Red Lips (I)


 

 

Seorang gadis dengan bibir yang diulas oleh lipstick merah menyala itu mengabaikan berbagai macam perhatian yang mengarah kepadanya. Sebagai seorang anak Perdana Menteri di negeri ini, dia cukup terkenal seperti layaknya selebriti papan atas. Ketenaran itu bukan disebabkan oleh prestasi yang diciptakannya yang sering menjadikan namanya sering mengisi lembaran majalah wanita maupun televisi yang menyiarkan acara infotainment.

 

Sebagai seorang yang memiliki kekayaan melimpah, dia tak segan untuk menghamburkan uangnya untuk mencari kesenangan. Dia dikenal dengan gadis tukang pesta, penghuni tetap diskotik, dan manequin berjalan karena yang dipakainya pastilah sesuatu yang branded dan berkelas. Bukan hanya itu yang membuat orang-orang tertarik. Hubungan singkatnya dengan beberapa lelaki kalangan atas juga menarik perhatian publik karena berbagai skandal yang diciptakannya.

 

Kabar-kabar miring menjadi santapan sehari-harinya. Begitu pula dengan banyaknya paparazzi yang seringkali menstalker gadis itu menjadi alasan mengapa Appanya memberikan perhatian yang lebih untuknya. Bukan perhatian yang selayaknya, memang. Karena Ayahnya memperjakan beberapa pegawai bertubuh kekar dan bersikap kaku untuk mengawasi setiap gerak-geriknya.

 

Well, hal itu sering membuatnya jengah. Dengan kehadiran beberapa lelaki yang memakai seragam hitamnya itu membuatnya tak bisa berkutik karena setiap kegiatannya pasti tak akan luput dari pengetahuan lelaki tua itu. Akan tetapi, untuk beberapa hal dia sepertinya senang dengan kehadiran orang-orang suruhan Appanya itu. Seperti sekarang, ketika dia menggunakan kartu kredit unlimited miliknya untuk memborong berbagai macam barang bermerek yang ditunjuknya acak, gadis itu tak perlu mengeluarkan tenaganya untuk membawa tas-tas belanjaannya itu.

 

Setelah mengambil beberapa pakaian yang dipilihnya sembarang di kasir, dia segera melenggang hendak keluar menuju butik lainnya. Dia bukan tipe gadis yang suka belanja sebenarnya, namun dia hanya sering melakukannya jika sedang bosan. Dan untuk saat ini, dia sedang kesal dengan sikap kekasih terbarunya, yang memperlakukannya seakan dia milik lelaki itu seutuhnya.

 

Dia menghentikan langkahnya menjauhi butik bertuliskan sebuah brand ternama itu ketika ujung matanya menangkap sesuatu yang menarik minatnya. Tubuhnya berbalik, mendapati kedua bodyguard berwajah garang itu menaikkan alisnya. Gadis yang memakai dress berwarna hitam itu pun mengisyaratkan kedua lelaki itu untuk menyingkir. Bibirnya tertarik ke belakang ketika melihat lelaki yang membuatnya terpesona hanya karena melihat wajah lelaki berparas tampan itu.

 

Ini akan menjadi sebuah permainan yang menarik, seringainya.

 

***

 

Yoo Kyung menarik beberapa tas kertas yang dipegang oleh bodyguardnya tanpa menghiraukan tatapan heran yang ditujukan kepadanya. Lalu, dia menggerakkan bibirnya tanpa suara, melarang bodyguardnya itu untuk mengikutinya.

 

Langkahnya mendekati objek itu dibuat seanggun mungkin, sehingga gaun yang menutupi sampai setengah pahanya itu semakin tertarik ke atas. Mendekati seorang lelaki di tempat umum seperti ini adalah sesuatu yang baru baginya. Biasanya, lelaki yang menjadi incarannya itu selalu ditemukannya di tempat yang terkesan private seperti bar, diskotik, maupun restaurant yang terletak di hotel bintang lima.

