Son-in-law-to-be


Kelanjutan dari cerita gak jelasku tentang Hye-Kyu yang berlanjut dari cerita-ceritanya yang gak jelas juga. Kali ini, aku bikin fanfic beneran, bukan short fanfic kayak biasanya. It’s a lil smut jadi mohon maaf jika ada yang merasa tak nyaman (?) Oh ya, awalnya juga sungguh gaje jadi malu sendiri pas publishnya. Semoga berkenan atas kegajeanku (?) ya hehe

Enjoy^^

 

 

 

 

Suara gaduh yang disebabkan percekcokan diantara dua anak manusia tersebut mengawali pagi dengan mood mereka yang berubah berantakan. Masalahnya sepele, hanya meributkan siapa yang akan menggunakan kamar mandi terlebih dahulu. Kedua insan tersebut memang sedikit aneh, sikap mereka berdua yang berubah-ubah tak sering menyebabkan keduanya mengalami permusuhan yang panjang.

 

Anehnya lagi, kemarahan tak berujung itu ujung-ujungnya selalu berakhir dengan panas di ranjang.

 

Hye Hoon, dengan mata yang masih sipit tersebut merentangkan kedua tangannya di depan kamar kecil di ruangan pribadi miliknya itu. Kyuhyun melirik gadis itu tak peduli, lalu menyingkirkan tubuh mungil Hye Hoon dalam sekali dorong menimbulkan suara debuman karena tubuh Hye Hoon dengan kasarnya menyentuh lantai.

 

“ Kau jahat! Mana ada seorang lelaki mendorong kekasihnya sendiri hingga jatuh terduduk di lantai seperti ini, Nappeun nom”. Hye Hoon melampiaskan kemarahannya, yang justru terdengar seperti rengekan manja di telinga Kyuhyun. Lelaki itu dengan gerakan ringannya membungkukkan badannya, menarik pelan permukaan pipi gadisnya yang sedikit tembam.

 

Aigoo, uri Hoonnie sedang marah. Apa kau mau permen?”, jahilnya. Kyuhyun menyunggingkan senyum tiga jarinya sambil mengulurkan tangannya, hendak membantu gadis itu bangun.

 

Hye Hoon tidak langsung menerima uluran tangan itu. Wajahnya terlihat lucu karena dia menirukan gaya anak kecil yang sebenarnya masih cocok beraegyo seperti itu. “ Aku tak ingin permen, Ahjussi. Emm tapi, aku ingin melakukan sesuatu padamu. Kau tak boleh membantah, arachi?”

 

Kyuhyun mengangguk semangat mengiyakan tawaran gadis yang sekarang terlihat sangat menggemaskan itu. Hye Hoon pun bangkit kemudian dengan manja menarik tangan besar namja itu masuk ke kamar mandi.

 

Pria itu menurutinya tanpa membantah sepatah katapun. Dia mendelik heran tatkala melihat Hye Hoon menyentuh botol miliknya yang berada di wastafel keramik di kamar mandi apartemen kekasihnya itu. Baiklah, sepertinya dia tahu apa yang akan dilakukan gadis itu selanjutnya.

 

“ Turunkan tubuhmu, Kyu. Kau tak sadar kalau kau tinggi sekali, huh?”, omelnya. Gadis cerewet. Bukan Kyuhyun yang terlalu tinggi sebenarnya, gadis itu saja yang tubuhnya tidak tumbuh ke atas dengan cepat. Tubuh Hye Hoon memang termasuk ukuran pendek untuk ukuran wanita seusianya.

 

Lelaki itu menurutinya tanpa protes, sedikit menggoda Hye Hoon karena dia mendekatkan wajahnya tepat beberapa milimiter di depan wajah gadis itu. “ Cukup?”, ucapnya lembut dengan terselip nada seduktif di dalam perkataannya.

 

Jarak mereka yang terlampau dekat tentu saja menyebabkan jantung Hye Hoon seakan siap melompat dari tempatnya kapan saja. Lelaki ini pasti sengaja melakukannya, desahnya. Dia menghela nafas panjang, mencoba menenangkan tubuhnya yang berontak ingin bereaksi seperti biasanya.

 

“ Terlalu dekat, sayang. Aku ingin mencukur bulu-bulu di sekitar dagumu, bukan menciummu”, sungutnya dengan suara rendah. Ah, gadis itu lupa jika dia belum menyentuh sikat dan pasta gigi pagi ini. Ottokae?

 

Kyuhyun terkekeh pelan kemudian menjauhkan wajahnya dengan jarak yang wajar. Dia mengamati perubahan ekspresi gadis itu yang berubah serius, mengamati bulu halus yang tumbuh di bagian bawah wajahnya. Kemudian menyentuh garis rahangnya searah jarum jam dengan tangannya yang lembut, menimbulkan rasa geli yang dirasakan keduanya.

 

Hye Hoon mulai melancarkan aksinya dengan menuangkan shaving foam pada telapak tangannya. Setelah itu, dengan lihai dia mengoleskannya pada rahang, pipi bagian bawah sampai leher bagian atas lelaki itu. Dia sedikit tak fokus saat matanya memandang leher Kyuhyun dalam jarak yang sangat dekat, tanpa sadar dia menelan ludahnya sendiri ketika pandangannya turun ke arah jakun milik namja itu yang bergerak naik turun.

 

Argh..mengapa dia tadi bersikeras ingin membantu Kyuhyun membersihkan wajahnya jika pada akhirnya membuat selangkangannya basah?

 

Kyuhyun tertawa tanpa suara, mengamati Hye Hoon yang terlihat sangat depresi karena hanya bisa memandangi lehernya tanpa bisa mencumbunya. Lihatlah, berarti bukan hanya dia yang frustasi karena tak bisa menikmati sarapan-nya pagi ini akibat pertengkaran tak jelas mereka.

 

“ Cish, kau lama sekali. Lebih baik aku melakukannya sendiri kalau begitu”, cerocosnya dengan muka yang dibuat semenyebalkan mungkin. Kyuhyun selalu suka jika Hye Hoon sedang kesal, menurutnya wanita itu lebih terlihat…menggairahkan?

 

Damn. Sepertinya dia tak bisa meninggalkan pikiran mesumnya itu sedetik saja.

