Wrong


 

Author : hyehoonssi

Cast :

Choi Hye Hoon (OC)

Cho Kyuhyun

Genre:

Romance, sad

Rating :

PG 15

 

Another oneshoot from me. Or….longshoot maybe? Hope you like this. I know it’s just too boring like always. Anyway, happy reading^^

 

“ Sampai kapanpun aku tak akan menikah dengannya, Eomma”.

 

Teriakan tegas seorang lelaki yang mengenakan kemeja abu tanpa dasi yang dipadukan dengan blazer berwarna lebih tua itu membuat semua orang yang berada di ruangan bercat coklat muda tersebut terdiam. Telunjuknya masih mengarah kepada seorang gadis yang menunduk sambil menahan tangis karena perkataan lelaki tadi.

 

Lelaki itu mengacak rambutnya kasar, mencoba menetralkan kepalanya yang mulai memanas. Sudah berulang kali dia menolak suruhan orang tuanya untuk tak menikahkannya dengan seseorang yang merupakan sahabatnya sendiri. Dia mengerti, jika penolakan tak sopannya ini akan melukai hati gadis yang ternyata sejak lama memendam perasaan terhadapnya. Namun, dia hanya ingin meluruskan kenyataan supaya Eommanya berhenti memerintahkan dirinya untuk melakukan sesuatu yang mungkin untuknya, menikahi Lee Hyorin.

 

“ Kau lebih memilih bertahan dengan perempuan itu? Kyuhyun~ah, ini sudah terlalu lama. Sudah beberapa bulan berlalu namun kondisinya tak mengalami peningkatan. Kau juga butuh kehidupan, Kyuhyun~ah. Berhenti mengurusnya dan kirim wanita itu ke rumah sakit—”

 

“ Sudahlah, Eomonim. Aku juga tidak mau menikah dengan orang yang tak menginginkanku. Kyuhyun~ah, mianhae. Maaf  karena kehadiranku membuat posisimu sulit”. Hyorin, yang sejak tadi tak mengucapkan apapun mulai bersuara. Dia menguatkan hatinya, melupakan perkataan menyakitkan yang dilontarkan Kyuhyun tadi. Hyorin tidak ingin menjadi alasan untuk Ibu dan anak itu bertengkar karenanya.

 

Kyuhyun menganggukkan kepalanya pelan, alih-alih mengatakan jika dia memaafkan wanita itu. Kyuhyun tahu, perjodohan ini bukanlah keinginan Hyorin. Gadis yang sudah menjadi teman dekatnya sejak dia kecil itu selalu mengerti perasaannya. Walaupun gadis itu pada faktanya menaruh hati padanya, tetapi Hyorin bukanlah tipe orang yang akan memaksakan kehendak untuk kebahagiannya sendiri ataupun mencari kesempatan menjalani hubungan dengannya sedangkan dia tidak menginginkannya.

 

“ Tapi Hyorin~ah, Kyuhyun membutuhkanmu. Dia sudah terlalu lama terpuruk dalam kehidupannya yang seperti itu. Eomma juga sudah tua, dan ingin segera menimang cucu. Eomma akan mendapatkannya jika kalian menikah, Hyorin~ah. Kyuhyun~ah, untuk kali ini saja tolong kabulkan permintaan Eomma, eo?”, pintanya dengan sedikit memohon.

 

Cho Hana menatap Kyuhyun dengan pandangan memelas. Sudah berbagai cara dilakukan wanita paruh baya itu untuk mengabulkannya, agar Kyuhyun menikah dengan wanita pilihannya. Akan tetapi, Kyuhyun tetap bersikeras dengan pendiriannya untuk mempertahankan wanita benalu itu.

 

Jika kali ini Kyuhyun menolaknya lagi, dia akan menggunakan cara lain hingga Kyuhyun menyerah dan menuruti keinginannya.

 

***

 

Kyuhyun membuka pintu kamarnya pelan, berusaha sehati-hati mungkin agar tak mengganggu gadis yang sedang tertidur di ranjangnya. Gadis itu terlihat tenang dalam tidurnya, tak terusik sedikitpun dengan suara langkah kaki Kyuhyun yang menghentak. Lelaki itu bisa membayangkan apa yang terjadi sebelumnya, sebelum dia pulang ke rumahnya.

 

Hal yang sama seperti biasanya, perawatnya pasti akan memberikan beberapa butir obat sebelum mengikat gadisnya.

 

Seringnya dia menyalahkan dirinya sendiri karena keadaan ini. Dia ikut andil dalam penderitaan yang dialami gadis itu. Dulu, seharusnya dia bisa menjaga gadisnya dengan baik agar mereka tak kehilangan. Tak membiarkan hal yang menyakitkan itu terjadi, sehingga gadis yang sudah resmi menjadi miliknya itu tak merasa tertekan.

 

Setitik air mata mengalir di pipinya ketika tangannya menyentuh pergelangan tangan gadis itu yang lebam. Bekas goresan tali yang tersimpul di lengan kurusnya membuat tangan itu memerah. Dilepaskannya simpul itu, lalu membawa tangan gadisnya mendekat ke wajahnya.

 

Hatinya mencelos saat melihat keadaan tangan itu lebih dekat. Tangan yang biasa digenggamnya itu kini dipenuhi bekas luka sayatan yang segera dikecupnya. Matanya kembali berair, mengingat beberapa kali gadis itu menancapkan benda tajam agar mengenai nadinya  yang bisa membuat gadis itu kehilangan nyawanya sendiri.

 

Bisakah kau bertahan untukku, sayang? Bisakah kau melupakan kesedihanmu demi aku?

 

Dia rela menghabiskan waktunya semalaman tanpa memejamkan mata, untuk mengawasi keadaan wanita itu yang masih dalam kondisi tidak stabil. Jika tak ada teguran dari Ayahnya untuk tidak meninggalkan pekerjaannya, dia pun mau mengganti tugas beberapa suster untuk melayani istrinya sendiri.

 

Sudah beberapa kali Eommanya memperingatkannya untuk meninggalkan istrinya yang bahkan tak bisa melakukan apa-apa selain berteriak dan meraung dalam tangis. Eommanya itu selalu menyodorkan orang yang sama untuk menjadi menantu idamannya. Wanita yang melahirkannya itu meyakinkannya bahwa wanita yang mengalami pergeseran mental bukanlah istri yang baik untuknya.

 

Namun, dia tak peduli. Apapun yang dikatakan Eommanya, benar atau tidak, tak akan membuatnya meninggalkan orang yang sangat dicintainya.

 

Sehat ataupun tidak, Hye Hoon adalah istrinya. Seorang gadis yang harus dijaganya, dicintainya, dilindunginya, seperti janjinya yang dengan lantang dikatakannya di hadapan Tuhan saat mereka menyatu. Gadis itu tak harus sempurna baginya, seperti cintanya yang terasa sempurna karena kepemilikannya.

 

***

 

Botol-botol yang berhamburan serta beberapa pecahan dari vas bunga yang berceceran membuat lantai tersebut terlihat berantakan. Suara gedoran pintu berkali-kali yang dilayangkan di pintu kayu itu, menyebabkan seseorang yang masih terlelap dalam tidurnya perlahan bangkit dari posisinya.

 

“ Tuan, tolong buka pintunya”.

 

Nada khawatir yang menyerang telinganya membuatnya sadar dengan menyapu kondisi sekitarnya. Karena badannya yang terasa kelelahan akibat pekerjaannya yang menumpuk serta tidurnya yang sangat larut malam tadi, dia bahkan tak terbangun ketika kegaduhan itu terjadi.

 

Dengan langkah diseret, Kyuhyun segera mencari istrinya ke ruangan kecil di kamar pribadi mereka. Karena dia tak menemukan sosok wanita itu di ruangannya, selain itu pintu kamarnya pun terkunci mengingat suara perawat yang mengetuk pintunya dari luar.

