I Choose To Love You [1 of 2]


 

Ganti judul. Gapapa kan yaaaa~~~:))))) Happy reading:) semoga happy ya bacanya haha

“Kau belum tidur?”

Hye Hoon tersentak dengan sapaan yang dilontarkan oleh suara seorang lelaki yang sangat dihapalnya. Lalu, dia tersenyum singkat di balik kaca besar di kamarnya yang menyajikan kerlap-kerlip lampu di sekitar Seoul, tanpa memalingkan wajahnya yang sejak tadi menatap lurus ke depan.

Tangan besar itu pun segera melingkar di pinggangnya, membuatnya tersenyum geli dengan tingkah lelakinya itu. Suaminya itu pun mendaratkan sebuah kecupan hangat di lehernya singkat kemudian menghirup udara dalam-dalam di balik lekukan lehernya, menyebabkan hidungnya susah untuk menarik nafas.

“Kenapa tidak menjawab, sayang? Kau memikirkan sesuatu?”

Wanita itu pun kembali menatap langit dengan pandangan menerawang. Ya, banyak sekali hal yang dipikirkannya saat ini. Sangat banyak hingga membuat otaknya meledak. Namun sayang, ddia sungguh tak bisa membagi ceritanya itu dengan siapapun, termasuk suaminya sendiri.

“Bagaimana aku bisa menjawab jika kau mengagetkanku dengan perlakuanmu yang seperti ini? Kau tahu, bahkan aku hampir saja sesak karena lupa bagaimana caranya bernafas. Lagipula, aku sangat terkejut kau pulang sesore ini. Tidak ada pasien?”

Lelaki itu—Cho Kyuhyun, tertawa mendengar sindiran halus yang dialamatkan istrinya padanya. Jam sepuluh malam. Itu termasuk pulang lebih awal untuk seorang dokter teladan sekelas Kyuhyun. Beruntungnya lelaki itu, karena Hye Hoon yang sangat pengertian tak pernah memintanya untuk menghentikan jadwal kerja gila-nya itu. Dan senyumnya mengembang ketika mengingat hal-hal kecil yang membuatnya semakin mencintai istrinya itu.

Kyuhyun semakin merekatkan jarak diantara mereka dengan menyimpan dagunya di bahu gadisnya itu. “Sepertinya aku sudah harus sedikit menyisihkan pasien-pasienku itu. Aku mempunyai tanggung jawab ganda sekarang. Ya, mungkin aku akan mengubah jam kerjaku demi menemanimu”.

Gadis itu membalikkan tubuhnya cepat, matanya yang membulat menyiratkan bahwa ddia merasa tak percaya dengan ucapan suaminya itu. Dia meletakkan tangannya di pipi Kyuhyun, menatap kedua mata bulat hitam itu lamat meneliti jika ada sebuah kebohongan yang tersirat di baliknya.

“Benarkah?”, ungkapnya takjub.

Kyuhyun hanya mengangguk singkat untuk meyakinkan istrinya, menarik tubuh Hye Hoon yang sedikit berisi itu ke dalam dekapannya. Dia tahu, betapa keadaan Hye Hoon yang berbeda sekarang ini memerlukan perhatian ekstra darinya.

Karena di dalam perut Hye Hoon saat ini terdapat janin yang menambah kebahagiaan yang didapat dari keluarga kecilnya.

***

Ranjangnya bergerak ketika Hye Hoon dengan tergesa berlari ke toilet yang berada di dalam kamarnya. Dia mengandalkan kekuatan kaki lemahnya untuk menapaki lantai secepat mungkin untuk segera mengeluarkan gejolak yang terjadi di perutnya. Kyuhyun yang terbangun karena keributan itu pun berjalan secepat kilat ke ruangan kecil di kamarnya itu dan memberikan Hye Hoon pijatan lembut di tengkuk istrinya itu.

Setelah Hye Hoon menyelesaikan rutinitas paginya semenjak dia hamil itu, Kyuhyun segera menuntun wanita hamil itu untuk duduk di pinggir ranjang mereka. Lelaki itu dengan telaten memijit dahi Hye Hoon karena wanita itu selalu mengeluh jika rasa mualnya itu seringkali membuatnya pusing.

Hye Hoon menatap wajah lelaki itu lamat. Dahinya yang berkerut menyiratkan bahwa lelaki itu khawatir karena keadaannya sekarang. Wanita itu tersenyum tanpa terlihat oleh Kyuhyun, membelai lengan besar yang sedang mengeluarkan magic-ya agar kondisinya lebih baik.

Gomawo, Oppa”, tandasnya membuka suara, merujuk kepada kegiatan Kyuhyun yang kini sedang memijat kepalanya. Tangan wanita itu terjulur ke atas, menghentikan gerakan teratur Kyuhyun di keningnya. Tubuhnya berputar sehingga dia bisa leluasa memeluk lelakinya, menyenderkan kepalanya di dada bidang Kyuhyun yang hangat.

