Second Wife (Between Love and Guilty) – Scene 3


 

Donghae kalap. Dia, yang selama ini selalu menjaga reputasinya sebagai seorang yang tak pernah bersikap brutal kini kalah hanya karena bertemu dengan seorang pria bernama Cho Kyuhyun. Lelaki tak tahu diri yang dengan lancangnya meminta anak dari gadisnya, setelah mencampakkan gadis itu demi wanita lain.

 

Donghae, yang selalu memendam perasaannya itu kini malah meneriakkan bahwa wanita yang merupakan teman kecilnya itu adalah gadisnya. Emosinya benar-benar tak terkontrol saat mengatakan hal semacam itu, dan dia harap Hye Hoon terlalu panik untuk mengingat ucapannya tersebut.

 

Kini, dia harus menelan ludahnya pahit ketika melihat Hye Hoon malah membela pria bajingan itu. Hye Hoon berjongkok untuk mengamati dengan teliti wajah calon suaminya yang membiru, kemudian melihat Donghae dengan tatapan tak bersahabat.

 

Donghae hanya bisa menarik nafas panjang. Berusaha memadamkan hawa panas yang kini menyelubungi seluruh tubuhnya. Dia memalingkan muka, tak sanggup lagi melihat Hye Hoon yang mengusap ujung bibir Kyuhyun yang berdarah dengan sentuhan lembut yang membuat dada lelaki itu terbakar.

 

Kepalan tangannya semakin kuat tatkala melihat gadis itu membopong tubuh Kyuhyun menuju ke dalam rumahnya. Gadis itu sama sekali tak melirik ke arahnya, mengabaikan dirinya yang bahkan keadaannya tak jauh beda dari keadaan Kyuhyun sekarang.

 

Omo! Apa yang terjadi? Donghae~ya, gwenchana?”, ujar Hyangsook cemas. Wanita paruh baya itu mengikuti arah pandang Donghae yang menatap lurus ke arah sofa, dimana terdapat Hye Hoon yang sedang menyibukkan diri dengan luka lebam yang ada di wajah Kyuhyun. Wanita itu mengelus punggung Donghae lembut, mencoba menenangkan anaknya yang sedang diliputi kesedihan itu penuh kasih sayang.

 

“Sebaiknya kita pergi sekarang, Donghae~ya

 

***

 

Mereka seperti terkena serangan bisu mendadak sampai tak mengucap sepatah kata pun selama kurang lebih setengah jam. Bahkan setelah memasuki kawasan rumah Kyuhyun, keduanya masih larut dalam diam. Mereka seperti orang asing yang tak pernah bertemu sama sekali yang terpaksa duduk dalam mobil yang sama. Hal ini tak jauh berbeda dengan kondisi yang terjadi beberapa hari lalu. Kesimpulannya, tidak ada perubahan yang signifikan meskipun dalam hitungan 48 jam ke depan mereka akan melangsungkan sebuah pernikahan.

 

Kyuhyun mematikan mesin mobilnya, kemudian hendak membuka pintu di samping kemudi sebelum Hye Hoon mencegahnya. Lelaki itu melirik tangan Hye Hoon yang mencekal ujung mantel yang dikenakannya, lalu dengan canggung gadis itu pun kembali menempatkan tangannya di atas pahanya.

 

“Soal tadi, kumohon jangan salah paham”, ujarnya sambil menarik nafas. Hye Hoon sempat menangkap ekspresi Kyuhyun yang menegang dari ujung matanya, tapi dia pun mengabaikannya dan kembali meneruskan apa yang ingin dibicarakannya. “Aku melakukan hal itu karena aku sedang marah dengan Donghae Oppa, jadi…..”

 

“Aku tahu. Aku cukup mengerti kau tidak akan pernah membelaku jika tak ada alasan lain selain yang kau sebutkan tadi”, potong Kyuhyun dengan nadanya yang datar, terkesan sekali jika Kyuhyun tidak peduli dengan apa yang dilakukan Donghae maupun Hye Hoon tadi.

 

Kyuhyun buru-buru meraih kenop pintu mobilnya, namun Hye Hoon mencegatnya lagi. Kali ini, gadis itu menggamit lengan Kyuhyun yang tertutup kemeja. Kedua matanya mencari bola mata Kyuhyun yang seakan menghindari tatapannya. Tubuh Kyuhyun pun serasa lebih kaku, mungkin karena sentuhan sederhana yang tak sengaja diciptakannya.

 

“Besok, orang tuaku datang. Mereka tak tahu alasan kita menikah. Mereka mengira kita melaksanakan pernikahan karena kita kembali menjalin hubungan romantis. Dia tak tahu tentang istrimu sama sekali. Jadi, kuharap kau dapat menjalankan peranmu dengan baik supaya mereka tak membatalkan pernikahan kita”.

 

Hye Hoon menaikkan salah satu sudut bibirnya, kemudian memandang Kyuhyun dengan tatapan sinis. “Aku yakin, kau sangat pandai berakting. Kurasa aku tak perlu khawatir”

 

Kyuhyun hanya terdiam, menanggapi sindiran yang diutarakan Hye Hoon itu dengan mengeratkan genggaman tangannya yang disimpan di balik saku mantelnya. Dia setuju apa yang dikatakan gadis itu. Dia memang memainkan perannya dengan baik, sampai-sampai Hye Hoon pun dengan mudah dapat terpedaya dengan lakon yang dimainkannya itu.

