That I Was Once By Your Side (Part 2)


Author : hyehoonssi

Cast :

Choi Hye Hoon (OC)

Cho Kyuhyun

Lee Donghae

Genre:

Romance, sad

Rating :

PG 15

Kategori : Romance, Sad

Lenght : Chaptered

 

I want to say thanks buat yang kontak aku karena katanya nungguin aku update fanfic lagi, tanpa kalian mungkin aku lebih slow lagi buat bikin fanficnya. Tadinya, udah gak semangat banget buat nulis karena banyak faktor yang ganggu buat aku.

 

Mungkin fanfic ini bukan fanfic yang ditunggu sama kalian dibanding fanfic lainnya. Tapi, aku udah mulai capek nyimpen alur ff ini di otak aku, dan memang udah lama juga part 2 ini kesimpen di draft jadinya ini dulu yang dilanjutin. Keep support yaa^^ RCL sangat dinanti hehehe

 

 

Recommended Song : Cho Kyuhyun – Love dust

 

Hye Hoon’s Point Of View, several months ago

Aku menarik tangan besar yang tak lepas dari genggamanku itu dengan tak sabar untuk segera keluar dari arrival gate.  Kyuhyun sedikit kerepotan karena ulahku, karena harus mendorong trolli dengan tangan kirinya, sedangkan beban dari keranjang itu pun sangat berat.  Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling, menemukan banyak sekali gadis-gadis seumuranku menatap ke arah kami.  Baiklah, harus kuakui bahwa namja yang berjalan disampingku ini terlihat mempesona dengan jaket kulit dan kacamata hitam yang bertengger di tulang hidungnya yang tinggi.  Aku mencondongkan tubuhku lebih merapat dengannya, memberikan kesan posesif yang tumbuh dalam diriku untuk mencegah gadis lain menatapnya.   Aish, seharusnya aku memakaikan topi agar wajah Kyuhyun tak terlihat oleh mata nakal gadis-gadis genit itu.

 

“Jadi, kita kemana sekarang?”, tanyaku manja.  Aku tahu ini tak akan berhasil untuk membuatnya luluh untuk mengabulkan permintaanku, karena di pesawat saja dia sering mengomel karena permintaanku yang bertentangan dengan tujuan utama kita pulang kembali ke negri ini.

 

“ Kita sudah dijemput oleh Tuan Kang, Nona Choi.  Berhentilah memaksaku untuk mengantarmu ke kedai sushi kesukaanmu itu.  Kita masih punya banyak waktu di Seoul.  Jadi, lain kali kita kesana, hmm?”

 

Aku hanya bisa menghembuskan nafasku kasar, serta memaki dalam hati lelaki keras kepala ini karena tak mau untuk mengabulkan keinginanku.  Apapun yang kulakukan, aku tak akan bisa menyanggah perintah apapun dari lelaki itu.  Lagipula, tubuhku sudah merasa lemas karena perjalanan kami yang menghabiskan waktu selama belasan jam.  Ya, benar katanya.  Masih ada banyak waktu untuk mengunjungi tempat-tempat kesukaanku itu.  Lagipula, jadwal kepulanganku ataupun Kyuhyun pun masih belum dipastikan, karena cuti yang diambil oleh kami pun sepertinya diambil dengan jangka waktu yang lama.

 

Pintu mobil sedan berwarna hitam itu pun terbuka, setelah Tuan Kang mempersilahkan kami berdua masuk dari ujung pintu.  Aku pun memasuki mobil itu sendirian karena Kyuhyun membantu Tuan Kang untuk mengemasi koper-koper besar milik kami ke dalam bagasi. 

 

Aku menarik sudut bibirku ke belakang saat melihat-lihat keadaan Seoul yang tentu saja sangat berbeda dengan keadaan tiga tahun lalu.  Memang, setelah kami pindah ke Spain, aku tak pernah sekalipun kembali ke Korea, begitu pula dengan Kyuhyun. Kami sepertinya terlalu menikmati kehidupan kami disana sehingga enggan untuk cepat-cepat kembali ke tempat asal kami.

 

“ Kau bahagia, sayang?  Uh, jika aku tahu kalau kau akan benar-benar senang disini, aku akan segera membawamu pergi dari bule-bule bermata kucing yang selalu menggodamu itu.  Setidaknya jika disini, jika ada orang pribumi yang menggodamu, mereka pasti akan takut pada Appa-ku.  Aku akan memintanya untuk menuntut siapapun yang mendekatimu”.

 

Aku hanya tertawa geli mendengar ocehannya, sama sekali tak berminat untuk menanggapi keluhannya yang sudah kesekian kali dia sampaikan.  Kyuhyun termasuk tipe pacar yang pencemburu, terbukti dari sikapnya kepada beberapa teman pria-ku yang sangat ketus, bahkan tak jarang dia melemparkan pukulannya jika temanku itu keterlaluan menurutnya. 

 

Pandanganku teralih menuju jendela luar lagi.  Aku takut jika membahas hal ini terus menerus, bisa membuat kami bertengkar sepanjang waktu, padahal aku sangat ingin sekali berjalan-jalan di Seoul dengannya.

