Second Wife (Between Love and Guilty) Scene 1


Second Wife (Between Love and Guilty) – Roll 1

-It’s Different from the last post-

 

Tak ada yang perlu kupikirkan. Dia hanya masa lalu, apapun yang terjadi dengannya tak ada hubungannya sedikitpun denganku. Baiklah, mulutku memang bisa dengan gampangnya mengatakan bualan-bualan itu. Namun, perkataannya beberapa hari lalu terngiang di otakku.

 

Penyangkalan itu tak bisa kupegang sama sekali. Buktinya, aku masih berada di sini, di tempat terakhir kali kami bertemu dan mengharapkan sosok itu kembali menempati tempat kosong yang telah lama tak dia singgahi, di cafe kecil favorite kami yang bahkan terletak tak jauh dari kawasan perusahaan milik keluarganya.

 

Mataku menatap kosong sosok yang baru saja memasuki tempat ini dan mengambil tempat di hadapanku. Dia duduk di kursi yang telah lama tanpa penghuni itu sambil mengamati wajahku dengan bulatan hitamnya yang tak menunjukkan ekspresi apapun, sangat datar seperti biasanya.

 

“Pemotretanmu…sudah selesai?”, tanyanya singkat, sembari memainkan bibir cangkir yang berisi kopi pahit tanpa gula yang menjadi kesukaannya tanpa menatapku seperti yang dilakukannya tadi.

 

Aku melirik penunjuk waktu yang melingkar di tangan kiriku lalu memandang wajah tampan itu setelahnya. “Sudah. Mungkin sekitar…satu jam lalu?”

 

Dia mengesap minumannya tanpa memberikan tanggapan apapun. Aku terkadang kesal dengan sifatnya itu. Dia memang tak terlalu perduli dengan sekitar, dan lebih memperhatikan pekerjaannya dibandingkan orang-orang terdekatnya. Itu setahuku.

 

Tapi, mungkin sifatnya itu tidak berlaku untuk Ibunya. Tingkah lakunya seringkali sangat berbeda jika dia ada di dekat satu-satunya keluarganya yang tersisa itu.

 

Dia meletakkan cangkirnya di tempat semula lalu membangun kontak mata diantara kami untuk melontarkan maksud kedatangannya kemari.

 

” Ibuku…sangat khawatir padamu”.

 

Kalimat itu memukul hatiku keras. Apa yang kuharapkan sebenarnya? Dia tak mungkin menanyakan tentang kejadian itu kemudian menanyakan apa jawabanku, bukan? Atau menenangkanku karena dia tahu jika hatiku merasa tergoncang karena kehadiran mantan kekasihku yang tiba-tiba dengan membawa serta permintaannya yang konyol itu.

 

Dia bukan Donghae Oppa-ku yang dulu. Mungkin aku hanya terbawa alur fantasi masa kanak-kanakku jika memikirkan lelaki itu akan mengkhawatirkanku.

 

Bukankah sudah kubilang tadi, bahwa dia hanya memperdulikan satu orang di dunia ini, yaitu Ibunya?

 

Mianhae. Aku bersalah karena Imo mengetahui masalahku, dia menjadi cemas. Aku akan memastikannya jika aku baik-baik saja. Kalau perlu aku akan meneleponnya….”

 

“Tidak perlu”, potongnya cepat. Dia sepertinya menyembunyikan sesuatu, yang tak ingin kutahu darinya.

 

Handphone-nya berdering keras. Dia mengisyaratkan aku untuk tetap duduk di tempatku sedangkan dirinya menuju ke belakang, mencari tempat yang lebih tenang dari hiruk pikuk banyak orang yang bercakap-cakap disini. Aku memalingkan wajah, mengamati tetesan-tetesan air yang mulai mengenai kaca. Kupejamkan mataku untuk mencoba mengingat wanginya, sedangkan tanganku bergerak menyentuhnya. Tapi tak bisa.

 

Pikiranku hampir saja melayang ke dimensi lain, namun untunglah suara berat itu segera mengembalikanku ke alam nyata.

