Red Lips (II)


Untuk Link Part 1, bisa cari di Library. Happy Reading^^

Tangannya yang gemetar membersihkan pecahan perabotan yang sempat terlepas dari genggamannya saat melihat perlakuan kekasihnya yang sangat tak pantas tadi. Lelaki itu bahkan sepertinya lupa dengan perintahnya beberapa menit lalu untuk membawakan kopi ke ruangannya, dan membiarkannya melihat pemandangan yang membuat dadanya sakit.

 

Tak ada perlakuan yang sepantasnya diterima Hye Hoon mengingat bagaimana bentuk hubungan mereka. Bukannya membantunya membereskan lantai marmer ruangannya yang berantakan, Kyuhyun malah tak memperdulikan kehadirannya, dan melenggang pergi dengan gadis seksi yang sempat dicumbunya.

 

Setelah suara pintu ditutup terdengar, gadis malang itu pun segera menyelesaikan apa yang memang menjadi salah satu pekerjaannya, dengan air matanya yang terurai. Sungguh ironis. Dia, yang selama ini bertahan di sisi Kyuhyun walaupun seberapa banyak lelaki itu mengacuhkannya, dengan semua orang yang bekerja di kantor ini membenci dirinya, dengan mudahnya dikhianati oleh lelaki itu.

 

Hye Hoon tahu, dari awal hubungan mereka tak akan pernah berhasil. Ketimpangan derajat sosial dirinya dan orang nomor satu di S company ini membuktikan segalanya. Kyuhyun tak pernah memperjuangkannya, sedangkan dia, harus berjuang sendiri demi mempertahankan kelangsungan hubungan keduanya.

 

Tatapan iba diterimanya bertubi-tubi sesaat setelah dirinya keluar dari ruangan kekasihnya itu. Beberapa orang membicarakan bagaimana sempurnanya pasangan yang baru saja keluar dari ruangan itu, dan terang-terangan membandingkan dirinya, yang tentu saja tak sebanding dengan tampilan gadis cantik yang sangat berkelas itu.

 

Salah satu pembicaraan yang menyangkut tentangnya membuat hatinya tersayat. Mungkin karena perkataan itu benar adanya, ditambah dengan hinaan kasar yang dialamatkan padanya.

 

“ Tak ada seorang cinderella di zaman modern seperti ini, pangeran tampan pasti akan lebih memilih putri cantik daripada upik abu yang kotor. Sadarlah Choi Hye Hoon, kau tak pantas bersanding dengannya”.

 

***

 

“Aku wanita ke berapa?”, sahut gadis itu ingin tahu. Kyuhyun tak menjawab, namun dia cepat-cepat meletakkan sendoknya sehingga terdengar bunyi gemerincing yang membuat Yoo Kyung terkaget dibuatnya.

 

Lelaki itu terlihat marah, pikirnya logis.

 

Jika ini bukanlah sebuah restaurant italia yang terkenal dengan pengamanannya yang super ketat, Yoo Kyung yakin lelaki ini sudah mengamuk padanya dengan memecahkan segala barang pecah belah yang ada di sekitarnya.

 

Yoo Kyung dapat mendengar geraman pelan Kyuhyun ketika dia selesai membersihkan mulutnya.

 

“Aku mengajakmu untuk makan, bukan untuk bicara”, desis Kyuhyun tak suka.

 

Yoo Kyung mendekatkan wajahnya di depan lelaki itu, kemudian berbicara dengan suaranya yang serak. “ Chill down. Aku hanya bertanya karena sangat penasaran. Bagaimana kau bisa menjalin hubungan dengan wanita golongan rendah seperti itu? Tapi, kau tak merasa bersalah membawa wanita lain ke ruangan kerjamu? Aku benar-benar ingin tahu, sudah berapa kali kau melakukan itu di depannya?”

 

Kyuhyun membuang mukanya, menjauhkan jarak tubuhnya dengan Yoo Kyung. “Bukan urusanmu”, balasnya sinis.

 

Dari awal, Yoo Kyung memang menemukan sesuatu yang tidak beres terjadi antara penguasa S Company dengan bawahan yang merangkap sebagai kekasihnya itu. Tadinya, kedatangannya ke perusahaan milik Kyuhyun hanya ingin membuktikan ucapan wanita bernama Haneul itu sekaligus untuk memulai pergerakannya untuk mendekati Kyuhyun.

