Not In Love ( Part 4 )


 

Finally, I manage to writing the next part of this fanfiction. Kalo udah kelupaan sama jalan ceritanya karena terlalu lama nunggu lanjutannya, silahkan baca dulu part sebelumnya. Disini, ada scene yg hampir sama dengan scene di ffku yang lain. Sorry for that, mungkin aku udah kehabisan ide buat bikin alur ceritanya.

Happy reading and enjoy!

RCL are very welcomed ^^

 

 

Menikah?

Han Ye Jin mengetahui dengan baik status yang dijalani kedua orang itu. Gadis yang bernama Hye Hoon itu sendiri yang membeberkan semuanya kepadanya. Apakah yeoja itu berbohong? Mungkin saja. Akan tetapi, ketulusan yang dipancarkan gadis itu ketika mereka berbincang tentang hubungan wanita ini dengan Kyuhyun dulu menggoyah keyakinannya.

Di lain sisi, kedua pasang mata orang yang menjadi sumber perhatian di ruangan itu mengungkapkan lain hal. Dia bisa melihat binaran mata keduanya yang terlihat sangat berbeda saat ini. Bisa saja mereka berdua saling mencintai, dan menginginkan hubungan mereka melangkah ke jenjang yang lebih serius. Tapi, jika begitu, apa gunanya Hye Hoon berbohong padanya tentang status hubungan mereka?

Ada sesuatu yang janggal disini.

Sebelum dia sempat melayangkan keberatannya, Kyuhyun lebih dulu melanjutkan ucapannya yang semakin membuat Ye Jin berang.

“ Setelah kami menikah, aku akan melimpahkan semua yang kumiliki pada istriku. Semuanya, tanpa terkecuali. Aku yakin, harabeoji yang sudah membuang hartanya dengan cuma-cuma itu pun akan menyetujui semua keputusanku. Oh, lagipula tak ada satupun orang yang bisa menghentikan apapun yang kulakukan terutama jika masalahnya menyangkut harta yang sepenuhnya kumiliki. Jadi, bisa kita mulai acaranya sekarang?”, ujar lelaki itu santai.

Ye Jin tahu pasti apa yang direncanakan Kyuhyun saat ini. Sebenarnya, dia tak peduli jika mereka benar-benar menikah di hadapannya, apapun yang mereka berdua lakukan di depan atau di belakangnya sungguh tak penting baginya. Yang dipedulikannya adalah semua aset yang dimiliki Kyuhyun, yang bisa membuat hidupnya sangat terjamin dengan nominal yang dipunyai lelaki bekas kekasihnya itu.

“ Cho Kyuhyun, apa kau gila? Kau berniat untuk menikah dengan wanita sepertinya?”. Telunjuknya mengarah kepada seorang wanita yang menurutnya memiliki kepribadian ganda dibalik wajahnya yang lugu. Di luar, gadis itu memang terlihat sangat tegar dengan wajah tanpa belas kasihan yang ditunjukkannya. Namun, dari mata gadis itu, Ye Jin dapat melihat betapa rapuhnya gadis itu.

“ Apa urusanmu? Kau boleh keluar jika kau tak suka dengan pernikahan kami, Ye Jin~ssi. Oh ya, aku berharap jika kau melenggang pergi maka kau tak akan menginjakkan kakimu kembali kesini, seperti yang dengan tanpa rasa malu sudah kau lakukan sebelumnya. Tapi maaf sekali, kali ini kau tak akan keluar dengan koper yang berisi uang hasil cinta pura-puramu itu”

Beraninya kau menentang seorang Han Ye Jin, Cho Kyuhyun? Apa hebatnya dirimu tanpa kekayaan yang dimilikimu itu?

AKU KELUAR”, teriaknya. Dia sadar, Kyuhyun bukan lagi seorang lelaki yang bisa berubah menjadi orang bodoh karena mencintainya. Namun, Ye Jin merasa kasihan karena lelaki itu melakukan kesalahan fatalnya untuk kedua kalinya, dengan mencintai gadis yang hanya memanfaatkan Kyuhyun, layaknya apa yang pernah dilakukannya.

Setelah keluar dari pintu rumah itu, Ye Jin berjanji akan menjauh untuk kedua kalinya dari kehidupan Kyuhyun. Toh, dia bisa mendapatkan lelaki lain yang bisa menjamin gaya hidup mewahnya yang selama ini dilakoninya, meskipun tidak sebanyak apa yang Kyuhyun punya.

Selamat tinggal, Cho Kyuhyun. Selamat tinggal untuk selamanya.

***

Kyuhyun tersenyum miring menatap ke pintu keluar. Akhirnya, setelah sedikit perjuangannya, dia berhasil melenyapkan Han Ye Jin, serpihan dari masa lalu yang selama ini mengganggu pikirannya.

Sampai saat ini Hye Hoon belum bereaksi apapun. Syukurlah, kalau begitu dia akan menggunakan gadis itu untuk menghancurkan kerikil kecil yang ingin cepat disingkirkannya.

Matanya melirik kedua orang lainnya, yang ingin diusirnya dengan cara sehalus mungkin. Namun, sepasang suami-istri itu malah menunjukkan senyum palsu kepadanya, seperti tak termakan dengan omongannya yang akan memberikan semua miliknya kepada gadis yang berperan sebagai calon istrinya.

Seorang wanita paruh baya yang memiliki marga yang sama dengannya itu menghampiri tempat mereka berdua berdiri, lalu menatap Hye Hoon dengan tatapan penuh kasih sayang.

“ Sayang sekali, aku tak bisa menyiapkan gaun yang cantik untuk pernikahan kalian. Tapi, jika kau berkenan, aku akan memesannya untuk resepsi pernikahan”. Sepasang mata bulat wanita itu lalu beralih ke arahnya. “ Kami dengan senang hati bersedia untuk menjadi saksi pernikahan kalian”.

Bukan seperti itu reaksi yang diharapkan Kyuhyun. Seharusnya, adik dari mendiang ayahnya tersebut berteriak histeris seperti yang dilakukan wanita yang dibencinya tadi, kemudian mencaci gadis tak bersalah yang berada di sampingnya.

Lalu, apa itu? Menyiapkan gaun? Sepertinya imo-nya sudah memiliki antisipasi yang baik untuk mendekati Hye Hoon agar gadis itu mungkin bisa memberikan sedikit kucuran dana untuk mereka, jika Kyuhyun bukan lagi pewarisnya.

Seperti biasanya, mereka pintar sekali dalam hal mencari uang.

