That I Was Once By Your Side (Part 1)


Author : hyehoonssi

Cast :

Choi Hye Hoon (OC)

Cho Kyuhyun

Lee Donghae

Genre:

Romance, sad

Rating :

PG 15

Kategori : Romance, Sad

 

Project ff baru, yang judulnya kuambil dari salah satu lagu Kyuhyun yang sangat aku suka. Walaupun gak nyambung isi liriknya sama ff ini, bahkan mungkin judulnya juga gak begitu sesuai, gak apalah. Yang penting jadi hehehe

Sesuai dengan teasernya, udah tahu kan bagaimana ngenesnya Kyuhyun di ff ini. Semoga jangan pada ngamuk ya sparkyu-nya hehehe

 

Happy reading ^^~

 

Kyuhyun memalingkan wajahnya ketika pemandangan yang sama tertangkap oleh indera penglihatannya. Hal ini sudah terjadi beberapa waktu lamanya, namun sepertinya hatinya masih belum terbiasa dengan keadaan ini. Rasa sakitnya masih terasa sama, malah semakin rasa perihnya semakin bertambah karena kenyataan yang semakin menghantamnya.

 

Bukankah dia sendiri yang memintanya?

 

Jadi, dia harus menerima resikonya. Menghancurkan hatinya sendiri, ketika perlahan orang yang dicintainya direbut paksa di hadapan matanya. Keadaan semakin berat ketika dia harus bersikap sebagai sahabat yang baik, yang ikut berbahagia karena kebahagiaan sahabatnya.

 

Bahagia? Bahkan kata bahagia terasa begitu muluk baginya.

 

Bibir mereka masih menempel, sepertinya mereka lupa dengan keberadaan dirinya yang juga ada di tempat itu. Mungkin inilah yang dirasakan kedua insan yang tengah dimabuk cinta, akan melupakan keadaan sekitar dengan sendirinya. Tak tahan dengan perlakuan keduanya, akhirnya namja itu membuka suara

 

“ Dagingnya sudah matang. Kalian tidak akan makan, huh? Baiklah, lebih baik aku makan ini semua sendiri”.

 

Dia sendiri tak mengenal nada yang keluar dari pita suaranya. Nada yang terdengar ceria, jauh berbeda dengan kondisi hatinya yang sudah berubah menjadi kepingan kecil. Dia tersenyum sinis. Bahkan daging yang dimakannya pun terasa sangat pahit di lidahnya.

 

“ Memakan semuanya sendiri? Ya! Pantas saja perutmu buncit seperti itu. Kau tahu? perutmu itu lebih besar dari perut Appa-ku”.

 

Suara tawanya yang khas terdengar setelahnya. Kyuhyun melirik ke arah sumber suara itu, membuat nafasnya tercekat. Mata hitam milik gadis itu tak jauh berbeda dengannya, menyiratkan kepedihan yang amat dalam yang disimpan jauh di palung hatinya. Dia masih tertawa lepas, sambil memegang perutnya sendiri. Air matanya pun keluar seiring dengan tawanya yang semakin keras. Padahal, Kyuhyun tahu jika lelucon yang dilontarkan gadis itu sama sekali tak lucu.

 

Dia telah membuat Hye Hoon-nya terluka.

 

“ Lihatlah, perutmu itu lebih buncit daripada perutku. Kau tidak menyadarinya?”

 

Kyuhyun balas mengejeknya, yang dibalas Hye Hoon dengan sebuah pukulan di kepalanya. Lelaki itu hendak membalas pukulan itu, namun tangan lelaki lain bernama Lee Donghae lebih cekatan melindungi kekasihnya dari serangan Kyuhyun.

 

“ Sudahlah, berhenti bertengkar, eo? Kalian sudah besar, bukan anak kecil seperti dulu lagi. Ayo, lebih baik kita makan. Ayo, Kyuhyun pasti sudah lapar karena kelelahan memanggang”.

 

“ Aku tak akan melawan jika kekasihmu itu tak memulainya, hyung. Ah, kau benar. Aku memanggang semua daging ini sendiri dan kalian malah berciuman disana? Aissh, seharusnya kalian memberitahuku kalau kalian akan bermesraan seperti itu agar aku membawa kameraku untuk mengabadikan moment itu”.