 

Dugaan Kyuhyun benar. Gadis itu terlihat kesal, meletakkan botol itu dengan kasar kemudian hendak melangkahkan kakinya keluar sebelum Kyuhyun berhasil menarik lengannya.

 

“ Kau tak mau melakukan rutinitas pagimu? Ayolah, kita bisa menggunakan ruangan yang cukup besar ini bersama-sama”.

 

Hye Hoon mendelik ke arah namja itu, namun tidak menolak suruhannya. Dia membasuh mukanya yang terlihat kusut khas orang bangun tidur itu dengan air lalu menggunakan facial foam yang biasa dipakainya untuk menyabuni wajahnya. Hye Hoon tersenyum kecil ketika melihat bayangan mereka di cermin saat ini. Bukankah mereka terlihat seperti sepasang suami istri?

 

Ah, itu lagi. Sudah cukup dia dipusingkan dengan masalah tersebut karena desakan yang dengan tiba-tiba menyerangnya. Keunde, haruskah dia membicarakan tentang hal ini dengan Kyuhyun?

 

Bahunya terkulai lemas di detik berikutnya. Mana mungkin?

 

***

 

Mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu di ranjang saja. Hei, ini tak ada hubugannya dengan aktivitas yang memicu keringat dan suara-suara abstrak itu, mereka hanya terbaring sambil berpelukan disana, dengan suara televisi yang menjadi pengiringnya. Walaupun begitu, Kyuhyun tetap mengambil kesempatan dengan mendekatkan bantalnya dengan dada kekasihnya yang tak kalah empuk dari bantal tersebut.

 

Lupakan masalah bantal, ada hal yang lebih penting yang mengganggu pikiran Hye Hoon sekarang. Itu berkaitan dengan omongannya tadi malam, tentang lagu yang dipilihnya untuk dinyanyikan Kyuhyun sebagai lullaby.

 

Ya, hal itu berhubungan dengan perpisahan.

 

Sebenarnya hubungan mereka tak pernah dihadang oleh masalah yang besar. Yah, walaupun rasa cemburu Kyuhyun yang berlebihan apalagi jika berhubungan dengan seorang Lee Donghae yang akan membuat lelaki itu uring-uringan setiap harinya, itu tak pernah jadi kendala. Mereka terbiasa dengan pertikaian-pertikaian kecil untuk menjadikan mereka pasangan yang lebih dewasa.

 

Hye Hoon kembali menghembuskan nafas kasarnya. Dia bingung sekali dengan keputusan yang akan diambilnya. Baiklah, dia meneliti sedikit demi sedikit masalah yang menimpanya. Kemarin, ayahnya yang sedang menetap di Jepang meneleponnya seperti biasa, namun dengan topik berbeda.

 

Ayahnya menyuruhnya untuk membawa kekasihnya ke Jepang.

 

Dia bisa membawa Kyuhyun kesana, ya. Tapi dia tahu sekali sifat ayahnya itu. Pasti ada sesuatu yang terselubung di balik perintahnya. Mungkin saja Tuan Choi yang terhormat tersebut merencanakan pernikahan yang megah untuknya disana. Itulah kemungkinan terbesar yang dapat diduganya.

 

Kyuhyun mau menikah dengannya? Tentu saja. Dia seratus persen yakin dengan hal itu. Apalagi, hubugan mereka yang terbilang satu langkah lebih jauh dibandingkan sepasang kekasih tersebut membuktikannya. Kyuhyun adalah tipe lelaki yang bertanggung jawab, pastilah dia tak akan membiarkan Hye Hoon kemanapun setelah lelaki itu merebut hal yang berharga darinya.

 

Masalahnya adalah, bagaimana dengan karirnya?

 

Hye Hoon tak mau jika lelaki itu meninggalkan suatu hal yang sangat dicintainya demi dirinya. Sampai kapanpun dia tak mau hal itu terjadi. Jadi, mengalah lebih baik, kan?

 

“ Kau mempunyai masalah, sayang? Sepertinya sikapmu berbeda sejak kemarin. Kau tahu, ‘kan? Aku bisa berubah menjadi pendengar yang baik hanya untukmu. Jadi, katakan masalahnya sekarang juga”, ucap Kyuhyun memerintah.

 

Hye Hoon menggigit bibir bawahnya sendiri, menimbulkan rasa perih yang mungkin tak seberapa dengan yang dialami hatinya. Dia meyakinkan dirinya sendiri agar air mata itu tak menggenang di pelupuk matanya. Dia tidak boleh lemah di hadapan Kyuhyun jika dia berencana untuk menghancurkan lelaki itu.

 

“ Aku….aku mau kita berakhir. Mungkin kau tidak menyadarinya, namun aku sudah lelah dengan hubungan ini. Aku selalu merasa jika hubungan kita sudah tak bisa dipertahankan lagi. Sepertinya dari pihakmu, ikatan kita ini terasa baik-baik saja. Tapi, dari pihakku berbeda”. Pria itu menatapnya tajam, tanpa menoleh ke arah lain sedetikpun menunggu kata-kata yang akan kembali dilontarkannya. “ Aku bosan denganmu, Kyuhyun~ah”.

 

Dia menghembuskan udara dari inderanya dengan pelan, sedikit menahan nafas ketika mata hitam Kyuhyun seakan mengintimidasinya namun masih tersisa pancaran rasa khawatir serta kebingungan disana.

 

“ Katakan, apa yang membuatmu bosan? Kau ingin aku lebih memperhatikanmu? Memberi perlakuan romantis setiap hari? Aku akan melakukannya, Hye Hoon~ah. Tapi kumohon, jangan pernah berniat untuk meninggalkanku hanya karena rasa jenuhmu itu”.

 

Kyuhyun tulus dengan ucapan dan janjinya. Walaupun dia masih bingung dengan pemutusan hubungan yang dilakukan sepihak oleh kekasihnya, tapi dia tetap teguh pada pendiriannya untuk mempertahankan hubungannya.

 

“ Aku tak bisa, Kyuhyun~ah. Tolong mengerti aku. Kau mencintaiku, kan? Lepaskan aku, jebal”.

