Comeback To Me, Baby ( Part 4 )


 

“ I’ll take all the risk to be with you” – Choi Hye Hoon

Aroma teh yang menusuk hidungnya membuat gadis itu menggeliat perlahan. Matanya masih enggan terbuka, walaupun wangi itu semakin nyata di indera penciumannya. Detik berikutnya, dia merasakan sentuhan lembut di pipinya, sangat lembut hingga dia mulai terbuai dan semakin tak rela untuk meninggalkan kebiasaan buruknya, bangun di siang hari.

Well, memang kebiasaannya itu sudah dibuang jauh setelah dia memimpin perusahaan ayahnya, tetapi berada di tempat ini mengingatkannya pada rumah besar yang ditempatinya dulu, membuatnya ingin kembali ke masa dimana dia masih tinggal bersama kedua orang tuanya.

“Bangun, sayang. Aku sudah menyiapkan teh hangat untukmu”.

Hye Hoon pun terbangun dengan wajah kantuknya. Dia melihat sosok yang semalam tidur bersamanya di tempat tidur itu menyodorkan secangkir cairan hangat ke arahnya, yang sedang mencari posisi enak untuk duduk terlentang menyender pada kepala ranjang.

Ada yang berbeda dari raut muka yang ditunjukkan Donghae padanya pagi ini, tetapi sepertinya lelaki itu mencoba bersikap biasa meskipun tetap saja hal itu membuat Hye Hoon semakin tak nyaman.

Setelah menyesap sedikit cairan kesukaannya itu, gadis itu pun menyunggingkan senyum tulus kepada lelaki tampan di hadapannya.

“Gomawo”, ucapnya.

Sebenarnya ini adalah rutinitas yang biasa dilakukan Donghae jika lelaki itu menginap di apartemen Hye Hoon. Pada awalnya, yeoja itu sering memberikan protes jika Donghae melakukan hal seperti membuatkannya teh atau susu di pagi hari, menyiapkan sarapan atau memasakkannya makan malam. Tentu saja protes, wanita mana yang akan membiarkan lelakinya mengerjakan ‘pekerjaan rumah’ seperti itu? Dan Hye Hoon merasa dia tidak berguna setelah memikirkan masa depannya. Bagaimana jika mereka menikah nanti?

Hye Hoon masih merasakan gugup saat berdekatan dengan Donghae seperti sekarang ini. Lelaki itu sepertinya memang tak berniat untuk membahas sama sekali apa yang dilihatnya tadi malam. Tepat beberapa menit setelah kejadian itu, Donghae menariknya menjauh dari Kyuhyun dan membawanya ke kamar pribadi milik lelaki itu. Donghae tetap memeluk tubuhnya untuk tidur seperti biasanya, tanpa ada sepatah katapun keluar dari bibirnya.

“ Oppa, tadi malam…..”

“ Bersiaplah. Aku akan mengantarmu pulang sebelum aku berangkat ke kantor”.

***

Untuk sementara mereka mengendarai Audy A5 berwarna hitam pekat itu tanpa bicara. Sesekali Hye Hoon melirik ke arah tunangannya, namun lelaki itu sepertinya lebih tertarik untuk memandangi jalanan yang kosong dibandingkan bercakap-cakap dengannya.

Hye Hoon tahu, lelaki itu sedang menahan amarah yang dipendamnya karena insiden semalam. Terlihat dari rahangnya yang mengeras dan mata hitamnya menatap lurus dengan tatapannya yang tajam. Donghae mungkin ingin memendam kejadian itu sampai entah kapan waktunya, tetapi gadis itu ingin menyelesaikan semuanya secepatnya, sekarang juga.

“ Wae? Kenapa kau tidak menanyakan tentang apa yang dilakukan aku dan Kyuhyun semalam, Oppa? Aku tak suka melihatmu seperti ini. Aku tak mau kau….”

Ckiiiitt

Suara gesekan rem mobil dan aspal yang melapisi jalanan lengang itu tiba-tiba terdengar. Perkataan Hye Hoon yang disampaikan dengan nada tak wajar itu menyulut emosi Donghae. Bagaimanapun, saat ini Hye Hoon adalah calon istrinya, dan justru tadi malam, lelaki itu malah melihat Hye Hoon bercumbu dengan pria lain, yang tak lain adalah adik tirinya sendiri.

Sebenarnya, Donghae ingin menyimpan topik ini lebih lama lagi, menunggu hingga otaknya mendingin karena kejadian yang bertubi-tubi menimpanya. Baru saja kemarin lelaki itu merasakan bahagia yang berlebihan karena hubungan mereka akhirnya diketahui publik. Tetapi sekarang…..

Nafas keduanya terengah. Hye Hoon menggerakkan dadanya naik turun karena nyawanya yang seakan terlepas akibat perbuatan spontan dari Donghae tadi. Dia membalikkan kepalanya, matanya mencari mata Donghae yang terlihat memerah. Detik berikutnya, Hye Hoon merasakan cengkraman kuat di bahunya, membuatnya menggigit bibir bawahnya, merasa takut dengan perubahan sikap Lee Donghae.

“ Aku sudah mengetahui Kyuhyun adalah seorang player. Lagipula, aku tahu, dia selalu ingin membuatku kesal padanya, dan mungkin dia ingin aku membencinya. Salah satu caranya mungkin dengan menggodamu. Tenang saja, sayang. Aku percaya padamu. Aku tahu kau hanya korban dari balas dendamnya padaku”.

Mata Hye Hoon mengerjap ketika mendengar penuturan Donghae yang terkesan lembut itu. Tak ada gurat kemarahan lagi di matanya, yang membuat Hye Hoon bertanya-tanya apa yang dirasakan Donghae sebenarnya. Mungkin, lelaki itu sedang mencoba bersikap tenang di hadapannya, menyimpan semua rasa sakit yang dirasakannya sendiri. Selalu seperti itu….