 

Segera setelah aroma maskulin itu semakin terasa menggoda di indera penciumannya, dia menemukan lelaki berkemeja putih yang digulungnya sampai ke siku tersebut hanya beberapa centi di hadapannya. Pandangan lelaki itu tak beralih dari rak yang menggantung beberapa jas berwarna gelap dengan modelnya yang hampir sama. Akhirnya, lelaki bertubuh tegap itu pun menjatuhkan pilihannya pada sebuah jas dan segera menyerahkannya ke salah seorang pramuniaga disana.

 

Inilah saatnya beraksi.

 

Suara debuman terdengar ketika kedua tubuh mereka saling bertabrakan. Tas yang dipegang Yoo Kyung pun berhamburan ke lantai. Gadis itu segera membungkuk, memunguti tas-tas yang terbuat dari kertas itu membuat posisinya semakin menggoda. Belahan dadanya yang terlihat, tentu saja akan membuat mata lelaki berebut untuk melihat ke bawah.

 

Matanya hampir saja keluar dari tempatnya ketika melihat lelaki itu meneruskan perjalanannya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Yoo Kyung yang sedang berjongkok kaku. Tak ada kata dari bibir lelaki itu untuk meminta permintaan maaf padanya, tak ada gerakan tangannya yang membantu merapikan kekacauan karena barang belanjaannya berceceran. Dan parahnya lagi, lelaki itu bahkan tak melirik sedikitpun ke arahnya.

 

Dia, Seorang putri tunggal keluarga Park yang terhormat, diabaikan oleh seorang pria.

 

Ini pertama kali untuknya, dan dia merasa sangat terhina dengan kejadian itu. Park Yoo Kyung, seorang wanita sosialita yang biasanya dikejar-kejar oleh pria-pria tampan yang berasal dari kalangan terpandang sudah menjatuhkan harga dirinya dengan mengejar lelaki yang baru ditemuinya tadi. Akan tetapi, sialnya, lelaki itu bahkan tak memperdulikan usahanya sedikitpun.

 

Ini akan sangat menarik. Dia akan membuat lelaki itu menjadi miliknya, apapun resikonya.

 

***

 

Malam yang sama seperti sebelumnya, kali ini pun gadis itu menghadiri sebuah pesta yang kali ini adalah untuk merayakan ulang tahun salah satu mantan pacarnya, Lee Donghae. Dialah seorang posesif yang beberapa hari lalu ditinggalkan gadis itu, seseorang yang sudah benar-benar membosankan karena lelaki itu mencintai Yoo Kyung begitu dalam sehingga sudah tak ada tantangan lagi bagi gadis itu untuk menaklukan lelaki yang merupakan dancer terkenal tersebut.

 

Dalam kesempatan ini, dia tak ditemani siapapun. Para lelaki bertubuh tegap dan kaku itu sudah disingkirkannya di pintu masuk. Untunglah Donghae mengadakan pestanya di mansionnya sendiri, sehingga Appanya mengizinkannya untuk meninggalkan beberapa orang bodyguard itu di luar gerbang.

 

Karena skandal-skandal bodoh itu, Yoo Kyung harus puas dengan kehidupannya yang serba terbatas. Namun sekarang, tak ada lagi yang berani untuk membuntutinya untuk mencari berita. Mungkin salah satu alasannya adalah dia sudah tak menjalin hubungan lagi dengan lelaki yang berstatus sebagai selebriti itu. Untuk alasan lainnya, sepertinya dia harus berterima kasih karena wajah bodyguard suruhan Appanya yang terlihat sangar.

 

Tapi sedikit banyak dia mulai jengah dengan para lelaki berbaju hitam tersebut. Besok pagi, dia akan bernegosiasi dengan Ayahnya agar bodyguard-bodyguard itu menyingkir dari dekatnya.

 

“Hai”, sapa seseorang yang tak diketahuinya sejak kapan berada di depannya. Dia menghiraukannya dengan membalikkan tubuhnya ke meja bar kemudian meneguk isi dari gelas yang bisa dijangkaunya.

 

Hanya segelas penuh, tapi dengan suksesnya membuat kepala Yoo Kyung berputar hebat.

 

Donghae mengambil alih tempat duduk di sebelahnya, memainkan leher gelas tinggi yang serupa dengan yang diminumnya tadi. Mereka tak memulai pembicaraan, karena penolakan terang-terangan yang dilakukan Yoo Kyung membuat Donghae enggan menyapa gadis itu lagi.