 

Kyuhyun mencium ada hal yang tidak beres dengan gadisnya. Suara Hye Hoon terdengar bergetar, serta matanya yang berkaca-kaca menandakan jika dia sedang menahan tangisnya. Tadi dia sempat menyangka jika gadis itu ingin putus darinya karena ingin menjalin hubungan lebih bersama Donghae, kakak kesayangannya. Namun, melihat keadaan Hye Hoon sekarang, sudah dipastikan jika dugaannya itu salah besar.

 

Dia mengubah posisinya, menatap kedalaman mata Hye Hoon dengan mata hitam miliknya. Kedua tangannya meraih bahu gadis itu, menahan tubuh gadisnya yang lemah karena menahan kesedihannya.

 

“ Dengar, Hye Hoon~ah. Aku tak akan pernah meninggalkanmu, atau membiarkanmu meninggalkanku, apapun alasannya. Kita tetap berhubungan, dan ini adalah keputusan final”.

 

Kyuhyun menarik tengkuk gadis itu, mempertemukan bibir mereka yang seakan saling merindu. Hye Hoon tak menolak maupun membalasnya. Gadis itu hanya diam, menikmati kecupan-kecupan yang terasa manis di bibirnya. Oh, Hye Hoon tak bisa membayangkan hidupnya tanpa perlakuan khusus dari lelaki yang sangat dicintainya itu.

 

 

***

 

Hye Hoon menatap puas hasil pekerjaannya. Walaupun hanya sepiring pasta sederhana yang resepnya dia ambil dari internet, namun dirinya merasa sangat puas. Ini pertama kalinya dia tak menghancurkan dapur dengan keahilan memasaknya yang nol besar. Dia mengambil garpu sebelum kemudian menyendokkan sesuap pasta itu ke dalam mulutnya. Rasanya tidak buruk. Cukup enak untuk ukuran orang yang baru pertama kalinya menjajal dapur.

 

Dengan langkah riang dia mengangkat piring tersebut ke ruang santainya. Disana, Kyuhyun sedang memencet beberapa angka yang tertera di remote asal, hingga lelaki itu menemukan channel yang menayangkan rerun reality show kebanggaannya. Apalagi kalau bukan Radio Star.

 

Kenarsisan lelaki itu sungguh sudah pada level akhir, jadi harap maklum saja.

 

Hye Hoon mendaratkan tubuh bagian bawahnya ke permukaan sofa yang empuk, sehingga posisinya sekarang menghadap ke arah Kyuhyun. Sayangnya, maknae tukang bully satu itu masih saja memfokuskan matanya ke layar kaca. Lelaki itu seringkali tersenyum bahkan tertawa sendiri  mendengar candaan konyol yang dilontarkannya sendiri. Itu membuat Hye Hoon merasa kesal karena diacuhkan, yang pada akhirnya dia memakan pasta yang dibuatnya susah payah itu sendiri.

 

“ Suapi aku, sayang”, ujar Kyuhyun tanpa memalingkan wajahnya dari media elektronik itu. Suara Kyuhyun terdengar sangat manja sekaligus memaksa itu sungguh membuatnya terganggu. Namun, Hye Hoon sedang tak ingin mendebatnya karena tahu betapa Kyuhyun sangat kelelahan dan kelaparan karena mereka belum makan apapun sejak pagi tadi. Dia menyuapkan segulung penuh pasta dari garpu yang juga dipakainya yang dilahap habis oleh Kyuhyun.

 

Tak terasa piring yang penuh tadi pun sudah kosong. Dengan mulut yang penuh, Kyuhyun menghabiskan suapan terakhirnya sambil bergumam “ Masisseoyo”, menyebabkan tawa Hye Hoon meledak dikarenakan gaya Kyuhyun yang seperti sedang membuat sebuah commercial film.

 

Kyuhyun mencubit pipi gadis itu gemas. “ Aku senang melihatmu banyak tertawa seperti ini”.

 

Kembali, ingatan Hye Hoon kembali di masa mereka hampir memutuskan hubungan yang dilalui mereka selama dua tahun itu. Mungkin ini tidak akan mudah, namun perlahan Hye Hoon akan menjauhi lelaki itu. Segera mencari penggantinya? Sangat mungkin. Dia lebih baik menikah dengan orang yang tak dikenalnya sama sekali daripada menghancurkan hidup seseorang yang sangat dicintainya.

 

Menyadari jika matahari sudah meninggi, Kyuhyun segera bersiap untuk bergegas pergi. Lelaki itu sedikit tak rela untuk segera meninggalkan gadisnya, karena setelah ini jadwal mereka tidak memungkinkan untuk saling bertemu. Seminggu lagi, Kyuhyun harus berangkat ke Hawaii, dan ketika pulang dari sana, barulah Kyuhyun mendapat jatah libur beberapa hari.

 

Setelah itu, setengah bulan kemudian dia beserta groupnya akan menggelar konser yang sangat besar di Jepang. Dia menarik kedua garis bibirnya simetris memikirkan hal itu. Ya, sebenarnya dia sudah mempersiapkan dari jauh-jauh hari untuk bersenang-senang dengan Hye Hoon disana.

 

Walaupun hanya sehari, namun itu akan sangat berkesan tentunya.

 

Dia segera memakaikan jaket kulit ke tubuhnya yang bisa dibilang cukup ideal itu, disusul dengan topi dan masker untuk menutupi sebagian besar wajahnya. Gadis itu menunggu di kursi yang berada di ruang depan dengan bertopang dagu sambil melamunkan tentang apa, Kyuhyun tak tahu.

 

Jangan sampai di kepalanya itu dipenuhi oleh pikiran tentang hal yang mereka bahas tadi pagi.

 

Kyuhyun merubah posisinya menjadi berlutut di hadapan Hye Hoon. Wajah mereka berjarak sangat dekat, sehingga dia bisa dengan jelas melihat wajah gadisnya yang terlihat tak menyenangkan. Dia menyingkirkan kedua tangan Hye Hoon dari dagunya, kemudian menggunakan jari panjangnya untuk menarik wajah gadis itu agar menatapnya.

 

“ Lupakan, sayang. Harus berapa kali aku menyuruhmu, hmm? Atau aku harus mengganggumu dengan sesuatu ? ”, ujarnya menggoda.