 

“Hye Hoon~ah”, panggil Donghae Oppa dengan suara beratnya. Lidahnya begitu gugup melafalkan namaku yang tak pernah lagi diucapkannya. Kami banyak menjaga jarak setelah tumbuh dewasa. Kata ‘kami’ tidak tepat sebenarnya. Karena Donghae-lah yang menjauhiku, sedangkan kerap kali aku sering menemuinya disaat aku sedang mengalami masalah.

 

“ Apakah kau akan menerima lamarannya?”

 

Pertanyaannya itu membuat dadaku bergemuruh. Apa? Lamaran? Cih! Itu bukan sebuah lamaran, tapi sebuah penghinaan. Baiklah, aku sadar aku tak berhak marah-marah di depan Donghae karena masalahku dengan orang lain. Untuk itu, aku mencoba meredakan emosiku dengan menghela nafas panjang.

 

“Tidak. Aku mungkin mencintainya terlalu banyak sehingga sulit bagiku untuk melupakannya. Tapi, untuk menjadi istri keduanya? Tidak. Aku tidak akan pernah menerima permohonan gila itu. Apa dia pikir aku tak bisa mencari calon suami sehingga harus berbagi dengan wanita lain untuk mendapatkannya? Dia…..”

 

” Kau mempertimbangkannya. Kau…bahkan memikirkan bagaimana menerima tawaran itu tanpa melukai harga dirimu. Itulah yang sebenarnya ada di dalam pikiranmu, bukan?”

 

Matanya masih memandangi mataku intens, karena dari sanalah dia dapat mengorek isi hatiku yang sebenarnya. ” Kau bahkan merelakan masa depanmu hanya demi waktumu yang sebentar untuk memilikinya”.

 

Aku diam. Tak sanggup menyangkal semua kebenaran yang mencoba diungkapnya dengan mudah.

 

Donghae meraih tanganku, kemudian menggenggamnya lembut, tanpa ingin menyakitiku, menyalurkan rasa hangat yang membuat butiran-butiran air mataku luruh begitu saja. Walaupun sekarang dia lebih bersikap dingin, dulu dia tidak begitu. Dan aku merindukan sikapnya yang dulu itu.

 

” Bisakah kau memikirkannya sekali lagi? Demi Ibuku,setidaknya. Kau berhak mendapatkan yang lebih baik dari lelaki itu, Hye Hoon~ah

 

Aku menantangnya, menegakkan wajahku sambil menatap lurus ke arahnya. ” Jika aku hanya menginginkannya, bagaimana menurutmu, Oppa? Aku…tidak bersalah jika menjadi istri kedua bagi seseorang, bukan?”

***

 

Wasseo?”

 

Kyuhyun menaikkan dagunya, mencoba menggerakkan bibirnya yang kaku itu ke belakang untuk menghindari kekhawatiran yang mungkin dirasakan istrinya. Terlalu banyak yang Cheonsa pikirkan akhir-akhir ini dan itu membuat kondisinya menurun. Walaupun wanita itu berusaha menyembunyikannya, namun Kyuhyun selalu mengetahui apa yang terjadi pada gadis itu dari perawat yang menjaganya.

 

Hmm. Aku pulang. Perawat Jung, apa dia juga sudah tidak ada di rumah?”

 

Cheonsa mengangguk pelan. Kemudian, wanita itu memajukan alat yang menggantikan fungsi kakinya di hadapan Kyuhyun yang duduk di ruang tamu rumah kecil mereka sambil memijit keningnya berulang.

 

“ Mau kubuatkan teh hangat?”, tawarnya.

 

Kyuhyun menggenggam tangan Cheonsa yang hendak bertolak menuju dapur. “Tak usah, aku tidak apa-apa. Mungkin tubuhku hanya kelelahan karena meeting tadi. Kau sudah makan?”

 

“ Sebelum pulang perawat Jung sudah menyiapkan makan malam untuk kita. Kau mandilah, aku akan menyiapkan meja”, tutur gadis itu lembut.

 

Kyuhyun mengecup dahi istrinya sesaat, kemudian menatap mata sayu itu penuh kasih sayang. “ Tidak perlu. Kau duduk saja disini, jangan melakukan apapun. Aku yang akan menyiapkannya nanti”.

