Not In Love ( Part 2 )


 

Gadis itu membungkuk sopan selesai dia menyimpan berbagai macam makanan di dua meja pendek yang digabungkan menjadi satu itu. Kedua pria paruh baya yang duduk bersebrangan yang dilayaninya pun mengucapkan rasa terima kasihnya melalui beberapa uang lembar yang disodorkan padanya. Setelah itu, dia melangkah mundur dan menutup kembali sliding door yang membatasi antara ruangan satu dan ruangan lainnya.

Malam ini adalah malam ketiganya melakoni pekerjaan barunya. Dia memutuskan untuk berhenti bekerja di tempat karaoke setelah lamarannya diterima di tempat lain, yaitu di sebuah restoran ala jepang di kawasan elite yang tak jauh dari butik tempatnya bekerja pada pagi hari. Untung saja, shift yang diajukannya untuk bekerja tiap sore sampai malam diterima.

Bukannya dia tak nyaman dengan pekerjaan terdahulunya, namun justru sikap Minho padanya setiap kali dia pulang larut malam membuat hatinya merasa sakit. Adik lelakinya itu pasti sudah menganggap jika kakaknya adalah bukan wanita baik-baik yang melakukan segalanya demi uang.

Andai Minho tahu apa yang membuatnya seperti ini, desahnya.

Tiba-tiba pikirannya teringat dengan seseorang yang membuat Minho semakin membencinya. Dia mencoba melupakan bayangan wajah tampan tanpa yang terlihat sempurna dengan balutan jas kerjanya maupun gaya casualnya itu, namun sepertinya dia tak bisa begitu saja melupakannya. Semua inderanya mengingat bagaimana wajah tampan itu berkeringat, rambutnya dan kemeja putihnya yang sudah tak beraturan, wangi maskulinnya yang semakin membuatnya tak ingin lepas dari lelaki itu, serta sentuhan lembut lelaki bermata hitam itu yang membuatnya melayang.

Baiklah, sepertinya Hye Hoon harus segera kembali berkonsentrasi untuk melayani tamu di tempat kerjanya, bukan memikirkan lelaki yang tak seharusnya ada di otaknya.

Bagaimana tidak memikirkannya? Sudah hampir sebulan ini lelaki itu tak menemuinya lagi. Mungkin dia sudah menemukan mainan barunya lagi? Ah, seharusnya dia tak pernah peduli dengan apa yang akan dilakukan lelaki itu. Hye Hoon yakin, dia bukanlah orang yang pertama ‘dibeli’ oleh lelaki kaya seperti Kyuhyun. Lagipula, dia mengingat jumlah nominal cek yang beberapa kali diberikan padanya, dan sepertinya jumlahnya sudah lebih dari cukup untuk dirinya dan Minho.

Namun, hati kecilnya menginginkan Kyuhyun untuk ‘membelinya’ lagi. Untuk mengucapkan salam perpisahan mungkin? Entahlah. Mungkin dia sudah gila karena memikirkan untuk menjual harga dirinya lagi untuk kali ketiga di hidupnya, pada lelaki yang sama pula.

***

Setelah atasannya menyuruhnya untuk segera pulang, Hye Hoon segera bergegas menuju ruang ganti. Di sepanjang lorongnya, dia membungkukkan badannya berkali-kali, menyapa setiap orang yang masih mengenakan kimono mereka yang masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

Namun, langkahnya terhenti di sebuah lorong sepi, yang merupakan jalan dua arah menuju toilet dan kamar ganti, karena menyadari ada langkah kaki lain yang menguntitnya. Dia menoleh ke belakang, menemukan seorang lelaki berkulit putih yang menggunakan tuxedo berwarna hitam yang terlihat didesain khusus untuknya. Hye Hoon mencibir dalam hati, mengetahui jika mungkin lelaki itu mengenakan baju limited edition yang dibelinya di luar negeri.

Dari penampilannya, sepertinya semua hal itu mengingatkannya pada seseorang yang memberinya sepuluh juta won beberapa minggu lalu.

Merasa dipandangi oleh Hye Hoon pun, lelaki itu tak bergeming dari tempatnya, yakni berdiri di belakang gadis itu. Bibir Hye Hoon sudah pegal untuk memberikan senyuman manisnya, dengan tangannya mempersilahkan namja itu untuk mendahuluinya.

Tak ada tanggapan yang diberikan lelaki itu. Akhirnya, Hye Hoon memutuskan untuk membuka percakapan dengannya, menanyakan sesopan mungkin –mengingat mungkin lelaki itu adalah costumer dari restaurant ini- apa yang diinginkan lelaki yang sepertinya sedang mengikutinya.

“ Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”

Lelaki itu tampak termenung sebentar, memikirkan jawaban yang tepat untuk  menjawab pertanyaannya. Namun dirinya terkejut ketika lelaki asing itu menariknya paksa, menuju pintu belakang di tempatnya bekerja. Sepertinya lelaki itu tahu banyak tentang seluk beluk tempat ini. Hye Hoon meronta, tapi tak membuahkan hasil karena jelas tenaga namja itu lebih besar. Ingin berteriak pun, mulutnya terbungkam oleh tangan besar milik orang yang  menyeretnya itu.

