melakukan hal seperti itu”.

 

“Tidak. Aku percaya pada wanita pilihan Eomma, jadi aku tak mungkin melakukan hal semacam itu”, bantah Kyuhyun tegas. Gadis itu pun diam-diam menghembuskan nafasnya lega. Syukurlah, beban yang berada di pundaknya kini sedikit berkurang.

 

“Apakah pertanyaanmu sudah habis? Kita harus segera tidur, ini sudah malam”.

 

“Ya, selamat malam”

 

***

 

Kondisi ruangan yang berbeda, itulah hal yang pertama diamati Kyuhyun pagi hari ini. Otaknya pun mulai memutar kejadian kemarin, lalu potongan-potongan ingatannya pun merangsek masuk membuatnya harus berfikir bahkan disaat nyawanya belum terkumpul semua.

 

Dia menoleh ke tempat di sampingnya, merasa asing karena ini pertama kalinya ada seorang gadis terbaring di ranjangnya. Untunglah gadis itu tidur dengan posisi yang membelakanginya, dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika gadis itu menyamping ke arahnya.

 

Lelaki itu pun menyibak selimut, secepat mungkin keluar kamar sebelum gadis itu bangun dan membuat suasana menjadi canggung. Dia meminum segelas air putih, meneguknya sampai habis dan pada saat itu perutnya berbunyi.

 

“Aku bahkan melupakan makan malamku”, gumamnya kesal.

 

Dia mencomot sepotong roti gandum dan memakannya tanpa diolesi apapun. Kakinya melangkah ke pintu masuk, membuka pintu lalu menyambar surat kabar yang terletak di depan pintu rumahnya.

 

Dia duduk di meja makan dengan mulutnya yang masih sibuk mengunyah sisa sarapan pagi-nya. Tangannya mulai membalik-balik kertas lebar itu, memilih headline yang dia minati kemudian membacanya dengan serius. Hingga sampai kolom kecil di bagian entertainment itu mengusik perhatiannya.

 

“Selamat pagi”, sapa gadis itu riang sambil mengelap sisi bibirnya. Kyuhyun menatap gadis itu sekilas, membalas sapaannya dengan nada lesu yang membuat Hye Hoon terheran-heran.

 

Gadis itu pun berlari kecil, merasa sangat terkejut karena dahi Kyuhyun yang berkeringat banyak. “Kau baik-baik saja?”, tanyanya khawatir. Tangannya dengan lancang menyeka tetesan-tetesan air yang keluar dari balik kulit putih pucat lelaki itu. Kyuhyun tetap diam. Tak menggerakkan tubuhnya sedikitpun, namun matanya mengamati wajah Hye Hoon dengan pandangan yang sulit diartikan.

 

Kyuhyun pun mencoba peruntungannya, menahan lengan Hye Hoon yang bergerak membersihkan dahinya yang membuat tubuh keduanya menegang. “Aku baik-baik saja”, ucap lelaki itu dengan senyuman manis. “Terima kasih”, ungkapnya tulus.

 

Hye Hoon dengan canggung menarik kembali tangannya, mengelapkan telapak tangannya yang basah pada sisi-sisi piyama panjangnya. “Kau….Kau mau makan apa?”, tanyanya gugup, mencoba mengalihkan pembicaraan.

 

“Apapun yang kau masak, aku pasti akan melahapnya sampai habis”, ujar Kyuhyun menggoda.

 

***

 

Eomma sangat tahu bagaimana cara mendidik anak menantunya”, ujar Kyuhyun ketika melihat hidangan sarapan paginya yang tak ada bedanya dengan apa yang disajikan Ibunya di rumah.

 

Hye Hoon yang tersipu hanya bisa menyunggingkan senyuman tipisnya. “Aku hanya mencoba resep yang Eomma berikan untukku. Kurasa rasanya pasti akan sangat berbeda, tapi ini masih bisa dimakan. Cobalah”.

 

Gadis itu bergerak lincah mengambilkan nasi dan menyodorkan beberapa macam lauk pauk yang disediakan untuk suaminya. Hye Hoon menunggu reaksi Kyuhyun dengan menopang dagunya, mengamati ekspresi dari wajah Kyuhyun saat lelaki itu mulai mengunyah makanannya.

 

“Kau suka?”, tanyanya tak sabar.

 

“Hmm…sangat enak. Rasanya jauh lebih enak dari masakan Eomma”.

 

Hye Hoon menyuapkan satu sendok ke dalam mulutnya, matanya melebar karena perkataan Kyuhyun bukan hanya pujian kosongnya belaka. “Meskipun ini enak, kau tak boleh bilang begitu. Eomma akan kecewa mendengarnya. Aku masih pemula, jadi kau tak boleh membandingkan masakanku dengan masakan Ibumu, kau mengerti?”

 

Kyuhyun memamerkan deretan giginya yang rapi karena senyumannya menyerupai anak kecil. “Baiklah, aku akan mengingatnya. Oh ya, ngomong-ngomong kau mau kemana? Kau sudah rapi sepagi ini?”

