Not In Love ( Part 3 )


 

Kyuhyun sebisa mungkin mengendalikan birahinya, menahan semua fantasi yang semakin lama menyiksanya. Adiknya pun terasa semakin tak sabar, terus saja mengeluarkan kedutan-kedutan tiap kali tangannya bersentuhan dengan permukaan kulit gadis itu. Sebenarnya, bisa saja dia memiliki gadis itu sekarang juga, namun sekali lagi, dia ingin membiarkan hatinya yang bekerja kali ini.

Setelah ritual mandi bersama yang dilakukan mereka selesai, Kyuhyun bisa berbuat apapun semaunya.

Digosoknya semua bagian dari tubuh telanjang gadis itu, setelah tangannya dituangi sabun cair beraroma mint kesukaannya. Gadis itu terlihat gugup. Tubuhnya gemetar setiap kali Kyuhyun menyentuhnya. Sungguh, tanggapan polos gadis itu bahkan membuat pertahanannya runtuh seketika.

Beberapa lama kemudian, akhirnya dia selesai membersihkan diri mereka berdua. Sejak tadi, Kyuhyun memang melarang Hye Hoon untuk bergerak maupun menolak sentuhannya. Setelah menyampirkan sehelai handuk putih di tubuh gadis itu, Kyuhyun pun menggendongnya tepat di depan dadanya. Membiarkan tubuhnya yang masih basah dan tanpa busana itu memasuki kamar besarnya, dengan titik-titik air yang mengalir dari tubuhnya maupun tubuh Hye Hoon membasahi lantai dinginnya.

Kyuhyun membaringkannya di ranjang, lalu menatap seluruh inchi tubuhnya lekat. Kemudian, lelaki itu merangkak naik di atasnya, membuat dirinya semakin salah tingkah. Saat ini, tubuhnya hanya tertutup seulas handuk kecil yang hanya menutupi dada hingga pahanya. Kyuhyun sepertinya tak peduli dengan mukanya yang sudah semerah tomat, yang semakin memerah ketika lelaki itu melepas handuk yang menutupinya.

Hye Hoon menggigit bibir bawahnya saat Kyuhyun melakukan kontak fisik dengannya dengan penghalang hanya sebuah handuk yang terasa sangat halus di kulitnya. Lelaki itu mengelap seluruh tubuhnya tanpa terkecuali, menciptakan gelenyar-gelenyar aneh di perut bagian bawahnya.

“ Apa kau sedang sakit? Wajahmu terlihat sangat merah dan pipimu juga panas. Kau demam?”

Kyuhyun, yang masih berada di atasnya, terlihat sangat khawatir dengan keadaanya membuat Hye Hoon merasa semakin malu. Bukan, dia sama sekali tak merasa badannya sakit sedikitpun. Hanya saja, sentuhan lembut yang diberikan Kyuhyun membuatnya tersiksa. Tersiksa karena ingin lelaki itu menyentuhnya lebih untuk memuaskannya.

Anieyo. Aku tak sakit”.

“ Kau yakin?”

Godaan Kyuhyun di telinganya membuatnya tubuhnya menggelinjang. Sepertinya, Kyuhyun sudah tahu mengapa dirinya begitu sensitif akibat sentuhan yang diberikan lelaki tampan itu. Kemudian, lelaki itu menambah siksaan baginya dengan menggigit bagian telinganya. Tak hanya itu, tangan Kyuhyun pun sudah bersarang di dadanya, menekannya serta meremasnya lembut yang membuatnya semakin tak berdaya.

“ Aku sudah tak tahan, Hye Hoon~ah. Aku sudah tak bisa menahan diri untuk tak memasukimu sejak kemarin. Awalnya, aku hanya ingin kau merasakan ketulusanku, dan menghindarkan hal-hal yang membuatmu tak nyaman, saat aku berada di sisimu. Aku tahu, kau menyukai hal ini juga. Namun, mulai sekarang aku akan meminta persetujuan darimu sebelum melakukannya. Bolehkah? Bolehkah aku menunjukkan padamu bagaimana indahnya kebersamaan kita, sayang?”

Hye Hoon masih bingung dengan perkataan yang Kyuhyun lontarkan padanya. Akan tetapi, kepalanya tetap mengangguk ragu, memberikan persetujuan.

