Bittersweet Ending…..or not?


 Ini ff special buat memperingati ulang tahunnya Kyuhyun. Eh, tapi by the way ini udah tanggal berapa ya? *pura-pura amnesia*. Aku baru mood bikin kemaren malem, itu juga karena insomnia dan lagi males sedih-sedihan nerusin losing you. Slighlty rated, khas hye-kyu diary. Ini ceritanya ringan tapi sedikit gaje juga sih menurut aku. Semoga terhibur ^^

Tungku api berarti perpisahan. Mungkin hanya aku yang berpikiran begitu, karena orang lain tak akan ada yang mengatakan demikian. Masalahnya, aku adalah seorang pecinta drama yang sangat fanatik, apalagi drama terlaris sepanjang masa yang membuatku tergila-gila kepada empat orang pria sekaligus—kkotboda namja— yang bahkan sampai beberapa tahun pun setiap scene-nya masih terngiang-ngiang di otakku.

Sebenarnya, tak ada seorang pun yang mengaitkan tungku api dengan drama itu,sih. Kecuali aku. Aku adalah seorang pecinta Seo Yi Jeong-Chu Gaeul couple, atau sering dikenal dengan sebutan SoEul couple itu sehingga aku tak pernah melewatkan satu-pun interaksi diantara keduanya, bahkan memutarnya berulang kali sampai berteriak kencang yang bahkan pada suatu kali membuat badda menggonggong ketakutan.

Ada satu adegan yang berhubungan dengan tungku api tadi yang membuatku tak bisa menahan air mata. Disaat Yi Jeong mengatakan bahwa dia akan segera pergi ke Sweden untuk kembali meniti kembali karir dalam bidang tembikar-nya. Ga Eul tak bisa berbuat banyak waktu itu, hanya menghalau  laju air matanya yang bahkan tak bisa ditunjukkannya kepada lelakinya.

Yang mungkin, cerita itu akan terjadi kepadaku sekarang. Karena aku sudah mempersiapkan itu—kata-kata untuk sesegera mungkin berpisah dengannya.

Dulu, sampai ketika sang wanita China yang bertubuh lentur itu mendekati Kyuhyun-ku, aku masih bisa bersikap biasa dan melempari gadis itu dengan kata-kataku yang kejam. Dia pun sering marah padaku karena aku sering membanggakan ikan mokpo-ku yang sangat tampan itu. Yang berarti, kami sering sekali saling mencemburui satu sama lain dengan alasan yang kadangkala tak terbukti, itu fakta.

Kebanyakan, akulah yang mengalah. Dia itu seorang entertainer, tentu saja akan lebih banyak berhubungan dengan lawan jenis daripada aku yang hanya mahasiswi biasa yang tak punya banyak teman pria.

Tapi, kesabaran itu ada batasnya. Mengalah terus pun akan membuatku semakin menderita. Dan aku sekarang sedang berada dalam titik dimana aku lelah untuk bersikap seakan aku baik-baik saja dengan kontaknya dengan semua wanita, walaupun kutahu dia melakukannya demi tuntutan pekerjaan yang dijalaninya.

Sudah seminggu berlalu setelah drama musikal itu dimulai, aku tak pernah menemuinya. Dia pun tak pernah mencariku, sepertinya. Aku tak begitu mengetahui karena semenjak aku mengetahui adegan ciuman sialan yang dilakukannya itu aku mengurung diriku di salah satu kamar di Mansion pemberian Appa yang tak pernah ingin kutempati, menangisi pria bodoh yang dengan teganya mengkhianatiku terang-terangan itu hingga membuat persediaan tissue-ku menipis.

Dia mungkin tak akan menyangka jika aku begitu lemah di belakangnya. Aku selalu menunjukkan sisi tegarku dihadapannya, karena aku hanya bisa mencebik atau mengerucutkan bibirku ketika marah jika hal-hal seperti sebelumnya terjadi.

Ingin memutuskan hubungan karena hanya beberapa kali adegan ciuman yang dilakukan kekasihnya? Mungkin sebagian orang berkata kekanakkan sekali. Aku tahu itu adalah salah satu resiko-ku mencintai seorang artis sepertinya, namun resiko itu lama-lama bisa membunuhku juga.

