Actually, I’ve loved you for so long


 

Cast :

Choi Hye Hoon

Lee Donghae

Choi Siwon

Rating :

PG 15

Genre :

Romance

 

Ini fanfics paliiinggg pertama bikinan aku. Awalnya memang udah tamat, tapi karena dulu aku nulisnya di bb-ku, dan memo-nya ilang setelah upgrade, dan keselnya lagi baru re-write seperempatnya jadi file-nya ilang gitu aja. Mungkin disini ff-nya baru masuk setengah cerita, tapi aku bener-bener gak mood banget buat lanjutinnya walaupun aku udah coba buat nyimpen nih ff bertahun-tahun -__-

Gak janji update part selanjutnya, tapi kalau ada mood buat ff ini aku pasti update kok.

Happy Reading^^ Jangan nagih lanjutannya yaa hehehe

 

 

 

 

 

Choi Hye Hoon’s POV

 

Aku menatap nanar pemandangan sekelilingku. Di hadapanku, orang yang sudah kucintai sejak belasan tahun lalu tengah melingkarkan cincin di jari manis wanita pujaannya, disambut dengan gemuruh tepuk tangan di seluruh penjuru ruangan.

Aku menundukkan wajahku, kemudian tersenyum sinis pada diriku sendiri.

Setelah riuh tepuk tangan itu memudar, aku berbalik dan meninggalkan ruangan itu, menuju ke halaman balroom yang sepi. Sepasang kakiku membawaku untuk menjauhi orang-orang yang berbahagia dan lebih memilih untuk memandangi beriak air kolam yang tenang.

Sekelibat bayangan tentang pria itu muncul. Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya keluar seiring dengan pertahananku yang runtuh. Aku menghirup nafas dalam-dalam dan merasakan dinginnya angin malam yang menusuk kulitku.

Aku buru-buru menghapus air mataku kasar ketika mendengar langkah kaki yang mendekat. Walaupun aku tidak melihat wajahnya karena posisiku yang membelakanginya , tapi aku tahu. Aku sangat mengetahui jika pria itu adalah pria yang sama, pria yang membuatku merasakan asam dan manisnya mencintai seorang pria.

Pria itu….. dia, orang yang terpenting di hidupku.

Aku merasakan ada sesuatu yang disampirkan ke bahuku, seketika itu wangi tubuhnya menyeruak ke indra penciumanku. Selalu seperti ini, ia terlalu menaruh perhatian padaku sehingga membuatku tak bisa semudah itu melupakannya.

“Hai”, sapanya.

Aku mendongakkan wajahku dan melihat wajah tampannya tersenyum bahagia, seakan-akan dunia ada di genggamannya, berbeda dengan diriku yang menahan tangis karena senyuman  itu menambah kepedihan hatiku.

Oppa, kenapa disini? Ini pesta pertunanganmu. Seharusnya Oppa menemani Chaerin Eonnie menyapa tamu penting”, ujarku dengan suara yang masih serak, mungkin karena tadi aku terlalu banyak menangis.

Dia menatapku lekat, kemudian melemparkan senyum manisnya.

“ Aku tidak bisa membiarkan adik kecilku disini sendiri sedangkan aku harus beramah-tamah dengan tamu yang tak aku kenal. Lalu, sampai kapan kau akan menghindari pesta-pesta besar seperti ini, sedangkan kau adalah pewaris tunggal perusahaan keluargamu? Kau harus berubah, Hoon~ah.”

Aku hendak menjawab pertanyaan atau bisa dibilang sindirannya, tetapi ada sebuah suara lembut yang menginterupsi percakapan ringan diantara kami berdua.

Chagiya, Abeonim dan Eomonim mencari kalian, cepatlah masuk”.

