Behind The Knot



No proper editing, typos everywhere, bad stories, etc.

 

March 27, 2011

 

Hye Hoon menghirup udara malam yang melewati wajahnya dengan lahap, seraya memejamkan matanya yang terasa perih karena kenangan yang disimpannya kembali terkuak disana. Lelaki yang berada di belakangnya malah merapatkan jas yang dipakainya, tak peduli dengan Hye Hoon yang sedang berada di dunianya.

Lelaki itu mendengus ketika melihat Hye Hoon duduk di salah satu dari kedua ayunan yang kosong. Kaki Hye Hoon mulai terangkat, dengan kedua tangannya yang berpegangan pada gantungan rantai yang telah berkarat.

“ Ahh aku benar-benar senang. Tak ada orang selain kita disini. Andai saja banyak tempat sepi seperti ini, aku pasti akan menemukan banyak tempat favoritku. Kyuhyun~ah, ppalli, duduk disini. Kau pasti akan menyukainya”, ucap Hye Hoon dengan nada riang.

Dengusan sebal kembali meluncur dari bibir penuh Kyuhyun, kemudian dengan menebar senyum miring dia menjawab sembari mengejek gadis itu. “ Tentu saja hanya kita disini. Kau pikir ada orang gila selain kau yang merengek dibawa ke taman bermain anak kecil seperti orang tak tahu diri sepertimu, hah?”

Tak terpengaruh dengan amarah tertahan yang dikeluarkan Kyuhyun, Hye Hoon malah terkekeh pelan menanggapinya. Dia menaikkan kembali tudung sweater-nya yang terlepas, lalu menarik tali yang berada di samping wajahnya, membuat seluruh rambutnya tertutup oleh kain itu. Dia tersenyum penuh arti, memandangi wajah Kyuhyun yang terlihat dingin namun tetap mematuhi perintahnya untuk duduk di tempat tak berpenghuni di sebelahnya.

“ Kau tahu? Ini adalah tempat dimana aku pertama kali bertemu dengan cinta pertamaku. Aku masih belasan tahun saat itu, dan dia adalah satu-satunya lelaki tertampan yang pernah kulihat. Saat itu aku bergumam dalam hati ‘Akhirnya, aku bertemu pangeranku’. Aku ingat, dulu bahkan aku tak bisa tidur semalaman ketika dia mengajakku berkenalan. Setelah itu, aku hanya bisa memandanginya dari jauh sampai akhirnya beberapa tahun kemudian aku kehilangan jejaknya. Aku merindukannya, itu sebabnya aku mengajakmu kesini”.

Kyuhyun mendengarkan cerita gadis yang tersenyum tanpa henti itu dengan seksama. Dia mengerutkan keningnya, ketika dilihatnya pipi gadis itu berubah warna. Oh, ini kejadian langka. Baru pertama kalinya sejak dia mengenal gadis itu, Hye Hoon dapat bersikap malu-malu seperti ini. Apakah efek dari lelaki cinta pertama Hye Hoon bisa sehebat itu?

“ Lalu, jika dia kembali kepadamu sekarang, apa kau akan mengungkapkan perasaanmu padanya?” tanya mulutnya yang lancang tanpa Kyuhyun bisa mengkontrolnya. Dia sendiri tak mengerti, mengapa pertanyaan itu yang justru terlontar dari mulutnya. Walaupun rasa keingintahuannya sedemikian besar, biasanya dia bisa menyimpannya sendiri dalam hatinya, meskipun nantinya dia akan memikirkan hal itu sampai menemukan jawaban yang disimpulkannya sendiri.

Hye Hoon menarik kedua ujung bibirnya ke belakang, menaikkan bahunya sedikit lalu berujar dengan penuh kepercayaan dirinya, “Tentu saja, aku akan melakukannya. Bukan hanya itu, mungkin aku juga akan menikahinya”.

#

Present time………………

Gadis itu bergerak patuh ketika suaminya menyeret tubuhnya ke sebuah toko perhiasan dengan brand ternama. Hye Hoon merasa sangat senang karena tak biasanya Kyuhyun membawanya pergi ketika jam kuliah berlangsung, membuatnya tak perlu mencari alasan untuk bolos dari kegiatan yang paling membosankan itu. Bagaimana tidak bosan? Setiap hari dia hanya bisa duduk di tempatnya, sembari mendengarkan materi yang bahkan tak mengertinya. Keberuntungannya kali ini bertambah berkali lipat, karena Kyuhyun mengajaknya mengunjungi pusat perbelanjaan yang tentunya merupakan surga bagi semua wanita.

Namun, mengetahui tempat yang dipenuhi barang mewah inilah yang dituju Kyuhyun membuat hatinya merasa sedikit terluka.

Ini adalah agenda tahunan bagi Kyuhyun. Setidaknya, dia sudah menemani lelaki itu ke lokasi yang sama dua tahun terakhir. Dia bahkan tak pernah tahu berapa kali Kyuhyun mengunjungi tempat ini untuk melakukan hal yang sama, memilih cincin yang tepat untuk menjadikan seorang wanita menjadi pengantinnya.

Dia sedikit banyak tahu tentang wanita yang kelak menjadi pengganti statusnya sekarang itu. Dalam urusan seperti ini, wanita yang berprofesi sebagai seorang model itu tak suka dengan sesuatu yang mewah. Berbeda dengan kebanyakan wanita, seperti dirinya, yang sangat menyukai barang-barang berkelas dengan harga yang menakjubkan. Tentu saja, Hye Hoon kalah telak.