Bagaimana aku bisa tahan jika setiap harinya dia mencium bibir gadis yang berbeda? Berpelukan dengan gadis-gadis yang jauh lebih segalanya dariku? Aku juga seorang perempuan, yang memiliki nilai ke-posesif-an yang tinggi untuk pendampingnya.

Aku sudah memikirkan hal ini matang-matang. Tapi aku tak punya keberanian untuk menemuinya. Hingga suatu waktu aku tak sengaja bertemu dengan Cho Ahra, kakak perempuan yang berjarak hanya dua tahun di atasnya, yang memaksaku untuk hadir di resort milik keluarga mereka tepat di hari ulang tahunnya.

Dan disinilah aku, duduk di depan tungku dengan selimut tebal yang menutupi tubuhku. Aku tak ingin menampakkan wajah lesuku di antara pesta kecil-kecilan yang cukup ramai, jadi aku tak ikut memberikan kejutan ulang tahun untuk Cho Kyuhyun dan lebih memilih diam di kamar yang disediakan kakaknya untukku.

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan aku sama sekali belum bisa tidur. Mungkin karena banyak sekali masalah tentang kami yang melumpuhkan sistem kerja syarafku, atau karena aku terlampau merindukan pelukannya yang tak pernah absen membawaku ke dunia mimpi kecuali jika dia harus pergi ke luar negeri tanpaku.

Suara bedebum yang tercipta dari pintu kamar ini terdengar. Aku melihat tubuh menjulangnya berdiri di ambang pintu, tangannya masih memegang papan ski yang terdapat sisa-sisa butiran salju. Baju hangat berwarna biru yang dikenakannya pun tak luput dari terjangan benda putih berbentuk bulat itu, membuat bibirnya sedikit terlihat membiru.

Matanya melebar memandangiku, seakan aku adalah makhluk asing yang baru saja turun dari langit dan hanya dialah orang yang pertama menemukanku. Dia tak repot-repot berlari padaku untuk sekedar meminta sebuah pelukan karena telah lama sekali tak bertemu, malah dengan santainya menyimpan peralatan ski-nya dan menggantungkan jaketnya di tempatnya.

Aku pun berbalik tak mencoba untuk memandangi wajahnya lagi, meraih balok kayu yang tersedia di hadapanku kemudian melemparkannya yang membuat kobaran apinya semakin membara.

Beberapa detik berlalu, aku merasakan nafasku tercekat ketika merasakan kehangatan yang kuterima dari tubuhnya. Kekesalanku atas sikap tak perdulinya tadi tak membekas dalam ingatanku untuk lebih dalam membencinya. Yang ada hanyalah aku yang seolah belajar bagaimana caranya bernafas karena tidak adanya jarak diantara kami.

“ Aku merindukanmu”, bisiknya tepat di telingaku membuat degup jantungku semakin berdebar-debar seperti habis melakukan lari marathon selama belasan jam.  Dia pura-pura tak tahu, semakin mengeratkan dekapannya dari belakang tubuhku lalu mendaratkan kepalanya yang sepertinya kelelahan itu di pundakku.

“ Kau kemana saja, sayang? Lihatlah. Bahkan hanya dengan memelukmu saja membuat kekesalanku menguap begitu saja. Kau tak memberikan kabar apapun padaku, tak mengucapkan sepatah katapun di hari ulang tahunku, dan aku sangsi kau mempersiapkan sebuah hadiah untukku. Tapi, aku senang menerima kejutan darimu. Melihatmu disini, di kamarku, terlihat baik-baik saja dengan kondisi tubuh tanpa cacat apapun semenjak terakhir kali aku melihatmu sudah merupakan hadiah terindah untukku”.

Aku tetap diam, tak menghiraukannya yang bahkan sedang merajuk padaku, dan menanyakan hal yang tak kuketahui sejak menginjak ruangan ini. “ Kamarmu?”

Dia terkekeh pelan mendengar pertanyaan singkat yang kuajukan. Salah satu tangannya seperti sudah sangat terbiasa mengelus rambutku pelan, seperti yang biasanya dia lakukan. “ Iya, kamarku. Ahra noona pasti tak memberitahukannya padamu, ya?”

