Our Love Is A Sin


Marga Hye Hoon beda ya disini, bukan Choi. Ini ff yang sedikit terbengkalai karena aku males sekali buat nulis akhir-akhir ini. Mood-ku bener-bener jelek banget buat nulis. Ini sedikit sogokan karena aku belum nyelesain red lips._. Hope you like it, sorry for the typos, aku males re-read-_- biasa sih istrinya donge pasti kerjaannya typo /plak

 

Happy reading…..

 

“ Saranghae. I know this love is an offence. But, I never regret choice you as the person I love”.

 

Kata-kata itu tak pernah sekejap pun hilang dari benakku. Ya, aku yakin cinta tak pernah salah. Walaupun nyatanya, kami menutupi semua kesalahan yang kami lakukan atas nama cinta. Hatiku mengerang, merasakan sakit akibat dari dosa yang kulakukan bersamanya. Aku memang egois. Harusnya, aku tahu jika sebesar apapun cinta yang kami miliki, hubungan kami tak akan berhasil. Dia akan menemukan seseorang yang menjadi pendamping hidupnya, begitupun diriku.

Yang kutahu kini, tak ada batasan bagi wanita mencintai laki-laki yang bahkan terlahir dari rahim yang sama. Aku ingat, betapa semua orang mengejekku karena disaat umurku masih sembilan tahun dengan bangganya aku memperkenalkannya sebagai kekasihku. Tapi aku tak pernah memperdulikan apa yang mereka katakan, karena dia selalu menanggapinya dengan senyuman manis dan sebuah sentuhan lembut di kepalaku, yang menyebabkan warna kulit pipiku berubah merona.

I do have a crush for my brother. Mungkin itu sudah biasa. Mengingat banyak sekali adik perempuan yang mengaku bahwa dirinya menyukai kakak laki-lakinya. Terang saja itu banyak terjadi. Sosok lelaki yang selalu melindungi adiknya bak seorang pahlawan, memanjakannya layaknya tuan putri, serta menjadikannya sebuah prioritas utama di hidupnya.

Itulah yang terjadi padaku.

Kukira, perasaan itu akan tumbuh hanya dalam waktu sesaat. Toh, setelah dewasa aku pasti akan menemukan seorang pangeran yang bersedia untuk menggantikan sosoknya. Namun dugaanku salah. Rasa cintaku untuknya bahkan terlalu besar untuk ukuran seorang saudara, dia pun begitu. Awalnya, dirinya memang tak mengakui perasaan cintanya itu. Tapi, lambat laun lelaki yang bermarga sama denganku itu tak dapat lagi memungkirinya.

Kami terjebak dalam pusaran hitam itu, hingga akhirnya sudah terlambat untuk menarik diri.

Lamunanku terjaga ketika seorang yang selalu muncul di pikiranku itu pun mendekati tempatku ragu. Aku tahu kebiasaannya. Dia selalu terbangun setiap malam untuk meminum segelas air mineral untuk membasahi kerongkongannya. Bermaksud menghindari matanya, aku pun melirik tangannya yang membawa sebuah gelas kosong. Sepertinya segelas air putih tak cukup untuknya, sehingga dia harus keluar dari kamarnya untuk mengisi kembali cairan di tubuhnya.

Tentu saja, dia kelelahan. Acara yang dilaluinya hari ini sangat melelahkan. Atau mungkin, dia kehabisan tenaga karena menjajahi tubuh istrinya?

Detak jantungku bergerak liar, menyebabkan saluran nafasku terganggu hingga membuat dadaku sesak. Aku tak tahu sejak kapan, namun sekarang dia sudah menempati kursi di meja makan tepat di hadapanku, menatapku dengan mata hitamnya yang sendu. Rambut coklatnya terlihat tak beraturan, dengan dua kancing piyamanya yang terbuka menontonkan leher jenjangnya. Aku bukan anak kecil yang bodoh untuk mengartikan apa yang telah atau tengah dilakukannya.

Siapa aku? Apakah aku berhak cemburu jika kakakku meniduri istrinya sendiri?

Tanpa berucap, dia menjulurkan tangannya yang lembut menyentuh pipiku yang entah sejak kapan menjadi basah. Bukan cairan pekat yang berasal dari kopi hitamku yang mengotori wajahku, tapi sebuah tetesan yang merupakan bukti dari perasaanku yang tak bisa terbunuh meskipun menyadari sampai kapanpun aku tak akan bisa menggapai dirinya.

Aku memejamkan mata, merasakan betapa sentuhan dari lelaki itu bisa membuat hatiku tentram. Dia tentu saja mengetahui, jika aku tak membutuhkan kalimat-kalimat penenang yang malah berpotensi membuat tangisanku semakin keras. Dan aku benci. Aku benci fakta bahwa dia memahamiku lebih dari aku memahami diriku sendiri.

“ Bangunlah, mimpi kita telah usai”.

***

Suara nyaring yang berasal dari alarm di atas laci sebelah ranjangku membangunkanku dari tidur lelapku. Baiklah, mungkin tidak terlalu lelap karena aku seringkali memerintahkan otakku untuk membubuhkan beberapa kilasan memori manis tentangnya di dalam bunga tidurku. Seulas senyum kutorehkan untuk membuka pagi ini.

Lembaran baru, dengan semangat dan jiwa yang baru.

Setelah bersiap dengan pakaian formal yang tak berlebihan, aku segera menuruni tangga dengan langkah cepat. Eomma berseru heboh, menyuruhku untuk berhati-hati dengan high heels lima belas centi-ku, namun aku malah menanggapinya dengan kekehan ringan.

Morning all”, sapaku riang. Tak lupa, aku mendaratkan seulas kecupan singkat di pipi ayah lalu ibuku, kemudian menghampiri bangku yang biasa kutempati. Namun, aku hanya bisa tersenyum tipis ketika menyadari ada orang lain yang menggantikan posisiku. Dengan begitu, aku memilih untuk duduk di sebelah Eomma-ku saja. Setelah itu, dengan gontai aku mengambil sepotong roti dan menyendok selai cokelat kesukaanku dan meratakannya di permukaan roti tersebut.

“ Jadi, bagaimana? Apakah kalian bekerja keras untuk menghadirkan seorang cucu pertamaku tadi malam?”, ucap ayahku yang melirik ke arah seberang mejaku sambil memamerkan tawa bahagianya. Aku ikut memusatkan pandanganku ke arah yang ditujunya, melihat seorang yang baru saja menjadi kakak iparku itu menundukkan wajahnya yang merah padam.