Aku memalingkan wajahku dan melihat wanita yang sedang berdiri di anak tangga yang terletak di depan gedung mewah itu. Wanita itu terlihat elegan dengan gaun merahnya. Terlihat cantik dengan make up tipisnya. Wanita itu berbalik dan meninggalkan kami yang masih berada di taman depan hotel berbintang lima ini. Seketika aku merasakan genggaman hangat di pergelangan tanganku.

Lelaki ini… selalu membuat jantungku berdegup kencang dengan sentuhan-sentuhannya sedangkan ia hanya menganggap sentuhan ini sentuhan yang biasa karena ia tidak memiliki perasaan apapun kepadaku. Ia selalu bilang kalau aku adalah yeodongsaeng yang paling disayanginya.

Sadarlah, Choi Hye Hoon.  Dia tak pernah mencintaimu.  Sampai kapanpun Lee Donghae tidak akan pernah membalas perasaanmu.

***

Namja itu menarik pergelangan tanganku, kemudian kami berjalan menuju gedung mewah itu. Akhirnya kami tiba di ruangan besar tadi yang sempat kutinggalkan karena acara yang menyakitkan hatiku. Donghae Oppa pun dengan riang membawaku ke hadapan orang tuanya. Setelah jarak kami dekat, aku menundukkan kepalaku untuk menyapa mereka, tapi ibu dari orang yang sangat aku cintai itu malah menarikku ke dalam pelukannya.

“ Kau kemana saja Hye Hoon~ah? Sudah berapa lama kita tidak bertemu? Apakah kau sudah melupakan Eomma?”

Nyonya Lee, Ibu dari lelaki yang kucintai, menginterogasiku dengan suara lembutnya dengan sedikit nada kecewa terselip di balik kalimat-kalimatnya. Aku tersenyum singkat dan perlahan melepaskan pelukan eratnya dari tubuh rampingku.

Anieyo, Eomma. aku sedang sibuk dengan tugas akhirku sekarang. Appa terus saja menyuruhku untuk cepat-cepat menyelesaikan kuliahku dan menyusul  mereka ke Jepang. Tapi aku sengaja memperlambat prosesnya agar aku bisa menghadiri pernikahan anakmu yang tampan itu “, ujarku dengan nada yang terdengar manja.

Daridulu aku memang sudah terbiasa memanggilnya dengan sebutan Eomma. Wanita paruh baya itu yang menyuruhku untuk memanggilnya begitu karena kami memang memiliki hubungan yang sangat dekat. Mungkin juga karena beliau tidak mempunyai anak perempuan sehingga beliau sangat menyayangiku serta menganggapku seperti anaknya sendiri.

Eomma lebih sering membelaku daripada anak-anaknya. Seperti terbukti sekarang, dia sedang menatap anaknya yang tampan dengan pakaian formalnya itu dengan tatapan garang.

“ Lihatlah, kau membuat anak perempuan kesayanganku sibuk, Donghae~ya”, ucapnya mengancam.

Donghae Oppa balas menatap Eomma nya tidak terima dan segera menyanggah pernyataan Ibunya. Mata teduhnya melirikku dan Eomma bergantian, lalu mencibir ketika pandangannya tertaut pada tanganku yang bergelayut manja di lengan Eomma. “Dia bukan anakmu Eomma, dan Hoon~ah , jangan terus-terusan bersikap manja terhadap Eommaku, arasseo?”.

Eomma menatap Donghae Oppa sinis , setelah itu menatapku dengan tatapan yang lembut, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan caranya menatap anak laki-lakinya itu.

Eomma ingin membicarakan sesuatu, ikut Eomma sebentar”

***

Suara dentingan piano yang mengalun menghantarkan satu-persatu pasangan di ruangan ini menghampiri lantai dansa. Banyak sekali pasangan yang berdansa mengikuti alunan music jazz yang menenangkan.  Dari ekor mataku, tak sengaja aku melihat Donghae Oppa yang sedang berlutut di hadapan tunangannya, menjulurkan tangannya untuk mengajak tunangannya itu berdansa seperti yang lainnya. Kemudian, tanpa pikir panjang wanita bergaun merah itu segera menyambut uluran tangannya.

