Second Wife (Between Love and Guilty) – Scene 4


Kalo ceritanya lupa, tolong baca aja dulu prev chapter jangan maki-maki di kolom comment. Terima kasiiiihhhhh……

 

Hye Hoon mengendarai taksi yang melaju cepat itu dengan pikiran kacau. Pernyataan Cheonsa tadi benar-benar mengganggu pikirannya. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa sepasang suami istri yang tinggal bersama selama kurang lebih satu tahun tak pernah melakukan apa-apa? Banyak kemungkinan-kemungkinan yang terbesit di benaknya. Namun, dia tak mengerti alasan yang tepat dengan keadaan rumah tangga kedua orang itu sebenarnya.

 

Setahunya, Cho Kyuhyun masih normal. Dan seorang lelaki normal tak akan mungkin bisa menahan gejolaknya sendiri ketika dia tidur seranjang dengan orang yang dicintainya, apalagi Cheonsa adalah wanita yang telah sah menjadi miliknya.

Dia hendak menanyakannya lebih lanjut, tapi sayangnya Perawat Jung terlebih dahulu masuk dan membuat pembicaraannya berhenti. Dia sedikit bernafas lega dengan fakta itu karena jika Cheonsa menceritakan seluruhnya padanya, dia pun harus menjawab pertanyaan Cheonsa tentang tidur-bersama-suaminya yang tentunya tak ingin segera diungkapnya.

 

Dia masih ingin menyembunyikan tentang hal itu dari Cheonsa. Hye Hoon tak tega jika dia kembali membohongi wanita itu, apalagi Cheonsa adalah orang yang paling menginginkan anak dari hasil hubungannya dengan Kyuhyun.

 

Tak terasa, perjalanan tiga puluh menit yang dilaluinya menuju salah satu bandara termegah di dunia itu pun berakhir. Dia segera mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu won lalu melangkahkan kakinya menuju tempat dimana dia akan bertemu orang tuanya.

 

Eomma”, panggilnya singkat ketika melihat wanita dengan coat merah maroon dengan rambut pendeknya yang ditata rapi itu nampak di depan matanya. Wanita yang berselisih dua puluh tahun lebih dengannya itu menarik dirinya ke dalam sebuah pelukan singkat, lalu menahan kedua bahunya untuk menggodanya sekilas.

 

“Tak ingin ikut untuk berbulan madu? Disana sedang musim dingin, kalian akan menyukainya”.

 

Hye Hoon memamerkan senyum tipisnya yang tentu saja digerakkannya paksa. Bulan madu? Dengan kondisi yang seperti ini? Itu sangat mustahil. Mereka bukan sepasang pengantin baru yang masih hangat-hangatnya menjalin cinta seperti yang orang tuanya pikirkan.

 

“Tidak, Eomma. Kyuhyun sedang sibuk dan tak bisa meninggalkan Korea. Lain kali aku akan menghubungimu jika kami berkunjung”.

 

Oh. Hye Hoon memang pandai sekali berbohong. Berkunjung ke rumah orang tuanya dengan Kyuhyun? Yang benar saja. Mungkin mereka sudah berpisah sebelum hal itu terjadi.

 

“Baiklah, Eomma akan menunggu kalian. Oh…Donghae~ya?”

 

Tubuh Hye Hoon menegang ketika nama itu terucap dari bibir Ibunya. Dia memutar lehernya untuk melihat sosok yang selama ini dihindarinya itu sehingga keduanya beradu pandang. Dia sedikit kaget dengan kehadiran Donghae yang sendiri dan tiba-tiba.

 

Namja itu sedikit menunduk ketika berhadapan dengan orang tua Hye Hoon. Mata sendunya itu menghindari mata Hye Hoon yang memandang ke arah wajahnya.

 

“Maaf, Ibuku tak bisa mengantar kalian karena halmoni sedang sakit. Kuharap kalian mengerti”, jelas lelaki muda itu tanpa dipinta. Nyonya Choi pun mengangguk mengerti, lalu membalas perkataan Donghae dengan nadanya yang tenang. “Tolong sampaikan kepada Hyangsook, semoga nenekmu cepat sembuh”.

 

“Kurasa sebentar lagi kita harus pergi”, ujar Choi Tae Kwan memotong pembicaraan istrinya. Sepasang suami istri itu pun saling memberi pelukan terakhir kepada anaknya dan lelaki yang sudah mereka anggap sebagai puteranya sendiri sebagai salam perpisahan. Bahkan, ketika Tae Kwan memeluk Donghae, beliau berpesan agar Donghae dapat menjaga Hye Hoon ketika mereka tak ada disini. Lelaki itu hanya menjawabnya dengan anggukan singkat.

 

Ya, Donghae akan mengemban tugasnya itu baik-baik. Bahkan, tanpa dipinta oleh Ayahnya pun, dia akan berusaha untuk menjaga gadis itu dengan caranya sendiri.

 

*

 

Hye Hoon merasa khawatir ketika melihat lingkaran hitam di sekitar mata lelaki yang dulu menjadi sahabat dekatnya itu, membuat perkataan Lee Ahjumma tentang Lee Donghae yang gila kerja terngiang-ngiang di otaknya. Apakah lelaki itu terlalu memaksakan tubuhnya untuk bekerja dua puluh empat jam sehari? Sejak kecil, Donghae memang dikenalnya sebagai sosok pekerja keras, dan bukan hal yang aneh jika lelaki itu tumbuh menjadi seperti sekarang ini.