 

Donghae hanya tertawa menanggapinya, sedangkan Hye Hoon mengerucutkan bibirnya kesal. Gadis itu menatap Kyuhyun tajam, yang membuat dia sendiri menyesal atas tindakannya itu. Masih ada sisa cairan kasat mata di sudut mata lelaki itu, yang membuat hatinya terasa perih.

 

Semuanya terasa semakin berat. Awalnya, Hye Hoon pasti akan menyalahkan keputusan Kyuhyun yang membuat segalanya semakin rumit dan menyakitinya. Namun, pada akhirnya Hye Hoon menyadari, jika lelaki itu mengalami rasa sakit yang lebih besar daripadanya.

 

Bisakah Kyuhyun menahan rasa sakitnya?

 

Lamunannya terhenti ketika lelaki di sampingnya menyuapkan sepotong makanan yang sebagian besar masih terletak di atas panggangan itu. Dia menyunggingkan senyum terbaiknya, mencoba melupakan pikiran yang berkecamuk di benaknya.

 

“ Tuan Muda, ada telepon penting untukmu”

 

Donghae mengangkat bahunya, meminta maaf pada kedua orang terdekatnya itu karena meninggalkan mereka untuk sementara waktu. Lelaki itu beranjak pergi, setelah mendaratkan kecupan ringan di dahi gadisnya sekilas.

 

Setelah kepergian Donghae, keadaan taman belakang keluarga Lee itu berubah sunyi. Tak ada percakapan yang terjadi diantara keduanya. Kecanggungan yang terjadi antara mereka sangat kentara, berbeda dengan sikap bersahabat yang mereka tunjukkan di hadapan Donghae.

 

Hye Hoon memegang cincin yang menghiasi jari manisnya erat, seakan meminta kekuatan dari benda itu. Dia berharap jika benda itu bisa menahan dirinya agar tak memeluk lelaki itu erat, berbuat bodoh untuk melampiaskan rasa rindunya yang memuncak. Hye Hoon terlalu merindukannya hingga dadanya terasa semakin sesak. Dia ingin mengatakan jika ciuman itu sama sekali tak diinginkannya, tak mau jika lelaki itu menyalah artikan skinship-nya dengan Donghae.

 

Namun Kyuhyun pasti tak mengharapkan hal itu terjadi.

 

“ Sepertinya hubungan kalian semakin baik. Kurasa keadaan Donghae semakin membaik karenamu. Gomawo, Hye Hoon~ah”.

 

“ Ya, semua ini berjalan lancar berkat usahamu juga. Setidaknya kau berhasil menjadikanku alat untuk menjadi penolongnya”.

 

“ Choi Hye Hoon!”

 

Teriakan tegas dari lelaki itu membuat leher Hye Hoon mendongak. Dia melihat mata Kyuhyun memerah, tak tahu penyebabnya berasal dari rasa sedih atau amarahnya yang meluap. Pertahanan Hye Hoon runtuh. Cairan tak berwarna itu mengalir dari sudut matanya, membuat Kyuhyun terlihat semakin gelisah.

 

“ Tenang saja. Aku akan memainkan peranku dengan baik. Kau tahu, kan? Aku tak akan bisa menolak, apapun permintaanmu”.

 

***

 

Donghae mengamati gerak-gerik Kyuhyun dari kejauhan. Dia menangkap jika raut wajah Kyuhyun terlihat lebih keras sekarang. Berbeda dengan seorang Kyuhyun beberapa tahun ke belakang. Tak dipungkiri jika Kyuhyun bersikap semakin matang sesuai dengan usianya. Sikap playboy-nya pun sepertinya sudah dibuangnya sejak menimba ilmu di Spanyol selama beberapa waktu.

 

Dia tak bermaksud untuk mencampuri urusan asmara Kyuhyun. Namun, sepertinya lelaki yang terpaut dua tahun di bawahnya itu memiliki sebuah alasan untuk meninggalkan kebiasaannya mempermainkan wanita. Tak lama bibirnya membuka suara, hendak mempertanyakan masalah yang entah mengapa mengganggu pikirannya.