 

Rasa panik yang berlebihan menyergap jantungnya, ketika dilihatnya tak ada siapapun di ruangan kecil itu. Biasanya, lelaki itu akan menemukan Hye Hoon menenggelamkan dirinya di bathtub lalu mengangkat tubuh gadis itu ke pelukannya. Dia seringkali merasa cemas ketika hal itu terjadi. Rasa cemasnya itu bertambah berkali lipat sekarang karena dia tak bisa menemukan istrinya dimanapun.

 

Pemandangan yang ditangkapnya ketika dia membuka pintu kamarnya adalah kedua wanita muda menatap dengan ekspresi yang sama sepertinya. Kemudian raut wajah mereka berubah menjadi memelas, membiarkan dirinya menjelaskan mengapa mukanya terlihat kusut.

 

“ Dia menghilang. Tolong cari di sekitar rumah ini, aku akan mencarinya di luar”, katanya tegas. Perawat-perawat itu pun membungkuk pelan ke arahnya, lalu dengan gesitnya mencari sosok majikannya di seluruh sudut ruangan rumah besar tersebut.

 

Sedangkan dia, berlari keluar rumah cepat mengendarai mobilnya menyusuri jalanan sekitar rumahnya. Beberapa kali dia memencet klakson yang berada di gagang setirnya saat banyak mobil lain yang menghalangi laju kendaraannya. Dia merasa sangat ketakutan andaikan dia tak bisa menemukan wanita yang menyimpan separuh nafasnya itu.

 

Rintik-rintik air hujan yang semakin deras menghalangi jarak pandangnya. Seketika dia teringat dengan gadisnya yang tak diketahui keberadaannya, mungkin istrinya itu basah kuyup di jalanan sana atau ada seorang yang berhati baik membawanya berteduh.

 

Kepalanya sibuk melirik ke samping kanan maupun kiri, mengabaikan jalanan di depannya. Dia lebih mementingkan keselamatan Hye Hoon dibanding keselamatannya sendiri. Sudah beberapa jam dia menyusuri jalanan Seoul yang padat, namun tak ada hasilnya. Hingga pada titik akhirnya dia menyerah, Kyuhyun memarkirkan mobilnya di salah satu tempat favoritnya bersama gadis itu.

 

Semua orang yang dilewatinya mengamati dirinya dengan tatapan iba. Pantas saja, dengan wajahnya yang kuyu ditambah lingkar matanya yang menghitam orang-orang akan melihatnya sebagai seorang yang menyedihkan. Dia tak mau ambil pusing dengan mengabaikannya lalu mengambil tempat duduk tepat di samping jendela, yang biasa ditempatinya bersama gadisnya. Seorang yang berpakaian seragam dengan ramah menanyakan pesanannya, lalu setelah dia menyebutkan satu macam kopi kesukaannya pelayan itu pergi.

 

Tiba-tiba semua kenangan manis itu membayangi pikirannya. Masih terlintas di benaknya, ketika gadis itu merengek untuk mengizinkannya memakan makanan cepat saji kesukaannya di tempat ini. Awalnya, Kyuhyun dengan tegas menolak keinginan itu, mengingat kandungan Hye Hoon yang masih sangat muda. Saat itu kehamilan istrinya baru mencapai usia satu bulan sehingga mau tak mau dia melarangnya. Namun, kekesalan atas pembangkangan yang dilakukan istrinya itu menguap ketika Kyuhyun melihat wajah sumringah yang ditunjukkan gadisnya ketika makanan itu tersaji di hadapan mereka.

 

Sungguh, dia rela melakukan apapun agar gadis dengan senyuman manis itu kembali padanya.

 

Secangkir kopi hitam tanpa pemanis itu diminumnya dalam sekali teguk. Dia bahkan tak merasa kepanasan karena isi dari cangkir itu yang mengepul, atau merasa pahit karena cairan yang diteguknya dalam waktu singkat.

 

Salah satu bukti jika dirinya benar-benar tak bisa hidup tanpa gadisnya. Hatinya seperti beku, karena tak bisa bekerja sebagaimana mestinya jika tak ada Hye Hoon di sisinya. Sebenarnya dia egois, mempertahankan istrinya tetap dirawat di rumah sedangkan wanita itu membutuhkan perawatan yang lebih serius. Dia tak bisa, hanya tak bisa untuk jauh dari Hye Hoon barang sebentar saja.

 

Drrrtttt

 

Dengan gerakan cepat Kyuhyun merogoh sakunya untuk mengambil benda elektronik mungil yang selalu dibawanya. Matanya menatap caller ID yang tertera di layar itu sekilas, sebelum kemudian mengangkat panggilan tersebut.

 

“ Kami sudah menemukan nyonya, Tuan”.

 

***

 

Kyuhyun mengatur nafasnya setelah berhasil masuk ke dalam ruangan pribadinya.  Dia terlalu semangat hingga berlari tanpa henti setelah keluar dari mobilnya. Matanya tertuju pada sosok yang sedang menyender di ranjang, dengan boneka beruang berwarna coklat yang ada di pangkuannya. Gadis itu memandangi benda itu dengan sayang, lalu menoleh ke arahnya dengan senyum yang merekah di bibir mungilnya.

 

“ Kau sudah pulang, sayang? Ssstt…jangan berisik. Anak kita sedang tidur”.

 

Bibir tebal Kyuhyun yang semula tertarik membentuk garis simetris yang tulus, berubah datar. Dia senang karena tak terjadi apa-apa dengan istrinya, namun melihat kondisi Hye Hoon yang semakin parah menyebabkan luka baru tergores di hatinya.

 

Tanpa menyiakan waktu, Kyuhyun menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Melampiaskan semua rasa yang membuat hatinya pilu sekaligus senang dalam waktu bersamaan. Cairan kristal itu kembali mengalir dari sudut matanya, menyuarakan kepedihan yang dideritanya.

 

“ Aku sangat mencemaskanmu, sayang. Kau kemana saja tadi, hmm?”

 

Gadis itu melepaskan pelukannya, lalu tersenyum sambil memamerkan deretan giginya yang rapi. Kyuhyun meresponnya dengan mengelus rambut gadisnya penuh sayang, bersyukur karena gadis itu tak bersikap ganas seperti hari sebelumnya.

 

“ Tadi aku mau mengajakmu bermain hide and seek, tapi kau tak menemukanku. Padahal, aku hanya bersembunyi di situ”.

 

Hye Hoon menunjuk ke arah lemari pakaiannya yang besar, yang bisa ditempati oleh tubuh gadis semungil istrinya itu. Batin Kyuhyun meringis, membayangkan apa yang jika gadis itu kehabisan nafas di dalam sana. Belum lagi dengan keadaan ruangan itu yang sempit dan gelap, membuatnya takut jika suatu hal yang tak diinginkan terjadi disana. Ini semua salahnya, seharusnya dia tidak jatuh terlelap ketika menjaga orang yang paling dicintainya.

 

“ Kau pasti kelelahan bersembunyi disana, ‘kan? Kalau begitu, ayo tidur. Ini sudah malam”.

 

Gadis itu menggeleng berulang kali, tak setuju dengan ajakan Kyuhyun untuk segera tidur. Hye Hoon kembali menimang teddy bear-nya, kali ini sambil menyanyikan lagu pengantar tidur yang biasa dilantunkan seorang Ibu untuk anaknya. Senyuman lebar yang tak lepas dari bibir cherrynya, semakin membuat Kyuhyun merasakan sesak di dadanya.

 

Sampai kapan harus seperti ini? Akankah keadaan ini akan bertahan selamanya?

 

***

 

Suasana resepsi pernikahan itu terlihat sangat mewah dan elegan. Konsep acara yang sangat santai dan ramah itu sangat kentara karena tak disediakannya pelaminan untuk kedua mempelai. Pengantin baru itu ikut berbaur dengan tamu undangan, sehingga suasananya menjadi tidak tegang dan kaku seperti acara resepsi kebanyakan.

