Painful Love


 

 

Warning!

Ini out of character banget. Aku dengan gilanya menistakan bias kalian semua dengan sesuatu yang benar-benar ekstrim, menurut aku. Cuma fiktif sih ini, dan emang gak mungkin kejadian di dunia nyata kalau dia ngalamin ini. Otakku memang rada-rada gak bener kalo udah nyangkut tentang dia. Maaf semuanya, yang gak suka tolong jangan baca. Aku gak nerima cacian dari kalian yang benci sama cerita aku. Sekian.

 

For those who want to read it, here it goes…..

 

 

And it hurts, and it hurts so bad
Our heart and lips say different things, must be hurtful
And it hurts, and it hurts so bad, forever in my heart
You’re the only one, why don’t you know, why don’t you know, and it hurts

SHINHWA – Hurts

Pria tampan dengan dua kancing teratas kemejanya terbuka itu memejamkan sepasang mata hitam miliknya rapat, pasrah menerima gerakan-gerakan seorang yang berada tepat di atas tubuhnya itu dengan bibirnya yang menipis, menahan geram. Tangannya yang semula tersimpan rapi di samping tubuhnya, kini terkepal dengan sempurna, mengeluarkan rasa sakit yang seakan dipendamnya. Setetes cairan tak berwarna mengalir di sudut matanya, mengeluarkan emosinya yang sejak tadi tertahan.

 

“ Mianhae….”, bisiknya terlampau pelan, bahkan desiran angin malam dengan mudahnya dapat menenggelamkan suaranya.

 

***

Seorang wanita muda sedang duduk di bangku taman yang sepi, dengan ditemani oleh alat tulis yang membantu memudahkan pekerjaannya. Berkali-kali, dia menggigit ujung pensilnya sendiri sambil berpikir keras dengan angka-angka yang digelutinya sejak beberapa menit lalu. Dia bahkan mengabaikan perutnya yang berbunyi sejak dia keluar kelas tadi. Sial, umpatnya kesal. Dia kesal kepada dirinya sendiri yang lupa untuk sekedar mencuri sarapan di rumah agar tidak kelaparan di luar seperti saat ini.

 

“Kau sedang sibuk?”, sapa seseorang dengan suara yang sangat dikenalinya.

 

Dia tersenyum senang, menyadari kehadiran seseorang yang sangat berarti di sepanjang kehidupan menyedihkannya. Mungkin dialah salah satu alasannya untuk tetap hidup, menyadari bahwa mungkin keadaannya lebih baik daripada orang-orang di luaran sana. Setidaknya dia masih mempunyai orang tua lengkap, berbeda dengan lelaki yang telah mengisi hidupnya dua tahun belakangan ini.

 

Anieyo. Aku hanya sedang menghitung sesuatu. Kelas bahasa koreamu, sudah selesai?”

Lelaki tersebut menjawab pertanyaannya dengan anggukan. Dia melihat pria berkacamata itu mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah kotak berisi sandwich kesukaannya yang kadang dibuatkan namja itu untuknya. Tanpa basa-basi, dia merebut kotak tersebut lalu memasukkan isinya ke dalam perutnya.

Disela kegiatannya mengunyah makanan, pria bermarga Cho yang tak punya kerjaan lain pun mengecek apa yang telah dikerjakannya tadi. Lelaki bernama lengkap Cho Kyuhyun itu mengerutkan dahinya dalam, ketika melihat angka nominal yang dituliskannya dengan penuh perhitungan tadi.

“ Seratus juta won? Kau membutuhkan uang itu untuk apa? Apa ayahmu harus melakukan operasi lagi?”

Dia menelan sisa roti yang tersisa di mulutnya, lalu menjawab pertanyaan itu dengan nada sedih. “ Tidak. Aku hanya ingin mengumpulkan uang untuk membayar hutangku pada seseorang. Mungkin saat ini dia memang tak ingin menampakkan dirinya. Namun, suatu saat aku pasti akan menemukannya dan mengembalikan uang itu kepadanya”.

“ Bukankah kau bilang dia tak pernah menyebutkan identitasnya? Mungkin orang itu hanya ingin membantumu, dan tidak meminta apapun sebagai balasannya. Hye Hoon~ah, lebih baik kau memikirkan kesehatan Appamu, daripada mencari orang yang tak diketahui keberadaannya seperti itu”

Arraso, Kyuhyun~ah. Kau cerewet sekali”, sindir Hye Hoon penuh tawa. Kyuhyun meresponnya dengan mengikis jarak diantara mereka yang otomatis membuat tawa gadis itu berhenti. Pria itu menggoda kekasihnya dengan mengecup sekilas bibir Hye Hoon yang dibalas pukulan pelan di dada bidangnya.

“ Berhenti melakukan hal itu di hadapan umum. Kau lihat? Mereka pasti sedang membicarakan kita”, bisik Hye Hoon pelan, dengan pandangannya mengarah pada segerombolan gadis-gadis cantik dan populer yang memang seringkali mencampuri urusan orang lain, bahkan pasangan yang biasa-biasa seperti mereka pun pasti terkena imbasnya.

Kyuhyun menyerderkan kepalanya di bahu Hye Hoon, dengan matanya yang tertutup menjawab kekhawatiran gadis itu. “ Biarkan saja, Hye Hoon~ah. Hidup kita cukup sulit untuk mendengarkan anggapan orang lain tentang kita”.

 

“ Hmm..Kau benar, Kyuhyun~ah. Keunde, aku pernah mendengar mereka membicarakan namamu tempo hari. Apa mereka pernah mencari gara-gara denganmu?”

 

Kelopak mata Kyuhyun seketika membuka. Dia masih berada dalam posisinya tadi, menghindari sepasang mata Hye Hoon yang memancarkan kebingungan. “ Keuge…..nama Kyuhyun di kampus ini bukan hanya satu, kan? Mungkin mereka sedang membicarakan Kyuhyun yang lain. Ya, mungkin seperti itu”.

***

Hye Hoon menghembuskan nafasnya kasar sesaat sebelum dirinya membuka pintu rumahnya yang selalu terlihat gelap dari luar. Bukan tak ada penghuni di rumah berukuran sedang itu, tapi mungkin orang yang berada di dalamnya tak suka dengan penerangan.

Gadis itu sebenarnya tak sudi menginjak tempat tinggalnya itu lagi, apalagi dengan suasana di dalamnya yang seringkali membuatnya muak. Namun, karena tak ada tempat lain yang bisa disinggahinya, dia pun harus menahan sesak di dadanya saat melangkah masuk melewati pintu yang membatasi ruangan itu dengan tempat luar.

Baru saja selangkah kakinya masuk, sebuah botol yang menggelinding berhenti tepat di kakinya. Dia mendongak, mendapati wanita yang melahirkannya sedang dalam keadaan tak sadar di pelukan seorang pria. Lelaki itu terlihat tampan dengan setelannya yang santai.

Yang pasti lelaki muda itu berbeda dengan lelaki yang dibawa Ibunya beberapa hari lalu.

“ Kau pulang, sayang?”, ujar suara lembut milik Eommanya itu menginterupsi gerakannya. Akan tetapi, Hye Hoon seperti biasanya bersikap tak acuh dan kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya.