 

Disaat Yoo Kyung sudah muak berada di sekeliling mantannya itu, dia segera beranjak dari tempatnya untuk segera menjauhi Donghae. Sebelum dia berhasil menjauh, sebuah tarikan tangan menyebabkan dirinya kembali ke tempatnya semula. Berbeda dengan beberapa detik lalu, Donghae kini menatap matanya dengan tatapan tajam yang seakan siap untuk mengulitinya hidup-hidup.

 

“ Kudengar kau bosan denganku, karena aku sudah sepenuhnya terjerat dengan pesonamu. Ya, mungkin perkataan yang kau katakan dengan penuh percaya diri itu benar adanya. Lalu, setelah itu kau yakin jika aku akan melepasmu begitu saja? Tentu saja tidak, sayang. Kau tahu itu. Aku sangat suka tantangan”.

 

Baiklah, sepertinya lelaki yang sering mengumbar otot perutnya itu sudah tergila-gila padanya hingga benar-benar menjadi orang gila.

 

“ Kau pikir siapa kau? Derajatmu bahkan jauh lebih rendah dibanding denganku. Berhentilah mengejarku, atau salah satu bodyguardku akan membuat kakimu itu tak berfungsi lagi. Bukankah jika itu terjadi kau akan kehilangan segalanya?”, ancamnya tegas. Lelaki seperti Lee Donghae itu memang harus diperlakukan demikian, agar tak menebarkan pesona yang sama sekali tak mempan untuknya, apalagi dengan angkuhnya yakin jika dia bersedia untuk kembali lagi kepada namja itu.

 

Cish, dia berjanji sampai kapanpun hal itu tak akan pernah terjadi.

 

Donghae mengangkat tangannya, hendak mendaratkannya di pipi kemerahan gadis itu karena perkataan pedas yang keluar dari mulut Yoo Kyung. Dia mendengus kesal, ketika disadarinya jika dia tak mungkin melakukan hal itu jika tak ingin hidupnya hancur dalam sekejap.

 

“ Kau…”, desisnya tajam. Gadis itu tak memperdulikan ekspresi Donghae yang terlihat menyeramkan, menjauhi lelaki itu dengan salah satu sudut bibirnya yang dinaikkan, mengejek kelakuan kekanakan yang dialamatkan Donghae kepadanya.

 

Ketika dia melenggang pergi, matanya menelisik ke arah penjuru ruangan besar itu yang memandang kearahnya penuh rasa ingin tahu. Bahkan bisingnya musik yang menghentak itu tak membuat semua orang menari gila-gilaan kemudian mengalihkan perhatiannya dari lakon utama acara hari ini.

 

Apakah semua orang yang berada di kalangan atas memang selalu tertarik dalam kehidupan orang lain. Profesi sampingan mereka bukanlah menjadi seorang wartawan gosip yang menyebalkan itu, bukan?

 

Dia menghembuskan nafasnya lega, saat mata birunya merekam sosok lelaki rupawan yang sedang mencari mangsa barunya. Pria inilah yang menjadi alasannya untuk menghadiri party yang diadakan Donghae, yang pasti akan dihadiri oleh lelaki yang berpenampilan seperti namja itu.

 

****

 

“Oh, I see. Jadi, lelaki itu yang membuatmu berpaling dari seorang dancer hebat serta pemilik sebuah perusahaan label ternama seperti Lee Donghae? Tangkapan yang bagus, sweety. Menurutku, Cho Kyuhyun jauh lebih potensial daripada fishy untuk menjadi partner hidupmu”.

 

Mengesalkan. Kegiatannya yang tengah sibuk memperhatikan seorang lelaki yang mengenakan jas hitam pekat itu terganggu dengan ocehan seorang wanita yang mendekatinya tanpa diundang. Cho Kyuhyun? Nama yang bagus, kedengarannya seksi sekali. Bukan sebuah nama pasaran yang digunakan di Korea, sepertinya dia akan mengingatnya dengan baik.

 

He is just your another prey, Yoo Kyung. Don’t take it seriously.