 

Gadis itu menuruti apa keinginan Kyuhyun dengan tak memikirkan lagi soal itu. Hanya sampai lelaki itu pulang, kemudian dia masih punya waktu untuk mencari solusinya. Hye Hoon tersenyum senang mengamati penampilan lelaki itu yang sangat maskulin dan tentu saja membuat dirinya semakin terpesona.

 

“ Harus pulang sekarang?”, rengutnya sebal. Dia dengan sengaja tidak menjawab perintah Kyuhyun tadi. Ingin sekali mengalihkan pembicaraan agar Hye Hoon bisa menyembunyikan semuanya dengan leluasa.

 

“ Hmm”, gumam namja itu pelan. Hye Hoon kembali merekam mata Kyuhyun yang membuatnya tenang itu dalam ingatannya. Dia menarik kerah jaket berwarna coklat tua yang dipakai lelaki itu, terkekeh ketika menyadari ada tanda merah di leher Kyuhyun yang diciptakannya saat sesi pertempuran mereka beberapa jam lalu.

 

“ Kenapa sayang? Ada yang aneh di wajahku?”. Kyuhyun terlihat menggemaskan dengan dahinya yang berkerut bingung. Gadis itu menelusuri tulang hidung Kyuhyun yang tinggi, kemudian tangannya turun meraba leher namja itu lalu berlanjut menaikkan kerah jaketnya.

 

“ Aku tak mau kau memperlihatkan bekas gigitan nyamuk ini di luaran sana. Kau bisa digosipkan melakukan hal aneh sebelum recording”, sahut gadis itu sambil memasang wajah serius sebisanya. Hye Hoon pun mendekatkan wajah keduanya, memberikan kecupan singkat di bibir Kyuhyun yang tertutup masker.

 

“ Sekarang pergilah”, titahnya.

 

Kyuhyun mengerucutkan bibirnya di balik penutup mulut yang dipakainya. Sedetik kemudian, tangannya meraih kait masker bertuliskan GYU tersebut, membuka salah satu bagiannya dan dengan cepat mencari bibir Hye Hoon yang masih berjarak dekat dengan wajahnya.

 

Tak lama, kelopak mata mereka sudah saling tertutup seiring dengan ciuman keduanya yang semakin dalam. Kyuhyun meraih tengkuk gadisnya, membenarkan posisinya semiring mungkin agar bisa memagut bibir gadis itu penuh. Tidak lama bertahan, Kyuhyun melepaskan pagutannya ketika mereka sudah sama-sama kehabisan oksigen yang mesti dihirup keduanya. Lelaki itu kembali mendaratkan bibirnya di bibir Hye Hoon, namun dalam waktu sesingkat mungkin. Dia tak mau terbawa suasana yang akhirnya akan membuatnya melewatkan jadwal yang telah disusun sedemikian rupa oleh managernya.

 

“ Aku akan sangat merindukanmu”, bisiknya penuh cinta.

 

***

 

Musim panas! Semua orang pasti akan bersenang-senang di bawah terik matahari. Menikmati waktunya di pantai, sekedar berjemur di depan rumah, mengikuti berbagai festival musim panas yang ramai oleh pengunjung, atau mengunjungi kedai ice cream saat matahari bersinar terik.

 

Apalagi jika bisa menghabiskan waktu di pantai yang eksotis, Hawaii misalnya.

 

Dengusan sebal meluncur dari bibirnya lagi. Sementara orang di luar sana –terutama seseorang yang berada di luar negeri sana- menikmati liburannya yang menyenangkan, dia harus sendirian di kantin kampusnya, memikirkan tentang masalah yang sudah lama muncul ke permukaan. Dia harus berkejar dengan waktu untuk menyelesaikannya.

 

Dia lebih baik mengerjakan tugas kuliah yang bertumpuk daripada menyelesaikan solusi untuk membawa seorang calon menantu ke hadapan Ayahnya.

 

Entah kemana semua orang. Mungkin dia sudah sedikit gila untuk menghabiskan waktunya di kantin kampusnya, sedangkan semua pelajar sedang menikmati hari liburnya yang panjang. Ah, sepertinya ada orang gila lain yang dikenalinya disini.

 

Dia melambaikan tangannya ke arah lelaki bertubuh jangkung itu yang dalam sekejap menggeser kursi lalu duduk di seberang mejanya.

 

“ Sedang apa kau disini?”, tanya namja itu ketus. Lelaki yang baru saja menjadi satu-satunya teman berbincangnya hari ini itu menyeruput orange juice miliknya sampai habis. Tangannya sudah gatal untuk mendaratkan pukulan untuk lelaki tak punya etika itu, tapi diurungkannya saat melihat tubuh atletis namja itu penuh dengan keringat.

 

“ Aku? Tak ada tempat tujuan. Tadinya aku akan ke spa untuk memanjakan tubuhku, tetapi sepertinya uangku habis untuk tiket ke Jepang”, jawabnya santai. Tanpa diduga lelaki itu melebarkan matanya seperti tak percaya dengan ucapan Hye Hoon.

 

“ Jepang? Kau akan berlibur disana?”, tanya namja itu antusias. Hye Hoon menjawabnya dengan anggukan pelan. Otaknya memunculkan suatu ide yang sangat bagus sekali untuk solusi dari masalah calon menantu yang digadang-gadangkan satu-satunya orang tuanya yang tersisa di dunia ini. Refleks dia menggelengkan kepalanya berulang kali, menghalau pikiran yang seharusnya dihilangkan dari otaknya.

 

“ Yak! Kau kenapa Hye Hoon~ah?”. Namja bermarga Kim itu sepertinya bingung karena Hye Hoon tiba-tiba kehilangan fokusnya dan melamun seperti barusan.

 

Batin Hye Hoon berperang. Dia menilik pemilik wajah tampan itu. Ya, tampan. Seharusnya dia menyadari bahwa Kim Woobin, teman sekelasnya itu memiliki tingkat pesona yang lebih daripada teman-teman sekelas lainnya. Pantas saja, dia adalah salah satu namja populer di kampus, cibirnya.

 

Should I?

 

“ Kau mau ikut aku ke Jepang? Hmm sebenarnya aku akan menemui Appaku disana. Kebetulan sejak tiga tahun lalu beliau menetap disana”. Bibirnya melontarkan itu dengan lancar, lancang sekali. Dia menunggu tanggapan yang akan diterimanya dari namja itu dengan was-was.

