It’s Over, Again (Sequel of Our Love Is A Sin )


 

 

 

Semuanya terjadi begitu cepat. Tak ada yang menyangka jika dibalik keadaan Tuan Cho yang terlihat baik-baik saja, pria berusia empat puluh tahunan itu menyimpan suatu penyakit parah yang disembunyikannya selama beberapa tahun dari keluarga besarnya. Tiga hari lalu, Direktur Cho Corp. itu ditemukan tak sadarkan diri di ruang kerjanya karena serangan jantung yang membuat seluruh keluarganya panik, tak terkecuali anak sulungnya yang bernama Cho Kyuhyun.

 

Kyuhyun tak bisa terlalu lama mendampingi Ayahnya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, karena dengan kabar tumbangnya penguasa Cho Corp tersebut, saham perusahaan keluarganya mengalami lonjakan yang signifikan, sehingga karena itu setiap hari dia harus bekerja lembur di perusahaannya untuk mengembalikan kondisinya pada titik semula. Berkat kerja kerasnya dan dengan bantuan pegawai-pegawainya untunglah dia dapat mengendalikan krisis perusahaan itu dengan baik.

 

Dia mempercayakan Ibu dan adiknya untuk menjaga Ayahnya ketika dirinya berjuang mengembalikan keutuhan perusahaan yang diturunkan dari Kakeknya itu. Istrinya tak bisa berlama-lama di tempat yang diperuntukkan untuk orang yang sakit itu karena wanita itu sedang dalam masa-masa rentan karena kehamilannya sudah menginjak angka tujuh bulan.

 

Setelah menemukan ruangan VVIP tempat dimana Ayahnya dirawat, Kyuhyun segera memasuki ruangan besar itu dengan langkah kecil karena tubuhnya yang merasa lemas. Dadanya menyempit ketika situasi yang mengejutkannya ketika dia membuka tirai yang menghubungkannya dengan tempat tidur mewah dengan fasilitas medis yang lengkap itu tak pernah disangkanya.

 

Cho Yeonghwan, ayahnya, sedang menggenggam tangan dari seorang lelaki yang memiliki usia yang tak jauh beda dengannya. Jemari lemah itu menggenggam tangan pemuda yang berada di samping ranjangnya dengan kuat, dengan mata pria yang semakin menua itu menatap lelaki itu dengan penuh permohonan.

 

Kyuhyun terpaku di tempatnya, tak sanggup melanjutkan langkahnya untuk sekedar menyapa Ayahnya yang baru saja siuman. Pandangan lelaki itu bertumbuk dengan mata cokelat milik Adiknya yang menyadari kehadirannya. Namun, hanya beberapa detik mereka bertukar pandang, Hyehoon seakan tersadar dari kesalahannya lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain, yakni ke tempat dimana pria yang berstatus kekasihnya itu berada.

 

“ Bisakah kau menikahi Hyehoon secepatnya, Donghae~ya? Mungkin permintaanku terlalu berlebihan, tapi aku ingin menyaksikan pernikahan putriku satu-satunya ini dengan kedua mataku. Mungkin usia pria tua ini sudah semakin berkurang, dan mungkin akan menemui ajalnya dalam waktu dekat”.

Appa~”, protes Hyehoon keras, tak terima dengan apa yang baru saja dikatakan Ayah kandungnya tentang umurnya yang katanya sudah tak lama lagi.

 

Kyuhyun menangkap anggukan mantap dari lelaki yang telah memiliki gadis kecilnya itu, tanda jika Donghae menerima pinangan yang dilontarkan Cho Yeonghwan tadi.

 

“ Aku akan menikahi putrimu secepatnya, Abeonim”, ucap Donghae dengan kata-katanya yang terdengar meyakinkan, tanpa ada sedikitpun keraguan di benaknya. Kedua sejoli itu saling bertatapan sekilas, dengan senyuman tulus yang merekah di bibir keduanya.

 

Terdapat sebuah benda tajam abstrak menusuk-nusuk ulu hatinya, membuatnya merasakan perih yang tak terperi. Kyuhyun belum mempersiapkan hatinya untuk melihat seorang yang sangat dicintainya bersanding dengan lelaki lain di depan altar. Tak cukupkah dia melihat kebersamaan mereka hampir di setiap harinya?

 

Merelakan. Itulah hal terberat yang dapat dia lakukan untuk kebahagiaan mereka. Ya, dia tak pernah bahagia dengan pernikahannya, bahkan anak yang berada di dalam kandungan istrinya tak bisa menawar rasa sakit akibat kehilangan wanita yang memiliki orang tua kandung yang sama dengannya itu.