 

***

 

Donghae mengesap kopi panas yang didapatnya dari mesin otomatis sambil menyenderkan punggungnya ke salah satu tiang besar yang menyangga bangunan besar itu. Dia menatap nyalang sekitarnya, mengawasi Ibunya yang sedang menunggu seseorang itu dari jauh. Hingga mata hitamnya tak sengaja menangkap pemandangan yang mengiris-iris hatinya.

 

Disana, tak jauh dari tempat Eommanya berada, terlihat Hye Hoon datang bersama dengan lelaki yang tadi malam sempat mendapat bogem mentahnya. Dia meremas bungkus kopi yang tengah diminumnya, tak peduli jika tangannya melepuh karena cairan panas itu membasahi anggota geraknya.

 

Berbagai perasaan bercampur menjadi satu di tubuhnya. Ingin sekali rasanya melepaskan Hye Hoon dari genggaman lelaki itu, berbuat bodoh seperti yang dilakukannya kemarin, mengikrarkan gadis itu sebagai miliknya. Namun, sepertinya hal itu hanya akan dilakukannya sekali. Karena dia memilih untuk menjadi Donghae yang seperti dulu, Donghae yang selalu bersikap dingin dan seolah tak peduli dengan gadis itu, walaupun sebenarnya dia tidak ingin seperti itu.

 

Ibunya memberi isyarat kepadanya untuk segera mendekat ketika kedua orang yang ditunggu mereka datang, dan Donghae pun beranjak dengan terlebih dahulu membuang bungkus kopi itu tanpa membasuh lengannya.

 

Lelaki itu membungkukkan badannya sesaat setelah dia bertemu kedua orang yang dikenalnya sejak dirinya masih dalam usia kanak-kanak itu. Dia tak mengucapkan salam untuk menyambut kedatangan wanita dan lelaki paruh baya itu. Namun, kedua orang yang baru saja keluar dari pesawat asal New Zealand itu tersenyum maklum. Mungkin Donghae sedang lelah dengan pekerjaannya atau sedang mengalami kesulitan di kantor sehingga tidak bersikap ramah seperti Donghae yang mereka kenal.

 

“Donghae~ya, apa yang terjadi dengan tanganmu?”, seru wanita yang mewariskan mata cokelatnya kepada Hye Hoon itu dengan nada khawatir ketika melihat tangan Donghae yang berlumuran cairan coklat.

 

Lelaki tampan itu dapat menangkap tatapan yang sama ditujukan Hye Hoon padanya. Dia sedikit bernafas lega, setidaknya Hye Hoon masih peduli kepadanya. Dan dia merasa tak berguna karena dia pun tak dapat menunjukkan perhatian yang sama terhadap gadis itu.

 

Hubungan mereka merenggang, itu salahnya. Jadi, pantaskah dia marah jika sekarang Hye Hoon malah semakin mengabaikannya dan lebih memilih lelaki yang pernah mencampakkannya? Setidaknya lelaki itu lebih baik dari dirinya, yang hanya bisa menghindar dari orang yang sangat dicintainya dan mencintai gadis itu diam-diam tanpa ada seorang pun yang mengetahui perasaannya.

 

Penyambutan itu dilanjutkan dengan sebuah acara makan siang yang diadakan di salah satu hotel berbintang yang dimiliki oleh keluarga Choi. Donghae pun mencari seribu alasan untuk menolak undangan ini, karena yang dia tahu keluarga itu pasti akan membahas tentang pernikahan.

 

Namun, kedua orang tua Hye Hoon bersikeras mengikutsertakan dia dan Ibunya dalam acara keluarga ini. Mereka beralasan bahwa karena mereka tinggal seatap dalam satu rumah dalam waktu yang sangat lama menjadikan mereka adalah bagian dari keluarga Choi.

 

Itulah justru yang membuat Donghae tak suka. Kebaikan dan kenyamanan melimpah yang diberikan keluarga Choi itu membuat dirinya tak nyaman.

 

Donghae mengeratkan kepalan tangannya ketika dilihatnya lelaki bajingan itu membangun sebuah percakapan yang terlihat menarik dengan orang tua Hye Hoon. Gadis itu pun ikut dalam perbincangan itu, sesekali keduanya saling melempar tatapan penuh cinta yang disambut oleh senyum menggoda dari semua orang kecuali dirinya.

 

“Aku tak menyangka bahwa Hye Hoon dapat menikah dengan lelaki selain Lee Donghae. Dari dulu, kukira hanya dialah yang memiliki peluang besar untuk menjadi menantuku. Aku akan sangat senang jika Donghae-lah yang menjadi pendamping Hye Hoon. Tapi, apa boleh buat? Mungkin kalian tidak berjodoh, benar bukan?”

 

Perkataan itu sontak membuat Donghae kehabisan kata. Dia memang sedikit mencium gelagat aneh ketika dia ditawari untuk menjadi presiden direktur dari perusahaan keluarga milik Choi Tae Kwan itu. Pantas saja, sepertinya dia memang diharapkan menjadi pewaris utama Choi Corp. karena Hye Hoon yang tak mau mengikut sertakan dirinya dalam urusan perusahaan.

 

Tawa dari Tae Kwan itu memecah keheningan yang terjadi beberapa saat. Hye Hoon sempat menatap ke arahnya sekilas dengan mata cokelat favoritnya, yang membuatnya seakan menyesali apa yang kini dilakukannya.

 

Donghae hanya tidak bisa memperjuangkan cintanya. Dia tidak bisa memiliki Hye Hoon, bukan karena dia tak menginginkannya, namun karena dia merasa tidak pantas untuk gadis itu. Itulah mengapa dia rela melepas cintanya, bahkan sebelum cinta itu dapat tumbuh berkembang mengiringi kisah hidup keduanya.

