[Hye Kyu Diary] Sick


 

“Kau benar tidak apa-apa?”

 

Alis lelaki itu berkerut, mata sendunya menatapku khawatir. Aku selalu suka bagaimana perhatiannya yang seringkali membuatku ingin menangis itu. Mungkin, karena aku tak tinggal dengan siapa-siapa, Ayahku yang sangat peduli itu jauh dari sisiku, sisi mellow-ku muncul ketika ada seseorang yang cukup dekat denganku menanyakan apakah aku baik-baik saja? Walaupun itu pertanyaan sederhana, akan tetapi itu sangat berdampak besar bagi wanita manja yang pura-pura mandiri sepertiku.

 

“Aku baik-baik saja—kau lihat? Aku bahkan masih bisa berdiri dengan tegak”.

 

Bibirku yang tertutup masker polos berwarna hitam itupun menyunggingkan senyum. Meski kutahu, dia hanya dapat melihatnya dari mataku yang menyipit karena dia juga ikut tertular dengan senyumanku.

 

Dia mengacak rambutku pelan, memperlakukanku dengan manis seperti yang sering dilakukannya dulu. “Memaksakan diri hanya untuk memberi dukungan padanya, hmm?”

 

“Tidak, siapa bilang? Aku hanya merindukanmu. Kau terlalu lama di Eropa dan mengabaikanku. Apa gadis-gadis disana sangat cantik, sampai kau melupakanku? Bukankah gadis-gadis Eropa itu kebanyakan tinggi? Yang ada kau kalah tinggi dengan mereka, Oppa”.

 

Dia mendelik, namun bibirnya tak mampu menahan tawa. “Itu lebih baik daripada menyukai kekasih orang lain, bukan?”

 

Aku buru-buru membalikkan wajah, menatap lurus lorong yang kurasa tak ada habis-habisnya. Merasa salah tingkah dengan ucapannya tadi. Astaga, jika aku bukan pacar adiknya, mungkin aku akan segera mengungkapkan rasa cintaku padanya. Siapa pula yang bisa tahan dengan pesona lelaki itu? Hanya wanita bodoh-lah yang menolak lelaki tampan berwajah baik-baik seperti Lee Donghae.

 

“Kenapa jauh sekali? Kakiku sudah sangat pegal”, keluhku mengalihkan pembicaraan. Dia terkikik pelan melihat tingkahku kemudian merangkul bahuku dengan santainya. Oh Tuhan, lelaki ini benar-benar. Bagaimana aku bisa bernafas dengan baik jika dia memelukku seperti ini? Lee Donghae bodoh. Apa dia tidak tahu ya bahwa aku sangat menyukainya?

 

“Tenanglah, ruangannya di ujung sana”, ujarnya sambil menunjuk ke arah salah satu ruangan. “Kau tak sabar bertemu dengannya, hmm?”

 

Lelaki ini….bagaimana dia mengucapkan hal itu setelah tadi dia mengungkapkan perasaannya kepadaku dengan terang-terangan? Disaat-saat seperti ini aku merasa menyesal karena pertemuan kami terjadi setelah aku mengenal Kyuhyun. Jika aku lebih dulu bertemu dengannya, mungkin kami sekarang bisa menjadi pasangan, bukan?

 

Karena melamun terlalu banyak, aku pun tak sadar ketika dia membuka pintu bercat putih di depannya. Dan selanjutnya, aku malah menyesal mengapa aku mendatangi tempat ini. Sepertinya melihat lelaki ini di televisi lebih baik daripada menemuinya yang sedang bercakap ramai dengan seorang wanita. Suasana hatiku pun seketika memburuk. Sepertinya harapanku tadi harusnya menjadi kenyataan. Mengapa aku tak menjalin kasih dengan lelaki dewasa seperti pria bermarga Lee itu saja?

 

Ketika menyadari bahwa ada orang lain yang masuk ke ruangannya, dia pun mengalihkan pandangannya dari wanita itu. Matanya bertumbuk dengan mataku tanpa sengaja, lalu mencebikkan bibirnya tak suka ketika melihat lengan Donghae melingkar di bahuku dengan mesra.