 

Kyuhyun sudah memakai berbagai macam alasan untuk mangkir dari acara ini. Akan tetapi, sang pengantin pria itu tak menghiraukannya dan memaksa dirinya untuk tetap datang. Dia tak kuasa untuk menolak, akhirnya bersedia memenuhi undangan dengan syarat dia hanya akan memberikan ucapan selamat pada sahabat karibnya itu lalu pulang.

 

Setelah beberapa menit berkeliling, Kyuhyun tak kunjung menemukannya juga. Dia malah tak sengaja bertemu dengan orang yang ditolaknya mentah-mentah di hadapan keluarganya tempo hari. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan balutan dress berwarna hitam panjang terjuntai sampai mata kakinya, yang terkesan seksi namun dengan kesan elegan yang masih kental.  Gadis itu tersenyum tulus padanya, seolah penghinaan yang dilontarkan pada gadis itu beberapa hari lalu tak pernah terjadi.

 

“ Kau sendirian, Kyuhyun~ah?”, tanyanya dengan senyum mengembang. Hyorin sepertinya terlihat sangat senang karena Kyuhyun tak membawa partner untuk menghadiri acara yang cukup formal seperti ini.

 

“ Hmm. Aku tak mungkin membawa wanita lain ketika istriku masih baik-baik saja di rumah. By the way, kau tahu dimana Lee Jonghyun sekarang?”.

 

Kyuhyun tidak melontarkan basa-basi terlebih dahulu karena dia sungguh ingin cepat pulang ke rumahnya. Dia khawatir jika perawat-perawatnya itu tak bisa menjaga istrinya dengan baik, padahal pada kenyataannya, dirinyalah yang tak bisa melindungi istrinya karena rasa cintanya yang berlebih, yang takut jika membiarkan gadis itu merasa kesakitan dikarenakan oleh tali ataupun obat yang biasa dipakai untuk menenangkannya.

 

“ Sepertinya aku tahu dimana dia, karena kebetulan aku sudah mengucapkan selamat padanya tadi. Boleh kuantar?”

 

Mereka berjalan beriringan untuk menemukan pelakon utama dari acara yang dilangsungkan di hotel terbaik di negri itu. Mungkin mereka menganggap hal ini merupakan hal yang biasa, dengan santainya memandang lalu orang-orang yang berbisik ketika mereka lewat. Berbagai macam pujian terlontar dari bibir orang-orang tersebut, melihat betapa serasinya pasangan itu.

 

Semuanya berjalan lancar, hingga Kyuhyun tak bisa menghalau emosinya ketika seorang lelaki yang terang-terangan menghina istrinya di hadapannya.

 

“ Mereka memang terlihat sangat cocok. Namun sayang, Cho Kyuhyun lebih memilih istrinya yang gila dibandingkan dengan Lee Hyorin yang sempurna. Sungguh, untuk hal ini aku merasa beruntung karena tak perlu mengurus seorang istri dengan gangguan mental, seperti pria dingin itu”.

 

Pukulan yang dilayangkan Kyuhyun ditujukan beberapa kali kepada lelaki yang tak bisa menjaga omongannya itu. Tidak dihiraukannya jeritan ketakutan yang membuat ruangan menjadi ribut, maupun teriakan Hyorin yang menyuruhnya untuk berhenti. Akal sehatnya seakan menghilang karena amarahnya yang meluap jika mendengar istrinya yang sangat dicintainya dilecehkan oleh orang yang bahkan tak dikenalnya.

 

Pria itu sudah terbaring di lantai dengan berbagai luka di bagian-bagian tubuhnya, tetapi pukulan serta tendangan yang Kyuhyun tak berhenti sedikitpun. Takut jika Kyuhyun akan membuat pria yang diketahui adalah seorang Direktur di perusahaan besar itu akan kehilangan nyawanya, Jonghyun menghentikan perbuatan sahabatnya tersebut dengan menarik Kyuhyun dari tempat kejadian.

 

Nafas Kyuhyun terengah setelah peristiwa yang menghabiskan banyak tenaganya itu berakhir. Beberapa perih dirasakannya di sekitar wajahnya hingga perutnya. Dia menyeringai ketika melihat lawannya yang tertatih dengan luka lebam yang menghiasi wajahnya. Walaupun belum puas, setidaknya dia bisa membalas rasa sakit hatinya.

 

Yak! Neo…Apa yang kau lakukan Cho Kyuhyun? Kau bukannya menyapaku dengan jabatan tanganmu tapi pukulan liarmu itu dengan indahnya menghancurkan pestaku? Benar-benar berbeda sekali dengan Kyuhyun yang kukenal”.

 

Jonghyun terlihat sangat kesal dengan tingkahnya, namun mata lelaki itu memancarkan kesedihan ketika melihat keadaannya. Kyuhyun sudah terbiasa menerima jenis tatapan seperti itu dari orang terdekatnya. Apakah memiliki seorang istri yang tak sempurna harus membuat dirinya dicaci dan dikasihani oleh orang lain dalam waktu bersamaan?

 

“ Istriku tak pantas dihina seperti itu. Semua orang boleh memakiku semaunya, tapi jangan istriku. Dia tak bersalah apa-apa dalam hal ini. Aku yang seharusnya disalahkan”.

 

Tubuh Hyorin mendekat ke arahnya, kemudian menyentuh bahunya pelan memberikan kekuatan sekaligus obat penenang untuknya. Semua orang yang tadinya menatap Kyuhyun dengan mata berkilat, berubah menjadi mengasihaninya. Mengapa semua orang berpikir jika memiliki istri seorang yang tidak normal merupakan sebuah kesedihan untuknya? Dia bahagia. Dia akan selalu merasa senang jika istrinya tetap berada dalam lingkup yang bisa dijangkaunya.

 

“ Jonghyun~ah, selamat atas pernikahanmu. Maafkan aku karena membuat kekacauan di acara bahagiamu. Aku pulang sekarang”.

 

Kyuhyun bahkan melupakan perkenalan dengan wanita yang baru Jonghyun nikahi. Dia benar-benar ingin segera meninggalkan tempat yang membuat dirinya muak karena kepalsuan yang ditunjukkan orang-orang disana.

 

***

 

“ Kalau kau tidak mau ke rumah sakit, tinggallah sebentar di apartemenku. Aku akan mengobati lukamu itu, kalau tak diobati aku takut lukanya akan terkena infeksi. Di rumahmu tak ada yang bisa mengobatimu, Kyu. Jadi, mampirlah ke tempatku sebentar”.

 

Rahang Kyuhyun mengeras menangkap maksud dari pernyataan Hyorin. Dia tak pernah suka dengan perubahan sikap yang ditunjukkan wanita itu ketika mengetahui bahwa istrinya mengalami depresi akut. Sahabatnya itu seolah mendukung perjodohan paksa yang dilakukan oleh Eommanya.

 

Dia memelankan laju Audy R8 Spider miliknya, menyalakan lampu sein kemudian memarkirkannya di pinggir jalan. Lee Hyorin mengerutkan keningnya bingung karena mobil Kyuhyun yang berhenti dengan tiba-tiba di tempat sepi. Namun, batinnya membuncah membayangkan apa yang akan dilakukan lelaki itu di ruangan yang terbilang sempit serta di bawah sinar rembulan yang temaram.

 

Bisa saja lelaki itu kehilangan kendalinya dan juga membutuhkan kehangatan yang tak bisa didapatkannya dari istrinya. Mungkin terdengar licik, namun dia juga ingin merasakan Kyuhyun untuk dirinya sendiri, walaupun hanya dalam waktu yang singkat. Dia bahkan rela menukarnya dengan menjadi orang kedua, istri kedua atau apapun untuk mendapatkan Kyuhyun yang menjadi tujuan hidupnya.

 

 “ Turun dari sini, sebelum aku kehabisan kesabaran dan menghabisimu seperti pria kurang ajar tadi”.