 

“Ada yang ingin kau bicarakan?”, ungkap Donghae dengan nadanya yang terkesan tak bersahabat. Sepertinya lelaki itu memang tak pernah bersikap lembut jika berurusan dengan gadis itu. Apalagi banyaknya masalah saat ini yang membuat mereka semakin canggung.

 

Hye Hoon menghela nafasnya berat. Dia sebenarnya tak rela jika mengatakan hal ini kepada lelaki yang otomatis adalah atasannya itu disaat dia masih mencintai hobinya ini. Namun, pernikahan dan perjanjian tak tertulisnya dengan Kyuhyun membuatnya harus melepaskan salah satu hal yang sangat dia senangi.

 

“Aku berhenti menjadi model. Aku sudah meminta asistenku untuk membuat surat pengunduran diriku, mungkin besok pagi kau akan menerimanya”.

 

Donghae tertegun ketika raut wajah sedih itu muncul di wajah gadis yang selama ini terus menerus mengganggu hidupnya. Belakangan ini dia tak bisa bekerja dan melimpahkan semua surat-surat penting yang harus ditanganinya kepada salah satu kaki tangannya. Bayangan ketika Hye Hoon menangis ketika acara pemberkatan selesai membuat dirinya ikut meringis pilu.

 

Dia menyesal.

 

Jika dia tak menolak tawaran Hye Hoon tempo lalu, mungkin dirinyalah yang akan mendampingi wanita itu di hadapan pendeta. Tak akan ada pula air mata kesedihan di mata Hye Hoon karena dia akan memastikan bahwa wanita itu akan bahagia bersamanya.

 

Salahkan egonya yang tinggi karena tak ingin menerima pinangan tiba-tiba Hye Hoon saat itu. Mungkin, sekarang dia sudah sedikit melupakan rasa rendah dirinya sejak mereka beranjak dewasa karena strata sosial dia dan keluarga Hye Hoon yang berbeda. Namun, dia ingin menyunting gadis yang dicintainya dengan cara yang benar, bukan dengan amarah Hye Hoon yang sedang memuncak seperti saat itu. Dan sekarang, dia menyadari jika keputusannya menolak tawaran menarik gadis itu berakibat fatal.

 

“Kau bisa mengurusnya dengan manajemenmu. Dan aku sama sekali tak ada hubungannya dengan keputusanmu itu. Maaf, aku masih banyak urusan penting. Permisi”.

 

Astaga, sebodoh itukah dirimu Lee Donghae? Rutuknya dalam hati. Apakah dengan mencintai gadis itu dengan habis-habisan membuat Donghae bisa seenaknya memperlakukan Hye Hoon? Lelaki itu hanya tak tahu harus berbuat apa. Terlalu banyak pemikiran yang berkecamuk di otaknya yang membuat kepalanya semakin pening.

 

Isakan halus mulai terdengar ketika Donghae mulai bangkit dari tempat duduknya. “Apakah aku tak punya seorang pun di dunia ini, untuk membagi keluh kesahku?”, ucap Hye Hoon sembari mendongak sehingga Donghae bisa melihat bulir air mata yang tergenang di bawah mata gadis itu. “Oppa, bisakah kita seperti dulu? Apa dosa yang kulakukan sehingga kau menghindariku seperti ini?”

 

Donghae tak bisa mengatakan dengan lantang bahwa tak ada satu kesalahan pun yang dilakukan Hye Hoon, kecuali mencintai dan menikah dengan lelaki bejat yang meminta rahimnya itu. Dia ingin merengkuh gadis itu dalam sebuah pelukan sambil mengatakan bahwa semua yang terjadi pada mereka adalah kesalahannya. Namun, untuk saat ini mungkin hal itu belum dapat dilakukannya. Suatu saat nanti…..jika Hye Hoon kembali datang padanya dia bersumpah untuk meluapkan segala perasaannya.

 

Tapi, tidak untuk sekarang. Dia memerlukan waktu untuk sendiri untuk memikirkan masa depannya dengan gadis kecilnya itu. Donghae pun beranjak pergi, sebagai seorang pecundang dia tak mengatakan satu patah kata pun yang dapat menenangkan hati gadisnya.

 

*

 

Hanya suara dentingan alat makan yang beradu yang menyelimuti ruangan itu. Tak ada percakapan ringan serta hangat yang biasanya menghiasi ruang makan disaat keduanya menyantap hidangan makan malam seperti sebelum-sebelumnya. Cheonsa beberapa kali menangkap lirikan diam-diam suaminya ke arah pintu utama, disertai wajah cemas yang kentara yang entah mengapa membuat hatinya sedikit terluka.

 

Ayolah, hentikan pikiran burukmu itu Ahn Cheonsa.

 

“Kau suka makanannya?”, tanya wanita itu dengan nada cerah seperti biasa. Kyuhyun menyimpan sendoknya di atas piring kemudian menjawab pertanyaan istrinya itu dengan senyuman tipis. “Ya, aku sangat suka”, pujinya dengan diimbuhi senyuman yang terlihat dipaksakan.

 

Kyuhyun kembali memandangi pintu utama dengan muka tak tenang. Cheonsa yang tau alasannya pun mengurut dadanya yang terasa sesak itu pelan. Sejak kapan Cheonsa menjadi wanita sensitif seperti ini? Apakah ini karena kali pertama dalam hidupnya dia melihat Kyuhyun mengkhawatirkan gadis lain selain dirinya?

 

“Mengapa kau tak mencoba meneleponnya saja? Kurasa dia telat pulang karena jalanan yang padat”, ujar Cheonsa menenangkan.