 

***

 

I do”.

 

Matanya terpejam ketika kata itu terlontar dari bibirnya. Bahkan ketika doa yang dipanjatkan oleh pemuka agama di hadapannya itu terucap dengan sungguh-sungguh, dia hanya tergugu menahan tangisnya. Mungkin semua orang yang melihatnya akan merasakan jika hal ini wajar mengingat setiap pengantin wanita akan berurai air mata karena dia dapat menyatukan cinta dengan prianya di hadapan Tuhan.

 

Namun, tak semua orang tahu jika ada yang menangis di hari pernikahannya, merasa hatinya seakan disabit benda tajam karena tahu pernikahan ini tidak akan membuatnya bahagia.

 

Hye Hoon menoleh, ketika dirasakannya sebuah genggaman dari lelaki yang kini menyandang status sebagai suaminya. Dia menatap bola mata hitam yang pernah menjadi bagian favorit dari lelakinya itu kemudian menemukan tatapan sendu yang sarat akan penyesalan.

 

Tidak. Jangan terbuai dengan tipu daya-nya lagi, Hye Hoon~ah.

 

Keinginan namja itu telah tercapai. Bukankah menyakitinya adalah tujuan hidup lelaki itu? Bukankah menjadikannya seseorang yang tak bisa melakukan apapun selain menyetujui semua hal yang menyakitinya itu akan membuat Kyuhyun senang?

 

Lelaki itu menarik tangannya kemudian membuat tubuhnya berputar sehingga mereka berdua berdiri berhadapan. Terdapat wajah-wajah dengan raut wajah bahagia yang dapat ditangkapnya dari sudut matanya. Dan senyuman tulus dari Ahn Cheonsa malah mengiris hatinya tajam.

 

Dia bersyukur, setidaknya ada duka yang terpancar dari sebagian orang. Walaupun itu tak berasal dari wajah orang tuanya sendiri yang menganggap bahwa dirinya sedang berbahagia.

 

Kyuhyun meraih tengkuknya, kemudian mengecup bibirnya dengan hati-hati. Keinginannya untuk menjauh kemudian mencaci maki lelaki itu di muka umum hanya bisa digantikannya dengan isak tangis. Matanya basah. Dia merasa jijik pada dirinya sendiri karena lama kelamaan dia malah menikmati ciuman singkat itu dengan memejamkan kedua matanya, sembari mengelus pipi lembut lelaki itu dengan kedua telapak tangannya.

 

Dan hal yang tak pernah diketahuinya, bahwa lelaki itu pun menangis bersamanya. Karena dia tahu, keegoisannya ini akan semakin membuat Hye Hoon menderita.

 

***

 

Cheonsa meremas jemarinya yang kaku, saat matanya melihat suaminya memperlakukan wanita lain yang kini sudah sah menjadi istri lelaki itu mesra. Dia dapat melihat sorot mata yang walaupun terlihat kosong itu memancarkan binaran kebahagiaan ketika mata hitam itu melirik seseorang yang tak lepas dari pelukannya.

 

Tidak, Cheonsa~ya. Hentikan pemikiran bodohmu itu. Bukankah pernikahan mereka kau yang menginginkannya?

 

Dia hanya tersenyum kaku ketika gadis yang terlihat cantik dengan gaun putih panjangnya itu memandang ke arahnya. Hye Hoon pun tersenyum, seakan meyakinkan Cheonsa jika semua ini hanya kebohongan yang diciptakan mereka untuk membodohi para tamu undangan yang ikut berbahagia dengan pernikahannya dengan Kyuhyun.

 

Cheonsa menghembuskan nafasnya lega. Setidaknya pikiran buruknya tentang kedua insan itu, untuk saat ini, hanya sebuah kekhawatirannya saja.

 

“Cheonsa~ya……”, sapa suara lembut itu dengan keraguan yang tersirat dibalik panggilannya. Cheonsa menarik kedua sudut bibirnya ke belakang, seakan berlatih untuk tersenyum sebelum menaikkan dagunya, kemudian membalas panggilan itu dengan senyuman tak ikhlas.

 

Eomma”, jawabnya singkat. Dia menundukkan kepalanya sedikit tanda penghormatannya kepada Ibu mertuanya itu, lalu sekali lagi memamerkan senyum palsunya. “Maaf, aku baru menyapamu sekarang”.

 

Wanita paruh baya itu membalasnya dengan senyum. Namun, kekhawatiran terhadap satu-satunya menantunya itu terpampang jelas lewat kerutan di dahinya yang semakin dalam. “Tidak apa-apa, seharusnya aku yang meminta maaf karena terlalu sibuk dengan para tamu”. Setelah menyampaikan basa-basi itu, tatapan Nyonya Cho semakin melembut. “Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja?”

 

Tidak, aku tidak baik-baik saja.

 

Cheonsa kembali menerbitkan sebuah senyuman tipis. Dia mencoba untuk bersikap baik-baik saja, namun itu sangat sulit. Dia tak bisa berpura-pura di hadapan wanita yang dianggapnya sebagai Ibunya sendiri itu. Setitik air mata yang mati-matian ditahannya pun luruh juga. Walaupun senyuman itu tak pernah lepas dari bibirnya.

 

“Aku harus baik-baik saja, Eomma. Aku harus baik-baik saja”.