 

“ Kulihat kau jarang membawa wanita-wanitamu, Kyu. Apa yang terjadi? Apakah pesonamu sudah hilang semenjak kau jauh dari Korea? Hmm tapi sepertinya tidak. Masih banyak wanita yang memperhatikanmu. Mengingat reputasimu dulu, aku tak akan menyangka jika kau betah berlama-lama tanpa gadis cantik disampingmu seperti akhir-akhir ini”.

 

Gerakannya membalikkan dokumen yang berada di tangannya itu terhenti. Setelah sekitar setengah jam berlalu saat dia memasuki ruang kerja yang terletak di samping kamar utama, lelaki bermarga Lee itu hanya terdiam membiarkannya memahami proyek yang sebentar lagi akan dijalaninya tanpa berniat mengganggu. Sekarang, lelaki itu malah memberinya pertanyaan yang membuatnya tak berkutik.  Dirinya sama sekali tak siap dengan rasa penasaran Donghae dengan tingkahnya yang berubah semenjak pulang. Pikirannya kosong, tanpa adanya satu ide pun muncul untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya.

 

Matanya bergerak menuju pintu yang setengah terbuka dan menemukan seorang wanita berambut panjang disana. Dia menebak mungkin gadis itu juga mendengar pertanyaan Donghae karena tubuhnya yang mematung dan pandangannya yang terlihat kosong. Pandangan Kyuhyun terpaku pada gadis itu, lalu beralih pada tatapan Donghae yang menuntut.

 

“ Seseorang telah mengubahku. Awalnya, aku tak pernah bermimpi bisa tergila-gila hanya kepada seorang gadis. Kau tahu pasti hyung, dari awal aku tak pernah bisa dengan hanya satu wanita. Tetapi dia berbeda. Aku beruntung bisa mengenalnya, hyung”.

 

“ Aku senang akhirnya kau bisa menemukan seseorang yang tepat. Kapan kau akan mengenalkannya pada kami?”

 

Gugup. Rasa itu yang sekarang dirasakannya. Mana mungkin dia memberitahukan pada Donghae wanita yang dimaksudnya adalah wanita yang juga dicintai lelaki itu. Sudah banyak kebohongan yang mengalir mengenai dirinya dan Hye Hoon. Dia hanya tak ingin menambahnya. Bisa saja dia membawa wanita lain dan berpura-pura orang itu adalah wanitanya. Ya, dia bisa melakukan semua itu dan semuanya menjadi semakin rumit.

 

Suara dehaman pelan mengalihkan fokus Donghae. Kyuhyun menarik nafasnya, kemudian menghembuskannya dengan berat. Hye Hoon masuk ke ruangan itu setelah Donghae mempersilahkannya. Gadis itu menempati tempat di sebelah Donghae, tanpa menatap dirinya sedikitpun. Kedatangan Hye Hoon ternyata tak membuat Donghae melupakan pertanyaannya yang menggantung. Lelaki itu mengalihkan pandangannya kepada Kyuhyun, tatapannya terlihat menuntut sama seperti tadi.

 

“ Dia sudah pergi dariku. Dia bukan milikku lagi, hyung. Sayang sekali, aku tak bisa mengenalkannya kepada kalian”.

 

***

 

Waktu berputar semakin cepat, hingga Hye Hoon pun tak menyadari jika ini sudah berjalan lebih dari setengah tahun semenjak kepulangannya dari salah satu negeri cantik di Eropa itu. Itu berarti, sudah cukup lama dia menjalin hubungan dengan Donghae, lelaki yang dikenalnya sejak lama, yang menjadi salah satu sahabat terdekatnya.

 

Dia, Kyuhyun, dan Donghae saling mengenal sejak kecil. Mereka menjalin hubungan pertemanan yang sangat erat, walaupun Donghae berbeda dua tahun dengan dirinya dan Kyuhyun. Hye Hoon sudah menganggap Donghae sebagai kakaknya sendiri, sehingga Hye Hoon cenderung lebih banyak bercerita tentang masalah-masalahnya dulu dengan lelaki itu dibanding Kyuhyun.

 

Tetapi, tentu saja hubungannya dengan Kyuhyun lebih dekat, karena selain mereka memiliki kesamaan usia, mereka pun seringkali ditempatkan dalam kelas yang sama. Banyak sekali gadis seusianya yang berusaha mendekati Kyuhyun dengan cara berteman baik dengan Hye Hoon agar dapat mendapat perhatian lelaki itu, membuat Hye Hoon seringkali tak nyaman.