 

Lelaki itu…walaupun omongannya seringkali seakan menyukai godaan yang ditawarkan Yoo Kyung, tapi sebenarnya Kyuhyun tak semudah yang dia pikirkan sebelumnya.

 

Hubungan Kyuhyun dengan gadis tukang sapu itu bukan dilandasi atas rasa cinta atau apapun itu. Dan Yoo Kyung patut bersuka ria karena itu.

 

***

 

Pertama kalinya gadis ini meronta ketika Kyuhyun menyeret tubuhnya menuju mobil mewah milik lelaki itu. Semua pegawai yang baru saja pulang itu memperlihatkan mereka berdua dengan terang-terangan, karena memang mereka selalu menjadi topik terhangat setiap waktunya, lalu mereka saling berbisik-bisik.

 

Jika dulu Hye Hoon lebih suka menutup telinganya untuk tak mendengarkan apa yang diomongkan orang-orang tentang mereka, kali ini dia membuka lebar kupingnya. Dia ingin tahu, seberapa parahnya orang-orang itu menghina dirinya dan mengagungkan Kyuhyun.

 

Setelah mendengar semuanya, dia sedikit merasa menyesal. Karena dia malah semakin merasa tertekan dengan jalinan diantara mereka, yang hanya menimbulkan rasa sakit hati di pihaknya saja. Kata-kata mereka sungguh kejam, menghujatnya dengan caci maki yang benar-benar tak manusiawi, seolah menganggap Hye Hoon bukanlah seorang manusia lagi.

 

Sudah cukup, batinnya berteriak.

 

Gadis itu mengumpulkan seluruh tenaganya, kemudian membanting lengan Kyuhyun yang menariknya untuk segera duduk di jok depan mobil berwarna merah itu dan mendorong lagi pintunya sudah terbuka.

 

“Aku bisa pulang sendiri”, pintanya lembut. Suaranya melemah karena memang dia tak punya tenaga yang tersisa untuk menghadapi Kyuhyun. Sejak siang tadi, persendiannya benar-benar kaku. Dia tak menyangka lelaki itu bisa melakukannya lagi. Dia bahkan tak bisa menghitung berapa banyak wanita yang masuk ke ruang kerja Kyuhyun selama mereka bersama.

 

“ Aku tak peduli kau suka atau tidak. Yang jelas kau harus pulang denganku”, balas pria itu dingin.

 

Hye Hoon berlalu, mencoba tak menghiraukan Kyuhyun yang kini berada semakin jauh di belakangnya. Dia menahan diri untuk tak menoleh ke belakang, mengharap Kyuhyun berlari mengejarnya dan menyeretnya ke tempat dimana mobil mewah milik lelaki itu berada. Namun, harapan hanya tinggal harapan. Hye Hoon tahu Kyuhyun tak akan pernah melakukannya.

 

Beberapa menit dihabiskannya untuk berjalan dengan langkahnya yang gontai menuju halte bus yang terletak lumayan jauh dari kantornya. Dia menahan butiran air mata yang terasa sesak memenuhi kelopak matanya, berusaha untuk menyimpannya supaya tidak keluar.

 

Setelah sampai di tempat tujuannya, dia pun hanya duduk terdiam. Tak menghiraukan orang-orang yang terlebih dahulu memasuki bus karena dia hanya ingin sendirian, untuk saat ini. Dia merenungi hubungannya dengan Kyuhyun yang tak pernah berjalan seharusnya. Yang dikatakan orang-orang itu benar, karena derajat mereka berbeda sangat jauh, keduanya tak bisa menjalani hubungan layaknya pasangan normal.

 

Suara klakson yang ditekan bertubi-tubi membuat pikirannya kembali ke dunia nyata. Dia mendongak, mendapati pria berwajah dingin itu menatapnya tajam dari balik kaca mobilnya yang gelap. Dari sorotan matanya yang menyala-nyala, Hye Hoon dapat melihat bahwa lelaki itu sedang marah. Dengan menggerakan kepalanya, Kyuhyun menyuruhnya untuk segera memasuki mobil sedan keluaran terbaru itu. Dan Hye Hoon terlalu takut untuk menolak.