“Tidak perlu berterima kasih. Kau berhak menerimanya. Justru aku ingin meminta maaf padamu, sayang. Aku tak pernah menemanimu ketika kau sakit seperti ini, aku selalu……….”

Ssst….”

Hye Hoon menempelkan jari mungilnya di depan bibir suaminya, tak ingin mendengar lebih lanjut tentang penyesalan yang dirasakan Kyuhyun. Tidak. Tidak perlu ada yang disesali. Meskipun pada kenyataannya kehidupan pernikahan mereka tak seindah yang dibayangkan gadis itu ketika dia masih belia, tapi dia sangat bahagia bisa berada di sisi lelaki itu.

“Lupakan, Oppa. Hidup bersamamu, meskipun kadang terasa sulit, namun aku merasa bahagia. Kau tidak harus selalu ada di sampingku karena aku tahu bukan aku satu-satunya prioritasmu. Banyak orang lemah yang membutuhkan bantuanmu, dan aku tidak boleh egois untuk mengekangmu dengan memaksamu untuk setiap detik menemaniku. Aku mengerti, Oppa. Asal kau tahu saja, kau selalu tersimpan disini, di hatiku”.

Hye Hoon meletakkan tangan besar Kyuhyun di tempat dimana hatinya berada, membuat lelaki itu tersenyum lega. Rasa bersalahnya pun menguap begitu saja, digantikan oleh perasaan bahagia yang membuncah karena dia sangat bersyukur memiliki istri yang sangat perngertian seperti wanitanya ini.

Lelaki itu mengecup puncak kepala gadisnya sekilas, lalu berkata lirih. “Kau yang terbaik. Aku mencintaimu, sayang”.

Hye Hoon melepas paksa pelukan mereka, berpura-pura kesal sambil membaui kaos putih polos yang dikenakan suaminya lalu mendorong pelan tubuh tegap suaminya sambil melontarkan tawanya yang khas. “Cepat mandi, Oppa. Aku bisa mual lagi jika menghirup aroma keringatmu yang sangat masam”.

Kyuhyun pun ikut tertawa, mengacak rambut panjang Hye Hoon yang masih berantakan. “Arasseo. Kau mau ikut mandi bersamaku?”

***

“Kopi?”

Kyuhyun mengernyit tak suka ketika secangkir kopi hitam tersaji di samping sandwich yang sedang dilahap istrinya. Lelaki itu sedikit marah dengan minuman berkafein yang dinikmati istrinya di pagi hari, sama ekspresinya ketika dia menemukan makanan hijau di menu paginya.

Ya, walaupun dia seorang dokter tapi dia masih alergi terhadap sayuran, dan mengganti asupan gizi dari daun-daun berklorofil itu dengan makanan lain yang memiliki manfaat yang sama.

“Kau tidak boleh minum kopi, sayang”, katanya sambil merampas cangkir itu dari meja makan. Dia yang baru saja duduk, kembali bangkit dari kursinya dan beranjak menuju dapur.

Tak berselang lama, Kyuhyun pun sudah kembali ke meja makan dengan segelas susu yang diletakkannya di depan istrinya. “Tadi kulihat isinya masih utuh. Jadi, selama ini kau tak pernah meminum susu hamil-mu, sayang?”, tanyanya menyelidik.

Hye Hoon mencebikkan bibirnya, tak suka minumannya ditukar begitu saja. “Tidak. Aku pernah mencobanya. Hanya saja…mencium baunya saja aku sudah mual. Aku berjanji, untuk selanjutnya aku akan meminumnya. Tapi, untuk hari ini….bolehkan aku meminum kopi, ya?”

Kyuhyun menggeleng pelan. Dia berjalan berputar kemudian berdiri di belakang kursi yang diduduki Hye Hoon. Lelaki itu mengangkat segelas penuh susu itu untuk dimasukkan ke dalam mulut istrinya, dengan sebelah tangannya menekan hidung Hye Hoon agar wanita itu tak dapat mencium bau dari cairan putih yang tak disukainya itu.

“Aku tidak mau, Oppa. Rasanya tidak enak”, keluhnya sekali lagi. Namun, Kyuhyun tak menghiraukannya dan memaksa Hye Hoon untuk meneguk cairan itu melewati kerongkongannya.

Setelah semuanya habis, Kyuhyun pun tersenyum senang. Dia seolah mendapat undian besar karena dapat memaksa Hye Hoon meminum salah satu nutrisi yang baik untuk janinnya. “See? Rasanya tak semengerikan itu, bukan?”

Hye Hoon kembali mendengus, kali ini disertai dengan bibirnya yang mengerucut. “Terserah kau saja, Oppa”.

***

Hari sudah beranjak siang. Keduanya memutuskan untuk menghabiskan waktu mereka di rumah. Ya, hari ini Kyuhyun sengaja membolos dari pekerjaannya yang sangat menyita waktunya itu untuk sekedar menemani istrinya.