 

Nyonya Cho menenangkan gadis itu dengan tepukan lembut di bahunya. Dia merasa bersalah karena tidak bisa mengurangi beban yang menyiksa Cheonsa. Membagi lelaki yang dicintainya dengan wanita lain sungguh sangat tidak mudah. Dia sendiri pun jika tak akan sanggup mengalami hal seperti ini. Cheonsa akan merasakan penderitaan yang sama dengan yang dirasakan anak kesayangannya. Apalagi jika……………..

 

Apalagi jika Cheonsa tahu jika Hye Hoon adalah gadis yang selama ini dicintai suaminya.

 

Dia kasihan melihat keadaan Cheonsa sekarang. Namun, dia lebih tak tega jika Kyuhyun bertahan hidup dengan orang yang tak pernah dicintainya dengan melepaskan orang yang dicintainya begitu saja. Meskipun kelihatannya egois, tapi dia hanya ingin setidaknya anak lelakinya itu dapat mendapatkan kebahagiaannya.

 

“Kau harus percaya kepada suamimu, Cheonsa~ya. Dia, melakukan semua ini atas dasar keinginanmu juga”, ujar wanita yang hanya memiliki seorang anak lelaki tunggal itu.

 

Cheonsa meredam sakit yang kini menggerogoti dadanya itu, merasa tidak berguna karena dia meragukan kesetiaan suaminya. Bukankah Kyuhyun sudah berjanji padanya tidak akan jatuh cinta pada gadis itu? Bukankah Kyuhyun sudah meyakinkannya bahwa hanya dirinya yang dicintai oleh suaminya itu? Benar kata ibu mertuanya. Dia harus percaya kepada Kyuhyun, karena Kyuhyun tak akan mungkin mengkhianati cinta mereka.

 

“Ya, Eomma. Aku percaya padanya, melebihi apapun di dunia ini”, ungkap wanita itu tulus.

 

Kim Hana pun memberi anggukan singkat, mengiyakan apa yang dikatakan Cheonsa. Maafkan aku, Cheonsa~ya.

 

***

 

Hye Hoon menebar senyum lebarnya kepada setiap orang yang menemui keduanya untuk memberi ucapan selamat. Kakinya terasa pegal karena terlalu lama berdiri, padahal mereka hanya merayakan pernikahan di halaman belakang gereja tempat dilaksanakan pemberkatan bukannya mengadakan resepsi besar-besaran dengan mengundang tamu ribuan orang.

 

Dia tidak bisa membayangkan jika dia benar-benar mengiyakan apa yang menjadi rencana dari orang tuanya. Mungkin tulang-tulang kakinya patah karena sepatu hak tinggi sialan yang benar-benar menyiksa tubuh bagian bawahnya. Walaupun dia adalah seorang model, namun dia benar-benar tak suka memakai high heels hanya untuk menambah tinggi badannya.

 

Disaat kekuatan kakinya untuk menopang tubuhnya semakin menurun, dia tak sengaja menarik ujung jas hitam yang digunakan pengantin prianya. Astaga, memikirkan panggilan itu saja tak urung membuat pipinya merona. Apalagi, sekarang lelaki yang berdampingan dengannya itu saling beradu pandang dengannya, membuat lekukan wajah tampannya itu dengan jelas memanjakan mata cokelatnya.

 

“Kau lelah?”, bisik suaminya itu pelan namun tetap bisa terdengar oleh indera pendengarannya karena jarak mereka yang terlampau dekat.

 

Dia mencoba menetralkan degup jantungnya yang melebihi derapan kaki kuda yang berlari kencang itu sambil berusaha tak memamerkan wajah bodohnya. Hye Hoon memasang wajah datarnya lagi, membuang mukanya dengan pipi yang semerah tomat, lalu menjawab pertanyaan itu asal. “Sedikit”, jawabnya tak acuh.

 

Tubuh keduanya mendadak kaku saat wanita yang duduk di kursi rodanya itu menghampiri mereka. Hye Hoon pun dengan sigap melepaskan lengan Kyuhyun yang sejak tadi bersarang di pinggangnya. Cheonsa tertawa kecil melihat tingkah Hye Hoon, lalu meraih tangan gadis cantik itu dengan lembut.

 

“Selamat atas pernikahan kalian, Hye Hoon~ah. Kau tidak perlu malu, kalian adalah sepasang suami-istri, wajar saja jika kalian melakukan skinship seperti itu”.

 

Cheonsa menuturkan kalimat-kalimat itu dengan tenang, seakan perlakuan pengantin baru itu sama sekali tidak mempengaruhinya. Tapi Hye Hoon bukan wanita yang mudah dibodohi dengan sikap biasa yang ditunjukkan Cheonsa. Wanita itu sangat terluka, terlihat jelas dari tatapan sendunya ketika mata wanita itu bertumbuk dengan mata Kyuhyun. Dan lelaki itu pun membalas tatapan Cheonsa kurang lebih dengan jenis tatapan yang sama.

 

Hye Hoon hanya bisa menggigit bibir bawahnya sendiri, menahan rasa perih yang kini merenggut hatinya. Bukankah kedua orang itu yang menginginkannya berada di tengah-tengah mereka? Mengapa sekarang seakan gadis itulah yang merusak keutuhan rumah tangga kedua orang itu?

 

Jika mendengar isak tangis Cheonsa, itu sangatlah wajar. Meskipun Cheonsa menginginkan pernikahan ini, namun wanita itu tak bisa membohongi hatinya sendiri jika dia tak rela melihat lelakinya bersanding dengan wanita lain. Namun, melihat tatapan kesakitan yang ditujukan oleh Kyuhyun membuat Hye Hoon meringis. Kyuhyun—lelaki yang dicintainya itu, bahkan tidak menginginkannya. Kyuhyun terluka dengan pernikahan ini.