 

Aku menyipitkan mata, ketika menyadari bahwa mobil itu melaju bukan ke arah rumah Kyuhyun ataupun rumahku.  Ingatanku pun melayang pada sebuah panggilan yang kuterima sehari sebelum keberangkatan kami ke Korea.  Kyuhyun pun terkejut dengan permintaanku untuk segera kembali, tanpa menanyakan alasannya, karena toh aku juga benar-benar tak tahu mengapa orang itu menyuruhku untuk segera kembali.

 

“ Tuan Kang, kau akan membawa kita kemana?”, tanyaku penasaran.  Tuan Kang terdiam, seakan menulikan telinganya tanpa menjawab sepatah kata pun.  Kyuhyun memandangku heran, begitu mengetahui ada sesuatu yang tidak beres dengan kepulangan kami ini.  Aku hanya menggedikkan bahuku pelan menanggapinya, sebagai tanda jika aku juga tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

 

***

“ Saya senang anda datang, Agashi”.

 

Seorang lelaki paruh baya yang sejak kecil kukenal itu pun berwajah sumringah ketika melihat kedatangan kami. Beliau membungkukkan badannya cukup lama, membuatku berpikir sepertinya kedatanganku ini sangat berarti baginya.

 

“ Apa yang terjadi, Tuan Kim? Mengapa kau menyuruhku untuk segera pulang? Apa ini ada hubungannya dengan…”

 

“ Saya meminta maaf, Agashi. Saya sudah tak tahu lagi harus berbuat apa untuk menyelamatkan Tuan Muda. Hanya ini jalan terakhir yang saya pikir akan berhasil, mengingat Tuan Muda yang seringkali menanyakan anda”.

 

Tubuhku limbung. Aku tak siap mendengarnya. Kemungkinan besar, berita yang disampaikan orang kepercayaan keluarga Lee sejak bertahun-tahun lalu itu adalah sesuatu yang buruk. Aku mengeratkan genggaman tanganku pada lelaki yang terlihat sama khawatirnya denganku.

 

Tentu saja kami sama-sama cemas, hal ini dipastikan menyangkut orang terdekat kami.

 

“ Tuan Muda menolak untuk menjalani pengobatan. Dia sudah kehilangan keinginan untuk hidup. Bisakah anda menolongnya, Agashi?”

 

Tuan Kim terlihat sangat putus asa. Dia menjatuhkan tubuhnya, dan berlutut di hadapanku. Aku melirik ke arah Kyuhyun, lelaki itu juga terlihat sangat tertekan dengan keadaan ini. Kami tidak bodoh. Kami tentu tahu apa maksud dari perkataan Tuan Kim tersebut.

 

Dia…memintaku untuk mendampingi Lee Donghae, menjadi seseorang yang selalu berada di sisi lelaki itu. Dan untuk mengabulkan hal itu, tentu saja aku harus meninggalkan Cho Kyuhyun.

 

Sebelum otakku mencerna kenyataan yang kuterima dengan paksa itu, aku terlebih dahulu dikejutkan oleh suara debuman yang berasal dari lantai akibat dari gerakan Tuan Kim  yang tak melawan berat bumi dengan mendudukkan dirinya di lantai. Posisinya yang memohon seperti itu membuatnya mengetahui jika lelaki paruh baya itu sangat terpukul dengan apa yang terjadi pada lelaki yang sangat disayanginya layaknya anak kandungnya sendiri itu sekarang.

 

“ Kumohon, Nona. Aku tak ingin Tuan Muda menyiakan hidupnya karena merasa bahwa tak ada yang menginginkannya di dunia ini. Kaulah satu-satunya alasannya untuk hidup. Tolong kembalikan semangat hidup Tuan Muda untuk menghadapi penyakitnya agar dia mau menjalani pengobatan yang selama ini diabaikannya. Aku bersedia melakukan apapun untuk membalas budi Anda. Agashi….”

 

Kyuhyun menatapku penuh arti, dengan mata lembutnya yang seperti biasanya membiusku sehingga aku tak bisa melawan. Aku tahu kemana arah dari pembicaraan ini. Dan aku tak sanggup untuk itu. Aku mengetatkan kepalan tanganku yang terlindung oleh tangan besar Kyuhyun, sambil menatap lelaki itu penuh rasa iba.

 

“ Dia akan melakukannya. Dia akan menjadi alasan Donghae hyung untuk tetap hidup. Kau tak perlu melakukan apapun untuk membalasnya, Tuan. Ini semua sudah kewajiban kami untuk menjaganya”.

 

***

 

No one’s point of view, back to present.

 

Gadis itu tak bergeming, walaupun tubuhnya sudah basah kuyup karena air hujan yang membasahinya. Dia tetap berdiri tegak di posisinya semula, membiarkan rintik-rintik cairan bening yang berasal dari langit itu membawa airmatanya mengalir menapaki tanah.

 

Dia sudah terlalu lelah menangis, meratapi kebahagiaannya yang terenggut paksa dari hidupnya.