Untuk sejenak, aku kehilangan fokusku. Aku tak menginginkan rongga dadaku menyusut seperti yang terjadi semalam. Tapi, seorang yang selalu menghujaniku dengan kasih sayangnya itu justru membuka luka yang sempat ingin kusembuhkan.

“ Bagaimana kau bisa sebodoh ini, hah? Apa selamanya kau akan terus bergantung kepadaku?”, omelnya. Suara maskulin yang familiar itu yang terdengar sangat jelas di telingaku, menyebabkan perasaan tak menentu kembali menghantui diriku.

Kepalaku sontak menoleh ke arahnya, yang tanpa kusadari telah bersimpuh di samping kursiku, menarik tangan kananku yang berlumur cairan pekat berwarna merah itu kemudian mengemutnya tanpa jijik. Aku menahan cairan yang menggunung di pelupuk mataku, yang akan dengan mudahnya terurai jika aku menggerakkan kelopak mataku pelan sekali saja.

Dengan keadaan hancur seperti ini, aku bahkan tak bisa merasakan sakitnya saat jariku teriris pisau yang menyentuh kulitku. Darahku kembali berdesir hebat merasakan kontak kulit kami yang bersentuhan. Apalagi dengan perkataan ketus namun penuh dengan perhatian itu yang sontak membuat tubuhku seakan melayang.

Dia segera melepaskan jemariku setelah yakin jika darah yang mengalir keluar dari tubuhku itu sudah berhenti. Lalu, dia mengecup ringan kulitku yang tergores seperti apa yang sering dilakukannya jika tubuhku terluka. Mempercayai teori konyol bahwa perlakuan yang membuat jantungku berdebar itu dapat menyembuhkan lukanya lebih cepat.

Eomma, tolong ambilkan plester”, perintahnya. Walaupun terlihat ragu, Eomma tetap menuruti keinginan satu-satunya anak lelakinya itu dengan melangkahkan kakinya menuju kotak yang berisi obat-obatan untuk melakukan pertolongan pertama.

Seorang wanita yang terduduk diam di tempatnya menatap kami kebingungan. Mungkin appa dan eomma sudah terbiasa dengan perhatian berlebih yang ditunjukkan Kyuhyun Oppa padaku. Tapi, wanita itu tidak. Bagaimanapun, seorang yeoja pasti akan cemburu melihat wanita lain, meskipun itu berstatus adiknya, diperlakukan sama seperti yang suaminya lakukan kepadaku.

Akan tetapi, Na Young Eonnie dapat dengan segera mengubah air mukanya. Dia menatapku dengan tulus, menampakkan kekhawatiran yang sama dengan yang dirasakan anggota keluargaku yang lain dikarenakan kecelakaan kecil yang menimpaku.

“ Kau baik-baik saja, Hoon-ie~a?”

***

Insiden yang terjadi tadi pagi dengan mudah menggoyahkan keyakinanku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tidak. Selama aku dan dia masih menyimpan perasaan yang sama, dengan status barunya sekarang, justru keadaan rumah akan lebih buruk dari biasanya.

Aku menghindarinya dengan mengambil pekerjaan lembur sehingga aku menghabiskan lebih dari setengah hariku di kantor. Menenggelamkan diri pada pekerjaan yang tak begitu menumpuk, adalah
salah satu dari sekian pelarianku. Sebisa mungkin aku tetap berkonsentrasi dengan kertas-kertas dan komputer yang menemani hari-hariku, walaupun seringkali itu terasa sulit.

Aku terbiasa menjadi gadis manja yang biasa mengayunkan kaki tanpa mengerjakan apapun, sehingga adaptasiku tidak baik. Dulu, aku tak bisa menjaga kesehatanku sendiri sehingga seringkali rekan kerjaku mendapatiku tak sadarkan diri di meja kerjaku. Untunglah, sekarang tubuhku lebih kuat dari sebelumnya.

Ketukan di pintu ruanganku cukup membuat tubuhku merinding. Berbagai scene yang memicu adrenalinku terus berputar cepat seperti roll film. Hembusan nafas lega meluncur begitu saja ketika ujung mataku melirik arah jarum jam. Masih jam sebelas malam, mungkin salah satu staff keamanan mengingatkanku mengenai jam tutupnya gedung.

“ Masuk”, ucapku sedikit keras.

Figur seorang lelaki berperawakan ideal yang berada di ambang pintu tertangkap oleh mataku. Dia menghampiri mejaku dengan gerakannya yang terkesan kikuk. Beberapa kali dia mengusap tengkuknya dengan tangannya sendiri, sambil tersenyum tipis.

“ K-Kau belum pulang?”. Kata-kata itu terdengar sulit diucapkan oleh mulutnya sehingga kalimat yang keluar menjadi sedikit tersendat.

Aku membalasnya dengan anggukan sopan disertai senyuman yang mengembang tipis. Karena tubuhku yang benar-benar lemas, aku bahkan tak punya tenaga untuk sekedar berdiri dan memberikan penghormatan kepadanya.

“ Masih ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan. Tapi, sepertinya sebentar lagi saya akan pulang. Maafkan saya jika kehadiran saya mengganggu, Sajangnim”.

“ Donghae. Panggil saja begitu. Aku tak begitu suka berbicara formal walaupun di kantor. Sepertinya perbedaan umur kita tidak begitu jauh. Kau bisa memanggilku Oppa, mungkin?”, kekehnya ringan.

Pribadinya yang hangat menularkan perasaan nyaman di benakku. Mungkin awalnya dia terkesan gugup karena kami baru beberapa kali bertemu. Sebelumnya, kami hanya bejumpa dalam acara resmi seperti meeting ataupun pertemuan-pertemuan lain yang menyangkut perusahaan. Baru kali ini dia menemuiku di luar jam kerja, dan aku merasa mulai menemukan kenyamanan yang berbeda dengannya.

“ Aku mendengar akhir-akhir ini kau sering sekali pulang larut malam. Apakah aku perlu mencari asisten baru untuk membantumu?”, tanyanya khawatir. Raut wajahnya yang serius mengingatkanku pada sosoknya yang sering sekali kujumpai. Aku menanggapinya dengan gelengan menjanjikan, tak ingin jika dia merealisasikan apa yang ada di list rencananya.

“ Tak perlu D-Donghae~ssi. Pekerjaanku tak begitu menumpuk. Aku hanya ingin semuanya selesai lebih awal, sehingga ke depannya aku bisa menggarap projek lain yang mungkin bisa menambah keuntungan perusahaan. Lagipula, tubuhku masih kuat. Kau lupa jika aku lebih muda darimu, Donghae~ssi”.