Dia menepati janjinya untuk berubah. Toh, tak ada yang melarangnya untuk rehat sejenak dari pekerjaannya. Ayahnya pun berulang kali memintanya untuk mengambil jatah libur namun dirinya terlalu keras kepala. Sebagai calon pemilik dari Rumah Sakit yang sekarang masih dikelola oleh orang tuanya itu dia merasa harus paling bertanggung jawab. Itu sebabnya sejak selesai kuliah dia tak pernah menyia-nyiakan waktunya tanpa pergi ke gedung tempat bekerjanya itu.

Kyuhyun menempelkan dagunya di bahu Hye Hoon. Tangannya merengkuh tubuh gadisnya yang sedang membolak-balik majalahnya itu erat. Kyuhyun terkikik geli ketika melihat wajah Hye Hoon yang kusut karena kebosanan. Wajar saja, selama sekitar satu jam mereka tak melakukan apapun dan hanya berpelukan di sofa ruang santai. Kyuhyun mengajak gadis itu pergi, namun Hye Hoon menolak. Dia tak yakin dengan cuaca sepanas ini dia akan bertahan di luar, katanya.

Oppa…”, panggil yeoja itu dengan suara lirih. Hye Hoon meletakkan tangan kanan Kyuhyun di atas perutnya yang sedikit membuncit lalu menggerakkannya dengan teratur menciptakan gerakan seperti Kyuhyun-lah yang mengelus perutnya.

“Apakah kau bahagia dengan kehadiran bayi ini?”

“Tentu”, balas lelaki itu lugas. “Aku tak mungkin merelakan jadwal kerjaku untuk menjagamu jika bayi kita tak berharga untukku”.

Gerakan Hye Hoon terhenti ketika kalimat terakhir Kyuhyun terucap. Dia, kembali kepada kebiasaannya yang murung semenjak dia tahu bahwa dirinya tengah mengandung. Kyuhyun pun ikut terdiam, menyadari jika istrinya yang hangat dan periang itu kini telah berubah. Lelaki itu menganggapnya ini biasa terjadi pada wanita hamil. Mungkin hormonnya yang berpengaruh sehingga Hye Hoon nampak lebih sering kelihatan bersedih.

Oppa….”, sapa Hye Hoon dengan nadanya yang lembut. Ketika tatapan keduanya terkunci, Kyuhyun segera memiringkan kepalanya untuk meraup bibir istrinya yang berwarna merah muda berkat sapuan pemoles bibir dengan rasa cherry yang dipakainya. Lelaki itu mulai menghisap bagian atas dan bawah bibir Hye Hoon dengan lembut, tanpa ingin membuat wanitanya itu kewalahan dengan permainan bibir mereka.

Hye Hoon melepaskan diri dari sapuan bibir Kyuhyun karena pasokan oksigennya telah menipis. Kyuhyun mendekatkan jarak diantara mereka lagi, mengecup hidung istrinya sekilas hingga bibirnya merayap menciumi bagian leher wanita itu. Hye Hoon membalas perlakuan suaminya itu dengan erangan tertahan serta gerakan teratur di punggung Kyuhyun yang otomatis membuat gairah lelaki itu naik.

Kyuhyun merangkak naik, menatap kedua mata Hye Hoon dengan pandangannya yang berkabut. Lelaki itu mengelus pipi Hye Hoon lembut lalu berkata, “Bolehkah aku menyentuhmu? Aku berjanji, aku tak akan membahayakan bayi kita”.

***

Hye Hoon yang merasa bosan menunggu suaminya yang tak kunjung masuk ke kamar mereka pun mencari Kyuhyun ke setiap sudut ruangan di rumah mungil mereka. Setelah melihat pintu sebuah ruangan yang disulap menjadi perpustakaan kecil di rumahnya itu terbuka, dia menelan ludahnya kecewa.

Baru tadi pagi, Kyuhyun berjanji padanya jika dia akan lebih menghabiskan waktu bersama Hye Hoon dengan mengurangi jam kerjanya. Namun, ternyata janji itu terlupakan hanya dalam hitungan jam. Tiba-tiba dadanya terasa nyeri karena meskipun dia sudah membiasakan dirinya dengan sikap Kyuhyun, namun dia bukanlah seorang yang tidak peduli dengan perasaannya sendiri.

Akan tetapi, lagi-lagi, dia menyembunyikan rasa yang timbul di benaknya itu dengan sebuah senyuman kecil. Kakinya melangkah pelan untuk meredam bunyi sendal rumahan yang menjadi alas kakinya, menghampiri Kyuhyun yang sedang serius dengan buku tebal yang sedang ditekuninya.

“Hey, kau sedang apa?”, ucapnya lembut tepat di daun telinga Kyuhyun membuat lelaki itu sedikit tersentak. Tangan mungilnya terselip rapi di pinggang Kyuhyun, merasakan punggung hangat itu merapat dengan tubuhnya dengan memeluk lelaki itu dari belakang.

Kyuhyun meletakkan buku yang sejak tadi dipegangnya lalu menyentuh kepala Hye Hoon lembut. “Kau tidurlah, sayang. Ini sudah malam”.