Seketika itu aku menyentuh dadaku yang terasa ngilu. Aku merasakan seolah-olah ada ribuan paku menusuk ke jantungku. Meskipun aku sudah merasakan perasaan sakit ini berkali-kali tetapi aku tetap tidak bisa mengobatinya. Dan parahnya, mataku tetap saja tak berhenti memperhatikan gerak-gerik pasangan itu.

Lelaki itu menatap wanita cantik di hadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapan yang sampai kapanpun tidak akan terlihat jika ia menatap orang lain, termasuk diriku. Hatiku mencelos ketika aku melihat tangan kekar itu meraih pinggang gadisnya dan tangan lembut gadis itu melingkar di leher namja yang telah menjadi sahabatku sejak kecil. Perlahan mereka berdansa sembari menikmati alunan musik yang romantis.

Setelah beberapa waktu menggerakkan tubuh mereka di lantai dansa sesuai dengan alunan musik, gerakan mereka perlahan berhenti.

Aku ingin menolehkan kepalaku, berhenti melihat adegan menyakitkan itu ketika wajah Donghae Oppa perlahan mendekat ke wajah orang yang dicintainya. Namun, mataku tetap tertuju kepada pasangan itu. Aku ingin secepatnya berlari menjauh, tapi entah kenapa kakiku seakan tidak berfungsi ketika bibir mereka bersentuhan.

Dan saat itu aku sadar, jika sekarang, hatiku juga sudah tidak berfungsi lagi.

***

Satu bulan lagi pernikahan mereka akan dilangsungkan, dan itu berarti sebulan lagi aku tinggal di negara ini. Beberapa bulan ini perpustakaan menjadi tempat favoritku. Seperti sekarang, aku sedang duduk di sebuah kursi kayu di perpustakaan kampus sambil berkonsentrasi dengan buku-buku tebal di meja hadapanku.

Ada suara derap langkah yang sangat kukenali mendekat ke arah dimana aku terdiam diri. Saat jarak kami cukup dekat, aku pun bisa mencium aroma khasnya. Dia duduk di seberang kursi yang sedang kududuki dengan santainya, seolah-olah dia sudah terbiasa menghabiskan waktu di tempat ini. Aku menatapnya heran, tetapi dia malah membalasnya dengan senyumannya yang menawan. Senyumannya itu berhasil membuat kakiku beku, tak berkutik dan dengan tampang bodoh hanya bisa memandanginya.

Dia bangkit dari tempat duduknya dan secara otomatis aku pun mengikuti langkahnya hingga akhirnya kami sampai di mobilnya. Setelah kami duduk di bangku depan, dia berkata “ Eomma bilang dia ingin bertemu denganmu”. Aku menganggukkan kepalaku pelan tanda kalau aku mengerti dan menyetujui ajakannya.

Sepanjang perjalanan, tidak ada sepatah kata pun terlontar dari bibirku maupun bibirnya. Aku hanya memandangi wajah sempurnanya yang sedang berkonsentrasi pada jalanan di depannya. Aku selalu melakukan hal-hal seperti ini sejak lama, sebenarnya. Memperhatikannya dalam diam adalah salah satu kegiatan terselubung yang seringkali kulakukan jika sedang bersamanya.

Inilah caraku mencintainya. Pura-pura menjadi teman yang baik dan menyimpan semua perasaanku. Aku tidak ingin menyia-nyiakan persahabatanku yang sudah sangat lama terjalin dengannya hanya karena perasaan cintaku yang aku tahu sampai kapanpun tidak akan pernah terbalas.

Karena aku tahu, dia hanya mencintai gadisnya.

Aku terlalu sibuk memperhatikan wajahnya sehingga aku tidak menyadari kalau dia sudah menghentikan laju mobilnya. Dia menoleh ke arahku dan mengerutkan dahinya, bingung karena menyadari aku yang memandanginya wajahnya sedari tadi.