Tak ingin berlama-lama tinggal, dia pun segera mengepak barang-barang yang diperlukannya lalu segera berniat meninggalkan rumah yang penuh kenangan indah namun juga meninggalkan luka yang mendalam di hatinya. Dia hendak pergi, sebelum kehadiran seorang wanita berambut pendek itu menghalau pintu ruangan pribadinya.

“ Menginap di rumah sakit lagi? Sudah kubilang jangan pernah pergi ke tempat itu lagi! Apa kau sudah tuli sehingga tak mendengarkan perintahku? Tinggalkan pria tua itu sendiri! Kau juga tahu jika tak ada mesin-mesin yang mempertahankan hidupnya, dia sudah mati!”

Plak

 

Hye Hoon mengayunkan lengannya mendarat tepat di pipi wanita yang berada di hadapannya, dengan air mata yang berlomba-lomba membasahi pipinya. Apakah ini sikap seorang istri terhadap suami yang bahkan sedang berjuang untuk hidup? Beginikah sikap Eomma-nya yang sebenarnya, yang sejak dia terlahir disembunyikan ayahnya?

Dia bahkan hampir tak percaya ketika dia yang kala itu masih belia mengungkap kebenarannya. Keluarganya, yang selama delapan tahun hidupnya dianggapnya baik-baik saja, ternyata hanya sebuah sandiwara Ayahnya saja. Setiap malam Eommanya lebih memilih menghabiskan waktunya di club dibandingkan menemani anaknya tidur. Orang tuanya tak saling mencintai, itulah sebabnya Ibunya lebih sering ditemani lelaki bayaran daripada suaminya sendiri.

Hanya cinta sepihak, karena hanya Ayahnya-lah yang sangat mencintai Ibunya sehingga beliau menjaga citra baik wanita paruh baya itu di hadapannya.

“ Kau tak berhak berbicara seperti itu! Kau bahkan tak pantas berbicara apapun tentang Appaku! Kau hanya wanita jalang yang bahkan tak peduli dengan keluargamu sendiri. Kau lebih senang menghamburkan uang untuk bersenang-senang dan membiarkan anakmu bekerja keras demi memperjuangkan hidup Ayahnya? Kau…aku tak pernah menemukan seorang wanita iblis sepertimu. Aku membencimu, Nyonya Kim”.

Mata wanita lawan bicaranya itu seketika menyala. Walaupun hati wanita yang mengandungnya merasakan sakit yang luar biasa karena mendengar panggilan yang ditujukan anak satu-satunya itu kepadanya.

Kim Min Jung menggertakkan giginya, tangannya dengan brutal menarik rambut gadis yang memacu amarahnya itu sampai objeknya tersebut memekik kesakitan. Mata Hye Hoon terpejam rapat, sedangkan bibirnya menipis menahan teriakan yang mati-matian ditahannya karena merasa bahwa mahkotanya itu seakan tercabut dari kulit kepalanya.

Bibirnya gemetar, ketika salah satu inderanya mendengar geraman tertahan yang berisi ancaman yang sekian kali diterimanya.

“ Sekali lagi kau melawanku, aku tak segan-segan membunuh lelaki tua itu. Atau mungkin kau yang ingin menggantikan posisinya? Aku akan dengan senang hati membuatmu tak bisa melihat dunia ini. Selamanya”.

***

Kyuhyun mendengarkan penjelasan dari Dosen yang sedang menerangkan di depan kelasnya itu dengan was-was. Pandangannya seringkali beralih dari papan tulis ke meja di sebelahnya, dimana terdapat seseorang yang menelungkupkan kepalanya di balik tangannya sendiri disana. Selalu seperti ini, pikirnya khawatir. Gadis itu selalu menyempatkan tidur di sela-sela jam kuliah karena tak ada waktu lagi untuk dirinya beristirahat. Hye Hoon terlalu keras kepala untuk berhenti mengambil beberapa kerja paruh waktu dan tetap menetap di rumah sakit, padahal tak ada tempat tidur yang layak disana.

“ Choi Hye Hoon~ssi”, panggil pria dengan rambut yang mulai memutih itu, menyentakkan Kyuhyun kembali ke dunia nyata. Tangan lelaki itu terulur menyentuh pundak Hye Hoon, membangunkannya dengan dua kali tepukan di daerah itu. Kelopak mata Hye Hoon pun mulai terbuka, bertumbukan dengan raut wajah Kyuhyun yang sedikit cemas. Kyuhyun memberikan kode agar gadis itu melihat ke depan, karena Yoon Seongsaengnim yang beberapa kali menyebutkan nama yeoja itu.

“ Jika sekali lagi kau tidur di kelasku, maka aku tak akan segan-segan mengeluarkanmu dan tak memperbolehkanmu mengikuti mata kuliahku lagi. Kau mengerti?”, ancam pria tua itu penuh penekanan.

Untunglah, bel segera berbunyi sesaat setelah kalimat itu selesai, membuat Hye Hoon menarik nafas lega karena suasana tegang itu berakhir. Teman-teman sekelasnya yang tadinya menjadikannya objek fokus mereka pun mulai membereskan alat tulisnya untuk segera bersiap pulang.

“ Jangan lupa kumpulkan tugas yang kuberikan minggu kemarin”, tutup seorang guru berperawakan pendek tersebut dengan suara lantangnya.

Hye Hoon memukul keningnya beberapa kali, mengutuki otaknya sendiri karena memiliki penyimpanan yang rendah sehingga melupakan sebuah tugas penting yang jelas-jelas mempengaruhi nilai akhirnya. Dia pun menoleh ke arah Kyuhyun, yang memberikan senyum miring kepadanya dengan dua tumpukan kertas berbeda yang berada di tangannya.

“ Aku tahu akan seperti ini, jadi aku sudah menyiapkan dua salinan”

Kecemasan gadis itu pun menghilang, dibuktikan dengan sebuah senyuman lega yang terbit di bibir tipisnya. Mulutnya menggumamkan terima kasih tanpa suara, yang direspon dengan anggukan pelan dari lelaki itu.

***

Keduanya berjalan bersisian keluar dari gerbang Kyunghee University, dengan kedua tangan mereka yang bertaut. Hye Hoon melirik jam tangannya sebentar, lalu menatap wajah Kyuhyun penuh rasa menyesal.

“ Aku harus pergi. Manajer pasti akan memecatku jika sekali lagi aku terlambat. Mianhae, Kyuhyun~ah. Kau bisa ke toko buku sendiri, kan?”

Kyuhyun menggeleng keras, tak setuju. Tangannya semakin mengeratkan pegangannya di pergelangan tangan Hye Hoon, menahan gadis itu agar tak beranjak dari sisinya.

“ Kyu, jangan bersikap seperti anak kecil. Kumohon, biarkan aku pergi, eo?”.

Pria berkacamata itu tetap menggeleng, namun kali ini seulas senyuman terlihat di bibir merahnya. “ Aku sudah menyelesaikan masalah itu. Kau tak perlu bekerja apapun hari ini”. Kemudian, beberapa detik kemudian bibirnya mencebik kesal. “ Kau melupakan hari special kita lagi, hmm?”