Lelaki itu memberi isyarat pada hyung-nya untuk segera menyiapkan berkas-berkas itu di atas meja. Mereka pun duduk berdampingan di depan Lee Hyukjae yang menatap keduanya dengan kening berkerut. Apalagi ketika mata segaris lelaki itu bertumbukan dengan ekspresi yang ditunjukkan Hye Hoon.

Raut wajah Hye Hoon tak menunjukkan sebuah kebahagiaan yang luar biasa seperti kebanyakan orang, tak menolak namun seperti seorang budak yang melakukan semua perintah majikannya. Gadis itu dengan tenangnya membubuhkan coretan tangannya saat dipinta, setelah Kyuhyun terlebih dahulu melakukannya. Begitupun dengan kedua orang yang tadi menyetujui untuk menjadi saksi dari pernikahan yang dilakukan secara hukum itu, dengan mudahnya memberikan tanda tangannya sebagai tanda dari kesaksian dari hal yang seharusnya berlangsung dengan sakral, bukan dengan suasana yang dingin seperti saat itu.

Kyuhyun membalikkan tubuh gadis itu untuk menatap ke arahnya, kemudian tanpa kata dia mendaratkan sebuah kecupan ringan di puncak kepala gadis yang sudah resmi menjadi istrinya itu. Dia tak segan menyunggingkan sebuah senyuman manis sebagai ungkapan dari rasa bahagianya saat ini. Walaupun awalnya dia hanya ingin membuat semua orang yang hanya bersikap baik untuk memanfaatkannya itu pergi, namun dia telah lama menikmati peran barunya itu.

Kau milikku, Choi Hye Hoon.

***

Tak ada bunga mawar merah yang bertaburan di atas tempat tidur, begitu pula dengan ruangan kamar gelap yang mengandalkan cahaya lilin sebagai penerangnya. Seprai putih polos itu tetap menjadi khas dari ruangan pribadi seorang Cho Kyuhyun, dengan lampu yang bersinar terang menerangi seluruh penjuru kamar.

Tak ada pula kegugupan yang mereka rasakan seperti layaknya pengantin baru kebanyakan.

Sesaat setelah keduanya memasuki kamar utama mansion tersebut, Kyuhyun memerangkap tubuh mungil istrinya sehingga Hye Hoon menyandarkan punggungnya yang kaku dibalik dinginnya dinding kamar. Kontak mata keduanya pun tak bisa dihindarkan. Kyuhyun merasa ada yang berbeda dengan Hye Hoon-nya kali ini. Namja itu dapat merasakan tatapan tak bersahabat dari gadis di hadapannya itu, membuat amarahnya meluap seketika.

Kyuhyun menyalurkan kemarahannya dengan meraup bibir gadis itu dalam sebuah ciuman yang kasar. Dia melahap bibir Hye Hoon dengan rakus, melumatnya tanpa jeda, tak mengindahkan penolakan terang-terangan yang dilakukan Hye Hoon untuk mencegah perbuatannya.

Kyuhyun menarik bibirnya dari permukaan bibir berwarna cherry milik Hye Hoon, dikarenakan persediaan oksigen di paru-parunya terkuras habis akibat dari ciuman yang terbilang cukup lama. Dengan nafasnya yang terengah, Kyuhyun menjangkau tombol yang berfungsi untuk mematikan lampu di ruangannya untuk menjadikan kamarnya gelap gulita.

“ Jangan melakukan penolakan apapun. Atau kau mau untuk pertama kalinya aku bersikap kasar saat menidurimu? Aku suka permainan yang kasar, tapi aku bukan seorang bajingan yang tega menyakitimu. Please, behave darling. So I won’t hurt you”. Bisik Kyuhyun seduktif tepat di bagian sensitif yeoja yang terlihat ketakutan itu.

Kyuhyun menggoda daun telinga wanita itu menggunakan lidahnya, kemudian beralih menggunakan giginya untuk menggigit kecil daerah tersebut. Hye Hoon menggigit bibir bawahnya sendiri, menahan erangannya yang berada di ujung kerongkongannya sebagai akibat dari rangsangan yang diterimanya.

Bibir Kyuhyun bergerak turun, menelusup diantara lipatan leher gadis itu. Kyuhyun menghirup nafasnya dalam-dalam disana, mencium aroma manis tubuh Hye Hoon yang menyebabkan meningkatnya hormon untuk memiliki Hye Hoon saat itu juga.

Tangan pria itu menurunkan resleting dari gaun selutut yang dikenakan Hye Hoon. Mulutnya masih asyik menghisap lalu menggigiti bagian leher Hye Hoon, meninggalkan jejak kemerahan disana, menciptakan tanda bahwa gadis itu sudah benar-benar menjadi miliknya.

***

“ Tetap tinggal. Kau tak bisa kemanapun tanpa persetujuanku. Mulai malam ini sampai seterusnya kau adalah istriku. Apa kau tidak tahu apa artinya itu, hah?”

Amarah Kyuhyun meledak. Dia sangat marah saat Hye Hoon hendak beranjak keluar dari tempat tidurnya. Gadis itu tak sempat melakukannya, karena reaksi Kyuhyun yang cepat, dengan refleks mencekal lengan Hye Hoon agar gadis itu tak bisa bergerak dari tempatnya.

Hye Hoon yang merasa tak pantas mendapat perlakuan semena-mena Kyuhyun pun dengan angkuh menaikkan dagunya, membalas kilatan di mata Kyuhyun dengan tatapan dingin yang seperti biasa ditunjukkannya. Dia sama sekali tak gentar dengan kemarahan tak beralasan yang ditujukan Kyuhyun. Gadis itu dengan kasarnya menepis tangan Kyuhyun yang mencengkeram erat pergelangan tangannya.

“ Aku bukan gadis bodoh, Kyuhyun~ssi. Ini adalah pernikahan pura-pura yang sengaja kau rencanakan untuk lepas dari orang-orang itu, kan? Hyukjae bukan seorang pengacara atau apapun, dan dia tak berhak untuk melegalkan surat sampah itu. Bahkan aku meragukan jika surat-surat yang kau bilang penting itu didapatkannya dari catatan sipil. Apa perkataanku benar, Kyuhyun~ssi? ”

Kyuhyun merasa tertampar dengan kenyataan sebenarnya yang dibeberkan oleh Hye Hoon tadi. Tak dapat disangkal, Kyuhyun memang menggunakan cara menikah palsu untuk memberi pelajaran serta sebagai bentuk balas dendam atas kejadian di masa lalu kepada para pemeras hartanya. Dan sekarang, nuraninya berulah dengan rasa bersalah yang spontan dirasakannya, karena caranya memanfaatkan gadis dingin namun rapuh itu adalah jalan yang salah.