 

Perjalanan di mobil terasa membosankan. Hye Hoon lebih memilih untuk memperhatikan jalanan daripada melihat wajah Kyuhyun yang tak bersahabat. Hye Hoon bodoh sekali. Bukannya seharusnya saat ini dia yang marah karena kekasihnya itu dengan beraninya kembali membawa wanita lalu mencumbunya di ruang kerja? Mengapa yang terjadi sebaliknya, malah lelaki itu yang mendiamkannya karena dia hanya tak mau diantar pulang?

 

Chogi, Kyuhyun~ssi. Kurasa mulai saat ini kita tak perlu bertemu lagi”.

 

Kyuhyun menaikkan alisnya, menjawab pernyataan gadis itu dengan kalimat singkat. “Setiap hari kita akan bertemu di kantor”

 

“Aku akan mengundurkan diri dari perusahaanmu”, jawab Hye Hoon sambil menelan ludahnya yang terasa pahit. Kyuhyun sejenak tertegun hingga nyaris kehilangan kendali atas gagang setir yang digenggamnya, mencengkeram benda itu keras sehingga urat-urat di punggung tangannya terlihat.

 

Kenapa memikirkan Hye Hoon akan pergi dari sisinya membuatnya merasa marah? Sialan kau, Cho Kyuhyun.

 

***

 

Kyuhyun tetap bersikeras masuk ke dalam rumah—atau mungkin dapat dikatakan sebuah gubuk karena ukurannya tak lebih luas dari kamar mandi di kamarnya— milik gadis itu walaupun Hye Hoon secara terang-terangan menolaknya.

 

Lelaki itu terbatuk-batuk sesaat setelah kakinya melangkah melewati pintu yang bahkan tingginya hanya sebatas pundaknya. Hye Hoon yang semakin khawatir pun menyuruh Kyuhyun keluar lewat tatapan matanya, namun Kyuhyun hanya mengangkat telapak tangannya lalu menggumamkan bahwa dia baik-baik saja.

 

“ Tunggu sebentar, aku akan membawakanmu minuman”.

 

Kyuhyun bangkit dari kursinya, menahan pergelangan tangan gadis itu agar tak beranjak dari ruangan sempit yang disebutnya ruang tamu itu.

 

“Aku hanya sebentar. Bisakah kau menunjukkanku dimana kamarmu?”

 

Seketika warna kedua belah pipi Hye Hoon pun merona. Bukan karena pertanyaan Kyuhyun yang tak wajar itu membawa pikirannya kemana-mana, melainkan karena sentuhan lembut tangan lelaki itu di indera perasanya. Sungguh, dadanya berdegup kencang karena rasanya sudah lama sekali dia tak merasakan kulit mereka bersentuhan. Karena ini masih di pertengahan tahun dan tak pernah ada acara pesta apapun untuk dihadiri keduanya.

 

Ya, mereka hanya berkencan di pesta-pesta saja. Selebihnya, tidak pernah.

 

Hye Hoon yang sudah terlalu lama terbawa dalam lamunannya pun melepaskan pegangan tangan Kyuhyun dengan tangannya yang bebas. Dia kemudian menuntun Kyuhyun untuk masuk ke kamarnya, tanpa melepaskan matanya dari wajah lelaki itu.

 

Gadis itu benar-benar lupa karena dia memasang foto Kyuhyun yang didapatnya dari internet di atas nakas di sebelah tempat tidurnya. Dia menutup wajahnya malu ketika Kyuhyun mengambil figura itu kemudian menunjukkan senyumnya yang misterius.

 

Untungnya, itu tidak berlangsung lama sehingga Hye Hoon dapat menyelamatkan bentuk wajahnya yang semerah tomat. Namun, dia terkejut ketika Kyuhyun tanpa aba-aba membuka lemarinya, tanpa bisa dicegahnya.

 

Kyuhyun terlihat mengacak-acak isi lemarinya, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Lelaki itu melemparkan beberapa potongan baju milik Hye Hoon ke atas tempat tidur, membuat Hye Hoon berseru panik.