 

Raut wajah Cheonsa berubah murung. Dia merasa jika dia adalah istri yang paling tak berguna di dunia ini. Bahkan melakukan hal sepele seperti itu saja terasa begitu menyulitkan baginya? Bagaimana bisa lelaki yang memiliki segalanya seperti Kyuhyun lebih memilih dirinya yang cacat dibandingkan banyak wanita-wanita cantik yang mengejar-ngejar cinta lelaki itu?

 

“ Biarkan aku melakukannya. Setidaknya, walaupun tubuhku tidak sempurna, aku bisa melakukan sesuatu untuk melayani suamiku”.

 

Kali ini Kyuhyun tidak membantah, karena melihat wajah istrinya berubah sedih karena perkataannya tadi. “ Baiklah. Kau harus melakukannya dengan hati-hati. Mengerti?”

 

Kyuhyun melakukan rutinitas membersihkan diri dengan cepat. Lelaki itu tak mau jika Cheonsa terlalu lama sendirian berkutat dengan barang-barang pecah belah. Dia khawatir terjadi sesuatu pada istrinya itu. Setelah bergegas keluar dari kamar mereka, Kyuhyun menghembuskan nafas lega karena dia melihat Cheonsa sudah duduk rapi di kursi rodanya setelah menyelesaikan apa yang ingin dilakukannya tadi.

 

Tapi, pandangan gadis itu tak fokus. Dia tahu, pikiran itu selalu membayangi Cheonsa akhir-akhir ini. Entah kenapa, dia seringkali mengulang permintaannya itu sambil penuh permohonan. Itulah mengapa Kyuhyun memberanikan diri untuk menemui gadis yang pernah menjadi bagian dari hidupnya, hanya untuk memenuhi keinginan Ahn Cheonsa.

 

“Apakah kau sudah menemuinya?”, ujar gadis itu penuh tanya, tepat setelah Kyuhyun mengambil tempat yang kosong di hadapan bangku istrinya.

 

Kyuhyun menatap wajah cantik istrinya, kemudian menundukkan kepalanya untuk mengalihkan perasaan yang muncul ketika istrinya mengungkap pertanyaan tentang pertemuannya dengan gadis yang pernah dicampakkannya itu kemarin.

 

“Hmm”, gumamnya pelan untuk menjawab rasa penasaran istrinya. Kyuhyun tak membalas perkataan istrinya itu dengan lugas, karena dia benar-benar tak tahu apa yang harus dikatakannya.

 

“Bagaimana? Apa dia…….bersedia?”, tanya Cheonsa lagi. Wanita itu ragu dengan pertanyaannya kali ini. Cheonsa tak tahu harus bagaimana bersikap jika dia mendengar kata ‘ya’ terucap dari bibir Kyuhyun. Haruskah dia senang? Ataukah merasa sedih, karena harus membagi suami yang sangat dicintainya itu dengan wanita lain?

 

Kyuhyun memutar otak, memikirkan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan penolakan yang diterimanya kemarin. Haruskah dia jujur jika Hye Hoon membentaknya bahkan mengusirnya dengan kasar sewaktu dia menceritakan segalanya? Tidak mungkin. Jadi, dia hanya mengungkapkan rasa penyesalannya dengan meminta maaf.

 

Mianhae…….”

 

Cheonsa merasa hatinya sedikit sesak, mengingat hanya wanita itulah satu-satunya harapan mereka sekarang. Dia tak bisa mencarikan wanita lain untuk suaminya, dan membebaskan Kyuhyun untuk memilih siapapun yang diinginkannya untuk menjadi orang ketiga dalam pernikahan mereka. Walaupun merasa ada goresan di hatinya yang membuat dirinya perih, Cheonsa mencoba mengalihkan pikirannya memikirkan bahwa ini demi kebahagiaan rumah tangga mereka. Jadi dia harus setidaknya ikut berusaha meyakinkan wanita itu juga.

 

“ Kyuhyun~ah, bisakah kau memberikan alamat gadis itu padaku?”

 

***

 

Hye Hoon menyantap rotinya sambil memperhatikan keadaan di sekitar. Rumah megah itu terasa sangat sepi karena hanya dia sendiri yang meninggalinya. Sebenarnya, Lee Ahjumma pun masih menemaninya setiap hari dan mengurus keperluan rumahnya. Tapi, setiap akhir pekan wanita paruh baya itu menghabiskan waktunya di kampung halamannya, Mokpo, untuk menemani orang tuanya yang sudah renta. Dan dia tidak suka orang asing berkeliaran di rumahnya, maka dari itu dia tak menyewa asisten rumah tangga untuk menggantikan posisi Lee Ahjumma.