Hye Hoon menatap lelakinya kebingungan. Bagaimana bisa namja biasa seperti Kyuhyun membuat Manajer toko yang super galak itu membiarkannya libur? Ditambah lagi dengan kedua pekerjaan lainnya yang harus dia kerjakan setiap hari setelah jam kuliahnya usai. Dia merasa ada yang tidak biasa dengan hal ini, namun dia menghilangkan pikiran aneh itu sejenak.

Mungkin Kyuhyun memang bisa membujuk atasannya untuk bolos kali ini, pikirnya bijak.

Jinja? Jadi aku tak perlu bekerja apapun hari ini? Assa! Kau mau pergi ke toko buku kan? Ayo kita pergi”.

Hye Hoon terlihat sangat bersemangat dengan acara jalan-jalannya hari ini, mengingat jarang sekali dia mendapatkan jatah libur bahkan di akhir minggu sekalipun. Kyuhyun mengikuti langkah gadis itu dengan malas, karena Hye Hoon bahkan tak menghiraukan perkataannya tentang hari special mereka.

Setelah tiga puluh menit menempuh perjalanan dengan bus, mereka pun tiba di salah satu mall yang cukup besar di Korea. Hye Hoon terlihat sangat kagum ketika dia tahu kemana kekasihnya itu akan membawanya pergi. Maklum saja, semenjak kehancuran rumah tangga keluarganya terbongkar, dia tak pernah bersenang-senang kecuali menonton di bioskop gratis sendirian ataupun ditemani Kyuhyun.

Mereka berdua sama-sama bukanlah berasal dari kalangan orang kaya yang bisa melakukan apapun yang mereka mau. Kyuhyun sama sepertinya, mengambil pekerjaan di sebuah club malam sampai dia tak bisa tidur di jam-jam seharusnya setiap harinya. Akan tetapi di balik semua kesibukannya itu, Kyuhyun dapat mempertahankan prestasinya hingga selalu mendapat beasiswa. Dan itu membuat dirinya bangga.

Pria itu membawanya ke sebuah movie theaters yang tentunya berbeda dari yang sering mereka kunjungi dulu. Kyuhyun bahkan membelikannya sebuah popcorn ukuran large dengan minuman soda yang membuat acara mereka kali ini terasa lebih berkesan.

“ Kau suka?”, tanya namja itu sesaat setelah mereka duduk di seat yang diliputi dengan suasana ruangan itu yang gelap. Walaupun dengan penerangan yang minim, lelaki itu dapat melihat senyuman lebar terpancar di bibir merah wanitanya, semakin yakin ketika melihat anggukan semangat yang Hye Hoon berikan untuk menjawab pertanyaannya.

“ Hmm. Aku sangat suka”. Hye Hoon merubah raut wajahnya dalam sekejap, membuat Kyuhyun terkesiap dibuatnya. “ Tapi kau tidak menghamburkan uang sakumu, kan?”

Lelaki itu mendesah lega. Ternyata, hanya hal itu yang wanitanya pikirkan. Dia membelokkan pertanyaan gadisnya itu dengan mengecup pipi gadis itu lembut.

“ Hari ini adalah tanggal dimana pertama kalinya kita bertemu, sebelas tahun yang lalu. Sejak saat itu, kau adalah tujuan hidupku. Mulai saat itu, aku berjanji akan selalu berusaha membahagiakanmu, menjadikanmu sebagai pendamping hidupku”.

Mata Kyuhyun tak lepas dari objek di hadapannya. Gadis itu mulai menitikkan air matanya, yang dia yakini adalah sebuah air mata kebahagiaan. Kyuhyun menarik gadisnya ke dalam sebuah pelukan hangat, tanpa berniat melanjutkan ucapannya lagi.

“ Gomawo, Kyu. Tanpamu, aku tak yakin aku bisa menjalani hidupku dengan baik”.

Dan mereka pun terlarut dalam dunia mereka sendiri. Tak memperdulikan keadaan sekitarnya, bahkan tak tahu film apa yang sedang diputar di layar besar di hadapannya. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka dalam diam, dengan sesekali Kyuhyun mengelus rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang.

“ Hye Hoon~ah, jangan pernah tinggalkan aku”, iba pemilik suara berat itu tiba-tiba menyebabkan aliran darah di dalam tubuh Hye Hoon semakin deras. Dia takut jika terjadi sesuatu pada Kyuhyun, hingga membuat mereka berdua berpisah. Namun, dengan cepat dia menepis semua anggapan buruknya itu, mencoba positif bahwa Kyuhyun hanya akan meyakinkan kesetiaan dirinya saja.

“ Tak akan pernah, Kyu. Aku terlalu mencintaimu untuk bisa melakukan hal itu”.

***

Layaknya pasangan kekasih kebanyakan, mereka pun menikmati sisa hari mereka dengan berjalan-jalan di daerah Apgujeong yang ramai sekali oleh pengunjung. Kini keduanya sedang menikmati ice cream yang mereka pegang, sambil bercanda satu sama lainnya. Seringkali Kyuhyun mengoleskan ice cream vanilla-nya di permukaan pipi gadis itu, membuat Hye Hoon mengerucutkan bibirnya manja. Hingga suatu kali, Kyuhyun tak melihat jalan hingga tubuhnya tak sengaja bertubrukan dengan seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari butik pakaian dengan merk ternama.

Bibir yang dipoles lipstik berwarna merah menyala itu menyunggingkan sebuah senyuman seduktif, membuat tubuh Kyuhyun membeku seketika. Tentu saja, wanita itu mengenalinya. Dia mengeratkan pegangan tangannya di tangan mereka yang bertaut, seakan itu satu-satunya cara untuk menutupi kegugupan yang dialaminya.

Mianhae, seharusnya aku memperhatikan jalan di hadapanku. Kau tak apa-apa?”, tanya Kyuhyun dengan wajah yang terlihat sangat tidak tenang. Wanita yang kira-kira sudah mencapai umur kepala tiga itu menyadari kegugupan yang dirasakan Kyuhyun, kemudian melirik gadis yang berada di samping lelaki itu.

“ Oh, aku tak apa. Lain kali kau harus lebih memperhatikan jalanan di hadapanmu. Karena mungkin kau tak tahu siapa yang akan kau temui, kan?”. Wanita berparas cantik itu berkata bijak, sambil mengeluarkan secarik kertas dari tas Prada miliknya dan menulis sesuatu disana.

Wanita itu berlalu. Dan tanpa sepengetahuan siapapun, saat dia berpapasan dengan Kyuhyun, dia mengerling ke arah pemuda itu sambil meloloskan sesuatu di mantel yang dipakai Kyuhyun.

Kaja. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit”.

Setelah sampai di halaman depan tempat tinggal Hye Hoon sementara itu, dengan berat hati Kyuhyun meninggalkan gadisnya karena waktu kerjanya hampir dimulai. Hye Hoon melepas kepergian kekasihnya itu dengan senyuman tulus, benar-benar merasa bahagia karena akhirnya dia bisa menghabiskan waktu dengan Kyuhyun, seperti yang sering dilakukan mereka dulu.

“ Terima kasih untuk hari ini. Kau membuatku menjadi wanita paling bahagia di dunia ini”, ujarnya melebih-lebihkan.

Kyuhyun merapikan rambut panjang itu dan menyelipkannya di telinga gadisnya. “ Cepatlah masuk, cuaca semakin dingin”. Kemudian dia mendaratkan sebuah ciuman kecil di bibir plum itu.