Namun, dengan egonya yang tinggi, dia tak ingin mengaku salah di hadapan gadis itu. Kyuhyun mengintimidasi gadis itu dengan tatapan tajamnya, kemudian tertawa sinis sebagai salah satu tanda jika dia tidak menyesali apa yang dilakukannya.

“ Ya, kau benar. Lalu, apa kau ingin aku memberimu sejumlah uang atas jasamu itu? Sekalian membayar servicemu malam ini, mungkin?”, katanya dengan nada datar tanpa ada sedikitpun rasa bersalah di balik lontaran kalimat yang keluar dari mulutnya itu. Darah Hye Hoon berdesir cepat sampai ubun-ubunnya, membuat tubuhnya memanas seketika sebagai akibat dari omongan Kyuhyun yang mengerikan baginya.

Namun seperti yang biasa diperagakannya, Hye Hoon memasang topengnya untuk menyembunyikan rasa sakit yang menjalar di hatinya. Yang terlontar dari mulut Kyuhyun memang semua benar, dia hanyalah seorang wanita bayaran yang bahkan sudah tak punya harga diri yang harus dipertahankannya lagi.

“ Aku hanya ingin kau melepaskanku. Tolong jangan pernah menemuiku lagi. Aku…. sudah tak butuh uangmu lagi”

Tubuh Kyuhyun melemas tatkala salah satu inderanya mendegar jika gadis itu benar-benar tak mau menemuinya lagi. Dia menyalahkan dirinya sendiri untuk hal yang satu ini. Dari awal, ini semua salahnya. Lelaki itu bahkan lupa mengaktifkan pertahanannya untuk tak jatuh kepada seorang wanita dengan tipe yang sama dengan wanitanya terdahulu karena ketertarikannya pada yeoja yang mulai dicintainya itu.

Suara debuman pintu yang menutup kasar itu menyadarkannya dari lamunan pendek yang menyergapnya. Kyuhyun segera bersiap, dengan langkah panjangnya dia menyusuri jejak kaki yang ditinggalkan wanita itu. Setelah dia berada di luar rumah, Kyuhyun bisa merasakan titik-titik air membasahi puncak kepalanya. Semakin deras, sehingga seluruh tubuhnya tertutup oleh air hujan. Pandangannya sedikit kabur, mengingat air hujan yang juga mengalir hingga menghalangi indera penglihatannya untuk menemukan jejak dari wanita yang membuatnya khawatir setengah mati.

Disela percikan air yang membasahi jalan itu, langkahnya terus tertuju ke arah Hye Hoon yang berlari cepat meninggalkan sebuah luka yang tak dimengerti di hatinya. Luka yang disebabkan oleh kebodohannya sendiri, yang juga mungkin menyakiti gadis itu. Dia tak bisa jujur terhadap perasaan yang berkembang di hatinya. Dia terlalu takut untuk mengungkapkannya karena wanita yang hanya menginginkan hartanya saja tak akan pernah bisa membahagiakan dirinya.

Akan tetapi, rasa ini terlalu menyiksanya. Dia bahkan sering mengutuk dirinya sendiri ketika dia melayangkan kata-kata caciannya seperti tadi. Kyuhyun tak ingin menyakiti yeoja itu, namun egonya terlalu tinggi sehingga mengalahkan perasaan cinta yang mungkin dimilikinya.

Hye Hoon tak ingin berhenti, walaupun kenyataannya kakinya berteriak karena rasa lelah yang menyebabkan anggota geraknya itu terasa pegal. Dengan pakaian tipis yang melekat di tubuhnya, sangat bisa dipastikan jika rasa dingin yang berasal dari air hujan serta angin kencang yang mengiringinya itu membuat seluruh tubuhnya menggigil kedinginan.

Dia tak peduli meskipun tubuhnya membeku karenanya. Yang ada di pikirannya sekarang adalah bagaimana caranya agar dia dapat menjauh dari tempat yang membangun semua kesedihan yang menimpanya disana. Tentang rasa cinta yang harus dipendamnya dibalik wajah angkuhnya, tentang perlakuan lembut Kyuhyun yang mungkin hanyalah sebuah khayalan tingkat tinggi baginya, tentang bagaimana cara namja itu menghinanya dengan berbagai kalimat kasarnya ataupun tentang fakta dirinya yang hanya memiliki derajat sebagai seorang pelacur di rumah megah milik orang bermarga Cho itu.

Bibirnya yang perlahan membiru itu memunculkan getaran-getaran hebat diakibatkan dari angin yang bertiup kencang beserta cairan deras yang membuat pertahanan tubuhnya runtuh. Hye Hoon memeluk tubuhnya dengan menyilangkan kedua tangannya, mencari kehangatan yang diharapkannya ada tersisa disana.

Sebuah tarikan cukup kuat yang berasal dari belakang membuat tubuhnya yang limbung itu kehilangan keseimbangan. Jantungnya berdegup di luar batas normal saat merasakan dekapan hangat di tubuhnya yang menggigil. Tangannya yang terkunci bersiap mendorong sosok yang diketahui otaknya itu, tapi di saat yang sama, hatinya yang bereaksi lebih cepat itu pun menolak.

Jangan sekarang, biarkan menikmati kehadirannya kali terakhir mengenang kebersamaan dengannya.

Bahunya bergetar hebat. Yeoja itu menyembunyikan tangisnya di dada bidang Kyuhyun yang basah oleh air yang jatuh dari langit dan bersumber dari matanya. Hye Hoon tak pernah memprediksi jika kisah yang berawal dari kebutuhannya akan uang itu akan berakhir menjadi kisah cinta yang mengenaskan, yang berakhir bahkan sebelum dia berani memulainya.

“ Sudah kuperintahkan padamu, jangan pergi. Lihatlah akibatnya, kau bisa mati dengan suhu tubuhmu yang rendah seperti ini”, ujar lelaki itu dengan nadanya yang terkesan menekan. Hye Hoon tak menanggapi, karena fungsi bibirnya teralihkan untuk mengeluarkan isakannya yang dengan lihai disembunyikannya dibalik suara bulir-bulir air hujan yang berlomba-lomba menyentuh aspal.

Kyuhyun melepaskan kontak fisik diantara mereka, kemudian merengkuh wajah Hye Hoon dengan tangan besarnya. Gadis itu tak menolak, matanya membalas tatapan lelaki itu yang menyebabkan berbagai macam perasaan berkecamuk di benaknya.