“ Oppa…”

“ Sssstt..Tidak ada kata maaf diantara orang yang saling mencintai. Aku tahu jika ini bukan salahmu. Sudahlah, lupakan semuanya, hmm?”

Gadis itu kehilangan kata-kata. Dia benar-benar tak habis pikir dengan sikap pengertian yang diberikan Donghae. Sungguh, dia lebih memilih Donghae berteriak dengan kata-kata kasar padanya daripada melihat matanya yang menahan pedih seperti itu. Donghae terluka, Hye Hoon tahu itu. Namun dengan tak tahu dirinya dia malah menggoreskan luka yang lebih dalam lagi di hati lelaki itu.

“ Cho Kyuhyun….Dia…dia cinta pertamaku….”

Tak ada jawaban. Donghae mencari gelagat kebohongan dari mata gadis itu, tetapi dia merasa kecewa karena tak menemukannya. Lelaki itu merasakan matanya memanas, dengan hatinya yang bagaikan tercabik-cabik tanpa bekas. Donghae sedikit tahu tentang masa lalu Hye Hoon dengan cinta pertamanya. Dan fakta itu membuatnya tubuhnya berubah dingin, takut dengan kenyataan pahit yang bisa saja menimpanya.

Tatapan lembut Hye Hoon menyadarkan Donghae bahwa masih ada nama lelaki bernama Cho Kyuhyun itu di benak gadis itu. Keraguan jelas tercetak di mata coklatnya, membuat Donghae meringis dalam diam. Gadis itu pun menggunakan pita suaranya lagi, menggumamkan kata yang membuat hidup Donghae seakan hancur seketika.

“ Aku bingung dengan perasaanku sendiri, Oppa…aku……”

Bodoh.

Kau benar-benar bodoh, Choi Hye Hoon.

***

Tak punya sedikitpun selera untuk menyantap makan siangnya, Hye Hoon lebih memilih untuk mengunjungi café di seberang kantornya. Tempat itu merupakan salah satu tempat kesukaannya. Dia sering menghabiskan waktunya untuk memikirkan tentang masalah-masalah yang dihadapinya, baik mengenai pekerjaannya maupun mengenai hubungan pribadinya.

Setelah memesan vanilla latte dan red velvet kesukaannya, dia hanya berdiam diri memandangi galaxy note yang tersimpan di meja bundar di hadapannya. Tak ada pesan atau panggilan tak terjawab yang seperti biasanya mengisi hari-harinya. Tak ada nada khawatir yang selalu membuatnya merasa bersalah saat melewatkan makan siangnya.

Dia kehilangan.

Perkataan Donghae kemarin terngiang di telinganya. Lelaki itu menyuruhnya untuk memikirkan ulang tentang rencana pernikahan mereka, tentang perasaaan gadis itu sendiri. Dan sebelum dia bisa menentukan pilihan, sebaiknya mereka tak saling berkomunikasi.

Intinya, hubungan mereka sekarang sedang menggantung. break.

Lamunannya terhenti ketika ada sepasang tangan besar mengganggu penglihatannya. Kedua tangan itu bergerak-gerak tepat di depan matanya, membuat dirinya kembali ke dunia nyata. Entah mengapa bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman yang tertahan di ujung bibir, setelah menemukan siapa yang berani merusak siang kelabu-nya.

“ Donghae hyung marah padamu?”

Bibir Hye Hoon mengerucut kesal. Bagaimana bisa lelaki berdasi di hadapannya itu malah menganggap masalah ini adalah sesuatu yang ringan, padahal dirinya sendiri yang menyebabkan semua kekacauan ini? Ah ya, ini memang situasi yang diinginkan Kyuhyun, tentu saja lelaki itu akan senang bila hubungan Hye Hoon dengan Donghae berakhir.

“ Kau benar-benar tak tahu malu, Kyuhyun~ssi. Bagaimana mungkin kau bersikap biasa saja, padahal kau menghancurkan hubungan orang lain? Kau benar-benar gila. Keurigo, bukankah sekarang kau sudah mempunyai kekasih, yang dipelukmu diam-diam di pesta?”.

Tawa mengejek yang dilemparkan oleh lelaki itu membuat indera Hye Hoon terganggu. Dia menunjukkan sikap tak bersahabatnya kepada lelaki bernama Cho Kyuhyun itu lagi, namun Kyuhyun malah menatap gadis itu intens, membuat Hye Hoon salah tingkah.

Degupan jantungnya seakan saling berlomba dengan denyutan nadinya yang semakin cepat, membuat aliran darahnya naik hingga ke wajahnya membuat pipinya memanas. Sial. Ternyata kehadiran Kyuhyun masih memiliki efek yang sama untuknya, sama seperti apa yang dirasakannya saat menjalin hubungan dengan lelaki itu dulu.

“ See? you are jealous, honey. Tak bisakah kau jujur pada perasaanmu sendiri, kalau kau masih mencintaiku? Kau …hanya kau-lah satu-satunya wanita yang kucintai, Hoon~ah. Kembalilah padaku, hm?”

“ Setelah apa yang kau lakukan padaku dulu? Cho Kyuhyun~ssi, bukankah kau mendekatiku hanya karena kau menginginkan tubuhku? Dan…kau sudah mendapatkannya, kan? Kau tak perlu memintaku untuk kembali padamu, karena hal itu tidak akan pernah terjadi”.

Hye Hoon segera menyambar handphone yang berada di meja kayu tersebut, dan dengan langkah tergesa segera meninggalkan tempat duduk yang dirinya tempati tadi. Tetapi sebuah cengkraman kasar di pergelangan tangannya menghentikan pergerakan kakinya.