 

“Huh? Tidak. Aku tidak sedang memikirkan gadis itu. Dia sudah dewasa, nanti dia bisa pulang sendiri. Oh ya, bukankah besok jadwal terapimu? Aku akan menelepon Perawat Jung agar tidak usah datang kesini besok pagi. Aku yang akan mengantarmu”.

 

Kyuhyun terdengar gelagapan karena kekhawatirannya terhadap Hye Hoon diketahui Cheonsa. Namun, dia tetap menyangkal karena dia tak mau Cheonsa berpikiran macam-macam. Wanita itu hanya harus memikirkan kesehatannya, tidak boleh memikirkan hal lain apalagi tentang wanita kedua yang kini berstatus sebagai istrinya.

 

“Hmm…Tapi, sebaiknya kau tidak usah mengantarku, Oppa. Sudah berapa kali kau mengabaikan tanggung jawab perusahaan yang ada di pundakmu hanya karena aku?”, ucap Cheonsa dengan suaranya yang terdengar manja. “Lagipula, aku tidak apa-apa diantar Perawat Jung. Dia lebih tahu bagaimana kondisiku, dan dia tak akan sepertimu yang terlihat sangat tak tega ketika melihatku kesakitan”, tandas Cheonsa diselingi senyumannya yang lembut.

 

Kyuhyun menggenggam tangan Cheonsa yang berada di atas meja lalu menautkan jari-jari mereka erat. “Terima kasih atas pengertianmu, sayang”.

 

Suara pintu tertutup membuat kedua insan itu menoleh ke arah Hye Hoon yang kini tengah melangkahkan kaki menuju kamarnya. Kyuhyun sempat melihat mata dan hidung gadis itu memerah yang dibingkai dengan wajahnya yang terlihat kusut. Gadis itu melirik keduanya yang masih duduk di meja makan dengan senyuman tipis yang hanya dilakukannya dengan menggerakkan otot di sekitar bibirnya sedikit.

 

Cheonsa menyapanya, dengan suara agak keras mengingat mereka berada di dalam ruang yang berbeda. “Perawat Jung sudah menyiapkan makan malam untuk kita bertiga. Kemarilah”.

 

“Tidak usah, Eonnie. Aku sudah makan malam di luar tadi”, jawabnya singkat lalu berjalan terhuyung menuju kamarnya. Kyuhyun mengamatinya dalam diam, meskipun hatinya bertanya-tanya mengapa gadis itu pulang dalam keadaan seperti ini. Dan sepertinya Cheonsa mengerti dengan kecemasan yang dirasakan suaminya, lalu memanggil Kyuhyun dengan suara pelan.

 

Oppa, temui dia. Kurasa keadaan Hye Hoon sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja”.

 

Kyuhyun pun menuruti keinginan Cheonsa untuk mengecek keadaan Hye Hoon. Dengan hati-hati, dia membuka pintu kamar dan melihat punggung wanita itu bergetar. Ingin sekali dia menanyakan apa yang terjadi dengan gadis itu hingga membuatnya menangis. Namun, apa dayanya. Dia hanya bisa membisu dengan dadanya yang terasa sesak hingga dia memutuskan untuk menutup pintu itu kembali.

 

Apa ada yang menyakitimu selain aku, Hye Hoon~ah?

 

*

 

Hye Hoon bangkit dari tempat tidurnya dengan pandangannya yang berputar. Kepalanya terasa pusing, mungkin itu terjadi karena dia hanya dapat tidur beberapa jam setelah acara menangisnya selesai.

 

Dia membuka jendela, menemukan fakta bahwa matahari sudah berada di atas puncak kepalanya. Astaga, apakah dia bangun sesiang itu? Dia bahkan melupakan makan malam dan sarapan paginya. Pantas saja sekarang dia merasa sangat lemas.

 

Beep…Beep…

 

Suara bel yang menggema di rumah itu membuat Hye Hoon mengurungkan niat untuk segera mengisi perutnya. Dia mencuci wajahnya sebentar, membenahi tatanan rambutnya sambil berjalan, kemudian segera membuka pintu lebar-lebar.

 

“Hye Hoon~a”, ucap orang di balik pintu yang tanpa aba-aba berhambur ke pelukannya. Untuk sesaat, Hye Hoon mencerna tindakan tiba-tiba dari orang itu namun tak lama kemudian membalas pelukannya tak kalah erat.

 

Sosok wanita yang menjadi tamunya hari ini pun melepas pelukannya lalu mengelus pipi Hye Hoon dengan tangannya yang sedikit berkerut. “Badanmu terlihat lebih kurus sekarang. Apakah kau tidak menyukai kehidupanmu saat ini, Hye Hoon~a? Ataukah kau sangat menderita karena anakku malah semakin menyakitimu?”

 

Hye Hoon membalas perkataan Nyonya Cho dengan senyuman canggung. “Kurasa sebaiknya kita segera masuk, Eomma”. Wanita itu hanya mengalihkan pembicaraan sebenarnya. Dia merasa belum siap untuk menceritakan keadaan fisik dan psikisnya yang memburuk kepada mertuanya itu.

 

Beberapa menit setelah Hye Hoon berpamitan untuk membersihkan diri, gadis itu pun kembali ke hadapan Nyonya Cho dengan balutan tubuhnya yang lebih segar. Dia merasa bahagia melihat punggung wanita yang sangat dekat dengannya beberapa tahun ketika dia menjalin hubungan dengan putranya itu ketika sedang menyajikan menu makan siang yang tadi dibawanya dari rumah.