Dia mengangguk paham, namun mata teduhnya masih menatapku dengan pandangan berbeda. Kini, dia telah menempati kursi yang berada di hadapanku dengan gayanya yang santai. Beberapa saat kemudian dengan panik dia mengambil beberapa helai tissue yang berada di meja, lalu dengan refleks menekannya ke dalam hidungku.

“ Kau bilang tubuhmu kuat, hmm? Lalu kenapa kau bisa mimisan seperti ini? Jangan memforsir kerja tubuhmu sendiri, Hye Hoon~a. Kau bisa sakit. Kita ke rumah sakit sekarang”

“ Tidak perlu, Donghae~ssi. Aku hanya butuh istirahat. Mungkin sebentar lagi aku akan pulang”.

Dia tak sempat protes, namun tatapan cemasnya itu sungguh membuatku merasa bersalah. Karena rasa cintaku yang tak boleh kumiliki, aku seringkali merepotkan orang banyak. Kesalahan yang terasa manis itu justru memberikan dampak yang sangat besar bagi kehancuran hidupku sendiri, yang juga mungkin saja bakal dialami oleh orang-orang disekitarku.

Mata sendunya berubah tajam, berakibat pada rasa nyaman yang sejak tadi kurasakan dengannya berubah kelam. Aku bahkan tak menolak ketika dia memberikan kata-kata perintah yang biasa diucapkannya di dunia kerja.

“ Aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit, kemudian mengantarmu pulang. Kau tidak boleh membantah, atau aku akan memberikan surat peringatan di mejamu besok”.

***

Tak ada kata terucap setelahnya, bahkan ketika kami sampai di depan rumahku. Kami mengunjungi klinik dua puluh empat jam, dimana dokter yang bertugas meyakinkan Donghae jika keadaanku baik-baik saja. Hanya sedikit kelelahan dan mengalami stress ringan, itulah sebabnya mengapa darah di hidungku mengalir tanpa henti.

Dia bergerak canggung di balik gagang setirnya. Mungkin dia baru menyadari jika sikapnya padaku tadi berlebihan untuk keadaan kami yang baru saja mengenal. Aku mengerti, dia pasti merasa gelisah karena merasa ancamannya tadi terasa berlebihan.

“ Aku tahu kau hanya mengkhawatirkan kesehatanku, Donghae~ssi. Justru harusnya aku berterima kasih karena kau berhasil memaksaku untuk berobat. Jika bukan kau, tak ada lagi orang yang akan bisa membujukku untuk memeriksakan kondisiku. Kamsahaeyo, Donghae~ssi

Dia tersenyum lega mendengar penuturanku. Hanya sesaat, karena sepersekian detik kemudian dia kembali menatap wajahku dengan tatapan yang kurang lebih sama seperti di kantor tadi. Sudah menduga apa yang terjadi, aku pun segera mengangkat tangan untuk menghapus gumpalan merah yang mengalir dari hidungku itu. Tapi, pergerakan tangannya yang lebih lincah menahan tanganku bergerak, dengan cepat mengeluarkan sapu tangan di saku jas Armani-nya kemudian menyeka darah itu sekali lagi.

“ Tidak perlu berterima kasih. Sudah kewajibanku untuk membantumu. Teman?”, tanyanya singkat. Aku tertawa lepas untuk menjawabnya, menganggukkan kepala yang dibalas dengan tangannya yang mengacak rambutku pelan.

Aku tersenyum singkat, melihatnya keluar dari New Audy A5 Sportback-nya kemudian berjalan melingkar untuk membuka pintu penumpang. Dengan sigap tangannya melingkar di bahuku, menuntunku untuk melangkah menuju pintu depan rumah.

Donghae melakukannya karena ingin membantu keseimbangan tubuhku yang sempat ambruk tadi, akan tetapi sosok lelaki bertubuh tegap yang menatap kami tajam di ujung tangga menerjemahkannya dengan artian berbeda.

Tangannya mengepal kuat, sehingga aku bisa melihat buku-buku jarinya memutih. Aku menolak membangun kontak mata dengannya, memilih memalingkan wajahku ke arah lain. Genggaman tanganku di lengan Donghae semakin erat, seiring dengan perjalanan kami menaiki tangga telah menemui akhir.

Tubuhku ditarik paksa, menyebabkan pergelangan tanganku terasa nyeri. Donghae sempat tersentak dengan kelakuan kakakku yang sedikit keterlaluan, tapi dia berhasil menyembunyikannya dengan senyuman tipisnya.

Sandiwaranya sebagai seorang kakak laki-laki yang terlalu posesif terhadap adiknya terlihat sangat memukau. Namun, aku tahu bukan itu lakon itu yang diperankannya sekarang. Dia marah, cemburu karena melihatku berada di pelukan lelaki lain.

“ Sepertinya aku harus segera pulang, Hye Hoon~a. Jaga dirimu baik-baik”.

Donghae menyadari jika suasana di halaman rumah ini berubah tegang, setelah perlakuan Kyuhyun Oppa yang sangat kasar. Sangat tercetak jelas di wajah anak sulung keluarga Cho itu jikalau dirinya benar-benar tak suka dengan kehadiran Donghae.

Eung. Sekali lagi, terima kasih Donghae~ssi”.

Sebuah tarikan kuat di pergelangan tanganku sempat membuat tubuhku yang terasa lemas hampir saja terjatuh. Dia, yang tengah diselimuti dengan kabut amarahnya, tentu saja tak memperdulikannya. Aku yang sedang dalam keadaan sedikit tak sadar pun, berubah waspada ketika dia mendudukkanku di permukaan sofa. Disana, terlihat seluruh anggota keluarga kami menatapku penasaran.

Aku tak tahu apa yang mereka pikirkan. Namun, aku takut jika sikap berlebihan Kyuhyun Oppa kali ini akan membongkar semuanya.

“ Setiap hari kau pulang larut malam, lalu sekarang kau berani pulang dengan seorang lelaki yang bahkan tak kami kenal. Apa karena kau lama tinggal di negara yang bebas membuatmu terjerumus dalam pergaulan yang tidak baik, Hye Hoon~a? Kau harus menjaga harga dirimu sebagai seorang anak bungsu dari keluarga terpandang, bukannya menjadi gadis liar yang tak tahu aturan seperti ini!”.

Lengkingan kerasnya berhasil melumpuhkan seluruh sendiku. Aku tak menyangka, jika dia berani menganggapku serendah itu. Mendengar kalimat-kalimat itu terdengar dari bibirnya semakin membuat hatiku teriris. Bagaimana aku bisa hidup dengan baik dalam situasi seperti ini? Tak bisa memiliki orang yang sangat kucintai, serta harus menelan pahit karena dilecehkan oleh orang yang jelas-jelas memiliki peringkat teratas dalam prioritas hidupku?

