Second Wife (Between Love and Guilty) – Scene 2


 

Hye Hoon memutuskan untuk menemui pasangan suami istri itu untuk meyakinkan keputusannya. Benar kata Lee Ahjumma, dia harus mempertimbangkan semuanya matang-matang agar dia tidak bisa menyesali keputusannya nanti.

 

Dia melangkah keluar dari New BMW 3 Series miliknya kemudian menguncinya menggunakan remote. Kaki jenjangnya mendekati pagar rumah mewah itu, sambil matanya menelisik kembali note yang diterimanya dari Cheonsa kemarin dan mencocokkannya dengan nomor rumah tersebut.

 

Gadis itu mengernyitkan dahinya heran ketika melihat gerbang depan yang tidak terkunci. Ferrari 458 Speciale berwarna merah menyala milik penghuni tersebut diparkir serampangan di halaman rumah.

 

Feelingnya yang kuat dapat merasakan ada yang tidak beres disini.

 

Awalnya, sebelum bertemu Kyuhyun, dia ingin berbicara berdua saja dengan Cheonsa. Tapi sepertinya dia tidak bisa melakukan hal itu karena dia yakin Kyuhyun sudah berada di rumahnya.

 

Dia berjalan mengendap menuju pintu utama. Entah kenapa, kali ini dia ingin menyamarkan keberadaannya. Lengannya pun tak begitu saja menekan bel seperti yang biasa dilakukan tamu seperti biasanya, namun malah meraih gagang pintu.

 

“ Percayalah, aku tidak akan meninggalkanmu, Cheonsa~ya”.

 

Jantungnya berdegup sangat kencang ketika suara berat itu mengalun di telinganya. Dia mendadak lupa untuk membuka pintu seluruhnya, malah memegang kenop pintu itu dan mengintip dari balik celah kecil yang diciptakannya.

 

Kedua matanya memanas kala melihat posisi kedua orang yang ingin menjadikannya sebagai orang ketiga di rumah tangga mereka itu. Kyuhyun bersimpuh di hadapan Cheonsa yang duduk di kursi rodanya, sambil menatap istrinya penuh dengan ketulusan. Atau mungkin cinta? Entahlah. Yang jelas, Hye Hoon merasa hatinya ditusuk oleh benda tajam ketika menyadari bahwa Kyuhyun sangat mencintai istrinya.

 

“ Kau tidak perlu khawatir jika aku akan berpaling darimu. Tidak akan pernah, sayang. Aku memilihnya hanya untuk memenuhi keinginanmu untuk memiliki anak. Sedikitpun, aku tak ingin menduakanmu. Kau harus ingat itu. Aku akan menikahinya karena kau menginginkan hal itu, bukan?”

 

Kyuhyun melanjutkan ucapannya, sambil membelai pipi istrinya penuh kasih sayang. Hye Hoon refleks menekan dadanya yang terasa nyeri, sedangkan otaknya bahkan tak bisa menerima ketika mengetahui bahwa lelaki itu sudah tak mencintainya.

 

Tidak. Kyuhyun pasti tak akan bisa melupakannya secepat itu, pikirannya menolak.

 

Namun dia tak bisa menyangkal ketika kata-kata cinta itu terlantun di bibir Kyuhyun. Tentunya itu bukan untuk dirinya, namun untuk wanita itu. Pandangannya semakin buram karena kini matanya yang tertutup kacamata hitam itu berair, karena pengakuan yang diucapkan oleh mantan kekasihnya itu menyayat hatinya parah.

 

Dia pun menggerakkan kakinya yang lemas itu untuk berbalik, tak berniat melanjutkan usahanya yang berusaha untuk mengenyahkan pikiran buruknya tentang permintaan kedua insan tersebut yang kini bahkan sudah terbukti sebelum dia memastikannya sendiri.

 

“Hye Hoon~ah”.

 

Langkahnya pun terhenti, ketika inderanya menangkap suara bass yang dikenalnya dengan jelas. Dia tidak mencoba untuk berbalik maupun melangkah maju. Anggota geraknya seakan membeku, mendengar panggilan yang keluar dari bibir orang yang masih dicintainya itu.

 

Kini, Kyuhyun berdiri tepat di hadapannya. Tetap terlihat tampan dan menyilaukan dengan balutan jas hitam yang dikenakannya. Tak ada yang berubah dari wajah itu, meskipun beberapa waktu lalu dia tak memperhatikannya karena tubuhnya diliputi amarah.

 

Lelaki itu juga mengamati dirinya dalam diam. Menatap mata Hye Hoon yang untungnya terhalang oleh kacamata yang bertengger menutupi sebagian wajahnya. Jika dia tak memakai accesoris itu, gadis itu tak yakin dapat menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.