 

***

 

Dua kejadian yang sangat membuatnya hampir hilang kesadaran itu terjadi dalam selang waktu yang sangat sempit. Beberapa hari lalu, airmatanya terkuras karena menangisi Ayahnya yang sakit keras. Dan baru saja beberapa menit kemudian, dia harus mendengar permintaan lelaki yang turut andil membesarkannya itu untuk melangsungkan pernikahannya dengan Donghae beberapa hari ke depan.

 

Seandainya kejadian ini tak pernah terjadi, dan jika permohonan penuh harap itu terucap, Hye Hoon yakin sampai kapanpun dia tak akan menjalaninya. Selamanya, dia tak akan siap. Dia telah berhasil menghindari Donghae ketika pria itu hendak memperbincangkan hubungan mereka ke depannya, beberapa kali. Ya, Donghae ingin melangsungkan pernikahan dengan gadis itu. Tapi dia tidak.

 

Dia tak pernah ingin membangun sebuah keluarga dengan pria yang tak pernah dicintainya. Menurutnya, jika itu terjadi, maka akan memberikan rasa sakit yang mendalam bagi pria itu. Pernikahan itu sakral, harus dijalani oleh orang yang saling mencintai. Bukan dengan cinta sepihak seperti ini.

 

Hye Hoon telah memilih seseorang untuk dia cintai. Meskipun, dia tak bisa menggapai cintanya. Selamanya tak akan ada tempat untuk pria lain di hatinya.

 

Dia segera mengusap bagian di bawah lingkaran matanya ketika melihat bayangan Donghae mendekat. Menghapus semua pikiran-pikiran yang berisikan banyak keraguan tentang masa depan yang hendak dijalani mereka. Hye Hoon harus terlihat senang dengan rencana itu, walaupun sebenarnya hatinya merasa tersiksa.

 

Donghae melangkah dengan ragu. Semua itu dikarenakan ucapannya –-atau bisa dikatakan janjinya–- yang bahkan dilontarkan tanpa seizin kekasihnya. Dan itu kemudian membuat dia merasa canggung. “ Minumlah”, ucap Donghae mencoba membalikkan suasana, dengan menyodorkan secangkir kopi yang masih mengepul itu lalu kemudian mengambil tempat di sebelah wanitanya.

 

Mereka terdiam, terbawa dengan pikiran mereka masing-masing tentang pernikahan dadakan yang akan dilangsungkan segera. Hye Hoon mengesap cairan hangat itu sedikit demi sedikit, mencoba menikmati rasa yang bahkan terasa hambar di lidahnya.

 

“Maafkan aku. Aku tak seharusnya mengiyakan permintaan Abeonim sebelum meminta persetujuanmu”.

 

Mengetahui bahwa keadaan ini tak akan membaik tanpa inisiatifnya, Donghae membuka pembicaraan mengenai masalah tersebut dengan meminta maaf. Pertama-tama, setidaknya dia ingin Hye Hoon tahu bahwa ada penyesalan pula yang timbul di benaknya. Donghae ingin menunjukkan bahwa merasa bersalah karena mengambil langkah yang belum tentu dapat diterima gadisnya itu.

 

Hye Hoon membalas perkataan Donghae dengan tersenyum tipis, yang tentu saja dapat membuat Donghae merasa lebih baik. Gadis itu meremas punggung tangan Donghae yang bebas, kemudian menggenggamnya erat, meyakinkan secara non verbal bahwa Hye Hoon tidak apa-apa dengan tindakan Donghae tadi.

 

“Aku tak penah menyalahkanmu, justru aku senang kau melakukannya untukku. Terima kasih, Oppa”.

 

Lelaki itu tertegun sejenak. Dia mencoba menajamkan pendengarannya ketika kata-kata itu terngiang di telinganya. Donghae, dengan hatinya yang membuncah itu pun mengulum senyum. Mencoba menahan rasa bahagianya yang bahkan tak bisa disembunyikan lewat binar mata hitam legamnya. Ketakutannya hilang dalam sekejap, hanya menyisakan pancaran-pancaran kebahagiaan yang semakin meningkat di setiap detiknya.

 

Dia bertanya dengan sedikit keraguan yang tercetak jelas di dahinya. “Jadi, kau tak keberatan dengan pernikahan ini?”, ucap pria itu memastikan.