“ Hati-hati, Kyu”.

Langkah kakinya terasa berat meninggalkan tempat dimana gadisnya berada. Dia tahu hal buruk yang akan menimpanya sesaat setelah mereka berpisah. Hatinya terasa ditikam benda tajam sehingga tak bisa mengkontrol ekspresi mukanya yang terlihat semakin sendu.

Dia harap dia bisa menghindar dari semua ini, tapi nyatanya dia tak bisa. Lelaki itu tetap datang ke tempat yang sangat dibencinya, bahkan setelah sekian detik dia merengkuh kebahagiaan bersama gadis yang paling dicintainya.

“Kau datang.” Sapa wanita familiar yang baru saja bertemu dengannya di jalan, yang memberikannya sebuah catatan kecil untuk datang ke club tempatnya bekerja malam ini. Dia bahkan tak bisa menghindari neraka bagi hidupnya itu. Tidak sebelum satu-satunya keluarga dari orang yang dicintainya itu dinyatakan sembuh total. Dia harus melewati semua siksaan baginya, sampai semuanya kembali seperti sedia kala.

Tangan lentik wanita itu mulai menciptakan gerakan-gerakan abstrak di balik mantelnya, membuatnya semakin jijik dengan dirinya sendiri yang bahkan tak bisa menghindar dari sentuhan-sentuhan itu.

“ Kau telah selesai bersenang-senang dengan kekasihmu, kan? Kini giliranku yang juga bersenang-senang denganmu, Chagiya ”.

***

Hye Hoon terkejut ketika dua orang wanita yang tak dikenalnya menariknya berlawanan arah dengan ruangan kelas yang akan dimasukinya. Dia tak sempat melawan, karena nyatanya tenaganya lebih sedikit dibandingkan dua yeoja yang menyeretnya tadi.

Annyeong Hye Hoon, akhirnya kau disini”, sapa seorang gadis berpenampilan menarik yang bernama Yoon Ji Hyun, yang sangat terkenal di seluruh penjuru kampus. Selain karena sikap bossy-nya yang mengkhawatirkan, gadis itu juga termasuk dalam jajaran mahasiswi yang sangat tertarik dengan urusan orang lain. Apakah kali ini dia termasuk korbannya? Tapi dia merasa jika dia tak melakukan kesalahan apapun yang merugikan mereka. Lalu, apa masalahnya?

“ Kau pasti bertanya-tanya, kenapa aku ingin bertemu denganmu? Hmm, mungkin kau bisa melihat jawabannya disana”, ujarnya santai dengan telunjuknya yang mengarah kepada dinding yang memuat foto-foto kedua orang yang sama dengan sudut yang berbeda.

Tidak mungkin….

Lututnya terasa lemas ketika mengenali siapa objek foto yang ditampilkan diantara kertas-kertas yang berisi tulisan-tulisan indah itu. Cairan bening yang berasal dari sudut matanya luruh begitu saja. Dia bahkan tak bisa berfikir dengan jernih sekarang. Melihat orang yang dicintainya bermain api di belakangnya sungguh tak bisa sekalipun dibayangkannya. Hanya lelaki itu tumpuan hidupnya sekarang, lalu apakah kehidupannya akan hancur setelah ini?

Sepasang tangan mendarat di bahunya, dengan wajah cantik yang membawa kabar buruk untuknya itu berada tepat di hadapannya. “ Aku menyesal harus mengatakannya. Tapi, kukira aku harus memberitahukannya padamu. Bagaimanapun, sekarang Cho Kyuhyun masih berstatus sebagai kekasihmu, bukan?” , ujar wanita genit itu dengan nadanya yang berpura-pura sedih. Padahal, peduli apa antek Yoon Ji Hyun itu dengan perasaan Hye Hoon. Yang mereka pedulikan hanyalah gosip murahan yang disebarkannya, yang kali ini menimpa salah satu pelajar teladan di kampus mereka.

“ Cho Kyuhyun, dia adalah salah satu lelaki penghibur wanita kesepian di sebuah club di daerah Gangnam. Dan itu…foto itu adalah salah satu bukti ketika dia menghibur pelanggannya. Mianhae, Hye Hoon~ah”.

Dia mendongakkan kepalanya yang semenjak tadi tertunduk, kemudian menangkap sosok bayangan Kyuhyun beberapa meter di depannya. Lututnya melemas, melihat sorotan mata Kyuhyun yang penuh perasaan bersalah, padanya.

Dan sejak saat itu, dia sudah menemukan jawaban atas semua pertanyaannya, dengan semua keraguan yang meliputi benaknya. Mata hitam Kyuhyun yang menjawab sendiri kebenarannya, lelaki itu tak mengelak sedikitpun dan hanya memandang ke arahnya dengan matanya yang mulai terhalang bintik-bintik yang menghiasi bingkai yang bertengger di batang hidungnya.

Lelaki itu bahkan mengabaikan orang-orang yang lalu-lalang di sekitarnya, menatap Kyuhyun dengan jijik, seakan Kyuhyun adalah kotoran yang harus dibuang ke tempat pembuangan secepatnya.

Dia membalikkan tubuhnya, tak tahan melihat namja itu dengan kenyataan yang terpaksa harus diterimanya. Teka-tekinya tentang siapa malaikat penolong yang memberikan kesempatan hidup kedua bagi ayahnya itu terkuak. Tanpa perlu bertanya pun, dia tahu mengapa Kyuhyun melakukan semua itu.

Kyuhyun melakukannya demi kebahagiaannya. Namja itu terlalu mencintainya, hingga melakukan hal nista yang mati-matian dibenci olehnya.

Apakah yang tersisa di hati gadis itu sekarang? Apakah rasa cinta yang semakin besar, atau rasa benci yang mulai terpupuk di benaknya?

***

Hye Hoon terdiam bagai bisu, seperti tak mengetahui bahwa Kyuhyun tak henti mengikuti langkahnya. Langkah gadis itu sedikit terseok, karena tak memperhatikan apapun yang ada di hadapannya. Sorot matanya yang basah tertuju lurus ke depan, seperti tak merasakan apapun walau beberapa orang menubruk tubuhnya.

Dia seperti orang mati.

Mungkin yang bisa menandakannya masih ada di dunia ini adalah hembusan nafasnya yang masih teratur, dan semua organnya yang dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Namun hatinya beku. Dia benci mengetahui bahwa dialah alasan Kyuhyun melakukan semuanya ini. Bagaimana pria yang dicintainya sepenuh hatinya itu merelakan apapun demi membahagiakannya. Jika bukan cara itu yang ditempuh Kyuhyun, mungkin dia akan berubah menjadi wanita paling beruntung di dunia ini.

Gadis itu ingin membenci Kyuhyun sedalam yang dia bisa. Mengutuknya dengan sumpah serapah karena amarahnya yang telah tertahan di ujung kerongkongannya. Memukul wajahnya hingga berdarah, menendang kakinya hingga tak bisa berjalan lagi. Demi apapun, lelaki itu tak jauh beda dengan pria-pria yang selalu menemani malam seorang wanita yang tak lagi dianggapnya Ibu, penyebab penderitaan yang dirasakan Ayahnya.

Pria itu terlalu hina untuk mendapatkan cinta tulus darinya.