“Aku belum mengantuk”, balas Hye Hoon dengan nadanya yang manja. “Lagipula aku ingin menemanimu. Kau sangat sibuk, ya?”.

“Hmm, sedikit. Aku harus menyiapkan bahan-bahan untuk penelitian baruku bersama Hyunri. Kami sempat meninggalkannya karena terlalu banyak pasien yang harus kami tangani minggu-minggu ini”.

Pandangan Hye Hoon berubah kosong. Dia bersyukur, karena saat ini posisinya yang berada di belakang Kyuhyun membuat prianya itu tak bisa menangkap perubahan raut mukanya. Dia melepaskan tangannya dari tubuh Kyuhyun, lalu beranjak mendekati meja untuk meneliti buku-buku dengan sampul monoton yang berada di atasnya.

“Wanita itu pasti setipe sekali denganmu. Kau pasti sangat senang bisa bekerja dengannya”.

Kyuhyun menganggukkan kepalanya tegas. Tangannya meraih istrinya itu ke dalam pangkuannya, lalu membenamkan kepalanya di perut Hye Hoon yang lambat laun semakin gemuk. “Tentu. Kami benar-benar cocok dalam segala hal, apalagi dengan background kami yang sama membuatku benar-benar nyaman untuk sharing dengannya”.

Plus, dia cantik juga. Kau tak akan pernah bosan melihat wajahnya”, terang Hye Hoon dengan memasang ekspresi tenangnya. Matanya menatap lurus ke dinding di balik kursi yang mereka duduki, sedikit waspada jika Kyuhyun tahu perubahan yang terjadi padanya.

Kyuhyun yang pada dasarnya adalah orang yang kurang sensitif itu tentu saja tak mudah untuk menebak perubahan yang terjadi pada Hye Hoon sekarang. Lelaki itu memejamkan kedua matanya yang lelah, lalu menjawab pernyataan Hye Hoon dengan gumaman pelan.

Hmm, kau benar”, ungkap Kyuhyun dengan suara seraknya.

Hye Hoon merapatkan kepala Kyuhyun di perutnya, mengelus puncak kepala suaminya itu dengan gerakan teratur, membantu Kyuhyun agar semakin terlelap dalam tidurnya. Dia tahu, sampai kapanpun dirinya tak akan bisa mengimbangi Kyuhyun. Mereka berbeda dalam banyak hal. Mungkin hanya karena cinta mereka yang dirasa besar, mereka dapat bertahan dengan menjalani ikatan selama tujuh tahun hingga sekarang.

Sepasang kelopak matanya mulai menutup, dalam hati dia memanjatkan seberkas harapan. Semoga tak ada lagi rahasia lain yang disimpannya. Dia juga sangat menginginkan agar pernikahan mereka dapat bertahan selamanya.

***

Drrrrttt

Bunyi getar dari benda elektronik yang berukuran sekitar lima inch itu menghentikan langkah cepatnya. Kyuhyun merogoh handphone berwarna putih itu, dan tersenyum kecil ketika dia menyadari jika alat komunikasi itu bukan miliknya. Beberapa bulan lalu Hye Hoon memang membelikan dua ponsel dengan tipe sama, hanya warnanya saja yang berbeda. Ponsel yang berada di genggamannya sekarang adalah milik istrinya, sedangkan miliknya yang tertinggal berwarna netral lainnya namun lebih gelap.

Tak sengaja, ibu jari Kyuhyun menggeser layar sentuh yang tak diberikan kode pengaman apapun itu. Seketika pesan yang diterima ponsel itu pun terbuka. Jantungnya berdebar seribu kali lebih kencang ketika rangkaian kata di dalam pesan itu dibacanya.

From : Donghae Oppa

Aku baru saja sampai di Korea, dan akan secepatnya menemuimu.

Lee Donghae. Salah satu kakak kelas mereka ketika keduanya menempuh pendidikan di Seoul National University. Donghae adalah sunbae istrinya, mereka sering dekat karena berada di jurusan yang sama. Sedangkan Kyuhyun dapat mengenal lelaki itu karena dulu pernah beberapa kali mereka bertemu saat Donghae membantu tugas Hye Hoon—yang saat itu masih tingkat satu— meskipun Kyuhyun tahu bahwa lelaki itu tak pernah bersikap seperti itu pada adik kelas wanitanya yang lain.

Sejak Donghae menyelesaikan gelar strata satu-nya, Kyuhyun tak pernah mendengar apapun lagi tentang Lee Donghae. Hye Hoon tak pernah menyinggung nama pria itu lagi di hadapannya. Kabar yang didengarnya dari sahabat-sahabat kuliahnya dulu, Donghae pernah melanjutkan kuliahnya di salah satu kota terkenal di Inggris, Manchester, lalu kembali ke Korea dua tahun yang lalu.

“Untung saja kau masih disini. Ponsel kita tertukar, Oppa. Tadi, salah satu team-mu mengingatkanmu untuk segera berangkat karena jadwal operasinya dimajukan”.