 

Hye Hoon menggeleng keras, membuat senyuman simetris yang terukir di bibir lelaki itu semakin melebar. “Tidak, tidak sama sekali. Aku….tidak merasa keberatan sedikitpun dengan permintaan ini. Hanya saja……”

 

Kalimat menggantung itu cukup membuat debaran jantung Donghae semakin mengencang. Rasa takutnya kembali muncul. Mungkinkah bukan Dia yang Hye Hoon pilih untuk menjadi calon suaminya? Apakah Hye Hoon memiliki lelaki lain untuk dinikahinya?

 

Tidak. Itu tidak mungkin.

 

Donghae mencoba bersikap tenang. Dia menatap kedua mata gadisnya dengan tatapannya yang lembut, lalu tangannya bergerak merapikan helaian rambut Hye Hoon yang tipis dan lembut.

 

“Katakan saja, sayang. Aku siap mendengarkan”, ujarnya penuh pengertian.

 

Hye Hoon menghela nafas sebelum melanjutkan penerangannya. Dia tahu, tak seharusnya dia menyakiti hati lelaki baik di hadapannya ini. Hubungan keduanya terlalu jauh. Dia terlalu banyak memanfaatkan Donghae demi kepentingannya sendiri. Bukankah dia sangat egois? Bukankah seharusnya lelaki itu meninggalkannya, bukannya semakin terjerumus untuk membantunya seperti saat tadi?

 

“Sebelum kita melangkah ke jenjang pernikahan, ada baiknya kau mengetahui segalanya tentangku. Bukankah kita harus saling mengetahui segalanya tentang pasangan kita sebelum menikah? Kita, khususnya aku, bukanlah manusia sempurna yang tak pernah punya kesalahan. Dan aku punya suatu kesalahan fatal yang mungkin tak akan pernah bisa dimaafkan, sampai kapanpun. Kupikir, kau bisa lebih memikirkan semuanya dengan matang sebelum benar-benar bersedia menjadi pasangan hidupku. Aku tidak mau kau menyesal nantinya”.

 

Pancaran matanya meredup. Hye Hoon menghalau titik-titik air yang siap meluncur dari balik matanya. Mengingat masa lalunya yang kelam, membuat hatinya teriris. Beberapa bulan ini, walaupun tak sepenuhnya, namun dia mencoba melupakan. Namun, Mengatakan hal ini sekarang, membuat luka itu kembali basah. Dadanya terasa sesak, seakan paru-parunya itu sudah tak bersarang lagi di tempatnya.

 

“Aku…bukan wanita sempurna karena pernah membunuh darah dagingku sendiri”

 

Pernyataan itu bagai mimpi buruk bagi Donghae. Mengetahui sesuatu yang disembunyikan kekasihnya itu, walaupun dapat dibangun hanya dalam satu kalimat, sukses mengikis keyakinannya untuk menjadikan Hye Hoon sebagai istrinya.

 

Bagaimanapun, perbuatan Hye Hoon itu sesuatu yang tak pernah mudah akan dilupakannya. Terlebih lagi, jika ini disangkut pautkan dengan dirinya, seorang lelaki pasti ingin menjadi yang pertama bagi wanitanya.

 

Donghae menundukkan wajahnya dalam, menempatkan kedua jarinya di dahinya kemudian mengurutnya pelan. Kepalanya berdenyut karena kata-kata terakhir Hye Hoon tadi terus menerus terulang di pikirannya.

 

”Mianhae, Oppa. Aku…………….”

 

“ Itu hanya masa lalu”, potong Donghae cepat. Dia tak ingin Hye Hoon mengatakan penyesalan-penyesalan tak ada gunanya, yang malah akan semakin mengiris-iris hatinya. Dia kecewa, itu pasti. Dia marah karena Hye Hoon seakan ingin menghentikan rencana pernikahan mereka dengan mengungkapkan rahasianya itu.

 

Tapi, dia tak akan menyerah. Apapun yang terjadi, dia tak akan pernah melepaskan wanitanya.

 

Donghae tak apa-apa. Dia orang yang paling mengerti Hye Hoon dibanding siapapun. Dia tak pernah menyalahkan gadis itu, apapun yang dilakukannya. Karena dia tahu, Hye Hoon yang paling tertekan dengan pengakuannya ini. Hye Hoon-lah, yang harus dikasihani. Bukan dirinya.