***

CUT

Teriakan sutradara di balik megaphone yang dipegangnya pun menghentikan aktivitas di sebuah gedung tua itu. Minho merasakan badannya remuk seketika setelah melakoni adegan mengerikan yang menguras tenaganya itu. Dia mendongakkan kepalanya ke atas, bergidik ngeri saat melihat seberapa tinggi gedung pencakar langit tersebut.

Hanya membayangkannya sudah membuatnya sangat ketakutan. Namun, beberapa menit yang lalu dia melakukannya tanpa beban, walau melompat tanpa pengaman kecuali seutas tali yang tak akan mampu menopang berat badannya.

“ Kerja bagus. Kau tak pernah mengecewakanku, anak muda”.

Seorang lelaki yang mengenakan topi lusuh itu menepuk bahunya dengan sekali tepuk, merasa senang karena pekerjaannya yang selalu dijalaninya dengan baik. Seorang lelaki dengan postur tubuh yang sama dengannya mencibir melihat adegan itu. Tentu saja, anak mami seperti itu pasti merasa sangat merasa tersindir karena pekerjaan yang dilakukannya harus digantikan oleh orang lain.

Setelah menerima amplop sebagai hasil dari kerja kerasnya hari ini, Minho segera pamit pulang. Sebenarnya tak masalah jika dia menghabiskan waktunya di set untuk melihat jalannya shooting sampai larut malam nanti, karena tak ada siapapun yang akan menegurnya di rumah. Sudah seminggu berlalu sejak terakhir kakak perempuannya bermalam di apartemen mungil mereka. Alasan yang sebenarnya adalah karena dirinya tak suka dengan tatapan aktor utama itu yang seakan ingin mengulitinya hidup-hidup.

Beberapa menit melewati trotoar dengan berjalan kaki, akhirnya Minho dapat menginjakkan kakinya di rumahnya. Dia mengendalikan emosinya, ketika melihat kakaknya berada tepat di hadapannya. Mata gadis itu menelisik setiap lekukan wajahnya, dan berjengit ketika melihat beberapa luka lebam yang menghiasi bibir maupun pipinya.

“ Kupikir kau sudah lupa jalan pulang, Noona”.

Minho segera menjauhi kakaknya, melenggangkan kakinya menuju dapur kemudian menuangkan segelas air putih yang segera diminumnya. Sepertinya dahaganya sudah habis karena sejak pulang sekolah sampai hari sudah malam dia tak menyentuh apapun untuk dimakannya. Apalagi sejak tadi dia berjalan kaki untuk mencapai lokasi syuting maupun apartemennya. Sepertinya dia mulai merasa lapar sekarang. Untung saja terdapat beberapa macam makanan tersaji di meja makannya, sehingga dia tak harus memakan ramyeon seperti beberapa hari ke belakang.

Hye Hoon membiarkannya menikmati makan malamnya dengan tenang. Sama sekali gadis itu tak membuka percakapan apapun dengannya meskipun tatapan tajam yang ditunjukkan saudara kandungnya itu terasa begitu mengintimidasinya.

“ Kita perlu bicara, Minho~ya”.

Minho meletakkan mangkuk nasinya, lalu menyenderkan punggunya yang terasa ngilu ke dinding di belakangnya. Bukan hanya dia seharusnya yang didakwa karena kesalahannya. Kesalahan Hye Hoon lebih besar, dia pantas dihukum juga. Akan tetapi, kakaknya seakan-akan hanya menyalahkannya disini.

“ Apa yang kau lakukan sehingga wajahmu seperti itu? Kau juga bersikap aneh akhir-akhir ini. Apa kau tahu betapa khawatirnya aku melihat perubahanmu, hmm? Seharusnya kau fokus dengan pelajaranmu, Minho~ya. Bukan menghancurkan masa depanmu dengan hal tak berguna seperti ini”.

Kesabaran yang dimiliki Hye Hoon sudah habis. Sudah cukup dia menahan dirinya untuk mencegah Minho berbuat tak baik dengan menelan bulat semua kebohongan yang diciptakan lelaki itu. Matanya membulat ketika melihat sebuah amplop kecil yang disodorkan Minho padanya. Air matanya menetes begitu saja, kala mengetahui isi dari kertas berwarna coklat itu.