 

“Aku juga akan bekerja”, jawab Hye Hoon takut-takut. “Aku sudah meminta temanku untuk memberikan sedikit pekerjaan untukku di kafenya. Maaf jika aku tak memberitahumu”. Kali ini Hye Hoon menundukkan kepalanya dalam, merasa bersalah karena hal sebesar ini pun dia tak mendiskusikannya dengan seseorang yang kini bertanggung jawab akan hidupnya.

 

“Tak apa-apa. Aku mengerti. Kau butuh kesibukan lain selain mengurus urusan rumah tangga. Kau pasti akan mati kebosanan jika setiap hari hanya berdiam diri di rumah”.

 

“Tapi…..”, mata Hye Hoon yang bergerak-gerak menatap Kyuhyun kalut. “Kau tak malu jika istrimu bekerja sebagai seorang pelayan di kafe kecil?”

 

Kyuhyun kembali memamerkan senyuman tulusnya, yang menyebabkan kekhawatiran Hye Hoon menghilang. “Buat apa aku malu? Kau tak melakukan kesalahan apapun”. Kyuhyun mulai bangkit dari kursinya, melangkahkan kaki keluar rumah dengan Hye Hoon yang mengekor di belakangnya.

 

“Jangan lupa memberitahuku alamat kafenya. Nanti sore aku akan menjemputmu”, ucap Kyuhyun sambil menatap mata gadis itu yang tak merespon ucapannya. Dengan ragu, Kyuhyun menjulurkan tangannya mengacak pelan rambut gadis itu dengan gerakannya yang kaku, bukan seperti belaian penuh kasih sayang yang sering dilakukan pasangan pada umumnya.

 

“Jaga dirimu baik-baik”, pesannya sebelum menutup pintu, meninggalkan Hye Hoon yang mematung di tempatnya sendirian. Gadis itu menipiskan bibirnya, yang kemudian berubah menjadi tawa bahagia karena dia kembali mengingat sentuhan yang diberikan Kyuhyun kepadanya.

 

Kau membuatku gila, Cho Kyuhyun.

 

***

 

Hye Hoon mendorong pintu kaca dengan senyumannya yang tak pernah lepas dari bibirnya, membuat orang di kafe menatapnya penuh rasa ingin tahu. Mereka lalu berbisik dan menunjuk-nunjuk ke arahnya ketika orang-orang yang duduk di ruangan itu menyadari siapa dia, yang pastinya dia telah menjadi perbincangan hangat karena pernikahan mereka pasti disiarkan di seluruh penjuru negeri.

 

Gadis itu pun dengan cepat menutup wajahnya dengan tas selempang yang dipakainya, meniup pelan rambut kecil yang menghalangi pandangannya lalu dengan langkah cepat menuju meja kasir untuk mencari tahu keberadaan teman wanitanya.

 

“Permisi, apakah kau tau dimana Park Jaehee?”, tanya gadis berkacamata itu dengan suaranya yang berbisik. Lelaki ber-apron coklat itu menatapnya penuh selidik, yang membuat Hye Hoon semakin kesal saja. “Sebentar, aku akan panggilkan”, ujarnya sambil membenarkan tali apronnya.

 

“Tidak perlu. Lakukan saja tugasmu”. Suara itu membuat si pemuda kembali ke tempatnya di balik meja kasir lalu membungkukkan sedikit kepalanya tanda penghormatan.

 

“Jaehee~ya”, sapa Hye Hoon dengan memeluk sahabat dekatnya itu erat, seolah mereka sudah tidak bertemu sekian lama.

 

Gadis yang memakai terusan berwarna biru muda itu pun merasa terganggu karena pelukan Hye Hoon yang membuat dadanya sesak, berbisik dengan nada sinis di telinga gadis itu. “Lepaskan pelukanmu, orang-orang semakin memperhatikan kita”.

 

Hye Hoon pun menurut, refleks dia melepaskan tangannya yang sempat mengurung tubuh mungil sahabatnya sejak sekolah menengah itu. “Maaf, aku hanya terlalu senang”, katanya sambil tersenyum polos.

 

Jaehee menilai penampilan Hye Hoon dari ujung rambut sampai kakinya, meringis ngeri lalu kalimat tajamnya itu terlontar. “Kau terlihat semakin mengerikan”.

 

***

 

“Kau tahu, kau sangat terkenal sekarang. Setiap layar besar berkali-kali menayangkan prosesi pernikahanmu dengan lelaki yang kau gilai itu. Dan setiap kali wajahmu muncul….”. Jaehee menggebrak meja untuk mendramatisasi ceritanya sambil berteriak….

 

“BAM! Semua orang membicarakan betapa jeleknya pengantin wanita itu. Yak! Apa rupamu benar-benar tak bisa diperbaiki menjadi sedikit lebih enak dipandang? Kau benar-benar pengantin wanita paling mengenaskan yang pernah kulihat”. Jaehee mengacak rambutnya frustasi sedangkan mata hitamnya melihat gadis itu dengan raut muka prihatin. “Kau membuatku menyesal karena telah berteman denganmu”.