Sesuatu yang berkilau mengalihkan pandangannya, yang sedari tadi melihat punggung Kyuhyun yang sedang sibuk berbincang dengan salah satu pelayan. Sebuah kalung cantik dengan motif sebuah bunga menarik perhatiannya. Bandul dari kalung itu tidak terlalu besar, namun terlihat menawan dengan berlian yang menghiasi setiap kelopaknya.

Dia pun kembali ke tempat dimana Kyuhyun berada, lalu menarik lengan lelaki itu ke arah benda yang ingin dimilikinya. Telunjuknya mengarah ke salah satu kalung di balik etalase kaca, yang disambut Kyuhyun dengan kerutan dalam.

“ Aku mau itu”, pintanya dengan tanpa menghiraukan ketidaksukaan Kyuhyun karena merasa acaranya shopping-nya dirusak.

Lelaki itu menatap Hye Hoon dengan sikapnya yang masih acuh, mukanya sedikit ditekuk karena kesal. “ Beli saja sendiri. Bukankah aku sudah memberikan uang sakumu untuk bulan ini?”

Yak! Uang itu bahkan tak cukup untuk membeli tas Chanel keluaran terbaru”, luapnya kesal. Menyadari jika itu tak akan mempan untuk seorang lelaki seperti Kyuhyun, dalam sekejap dia pun mengubah cara bicaranya. “ Oppa, kumohon. Belikan aku kalung itu, hmm?”

“ Aku tak ingin menghamburkan uang untuk hal yang tak penting seperti itu”, sungut Kyuhyun tak peduli. Lelaki itu malah berbalik, lalu melenggangkan kakinya menuju kassa.

Hye Hoon tak terima dengan perlakuan Kyuhyun padanya, lalu dengan menyimpan kedua tangannya di pinggang dia pun memaksimalkan pita suaranya untuk meneriaki lelaki yang berbeda lima tahun dengannya itu.

“ Kau pikir menyiapkan cincin berlian setiap tahun dan berakhir dengan penolakan bukan suatu penghamburan, Tuan Cho Kyuhyun?”

Semua orang melirik ke arah sumber suara, termasuk Kyuhyun yang dengan menundukkan wajahnya membungkam mulut gadis itu dengan tangannya. Sedangkan Hye Hoon, tersenyum senang dalam hati karena dia bisa membalaskan kekesalannya karena perlakuan Kyuhyun tadi.

#

Kyuhyun meneliti wajah wanita yang berada di bawah kuasanya itu. Rambut gadis itu sedikit basah dan berantakan akibat dari hujan deras yang sengaja tak dihindarinya itu. Satu hal yang sudah diketahuinya tentang gadis yang dinikahinya dua tahun ke belakang tersebut. Hye Hoon tak suka gerimis, dia lebih suka hujan deras dengan rintikan air besar yang menyebabkan tubuhnya basah kuyup. Tapi anehnya, gadis itu sangat takut dengan petir yang selalu menyertai hujan besar seperti itu.

Kyuhyun semakin yakin jika gadis kekanakkan itu sama sekali bukan tipenya.

Bagaimana bisa dia membiarkan tubuhnya diterjang air dan menolak untuk dibawa masuk ke mobilnya. Sejak mereka keluar dari toko perhiasan yang biasa dikunjunginya beberapa tahun terakhir, Hye Hoon tak sedikitpun mengacuhkan keberadaannya. Gadis itu bahkan menolak tumpangannya padahal Kyuhyun tahu tak ada sepeser pun uang tunai di dalam dompet istrinya itu. Ini bukan pertama kalinya Hye Hoon bersikap merajuk padanya seperti yang dilakukannya tadi, namun Kyuhyun masih saja tak ingin mengerti sikap wanita yang berusia beberapa tahun di bawahnya itu.

“ Bagaimana aku bisa menikah dengan gadis manja dan kekanakkan sepertimu?”, tanyanya sembari mendelik tajam. Hye Hoon mendengus sambil memalingkan wajahnya, lalu berpaling menatap mata Kyuhyun lebih dalam dari yang dilakukannya tadi.

“ Salah siapa kau mau menikah denganku? Aku tak pernah memaksamu, kan?”, jawabnya acuh.

“ Bukan kau yang memaksaku, tapi orang tua kita. Apa otakmu yang bekerja lambat itu sudah melupakan alasan kenapa kita terikat, hah? Apakah aku harus memukul kepalamu dulu agar kau ingat?”

“ Tentu saja aku tak pernah melupakannya, Cho. Kalau begitu, bisakah kau menghentikan omong kosong ini? Aku sudah lelah mendengar suaramu itu”.

Kyuhyun menyeringai, kemudian mendekatkan bibirnya ke salah satu telinga gadis itu, menghembuskan nafasnya dengan sengaja yang membuat Hye Hoon menggigit bibir bawahnya sendiri. Bukan hanya itu, Kyuhyun juga membisikkan sesuatu yang mengundang hawa panas di sekujur tubuh Hye Hoon.

“ Kau mungkin tak suka suaraku ketika mengomelimu, tapi kau sangat suka suaraku ketika aku mendesah, bukankah begitu?”

Pipi Hye Hoon berubah merah padam, namun lidahnya yang cukup tajam itu dengan mudahnya mengelak. “ Anieyo. Aku tak pernah berkata begitu. Kau terlalu pandai mengarang bebas, Cho. Bisakah kau berhenti meracau dan segera menyingkir dari tubuhku?”

Godaan yang dilancarkan Kyuhyun semakin menjadi, karena dalam sepersekian detik mulutnya telah mengecupi bagian daun telinga Hye Hoon, menyebabkan akal sehat Hye Hoon hilang dalam sekejap.