 

“ Kau serius? Kita akan liburan gratis disana maksudmu?”, teriak lelaki itu dengan ekspresi orang bodoh yang tak percaya omongannya. Assa! Sepertinya ini akan gampang baginya untuk menarik  lelaki itu ke dalam perangkapnya.

 

“ Iya, aku serius. Kau hanya perlu menyiapkan bajumu lalu kita berangkat minggu ini, Woobin~ah”.

 

Mungkin otaknya sudah dipindahkan ke tempat lain sehingga rasa putus asanya menimbulkan hal paling gila yang pernah dilakukannya. Menjebak Woobin untuk ikut dengannya dan mengenalkan lelaki itu sebagai kekasihnya kepada Appanya? Sungguh, itu tak pernah sekalipun terlintas di benaknya.

 

Dia hanya tersenyum getir melihat Woobin yang sedang tertawa kegirangan. Namja itu mulai membicarakan tempat-tempat yang sering dikunjungi turis Jepang yang diinfokan di media. Sepertinya Woobin sangat tertarik sekali dengan acara wisatanya itu.

 

Maafkan aku, Woobin~ah.

 

***

 

Lelaki bertubuh jangkung itu membuka lalu mengatup mulutnya beberapa kali kemudian menyenderkan punggunya kepada kursi penumpang yang nyaman. “ Apa maksudmu? Jadi kau…..”

 

Hye Hoon menunduk, merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya. Tidak seharusnya dia membawa temannya itu ke dalam suatu situasi yang sulit seperti ini. Dia menghembuskan nafasnya yang mulai tak beraturan sembari memandang ke arah langit yang biru di balik jendela bulatnya. Kemudian, dia memberanikan dirinya untuk menatap wajah tegas namja itu untuk memberikan penjelasan.

 

“ Tolong aku, Woobin~ah. Aku akan mengabulkan apapun permintaanmu jika kau mau melakukannya,hmm?”. Sekarang, Hye Hoon mengajukan tawaran yang bisa saja dimanfaatkan tak baik oleh Woobin. Dia tahu sekali sifat jahil yang seringkali ditunjukkan lelaki itu di kelas. Namun, demi hal ini, dia tentu akan rela menerima apapun resikonya.

 

“ Hanya menjadi kekasih pura-puramu, kan? Tidak lebih?”, tanya lelaki itu sambil melemparkan pandangan yang sulit dimengerti Hye Hoon. Gadis itu tak menjawab, menutup mulutnya rapat tanpa berniat menggetarkan pita suaranya, memunculkan desahan berat dari namja berambut coklat itu.

 

“ Demi bola basket yang sangat kucintai sepenuh hati, Hye Hoon~yang. Bukankah kekasihmu adalah seorang superstar yang banyak digandrungi para wanita? Mengapa kau tak membawanya saja? Aku yakin, Appamu itu pasti setuju dengan apapun pilihanmu”.

 

“ Bukan begitu masalahnya, Woobin~ah. Aku….Aku tak mungkin menikah dengannya. Aku tak mau memaksanya untuk meninggalkan dunia entertainment demi aku. Kau pasti tahu, bagaimana kejamnya netizen di luaran sana? Karirnya pasti hancur dalam sekejap jika aku memutuskan untuk menikah dengannya”.

 

Erangan frustasi kembali lolos dari bibir seksi namja itu. Dia, yang masih berumur dua puluh dua tahun, dipaksa untuk menikahi seorang gadis yang merupakan teman dekatnya, hanya untuk menggantikan kekasihnya yang tidak bisa menikahi gadis itu karena pekerjaan yang ditekuni lelaki yang notabenenya terkenal di seluruh dunia.

 

Dia memang termasuk lelaki yang baik, dan sangat menghargai wanita tentunya. Tapi, ini kelewatan menurutnya.

 

“ Ayolah, Woobin~ah. Kau tidak akan menyesal jika menikah denganku. Seumur hidupmu, yang kau lakukan hanyalah memberikan coretan pada kertas-kertas berharga, lalu menghamburkan uang sesukamu. Appaku termasuk dari jajaran sepuluh orang terkaya di Jepang, jadi kau tak perlu khawatir dengan masa depanmu. Bantu aku, hmm?”.

 

Persetan dengan harga diri. Yang dia butuhkan hanyalah persetujuan Woobin untuk merubah nasib percintaannya yang rumit. Dadanya merasa sakit mengingat kenyataan bahwa dia malah melamar lelaki lain ketika dia masih menjalin hubungan dengan seorang yang sangat dicintainya. Oh, bahkan Kyuhyun tak mengetahui apapun tentang rencananya ini. Dan seandainya lelaki itu tahu, Kyuhyun pasti akan marah besar padanya.

 

Woobin memikirkan perkataan gadis itu dengan matang. Dia tak mau mengambil keputusan yang salah untuk hal ini. Tidak, dia tak merasa tergiur dengan limpahan harta yang ditawarkan gadis itu. Hanya saja, ada sesuatu yang membuatnya berdebar ketika memikirkan bahwa mereka mungkin akan segera menikah jika dia mengiyakan tawaran Hye Hoon.

 

Jadi ceritanya, dia sedang dilamar gadis itu sekarang?

 

Kelihatannya Hye Hoon benar-benar tertekan dengan masalah ini. Dia ingin tahu, bagaimana sifat asli yang dimiliki ayahnya sehingga gadis itu selalu menuruti apa yang beliau perintahkan. Dengan berbekal kepercayaan dirinya bahwa dia bisa merubah rencana pernikahan atau apapun itu, pada akhirnya dia menganggukkan kepalanya mantap.

 

Geure, aku akan membantumu Hye Hoon~ah”.

 

***

 

“ Ck, kau benar-benar tidak bohong dengan kekayaan Appamu itu”, ucap Woobin sedikit tak percaya sembari meneguk mocktail yang tersedia di limousine yang mereka kendarai itu. Hye Hoon hanya bisa tertawa hambar menanggapi lelaki itu, dengan matanya yang masih asyik menikmati lalu lalang di jalanan Tokyo yang cukup padat.