“ Jangan takut, aku hanya akan membawamu untuk menemui seseorang. Ah, mungkin kau mengenalnya”.

***

Minho mengeratkan pegangannya pada tas yang tersampir di bahunya. Dia mempercepat langkah kakinya, karena derap langkah yang mengikutinya sejak dia pulang dari sekolahnya itu semakin dekat.  Dia membalikkan tubuh jangkungnya dengan cepat, tak memberi kesempatan untuk penguntit itu melarikan diri dan menemukan tempat persembunyiannya. Yang didapati oleh mata elangnya itu adalah seorang lelaki berperawakan kekar, yang berpakaian rapi dengan kacamata hitam yang menutupi matanya.

Sepertinya dia seorang bodyguard, pikir Minho.

Tak ada tanda-tanda jika bodyguard itu akan menyerangnya, dia pun bertindak terlebih dahulu. Dia berlari dengan kecepatan penuh lalu menerjang lelaki itu dengan kakinya yang jenjang. Tubuh orang asing itu pun tersungkur, sehingga dengan mudahnya dia menghujamkan pukulan di sekitar wajah dan perut lelaki yang sudah tak berdaya itu.

“ Siapa yang menyuruhmu? Katakan!”. Suara Minho terdengar menakutkan dengan ancamannya yang tak main-main. Dia bisa saja menghajar lelaki itu sampai tak sadarkan diri, namun sepertinya dia harus mempertimbangkan akal sehatnya juga karena dia masih mengenakan seragam sekolahnya dan mereka sedang berada di tempat umum.

“ Berhenti memukulnya, Choi Minho. Dia orang suruhanku”.

Dalam sekejap Minho pun mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Nampak seorang wanita yang berdiri di ambang pintu mobil mewahnya itu menatapnya tajam. Minho menyeringai, mematuhi perintah wanita paruh baya itu untuk melepaskan lelaki yang dihajarnya tadi.

Mereka berdua duduk di mobil mewah dengan peralatan serba canggih itu dengan suasana yang sama sekali tidak baik. Minho sudah terlalu membenci wanita itu, wanita yang pernah mencampakkannya. Kebencian itu telah tertanam di hatinya, tanpa bisa dia kikis sedikitpun. Dia tak pernah mau memberi toleransi kepada orang yang lebih mementingkan keselamatan dirinya sendiri, dibandingkan menjaga kedua orang anaknya yang harus menanggung beban besar.

Ya, dia membenci Ibunya sendiri, yang meninggalkannya terbirit ketakutan saat dia sangat membutuhkan kasih sayang orang tua.

“ Minho~ya, bagaimana keadaanmu, nak? Eomma sangat merindukanmu. Bagaimana dengan kehidupan kalian? Apakah kalian butuh sesuatu? Katakan, sayang. Eomma pasti akan memberinya untukmu”.

“ Berhenti bersikap seolah kau adalah Ibu yang baik”, ketusnya. Ibunya yang mendengar perkataan Minho pun merasakan sakit yang teramat dalam karena merasa diacuhkan oleh anaknya sendiri. Mungkin kesalahan di masa lalunya tak akan pernah hilang dari benak mereka, yang membuat anaknya itu berbuat kurang ajar padanya.

“ Minho~ya, maafkan Eomma. Eomma menyesal telah melakukan semuanya kepada kalian, hingga kalian harus menanggung derita itu berdua. Kau tahu, Eomma tak bermaksud melarikan diri, Eomma hanya…”

“CUKUP! Aku bukan anak seorang pelacur sepertimu”.

PLAK

Minho menatap wanita di sampingnya tajam, meraba pipinya yang panas dan memerah karena bekas tamparan Ibunya tadi. Dia menunjukkan senyum di setengah ujung bibirnya, mengejek wanita yang berani mendaratkan tangannya di pipinya itu.

“ Kau bahkan tak bisa menyangkalnya, Eomma”.

***

Berbeda dengan berbagai pemikiran buruk yang bersarang di otaknya, bahwa mungkin lelaki tampan itu akan membawa dirinya ke tempat seperti gudang kosong atau tempat pengap dan gelap untuk menyekapnya, justru lelaki itu membawa Hye Hoon ke sebuah tempat yang membuat dirinya terkagum-kagum.

Saat ini, kesimpulan yang didapatnya, penculik itu adalah orang yang sangat kaya. Salah satu Chaebol di negeri ini, mungkin.

Rumah megah yang kemewahannya menyerupai sebuah istana, dengan desain yang elegan bergaya khas Eropa klasik, disertai sentuhan beberapa karya bertema modern art yang terpajang di setiap sudut. Dia tak menunjukkan kekaguman itu dengan mudah, karena menutupnya dengan topeng seolah pemandangan ini adalah hal yang biasa untuknya, mengingat banyaknya pelayan yang tersenyum dan membungkuk ramah di setiap langkah mereka.