Bagaimana tidak? Gadis itu sedang terlentang pasrah dengan tubuh lelaki tampan yang sedang menindihnya, dengan sengaja menyalurkan sinyal-sinyal yang membuat suhu tubuhnya meningkat tajam. Tak puas hanya mulutnya saja yang bekerja, tangan Kyuhyun pun telah menyingkap t-shirt yang membalut tubuh rampingnya, mengelus perut datar gadis itu yang membuat Hye Hoon mati-matian menahan erangannya.

Entah siapa yang memulai, keduanya pun larut dalam ciuman yang mampu membuat keduanya semakin berkeringat. Karena tak tahan mengenakan pakaian yang basah, akhirnya dengan sedikit tak rela Hye Hoon pun mendorong bibir Kyuhyun yang tengah sibuk mengesap bibirnya.

“ Kenapa sayang?”, tanya Kyuhyun sedikit was-was. Kyuhyun memang tak pernah memanggil sebutan-sebutan seperti itu kecuali ketika mereka berada di atas tempat tidur. Hye Hoon pun menyunggingkan senyum manisnya, yang berhasil meningkatkan frekuensi detak jantung Kyuhyun yang sedang menunggu apa yang akan dilakukan gadis itu.

“Kau berencana membuka pakaianku, bukan? Sepertinya aku harus mempercepat prosesnya, karena aku sangat kedinginan saat ini”.

Kyuhyun menyambar perkataan gadis itu dengan wajah sumringah. “ Tentu, itu akan sangat membantu”

Tanpa berucap, Kyuhyun pun membantu istrinya melepaskan balutan kain-kain di tubuh Hye Hoon dengan tergesa. Setelah selesai, bibir keduanya pun berpagut untuk kembali meningkatkan gairah mereka yang sempat terhalang tadi. Tangan Kyuhyun pun mulai kreatif menjelajah salah satu gundukan milik Hye Hoon yang ujungnya mulai mengeras. Wajah cantik itu semakin memerah, mengeluh pelan dengan bibirnya yang sedikit bengkak.

Eumh….pelan-pelan, Kyu. Kau merusak mood-ku eungh”, ujarnya terpatah karena bibirnya tersumpal oleh lidah Kyuhyun yang sedang menjelajahi rongga mulutnya.

Kyuhyun menurut. Dia pun menurunkan kekuatan remasannya di dada gadis itu. Namun, digantikan ibu jari dan telunjuknya yang mulai mengerjai puncak daging yang menonjol itu dengan memelintir dan menariknya pelan. Hye Hoon mulai tak bisa diam di tempatnya, tangannya melepas kasar kemeja Kyuhyun kemudian menancapkan kuku-kukunya yang pendek di punggung polos lelakinya, melampiaskan hasrat memuncak yang tengah dirasakannya.

#

“ Mengapa kau mau menyerahkan kesucianmu padaku, di malam pertama pernikahan kita?”

Hye Hoon menahan kekesalannya dalam hati, karena Kyuhyun menghancurkan kegiatan mereka berdua dengan pertanyaan yang menurutnya aneh seperti itu.  Suaminya itu menghentikan gerakannya secara tiba-tiba ketika mereka telah hampir mencapai puncak, walaupun milik Kyuhyun masih mendesaknya di bawah sana.

“ Bisakah kau menyelesaikan ini dulu, lalu menanyakan hal itu ketika kita sedang dalam kondisi normal?”, desah Hye Hoon frustasi, tak ingin amarah yang dipendamnya meledak begitu saja.

Mata gadis itu dimanjakan dengan wajah rupawan Kyuhyun yang basah karena peluh, dengan mata hitam pria itu menatapnya penuh kelembutan. Dia merasakan jantungnya berdetak lebih kencang daripada biasanya, dengan tubuhnya yang semakin melemas karena seakan dia meleleh dalam dekapan suaminya itu.

Dia mengelus pipi lelaki itu pelan, sedangkan sepasang matanya menelusuri mata, hidung, hingga bibir lelaki itu dengan puas. Dengan kedekatan yang seperti terjadi sekarang ini, dia bahkan bisa mengamati lelakinya itu lebih detail dari biasanya, mengagumi sosok raga yang terlampau sempurna di matanya.

“ Kupikir karena kau suamiku, kau berhak memilikiku seutuhnya. Apapun alasan mengapa kita menikah, ataupun hubungan kita yang tak bisa sejauh sepasang suami-istri sebenarnya, kita telah berikrar di hadapan Tuhan. Dan itu bukan sebuah permainan. Kita bukan sepasang korban perjodohan yang membuat kontrak tidak boleh menjajah satu sama lain, kan?”

Kerutan di dahi Kyuhyun mulai berkurang, namun ternyata masih ada sesuatu yang lain yang mengganggu pikirannya. “ Walaupun kita tak saling mencintai?”, tanyanya lagi.

“ Ya, meskipun tak ada rasa apapun diantara kita, aku tetap istrimu dan aku memiliki kewajiban untuk melayanimu sebagai seorang istri”.

Posisi mereka berakhir dengan sama-sama terlentang menghadap langit-langit kamar. Mencoba mengatur nafas mereka dengan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengganti udara yang terlepas banyak akibat dari kegiatan tadi. Senyuman penuh arti muncul di bibir Kyuhyun, melirik gadis di sebelahnya yang sedang mencoba menarik selimut yang tadi sempat terlepas sampai ke ujung ranjang.

“ Sangat menyenangkan, seperti biasanya. Apakah aku harus bersikap seperti lelaki gentleman yang berterima kasih kepada partner-ku?”, ucapnya tanpa beban.