 

Walaupun matanya melirik taman bunga terindah sekalipun, tetap saja pancaran mata itu terlihat murung. Bagaimana tidak? Sejak pertemuan mereka terakhir kali, Hye Hoon sengaja mematikan ponselnya agar lelaki itu tak bisa menghubunginya. Alhasil, rasa rindu yang dipikulnya semakin berat setiap detiknya hingga menggunung sampai saat ini.

 

Inginnya dia menelantarkan egonya sendiri kemudian menceritakan masalahnya agar lelaki itu bisa membantunya sekaligus bertemu dengannya di saat-saat genting layaknya sekarang. Sekali lagi, dengusan sebalnya muncul begitu saja. Dia tak mungkin mengganggu lelaki itu dengan aktivitasnya yang segudang, apalagi untuk mengajak Kyuhyun menikah.

 

“ Hye Hoon~ah, lihat itu”. Woobin menunjuk papan reklame besar itu dengan senangnya, seakan isi dari billboard itu adalah gambar seorang wanita yang hanya mengenakan bikini saja, yang tentu saja sangat disukai oleh lelaki normal seperti Kim Woobin itu.

 

Oh astaga, gambarnya bahkan lebih mengerikan dari hal yang disebutkan tadi itu baginya.

 

Hye Hoon meneguk stawberry milk dingin yang digenggam tangannya sampai habis. Lelaki yang duduk nyaman disampingnya itu sepertinya sengaja untuk memperlihatkan papan berisi foto-foto pria menawan berlatar belakang warna putih dengan bertuliskan nama salah satu konser yang akan digelar segera di arena besar itu. Lihat saja, sekarang Woobin cekikikan melihat wajahnya yang merengut tak suka.

 

“ Nanti kita menonton itu saja, bagaimana?”.

 

Sifat dasar memang susah dirubah, begitupun yang terjadi pada namja berwajah ulzzang itu. Jelas-jelas Woobin sudah mengetahui jika dia sedang berusaha melupakan Kyuhyun, namun namja itu tetap saja menggodanya dengan memperlihatkan wajah tampan yang sangat dirindukannya itu padanya. Dia mengerucutkan bibirnya, tak terima dengan ajakan lelaki yang memiliki usia yang sama dengannya itu.

 

“ Aku tak mau. Kau tahu bagaimana rasanya berdesakkan diantara fans-fans mereka? Sungguh melelahkan. Kalau kau mau, kau pergi saja sendiri. Aku akan meminta suruhan Appaku untuk membelikan tiketnya untukmu”. Hye Hoon masih belum menghilangkan wajah kesalnya, memandang ke arah lain menghindari kontak mata dengan lelaki menyebalkan itu.

 

“ Untuk apa membeli tiket? Bukankah aku bisa akses gratis ke backstage bersamamu?”

 

Hye Hoon mendesis geram mendengar perkataan yang dilontarkan lelaki itu untuk terus menerus menggodanya sehingga membuat moodnya semakin buruk.

 

“ Kim Woobin, kau cari mati hah?”

 

***

 

Kim Woobin sangat terkesan dengan rumah yang bisa dikatakan sangat megah menurutnya. Memang, di korea sana dia juga termasuk orang kaya, namun kekayaannya tidak sebanding dengan apa yang dimiliki tuan rumah ini. Meski didominasi oleh arsitektur Eropa yang modern, namun corak jepangnya masih terlihat di berbagai sisi. Seperti adanya bunga sakura sepanjang jalanan besar di balik gerbang yang dilaluinya tadi.

 

Memasuki ruang tamu, mereka disambut oleh beberapa pelayan yang langsung menyilahkannya untuk duduk. Dia melirik gadis di sebelahnya, yang tak membuka mulutnya setelah pembicaraan mereka tentang Cho Kyuhyun tadi.

 

Ah, dia teringat lelaki itu. Jika Cho Kyuhyun mengetahui betapa kekayaan kekasihnya itu sulit untuk habis meskipun dia menghamburkannya setiap menit, mungkin namja itu akan dengan senang hati melepaskan jabatannya sebagai selebritis terkenal.

 

Seorang lelaki paruh baya yang sangat modis dengan setelan jas formalnya yang diyakininya berharga fantastis itu segera memeluk tubuh gadis itu yang entah sejak kapan sudah berdiri tegak di tempatnya.

 

Bogoshippeo”, gumam Choi Seungjoo pelan. Kim Woobin bisa merasakan ketulusan dari pelukan singkat mereka untuk melepas rindu keduanya. Sejenak Woobin mengamati wajah lelaki yang diyakininya berumur sekitar empat puluh tahunan itu dengan seksama. Garis wajahnya yang tegas terkesan mengintimidasi, membuat Woobin merasakan bulunya meremang seketika.

 

Pantas saja, wanita seganas Choi Hye Hoon sangat menuruti ayahnya ini.

 

Choi Seungjoo melayangkan tatapan tajam ke arahnya, namun kemudian menyunggingkan senyumannya ketika mendengar bisikan yang entah apa dikatakan Hye Hoon kepada ayahnya itu. 

 

“ Oh, jadi ini kekasih anakku. Siapa namamu, anak muda?”. Senyumnya sangat misterius, seperti ada rasa tak percaya ketika Hye Hoon mengenalkan bahwa dirinya adalah kekasih dari gadis itu. Secepat inikah kebohongan mereka terbongkar?

 

Annyeonghaseyo, Sajangnim. Jae Ireumeun Kim Woobin imnida”, sapanya sopan. Tawa yang terdengar berwibawa dari bibir pria lain yang bermarga Choi itu menggelegar di ruangan besar nan megah tersebut.

 

“Panggil saja aku Appa, Woobin~ah. Bukankah lambat laun aku akan menjadi Appamu juga?”

 

***

 

“ Kau yakin akan pergi sendiri, Kyuhyun~ah? Kita bisa membatalkan tiket dan memesan tiket baru dengan flight yang sama dengan kami, kalau kau mau”, tawar Siwon yang sedang duduk ala model profesional di sofa ruang tengah. Selepas menghabiskan waktunya berlatih di gedung SM Entertaiment, dia memutuskan untuk mampir ke dorm sebentar untuk mengistirahatkan badannya yang terasa letih.