 

Setelah mereka beranjak dewasa, Hye Hoon pun menyadari jika perasaannya terhadap Kyuhyun berbeda. Dia mulai mencintai lelaki itu, mencoba merebut perhatian darinya seperti gadis lainnya. Namun, Kyuhyun yang selalu dikelilingi gadis-gadis itu tak pernah menanggapinya. Menganggap semua perhatian yang diberikannya pada Kyuhyun adalah atas dasar pertemanan semata.

 

Semuanya berbeda pada saat mereka menjalani kehidupan di negeri asing berdua. Perasaan cinta Hye Hoon kepada lelaki itu tumbuh semakin besar, yang lambat laun mendapat balasan dari Kyuhyun. Perubahan hubungan keduanya pun terasa singkat. Keduanya saling mencintai, hingga tak terpisahkan. Lebih dari dua tahun lamanya mereka menjalin kasih, dan semuanya terasa semakin indah setiap detiknya.

 

Hingga suatu kabar yang mengubah kehidupan mereka berdua.

 

Matanya terpaku pada cincin yang melingkar di jarinya. Salah satu bukti jika kisah cintanya dengan Kyuhyun adalah sesuatu yang nyata. Hanya benda itu satu-satunya kenangan yang disimpannya sampai sekarang, karena Kyuhyun sudah melenyapkan semua benda yang berhubungan dengan mereka agar Donghae tak pernah mengetahuinya.

 

Suatu fakta yang mengejutkannya. Donghae telah mencintainya sejak lama, bahkan jauh sebelum dia meninggalkan Korea untuk melanjutkan studinya. Dia tak pernah mengetahuinya karena sudut pandang mereka tentu saja berbeda.

 

“ Siapa sebenarnya orang yang memberikan cincin ini kepadamu, sayang? Kau terlihat berbeda saat memandangi cincin itu. Terlalu special, eh?”

 

Hye Hoon menegakkan kepalanya, mendapati seorang wanita yang biasa dipanggilnya Eomma menduduki ruang yang kosong di sebelahnya. Kemudian dengan gerakan lembut dia menghempaskan tubuh mungilnya itu di pelukan Ibunya. Dia merasa damai, sejenak melupakan semua kisah yang telah merenggut kebahagiaannya.

 

“ Cincin ini hanya cincin biasa, Eomma. Bukan sesuatu yang berharga. Aku hanya suka dengan bentuknya yang sederhana, itu saja. Emm, Appa masih di Jejudo, Eomma?”

 

Gadis itu sengaja mengalihkan pembicaraan. Dia tak mau Eommanya bisa mengetahui semuanya pada akhirnya. Sesuai dengan bakat asli yang dimiliki wanita yang melahirkannya itu, yang dapat mencium gelagat aneh jika Hye Hoon sedang memiliki sebuah masalah ataupun ada suatu hal yang disembunyikannya.

 

Hatinya merasa lega karena Eomma tak tahu sama sekali tentang hubungannya dengan Kyuhyun selama di Spain dulu. Mereka sebenarnya bukan menutupinya, namun mencari waktu yang tepat untuk mengumumkan perubahan status mereka. Tetapi hal itu sampai sekarang tak terjadi, dan dirinya malah menjadi milik lelaki lain yang mencintainya.

 

“ Iya. Tadi Appa menelepon. Katanya dia akan pulang besok pagi. Hye Hoon~ah, bagaimana keadaan Donghae? Apakah dia sudah sepenuhnya pulih sekarang?”

 

“ Belum, Eomma. Dia masih harus banyak beristirahat dan tak melakukan aktivitas di luar rumah. Tapi, dia benar-benar keras kepala sehingga dia memindahkan pekerjaan kantornya itu ke rumah. Padahal Minhwan Ahjussi melarangnya untuk memikirkan sesuatu yang berat selama beberapa waktu. Aku saja sudah bosan untuk memperingatinya, hingga membiarkan dia mengerjakan apapun semaunya”.