 

Gadis itu memandang sekitar dan melihat kedua orang tuanya yang tersenyum tulus di hadapan rekan-rekannya. Tegakah dia mengganti senyuman itu dengan tangisan ketika mereka tahu semua kebohongan yang diciptakannya?

 

Tuhan, mengapa keadaan ini menimpaku? Apakah aku tak boleh merasakan kebahagiaan yang pernah kucecap bersamanya dulu, Tuhan? Jika memang aku tak dapat kembali merengkuh kebahagiaanku bersamanya, bisakah kau menimpakan kebahagiaan itu untuknya, dan untuk orang-orang yang mencintaiku?

 

***

 

Aku sangat membenci angin malam. Sebenarnya bukan sepenuhnya keinginanku untuk tidak menyukai malam hari karena aku sangat senang melihat titik-titik terang yang menghiasi langit pada malam hari. Akan tetapi, sejak kecil, kondisi tubuhku selalu menurun jika aku keluar rumah pada malam hari tanpa baju tebal yang biasanya dipakai ketika musim dingin tiba, meskipun udara di luar hanya belasan derajat.

 

Aku mengingat ketika masih kanak-kanak, aku bersedia dipakaikan jaket yang terasa berat di tubuhku hanya untuk melihat bintang di atap dengan seorang lelaki yang dulu sempat menempati salah satu ruang di hatiku. Apalagi jika keluarga kami mengunjungi rumah neneknya di Mokpo, kami pasti berkeliaran di pantai ketika cahaya bulan yang indah menggantikan matahari.

 

Itu salah satu kenanganku dengannya yang tak akan pernah kulupakan sampai kapanpun. Bahkan ketika sekarang ketika kita sama-sama beranjak dewasa dan dia menjauhiku, meskipun aku tak tahu apa alasannya begitu, namun aku tetap menyayanginya seperti dahulu.

 

Aku tersentak ketika sesuatu yang berat menimpa pundakku. Refleks wajahku menoleh ke belakang, mendapati seseorang yang kini resmi menjadi milikku itu berdiri di belakangku dengan handuk yang melingkari lehernya merangkulkan sebuah selimut tebal untuk menghangatkan tubuhku.

 

“Cepatlah masuk ke dalam”. Dia memerintahkanku seenaknya dengan suara dinginnya, membuat amarahku meluap begitu saja. Saat aku hendak menegurnya karena tak suka dengan perilakunya itu, dia sudah melesat ke dalam kamar mandi.

 

Aku hanya mencebik kesal, kemudian berjalan masuk ke dalam kamar. Bukannya mendengarkan ucapan Kyuhyun tadi, namun aku memang sengaja berdiam diri di balkon kamar yang kami tempati itu karena menghindari lelaki itu. Aku tak nyaman berada di dekatnya.

 

Kurebahkan tubuh lemasku di ranjang, menatap langit-langit dengan mata nyalang. Otakku berpikir keras memikirkan bagaimana kisah kami akan berjalan selanjutnya. Dengan pernikahan ini, satu langkah untuk mencapai keinginan pasangan itu akan segera tercapai. Haruskah aku menyelesaikan semuanya dengan cepat dan pergi?

 

Tidak. Aku tidak akan menyerah semudah itu.

 

Aku masih ingin mengetahui, mengapa Kyuhyun melakukan semuanya ini padaku. Dia tak mungkin menceritakan semuanya langsung padaku, tapi aku sangat optimis jika lambat laun rahasia-rahasia yang coba disembunyikannya itu akan terungkap dengan sendirinya.

 

Entahlah. Aku sepertinya hanya berharap jika perlakuan manis Kyuhyun padaku itu menunjukkan jika dia masih memendam perasaan yang sama terhadapku. Mungkin aku naif, karena beberapa hari yang lalu aku bahkan mendengar dengan telingaku sendiri bahwa dia hanya mencintai istrinya sekarang.

 

Memang, cinta sepihak itu selalu menyakitkan.

 

Suara pintu berderik, menandakan bahwa lelaki itu sudah selesai dengan kegiatannya membersihkan diri. Aku menaikkan tubuhku menyender di ranjang, menatapnya yang sedang mengeringkan rambutnya itu sendiri terang-terangan.

 

“Mungkin tak baik membicarakan kejadian yang sudah berlalu lama”, ucapku membuka pembicaraan. Dia menatap mataku lekat dengan wajahnya yang bingung, namun tetap membiarkanku menyelesaikan apa yang ingin kuutarakan.

 

“Tapi, bisakah aku tahu mengapa kau meninggalkanku tanpa kabar waktu itu? Kurasa kau masih berhutang penjelasan padaku soal itu. Mungkin jika kau tak kembali, aku tak akan mengungkitnya. Namun, kau sendiri yang menemuiku terlebih dahulu. Jadi, bisakah kau menjelaskannya padaku? ”.

 

Dia terpaku di tempatnya. Memandang ke arahku dengan tajam, seperti marah karena aku memilih menanyakan apa yang seharusnya kulupakan dari kisah yang terjadi diantara kami. Kyuhyun tak menghiraukan pertanyaanku dan mencoba untuk keluar dari kamar kami, sebelum seruanku menghentikan langkahnya.