 

Lelaki itu menyediakan dada bidangnya untuk tempat wanitanya bersandar. Mengusap puncak kepala gadis itu penuh sayang, mengabaikan fakta bahwa dia sendiri juga merasa terluka. Banyak pertanyaan yang ingin dia sampaikan pada wanitanya, namun dia lebih memilih menutup mulutnya rapat-rapat, tak ingin mendengar pengakuan lain yang semakin menambah beban berat di hatinya.

 

“ Kau tak perlu sempurna. Karena aku lebih suka kau menunjukkan kekuranganmu di hadapanku, agar aku bisa menjadi kelebihanmu”.

 

***

 

Dia kalah.

 

Kyuhyun bahkan tak bisa menghindar ketika peristiwa yang ditakutkannya itu terjadi. Sebuah acara sakral yang paling ingin dilewatkannya selama hidupnya. Pergi. Itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan kehancuran hatinya yang bahkan kini sudah tak berbentuk lagi. Tapi sekarang, dia bahkan tak bisa berbuat apa-apa selain diam di tempatnya tanpa bisa beranjak se-sentipun.

 

Lebih parahnya lagi, dia harus berpartisipasi dalam acara itu, bukannya menghadirinya dengan menghindar dan mengambil kursi di barisan paling belakang, menyembunyikan matanya yang pasti memerah.

 

Dia tak bisa mengatakan tidak kepada apa yang diperintahkan oleh kedua orangtuanya, itulah salah satu kelemahan lelaki itu. Dulu, Kyuhyun tak bisa menolak ketika orang tuanya menjodohkan lelaki itu dengan seorang putri dari rekan orang tuanya sampai mereka menjalani ikatan pernikahan.

 

Dan sekarang, dia harus mengiyakan ketika dengan tanpa belas kasihannya Ayahnya meminta Kyuhyun untuk menggantikan lelaki paruh baya itu mengantarkan putrinya berjalan di altar.

 

Apakah orang tuanya tak pernah tahu betapa anaknya ini tak ingin melakukan hal itu? Apakah mereka tak pernah merasa bahwa dia, mencintai adik perempuannya lebih dari apapun, dan akan sulit bagi dirinya untuk melepas gadis kecilnya ke pangkuan lelaki lain?

 

Memang, tak ada pilihan lain selain menuruti perintah itu untuk saat ini. Dia tak mungkin mengambil opsi pertama yang ada di otaknya untuk mengabaikan semua orang untuk menculik gadis kecilnya dari acara laknat ini. Untuk saat ini, untungnya dia masih waras.

 

Kyuhyun memegang kenop pintu erat-erat, namun pintu itu tetaplah tertutup. Rahangnya mengeras menahan amarah yang datang tiba-tiba, berusaha untuk merapikan kembali tatanan hatinya yang hancur, yang bahkan dia yakin akan lebih parah ketika dia melihat paras cantik seorang wanita yang kini menunjukkan kedewasaan dengan mengenakan gaun putih panjangnya.

 

Dia pun memutar gagang itu sepelan mungkin, ingin agar Hye Hoon tak menyadari kehadirannya. Walaupun diam-diam, Kyuhyun hanya ingin mengamati gadis itu untuk terakhir kalinya. Bolehkah? Mereka, sudah berjanji untuk saling melepaskan. Namun, tak bisa dipungkiri, Kyuhyun bahkan tak bisa menghapus ingatan sedikitpun tentang gadis itu.

 

Punggung mungil itu….terlihat sangat rapuh. Kyuhyun dapat melihat pundak Hye Hoon yang bergerak naik turun, sepertinya gadisnya itu sedang menangis. Tanpa dia sadari, setitik air mata yang jatuh dari bulatan hitamnya pun ikut jatuh membasahi lantai.

 

Kyuhyun seharusnya tak bersikap sebagai seorang yang paling terluka dengan semuanya ini. Jika dia hancur lebur, apa yang bisa dia katakan tentang gadis itu?

 

Hye Hoon telah melihat orang yang dicintainya menikah dengan wanita lain, menyaksikan setiap harinya kebersamaan Kyuhyun dan istrinya di sebuah rumah yang sama-sama mereka tempati, menahan rasa perih yang menyiksa ketika gadis itu melihat dirinya bahagia dengan keluarga kecilnya.

 

Dan sekarang, Hye Hoon pun harus menjalani pernikahan yang bahkan tak pernah diinginkannya. Semua terasa sangat berat dihadapi, apalagi untuk ukuran gadis manja sepertinya.