 

Tak disengaja, matanya melihat lukisan yang masih tergantung disana. Sebuah lukisan yang menjadikan dirinya sebagai objek, yang dia ingat dia duduk berjam-jam tanpa boleh bergerak agar gambar itu tercipta. Matanya menelusuri detail-detail yang tersaji di dalam lukisan itu, hingga kemudian terhenti pada sebuah titik dimana sebuah inisial dari nama seseorang itu tertera disana.

 

 

Suara bel yang menggema menghentikan lamunannya. Dia terlalu banyak memikirkan lelaki itu sepertinya. Dan dia harus benar-benar berhenti sebelum semuanya terlambat.

 

Apa perlu untuk mencari lelaki lain? Mungkin saja.

 

Bel itu pun terus berdering, meminta pemilik rumah untuk segera membuka pintu dan menyambut tamunya. Siapa yang berani bertamu pagi-pagi begini?

 

Dia memutar kenop pintu, lalu menemukan seseorang berjas hitam dengan pakaiannya rapi dan seorang wanita cantik yang duduk di kursi roda yang keduanya terlihat asing baginya.

 

Wanita yang duduk di kursi rodanya itu mengisyaratkan pria berjas hitam untuk kembali ke mobilnya. ” Aku akan menghubungimu jika urusanku sudah selesai”.

 

Sesaat setelah lelaki itu berlalu, Hye Hoon pun membuka suara. Menanyakan identitas pengganggu pagi tenangnya itu. “Nugu…seyo?”

 

“Aku Ahn Cheonsa, istri dari Cho Kyuhyun. Kau mengenal suamiku, bukan?”, sapa Cheonsa sambil mengulurkan tangannya.

 

Hye Hoon menggigit bibirnya, merasa menyesal mengetahui siapa wanita yang berada di hadapannya itu. Mendengar seseorang mengakui Kyuhyun sebagai suaminya membuat Hye Hoon merasakan hatinya begitu hancur. Hampir saja dia menangis di hadapan wanita itu jika dia tak menyadari posisinya sekarang.

 

Apakah ini wanita yang dipilih Kyuhyun untuk menggantikan posisinya? Dalam sekilas melihatnya saja pun Hye Hoon dapat menerka jika wanita ini adalah seorang wanita baik-baik yang tak mungkin merebut tunangan orang lain. Jadi, Kyuhyun yang sudah bosan padanya lalu begitu saja meninggalkannya? Sungguh sulit dipercaya. Setelah semua janji-janji palsu yang terucap dari bibir lelaki itu serta bualan manis yang sering kali Kyuhyun lontarkan padanya…..Ini terlalu berlebihan.

 

“ Bisakah…kau membantuku masuk?”.

 

Kyuhyun bahkan memilih wanita yang dikategorikan bukan seorang istri yang baik untuk menjadi pendampingnya. Wanita yang tak bisa melakukan apapun sendiri, dan membutuhkan bantuan orang lain di setiap waktu kehidupannya. Sebegitu besarkah cinta Kyuhyun pada wanita itu, sehingga dapat menerima Ahn Cheonsa ini dengan segala kekurangan yang ada pada diri wanita itu?

 

Tiba-tiba pikiran yang sama terlintas di benak Hye Hoon. bagaimana jika dirinya dalam posisi seperti itu? Akankah Kyuhyun berubah pikiran dan kembali berbelok menatap ke arahnya? Bodoh, Choi Hye Hoon. Jangan bilang kau ingin cacat hanya karena lelaki yang meninggalkanmu itu.

 

Akhirnya keduanya duduk saling berhadapan di ruang tamu yang berada di rumah gadis itu. Hye Hoon meletakkan dua cangkir yang berisi teh hangat itu di meja, lalu menanyakan maksud kedatangan Cheonsa dengan baik-baik, berbanding terbalik dengan apa yang dilakukannya terhadap Kyuhyun waktu itu.

 

“ Kau memerlukan sesuatu dariku, Cheonsa~ssi?”