 

Dia bahkan dulu merasa bahwa dia lebih dekat dengan Nyonya Cho dibanding Ibu kandungnya sendiri. Akan tetapi, setelah tragedi perpisahan tragis itu terjadi, Hye Hoon lebih senang menutup diri dari siapapun termasuk istri dari Cho Yeonghwan itu.

 

“Duduklah, Eomma sudah selesai memanaskan makanannya”.

 

Hye Hoon pun menurut. Dia menarik salah satu kursi dan duduk di atasnya sambil menunggu makanannya disajikan. Tak berapa lama Ibu mertuanya pun mengambil tempat di depannya sambil memberinya alas dari makanan-makanan enak yang dia bawa.

 

“Aku sengaja memasak makanan kesukaanmu. Kau masih suka sup ayam ginseng buatan Eomma, bukan?”, ujar wanita paruh baya itu antusias. Hye Hoon hanya bisa menjawab dengan anggukan pelan, disertai ulasan senyum tipisnya yang terlihat awkward.

 

Nyonya Cho yang menyadari perubahan sikap menantu kesayangannya itu pun mengernyitkan dahinya heran. Mereka dulunya sangat dekat, tidak ada batasan sehingga mereka dapat merasa canggung satu sama lainnya seperti sekarang. Mungkin, Hye Hoon merasa canggung padanya karena ini pertama kali mereka bertemu berdua setelah sekian lama, pikirnya.

 

Hye Hoon menghabiskan makanannya dengan diam, sementara Nyonya Cho memperhatikan wanita itu dengan pandangan buram, dengan sesekali mengusap bagian bawah matanya dengan telapak tangannya. Mencoba melakukannya dengan diam-diam akan tetapi hal ini tak luput dari pantauan Hye Hoon.

 

Eomma…..”, panggil gadis itu dengan suara serak.

 

Nyonya Cho menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai signal bahwa dia tak apa-apa. Namun, Hye Hoon yang tak tega melihat wanita yang sejak dulu dianggapnya sebagai Ibunya sendiri itu menangis di hadapannya.

 

Eomma, wae geuraeyo?”. Dia memegangi tangan Cho Hanna yang tersimpan di atas meja, mengelusnya perlahan agar tangisan Ibu mertuanya itu mereda. Hanna perlahan menyeka air mata yang berjatuhan di pipinya sambil melengkungkan kedua ujung bibirnya ke belakang.

 

“Aku menangis karena bahagia, Hye Hoon~a. Eomma senang, akhirnya Kyuhyun bisa menikahimu. Walaupun keadaannya seperti ini, meskipun kuyakin ini menyakitimu, tapi Eomma tetap merasa bahagia karena akhirnya kau bisa berada di sampingnya, setelah semua cobaan yang dihadapi puteraku selama ini”.

 

Hye Hoon menipiskan bibirnya, bingung dengan kalimat yang diucapkan Ibu dari suaminya itu. Namun, dia tetap tak bersuara. Membiarkan Eomma-nya menjelaskannya lebih rinci tanpa pertanyaan yang kini banyak bermunculan di otaknya.

 

Hanna pun melanjutkan. Dia menggenggam tangan Hye Hoon dengan tangannya yang lain, sehingga tangan mereka tertumpuk di tengah-tengah benda padat yang terbuat dari kayu tersebut.

 

“Kau harus percaya, Hye Hoon~a. Kyuhyun mencintaimu, dan dia menikahimu bukan semata-mata karena menginginkan anak. Selama setahun ini, dia hanya menjalankan drama yang seharusnya tak dia lakoni. Sebenarnya, dia memiliki banyak pilihan, namun pada akhirnya dia memilih untuk mengorbankan cintanya padamu”.

 

“Maafkan anakku, Hye Hoon~a. Dan tolong, bisakah kau membahagiakan Kyuhyun kali ini saja? Seperti yang kau lakukan dulu saat kalian bersama. Kumohon, jangan salah mengartikan sikap Kyuhyun. Dia…..hanya mencoba menyembunyikan perasaannya padamu”.

 

Setetes air mata jatuh di pipi mulus gadis itu. Hye Hoon memegang dadanya yang merasa sesak, lalu melihat iris mata wanita berusia setengah abad itu dengan matanya yang basah. “Aku masih belum mengerti dengan situasi ini. Tapi……..aku akan mencoba mengerti dirinya, Eomma. Aku akan mencoba membahagiakan dirinya, untukmu”.

 

Nyonya Cho menghembuskan nafasnya lega. Akhirnya, Hye Hoon dapat menerima permintaannya, meskipun permintaan itu terdengar egois bagi gadis itu. Tapi setidaknya, mereka saling mencintai dan dirinya ingin pasangan itu merasakan kembali kebahagiaan yang sempat ditanggalkan anaknya dulu.

 

Eomma?”, panggilan ragu dari seseorang yang berada di ambang pintu rumah minimalis itu membuat percakapan antara seorang Ibu mertua dan anak perempuannya itu terhenti. Mereka mencoba menyamarkan cairan yang membasahi wajah mereka, agar sosok yang baru saja daatng ke rumah itu tidak tahu akan hal penting yang membuat mereka berderai air mata.

 

“Oh, Cheonsa~ya. Kau sudah pulang?”, jawab wanita itu dengan sedikit gugup, terlihat sekali bahwa Ibu dari Kyuhyun itu menyembunyikan rasa keterkejutannya akan kedatangan Cheonsa—beserta perawat yang mendampinginya— yang tanpa diduganya.

 

Hanna menghampiri wanita yang duduk di kursi rodanya itu lalu memeluknya sekilas, tak seerat tadi saat dia berpelukan dengan menantunya yang lain. “Bagaimana kabarmu? Terapimu berjalan dengan baik?”