Suara dengusan kesal terdengar setelahnya. Gadis di sebelahnya itu menatap Kyuhyun dengan matanya yang berubah tajam. “ Aku istrimu, bukan partner seks-mu, Tuan Cho yang terhormat”, sinis Hye Hoon galak, tak terima dengan sebutan baru yang Kyuhyun berikan padanya.

Kyuhyun membalik posisi tidurnya, menyilangkan kakinya di atas tubuh Hye Hoon yang mengenakan satu selimut yang sama dengannya, disambut oleh tatapan tajam dari gadis itu yang tak terima ketika Kyuhyun mulai mengelus paha dalamnya dengan kaki panjang berbulu lebat yang dimiliki lelaki itu.

“ Kau tidak takut Donghae hyung mengetahui apa yang kau lakukan denganku?”, tanya Kyuhyun sedikit was-was. Dia khawatir jika Hye Hoon akan menyesali apa yang terjadi diantara keduanya malam ini. Walaupun toh mereka berdua melakukannya dengan sukarela, namun tetap saja rasanya seperti mencuri.

Hye Hoon menahan tawanya yang siap meledak kapan saja. Melihat raut wajah Kyuhyun yang berubah takut malah dianggap sebuah body gag oleh gadis yang sepertinya kehilangan kepekaan karena masih merasakan efek dari kenikmatan yang sangat nyata itu.

“ Hanya kita berdua yang tahu. Lagipula, Donghae Oppa tak berhak marah padaku, apalagi padamu. Dia hanya kekasihku, sedangkan kau adalah suamiku. Jadi, tak ada sesuatu yang salah, kan?”

Kyuhyun mengangguk setuju. “ Ya, aku suamimu. Itu berarti kau milikku, bukan?”

“ Jangan melebih-lebihkan sesuatu, Cho Kyuhyun. Aku hanya milik diriku sendiri, sampai ada seorang lelaki yang mencintaiku akan menjadikanku miliknya sepenuhnya”, seloroh gadis itu tak terima. Kyuhyun tertegun di tempatnya, menatap wajah Hye Hoon yang kini tak memperhatikannya.

Hatinya terasa dicubit mendengar pengakuan terakhir yang dibeberkan oleh Hye Hoon tadi. Statusnya sebagai suami dari gadis bermarga Choi itu tidak bisa diragukan lagi. Mereka juga telah membuktikan pada dunia bahwa mereka pasangan suami-istri yang harmonis, bukan merupakan bagian dari pasangan tidur pisah ranjang akibat dari pernikahan yang dilakukan atas dasar perjodohan, yang juga –sialnya– menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Dibalik pernikahan mereka yang tampak baik-baik saja, tak ada ikatan cinta yang pasti antara keduanya.

#

Hye Hoon berada dalam zona paling nyamannya saat ini. Sekujur tubuhnya terasa pegal, yang tentu saja membuat tubuhnya semakin malas untuk digerakkan. Indera penciumannya mulai bereaksi, menghirup bau yang semakin membuatnya candu. Diendusnya bagian kulit yang menggoda hidungnya itu, lalu perlahan bergerak menuju pusatnya. Gadis itu sama sekali tak menyukai harumnya bunga apapun, tetapi dia sangat yakin jika aroma tubuh seseorang yang mendekapnya erat itu adalah yang paling menyenangkan baginya.

Yak! Yak! Hentikan Choi Hye Hoon. Menjauhlah dariku sekarang juga!”

Kyuhyun yang terbangun karena merasakan sesuatu yang membaui lengan bawahnya segera menjauhkan wajah istrinya itu dari tubuhnya. Dia seringkali terganggu dengan kebiasaan buruk wanita yang sama anehnya dengan kakaknya yang bernama Choi Siwon itu. Bagaimana bisa gadis itu tak jijik dengan bau keringatnya yang tak karuan? Justru Hye Hoon malah seakan menikmati bisa menikmati aroma tak sedap yang menjadi salah satu hasil dari sisa pembakaran metabolisme di tubuhnya itu seakan adalah wangi parfum yang mahal.

“ Kau pelit sekali”, cibir Hye Hoon tak suka.

Kemudian, gadis itu melepaskan tangan besar Kyuhyun yang melingkari pinggangnya, mengabaikan rasa sakit yang berpusat di pangkal pahanya lalu merangkak mendekati nakas di pinggir ranjang. Dengan menghimpit bagian atas selimut diantara kedua lengannya yang dirapatkan ke dadanya, Hye Hoon pun membuka laci di lemari kecil tersebut, mengambil sebuah kapsul yang tersimpan rapi di balik botol obat-obatan miliknya.

Morning pill lagi?”, sahut Kyuhyun sembari menautkan alis. Ungkapan itu bukan berupa pertanyaan, namun lebih kepada meyakinkan fakta yang sekian lama diketahuinya.

Hye Hoon menelan kapsul itu dibantu air putih yang meluncur ke dalam kerongkongannya dalam sekali teguk, kemudian melirik suaminya yang menatapnya dengan tatapan yang entah mengapa kali ini tak bisa terbaca apa artinya.

“ Aku masih dalam masa suburku. Jadi, mau tak mau aku harus meminumnya jika tak ingin sesuatu yang mengerikan tumbuh di perutku”.

Kerutan di dahi Kyuhyun semakin dalam. Hye Hoon menatap raut wajah lelaki itu tak suka, menghindarkan prasangkanya dari kemungkinan Kyuhyun mulai memikirkan permintaan kedua orang tua dan mertuanya. Jika itu sungguh terjadi, berarti Kyuhyun sudah sinting!

“ Mengerikan? Kau benar-benar tak berencana untuk memiliki anak, Hoon?”