“ Kau tak perlu menjual dirimu lagi, Noona. Biarkan kali ini aku yang bekerja keras untukmu. Aku sudah terlalu banyak menyusahkanmu. Untuk ke depannya, aku akan membantu meringankan bebanmu. Kumohon, jangan rendahkan dirimu lagi. Aku tak mau melihatmu seperti ini”.

“ Minho~ya, kau salah paham. Aku tidak..”

“ Aku tahu. Dan aku tak menyalahkanmu. Aku hanya ingin kau keluar dari pekerjaanmu sekarang”.

Hye Hoon mendesah panjang. Mungkin dia seringkali menutup mata tanpa menyadari jika Minho pasti akan mengetahui segalanya. Dan parahnya, adiknya itu bahkan mencari pekerjaan agar bisa membantu kondisi keuangan mereka, dan membebaskan Hye Hoon dari pekerjaan itu, tentunya.

Sejak lama dia memutuskan jika dia akan segera menyudahi hubungannya dengan Kyuhyun. Uang yang dipersiapkannya untuk Minho sudah lebih dari cukup. Selain itu, Eommanya pun sudah bersedia untuk menjaga adik lelakinya. Eommanya rela untuk menghabiskan sisa waktunya bersama Minho, dan sudah meninggalkan warisan yang ditinggalkan kakek tua kaya raya yang sudah meninggal sejak lama itu.

Yang tak pernah dipikirkannya, ternyata lepas dari seorang Cho Kyuhyun tak bisa semudah itu. Ada sesuatu yang menariknya untuk selalu dekat dengan lelaki itu, membuatnya tak bisa berkutik dan akhirnya tetap berada di pelukannya. Sebabnya adalah bukan soal uang, tentunya.

Sepertinya hubungan mereka sudah terlalu jauh, sehingga Kyuhyun tak akan mungkin mudah untuk melepasnya.

“ Aku ingin menjauhinya, tapi aku tak bisa melakukannya, Minho~ya. Aku…”

“ Apakah kau mencintainya, Noona? Tak mungkin. Kau tak mungkin jatuh hati pada lelaki brengsek seperti itu. Sejak dulu, hanya Changmin hyung yang ada di hatimu. Kau tak mungkin berpaling begitu saja”. Minho menggelengkan kepalanya berulang kali, menepis pikiran bodohnya yang menuduh kakaknya mencintai lelaki yang tak akan pernah pantas untuk kakak perempuannya itu.

Mendengar nama yang sejak lama tak didengarnya itu membuat hatinya merasa perih seketika.  Kenangan tentang lelaki itu seperti layaknya dua sisi koin yang berlawanan. Di satu sisi, bisa membuatnya berbunga dengan semua hubungan manis yang dilalui mereka. Namun di sisi lainnya, bisa merobek hatinya karena kejadian yang menyakitinya tak henti menggerogoti jantungnya.

Rasa cintanya pada Changmin terlalu besar, bahkan setelah lima tahun berlalu semenjak kepergiannya pun Hye Hoon tak pernah menjalin hubungan apapun dengan seorang pria. Tidak sebelum dia bertemu dengan Kyuhyun, yang dengan cepat masuk ke dalam kehidupannya. Minho benar, dia tak mungkin jatuh hati pada seorang lelaki yang baru dikenalnya itu, sedangkan dia masih memendam cinta yang sama pada lelaki yang merupakan cinta pertamanya.

Tidak, dia tak mungkin mencintai Kyuhyun. Dia tak boleh mencintai lelaki itu.

***

Ruangan tersebut dipenuhi oleh debu, dengan kertas-kertas yang berceceran di lantai. Cahaya matahari pun tak mampu menerobos ruangan pengap itu, karena ventilasinya yang dibuat seminimalis mungkin. Hanya terdapat jendela di salah satu sisi ruangan, dan sebuah pintu yang menghubungkannya dengan ruangan yang lebih gelap dan sempit dari tempat ini.