 

Biarkan kali ini dia membiarkan emosinya keluar, mengobati rasa sakit yang diderita hatinya dengan menyakiti dirinya sendiri. Wajahnya yang lesu kembali menunduk, melihat bungkusan yang masih tersimpan baik di genggaman tangannya. Sebuah benda kecil dalam kotak yang sebenarnya sangat enggan untuk diberikannya kembali kepada pemiliknya.  

 

Bayangan sosok seorang lelaki yang ditungguinya tertangkap oleh ujung matanya. Lelaki itu keluar dari mobilnya dengan tanpa menggunakan apapun untuk melindungi tubuhnya dari air hujan. Dia berjalan dengan tempo pelan, tak takut jika jas mahalnya basah dan rambutnya tergenang air yang menerpa tubuh sempurnanya.

 

Hye Hoon menatap lelaki itu sendu. Menyambut sosoknya dengan tetap berdiri di tempatnya tadi sambil memandanginya. Berbagai kata luapan emosinya yang disusun di otaknya rapi lenyap begitu saja ketika melihat kondisi Kyuhyun yang tak jauh beda dengannya.

 

He feels that way, too. He was broken like her.

 

Kyuhyun menajamkan penglihatannya, tak mempercayai apa yang tergambar dari mata hitamnya. Melihat gadis yang begitu dicintainya berada dalam jarak pandangnya membuat dirinya senang, sekaligus merasakan takut teramat sangat yang membuat dadanya sesak.

 

Katakan dia pengecut, namun dia tak sanggup bersikap baik-baik saja di hadapan gadis itu, untuk saat ini.

 

Jarak keduanya semakin terpangkas. Kyuhyun mempercepat langkah sepasang kakinya, khawatir jika gadis itu akan kesakitan karena tubuhnya yang dingin. Sebelum tangannya berhasil menarik Hye Hoon ke dalam rumah yang ditinggalinya, gadis itu lebih dulu menarik dirinya ke dalam sebuah pelukan yang sarat akan kepedihan.

 

Isakan pilu itu berhasil membuat lidahnya kelu. Dia bahkan melupakan fakta bahwa mereka sudah basah kuyup karena air hujan yang dengan derasnya membasahi tubuh keduanya. Lelaki berambut coklat itu tak melarang maupun membalas pelukan Hye Hoon. Dia hanya diam, seperti robot yang tak berfungsi karena mesinnya rusak.

 

“ Aku membencimu, Cho Kyuhyun. Kau pikir kau bisa seenaknya memanfaatkan cintaku padamu? Aku bahkan tak tahu bagaimana caranya hidup tanpamu. Kenapa kau tidak membunuhku saja? Kenapa kau lebih memilih untuk membunuh hatiku daripada membunuh ragaku? Wae?? Bunuh saja aku, Kyuhyun~ah. Percuma aku bisa menghirup nafas tapi nyatanya hatiku sudah tak ingin menawar semua rasa sakit ini lagi”

 

Ultimatum itu membuat dada Kyuhyun terasa terhimpit. Sesak sekali. Dia harus mendengarkan jika gadis yang selalu ada dalam pikirannya itu tak bisa hidup tanpanya. Mungkin, jika keadaannya lain dia akan melompat kegirangan. Mungkin jika keadaannya lain dia akan membawa gadis itu dalam pelukannya yang erat tanpa berniat melepaskannya.

 

Tapi, untuk sekarang, bahkan dia merasa tak pantas untuk membalas dekapan gadis itu.

 

Kyuhyun bersyukur, setidaknya air yang mengalir membuatnya tak harus melihat atau merasakan cairan bening yang tak henti mengalir dari mata indah yang selalu dipujanya. Atau setidaknya dia juga bisa menyembunyikan air matanya sendiri di balik hujan yang melingkupinya.

 

Appo, Kyuhyun~ah. Appo. Aku ingin mati. Aku ingin mati agar hati ini tak merasakan perih itu lagi. Ini menyiksaku, Kyuhyun~ah. Aku sudah tak sanggup lagi hidup dengan hati yang sudah tak utuh seperti ini. Aku ingin membuang hatiku agar rasa sakit ini menghilang. Aku egois, bukan? Bunuh aku, Kyuhyun~ah. Jebal”.

 

Gadis itu masih larut dalam tangisan hebatnya. Pita suaranya seakan tersendat, namun begitu lancar mengucapkan kata-kata yang membuatnya tak berkutik. Apakah sakitnya sedalam itu, sampai gadis itu putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya? Apakah sesakit itu sehingga gadis itu lebih memilih mati daripada merasakan pedihnya?

 

Sejujurnya, perasaannya lebih sakit daripada itu. Hatinya lebih remuk, lebih hancur, serta lebih tersiksa dibandingkan dengan yang dirasakan gadis itu. Namun, dia harus bertahan agar gadis itu juga bisa bertahan dengan keadaan yang membuat keduanya mengalami hal yang sama.

 

“ Aku tak sanggup, Kyuhyun~ah. Aku tak sanggup membayangkan hidupku tanpamu nantinya. Aku mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu”.