 

Cho Kyuhyun yang mengenakan setelan formal berwarna hitam itu semakin mempesona dengan aura misteriusnya. Sikapnya yang congkak justru membuat lelaki yang baru ditemuinya dua kali itu beratus kali lipat lebih cool dari pria lain di matanya. Yoo Kyung mendesis geram saat beberapa wanita berpakaian minim –yang juga dikenakannya – mendekat ke samping pria incarannya itu.

 

Dia menghembuskan nafasnya kasar, tubuhnya siap bangkit untuk menerkam gadis-gadis genit yang tak bisa hanya duduk manis saja saat melihat seorang lelaki setampan Kyuhyun. Namun, sepertinya dia harus menunda dulu keinginannya itu, dan mengutamakan prioritasnya untuk mengorek informasi tentang pria sejak mereka bertemu bahkan tak melirik ke arahnya itu dari seorang wanita penggosip yang terkenal di kalangan atas, Kim Haneul, yang pantas dipercaya untuk memberikan informasi yang akurat untuknya.

 

“ Mengapa menurutmu aku pantas dengannya, Haneul~ssi?”, pancingnya. Dia tak suka jika Kim Haneul akan terkesan jika dia mengajukan pertanyaan tentang Kyuhyun secara langsung.

 

“ Kyuhyun dengan reputasinya yang baik dengan menjadi CEO dari S Company itu membawa perusahaannya ke puncak kejayaan. Dengan tangan dinginnya, dia berhasil mengubah perusahaan yang tadinya hanya peringkat bawah menjadi salah satu dari sepuluh perusahaan terbesar di Asia. Aku yakin, dia pasti memenuhi semua kriteria partner hidupmu, dibanding lelaki lainnya. Aku benar, kan? Hmm, aku menilai kalian akan menjadi pasangan yang cocok karena sepertinya tabiat kalian yang hampir sama. Oops. Aku tak bermaksud menyinggungmu. Keunde, aku tak bohong ketika kurasakan bahwa kalian memang sangat serasi menurutku”.

 

Yoo Kyung melayangkan death-glare andalannya untuk respon yang diberikannya terhadap komentar yang diberikan Haneul. Haneul bersikap tak peduli dengan meneguk kembali vodka yang tersaji di hadapannya walaupun aura Yoo Kyung yang memanas itu membuat dirinya sedikit berjengit takut.

 

“ Kau mengetahui segala hal yang berhubungan dengan Cho Kyuhyun? Atau….hanya sekedar mengetahui info dari resumenya saja? Sayang sekali, sepertinya predikat ratu gosip nomor satu di Negeri ini tak pantas disematkan padamu”, ucap Yoo Kyung dengan nada acuh kebanggaannya yang  terdengar seperti sebuah ejekan bagi lawan bicaranya itu.

 

Haneul bersikap tenang, meskipun darahnya berdesir cepat karena merasa diremehkan oleh yeoja yang selalu menjadi santapan empuknya sebagai bahan pembicaraan paling menarik dengan teman-teman segank-nya. Sepertinya tuan putri satu ini harus mengakui kehebatannya dalam mengumpulkan informasi yang berhubungan dengan orang-orang berada dalam level mereka.

 

“ Kalau begitu, aku akan menceritakan padamu tentang apa yang kuketahui tentang lelaki itu agar kau bisa membuktikan keahlianku dalam hal ini. Selanjutnya, kau tak boleh menganggapku rendah seperti itu lagi. Dan oh ya, kau juga tertarik dengan hal ini, bukan? Kau bisa mengganti profil lengkap Cho Kyuhyun yang kau dapat dengan mengosongkan resort milikmu di Jejudo untuk minggu ini. Deal?”

 

***

 

Hentakan irama musik yang menggema di ruangan yang cukup besar itu membuat Yoo Kyung tertarik untuk menjajal lantai dansa. Sebenarnya ada faktor lain yang membuatnya melakukan hal itu. Mengenai tujuannya datang ke tempat ini, tentu saja.

 

Apa lagi kalau bukan rencananya untuk  mendekati Cho Kyuhyun.

 

Kyuhyun terlihat agak risih dengan wanita-wanita yang mengerubungi namja itu dengan gaya menjijikan.  Sayang sekali, sepertinya mereka tak tahu jika tipe lelaki dingin seperti Cho Kyuhyun itu sangat tak suka dengan cara-cara standard seperti itu.