 

Mata tajam Kyuhyun yang berkilat membuat bahu Hyorin bergetar. Dia sangat mengenali sikap Kyuhyun yang tak main-main dengan ucapannya ketika lelaki itu sedang marah. Dengan cekatan Hyorin membuka pintu mobil berwarna hitam itu lalu dalam sekejap benda tersebut menghilang dari jarak pandangnya.

 

Bibir mungilnya mengerucut kesal, apalagi karena gaunnya yang panjang tersapu oleh angin malam yang membuatnya beku karena kedinginan. Dia membuka tas tangannya, lalu mendial nomor yang sering dihubunginya. Sepertinya keputusannya sudah bulat, dia akan merebut Kyuhyun dari gadis itu selamanya dan berhenti berharap jika dirinya hanya dijadikan istri kedua.

 

“ Aku akan menjalankan apapun rencanamu, Eomonim”.

 

***

 

Tidak. Dia tak pernah berharap jika setiap dia pulang ke rumah, dia akan disambut dengan senyum manis dan pelukan hangat dari istrinya. Melihat gadis itu tidur tenang pun, sudah dapat meredakan rasa lelah yang menderanya karena bekerja seharian.

 

Mendapati Hye Hoon yang mengamuk ketika dia membuka pintu utama, sungguh tak pernah diinginkannya.

 

Gadis itu meronta dengan kedua perawat yang memegangi kedua sisi tangannya. Sepertinya mereka kewalahan karena ulah Hye Hoon yang mencoba melepaskan diri dari pegangan kuat mereka. Hye Hoon tak henti berteriak dengan isak tangisnya yang semakin menjadi setiap detiknya.

 

“ LEPASKAN AKU….LEPASKAN…AKU INGIN MENEMUI ANAKKU..LEPASKAN”.

 

Suara-suara yang didengar Kyuhyun terasa bagaikan lagu pengiring kematian baginya. Dia bahkan tak sanggup untuk mendengarnya lagi walaupun sekian lama terbiasa dengan kejadian yang seringkali terjadi di rumahnya ini. Dia…tak sanggup melihat istri yang sangat amat dicintainya terluka semakin dalam.

 

“ CHO KYUHYUN, KEMBALIKAN ANAKKU..KEMBALIKAN”.

 

PLAK

 

Dia tak melawan ketika           Hye Hoon mendaratkan beberapa tamparan keras yang membuat pipinya memerah. Dia juga tetap diam ketika istrinya memukuli dadanya dengan tangannya yang terasa keras karena tulangnya yang lebih menonjol. Kyuhyun memandangi wajah lusuh istrinya penuh kasih sayang, berbanding terbalik dengan tubuhnya yang seakan membatu bagaikan patung.

 

“ AKU MEMBENCIMU CHO KYUHYUN, AKU INGIN KAU MATI, BAWA ANAKKU KEMBALI….”.

 

Pukulan Hye Hoon di sekitar bahu dan dadanya pun melemah. Teriakan yang menggema di seluruh penjuru rumah tergantikan dengan isakan halus dari bibir mungilnya. Mata Kyuhyun basah, meratapi kisah pilu yang dirasakan istrinya. Kyuhyun tahu, gadisnya itu sangat terluka.

 

Tak masalah jika lukanya semakin parah hingga dia ujung matanya menangkap ada darah yang merembes di sekitar bibirnya. Badannya yang terasa pegal pun tak menjadi kendala baginya. Jika itu dapat mengobati rasa sakit yang Hye Hoon rasakan, dia rela.

 

Hye Hoon menginginkannya mati? Dia akan melakukan hal itu setelah dia dapat menjamin kebahagiaan gadisnya.

 

Tubuh Hye Hoon ambruk di hadapannya. Kaki gadis itu seolah lelah untuk menumpu beban berat yang menimpanya. Tangis Kyuhyun semakin menjadi, tatkala dia melihat keadaan istrinya yang semakin lemah tak berdaya seperti saat itu.

 

Namja itu membungkuk, meraih tubuh ringkih gadisnya ke dalam pangkuannya. Dia bersyukur dalam hati, karena gadis itu tak memberontak seperti yang tadi dilakukannya. Setelah dia dapat mencapai pintu kamar, Kyuhyun segera membaringkan Hye Hoon di ranjang besar mereka. Tak lama, dia juga ikut menaiki tempat tidurnya, berbaring menghadap istrinya lalu menghapus air mata yang mengotori wajah mungil gadis itu.

 

“ Apakah akan berbeda jika seandainya anak kita dilahirkan ke dunia? Tolong sembuhkanlah lukamu dan kembali padaku. Aku tak bisa menjalani hidupku sendirian, sayang”.

 

Tak ada respon yang didapatnya. Hye Hoon sedang berada dalam dunianya sendiri, terlihat dari matanya yang tak fokus serta bibirnya yang melengkungkan senyuman tanpa henti. Kyuhyun mengelus pipi gadis itu pelan. Hanya hal itu yang bisa dilakukannya sekarang.

 

“ Aku mencintaimu, Hye Hoon~ah”.

 

Senyuman yang terpatri di wajah cantik itu tiba-tiba menghilang. Mata gadis itu mengerjap, seakan mengerti apa yang baru saja diucapkannya. Kali ini senyum Kyuhyun yang mengembang, mendaratkan sebuah kecupan ringan di dahi gadis itu mengungkapkan kebahagiaan yang dirasakannya.

 

Sepertinya Kyuhyun harus menyebutkan kata itu lebih sering supaya Hye Hoon akan kembali mengingatnya.

 

***

 

Hyorin memasuki mansion itu dengan beberapa kantung belanjaan yang dijjinjingnya. Mulai hari ini, dia akan melancarkan aksinya. Berbekal dengan kemampuan memasak yang jauh dari rata-rata gadis seusianya, tentu ini akan menjadi nilai tambahan. Sejak beberapa tahun yang lalu, Kyuhyun selalu menyukai makanan buatannya dan menghabiskannya tanpa sisa.

 

Pagi itu, suasana rumah terlihat begitu lengang. Seorang yang mengenakan seragam berwarna putih itu mengiringnya ke ruang tamu. Namun, dengan halus dia menolaknya dan minta diantarkan ke dapur saja.

 

Sementara itu, suasana di kamar utama sangat berbeda. Hye Hoon yang mulai kembali tak bisa dikendalikan itu tengah menjauhi Kyuhyun dan meringkuk di sudut ruangan dengan lututnya yang ditekuk. Matanya terlihat ketakutan melihat Kyuhyun. Wanita itu mengeratkan pelukannya pada lututnya sendiri, ketika namja itu berjongkok di hadapannya.

 

“ Kau mau apa? Siapa kau? Aku…tak mengenalmu”.

 

Kalimat itu membuat hatinya berdenyut nyeri. Dia bisa mengatasi rasa sakit yang menderanya jika Hye Hoon mengeluarkan teriakan penuh kebenciannya ataupun menyiksanya dengan pukulan bertubi-tubi. Namun, kali ini gadis itu tak mengenalinya. Ini jauh lebih menyakitkan dari semua penderitaan yang dialaminya itu membuatnya tak bisa menyembuhkan rasa sakitnya seperti biasanya.

 

Badan Hye Hoon bergetar, matanya pun bergerak waspada mengamati Kyuhyun yang berjarak sangat dekat dengan gadis itu. Pancaran dari bola mata hitam itu terlihat gelisah, tanpa Kyuhyun tahu apa alasannya.

 

Namja itu pada akhirnya mengalah, meninggalkan istrinya di kamarnya karena Hye Hoon sepertinya butuh waktu untuk sendiri. Rasa khawatir yang menyergapnya pun dibuangnya jauh, karena pikirannya mengatakan jika dia melupakan Kyuhyun, maka dia akan melupakan tentang kehilangan yang dialaminya ketika kehilangan janin itu di rahimnya.