Suara nafas Hye Hoon yang terengah menyadarkan Kyuhyun tentang lamunannya mengenai pria yang mengirim pesan kepada istrinya itu. Dia mengambil ponselnya yang terulur ke arahnya, sambil menyerahkan kembali ponsel dengan pesan singkat yang membuatnya linglung itu ke tangan istrinya.

Kyuhyun mendekati Hye Hoon yang lebih terlihat pucat dari biasanya, memberi sebuah kecupan singkat di dahi wanitanya itu kemudian berkata lembut. “Tidurlah. Maafkan aku jika bunyi ponselku ini mengganggumu. Jangan lupa minum susu hamilmu. Kau tak boleh mengabaikan jam makan, karena bukan hanya kau yang membutuhkan nutrisi di tubuhmu. Aku akan kembali secepatnya. Aku mencintaimu, sayang”.

Hye Hoon mengamati punggung suaminya sampai sosok itu menghilang di balik pagar tinggi yang membatasi rumah mereka dengan jalan. Di satu sisi, dia sangat bahagia karena Kyuhyun begitu perhatian pada kondisi dirinya dan anaknya. Namun, di sisi lain, kepedulian yang diberikan Kyuhyun itu membuat sisi gelapnya semakin tersiksa.

Tanpa terasa, cairan bening yang selalu dapat dengan mudahnya disembunyikan dari suaminya itu kini muncul ke permukaan. Pipinya yang mulus itu kini terkotori oleh air mata yang bahkan tak pantas untuk dikeluarkannya.

Maafkan aku, Kyuhyun~a.

***

“Kau sengaja menghindariku?”

Lelaki tampan dengan rambut hitam berpotongan pendek itu bertanya kepada wanita di depannya dengan nada penuh selidik. Wajah sendunya yang biasanya dihiasi senyuman manis jika mereka bertemu, kali ini tak nampak. Tersirat sebuah kebingungan yang tergambar di wajah cantik dari seseorang yang duduk di seberang mejanya.

Wanita yang diketahui bernama Hye Hoon itu menundukkan kepala, mencoba menghindari mata indah yang dipusatkan lelaki itu pada wajahnya. “T-Tidak, Oppa. Aku tak pernah sengaja ingin menjaga jarak denganmu”.

“Lalu mengapa kau tak pernah menghubungiku? Kau tahu, aku juga berhak mengetahui kondisimu, serta kondisi—”

“Kami baik-baik saja. Kau tak perlu mencemaskan apapun, Oppa”, sambar Hye Hoon cepat. Wanita itu segera memotong apa yang ingin diutarakan Donghae, sehingga dia tak perlu membuka kembali lukanya yang sempat mengaga.

Donghae mengesap kopinya sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar, menatap iri saat matanya menangkap sepasang suami-istri yang sedang bermain-main dengan putra kecilnya. Tiba-tiba pikiran liarnya membiarkan imajinasinya tumbuh, membayangkan jika dirinya dan wanita yang dicintainya-lah yang berada di posisi itu.

Sial. Sekarang matanya mulai memanas karena khayalannya itu terasa begitu dekat untuknya.

Lelaki ber-iris mata coklat itu pun kembali memperhatikan objek cantik di hadapannya. “Kudengar lelaki autis yang gila kerja itu mengambil cuti dan menghabiskan waktunya bersamamu. Berhasil membuatnya berubah, eh?”

“Bukan”, ujar Hye Hoon dengan suaranya yang sendu. “Bukan aku yang menjadi alasannya untuk menemaniku. Anak ini…..”. Hye Hoon melihat sambil mengelus perutnya dengan bulatan cokelatnya yang berkabut karena titik-titik air mulai membasahi ujung matanya.

Dia melanjutkan ucapannya itu dengan suara serak. “Anak ini yang membuatnya berubah. Kau tahu? Dia menjadi sangat perhatian ketika dia tahu bahwa aku hamil. Dan aku bahagia, Oppa. Aku merasa ini adalah fase paling bahagia di hidupku, ketika akhirnya dia dapat menyadari kehadiranku”.

Hati lelaki itu tersayat ketika Hye Hoon mengungkapkan perasaannya. Cho Kyuhyun, dia menyakiti wanita ini begitu banyak. Betapa beruntungnya lelaki brengsek itu karena Hye Hoon mencintainya begitu dalam sampai rela disakiti seperti itu.

Sedangkan dia, yang selalu menawarkan kebahagiaan kepada wanita itu, hanya dapat menelan ludahnya pahit. Inilah takdir hidupmu yang harus kau terima, Lee Donghae.

***

Waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa sudah dua belas minggu berlalu seorang makhluk kecil itu sedang berkembang di rahimnya. Dia salah satu wanita hamil yang beruntung, karena bayi mungilnya itu tidak memberinya waktu yang sulit dengan meminta memakan ini-itu meskipun morning sickness di trimester pertama kehamilannya itu tak dapat terelakkan.