Aku mengangguk, mengiyakan.

Dia beralih posisi, mengambil tempat di sebelahku yang sedang duduk di atas karpet bulu yang berada di atas ubin kayu yang cukup dingin, kemudian mengambil setengah jatah kain tebal yang melingkupiku sehingga kami berada di bawah selimut yang sama.

Alisnya bertaut ketika aku dengan sengaja sedikit melebarkan jarak diantara kami. Sepertinya, dia sudah menyadari jika sikapku mulai berubah. Aku pun berdehem kecil untuk meredakan kegugupan yang tiba-tiba kurasakan, memusatkan pandanganku kepada api yang masih menyala untuk menghangatkan tubuh kami di musim dingin ini.

“ Kau kenapa? Ada sesuatu yang mengganggumu?”. Ekspresinya sangat serius ketika dia berkata begitu padaku.

Aku menghela nafas, mencoba sepelan mungkin agar tak terdengar olehnya. Mengumpulkan keberanian untuk mengatakan kalimat laknat yang kupersiapkan selama beberapa hari ke belakang, diantara keterpurukanku karena hatiku yang terasa panas.

“ Aku ingin kita berpisah”.

Hening. Kulihat beberapa kali dia hendak membuka mulutnya, tapi dia tak bisa mengeluarkan suara apapun mungkin karena pita suaranya tak bergetar. Mata bulatnya menatap mataku lekat, seakan mencari kemungkinan bahwa yang kukatakan ini adalah sebuah lelucon klasik untuk membuat surprise tak terlupakan untuknya.

Erangan frustasi begitu saja meluncur disela bibir penuhnya, menyuarakan rasa tak percayanya karena dia menangkap keseriusan dari raut wajahku. Aku memfokuskan diri melihat kembali api yang melahap balok kayu utuh yang tadi kumasukkan itu menjadi serpihan-serpihan arang hitam yang tak lagi berbentuk, menangkis bintik-bintik cairan yang mulai berkumpul di sudut mataku.

Hebat sekali aku, merealisasikan apa yang ada di dalam drama menjadi bagian dari perjalanan hidupku.

“ Mengapa?”, tanyanya ketika nafasnya yang memburu mulai kembali normal. Aku yang merasa sedikit mengantuk pun merebahkan kepalaku di pundaknya yang kokoh, bersikap layaknya sepasang kekasih yang saling menghangatkan padahal kenyataannya tidak begitu. “ Aku lelah, Kyuhyun~ah. Aku mungkin bukan gadis kuat yang bisa melihat kekasihnya terus menerus terlibat skinship dengan setiap wanita”.

“ Kau tak percaya padaku?”, serunya putus asa. Aku menggeleng pelan di pelukannya, meyakinkannya bahwa bukan itu yang menjadi alasannya. Aku menahan genangan air mata yang siap meluncur, berusaha menjawab pertanyaannya tanpa isakan tangis.

“Aku tak percaya pada diriku sendiri. Aku tak percaya diri untuk tetap di sampingmu dan bertahan dari rasa sakit hati yang kurasakan ketika melihatmu bersanding dengan wanita-wanita cantik di luaran sana. Aku….”

“ Kalau begitu, menikahlah denganku”, potongnya dengan kalimat singkat yang mampu membuat otakku tumpul untuk mengutarakan alasan-alasan selanjutnya untuk meninggalkannya.

“ Kubilang, aku tidak mau. Pokoknya, aku ingin berpisah denganmu. Titik”.

Kalimat itu bahkan tak terdengar tegas di telingaku sendiri. Aku malah mendengarnya seperti rengekan yang ditujukan anak kecil ketika ingin memiliki sebuah mainan yang diinginkannya. Dan dia tertawa terpingkal saat kata-kata itu selesai kulontarkan.

“ Percayalah padaku. Kau bahkan akan lebih sakit hati jika kau berpisah denganku. Bayangkan, jika kau melihatku dengan wanita lain, kau bahkan tak bisa melakukan apapun apalagi memarahiku seperti yang biasa kau lakukan”.