 

Aku tersenyum picik, menyadari bahwa dia terganggu dengan skinship yang kami lakukan aku pun memeluk pinggang Donghae spontan. Perlakuan itu bukan hanya mengejutkan orang yang kupeluk, tetapi semua orang yang berada di ruangan itu pun melihatnya dengan mata membulat.

 

Annyeong”, sapaku dengan suara cerah menandakan bahwa aku sama sekali tak terpengaruh dengan kehadiran wanita itu. Justru aku yang menang, karena sedetik kemudian Kyuhyun sudah melompat dari tempat duduknya, menarik tubuh lemasku paksa lalu memelukku posesif seperti yang sering dilakukannya.

 

Lee Donghae hanya mematung di tempatnya, sedangkan wanita itu berdehem kecil untuk menyembunyikan keterkejutannya. “Annyeong, Eonnie”, sapaku dengan suara ramah yang dibuat-buat, tanganku membalas pelukan Kyuhyun dengan sengaja yang membuat kepalanya kelihatan linglung.

 

“Oh, Annyeong Hye Hoon~a”, balasnya dengan suara serak.

 

Kyuhyun menuntunku untuk duduk di sebelahnya, beberapa kali membalikkan wajahku karena sejak tadi mataku tak lepas dari kakak lelakinya. Dahinya mengerut khawatir ketika legannya meraba keningku, mengecek suhu tubuhku dengan punggung tangannya.

 

“Astaga, badanmu panas. Jika kau sedang sakit, mengapa kau kesini, hmm? Sebentar, aku panggilkan manager hyung untuk membelikan obat untukmu. Apa kepalamu terasa pusing?”

 

Aku menggeleng lemah, kepalaku yang semakin terasa nyeri itu disenderkan ke bahunya yang bidang. Dia meremas tanganku khawatir, terdapat titik-titik keringat di dahinya yang membuatku tersentuh.

 

Untuk sejenak, kupejamkan mataku mencoba untuk melupakan rasa sakitku yang bertambah karena melihatnya akrab dengan wanita lain. Untuk saat ini, aku bahkan tak bisa menyudutkan wanita itu karena keadaanku yang tak memungkinkan. Aku hanya berharap jika perlakuan Kyuhyun padaku membuatnya sadar bahwa dia milikku, dan tak ada celah untuknya untuk merebut lelaki itu dariku.

 

*

 

Aku terbangun ketika ranjangku berderik karena bebannya bertambah. Aku menatap nyalang langit-langit kamar, merasa lega karena bukan ruangan serba putih yang sedang kutempati kali ini. Aku meraba keningku yang ditempeli sesuatu, mencoba melepaskannya namun sentuhan lengan besar itu menghentikan gerakanku.

 

“Biarkan saja, itu kompres untuk menyembuhkan demam-mu. Sebentar, kuambilkan obat dan bubur untukmu”.

 

Tanpa mengatakan apapun lagi, dia pun beranjak menuju dapur. Aku yang kebosanan pun meraih sebuah handphone yang kuyakini miliknya tergeletak di samping tempat tidurku. Beberapa kali ponselnya bergetar karena pesan-pesan yang masuk. Astaga, bagaimana lelaki ini lupa me-log out twitternya padahal mention yang masuk ke akunnya berjumlah ribuan setiap detik?

 

Karena merasa butuh hiburan, aku pun membuka kolom mention di twitter kekasihku itu lalu membacanya beberapa.

 

@GaemGyu Selamat atas kemenanganmu, Oppa^^ Kyuhyun Oppa Jjang! #Kyuhyun2ndWin #AtGwanghwamun2ndWin Saranghae:*

 

Aku mengulum senyum, merasa bangga karena dia mendapat hasil yang baik karena kerja kerasnya selama ini. Meskipun, aku hanya bisa mengungkapkan itu di belakangnya karena aku tak sanggup jika pada akhirnya dia membanggakan dirinya di hadapanku. Tingkat kenarsisannya itu sungguh mengenaskan, kadang-kadang aku juga mual mendengarnya.