“ Aku berhak melakukan apapun yang kumau. Berhenti mencampuri urusanku, Oppa. Aku sudah dewasa, aku tahu apa yang kulakukan untuk kebaikanku”.

Isakan tangis pun tak bisa kubendung. Dengan pandangan kabur, aku menegakkan tubuhku yang limbung, berusaha melangkah di tengah rasa sakit yang menyerang kepalaku. Tak sampai satu detik, pertahananku akhirnya runtuh juga. Yang kurasa selanjutnya adalah gelap yang menelan kesadaranku.

***

Mianhae…Mianhae….Mianhae….

Sebut aku gila, karena disaat keadaan tak sadarkan diripun hanya suaranya yang dapat memenuhi semua inderaku. Aku bukan sedang berada di dalam halusinasiku, karena anggota perasaku membuktikan kehadirannya. Tangannya yang besar menggenggam tangan mungilku dengan mudahnya. Cairan bening di ujung mataku bergulir begitu saja menikmati betapa indahnya efek dari keberadaannya.

Aku bahkan tak rela membuka mataku, ketika dia menyebut namaku lembut sembari mengecup keningku dengan hati-hati. Sebuah mimpi yang mungkin tak akan terjadi lagi dalam kehidupanku yang baru, maupun kehidupanku di alam selanjutnya.

Aku terlalu egois karena menginginkan selamanya berada di posisi ini agar aku bisa memilikinya dengan tenang, tanpa ada rasa takut yang membelenggu seperti yang terjadi di masa lalu.

Namun, semuanya telah berakhir.

Kelopak mataku kugerakkan sepelan mungkin, mengantisipasi pemandangan pertama yang akan kulihat setelah mataku terbuka. Teriakan-teriakan samar terdengar, mengekspresikan berbagai kebahagiaan yang sedang menyelimuti ruangan ini, karena kembalinya kesadaranku.

Wajah sempurnanya yang menyilaukan di bawah terik sinar matahari pagi memacu kecepatan debaran jantung serta denyut nadiku. Dia tersenyum kaku, dengan guratan-guratan kebahagiaan yang dapat kutangkap dari kedua mata indahnya. Diangkatnya tangan kami yang bertautan, kemudian dirinya mendaratkan sebuah kecupan manis di punggung tanganku.

Mianhae”, katanya lagi.

Gwenchana, Oppa. Aku tahu kau hanya mengkhawatirkanku, makanya kau berbuat begitu, keudachi ?”, jawabku diimbuhi dengan tarikan kedua ujung bibirku yang masih lemah. Dia mendesah lega, tapi tak beranjak sedikitpun dari sampingku, meskipun Appa dan Eomma beringsut mendekati satu-satunya ranjang di kamarku itu.

“ Lain kali, kau jangan bekerja terlalu keras, sayang. Oh ya, Donghae~ssi tadi menelepon, dia bilang kau tak usah bekerja jika kau belum sembuh. Aigoo, Eomma tak menyadari putri cantik ini sudah menjelma menjadi seorang gadis yang memikat banyak pria. Eomma tak akan keberatan jika kau berpacaran dengannya, Hoon-ie~ya”, ujar wanita yang terpenting di hidupku itu lengkap dengan kedipannya yang menggoda.

Aku mengalihkan arah pandangku ke arah kakak lelakiku yang menanggapi perbincangan Eomma dengan ekspresi tak suka. Dengan posisinya yang terduduk di samping ranjang, membuat aksiku menarik pipinya yang sedikit tembam  untuk menjahilinya itu dapat kulakukan dengan mudah.

“ Kau dengar, Oppa? Aku sudah besar. Eomma bahkan mengizinkanku untuk segera menyusulmu untuk menikah”.

Pipinya yang berkulit putih pucat itu menggembung kesal, menyebabkan tawa geli yang meledak dari bibir kami menghiasi ruangan. Tanpa sengaja, mataku menangkap sosok yang tak beranjak dari tempatnya. Wanita itu menggigit bibir bawahnya, menahan cairan tak berwarna yang siap kapan saja menganak sungai di pipinya.

Setelah itu aku sadar, bahwa kecemburuan yang dimiliki kakak iparku itu benar adanya. Dia bahkan bisa merasakan perbedaan kasih sayang yang ditunjukkan Kyuhyun Oppa padaku, sehingga membuat hatinya tersakiti karena perlakuan kami.

Bukankah korban dari cinta yang merupakan sebuah dosa ini terlalu banyak?

***

Na Young memusatkan seluruh perhatiannya mengupas kulit dari buah apel merah yang sejak sekitar satu menit lalu ditekuninya. Semenjak dia masuk ke dalam kamar pribadiku, dia tak mencoba menyapaku terlebih dahulu, jika aku tak mengalah dan membuka mulutku.

Bukan, kami bukan saudara ipar yang tidak akur karena adik atau kakak terdekatnya – dalam hal ini aku  – cemburu karena perhatiannya terbagi dengan seorang anggota keluarga baru. Meskipun ya, ada rasa sejenis itu yang menggerogoti hatiku. Dan yang jelas, alasannya bukan karena itu.

Dia tak akan pernah mengerti dengan garis hubunganku dengan Kyuhyun Oppa, sedalam apapun dia mencoba mencari tahu. Mungkin dia memiliki rasa curiga yang sangat tinggi tentang kedekatan kami yang jauh diluar batas kewajaran. Tapi, nuraninya sendiri akan menolak itu semua, dengan alasan yang sangat logis, yakni statusku yang merupakan adik kandungnya.

Dadaku kembali berulah, merasakan tusukan-tusukan kecil yang menyerang tatkala kebenaran itu terungkap.

“ Hye Hoon~a, apa kau pikir aku keterlaluan jika aku cemburu padamu?”.

Topik ini sangat mudah kuhindari ketika aku menyibukkan diriku di kantor. Semenjak Na Young Eonnie dengan kakakku menjalin hubungan enam bulan lalu, aku memang seringkali menghindari Kyuhyun Oppa saat mereka bersama. Jika aku tak melakukannya, kuyakin hubungan mereka tak akan bertahan lama. Apalagi penyebabnya kalau bukan karena aku. Tapi sekarang, berada seatap dengan mereka tentunya lebih sulit, karena setiap saat Na Young Eonni dapat mengawasi pergerakan kami.

Dan kami banyak kecolongan akhir-akhir ini.