Aku menegakkan kepalaku yang sedari tadi bersarang di pundaknya. Benar juga, pikirku plin-plan. Lelaki ini bahkan bisa lebih parah menebarkan pesonanya kepada setiap wanita dan aku hanya bisa diam seperti penonton tanpa sedikitpun berhak mencaci-maki dirinya.

Satu hal yang penting, aku belum siap kehilangannya dan melihat Kyuhyun-ku bergandengan dengan wanita lain selain Ibunya.

Tiba-tiba sisi melankolis yang kujunjung tinggi seminggu terakhir itu terbuang begitu saja. Pria maniak game itu memang begitu pintar. Bagaimana bisa wanita keras kepala sepertiku bahkan bisa luluh begitu saja karena perkataannya yang logis? Sungguh tidak masuk akal.

Dengan menutupi urat maluku yang seakan menyembul di balik pipi, aku pun bangkit dari dudukku dan menyelesaikan masalah yang aku ciptakan sendiri dengan membuat sebuah kalimat singkat. “ Ya sudah, kita tak jadi berpisah”.

Tapi, sebelum aku sempat melangkahkan kakiku untuk tidur di tempat tidurnya yang luas, terlebih dahulu dirinya menarik lenganku yang menyebabkan aku kehilangkan keseimbangan dan duduk di pangkuannya, tanpa jeda bibirnya mencari bibirku lalu melumatnya sepenuh hati.

Aku sempat tersenyum lebar di balik ciuman kami, yang menyebabkan benda lunak itu dengan mudahnya memasuki rongga mulutku. Aku membalasnya dengan melumat bibir atas dan bawahnya bergantian, hingga kemudian kecupan-kecupan kami berhenti karena pasokan oksigen yang menipis.

Aku menyipitkan mataku ketika melihat wajahnya yang memerah menahan sesuatu yang bergejolak di tubuhnya. Aku tahu itu, karena beberapa kali aku selalu melihat wajah mesumnya seperti ini. Namun sialnya, aku tak sengaja melihat bibir tebalnya yang belepotan karena pemoles bibir merah muda yang kugunakan, mengusap setiap inchi-nya dengan telunjukku yang membuat dia semakin beringas.

“Sebenarnya, aku jijik melihat bibirmu, Cho Kyuhyun”, kataku jujur. Dia menghempaskan telunjukku yang sedang bermain di permukaan bibirnya itu kemudian menahan kedua tanganku untuk tetap berada di samping tubuhnya.

“ Kau membahasnya lagi”, decaknya tak suka. Dia mulai mengeluarkan seringai setannya yang mengerikan, kemudian tersenyum dengan penuh makna yang terdapat di baliknya. “ Ya sudah, kalau begitu jangan lihat. Kau hanya perlu merasakan benda ajaib ini meliuk-liuk di tubuhmu, itu saja”.

Byuntae!”, sahutku spontan sembari memberengut kesal karena aku bahkan tak bisa memukulinya. Beginilah salah satu kerugian jika wanita lebih lemah dari pria-nya. Bahkan untuk mengungkapkan kekesalan pun tidak bisa.

Dia pun segera melancarkan serangannya lagi. Benda yang kuhina tadi itu pun menguasai leherku, membuat sensasi yang sudah lama tak kurasakan ketika bibirnya menyapa kulitku. Aku menggelinjang tak berdaya, meskipun posisiku kini yang sedang berada di atasnya.

“ Eung—h”, desahku tertahan ketika deretan giginya ikut mengambil peran. Kedua tanganku yang sudah terlepas dari genggamannya melingkari lehernya erat, takut kehilangan tumpuan karena terhanyut dalam dunia yang diciptakannya.

Dia meniti kancing jaketku dengan terburu-buru, dan aku membantu melepaskan kaos hitamnya yang menutupi tubuh bagian atasnya tanpa halangan berarti. Dalam hitungan waktu yang cepat dia dapat segera menyingkirkan baju tebal hingga kaos yang kukenakan lalu menindihku di atas karpet dengan keadaannya yang sudah bertelanjang dada.

“ Kau yakin akan melakukannya disini? Hanya beberapa langkah menuju tempat tidur, dan jika kau lelah aku bisa berjalan sendiri kesana”.