Saat ini, dia sedang berada di rumah sakit dimana Kyuhyun bekerja. Dia bertanya kepada resepsionis dimana poli kandungan berada, lalu menuju tempat itu dengan langkahnya yang ringan. Dia tersenyum ramah kepada setiap orang yang dilewatinya sehingga senyumannya itu menular. Hari ini, adalah pertama kalinya dia mengunjungi rumah sakit milik keluarga Kyuhyun. Dia sangat senang karena kondisi rumah sakit ini begitu jauh berbeda dari apa yang selama ini dibayangkannya.

Tak ada yang mengenalnya, tentu saja. Hye Hoon bukan orang yang ingin diperlakukan berbeda karena statusnya sebagai menantu dari pemilik K Medical Centre ini. Dia yakin Nyonya Cho pasti akan marah besar jika beliau mengetahui bahwa Hye Hoon diperlakukan sama seperti yang lain. Tapi, dia benar-benar lebih nyaman dengan keadaan seperti ini daripada mendapat perlakuan istimewa tapi menjadi perhatian semua orang.
Terdengar bunyi beep yang berasal dari ponselnya. Dia membuka pesan singkat itu dengan cekatan dan wajah yang sumringah ketika melihat nama Kyuhyun muncul di layar.

Maafkan aku. Aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan dengan Hyunri sehingga tidak bisa menemanimu check up. Tunggu aku di kafetaria. Aku akan menjemputmu jika sudah selesai. Aku mencintaimu.

 

Lengkungan manis di kedua sudut bibirnya lenyap seketika. Hye Hoon menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan desakan cairan bening yang kini berkumpul di ujung matanya. Kyuhyun melakukannya lagi. Dan dia, seperti biasanya, tak bisa melakukan apa-apa selain menerimanya dengan sukarela.

Cepat selesaikan pekerjaanmu, aku berjanji akan menunggumu sampai selesai. Aku sangat merindukanmu. Hwaiting, Oppa!^^

 

Selalu seperti ini. Hye Hoon terlalu sering memilih untuk menyimpan rasa sakitnya dan meyakinkan jika dia baik-baik saja dan selalu mengerti dengan keadaan lelaki itu. Padahal kenyataannya, tidak.

Dia bukan istri penyabar seperti yang suaminya kira.

Salah satu perawat dengan papan dada di tangannya itu menghampirinya dengan senyum ramah. “Apakah anda yang bernama Nona Choi Hye Hoon? Dokter mempersilahkan anda segera masuk ke dalam”.

***

Hye Hoon sekali lagi mengecek jam berwarna silver yang melingkar di tangannya dengan senyuman cerah. Tangannya yang sedikit kerepotan karena dua cangkir kopi panas dan kantong plastik yang berisi menu makan siang itu pun dibawanya dengan hati-hati.

Jantungnya berdetak lebih kencang ketika langkahnya semakin dekat dengan ruangan yang ditujunya. Hatinya berlonjak senang ketika membayangkan apa reaksi yang akan ditunjukkan suaminya. Tapi, sebagian dirinya merasa takut jika Kyuhyun malah tak menginginkan kunjungannya.

Hye Hoon menghembuskan nafasnya yang mulai tak beraturan ketika langkahnya terhenti di depan ruangan serba putih yang bertuliskan nama suaminya. Tangannya telah mengarah ke daun pintu, namun suara tawa dari sepasang lelaki dan wanita dari dalam ruangan itu membuat gerakan tangannya terhenti di udara. Dia tertegun di depan pintu itu sampai tepukan di bahunya membawanya kembali ke alam sadar.

“Apakah anda ingin menemui Dokter Cho, Nona?”, tanya wanita tua yang membawa bungkusan yang sama dengannya itu dengan nadanya yang sopan. Hye Hoon menggigiti bibir bawahnya, berpikir apakah dirinya harus mengatakan yang sebenarnya apa tidak.

Dan dia lebih memilih opsi kedua.

Hye Hoon bergerak mundur, mempersilahkan nenek itu mendekati pintu karena kasihan melihat wanita yang sebagian besar rambutnya telah memutih itu terlihat lelah karena berdiri terlalu lama. “Kurasa aku salah masuk ruangan”, jawabnya dengan senyuman lembut.

“Senang bertemu denganmu, halmoni”, pamitnya dengan suaranya yang dibuat seriang mungkin. Mereka saling melempar senyum lalu wanita tua itu membuka ruangan sehingga Hye Hoon dapat melihat siapa yang sedang terlibat dalam pembicaraan seru tadi.

Kau tahu seharusnya kau tak harus mengunjungi suamimu disaat dia sedang bekerja, Hye Hoon~ah.

 

***

 

Wanita itu berjalan keluar gedung, berpikir bahwa dia hanya butuh udara segar dan rasa sesak yang menghimpit dadanya itu akan lenyap dengan sendirinya. Hye Hoon mencari-cari bangku taman lalu duduk menatap orang yang lalu-lalang di sekitarnya dengan pandangan kosong.