“ Aku terlalu pengecut untuk menyembunyikan perasaanku dari awal. Aku takut jika kau sama seperti gadis lain, yang akan meninggalkanku dalam keterpurukan jika kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan. Namun sekarang, aku tak peduli. Aku tak masalah jika kau hanya menginginkan apa yang kupunya, selama kau bersedia untuk selalu berada di sisiku. Aku mencintaimu, Hye Hoon~ah. Aku mencintaimu”.

Hye Hoon merapatkan bibirnya, melarang lidahnya untuk mengucapkan sesuatu yang juga ingin disampaikannya. Dipakainya kembali topeng kasat mata yang tadi sempat dilepaskannya. Mata almondnya melayangkan tatapan tajamnya ke arah lelaki itu, menjerumuskannya ke dalam kebohongan terdalam yang pernah diucapkan mulutnya.

“ Hubungan kita tidak lebih dari sekedar berbisnis untuk urusan ranjang, Kyuhyun~ssi. Kau lupa statusku? Aku wanita penghibur yang hanya melayanimu. Jika kau memiliki perasaan lebih padaku, itu hakmu. Aku tak akan melarangnya. Keunde, jangan mengharapkanku untuk membalas cinta bodohmu itu. We were not in love. Before, now, and ever after”.

***

“ Apa maksudnya ini? Mengapa kita tinggal dengan wanita itu?”, teriaknya lantang.  Kemarahan Minho meledak ketika melihat siapa yang berada di rumah yang baru dimasukinya itu. Hye Hoon mengajaknya untuk pindah dari apartemen mereka, karena Hye Hoon berkata jika kakaknya itu sudah mengumpulkan uang untuk membeli sebuah rumah kecil yang cukup untuk dihuni mereka berdua. Ajakan Hye Hoon tak bisa ditolaknya, karena yeoja itu terlalu pintar untuk menjadikan hal tersebut sebagai syarat jika Minho menginginkan Hye Hoon menjauhi pekerjaan yang membuatnya muak.

Dengan alasan yang menggiurkan itu, tanpa pikir panjang, Minho dengan cepat menyetujuinya.

Akan tetapi, dia tak pernah memikirkan apa yang berada di otak kakak perempuannya itu. Membawa wanita yang dibencinya ke rumah barunya, dan mereka bertiga akan tinggal seatap disini? Sungguh, Minho tak habis pikir kenapa Hye Hoon dengan gampangnya memaafkan kesalahan Ibunya di masa lalu. Wanita itu bahkan terlalu kejam untuk disebutnya sebagai seorang Ibu.

Dia membanting tas besar yang dijinjingnya kasar, membalikkan tubuhnya untuk keluar dari rumah bercat hijau yang baru dimasukinya beberapa detik yang lalu. Saat ini, dia butuh udara segar untuk menjernihkan kembali pikirannya. Dan hal pertama yang di pikirannya untuk kabur dari masalahnya adalah lapangan sekolahnya yang biasa didatanginya untuk berolahraga ketika pelajaran berakhir.

“ Tenanglah, Eomma. Mungkin dia hanya ingin sendiri. Biarkan untuk beberapa saat. Dia pasti kembali kesini dan melupakan kekesalannya”, bujuk gadis itu dengan kalimat menenangkan. Hye Hoon menepuk bahu Ibunya sekilas, mencoba menyembuhkan rasa sakit hati yang mungkin sedang menimpa Ibunya karena perlakuan buruk Minho terhadap wanita itu.

Wanita yang dipanggilnya dengan sebutan Eomma itu menatapnya intens di balik matanya yang berkaca-kaca. Seketika raut wajah Ibunya berubah menjadi panik, saat menangkap ada sesuatu yang tidak beres dengan kelakuannya yang tak biasa.

“ Kau kenapa, sayang? Kau terlihat berbeda sekarang. Apa ada sesuatu yang mengganggumu?”, ucap wanita dewasa itu penuh perhatian. Dia telahberhasil meredakan tangisannya, tapi ada hal lain tentang Hye Hoon yang mengganggunya. Wanita bermarga Kim itu merasa cemas dengan perubahan signifikan yang terjadi kepada anak sulungnya. Meskipun Hye Hoon dapat menyembunyikannya dengan baik, namun sebagai seorang Ibu dia dapat merasakannya. Apakah ini berhubungan dengan permintaan gadis itu tempo hari, disaat pertemuan pertama setelah beberapa tahun mereka tak berjumpa?

Gwenchana, Eomma. Sebaiknya Eomma lebih memperhatikan Minho, karena dia lebih membutuhkan Eomma dibanding denganku. Nanti aku akan berbicara padanya, menceritakan semua yang terjadi sehingga tak ada kesalahan paham lagi diantara kalian. Aku yakin, Minho sudah lebih dewasa sekarang. Dia pasti akan mengerti, Eomma.”

Wanita yang pernah menjadi istri dari Choi Seung Joo ini menghembuskan nafasnya lega. Dalam hati dia berharap jika Minho kembali menerimanya sebagai Ibu kandungnya, melupakan apa yang terjadi di masa lalu, agar mereka bisa membangun kembali keluarga kecil yang sempat hancur karena ulahnya.

Saat ini, satu persatu masalahnya mulai terselesaikan. Dia sangat tak sabar untuk segera menyambut hidup baru mereka sampai waktunya dia dapat melihat anak-anaknya berbahagia dengan pasangannya masing-masing. Wanita yang sudah menginjak usia empat puluh tahun lebih itu pun menengadahkan kepalanya, memejamkan matanya sambil membisikkan kata demi kata yang menjadikan kedua ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman yang indah.

Semoga permintaanku dapat terkabul agar aku bisa merasakan indahnya hidup dengan anak-anakku setelah Seung Joo pergi.

***

Kyuhyun mengetuk-ngetukkan jari panjangnya di meja kerja yang dipenuhi banyak sekali kertas yang sama sekali tak disentuhnya. Dia menggeram dengan sebab yang jelas membuatnya sangat marah saat ini. Kyuhyun sudah memerintahkan salah satu orang kepercayaan Hyukjae untuk segera kembali ke ruangan yang ditempatinya itu secepatnya, namun sudah lima jam berlalu dan batang hidung lelaki itu pun belum saja muncul di depannya.

Apakah kaki tangan Hyukjae itu belum berhasil menemukannya?