 

Wanita cantik itu hanya tersenyum maklum mendengar keluhan yang diceritakannya. Eommanya itu sangat mengenal Donghae, sejak mereka masih kanak-kanak. Sedikit banyak dia tahu sikap dari anak lelaki satu-satunya pewaris HanSang Group itu. Selain itu, Nyonya Choi berteman dengan mendiang orang tua Donghae. Sehingga dia merasa tak khawatir saat mengetahui anak perempuannya menjalin hubungan dengan lelaki itu.

 

“ Biarkan saja, Hye Hoon~ah. Donghae sepertinya butuh sesuatu untuk menghilangkan kepenatannya. Lagipula, tak ada orang yang bisa dipercayainya untuk menggantikan posisinya di perusahaan. Mungkin Tuan Kim bisa menghandle pekerjaan Donghae untuk sementara waktu, tetapi tetap saja pemilik perusahaan itu adalah kekasihmu. Jadi, kau harus mendukungnya dan merawatnya dengan baik, hmm? Bagaimanapun, support yang diberikan oleh yeojachingu pasti akan lebih memotivasinya.”

 

“ Eommaaaa…”

 

Nada manja itu begitu saja meluncur dari bibirnya. Gadis itu tak ingat kapan terakhir kali dia bermanja-manja dengan Ibunya seperti saat ini. Sejak dia pulang, Hye Hoon tak banyak menghabiskan waktu dengan keluarganya. Waktunya lebih banyak tersita untuk selalu berada di dekat Donghae, bahkan seringkali dia menginap di mansion milik keluarga Lee itu. Dia sangat merindukan berada di tengah keluarganya, terutama bertemu dengan kakak lelakinya yang sepertinya sudah melupakannya karena pekerjaannya yang seakan tak pernah habis.

 

“ Anak Eomma yang manja sudah kembali rupanya. Kau sudah dewasa, sayang. Sudah waktunya kau menghilangkan sifat kekanakkanmu itu.  Mungkin sebentar lagi Donghae akan melamarmu dan mengambilmu dari Eomma”.

 

“ Eommaaaa”.

 

Rengekan manja itu kembali disuarakannya, kali ini disertai dengan pipinya yang menggembung dengan bibirnya yang mencebik kesal. Nyonya Choi hanya tertawa geli menanggapi sikap kekanakkan anak gadisnya itu.

 

 Eomma tunggu di ruang makan. Kau pasti belum makan malam, kan?”

 

***

 

Suara alarm itu berdering semakin keras, namun tak membuat Hye Hoon kembali ke alam sadarnya. Pikirannya melayang, mengingat beberapa kejadian yang dilaluinya tepat di tanggal yang sama dengan tertera pada hari ini. Kemudian, bibirnya melengkungkan sebuah senyuman, senyuman yang terasa pahit di bibirnya.

 

Tatapan kosongnya tak beralih dari handphone yang berbunyi sejak beberapa waktu lalu. Hal yang pertama kali dilakukannya semenjak terbangun dari tidurnya. Jemarinya kaku, hingga dia tak bisa menggerakkanya hanya untuk sekedar mendial nomor yang dihapalnya ataupun mengirimkan pesan singkat untuk sekedar memberi selamat.

 

Nada dering yang lain menyadarkan dirinya dari lamunannya yang panjang. Sebuah nama tak asing muncul di layar telepon genggamnya. Dia menghirup nafasnya dalam, tak menyangka akan menemukan isak tangis disana. Tangannya pun bergerak menyentuh pipinya yang berubah basah. Sepertinya mengingat tentang sesuatu yang indah berpengaruh pada emosinya yang menjadi sensitif.

 

“ Yoboseyo, Ada apa, Oppa? Tumben meneleponku pagi-pagi sekali. Kau sudah sarapan, kan? ”

 

Kebiasaan Donghae yang seringkali membuat gadis itu kesal adalah selalu mendahulukan kertas-kertas itu dibandingkan makanan yang disajikan koki rumahnya. Jika Hye Hoon bermalam di rumah namja itu, setiap kali gadis itu menyeret Donghae ke ruang makan, dan membuang berbagai macam laporan itu ke lantai.  Perlakuan itu sukses menyebabkan Donghae menggerutu kesal sepanjang dia menghabiskan sarapannya.

 

“ Aku sudah makan, sayang. Sebentar lagi aku akan keluar rumah”.