 

Dia tahu, karena dia telah membuktikannya beberapa waktu lalu.

 

Serangga-serangga centil itu mulai meninggalkan lelaki yang menggerakkan badannya asal itu dan memusatkan perhatiannya pada sang penyelenggara pesta. Oh, untunglah. Ternyata melepaskan seorang Lee Donghae memiliki banyak keuntungan juga.

 

Yoo Kyung, dengan berbekal kepercayaan diri yang tinggi mulai mendekati lelaki paling abnormal yang pernah ditemuinya. Bagaimana bisa dirinya menyebut Cho Kyuhyun begitu? Tentu saja karena selera lelaki itu yang sangat aneh. Yoo Kyung adalah seorang wanita terpandang yang memiliki segalanya,  bahkan fisiknya terlalu menawan untuk dianggurkan begitu saja.

 

Mungkin lelaki itu belum menyadari kemolekannya, pikirnya picik.

 

Dengan merobek bagian bawah gaun malam yang tak sampai menutupi seluruh bagian pahanya, dia melangkah dengan kecepatan yang disesuaikan dengan stiletto dengan ujung lancip yang dipakainya. Sepertinya lelaki yang sejak tadi meneguk wine-nya itu mulai kehilangan kesadarannya. Gerakannya mulai tak terkontrol, sehingga dengan mudah Yoo Kyung mendaratkan tangan lentiknya di bahu namja itu. Mereka saling berhadapan, dengan jarak yang cukup dekat untuk Yoo Kyung mencium aroma khas Kyuhyun yang menyegarkan indera penciumannya.

 

“ Kau mengingatku?”, ucapnya dengan suara serak yang menggoda.

 

Lelaki di hadapannya menyeringai tajam, sepertinya mengerti dengan pertanyaannya, yang merujuk pada pertemuan mereka beberapa hari lalu. Bisa saja Kyuhyun mengingatnya dengan baik karena dua alasan. Yang pertama, karena Yoo Kyung terlalu cantik dan tubuhnya terlalu bagus untuk dilewatkan, ataukah lelaki itu merasa jijik karena kesan pertama yang disajikan Yoo Kyung begitu murahan.

 

“ Dadamu tak terlalu bagus untuk dipertontonkan secara gratis seperti itu”.

 

Yoo Kyung tersentak, lalu mundur teratur dari pegangan eratnya di tubuh Kyuhyun. Mulutnya menganga tak percaya, tidak pernah menyangka sama sekali itu tanggapan yang diterimanya mengenai kejadian yang dilakukannya tempo lalu.

 

Sabar Yoo Kyung, kau harus sabar agar bisa mendapatkan hatinya.

 

“ Sekarang aku sudah dengan sengaja merobek gaun mahalku untuk memikatmu. Apa kau sudah tertarik padaku sekarang? Namaku Yoo Kyung, by the way”.

 

Tawa mengejek yang dilancarkan Kyuhyun membuat Yoo Kyung sedikit gentar. Ternyata, walaupun sedang dalam kondisi setengah mabuk, lelaki itu sama saja. Dia mendekatkan dirinya kemudian dengan sengaja mengangkat tungkainya sedikit ketika Kyuhyun menunduk untuk mengamati bagian bawah tubuhnya.

 

“ Apakah kau tahu hotel terdekat di sekitar kawasan ini, Nona Yoo Kyung?”

 

***

 

“ Morning, Appa”, ucapnya singkat. Dia mendaratkan ciuman kecil di pipi Ayahnya yang mulai keriput itu seperti yang setiap pagi dilakukannya untuk mengawali harinya yang terasa lebih menyenangkan dari biasanya.

 

Setelah menempati tempatnya yang biasa, Yoo Kyung melahap sandwichnya dengan suapan besar. Dahinya mengernyit ketika ujung matanya menangkap Ayahnya tersenyum melihat tingkahnya, atau mungkin melihat raut wajahnya yang terlihat lebih cerah daripada biasanya?