Tatapan mata kami bertemu.

Entah mengapa aku menangkap ada sesuatu yang berbeda dari tatapannya. Aku sedang memikirkan apa yang berbeda dari tatapannya tetapi sontak ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia berdehem untuk menghilangkan kecanggungan kami setelah peristiwa tadi.

Kaja, kita masuk. Eomma sudah menunggu”.

***

Kami pun memasuki rumah besar itu. Rumah yang menyimpan banyak kenangan masa kecilku, lebih tepatnya masa kecil kami. Aku ingat dulu aku lebih sering menghabiskan waktuku di rumah ini daripada di rumahku sendiri, yang berada tepat di sebelahnya. Tetapi semenjak aku kuliah, orang tuaku pindah ke Jepang dan aku pindah dari rumah kami . Aku pindah ke apartemen yang jaraknya lumayan jauh dari rumah kami sebelumnya, juga jauh dari rumah ini.

“ Hoon~ah, wasseo?” Sapa Nyoya Lee riang. Dia segera duduk di sampingku dan menyuruh pelayan untuk membawakan minum untuk kami.

Aku tersenyum singkat dan segera menjawab pertanyaannya. “ Ne, Eomma. Eomma ada perlu denganku?” Tanyaku penasaran. Tidak biasanya Eomma menyuruh Donghae Oppa untuk menjemputku untuk menemuinya di rumah. Biasanya dia akan mengajakku untuk bertemu di café kalau hanya berbincang-bincang biasa. Mungkin kali ini dia akan menyampaikan sesuatu hal yang serius.

“ Kau harus tinggal disini sampai kau pulang ke Jepang, dan Eomma tidak menerima penolakan apapun.”

***

Aku menikmati pemandangan di sekelilingku, mengamati keindahan taman yang mayoritasnya dipenuhi dengan warna hijau yang menyejukkan. Eomma memelihara taman ini dengan baik.

Setidaknya bunga-bunga di taman ini bisa menenangkan hatiku yang tidak tenang semenjak percakapan yang terjadi antara aku dan Eomma tadi. Sungguh, aku sedang menghindarinya dan sekarang aku harus tinggal serumah dengannya?

“ Hoon~ah.”

Aku tidak mungkin tak mengenal suara ini. Aku sangat ingin teriak dan memberitahunya bahwa aku sedang menghindarinya, karena bertemu dengannya semakin membuat hatiku sakit. Bisakah kita berpisah untuk sementara waktu , Oppa? Aku lelah mengingat semua tentangmu yang seringkali menyakiti hatiku karena aku tak bisa menggapaimu.

Aku menolehkan pandanganku ke arahnya dan tersenyum singkat. “ Oppa~ya, kau tahu aku ada disini?”.

Dia mengambil tempat duduk di sebelahku dan menatapku lekat, dengan wajahnya yang dihiasi dengan senyuman andalannya. “ Tentu saja, sejak kecil memang tempat ini adalah tempat favoritmu, kan?”.

Aku tersenyum hambar. Sesungguhnya, aku sedang moodku sedang tidak baik dan tidak cocok sekali untuk tersenyum sekarang. Tapi, aku harus terlihat seperti biasa saja di depannya.

Oppa, kau tahu tentang rencana Eomma mengurungku di rumah ini?”

Dia menaikkan bahunya dan tersenyum kecil. Ah, dia tidak ada waktu untuk mengurus masalah sepele seperti ini. Pesta pernikahannya lebih penting. Bagaimana aku bisa berpikir kalau sebenarnya dia yang memintaku tinggal disini? Choi Hye Hoon, kau bodoh sekali.