Lelaki itu mendesah frustasi. Dia lalu memutar kursinya seratus delapan puluh derajat, membalikkan tubuhnya dari berbagai macam pekerjaan yang sejak pagi tadi diacuhkannya. Tak pernah dia merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Sejak terakhir kali Kyuhyun bertemu dengan gadis itu di hari pernikahan mereka tempo hari, lelaki itu sering sekali mencemaskan keadaan Hye Hoon. Pasalnya, waktu itu Hye Hoon menolak mentah-mentah ajakannya untuk kembali ke rumahnya. Wanita itu mengabaikan perintahnya kemudian lebih memilih menghentikan taksi untuk membawa dirinya entah kemana.

Dia tidak mungkin mati karena kedinginan, kan?

Kyuhyun segera menepis pikiran buruknya dengan memusatkan matanya kepada pemandangan dibalik dinding kacanya. Dari balik gedung pencakar langit itu, dia dapat melihat sebagian besar dari seluruh permukaan kota Seoul. Sangat luas. Dia meragukan kemampuan lelaki yang disuruhnya untuk menemukan keberadaan gadisnya dalam waktu kurang dari setengah hari itu untuk melaksanakan dengan tuntas pekerjaannya.

Sejak kejadian tempo hari, Hye Hoon memang menghilang dari pantauannya dengan cepat. Apartemen wanita itu sudah kosong tak berpenghuni ketika dia mengunjunginya. Hye Hoon pun tak pernah terlihat bekerja di tempat-tempat dimana Kyuhyun atau Hyukjae biasa menemukannya. Dan itu membuat kecemasannya semakin meningkat sampai ke taraf akhir.

Hye Hoon~ah, apakah kau sudah merencanakan ini semua? Kau sengaja menjauh dariku agar aku tak bisa menemuimu lagi?

Tiga hari berlalu tanpa gadis itu adalah hari paling buruk di hidupnya. Dia bahkan tak bisa melakukan segalanya dengan baik, apalagi dengan kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaannya. Wajahnya yang biasanya memancarkan karisma yang memabukkan hilang begitu saja, digantikan oleh wajah lusuh tanpa gairah yang membuat wanita-wanita yang biasanya memperhatikannya dengan tatapan kagum kini memalingkan muka mereka tanpa berniat menoleh ke arahnya untuk kedua kalinya.

Derap langkah kaki yang semakin mendekati ruangan yang dikhususkan oleh seorang Direktur itu membuat Kyuhyun waspada. Dia berpura-pura menyibukkan diri dengan kertas bernilai jutaan dollar di mejanya, menyembunyikan raut wajah bahagianya kemudian bersiap memasang wajah angkuh yang biasa ditunjukkannya.

“Masuk”, teriaknya tegas. Kyuhyun menaikkan level jangkauan matanya, dengan memandang objek yang diyakininya akan membawakan berita yang menyenangkannya itu. Namun, bukan sosok bawahan Hyukjae yang didapatinya, melainkan seorang yang masuk kepada jajaran manusia yang dibencinya semenjak orang itu dengan teganya meninggalkannya sendiri, di masa-masa Kyuhyun membutuhkan kasih sayang yang lebih dari keluarganya.

Harabeoji?”, panggilnya dengan bisikan pelan.

“ Iya, ini kakek. Kau tidak merindukanku, nak? Aigoo, kau terlihat jauh lebih tampan dan lebih dewasa sekarang. Tapi, apakah sopan jika kau tak mengundangku ke acara pernikahanmu kemarin?”

Sial. Kyuhyun lupa jika paman dan bibinya itu pasti akan melaporkan kejadian kemarin kepada kakeknya. Lalu, bagaimana dia akan berkelit dari pertanyaan kakeknya seputar istrinya itu? Dia tak mungkin menceritakan hal yang sebenarnya, kan?

Yang terpenting sekarang, dia bisa menemukan Hye Hoon sehingga perkara yang menimpanya bertubi-tubi itu dapat selesai. Hye Hoon~ah, dimana kau sekarang?

***

Semenjak dia pergi dari rumah barunya tadi, dia telah memikirkan langkah yang akan diambilnya. Minho akan tetap tinggal dengan kakaknya karena dia tak ingin meninggalkan Hye Hoon dengan orang yang dibencinya. Hati kecilnya yang belum sepenuhnya mengeras itu pun berkata, bahwa wanita yang telah meninggalkannya lima tahun lalu itu pantas diberi kesempatan atas pengorbanannya meninggalkan harta yang selama ini digilainya. Meskipun tak akan mudah, namun Minho akan mencoba menerima kehadiran Ibunya sebagaimana Noonanya dapat memaafkan kesalahan wanita itu dalam waktu singkat.

“ Akhirnya kau pulang”, sapa seseorang yang menyambutnya dengan senyuman hangat yang biasa diterimanya. Minho membalasnya dengan senyuman singkat, lalu mendaratkan tubuhnya di kursi yang tersedia di ruangan tengah itu. Tak lama kemudian, Hye Hoon pun ikut duduk di bangku yang terletak di depannya, sambil menata dua cangkir teh hangat sebagai teman bincang mereka.

“ Kau menginap dimana?”,tanya yeoja itu penasaran.

“ Di rumah temanku. Kepalamu masih terasa pusing, Noona?”, ujar namja itu penuh perhatian. Hye Hoon merespon pertanyaan adiknya itu dengan gelengan pelan, mengisyaratkan jika dia sudah sembuh dari penyakit ringan yang akhir-akhir ini menderanya.

Hye Hoon mengesap sedikit teh hangat yang tadi disajikannya, sembari menyiapkan kata-kata yang baik untuk Minho agar adik lelakinya itu dapat menuruti permintaan yang mungkin merupakan permintaan terakhirnya.

“ Minho~ya, aku tahu mungkin kau tak akan menyukai topik yang kubicarakan. Aku tak mau keadaan keluarga kita hancur seperti beberapa tahun ke belakang. Aku mau kau menerima Eomma di rumah ini, Minho~ya. Aku ingin kita kembali seperti—”

“ Aku akan mencoba menerima wanita itu, Noona”, potongnya cepat.

Tanpa mereka sadari, seseorang yang sejak Minho datang mendengarkan percakapan mereka tersenyum penuh haru. Air mata bahagianya meluncur turun ke pipinya saat anak keduanya, Choi Minho, menyatakan akan menerima posisinya sebagai Ibu bagi kedua anak itu.

Terimakasih karena Kau telah mengabulkan permohonanku, Tuhan.

Tok Tok Tok

Suara ketukan pintu yang terdengar tergesa itu mengaburkan moment bahagia yang dirasakan keluarga kecil tersebut. Minho segera beranjak dari kursinya untuk memutar knop pintu untuk membukanya. Namja itu menaikkan alisnya, tatkala melihat sosok orang yang tak dikenalnya berada di depan rumahnya.