 

Cheonsa mengangguk pelan, akan tetapi matanya tak pernah lepas dari kedua mata wanita itu. “Aku sangat terkejut ketika melihat Eomma datang kesini. Apakah Eomma kesini untuk menemui Hye Hoon?”

 

“Ah, tidak Cheonsa~ya. Aku hanya ingin menjenguk kalian, dan kebetulan kau sedang tak ada di rumah”, bohongnya. Hanna mengetahui jadwal terapi Cheonsa, itulah sebabnya dia menyempatkan datang ke rumah itu agar hanya ada Hye Hoon yang ada di rumah puteranya itu. “Oh ya, aku lupa. Sepertinya aku harus segera pergi. Sampaikan salamku pada suamimu, hmm?”

 

Setelah kepergian Kim Hanna, Cheonsa menyuruh perawatnya untuk membiarkannya sendiri, lalu kemudian dia menggerakkan rodanya ke ruang makan. Disana terlihat Hye Hoon yang sedang termangu dan sama sekali tak menyadari keberadaannya sedangkan di atas meja tersaji sup ayam ginseng yang tersisa setengahnya.

 

Dia tak suka makanan itu, dan setahunya Kyuhyun pun tak menyukainya. Apakah masakan itu sengaja dibuatkan Ibu mertuanya untuk Hye Hoon. Jika ya, bukankah berarti hubungan mereka sangat dekat, dan dia bahkan tak mengetahuinya?

 

Sebenarnya, apa saja yang disembunyikan Kyuhyun dan Hye Hoon darinya?

 

*

 

Jawaban atas pertanyaan Hye Hoon selama ini sedikit demi sedikit terjawab. Kesimpulan yang dia ambil dari pertemuannya dengan Ibu mertuanya tadi siang, seakan menjelaskan jika Kyuhyun meninggalkannya bukan karena dia mengkhianati gadis itu, namun karena sesuatu yang tak bisa beliau jelaskan.

 

Semakin dia memikirkannnya, semakin pikirannya merasa pusing karena tak menemukan akar masalahnya. Jika dia menanyakan hal ini kepada Kyuhyun, dia yakin jika lelaki itu akan tetap bungkam. Apa yang harus dilakukannya sekarang?

 

Angin yang berhembus dari arah pintu kamarnya membuatnya mengarahkan pandangannya ke arah tersebut. Dilihatnya lelaki yang kini telah berhasil membuat hidupnya porak poranda itu menatapnya ragu dari balik pintu yang tertutup.

 

“Bolehkah aku tidur disini?”, tanyanya lirih. Hye Hoon tak menjawab sama sekali, namun dengan terang-terangan memperhatikan gerak-gerik namja itu dengan kedua matanya yang kosong.

 

Sikap diam yang ditunjukkan Hye Hoon tak berlangsung lama, karena sesaat setelah Kyuhyun hendak membaringkan tubuh tegapnya di sofa, dirinya berujar. “Tidurlah disini. Kuyakin kau tak akan tidur lelap jika kau tidur di sofa dengan menekuk kakimu karena kesempitan”.

 

Kyuhyun mengulum senyumnya ketika dia mendengar suara jernih yang dirindukannya itu. Dia sedikit tak percaya dengan kata yang ditangkap oleh telinganya sendiri. Benarkah gadis itu menyuruhnya untuk tidur di ranjang yang sama? Bukankah selama ini Hye Hoon sangat membenci dirinya bahkan seringkali gadis itu menghindar saat mereka ada di dalam ruangan yang sama?

 

Lelaki itu melihat istrinya memejamkan mata, berbalik memunggungi bagian dimana dirinya akan berbaring. Hye Hoon tak sepenuhnya merubah perlakuan padanya, pikirnya sedih. Kyuhyun pun menatap punggung gadis itu dari belakang, menahan keinginan kuatnya untuk memeluk gadis itu dalam dekapannya.

 

Setelah apa yang kau lakukan, Cho Kyuhyun? Setelah apa yang kau lakukan padanya kau masih berharap jika dia akan bersikap manis padamu seperti apa yang kau dapatkan darinya dulu?

 

Setidaknya, Kyuhyun masih punya kesempatan. Dia masih punya kesempatan untuk melihat gadis itu, berada di sampingnya bahkan ketika gadis itu memperlakukannya dengan kasar. Dia pantas. Dia sangat pantas mendapatkannya bahkan yang lebih parah dari itu pun seharusnya dia menerimanya.

 

Waktu seakan berhenti, ketika dengan satu gerakan Hye Hoon berbalik membuat mata mereka bertemu. Keadaan itu tak berangsur lama, setelah beberapa saat kemudian tangan Hye Hoon menjalari wajahnya, mengelus pipinya pelan sembari menghujaninya dengan tatapan penuh cinta.

 

“Benarkah? Benarkah kau masih mencintaiku?”, lirih gadis itu pelan, meminta keyakinan atas omongan yang dilontarkan Nyonya Cho tadi.

 

Pertanyaan lugas itu membuat mulut Kyuhyun terkunci. Dia benci berada dalam situasi ini. Karena dia tak bisa melakukan apapun untuk menghindarinya. Alasan lainnya, karena dia tak bisa jujur. Dia tak bisa mengatakan dengan gamblang bahwa dia masih mencintai gadis itu, sedangkan dia tahu ini akan membuat istri pertamanya terluka.

 

Sedangkan Hye Hoon, menanti jawaban suaminya itu dengan jantungnya yang berderap kencang. Bagaimana jika dia kembali mengalami penolakan kali ini? Akankah dia dapat bertahan?