 

Hye Hoon mengernyit heran. Sejak kapan Donghae pergi tanpa dirinya? Biasanya jika ingin menghirup udara segar, Donghae memaksa Hye Hoon untuk menemaninya. Tapi, sekarang sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan lelaki itu.

 

“ Tenang saja, sayang. Aku akan pergi dengan Tuan Kim. Kau tak lupa jika hari ini ulang tahun Kyuhyun, kan? Tuan Kim sudah mempersiapkan pesta kejutan untuknya, pastikan kau datang. Oh ya, aku akan mengirimmu supir untuk menjemputmu nanti malam, jadi jangan coba-coba menyetir sendiri Nona Choi. Sampai jumpa nanti malam”.

 

Tak biasanya Donghae banyak bicara seperti ini tanpa menunggu jawabannya. Sungguh, sikap lelaki itu terasa sedikit aneh baginya. Namun, mendengar suaranya yang ceria membuat Hye Hoon membuang semua prasangkanya.

 

Donghae terlalu bersemangat untuk membuat kejutan ulang tahun bagi Kyuhyun, mungkin?

 

Seketika kesedihan itu kembali menyengatnya. Sekarang, dia harus melewati hari special lelaki itu dengan rasa sakit yang menggelayuti dadanya. Berbeda dengan beberapa tahun ke belakang yang dilaluinya dengan sukacita.

 

Gadis itu tak pernah menyangka jika kisah yang sejak dahulu sangat didambanya akan berakhir mengenaskan seperti ini.

 

***

“ Cantik. Aku yakin Hye Hoon pasti sangat menyukainya. Gomawo, Kyuhyun~ah. Aku tak tahu bagaimana jadinya jika kau tak bersedia untuk membantuku”.

 

Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Bunga berwarna-warni menghiasi di seluruh penjuru tempat itu. Beberapa lilin kecil membentuk sebuah jalan, yang bermuara pada sebuah grand piano berwarna putih gading yang terlihat elegan. Suasana romantis di roof garden yang terletak di salah satu hotel milik HanSang Group itu diciptakan begitu memikat bagi siapapun yang melihatnya.

 

“ Tidak perlu berterima kasih, hyung. Aku senang bisa melakukannya”.

 

Senang? Hati kecilnya mencibir. Tubuhnya pun sepertinya tak mampu menahan sesuatu yang menindihnya bertubi-tubi. Dia hanya bisa tersenyum kecil, menikmati kehancuran hatinya sendiri, tepat di depan matanya.

 

Haruskah dia menyalahkan keadaan? Dia tak mungkin menolak saat orang yang dianggapnya sebagai kakak kandungnya itu memintanya untuk mempersiapkan sesuatu yang akan merubah masa depannya. Suatu moment, yang sudah ditunggu lelaki itu sejak lama.

 

Hati Kyuhyun terasa semakin tersayat ketika melihat wajah Donghae yang bersinar. Senyumannya tak henti tersungging dari bibirnya, menunjukkan rasa bahagia yang dirasainya. Namun, seringkali Kyuhyun menangkap rasa gelisah dan gugup yang membuat lelaki itu murung. Kyuhyun menepuk bahu Donghae pelan, memberi kekuatan lebih agar Donghae bisa mengatasi ketegangannya.

 

“ Hye Hoon tak akan lari darimu, hyung. Kau tenang saja”.

 

Donghae pun menganggukkan kepalanya sekali, dan kembali menyunggingkan senyuman manisnya. Kyuhyun menoleh ke arah namja itu ketika ponsel Donghae berbunyi. Kyuhyun bisa melihat raut wajah Donghae yang pucat pasi.

 

“ Hye Hoon sudah ada di lobby. Sepertinya aku harus segera bersiap. Sekali lagi terima kasih untuk segalanya, Kyu”.

 

Kyuhyun menarik kedua ujung bibirnya segaris, tanpa mengalihkan perhatiannya pada Donghae yang melangkah menjauhinya. Angin semilir yang menerpa wajahnya membuat Kyuhyun memejamkan kelopak matanya, berharap jika angin tersebut bisa membawa air matanya menghilang.

 

Tangannya beralih menyentuh dadanya, merasakan sakit akibat seakan beberapa pisau yang menghujam hatinya, serta menggoresnya hingga berdarah. Dia mencengkeram kemeja putih yang dikenakannya di dadanya itu, menahan nyeri yang menyiksanya.