Lampu hijau itu masih menyala. Beberapa orang menunggu di pinggir jalan sampai lampu tersebut berubah merah. Tapi, dengan terburu Hye Hoon menerobos kerumunan, hingga tubuhnya hampir dihantam sebuah mobil yang melaju kencang. Dan dia berada dalam pelukan yang sangat familiar untuknya sekarang. Orang itu…menyelamatkan dirinya dari maut, namun tak bisa menghindarkannya dari keterpurukan.

Mianhae”, bisik lelaki itu lemah, terdengar begitu tersiksa di teliganya.   Cairan bening itu kembali meluncur ke permukaan pipi mulusnya. Suara kerumunan yang sempat mencaci tingkah mereka menjauh, bahkan bisingnya kendaraan yang melaju sudah tak tertangkap inderanya lagi. Yang bisa dia rasakan hanyalah rasa hangat yang menjalar ke setiap bagian tubuhnya, menyadari bahwa efek yang ditimbulkan atas kehadiran Kyuhyun masih terasa olehnya.

Tak mau terbuai lebih lama, Hye Hoon pun mendorong tubuh Kyuhyun kasar, lalu berlari sekuat tenaga menghindari lelaki itu supaya tak berada di dekatnya. Matanya semakin bengkak, dengan cairan yang tak hentinya meluncur dari sudut matanya. Pandangannya kabur, raganya melemas dan akhirnya dia terduduk di atas trotoar jalan dengan isak tangis yang mengencang.

“ Aku membencimu, Cho Kyuhyun. Aku membencimu”.

Kyuhyun mendengar pernyataan itu dengan batinnya yang semakin tersiksa. Biarlah, mungkin ini yang harus dilaluinya ketika gadis itu tahu segalanya. Inilah resiko yang harus ditanggungnya. Dia tak pernah menyesal, mengorbankan dirinya sendiri untuk menciptakan kebahagiaan bagi wanita yang sangat dicintainya. Meski pada akhirnya dia harus kehilangan gadis itu karena tak tahan dengan perlakuannya, asalkan Hye Hoon tak menjadi rapuh seperti yang dilihatnya sekarang.

Apakah caranya itu malah membuat gadisnya semakin terluka? Apakah Hye Hoon tahu, jika dirinya bahkan sangat hancur ketika dengan terpaksa harus melakukan semuanya? Wanita itu tak akan pernah mengerti, apalagi dengan trauma yang hampir sama yang dialami yeoja itu.

Bisakah dia mempertahankan Hye Hoon di sisinya? Bisakah dia tetap hidup dengan keadaan wanita itu yang sepenuh hati membenci dirinya? Mungkinkah…..dia harus meninggalkan dunia ini saja, karena dia yakin bahwa dia tak akan pernah bisa hidup tanpa wanitanya?

***

Rumah sakit. Hanya itulah tempat yang ingin ditujunya saat ini. Dia ingin mencurahkan semua keluh kesahnya di hadapan Ayahnya yang masih terbaring dengan mata terpejam, berharap jika bebannya akan sedikit lebih berkurang jika dia menceritakan segalanya.

Walaupun itu tidak bisa merubah keadaan, tapi tak ada lagi orang yang dia miliki selain Ayahnya sekarang.

Kakinya terus bergerak, menyusuri jalanan terasa begitu kasar bagi kakinya yang lelah. Perjalanan yang yang seharusnya ditempuh tiga puluh menit dengan bis, kini ditempuhnya tiga kali lipat lebih lama karena dia hanya bertumpu pada kedua kaki telanjangnya.

Keadaannya tak jauh beda seperti tadi. Mata coklatnya itu masih mengeluarkan cairan-cairan bening, dengan sorotan matanya yang begitu kosong. Tak ada gunanya menangis, namun hanya hal itulah yang mungkin dapat mengurangi kepedihannya saat ini.

Membayangkan lelaki yang dicintainya bercumbu dengan wanita murahan yang derajatnya kurang lebih sama dengan Ibu kandungnya membuat hatinya tersayat. Kyuhyun tak ada bedanya dengan lelaki bajingan yang menemani tidur wanita yang mengabaikan keluarganya demi kesenangannya sendiri.

Hingga sampai di lobby rumah sakit, dia merasa pertahanannya melemah. Perutnya terasa sakit karena asam lambungnya naik, akibat tak diisi apapun sejak pagi tadi. Apalagi, perjalanan panjang yang ditempuh dengan hanya kedua kakinya menuju tempat ini membuat tenaganya terkuras habis. Perlahan, daya pandangnya semakin melemah, sampai hanya kegelapanlah yang dapat dilihatnya kini.

***

Lelaki tampan berjas hitam itu menghiraukan penjelasan-penjelasan tambahan yang diutarakan salah satu Kepala di Rumah Sakit miliknya, bersikap tak peduli dengan matanya yang memandangi segala sudut lantai dasar rumah sakit itu walaupun beberapa orang yang mengantarnya keluar dari gedung itu merupakan salah satu dari beberapa orang kepercayaan ayahnya.

Konsentrasinya semakin terganggu, ketika tanpa sengaja ujung matanya menangkap sosok gadis yang seakan menghentikan dunianya. Bibirnya tertarik sempurna, melengkungkan sebuah senyuman kala sosok itu makin mendekat ke arahnya.

Akhirnya, penantian akan sosok wanita yang adalah takdirnya itu telah menemui akhir. Dia telah menemukan belahan jiwanya.

Degupan jantung namja itu semakin berpacu, tatkala tatapan mata mereka beradu. Namun, ada sesuatu yang aneh dengan gadis itu. Wajahnya yang putih itu memucat, ditambah bibir mungilnya yang membiru. Matanya yang indah hanya menatap lurus ke depan, dengan sorot matanya yang hampa. Kemudian tubuh mungil itu dengan tak berdaya mendarat di kedua lengan kekarnya, seolah ini adalah suatu kebetulan yang memang diciptakan untuk pertemuan pertama mereka.

Tanpa memperdulikan apapun, lelaki bertubuh tegap itu menggendong wanita yang tak dikenalnya ke kamar kosong yang terletak di lantai yang sama, tak mengindahkan teguran perawat-perawat yang menyuruhnya untuk mendaftarkan nama gadis itu terlebih dahulu sebelum membawanya ke ruang rawat.

“ Cepat panggilkan Dokter sekarang juga!”, perintahnya tegas. Salah satu perawat yang mengetahui statusnya sebagai pemilik rumah sakit tempatnya bekerja pun segera bertindak, mematuhi perintah pemuda itu untuk keluar mencari siapapun yang dapat menolong gadis yang tak sadarkan diri itu secepatnya.

Seorang wanita berjubah putih itu pun datang, dengan cepat memeriksa keadaan pasiennya dengan teliti. Namja yang berada di samping ranjang itu pun menangkupkan kedua telapak tangannya, berdoa dalam hati semoga gadis yang dibawanya itu baik-baik saja.

“ Dia hanya kelelahan. Selain itu, pola makannya tidak teratur sehingga penyakit lambungnya kumat. Suster, jika pasien ini sadar tolong berikan makan dan vitamin secukupnya”. Kemudian, pandangan wanita cantik berambut hitam legam itu kembali kepada seorang lelaki dengan wajahnya masih yang terlihat sangat cemas. “ Jangan khawatir, Tuan Lee. Gadis ini hanya butuh banyak istirahat, setelah itu kondisinya akan kembali pulih seperti semula”.