Seorang lelaki yang mengenakan jubah berwarna coklat muda berkerah panjang yang dipadukan dengan sepatu boots dan topi berwarna senada keluar dari balik lemari yang diputar. Kyuhyun yang melihat penampilan aneh dari lelaki itu hanya mencibir sambil menepuk-nepuk jasnya yang terkena debu.

Kalau tidak ada perlu dengan orang itu, dia tak ingin mengunjungi tempat tak terurus seperti ini.

Lelaki itu duduk di kursi empuk yang berada di balik mejanya, lalu dia menjulurkan tangannya untuk menyuruh Kyuhyun agar duduk di seberangnya. Kyuhyun pun menurut. Namun, sebelum dia melakukan hal itu, dia mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya dan membentangkannya di atas permukaan kursi itu. Lelaki di hadapannya hanya menggeleng di tempatnya, tak merasa tersinggung sedikitpun dengan yang Kyuhyun lakukan di tempatnya.

“ Kau sudah menemukan semua informasi tentangnya, hyung?”

Lelaki yang dipanggilnya hyung itu mengangguk. Kyuhyun memerintahkan Hyuk Jae untuk menyelidiki tentang Hye Hoon, yang diterima dengan senang hati oleh lelaki itu. Hyuk Jae, yang merupakan seorang CEO dari perusahaan ternama itu memiliki pekerjaan sampingan yang merupakan hal yang paling dia sukai. Sejak kecil dia tertarik untuk menjadi seorang detektif, dan dengan semua koneksi yang dimilikinya, dia bisa mencapai angannya tersebut walaupun Kyuhyun terkadang merasa aneh dengan sikap Hyuk Jae yang berlebihan, seperti saat ini. Cara bicara lelaki berambut pirang itu terlihat seperti profesional lengkap dengan wajah serius yang menghiasinya.

“ Aku sudah merekapnya dalam berkas yang ada di hadapanmu. Menurut hasil penyelidikanku, dia bukan gadis yang bisa merelakan tubuhnya hanya demi uang. Walaupun penghasilannya terbilang kecil, namun dia bekerja apapun sepanjang hari untuk membiayai kehidupannya serta membayar sekolah adiknya. Dia juga bukan tipe orang yang suka menghamburkan uang. Buktinya, sejak beberapa bulan lalu ketika kau mengenalnya dia tak pernah membelanjakan uang darimu sepeser pun. Untuk alasannya, aku belum tahu mengapa. Namun, rekeningnya mulai dikuras habis ketika dia bertemu dengan seseorang”.

Fakta yang dikemukakan Hyuk Jae seluruhnya benar, Hye Hoon bukan wanita yang rela memerasnya hanya untuk bersenang-senang. Setiap kali dia melihat gadis itu memakai pakaian yang sederhana, dia selalu menerka kemana perginya uang berlimpah yang diberikannya kepada gadis itu. Dan sekarang sepertinya dia akan mendapat jawaban atas pertanyaan yang berputar di otaknya tersebut.

“ Aku belum melacak identitas orang itu. Namun, anak buahku bilang dia adalah istri dari mendiang Han Seo Wook, seorang chaebol yang tak memiliki seorang pewaris karena istrinya yang terdahulu tak bisa memberinya keturunan. Alhasil, semua kekayaannya jatuh ke tangan wanita itu. Akan tetapi, adik angkat dari Han Seo Wook tidak suka dengan keputusan pengadilan, sehingga dia melakukan cara apapun untuk mengusir wanita itu”.

“ Kau bilang dia mewarisi kekayaan yang banyak, kan? Lantas mengapa dia menerima uang dari Hye Hoon yang tak seberapa dibanding isi brankas yang dimilikinya?”

Hyuk Jae terlihat agak tegang. Baru kali ini dia tak berhasil menemukan jejak dari masa lalu ataupun jati diri seseorang. Wanita itu sepertinya menyimpan suatu rahasia yang tak boleh terkuak oleh siapapun, yang diyakininya adalah tentang masa lalunya. Oleh karena itu, dia menutup rapat semua akses yang berhubungan dengan pribadinya. Akan tetapi dia optimis, lambat laun semuanya akan terkuak di tangannya.