Hye Hoon membalikkan tubuhnya menghadap lelaki yang kini sudah beranjak dari posisi berbaringnya, menatap objek itu dengan penuh antusias. Hatinya menjerit karena topik yang diungkit lelaki itu sungguh tak ingin dibahasnya sama sekali.

Lebih tepatnya, dia tak ingin membahas persoalan ini dengan Cho Kyuhyun.

“ Aku ingin memiliki anak. Menjadi Ibu adalah obsesiku semenjak aku menginjak angka belasan tahun. Tapi…anakmu? Aku masih harus berpikir ribuan kali sebelum aku membiarkan benihmu membuahi rahimku. Kyu, hubungan kita hanya…..”

Ara..ara..tak perlu mengingatkannya juga aku sudah tahu.  Tak usah diperjelas, Hoon”.

Hye Hoon tersenyum lega, menjentikkan jarinya yang lentik itu sekali lalu melihat pantulan bayangannya dibalik mata hitam Kyuhyun. “ Bagus! Aku hanya takut kau mulai termakan omongan racun orang tua kita”.

Kyuhyun merasakan perasaan yang tak bisa dijelaskannya. Dia merasa sedikit kecewa mendengar kalimat yang dilantunkan Hye Hoon tadi. Benarkah dia menginginkan anak dari Hye Hoon? Entahlah. Yang jelas, jika itu benar pun hal tersebut tidak akan bisa terjadi. Seperti kata gadis itu tadi, hubungan mereka tak berjalan sejauh itu, mungkin waktu mereka bersama pun sudah semakin menipis.

“ Hei, Cho Kyuhyun. Apa kau mendengarku?”

Tangan wanita itu bergoyang di depan daerah mata Kyuhyun. Lelaki itu sedikit terkesiap, kebingungan karena tak menangkap sepatah kata-pun yang terlontar dari mulut gadis itu tadi.

“ Kubilang ini sudah jam sembilan pagi. Kau lupa hari ini kau harus menjemput seseorang?”, ulang Hye Hoon tanpa diminta.

Seakan tersadar dengan apa yang menjadi situasinya, Kyuhyun pun segera beranjak dari ranjang king size mereka, setelah menerapkan selimut tipis yang digunakannya untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Sebelum dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dia menyempatkan diri untuk mengecup kening Hye Hoon sejenak, yang seketika membuat jantung mereka berdegup seirama.

Hye Hoon masih tertegun di tempatnya, memutar kembali apa yang dilakukan Kyuhyun beberapa detik sebelumnya. Tak lama kemudian, dia menggerak-gerakkan kepalanya tak tentu dan berjalan menuju kamar mandi lain yang berada di dekat dapur.

Hal itu tidak mungkin terjadi. Tapi benarkah Kyuhyun mulai menyimpan perasaan yang lebih padanya?

#

Kyuhyun kehilangan fokusnya sejak tadi pagi. Percakapannya dengan Hye Hoon sebelum dia membersihkan diri tadi menyita otaknya. Pikirannya mulai berkelana memikirkan masa depan yang akan dijalani keduanya nanti. Pernikahan konyol ini akan segera berakhir akan tetapi dia tak punya rencana apapun untuk hidup yang akan dijalaninya ke depan. Lain dengan istrinya yang bahkan sudah mempersiapkan sesuatu yang besar untuk mengubah hidupnya. Entahlah, dia hanya tak mau memikirkan hidup setelah perceraian.

Karena dunianya hanya berputar di sekitar Hye Hoon sekarang.

Aku sudah hampir gila, hati kecilnya berkata. Tidak mungkin hatinya akan berubah hanya karena ditinggalkan oleh kekasihnya selama beberapa bulan, kan? Lagipula, anak kecil seperti gadis itu tak mungkin dapat membuatnya tertarik.

Oppa?”, panggilan dari suara lembut itu mengalihkannya dari lamunan pendeknya.

Seorang wanita berwajah cantik yang menghiasi walpaper handphone-nya itu mengambil tempat duduk di hadapannya. Gadis itu menyunggingkan senyuman manisnya, yang membuat lesung pipinya terlihat. Rambutnya terlihat lebih panjang dari saat terakhir kali dia melihatnya. Bahkan, dengan keadaannya yang masih kelelahan karena menempuh jarak puluhan jam itu tidak mengurangi kecantikan yang terpancar dari wajah rupawannya.

Tak heran, banyak sekali lelaki-lelaki yang mencuri pandang ke arah tempat mereka berdua duduk sekarang. Merasa sikap protektifnya muncul begitu saja, Kyuhyun dengan mudahnya menarik tangan gadisnya ke dalam genggamannya, yang otomatis membuat mata-mata itu menghindari pemandangan yang mereka sajikan.

Hyunri tersenyum simpul melihat kelakuan pria itu, lalu dengan tangannya yang lain mengelus pelan punggung tangan Kyuhyun yang sedang menggenggam tangannya. Tak ingin membuat Kyuhyun marah, dia pun segera mengganti topik agar pertemuan mereka kali ini tidak berujung pertengkaran.

“ Apa kabar, Oppa?”, tanya gadis berperawakan ideal itu lengkap dengan senyum manjanya. Kyuhyun ikut tersenyum, tapi dia menjawab pertanyaan gadis bernama Hyunri itu seadanya  “ Aku baik-baik saja”.

“ Tapi kau tak terlihat baik-baik saja. Apa kau sedang ada masalah dengan Hye Hoon?”

“ Tak ada. Bagaimana pekerjaanmu di Milan? Apakah kau semakin terkenal disana sekarang?”