Punggung tangannya terasa basah. Dia mendongak ke arah langit malam yang terlihat cerah dengan titik-titik bintang yang berkilauan, tak nampak mendung apalagi turun hujan. Dia lalu tertawa getir sambil menyeka cairan yang berasal dari matanya sendiri. Apakah dia sudah tidak menyadari matanya mengeluarkan air karena terlalu seringnya dia menangis? Ataukah hatinya sudah terlalu sakit sehingga dia bahkan tak bisa merasakan rasa sakitnya lagi?

Bukan. Hye Hoon bukannya tidak percaya dengan suaminya sendiri lalu menuduh lelaki itu berselingkuh di belakangnya. Kyuhyun bukan orang yang seperti itu, dia mempercayai hal itu dari siapapun. Dia hanya merasa jika dirinya tak berguna karena dia tak bisa membuat Kyuhyun tertawa karenanya.

Disentuhnya perutnya yang mulai membuncit itu dengan telapak tangannya sendiri. Anak ini adalah satu-satunya hal yang diyakini Hye Hoon dapat membuat Kyuhyun benar-benar merasa bahagia setelah bertahun-tahun mereka bersama.

“Hye Hoon~ssi?”

Suara bariton yang terdengar sangat maskulin itu mengembalikan pikirannya ke alam sadar. Hye Hoon menarik kedua ujung bibirnya yang dibalas dengan senyuman hangat dari lelaki itu. “Changmin~ssi? Kau bekerja disini juga?”.

Lelaki jangkung bernama lengkap Shim Changmin itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Ya, begitulah. Suamimu sangat membantuku dalam hal ini. Ngomong-ngomong, kau tidak masuk ke dalam? Udara saat ini sangat dingin dan kau juga hanya mengenakan pakaian tipis seperti itu. Mari, masuk ke dalam.”

Hye Hoon menahan lengan Changmin yang mulai menarik dirinya dari posisi duduk sehingga mereka berdua berdiri dengan lelaki itu yang berjarak satu langkah dihadapannya. “Tidak perlu. Sebentar lagi aku akan pulang”.

Shim Changmin melepaskan tautan tangan mereka lalu memasang wajah terkejutnya. “Oh? Kupikir kau sedang menunggu Kyuhyun. Yang kutahu hari ini dia tidak akan pulang karena menjalani piketnya dengan Hyunri. Apa perlu aku mengantarmu?”

Wajah Hye Hoon kembali murung ketika mengingat jika Kyuhyun melupakan janjinya, dan membiarkan dirinya menunggu suaminya itu tanpa kepastian. Berbeda dengan Shim Changmin, yang terlihat sangat perhatian walaupun profesi mereka sama. Dia berharap sahabat karib Kyuhyun itu dapat menemukan wanita baik yang kelak dapat menjadi Ibu dari anak-anaknya.

Wanita itu memaksakan senyumnya, kemudian lidahnya bereaksi untuk mengucapkan kebohongan lagi. “Kyuhyun sudah menyuruh seseorang untuk menjemputku. Kurasa kau juga harus segera kembali, bukan? Masuklah. Terima kasih atas perhatianmu, Changmin~ssi”.

***

Waktu berlalu begitu cepat. Namun nyatanya, Hye Hoon merasa jika setiap detiknya waktu bergerak begitu lambat. Dia merasa jika perutnya tak bertambah besar seperti kebanyakan wanita hamil lainnya, sehingga sampai sekarang pun dia merasa bahwa perutnya masih datar-datar saja. Padahal, dia sudah memasuki trimester kedua dari kehamilan pertamanya ini.

Hye Hoon meneguk susu hamil yang telah diseduhnya beberapa menit lalu itu dengan sekali teguk. Dia sudah terbiasa dengan cairan beraroma anyir itu karena tiap pagi suaminya merecokinya dengan minuman tidak enak itu.

Dia mengelus perutnya yang masih rata itu dengan penuh kasih sayang. “Ayahmu sangat menyayangimu, Nak”.

Drrrttttt

Suara getar di ponselnya itu menghentikan aktivitasnya. Dia melirik caller id yang tertera di layar, yang seketika membuat tubuhnya bergetar. Setelah pertemuan mereka sekitar empat bulan yang lalu, mereka sudah tak menjalin komunikasi seperti dulu. Tidak tahu siapa yang terlebih dahulu menghindar, tapi lelaki itu seakan mundur teratur dari kehidupannya.

Setelah dering kedua, Hye Hoon memberanikan diri mengangkat teleponnya. Dia menghela nafasnya sebentar lalu mengucapkan sapaannya. “Yoboseyo?”

“Hye Hoon~ah, ini aku”.

Wanita itu bungkam setelah mendengar suara merdu yang sekian lama tak didengarnya itu bernada sendu. Hye Hoon mungkin bisa pura-pura tak mengetahui bahwa Lee Donghae sedang merasakan penderitaan karena ulahnya saat ini. Namun, dia hanya tidak bisa. Dia tahu, Donghae tersakiti karena salahnya juga. Dan Hye Hoon tak bisa begitu saja lepas tangan mengingat ada sesuatu yang mengikat mereka berdua.