 

“Aku seharusnya tahu, dari awal kau memang memanfaatkanku. Bodohnya aku karena luluh begitu saja hanya karena mendengar bahwa kau yang memilihku. Kau yang dengan teganya memilihku untuk menjadi Ibu dari anakmu. Dan itu hanya karena kau bermaksud untuk menyakitiku.”

 

Hye Hoon mengungkapkan kemarahannya dengan suaranya yang serak, tak bisa lebih lama menahan tangis karena dia terisak setelah kalimat itu berhasil meluncur dari bibirnya. Dia sangat mencintai lelaki itu. Dan kini, Hye Hoon berbalik membenci Kyuhyun sampai ke ubun-ubun.

 

“Kau boleh beranggapan seperti itu. Bahkan dalam sadar maupun ketidaksadaranku, aku tahu aku banyak menyakitimu”, jawab Kyuhyun dengan nadanya yang lemah, menunjukkan penyesalannya atas fakta yang diketahuinya itu. Dia semakin marah dengan dirinya sendiri karena dia tak bisa melakukan apapun untuk meredam kesakitan yang diderita gadis itu karena dirinya.

 

“Lalu kenapa? Kenapa kau memintaku untuk menikah denganmu, sedangkan kau tahu itu akan menyakitiku lebih dalam? Kenapa kau melakukan itu Cho Kyuhyun?”

 

Kyuhyun tersenyum samar, memasang topeng abstrak di wajahnya agar Hye Hoon tak bisa mengenali perasaan yang kini menyerangnya. Lelaki itu mengepal tangannya rapat, melampiaskan emosi yang tiba-tiba menggerayangi tubuhnya.

 

“Karena aku tahu kau tak akan pernah mencintaiku. Dan kau terlalu membenciku untuk menghancurkan keutuhan rumah tanggaku”.

 

***

 

Dengan memacu mobil di atas kecepatan rata-rata, aku sampai ke kantor milik Lee Donghae hanya dalam beberapa menit. Aku memang sudah kehilangan kesadaranku, ketika lelaki brengsek itu kembali merobohkan pertahananku. Dia seakan memaksaku untuk membenci dirinya, sehingga dia dapat memastikan bahwa aku tak akan jatuh cinta padanya untuk kedua kalinya.

 

Aku tak tahu, mengapa ide gila itu dalam sekejap muncul di benakku. Jika aku harus membuktikan padanya bahwa bukan hanya pria itu yang menginginkan keberadaanku. Menunjukkan padanya aku bahkan bisa mendapatkan seseorang yang jauh dibandingkan dia.

 

Tanpa berpikir panjang, pikiran itu kurealisasikan segera. Aku menyambangi kantor milik pria bermarga Lee itu dengan mata dan hidung memerah, mengabaikan lirikan-lirikan aneh dari karyawan-karyawan pria itu karena wajahku yang benar-benar sudah tak jelas lagi rupanya.

 

Tanpa meminta izin siapapun, aku menerobos masuk ke dalam ruangan itu. Mungkin karena mendengar derap langkahku memasuki ruangannya, dia pun mendongakkan wajahnya untuk melihat ke arahku. Tatapannya sedikit aneh, kuyakin itu karena aku datang dengan wajahku yang terlihat menyedihkan.

 

Oppa, kumohon nikahi aku saja”.

 

Kalimat itu pun terucap sempurna dari bibirku. Dia mengatupkan rahangnya rapat, seakan berpikir keras mengapa aku melontarkan kata pernikahan itu dengan lancang. Untuknya, yang bahkan berstatus sebagai teman dekatku saja.

 

Dia dapat mengendalikan ekspresinya dengan baik. Dia masih memasang wajah datar andalannya, tanpa sedikitpun terlihat terkejut. Namun, dari matanya itu, aku dapat melihat jika dia bahkan lebih mengkhawatirkan keadaanku dibandingkan kata-kata aneh yang baru saja kuucapkan.

 

Dia bangkit dari singgasananya, kemudian tangannya yang kekar menarik lenganku mengikutinya ke depan pintu kecil yang berada di samping rak-rak tinggi yang berisi banyak buku.

 

Aku ternganga ketika melihat apa yang berada di balik pintu itu. Ruangan yang cukup besar setara dengan kamar presidental suit yang berada di hotel mewah. Donghae mendorongku masuk, sedangkan dirinya berdiri di ambang pintu.

 

“Istirahatlah disini. Nanti malam aku akan mengantarkanmu pulang setelah pekerjaanku selesai”. Dia berujar kaku, dari nadanya saja aku tahu jika dia tidak ingin dibantah.