 

Setelah menunggu lama tanpa kepastian, dengan mata keduanya yang masih bertaut satu sama lainnya, Hye Hoon pun menyerah. Kyuhyun mungkin sudah tidak mencintainya lagi, dan berat baginya untuk mengatakan hal itu secara langsung karena hal itu pasti akan semakin melukai dirinya.

 

Hye Hoon pun berbalik, matanya yang semakin berat karena cairan yang menggunung di pelupuk matanya pun akhirnya menyerah juga. Dia menangis, mencoba meredam suara tangisnya dengan selimut tebal yang dipakai mereka, meskipun dia tahu itu sia-sia. Kyuhyun pasti dapat mendengar tangisnya, dan dia benci terlihat lemah di hadapan lelaki itu.

 

Dia tak mau Kyuhyun menginjak-injak kembali harga dirinya karena itu.

 

“Jika memang benar aku masih mencintaimu, bukankah itu sangat jahat?”

 

Suara lirih itu terdengar sangat menyiksa. Hye Hoon dapat merasakan, dari tutur kata suaminya itu, bahwa Kyuhyun lebih tersakiti daripada dirinya sekarang. Dia, hampir saja tak percaya namun ketika isakan halus tertangkap oleh indera pendengarannya, Hye Hoon pun tertegun.

 

Dengan cepat tubuhnya berbalik, menyaksikan suaminya yang sangat dicintainya itu dengan keadaan yang sama mengenaskannya—seperti dirinya. Mata dan hidungnya yang memerah, terdapat garis samar yang menjadi jejak dari laju air matanya.

 

Oh Tuhan, apakah ini benar-benar Cho Kyuhyun—orang yang memaksanya untuk menjadi Ibu dari anak lelaki itu—hanya untuk menyakitinya?

 

“Lalu kau pikir, jika aku menerima tawaranmu untuk menikah dengan alasan tak wajar ini, dengan alasan karena aku masih sangat mencintaimu, dan hanya ingin menikmati waktuku bersamamu—walaupun sangat singkat, meskipun dengan menyakiti banyak orang di sekitarku karena membohongi mereka, apakah aku lebih jahat darimu?”

 

Kyuhyun memeluk gadis itu erat, meluapkan perasaan yang selama ini mati-matian dia pendam. Mereka terlalu lama saling membohongi diri, padahal keduanya memiliki alasan yang sama untuk menikah. Meskipun, ada perjanjian tak tertulis yang mengikat mereka. Ada Cheonsa yang menanti anak dari mereka. Pada kenyataannya, mereka hanya ingin bersama.

 

“Aku mencintaimu, Hye Hoon~ah. Kau tahu? Sangat sulit menyembunyikan perasaan ini ketika kau bahkan bisa kujangkau dengan jariku”.

 

Kyuhyun merasa lega ketika kalimat itu akhirnya dapat terucap jelas dari bibirnya. Dia pun menghirup aroma tubuh wantia yang selama ini hanya dapat diperhatikannya dalam diam, menyimpannya dalam memori otaknya baik-baik sehingga dia tak akan pernah takut jika dia kehilangan wanita itu lagi. Ucapan itu seakan menjadi oase disaat keduanya terjebak dalam gurun penderitaan yang seakan tak ada habisnya.

 

Keduanya tak pernah mengharapkan akhir bahagia untuk mereka. Namun, bisakah dalam beberapa waktu ini, keduanya merasakan kebahagiaan yang pasti diinginkan oleh setiap orang?

 

*

 

Ciuman mereka kali ini terasa manis. Mungkin karena pengakuan keduanya yang terasa sangat mengharukan, ataupun karena mereka yang telah lama memendam perasaan rindu yang membuncah selama setahun terakhir yang sebisa mungkin dikuburnya dalam-dalam.

 

Hye Hoon terbaring pasrah ketika tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Kyuhyun naik di atas tubuhnya. Dia pun mendesah disaat benda lunak itu mulai memasuki bibirnya yang terbuka. Remasan tangan Hye Hoon di ujung piyama Kyuhyun semakin kuat ketika bibir lelaki itu semakin menuntutnya dengan lumatan-lumatan liar. Hye Hoon pun mencoba mengimbangi, meskipun gerakannya sedikit terasa kaku karena perlu adaptasi.

 

Hingga akhirnya, Hye Hoon memekik ketika tangan Kyuhyun merayap masuk, mengusap lembut perut datarnya sehingga kulit mereka bersentuhan tanpa penghalang. Ketika tangan Kyuhyun merambat naik, Hye Hoon pun tiba-tiba panik dan mendorong wajah Kyuhyun untuk menghentikan ciuman panas mereka.

 

Keduanya pun terengah karena ciuman mereka yang panjang. Kyuhyun menatap gadis yang sedang terbaring pasrah di bawahnya itu dengan raut wajah menyesal, seolah menyentuh istrinya sendiri adalah suatu kesalahan besar.

 

Mianhae, aku bertindak terlalu jauh. Aku……”

 

“Ssst…kau tahu aku sudah bosan mendengarmu meminta maaf kepadaku beberapa kali malam ini?”, balas gadis itu dengan diimbuhi senyuman tipisnya. “Aku bukan bermaksud menolakmu, kau berhak melakukan apapun padaku dan aku tahu kita juga harus melakukannya karena Cheonsa Eonnie sangat menginginkan anak”.

 

Kerongkongannya tercekat, tapi Hye Hoon mencoba menutupinya dengan senyuman yang tak pernah pudar dari wajahnya. Meskipun keduanya tahu, senyuman yang mereka umbar sekarang adalah senyuman palsu karena meskipun mereka saling mengetahui perasaan masing-masing, masih banyak halangan yang membuat keduanya tak bisa bersama.