Orang itu membawanya ke ruang utama di mansion dengan menarik lengannya pelan. Dia membelalakkan matanya ketika mata coklatnya mendapati objek yang selama ini terngiang jelas di pikirannya. Penampilan lelaki itu tampak kusut, rambut berwarna coklat gelapnya terlihat tak beraturan, serta dua kancing teratas kemeja putihnya terbuka, menampakkan leher jenjang yang membuatnya tampak semakin memikat.

Hye Hoon pun tak menyadari jika sekarang lelaki asing yang membawanya tanpa izin itu pun sudah melepaskan kaitan tangan besar lelaki itu di pergelangan tangannya, digantikan oleh sentuhan yang terasa akrab di pinggangnya, yang sukses membuat jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya.

“ Untunglah kau bisa membawanya tepat waktu. Kau berguna sekali, hyung”.

Lelaki yang disebut Kyuhyun pun terkekeh, menepukkan tangannya di dada beberapa kali sambil tertawa puas memamerkan gusinya yang membuatnya semakin terlihat mempesona.

“ Kau bisa mengandalkanku, Kyu. Kau tak lupa dengan janjimu, kan?”

Kyuhyun menarik kedua sudut bibirnya, membentuk senyuman yang terlihat datar seperti biasanya. Dia memanggil salah satu pelayannya, yang berjalan tergopoh memberikan lelaki itu sebuah benda kecil berbentuk kunci kepada orang yang dipanggilnya hyung itu.

“ Mobil terbaruku, kan? Itu kuncinya, sekarang mobil itu untukmu”.

Setelah Hyuk Jae berpamitan pulang dengan wajahnya yang terlihat sangat senang, Hye Hoon pun mengalihkan perhatiannya kepada lelaki yang sedang merangkul pinggangnya. Pipinya merona ketika menyadari bahwa perlakuan Kyuhyun terlihat sangat posesif kepadanya. Seperti biasanya, dia menutupinya dengan wajah datar yang diperlihatkannya. Namun, menyadari kehadirannya di tempat yang diyakininya sebagai mansion Kyuhyun yang tiba-tiba itu membuatnya bertanya-tanya.

“ Untuk apa kau membawaku kesini?”

Lelaki itu pun menatap ke arahnya, membuat kedua mata mereka beradu. Keduanya merasakan ada yang berbeda dengan pertemuan mereka kali ini. Ada rasa hangat yang menjalari tubuh mereka karena sengatan listrik bertegangan rendah seakan tak henti menyerang tubuh mereka.

Hye Hoon memalingkan wajahnya, menghalau semua kemungkinan yang berkelibat di pikirannya. Mungkin, masalahnya dengan Minho membuatnya tak fokus seperti ini. Ya, itu benar. Mana mungkin saat ini dia berpikir, jika dia sudah jatuh dalam pesona lelaki itu. Sungguh, itu terdengar konyol untuk seseorang sepertinya.

Sama halnya dengan Kyuhyun, yang masih bingung dengan perasaannya. Setelah beberapa waktu tak bertemu dengan gadis itu, dia merasakan ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Tetapi, ketika dia melihat Hye Hoon dengan keadaannya yang utuh, dia merasa seakan dirinya menjadi lengkap dengan kehadiran gadis itu.

“ Seperti biasanya, aku akan menawarkan pekerjaan yang menarik untukmu. Kau hanya perlu menikmatinya dan menjalankan semua alur yang kuciptakan. Tenanglah, akan kupastikan rekeningmu tak akan habis sampai lima tahun ke depan”.

***

Hye Hoon seakan tersihir dengan perintah yang keluar dari mulut Kyuhyun, tak membantah sepatah kata pun saat Kyuhyun membawanya ke ruangan yang gadis itu yakini sebagai ruangan pribadinya. Tentu saja, diiringi oleh tatapan iri pelayan wanita yang berbisik-bisik mengamati tangan Kyuhyun yang bersarang di pinggang ramping gadis itu.

Mungkin semuanya akan terjadi seperti biasanya, pikirnya.

Kyuhyun pun meninggalkannya sendirian di tengah ruangan, sedangkan dirinya beranjak ke pintu lainnya yang ukurannya lebih kecil yang dia yakini adalah kamar mandi. Hye Hoon pun berdiri kaku, namun setelah beberapa saat sepertinya dia merasa tak mampu lagi menegakkan tubuhnya kemudian diseretnya kakinya menuju sofa empuk yang terletak berhadapan dengan ranjang.

Beberapa menit berlalu, Kyuhyun pun keluar dengan penampilannya yang lebih segar. Dia hanya memakai kaos dan celana pendek, dengan handuk kecil yang tersampir di bahunya. Lelaki itu menatap Hye Hoon dengan pandangan sulit diartikan. Pandangannya berlabuh di pakaian yang digunakan gadis itu.

Bagaimana dia bisa lupa jika dia masih mengenakan kimono milik restaurant itu?

Tadi, dia tak sempat menukar bajunya karena insiden ‘penculikan’ yang menimpanya. Firasatnya tak baik mengenai keadaan ini. Sepertinya Kyuhyun sangat tertarik dengan kostum yang digunakannya, yang membuat gadis itu tak mungkin lepas dengan mudah malam ini.