 

“ A-Apa yang anda lakukan, Sajangnim?”

 

Lelaki yang dipanggilnya Sajangnim itu tak menjawab. Hye Hoon hanya dapat berdiri bagai manequin dengan matanya yang memutar bingung ketika Kyuhyun mencobakan beberapa baju di tubuhnya. Kyuhyun sempat menarik rambutnya frustasi, yang bisa ditebaknya karena lelaki itu tak pernah menemukan satu-pun baju yang cocok untuk dirinya.

 

Namun, lelaki itu pada akhirnya menetapkan pilihannya juga. Diserahkannya gaun selutut berwarna merah pudar dengan potongan sederhana itu ke tangan Hye Hoon, yang disambut gadis itu dengan matanya yang bergerak keheranan.

 

“Pakai itu”, ucap Kyuhyun memerintah, seperti yang biasa dilakukan lelaki itu ketika di kantor. Hye Hoon hanya menunduk, kemudian melangkah ragu ketika Kyuhyun memutar tubuhnya.

 

Hye Hoon mendesah panjang. Malam ini tentu akan menjadi malam yang panjang untuknya.

 

***

 

Gadis yang memakai gaun berwarna merah yang dipilihkan oleh kekasihnya itu kini memainkan jari-jarinya yang kian memutih, sedangkan matanya bergerak gelisah menatap keadaan di balik kaca mobil yang menantinya.

 

Dia tahu, itu bukan merupakan hotel maupun gedung mewah yang biasanya menjadi acara tempat pesta-pesta perusahaan diadakan. Itu adalah sebuah mansion megah yang mungkin semua orang di negeri ini mengetahui siapa pemiliknya.

 

Hye Hoon tak peduli, walaupun lensa kamera yang bertebaran membidik wajah cemasnya di balik kaca mobil Kyuhyun yang gelap. Dia benar-benar tak bisa mengendalikan rasa takutnya sekarang. Apalagi, ketika lelaki yang duduk di sebelahnya itu bersiap untuk membuka pintu mobilnya, yang ditahannya dengan panggilan lembut.

 

Sajangnim.”, ucapnya pelan.

 

Kyuhyun mengurungkan niatnya untuk membuka pintu, kemudian menolehkan wajah ke arahnya. Hye Hoon yang tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya itu tak menyadari jika dadanya naik turun dengan cepat. Pelipisnya pun kini dibanjiri oleh keringat, meskipun Kyuhyun belum mematikan mesin mobilnya.

 

“Bolehkah jika aku tunggu disini saja?”, lanjutnya dengan penuh permohonan.

 

Kyuhyun tak menggubris perkataannya. Lelaki itu malah keluar dari mobilnya secepat kilat, kemudian berjalan memutar untuk membukakan pintu mobil itu untuknya. Seketika, kilatan blitz itu menyerang bertubi-tubi ke arah wajahnya yang sebisa mungkin dihalanginya dengan menundukkan wajah dan menggunakan tangannya kirinya untuk menutupi matanya.

 

Hye Hoon terperangah ketika tangan besar itu menjulur di depannya. Dia bahkan tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya ketika lelaki itu membubuhkan seulas senyum di wajah kakunya.

 

Pengaruh lelaki itu benar-benar dahsyat. Bahkan, tanpa disadarinya dia telah menggenggam tangan Kyuhyun sambil tersenyum hangat, membalas senyuman yang ditunjukkan lelaki itu kepadanya.

 

Keduanya memasuki rumah mewah itu dengan tangan yang bertaut, dengan ratusan pasang mata yang mengamati keduanya dengan tatapan berbeda. Kebanyakan, mereka tak suka dengan pasangan yang berbeda strata sosial itu. Namun, berbeda dengan seorang wanita yang menatap mereka dari taman rumah tersebut, tersenyum diam-diam melihat betapa Cho Kyuhyun telah memilih seorang wanita yang memang sangat pantas untuknya.

 

***

 

Yoo Kyung menyunggingkan senyum manis kepada semua orang yang dilewatinya. Dia benar-benar hobi menebar pesonanya kepada semua orang, apalagi lawan jenisnya. Gadis itu nampak percaya diri dengan gaun merah menyala milik Dior yang menjadi pilihannya kali ini.