“ Aku tahu perasaanmu, Eonnie. Hajiman, kami saudara kandung, bukan? Dia hanya menganggapku adik kecil yang harus selalu dilindunginya. Sejak kecil, aku memang sering jatuh sakit. Jadi, maklum saja jika dia terlalu perhatian padaku. Ah, kalau begitu aku akan bicara dengannya, Eonnie”.

“ Jangan—maksudku tak usah Hye Hoon~a. Aku hanya merasa insecure, mungkin? Sepertinya ini karena perasaanku terlalu sensitif karena aku mengira bahwa kalian bukan mencintai sebagai sepasang kakak-beradik—ah lupakan. Maafkan aku Hye Hoon~a. Aku tak seharusnya berpikir begitu”.

Senyuman masam yang tersungging di bibirku berbanding terbalik dengan perih yang menjalar di bagian dadaku. Kami dengan teganya menjerumuskan wanita baik itu ke dalam pusaran cinta terlarang kami. Meskipun raga Kyuhyun Oppa tak pernah berkhianat, tapi hatinya mungkin tak pernah tertuju pada istrinya sendiri.

“ Tak apa, Eonnie. Aku mengerti, jika aku berada di posisimu, pasti aku juga akan berprasangka seperti itu. Tapi percayalah, aku menyayanginya layaknya aku menyayangimu, Eonnie. Selamanya akan tetap begitu”.

***

Sebulan berlalu setelah aku sembuh, perlahan semuanya berubah. Aku tak lagi menghabiskan waktuku di kantor untuk mengisi jam lemburku, juga tak banyak berdiam diri di rumah. Sebisa mungkin aku menghindari pulang cepat dengan pergi ke tempat-tempat baru bersama Donghae setiap waktu kerja kami habis.

Ini kulakukan untuk menghilangkan perasaan gelisah yang membayangi kakak iparku, yang bisa membuat kecurigaannya bertambah berkali-kali lipat jika aku tak melakukan hal-hal itu.

Malam ini terasa sangat berbeda. Aku tak bisa berjalan-jalan dengan CEO tampan itu seperti yang jarang kami lewatkan malam-malam sebelumnya karena pekerjaanku yang hampir mendekati deadline. Dan karena Tuan Muda itu melarangku untuk mengerjakannya di kantor, dengan berat hati aku membawa sisa-sisa pekerjaanku yang tak tuntas itu ke rumah.

Keningku berkerut berulang kali, merasa pening karena aku tak bisa menyelesaikan salah satu laporanku yang cukup rumit. Tarikan nafas yang terdengar melelahkan itu keluar begitu saja dari saluran oksidasi-ku. Ah, jika saja ada Donghae disini, pasti aku bisa meminta bantuannya.

“ Bawa pekerjaanmu ke ruang kerjaku. Kupikir laporan itu bisa kuselesaikan”.

Aku mendongakkan leherku ragu, berada diambang antara percaya atau tidak bahwa dirinyalah yang berada dalam jarak dekat denganku. Aromanya yang khas menyeruak ke hidungku, menaikkan aktivitas jantungku yang seakan lemah tanpanya akhir-akhir ini.

Aku terlalu merindukannya.

Dia melenggang pergi ke ruangan yang kuketahui adalah ruang kerjanya, tanpa memperdulikan jawabanku. Aku bisa saja menolak, sesuai dengan apa yang diperintahkan pikiranku untuk segera menjauhinya bagaikan seorang pecundang. Akan tetapi, ajakan untuk berada dalam ruangan yang sama dengannya, yang berarti aku bisa sepuas mungkin memandanginya terasa sangat menggiurkan.

Terjadi pergolakan hebat antara otak dan hatiku, meyakini apa yang harus kulakukan untuk langkah selanjutnya. Hatiku menang. Aku bukan ingin berdua dengannya untuk bercumbu atau istilah apapun yang mengarah kepada perbuatan mengundang nafsu, aku hanya ingin memuaskan mataku untuk merekam wajah dan gerak-geriknya dalam otak kecilku.

Langkahku yang mengendap memasuki ruangan penuh buku itu ternyata tak membuat telinganya luput untuk menangkap radar keberadaanku. Gerakan matanya yang menelisik kertas-kertas putih di mejanya itu beralih memandangiku. Dia mengulurkan lengannya, membuka telapak tangannya seperti anak kecil yang sedang meminta jatah permennya. Mengerti isyaratnya, aku pun meletakkan macbook putih milikku di mejanya. Namja itu malah tertawa ringan, menyadari bahwa aku berniat untuk menggodanya.

“ Tunggu saja di sofa itu. Jika ada sesuatu yang kutanyakan, aku akan memanggilmu”, ujarnya—ani perintahnya lugas. Aku hanya bisa mengangguk pasrah, mendaratkan tubuhku di atas sofa yang berada di sebelah kiri belakang meja kerjanya.

Beberapa menit berlalu, dia tetap mengabaikanku dan berkonsentrasi terhadap laporanku yang belum selesai. Aku tenggelam dalam kegiatan yang membuatku tersenyum bagaikan orang tak waras—memandanginya. Tak ada banyak perubahan yang terjadi pada kondisi fisiknya. Dia tetap kakak lelakiku yang tampan dengan pesona yang memabukkan.

Rasa kantuk yang menyerangku sungguh tak bisa kutahan lagi. Beberapa kali aku melebarkan jangkauan kulit sensitif sekitar mataku, namun tetap saja tak bisa hilang. Akhirnya, aku menyerah dan membiarkan tubuhku meringkuk di sofa besarnya.

Aku yakin, dia pasti akan membangunkanku jika sudah selesai dengan pekerjaanku nanti.

***

Sentuhan lembut di bibirku membangunkanku dari tidur pendek yang kualami. Aku menerka siapa pemilik material lembut itu tak asing lagi bagi indera perasaku. Sontak mataku terbuka lebar, mengingat kembali tak ada siapapun yang pernah menciumku selain dirinya.

Hatiku terasa dipukul ratusan martil melihatnya terpejam sambil mendaratkan kecupan-kecupan lembut di bibirku. Tetesan cairan tak berwarna mengalir di ujung matanya. Seakan tertular dengan rasa perih yang dirasakannya, cairan yang sama pun menetes di pipiku. Aku tak berani membalas perlakuan bibirnya yang bergerak melingkupi bibirku dengan  gerakan putus asanya. Anggap aku seorang tak bermoral, karena aku menginginkan menikmati waktu ini, bersamanya dalam diam.