 

Kuharap kau bisa membuatnya bahagia selamanya, hyung.

 

***

 

Gadis itu tercengang, tak pernah sekalipun dipikirkannya jika perayaan ulang tahun Kyuhyun itu sebenarnya tak pernah ada, digantikan dengan suasana romantis yang diciptakan oleh kekasihnya. Sudah terlalu banyak drama yang dia tonton untuk sekedar tahu apa yang dilakukan akan Donghae selanjutnya.

 

Hye Hoon berdiri kaku di sebuah ruang kosong yang dikelilingi cahaya lilin. Matanya terpaut pada sosok lelaki yang mengenakan tuxedo berwarna hitam dengan dasi kupu-kupu yang membuatnya terlihat semakin mempesona. Lelaki itu menarik sudut bibirnya ke belakang, membentuk sebuah senyuman yang membuat wajahnya terlihat semakin tampan.

 

Tak lama kemudian, dia melihat jemari lelaki yang duduk di depan sebuah piano itu pun bergerak, membuat dentingan piano yang diketuknya melantunkan irama yang tak asing di telinganya. Donghae memainkannya dengan sepenuh hati, membuatnya terpana untuk beberapa detik. Namun, lagu yang dilantunkan lelaki itu membuatnya mengetahui suatu kenyataan yang menghantam dadanya.

 

Hanya satu orang di dunia ini yang mengetahui tentang lagu kesukaannya tersebut.

 

Hye Hoon mencari sosok itu, kemudian menemukannya berdiri tegap dan sedang menatapnya. Namja itu sepertinya bisa mengendalikan ekspresinya, sehingga raut mukanya terlihat datar.

 

Pandangannya kabur, ketika cairan tak berwarna itu kembali menghalangi penglihatannya. Kyuhyun pasti sudah merencanakan semuanya untuknya. Apakah Kyuhyun sudah tidak mencintainya lagi? Ataukah lelaki itu sudah melupakan semua kenangan mereka?

 

Dia merasakan rasa yang sekarang begitu familiar untuknya, lagi. Jantungnya seakan berhenti berdetak mengingat kenyataan jika lelaki yang dicintainya begitu mudahnya melepaskannya, bahkan dia sendiri yang menyerahkannya ke pangkuan lelaki lainnya. Hye Hoon menggigit bibir bawahnya, menahan tangisan yang muncul untuk meratapi kepedihannya.

 

 Melodi yang dialunkan lelaki yang sangat dikenalnya pun berhenti. Hye Hoon mengalihkan pandangannya dari lelaki yang tetap terdiam membatu di tempatnya. Kemudian, dilangkahkannya kakinya pelan menuju seseorang yang sejak tadi menunggunya. Dia melewati jalan kecil yang dihiasi lilin menyala itu dengan enggan, mengulur waktunya untuk menghadapi kenyataan yang harus dihadapinya.

 

Hye Hoon menarik nafasnya dalam, mempersiapkan dirinya untuk kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kepadanya.

 

Apakah ini yang kau inginkan? Apakah aku harus bersanding dengannya untuk menyenangkanmu, Kyu?

 

***

 

“ Would you marry me?”

 

Gadis itu menutup mulutnya, ketika lelaki yang selama ini mengisi hidupnya itu berlutut di hadapannya.  Sebuah kotak cincin yang terbuka disodorkan lelaki itu padanya, membuat dirinya terpaku membayangkan jika benda itu akan mengikatnya dengan lelaki yang tak diinginkannya.

 

Hye Hoon menggigit bibir bawahnya gugup, menahan air matanya yang semakin banyak mengalir mengotori make up tipisnya.  Tatapannya melembut, menemukan wajah penuh harap yang ditujukan Donghae kepadanya, membuat dadanya semakin sesak oleh rasa bersalah.

 

Diliriknya seseorang yang sejak tadi tak beranjak dari tempatnya.  Matanya yang hitam menyiratkan kepedihan, yang tadinya berhasil dipendam lelaki itu.  Ya, lelaki itu juga mengalami hal sama sepertinya, yang harus memendam kesakitan di hatinya dan membohongi semua orang dengan senyum palsunya.