 

Gadis itu berjalan lurus ke tempat dimana si pemilik acara berdiri, untuk memberi salam kepada kedua orang yang pertama kali ditemuinya hari ini. Sesaat ketika gadis itu telah sampai di hadapan sepasang suami istri yang kelihatannya begitu menyambut kedatangannya itu dengan membungkukkan tubuhnya memberi hormat, kemudian menarik kedua bibirnya ke belakang.

 

Annyeong haseyo. Park Yookyung imnida. Selamat atas ulang tahun pernikahan kalian”.

 

Sang wanita yang mengenakan pakaian tradisional korea itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya, sedangkan wajahnya mengesankan ekspresi terkejutnya. “Omo! Bukankah kau anak tunggal dari Park Tae Joon? Senang sekali kau bisa datang ke acara kecil-kecilan yang diselenggarakan keluarga kami. Oh, apakah kau datang dengan Ayahmu, Yookyung~yang?”

 

Yookyung kembali memamerkan senyum palsunya. “ Ya, itu benar. Kebetulan beliau hari ini sedang sibuk, jadi tidak bisa menghadiri acara ini bersamaku. Jeoseonghamnida Eomonim, Abeonim”.

 

Lelaki paruh baya itu pun menjawabnya dengan ramah. “Tentu saja. Tolong sampaikan salamku kepadanya. Oh ya, apakah kau kebetulan mengenal anakku, Yookyung~yang?”

 

Yookyung tersenyum malu-malu. “Ya, kebetulan kami sering bertemu akhir-akhir ini”.

 

Wanita bernama Kim Hanna itu kemudian menepukkan kedua tangannya senang. Lalu, tangannya beralih mengelus pudak polos gadis itu seakan mereka sudah menjalin hubungan yang dekat.

 

“Anakku memang pintar sekali memilih wanita”, ujarnya dengan wajah berseri.

 

Namun, senyumannya terhapus seketika ketika melihat anaknya menggandeng seorang gadis lusuh yang sering diberitakan menjadi kekasih dari satu-satunya anak lelakinya itu di media. Wanita itu memasang senyum palsunya di hadapan Yookyung, kemudian kembali berdiri kaku di tempatnya semula.

 

Keadaan Cho Yeonghwan tidak jauh berbeda. Lelaki itu menggertakkan gerahamnya ketika melihat anak laki-lakinya membawa seorang wanita yang keduanya menjadi perhatian semua orang yang hadir di pestanya sekarang.

 

Cho Kyuhyun, anak itu benar-benar berani menentangnya sekarang.

 

“Aku menepati janjiku untuk datang, Abeonim”, ujar Kyuhyun ketika dia dan gadisnya telah berada di tengah-tengah kerumunan itu, menatap berani mata Ayahnya yang berkabut karena diliputi amarah.

 

Hye Hoon, di lain sisi, merasa bahwa dialah yang membuat suasana keluarga kecil itu menjadi menegang seperti ini. Dari penampilannya saja, kedua orang tua Kyuhyun pasti mengetahui bahwa dia bukanlah berasal dari kalangan yang sama dengan mereka. Hye Hoon hanya dapat menundukkan wajahnya tanpa berani mendongak, mengeratkan pegangannya di tangan Kyuhyun seolah itulah satu-satunya harapannya untuk bertahan sekarang.

 

“Apa yang kau lakukan, Kyuhyun~ah”, bisik seorang wanita, yang diyakini Hye Hoon adalah Ibu dari lelaki itu. Wanita itu seakan mencoba meredam amarah yang sedang meledak diantara suami dan anaknya, namun hasilnya sepertinya tidak ada karena mereka masih saling melemparkan tatapan tak bersahabat.

 

Hye Hoon bahkan tak berani memberikan salam penghormatan maupun ucapan selamat kepada orang tua kekasihnya itu. Dia terlalu takut. Apalagi, mengetahui bahwa mereka sama-sama tak menyetujui dirinya menjadi pendamping Kyuhyun membuat dirinya hanya bisa menelan ludahnya gugup.