Ciuman yang didominasinya itu semakin basah, detik demi detik. Posisinya yang merangkak di atas tubuhku memudahkannya untuk merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Aku menangis dalam diam, merasakan betapa tulus rasa cinta yang dimiliki lelaki ini untukku.

Dengan perlahan, seakan tak rela tautan bibir kami terlepas, dia mengangkat bibir penuhnya dari bibirku yang mungkin telah berubah warna. Jarak kami terlampau masih dekat, sehingga aku masih bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat menyapa wajahku.

Dia memberikan sebuah kecupan singkat di dahiku, turun menuju kedua kelopak mataku bergantian, kemudian mengecupi pipiku hingga berlabuh kembali di bibir mungilku. Dia melakukannya dengan penuh kelembutan, namun wajah kami yang basah membuat moment intim itu hanya berhak disimpan di dalam hati kami masing-masing.

“ Aku tak pernah menyesal menjadikanmu sebagai satu-satunya wanita yang kucintai di dunia ini. Meskipun aku tahu, cinta ini bukan adalah sesuatu yang benar. Sejak awal, aku mengetahui bahwa kita tak akan bisa bersama selamanya. Mianhae. Maafkan aku karena pernah memaksakan diri untuk memilikimu. Sekarang….mungkin aku lebih banyak menyakitimu. Tapi percayalah, aku melakukan semua ini demi kebaikan kita, Hoon~a”.

Sebisa mungkin kutahan air mata yang menggenang di balik kelopak mataku. Kututup mataku rapat, menghindari keinginanku untuk melihat mata indahnya lagi. Cukup sudah. Aku telah memutuskan untuk mengakhirinya, dengan begitu aku tak punya hak untuk menunjukkan kembali padanya, betapa aku mencintainya.

“ Kau harus bahagia. Kau harus bahagia tanpaku”.

Aku berharap aku bisa melarangnya pergi. Ingin menariknya kembali kesisiku ketika kurasakan kehadirannya berlalu. Langkah kakinya seakan membawa helaan-helaan nafasku yang semakin memburu. Sesak. Rongga dadaku menyempit hingga ke titik minimal sehingga aku perlu menaik turunkan dadaku lebih cepat sehingga persediaan oksigenku dapat berubah stabil.

Dia kembali meninggalkanku, demi menemui seseorang yang memiliki masa kini dan masa depannya.

***

Langit senja yang indah membuatku tak bisa berkedip untuk melewatkan sedetikpun keindahannya. Mungkin ini terdengar klise, tapi aku sangat suka sekali dengan langit yang dihiasi warna orange khas ketika matahari mulai kembali ke peraduannya.

Apalagi ditambah dengan deburan ombak dan desiran angin pantai yang kencang, membantuku lebih menikmati suasananya. Pantai adalah satu-satunya tempat yang kusukai. Tempat yang sering dijadikan alasan bagiku untuk memilikinya, yang memberi berbagai kenangan ketika kami lari dari kenyataan. Banyak memberikan gelak tawa, yang menyebabkan aku harus menyimpan air mata yang kerap kali dapat dengan mudah kusembunyikan.

Phucket, Hawaii, Maldives, dan lainnya adalah lokasi-lokasi yang menjadi saksi atas pengkhianatan yang kami lakukan terhadap dua orang yang telah membesarkan kami. Tempat-tempat itu adalah alasan kami agar bisa bersama tanpa halangan, berbuat layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.

“ Kupikir kau berbeda. Tapi ternyata, semua perempuan sama. Hanya dengan pantai dan pemandangan matahari tenggelam yang tak ada bagus-bagusnya bisa meluluhkan hatinya. Kau bahkan lebih parah, tak mengatakan apapun sejak lima belas menit lalu, hanya menatap lurus ke arah itu. Terlalu terpesona, hmm?”

Aku membenarkan perkataan lelaki yang duduk di kap mobil denganku itu dalam hati. Ya, semua wanita sama. Bisa tenggelam dengan ke dalam pusaran cinta yang dalam, namun susah sekali untuk melupakannya.

Dari bayangannya, kulihat dia menatap heran tepat ke wajahku yang mungkin sedikit aneh karena dikotori oleh pasir pantai. Namun aku salah, dia mengetahui apa yang terjadi padaku. Perlahan, dia menggerakkan ibu jarinya di permukaan wajahku, bermaksud menyeka air mata yang menyebabkan wajahku basah.

“ Kau menangis”, lirihnya.

Aku merasa tak berguna. Dengan mudahnya aku mengumbar kelemahanku di hadapan orang asing yang baru beberapa bulan kukenal hanya karena kenanganku dengan lelaki itu semakin nyata.  Dia pasti mengasihaniku sekarang. Buktinya, dia menarikku ke dalam pelukannya, sehingga aku bisa merasakan jantungnya yang berdegup kencang di balik kemeja putih yang dikenakannya.

“ Aku tak akan menanyakan mengapa kau menangis. Aku hanya ingin kau mengetahui, bahwa aku akan selalu ada di sampingmu untuk menjadi tumpuanmu. Meskipun ini terlalu cepat, tapi yang kurasakan ini adalah sebuah ketulusan. Aku…”

Donghae mendorong pelan bahuku, menjauhkan wajahku dari dada bidangnya dengan tangannya yang masih memeganginya agar aku tidak terjatuh. Jarak wajah kami yang terlampau dekat membuatku bisa dengan jelas menatap setiap lekuk wajahnya yang kuakui sangat tampan. Mata kami beradu, dan dari aku bisa menangkap pantulan dari setengah lingkaran matahari yang menyinari air laut yang bergelombang.

“ Aku menyukaimu. Maukah kau menjadi kekasihku, Hye Hoon~a?”

***

Pemandangan di luar jendela kaca mobil terasa lebih menyenangkan untukku. Mungkin sebagian tidak benar, karena nyatanya aku hanya ingin membuang kecanggungan yang terjadi antara kami berdua. Nyatanya sangat sulit untuk menghilangkannya, karena kami harus berada di dalam mobil berdua dalam waktu yang cukup lama.

“ Aku—”, ujar kami bersamaan.

Kami tertawa setelahnya. Tak pernah kubayangkan, ternyata kami dapat mengatasinya dengan semudah ini. Jika memutar kembali ingatanku ke belakang, kami bahkan tidak mengatakan apapun setelah kejadian tadi. Aku tak menyangka jika efek dari jawabanku yang kuungkapkan padanya akan menyebabkan kegugupan tak beralasan diantara kami.

“ Aku hanya takut kakakmu marah jika kau pulang ke rumah selarut ini. Kau tak keberatan jika bermalam di apartemenku?”, ujarnya menggoda.