 

Cheonsa mengulur waktunya untuk menjawab dengan mengesap teh hangat yang disiapkan gadis itu. Matanya menelisik wajah gadis yang duduk di hadapannya. Gadis itu terlihat sangat menawan walaupun hanya mengenakan kaos dan celana pendek yang sangat biasa.

 

Dia iri.

 

Cheonsa bahkan merasa dirinya tak cantik dan seringkali merasa tak percaya diri jika berdampingan dengan Kyuhyun. Akankah dia baik-baik saja jika gadis itu menerima permintaannya? Walaupun sangat menginginkan seorang anak, tapi Cheonsa tak mau kehilangan Kyuhyun untuk memenuhi keinginannya itu.

 

“ Kau masih ingat, apa yang dikatakan suamiku? Aku…ingin kau memberikan seorang anak untuk kami, Hye Hoon~ssi. Aku tahu ini sangat tidak sopan, mengingat kita bahkan sama sekali tidak mengenal. Tapi, bisakah kau mempertimbangkannya?”

 

“ Kenapa?”, ucap Hye Hoon dengan nadanya yang dibuat sedatar mungkin. Dia tak ingin terlihat lemah di hadapan rivalnya. Dia, sampai kapanpun tak ingin menunjukkan perasaannya yang sebenarnya.

 

“ Kenapa kau memilihku, Cheonsa~ssi? Kenapa kau ingin aku yang mengandung anak kalian?”, tanya Hye Hoon frustasi. Apa tak cukup Kyuhyun menemuinya dan meremukkan kembali hatinya beberapa hari lalu? Dan sekarang, dia harus menerima ucapan yang sama dari wanita lain, yang menyebabkan dia kehilangan orang yang sangat dicintainya.

 

“ Aku membebaskan Kyuhyun untuk memilih, dan dia…memilihmu”.

 

Perkataan itu sontak membuat kedua bulatan hitam milik gadis itu melebar. Hye Hoon tak percaya sama sekali dengan apa yang dikatakan wanita ini. Benarkah itu? Dia merasakan hatinya sedikit luluh karena Kyuhyun bahkan menjadikan dirinya prioritas bagi kandidat calon Ibu dari anaknya. Walaupun tujuannya untuk menyakiti hatinya lagi, tapi tak dipungkiri dirinya merasa senang dengan fakta ini.

 

Ya, dari awal dia memang terlalu bodoh karena mencintai lelaki itu. Tidak salah lagi, akan ada banyak perkataan dan perlakuannya yang bodoh untuk membawa lelaki itu ke dalam kehidupannya lagi.

 

“ Aku tak punya seorang pun saudara ataupun teman. Itulah mengapa aku bahkan tak punya wanita lain untuk meminta tolong selain dirimu”. Cheonsa menggenggam tangan wanita itu di atas meja, lalu menatap mata hitam Hye Hoon dengan sorotannya yang teduh. “ Kumohon, bantu aku, hmm? Aku tak punya siapapun lagi selain Kyuhyun. Dan aku sangat menginginkannya bahagia. Mungkin aku memang tak memiliki fisik yang sempurna, tapi aku ingin keluargaku memiliki anggota yang utuh. Kumohon, Hye Hoon~ssi. Hanya kau-lah satu-satunya harapanku untuk mewujudkan impianku ini”.

 

Cheonsa bahkan tak segan untuk menangis di hadapan orang asing seperti gadis itu. Hye Hoon akhirnya mengetahui, mengapa Kyuhyun lebih memilih wanita itu daripada dirinya. Walaupun Cheonsa tak bisa menggunakan salah satu anggota geraknya, tapi Hye Hoon kalah jauh dibanding wanita itu.

 

Hye Hoon merubah posisinya, menumpangkan sebelah kakinya di atas kakinya yang tetap dipijakkan ke lantai lalu melanjutkan pembicaraan mereka. “ Kau tak takut? Apakah kau tak memikirkan bagaimana akibatnya nanti? Untuk rumah tanggamu, untuk suamimu. Apakah kau tidak apa-apa jika suamimu jatuh hati padaku, misalnya?”.

 

Hye Hoon mengibaskan tangannya di depan wajahnya sendiri, kemudian menutup mulut karena tawanya mulai terurai. “Aku tak bermaksud menyombongkan diri atau apapun, tapi aku hanya ingin tahu bagaimana tanggapanmu”.