 

“Kau selalu lari, tapi pada akhirnya kau berbalik untuk menyakitiku”, ungkapku dengan senyuman yang hanya menggunakan salah satu sudut bibirku, merasakan dadaku begitu ngilu ketika kata-kata menyakitkan itu terucap.

 

Aku meraih satu bantal beserta selimut tebal yang diberikannya tadi lalu beranjak dari ranjang putih yang berukuran besar itu menuju sofa panjang yang terletak tak jauh dari tempat tidur.

 

“Tidurlah di kamar ini. Cheonsa Eonnie pasti sedih jika melihatmu tidur di luar, di malam pertama kita sah menjadi pasangan suami-istri”.

 

Aku tak menunggu jawaban ataupun tindakan yang dilakukannya setelah itu. Batinku yakin, jika Kyuhyun tak akan meninggalkan kamar ini sebelum pagi, karena kutahu dia tak akan pernah bisa mengecewakan Cheonsa. Ya, Cheonsa segalanya untuk Kyuhyun.

 

Dan aku, aku bukan siapa-siapa selain seorang wanita bodoh yang rela meminjamkan rahimku untuk mereka.

 

***

 

Cheonsa meraba tempat di sebelahnya. Kosong. Tidak ada siapapun yang menemani tidurnya. Yang tersisa pagi ini hanyalah bantal yang mengandung aroma khas suaminya. Tak pernah dalam hidupnya, setelah dia menyandang status sebagai Nyonya Cho, dia melewatkan malam sendiri tanpa lelaki yang memberinya marga baru itu.

 

Dia mulai membuka matanya, lalu dengan susah payah menegakkan tubuhnya hingga dia dapat duduk di atas ranjang king size bed di kamar utama rumah itu. Melihat ukuran ranjang yang terlalu besar untuk ditempatinya sendiri itu membuat air mukanya berubah sedih. Akan tetapi, dia menyemangati dirinya sendiri bahwa harus terbiasa untuk menempati ruangan besar ini sendiri mulai sekarang.

 

“Kau sudah bangun, sayang?”

 

Wajahnya berseri ketika dia menoleh ke sumber suara. Kyuhyun mendekati tempat tidur mereka dengan senyum khasnya, kemudian mengecup pipi wanita itu lembut seperti yang biasa pria itu lakukan.

 

“Aku sangat merindukanmu”, ucap lelaki itu manja. Cheonsa menanggapinya dengan tawa lebar dan pukulan ringan di lengan Kyuhyun yang membuat senyum mereka semakin terurai.

 

Lelaki itu meraih tubuh mungil Cheonsa ke dalam pelukannya, kemudian mengangkatnya tanpa aba-aba yang menyebabkan tangan wanita itu dengan refleks melingkar di leher prianya. Cheonsa melayangkan serangan pukulannya lagi, dan mereka tertawa bebas hingga mereka sampai di ruang makan.

 

Prang

 

Hye Hoon meringis kesakitan, tatkala air panas itu menyentuh kulit lengannya. Dia menundukkan wajahnya dalam, menyembunyikan air mata yang sepertinya sudah menggenang di pelupuk matanya. Tidak, dia menangis bukan karena luka bakar yang mungkin kini menyerangnya karena teh panas itu dapat mengakibatkan kulitnya melepuh, namun karena luka lama yang sejak dulu coba disembuhkannya dengan mudahnya terbuka sehingga lukanya kembali basah.

 

Apa yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Dia benar-benar tak sanggup melihat dengan mata kepala sendiri kemesraan yang dibuat mereka di hadapannya.

 

Gadis itu segera membereskan nampannya yang tergeletak di lantai. Untunglah, tak ada satupun cangkir yang pecah. Dia kembali membalikkan langkahnya menuju counter dapur, sampai suara lembut itu menyapa telinganya.

 

“Kau tidak apa-apa, Hye Hoon~ah?”, ujar Cheonsa memastikan. Kyuhyun hanya menatap punggung Hye Hoon dengan pandangan khawatir, tak berani mengucap sepatah kata pun karena tahu jika saat ini keadaan gadis itu semakin buruk karenanya.

 

Kyuhyun hanya berharap, semoga gadis itu dapat semakin membenci dirinya.

 

“Aku baik-baik saja, Eonnie. Aku hanya kehilangan keseimbangan tadi. Sebentar, aku akan buatkan teh baru untuk kalian”. Hye Hoon menjawabnya tanpa bersedia menoleh, karena tangannya justru sedang sibuk mengusap air mata yang tanpa henti membasahi pipinya.

 

Ini baru hari pertama, masih banyak hari-hari berikutnya yang akan dilewatinya dengan genangan cairan bening tersebut di pipinya. Mungkin terlalu dini untuk menghabiskan air matanya itu sekarang.

 

Sekitar tiga menit dihabiskan Hye Hoon untuk menyiapkan minuman hangat untuk mereka. Gadis itu bergabung di meja makan dengan kedua orang yang sejak tadi menunggu kedatangannya.

 

“Wah, kau menyiapkan semua ini sendiri, Hye Hoon~ah? Aku iri denganmu”, ujar Cheonsa dengan raut wajahnya yang sedih, membuat gadis itu merasa tak enak mengambil alih pekerjaan rumah tangga di rumah tersebut.

 

Mianhae Eonnie, aku………..”

 

Cheonsa memotong perkataan Hye Hoon dengan sentuhan lembut di lengan gadis itu. “Tidak apa-apa. Kau tidak melakukan kesalahan apapun”, ujar wanita itu dengan senyuman tulusnya.