Sepeninggal kedua orang wanita yang merupakan salah satu staf-nya, lelaki itu pun mengambil tempat duduk di samping ranjang berwarna putih itu. Tangannya dengan lancang mengelus rambut gadis yang bahkan tak diketahui namanya, diiringi senyuman yang tak henti tersungging di bibirnya.

“ Cepatlah sembuh, dan terima lamaranku, hmm?”, ucapnya dengan nada kekanakkan yang merupakan salah satu ciri khas-nya.

***

Hye Hoon merasakan sesuatu yang lembut menyentuh keningnya, membangunkannya dari tidur pendek yang dialaminya. Dia membuka kelopak matanya, lalu menemukan sepasang mata sayu yang menatapnya intens, penuh dengan perhatian. Matanya mengerjap beberapa kali, namun sosok itu tak kunjung hilang dari penglihatannya.

Diakuinya, wajah lelaki itu memang memiliki kadar ketampanan yang luar biasa. Namun, senyuman menggoda yang bermain di wajah lelaki itu membuat dirinya sedikit merasa takut.

“ Maukah kau menikah denganku, Agasshi ?”

Sepasang mata gadis itu semakin melebar. Dia tak habis pikir dengan omongan lelaki asing itu yang sungguh tak masuk akal. Mereka bahkan tak saling mengenal, bagaimana mungkin pria itu dengan santainya menyatakan lamaran untuk pernikahan kepadanya, sedangkan Hye Hoon bahkan baru melihat wajah lelaki itu beberapa detik yang lalu.

Tubuhnya gemetaran karena merasa ketakutan terhadap sosok lelaki itu semakin menyergapnya. Dia menegakkan tubuhnya, secepat mungkin ingin keluar dari tempat yang diyakininya adalah rumah sakit tempat Ayahnya dirawat tersebut. Dia takut terjadi sesuatu pada dirinya, jika jaraknya berdekatan dengan sosok lelaki aneh itu.

Namun, usahanya gagal. Kepalanya terlalu pusing untuk bisa tubuhnya tegak dengan sempurna. Dan tanpa disangkanya, hatinya pun tiba-tiba merasa nyeri, karena ulasan memori yang sangat ingin dilupakannya dengan seketika menyeruak kembali di ingatannya.

Tangisannya pun tak dapat ditahannya. Matanya yang sembab tak letihnya mengeluarkan cairan bening yang mengalir di pipinya, menyebabkan keadaan gadis itu terlihat semakin menyedihkan saat ini. Dia bahkan tak sadar ketika lelaki tadi meraih tubuhnya ke dalam sebuah pelukan yang erat, menyebabkan cairan itu kini membasahi kemeja putih pemuda bermarga Lee itu.

“ Aku tak tahu apa yang membuatmu sesakit ini sekarang. Tapi kumohon, izinkanlah aku menyembuhkan lukanya. Biarkan aku membahagiakanmu. Aku berjanji, aku tak akan membuat air mata keluar dari mata indahmu lagi. Tak akan”, ujar Lee Donghae dengan nada serius yang tak pernah dikeluarkannya di acara paling formal sekalipun.

***

“ Kau mau kemana, Hye Hoon~ssi? Tunggu, aku akan mengantarmu”.

Tiga hari berlalu setelah Hye Hoon bertemu dengan lelaki yang melamarnya tiba-tiba itu. Selama itu, hidupnya tak pernah tenang karena namja yang beberapa hari lalu diketahuinya bernama Lee Donghae, anak dari Lee Young Jae, pemilik yayasan rumah sakit tempatnya dirawat itu terus saja mengikuti kemanapun dia pergi.

Lee Donghae yang keras kepala itu pun dengan seenaknya memindahkan ruang rawat Ayahnya ke ruangan dengan kelas yang paling mahal. Pria itu tanpa malu berkali-kali mengajaknya untuk tinggal pindah ke rumah megahnya, ketika melihat koper-koper yang berada di kamar rawat Appanya menyiratkan jika dirinya tinggal di kamar yang sama.

Lelaki itu terlampau baik untuk orang sepertinya, dan dia tak pantas untuk menerima semua itu. Hye Hoon sudah memiliki hutang yang sangat besar untuk seseorang yang perlahan ingin dihapus dari ingatannya, dan dia tak mau menjadi benalu bagi lelaki lainnya.

“ Tuan Lee, bisakah kau berhenti membantuku? Seperti yang kau tahu, aku tak punya apapun untuk membalas semua kebaikanmu. Aku bahkan tak punya uang untuk sekedar membayar biaya rumah sakit Ayahku. Dan kau malah menambah beban dengan segala fasilitas terbaik yang kau berikan kepada kami. Aku hanya ingin hidup tenang tanpa memikirkan tentang balas budi, Lee Donghae~ssi

Mata sendu milik pria itu menyorotnya lembut, gadis itu salah tingkah dibuatnya. Tak pernah ada lelaki lain selain Kyuhyun yang melayangkan tatapan penuh cinta seperti itu padanya.

Cinta? Benarkah? Lee Donghae tak mungkin mencintainya dalam waktu sesingkat itu, bukan?

Semestinya begitu. Akan tetapi, bola mata hitam itu sangat meyakinkannya. Donghae segera menelungkupkan kedua tangan besar miliknya itu di pipi Hye Hoon, merengkuh wajah cantik itu ke dalam rengkuhannya.

“ Aku tak pernah ingin apapun darimu. Aku melakukannya dengan tulus, tanpa mengharap apapun, selain cintamu. Jadi, jangan menghalangi apapun yang kulakukan, eo? Kuharap kau dapat mengabulkan keinginanku untuk menjadi pendamping hidupku, itulah balasan yang kuinginkan. Walaupun ini terlampau cepat, namun aku tak pernah sesungguh ini mencintai seorang gadis”.

Donghae menghentikan ucapannya karena degupan di jantungnya semakin tak terkendali. Berada dalam jarak yang sangat dekat dengan orang yang sangat dipujanya membuatnya tak bisa mengkontrol tubuhnya sendiri. Pipinya memanas, merasakan jika sorot mata gadis itu masih tak lepas dari wajahnya.

Dengan wajahnya yang merah padam, pria itu membalikkan tubuhnya, menghindari kontak mata yang bisa terjadi apabila mereka tetap berhadapan. “ Aku…akan mengantarmu pergi kemanapun. Dan jika kau berani menolak, aku akan memanggil security untuk menyeretmu masuk ke mobilku. Mengerti?”

***

Setiap orang yang dilaluinya berbisik membicarakannya karena dia, seorang gadis miskin diantar oleh kendaraan yang sangat mewah yang tak mungkin mampu dibelinya. Semua orang memperhatikan penampilannya yang tak berubah sedikitpun, membuat kerutan di dahi mereka pun semakin dalam. Walaupun merasa risih, tapi dia mencoba menghiraukannya karena mungkin ini kali terakhirnya mengunjungi kampusnya sebelum dia mengambil cuti panjang yang dia pun tak tahu sampai kapan akan ditempuhnya.

Namun ternyata, ada seseorang yang tak bisa begitu saja dihiraukannya.