 

“Maafkan aku….”, ucap Kyuhyun lagi, tercetak jelas di wajahnya jika dia benar-benar menyesal. Dia mendaratkan sebuah kecupan singkat di kening gadis itu, tanpa mengubah posisi mereka. Ketika nama Cheonsa muncul diantara mereka, itu membuatnya tersadar jika bukan hanya dirinya dan gadis yang dicintainya yang tersakiti, namun wanita itu juga.

 

Hye Hoon mengusap dada bidang Kyuhyun dengan gerakan lembut, menatap manik mata lelaki itu dengan bulatan cokelatnya yang meredup. Otaknya berpikir, menanyakan kepada dirinya sendiri apakah logis jika pertanyaan yang sejak kemarin terus hinggap di pikirannya itu diutarakan kepada suaminya? Bagaimana jika jawaban yang diungkapkan Kyuhyun kembali membuka luka baru di hatinya? Akankah dia sanggup?

 

Namun sepertinya tekadnya itu lebih bulat daripada rasa takutnya. Hye Hoon mencoba membuka suara, meskipun pita suaranya seakan terjepit karena rasa ingin tahunya yang mungkin akan menyakitinya itu. Ini sama halnya seperti Cheonsa yang menanyakan hal ini dengan suaranya yang tercekat. Dia merasakan apa yang wanita itu rasakan sekarang.

 

Hye Hoon menghembuskan nafasnya berat, lalu bertanya. “Mengapa kau tak meminta anak dari Cheonsa Eonnie? Mengapa kau mencari wanita lain untuk menjadi Ibu dari anakmu, bahkan ketika kau dengan sadar belum pernah meniduri istrimu sendiri? Kau tahu, aku tak tega ketika melihat raut mukanya yang sedih, ketika Cheonsa Eonnie menceritakan hal ini kepadaku. Walaupun aku tak memungkiri, terselip perasaan bahagia ketika mengetahui bahwa kau belum pernah menyentuhnya”.

 

Kyuhyun tidak dengan spontan menjawab. Lelaki itu menghindari pertanyaan Hye Hoon dengan mengecup setiap jengkal wajah Hye Hoon dengan sentuhan-sentuhan lembut dari bibirnya. Hye Hoon yang terbuai mulai mengatupkan kelopak matanya, melupakan apa yang selama ini mengganjal di pikirannya itu, meskipun itu tidak berlangsung lama karena dia dapat merasakan pipi Kyuhyun yang basah menyentuh permukaan halus dari wajahnya.

 

Hye Hoon pun mengerti sikap diam yang ditunjukkan Kyuhyun, yang menandakan bahwa lelaki itu belum siap untuk menjawab semua pertanyaannya mengenai Cheonsa. Mungkin, suaminya itu butuh waktu untuk menjelaskan perkara yang selama ini dipendamnya itu kepada dirinya.

 

Dan dia harus bersabar untuk menunggu Kyuhyun menjelaskan semua rahasianya mengenai Cheonsa padanya.

 

*

 

Mereka menghirup oksigen yang berada di ruangan temaram itu banyak-banyak, berusaha untuk menetralkan kembali nafas mereka yang terengah. Kyuhyun merapatkan tubuhnya dengan tubuh istrinya yang tak terhalang apapun, mengecup puncak kepala wanita itu sekilas, lalu mendekapnya erat. Tak pernah dia merasa utuh seperti yang dirasakannya malam ini. Memeluk wanita yang dicintainya sepanjang malam, hanya itu permintaan kecilnya. Namun, sepertinya dia harus menunda keinginannya itu karena Hye Hoon mencoba untuk melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang polos gadis itu.

 

Hye Hoon mendongak, mata cokelatnya yang mulai berair tertangkap oleh mata Kyuhyun. Dia merasakan sakit yang teramat dalam ketika melihat wanita itu kembali menangis di hadapannya.

 

“Kau tahu, banyak sekali pertanyaan yang bermunculan di benakku. Apakah kita melakukannya karena kita terbawa perasaan, atau karena permintaan istrimu yang menginginkan anak. Tidak—aku tak pernah meragukan cintamu untukku. Tapi, jujur, aku lebih ingin kau mengartikan apa yang terjadi malam ini karena alasan kedua”.

 

“Hye Hoon~ah….”

 

“Kau terlalu banyak menyakitinya, Cho Kyuhyun. Bukankah kau berjanji padanya untuk tidak mencintaiku? Bukankah kau menjanjikannya untuk berada di sampingnya selamanya?”. Nafasnya yang sempat normal itu kembali terengah, suaranya yang lirih mengisyaratkan betapa terlukanya wanita itu ketika kalimat-kalimat menyakitkan itu terungkap dari bibirnya sendiri.

 

Lelaki itu merubah posisinya, berbaring terlentang dengan matanya yang berkaca itu menatap nyalang ke langit-langit kamar. Hye Hoon dapat melihat kilatan cairan bening yang menyusuri wajah tampan lelaki itu membuat hatinya semakin tersiksa.

 

“Ya. Aku banyak menyakitinya. Aku banyak membohonginya, sehingga membuatnya semakin menderita. Tapi, kau juga mungkin merasakan bahwa membohongi perasaan dari diri kita sendiri itu lebih sakit daripada apapun, rasa sakitnya benar-benar tak berperi”.