 

Cheonsa menjawab pertanyaan itu dengan suara lembutnya yang menenangkan. “ Jika itu harus terjadi, maka aku tak bisa berbuat apapun. Akan tetapi, aku percaya suamiku. Dia…..tak mungkin mengkhianati cinta kami”.

 

Hye Hoon menaikkan salah satu sudut bibirnya, kemudian membentuk senyuman sinis untuk mencibir pemikiran gadis polos itu. Jika Cheonsa tahu apa yang Kyuhyun lakukan padanya, dia tak akan berani bicara seperti itu, bukan? Ini sepertinya akan menjadi permainan yang menarik, pikirnya. Selain itu, dia senang dia tak perlu repot mencari alasan lain untuk menerima tawaran menjadi istri kedua bagi lelaki itu.

 

“ Baiklah, aku menyetujui tawaranmu. Tapi, adakah sesuatu yang kau janjikan untuk balasannya? Ah, mungkin kita dapat membicarakan setelah aku memenuhi keinginanmu. Kau harus berjanji untuk memberikan apapun yang kuminta, bukan?”

 

Cheonsa mengulurkan tangannya di depan gadis itu. “ Ya, aku akan memberikan apapun yang kau inginkan. Aku berjanji untuk itu”.

***

 

Hye Hoon memandangi televisi yang menyala di hadapannya itu dengan pandangan datar. Sedikit menyesali dengan apa yang dikatakannya pada Cheonsa. Apakah dia sanggup menjalani pernikahan sebagai istri kedua? Sungguh, hal ini tak pernah terbayangkan di ingatannya sekalipun.

 

‘Aku hanya asal bicara tadi’.

 

Dia bisa mengatakan kalimat itu dengan santainya kepada Cheonsa. Tapi, menghapus begitu saja harapan orang lain sama sekali bukan tipenya. Dia bukan orang sejahat itu.

 

Namun, seketika terlintas keraguannya dengan keputusannya tadi. Dia memang mencintai Kyuhyun sebanyak itu, sampai dia rela mengorbankan dirinya sendiri. Namun, melihat Kyuhyun bahagia dengan wanita lain di hadapannya, dia takkan pernah sanggup. Dia terlalu takut untuk menunjukkan sisi lemahnya di hadapan Kyuhyun, dan akan memohon-mohon lelaki itu untuk meninggalkan istrinya untuk kembali menjalin hubungan dengannya.

 

“Hye Hoon~ah”.

 

Dengan cepat dia menolehkan pandangannya ke sumber suara. Melihat siapa yang memanggil namanya tadi, dia pun segera memamerkan senyum palsunya yang terasa canggung.

 

Hye Hoon menggumamkan terima kasih ketika wanita paruh baya yang menemaninya seumur dia hidup itu meletakkan secangkir teh hangat di hadapannya, lalu mengesapnya sedikit berharap agar pikirannya berubah sedikit rileks.

 

Imo, apakah kau akan anggap aku gila jika aku menerima permintaan Kyuhyun untuk menjadi istri kedua baginya?”, tanyanya tanpa basa-basi. Hye Hoon bahkan tak memperhatikan perubahan raut muka yang ditunjukkan Nyonya Lee yang berubah murung. Gadis itu tak tahu, betapa khawatirnya wanita yang telah menjadi pengasuhnya sejak kecil itu akan pertanyaannya tadi.

 

Nyonya Lee menatap gadis itu dengan tatapan lembutnya yang menenangkan, kemudian menyunggingkan senyum tipis yang bahkan terasa sangat hambar di bibirnya. “Tidak, Nak. Itu pilihanmu. Kau berhak melakukan apapun yang kau mau. Tapi……”

 

Wanita berusia empat puluh tahunan itu menggantungkan kalimatnya. Dia sedikit ragu untuk dapat mengatakannya atau tidak. Dia merasa tak pantas untuk mengatakannya di depan Hye Hoon.

 

“Katakan saja, Imo”, ujar Hye Hoon menimpali.

 

“ Bisakah kau memikirkannya lagi, Hye Hoon~ah? Menjadi wanita kedua, itu akan sangat sulit. Aku takut kau tak bisa melalui semuanya itu”.