 

Seperti kemarin saja, ketika dia meraih trophy pertamanya aku sama sekali tak memberinya pesan. Kami memang tak sempat bertemu kemarin malam, karena dia bilang dia sangat kelelahan dan ingin tidur secepatnya. Meskipun ya, itu sedikit bohong karena dia pasti sedang asyik memainkan game hingga pagi. Di balik gagang telepon saja aku tak bisa memberinya selamat, sangat canggung rasanya ketika aku harus mengucapkan hal itu kepadanya.

 

Akhirnya, aku malah memberikan pesan kepada Ibunya, memberinya selamat padahal aku tak mengucapkan apapun pada Kyuhyun. Aku pun tersenyum melihat tingkahku yang terasa lucu, lalu menyentuh layar iPhone 6-nya untuk kembali membuka pesan yang dikirimkan penggemarnya.

 

@GaemGyu Apa yang kau lakukan dengan wanita itu? Mengapa kau berpose mesra sekali dengannya? Lalu apa maksud tanda love itu? Oppa, tolong katakan bahwa kau tak ada hubungan apapun dengan wanita itu!

 

Kepalaku pun semakin berdenyut, dengan tangan bergetar aku berpindah ke kolom profilnya lalu melihat beberapa foto yang baru saja diunggahnya. Aku bukan wanita posesif atau apapun, aku tak pernah mengecek setiap pesan masuk ke ponselnya selama beberapa tahun aku menjalin hubungan dengannya.

 

Suara ketukan langkah kaki yang mendekat membuatku buru-buru menutup aplikasi SNS itu, mengunci tombolnya, lalu mengembalikannya ke tempat seperti semula. Kupaksakan senyum ketika melihatnya masuk membawa nampan, menggeser tubuhku sedikit untuk memberi tempatnya duduk di ranjang. Dia menyenderkan kepalaku di kepala ranjang dengan hati-hati, membuatku menatap wajahnya dalam.

 

Dia terlihat sama sekali tak merasa bersalah.

 

Kyuhyun menyendokkan bubur yang dibawanya itu, menyuruhku untuk membuka mulut. Namun, setelah melihat bentuk buburnya yang aneh, aku sedikit terkesiap. Sepertinya dia sendiri yang menyiapkan makanan itu untukku. Cho Kyuhyun, benarkah ini dirinya?

 

Dengan gerakan lambat, aku pun menelan bubur itu yang terasa pahit di lidahku. Untung saja indra pengecapku sedang mati rasa. Jika tidak, kuyakin aku akan langsung mengeluarkan kembali apa yang kumakan itu. Kurasakan kerongkonganku nyeri ketika mencoba menelannya.

 

“Kau tidak apa-apa?”, tanyanya khawatir. Aku pun mengangguk karena rasanya lidahku kelu untuk membalas perhatiannya yang berlebihan itu. Dia bukan tipe orang yang dengan mudah mengumbar perhatiannya, jadi aku merasa sangat istimewa ketika menerima perlakuan manisnya itu padaku.

 

Aku tak bisa makan banyak, untuk itu aku merapatkan bibirku kuat-kuat ketika dia memaksaku untuk menghabiskan buburnya. Aku menggeleng layaknya anak kecil ketika dia memelototiku karena aku tak menuruti perintahnya.

 

Dia tahu jika aku tak akan membuka mulutku, sekeras apapun dia memaksa. Akhirnya, dia menyerah dan membuka bungkus obat, padahal dia tahu jika aku tak bisa meminum kapsul pahit itu.

 

“Kyuhyun~a”, rengekku manja ketika dia memaksaku membuka mulut. Dia menghembuskan nafasnya keras mendengar penolakanku, namun tak berkata apapun padahal kutahu jika dia sudah kehilangan kesabarannya.

 

Rasanya ingin kucubit gemas pipinya yang sedang menggembung itu, menarik-nariknya sampai dia berteriak kesakitan. Astaga, mengapa dia semakin terlihat lucu saja, sih?