 

Kyuhyun menikmati sarapannya dalam diam. Merasa canggung dengan fakta bahwa sekarang dia dikelilingi oleh kedua wanita yang bertatus sebagai pendampingnya. Dia tak menyangka jika hidupnya akan berubah seperti ini. Dia hanya menginginkan satu orang wanita yang menemani sisa hidupnya sampai dia menua kelak, namun kenyataannya berkata lain.

 

Lelaki itu tanpa sadar menatap wajah Hye Hoon intens. Gadis yang selama ini dirindukannya, kini ada di dekatnya tanpa bisa dijangkaunya. Dia egois, menawan gadis itu untuk disisinya, walaupun dengan waktu yang sebentar, hanya untuk menyakitinya.

 

Omelette buatanmu sangat enak. Em, sebenarnya Kyuhyun Oppa sangat menyukai omelette. Kebetulan sekali, bukan?”.

 

Kyuhyun melirik Hye Hoon yang duduk gelisah di tempatnya. Gadis itu hanya dapat menjawab pertanyaan Cheonsa dengan senyuman yang disunggingkannya dengan paksa, lalu beralih menatap Kyuhyun seolah meminta bantuan.

 

“Sarapanku sudah selesai. Aku akan bersiap-siap ke kantor”.

 

Lelaki itu pun segera meninggalkan ruang makan menuju kamarnya untuk bersiap-siap. Beberapa detik berikutnya, dia pun dapat mendengar derapan kaki teratur yang diyakininya bukan milik Cheonsa.

 

Lalu, dia terpana tatkala melihat Hye Hoon berdiri canggung di depan pintu kamarnya. Kyuhyun mencoba untuk memasang kembali wajah datarnya, pura-pura tak menghiraukan kehadiran Hye Hoon padahal jantungnya hampir meloncat kegirangan.

 

Kyuhyun meneliti kotak obat tanpa sepengetahuan Hye Hoon, berjalan cepat ke arah wanita itu dan menarik tangan mungil itu untuk mendudukkan Hye Hoon di pinggir ranjang yang berada di tengah-tengah kamarnya.

 

Gadis itu hanya terdiam. Perlakuan Kyuhyun yang tiba-tiba itu benar-benar membuat mulutnya terkunci. Apa yang dirasakan lelaki ini sebenarnya? Bukankah selama ini Kyuhyun selalu bersikap dingin padanya? Akan tetapi, perhatian yang Kyuhyun berikan kepadanya membuat harapannya sedikit demi sedikit bertambah.

 

Dengan hati-hati, lelaki itu mengoleskan salep di tangannya, meniupnya sesekali agar salep itu cepat kering, kemudian menatap lekat wajahnya. Hye Hoon hanya tertegun melihat wajah serius Kyuhyun yang sedang bertingkah layaknya dokter yang bisa mengobati luka luar di tubuhnya, namun sayang lelaki itu tak bisa mengobati luka di hatinya.

 

Hye Hoon tersadar, jika ini semua dilakukan Kyuhyun bukan karena lelaki itu perhatian padanya. Suaminya itu hanya kasihan padanya. Dia, hanya terbawa imajinasinya sendiri jika menyimpulkan bahwa lelaki itu mengkhawatirkannya.

 

Dia menarik lengannya kasar, merampas obat yang dipegang Kyuhyun lalu menggumamkan kalimat ketusnya.

 

“Aku bisa mengobatinya sendiri. Dan tolong bilang kepada isterimu kalau kau bisa menyiapkan semuanya sendiri. Aku tidak akan pernah sudi untuk membantumu menyiapkan perlengkapanmu setiap pagi”.

 

Hye Hoon meninggalkan kamar itu dengan cepat, dan Kyuhyun hanya tersenyum melihat tingkah kekanakan gadisnya itu.

 

“Aku juga mencintaimu, Hye Hoon~ah”.

 

***

 

Setelah kepergian Kyuhyun, rumah megah itu semakin terasa sepi. Hye Hoon duduk di ruang santai sembari menunggu Cheonsa mengambilkan cemilan untuk mereka. Wanita yang menggantikan fungsi kakinya dengan kursi roda itu meminta dirinya untuk mengobrol santai. Dan dia tidak punya alasan apapun untuk menolak. Selain karena dia tak memiliki acara apapun hari ini, dia juga tidak bisa menghindar karena mereka tinggal di tempat yang sama.

 

“ Jika Kyuhyun~ssi pergi, kau hanya tinggal disini sendiri, Eonnie?”

 

Cheonsa menjawab pertanyaan itu dengan gelengan pelan. “Perawat Jung akan datang setengah jam lagi. Dia adalah suster yang biasa merawatku sampai Kyuhyun Oppa pulang”, ucapnya dengan senyum keibuannya yang membuatnya semakin terlihat anggun.

 

“Hye Hoon~ah, berhentilah memanggil Kyuhyun Oppa dengan sebutan formal seperti itu”.

 

Gadis itu hanya tertawa membalas perkataan Cheonsa. “Aku masih belum terbiasa, Eonnie”, kilahnya cepat.

 

Cheonsa mengesap teh yang disajikan Hye Hoon itu sedikit. Sekali lagi, dia merasa semakin iri dengan gadis itu. Hye Hoon selain memiliki paras rupawan dan tubuh yang sempurna juga pandai dalam mengelola dapur. Sedangkan dirinya, apa yang bisa dibanggakan dari dirinya yang serba kekurangan? Mungkin hanya memiliki suami seorang Cho Kyuhyun-lah yang dapat dibanggakannya.