“ Jadi, kau menuduh Eommaku mengurungmu disini? Begitu? Aigoo Hoon~ah, Eomma hanya khawatir padamu, karena kau tinggal sendiri di Seoul dan mungkin Eomma juga ingin menghabiskan waktunya bersamamu sebelum kau pindah ke Jepang. Hanya satu bulan, kan? Ayolah, biasanya juga kau akan memaksaku untuk mengizinkanmu menginap disini”.

Dia terkekeh pelan, sepertinya mengingat wajahku yang seringkali memelas ketika memaksanya untuk membawaku menginap di rumahnya. ‘ Itu terjadi sebelum kau punya seseorang di hatimu, Oppa’, batinku kesal. Aku menyerah lalu menganggukkan kepalaku sedikit untuk membalasnya.

” Baiklah, aku memang tidak punya alasan untuk menolak”.

Dia mengacak rambutku pelan, layaknya perlakuan yang sering dilakukan seorang kakak terhadap adik perempuannya. Senyumannya pun semakin mengembang di bibir tipisnya. Aku pun seakan terkena virus darinya dan membalas senyuman itu.

Terdengar suara langkah kaki dari belakang. Kami menoleh bersamaan dan mendapati seorang wanita cantik yang beberapa tahun umurnya lebih tua diatasku tersenyum. Senyumannya terhenti ketika melihat sesuatu. Aku mengikuti arah pandangannya dan segera melepaskan tangan Donghae  Oppa yang masih ada di puncak kepalaku.

Dia melangkahkan kakinya mendekat ke bangku yang sejak tadi kami duduki dan segera melingkarkan tangannya ke leher lelaki itu, memeluknya dari belakang.

“ Jadi, apa yang kalian lakukan di belakangku, huh?”

***

Ruangan itu masih terlihat hangat. Walaupun di pagi sampai sore hari mereka menikmati kesibukannya masing-masing, mereka pasti menyempatkan diri untuk berkumpul saat makan malam. Suasana begitu ramai, apalagi ada dua orang wanita cantik yang semakin membuat suasana di rumah itu semakin meriah.

Aku masih belum terbiasa dengan keadaan itu. Dulu,aku juga memang sering menikmati makan malam bersama keluarga ini. Tetapi itu sudah sangat lama, dan aku perlu waktu untuk menyesuaikan diri untuk itu. Apalagi melihat pasangan yang bermesraan di depan mataku membuat perasaanku semakin merasa tidak enak.

“ Hye Hoon~ah, apakah kau juga akan menyusul Donghae untuk menikah muda?”

UHUK

Aku terbatuk ketika mendengar kata yang sangat mengejutkan dari Appa, kepala keluarga di rumah ini. Cairan yang aku sedang coba telan setelah meletakkan gelas di depanku itu hampir keluar begitu saja. Untunglah aku refleks menutup mulutku dengan tangan supaya air putih itu tidak berhamburan kemana-mana.

Eomma mengelus pundakku berkali-kali sampai aku merasa baikan.

“ Hoon~ah, Gwenchana?”. Donghwa Oppa menatapku cemas. Aku menyunggingkan senyuman terbaikku untuk anak tertua di keluarga Lee ini. Dia pun membalas senyumanku singkat lalu kembali menikmati makan malamnya yang terganggu karena kegaduhan yang kutimbulkan tadi.

Di sudut mataku aku juga melihat kedua orang di depanku melihatku cemas, begitu juga dengan Eomma dan Appa yang tak henti menghujaniku dengan tatapan cemas dan khawatir. Namun, mereka merasa tenang karena toh aku baik-baik saja.

Kemudian keadaan di ruang makan itu menjadi hening, karena orang-orang di ruang makan itu, termasuk aku, lebih berkonsentrasi pada makanan masing-masing. Setelah kami semua selesai, Eomma menahan kami untuk tinggal. Katanya beliau akan membicarakan sesuatu.