“Kumohon, jangan membuatku seperti orang jahat, Oppa”.

Terdengar isakan halus ketika Donghae menyangkal apa yang dikatakannya. Tuhan, apakah aku sekejam ini? batinnya. Setelah Kyuhyun sedikit demi sedikit merubah sikapnya, Hye Hoon melupakan semua yang telah dilakukan Donghae selama ini.

“Argh….perutku….”, ringis Hye Hoon ketika merasakan nyeri di sekitar abdomen-nya. Donghae berseru panik dan menanyakan kepada wanita yang dicintainya itu apa yang terjadi dengannya, namun Hye Hoon hanya menjawab dengan rintihan-rintihan yang semakin menjadi.

Hye Hoon terjatuh ke lantai dengan tangan yang masih memegangi perutnya. Dia berteriak kesakitan namun tak ada seorangpun yang menghampirinya.

Sedangkan di seberang sana Donghae tanpa pikir panjang segera berlari cepat menuju tempat parkir. Pikirannya berkecamuk sehingga dia tak memperdulikan saat tubuhnya berulang kali menabrak orang maupun tiang. Hatinya berulang kali berdoa berharap agar Hye Hoon dan bayi yang berada dalam kandungannya baik-baik saja.

Bertahanlah, Hye Hoon~ah. Kumohon.

***

Matahari mulai menenggelamkan dirinya di balik awan, menunjukkan bahwa hari sudah berangsur petang. Kyuhyun melepas jas putih panjang kebanggaannya dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya. Dia merasa senang ketika membayangkan bagaimana wajah istrinya saat melihatnya pulang nanti. Ada rasa nyaman yang kini menggelayutinya sehingga dia selalu ingin cepat-cepat pulang ke rumah.

Kyuhyun benar-benar merindukan Hye Hoon dan bayi mereka.

“Kau pulang cepat lagi?”

Hyunri menurunkan stetoskop dan membiarkannya menggantung di lehernya. Matanya melirik Kyuhyun dengan tatapan menyelidik sambil menarik salah satu bibirnya, bermaksud menggoda partnernya itu.

“Changmin sudah menyanggupi untuk menggantikan pekerjaanku di malam hari untuk beberapa bulan ini. Jadi, ya..begitulah”, balas Kyuhyun tanpa ingin menjelaskan lebih rinci.

“Aku jadi sangat penasaran dengan istrimu. Kapan kau akan mengenalkanku dengannya?”, ujar gadis itu memutar topik tiba-tiba. Raut wajah Hyunri berubah ketika pertanyaan itu terlontar dari bibir tipisnya. Kyuhyun pun terlihat sangat terkejut karena dia menghentikan kegiatannya yang sedang membereskan alat medisnya itu, namun hanya sebentar karena dia dengan cepat dapat kembali merespon perkataan gadis itu.

“Secepatnya”, ungkapnya pasti.

Kyuhyun memarkirkan mobil sedan kesayangannya dengan hati-hati, seakan tak ingin ada suara apapun terdengar dari dalam rumah. Dahinya sedikit mengernyit ketika matanya menangkap sebuah mobil berwarna hitam yang tak dikenalnya itu juga terparkir di halaman rumahnya.

Ah, mungkin noona-nya yang menyebalkan itu sudah pulang dan berniat mengunjungi istrinya. Pikirnya logis.

Kyuhyun tertegun ketika melihat pintu depan rumahnya tak tertutup rapat. Pemikiran buruk dengan segera mampir ke otaknya. Mencegah sesuatu hal yang tidak diinginkannya terjadi, dia pun menerjang pintu itu dan segera berlari masuk. Setelah itu, dia dikejutkan oleh kedatangan seorang pria yang sedang membopong istrinya untuk tertidur di sofa yang berada di ruang tamu.

Kakinya seakan melekat di lantai, memperhatikan pria lain mengelusi perut istrinya dengan sayang dengan matanya yang berkilat. Bisa saja dia menerjang tubuh namja dengan tinggi sekitar lima kaki itu dengan hantaman penuh emosi. Kyuhyun juga tak mengerti mengapa dia hanya berdiri terdiam melihat istrinya sendiri diperlakukan manis oleh lelaki lainnya.

“Kau harus sering check up, Hye Hoon~ah. Aku tak mau kejadian seperti ini menimpa kau dan bayi kita”.

Kata terakhir yang diucapkan pria itu terngiang di kepalanya. Tanpa sadar, Kyuhyun pun telah melangkah maju dengan langkah tersentak, dengan gerakan brutal menarik kerah kemeja lelaki itu dan memukulnya sekali hingga Donghae tersungkur ke lantai.

Kyuhyun melirik wanitanya dengan matanya yang memerah. “Apa yang dimaksud lelaki bajingan ini, Hye Hoon~ah?”

***

Sorry for typo(s) sama sekali gak dibaca lagi soalnya. Ff yang lain nyusul yaaah nanti kalo mood pun pasti post. Thank you visitors:*

83 thoughts on “I Choose To Love You [1 of 2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s