Dia menaik-naikkan alisnya, mencoba mempermainkanku dengan kata-kata yang mengandung ajakan terselubungnya. Aku tahu dia tak serius, dengan begitu aku juga menanggapinya dengan melayangkan beberapa pukulan pelan di dadanya, yang ditahan oleh tangan kirinya yang menggenggam tanganku erat.

“ Kyuhyun Oppa sedang berada di Jeju untuk menyelesaikan pekerjaannya, jadi kuyakin tawaranmu itu tak akan ada gunanya, Donghae~ssi”, ucapku sambil tersenyum manis memandangi wajahnya. Dia mengecup punggung tanganku yang berada di genggamannya sekilas, sedikit kerepotan karena dia mencengkeram setirnya dengan satu tangan.

“ Donghae~ssi? Apakah begitu caramu memanggil namjachingu-mu, Hye Hoon~ssi? ”, katanya penuh penekanan. Aku hanya terkekeh pelan mendengar ocehannya. Meskipun bibirnya mengerucut, aku yakin dia tak akan betah berlama-lama marah kepadaku. Dia hanya sedikit manja, itu saja.

Drrrtt Drrttt Drrttt

Aku mencoba melonggarkan pegangannya yang disambut delikan mata tanda tak setuju dari lelaki dewasa yang memiliki wajah baby face itu. Kuisyaratkan mataku untuk menyuruhnya berkonsentrasi mengemudi, dan dengan berat hati dia pun menyetujui keinginanku. Akhirnya, aku dapat mengambil telepon genggamku yang berada di dalam tas, menemukan nama seseorang yang sangat tidak asing bagiku. Eomma.

“ Hye Hoon~a, cepat ke Seoul Medical Centre. Kakak iparmu masuk rumah sakit”.

***

Dengan paniknya, aku berlari menuju ruangan yang ditunjukkan para perawat yang berada di lantai dasar tadi. Aku benar-benar takut ada sesuatu yang terjadi padanya. Walaupun hubungan kami tak begitu dekat, namun dirinya tetap saja adalah kakak iparku. Dan aku berharap aku bisa memperlakukannya seperti kakak kandungku sendiri.

Aku mencocokkan nomor ruangan yang kuhapal tadi, kemudian dengan cekatan membuka pintu yang menjadi penghalang antara tempat tersebut dengan lorong rumah sakit. Dadaku bergerak kembang-kempis dengan cepat, mengisi kembali udara akibat olahraga dadakan yang kulakukan.

Kedua orangtuaku sedang tersenyum penuh haru di samping menantunya yang terbaring di ranjang serba putih itu. Kyuhyun Oppa, dengan wajah kusutnya yang kelelahan, berdiri bersebrangan dengan Appa dan Eomma. Seulas senyum tipis yang ditunjukkannya kepada Na Young Eonnie dibalas kakak iparku dengan senyuman bahagianya.

Aku tak perlu melihat hasil laboratorium untuk mengetahui apa yang terjadi.

Sejenak aku tetap terdiam di tempatku, mengulas kembali apa yang pernah terjadi padaku sekitar setahun lalu. Apakah mereka akan meluapkan perasaan yang sama jika mengetahuinya? Akankah aku akan memberikan sebuah kabar bahagia jika aku menyampaikannya?

Kyuhyun Oppa benar. Kami hanya bermimpi di saat-saat itu.

“ Hye Hoon~a, kau datang?”, sapa Eommaku dengan lengkungan sempurna di bibirnya yang membuat siapapun yang melihatnya pasti akan mengetahui rasa senang yang menggelayuti wanita paruh baya itu.

“ Hmm. Sejak tadi aku sudah berada disini. Tapi, sepertinya kalian tidak menyadarinya dan hanya sibuk tersenyum tanpa henti. Ah, aku tahu alasannya kenapa kalian seperti itu. Na Young Eonnie, kau hamil?”

Raut wajahku terasa sangat meyakinkan bahwa aku adalah seorang adik yang senang karena kakaknya akan memiliki keturunan. Padahal, ragaku sedang berusaha untuk menopang tubuhku yang terasa lemas.

Na Young menganggukkan kepalanya membenarkan. Setelah itu, kakiku melangkah mendekatinya, membuat Kyuhyun Oppa bergerak mundur. Kucondongkan tubuhku untuk memeluknya, membisikkan kata-kata selamat dan penyemangat untuknya.

Aktingku tak akan bisa bertahan lama, jadi kuputuskan untuk meninggalkan keluargaku yang bahagia itu untuk mencari udara segar di luar. Tapi, gerakan terakhir yang bisa kulakukan adalah menutup pintu kamar rawat itu.

Tubuhku ambruk, sehingga posisiku sekarang adalah terduduk di lantai lorong rumah sakit yang dingin. Pertahananku runtuh. Aku tak bisa menahan laju air mataku yang menggenang, membasahi kulit pipiku yang pucat.

Aku memegang perutku yang kosong, merasakan kehadiran sesuatu yang pernah tumbuh disana. Janin yang seharusnya merupakan sebuah sumber kebahagiaan kami, tapi dengan teganya aku lenyapkan dalam waktu yang singkat.

Maafkan Eomma, Aegi~ya.

***

Aku tak ingat mengapa aku bisa sampai kesini. Berada di taman belakang rumahku yang nyaman, salah satu tempat favoritku yang biasa kutempati dengannya. Tak peduli dengan hembusan angin malam yang menerpa blazer tipis yang kukenakan, yang tak mungkin membuat tubuhku yang terlentang di bangku taman ini hangat.

Tanganku meraba gambar yang saat ini berada di genggamanku, yang merupakan satu-satunya bukti bahwa aku pernah memilikinya. Sudah lama kusimpan gambar buram itu di dalam laci dekat tempat tidurku, tanpa berkeinginan untuk membukanya kembali.

Cairan tak berwarna yang tadi mengalir tanpa henti sudah mulai mengering. Aku tak pantas menangisinya, menangisi janin yang kubuang percuma. Jika keadaanku seperti yang dialami Na Young Eonnie, aku pun tak akan melakukan itu. Aku pasti dapat merasakan kebahagiaan yang sama seperti mereka, bukan malah menganggapnya sebagai petaka.

Aku hendak menegakkan tubuhku ketika melihatnya hendak menduduki kursi, namun dia menahannya. Dibaringkannya kepalaku di pahanya, menolak keinginanku untuk segera beranjak dari tempat ini. Penolakanku sepertinya tak ada artinya, karena aku lebih dulu terbius oleh tatapan penuh cinta darinya.