 

“Kapan orang tuamu pulang?”, tanya Cheonsa lagi. Dia hanya mencoba mencairkan suasana yang canggung diantara mereka berdua, dengan menanyakan hal yang sebenarnya tidak terlalu penting bagi dirinya.

 

“Sore ini. Aku akan mengantar mereka ke bandara nanti”.

 

Cheonsa meremas jemarinya, kebiasaan yang dilakukannya ketika dia sedang gelisah menghadapi sesuatu. Kali ini, dia seakan tertelan oleh rasa ingin tahunya yang bercampur dengan perasaan was-was karena dia takut jika pertanyaannya itu malah menjadi bumerang yang membuat dirinya hancur.

 

Tapi dia mencoba meredam kekhawatirannya. Tidak apa-apa. Dia akan baik-baik saja. Dia tak akan nekat mengakhiri hidupnya sendiri jika mendengar bahwa suaminya berusaha untuk menghadirkan keturunan untuknya, bukan?

 

Dia menghela nafasnya yang berat, sebelum kemudian memfokuskan matanya untuk melihat wajah Hye Hoon lekat. “Hye Hoon~ah, boleh aku bertanya sesuatu padamu?”, ucapnya hati-hati.

 

Hye Hoon yang kebingungan dengan pertanyaan tiba-tiba yang diajukan Cheonsa itu pun hanya bisa mengangguk ragu. “ Katakan saja, Eonnie~ya”.

 

Cheonsa terdiam sejenak. Dia memikirkan kata-kata yang pantas ditanyakannya kepada teman serumahnya itu, tapi sayangnya dia tak memiliki opsi lain selain mengatakannya dengan terang-terangan.

 

“Aku tahu ini tidak sopan, hanya saja….aku ingin tahu apakah kalian tidur bersama tadi malam? Maksudku…aku…aku hanya ingin memastikan jika kalian….bukan maksudku untuk mencampuri urusan kalian tapi aku hanya ingin tahu karena….”

 

“Aku bahkan belum pernah tidur dengan suamiku, Hye Hoon~ah”.

 

Mata Hye Hoon melebar. Tangannya meremas ujung gaun selutut yang saat ini digunakannya. Dia menatap lekat mata hitam legam milik Cheonsa untuk mencari setitik kebohongan yang diciptakan wanita itu di balik perkataannya tadi. Namun, dia tak menemukannya. Dan dia tahu, jika Cheonsa adalah gadis baik-baik dan bukan pembohong—seperti dirinya.

 

Mengapa Kyuhyun melakukannya? Mengapa lelaki itu, bahkan tidak menyentuh istrinya sendiri, dan rela menikahinya hanya untuk mendapat keturunan dari wanita lain, yang tentunya suatu saat akan ditidurinya?

 

-TBC-

 

Masih inget gak sama aku???????????? hahaha

long time no see~~~~

terlalu asyik bertapa sampe long hiatus…

eh ya ternyata red lips banyak sekali peminatnya ya(?) tadinya sih mau bikin yookyung jadi lead actress gitu, tapi pas hye hoon muncul jadi galau deh-__- kyuhyunnya lagi nyebelin disitu labil banget kayak gue *eh

see you next time byebye…

*dariorangyanggagalmoveondarikyuhyun

 

194 thoughts on “Second Wife (Between Love and Guilty) – Scene 3

  1. Aneh ya? Kenapa sih itu si kyu? Kalau emang enggak suka sama cheonsa kenapa nikah sama dia? Terus malah nyakitin hye hoon kalau sebenernya dia itu cintanya sama hyehoon?

  2. Im shocked thor 😱😱😱😱😱 … ini gimana maksudnya kyuhyun nggak cinta sama cheonsa? Trz ibunya kyuhyun juga yahh begitu ngomongnya T.T …. Trz lagi cheonsa bilanh kyuhyun sama dia nggak pernah ngapa ngapain 😂😂😂😂 ….
    Maunya apa sih bang???? Bikin bingung perasaan aja 😢😢😢😢💔💔💔

  3. Terkejut kenapa kyuhyun tiba tiba bilang cinta ke hyehoon i mean He still loves her??? Jadi sebenernya siapa si yg dicintai kyuhyun?

    Kasian cheonsa, dia ga salah kan. alasannya masuk akal.
    Klo jadi hyehoon sakit tp aku pikir lebih sakit jd cheonsa, iiih udah nangis darah karena dimadu.

  4. dihari pertama menjadi seorang istri hye hoon harus melihat pemandangan yg mengiris hati nya kalau gue jd hye hoon udah minta cerai deh dari pada harus makan hati mulu kan gini jd istri ke2 tuh harus ngalah mulu
    sebenernya kyuhyun tuh cintanya ke siapa si?

  5. Kalau gk cinta knp kyu sm cheonsa menikah?? Fktor ksian kah?? Atw jng” kyu yg menyebabkn cheonsa lumpuh jd kyu brtnggung jwab sm hidup cheonsa??
    Tp knp kyu gk mikirin prsaan hyeyoon?? Atw kyu brpikir kalo dy ngingalin hyeyoon msi ad donghae yg siap mnjga hyeyoon???

  6. jdi si cheonsa belom pernah ditiduri sma kyu…knpa coba??*pdhl w udh tau alsan y kkkk😀…
    jdi si kyu cma pura2 cnta sma cheonsa?tpi si kyu acting bgus bnget ..dia msh sngat mncintai hye hoon tpi mlah buat si hye hoon tmbah mmbenci y…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s