 

Hye Hoon mengangguk tegas, membalas perkataan itu dengan melengkungkan senyum di bibirnya. Lalu tubuhnya bergerak mendekati wanita yang telah dianggapnya sebagai Ibunya sendiri itu kemudian memeluknya, mencoba mencari kehangatan yang dia rindukan dari dekapan itu.

 

“Aku akan melakukannya, Imo”.

 

***

Donghae hanya bergumam agak keras ketika asistennya mengatakan bahwa ada seseorang yang ingin menemuinya. Matanya masih meneliti setiap kata dari dokumen-dokumen yang diterimanya tadi pagi. Dia harus menyelesaikannya siang ini. Jadi, dia lebih memilih menghabiskan waktu istirahatnya di tempat kerjanya tanpa berniat untuk menikmati makan siang di luar.

 

Aigoo, Tuan Lee. Kau terlalu bekerja keras hingga mengabaikan jadwal makanmu. Pantas saja badanmu semakin kurus saja”.

 

Donghae teralihkan dari fokusnya membaca kertas-kertas penting itu. Matanya menyipit melihat seseorang yang kini berada di seberang mejanya, dengan kedua tangannya yang penuh dengan barang bawaan, menatap dirinya cemas.

 

Eomma?”, serunya tak percaya.

 

Ibunya jarang menemuinya di kantor, itulah mengapa dia sangat terkejut ketika beliau datang. Dan karena Donghae adalah orang yang menghabiskan lebih dari setengah harinya untuk bekerja di kantor, sudah dipastikan mereka jarang bertatap muka. Apalagi, Eommanya itu pernah berkata bahwa dia tak suka suasana kantor karena akan teringat anaknya yang sangat suka bekerja.

 

Tentang Donghae yang workaholic, itu bukan rahasia umum lagi. Dan Ibunya itu sangat membencinya karena hal itu. Padahal, Nyonya Lee jugalah yang mengetahui mengapa Donghae bersikap begitu.

 

“Kau tak senang melihat Ibumu?”, seru Eommanya itu pura-pura kesal.

 

Donghae hanya tersenyum menanggapinya. Dia beranjak dari kursi kerjanya, kemudian melangkah menuju deretan sofa dan meja berwarna senada yang biasa dipergunakan untuk menyambut tamunya. Ibunya pun mengikutinya, kemudian duduk di hadapan pria itu.

 

Selanjutnya, Donghae melahap makanan yang diantarkan Ibunya itu dengan semangat. Sebagai pria yang tinggal sendiri, tentu saja sangat menyenangkan bisa menyantap makanan rumahan yang sangat dirindukannya itu. Dia menghabiskan makanannya dengan cepat, kemudian meluruskan punggungnya di sandaran sofa.

 

Donghae mencoba membuka percakapan dengan Ibunya. Dia tahu Ibunya itu tak akan datang ke kantornya hanya untuk mengantarkan makan siang. “Aku tahu Eomma tidak mungkin mengunjungiku jika tidak ada sesuatu yang mendesak. Katakan, ada apa Eomma?”

 

“Kau sudah membujuknya, Donghae~ya?”, ucap wanita itu lembut, tersisip nada kesedihan dari cara bicaranya.

 

Untuk sejenak, Donghae terdiam. Mengingat percakapannya dengan gadis itu kemarin, dia sudah cukup bisa menyimpulkan apa yang ada di pikiran Hye Hoon. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, membuatnya tak bisa merasakan apapun ketika ingatan itu kembali.

 

Lelaki itu menarik nafas panjangnya yang terdengar lelah. “Ya, aku sudah melakukannya”.

 

“ Termasuk mengungkapkan perasaanmu padanya?”, serobot wanita itu cepat.

 

Reaksi Donghae adalah menundukkan kepalanya lesu. Dari situ saja, Nyonya Lee dapat mengetahui apa jawabannya. Donghae pasti tidak melakukan yang satu itu. Dia pasti melewatkan hal penting yang harus diketahui Hye Hoon dan melakukan apa yang menjadi kebalikan dari kata hatinya.

 

Eomma, sudah kubilang aku tak memiliki perasaan apapun pada Hye Hoon. Dia adikku, Eomma. Bagaimana aku bisa mencintai adikku sendiri? Itu tidak mungkin”.