 

“Kau benar-benar harus meminum obatnya, Choi Hye Hoon. Sampai kapan kau akan bertingkah seperti anak kecil yang merengek karena tak mau memakan obat, hah? Kau harus sembuh, aku tak akan tenang bekerja jika melihatmu masih dalam kondisi seperti ini”, nadanya sedikit tinggi ketika dia berkata begitu padaku. Aku pun menghela nafas, mencoba sabar ketika dia mulai kehilangan kendali seperti ini

 

“Aku tak perlu obat, besok juga aku akan sembuh dengan sendirinya. Berhenti memarahiku karena hal sepele. Kau bahkan tak bisa menjaga perasaanku, untuk apa mengkhawatirkan keadaanku?”

 

Matanya yang berkilat mulai luluh ketika dia melihat genangan di pelupuk mataku. Mungkin karena efek aku sakit, aku pun menjadi lebih sensitif. Aku mengusap mataku kasar ketika aku merasa bodoh sekali menangis hanya gara-gara beberapa foto.

 

“Apa maksudmu?”, tanyanya kebingungan.

 

Aku meremas ujung selimut yang menutupi tubuhku itu erat, ketika dia mulai menghujaniku dengan bulatan hitamnya yang diliputi perasaan bersalah. Aku pun terisak pelan, entah mengapa melihatnya begitu keinginanku untuk menangis dengan keras itu semakin besar.

 

“Cho Kyuhyun, jika kau menyukai wanita lain mengapa kau masih bertahan denganku? Kau bahkan terlihat lebih bahagia ketika dengannya dibandingkan saat kau bersamaku. Vic Eonnie, kuyakin dia juga menyukaimu. Mengapa kau tak tinggalkan aku saja, huh?”

 

Kedekatan mereka seringkali membuatku merasa bahwa aku bukan siapa-siapa bagi lelaki itu. Merasa jika beberapa tahun kebersamaan kami tidak ada gunanya karena aku tak bisa mengenal Kyuhyun sebanyak wanita itu mengenalnya. Mungkin hari ini adalah puncaknya, ketika aku beberapa kali harus menelan bulat rasa cemburuku yang bersikap seakan aku tak peduli dengan mereka.

 

Dia menenggelamkan kepalaku di permukaan dada bidangnya, mendekapku erat sehingga aku dapat mencium wangi parfum yang tercampur dengan wangi asli tubuhnya. Tangisanku pun berhenti. Merasakan perlakuannya yang lembut itu pun membuatku yakin bahwa dia tak berniat menyakitiku.

 

Tubuhku bergetar ketika merasakan kecupan singkatnya di kulit bahuku yang terbuka. Dia meletakkan kepalanya di lekukan leherku, sepertinya dia kelelahan karena aktivitasnya hari ini ditambah kondisiku yang sakit membuatnya harus menjagaku ekstra.

 

“Dengar—tidak ada yang meninggalkan dan tidak ada yang ditinggalkan. Aku mencintaimu—hanya kau yang kucintai. Aku tak akan kemana-mana, mengurungmu untuk berada di sisiku sampai pada waktunya aku dapat meresmikanmu menjadi milikku”.

 

Dia menghirup nafasnya di sekitar leherku, membuat kerongkonganku tercekat. Cho Kyuhyun memang hobi sekali membuatku kehilangan kata-kata karena godaannya yang kuat.

 

“Wanita itu temanku, sayang. Dia satu-satunya sahabat wanita yang mengertiku, karena kita bekerja dalam bidang yang sama. Aku tak ingin membebanimu dengan masalah-masalah pekerjaanku karena kutahu kau sudah pusing dengan kuliahmu. Aku hanya butuh teman untuk dimintai pendapat”.

 

Dia menjauhkan wajahku dari dadanya, merengkuh kedua belah pipiku dengan lengan besarnya. Pipiku bersemu merah ketika melihat sorotan matanya yang penuh cinta, membuatku percaya dengan semua kalimat yang terucap darinya.

 

“Apa perlu aku menjauhinya demi menjaga perasaanmu—seperti katamu tadi?”

 

Tak mau menambah bebannya, aku pun tertawa pelan. “Kau benar-benar akan menjauhinya jika aku menyuruhmu?”, kataku menantang.