Mereka menjadi tontonan banyak orang yang melewati trotoar itu, karena mereka sangat terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Tell the truth, permasalahan mereka justru lebih rumit daripada itu. Hye Hoon menatap Kyuhyun tajam, berkali-kali menghempaskan tangannya agar terlepas dari jeratan Kyuhyun. Namun, dengan perbandingan tenaga yang dimiliki gadis itu dengan tenaga yang dimiliki Kyuhyun, tentu saja hal itu menjadi sia-sia.

“ Kau bahkan tak tahu apapun tentang semuanya. Kau egois, Hye Hoon~ah. Seharusnya kau membiarkanku menjelaskan semuanya, sebelum kau menghukumku seperti itu. Kau….”

Pegangan Kyuhyun di pergelangan tangan gadis itu mengendur, sehingga dengan gerakan cepat Hye Hoon bisa melepaskan diri dari Kyuhyun, berlari secepat mungkin menghindari lelaki itu menuju kantornya, karena jam makan siang pun memang sudah habis sejak tadi.

BRAK

Suara dentuman keras membuat gadis itu terkesiap, belum menyadari apa yang terjadi padanya, dengan tiba-tiba dia merasa tubuhnya terbanting. Namun, gadis itu terheran karena tubuhnya tidak membentur aspal, dan merasa jika ada sesuatu yang melindunginya dari keras dan kasarnya badan jalan itu.

Matanya yang terpejam itu perlahan terbuka, ketika mendengar samar-samar keributan yang terjadi di sekitarnya. Dan hal pertama yang didapatinya sesaat setelah membuka mata adalah wajah seorang lelaki yang sedang terpejam, dengan cairan berwarna merah yang mengalir di dahinya. Hye Hoon bangkit dari posisi berbaringnya dengan panik, dia menjerit sekuat tenaga dengan tangannya yang berkali-kali menggerakkan tubuh Kyuhyun, takut dengan apa yang akan terjadi pada lelaki itu.

“ Ireona, Kyuhyun~ah. Kau tak boleh meninggalkanku lagi, Andwae”.

***

Air mata tak henti keluar dari kedua mata indahnya, dengan tatapannya yang tak beralih dari lantai klinik milik perusahaannya itu. Dia terisak pelan, tak henti menyalahkan kebodohan dan kecerobohannya sendiri yang membuat orang yang dicintainya itu terluka. Tubuhnya gemetaran, jantungnya berdegup lebih kencang karena perasaaannya semakin tak tenang. Sudah setengah jam berlalu sejak Kyuhyun masuk ke ruang operasi, tetapi tak ada seorang pun yang keluar dari ruangan itu untuk memberitahukan kondisi dari Kyuhyun.

Karena rasa bersalahnya yang sangat besar, Hye Hoon pun belum memberitahukan tentang kecelakaan yang dialami Kyuhyun kepada keluarganya. Dia ingin memastikan dahulu keadaan lelaki itu, baru kemudian dia memberitahukan perihal ini kepada keluarga Lee.

Pintu ruangan yang terhalang kaca itu terbuka, menampakkan seorang dokter kepercayaan keluarganya tersenyum tipis padanya. Lelaki paruh baya itu menepuk bahu Hye Hoon pelan, meyakinkan bahwa lelaki yang sedang berada di meja operasi itu sudah melewati masa kritisnya.

“ Dia baik-baik saja, Nona Choi. Lima belas menit lagi kau bisa menjenguknya”.

Desahan lega keluar dari bibir tipisnya. Dia beberapa kali mengucapkan terima kasih kepada Dokter bermarga Oh itu, yang dijawab lelaki itu dengan jawaban diplomatis, bahwa itu semua adalah tugasnya.

Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Hye Hoon pun masuk ke ruangan berwarna putih itu. Dia menahan isak tangisnya lagi saat melihat tubuh lelaki itu terbaring lemah dengan perban yang membalut kepala bagian atasnya.

Itu salahnya. Andai kejadian tadi tidak terjadi, Kyuhyun pasti tidak mengalami hal ini. Mengapa tidak dirinya saja yang berada di tempat Kyuhyun berada? Mengapa Kyuhyun harus menyelamatkan nyawanya, sedangkan setiap bertemu, sikap ketus yang seringkali dirinya berikan kepada lelaki itu?

Hye Hoon hanya ingin terlihat sebagai wanita yang kuat dihadapan lelaki itu. Dia ingin menghilangkan sisi lemah di dalam dirinya, yang muncul saat lelaki itu jauh darinya. Tetapi, justru lelaki itu yang memunculkan sisi itu lagi.

Dia lemah tanpa Kyuhyun-nya.

Matanya memanas, saat dia bisa melihat kondisi lelaki itu lebih dekat. Banyak goresan luka terdapat di sekitar wajahnya, membuatnya membayangkan betapa sakitnya rasa yang ditimbulkan oleh goresan itu. Dia mengulurkan tangannya untuk mengelus puncak kepala Kyuhyun, sedang tangan kanannya digunakannya untuk menggenggam tangan lelaki itu erat, takut jika suatu saat tangan itu terlepas lagi darinya.

Hye Hoon makin menyadari jika dia tak bisa lebih lama menahan perasaannya lagi. Luka yang Kyuhyun torehkan di hatinya memang terlalu dalam, tetapi cintanya untuk lelaki itu bisa menutupi semua luka itu. Dia menyadari jika akan ada hati yang terluka karena keputusannya, namun dia sangat ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan orang yang sangat dicintainya.

“ Jangan tinggalkan aku, Kyuhyun~ah. Aku sangat merindukanmu”.

***

Kyuhyun menyeringai senang ketika merasakan genggaman erat pada tangannya. Pemilik tangan lembut itu masih terlelap dengan posisi terduduk dengan kepalanya bertumpu pada ranjang tempat Kyuhyun berbaring, dengan tangannya yang bebas menjadi bantalnya.

Ketika menyadari ada seorang perawat yang hendak mengecek keadaannya, dia menempelkan jari telunjuknya di bibirnya, menyuruh wanita itu untuk tak mengeluarkan suara apapun, dan dengan tangan lainnya dia mengibaskan jemarinya, seakan menyuruh wanita berpakaian serba putih itu untuk keluar. Perawat tersebut membungkuk tanda mengerti, dan segera meninggalkan ruangan.

