[Songfic] Breath


Mataku terbuka begitu saja, seolah ada sesuatu yang mengembalikan kembali roh-ku dalam waktu cepat. Aku terbangun tengah malam seperti yang biasa kualami beberapa tahun ke belakang. Sampai saat ini pun berjalan seperti itu.

 

Dan kebiasaanku setelah itu terjadi tak pernah berubah. Aku terlentang di tengah-tengah ranjangku yang besar, menatap nanar langit-langit kamar berwarna putih polos yang datar. Pikiranku melayang mengingat bunga tidur yang kembali menghampiri. Mimpiku tentangnya, tentang kebersamaan yang pernah kami rengkuh bersama. Atau bahkan aku pernah alam bawah sadarku itu membawaku ke alam yang indah, dimana aku menjalani acara sakral yang disebut pernikahan dengannya.

 

Aku melirik ke nakas di sebelah tempat tidurku, dan menemukan foto itu masih tertata rapi disana. Seharusnya, lima tahun lalu setelah kami berpisah, aku harus membuangnya, bahkan membakarnya jika mampu. Tapi nyatanya, aku bahkan tak bisa menyingkirkannya.

 

Rindu yang tertanam di hatiku bahkan menyakiti hatiku lebih dalam. Cinta itu pun semakin membuatku terluka karena aku bahkan tak bisa menggapainya. Membelengguku untuk tetap diam di tempat, sedangkan kutahu dia sudah berjalan jauh di depan bersama beberapa wanita yang sempat dan sedang menjalin hubungan dengannya.

 

Banyak pengandaian yang memenuhi otakku saat ini. Jika dulu aku tak sempat membiarkannya pergi, apakah kami masih bisa menikmati kebahagiaan bersama? Apakah dia bahkan bisa lebih mencintaiku dibanding cintanya yang besar yang diberikannya dulu?

 

Dia, Cho Kyuhyun yang kutahu adalah lelaki yang paling mencintaiku dari siapapun di dunia ini.

 

Dan bodohnya aku memutuskan untuk berpisah darinya, di saat duniaku terlalu penat untuk sekedar memikirkannya ataupun memperhatikan kehadirannya.

 

Aku yang bersalah disini, namun aku yang paling merasa terluka.

 

Aku menyadari, ini karma bagiku karena aku bahkan tak pernah menoleh ke arahnya, berada di sisinya di saat dia membutuhkanku sedangkan dia acapkali melakukannya.

 

Tapi sungguh, aku benar-benar tak sanggup lagi untuk menahan luka batin yang kualami ini. Tak bisa melupakannya ketika ku yakin dia tak pernah memikirkanku, rasanya sangat sulit.

 

Dengusanku meluncur begitu saja ketika kutahu bahwa ini sama sekali bukan salahnya. Dia masih mencintaiku atau tidak, aku tak berhak lagi mencampurinya. Aku menangkis hati kecilku yang berbicara bahwa dia bahkan sudah tak mengingat namaku lagi, dan tak mungkin masih mencintaiku seperti saat-saat dulu. Dan itu malah membuatku semakin menyedihkan.

 

Tanpa kesadaranku sepenuhnya, aku bahkan telah memegang benda elektronik berwarna putih itu di sebelah tanganku, dengan mataku bertugas mencari-cari suatu nama di deretan kontak.

 

Cho Kyuhyun.

 

Nama itu muncul, dan aku tergugu memandanginya. Mataku tiba-tiba berair bahkan tanpa kendaliku, begitu juga dengan otakku yang kembali memutar kenangan yang pernah kurajut bersamanya, membuat aliran cairan bening itu semakin deras.

 

Ibu jariku menggeser ikon hijau yang tertera di layar ponsel, lalu memasangkan benda mungil itu di telinga. Tak ada jawaban. Tentu saja, ini masih dini hari dan kuyakin dia masih terlelap. Namun, aku tak menyerah begitu saja. Kucoba kedua kali, kali ini dia mengangkat panggilannya.

 

Kami tak saling berucap kata. Aku hanya bisa mendengar pantulan suara isak tangisku yang semakin mengeras. Kyuhyun menghela nafas beratnya, sepertinya dia merasa frustasi karena aku yang tiba-tiba memanggilnya ketika aku bahkan sedang menangis.

 

Apakah dia tahu jika air mata ini untuknya? Aku bahkan meragukannya. Dia mungkin bahkan berpikir bahwa aku lebih mudah melupakannya, karena aku yang selalu bersikap tak peduli.

 

Sakit….apakah kau tahu jika aku lebih lama mengobati rasa sakit ini, Kyuhyun~ah?

 

Hanya mendengar hembusan nafasnya di seberang sana pun, aku merasa hatiku lebih nyaman. Setidaknya, aku punya alasan untuk kembali terbangun di pagi hari esok, mengingat di dalam hati jika dia masih berada di dunia yang sama denganku.

 

Dalam sekejap, bunyi yang dihasilkan dari handphone itu berubah.

 

Tak ada suara-suara menyakitkan itu lagi. Yang sekejap digantikan oleh suara operator yang memberitahukan sambungannya telah terputus. Aku melempar benda itu sampai hancur di lantai, kemudian menenggelamkan wajahku diantara kedua lututku yang ditekuk untuk kembali menangis sejadinya.

 

Dia pergi….Dia benar-benar pergi dari kehidupanku.