 

Pegangan gadis itu di pinggangnya mulai mengendur, menyadarkan Kyuhyun bahwa tubuh gadis itu sudah terlalu lemah untuk menopang berat badannya sendiri. Diangkatnya tubuh mungil itu dalam gendongannya, membawa tubuh basah keduanya masuk ke rumah yang ditinggalinya.

 

Aku juga mencintaimu. Aku akan selalu mencintaimu.

 

***

 

Setelah membaringkan Hye Hoon di ranjangnya, segera dia hendak keluar dari kamar pribadinya itu. Dia hendak memanggil Han Ahjumma, salah seorang tetangganya, untuk membantunya mengganti baju Hye Hoon yang basah. Gadis itu akan sakit jika memakai baju yang kehujanan itu untuk tidur.

 

Kajima. Jangan tinggalkan aku, Kyuhyun~ah”, lirih gadis itu pelan. Siapapun yang mendengar kata-kata gadis itu pasti dapat mengetahui apa yang ada di benak gadis itu sekarang.

 

“ Hanya sebentar, aku akan kembali secepatnya”, ucapnya singkat.

 

Hye Hoon menggelengkan kepalanya berulang kali dengan cepat. Tangannya masih memegang erat pergelangan tangan Kyuhyun, melarangnya pergi. Matanya terasa basah oleh air mata yang tak henti mengalir, begitu pula dadanya yang kembang kempis karena bernapas pun rasanya sangat sulit.

 

“ Kau bisa mati kedinginan Hye Hoon~ah”, katanya penuh dengan rasa khawatir.

 

Gadis itu meresponnya dengan gumaman lirih, yang membuat siapapun yang mendengarnya pasti tahu jika keadaan gadis itu sudah sangat hancur lebur tanpa sisa. “ Peluk aku. Aku akan merasa hangat jika memelukmu”

 

Entah apa gerangan yang membuat Kyuhyun mematuhi perintah gadis itu. Dia melepas alas kakinya, dan berbaring di samping Hye Hoon yang dengan gerakan cepat menghamburkan diri ke pelukannya. Gadis itu benar. Seketika rasa dingin yang dirasakannya menghilang begitu saja karena tubuh mereka bersentuhan. Ada rasa hangat yang membuatnya nyaman, yang telah lama tak dirasakannya.

 

“ Apakah aku harus menikah dengannya? Katakan…Apakah aku harus menikah dengan Lee Donghae, Kyuhyun~ah?”

 

Tidak, Kau tidak boleh menikah dengannya. Kita akan melangsungkan pernikahan tahun ini seperti janji yang kita buat di Spain  dulu. Itu kalimat yang harusnya diucapkannya, jujur katanya yang muncul dari dalam hatinya.

 

Dengan menyakiti lelaki lain yang lebih membutuhkan gadisnya?

 

Kyuhyun sangat mengerti, dia bukanlah sesosok malaikat yang dikirimkan Tuhan ke bumi untuk menebar kebaikan bagi manusia. Dia juga bukan insan yang dapat dengan mudahnya mengorbankan cinta beserta kebahagiaannya untuk orang lain.

 

Bibirnya bergetar, mengisyaratkan jika dia tak sanggup menjawab pertanyaan gadis itu dengan cara yang benar. Dia bahkan harus memicu paru-parunya agar bekerja ekstra keras untuk memompa udara yang seakan kosong di dadanya. Beberapa saat kemudian, kalimat laknat itu muncul begitu saja dari bibirnya yang masih bisa menyunggingkan sebuah senyuman, walaupun terasa masam.

 

“ Kau harus menikah dengannya. Apakah aku terdengar memaksamu? Jika ya, maafkan aku. Aku tak pernah ingin menentukan jalan hidup seseorang diatur dari mulutku, namun kali ini aku ingin melakukannya. Dia membutuhkanmu, bahkan bisa mati tanpamu. Kaulah hidupnya, kau adalah segalanya baginya. Jangan kecewakan dia, Hoon~ah. Kumohon”.

 

“ Lalu apa arti diriku bagimu, Kyuhyun~ah? Apa artinya kebersamaan kita selama ini? Apa sebegitu tak pentingnya hingga kau rela membuangku begitu saja?”, tanya gadis itu retoris. Yang Kyuhyun lakukan hanya bisa diam, menahan tangisnya sendiri ketika mendengar perkataan dari gadisnya yang rapuh.

 

Kyuhyun mensejajarkan wajah mereka yang berhadapan, mengamati keadaan Hye Hoon yang tak jauh beda dengan dirinya. Keduanya basah oleh air mata, disertai dengan bibir yang bergetar karena kedinginan sekaligus menahan isak tangis, terlalu menyiksa batin keduanya. Tak pernah dibayangkannya akan menyakiti gadis itu sedalam ini. Tak pernah terlintas sekalipun di benaknya untuk membuat orang yang paling dicintainya itu menangis pilu karena ulahnya.

 

“ Mianhae, Hye Hoon~ah. Tapi, untuk saat ini kau hanya masa lalu bagiku. Bisakah kau menganggapku hanya kenanganmu juga? Demi apapun, sebentar lagi kau akan menikah dengan hyung-ku. Tolong lupakan aku. Aku bukan orang yang berhak dicintai olehmu”.