Bukan itu pertanyaan yang Hyunri inginkan. Kyuhyun tak bersikap seperti biasanya, dia menyadari itu. Lelaki itu tak pernah menanyakan hal yang berhubungan dengan pekerjaan, karena Kyuhyun sangat membenci pekerjaannya itu. Apakah pria itu telah berubah? Setelah berbulan-bulan tak bertemu, tentu saja pasti ada sesuatu yang berbeda. Namun, perubahan yang ditunjukkan kekasihnya itu sangat signifikan, dan dia berpikir jika lelaki yang menjalin hubungan dengannya selama tiga tahun lamanya itu semakin menjauh darinya.

Jika gadis itu pulang ke Korea, seperti saat ini, hal yang tak pernah absen dilakukan lelaki itu adalah memberikan sebuah cincin yang berbeda setiap tahunnya, kemudian dengan tanpa paksaan mengajaknya untuk melangkah ke jenjang pernikahan.

Akan tetapi, mengapa kali ini tidak? Mungkinkah lelaki itu sudah lupa, atau memang sudah tak tertarik untuk menikahinya lagi?

#

“ Kau mau kemana?”

Suara bass itu sontak mengagetkannya yang sedang mengambil tas kecil yang berada di lemarinya. Tubuhnya pun berbalik, melihat wajah suaminya yang terlihat tak suka. Kyuhyun memindai penampilannya dari atas ke bawah, kemudian bereaksi negatif, terlihat dari keningnya yang berkerut tak suka.

“ Aku akan dinner di luar dengan Donghae Oppa. Kau sudah makan malam, kan?”, tanya Hye Hoon seperti biasa, tak peduli dengan tatapan tajam yang dialamatkan Kyuhyun pada pakaian di tubuhnya.

“ Kau tak pernah berdandan seperti ini jika keluar denganku. Apa begitu cara kau membedakan suami dan kekasihmu?”

Hye Hoon terkekeh pelan menanggapinya. Sulit sekali rasanya jika memiliki dua orang lelaki yang bersamaan di dalam hidupnya. Tapi, ada yang aneh disini. Tak biasanya Kyuhyun menanyakan hal itu sebelum-sebelumnya. Dia bahkan hanya mengangguk pelan ketika Hye Hoon memberitahunya bahwa dia akan pergi dengan Donghae. Berbeda dengan hari ini. Lelaki itu bahkan memperhatikan penampilannya secara detail, seakan dia tak rela jika gadis itu tampil secantik mungkin di hadapan pria lain.

“ Suamiku hanya mengajakku pergi di acara keluarga saja, jadi kurasa aku tak perlu berpenampilan berlebihan hanya untuk makan malam di rumah. Kenapa kau mempedulikan apa yang kupakai, Cho? Bukankah seharusnya malam ini kau mabuk-mabukkan sampai tak sadarkan diri karena Hyunri Eonni menolak lamaranmu?”

Terdapat jeda panjang ketika pertanyaan itu muncul. Kyuhyun berdebat dengan pikirannya sendiri, berpikir mengapa dia bahkan tak mencoba untuk melamar kekasihnya sesaat setelah mereka bertemu di bandara, seperti yang biasa dia lakukan ketika Hyunri kembali ke tanah airnya. Walau begitu, Kyuhyun sangat yakin jika dia tak takut penolakan itu kembali menimpanya.

Keyakinannya untuk menjadikan Hyunri istrinya terkikis, dia bahkan tak bisa membayangkan gadis itu sebagai orang pertama yang dilihatnya setiap pagi, kelak.

“ Aku bahkan tak memberikan cincin itu padanya”, jawab Kyuhyun ragu. Pernyataan itu membuat sepasang mata Hye Hoon melebar, tak yakin dengan apa yang didengarnya sekarang.

Mungkinkah Kyuhyun sudah lelah menunggu?

Namun, gadis itu tahu seberapa besar pengorbanan yang dilakukan suaminya demi pujaan hatinya itu. Sebenarnya, mereka menikah bukan hanya karena melulu perjodohan bisnis yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Alasan lainnya adalah umur Kyuhyun yang menurut keluarga besarnya sudah sangat pantas untuk menikah. Namun, suaminya itu tak mau menyeret Hyunri, yang merupakan seorang model terkenal untuk menggantungkan karirnya dan menikah dengan lelaki itu. Akhirnya, Kyuhyun dengan terpaksa menerima perjodohan demi menghindarkan Hyunri dari masalahnya.

Wajah tampan Kyuhyun terlihat semakin kusut. Banyak hal yang mengganggu pikirannya di luar tadi, kemudian dia pun harus melihat istrinya sendiri meninggalkannya dalam kondisi yang tak baik seperti ini.

“ Aku tak mau membahasnya hari ini. Cepatlah pergi, kau mau Donghae pergi karena terlalu lama menunggumu?”

#

“ Bagaimana keadaan Kyuhyun?”, tanya lelaki sekarang sedang menatapnya dengan bola mata hitam legamnyanya itu. Hye Hoon menahan nafasnya, kemudian menyenderkan kepalanya di bahu kokoh lelaki itu, merasakan kenyamanan yang seperti biasanya dia dapatkan jika dia berada di sisi kekasihnya itu.

“ Dia masih seperti biasanya, Cho Kyuhyun manja yang selalu mengganggu hidupku. Aishh, kalian lelaki sama saja. Baru saja tadi pagi Kyuhyun menanyakanmu, dan sekarang, di acara kencan kita, kau malah membahas nama itu. Kalian menyebalkan, lebih baik kalian menikah saja kalau begitu”.

Donghae tersenyum nyinyir menanggapi ocehan Hye Hoon yang menurutnya lucu. Dia mengecup puncak kepala Hye Hoon sekilas, lalu menggenggam tangan lembut itu lebih erat. “ Ngomong-ngomong soal pernikahan, kau sudah menyiapkan desain gaun pengantinmu?”