Dia mendongakkan wajahnya, menghalau rasa ketakutan yang menyergapnya ketika Kyuhyun mulai mendekat ke arahnya. Mata hitam lelaki itu terlihat berbeda, menunjukkan sifat kuasa yang dimilikinya.

Tubuh Kyuhyun mulai merapat, bibirnya pun mencari bibir Hye Hoon yang segera dilahapnya lapar. Mereka memejamkan mata, saat material lembut itu akhirnya bertemu. Sungguh, mereka tersiksa dengan rasa rindu yang tak terucapkan. Rasa rindu untuk saling memiliki di ruangan temaram, seperti hari-hari sebelumnya.

Kyuhyun menyesuaikan posisi kepalanya, seiring dengan benda lunak miliknya yang menelusuri rongga mulut Hye Hoon lebih dalam. Mereka terbuai dengan ciuman hangat yang memabukkan, membuat keduanya lupa diri dan melakukan lebih dan lebih. Hye Hoon pun sepertinya tak mau kalah dengan dominasi Kyuhyun, mengaitkan indera pengecapnya dengan milik Kyuhyun yang meliuk-liuk di dalam mulutnya.

Kyuhyun dengan gerakan tak sabar mengaitkan kaki gadis itu di pinggangnya, membuat kedua pusat tubuh mereka bergesekan. Mereka pun mengerang diantara ciuman panas mereka, merasakan kebutuhan primitif yang semakin menguasai keduanya.

Tubuh Kyuhyun menindih raga Hye Hoon yang terbaring di bawah kuasanya, tak memberi kesempatan untuk gadis itu bebas dari perangkapnya. Bibir Kyuhyun turun ke dagu, lalu menelusuri bahu Hye Hoon yang sudah tak tertutup kain, entah sejak kapan. Hisapannya berubah menjadi gigitan-gigitan kecil, yang tersebar di permukaan kulit bahu dan leher gadis itu.

Lalu, tangan Kyuhyun mulai menelusup diantara punggung Hye Hoon dan seprai, sedikit mengangkat tubuh gadis itu untuk melepaskan satu-satunya kain yang menutupi tubuh bagian atasnya.

Dengan tak sabar, diremasnya gundukan kenyal itu menggunakan tangan besarnya. Gerakan yang diciptakannya adalah gerakan berputar yang lambat membuat Hye Hoon mengerang frustasi, menginginkan lebih. Siksaan lelaki itu di dadanya cukup membuat bagian diantara pahanya lembab, menginginkan sesuatu yang mendesak yang bersentuhan dengan perutnya.

Suara derap langkah yang memburu diiringi suara gesekan pintu yang keras membuat Hye Hoon tersadar dan menyingkirkan kepala Kyuhyun dari puncak dadanya. Lelaki itu tetap tak bergeming, malah menghujami Hye Hoon dengan gairah yang tak terbendung karena deretan giginya turut mengambil peran.

“ APA YANG KALIAN LAKUKAN?”

Gadis itu segera merapikan kembali kimono yang tadi sempat terlepas dari tubuhnya, memperhatikan seorang gadis cantik yang berada di ujung pintu menatap mereka berdua dengan penuh kebencian. Kyuhyun ikut memalingkan pandangannya ke arah gadis itu, hanya sebentar, karena lelaki itu kembali memagut bibir Hye Hoon dalam ciumannya yang panas.

“ Aku tak akan mudah untuk menyerah, Cho Kyuhyun. Tunggu aku, kau pasti akan kembali padaku.”.

Suara gadis cantik itu melemah, dengan isakannya yang terdengar menyakitkan. Langkah kaki itu semakin menjauh. Kyuhyun pun segera menjauhkan jaraknya dengan Hye Hoon. Gadis itu mengamati perubahan raut muka yang terjadi pada Kyuhyun, yang tak lagi dingin seperti apa yang selama ini dilihatnya dalam diri Kyuhyun.

Gadis itu yakin, jika dirinya menangkap rasa sakit sekaligus kebencian dari matanya.

Dadanya sesak, entah mengapa alasannya. Mungkinkah dia merasa sakit karena mengetahui jika Kyuhyun memanfaatkan dirinya untuk membuat kekasih lelaki itu menjauh? Ataukah dia merasa jika harga dirinya direndahkan karena bisa seenaknya dibeli oleh lelaki itu, yang sekarang mengabaikannya begitu saja?

Tentu saja, Hye Hoon merasa terhina atas perlakuan Kyuhyun. Tapi, dia tak bisa melakukan apapun untuk melawan lelaki itu.

***

Kyuhyun duduk nyaman di sofa, mengamati Hye Hoon yang sedang duduk menyandar ke kepala ranjang dengan wajahnya yang menunduk. Terbayang olehnya tatapan tersiksa yang ditunjukkan gadis itu saat Han Ye Jin memergoki mereka.

Mungkin gadis itu tahu jika Kyuhyun memanfaatkan Hye Hoon untuk melancarkan rencananya untuk menjauhi mantan kekasihnya itu.