 

Hye Hoon menggerakkan kepalanya ke samping berulang kali, menunjukkan penolakan atas apa yang diperintahkan oleh Kyuhyun. Gadis itu memutus kontak mata yang terhubung diantara keduanya, lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang lelaki yang sangat dicintainya itu. Hye Hoon kembali mendengungkan lirihan pelannya, yang kata-katanya membuat Kyuhyun membeku di tempatnya karena kalimat itu seakan mengembalikan kesadaran Kyuhyun bahwa lelaki itu adalah orang yang telah menjadi sumber kehancuran hidup gadis itu.

 

“ Aku ingin melupakanmu, menghapus semua memori tentangmu dari pikiranku. Tapi, aku tak pernah berhasil melakukannya. Untuk saat ini dan seterusnya, biarkan aku mencintaimu dalam diam. Aku berjanji, aku akan menjadi istri yang baik untuknya. Aku akan melakukan semuanya untukmu, Kyuhyun~ah”.

 

***

 

Elusan pelan di keningnya menyebabkan Hye Hoon terbangun dari tidur lelapnya. Sinar matahari yang menelusup di sela kelopak matanya yang sedikit terbuka menandakan jika hari sudah beranjak siang. Hye Hoon merasakan jantungnya berdegup lebih kencang, mengantisipasi pemandangan yang akan menantinya ketika dia berhasil membuka matanya.

 

Hye Hoon terlalu merindukan saat-saat kebersamaan mereka berdua yang dalam masa lalunya sangat sering karena mereka pernah tinggal bersama.

 

Kyuhyun kembali menorehkan luka baru untuknya lagi. Itulah hal pertama yang ada dibenaknya ketika menangkap sosok lain yang menyentuh wajahnya dengan hati-hati. Tak berbeda seperti masa yang lalu, dia pun segera menyembunyikan rasa kecewanya dengan menarik kedua sudut bibirnya, menyunggingkan senyuman yang manis hanya untuk calon suaminya.

 

“ Apa keadaanmu sudah membaik? Kenapa kau tidak meneleponku saja untuk mengantarmu ke apotik daripada berjalan sendiri seperti itu, hmm? Aku sangat khawatir saat mendengar jika kau pingsan di tempat asing. Untung saja ada orang yang bersedia menghubungi Kyuhyun untuk membawamu pulang. Kalau tidak, bagaimana jadinya? Aku takut ada orang jahat yang menyakitimu, sayang”, ujar lelaki itu dengan raut wajahnya yang terlihat sangat cemas.

 

Hye Hoon tak mendengar dengan baik kata-kata selanjutnya yang terucap dari lidah lelaki yang menggenggam tangannya kini. Pandangannya yang penuh rasa tak percaya itu ditujukannya kepada seseorang yang terduduk di kursi kerjanya.

 

Haruskah lelaki itu menghancurkan harapan kecilnya begitu saja yang ingin menghabiskan sisa waktunya bersama lelaki itu, dengan mengundang tunangannya pagi-pagi sekali ?

 

Dia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa mulai detik ini dia takkan pernah mengharapkan sesuatu Kyuhyun yang akan membuatnya terhempas ke dasar jurang lagi, seperti sebelumnya. Hye Hoon akan menjalankan skenario tanpa kertas yang ditulis Kyuhyun untuk menjalani masa depannya.

 

Hye Hoon melingkarkan tangannya manja di bahu Donghae dengan senyuman lemah yang tak lepas dari bibirnya. Dia mengecup bibir lelaki itu singkat, dan ujung matanya menangkap ekspresi Kyuhyun yang berubah.

 

“ Berhenti mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja, karena Kyuhyun membawaku tepat waktu. Hmm, aku berjanji tidak ada lagi cerita lain tentang tubuhku yang tergeletak di pinggir jalan”, ucap yeoja itu dengan nada yang terdengar seperti ejekan bagi Kyuhyun. Satu tusukan lagi kembali menghantam jantung lelaki yang menatap nyalang ke arah sepasang sejoli itu. Nafasnya mulai memendek, apalagi ketika melihat jika jarak pasangan itu sangat dekat sehingga Donghae mendaratkan kecupan balasan di bibir gadis itu.

 

“ Kurasa aku sudah banyak merepotkan Kyuhyun. Bagaimana kalau sekarang sampai beberapa hari ke depan menjadi giliranmu untuk merawatku sampai sembuh? Kau tak keberatan, Oppa?”, ucapnya lagi dengan kalimat manja. Donghae tersenyum senang, kemudian menambahkan respon positifnya dengan sebuah anggukan ringan dari kepalanya.

 

“ Kau bisa tinggal di rumahku selama apapun yang kau mau. Ahh, aku menjadi semakin tidak sabar untuk menjadikanmu Nyonya di rumahku. Pasti akan sangat menyenangkan”.

 

Kyuhyun mengulum senyum mendengarkan ungkapan bahagia dari seorang lelaki yang sangat dihormatinya itu. Tak diragukan lagi, kesehatan Donghae yang semakin membaik tentu saja disebabkan oleh kebahagiaan yang didapatnya kian memuncak.