“ Itu rahasiaku, Oppa. Kau hanya akan tahu bagaimana bentuk gaunnya ketika kau melihatku di altar nanti”.

“ Ayolah, sayang. Aku sangat penasaran dengan hasil karyamu itu. Kau bahkan tak pernah memperlihatkan rancangannya kepadaku, sedangkan kau sudah tahu apa yang akan kupakai ketika kita menikah. Kau tidak adil, Hye Hoon~ah”.

Hye Hoon menjawab dengan gelengan mantap, membuat Donghae gemas dan menjawil hidung gadis itu pelan.  Gadis itu hanya terkekeh menanggapinya.  Tentu saja gadis itu ingin tampil berbeda di hadapan orang dicintainya ketika mereka dipersatukan nanti. Jika Donghae sudah tahu sejak awal, itu bukan kejutan lagi namanya, bukan?

“ Aku akan memberikan hadiah untukmu”, ujar Donghae tiba-tiba, menyebabkan kepala Hye Hoon terangkat menatap mata sendu favoritnya itu.

Senyuman lebar segera ditampakkan Hye Hoon sesaat setelah kalimat itu meluncur dari bibir kekasihnya.  Hye Hoon memang suka dengan hal-hal kecil seperti itu.  Perilaku gadis berumur dua puluh tahun itu tak ubahnya masih seperti anak kecil, dan berbeda dengan Kyuhyun, Donghae justru lebih suka saat sifat kenakakkan muncul dari diri gadis itu.

“Tutup matamu”.

Awalnya gadis itu akan melontarkan omelan protesnya, tetapi dia hanya bisa tertawa saat telapak tangan lelaki itu lebih dulu menutup matanya.  Donghae membalikkan tubuh ramping Hye Hoon sehingga posisi tubuh gadis itu membelakanginya, kemudian mengeluarkan sesuatu yang sejak tadi tersimpan rapi di saku jasnya. Benda berbentuk kotak kecil yang dihiasi kain beludru itu dibukanya, menampakkan sesuatu yang indah di baliknya.

Sesuatu yang dingin menyentuh lehernya, membuat kelopak mata Hye Hoon yang tertutup kembali terbuka dengan sempurna. Gadis itu menunduk, mengamati sebuah benda yang diidamkannya kini bertengger dengan cantik menghiasi leher polosnya. Tangannya dengan cepat menutup mulutnya yang terbuka, menandakan bahwa dia tak menyangka bisa memiliki kalung yang sempat dimintanya pada pria yang berbeda.

Oppa, bagaimana bisa kau………”

Alis lelaki itu terangkat, merasa tak mengerti dengan apa maksud dari perkataan Hye Hoon yang bahkan tak dilanjutkan gadis itu. Tapi, dia tak begitu mempermasalahkannya karena bidadarinya itu sedang tersenyum senang ke arahnya.

Walaupun sekarang status Hye Hoon dimata hukum telah dimiliki oleh pria lain yang kini berhak atas dirinya, namun Donghae sudah memenangkan hati gadis yang sempat dipujanya diam-diam di waktu sekolah itu sekarang. Dia bahkan telah merencanakan hal yang indah dengan Hye Hoon di waktu mendatang. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, yang entah mengapa tak bisa diungkapkannya ketika melihat mata coklat yang memandangnya dengan cara yang berbeda itu.

Donghae hanya berharap jika itu hanya prasangka buruknya saja, karena dia tahu dia tak akan bisa bertahan hidup jika hal itu benar-benar terjadi.

Karena terlarut dalam pikirannya sendiri, namja itu bahkan tidak menyadari bahwa kekasihnya sudah berada di pelukannya sekarang. Hatinya merasa lebih hangat dari biasanya, karena sumber kebahagiaannya berada dengan selisih jarak yang tak berarti dengannya.

Oppa, kau sangat hebat. Bagaimana kau bisa tahu jika aku sangat menginginkan kalung ini? Jika tahu kau akan membelikanku dengan cuma-cuma seperti ini, aku tak ingin merayu Tuan Muda yang pelit itu untuk membelikan kalung ini waktu itu. Kau tahu betapa menyebalkannya dia, kan?”

Tawa pelan dilontarkan Donghae sebagai tanggapan atas kalimat yang diungkapkan kekasihnya itu. Dengan gerakan refleks, bibirnya mengecup puncak kepala Hye Hoon lalu tangannya digunakan untuk mengelus rambut halus gadis itu.

“ Kau percaya jika orang yang saling mencintai memiliki ikatan batin yang sangat kuat? Kurasa seperti itu pula yang terjadi padaku. Aku tak perlu menanyakan apa yang kau inginkan, karena hati kecilku dengan sendirinya akan menunjukkannya untukku. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan orang tuamu? Kapan mereka akan kembali kesini?”

Hye Hoon menegakkan badannya, merubah pijakannya menjadi berhadapan dengan orang yang sangat dicintainya itu. Anggota geraknya menelusuri dada bidang Donghae yang terasa hangat di telapak tangannya, hingga usapannya berhenti di ujung kerah atas jas berwarna merah itu.

“ Kau tak sabar untuk meminta izin dari mereka untuk segera menikahiku, Oppa? Tenang saja, aku yakin sebentar lagi mereka kembali ke Korea, dan pernikahan kita akan segera terlaksana”.