Memikirkan tentang wanita yang mengkhianati kepercayaannya itu membuat dirinya geram. Han Ye Jin, tak ada bedanya dengan orang-orang sekitarnya yang mengangap dirinya sebagai ladang uangnya. Awalnya, Kyuhyun memaklumi dengan sikap wanita itu, karena toh dia pun tak keberatan untuk membagi hartanya dengan wanita yang dicintainya. Namun, suatu kejadian yang mengetahui bahwa Han Ye Jin terang-terangan memanfaatkan kekayaannya, tanpa mencintai Kyuhyun sedikit pun, membuat rasa benci tumbuh di hatinya.

Dia bersumpah pada dirinya sendiri jika dia tidak akan terpedaya untuk kedua kalinya oleh wanita itu.

Lelaki tampan itu akhirnya memutuskan untuk berbaring di ranjangnya. Dia memperhatikan jika Hye Hoon tak bergeming dari tempatnya, tetap dengan posisinya yang duduk menyender di kepala ranjang dengan lutut ditekuk. Sepertinya Kyuhyun mulai tertarik dengan gadis itu. Bukan, sejak awal Kyuhyun memang sudah tertarik dengan keadaan gadis itu yang berbeda dari gadis biasanya. Dia terlihat menyimpan sesuatu yang berat di pundaknya, yang disimpannya rapat-rapat tanpa boleh seorang pun mengetahuinya. Namun, Kyuhyun ingin menjadi pengecualiannya.

“ Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kau menyerahkan kehormatanmu kepada orang yang sama sekali tak kau kenal, dan melihat penampilanmu, aku yakin kau gadis baik-baik. Apa kau begitu terobsesi dengan uang sehingga melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya?”

“ Ya, aku sangat menginginkan uang banyak agar hidupku lebih baik”.

“ Kau menyembunyikan sesuatu. Kalau kau butuh uang, aku akan memberi berapapun yang kau mau. Tapi, kau harus memberitahukanku apa yang mengganjal di hatimu sehingga kau bersikap dingin seperti ini”.

Hye Hoon tak menjawab, membuat Kyuhyun semakin yakin dengan asumsi yang dibangunnya. Di lain sisi, gadis itu menggumam tak percaya jika lelaki itu bisa membaca isi hatinya. Mungkin, karena kondisi mereka berdua kurang lebih sama, membuat lelaki itu dengan cepat memahaminya.

“ Bukan urusanmu”, tukasnya dingin.

Kyuhyun menarik dagu gadis itu untuk bertatap muka dengannya. Dia bisa melihat mata gadis itu berkaca-kaca, seakan menyimpan kepedihan yang amat dalam. Permainan akan semakin menarik, pikirnya. Dan tanpa dirinya sadari, dia semakin terjerat dengan ketertarikan yang mendalam terhadap gadis itu, yang membuatnya tak bisa menarik diri dengan mudah.

“ Aku akan mencari tahu sendiri, sayang. Jadi kau perlu waspada”.

***

Kyuhyun menyesuaikan pupilnya dengan cahaya yang menelusup masuk lewat tirai yang sedikit terbuka. Dia menarik ujung bibirnya ke belakang ketika melihat pemandangan yang menjadi pembuka paginya kali ini. Kyuhyun mengecup dahi gadis itu sekilas, mengungkapkan rasa terimakasihnya, karena dengan memeluk gadis itu semalaman bisa membuat tidurnya lelap.

Dia memang mengalami insomnia akut akhir-akhir ini.

Setelah memastikan gadisnya masih terlelap di ranjang, dia mempersiapkan dirinya untuk berangkat menjalankan aktivitas sehari-harinya. Selesai membersihkan diri, dia menangkap sosok gadis itu sedang mengucek matanya, sepertinya dia baru bangun dari tidurnya.

Dia menatap Kyuhyun dengan matanya yang polos, mata indahnya itu melebar ketika melihat penampilan lelaki itu saat ini. Wajahnya memerah layaknya kepiting rebus, ketika pandangannya tak sengaja tertuju pada dada bidang lelaki itu.

“ Kita akan sarapan, setelah itu kau akan kuantar pulang”.

Hye Hoon dengan nyawanya belum terkumpul ditambah dengan pemandangan yang merusak kepolosannya masih mencerna ucapan Kyuhyun. Lalu setelah dia menelaahnya dengan seksama, dia mengambil suatu kesimpulan. Jadi, Kyuhyun akan mengantarkannya pulang lagi? Tidak. Dia tak akan membiarkan Minho melihatnya dan semakin salah paham padanya.

“ Aku akan pulang sendiri”.

“ Baiklah, jika kau tak mau kuantar maka supirku yang akan mengantarku. Aku tak menerima penolakan”.

Kyuhyun sepertinya terbiasa mendapatkan apa yang dia mau, sehingga lelaki itu sama sekali tak menghiraukan penolakan dari Hye Hoon. Gadis itu akhirnya menyerah, dan mengambil strategi lain agar Minho tak mengetahui jika dirinya diantar oleh mobil mewah lagi.