“ Untuk saat ini aku belum tahu, Kyuhyun~ah. Tapi, aku sudah menugaskan beberapa pengawalku untuk mencari tahu lebih dalam tentang wanita itu. Aku akan menghubungimu jika ada perkembangan. Oh ya, kau harus hati-hati, Kyuhyun~ah. Sepertinya Han Ye Jin mulai mengintai gadismu”.

***

Hye Hoon meremas tangannya gugup. Dia mengamati apa yang dipakainya, yang tak lebih bagus dari kain penutup meja dari restaurant mewah itu. Mungkin dulu, dia sudah terbiasa dengan pakaian-pakaian mewah yang dipersiapkan pelayan pribadinya. Namun, setelah semuanya berubah, dia harus puas membeli pakaian dengan harga miring yang tak sudah out of trend.

Lagipula, gadis cantik ini memboyongnya ke sebuah tempat mewah dengan cara yang tiba-tiba. Ada rasa malu yang berlebihan ketika Hye Hoon menyadari gadis itu adalah gadis yang sama yang ditemuinya dalam keadaan tak nyaman di rumah Kyuhyun. Dia berharap gadis itu memaki ataupun mencaci dirinya semaunya, akan tetapi yang diterimanya adalah senyuman manis yang membuatnya merasa tak pantas untuk bersandingan dengan gadis baik sepertinya.

“ Kau yang pertama. Sejak Kyuhyun mengusirku dari kehidupannya, Kyuhyun tak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Sepertinya dia benar-benar menyukaimu sehingga membawamu ke rumahnya”.

Ada nada sedih yang tersirat saat gadis berambut coklat itu mengatakan kesimpulannya tadi. Han Ye Jin berlakon dengan sangat baik. Ya, dia memang menggunakan cara liciknya untuk berpura-pura manis di hadapan Hye Hoon, dan membiarkan Hye Hoon menjauh dengan sendirinya tanpa menggunakan cara kotornya.

Jika cara halus bisa berhasil membuat wanita jalang itu pergi, mengapa tidak?

“ Aku tak menjalin hubungan apapun dengannya”, tegasnya. Hye Hoon mengatakan kata-kata itu dengan lambat, karena rasa yang pahit ditimbulkan dari kenyataan itu. Sejak mengenal Kyuhyun, tak pernah dia mempermasalahkan hubungan mereka. Tapi, Han Ye Jin perlu kejelasan hubungan mereka agar gadis itu tak salah paham.

“ Tapi, aku melihat kalian..”

“ Aku dibayar. Aku hanya wanita yang dibayar untuk tidur dengannya”, potongnya cepat.

And there she goes.…Dia membuka hal yang memalukan untuknya dengan santainya, seakan itu adalah salah satu pekerjaan yang dilegalkan di negeri ini. Sepertinya urat malunya sudah putus, sehingga dia dengan lantangnya mengaku sebagai pelacur di hadapan kekasih clientnya.

Han Ye Jin tersentak mendengar pengakuan gadis berwajah polos itu dihadapannya. Dia mengira jika gadis itu adalah seorang gadis miskin yang beruntung, yang terperangkap dengan cinta seorang chaebol yang kaya juga tampan.

Seperti layaknya cerita Cinderella, ataupun dongeng-dongeng lainnya yang sering dijumpainya di berbagai tulisan fiksi.

Tentu saja semua orang pasti beranggapan yang sama dengannya, jika melihat dari penampilan gadis itu. Hye Hoon tak mengenakan pakaian terbuka ataupun menggunakan make up tebal untuk mempertontonkan kemolekannya.

Bagaimana bisa dia menjadi seorang wanita penghibur dengan dandanannya yang seperti itu? Dan mengapa Cho Kyuhyun tertarik untuk meniduri wanita yang sama sekali tak menarik jika dibandingkan dengan wanita seksi dan cantik yang ditemuinya di bar?

Ye Jin mengabaikan hal itu. Dia tak peduli dengan semua pertanyaan yang muncul satu persatu di otaknya. Yang terpenting, mereka tak ada hubungan asmara apapun, yang membuatnya lebih mudah mengusir wanita itu dari kehidupan lelakinya.