#

Teriakan-teriakan penuh kesakitan memenuhi ruangan. Suara-suara menyeramkan yang berasal dari campuran antara geraman amarah dan tangisan pedih menyatu diantara ruang hampa yang terasa lebih dingin dari biasanya. Kyuhyun mendesis kesal, merasakan lengan mungil itu semakin erat melekat di pinggangnya. Bukan hanya itu, Dadanya juga terasa sesak karena kepala gadis itu menghimpit tubuh bagian atasnya, membuat dirinya hampir kehilangan nafas karenanya.

Namun, diam-diam di luar kesadarannya bibirnya melengkungkan sebuah senyuman yang berbentuk hanya segaris, merasakan sesuatu yang membuncah di dadanya karena merasa bahwa hanya dialah yang bisa melindungi gadis itu sekarang.

“ Untuk apa menonton film thriller jika akhirnya kau akan bersembunyi di balik tubuhku seperti ini?”, ucapnya pura-pura kesal lalu menekan tombol off yang membuat layar televisi menjadi gelap.

“ Donghae Oppa sangat suka sekali film berbau romance. Aku juga menyukainya, hanya saja kadangkala aku juga merasa bosan dan bahkan mengantuk ketika menontonnya. Aku ingin sedikit perubahan. Dan tak ada seorang yang bisa kuajak menonton film seperti ini selain kau. Lagipula, hanya kau yang berada tinggal seatap denganku, jadi hanya kau yang bisa menemaniku”.

“ Apa susahnya mengatakan jika kau hanya ingin memelukku dengan gratis seperti ini? Padahal jika kau memintanya, aku pun dengan senang hati akan memberikannya untukmu”.

Hye Hoon menyingkap selimut tebal yang melingkupi tubuh mereka berdua, kemudian memperlebar jaraknya dengan Kyuhyun di atas sofa tersebut meskipun terasa sia-sia, karena nyatanya ukuran benda empuk itu yang bahkan hanya bisa membuatnya menjauh dari suaminya itu beberapa centi saja.

“ Kau terlalu percaya diri, Cho”, ungkapnya lengkap dengan bibirnya yang dibentuk mengerucut karena merasa kesal.

Kyuhyun terpaku di tempatnya, melihat sesuatu yang baru dikenakan Hye Hoon di lehernya. Dia terlalu terkejut sehingga tidak menyadari ketika Hye Hoon mengetahui arah pandangnya, kemudian meraba kelopak cantik yang berhias berlian itu dengan bangga.

“ Cantik, kan? Sekarang kau baru menyadari jika aku bisa memiliki apapun yang kumau?”

Lelaki itu menatap istrinya dengan penuh selidik. “ Kau pasti memintanya dari kekasihmu itu, benar kan?”

Hye Hoon meresponnya dengan menggoyangkan jari telunjuknya di depan Kyuhyun, dengan kedua sudut bibirnya yang tertarik ke belakang. Pikirannya membayangkan moment indahnya bersama orang yang memiliki hatinya dengan utuh, disaat pria cinta pertamanya itu memberikan surprise yang sangat manis untuknya.

“ Kau tahu kekuatan yang dimiliki orang yang saling mencintai? Aku bahkan tak perlu meminta, karena Donghae Oppa tahu apa yang kuinginkan tanpa harus kuucapkan. Mungkin, kau juga memiliki hubungan seperti itu dengan Hyunri Eonnie?”, ungkapnya lantang dengan sedikit mengutip kata-kata rayuan yang dikatakan Donghae padanya.

Dada pria itu bergemuruh kencang di balik piyama yang dikenakannya, namun dia bisa mengendalikan wajahnya agar tetap terlihat datar. “ Oh, selamat kalau begitu. Bagus sekali, jadi ke depannya aku tak perlu memberikan sesuatu seperti itu karena kau merengek memintanya dengan penuh permohonan padaku, kan?”

Jam sudah menunjukkan pukul empat pagi. Karena matanya yang semakin terasa berat, Hye Hoon pun sudah tak sanggup menanggapi perbincangan Kyuhyun yang mengarah kepada pertengkaran kecil diantara mereka. Dia mengangkat bokongnya dari sofa berwarna cream tersebut, kemudian mengucapkan salam terakhirnya untuk suaminya.

“ Kita lanjutkan besok saja. Aku sudah sangat mengantuk. Jaljayo, Kyuhyun~ah”.

Kyuhyun memandangi punggung Hye Hoon yang semakin menjauh darinya. Debaran jantung di dadanya masih memburu, sama seperti ketika perkataan Hye Hoon tentang kalung itu menusuk telinganya. Dia menyelipkan tangannya diantara lipatan sofa yang didudukinya, kemudian mengambil sesuatu berwarna hitam disana. Dibukanya benda persegi itu, yang menampakkan barang yang sama dengan perhiasan baru yang dikenakan oleh istrinya. Bibirnya terangkat sedikit, tersenyum miris meratapi apa yang terjadi padanya.

Dia selalu terlambat satu langkah dibanding Lee Donghae.

-TBC-

186 thoughts on “Behind The Knot

  1. wah kasian kyuhyun, punya istri tapi pacar orang, punya pacar tapi g mau dinikahin.. kyuhyun sih coba dia milih hyehoon jadi satu2nya, g perlu nunggu hyunri buat jadi istrinya dan g perlu sakit hati krn hyehoon punya pacar..

  2. emg susaah kalo gaada perasaan apa2 kaloo udh nikah seruumah apalagi udh 2 thn…u,u tp kayanya hye hoonnya masih bahagiiiaa sm donghaennyaa hiksss….cinta pertamanya mau nikah pula ><
    nasib kyuhyun kumaha? (?) sedih bgt part terakhirnya kyuhyun klh cepet ngasih kalungnya dr donge T_T
    ditunggu kelanjutannya ;) semangat buat nerusnniyaa ka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s