“ Hmm, terserah kau saja”.

Hye Hoon menggerakkan lehernya cepat ketika Kyuhyun dengan santainya meloloskan satu-satunya kain tebal yang menutupi tubuhnya. Bibirnya tak menjerit, namun warna rona wajahnya terlihat semakin memerah. Untungnya, Kyuhyun tak menangkap keanehan dari tingkah gadis itu. Setelah Kyuhyun siap, dia segera beranjak dari kamarnya meninggalkan Hye Hoon yang duduk membelakangi lelaki itu di ranjang.

Namun, setelah beberapa langkah Kyuhyun membalikkan badannya, mendekatkan jaraknya dengan gadis itu. Hye Hoon mencoba menunjukkan sikap tenang dari pembawaanya, berbanding terbalik dengan jantungnya yang berdebar liar tak terkendali saat jarak mereka dirasanya terlalu dekat.

“ Kau adalah obat insomnia-ku yang paling ampuh. Aku tak mau memakai obat tidur untuk menyembuhkannya, karena aku takut jika nantinya aku akan mengalami ketergantungan. Dan ternyata, ketergantungan yang kualami lebih parah dari itu. Aku sepertinya tak bisa tidur jika kau tak ada di pelukanku. Maukah kau tinggal di kamarku setiap malam?”

Suara Kyuhyun yang sedikit berat terdengar begitu seksi di telinganya. Apalagi dengan kata-kata penutupnya yang tak diduga, membuat Hye Hoon perlu beberapa detik untuk mengembalikan fokusnya. Tapi, sebelum dia sempat untuk memikirkan jawaban dari permintaan itu, sebuah sensasi yang tak asing dirasakannya kembali ketika Kyuhyun mengecup bibirnya singkat.

Berbeda dengan kali sebelumnya, Hye Hoon merasakan sesuatu yang beda dari sentuhan Kyuhyun kali ini. Tetapi sebelum dia berpikiran lebih jauh, gadis itu memilih untuk menghentikannya karena dirasakannya harapannya itu terlalu tinggi baginya.

“Apapun jawaban yang kau katakan, sepertinya aku tak akan perduli. Aku akan tetap menyeretmu untuk tidur di tempat tidurku setiap malam, dengan cara apapun. Kau harus menyiapkan diri untuk hal ini, Hye Hoon~ah”.

Hye Hoon menghela nafas panjang mendengar kata demi kata yang mengandung intimidasi itu. Gadis itu tak bisa melakukan suatu hal apapun untuk mencegahnya. Teringat olehnya ketika peristiwa ‘penculikan’ kemarin terjadi. Itulah salah satu bentuk kekuasaan yang dimiliki lelaki itu.

Kyuhyun bisa memilikinya, hanya untuk sementara waktu. Setelah itu, mungkin Kyuhyun akan bosan atau Hye Hoon yang akan pergi untuk mengakhiri hubungan konyol ini.

***

Minho bersikap tak peduli saat melihat pemandangan yang menyakitkan matanya terulang lagi. Seperti yang sebelumnya dia lihat, kakaknya keluar dengan anggun dari sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap. Setelah  malam sebelumnya tak pulang ke rumah, tentunya.

Mudah ditebak, pasti kakak wanitanya ini menjual diri lagi, seperti malam-malam sebelumnya.

Lelaki bertubuh atletis itu segera menutup pintu, tanpa berniat menguncinya karena kakaknya pasti akan masuk ke dalam unit apartemen kecil itu. Dia memang berencana untuk keluar rumah untuk memenuhi jadwal barunya. Bukan untuk ke sekolah tentunya, karena hari ini adalah hari libur.

“ Pergi kemana? Bukankah ini akhir minggu?”

Dari nada yang ditangkap dari suara Hye Hoon, Minho dapat mengetahui jika kakaknya itu khawatir dengannya. Selama ini, kegiatan terselubungnya dapat tertutupi dengan baik sehingga Hye Hoon tak sedikitpun mencurigainya. Namun sepertinya kali ini dia sedikit lengah dan membuat kakak perempuannya itu berpikir yang tidak-tidak.

“ Hanya bermain di game centre sebentar”.

Berbohong, tentu saja itu yang dilakukannya. Dia tak mungkin berkata jujur dan membongkar semuanya. Untunglah dia tak pernah pulang dengan luka lebam di wajahnya, sehingga dia dengan mudahnya mengelabui Hye Hoon. Dia teringat dengan bodyguard yang mengikutinya tempo hari, sehingga ingatannya tertuju pada wanita yang sangat dibencinya.

“ Aku bertemu Eomma. Sepertinya dia tahu tempat tinggal kita, Noona. Mungkin sebentar lagi dia akan menemuimu dan memamerkan kekayaannya padamu”.

***

Tebakan Minho benar. Malamnya, wanita yang dikenalnya sebagai Ibunya itu pun mendatangi tempat kerjanya. Entah apa yang dilakukan wanita itu kepada atasannya, hingga dia bisa bebas dari semua tugasnya dan hanya menemani wanita yang membesarkannya itu di salah satu ruangan privat.