Aku memiliki firasat buruk ketika Eomma meremas tanganku lembut di atas meja. Aku mencium sesuatu yang tak beres disini. Sedetik kemudian, Eomma mengutarakan maksudnya. “ Eomma akan mengenalkan Hye Hoon pada anak sahabat dekat Eomma. Dia anak yang sangat baik, dan sepertinya akan cocok untuk anak perempuanku satu ini”.

Aku menghela nafas dengan berat. Seharusnya aku tahu dari awal bahwa Eomma tidak akan memaksaku untuk tinggal di rumahnya selain jika ada hal yang direncanakannya. Ah, sepertinya waktu itu aku bisa menolak tinggal agar acara perjodohan ini tak terjadi.

Lelaki di hadapanku nampak sangat terkejut dengan suruhan Eomma, mengambil gelasnya dan meneguknya sekaligus. Aku tahu kebiasaannya, dia akan meminum air dengan cara seperti itu jika sedang gugup. Mengapa dia bersikap seperti itu? Setahuku harusnya aku yang bersikap seperti itu karena berita yang tiba-tiba Eomma tujukan padaku.

“ Hoon~ah, kau mau, kan?”. Suara lembut Eomma menginterupsi lamunanku. Aku bingung apa yang harus kukatakan dan lebih memilih untuk tutup mulut.

Walaupun aku menolak, seperti sebelumnya Eomma pasti akan memaksaku, kan?

***

Akhirnya hari perkenalan ini datang. Eomma sengaja memesan tempat di sebuah restaurant mahal untuk menjamu tamunya.Dia terlihat sangat bersemangat dan kegirangan dengan acara perjodohan ini. Aku tak bisa menebak mengapa dia bersikap begitu.

Eomma benar-benar menjadi sumber masalah bagiku. Bukannya aku datang sendiri atau datang berdua dengannya, Eomma malah menboyong anak lelaki dan calon menantunya itu. Mungkin Eomma ingin agar aku tidak merasa canggung, tapi justru mereka menambah kecanggunganku berkali-kali lipat.

Eomma mendandaniku habis-habisan untuk acara malam ini, mungkin terlalu berlebihan sehingga membuat Donghae Oppa mengabaikan tunangannya sedari tadi memandangiku? Apakah riasanku terlihat aneh?

Disini memang masih hanya ada kami bertiga. Aku, Eomma, dan Donghae Oppa. Kami masih menunggu Chaerin Eonnie dan lelaki tersebut. Eomma sudah memesan beberapa jenis makanan untuk kami berlima. Sambil menunggu mereka berdua, kami berbincang mengenai hal yang menurutku tidak cukup penting. Aku tidak berkonsentrasi dengan apa yang kami bicarakan karena memikirkan tentang lelaki yang akan Eomma kenalkan padaku.

Chaerin Eonnie datang. Seperti biasa dia mencium pipi kanan Donghae Oppa dan duduk di sebelahnya. Dan seperti biasa pula aku terpaku di tempatku beberapa saat dan membalas dengan kaku senyuman Chaerin Eonnie.

Eomma, yang sedang melihat ke arah pintu masuk, dalam sekejap merubah ekspresi mukanya. Dia tidak bisa menyembunyikan raut bahagia di wajah cantiknya. Aku penasaran dan mengikuti arah pandangannya, dengan seketika leherku kaku melihat sosok yang berjalan elegan menuju meja yang kami tempati.

Diakah namja yang akan Eomma kenalkan padaku? Dia kan…..

“ Maaf aku terlambat. Tadi ada urusan yang harus kuselesaikan terlebih dahulu”. Lelaki itu membungkukkan badannya, dengan wajahnya yang terlihat menyesal, meminta maaf kepada kami semua. Dari pakaian yang dikenakannya, aku berasumsi bahwa dia baru saja keluar dari kantor. Mungkin Siwon Oppa termasuk orang yang gila kerja mengingat reputasinya sebagai pebisnis yang handal sangat diakui di negri ini.