Kepalanya masih terasa agak sakit, sesekali dia merasa pusing saat berusaha untuk bangkit dari tempat tidurnya, mengubah posisinya menjadi menyender ke headboard tempat tidur itu. Indera penglihatannya melirik ke arah tangannya yang merasakan hangat yang berlebihan. Kyuhyun tersenyum simpul. Dia menyentuh rambut panjang gadis itu, mengelusnya perlahan. Lelaki itu sangat mengingat bahwa Hye Hoon sangat menyukai perlakuan-perlakuan seperti itu. Dan seperti yang gadis itu pernah bilang padanya, bahwa dia tidurnya akan lebih lelap jika Kyuhyun mengulangi gerakan ringan pada puncak kepalanya.

“ Bodoh. Apakah aku harus sakit terlebih dahulu agar kau mengakui perasaanmu? Kau memang gadisku, sayang”.

Lelaki itu memperhatikan Hye Hoon saat tidur gadis itu mulai terusik, dan perlahan mulai mengumpulkan nyawanya kembali. Setelah kepalanya terangkat dari ujung ranjang itu, dia mengelap wajahnya yang berkeringat dengan punggung tangannya, sambil menyingkirkan rambut bagian depan yang menghalangi penglihatannya.

“Morning”.

Sapaan yang didengarnya membuat gadis itu terkejut. Dia tak bisa menyembunyikan ekspresinya yang terlihat begitu senang sekaligus lega. Bibirnya melengkungkan sebuah senyuman manis, dengan air mata yang tak terbendung merembes ke pipinya. Sedetik kemudian, gadis itu merengkuh tubuh Kyuhyun dalam dekapannya erat, seakan dia tak bisa hidup tanpa memeluk lelaki itu.

Gadis itu mulai terisak, membuat Kyuhyun khawatir dibuatnya. Dengan enggan, lelaki itu segera melepaskan kontak fisik diantara keduanya dan menghapus cairan yang mengalir di pipi gadis itu dengan ibu jarinya.

“ Ssstt…Uljima. Aku baik-baik saja, Hye Hoon~ah”.

Tanpa sengaja pandangan mata mereka bertemu. Beda seperti tatapan mereka sebelumnya, mereka seakan saling berinteraksi lewat mata masing-masing. Kyuhyun dapat menangkap kekhawatiran yang berlebihan yang ditunjukkan mata gadis itu. Dan sebagai bonusnya, lelaki itu menarik bibirnya simetris ketika merasakan tatapan hangat yang ditunjukkan Hye Hoon padanya.

“ Sayang, kau benar-benar takut kehilanganku? Tenang saja, aku tidak akan mati sebelum kau kembali padaku. Terdengar mengasyikkan, bukan?”

Kesedihan itu sirna begitu saja setelah Kyuhyun melontarkan leluconnya lagi. Hye Hoon menarik nafasnya kasar, lengkap dengan bola matanya yang memutar, berpura-pura jika dia kesal dengan sikap lelaki yang sedang menatapnya itu. Padahal, hatinya sedang berbunga karena dia merasa lega dengan kondisi Kyuhyun yang sudah membaik.

“ Otakmu memang perlu diformat ulang agar bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Takut kehilanganmu? Aku? Kau benar-benar lucu Cho Kyuhyun~ssi. Aku hanya tak ingin membayar banyak ganti rugi karena aku yang membuatmu terluka, aku….”

Omongan gadis itu terhenti begitu saja ketika Kyuhyun membungkan bibirnya dengan sebuah ciuman yang manis. Tangannya bergerak melayangkan pukulan ke dada bidang lelaki itu, tetapi sepertinya usahanya tak membuahkan hasil. Dan seperti biasanya, Hye Hoon terbuai dengan kecupan-kecupan lambat yang dilancarkan bibir lembut lelaki itu, sehingga dia pun membalas setiap kecupan dan lumatannya. Rasa kecewa menelusup di hati gadis itu saat Kyuhyun dengan sengaja menyudahi aktivitas mereka.

“ Hye Hoon~ah, sampai kapan kau akan membohongi dirimu sendiri, hmm? Kau tahu? Kau sudah berubah menjadi gadisku, seperti dahulu. Dan itu bisa membuktikan jika kau masih mencintaiku”.

Gadis itu bungkam. Sejujurnya, dia membenarkan dalam hati perkataan Kyuhyun untuknya. Dia memang banyak berubah semenjak Kyuhyun datang lagi ke dalam hidupnya.

Hatinya, pikirannya…..semuanya hanya bekerja untuk mengingat Cho Kyuhyun.

Bahkan mungkin, sebenarnya dari sejak dia mengenal Kyuhyun, lelaki itu tak pernah beranjak dari tempat special di hatinya. Dia hanya bersikeras untuk mengubur semua perasaan itu, dan salah satu caranya dengan membuka hatinya untuk lelaki lain yang mencintainya. Namun sekarang dia bisa merasakan jika semua usahanya itu tak berarti, karena yang dia inginkan dalam hidupnya adalah berada dalam pelukan Kyuhyun.

Hye Hoon menatap mata hitam yang selalu terpatri di otaknya itu lekat. Dia bisa merasakan nafas hangat lelaki itu menyapu wajahnya, karena jarak mereka yang terlampau dekat. Dengan sisa-sisa keberanian yang dimilikinya, dia mengecup bibir lelaki itu singkat.

“ Aku takut kehilanganmu…Aku sangat mencintaimu, Kyuhyun~ah”.

***

“ Eomma akan kesini?”

Mata Hye Hoon beralih dari buah apel yang sedang dikupasnya, menuju kepada seorang lelaki yang sedang kebingungan menjawab pernyataan yang dilontarkan orang yang berada di ujung telepon. Hye Hoon hanya mengangguk pelan, dan menyelesaikan dengan cepat kegiatan yang sedang dilakukannya.