“ Aku senang kau baik-baik saja”.

Kalimat pembuka yang terdengar hanya sekedar basa-basi. Rasa benci yang terpendam di hati Hye Hoon terlalu besar untuk membenarkan apapun yang dikatakan ataupun dilakukan wanita itu.

Tak mendapat jawaban, sepertinya wanita paruh baya itu pun mulai gerah. Namun, dia berhasil mengontrol emosi dan mengeluarkan suara lembutnya yang keibuan.

“ Hye Hoon~ah, Mianhae. Eomma sungguh meminta maaf atas kejadian di masa lalu. Berikan kesempatan kedua kepadaku, nak. Eomma ingin merawat kalian sebagaimana yang semestinya, seperti dulu saat Appa-mu masih ada di dunia ini. Izinkan Eomma menebus kesalahan yang dilakukan pada kalian, kumohon”

Hye Hoon menyesap green tea yang terhidang di hadapannya. Dia luluh begitu saja dengan kesungguhan yang ditunjukkan Ibunya. Kebenciannya meluap begitu saja saat kata-kata itu mengobati lukanya. Ibunya mendekati tempatnya duduk, dan merengkuh tubuhnya dalam dekapan yang hangat. Matanya perih, sampai mengeluarkan air mata yang meluncur begitu saja.

Dia sangat merindukan Eommanya, setelah entah berapa lama mereka terpisah hingga Hye Hoon merasa jika Ibunya tak peduli dengannya.

“ Aku sudah memaafkanmu sejak lama, Eomma. Tapi, untuk saat ini aku tak mungkin untuk kembali tinggal bersamamu. Kurasa Minho juga tak akan mau untuk serumah denganmu”.

Wajah cantik yang mulai keriput itu terlihat bersedih. Dia ingin seperti Ibu lainnya yang bisa berdekatan dengan anaknya. Namun, sepertinya kedua anaknya perlu waktu untuk menerimanya kembali. Dia tersenyum masam, sambil menganggukkan kepalanya tanda jika dia menghormati keputusan anak sulungnya itu.

“ Eomma, bisakah aku meminta bantuan padamu?”

***

Jalanan terlihat sepi dan lengang. Mungkin karena malam ini dikenal orang sebagai malam yang sedikit menyeramkan karena banyaknya pemabuk di sepanjang trotoar yang terletak di pinggir jalan. Sepertinya itu terbukti benar, karena sejak tadi di jalanan yang dilaluinya, seringkali dia berpapasan dengan beberapa lelaki paruh baya yang berjalan sempoyongan.

Hye Hoon mengeratkan pegangannya pada bagian depan sweater tipisnya. Selain jalanannya yang banyak dihuni oleh ahjussi dengan mata memerah, juga penerangan yang kurang cukup membuatnya semakin ketakutan.

Dadanya berdegup kencang ketika merasakan sentuhan di tangannya. Dia berusaha berteriak, namun dia kalah sigap dengan orang itu yang sudah membungkam mulutnya. Kedua tangannya dikunci oleh tangan lain orang asing itu hingga dia tak bisa berbuat apapun.

Perlawanannya untuk mencoba melarikan diri sama sekali tak berarti. Bibirnya seperti orang bisu karena tak bisa mengeluarkan suara yang jelas dari mulutnya. Sedangkan tubuhnya yang kalah kuat dari orang yang diyakininya seorang lelaki itu tentu saja tak bisa bergerak bebas.

Lelaki itu menyeretnya paksa ke arah sebuah gang kecil yang benar-benar sepi dan gelap. Berbagai pikiran buruk hinggap di otaknya. Tubuhnya menggigil, cairan bening pun keluar dari sudut matanya.

Cho Kyuhyun, Tolong aku.

Hanya nama itu yang ada di benaknya. Dia mengucapkan kalimat itu berkali-kali seakan deretan kata-kata itu adalah sebuah mantra. Dia tahu, jika hal itu sia-sia karena Kyuhyun tak mungkin mendengar bisikan hatinya. Hanya keajaiban yang bisa menolongnya dari keadaan ini.

“ Akhirnya aku bisa bertemu kembali denganmu, Choi Hye Hoon”

Hye Hoon menahan nafasnya saat melihat sosok lelaki itu dari cahaya rembulan yang meneranginya. Tak mungkin salah, dia tak mungkin salah mengenalinya dengan sosok lain. Keringatnya meluncur deras, seiring dengan tubuhnya yang semakin melemas.

“ Mau apa kau?”

Lelaki itu tertawa keras, lalu menghimpit tubuh mungil Hye Hoon ke tembok yang terletak di belakangnya. Matanya berkilat menatap mata Hye Hoon yang berair. Lelaki itu bisa menangkap ketakutan yang sangat saat melihat keadaan Hye Hoon yang tak berdaya.

“ Tenang, sweety. Aku tahu ini belum waktunya. Aku hanya ingin mengingatkanmu, jika hutangmu akan segera jatuh tempo akhir bulan ini. Kau tak mungkin melupakan tanggalnya, kan? Segera persiapkan dirimu, dan hiduplah dengan baik. Jaga dirimu, Choi Hye Hoon”.