 

Kedutan di matanya semakin terasa, membuat perih seketika dirasakan hatinya. Ini adalah cobaan paling berat semenjak Hye Hoon sakit. Dia tak pernah mengeluh dengan penyakit yang diderita Hye Hoon dulu, namun sekarang dia mulai goyah dengan pertahanannya.

 

Dia mendaratkan tubuhnya yang lemas di sofa empuk di ruang santainya. Dia butuh waktu untuk memikirkan keputusan yang akan diambilnya. Kyuhyun mengerti jika dia tak boleh mementingkan dirinya sendiri jika dia mau gadis itu sembuh.

 

Sialnya, dia mulai memikirkan perkataan Eommanya untuk membawa istrinya ke rumah sakit jiwa.

 

Seorang wanita cantik yang tak diketahuinya kapan memasuki rumahnya mengambil tempat di sebelahnya. Entah darimana dorongan yang didapat gadis itu untuk berani mendekati Kyuhyun sedangkan beberapa hari lalu lelaki itu mengusirnya dari mobilnya.

 

“ Kyuhyun~ah, gwenchana?”, tanyanya lembut. Namun, Hyorin tahu pasti apa jawabannya. Kyuhyun dalam keadaan tak baik-baik saja. Terlihat dari cairan kasat mata yang berada di ujung matanya. Hyorin bisa menebak dengan benar siapa yang membuat Kyuhyun seperti ini.

 

Dengan sukarela gadis itu meminjamkan bahunya menjadi penopang kepala Kyuhyun yang sangat membutuhkan sandaran. Kyuhyun ikut tertekan karena depresi yang dialami istrinya. Dia mungkin bisa menghajar seorang pria berkuasa sekalipun untuk membela gadisnya, namun hatinya sangat rapuh jika menyangkut tentang Choi Hye Hoon.

 

“ Haruskah aku menuruti perkataan Eomma, Hyorin~ah? Apakah adil jika aku membiarkannya tinggal di ruangan sempit dengan sel yang mengelilinginya? Aku tak mau dia menempati tempat seperti itu. Keunde, aku juga ingin yang terbaik baginya. Apa yang harus kulakukan, Hyorin~ah

 

Suara parau Kyuhyun terdengar sangat tersiksa dan putus asa. Hyorin yang menjadi pendengarnya pun merasa terenyuh dengan pengorbanan yang dilakukan Kyuhyun untuk tetap merawat istrinya. Namun, inilah kesempatan emas yang bisa didapat Hyorin. Semua akan berjalan sebagaimana mestinya, kan?

 

“ Hmm. Aku juga tak tega jika kau mengirimnya kesana. Tapi, bagaimana lagi Kyuhyun~ah? Aku takut kondisi kesehatan istrimu akan semakin parah. Aku mendukung apapun keputusanmu. Semoga kau mengambil pilihan yang terbaik”.

 

Kyuhyun mengetatkan pegangannya kepada pinggang ramping gadis itu, seolah mencari kekuatan dari pelukannya. Dia terlalu sering berpura untuk tegar, padahal dirinya sangat membutuhkan tempat untuk mencurahkan isi hatinya mengenai keadaan Hye Hoon. Sedari dulu, Hyorin memang pendengar yang baik dengan solusinya yang selalu cemerlang.

 

“ Gomawo, Hyorin~ah”.

 

Di sisi lain, Kyuhyun tak menyadari jika ada seseorang di balik pintu kamar yang gelap itu mengamati pelukan keduanya. Dia tak tahu mengapa dadanya tiba-tiba merasa terbakar serta asma yang dideritanya terasa menyesakkan dadanya karena perlakuan kedua orang tadi.

 

Seharusnya tak seperti itu.

 

Orang itu duduk di ranjangnya dengan nafas tersengal, kemudian dengan gerakan terpatah meraba botol kecil di laci nakasnya. Dihirupnya udara segar yang menyeruak di indera penciumannya. Perlahan, deru nafasnya mulai menurun hingga dia bisa menghirup oksigen dengan normal.

 

Dengan hati-hati, dia meletakkan kembali botol itu di tempatnya semula. Setelah mendengar ucapan Kyuhyun barusan, dia mengetahui langkah apa yang akan diambil Kyuhyun selanjutnya. Oleh karena itu, dia harus segera mencuri start agar rencana pria itu tak akan bisa terlaksana.

 

Sial. Dia tak mungkin menggunakan telepon rumah, karena telepon itu tersambung sama di semua telepon yang ada di setiap ruangan di rumah ini. Dia segera mengambil langkah seribu untuk membuka lemari pakaiannya, meneliti diantara lipatan-lipatan bajunya untuk menemukan benda kecil disana.

 

Setelah benda itu berada dalam genggamannya, dia memijit nomor yang dihapalnya di luar kepala. Tak lama kemudian, orang yang berada di seberang sana pun menjawab panggilannya. Dia tak menyuarakan sapaan yang biasa dilakukan orang-orang seperti biasanya, mengucapkan suatu kalimat dengan cepat setelah itu langsung menutup ponselnya.

 

“ Cepat jemput aku, Oppa”.

 

***

 

Derap langkah kaki yang semakin mendekat membuatnya segera menyembunyikan tubuhnya di balik selimut tebalnya. Untung saja, dia dapat menyelamatkan diri tepat waktu sebelum pemilik langkah kaki itu datang. Kalau tidak, dia bisa memastikan jika sandiwaranya selama ini diperankannya pasti akan segera terbongkar.

Ranjang yang ditidurinya berderit, menandakan seseorang yang lain berada di tempat yang sama dengannya. Dia merasa muak berada di kamar itu sebenarnya, namun apa dayanya. Selain karena hubungan mereka yang sah sebagai suami istri, jika dia tak berada di kamar itu dia akan merasakan dinginnya lantai marmer rumah sakit yang ditujukan bagi orang yang mengalami masalah kejiwaan, seperti yang akan dilakukan oleh suami yang katanya sangat mencintainya.

Cih, sampai kapapun dia tak akan termakan dengan bualan lelaki sialan itu.

Dia masih memejamkan matanya ketika lelaki itu menyibakkan rambut bagian depannya, lalu mendaratkan sentuhan-sentuhan ringan di puncak kepalanya. Dia meralat pikiran yang bersarang di otaknya tadi. Ya, mungkin Kyuhyun benar-benar mencintainya, dan itu berarti, tujuan awalnya sudah tercapai. Yang dilakukannya sekarang tinggal menunggu finishing yang baik, kemudian menyisakan keterpurukan yang pernah dirasakannya.

Jantungnya berdegup lebih kencang ketika dia merasakan sebuah material yang sangat lembut menyentuh permukaan bibirnya. Selalu seperti itu. Dia melupakan rasa benci yang selalu membayanginya saat Kyuhyun mencumbunya dengan lembut, memperlakukannya seolah dirinya adalah kaca yang siap rapuh kapan saja.

Tidak. Dia tidak boleh mengulang kesalahan yang dilakukan orang yang sangat disayanginya, untuk jatuh cinta kepada orang yang sama.

***

“ TIDAK!!!! AKU TIDAK MAU IKUT DENGAN KALIAN!!! LEPASKAN AKU, TOLONG AKU, SIAPAPUN TOLONG AKU”.

Lolongan penuh pilu itu melantun dengan keras di telinganya. Dia bahkan tak sanggup untuk melihat ke arah sumber suara, takut jika dia tersentuh lalu kembali menawan gadis itu di kamarnya. Dia nampak tegar, tanpa cairan yang biasanya membuat dirinya terlihat lemah di luarnya.

Kyuhyun mungkin tak melakukan keputusan yang paling tepat, namun inilah yang terbaik. Dia berdoa dalam hati agar gadis itu segera dapat pulih dan kembali mendampinginya. Sungguh, hatinya merasa tak rela harus melepas gadis itu ke dalam sebuah tempat yang pasti tak nyaman baginya.