Sepertinya wajah serta postur tubuh lelaki itu tidak asing, pikirnya.

Hye Hoon ikut berdiri saat tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir Minho untuk menyambut tamunya. “ Siapa yang datang, Minho~ya?”, ujarnya santai. Dia belum mengetahui siapa yang berada di ambang pintu karena tubuh jangkung Minho menghalangi pandangannya.

“ Hye Hoon~ah”, lirih Kyuhyun di luar kesadarnya. Yeoja itu tersentak mengenali siapa pemilik suara yang selama beberapa hari dirindukannya. Akan tetapi, sebelum dia sempat bereaksi, Hye Hoon mendengar suara hantaman yang memekakan telinga disertai dengan gerakan Minho yang membabi buta menyerang ke arah namja itu.

Bugh

“ Mau apa kau datang kesini? Apa kau mau merendahkan harga diri kakakku lagi? Kau pantas mati, brengsek”, ucapnya penuh nafsu. Minho melayangkan beberapa pukulan di sekitar wajah dan perut lelaki itu, namun Kyuhyun tak membela dirinya sedikitpun. Dia dengan pasrah membiarkan Minho yang sedang dikuasai amarahnya menyerangnya tanpa ampun.

“ Choi Minho, hentikan! Kumohon hentikan atau aku akan membawamu ke kantor polisi sekarang juga”, teriak gadis itu lantang. Kyuhyun tersenyum mendengar suara gadis itu, disela rintihannya karena menahan rasa yang ditimbulkan akibat dari pukulan-pukulan Minho yang terasa mematikan baginya.

Sepersekian detik setelah ancaman yang diteriakkan kakaknya, Minho pun mundur dengan membiarkan tubuh Kyuhyun tergeletak di lantai. Lelaki muda itu pun menyunggingkan seringaian kejamnya, kemudian melangkah kasar masuk ke dalam kamarnya.

Hye Hoon menghembuskan nafasnya lega, karena perkelahian yang ditakutinya akan menimbulkan pertumpahan darah itu berakhir. Dia menghampiri Kyuhyun yang berusaha menegakkan tubuhnya lalu berjengit ketika melihat wajah Kyuhyun yang penuh luka. Keterkejutannya tak bisa disembunyikannya, tatkala tangan Kyuhyun dengan lembut menyentuh pipinya, dengan pancaran mata lelaki itu yang terlihat bahagia saat melihat dirinya.

Bogosippeo

Hye Hoon meresponnya dengan perlakuan berbeda. Tanpa belas kasihan, Hye Hoon menutup pintu depan rumahnya dengan kasar. Dia menyenderkan punggung lemahnya di balik pintu, sembari memegang dadanya dengan kedua tangannya. Dia menghirup udara di sekitarnya, meredakan sesak yang dideritanya karena perlakuannya sendiri yang mengusir lelaki yang berusaha dihindarinya itu.

“ Pergi”, teriaknya kalut.

“ Aku tak akan pergi sebelum kau mau menemuiku. Kumohon maafkan aku, Hye Hoon~ah. Percayalah, aku mencintaimu. Aku sungguh ingin bersama denganmu selamanya. Bukan hanya karena untuk memuaskan hasrat kelaki-lakianku seperti sebelumnya. Aku ingin menikah denganmu, menjalin hubungan yang manis atas nama cinta. Aku—”

PERGI! Aku tak punya waktu untuk mengurusi cinta bodohmu itu”, sentaknya keras. Hye Hoon menahan tangisnya diantara nadanya yang meninggi. Demi apapun, dia menyesali dirinya sendiri yang malah mencintai seorang lelaki disaat hidupnya sudah tak lama lagi.

Kyuhyun mulai gusar. Dia mulai ingin menyerah karena penolakan yang membuatnya merasakan denyutan nyeri di dadanya. “ Sebesar itukah kebencian yang kau rasakan terhadapku, Hye Hoon~ah?”, lirihnya putus asa.

***

Siang itu, Hye Hoon menjalani kegiatan sehari-harinya yang sudah lama ditinggalkannya ketika dulu dia harus sibuk dengan berbagai macam pekerjaan tanpa henti dari pagi hingga malam tiba. Sekarang, dia patut berbahagia sebab impiannya untuk kembali merasakan indahnya keluarga kecil yang didambakannya itu akhirnya terwujud.

Hye Hoon hendak membereskan meja yang diatasnya tersaji beberapa masakan hasil buatan Eommanya yang juga terdapat campur tangannya, sebelum suara deringan telepon itu seakan menuntut dirinya untuk segera mengangkat gagang telepon yang tak hentinya berdering.

“ Tunggu”, seru gadis itu dalam langkah cepatnya menghampiri ruang tengah, seakan orang di seberang sana mendengar apa yang dikatakannya.

Dia mengangkat gagang telepon tersebut tanpa curiga, melontarkan sapaan yang seperti biasa dilakukannya ketika menerima panggilan. “ Yoboseyo?”, sapanya ringan.

“ Akhirnya hari ini tiba. Malam ini aku menunggumu di tempat yang sama, yang pasti tak akan pernah hilang dari memori otakmu. Jangan membawa siapapun bersamamu. Kau pasti tahu apa akibatnya jika kau membawa orang lain terlibat dalam hal ini, kan? Dan satu lagi, jangan pernah mencoba untuk menghindar, karena bila kau berani melakukannya, aku akan terus mengejarmu sampai ke ujung dunia sekalipun”.

Tut..tut..tut

Sambungan telepon terputus begitu saja selesai pemilik suara yang merupakan seorang lelaki itu mematikan sepihak jalinan komunikasi jarak jauh itu. Identitas orang yang menelponnya itu dapat dengan mudah diketahui Hye Hoon melalui suaranya yang familiar. Sesosok lelaki yang dulu sangat dihormatinya, tapi berganti menjadi rasa benci karena sosok itu juga ikut andil dalam kehancuran hidupnya.

Tangan Hye Hoon yang gemetar menyimpan kembali gagang telepon itu pada tempatnya. Derap langkah kaki seseorang membuatnya dengan cepat merubah ekspresi wajahnya, menatap sosok yang mendekatinya ketika wanita yang melahirkannya itu berdiri tepat di hadapannya.

Eomma ”, bisiknya pelan. Tanpa aba-aba, Hye Hoon menarik tubuh Ibunya ke dalam pelukan yang hangat. Hampir saja dia mengeluarkan air mata serta isak tangisnya di depan Eommanya. Namun, untung saja akal sehatnya lebih berfungsi sehingga dia bisa meredam gejolak dari rasa takut yang dirasakannya.