Gadis itu kembali memperlihatkan tanduk yang tersembunyi di kepalanya, mempertontonkan sikap yang menjadi ciri khasnya. Han Ye Jin dikenal sebagai wanita yang selalu mendapatkan apapun yang diinginkannya, selicik apapun cara yang digunakannya. Apalagi hal yang menyangkut Kyuhyun, yang merupakan tambang emas yang paling menguntungkan baginya. Dia tak pernah bermain-main untuk mencapai keinginannya.

“ Jauhi Kyuhyun. Dan aku akan memberikan uang sebagai gantinya. Kau hanya butuh uang, kan?”

***

Nisan yang bertuliskan nama seseorang yang sangat berarti di hidupanya dipandanginya lamat. Sebenarnya, gadis itu biasa mengunjungi  area pemakaman tersebut ketika hari peringatan kedua orang yang dicintainya itu datang. Berbeda untuk tahun ini, yang dilakukannya pada tujuh hari sebelumnya.

“ Appa….aku merindukanmu. Aku baru menyadari jika perkataanmu benar, Appa. Ketika dulu saat aku masih di bangku taman kanak-kanak, kau memarahiku ketika aku berdandan seperti orang dewasa. Pada saat itu, aku semakin kesal padamu sampai mengacuhkan Appa beberapa hari. Dan kau hanya mengatakan “Kau akan menyesal, Hye Hoon~ah. Kau tak akan pernah suka untuk menjadi seorang dewasa”. Tebakanmu benar, Appa. Aku tak pernah suka menjadi orang dewasa. Apalagi dengan beban hidup yang berat seperti ini”.

Hye Hoon menangis. Mengingat kenangannya dengan orang yang sangat dihormati dan disayanginya itu membuatnya merasa sedih. Andai dia bisa memutar waktu, andai dia bisa kembali ke masa lalu…Dia pasti akan menuruti perkataan Ayahnya.

“Appa, apakah semua ini salahku? Tak bolehkah aku mencintainya? Aku sangat membencimu, Appa. Aku bahkan berencana untuk mengakhiri hidupku di depan matamu agar kau menyesal nantinya. Keunde….wae? Mengapa kau meninggalkanku terlebih dahulu sebelum aku melakukannya? Mengapa kau membuatku menjadi orang jahat karena seakan aku adalah orang yang membunuhmu, Appa?”.

Sungguh rasa bersalah itu senantiasa menggerogotinya. Dia bahkan tak bisa menghilangkan rasa mengerikan itu dari pikirannya, sebagaimanapun dia mencoba melupakannya. Kehidupannya berputar dalam waktu yang singkat. Semuanya berubah dalam waktu kurang dari satu kali bumi berotasi sehingga sulit baginya untuk beradaptasi dengan keadaan.

“ Aku harap kau menemukan kebahagiaan disana, Appa. Aku akan memberikan yang terbaik untuk Minho dan Eomma sebelum aku menyusulmu kesana”.

***

Dia berjalan dengan langkah pelannya menyusuri padang rumput yang penuh dengan batu-batu pahatan itu. Tempat yang ditujunya sudah terlihat, dan yang hanya bisa dia lakukan adalah berdiri di tempat. Untuk sejenak dia merasa ragu. Namun dia memberanikan dirinya, mengingat inilah saat terakhirnya.

Hye Hoon menyusuri pahatan nama yang juga terpahat di hatinya itu dengan tangannya yang terasa kaku. Dinginnya tempat itu mengingatkannya kepada kehangatan yang selalu diberikan lelaki itu kepadanya dulu.

Dia bahkan rela menukar apapun demi agar lelaki itu selalu menghangatkan hatinya.

Cairan tak berwarna itu kembali menganak sungai di pipinya. Bahunya bergetar, seiring dengan desakan yang memenuhi dadanya yang membuatnya sesak. Seperti biasanya, yang hanya bisa dilakukannya adalah menangis di hadapan pusara itu hingga puas, tanpa bisa mengatakan suatu apapun.

Terlalu banyak kata yang tak bisa diungkapkannya. Terlalu banyak rasa yang berkecamuk di dadanya, sehingga dia tak bisa menyuarakannya. Terlalu banyak kepedihan yang dia rasakan ketika mengingat bagaimana caranya lelaki itu mencintainya.