Lelaki itu masih sama, setidaknya itu yang tertangkap di matanya. Walaupun sekarang, tubuhnya terasa lebih kurus dibandingkan terakhir kali mereka bertemu. Lingkar matanya pun berubah hitam, namun untung saja hal satu itu bisa ditutupi oleh kacamata minusnya. Dia, namja itu, dengan tenangnya berdiri di tengah-tengah lorong dengan matanya yang tak lepas dari wajahnya.

Langkahnya terasa semakin berat, apalagi ketika matanya menangkap beberapa orang melempar tubuh tegap itu dengan berbagai macam benda. Menghindarinya, seakan lelaki itu memiliki penyakit menular yang akan mematikan siapapun yang mengenainya. Sungguh, cobaan yang dialami lelaki itu bahkan jauh lebih berat dengan apa yang terjadi kepadanya.

Dan dialah penyebab semua kemalangan yang terjadi pada pria itu.

Seharusnya, sebagai gadis yang baik dia menawarkan bahunya untuk menjadi penyangga untuk lelaki itu, memberikan balasan yang setimpal dengan apa yang pria itu lakukan untuknya. Namun, rasa benci itu sudah melenyapkan hati nuraninya, meskipun dia tahu bahwa sampai kapanpun dia tak akan bisa melupakan cintanya untuk seorang Cho Kyuhyun.

Hye Hoon melewati bayangan lelaki yang menatapnya sendu itu dengan datar, seakan tak perduli walaupun hatinya berdenyut nyeri. Dia tak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa dia juga merasakan rasa sakit yang Kyuhyun rasakan. Ya, ikatan batin mereka memang sedalam itu. Dan Hye Hoon membuangnya jauh seakan takut jika perasaan itu perlahan-lahan dapat membunuhnya.

Setelah selesai dengan urusannya di tempat itu, dia mengambil langkah seribu untuk menghindari semua orang yang berada di salah satu tempat yang kini dibencinya, selain rumah yang dulu ditinggalinya.

Dan ternyata, menghindari kenyataan tak semudah yang dia rencanakan. Pria itu masih berdiri di tempat yang sama. Sorot matanya yang semula kosong itu kini membangun kontak mata dengannya, menyebabkan dadanya berdetak tak terkendali, merasa sakit karena dia dapat membaca arti dari balik mata hitam legam itu.

Kakinya berjalan ke arah dimana lelaki itu berada, mengenyahkan semua rasa benci yang menggelayutinya hanya untuk merasakan pelukan hangat lelaki itu untuk terakhir kalinya. Tiba-tiba gerakan kakinya terasa sangat ringan, apalagi ketika senyuman tipis yang terpatri bibir lelaki itu tertangkap oleh retina matanya.

Suara gesekan antara alas kaki dan lantai terdengar, karena sang pemilik sepasang kaki jenjang itu menghentikan langkahnya tiba-tiba. Terdapat seorang wanita yang pernah tak sengaja ditemui mereka beberapa waktu yang lalu, tepat di belakang pria yang ditujunya.

Lengan lentik wanita paruh baya itu menutup sepasang mata Kyuhyun, tanpa ragu dengan secepat kilat Hye Hoon membalikkan tubuhnya, mengambil langkah cepat ke arah yang berlawanan. Samar-samar, dia dapat mendengar suara Kyuhyun yang memanggilnya diiringi suara-suara lain yang berbisik tentang kebejatan lelaki itu yang berani membawa wanita lain di hadapan kekasihnya.

Dia tahu, Kyuhyun tak mungkin mengkhianatinya demi wanita murahan yang jelas-jelas hanya alat untuknya mendapatkan uang. Namun rasa cemburu itu tiba-tiba datang. Dadanya memanas melihat salah satu wanita yang dalam asumsinya pernah ditiduri Kyuhyun-nya itu berada dekat dengan lelakinya.

Rasa cemburu itu terlalu menusuk dadanya, hingga keinginannya untuk memberi ucapan perpisahan yang manis lenyap begitu saja.

Dia mengangkat wajahnya yang menunduk, melihat dengan jelas bahwa pria yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya itu mengawasinya dengan mata hitam yang berbinar. Hingga kemudian, dia mengarahkan kakinya ke tempat lelaki tampan itu berada, dengan gerakan yang sangat cepat merengkuh bibir lelaki itu ke dalam sebuah ciuman, seakan menunjukkan pada semua orang, terutama seseorang yang kini berstatus sebagai mantan kekasihnya, bahwa dia sudah memiliki lelaki lain sekarang.

Dan dari ujung matanya, Hye Hoon dapat menangkap mata lelaki yang sangat dicintainya itu kembali tak fokus, juga wajahnya yang terlihat membeku itu semakin menusuk-nusuk hatinya.

***

 Two months later.

 

Seorang wanita yang terlihat sangat rupawan dengan dandanannya yang menarik itu menyebabkan suara gaduh lelaki-lelaki yang memujinya dengan kemenakjuban yang luar biasa. Penampilannya yang bisa dibilang sangat berkelas itu menimbulkan decak kagum diantara wanita yang dilewatinya.

Dia melewati lantai dasar club yang terkenal elite di kawasan Gangnam itu, lalu naik menuju lantai tiga dimana ruangan VVIP yang dipesannya berada.  Batinnya berdesir, menunggu apa yang akan dilihatnya beberapa menit ke depan.

Tanpa mengetuk pintu, orang yang ditunggunya itu pun masuk dengan wajah yang ditekuk. Orang itu bahkan terlihat tak bernyawa di matanya. Gerakan tubuh lelaki itu sangat menandakan jika dia bahkan seperti robot yang tak berniat untuk hidup.

Namun, setelah mata kosong itu menatap wajahnya, keadaannya berubah. Entah hanya perasaannya saja, tapi dia menangkap bahwa ada setitik gairah hidup yang muncul di balik mata hitam pria itu. Hanya beberapa detik bertahan, setelah itu matanya berubah menjadi sendu. Lelaki itu menggigit bibirnya sendiri, seakan menahan isak tangis yang bisa dikeluarkannya kapan saja.

Dia pun merasa begitu.

Eoremaniya, Kyuhyun~ssi

Mata itu tak pernah lepas dari wajahnya, dahi pria sedikit mengernyit melihat mini dress yang kini melekat di tubuh moleknya. Tidak. Dirinya tak pernah berubah semenjak kehidupannya berubah. Hanya malam ini, dia melakukan hal itu untuk menghapus seluruh cintanya, dan itu tekad bulat yang dimilikinya sekarang.

Melihat wajah itu untuk terakhir kali, sebelum dia meninggalkan kenangannya untuk selamanya. Dia hanya ingin membuat kenangan yang menyakitkan untuk pria itu, tentu saja agar Kyuhyun dapat membencinya. Lalu, mencari kebahagiaan lain yang dapat menjadi tujuan hidup baru lelaki itu.

“ Kau bisa mencari namja lain. Aku hanya seorang pelayan disini”, ungkap lelaki itu lantang, mengabaikan rasa yang berkecamuk di dadanya setelah melihat sosok yang sangat dirindukannya begitu dekat di hadapannya. Dia bahkan bisa mencium aroma favoritnya itu dengan leluasa, menghirupnya sebanyak mungkin agar semakin banyak kekuatan untuk tetap hidup yang tak pernah dimilikinya lagi.