“Ne, kau bisa menjengukku, Eomma. Hmm, kabari saja jika sudah sampai disini. Baiklah, Eomma”.

Sebelum Kyuhyun sempat mengajukan pernyataan tak sukanya, Hye Hoon lebih dulu menyuapkan potongan apel itu ke dalam mulut Kyuhyun, sehingga lelaki itu mau tak mau mengunyahnya. Begitupun seterusnya, sehingga Kyuhyun sama sekali tak mempunyai kesempatan untuk berbicara. Akhirnya, dia yang bersikap sedikit tak sabaran itu menghentikan gerakan tangan gadis itu yang hendak menyuapkan potongan lain ke mulutnya.

“ Eomma akan kesini satu jam lagi”.

Hye Hoon menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Mengingat tentang keluarga Kyuhyun, tentunya mereka harus segera tahu keadaan Kyuhyun sekarang. Namun, jika memikirkan reaksi keluarganya ketika menemukan Hye Hoon berada di kamar inap Kyuhyun, membuat gadis itu bergidik ketakutan.

“ Hmm. Aku akan kembali bekerja hari ini. Eomonim akan menungguimu sampai kau keluar rumah sakit, kan? Ahjussi sudah memberitahukan padaku jika kau bisa pulang sore ini”.

Kyuhyun mengerucutkan bibirnya tanda tak setuju. Dia tak rela untuk melepaskan gadis itu begitu saja. Adilkah jika dia hanya bisa menikmati kebahagiaan bersama gadisnya hanya sehari saja? Setelah itu gadis itu akan pergi darinya lagi, begitu? Memang, butuh waktu untuk menjelaskan tentang hubungan rumit mereka kepada Eomma-nya. Dan dia tahu, gadisnya perlu waktu untuk menyelesaikan semua itu.

“ Kita akan secepatnya memberitahukan mereka tentang hubungan kita. Tentang Donghae hyung, aku yang akan mengurusnya. Kau tidak perlu bertemu dengannya lagi”.

“ Tidak Kyuhyun~ah. Biarkan aku yang berbicara padanya. Aku tak mau memperburuk hubungan persaudaraan kalian. Aku tahu jika kau pasti terbawa emosi saat berbicara dengannya. Biar aku yang menyelesaikan semua ini, Kyuhyun~ah”.

Kyuhyun mengelus pipi gadis itu, merengkuh wajah mungil gadis itu dengan tangan besarnya. Seulas senyum ditunjukkan untuk meyakinkan gadis yang dicintainya itu.

“ Aku tak mengizinkanmu untuk menemuinya, Sayang. Bagaimana jika kau jatuh cinta padanya lagi, dan meninggalkanku? Ayolah, kali ini kabulkan satu permohonanku itu, hmm?”

“ Berubah menjadi kekasih over protective lagi, hmm?”

***

Donghae memijit pelipisnya, merasa jika pekerjaan yang tak seberapa itu mengganggu pikirannya. Padahal, pikirannya tertuju kepada masalah lain menyangkut masa depannya bersama gadis yang sangat dicintainya. Dia harus menerima kenyataan bahwa gadisnya masih ragu dengan perasaan cinta yang dimilikinya untuk lelaki itu.

Ini tak adil. Bagaimanapun, Hye Hoon saat ini adalah masih menjadi miliknya. Donghae tak mau jika cinta yang dimiliki gadis itu terbagi dengan yang lain.

Arrggh

Dia meremas rambutnya frustasi. Tak peduli jika penampilannya kusut, sedangkan dia masih berada di tempat kerjanya. Suara dering telepon kantor itu mengganggu konsentrasinya yang memang sudah pecah. Dengan malas dia menekan tombol accept di benda elektronik berwarna hitam itu, bersiap mendengar apa yang sekretarisnya sampaikan.

“ Sajangnim, ada seseorang bernama Cho Kyuhyun memaksa masuk ke ruangan anda. Apakah anda ingin dia masuk?”

“ Hmm. Persilahkan dia masuk. Dan kurasa, kau harus mengosongkan jadwalku untuk beberapa jam ke depan”.

“ Saya mengerti, Sajangnim”.

Kyuhyun sama sekali tak mengindahkan etikanya, karena tanpa mengetuk pintu dia pun langsung memasuki ruangan Presdir Lee Corp itu. Donghae yang melihat kedatangan Kyuhyun hanya menarik salah satu sudut bibirnya ke belakang, sambil mengetuk-ngetukkan jemarinya ke meja kerjanya.

“ Ada perlu apa, Kyuhyun~ah? Apa kau sudah bersedia menjadi Wakil Presdir Lee Coorporation? Ah, tak kusangka kau mengambil keputusan secepat itu”.

“ Aku hanya memberitahukanmu untuk membatalkan pernikahanmu dengan Hye Hoon”.

Dengan gerakan yang sangat cepat, Donghae bangkit dari duduknya dan segera menghampiri lelaki yang sedikit lebih tinggi darinya itu.

Bugh

Sebuah pukulan cukup keras di pipi Kyuhyun membuatnya kehilangan keseimbangan dan tersungkur ke lantai. Kyuhyun meraba sudut bibirnya yang terasa amis, dan menemukan cairan berwarna merah pekat disana. Dia tentu tahu, Donghae bukanlah anak berandalan yang sering terlibat dalam perkelahian seperti dirinya, tetapi Kyuhyun cukup tahu jika masalah ini dapat membuat ‘kakak lelakinya’ itu kalap.

“ Dia sudah memilihku, Lee Donghae~ssi”.

“ Berhenti membual, Cho Kyuhyun. DIA HANYA AKAN MENIKAH DENGANKU, DENGAR ITU”.