 

Oppa……”, panggilku dengan suara pelan.

 

Mata sayunya menghujam mataku, yang sekejap dapat membuat hatiku lebih tenang. Dia mencoba menarik kedua ujung bibirnya, walaupun kaku, namun setidaknya dia berusaha untuk meyakinkanku bahwa dia tahu kondisiku sekarang.

 

Dia tidak menjawab maupun menolak permintaanku. Menggantungkanku dengan mengurungku di kamar mewahnya begitu saja.

 

***

 

Donghae membersihkan meja kerjanya dari tumpukan-tumpukan kertas itu dengan cepat. Untuk pertama kalinya di dalam sejarah hidupnya sejak dia membangun dengan susah payah perusahaannya yang kini menjelma sebagai salah satu perusahaan yang sukses di Korea itu dia meninggalkan ruangannya sebelum jam sepuluh malam. Saat ini, jam baru menunjukkan pukul enam sore dan dia sudah bersiap untuk pulang ke rumah.

 

Lelaki itu mengulum senyum, membayangkan bahwa setiap hari dia akan merindukan rumahnya karena ada seseorang yang menunggunya membuat hatinya menghangat.

 

Dengan gerakannya yang dibuat sepelan mungkin, dia pun mengunjungi kamar yang seringkali ditempatinya jika sedang menginap di kantornya itu dengan jantung berdebar. Dan jantungnya semakin bertalu-talu ketika melihat sosok cantik itu sedang meringkuk di ranjangnya. Dia mendekat, namun sangat menjaga jarak karena dia berada kurang lebih satu meter dari letak dimana tempat tidurnya berada.

 

Gadis itu perlahan membuka kedua matanya, kemudian mendudukkan tubuhnya dengan menyenderkan punggungnya di kepala ranjang. Hye Hoon melirik ke arah Donghae, yang sedang mati-matian menyembunyikan rasa takjubnya karena terpesona bahkan dengan wajah bangun tidur yang ditunjukkan gadis itu.

 

Hye Hoon memang termasuk orang yang dapat terusik dari tidurnya walaupun hanya mendengar suara yang tidak keras. Itulah mengapa dia langsung bangun ketika Donghae masuk ke kamar tersebut.

 

“Apakah aku tertidur terlalu lama, Oppa?”.

 

Donghae yang masih terpana dengan aura kecantikan alami yang terpancar dari gadis teman masa kecilnya itu tidak terlalu mendengar apa yang dikatakan Hye Hoon, kemudian memandang gadis itu dengan raut wajah kebingungan.

 

Huh?”, katanya pendek.

 

Hye Hoon terkekeh geli, dan dengan sengaja mengganti pertanyaannya dengan yang lainnya. Tentang hal utama yang menjadi alasannya datang kesini, meskipun pada akhirnya dia menyerah dan tertidur di ranjang empuk milik lelaki itu.

 

“Apakah kau mau menikah denganku, Oppa?”

 

Donghae menipiskan bentuk bibirnya gugup. Seperti biasa, dia mengamati mata cokelat gelap milik gadis itu untuk menemukan kebohongan di dalamnya. Nihil. Hye Hoon benar-benar serius dengan ucapannya kali ini. Akan tetapi, dia melihat sesuatu yang berbeda, tentang alasan gadis itu menyuntingnya tanpa diduga seperti saat ini.

 

Dan dia merasa seperti ada benda abstrak yang memukuli hatinya hingga berdarah kala mengetahui apa penyebab Hye Hoon mengajaknya untuk menikah.

 

Donghae berjalan mendekati ranjang, kemudian tanpa melepas kontak mata keduanya dia merengkuh bahu Hye Hoon dengan kedua tangannya. Lelaki itu bertindak layaknya seorang kakak lelaki yang sedang menasihati adiknya, mengetahui bahwa perbuatan yang dilakukan Hye Hoon itu adalah sesuatu yang salah.

 

“Bukankah aku sudah bilang untuk menenangkan hatimu terlebih dahulu? Kau tahu, jika yang kau lakukan itu salah? Menggunakanku untuk mengakhiri patah hatimu, memintaku menikah denganmu hanya karena kau ingin lari dari lelaki pengecut itu. Kau bahkan tak serius dengan permintaanmu itu, Hye Hoon~ah. Untuk apa aku menjawabnya?”

 

Hye Hoon terpaku mendengarkan rentetan kata yang semakin merobek hatinya itu. Dia salah. Seharusnya dia tak datang ke tempat Donghae untuk meredam rasa sakit yang bertubi-tubi dirasakannya. Karena lelaki itu hanya akan lebih menyakitinya, bukannya membuat suasana hatinya berubah baik.