“ Kau melakukan hal yang terbaik, Kyuhyun~ah. Setelah hal ini selesai, kau bisa mempertimbangkan usulan Eomma untuk menikahi Hyorin. Tak perlu terburu-buru, lambat laun kau pasti bisa melupakan wanita gila itu”.

Kyuhyun tak menghiraukan apapun yang dikatakan Ibunya. Sekarang ini, tatapannya terkunci pada mata Hye Hoon yang berair menatapnya penuh permohonan. Dia luluh, setelah itu menghampiri gadis itu, memberikannya sebuah pelukan yang terasa menyejukkan seperti biasanya. Tangan Hye Hoon yang terborgol membuat gadis itu tak berkutik, menerima sentuhan Kyuhyun dengan pasrah.

“ Aku sangat mencintaimu, sayang. Ingatlah, aku melakukan ini untukmu. Aku ingin kau sembuh dan kembali ke sisiku secepatnya. Mianhae…Mianhae Hye Hoon~ah”.

Cairan tak berwarna yang sejak tadi ditahannya pun akhirnya kembali membasahi permukaan pipi putihnya. Dadanya terasa sangat berat, seakan ada batu besar menghimpit di atas tubuhnya. Hye Hoon menggelengkan kepalanya berulang kali, menolak permintaan maafnya itu. Ya, dia memang tak termaafkan. Gadis yang berharga untuknya dia buang begitu saja seperti sampah yang sudah tak berguna.

“ AKU TIDAK MAU PERGI!! TOLONG AKU”

Setelah mengendurkan pelukannya, dia menundukkan kepalanya kemudian memberikan isyarat untuk beberapa pegawai rumah sakit itu membawa istrinya. Pegawai berseragam serba putih itu dengan sigap membawa Hye Hoon keluar rumah, hendak membawanya pergi dengan ambulance yang sudah terparkir di pekarangan rumahnya.

Sebelum kemudian ada seorang lelaki tampan yang menghalangi jalan mereka. Dia menyuruh kedua lelaki yang menyeret gadis itu menjauh dengan mata tajamnya yang melebar, kemudian meraih tubuh mungil gadis itu ke dalam dekapannya.

“KATAKAN, APA YANG TERJADI DISINI? JELASKAN PADAKU ATAU AKU AKAN MEMBAWA ADIKKU PERGI DARIMU SEKARANG JUGA”

***

Isyarat tubuh Hye Hoon yang mendekap lelaki itu erat sambil melayangkan pandangan ketakutannya kepada Kyuhyun membuat dirinya meringis pilu. Tentu saja, kekejaman yang dia lakukan pada istrinya sendiri itu akan membuatnya dibenci seumur hidup oleh gadisnya. Dia pantas mendapatkan itu, sangat pantas.

“ Aku…tak bermaksud mengusirnya dari kehidupanku, hyung. Aku pikir ini yang terbaik baginya, aku…”

“ JADI KAU PIKIR TEMPAT YANG TERBAIK BAGINYA ADALAH RUMAH SAKIT JIWA? KAU BENAR-BENAR TEGA, KYUHYUN~AH. JIKA KAU SUDAH TAK MAU LAGI MENGURUSNYA, KAU BISA MENYERAHKANNYA PADAKU BUKAN MENGIRIMNYA KE TEMPAT LAKNAT ITU”.

Pria bermarga Choi itu seperti sudah kehilangan kesadarannya. Melihat dengan mata kepalanya sendiri adik semata wayangnya diseret paksa untuk masuk ke rumah sakit – bahkan dia tak mau menyebutnya lagi- menorehkan luka dalam di dadanya.

Mungkin adiknya benar, Kyuhyun adalah lelaki yang bejat dan sangat pantas untuk diberi hukuman. Sungguh tak terduga, setelah dulu Kyuhyun mengusir sepupunya dari kehidupannya karena gadis itu hamil, dia sekarang berani mengusir adiknya, yang notabenenya adalah istrinya sendiri, dengan mengantarkannya ke tempat yang tak pantas untuk adiknya itu.

Lelaki itu merasa bersalah ketika tatapan Kyuhyun yang penuh kesedihan berubah menjadi isakan yang membuat Kyuhyun harus menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Lelaki yang lebih muda darinya itu terlihat sangat tersiksa. Siwon sempat melihat adik perempuannya juga melihat perubahan emosi yang ditorehkan di raut muka Kyuhyun, namun dengan cepat Hye Hoon mengalihkan fokusnya pada lantai yang tak menarik sama sekali.

“ Maafkan aku, hyung. Aku bersalah. Aku….tak pernah ingin dia menderita karena dia tinggal disana, tapi dia akan lebih menderita jika bersamaku, hyung. Maafkan aku, hyung. Aku pantas mati”.

***

Kini, Siwon juga ikut berakting bersama adik kesayangannya untuk mengelabui satu orang yang sama, Cho Kyuhyun. Dia terlalu menyayangi adiknya itu sehingga tak bisa menolak apapun permintaannya. Dari awal, ide Hye Hoon untuk mendekati Kyuhyun agar membalaskan dendam yang dipendamnya atas meninggalnya Kim Jihyun, sepupu dekat mereka sekaligus sahabat baik adiknya itu sangat ditentangnya.

Namun, Hye Hoon terlalu keras kepala sehingga mengabaikan perkataannya.

Dia menggenggam tangan gadis itu, membuat Hye Hoon yang sedang memandangi langit malam dari balkon kamarnya pun menoleh. Gadis itu tersenyum manis kepadanya, pipinya yang sedikit menggembung jika bertemu dirinya pun ditunjukkannya, membuatnya mencubit pipi gadis yang adalah satu-satunya keluarganya yang tersisa itu dengan gemas.

“ Kau berhasil membuatnya mencintaimu sampai mati. Kau tak tersentuh?”,tanyanya menyelidik.

“ Ne? A-Anieyo, tentu saja itu hal yang sangat tidak mungkin. Kau bicara apa, Oppa?”

Hye Hoon memalingkan wajahnya. Akan tetapi, bukan Choi Siwon namanya jika dia tak bisa membaca raut wajah gadis itu. Dia sudah memperingatkan Hye Hoon agar tak terjebak dengan perangkapnya sendiri. Akan tetapi, ketulusan lelaki itu sepertinya membuat gadis itu lengah sehingga membalas perasaannya.

“ Eeeiii…kotjimal. Kau tak bisa bohong di hadapanku, Hye Hoon~ah”.

Hye Hoon yang merasa gugup dengan pertanyaan lelaki tampan itupun segera mengalihkan pembicaraan. Dia tak mau berlama-lama membicarakan suaminya, jika tak ingin Siwon mengetahui kebimbangan yang melandanya.

“ Jadi, kapan kau akan membawaku pergi dari sini?”

Siwon berpikir sebentar, sebelum akhirnya mengutarakan jawabannya. “ Sepertinya aku bisa membawamu lusa. Aku akan tinggal disini sampai saat itu terjadi. Aku akan menemanimu dan menjauhkan dirimu dari Kyuhyun sementara waktu. Kau pasti lelah berpura-pura menjadi orang gila, ‘kan? Aku takut jika kau lebih lama memerankan peran sebagai seorang sakit jiwa membuatnya malah menjadi kenyataan. Tapi, sepertinya sudah terjadi karena kau memerankan perannya dengan begitu baik”.

“ Oppa!! Kau tak tahu bagaimana amukan brutal orang yang mengalami depresi akut, huh?”

***

Siwon mengesap espresso yang disiapkan oleh pelayan di rumah adik iparnya ini lambat-lambat. Tangan kanannya dengan santai membuka helaian surat kabar berbahasa inggris yang menjadi santapan sehari-harinya. Dari ekor matanya terlihat Kyuhyun sedang mengamatinya penuh selidik.