“ Kenapa, sayang? Siapa yang menelepon?”. Hye Hoon menutup matanya saat merasakan limpahan kasih sayang yang diberikan Ibunya melalui usapan di puncak kepalanya. Batinnya menangis penuh haru, dengan rasa ketakutan yang perlahan merayap hilang dari pikirannya.

Hye Hoon pasti akan merindukan moment-moment seperti saat ini, menerima salah satu bentuk kasih sayang yang diberikan Ibunya terhadapnya.

Gadis itu mendongak, menarik sudut bibirnya ke belakang membentuk sebuah senyuman tipis karena tenaganya berangsur melemah. Hye Hoon menatap mata hitam yang sangat mirip dengan miliknya, menghalau pedih karena dadanya seakan ditusuk oleh timah panas.

“ Apapun yang terjadi, kita harus pindah ke China besok. Selain itu, seandainya aku tak bisa ikut serta, kalian harus pergi tanpaku, Eomma. Kau sudah berjanji padaku, akan mengabulkan permintaan yang sejak dulu kuminta padamu. Kumohon, jangan pernah melanggar janji itu”.

***

Seminggu yang dilaluinya tanpa gadis itu layaknya neraka kecil baginya. Dia seringkali merasakan ada sesuatu yang menusuk ke hatinya ketika mengingat bagaimana penolakan keras yang ditujukan keluarga gadis itu kepadanya.

Selain itu, ketergantungannya terhadap pelukan Hye Hoon yang telah menjadi candu di tiap malamnya. Kyuhyun bahkan harus mengonsumsi obat tidur dengan dosis yang tinggi agar dia bisa terlelap dalam tidurnya. Keadaannya sungguh buruk. Dia menyesal karena terlambat menyadari bahwa kehadiran Hye Hoon sangat berarti di hidupnya.

Apakah arti sebuah penyesalan? Itu tak akan membawa Hye Hoon kembali ke kehidupannya.

Namja itu melirik tempat kosong di sebelahnya. Meskipun Hye Hoon hanya beberapa kali menempatinya, tetapi Kyuhyun sudah menegaskan jika tempat disampingnya tersebut hanya diperuntukkan untuk gadis itu saja.

Kyuhyun, yang menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, meraih beberapa butiran kapsul serta air putih di lemari kecil sebelah tempat tidurnya. Dia hendak memasukkan obat tersebut ke mulutnya, tapi ketukan di pintu kamarnya mendahului aksinya. Kyuhyun mengumpat pelan, kesal karena kelakuan orang di depan pintunya yang mengganggu ritual yang biasa dilakukannya sebelum berlayar ke alam bawah sadarnya.

Dengan nada tak bersahabat, Kyuhyun mengucapkan satu kata untuk mempersilahkan pengganggunya itu menghancurkan jam tidurnya.

“ Masuk ,” perintahnya tegas.

Seorang lelaki berperawakan biasa dengan tergesa memasuki ruangan pribadi milik Kyuhyun itu. Kyuhyun mendengus sebal saat matanya melihat tamu yang berani mengganggu jam malamnya itu adalah Hyukjae, yang masuk ke kamarnya dengan keringat dingin yang meluncur di dahinya.

Raut wajah lelaki itu menyiratkan kepanikan yang luar biasa, menyebabkan beribu tanda tanya menghinggapi benak Kyuhyun. Untungnya, sebelum dia mencecar Hyukjae dengan pertanyaan-pertanyaan yang disiapkannya, lelaki bergusi merah muda itu menyatakan dengan jelas maksud dari kedatangannya yang tiba-tiba.

“ Kyuhyun~ah, aku tak bisa menjelaskan detailnya padamu sekarang. Tapi, kau harus segera ikut aku saat ini juga. Hye Hoon sedang dalam bahaya”.

***

Gudang gelap nan sepi yang terletak di tengah hutan yang menakutkan itu tak membuat Hye Hoon gentar. Dibandingkan rasa takut, yeoja itu lebih merasakan rasa sakit yang menyerangnya seiring dengan kilasan-kilasan memori masa lalu yang bertubi-tubi muncul di otaknya. Tempat itu terlalu banyak menyimpan kenangan buruk yang selalu membayangi hidupnya lima tahun ke belakang.

Dan dia lega, akhirnya dia akan terlepas dari beban yang selama ini ditanggungnya.

Hye Hoon mendorong pintu usang dari bekas markas para pengikut ayahnya yang sudah tak terurus sejak  Choi Seung Joo meninggal beberapa tahun yang lalu. Dia menelisik ruangan luas yang memiliki sejarah kelamdalam hidupnya. Tak ada yang berubah, selain kondisi pondasinya yang semakin rapuh karena termakan usia.

“ Kau datang”, seru seseorang yang berada beberapa langkah di depannya, duduk di sebuah kursi kayu sambil memainkan benda hitam di tangannya. Yeoja itu menghampiri lelaki yang tadi siang menghubunginya dengan dagu terangkat. Bahkan, Hye Hoon seperti tak terpengaruh dengan keberadaan benda mematikan yang berada di genggaman lawannya.

Tawa keras yang menggema di gudang itu mungkin bisa membuat orang lain bergidik dengan kepalsuannya. Tapi tidak dengan Hye Hoon. Gadis ini berdiri tegak tepat di hadapan pria dengan wajah garang yang tak mengalihkan pandangan darinya. Hye Hoon bahkan menantang pria itu dengan intensitas tatapan tajam yang hampir seimbang.

“ Aku senang kau menyerahkan diri untuk membayar hutangmu, tanpa aku harus mengejarmu seperti debt collector. Ah, mungkin kasus kita terbilang berbeda dengan apa yang biasa dimiliki oleh lintah darat itu. Kau pernah mendengar istilah Hutang nyawa dibayar dengan nyawa? Kurasa kondisi yang kita alami sama seperti apa yang menjadi isi dari istilah murahan itu”.

Mata pria bernama lengkap Shim Young Tae tersebut mengingatkan Hye Hoon kepada mata milik seseorang yang selalu melihat ke arahnya penuh cinta. Lelaki yang membuatnya terjerumus dalam sebuah kisah hidup rumit, yang terlalu pahit untuk dijalaninya.

Hye Hoon menutup matanya, menghadirkan bayangan lelaki itu dalam pikirannya untuk menguatkan proses sampai mereka dipertemukan kembali.

“ Kau tidak terlihat takut sedikitpun, Nona Choi. Apa lima tahun sudah cukup untuk mempersiapkan diri menuju hari kematianmu? Ataukah kau sudah bersiap diri ketika melihat ayahmu mati ditanganku?”. Young Tae memberikan ultimatum kepada gadis itu lagi, namun Hye Hoon masih tak bergeming di tempatnya, membuat lelaki dengan tatanan rambut yang berantakan itu menggeram penuh amarah.