 

Dan bersamaan dengan hal itu, neraka hidupnya tersulut semakin panas sampai membakar habis dadanya. Bahkan air matanya pun terasa sulit dikeluarkan untuk menawar rasa sakitnya.

 

Sepertinya rasanya lebih sakit daripada rasa saat dicabut nyawa sekalipun.

 

***

 

“ Hei, beraninya kau minum tanpa mengajakku. Kau takut jika aku menghabiskan wine mahalmu itu, huh?”. Hye Hoon meletakkan tangannya di pinggangnya sendiri, memarahi dirinya dengan bibir merah muda gadis itu yang mengerucut sehingga bukannya merasa takut, Kyuhyun malah menganggapnya lucu. Gadis itu terlihat seperti anak kecil yang merengek karena tak diajak bermain oleh sahabatnya. Baiklah, sepertinya dari sejak berumur tujuh tahun pun Kyuhyun sudah terbiasa menerima perlakuan yang sama dari gadis itu. Tapi tetap saja, dia tetap menyukai ekspresi Hye Hoon yang tak berubah dari saat gadis itu berusia balita hingga sekarang.

 

Tanpa meminta izinnya terlebih dahulu, yeoja itu dengan memasang muka innocentnya mengambil gelasnya lalu menggoyang-goyangkannya. Karena isi dari gelas itu sangat sedikit, Hye Hoon pun menuangkan isi dari botol di meja itu sampai hampir penuh. Alis Kyuhyun terangkat saat mengamati gelas kaca itu malah disodorkan padanya. Mengerti maksud kekasih hatinya itu, Kyuhyun menarik kedua sudut bibirnya simetris, sembari memamerkan seringaian andalannya. Dia mengesap minuman itu sedikit, kemudian mengembalikan benda itu ke tangan gadisnya.

 

Awalnya, Kyuhyun merasa keberatan dengan kebiasaan aneh Hye Hoon yang selalu ingin dirinya mencicipi minuman beralkohol itu terlebih dahulu sebelum gadis itu menikmatinya. Entah sejak kapan kebiasaan itu terjadi. Ketika ditanya mengapa, Hye Hoon menjawab dengan santai bahwa rasa wine tersebut terasa lebih manis di lidah gadis itu jika Kyuhyun terlebih dahulu mengecapnya. Selain itu, Hye Hoon suka dengan bekas bibir Kyuhyun yang menempel di badan gelas, yang mengingatkannya pada indirect kiss yang sering ditemuinya di film-film romantis.

 

“ Aku tahu jika wajahku ini sangat cantik. Tapi, melihatmu tersenyum konyol ketika menatapku membuatku berpikir, apakah aku secantik itu sehingga membuat matamu silau?”, ujar gadis itu sembari larut dalam tawa renyahnya.

“ Tak ada yang salah memandangi yeojachingu-ku sendiri, kan? Lagipula, apakah kau lebih memilih aku untuk memperhatikan wanita-wanita yang mengejarku untuk memintaku menjadi pacar mereka lagi? Kau pasti akan menghajarku habis-habisan jika hal itu terjadi. Jadi, biarkan aku menikmati wajah satu-satunya wanita yang kumiliki saat ini”.

 

Rona merah muncul begitu saja di pipi gadis itu. Kyuhyun dapat merasakan tubuh Hye Hoon menghangat ketika dia mengatakan kalimat terakhirnya. Bagi seorang yang di cap sebagai player seperti Kyuhyun, mungkin bukanlah hal yang sulit untuk mengungkapkan hal-hal semacam itu.

 

But for this time, He really means it. He love her with all his heart.

 

Kyuhyun mengulurkan tangannya, mencoba menjangkau wajah Hye Hoon yang memerah yang menggodanya untuk segera menyentuh gadis itu. Akan tetapi, sebelum kulit keduanya bersentuhan, terlebih dahulu sosok itu menghilang dari pandangannya.

 

Akhirnya, lelaki itu menyadari jika yang terjadi itu hanya kilasan memorinya yang merangsek masuk ke dalam bunga tidurnya. Ataukah efek alkohol yang diteguknya banyak-banyak itu memberikan imajinasi yang berlebihan, yang membuat dirinya semakin berharap untuk kembali ke masa lalunya, masa lalu yang sedang mati-matian dilupakannya?

 

Dia menyentuh dadanya, dimana letak hatinya yang sudah retak itu berada. Sakitnya belum juga reda, bahkan semakin bertambah parah setiap detiknya. Lelaki itu memukul keras dadanya sendiri berkali-kali, menambah perih rasa kesakitan yang dideritanya.

 

Tangannya meraba kalung yang baru beberapa hari saja dipakainya, menggenggam sebuah cincin yang menjadi penghias benda perak yang menggantung di lehernya itu. Air matanya luruh begitu saja, mengingat jika benda itu adalah benda yang sama pernah bertengger di jari manis gadisnya. Dia menemukan cincin itu di balik kotak kecil yang digenggam erat Hye Hoon ketika terlelap di pelukannya.