 

Ting Tong

 

Entah berapa menit atau bahkan berjam-jam yang kulalui hanya untuk mengeluarkan air mata yang persediaannya bahkan tak habis-habis. Suara bel itu kemudian terdengar lagi. Siapa yang bertamu malam-malam begini? Satu-satunya teman yang kumiliki, Park Hyorin, bahkan sedang berlibur bersama orang tuanya sampai seminggu ke depan. Aku memberanikan diriku untuk mengecek, takut-takut jika itu adalah salah satu atasanku yang tiba-tiba datang untuk memberiku tugas.

 

Aku bahkan tak sempat melihat cermin untuk mengetahui betapa buruknya penampilanku ini. Mungkin mereka akan mengerti, jika seorang wanita muda sering mengalami hal-hal seperti ini.

 

Badanku rasanya lelah sekali. Bahkan untuk berdiri saja aku harus berpegangan kepada benda-benda sekitar untuk membantuku menopang berat badan. Aku hendak memutar knop pintu, namun sebelum aku dapat melakukannya pintu menjeblak terbuka. Takut-takut, kudongakkan wajah untuk melihat siapa pelakunya, dan aku hanya bisa bergumam ketika melihat wajah tampan yang masih melekat sempurna itu tanpa jarak yang berarti.

 

“ Cho Kyuhyun? ”

 

Dengan cepatnya dia menangkupkan tangannya di sekitar tubuhku, membuatku merasakan hangat tubuhnya karenanya. Aku terdiam, pikiranku masih mencerna apakah ini hanya khayalanku atau tidak. Jika ini adalah hanya sekedar halusinasiku, sudah dipastikan bahwa aku sudah mengalami masalah otak yang serius karena terlalu banyak memikirkannya.

 

Namun, ketika merasakan jari-jari panjangnya menyusuri rambutku, aku tahu bahwa ini nyata. Dia disini. Dia ada untuk menenangkanku karena terlalu banyak merindukannya.

 

“ Bodoh. Sudah kubilang, jangan pernah menangis di belakangku. Kau hobi sekali membuat orang panik. Apa kau pikir meneleponku dengan isak tangis seperti itu adalah suatu hal yang lucu?”, gerutunya tanpa jeda membuat aku semakin merindukan sosoknya.

 

Mian……”

 

Hanya itu. Hanya kata itu yang bisa kulontarkan untuk menjawab semua kekhawatirannya. Aku tak bisa menyangkal, ataupun bersikap frontal mengungkapkan seluruh isi hatiku padanya. Aku masih punya harga diri, sebanyak apapun cintaku untuknya, aku tak akan pernah mencoba merebut kekasih orang dengan mengungkapkan perasaanku padanya.

 

“ Katakan, apa itu aku? Apa itu aku yang membuatmu menangis seperti ini?”

 

Aku diam. Tak mampu menjawab, menghindari tatapan matanya yang mencoba mengorek kebenarannya. Dia menghembuskan nafas kasarnya di hadapanku, kemudian meraih daguku untuk menatap kedua mata hitam legamnya.

 

“Gadis bodoh”, lirihnya pelan.

 

Dia memagut bibirku cepat, mengecupnya berkali-kali kemudian melepasnya ketika aku sudah merasa semakin lunglai. Meraih tubuhku untuk bersandar di dada hangatnya, merasakan aroma tubuhnya yang sangat kurindukan. Dia mengelus punggungku berulang, sepertinya dia mencoba untuk menenangkanku yang masih tersedu karena tangisan yang begitu hebat tadi.

 

“ Jika kau masih mencintaiku, mengapa sangat sulit untuk mengungkapkannya? Mengapa kau menyakiti dirimu sendiri hanya karena kau sangat merindukanku? Apa kau tahu betapa aku merindukanmu juga, hah? Apa kau tahu jika aku bahkan tak bisa tidur setiap malam karena memikirkanmu? Ya, mungkin aku salah karena aku memaksakan diri untuk melupakanmu dan mencari gadis lain untuk menggantikanmu padahal aku tahu kau terlalu istimewa untuk digantikan. Kau, Choi Hyehoon-ku. Tak ada yang lain”.

 

Aku melepas pelukannya paksa, menatap wajahnya penuh-penuh sembari mencoba menetralkan kembali tempo jantungku yang menggila. Dia mengatakan semua itu. Apa aku tak salah dengar?

 

“ Aku masih mencintaimu, bodoh. Kau berhak bahagia untuk itu”.

 

-END-

No Comment.

Terimakasih lagu breath (korean vers) udah jadi lagu favorite aku. Maafkan jika lagunya gak sesuai sama ficnya kkk kali-kali happy ending deh buat mereka^^

 

 

52 thoughts on “[Songfic] Breath

  1. Bagus kakk ni…. tp kurang jelas ya ini kenapa mereka pisah trz endingnya bisa dibikin lebih jelas lagi, maksudnya mereka ini bakalan pacaran lagi atau nggak gtu 😆😆😆 ….

  2. padahal singkat padat dan jelas tapi berhasil memancing air mata. Cerita seperti kebnyakan. tp kamu berhasil memainkan emosi aku, wkwkwk padahal aku bukan org cengeng. Dan aku org yg berusaha jujur. kalau aku mengatakan menangis berarti aku nangis. Aku org yg tdk suka berlebihan. jadi percayalah bahwa komentar ini tulus.

  3. Haahhh berkurang sdikit gegalauQ krna bca 2 ff yg endingnya happy..
    Moga nie aq mau bca agy trs dpt yg happy..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s