 

Kyuhyun mendekati jendela itu perlahan, tak ingin mengganggu Hye Hoon yang kini larut dalam kesedihannya. Sungguh, semua ini menyakitinya. Sangat menyakitkan melihat orang yang dicintainya terluka karenanya, menangis karenanya, dan bahkan dia tak bisa berbuat apa-apa untuk mengobatinya.

 

Dengan lancang, ibu jarinya menyentuh pipi mulus yang kini dikotori oleh cairan bening yang membuat kulit lembut itu basah, yang sontak membuat Hye Hoon menghadap ke arahnya.

 

Pandangan mereka beradu, dan Kyuhyun tak bisa mendeskripsikan apa yang dia rasakan ketika dia tenggelam dalam bola mata cokelat favoritnya itu. Dia hanya merasakan pandangannya kabur, lalu cairan yang berasal dari matanya itu berlomba-lomba membasahi pipinya.

 

Keduanya menangis, dengan hening yang masih menyelimuti ruangan serba putih itu. Tak ada yang mampu berucap. Lidah mereka terasa kelu. Padahal, banyak sekali kalimat-kalimat yang belum sempat mereka ucapkan bahkan setelah mereka terpisah sekian lama.

 

“ Mengapa hidup kita masih lama? Kenapa kau dan aku masih ada dalam kenyataan ini, kenyataan bahwa kita masih saling mencintai, kenyataan bahwa kita masih memiliki hubungan darah. Dan…kenapa? Kenapa harus aku yang berstatus sebagai kakakmu? Mengapa harus aku sendiri yang harus melepaskanmu, merelakan dirimu untuk lelaki lain? Mengapa, takdir ini sangat kejam, Hye Hoon~ah? Mengapa?”

 

Teriakan-teriakan itu mengungkapkan rasa yang kini berkecamuk dalam pikirannya. Menyuarakan hatinya yang terluka parah karena dia bahkan tak bisa berbuat apapun untuk menghalangi semuanya.

 

Hye Hoon semakin larut dalam isakannya, dan itu membuat luka di batin Kyuhyun semakin dalam. Akhirnya, lelaki itu mengalah dan membiarkan air mata Hye Hoon membasahi jas putihnya, memeluk wanita itu erat sebelum beberapa menit lagi dia melepasnya.

 

“Jika dulu aku bisa melalui semua ini, kau juga pasti bisa melaluinya. Demi Appa. Appa pasti bangga karena sejak dulu kau selalu menjagaku dengan baik, lalu sekarang kau juga menggantikan tugasnya untuk mengantarku menemui prince charming-ku di hadapan pendeta”.

 

Hye Hoon menarik tubuhnya dari pelukan Kyuhyun, kemudian menangkup wajah tampan itu dengan menggunakan kedua tangannya. “Kau bisa melaluinya. Lalu kita akan menjalani hidup kita masing-masing setelahnya”.

 

***

 

Langkah yang dilaluinya di atas karpet berwarna semakin lama semakin terasa berat. Kyuhyun mengeratkan genggaman tangannya di telapak tangan gadis itu, yang dibalas Hye Hoon dengan menoleh dan menunjukkan senyuman palsu mereka.

 

Wajah-wajah bahagia dapat dilihatnya di seluruh penjuru ruangan. Semua orang memancarkan senyum-senyum terbaiknya karena ini adalah merupakan salah satu acara untuk menjemput kebahagiaan. Kyuhyun bisa menangkap tangisan haru yang tercetak jelas di wajah kedua orang tuanya. Mereka tentunya orang yang paling berbahagia karena menyangka bahwa anak bungsunya sangat senang dengan pernikahan ini.

 

Dan terakhir, orang yang bisa dikatakan paling berbahagia adalah seorang lelaki yang menunggu mereka di ujung altar.

 

Bibir lelaki itu tak pernah luput dari senyuman tulus. Kyuhyun sempat melirik gadis yang berjalan beriringan dengannya, gadis itu hanya menunduk mengamati karpet polos yang bahkan tak ada menarik-menariknya. Tangan hangat Hye Hoon yang bergetar meyakininya bahwa gadis itu sedang menahan tangis sekarang.

 

Dia, hanya bisa menghela nafas panjang.

 

Langkah keduanya pun sudah menemui titik akhir. Kini, mereka telah berhadapan dengan sang calon pengantin pria yang dengan tuxedo putihnya yang mempesona. Kyuhyun mengulur waktu beberapa detik, menahan tangan mereka tetap bertaut walaupun tangan Donghae telah terulur, siap untuk menerima Hye Hoon dalam genggamannya.