Mencintai seorang dengan derajat dan status yang berbeda membuat mereka terjebak dalam suatu kisah cinta yang rumit. Kisah cinta yang terasa manis namun menyimpan berbagai macam kepedihan. Kematian adalah puncaknya. Semua janji yang terucap ketika hubungan mereka terjalin, teringkari karena suatu kenyataan itu.

Haruskah dia menyalahkan takdir, atau menyalahkan Appanya ?

Dia sudah melakukan itu. Dia sudah melakukannya, namun pemikiran itu berujung menyalahkan dirinya sendiri. Jika dia tak pernah jatuh cinta dengan Shim Changmin, seorang pelajar biasa yang menaruh hati padanya, mungkin semua tragedi ini tak akan terjadi.

Dia menetralkan deru nafasnya, menyimpan kembali rasa yang menyesakkan dadanya. Dia butuh ketenangan saat ini. Dan itu bisa didapatnya dengan menceritakannya kepada lelaki itu.

“ Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja tanpaku? Kau pasti sudah menemukan kebahagiaanmu disana, dan meninggalkanku sendirian. Changmin~ah, kau tahu, kan? Kau tahu jika aku akan selalu mencintaimu”.

Ya, apapun yang terjadi, cintanya untuk lelaki yang pernah menjadi kekasihnya itu tetap bersemi di hatinya. Setelah semua penderitaannya, bahkan setelah dia kehilangan lelaki itu, rasa itu masih ada. Menghapus rasa cinta yang begitu besar itu sungguh tak mudah untuknya. Tapi…

“ Mianhae, Minnie~ya. Aku…aku telah mengkhianati cinta kita. Awalnya, aku tak menyangka jika hal ini akan terjadi. Aku begitu percaya diri jika aku tak akan pernah jatuh cinta kepada lelaki brengsek sepertinya. Mungkin ketika pertama kali melihatnya, aku yakin jika aku hanya tertarik padanya. Namun, aku tak menyangka jika rasa itu berkembang semakin besar, Changmin~ah”.

“ Aku mencintainya, aku bahkan mencintainya walaupun nyatanya hidupku tak lama lagi. Apa yang harus aku lakukan, Changmin~ah”.

***

Kyuhyun menyeret gadis itu paksa ketika Hye Hoon dengan keras kepala menolaknya. Ini pertama kalinya gadis itu bersikap seperti itu kepadanya. Kenapa? Alasannya hanya satu. Pasti Han Ye Jin, wanita tak tahu diri itu meracuni gadisnya untuk segera menjauhinya.

Sepertinya dia harus membuat perhitungan dengan wanita itu.

Han Ye Jin tak pernah menyesal dengan apa yang diperbuat gadis itu padanya. Gadis itu menganggap jika Kyuhyun adalah lelaki yang sama dengan beberapa tahun lalu, yang bisa dibodohinya dengan cinta palsunya.

Sayangnya, Kyuhyun sudah berubah. Kali ini, Kyuhyun akan membuat wanita tak tahu diri itu menyesal bermain api dengannya.

Entah mendapat kekuatan darimana, sehingga gadis itu bahkan bisa tetap duduk di mobilnya ketika Kyuhyun dengan paksa menarik pergelangan tangan mungil itu. Penolakan yang dilakukan gadis itu tak ada hentinya sejak dia menemui Hye Hoon di restauran tempat gadis itu bekerja tadi.

Dia akhirnya menyerah, membiarkan Hye Hoon tetap duduk di kursi mobilnya dengan tangannya yang masih menggenggam tangan gadis itu kuat. Tangannya yang lain digunakannya untuk merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah benda mungil dari sana.

Setelah panggilannya tersambung, tanpa basa-basi dia mengutarakan maksudnya untuk orang yang menerima telepon darinya itu.

“ Semuanya sudah siap? Mereka sudah disana?”

“ Ya, seperti yang kau perintahkan. Mereka sudah menunggumu disini”

Dengan cepat Kyuhyun memijit tombol merah di ponselnya. Seringaiannya terbentuk ketika membayangkan ekspresi apa yang akan dipasang di muka orang-orang yang selama ini meremehkannya.

Dia tersenyum senang, karena dia akan berhasil membalaskan dendamnya.