 

Dia pun menepis tangan Donghae yang bersarang di pundaknya lalu melonjak dari ranjang. Mengambil tas tangannya dengan tergesa, meninggalkan Donghae yang masih terpaku di tempatnya, meratapi kebodohannya yang telah menorehkan luka lain di hati gadis itu.

 

Tetesan cairan bening yang mengalir dari mata indah gadis itu mencambuk hatinya keras. Dia harus bertahan melihat semua itu karena dia tak akan pernah sanggup mempertahankan gadis itu untuk berada di sampingnya, sebesar apapun dia menginginkannya.

 

Namun, relakah dia jika melihat gadis itu tersakiti oleh lelaki lain? Haruskah dia hanya menjadi penonton yang hanya diam saja ketika melihat gadis itu hancur? Atau……mungkinkah dia dapat melaksanakan perintah Ibunya untuk menghalangi Hye Hoon menerima pinangan lelaki tak bertanggung jawab itu yang hanya menginginkan anak dari gadisnya?

 

***

 

Beberapa hari berlalu setelah kejadian itu, Hye Hoon masih menyiksa dirinya sendiri dengan mengabaikan jam makan. Dia mengunjungi kediaman Cho dengan tubuhnya yang lemas karena dia men-skip sarapan pagi setelah malamnya bahkan tak memakan apapun untuk mengganjal perutnya.

 

Hal ini tidak luput dari penglihatan Cheonsa. Melihat Hye Hoon yang terlihat tak sehat dan seringkali merenung sejak gadis itu memasuki rumahnya membuat Cheonsa sangat cemas. Meskipun hubungan mereka belum begitu dekat, namun dia merasa tak enak membicarakan masalah pernikahan disaat keadaan Hye Hoon yang tak bisa dikategorikan baik-baik saja.

 

“Apakah ada sesuatu yang mengganggumu, Hye Hoon~ssi?”

 

Gelengan pelan diisyaratkan Hye Hoon sebagai suatu jawaban. “Aku tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, apa yang membuatmu memintaku untuk datang kesini?”

 

Hye Hoon meraih cangkir berisi cairan berwarna coklat pekat yang hangat kemudian mengesapnya perlahan. Matanya terpejam kala mengingat bahwa ini persis kopi yang disukai Kyuhyun-nya, memerintahkan otaknya untuk memutar kembali kenangan manis mereka yang berhubungan dengan kopi itu.

 

“Kau tak keberatan jika pernikahan kalian dilaksanakan minggu depan?”.

 

Hye Hoon tersedak. Dia terbatuk-batuk setelah mendengar pertanyaan yang Cheonsa lontarkan, kemudian menatap wajah wanita itu yang terlihat sangat serius saat mengucapkannya.

 

Terlihat sekali bahwa Cheonsa sangat menginginkan Hye Hoon menjawab ‘ya’. Tentu saja, Hye Hoon tahu bahwa Kyuhyun telah meyakinkan Cheonsa bahwa gadis itu tidak akan mengguncang rumah tangga mereka. Cheonsa hanya akan mendapat keuntungan dari pernikahan ini. Dia mendapatkan anak, dan tetap menjaga suaminya untuk tetap di sisinya.

 

Berbeda dengan Hye Hoon yang akan kehilangan segalanya.

 

Tapi, Hye Hoon bertekad bahwa dia tidak akan mundur. Entah karena apa alasannya, dia sendiri juga tak pernah mengerti. Mungkin karena dia sudah benar-benar menyerah untuk mencapai kebahagiaannya sendiri, dan berharap orang lain dapat merasakan kebahagiaan yang tak pernah dia dapatkan.

 

Meskipun caranya adalah dengan menyakiti dirinya sendiri.

 

“Aku setuju”, ujar Hye Hoon sambil menyelipkan senyum palsunya.

 

Binaran kebahagiaan itu terpancar dari balik retina mata Cheonsa. Ditambah dengan senyuman lebar yang ditunjukkannya membuat hati Hye Hoon teriris-iris. Inilah yang dinamakan tertawa di atas penderitaan orang lain, sinis gadis itu kesal.

 

“Aku rasa kalian berdua harus mulai menyiapkan pernikahan”, ucap Cheonsa antusias.

 

Gadis itu tersedak. Lagi. Kali ini bukan tersedak dalam artian sesungguhnya karena dia bahkan sudah menghabiskan kopinya tanpa sisa. Astaga, apa dia harus bertemu Kyuhyun dan membicarakan masalah pernikahan? Ini akan menjadi canggung untuk mereka berdua yang hubungannya semakin merenggang sekarang.

 

“Tunggu sebentar. Sepertinya aku harus menghubungi Kyuhyun Oppa agar segera menjemputmu untuk memilih gaun pernikahan”.