“ Mereka semua sudah tidur. Hanya ada aku dan kau disini”.

Seakan menyuarakan ketakutanku, dia pun menjawabnya tanpa aku sempat bertanya. Kami pun kembali jatuh di dalam kesalahan besar kami. Saling menatap layaknya sepasang kekasih yang saling mencintai, dengan tangannya yang menyentuh lembut rambutku yang terurai. Terdapat kaca bening yang menghalangi penglihatannya, membuat batinku bertanya.

Bukankah seharusnya dia senang karena istrinya hamil?

“ Aku merindukan saat-saat seperti dulu. Menghapus air matamu  dikala kau merasakan kesedihan seperti sekarang ini. Memperlakukanmu sebagai adikku sekaligus wanita yang sangat kucintai. Berada di sampingmu ketika kau membutuhkanku, kapanpun itu. Melindungimu disaat ada banyak lelaki yang mengganggumu. Tapi, aku bahkan tak bisa melakukan hal itu sekarang. Mianhae, aku benar-benar lelaki yang bodoh karena berani mencintai kemudian menyakitimu”.

“ Aku mengerti keadaannya. Aku pun tak menginginkan hal-hal itu terjadi lagi. Inilah takdir kita yang sebenarnya, Oppa”.

Tanpa kusadari, gambar yang telah kupandangi tadi berpindah ke tangannya. Air matanya mengalir bebas ketika menyadari apa yang berada di dalam gambar itu. Calon bayi yang pernah bersarang di rahimku, yang akan menjadikan masalah besar jika statusnya terungkap.

“ Ini…..Sejak kapan kau menyembunyikannya dariku? Kau…”

Isak tangisnya terdengar memilukan di telingaku. Tangannya meraba gambar itu dengan hati-hati, sebagai bentuk kasih sayangnya kepada buah cinta kami yang tak pernah terlahir. Mungkin sudah saatnya dia mengetahuinya. Memberitahukannya bahwa dia hampir saja menjadi ayah dari bayi yang pernah ada di dalam kandunganku.

Dari matanya, aku bisa memastikan jika dia sangat tersiksa dengan fakta yang diketahuinya itu. Dia mungkin akan merasakan kepedihan yang pernah menyerangku ketika aku terpaksa harus menggugurkan calon bayiku dulu.

“ Musim gugur tahun lalu. Itu gambar ketika dia berusia empat minggu, seminggu sebelum aku membunuhnya. Aku tak mungkin memberitahumu saat itu. Kau pasti membawaku pergi, dengan meninggalkan kedua orang kita yang pasti akan hancur. Aku tak mau itu terjadi, sudah cukup aku mengkhianati mereka dengan menjalin hubungan tersembunyi denganmu. Kemudian kudengar, jika anak yang berasal dari kedua orang yang memiliki hubungan darah yang dekat tak akan terlahir sempurna. Aku tak mau menambah kemalangan anak kita. Aku…hanya ingin yang terbaik untuk semuanya”.

Dadaku terasa sakit. Air mataku yang kukira sudah mengering dengan mudahnya terurai kembali. Mengingat tentang semua itu sungguh membuat hatiku terluka. Dan sekarang, aku harus melihat dengan mata kepalaku sendiri kakakku yang kucintai itu sama menderitanya dengan kondisiku dulu.

“ Maafkan aku. Maafkan aku yang tak bisa menjagamu dan calon bayi kita dengan baik. Aku banyak bersalah padamu”.

Dia menarikku ke dalam pelukannya, membuatku menyembunyikan isakanku di dekat perutnya. Kami sama-sama menangis, meratapi kepedihan yang seringkali kami rasakan karena takdir yang menentang kebersamaan kami.

Ketika kami sudah merasa kelelahan karena terlalu lama menangis, akhirnya kami menghabiskan sisa malam yang kami lewati bersama dengan melemparkan senyum tipis seakan tanda jika kami baik-baik saja sekarang.

Kami berjanji di dalam hati kami masing-masing bahwa kami akan menjalani hidup dengan baik di masa depan. Melupakan masa lalu yang membelenggu dengan cinta yang menggebu tanpa batas. Kami menyadari, jika perasaan itu tak akan hilang sampai kapanpun. Namun, kami akan mencoba untuk menjadikan itu sebuah kenangan, seiring dengan berjalannya waktu.

Kami akan saling mencintai dengan cara yang berbeda. Bukan dengan saling memiliki, namun saling kehilangan.

Telapak tangannya yang lembut menyentuh pipiku pelan, menciptakan gerakan teratur untuk menyalurkan rasa kasih sayang lebih yang dimilikinya. Meyakini bahwa ini yang terakhir kali, aku menikmatinya serta merekam ingatannya di dalam memoriku.

Oppa, suatu saat nanti kau harus melepaskan genggaman tanganku dan menyerahkannya kepada lelaki lain yang jauh lebih mencintaiku. Kau harus berjanji, jika itu terjadi kau akan melepaskanku dengan senyuman tulus. Setelah itu, kita pasti memiliki akhir yang bahagia dengan pasangan kita masing-masing. Melupakan kisah yang tak harus kita ceritakan kepada siapapun, memendamnya sampai akhir, hingga waktu ketika kita meninggalkan dunia ini”.

“ Aku berjanji. Tapi, jika di kehidupan selanjutnya kau ditakdirkan untukku, jangan pernah pergi dariku lagi”.

-END-

Manggil Kyuhyun dengan Oppa itu rasanya aneh -__- tapi ini terpaksa lah, namanya juga adik-kakak huhu

Feel-nya gak dapet. FF-nya juga aneh banget. Bahkan aku gak dapetin klimaksnya tuh dimana -__- tema ini udah sering banget diangkat di dunia per-ff-an dan cara penulisan, cerita, alur dll ampir sama kayak ff-ff ku yang lain. Cuma ini yang ada di pikiran aku, jadi ya beginilah akhirnya.

Thanks for reading.

p.s. soal ff rated yang diprivat, aku minta maaf ya. Sepertinya aku emang gak bisa kalo misalkan banyak SR di ff-ffku itu. Soalnya menurut aku nulis ensi tuh lebih susah. Dan untuk beberapa readers yang ‘digalakin’ sama aku, maaf yaa mood aku untuk ff bener2 ancur hehe semoga mengerti^^ 

want be friend with me? you can add my line : elsa930410

172 thoughts on “Our Love Is A Sin

  1. Ya ampun ini sedih banget kak…. sumpah, nggak nyangka hubungan mereka sampe sejauh itu, sampe hye hoon gugurin kandungannya 😭😭 ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s