Hye Hoon berteriak sekencang mungkin ketika Kyuhyun menggendong tubuhnya ke dalam pelukan lelaki itu. Teriakan yang tak pernah diserukannya sebelumnya, yang menurutnya sia-sia saja karena ini adalah kawasan rumah Kyuhyun, yang berarti jika Kyuhyun berhak melakukan apapun yang dia mau tanpa ada orang lain yang melawannya.

Awalnya, Hye Hoon mengira jika Kyuhyun akan membawa dirinya ke ruangan yang biasa ditempatinya, kamar utama di rumah tersebut. Akan tetapi, kali ini tebakannya salah. Kyuhyun membawanya ke sebuah ruangan yang tak pernah didatanginya sebelumnya. Ruangan yang berada di ujung lantai dua, yang terlihat elegan dengan pintu kayunya.

“ Kau masih ingin berada di gendonganku? Tapi sayang, sepertinya kau harus turun. Aku tak mau digoda oleh Hyuk Jae jika dia melihatku menggendongmu seperti ini”.

Dengan pipinya yang memerah, Hye Hoon melompat dari dekapan lelaki itu. Ah, dia lupa. Pasti ada banyak pelayan yang melihat Kyuhyun menggendongnya ala bridal seperti tadi. Dan itu membuat pipinya semakin merona, mengingat pelayan di rumah lelaki itu pasti akan menganggap mereka seperti pasangan yang serasi.

Baiklah, sepertinya otaknya harus direfresh agar tak memikirkan hal tak penting seperti itu.

Kyuhyun membuka lebar pintu yang terbuat dari bahan kayu terbaik itu, dengan Hye Hoon yang mengekor di belakangnya. Semua orang yang berada di ruangan itu –kecuali Hyuk Jae tentunya- terkejut akan kedatangan gadis itu. Kyuhyun hanya mengedarkan senyum misteriusnya kepada semua orang, membuat ketiga orang tersebut, ditambah Hye Hoon, bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Kyuhyun selanjutnya.

“ Hyung, apakah surat-suratnya sudah siap?”

Lelaki berwajah tampan itu menjawab Kyuhyun dengan anggukan mantap. Hyuk Jae menyerahkan sebuah map yang sejak tadi dibawanya kepada Kyuhyun. Setelah itu, lelaki yang tak melepaskan pegangan tangannya dari tangan Hye Hoon itu pun menelisik tulisan-tulisan dari beberapa kertas itu sekilas. Dan tersenyum puas setelah melihatnya.

Lalu, tatapan dinginnya tertuju kepada ketiga orang yang sejak tadi tak beranjak dari tempatnya. Bahkan Ye Jin, yang lebih memilih menatap lelaki itu dari sofa tanpa berniat mendekatinya. Mantan kekasihnya itu mengamati tangannya dan tangan gadis itu yang bertaut. Mata hazelnya melayangkan tatapan sinis ke arah Hye Hoon, yang membuat gadis itu menyembunyikan tubuhnya di belakangnya.

Sedangkan, reaksi yang berbeda ditunjukkan oleh paman dan bibinya. Satu-satunya keluarganya yang berada di Korea itu seakan meminta penjelasan kepadanya. Namun, mereka tak begitu saja menanyakannya kepada Kyuhyun, yang membuat lelaki itu lebih leluasa menjelaskannya kepada mereka semua.

“ Terima kasih karena kalian menyempatkan waktu untuk menjadi saksi pernikahan kami. Aku dan Hye Hoon akan menikah disini, sekarang juga”.

TBC

187 thoughts on “Not In Love ( Part 3 )

  1. Pingback: Rekomendasi Fanfiction Part 2 | evilkyu0203

  2. Menikah!!!
    Terlalu banyak misteri. Blom ngerti alurnya tp sukses bikin penasaran 😭

  3. Masih gak ngerti, masih misteri. Changmin dibunuh siapa bgtu pun ayahnya Hye Hoon. Trus yg menguras uang hye hoon? apa ibu nya sndri, dia menyiapkan itu untuk minho kan. aku iseng nebak sama praduga sendiri sih.. tp kehidupan ibunya hye hoon gak jelas, tp mnrt kesimpulanku ya dia istri tuan Han. next

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s