 

Cheonsa meraih gagang telepon untuk menghubungi suaminya, sementara Hye Hoon mengalihkan fokusnya agar tidak mendengar percakapan mereka dengan melihat-lihat isi dari rumah megah itu.

 

 

Ini bahkan lebih parah dari mendengarkan percakapan singkat antara suami-istri. Matanya seakan ditusuk-tusuk ketika melihat figura besar yang menggantung di balik dinding ruangan. Foto pernikahan. Foto yang diambil ketika Hye Hoon mengalami hari-hari terburuk dalam hidupnya. Dia bahkan kehilangan akal dan mencoba untuk mengakhiri hidupnya kala itu, namun kehadiran Lee Ahjumma dan kedua orang tuanya-lah yang membuatnya bisa kembali berdiri tegak, walaupun sekarang kehancurannya yang lebih besar terdapat di depan kedua matanya.

 

“Bolehkah aku bertanya sesuatu?”, Hye Hoon menggigiti bibir bawahnya menahan air mata yang hendak keluar, menatap Cheonsa dengan tatapan sendu.

 

“Mengapa kau jatuh cinta kepada Kyuhyun —ehm, maksudku,suamimu?”.

 

Cheonsa tertawa pelan, lalu melihat wajah gadis yang diyakininya lebih muda beberapa tahun darinya itu untuk membalas pertanyaannya tadi. “Kukira kau akan menanyakan sesuatu yang serius, Hye Hoon~ssi”.

 

“Em, aku juga tidak tahu mengapa aku mencintainya. Semuanya mengalir begitu saja. Dia datang disaat aku memerlukan tumpuan. Dia hadir disaat aku terpuruk dan ingin menyerah pada kehidupanku. Dia begitu gigih meyakinkanku untuk tetap hidup, membuka mataku bahwa masih banyak orang yang mendapat cobaan lebih besar dariku masih bertahan hidup karena orang yang dicintainya. Dan aku memahami apa yang dikatakannya setelah aku mencintainya, betapa berharganya hidupku untuk disiakan dengan larut dalam kesedihan”.

 

Hye Hoon menitikkan air matanya. Bukan, dia bukan terharu karena cerita Cheonsa yang begitu sedih menohok hatinya. Dia malah merasa sedih karena kisahnya sendiri. Di saat dia jatuh, ketika dia tak punya pegangan untuk menjalani hidup, orang dicintainya malah menjadi sandaran bagi wanita lain.

 

Sungguh ironis.

 

Hentakan sepatu pentopel mahal yang dikenakan seorang lelaki yang baru saja memasuki rumah itu menghentikan percakapan singkat kedua wanita itu. Hye Hoon mencoba menghindari mata pria itu, menunduk dalam-dalam menyembunyikan rasa nyeri yang menjalar di tubuhnya ketika Kyuhyun mencium kening Cheonsa dengan lembut —di hadapannya.

 

Annyeong, Hye Hoon~ah”, sapa pria itu singkat. Hye Hoon hanya membalasnya dengan anggukan pelan.

 

Cheonsa menggenggam tangan Hye Hoon sekilas, kemudian memandang kedua mata coklat gadis itu dalam. “Aku akan merepotkan kalian jika ikut. Jadi, bisakah kalian mempersiapkannya berdua saja?”

 

Hye Hoon kedua sudut menarik bibirnya canggung, lalu tanpa sadar matanya bertumbukkan dengan mata Kyuhyun. “Tentu saja, jika Tuan Cho tidak keberatan”.

 

***

 

Aku tak suka tatapannya. Dia, menatapku dengan penuh rasa prihatin dan penuh belas kasihan. Sejak tadi aku memasuki ferrari-nya, dia melirikku diam-diam dengan dahi mengkerut, tanda jika dia cemas dengan kondisiku sekarang.

 

Mengapa dia bersikap seperti itu padahal dia tahu apa alasannya?

 

Aku sama sekali tak ingin terlibat pembicaraan apapun dengannya, jadi aku memilih untuk pura-pura tidur di mobilnya bahkan ketika aku tak merasa ngantuk sama sekali. Dan dia, benar-benar mengacuhkan keadaanku.

 

Memang seharusnya begitu, bukan?

 

Dia bersamaku hanya karena perintah istrinya. Dia ingin menikahiku hanya untuk memenuhi permintaan istrinya. Apa yang harus aku harapkan darinya? Aku tak mungkin berharap dia akan memperlakukanku seperti dulu, bukan?

 

Lelaki itu mematikan mesin mobilnya, dan aku masih dalam posisi semula. Aku sedikit penasaran dengan selera fashion Cheonsa, namun bertekad untuk memejamkan mataku lebih lama.