 

Gadis itu sudah mengembalikannya ikatan diantara mereka, seperti halnya dia yang telah menarik kembali hatinya.

 

“ Jangan pergi dariku, Hye Hoon~ah. Mianhae. Maafkan aku karena menciptakan garis hidup yang tak pernah diinginkanmu. Aku mencintaimu sampai kapanpun”.

 

***

 

Ahra meredam isak tangisnya dengan telapak tangannya, tatkala dengan mata kepalanya sendiri serta dengan telinganya sendiri dia menyaksikan keterpurukan adiknya. Kyuhyun selalu pandai menyembunyikan kesakitannya selama ini. Jika biasanya lelaki itu melampiaskannya dengan membawa gadis yang dengan sukarela menghibur Kyuhyun untuk dipermainkannya, namun kali ini jauh berbeda dengan apa yang sering dilihatnya.

 

Jika disuruh untuk memilih, Ahra lebih lega jika melihat Kyuhyun memuaskan hatinya dengan menghancurkan hati berapapun wanita yang dengan terang-terangan mengejarnya, bukan menyaksikan Kyuhyun hancur dengan botol-botol minuman memabukkan itu berserakan di sekitar tubuh saudara kandungnya itu.

 

Wanita cantik yang berusia dua tahun di atas Kyuhyun itu meraih sebuah kertas tebal berwarna merah tua dengan pita cantik yang menghiasinya. Dia merapikan helaian rambut yang menghalangi penglihatannya ke belakang telinga, kemudian dengan seksama membaca apa isi dari kertas tersebut.

 

It’s a wedding invitation.

 

Mengenai perasaan Kyuhyun saat ini, Ahra sangat mengerti. Dialah satu-satunya orang yang menjadi saksi akan kisah cinta antara kedua orang yang bersahabat dekat itu. Bahkan, wanita itu mengetahui tentang perasaan Kyuhyun terlebih dahulu sebelum adik bodohnya itu menyadari perasaan lebih yang dipendamnya kepada gadis bernama Choi Hye Hoon.

 

Ahra sangat bahagia ketika Kyuhyun mengabarinya jika mereka sudah bersama, karena akhirnya adiknya yang keras kepala itu berani mengakui perasaannya.

 

Lalu mengapa sekarang keduanya berpisah, dan dengan teganya Hye Hoon menyakiti adiknya dengan menikah dengan seorang yang sangat dekat dengan mereka berdua?

 

“ Kyuhyun~ah, apa yang terjadi padamu?”, tanyanya lirih. Dia tetap bertanya walaupun dia sendiri tahu jika tak mungkin Kyuhyun menjawab pertanyaan apapun yang diajukannya pada adiknya itu karena yang dia tahu, Kyuhyun sangat mabuk akibat dari menegak beberapa botol wine itu sampai isinya kosong.

 

***

 

Kepalanya terasa sangat berat, itu yang dirasakannya ketika membuka matanya pagi ini. Apalagi setelah dia memaksakan dirinya untuk merubah posisinya menjadi duduk di atas sofa yang sejak tadi malam tak ditinggalkannya. Cahaya lampu yang berganti dengan sinar dari bintang terdekat dengan bumi itu pun memberinya clue bahwa hari sudah pagi.

 

Dia mengaduh kesakitan, merasakan kepalanya semakin berputar saat dirinya mencoba tegak dari posisi duduknya. Kakinya yang menyentuh lantai menjadi limbung, membuatnya harus berpegangan kepada pinggir sofa untuk membantu menyeimbangkan tubuhnya.

 

Noona?”, sahutnya kaget tatkala mata hitamnya menangkap sosok wanita yang sejak lama tak ditemuinya. Jarak mereka yang terlampau jauh membuat keduanya tak bertemu sejak lama sekali. Walaupun begitu, komunikasi yang terjalin diantara saudara kandung itu sama sekali tak terhambat sehingga keduanya masih sama seperti dulu, saling memahami satu sama lainnya.

 

Ahra mendekat kemudian menghamburkan diri ke dalam pelukan Kyuhyun. Tubuh Kyuhyun yang terlihat lemah itu membuatnya dengan tanpa sadar menitikkan air mata. Bukan karena rasa rindu yang memuncak cairan bening itu keluar, tapi dengan melihat kondisi Kyuhyun yang juga membuat hatinya sakit membuat gadis itu tak bisa lebih lama menahannya. Dia mengangkat tangannya, menggunakan punggung tangannya mengusap cairan yang membuat matanya basah.

 

“Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Ayo makan”, ajaknya singkat. Dia tak ingin merusak suasana untuk memborbardir Kyuhyun dengan pertanyaannya yang pastinya akan membuka luka hati yang dipendam adiknya tersebut. Lebih baik dia menyimpannya sampai tenaga Kyuhyun kembali pulih, dengan itu Ahra bisa menghakimi adiknya dengan leluasa.