Kedua lelaki itu pun saling melemparkan tatapan tajam, dengan tangan yang terkepal. Yang paling tersulut emosi dalam kasus ini tentu saja Donghae. Untungnya, Kyuhyun bisa sedikit mengimbanginya dengan menahan semua amarahnya atas apa yang Donghae lakukan kepadanya. Akhirnya, Kyuhyun memilih mengalah dan melangkahkan kaki meninggalkan ruangan itu. Tetapi, sebelum dia keluar, dia sempat mengucapkan pernyataan yang membuat darah Donghae semakin mendidih.

“ Dia hanya mencintaiku. Kau tahu? Bahkan saat masih menjalin hubungan denganmu, dia dengan senang hati menerima ajakanku untuk tidur denganku. Tidakkah kau ingin melepaskan wanita yang mengkhianatimu, Lee Donghae yang terhormat?”

***

Perkelahian diantara kedua penerus Lee Coorporation itu pun menjadi headline utama akhir-akhir ini. Ditambah dengan alasan pemicu keretakan hubungan persaudaraan diantara mereka berdua terungkap, menambah deretan scandal yang merugikan bagi pihak perusahaan.

Harga saham keduanya pun, baik perusahaan milik Lee Donghae, maupun milik ‘tunangan’-nya menurun drastis. Terutama bagi Choi Corp, yang kehilangan sebagian asset-nya karena gagalnya kontrak proyek yang besar membuat perusahaan itu semakin goyah. Untungnya, karena kerja keras yang ditunjukkan Hye Hoon, dan dengan bantuan Kyuhyun – Kyuhyun membantu Choi Corp tanpa sepengetahuan gadis itu- akhirnya semua masalah tersebut bisa diatasinya.

Gadis itu melirik jam yang terpasang di tangan mungilnya. Sudah larut malam, pantas saja saat berkutat di depan komputer di tempat kerjanya tadi dia seringkali menguap, serta matanya terasa berat dan berair. Tanpa melepas baju kerjanya, dia merebahkan tubuhnya di ranjang berukuran besar itu dan perlahan menutup kelopak matanya, ingin melepas semua penat dan rasa lelah yang menghinggapinya karena jadwal kerja-nya beberapa hari ini bisa dikatakan hampir dua puluh empat jam sehari.

Ting tong

Hye Hoon yang baru saja memejamkan matanya itu pun mengumpat kesal saat ada seseorang yang mengganggu tidur singkatnya. Bukankah dia tak memesan room service? Ah, sepertinya dia tahu siapa orang yang akan mengganggu acara tidur panjangnya malam ini. Hanya seseorang yang mengetahui dimana tempatnya sementara tinggal. Dia tersenyum lebar mengantisipasi tentang orang yang akan mengunjunginya itu.

“Hai”, sapa lelaki itu sesaat setelah Hye Hoon membuka pintu. Tangan gadis itu otomatis bergelayut manja di leher namja yang baru saja masuk tadi. Namja itu semakin menipiskan jarak diantara keduanya dan membawa Hye Hoon ke dalam pangkuannya.

Tak berapa lama kemudian, mereka sudah terbaring di tempat tidur dengan posisi saling berpelukan. Sang yeoja sedang sibuk memainkan smartphone yang digenggamnya, sama sekali tak memperdulikan lelaki yang tengah memainkan rambutnya. Lama kelamaan, lelaki itu pun merasa diacuhkan, dan merampas handphone itu yang membuat gadisnya memekik keras.

“Yak! Cho Kyuhyun, kau benar-benar keterlaluan. Bagaimana jika harga saham perusahaanku melonjak turun lagi? Kau bersedia untuk mengganti kerugiannya, huh?”

“ Susah sekali berhubungan dengan yeoja yang workaholic sepertimu. Setelah kau menjadi Nyonya Cho, aku tak akan mengizinkanmu untuk bekerja lagi seperti ini. Kau hanya cukup mengurus rumah dan anak-anakku. Dan melayaniku tentunya. Hah, aku tidak sabar untuk selalu memandikanmu setiap pagi, dan membuat ranjang kita bergerak setiap malamnya…”

“ Argggh..lepaskan tanganmu Hye Hoon….Argghh..telingaku sakit…”. Kyuhyun melenguh kesakitan saat gadis itu menjewer telinganya. Lelaki itu….bagaimana bisa dia hanya memikirkan urusan tempat tidur saat masalah yang menimpa mereka sama sekali belum terselesaikan?

“ Cho Kyuhyun, kau terlihat seperti ahjussi hidung belang yang selalu menggoda gadis belia di bawah umur”, Ujar gadis itu dengan nada tak sukanya.

Hye Hoon pun termenung, memikirkan tentang kejadian yang menimpanya beberapa lalu. Alasan mengapa dia lebih memilih untuk tinggal di hotel dan meninggalkan apartemennya. Ini mengenai Lee Donghae, lelaki yang pernah singgah di hatinya, dan memaksanya untuk tetap melangsungkan pernikahan mereka berdua. Penolakan yang diajukan Hye Hoon itu tak berarti, karena lelaki itu sama sekali tak menghiraukannya.

Dari pertemuannya beberapa hari yang lalu, dia sempat melihat tangisan dari lelaki itu yang membuatnya iba. Hatinya merasa terguncang saat lelaki itu memohon-mohon padanya dengan mata berair. Dia tak tahu jika hubungannya yang dibangun dengan lelaki itu akan berakhir sebelum mereka mengikat janji suci dihadapan Tuhan. Sungguh, dia tak mau menyakiti hati Donghae, tetapi dia tidak ada pilihan lain untuk melakukan hal itu demi kebahagiaannya.

Kyuhyun mensejajarkan wajahnya dengan gadis itu, ketika dilihatnya raut wajah Hye Hoon yang terlihat bersedih. Dia mengusap pipi Hye Hoon yang basah, yang membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.

“ Uljima. Aku bahkan belum melakukan apapun. Mengapa kau sudah menangis seperti ini?”