Eomma tersenyum senang menanggapinya sembari menunjuk tempat kosong di sebelahku, menyuruh namja itu untuk menempati kursi kosong tersebut. Aku menatap matanya sekilas lalu menundukkan kepalaku pelan sebagai tanda untuk menyapanya. “ Annyeonghaseyo, Siwon Oppa”.

“ Annyeong, Hye Hoon~ah”, balasnya singkat

Kenapa Eomma mengenalkanku padanya? Aku tak tahu. Namun, kita memang saling mengenal sejak lama. Biar kujelaskan disini, dia adalah salah satu sahabat dekat Donghae Oppa semasa Senior High School, tentu saja aku juga mengenalnya karena kami memang masuk di sekolah yang sama. Apalagi, ketika itu aku seringkali mengikuti Donghae Oppa kemanapun lelaki itu pergi.

Dari penampilannya sekarang, tentu terlihat sekali bahwa dia adalah lelaki paling populer di sekolah dulu.

Donghae Oppa hanya diam semenjak dia sudah menyapa Siwon Oppa dengan kaku. Entahlah, sepertinya dia masih canggung karena sudah lama sekali tidak bertemu dengannya. Atau mungkin alasan lainnya karena mengetahui jika lelaki itu orang yang dijodohkan denganku? Hentikan anganmu, Choi Hye Hoon. Kau terlihat bodoh sekali.

“ Hoon~ah, kau sudah mengenal Siwon, kan? Jadi Eomma rasa pendekatan kalian akan lebih mudah”. Eomma melemparkan senyum kepadaku dan lelaki bertubuh tegap di sampingku itu bergantian. Senyumannya terkesan menggoda. Ah, Eomma pasti menyadari pipiku yang mulai memanas.

De?” Aku pura-pura tidak mengerti, sementara Siwon Oppa hanya berdeham untuk menghilangkan kecanggungan kami. Aku pun merasa bingung saat Eomma menarik kursinya lalu bangkit. Senyumannya masih terpancar di wajahnya kemudian berpamitan kepada kami berempat

“ Ah, Eomma harus pulang sekarang. Kalian bersenang-senanglah disini.”.

***

Author’s POV

 

“ Donghae~ya, kudengar kau mau menikah satu bulan ke depan, apa itu benar?”. Siwon melontarkan sedikit basa-basi kepada teman lamanya itu , karena dia merasa bahwa sikap Donghae malam ini terasa sedikit berbeda untuknya.

 

“ Ah ne, maaf aku lupa. Perkenalkan calon istriku, Song Chaerin. Chaerin~ah, ini temanku Siwon. Mianhae, karena aku baru sempat mengenalkan kalian sekarang”. Siwon tersenyum ramah terhadap orang yang berada di seberang mejanya, dibalas dengan tarikan bibir yang simetris dari wanita yang bernama Song Chaerin itu.

“ Siwon~ssi, maaf kalau kedatangan kami mengganggu. Seharusnya kalian makan malam berdua disini tapi entah kenapa Eomonim malah menyuruh kami untuk ikut”. Chaerin merapikan rambutnya yang tertata, meminta maaf kepada namja yang merupakan teman lama tunangannya itu karena telah mengganggu acara keduanya.

Anieyo Eonnie, tidak apa-apa. Lagipula sudah lama kita tidak berkumpul seperti ini. Iya kan, Oppa?”. Hye Hoon melirik ke arah Siwon meminta dukungan, lelaki itu pun menganggukkan kepalanya pelan tanda setuju.

Tanpa mereka sadari, seseorang yang tidak berbicara apapun daritadi sedang menahan rasa yang berkecamuk di dalam dadanya ketika mendengar kata Oppa meluncur dari gadis kecilnya. Dia mengepalkan tangannya erat di balik meja, menyembunyikan rasa tak nyaman yang menyerangnya itu.