“ Ayolah, aku akan membayar berapapun kau mau. Dan kau tenang saja, suamiku sedang di New York sekarang. Dia tak akan tahu dengan apa yang kita lakukan disini”.

Wanita itu mendekatkan dirinya tepat di hadapan Kyuhyun, mengusap pipi lelaki itu dengan gerakan telunjuknya yang seduktif seakan dirinya sedang menggoda pria itu. Akan tetapi, Kyuhyun tak bergeming. Dia tetap diam di tempatnya, memanjakan matanya dengan pemandangan yang selama ini dia rindukan. Walaupun hatinya merasa sangat kesakitan karena mengingat gadis kecilnya itu bukan miliknya lagi sekarang.

Satu bulan lalu, media dihebohkan dengan acara pernikahan megah yang diusung oleh salah satu keluarga Chaebol terkaya di negeri ini. Dan pengantin wanitanya, tak lain adalah wanita yang dicintainya itu sendiri.

Hidupnya semakin hancur setelah itu terjadi.

Lamunannya buyar ketika Hye Hoon mempertemukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang sarat akan rasa putus asa dan juga kerinduan di dalamnya. Dia mengecap rasa manis di bibir gadis itu dengan tetesan cairan yang membasahi kelopak matanya. Dan akhirnya kesadarannya pun kembali. Dengan gugup dia mendorong tubuh gadis itu hingga kontak mereka terlepas.

Gadis itu marah. Dia tak terima dengan penolakan Kyuhyun yang benar-benar merusak harga dirinya.

“ Kenapa? Kau lebih suka jika wanita-wanita murahan itu yang menciummu? Kau tak ingat jika aku tak ada bedanya dengan wanita-wanita itu, hmm? Aku juga wanita yang sama seperti mereka. Aku berselingkuh di belakang suamiku karena aku merasa kesepian. Bisakah kau memperlakukanku sama, dan tak membedakanku karena kau adalah mantan kekasihku?”

Hye Hoon menyiramkan alkohol ke dalam luka yang belum disembuhkannya. Wanita itu dengan teganya memukul telak harga dirinya hingga menjadi hancur berkeping-keping. Dia ingin membenci gadis itu karena apa yang dilakukannya, namun dia hanya tidak bisa.

Sedalam apapun luka yang ditorehkan wanita itu padanya, Kyuhyun akan tetap mencintainya.

Kyuhyun mendorong tubuh Hye Hoon ke dinding, mencium bibir mungil itu sekasar yang dia bisa tanpa membiarkan gadis itu bernafas dengan benar. Hye Hoon meronta, tapi Kyuhyun tetap melumat bibir itu tanpa ampun, melampiaskan perasaannya karena siksaan yang diberikan gadis itu semakin membuatnya ingin mati.

Isak tangis tertangkap oleh telinganya. Dia pun melepas tautan bibir keduanya dengan enggan, kemudian mengamati wajah cantik yang kini dikotori oleh air mata itu dengan tatapan tersiksa.

“ Hei, jangan menangis. Kau telah mendapatkan segalanya. Kau tak perlu membanting tulang demi menghidupi kehidupanmu dan Ayahmu sekarang. Kau punya seorang suami kaya yang sangat mencintaimu dan bersedia melakukan apapun untuk membahagiakanmu. Bukankah itu apa yang diidam-idamkan semua wanita? Tak pantas jika kau menangis, apalagi untuk menangisi lelaki bodoh sepertiku yang tak pernah bisa membuatmu seperti apa yang kau dapatkan dari pria itu sekarang”.

“ Aku menangis karena bahagia. Aku bahagia dengan kehidupanku sekarang, aku…..”.

Gadis itu mencoba melontarkan kata-kata bohong yang telah dipraktikannya beberapa kali itu dengan lancar. Namun, hatinya tak bisa berdusta. Dia tersiksa dengan kehidupannya kini. Dia tak pernah merasakan kebahagiaan sedikitpun walaupun Lee Donghae mencintai dirinya lebih dari apapun di dunia ini.

Karena sumber kebahagiaannya telah berlalu, dan dia sendiri yang membuang lelaki itu menjauh.

“ Syukurlah, kalau begitu. Aku turut senang mendengarnya”.

Pria itu membalikkan badannya yang semakin terasa lemas, merasa jika detik ini juga dia ingin menenggelamkan diri agar nafasnya berhenti. Melihat Hye Hoon mencintai orang lain, lebih menyakitinya dibanding jika wanita itu membencinya dengan sepenuh hatinya.

“ Kyuhyun~ah”, panggil wanita itu lembut membuatnya seakan melayang ke masa lalu, dimana mereka sempat mengecap kebahagiaan bersama.

“ Aku sebenarnya kesini untuk membayar hutangku padamu. Katakan berapa nominalnya dan kau bisa mencairkan cek ini kapanpun yang kau mau”.

Senyuman miris tersungging di wajah lelaki itu. Kyuhyun menghadapkan dirinya di hadapan tubuh gadis itu lagi, mengambil secarik kertas di tangan Hye Hoon lalu merobeknya menjadi serpihan-serpihan kertas tak berharga yang menyatu dengan lantai.

“ Aku tak butuh uangmu. Tapi, jika kau membayar jasamu padaku, kau bisa melakukannya dengan berada di sampingku selama apapun yang kumau. Mungkin sampai seumur hidupmu”.

Tubuh Hye Hoon membeku. Tak ada sepatah katapun yang dapat dikeluarkannya sesaat setelah permintaan itu didengarnya. Dia tak sanggup menolaknya, namun rasa benci yang tertanam di dalam dirinya membuat dia tak juga bisa untuk menerimanya.

“ Lupakan, aku tahu kau tak akan pernah bisa melakukannya, bukan? Anggap saja aku tak pernah melakukan apapun untukmu”.

Dengan lancangnya Kyuhyun mendekap tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Menikmati aroma shampoo yang menguar di balik rambut panjang gadisnya, disertai cairan yang mulai mengaburkan pandangannya.

Keadaan gadis itu pun tak jauh beda dengannya. Tubuhnya gemetar, dengan cairan bening yang tak henti keluar dari kedua sudut matanya.

“ Aku mencintaimu, hingga mengorbankan apapun untuk membuat kau bahagia. Aku tak mengharapkan balasan apapun darimu. Sekalipun kau meninggalkanku dan membenciku karena apapun yang kuperbuat untukmu, aku tak pernah menyesal. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum bahagia, sesederhana itu pula cintaku padamu. Aku sangat mencintaimu, Hye Hoon~ah”.

Teladan banget ya, mau uas malah sempet2nya posting ff.__. maaf nih ancur begini ffnya, gak di edit pula haha

tolong comment yaaa biar aku gak ngerasa kalo bikin ff itu wasting time buat aku. makasiih:)

for those sparkyu who feel sad about the known kiss scene, cheer up! love :3

123 thoughts on “Painful Love

  1. Yakk.. knpa bgini?!?! Bkin nangis bombai dengan akhir yg gantung . Sedih bgt bca ff dsni mah bkib persediaan air mata sya abiz. Wkwkwkwk
    Y ampun hye hoon.. kyu.. berharap mereka bsa bersma .. krn mank sling mencintai… sedih2. Sedih2…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s