 

“ Noona, sampai kapan kau akan menghidangkan makanan asin seperti ini? Kukira setelah kau pindah ke Aussie kau tak akan menambahkan banyak garam pada makananmu lagi. Pantas saja, tak ada yang mau menikah denganmu”, ejek Kyuhyun dengan memasang wajah paling menyebalkannya. Dia telah membereskan acara makan paginya dengan menghabiskan semangkok chicken soup buatan kakak perempuannya. Dan dengan tanpa terima kasihnya, lelaki itu malah melontarkan caciannya karena masakan kakaknya yang terasa asin di lidahnya.

 

Tanggapan yang diberikan  Ahra berbeda dari yang biasa dilakukan gadis itu dulu. Jika beberapa tahun lalu ketika mendengar komentar pedas dari namja itu Ahra akan mengejar Kyuhyun sampai mereka berdua kelelahan. Kali ini, anak sulung dari keluarga Cho itu melayangkan tatapan sinis sekaligus menyelidik yang membuat Kyuhyun lebih merasa ketakutan.

 

“ Aku belum menikah karena belum menemukan orang yang tepat untuk mendampingimu. Setidaknya, aku lebih baik daripada seseorang yang hancur karena wanita yang sangat dicintainya menikah dengan lelaki lain. Aku lebih beruntung, bukan?”.

 

Wajah Kyuhyun berubah warna, sebagai akibat dari darahnya yang berdesir cepat mendengar kata-kata menyakitkan yang terucap dari bibir wanita itu.  Detik kemudian rasa bersalahnya muncul begitu saja tatkala mendengar isakan kecil dari Cho Ahra. Apakah setelah ini Kyuhyun menyakiti perasaan kakaknya juga? Setelah dia, menyakiti wanita yang merupakan satu-satunya cinta di hidupnya?

 

“ Darimana kau tahu, Noona? Aku tak hancur seperti yang kukatakan. Aku yang memilih untuk meninggalkannya, setelah itu kita selesai”, ucapnya santai. Lidahnya berkelit dari apa yang diperintahkan otaknya untuk membeberkan semuanya dihadapan Ahra. Biarlah wanita itu tak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi. Dia tak ingin kakaknya yang sedikit nekat itu melakukan sesuatu yang akan menghancurkan semuanya.

 

Geotjimal! Jika itu benar, lalu apa yang kulihat tadi malam itu hanya ilusiku saja? Kau memanggil namanya dengan nada tersiksa, berulang kali menyampaikan permintaan maafmu padanya. Katakan, apakah dia mencampakkanmu demi Lee Donghae?”, bentaknya. Cho Ahra tak menuduh gadis itu mempermainkan adiknya, namun dari bukti yang dia temukan, wajar saja jika dia menyimpulkan demikian.

 

“ Kau salah, Noona. Aku yang menyakitinya. Aku yang mengusirnya dari kehidupanku, sehingga dia bisa hidup dengan lelaki yang sama sekali tak diinginkannya. Bukankah adikmu ini adalah orang yang jahat sekali? Aku membunuh perasaannya, Noona. Aku menyakitinya hingga ke urat nadinya sehingga dia menginginkan kematian. Jangan pernah menyalahkannya, karena aku yang membuat semuanya menjadi seperti ini”.

 

Ahra merasakan dadanya semakin sesak setelah pengakuan yang terlontar dari bibir adik kesayangannya. Kyuhyun terlihat sangat tersiksa dengan sesuatu yang dilakukannya sendiri. Dia merasakan sakit yang lebih karena dia harus menyaksikan orang yang dia cintai terluka karena ulahnya sendiri.

 

“ Kau akan melepasnya begitu saja? Sadarlah, Cho Kyuhyun. Kalian saling mencintai. Apa gunanya melepasnya untuk orang lain jika kau bisa memilikinya untukmu sendiri? Pikirkan kembali perkataanku, Kyuhyun~ah. Jangan biarkan orang lain merebut sumber kebahagiaanmu begitu saja”.

 

-TBC-

 

Enggak banget ending part ini sebenernya, gak ada gregetnya karena ceritanya biasa aja. Kayaknya gak bikin penasaran juga untuk part selanjutnya. Mungkin kalian bisa pikirin aja, apa yang akan dilakuin Kyuhyun di part selanjutnya? Semoga bikin penasaran hehe

 

Ini sengaja aku posting sebelum pergi, takutnya kalo udah pulang nanti males buka laptop karena kecapean. Proses editingnya kacau balau karena males banget, maaf kalo banyak typo berserakan. Untuk fanfic lainnya, sabar ya. Aku gak janji sih buat update soon apa gimana, tapi aku akan berusaha buat menuhin hutang fanfics aku sampe liburan panjang aku berakhir.

 

RCL are highly appreciated^^

 

 

 

 

69 thoughts on “That I Was Once By Your Side (Part 2)

  1. tuh kan bikin penasaran.. kira” kyuhyun bakal cerita ga ya sama ahra?? atau kyuhyun bawa kabur hye hoon gegara tekanan ahra??

  2. Ini mah nyesekk gila , aduh kasian banget si kyu , udah sama gw aja ayo langsung ke altar malah #plakkk , eonni buat kyuhyun sama hyehoon bersatu dong .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s