Sial. Seharusnya dia melewatkan kebiasaan paginya ini demi menjaga agar panggung akting yang diciptakan adiknya berjalan dengan baik. Kyuhyun pasti akan curiga padanya karena meninggalkan Hye Hoon sendirian di kamar.

“ Apakah dia sudah bangun?”

Siwon hanya menjawabnya dengan gelengan pelan kepalanya tanpa mengalihkan matanya dari koran yang selalu setia menemaninya setiap pagi. Dia menengadahkan kepalanya cepat, ketika terlihat seorang yang berpenampilan seperti seorang Dokter menyapa Kyuhyun lalu menerima orang tersebut di ruang tamu.

“ Saya akan menjelaskan kondisi Nyonya Cho pada anda, Tuan”.

Senyuman lebar yang ditunjukkan pria tambun yang rambutnya sudah memutih itu membuat Siwon cemas. Dia memiliki firasat buruk tentang kabar yang akan didengarnya ini. Terdapat jeda beberapa saat dalam percakapan itu, sukses membuat wajah kedua orang itu, baik Kyuhyun maupun Siwon memucat dengan alasan yang berbeda.

“ Nyonya Cho positif tidak mengalami depresi apapun. Kondisi kejiwaannya sangat normal”.

Kyuhyun tak percaya dengan pendengarannya sendiri. Bagaimana mungkin?

Sebelum merujuk Hye Hoon untuk membawanya ke tempat rehabilitasi itu Kyuhyun sempat menyuruh seorang Dokter untuk memeriksa istrinya. Dokter itu adalah dokter yang dipilihnya yang merupakan dokter terbaik di bidangnya. Kyuhyun juga sudah menyelidiki track record yang membuatnya semakin mempercayai Dokter yang merupakan lelaki teman ayahnya itu. Dia tidak mungkin main-main dengan analisanya.

Sesaat dia menoleh ke arah kakak iparnya yang terlihat sangat ketakutan. Terbukti dengan garis halus yang terlihat di keningnya dengan matanya yang tak fokus. Tangannya pun menyalurkan emosinya dengan meremas celana tidur yang masih dikenakannya.

Ada apa sebenarnya ini?

***

Kyuhyun tak mempedulikan teriakan Siwon yang berkali-kali menyuruhnya untuk berhenti dan kembali membicarakan masalah ini dengannya saja. Namun, Kyuhyun tak mengindahkannya dengan melangkahkan kakinya cepat ke arah ruangan pribadinya.

Amarah yang meledak menyebabkan dadanya bergemuruh marah. Pernyataan Siwon yang menyatakan jika Hye Hoon hanya berpura-pura gila dihadapannya itu membuatnya berang. Setelah menjeblak pintu kamar dengan suara yang memekakan telinga, dia bahkan tak bisa berbuat apa-apa ketika melihat gadis itu melemparkan tatapan lembut ke arahnya.

“ Wasseo?”

Suara lembut itu kian membuat dadanya yang panas semakin berubah dingin. Dia ingin mencaci gadis itu, memarahinya hingga semua rasa sesak di dadanya menghilang, lalu menendangnya keluar dari rumahnya dengan kasar. Akan tetapi, dalam waktu bersamaan, dia ingin meluapkan rasa bahagia yang dirasakannya karena gadis itu tak pernah mengalami seperti apa yang dikhawatirkannya selama ini.

Tanpa suara, Kyuhyun memantapkan hatinya dengan pilihan keduanya untuk memeluk gadis itu erat tanpa berniat melepaskannya. Rasa marah, kesal, benci yang berkecamuk di hatinya perlahan memudar. Gadis itu terlalu memiliki efek yang kuat untuknya, sehingga dia tak sanggup melukai Hye Hoon, seberapapun perlakuan istrinya itu menyakitinya.

“ Katakan, mengapa kau membohongiku? Mengapa kau berpura-pura menjadi orang yang mengalami depresi berat karena kehilangan calon bayinya sedangkan pada kenyataannya pikiranmu masih normal?”

Tubuh Hye Hoon dalam sekejap menegang mendengar pertanyaan suaminya yang seakan mendesak dirinya. Wanita itu mendongakkan lehernya, melihat mata Kyuhyun yang memerah dipenuhi kilatan emosi yang sepertinya bisa meledak kapan saja. Hye Hoon menelan ludahnya, tak menemukan jawaban yang selama ini dipersiapkannya jika lelaki itu menanyakan hal ini padanya.

Sekarang dia merasakan takut itu. Dia takut Kyuhyun meninggalkannya setelah mengetahui segalanya.

“ Jawab aku, Choi Hye Hoon! Apa sekarang kau berakting menjadi orang tuli?”

Hye Hoon menggigit bibir bawahnya namun pada akhirnya dia membuka suaranya untuk membeberkan fakta yang ada. Dia ingin tahu, apa reaksi yang akan diberikan Kyuhyun ketika mengetahui rencana balas dendamnya?

“ Kim Jihyun, apa nama itu terdengar familiar untukmu? Dia sepupuku, teman terbaikku yang berubah ketika dia mengenalmu. Dia…..Dia meninggal karena bunuh diri setelah sebelumnya beberapa bulan mengalami depresi berat karena kehamilannya. Dan kau…KAU YANG MENYEBABKANNYA SEPERTI ITU! KAU TAK MAU BERTANGGUNG JAWAB ATAS PERBUATANMU DAN MENINGGALKANNYA DENGAN JANIN YANG TAK PERNAH DIINGINKANNYA!!!!”

Kyuhyun tersentak dengan nama yang merupakan bagian dari masa lalunya serta kenyataan yang didengarnya dari mulut istrinya sendiri. Kim Jihyun, benar adalah gadis yang pernah dicintainya sepenuh hati. Gadis ceria yang selalu menemaninya di saat-saat tersulitnya ketika dia dipaksa untuk menjadi penerus perusahaannya. Gadis yang selalu membuatnya merasa bahagia hingga akhirnya menghilang begitu saja dari kehidupannya, setelah tragedi yang menimpa gadis malang itu terjadi.

“ Jihyun..sudah meninggal?”

“ YA! DAN INI SEMUA KARENA KETOLOLANMU! Sekarang kau bisa merasakan, bagaimana rasanya tersiksa ketika orang yang kita sayangi mengalami penderitaan seperti itu. Bukankah kau mencintaiku? Kau merasakan sakitnya juga, kan?”

“ Sungguh, ini tak seperti yang kau pikirkan. Aku tak pernah meninggalkannya, tidak pernah berniat bahkan ketika aku mengetahui jika dia kehilangan kegadisannya karena mengalami pemerkosaan oleh seorang yang tak dikenal. Namun, sepertinya Jihyun tak ingin orang lain mengetahui kebenarannya. Aku yang ingin melindungi Jihyun pun tidak menghalau semua gosip itu dan membiarkan semua orang memandang rendah padaku bahkan ada yang menyebutku sebagai lelaki tak bermoral. Aku melakukan semuanya agar Jihyun tak malu dengan kejadian yang menimpanya. Lalu mengapa? Mengapa kau masih menyalahkanku setelah aku melakukan semuanya itu”.

Kyuhyun kembali merengkuh tubuh gadis mungil itu dengan tangan besarnya. Dia tak peduli jika baju mahalnya basah karena tumpahan air mata pilu yang semakin menggenangi mata gadisnya. Mungkin, terlalu banyak kenyataan sebenarnya yang ditumpahkan sekaligus oleh Kyuhyun membuat gadis itu bimbang akan keputusannya.

“ Percayalah padaku, sayang. Kumohon. Aku tak mau kehilangan orang yang sangat kucintai untuk kedua kalinya. Saranghae, Hye Hoon~ah. Jeongmal Saranghae”.

***

One year later…

Seorang wanita yang menggerakkan bagian-bagian tubuhnya yang terasa kaku itu seketika menghentikan gerakannya tatkala merasakan sebuah tarikan tangan yang cukup kuat yang membuat dirinya menoleh ke arah si pemilik tangan.