 

“Hei, kau pembantu di kantor Kyuhyun, bukan?”, ucap seorang wanita yang kini menyenggol bahunya dengan sengaja, kemudian memamerkan senyuman piciknya yang begitu mengerikan.

 

Wanita itu, wanita yang dibawa Kyuhyun tempo hari lalu.

 

Kedua orang tua dihadapan Hye Hoon lalu menyelidiki gadis itu dengan kedua pasang mata mereka penuh tanya. Yookyung tersenyum picik, kemudian menaikkan nada suaranya. “Abeonim, Eomonim, dia adalah salah seorang office girl di kantor Kyuhyun”.

 

Hye Hoon menggigit bibir bawahnya, menahan rasa perih yang kini menusuk-nusuk matanya. Dia hanya bisa bungkam, tanpa bisa melawan apapun. Dan dia sangat kecewa ketika melihat Kyuhyun yang juga menutup rapat bibirnya tanpa membelanya ataupun menutup mulut wanita selingkuhannya itu.

 

“Sebaiknya kau menjalankan tugasmu seperti biasanya. Bisakah kau mengambilkan kami minuman, Nona?”

 

Yookyung kembali melancarkan aksinya, yang membuat perhatian semua orang kini tertuju ke arah mereka.

 

Hye Hoon mencengkeram pinggir gaun yang dikenakannya itu erat, saat Kyuhyun begitu saja melepaskan genggaman tangannya, seakan menyuruh gadis itu untuk mematuhi perintah Yookyung. Gadis itu pun mencari mata Kyuhyun untuk meminta kepastian, namun Kyuhyun hanya membuang mukanya, dan dari gelagat itu Hye Hoon tahu bahwa pria yang dicintainya itu pun berniat untuk mempermalukan dirinya.

 

Hye Hoon pun berbalik, berjalan mendekati meja terdekat yang terdapat beberapa minuman dan cemilan di atasnya. Namun, hanya berselang dua langkah, gadis itu kehilangan keseimbangan dan menikmati dinginnya air kolam dikala malam.

 

Dia memejamkan matanya, membiarkan cairan bening yang mengalir dari kelopak matanya terbawa arus kolam yang jernih. Setidaknya hamparan air yang deras itu bisa menyamarkan air matanya.

-TBC-

Apa ini? Gaje banget sumpah haha

No editing, maafin kalo banyak typo spelling grammar /halah

Maaf yaaa yang lama nungguin red lips part II malah kecewa karena ff ini enggak banget. dan tidak berakhir twoshoot pula-__-

Aku bikinnya lagi gak mood, soalnya aku lagi boring banget gatau harus ngapain karena males banget ngerjain tugas.

Semoga mood nulis aku balik lagi kayak dulu hahaha

bye bye *mwah!

133 thoughts on “Red Lips (II)

  1. oh my to the God ngeselin yah jekyung kyu juga kamu kenapa gitu banget mas duh sukses ya kak elsa bikin karakter yg nelangsa gitu hidupnya kek hye hoon ”

  2. Duhh maaf lupa intro saking seriusnya baca.. Hi kakk aku reader baru hehe…. Suka banget sama yang genrenya hurt begini 😀😀 …
    Njirrr ini kyuhyunnya tega bgt 😭😭😭😭 dia kayaknya punya dendam ya sama hye hoon trz bales dendamnya pura pura cinta sama hye hoon?? ㅠㅠㅠㅠ

  3. aku rasa Kyuhyun gak punya rasa cinta sama hyehoon. malah ingin menyiksa terhadap hyehoon. hyehoon putus aja sama Kyuhyun. biar tau rasa dia rasanya

  4. Hadeuh,,, kyu jahat banget sama hye hoon, mereka kenapa seh sebenernya?? Kenapa kyu maksa hye hoon buat dateng kalo dia g bisa belain hye hoon, sakit banget jadi hye hoon,, 😢😢😢 part 3 nya di tunggu ya,,,

  5. ada apa sama kyuhyun yg ga pernah nolong hye hoon disaat hye hoon butuh..

    sayang banget ga dilanjut padahal cerita’y seru.. iya sih kalo udah unmood datang siapapun ga akan bisa ngelakuin apa” hee ayo SEMANGAAATTT :O

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s