 

“ Kau kelihatan sangat senang, sayang? Ada sesuatu yang baik terjadi padamu?”, tanya Appanya dengan penuh rasa penasaran. Yoo Kyung sama sekali tak mau Appanya mengurus pula kisah cintanya saat ini, seperti yang dilakukan pria itu ketika Yoo Kyung berhubungan dengan Lee Donghae dan yang lainnya. Untungnya, dia punya pengalih topik sehingga dia lebih mudah mengecoh Appanya.

 

“ Hmm. Aku sangat senang karena suruhanmu itu tak mengganggu pestaku tadi malam. Appa~ aku tolong pecat mereka. Aku juga ingin bebas. Kalau tidak, aku akan melaporkanmu ke Commision of Human Right dan membuatmu dicopot dari jabatanmu sekarang. Bagaimana?”. Yoo Kyung mengancam Ayahnya dengan raut wajah yang dibuat semarah mungkin, namun tetap saja dianggap lucu oleh lelaki yang bernama Park Tae Joon itu.

 

Tae Joon menganggukkan kepalanya singkat lalu tersenyum penuh pengertian. “ Baiklah, mulai hari ini kau bebas”.

 

Yoo Kyung menarik bibir penuhnya bersemangat penuh kemenangan mendengar jawaban yang ditunggunya itu. Akhirnya, hidupnya bisa normal kembali dengan tidak adanya orang-orang yang memiliki pekerjaan untuk mengikutinya kemanapun pergi.

 

Sayangnya, quality time antara ayah dan anak yang berlangsung singkat itu harus segera berakhir karena tugas negara yang harus diemban oleh Tae Joon yang tak bisa dihindarinya. Walaupun jadwalnya sangat ketat, lelaki paruh baya ini selalu bisa untuk menyempatkan diri untuk membagi waktu dengan keluarganya. Pribadi Tae Joon yang hangat menjadikan hubungan keduanya yang dekat. Akan tetapi, kadangkala Yoo Kyung juga sering kesal karena sikap lelaki yang adalah salah satu orang penting di Korea itu terlalu protective padanya.

 

Beberapa menit kemudian, Appanya berangkat dengan beberapa pegawai yang mengawalnya. Yoo Kyung pun memilih untuk menghabiskan waktu luangnya di sofa. Dia akan beristirahat sebentar sampai tiba waktunya nanti menjalankan rencana selanjutnya.

 

The next plan to taming a man named Cho Kyuhyun

 

***

 

Setelah mengecek kembali riasannya di cermin yang berada di atas kepalanya itu, Yoo Kyung keluar dari mobil dengan langkah anggunnya. Petugas vallet parking yang berjaga di depan pintu masuk pun menyambutnya dengan senyuman hangat. Gadis itu memasang wajah datarnya, melempar kunci mobilnya asal yang dengan sigap ditangkap oleh lelaki berseragam itu.

 

Oh dear, dia tak memikirkan aspek lain yang akan membuatnya tak nyaman ketika dia memutuskan untuk mengunjungi tempat ini. Disini banyak sekali orang yang menatapnya penuh rasa ingin tahu, seakan bertanya-tanya mengapa si ratu pesta dapat datang ke sebuah kantor yang sama sekali bukan miliknya, dalam waktu yang masih termasuk pagi baginya.

 

Dengan menebar senyum palsu ke setiap penjuru, dia yang tanpa menyambangi resepsionis untuk mengetahui tempat dimana orang yang ditujunya berada, segera menaiki lift untuk memudahkan perjalanannya.

 

Setelah sampai di lantai paling atas, dalam sekali lihat dia menemukan ruangan seseorang yang dicarinya. Dia semakin yakin, ketika melihat nama yang tertera di palang pintu ruangan yang nampak terlihat besar itu.

 

Untunglah, tak ada siapapun di meja sekretaris, sehingga tenaganya dapat tersimpan lebih banyak untuk menghadapi main course-nya. Dia memasuki ruangan yang tak terkunci itu dengan gerakan mengendap, meredam suara high heels-nya yang menghentak ketika menyadari bahwa lelaki itu sedang dalam keadaan tak waspada.