“Huh? Apa maksudmu, Tuan Cho?”

Dengan gerakan santainya, Kyuhyun merogoh sesuatu dari saku jas hitam yang masih menempel di tubuhnya. Dia meraih tangan Hye Hoon ke dalam genggamannya, dan meloloskan sebuah cincin berlian ke jari manis gadis itu. Hye Hoon yang terkejut dengan kejadian tiba-tiba itu hanya bisa menatap kosong jemari yang baru saja dihiasi sebuah perhiasan baru itu.

“ Menikahlah denganku”.

Keterkejutannya atas sikap tiba-tiba Kyuhyun itu bertambah dua kali lipat. Kali ini jantungnya terpaksa memompa darahnya lebih cepat karena pernyataan –tepatnya pertanyaan- yang dilontarkan Kyuhyun. Hye Hoon yang mencari kebohongan di mata hitam lelaki itu, hanya menemukan ekspresi serius yang membuat dirinya tercengang.

“ Kau melamarku? Hah, kau benar-benar payah. Disaat semua lelaki merencanakan sesuatu yang romantis sebelum melamar gadisnya, kau malah meminta, ani, memaksaku untuk menjadi istrimu disaat aku sedang menahan kantuk karena kelelahan. Benar-benar, hanya kau yang bisa berbuat hal seaneh ini,Cho Kyuhyun.”

“ Wae? Apakah ada yang salah? Aku hanya ingin secepatnya mengikatmu menjadi milikku. Tak peduli apapun kondisinya dan dimanapun tempatnya. Ah, bukankah tempat tidur adalah tempat kita akan menghabiskan banyak waktu kelak?”

Hye Hoon memukul lengan Kyuhyun menggunakan sekuat tenaga yang dimilikinya, lengkap dengan bibirnya yang mengerucut kesal. “ Dasar lelaki mesum”, teriaknya. Kyuhyun hanya terkekeh mendengar panggilan yang ditujukan gadis itu padanya. She is so adorable, akunya. Dan itu membuat Kyuhyun tak sabar untuk menerkam gadis itu detik itu juga.

Namun sebelum dia bisa melancarkan aksinya, Hye Hoon malah menatapnya dengan penuh rasa penasaran. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu, dan Kyuhyun berharap jika semua itu berhubungan dengan dirinya, tunangannya sekarang, bukan lelaki yang adalah orang yang pernah menjalin hubungan dengannya dulu. Siapa lagi kalau bukan Lee Donghae? Memikirkan nama lelaki itu membuat dadanya bergemuruh marah.

“ Kyu, aku masih ingin tahu tentang sesuatu. Emm….Siapa wanita yang kau peluk saat pesta itu?”

Kyuhyun tergelak mendengar apa yang diucapkan Hye Hoon, apalagi dengan melihat alis mata Hye Hoon yang bertaut, tanda bahwa gadis itu benar-benar penasaran tentang siapa yang bersama dirinya dulu.

“ Berhenti bercanda, Kyu. Aku serius”.

Kyuhyun, dengan masih menahan tawanya, mencoba mengeluarkan suaranya untuk menyampaikan tentang wanita itu.

“ Itu Eomma. Dulu kau melihatku berpelukan dengan Eomma, Sayang”.

***

Barcelona, 6 Months later

Sore yang cukup mendung, sehingga membuat gadis itu hanya bisa menikmati kota gallery hidup penuh sejarah itu dari balik pintu kaca kamarnya, dengan secangkir coklat panas yang menemaninya. Ah, bukan. Kamar mereka berdua lebih tepatnya. Jika tadi siang tak turun hujan, dia bisa menghabiskan waktu senggangnya berjalan-jalan di La Rambla, ataupun sekedar menikmati makanan kesukaannya di restaurant cepat saji favoritnya.

Suara ketukan pintu membuatnya beranjak dari sofa yang didudukinya. Dia melirik lelaki yang sedang bergelung dengan selimut tebalnya. Posisinya masih sama seperti tadi, memeluk bantal yang mungkin lelaki itu pikir adalah dirinya. Seringkali memang namja itu mengomel karena Hye Hoon sering meninggalkan tempat tidur lebih dulu sehingga tak jarang Kyuhyun harus mencium bantal dengan matanya yang setengah terpejam.

Dia pun segera membuka pintu utama, setelah melalui ruang tamu. Melihat siapa orang yang mengunjungi tempat tinggalnya di salah satu kamar apartemen elite itu, gadis itu pun tersenyum ramah.

“ Ada perlu apa, Sir?”, tanyanya sopan. Andrew Grey, lelaki yang berperawakan tinggi dengan kulit putih pucat dan memiliki rambut pirang itu pun kelihatan sedikit gugup karena pertanyaan yang diajukannya.

“ Aku ingin mengecek, apakah Air Conditioner di kamar ini berfungsi? Aku sudah beberapa kali menerima complain dari kamar lain karena permasalahan ini”, urainya singkat. Lelaki yang menjabat sebagai General Manager di perusahaan estate yang ditempati pasangan itu memang sempat digosipkan menaruh hati pada gadis bermarga Choi itu. Terlihat dari topik yang dikemukakannya kali ini, jelas saja hal ini membuat semuanya semakin jelas. Pikirkan saja, jika memang terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, pemilik kamar pasti akan melaporkannya, bukannya malah seorang Manager perusahaan besar yang menanyakannya langsung seperti ini.

“ Bukankah sekarang sering sekali hujan, Sir? Sepertinya kita juga sudah tak perlu pendingin ruangan lagi. Mungkin pemanas ruangan lebih baik. Ah, Tetapi sepertinya aku tidak butuh itu. Karena istriku bisa menghangatkanku dengan cara yang lebih baik. Benar kan, sayang?”, Kyuhyun menarik salah satu sudut bibirnya ke belakang, setelah menekankan kata ‘istri’ yang berhasil membuat lelaki yang berada di balik pintu itu mematung di tempatnya.