Kesal dengan tingkah Hye Hoon yang pura-pura tegar, Young Tae pun bangkit dari kursi kayu yang didudukinya lalu menyeret paksa tubuh ringkih Hye Hoon ke tiang terdekat dari tempatnya. Hye Hoon tak memberikan perlawanan sedikitpun tatkala Young Tae mengikat tubuh gadis itu menggunakan tali yang besar dibalik tiang tersebut.

“ Bukankah yang kau inginkan adalah membunuhku, membuatmu puas karena kau telah membalaskan dendammu atas perlakuan ayahku? Kalau begitu, CEPAT BUNUH AKU SEKARANG JUGA”.

Pria itu menepukkan kedua tangannya berkali-kali, menganggap teriakan Hye Hoon adalah sebuah lelucon baginya. Mungkin Hye Hoon sudah tak sabar ingin mati, tetapi Young Tae masih ingin mengulur waktu, ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika gadis itu menjerit kesakitan sebelum ajal menjemputnya dari dunia ini.

Setelah memastikan sanderanya tak akan bisa kabur, Young Tae mengeluarkan pisau lipat yang tersimpan rapi di saku celana jeans yang dipakainya. Dia memainkan benda tajam itu di pipi Hye Hoon, menggores bagian itu sedikit menimbulkan bercak darah yang tersisa di benda itu.

“ Aku ingin bermain-main sedikit sebelum mengirimmu pergi. Kurasa kau cukup kuat untuk menahan rasa sakitnya”.

“ BUNUH AKU SEKARANG!!

Young Tae menggelengkan kepalanya tak setuju, sambil memamerkan seringaian khas seorang kriminal. Mata tajamnya semakin mengintimidasi gadis kecil di hadapannya, tetapi dia kecewa karena Hye Hoon tak terpengaruh sama sekali. Karena itu, dia menggeram kemudian membubuhkan sayatan di lengan atas sampai siku Hye Hoon.

Hye Hoon meringis, menahan denyutan nyeri yang berasal dari bagian pipi dan lengannya. Wanita itu menggigit bibir bawahnya sendiri, kala Young Tae dengan sengaja kembali menusukkan ujung mata pisau itu ke perutnya, sehingga rasa sakitnya bertambah berkali lipat. Cairan berwarna merah pekat keluar dari sela luka-luka tersebut, membuat tubuh Hye Hoon semakin melemas karenanya.

Namun, sesakit itu pun Hye Hoon masih belum mengeluarkan teriakan ataupun mengaduh akibat tersiksa. Gadis itu masih diam, menahan rasa sakitnya dengan menggigit bibir bagian dalamnya kuat-kuat.

“ Teriaklah sesuka hatimu. Aku tahu kau kesakitan, Nona manis”.

Tak lama kemudian, Young Tae menggeram marah karena ada suara gebrakan pintu yang mengganggu kegiatannya. Pria itu menatap bengis ke arah Hye Hoon, yang direspon oleh gelengan keras gadis yang tak berdaya itu.

“ LEPASKAN DIA!!”, teriak lelaki itu keras.

Hye Hoon sungguh terkejut ketika dia mengetahui siapa yang membuka pintu tadi. Beberapa pertanyaan muncul di otaknya. Bagaimana lelaki itu tahu? Padahal, dia menyimpan rahasia ini dengan rapat. Tidak ada yang mengetahui tentang perjanjiannya dengan kakak laki-laki dari Shim Changmin itu, sekalipun adiknya.

Kehadiran lelaki itu membuat tekadnya menipis. Dia bahkan ingin melupakan niatnya dan berhambur ke pelukan Kyuhyun saat itu juga.

Young Tae terlihat tak suka dengan kedatangan beberapa orang lelaki yang menginterupsi jalannya eksekusi yang dilakukannya. Seorang lelaki berambut coklat berlari kencang ke arah mereka, dengan amarah yang seakan siap menyerang lelaki asing yang menyakiti gadisnya itu hingga tak bernyawa. Sementara Yong Tae belum pulih dari keterkejutannya, jeritan dari gadis yang disekapnya membuat lelaki itu terkesiap.

TEMBAK AKU SEKARANG!!!”.

Pria itu segera menarik pelatuk dari pistolnya, mengarahkannya kepada bagian kepala dari Hye Hoon untuk segera melaksanakan apa yang ditunggunya selama dia membusuk di balik jeruji besi. Young Tae menutup kelopak matanya, membayangkan senyum tulus adiknya yang selalu membuat suasana hatinya lebih baik dari sebelumnya.

Suara tembakan akibat dari keluarnya sebuah peluru dari sarangnya, mengakhiri kisah mengenaskan tentang kejamnya pembalasan dendam yang terjadi di malam kelam itu.

-END-

Thanks for supporting this fanfic. Aku siap dikeroyok gara-gara ending dan jalan ceritanya yang enggak banget. Tapi inilah ending yg udah aku rencanain dari awal hehe

By The Way, Belum jelas loh siapa yang ketembak disana /ketawaevil/

 

Sorry for typo, grammar, cara penulisan yang buruk, gak dapet feel, kepanjangan, atau yang lainnya. Kemampuan aku hanya segitu, jadi mohon maklum.

Oh ya, apa di NIL part 3 itu bener-bener pada gk ngerti ceritanya? Banyak yang bilang kalo Changmin itu saingannya Kyuhyun, padahal kan disitu udh jelas kalo latarnya di makam Changmin.

Sebenernya sekarang aku lagi dalam masa-masa down, nyadar diri kalau fanfics aku ini gak ada bagusnya sama sekali. Itu salah satu alasan kenapa aku jarang update. Aku bahkan mikir, kalo mendingan aku give up aja gak usah nulis lagi.  Begitulah aku..banyak labilnya hehe

Apalagi kalo udah ngeliat perbandingan stat sama comment yang masuk…Euh, udah deh mood langsung drop seketika.

NIL tamat, tinggal Losing You nih. Gak tau tuh ff kapan bisa rampungnya -__-

186 thoughts on “Not In Love ( Part 4 )

  1. Pingback: Rekomendasi Fanfiction Part 2 | evilkyu0203

  2. What on earth is happening????????
    why????????
    Ya sudahlah memang sudah direncanakan ending nya seperti ini.
    *emangnyagampangbikincerita*
    tapi ini bagus dan sukses bikin penasaran in every part

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s