 

Setelah berhasil menyelesaikan misinya untuk mendekati tempat dimana Kyuhyun berada tanpa lelaki itu sadari, dengan gerakan cepat Yoo Kyung menaikkan tangannya ke arah leher Kyuhyun yang tak tertutup apapun selain kerah kemeja putihnya, lalu mengikis jarak yang tersisa diantara wajah keduanya. Meskipun sempat melihat wajah Yoo Kyung, Kyuhyun tak menolak ketika bibir mereka bertemu.

 

Tangan Yoo Kyung beralih ke permukaan dada Kyuhyun yang tertutup kain, namun gadis itu dapat merasakan tonjolan-tonjolan keras di baliknya. Mungkin, orang mengira jika tubuh Kyuhyun tak bagus jika menilai dari luarnya saja. Karena dia pernah melihatnya tanpa penghalang apapun, tentunya dia dapat berpikiran lain.

 

Dia malah mulai kewalahan dengan permainan bibir Kyuhyun yang lebih mendominasi dibandingkan kecupan-kecupan yang diberikannya. Bahkan, lelaki itu menguasai rongga mulutnya dengan mengeksplorasi bagian tersebut dengan lidahnya disana. Yoo Kyung yang mulai lemas mencari penopangnya dengan melingkarkan betisnya di pinggang namja yang menurutnya sangat tak bisa ditebak itu.

 

Tindakan salah. Karena selanjutnya dia merasa libido-nya meningkat karena pusat tubuhnya tak sengaja menyenggol sesuatu yang menggembung dibalik celana Kyuhyun.

 

Prang….

 

Suara pecahan kaca itu tak otomatis membuat posisi keduanya berubah. Kyuhyun malah semakin rakus melahap bibirnya, yang tentunya meningkatkan intensitas remasan tangan Yoo Kyung di rambut coklat milik lelaki itu.

 

Awalnya, dia tak ingin tahu dengan siapapun yang memergoki mereka berdua. Toh, dia sama sekali tak perduli. Namun, suara isakan yang cukup jelas di telinganya menaikkan rasa ingin tahunya. Akhirnya, dia menyerah untuk melepaskan Kyuhyun untuk sementara, lalu menolehkan kepalanya untuk mengetahui siapa orang yang mengganggu kegiatannya.

 

Matanya berkilat ketika melihat seorang gadis yang sepertinya memiliki umur yang tak jauh beda dengannya, melihat ke arah Kyuhyun dengan pandangan nanar dengan air mata yang melingkupi wajahnya.

 

Gadis berpakaian sebuah seragam berwarna biru itu terlihat sangat biasa dengan rambut lurus yang diikatnya di belakang. Wajahnya yang putih pucat itu terlihat kotor karena debu yang mungkin menjadi teman sehari-harinya. Yoo Kyung melirik name tag yang tertera di balik kemeja lusuh yang dikenakan gadis itu sekilas. Sepertinya dia mengetahui identitas gadis yang sedang larut dalam tangisannya itu sekarang.

 

Choi Hye Hoon, petugas kebersihan S Company, sekaligus kekasih Cho Kyuhyun.

 

-TBC-

 

Ada yang kangen sama tulisan aku?

Pendek, karena kangen banget ngepost fanfic. Ini red lips udah dianggurin lama banget, pas dibikinnya ngebut juga, tanpa editing juga. Kalo ada typo kasih tau aja ya, kalo gak ada syukur deh.

Tadinya mau ngeposting Losing You, tapi kayaknya belum siap publish(?) jadi ditunda dulu. Tapi kayaknya itu akan diposting dalam waktu dekat, maksimal ultahnya Donghae mungkin (?)

Untuk next part, sepertinya jauh lebih panjang daripada ini, karena emang twoshoot. Ini cuma semacam pengantar tidur(?) aja hehe

Need penyemangat banget nih buat nulis hehe rasanya mood aku jelek bgt tuh karena kebanyakan siders atau comment yang masuk pasti aja pada pendek-pendek, cuma minta password lagi -__- kecewa sih tapi ya gimana juga yaa haha

191 thoughts on “Red Lips (I)

  1. Ya ampun T.T ini yoo kyung pacarnya kyuhyun??? Lah hye hoon juga???
    ㅠㅠㅠㅠㅠㅠ ya ampun… Pasti part selanjutnya bikin nangis nihh 😢😢😢

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s