Kyuhyun menjawab pertanyaan yang diajukan lelaki berkebangsaan Inggris itu tanpa permisi. Untung saja, radarnya tentang lelaki lain yang mencoba menggoda gadisnya itu sangat kuat. Kalau tidak, bisa saja istrinya akan terjerat pesona lelaki Eropa yang terkenal tampan dan karismatik itu.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, lelaki bernama depan Andrew itu pun segera meninggalkan apartemen mereka. Wajah Hye Hoon berkerut, tak suka dengan sikap Kyuhyun yang terlalu keterlaluan menurutnya. Kyuhyun yang menyadarinya segera memeluk tubuh mungil gadis itu dari belakang, sambil menciumi lekukan leher putih gadis itu yang tak tertutup kain.

“ Jangan marah, sayang. Ini masa-masa awal pernikahan kita, bahkan kita baru tiga hari lalu menikah. Seharusnya kau bersikap romantis padaku, jangan bersikap galak seperti ini”.

“ Aku? Bersikap romantis padamu? Aku tak menggodamu pun kau sudah mengurungku selama tiga hari ini di kamar. Bagaimana jadinya bila aku bersikap manis? Kau pasti tak akan membiarkanku keluar kamar selama dua bulan!”

Kyuhyun tertawa geli, membuat Hye Hoon semakin kesal dibuatnya. Lelaki itu akhirnya mengecupi setiap jengkal leher gadis itu, membuat Hye Hoon terkesiap dan melupakan semua kemarahannya. Tak cukup hanya mengecup, lelaki itu pun menggunakan giginya untuk menikmati setiap inch tengkuk Hye Hoon, membuat gadis itu merasa semakin terangsang.

“ Kyu…engghh….hentikan….”

Seperti yang diminta gadis itu, Kyuhyun pun menghentikan perlakuannya di tengkuk Hye Hoon. Ya, dia memang melepaskannya, namun itu hanya untuk sementara. Karena sedetik kemudian, Kyuhyun sudah membopong tubuh gadis itu ke ruangan pribadi mereka.

***

Setelah tak mau diajak keluar kamar, Kyuhyun memaksa gadis itu untuk menyiapkan ruang makan dadakan di atas kasur dengan beberapa makanan yang sengaja dipesannya. Untuk menu makan malam, Hye Hoon sengaja untuk memesan makanan khas Korea karena dia sangat rindu dengan makanan-makanan itu.

“ Sudah memutuskan kapan akan pulang?”

Gadis itu memberengut kesal, saat Kyuhyun menanyakan pertanyaan yang sangat dihindarinya itu. Bagaimanapun, Hye Hoon tak mau membuka semua luka lama yang terjadi padanya beberapa bulan lalu. Gadis itu sangat merasa bersalah pada lelaki yang ditinggalkannya dua hari sebelum pernikahannya itu. Mengingat kenangan yang diciptakannya bersama Donghae selama beberapa waktu, tentu itu tidak mudah. Tak hanya itu, tanggapan orang tua mereka dan publik pun membuatnya semakin frustasi.

Pernikahannya dengan Kyuhyun beberapa hari lalu tak dihadiri seorang pun, membuatnya meringis saat mengingatnya. Dia sangat menghormati orang tua dan keluarga besarnya, dan menikah diam-diam merupakan bentuk pengkhianatannya atas kepercayaan yang diberikan oleh semua orang. Kyuhyun juga sepertinya terpukul dengan kenyataan itu. Eomonim adalah satu-satunya keluarga terdekatnya yang tersisa. Namun, selebihnya mereka bahagia. Inilah keputusan yang mereka ambil demi masa depan keduanya.

“ Setidaknya, jika kita pulang, aku tidak mau kita membawa tangan kosong”.

Kyuhyun tertegun tak mengerti dengan ucapan yang keluar dari bibir Hye Hoon. Dia menyuapkan sesumpit bibimbap ke dalam mulutnya, sebelum kemudian menyuarakan rasa penasarannya itu.

“ Maksudmu?”

“ Maksudku, kita..emm…pulang jika sudah memiliki anak saja”.

Mata Kyuhyun melebar, tak percaya dengan apa yang diutarakan oleh istrinya itu. Dia tak menyangka jika Hye Hoon akan membicarakan tentang keturunan secepat itu. Oh, bahkan mereka baru saja menikah, desahnya. Namun, Kyuhyun merasakan hatinya berbunga mengetahui bahwa Hye Hoon benar-benar sudah memilihnya, dan menginginkan benihnya yang dapat tumbuh berkembang di rahim gadis itu kelak.

You will never know how much I love you, Mrs Cho.

END

FINALLYYYYYY!!!! *tebar confetti*
Thank you very much yang udah support fanfic ini, makasih semua commentnya, semoga bisa lebih baik lagi yaa.
Buat ikanku yang ganteng, sorry banget gak jelas banget nasibnya /peluk hae/
Aku gak tau si ikan itu mesti digimanain, kalo berharap buat Hye Hoon mulu kasian juga, kalo dipairing yang lain jugagak rela /authorgila/

Gak kerasa ternyata bikin 4 part aja ampe beberapa bulan gini gak selesai2 hahaha maaf semuanyaa ^^
Oke, next fanfics sedih-sedihan, semoga bisa support juga yah ^^
Sorry for italic, centre, bold dll ini post-nya di laman dulu jadi ya gini, kesel karena modem gak bener-bener pas ngepost nih ff.

266 thoughts on “Comeback To Me, Baby ( Part 4 )

  1. Walaupun rumit dan entah apa yang buat hye hoon sama kyuhyun pisah dulunya…Tapi lihat mereka happy ending begini jadi ikut seneng deh 😄😄😄😄😄😄 …
    Kasi jempol buat authornya 👍👍👍💕💕💕💕

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s