 

Hye Hoon hanya ingin lelaki itu menarik dirinya menjauh dari situasi ini, dan membawanya sejauh mungkin agar mereka bisa bersama.  Tapi, yang dia lihat sekarang adalah Kyuhyun menggumamkan sesuatu yang harus dia katakan kepada orang yang sejak tadi ada di hadapannya.

 

Kyuhyun sempat menyunggingkan senyum setelah mengucapkan satu kata itu, namun Hye Hoon lebih memilih menghiraukannya, dan memusatkan perhatiannya pada Donghae, lelaki yang selama ini memilikinya.  Dia mengulang apa yang Kyuhyun katakan tadi, dengan senyuman lebar yang terpatri di wajah cantiknya.

 

Tatapan Donghae beralih pada cincin yang masih terpasang di jari manis gadisnya.  Cincin biasa yang terlihat tak ada apa-apanya dengan cincin bertahtakan berlian yang akan disematkan lelaki itu padanya.  Hye Hoon akhirnya melepaskannya dengan sedikit ragu, karena dia yakin setelah cincin tersebut terlepas, kehidupannya akan semakin berubah.

 

Cincin itu adalah simbol yang mengikat dirinya dengan seseorang yang dicintainya.  Dia meringis saat menyadari jika ikatan mereka sudah terlepas saat lelaki itu menyerahkan dirinya pada seseorang yang selamanya akan dianggapnya hanya sebagai sahabatnya saja.

 

Semuanya sudah berakhir, saat Hye Hoon dengan perlahan melepaskan lingkaran perak yang tak pernah dilepasnya selama dua tahun terakhir. Benda yang selalu mengingatkannya pada masa lalu mereka yang indah, serta pada pengharapannya bahwa masa-masa itu akan terulang kembali di kehidupan sekarang.

 

Kehidupan takkan selamanya berjalan seperti keinginannya, kan? Tapi, dia hanya ingin menghapus rasa sakit yang mengikatnya, serta menerima apa yang menjadi takdirnya. Bisakah ?

 

***

Sorry kalo kependekan, banyak typo, atau ceritanya pasaran. Yang di otak adanya cuma ini, jadi terima dengan senang hati ya hehe

Oke, karena Can You Feel It kalah vote, jadi gak akan dilanjutin. Gantinya, ada oneshoot buat Donghae. Ada dua malahan. Kalo yang pertama itu judulnya The Wedding’s Disaster yang baru setengah jadi. Terus yang kedua belum ditentuin judulnya (walaupun udah punya opsi) dan akan bercerita tentang antagonis yang jadi peran utama. Karena kayaknya ceweknya itu sadis banget, jadi aku gak akan make nama Hye Hoon disana, diganti dengan nama lain, tapi OC juga. Weits, itu bukan berarti kalau Donghae punya pasangan lain di blog ini. Itu cuma sementara doang hehehe

Udah ah kayaknya kebanyakan cuap2nya daripada tulisannya.

See you on next project^^

 

88 thoughts on “That I Was Once By Your Side (Part 1)

  1. sebener’y donghae sakit apa ampe kyuhyun rela ngelepas hye hoon gitu aja??

    suka banget sama diksi’y ampe nyesek saking ngenes’y hubungan kyuhyun sama hye hoon harus kandas demi nyawa seseorang

    q kira iya donghae bikin kejutan buat ulang tahun’y kyuhyun, dengan nyerahin kembali hye hoon ke kyuhyun, karena donghae tau kalo umur dy ga bakal lama..

  2. Nyesek bacanya,..
    Kenapa kyuhyun melepaskan gtu aja hye hoon ke donghae, sbenernya donghae pernh skit apa???

    Gak kebayang gmna hancurnya hati kyu sma hye, saling mencintai tpi gak bsa memiliki,
    bsa gak sih kalian berdua egois buat kebahagiaan kalian? Kalu gini kan bkan cuma kyu sma hye yg tersakiti tapi donghae juga, gmn nnti kalu hae smpek tau ttg hubungan hye sm kyu?

  3. Nyesek bacanya,..
    Kenapa kyuhyun melepaskan gtu aja hye hoon ke donghae, sbenernya donghae pernh skit apa???

    Gak kebayang gmna hancurnya hati kyu sma hye, saling mencintai tpi gak bsa memiliki,
    bsa gak sih kalian berdua egois buat kebahagiaan kalian?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s