 

Lalu, waktu pun terasa berhenti berputar ketika mereka saling menatap. Hanya beberapa detik, namun benar-benar membuat keduanya semakin lemah. Meragukan bahwa mereka bisa hidup tanpa satu sama lain di sisinya. Semakin mengetahui bahwa mereka lebih memilih mati daripada mengarungi penderitaan seperti ini.

 

Kyuhyun melonggarkan pegangan tangannya. Menyerahkan tangan adiknya untuk digenggam oleh pria yang akan mengikrarkan janji suci sebagai bukti menyatunya cinta mereka. Sedikit melunturkan egonya, dia menepuk bahu Donghae lalu mengucapkan kalimat yang biasanya seorang ayah ucapkan jika melepaskan putrinya untuk calon pendamping hidupnya.

 

“Jaga dia baik-baik”.

 

Kyuhyun pun berbalik, berjalan maju meninggalkan sepasang insan yang kini tengah melakukan prosesi untuk mengikatkan hubungan mereka. Merasa lega karena telah mengemban tugas yang diberikan Ayahnya yang tengah duduk di kursi rodanya itu dengan baik, walaupun hal itu sangat menyakiti hatinya yang memang sudah tak bisa diselamatkan lagi.

 

Dia menghapus air mata yang menetes tiba-tiba dengan punggung tangannya kasar, menyadari bahwa itu sudah tidak ada gunanya lagi sekarang.

 

Sampai kapanpun, jika keduanya itu belum mati, mereka tak akan pernah bersatu. Mereka harus menjalani hidup mereka sampai berpuluh tahun kedepan, mungkin sampai mereka sudah saling lupa nama satu sama lainnya, sesakit apapun itu. Karena, kebahagiaan mereka telah menanti. Dan kebahagiaan itu akan mereka rasakan lebih besar, dan akan mereka nikmati hingga selamanya.

 

-END-

 

Gaada proses editing yaa maaf…….

Yang pengen bikin Kyuhyun menderita disini, here it is. Tapi sorry kalo mengecewakan. Kurang feelnya ya? Aduuh maaafff bener-bener gagal nulis ff sad haha

Pendek ya pendek? Gapapa deeeh aku bener-bener kurang waktu niih soalnya haha

Okay, kalau ada yang mau aku lebih sering update, comment ya? Kalian gak tahu sih kalo aku tuh semangat atau enggaknya nulis karena kalian juga.

Ditunggu yaa ff lainnya^^ yang kangen hye-kyu diary, please waiting. Aku ada surprise buat kaliaaan hehehehehe

143 thoughts on “It’s Over, Again (Sequel of Our Love Is A Sin )

  1. Kalo menurut aku, cukup segini aja ceritanya. Dah pas endingnya. Walau buat kyuhyun dan hyehoon ini sad ending, karena mereka gak bisa bersatu tapi ya mau gimana lagi. Mereka kan sodara kandung. Tapi kalo tiba2 mereka ternyata bukan sodara kandung, itu malah lebih nyesek. Kasian donghae sama istrinya kyu. Juga keliatan kayak drama. Menurut aku loh yaaa ✌😙

  2. 😭😭😭😭😭😭 sebenernya kalo dibikin sequel lagi boleh nih, ntar ceritanya hye hoo bukan sodara kandungnya kyuhyun 😂😂😂😂

  3. sequel nya juga sad ending, tapi realita sich,ga mungkin kan kalo saudara kandung bisa bersatu dalam pernikahan, semoga hyehoon ma Kyuhyun bahagia ma pasangan masing-masing..

  4. Nyess banget sih,sebenernya hyehoon cocok sama kyuhyun cuma kan kakak adek tapi aku ngerasa donghae coxok juga sama hyehoon… oke bergalau ria (?)

  5. Sedih memang klo dirasain, dn smp kpan pun cinta mrk it salah tp di balik kesedihan pst ad kebahagiaan yg akn muncul perlahan
    Mngkn it yg terbaik buat mrk, cinta kn g hrus memiliki, nangis baca nya g tega

  6. Ya ini akhir terbaik buat mereka semua, mereka memang harus seoerti ini. semoga mereka menemukan kebahagian mereka sendiri. Karena cerita ini masih belum berakhir.
    begitukan elsa?😉😉

  7. Bener2 bikin readers galau. Liat nyeseknya jd pngen dukung sama kyu , tp jelas itu dilarang. Kasian donghae oppaku … Cintanya bertepuk sblah tangan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s