 

Kyuhyun menggelengkan kepalanya lemah untuk menolak usulan hyungnya tadi. Semangatnya yang berkobar ketika membayangkan liburan yang menyenangkan bersama kekasihnya itu buyar sudah. Sehari sebelumnya, bahkan ketika sebelum dia pergi ke Hawaii, dia sudah beberapa ratus kali mencoba menghubungi gadisnya itu, yang hanya dijawab oleh suara operator yang membuat telinganya jengah.

 

Puncaknya, kemarin dia diberitahu oleh seorang Ahjumma yang mengangkat gagang telepon di apartemen Hye Hoon, bahwa gadis itu pergi bersama seorang lelaki ke Jepang sejak beberapa hari lalu yang jika dihubungkan dengan jadwalnya, ketika itu dia sudah pulang ke Korea.

 

Tak masalah jika nyatanya gadis itu berlibur tanpanya, namun jika dia pergi dengan lelaki lain, tentu saja itu membuatnya sangat marah. Ditambah lagi, gadis itu tak memberitahukan apapun padanya tentang keberangkatannya ke Jepang, apalagi tentang lelaki selingkuhannya itu.

 

“ Jangan berburuk sangka padanya, Kyuhyun~ah. Mungkin saja Hye Hoon bukan hanya berlibur berdua dengan lelaki itu. Banyak kemungkinan jika dia pergi dengan teman-temannya yang lain, kan? By the way, Kau benar-benar tak bisa menghubunginya, Kyu?”

 

“ Aku sulit sekali menghubunginya. Tanyakan saja kepada seseorang yang sangat dekat dengan kekasihku itu, hyung. Aku yakin dia pasti lebih mengetahui tentang kabar Hye Hoon daripada aku”, sungutnya kesal.

 

Siwon pun melirik dengan tatapan penuh arti ke arah Donghae, yang dijawab lelaki itu oleh sebuah gelengan pelan. Namja tampan itu sepertinya takut untuk bersuara, karena Kyuhyun yang seringkali mengamuk kepadanya jika masalahnya berhubungan dengan gadis yang menghilang tanpa kabar itu.

 

“ Donghae tidak tahu apa-apa, Kyu. Ah, jangan-jangan kau ingin tetap kesana hari ini karena ingin mencari gadismu itu, hmm?”.

 

“ Tidak. Aku akan bersenang-senang tanpanya. Dia juga bisa pergi tanpaku, jadi aku juga harus membalasnya dengan hal seperti itu juga, kan? Walaupun aku tak bisa mengajak seorang gadis, tak seperti dia yang bisa mengajak seorang lelaki sesuka hatinya, aku akan menunjukkan bahwa aku baik-baik saja tanpanya. Bukankah itu hal yang bagus?”

 

Walaupun dalam hati kecilnya, Kyuhyun tetap berharap bisa menemui Hye Hoon disana dan segera menyeret gadisnya itu untuk kembali ke sisinya.

 

***

 

Hye Hoon memijit kakinya yang terasa pegal sekali karena berhasil dipaksa Woobin untuk menjajal beberapa pasar tradisional yang terkenal di kota itu. Belum lagi, dengan wisata kuliner yang tak ada habisnya itu membuat perutnya sedikit sakit.

 

Sudah beberapa hari dirinya menghabiskan waktu untuk menemani Woobin kemanapun lelaki itu pergi. Ingin sekali menolaknya, tetapi ancaman tentang membongkar rahasia kepura-puraan mereka tentu saja membuat dirinya berpikir berulang kali untuk menolak ajakan Woobin.

 

Tanpa diduga, ayahnya yang terkenal bengis itu dengan mudahnya menerima Woobin sebagai kekasihnya. Mereka bahkan terlihat dekat setelah beberapa kali menikmati makan malam bertiga, termasuk dengannya. Woobin, yang tidak diketahuinya memiliki wawasan yang luas tentang dunia bisnis itu pun yang membuat keduanya akrab. Selain itu, hobi keduanya yang sama-sama senang berkuda lebih mendekatkan hubungan ayahnya dengan teman yang cukup dekat dengannya itu.

 

Di satu sisi, dia senang karena dia tak perlu mengenalkan lelaki lain untuk berbohong menjadi kekasih barunya, tapi di sisi lain dia takut jika dengan kedekatan keduanya membuat Appanya akan segera merencanakan pernikahan untuk dirinya dan Woobin.

 

Andwae! Dia masih memiliki Kyuhyun. Walaupun dari awal dia sudah siap dengan resikonya, akan tetapi tetap saja dia tak rela melepas lelaki yang dicintainya dan harus berakhir di pelaminan dengan orang yang sama sekali tak pernah diperhitungkannya menjadi suaminya.

 

Dia mengecek penampilannya di kaca rias sekali lagi. Semuanya sudah siap. Dia tinggal menunggu seseorang mengetuk pintunya lalu akan keluar dengan anggunnya menuju tempat yang disiapkan oleh Appanya. Ya, Choi Seungjoo mengajak mereka untuk makan malam di luar kali ini, berbeda dengan hari-hari yang lalu yang dilalui mereka dengan dinner biasa di rumah.

 

Hye Hoon melirik jam yang berada di samping meja riasnya. Masih setengah jam lagi sebelum dia berangkat ke tempat itu.

 

“ Ahh bosan sekali, apa yang harus kulakukan sekarang?”, gumamnya dengan suara pelan. Hye Hoon mengecek gadgetnya yang diletakkannya di sisi ranjang. Sepertinya sudah lama sekali dia tak mengecek kabar kekasihnya. Apa dia sudah datang kesini? Konsernya itu tiga hari lagi, kan?

 

Dengan cekatan dia menyalakan tablet berwarna putih miliknya itu, kemudian menunggu hingga layarnya muncul. Dia memang sengaja tak menyalakan handphonenya, karena jika itu terjadi, Kyuhyun pasti akan menemukannya dengan fasilitas GPS yang berada di ponsel mereka.

 

Keningnya mengerut ketika melihat postingan salah satu website yang membahas tentang kekasihnya itu. Cho Kyuhyun sudah di Jepang, pergi berdua dengan managernya sedangkan member yang lain masih berada di Korea.