 

Kyuhyun melirik ke sampingnya, tempat dimana gadisnya itu berada, memberi sebuah senyuman pahit yang membuat keduanya merasakan rasa nyeri itu semakin perih. Kyuhyun mulai membuka satu persatu hal yang selama ini tak pernah diungkapnya, meyakinkan Hye Hoon bahwa bukan Cheonsa yang patut dikasihani, melainkan dirinya.

 

“Kau bisa membayangkan, setiap hari aku harus berpura-pura baik dan mencintai seseorang yang tak pernah singgah di hatiku barang sedetik pun. Aku selalu tersenyum untuknya setiap hari, bersikap seakan aku adalah suami paling bahagia di dunia ini karena memilikinya”.

 

Kyuhyun melanjutkan penuturannya, dengan suaranya yang semakin tersendat karena dia tak bisa menahan sesak di dadanya. “Ketika kau bertanya tentang mengapa aku tak pernah menyentuhnya, satu hal yang kutahu, kau pasti beranggapan bahwa aku tak ingin membuatnya sakit karena kondisinya yang lemah”. Kyuhyun tertawa miris sebagai jeda dari percakapan panjangnya itu, lalu melanjutkannya dengan kalimat yang membuat rasa bersalah Hye Hoon kepada Cheonsa semakin banyak.

 

“Bukan—bukan itu alasannya Hye Hoon~ah. Aku tak ingin menyentuhnya karena aku tak pernah mencintainya”.

 

Hye Hoon menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya sendiri, kepalanya bergerak tak beraturan mengusir kalimat-kalimat yang terdengar jahat di telinganya itu tadi. “Tidak—tidak Cho Kyuhyun. Kau tahu, sekarang aku terlihat seperti wanita rendah yang tega merebut suami dari seorang yang baik seperti Cheonsa. Aku ingin kau membalas cintaku, aku ingin kau juga menjauhi wanita itu karena aku terlampau cemburu ketika melihatmu bersikap manis kepadanya. Tapi, ini sungguh di batas wajar. Kau seharusnya lebih mencintainya karena kau meninggalkanku demi dirinya, Kyuhyun~ah. Tolong katakan itu”.

 

Kyuhyun menenangkan Hye Hoon yang histeris itu dengan memegangi kedua tangan Hye Hoon, menarik lengannya itu untuk membuka indera pendengarannya lalu menghujani mata cokelat kesukaannya itu dengan tatapan yang selalu sama.

 

“Dengar—kau tak harus menyalahkan dirimu sendiri karena hanya aku yang bersalah. Aku yang menyakiti kalian berdua, menyakiti diriku sendiri, hingga aku tak tahu apakah aku sanggup bertahan. Akan tetapi, aku hanya ingin menjadi pria jahat yang egois selama kita dapat bersama. Bisakah aku melakukan itu, Hye Hoon~ah?”.

 

“Aku bisa memenuhi permintaanmu dengan satu syarat. Bersikaplah seperti biasanya, kau harus memperlakukannya dengan manis, dan menganggapku tidak ada. Kau tahu, Cho Kyuhyun? Cheonsa Eonnie mencintaimu, jauh melebihi rasa cintaku padamu. Hanya kau-lah satu-satunya orang yang dia miliki di dunia ini. Kau lebih tahu hal itu dari siapapun”.

 

*

 

 

Astagaaaa ini apa? Kok second wife jadi aneh kayak gini-___- eh emang dari awalnya juga aneh ya nih ff. Apalagi ke bawahnya ituloh, aku gatau aku nulis apa kok berasanya aneh gitu ya? Pokoknya intinya adalah Kyuhyun cinta sama Hye Hoon, alesan mereka nikah itu sama karena mereka pengen extend waktu mereka bareng tapi setelah Hye Hoon tahu kalo Kyuhyun lebih cinta sama dia bahkan Kyuhyun gak cinta sama Cheonsa dia malah jadi merasa bersalah. Tapi sebenernya yang ngerebut Kyuhyun bukannya Cheonsa ya? Kenapa Hye Hoon yang jadi antagonis-__- yasudah aku aja ribet mikirin kenapa mereka jadi begitu hahaha next chap aku yakinnya sih seru karena pasti Donghae bakalan muncul bikin ini cerita makin ruwet. Thanks yang udah nunggu nih ff dari jaman buhun, aku juga tadinya gaakan lanjutin ceritanya karena udah gak mood eh kaliannya pada nagih aku jadi semangat(?) kalo sama aku harus rajin nagih deh nanti pasti dibikin.

Thank you for your support:*

Next aku ada project ficlet songfic dua lagu Kyuhyun yang ceritanya bener2 fav aku banget. Semoga mood dan Semoga cepet selesai. Dan losing you 4b……sedang dalam tahap awal ngerjain tuh ff….aku gak mau asal-asalan bikin ff itu jadinya emang susah kalo pngin yang bagus karena pada dasarnya ff aku gak bagus hahaha

Keep support Kyuhyun yaaa semoga dia menang award minggu ini aamiin….

Oke, see you next ff^^

192 thoughts on “Second Wife (Between Love and Guilty) – Scene 4

  1. Karena aku tidak ingin menyentuhnya yg sama sekali tidak aku cintai.. Dalam nih dalam artinya, emosinya kyuhyun disini aduh. Kayaknya banyakan sudut pandang dari hyehoon ya?

  2. Udah bingung deh thor mau ngomong apa, ini rumit, sakit, pedih, kesel jadi satu….
    Daebak thor 👍👍👍👍👍👍 ceritanya bisa bikin gue amburegeul begini 😭😭😭😭 banyakin cerita hurtny deh… Lebih semangat lagi nulisnya yak 😉😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s