 

Dia menjawabnya dengan anggukan tegas. “Ya. Tapi kau juga harus menjauhi Donghae Hyung sebagai imbalannya”.

 

Lelaki ini, selalu saja tak mau mengalah. Apa salahnya sih sedikit saja mengalah dan membiarkan kekasihnya senang? Aku mencebikkan bibirku meremehkan, dan dia seenaknya membalasku dengan memperkecil jarak diantara kami yang membuatku harus menahan nafas.

 

Dia menaikkan salah satu sudut bibirnya yang membuatnya semakin terlihat menawan, dari posisi sedekat ini dia semakin terlihat seksi ketika melakukan hal itu. “Kau tak mau, kan? Yasudah kalau begitu”.

 

Yak! Aku bahkan tak memposting foto mesraku dengan Donghae Oppa. Kita berbeda, Cho Kyuhyun”

 

Dia kembali memasang tampang sok polosnya yang membuatku jengah. Benar, aku memang tak pernah macam-macam dengan Lee Donghae. Dianya saja yang sering cemburu buta.

 

“Kau tidak berfoto mesra dengannya, tapi menciumnya di depanku. Bukankah kelakuanmu itu tak bisa dimaafkan?”

 

Aku yang merasa tersudut pun segera memegang kepalaku, sedikit mengelabuinya dengan memasang raut wajah kesakitan.

 

Dia panik, lengannya yang berada di pipiku pun merayap turun memegangi lenganku untuk membantuku berbaring. Aku tersenyum dalam hati ketika melihat ekspresinya seperti itu. Dia sangat serius sekali ketika tangannya memijit kepalaku pelan.

 

“Sudah kubilang, kau harus minum obat. Kenapa kau susah sekali diatur?”. Dan ocehannya pun tak hanya sampai disitu. Dia terus menerus membuka mulutnya sampai rasa kantukku kembali datang.

 

Chukkae, aku senang karena kau dapat membanggakan orang-orang disekitarmu”.

 

Aku berkata seperti itu dengan mataku yang tertutup. Terlalu canggung untuk mengucapkannya disaat jarak kami yang dekat seperti ini. Kuyakin dia pasti tersenyum bodoh mendengar perkataanku, yang jika kami berada dalam percakapan biasa dia pasti akan menahannya mati-matian.

 

Bibirnya pun mengecup keningku pelan, dengan durasinya yang lumayan panjang. Dia pun mengambil posisi berbaring di sampingku, mendekap tubuhku erat sampai aku tertidur karena aroma tubuhnya yang menenangkan.

 

Aku percaya padamu. Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun.

 

*

 

 

Buyarlah sudah bayangan ff hyekyu yang romantis tapi absurd seperti biasanya. Beneran deh tadinya aku udah dapet plot cerita hyekyu tentang kyuhyun solo, dari awal dia mau debut sampe menang kedua kalinya hari ini. Really sorry. Jujur aku lagi sedikit sakit makanya aku gak bisa nulis banyak, gak bisa baca ulang buat ngecek typo pula. Maaf karena kali ini gak bikin wanita itu geram kayak biasanya. Mungkin kalo keadaan aku gak kayak gini aku bisa bikin yang lebih bagus hahaha

At least, semoga ini bisa ngobatin rasa kecewanya kalian.

 

See you soon on next ff (hopefullly) ^^

73 thoughts on “[Hye Kyu Diary] Sick

  1. cho kyuhyun bener2 bikin meleleh,apa hrus salah satu dr mereka sakit supaya bisab nunjukin kepedulian nya
    kenapa si hampir di semua ff yg ku bca pasti yg jd orang ketiga itu selalu victoria emang bener tah kyuhyun ada something sama qian kalau iya makin benci deh saya sama dia

  2. Jadi Hyehoon suka ama donghae juga gitu?tapi cinta sama kyu avak bingung sih wkwwk tapi sweet banget un cerita nya cemburuan nya itu wkwwk kalo ada part selanjutnya seru un wwkk

  3. konfliknya kurang… ceritanya terlalu datar,mnrutku c… tp q sng karakter manjanya hye hoon… bgmn cr dy cemburu,protes dg kekasihnya… hihi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s