 

Dan aku hampir melonjak ketika merasakan sentuhan jarinya di helaian rambutku yang sangat membuatku gila. Aku tak tahu arti dari perlakuannya ini. Haruskah aku menekan harapanku yang mengatakan bahwa dia pun masih memiliki rasa yang sama denganku? Ataukah ini hanya khayalanku saja?

 

Tak mau terbuai lebih lama, aku pun menggerakkan kelopak mataku perlahan kemudian menantikan reaksinya yang tertangkap basah. Namun, tak seperti yang kuharapkan, dia menarik tangannya dengan sikapnya yang biasa. Meskipun sebenarnya, aku tak terlalu memperhatikan karena mataku tenggelam dalam wajahnya yang hanya beberapa senti dari tubuhku.

 

Seharusnya aku bisa mengendalikan perasaanku di depannya, menunjukkannya bahwa aku sudah melupakan cintaku padanya. Namun ternyata, aku tak sekuat itu. Aku masih menatap wajahnya seperti orang bodoh, mengagumi bentuk wajahnya yang terlihat menawan.

 

“Maaf, aku —aku hanya bermaksud merapikan rambutmu. Maafkan aku karena terlalu lancang”.

 

Aku hampir saja mengeluarkan air mata ketika dia berkata begitu. Mengetahui bahwa perkataannya jauh dari bayanganku, membuat diriku terhina. Aku tak membalas, mendorong dadanya untuk menjauh dari kursi yang kududuki lalu membanting pintu mobilnya yang mahal untuk keluar dari barang miliknya itu.

 

Ketika melihat ke sekeliling, aku menyadari bahwa tempat ini sama sekali tak asing. Aku sangat mengenali daerah ini dan disini tak ada satupun butik yang menyediakan gaun pengantin.

 

Aku mengarahkan pandanganku ke arahnya, dan dia hanya mengusap lehernya canggung. “Emm…kupikir sebelum kesana ada baiknya kita makan siang terlebih dahulu. Kau tidak keberatan?”

 

Kulangkahkan kaki memasuki restaurant yang menyediakan fast food itu mendahuluinya, tanpa berucap apapun. Dia, menggunakan akalnya yang mengetahui semua tentangku itu untuk mengelabuiku lebih jauh. Membuatku seperti orang bodoh yang akan terjebak dengan perhatiannya yang bahkan hanya merupakan sesuatu yang semu.

 

Jika aku sedang tidak selera makan seperti saat ini, aku paling tak bisa menghindar jika dihadapkan dengan makanan siap saji. Dia tentunya tahu, itulah mengapa dia lebih memilih mengajakku kesini daripada ke rumah makan tradisional.

 

Hal itu malah mengingatkanku disaat kami bersama dulu.

 

Dia seringkali menyogokku dengan makanan tak sehat itu apabila aku sedang marah karena diabaikannya. Waktu berhubungan dengannya, aku memang lebih menjunjung tinggi harga diriku jadi tak pernah satu kali pun aku meminta maaf padanya walaupun aku yang lebih banyak melakukan kesalahan. Berbanding terbalik dengan sekarang. Aku bahkan merelakan harga diri yang mati-matian kujaga demi kembali bersama lelaki ini.

 

Aku menyantap sepotong hamburger yang berada di genggamanku itu tanpa menoleh sedikitpun padanya. Melihat ke sekeliling, kecuali matanya. Jika biasanya aku selalu nyaman jika berada di dekatnya, kali ini jauh lebih berbeda. Aku hanya menunjukkan rasa benciku padanya, tentunya dia dapat merasakannya.

 

Aku sempat melihat guratan kesedihan di wajahnya ketika dia tahu aku menghindarinya. Oh, bukankah kemarin dia berujar bahwa dia memilihku karena mengetahui aku membencinya? Seharusnya dia bersikap baik-baik saja dengan sikapku, bukan?

 

“ Orang tuamu, sudah tahu?”

 

“Ya. Mereka menyangka jika aku dan kau kembali bersama, mereka bahkan tak tahu mengapa aku menikah denganmu. Sebaiknya kalian sembunyikan statusmu yang sudah memiliki istri. Aku yakin mereka akan mengalami serangan jantung mendadak jika mengetahuinya”, balasku dengan nada skeptis, dan sepertinya dia terpengaruh dengan jawabanku itu.

 

Dia termenung, kemudian melihat mataku lekat.

 

Dengan gesit tangannya telah menyentuh wajahku tanpa aku menyadarinya, merasa seperti terkena sengatan listrik ketika kulitnya bersentuhan denganku. Aku hanya bisa terdiam seperti orang tolol, ketika ibu jarinya mengusap ujung bibirku pelan.