Oppa, kurasa kita harus pulang sekarang. Aku baru ingat kalau malam ini kita ada janji dengan pihak Wedding Organizer untuk mengecek gedung. Kami pamit dulu sekarang”.

Donghae tahu apa yang ada di pikiran tunangannya itu. Mereka sudah mengecek gedung beberapa hari yang lalu. Pastilah wanita yang merupakan calon istrinya itu hanya ingin memberi waktu berduaan kepada mereka.

Berdua? Kurasa itu bukan hal yang baik.

***

Hye Hoon memasuki rumah megah itu setelah dia melihat mobil Siwon menjauh. Dia tersenyum memikirkan apa yang terjadi antara mereka berdua tadi. Menurutnya, sikap Siwon masih sama seperti dulu, hanya sekarang dia lebih humoris dan terbuka. Entah kenapa itu membuatnya sedikit terhibur dan mengingat hal itu dengan refleks dia menyunggingkan senyumannya.

Hye Hoon terkejut ketika mendapati seseorang yang bersender di dinding dekat pintu utama. Sepertinya orang itu memperhatikannya sejak dia membuka pintu kayu rumah ini. Mereka saling melempar senyum ketika mata mereka beradu. Hye Hoon yang sedikit penasaran mengapa Donghae yang terkesan menungguinya itu pun akhirnya membuka suaranya.

Oppa, kau sudah pulang? Bukankah kau….”

Donghae memotongnya cepat, tak mau jika Hye Hoon mengetahui tentang rencana yang disusun Chaerin tadi terbongkar. “ Sepertinya kau sangat senang hari ini”, ujarnya sedikit terbata.

Hye Hoon merasa ada yang berbeda dari nada yang keluar dari mulut Donghae. Tapi sepertinya hanya perasaannya saja, karena Donghae tetap tersenyum lembut padanya, seperti biasanya.

“ Tentu. Aku senang karena menghabiskan waktu dengan kalian semua”, jujurnya. Hye Hoon melihat perubahan air muka Donghae yang menjadi masam yang tentu saja membuat gadis itu berpikir yang tidak-tidak tentang apa penyebab perubahan air muka lelaki tampan itu.

“ Bukan karena kau bertemu dengan Siwon?”.  Donghae melontarkan pernyataan yang membuat pipi gadis itu merona lalu memamerkan senyum jahilnya. Hye Hoon baru sadar kalau Donghae sedang menggodanya. Dia mendekati Donghae yang masih tetap pada posisi tadi dan mulai memukul-mukul dada bidangnya pelan.

Oppaaaaa, berhentilah menggodaku”, rengeknya manja.

“ Ah, kau sudah besar rupanya. Mau segera menyusulku untuk segera menikah, huh?”

Hye Hoon menghentikan gerakannya. Raut mukanya berubah menjadi serius sekarang ini. Mendengar kata keramat itu membuat hatinya tercabik tanpa bekas, mengingatkannya dengan pernikahan yang akan dilangsungkan orang yang sangat dicintainya itu beberapa minggu ke depan. Donghae dengan mudahnya menyadari perubahan yang terjadi dengan adik kecilnya itu, karena memang gadis itu tidak pandai menyembunyikan perasaannya.

“ Kau kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapanku?” Hye Hoon terkejut dengan pertanyaan Donghae, tentu saja.  Namun, dia segera menguasai emosinya kembali agar tak meledak dihadapan lelaki itu. Dia tertawa sumbang untuk mengatasi kegugupannya, takut jika Donghae akan mengetahui perasaannya yang sebenarnya.

“ Hahahahahaha. Kau memang mudah tertipu, Oppa”.

Batinnya kembali mengalami penyakit yang sangat akut yang sulit untuk disembuhkannya. Donghae menyuruhnya menikah dengan yang lain? Yang benar saja. Di hatinya hanya ada nama lelaki itu, mana mungkin dia bisa dengan gampangnya melupakannya?

***

63 thoughts on “Actually, I’ve loved you for so long

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s