“ Cish, sudah berani pulang larut malam dan mengganggu acaraku begitu saja”.

Lelaki yang dihujani oleh tatapan kejam dari wanita tadi tersenyum tanpa dosa, lalu meraih tubuh wanita yang mulai membuncit itu ke dalam pangkuannya, membaringkan tubuh mereka di king size bed yang terdapat di kamar tersebut.

Kyuhyun mendaratkan kecupan manja di pipi gadis itu, menyebabkan rona merah yang tak bisa disembunyikan itu kembali muncul. Dia pun merubah posisinya, menyediakan lengannya untuk menjadi pengganti bantal bagi istrinya. Mungkin itu adalah hal yang biasa dilakukannya, namun istrinya seakan tak pernah lelah untuk memberinya senyuman hangat setelahnya.

“ Sudah kukatakan berulang kali, jangan menggerakkan badanmu itu sesukamu. Kau harus hati-hati, sayang. Aku tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada kalian berdua”.

“ Aku bosan diam sendirian di kamar setiap hari. Duduk seharian bisa membuat pinggangku nyeri seharian. Jika aku berjalan dengan jarak kamar sampai dapur pun, kakiku terasa pegal. Sepertinya aku harus banyak berolahraga, makanya aku melakukan pemanasan seperti tadi”.

“ Hmm. Kalau begitu aku akan melonggarkan jadwalku dan kita akan mengikuti kelas senam hamil”.

Mereka tak banyak bicara setelahnya. Menikmati kebersamaannya dalam keheningan yang terasa begitu berarti. Tarikan nafas yang seirama seakan melodi yang indah untuk keduanya. Mereka melalui kisah cinta yang manis pada awalnya, lalu dibumbui dengan pahitnya masa lalu. Tapi, mereka bersyukur bisa melalui masa-masa yang terasa pahit itu untuk merasakan masa depan yang dipenuhi senyuman kebahagiaan.

“ Wae? Kenapa kau memaafkan kebohongan yang kulakukan, Kyu? Aku tahu kau orang yang baik. Keunde, bukankah kesalahanku itu terlalu fatal untuk ukuran seseorang yang sangat tulus mencintaiku?”

“ Aku juga bisa membalikkan pertanyaan itu padamu. Kau gadis pendendam yang tak mudah memaafkan orang lain, mengapa dengan mudahnya memberikan kata maaf bahkan kata cinta untuk seseorang yang kau yakini menyakiti sepupu kesayanganmu? Rasanya cintaku itu membiusku sehingga aku tak bisa melawanmu dan memberikan perlawanan akan siksaan yang kau lakukan. Bisakah kau tak menanyakan pertanyaan itu lagi? Aku sudah bosan menjawabnya”.

Mereka tertawa setelahnya, berjanji jika sampai kapanpun mereka tak akan menoleh kepada masa-masa dimana kesalahpahaman menjadikan mereka larut dalam kesedihan yang panjang.

Kyuhyun menyuruh Hye Hoon untuk segera tertidur tapi wanita hamil itu menolaknya tegas. Dia melayangkan puppy eyesnya, yang membuat Kyuhyun mendengus pelan karena dia tahu apa arti dari tatapan istrinya itu.

Namja itu mendengus diam-diam tanpa sepengetahuan istrinya kemudian mengubah posisi terbaringnya menjadi duduk di atas ranjang empuk itu. Tangannya dengan lihai memberikan pijatan-pijatan lembut di kaki gadis itu, menimbulkan perasaan rileks yang dirasakan Hye Hoon.

“ Sampai kapan kau akan menjadikanku tukang pijatmu?”

“ Hmm…aku tak tahu. Mungkin sampai aku melahirkan nanti?”

Tanpa menghentikan gerakan lincah tangannya untuk memberikan sentuhan lembut pada anggota gerak istrinya, Kyuhyun melebarkan matanya tak percaya. Ah, bahkan istrinya itu dengan terang-terangan memanfaatkannya semenjak mereka mengetahui jika dia hamil dua bulan lagi.

“ MWO? Itu berarti lima bulan lagi? Aigoo aku menyesal membuatmu hamil secepat ini”.

Kyuhyun menyesal dengan perkataannya yang membuat istrinya yang sedang tertidur itu berubah menjadi singa yang seakan siap melahap mangsanya. Matanya yang hitam menatapnya tajam penuh intimidasi. Sebenarnya dia hanya sedikit takut jika gadis itu akan marah besar padanya, namun dia lebih takut jika Hye Hoon tersinggung dengan ucapannya.

“ Apa maksudmu? Jadi kau tak menginginkan kandungan ini? Baiklah, aku akan menggugurkannya, dan aktingku dulu akan menjadi kenyataan”

“ Aku hanya bercanda, sayang. Sejak dulu aku sangat menginginkan anak darimu. Jadi, mana mungkin aku menyiakannya? Aku menyanyangi kalian berdua, kalian adalah permata yang menjadi sumber kebahagiaanku untuk sekarang dan selamanya. Gomawo, Hoon~ah. Terima kasih karena kau bersedia untuk selalu di sisiku”.

END

Akhirnya bikin fanfics oneshoot dengan ending gak ngegantung hehehe
Maafin yaah karena Hyorinnya gak jelas banget nasibnya, bener-bener males ceritain dia sebenernya hehe
Tadinya kalo mau dibikin panjang ada konflik sama Hyorin gitu tapi kayaknya konflik utama juga udah cukup jadinya diabaikan.
RCL sangat dinanti. Makasih semuanyaaa^^

138 thoughts on “Wrong

  1. ahh seneng banget. dulu sempet baca ff ini tapui lupa dimana. dan akhirnya nemu blog sang authornya hihi. tetep suka sama isi ceritanya, endingnya ga mengecewakan, walau mungkin dibuat sequel tambah komplit hihihi

  2. well ga terduga bgt kalo hyehoon cuma akting belaka, aku kirain teh chokyu punya dosa besar apa dulunya. tp akhirnya cinta.kyu yg tulus mampu mematahkan dendamnya hyehoon

  3. hyehoon pura2 gila??
    demi Tuhan,, kyu bner2 baik,, dia punya hati malaikat disini,,
    dan ya kesalahpahaman bikin semuanya ruyem ya??

  4. Wuaahh, daebak! hyehoon bener2 niat ya, bahkan sampe akting jadi orang yg depresi akut gitu ckck
    tapi untungnya happy ending ^^ tapi, nasibnya hyorin gimana?

  5. wahh .. kasian bgt kyu oppa. akting Hyehoon totalitas bgt . sampe ada acaran mengiris nadi segala … untung gak crazy beneran .. :D
    nice ceritanya Thor .. sukaaaa bgt sama karakter kyuhyun !

  6. Kejutan banget ini.
    Hye Hoon ternyata berakting!
    Duh kasian si ChoKyu, stress karena punya istri yang tanpa diketahuinya pura-pura gila.

    Hmm…pengorbanan & kesetiaan Kyuhyun bener-bener patut diacungi jempol, hanya wanita gila beneran yang tak terenyuh, haha
    keliatan banget Kyuhyun sangat mencintai Hye Hoon.

    Ketika tau Hye Hoon hanya pura-pura, penasaran banget alasan Hye Hoon melakukan semua itu. Tak disangka karena kesalahpahaman.
    Tapi syukurlah setelah semua itu, akhirnya bahagia.

    Dari awal takut sad ending aku, malahan takut Hye Hoon akhirnya mati karena depresi dan Kyuhyun bunuh diri karena tak kuasa menahan kesedihannya. Haha ternyata ketakutanku sangat melenceng.
    Oke..fix, oneshootnya bener-bener top (y)

  7. Thor
    kasian banget nasib kyuhyun ?
    aku kira nanti bakal sad ending
    ternyata happy ending
    aku kira juga hye hoon gila beneran ternyata cuma akting :v
    romantis banget si kyuhyun thor :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s