 

Hye Hoon malah tersenyum-senyum mendengar pembicaraan Jaehee mengenai dirinya. Jaehee ingin sekali menumpahkan kopinya tepat di wajah gadis itu agar senyuman gilanya menghilang. Astaga, apa yang terjadi dengan otak wanita satu ini, sih?

 

“Hei, bukankah sudah kubilang jika aku baik-baik saja dengan semua itu? Aku tak mempedulikan pendapat mereka, yang terpenting adalah bagaimana Kyuhyun dapat menerimaku apa adanya”.

 

“Tapi ini bukan dirimu yang apa adanya”.

 

Kepala Hye Hoon menunduk lesu. Pernyataan Jaehee itu seakan menohok hatinya. “Kau benar”, sahutnya lemah.

 

Jaehee yang merasakan kesedihan Hye Hoon pun menggenggam tangan gadis itu erat, mencoba menghiburnya. “Kau terlihat sangat bersemangat tadi, apakah kau menyukai kehidupan pernikahanmu?”, ucapnya mengalihkan topik.

 

Jaehee merasa beban yang menghimpit dadanya menguap begitu saja setelah melihat bibir gadis di hadapannya itu kembali melebar simetris. “Tentu. Apa kau tahu? Kyuhyun bersikap sangat manis padaku”, jawabnya girang.

 

“Sangat tak terduga dari seorang Cho Kyuhyun yang selalu bersikap dingin. Baru satu hari kau tinggal bersamanya saja sudah banyak kemajuan besar. Aku yakin, secepatnya dia juga akan membalas perasaanmu. Ah, benar. Lelaki itu memang benar-benar aneh. Bagaimana dia benar-benar terpikat pada gadis berwajah jelek sepertimu?”

 

“Tentu saja dia akan menyukaiku. Apa kau tidak bisa melihat wajahku yang terlihat cantik alami seperti ini?”, jawab Hye Hoon dengan memamerkan beberapa aegyo-nya yang membuat Jae Hee menutup mukanya dengan koran. “Hentikan, Choi Hye Hoon. Wajahmu benar-benar mengerikan, jauh lebih mengerikan dari film horror yang sering kutonton”, ungkapnya di sela gelak tawa.

 

Tak mendengar komentar Hye Hoon tentang ejekan yang dilontarkannya tadi, Jaehee pun mengintip gadis itu dari balik kertas yang kini menutupi tubuhnya.

 

“Kau kenapa Hye Hoon~ah?”, tanya gadis itu cemas saat melihat raut wajah gadis itu tak berubah.

 

Hye Hoon memandangi foto yang tertera di samping artikel di dalam surat kabar itu. Gadis itu memegangi dadanya yang terasa sesak, di matanya mulai tergenang cairan bening yang mengotori lensa kacamatanya. “Aku tahu sekarang…aku tahu mengapa tadi pagi Kyuhyun seperti itu Jaehee~ya”.

 

-TBC-

 Oh ya ini ketahuan banget kan ceritanya? Beneran deh aku girang banget pas nulisnya karena ini warna beda juga dari ff aku yang selalu sad. Apa alurnya terlalu lambat? Next part bakal lebih cepet alurnya jadi sabarlah. So,tell me what do you think about this story? I’ll give a fast update if you give your comment here^^

56 thoughts on “몼셍 겯 다 (You Are Ugly) – Step 1

  1. jadi ingat telenovela betty la fea :) tapi apa maksud ” ini bukan dirimu yang sebenarnya ?apa hye hoon menyembunyikan sesuatu dan ada berita apa di kolom entertaint di koran pagi ? berita yang berhubungan dgn seseorang dari masa lalu ? dan apa yang hye hoon ketahui soal berita itu ?

  2. Ceritanya emang beda dari biasanya. Masih penasaran kok kyuhyun mau nikah sama hyehoon. Tapi rada bingung sama alur diawalnya pokoknya ditunggu kelanjutannya

  3. Sesuatu yang beda dan saya suka.. Agak bingung saat sekretaris Kyuhyun datang memberikan undangam fashion show dan tetiba langsung masuk ke adegan pernikahan.. Namun semuanya terlihay baik..

  4. Kalu emang hye hoon itu gadia jelek knpa kyu mau nikah sma hye? Msa cma krn alsan suara hye mirip dg suara gadis yg disukai kyuhyun..

    Sbenernya di koran itu ada berita apa sih smpek bkin kyuhyun berubah mood??

  5. sebenarnya apa motif kyuhyun menerima hye jadi istrinya? tapi bener deh aku suka ceritanya..bahkan suka sama kyuhyun yang belum bisa ketebak dari sikapnya..hihi..lanjut dong

  6. Aaaaa penasaran banget dengan cerita selanjutnya😵😵😵
    hye hoon kenapa berdandan seperti itu? Siapa yg ada di koran?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s