 

“Ada saus di bibirmu”, ucapnya sambil membersihkan cairan kental yang mengotori jarinya itu dengan tissue.

 

Dengan sentuhan seperti itu saja aku bagaikan terhipnotis dan kembali larut dalam perasaan cintaku yang begitu besar padanya. Bagaimana jadinya jika setiap hari kami tidur di ranjang yang sama? Apakah egoku akan segera hilang dan kembali mengemis-ngemis cintanya?

 

***

 

Kim Hyangsook tak bisa berkata apa-apa ketika Hye Hoon pulang dan menceritakan semuanya. Dia hanya bisa menahan tangisnya dalam diam, mengetahui bahwa gadis yang selama ini disayanginya itu lebih memilih untuk menjadi yang kedua bagi orang yang dicintainya dan meninggalkan rumah yang telah mereka tempati bertahun-tahun.

 

Dia lebih memilih tinggal bersama Hye Hoon daripada bersama anaknya, Lee Donghae. Itu karena Hyangsook tak suka dengan gaya hidup Donghae yang menempatkan pekerjaan di atas segalanya. Sedangkan Hye Hoon hanya tinggal sendiri di mansion milik keluarganya. Lagipula, dia merawat Hye Hoon sejak gadis itu lahir, dan dia sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri.

 

Orang tua Hye Hoon lebih suka tinggal di pedesaan. Mereka menghabiskan masa-masa tua mereka di suatu perkampungan kecil New Zealand, setelah Tuan Choi mengambil pensiun dari perusahaan keluarganya. Lelaki itu memilih untuk membiarkan orang-orang profesional yang mengelola perusahaan keluarganya. Awalnya, anaknya-lah yang ditawari untuk menduduki posisi penting di perusahaan itu. Tapi Donghae menolaknya.

 

Wanita yang rambutnya sudah mulai berubah putih itu mengamati gadis yang sedang membereskan koper-kopernya. Gadis itu bahkan tak membiarkannya menyentuh pakaiannya sedikitpun, dan menyuruh dirinya untuk duduk dengan nyaman di sofa kamarnya.

 

Adakah yang tega menyakiti gadis berhati malaikat itu? Wanita paruh baya itu merasakan dadanya sesak ketika mengingat apa yang akan Hye Hoon hadapi. Akankah gadis itu dapat bertahan dalam kehidupan seperti itu?

 

Ja, semuanya sudah selesai. Apakah Donghae Oppa sudah menghubungimu, Imo?”

 

Dia mengusap matanya yang entah sejak kapan menjadi berair. Menyunggingkan senyum terpaksanya kepada Hye Hoon yang juga tersirat merasakan kesedihan yang sama dengannya. Tangannya yang mulai rapuh itu menarik Hye Hoon ke dalam dekapannya, memeluk gadis itu erat seakan tak rela untuk kehilangannya.

 

“Jika aku tak bisa merubah keputusanmu, maukah kau berjanji padaku satu hal, Hye Hoon~ah?”, ujarnya dengan suara yang tersendat, karena dia sudah tak bisa menahan isakannya. Melihat putri yang paling disayanginya itu terluka, sedangkan dia tak bisa melakukan apapun, membuat wanita itu sungguh tersiksa.

 

Hye Hoon pun terharu dengan kasih sayang wanita yang sangat disayanginya itu, ikut menangis ketika dirasanya pundak lemah itu bergetar. Dia mengetahui jika keputusannya itu sangat menyakiti hati Imo-nya.

 

“Kau harus bahagia, Nak. Menikah dengannya, meskipun keadaannya sangat sulit, kau harus tetap bahagia, Hye Hoon~ah”.

 

Hye Hoon tak berani menjawab apapun karena dia tahu harapan wanita yang sudah memasuki umur lima puluh tahunan itu tidak akan tercapai. Bagaimanapun, dia menikah dengan Kyuhyun hanya untuk menjemput penderitaannya. Itu satu-satunya kalimat yang bisa mendeskripsikan keputusan bodohnya itu.

 

Untunglah, suara bel yang berdenting membuatnya bisa segera menghindar. Hye Hoon melepaskan dekapan wanita itu, kemudian beranjak dari kamar dengan tergesa. Dia tahu ini bukan hal terpuji, meninggalkan orang yang lebih tua darinya itu tanpa berkata apapun. Tapi dia hanya tidak mau wanita itu menyadarkan dirinya lebih dalam, bahwa dia tak seharusnya menerima permintaan yang sangat berlebihan itu.