Kyuhyun tampak berpikir beberapa detik, lalu semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuhku yang semakin merasakan hangat karenanya. “ Terlalu lama. Lagipula, aku ingin mencoba tempat yang baru”.

Dia menciumi bibirku. Lagi. Untuk beberapa waktu selanjutnya, aku tak tahu apa yang dia lakukan untuk menghangatkan permukaan kulitku yang kedinginan karena salju di luar yang tak berhenti berjatuhan, membawaku ke dalam sensasi yang telah beberapa kali kurengkuh bersamanya, lagi dan lagi.

***

“ Kau tahu, adegan ini seperti di film-film romantis”, ucapku pelan sembari mendengarkan irama detak jantungnya yang menenangkan bahkan mengalahkan dentingan piano yang biasanya selalu menjadi pelarianku ketika pikiranku kacau. Kami saling berpelukan di bawah selimut motif kotak-kotak yang terlihat retro, dengan kepalaku yang bersandar di dada bidangnya.

“ Apinya saja bahkan sudah mati”, sergahnya lucu merujuk pada tungku yang menjadi saksi atas malam-malam yang kesekian kalinya kami lewati bersama. Dia mengecup puncak kepalaku yang berada dalam jangkauannya, lalu tersenyum geli setelahnya. “Tadi kulihat kayunya masih banyak. Mungkin kita terlalu lama, ya? Memangnya kita melewati berapa ronde tadi, sayang?”

Kucubit manja perutnya yang buncit itu, kemudian dia mengaduh pura-pura. “Mau memamerkan kejantananmu, ya? Aku tak akan terpengaruh. Kecuali jika kau menumbuhkan kotak-kotak di perut buncitmu itu, aku akan mengakuinya dengan berteriak di puncak Namsan Tower bahwa kau itu sangat maskulin”.

Dia bukannya terejek, malah tertawa terbahak mendengar gurauanku. “Dan kau akan semakin cemburu melihatku memamerkan kotak-kotak itu pada semua wanita? Jika kita sudah menikah, kau akan menceraikanku begitu?”

“Kau benar juga. Mataku saja beberapa hari kelilipan karena melihat komentar tentang ciuman panasmu dengan tiga wanita sekaligus. Apalagi ketika wanita yang telah dilamarmu itu berperan menjadi lawan mainmu. Mereka mengelu-elukan kalian sebagai pasangan serasi. Serasi darimana? Dia bahkan sangat cantik dengan kulit yang putih mulus dan tubuhnya yang ramping sedangkan kau? Pria yang hobi sekali memelihara jerawat dan perutnya yang gendut seperti Ahjussi yang sering kutemui di pasar”.

Terdengar bunyi ketika tangannya yang mengepal dengan kepalaku beradu. Aku menjerit tak terima, sedangkan dia mulai mencari kesempatan dengan menarik pinggangku hingga tak kutemukan suatu penghalang antara kami berdua.

Aku mengecup pipi berisinya singkat, lalu membisikkan sebuah ucapan yang sangat terlambat aku utarakan, yakni tepat delapan menit sebelum hari istimewanya berakhir.

Happy Birthday, Cho Kyuhyun”.

Aku menangkap guratan kebahagiaan di balik kedua mata jernihnya. Aku bahkan tak sempat menyiapkan kado apapun untuknya karena aku terlalu larut dalam kesedihanku beberapa waktu lalu. Tapi, dia sepertinya tak mengharapkanku untuk memberinya sesuatu, karena dia telah memiliki segala benda yang menjadi keinginannya.

“Terima kasih, sayang. Jangan marah lagi jika aku melakukan kiss scene dimanapun, jika aku melakukan bed scene, barulah kau bisa marah. Kau mengerti?”

-END-

Akhirnya bisa menyampaikan unek-unek tentang musikal itu disini *nyengir ala siwon* jangan lupa RCL yaa guys byebye

85 thoughts on “Bittersweet Ending…..or not?

  1. aduhhhh itu si hye hoon bener2 plin plan bilang putus eh malah di ralat lg ucapnya hahaha malu2 in bae
    meleleh kalau liat mereka lagi akur tuh apalagi kalau udah soo sweet soo sweetan jd pengen hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s