***

Jacuzzi yang nyaman dan aroma lemon yang menyegarkan tak membuat perasaan Hye Hoon membaik. Darahnya berdesir ketika mengingat wajah lelaki itu yang terlihat menyeramkan. Tentu saja Hye Hoon sudah mempersiapkan dirinya sejak lama, dan tak membiarkan rasa takut itu menyerangnya. Namun, keadaannya menjadi berbeda. Dia pun merasa jika sekarang dia mulai berubah.

Mungkinkah ini ada hubungannya dengan kehadiran Kyuhyun di hidupnya?

Dia segera menepis pikiran aneh itu dari otaknya. Lalu, dia memejamkan matanya membiarkan tubuhnya lebih rileks dan melupakan kejadian tadi. Beberapa menit kemudian, indera pendengarannya menangkap suara pintu yang digeser. Dia mengabaikannya. Mungkin Kyuhyun sudah masuk kamar, pikirnya.

“ Bangun, sayang. Kau tidak boleh tidur di bathtub. Aku takut terjadi sesuatu padamu”.

Hye Hoon pun membuka kelopak matanya, dan begitu melihat apa yang tersaji di depannya, matanya melebar. Kyuhyun sedang berdiri dengan hanya handuk yang melilit di pinggangnya, yang bejarak cukup dekat dengannya. Hye Hoon yang panik segera mengumpulkan busa-busa sabun untuk menutupi tubuhnya yang polos. Usaha itu malah membuat Kyuhyun tertawa geli.

“ Melihatmu berendam berlama-lama membuatku berpikir mungkin itu adalah kegiatan yang mengasyikkan. Boleh aku bergabung?”

Tanpa persetujuan, Kyuhyun bersiap untuk berbagi tempat dengan Hye Hoon dengan melorotkan handuk putihnya. Hye Hoon yang tak sempat memalingkan mukanya melihat tonjolan itu dengan pipi merona. Walaupun sudah beberapa kali berhubungan intim dengan Kyuhyun, baru kali ini gadis itu melihat benda itu dengan jelas, membuatnya malu setengah mati.

Hye Hoon bergerak gelisah di pangkuan Kyuhyun, membuat lelaki itu mengerang. Kyuhyun tahu, jika gadis itu tak bermaksud menggodanya dan hanya merasa tak nyaman dengan posisinya sekarang. Namun tentu saja hal ini tetap meningkatkan gairahnya. Lipatan pribadi gadis itu yang bersentuhan dengan kejantanannya membuatnya frustasi.

Kyuhyun menahan hasratnya yang meledak untuk memiliki gadis itu saat ini juga karena dia ingin menunjukkan kepada gadisnya bahwa hubungan mereka bukan hanya untuk hubungan pemuasan fisik semata. Kyuhyun tak tahu sejak kapan dia menganggap bahwa gadis ini adalah gadis istimewa untuknya.

Am I in love with her?

TBC

Yeahhh part 2! Gak nyangka bisa nulis part ini hahaha

Makasih banyak buat yang support fanfic yang makin geje ini, semoga semuanya suka ya

Maaf jika kependekan, typo, or yang lainnya karena gak baca ulang ff ini hehe

200 thoughts on “Not In Love ( Part 2 )

  1. Pingback: Rekomendasi Fanfiction Part 2 | evilkyu0203

  2. Nah dia memang punya masalah lain kan. pengalaman buruk tentang kekasih dan kepercayaan. hye hoon jg py masalahnya sendiri. pantesan dia mau dibayar.

  3. Apa sih yg disembunyiin hye hoon? hutang apa coba? pintar bgt mainin otak readers.. Kyu juga gak sadarkah bahwa dia itu udah terpikat sejak awal sama Hye.. tp ya si hye masih nganggep dia hanya dimanfaatkan aja..

  4. Mantep dah di part ini, Daebak !!
    Bingung yah sama hubungan mereka saling tertarik tanpa status, orang2 masa lalu mereka kembali oh damn jngan buat mereka berpisah.

  5. Uhh bacanya greget greget gimana gituu. . Untung Kyu nggak suka hyejin.
    Hoon utang apaan ya??
    Minta tolong apa coba dia ke emak nya?
    Ehh ternyata hoon cewek baik baik.
    Kerja nya minho tukang pukul ya?

  6. q pikir g kaya gini thor ceritax hye yoon terlalu murah untuk dijual harga dirinya jadi males baca kedepannya buat author tolong buat ff yang lebih baik lagi semangat

  7. Boleh aku memberitahumu Cho Kyuhyun…
    Semenjak kamu memanggil Hye Hoon dengan sebutan sayang dan semenjak mobilmu kamu relakan sebagai upah Eunhyuk untuk membawa Hye Hoon.

  8. Wah,, Kyuhyun kayak’y emang beneran udah jatuh cinta sama Hyehoon nih
    Penasaran sama apa yg diminta Hyehoon ke eomma’y
    Trus apa yg dilakuin Minho dibelakang kakak’y??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s