 

Tubuhnya mengejang sesaat setelah dia membuka pintu. Lelaki yang masih mengenakan pakaian formal dengan rambutnya yang ditata rapi itu berdiri tegap di hadapannya, dengan wajah datarnya seperti biasa.

 

Dia masih mengingat perlakuan namja itu padanya beberapa hari lalu. Betapa menyedihkannya dia ketika lelaki tak berperasaan itu mencampakkannya begitu saja. Tanpa meminta penjelasan apapun, lelaki bermarga Lee itu menyimpulkan sendiri tanpa bertanya padanya terlebih dahulu.

 

Yang membuat Hye Hoon lebih memahami, bahwa menikah dengan Kyuhyun adalah pilihan terbaik baginya.

 

Dia menyunggingkan senyum tipisnya, lalu mempersilahkan Donghae masuk dengan gesture tubuhnya. “Aku akan memberitahukan Imo jika kau sudah datang”, katanya sambil berlalu.

 

Namun, pergelangan tangannya terlebih dahulu dikunci oleh lengan pria itu, bahkan sebelum dia dapat menjauh. Dengan mudah, Donghae membalikkan tubuh mungilnya, kemudian memaksa dirinya untuk menatap wajah tampan itu lebih lama.

 

Mianhae. Tolong maafkan aku, Hye Hoon~ah. Aku terlalu terbawa emosi saat itu. Melihatmu begitu terluka dan rapuh, membuatku tak bisa berpikir apapun karena mengkhawatirkanmu”.

 

Bulatan hitam itu memancarkan penyesalan yang mendalam. Tapi percuma, perkataan Donghae tempo yang lalu belum bisa keluar dari pikirannya. Hye Hoon mencoba melepaskan genggaman tangan kekar itu, memilih untuk berlari dari lelaki itu. Namun, Donghae tak bergeming. Dia tetap menahan Hye Hoon agar tetap di sisinya, yang cukup ampuh karena pada kenyataannya tenaga yang dimiliki pria itu jauh lebih besar.

 

“Lepaskan tangannya”.

 

Donghae menegang ketika melihat siapa pemilik suara itu. Rahangnya mengeras. Amarahnya meluap begitu saja ketika wajah itu berada di hadapannya. Lelaki brengsek yang telah menghancurkan kehidupan wanitanya, dan kini berniat untuk kembali memenjarakan gadis itu dalam kesedihan yang tak akan pernah habis itu benar-benar menguji kesabarannya.

 

Dan sebelum dia dapat mengendalikan emosinya, Donghae pun melayangkan sebuah pukulan tepat di wajah lelaki itu, yang membuat Kyuhyun tersungkur di lantai marmer yang dingin.

 

“Kau…beraninya kau memerintahku seenaknya. Kau bahkan tak punya hak sedikitpun menginjakkan kaki di rumah ini. Kau tahu kau siapa? Kau hanya lelaki brengsek yang selalu membuat gadisku menangis. Bajingan! Enyahlah dari sini!”

 

-TBC-

 

Seperti biasa, gak diedit. Maafin ya kalo banyak typo dll

Yuhuuuuuu part 2.

Cepet kan cepet??? Hehehehe

Cinta banget lah sama scene terakhir :*

Btw, banyak yang pengen Hye Hoon sama Donghae ya di ff ini? Ayoo mana suaranya yang pengen mereka bareng? Hahaha

Sayangnya, jika merujuk pada judul, takdir Hye Hoon, Kyuhyun, dan Donghae sudah terbaca.

Please wait for another chapter. And red lips too^^

For hye-kyu diary, aku mau ganti scene2nya, jadi harap bersabar ya….

Demiapa lagi cinta banget sama Lee Donghae jadi males banget bikin ff Kyuhyun Hahahaha /kaburrrr

Aku ini bikinnya seharian, kalian pasti bacanya cuma beberapa menit haha-__-

 

 

 

 

 

227 thoughts on “Second Wife (Between Love and Guilty) – Scene 2

  1. Aq bingung, sbenarnya donghae itu siapanya hye hoon. Knapa ia mengatakan hye hoon itu adalah gadisnya?! Dan juga aq rasa donghae juga menyukai hye hoon. Trus knapa ia menolah saat hyehoon meminta donghae untuk menikahinya.
    .
    +Penasaran!!
    Izin bca next partnya thor

  2. Jadi hye hoon beneran setuju ini??? Lahhh gila juga ternyata ya ampun 😑😑😑😑 …. Baru tau kalo hye hoon tinggal di Seoul sendirian, nggak nyebayangin kalo orang tua hye hoon tau yang sebenernya 😢😢😢😢😢 ….
    Ini bisa bisa lembur baca sampe malem ni, sayang kalo di skip 😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s