 

Wanita paruh baya itu menangis dalam diam. Dia merasa bersalah kepada anaknya sendiri. Jika keadaannya tidak seperti itu, mungkin Donghae tidak akan memendam perasaannya itu sekian lama, bukan? Donghae tidak akan berubah menjadi seorang anak yang tak pernah lagi dikenalnya. Donghae akan menjadi lelaki penyayang yang ceria seperti dulu, setidaknya untuk dirinya dan Hye Hoon.

 

“Donghae~ya….”, panggilnya dengan suara lemah.

 

Lelaki itu tak menghiraukan panggilan Ibunya lalu kembali ke tempat duduknya semula. Dia menekuni tumpukan kertas itu lagi, seolah menolak untuk berbicara lebih jauh tentang perasaannya dan Hye Hoon. Cukup dia sendiri yang tahu bagaimana perasaannya terhadap gadis itu.

 

Tidak ada orang lain yang boleh tahu, termasuk Ibunya.

 

Beberapa menit kemudian, telinganya menangkap suara pintu yang tertutup. Dia mengusap dahinya yang tiba-tiba terasa pening, memikirkan Hye Hoon dan rencana bodohnya. Bagaimana bisa gadis itu mencintai seseorang brengsek seperti itu? Haruskah dia melakukan sesuatu untuk mencegah tindakan tak masuk akal Hye Hoon dan menuruti apa yang dikatakan Ibunya?

 

Disela kegiatannya memikirkan cara terbaik untuk memecahkan masalah ini, pria tampan itu melebarkan matanya ketika sosok yang selalu membuat jantungnya berdetak tak beraturan itu menerobos masuk ke ruangannya. Hye Hoon datang dengan mata dan hidungnya yang memerah, dan Donghae berusaha menyembunyikan kekhawatiran yang menderanya dibalik tatapan dinginnya.

 

Gadis itu membangun kontak mata yang sangat intens dengannya, membuat Donghae terperangkap dalam tatapan mata cokelat itu. Keduanya terlarut dalam keheningan, sebelum kemudian Hye Hoon membuka suara.

 

Oppa, kumohon nikahi aku saja”.

 

-TBC-

Ta-da! Beda kan ke bawahnya? Oke, aku mulai nemuin cerita yang pas dan aku pikir aku gak bisa lama-lama mengabaikan ff ini.

No editing, mianhae:(

Untuk chap selanjutnya, jangan berharap banyak. Kalian tahu sendiri, aku sangat sangat bad banget buat update ff chap. Tapi semoga kali ini beda^^

Thanks yang udah mau baca apalagi nyempetin waktu buat support aku lewat comment. Mwah!

217 thoughts on “Second Wife (Between Love and Guilty) Scene 1

  1. Apa maksud kyuhyun memintanya mengandung anak kyu dan cheonsa??
    Apa kyu ingin kembali menyakiti Hye hoon?!
    .
    Btw, aq penasaran gimana kisah asmara kyu dan hyehoon dulu. Knapa kyu memilih cheonsa dan kemudian menyakiti hye;
    .
    Izin bca next partnya thor :-)

  2. Nahkan udah bedakan bawahnya, konyol juga ya? Dulu kenapa kyuhyun pilih sama cheonsa kalau akhirnya dia bakal milih hyehoon buat jd istri keduanya? Apa dulu cheonsa udh ‘sakit’ dr dulu atau baru” ini?

  3. Jadi ibunya Donghae itu Imo’nya hye hoon??? Ini maksudnya saudara atau maaf pembantunya hye hoon ya??? Soalnya rada bingung juga kalo maksudnya Imo “saudara”nya kan berarti mereka nggak boleh berhubungan??? Nah ini ibunya Donghae support bgt 😵😵😵😵 …. Tapi nggak papa deh, nikahin aja hye hoon’nya ketimbang sama kyuhyun… Duhhh mana istrinya kyuhyun pale nyamperin segala 😢😢😢😢 kesihan hye hoon.. Frustasi antara cinta sama sakit hati… Gue juga udeh mulai frustasi bacanya 😢😢😢 #lapingus … liat di library perjalanan gue masi 7 part lagi 😧😧😧😧 semangattt gue kalo ff nya begini 💪💪💪💪

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s