 

Keterkejutannya bertambah berkali lipat ketika matanya menangkap foto yang tertera di kanal itu. Terlihat seorang Cho Kyuhyun sedang kegirangan bermain di salah satu tempat hiburan di negara yang sama sedang ditempati olehnya juga. Wajah tampannya terlihat bersinar, ekspresi bahagianya terpancar sangat kentara di foto itu.

 

Matanya refleks mengeluarkan air mata yang selama ini berhasil ditahannya. Ternyata, perkataan Kyuhyun malam itu benar adanya. Walaupun hubungan mereka belum resmi berakhir, namun Kyuhyun bisa dengan tenang melanjutkan hidup tanpa dirinya. Mungkinkah lelaki itu juga sudah melupakannya?

 

Tok Tok

 

Suara ketukan pintu berhasil membuyarkan kemungkinan-kemungkinan di otaknya yang membuatnya sedih. Segera dia mengambil tissue di meja riasnya, membersihkan cairan tak berwarna tersebut tanpa sisa. Tak dipedulikannya make up nya yang berantakan karena perlakuannya yang tak hati-hati itu. Yang terpenting, dia bisa menutupi air matanya, itu sudah cukup.

 

“Masuk”, sahutnya sedikit keras, menyembunyikan suaranya yang berubah serak.

 

Seorang pelayan membungkuk di ambang pintu dengan sopan. Wanita yang sepertinya seumuran dengannya itu menjulurkan tangannya ke arah luar, menyilahkannya untuk segera turun dari kamarnya.

 

“ Jemputan anda sudah menunggu, Nona”.

 

***

 

Kim Woobin menatap gadis itu tanpa berkedip. Hye Hoon terlihat sangat cantik dengan balutan gaun malam berwarna merah menyala yang menutupi sampai lututnya. Rambunya yang hitam dibuat bergelombang tetap digerainya seperti biasanya. Hye Hoon sangat tak suka mengikat rambutnya, itu fakta yang beberapa hari lalu yang dilewatinya bersama gadis itu.

 

Mereka mulai saling mengenal lebih dalam, jelas sangat berbeda ketika mereka menghabiskan waktu di kelas. Dia bisa menemukan hal baru yang tak diketahuinya tentang gadis itu, yang membuatnya menarik bibirnya ke belakang ketika mengingat itu semua.

 

Hei, Kim Woobin. Hentikan pikiran tak jelasmu. Kau tak mungkin jatuh cinta kepada kekasih orang lain, kan?

 

“ Sepertinya Appa akan melancarkan aksinya”, keluhnya. Hye Hoon menangkap ada sesuatu yang ganjil yang akan terjadi padanya. Tapi apa? Dia pun menyingkirkan prasangka buruk itu yang semakin menghantuinya.

 

“ Apa?”, tanya Woobin penasaran.

 

“ Aku juga tak tahu. Tapi mungkin kau akan mengetahuinya nanti”. Hye Hoon menangkap wajah Woobin yang terlihat bingung dengan ujung matanya. Dia sudah menebak ini ada hubungannya dengan hubungan keduanya. Ayahnya pasti akan melakukan sesuatu yang berkaitan dengan hal itu.

 

Mianhae, baby. Appa ada meeting mendadak tadi. Kalian tidak terlalu lama menunggu, kan?”. Choi Seungjoo datang setelah mereka menghabiskan makanan pembukanya. Lelaki berambut hitam legam itu segera menghampiri anak semata wayangnya, memberikan sebuah kecupan singkat di puncak kepala gadis itu.

 

Gwenchana, Appa. Kami sepertinya terlalu betah disini sehingga melupakan ketidakhadiran Appa tadi”, candanya. Choi Seungjoo pun segera membalasnya dengan tawa khasnya lalu mengalihkan pandangannya ke arah lelaki yang ada di samping putrinya itu. “ Benar begitu, Woobin~ah?”

 

Woobin meresponnya dengan anggukan singkat. Mereka semua pun menyumbang tawa dalam suasana makan malam di ruangan terbuka itu.

 

Tiga puluh menit kemudian acara makan malam yang hangat serta terasa menyenangkan itu berakhir setelah ketiga orang tersebut menghabiskan makanan penutup mereka. Choi Seungjoo yang memang menyiapkan suatu kabar untuk mereka di acara kali ini pun segera bersuara untuk menyampaikan kehendaknya tersebut.

 

Dia berdeham sekali, meminta perhatian dari kedua orang yang menghabiskan waktu dengannya beberapa waktu ini. Mereka berdua terlihat menegang dengan perubahan suasana yang dibuatnya. Suasana rileks yang sejak tadi dibangun itu menguap begitu saja ketika Choi Seungjoo memasang wajah datarnya yang sangat jarang ditunjukkannya kepada kedua orang itu.

 

“ Woobin~ah, kau bersedia menikahi anakku dalam waktu dekat ini? Hye Hoon mungkin sudah memberitahukan padamu jika aku sangat mengharapkan anak perempuanku itu bisa menikah di usianya yang masih muda. Dan setelah bertemu denganmu, kurasa kau adalah kandidat yang cocok untuknya. Jadi, kau mau kan mengabulkan permohonanku yang satu ini?”

 

END

 

Sorry kalo Hye-Kyu momentnya dikit banget. Ini tuntutan cerita jadinya kayak gini hehe

Chaptered gak akan update dulu yaa sorry ^^ soalnya gk ada mood buat lanjutin ff2 itu.

Gantinya paling aku akan update oneshoot sering2 hehe 

121 thoughts on “Son-in-law-to-be

  1. Aduuuhhh,, kenapa hye hoon harus minta woobin pura2 sih,, apa salahnya dia jujur ke kyuhyun,,
    dan dia juga bisa bilang ayahnya kalo dia belum siap nikah kan ..

  2. kyuhyun sama hye yoon romantis sekali sampr iri, tp hye hoon masak tga sih sama kyuhyun, mending kyuhyun nya untuk aku aja hahah

  3. Nah lohh, ngapa jadi gini?? Terus gimana sama kyuhyun??
    Semoga mereka gak bener bener nikah, terus hyeyoon balik ke kyuhyun lagi

  4. Duhh…. kok jdi rumit gni sih?
    Trus gmna dong hyehoon mlah disuruh nikah sma woobin trus si evil maknae gmna, bsa gwat tuh kalu dia bsa tahu hyehoon bkal nikah sma namja lain,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s