Unfaithful


Author : hyehoonssi

Cast :

Choi Hye Hoon (OC)

Lee Donghae

Cho Kyuhyun

Genre:

Romance

Rating :

PG 15

Kategori :

Romance

 

Seorang lelaki berumur sekitar dua puluh tahun-an masih berkutat dengan kertas-kertas yang berada di meja kerjanya.  Dia tidak menghiraukan jam makan siangnya yang terlewatkan karena kesibukannya itu.  Walau saat ini sudah hampir mendekati malam, pemuda tersebut masih enggan meninggalkan ruangan kerjanya.

 

PRANNGGG

 

Tiba-tiba terdengar suara gaduh yang membuat ruangan itu menjadi semakin kelam.  Suara itu berasal dari vas bunga dan figura foto yang berhamburan di lantai.  Selain itu, banyak kertas-kertas dan map berserakan di lantai keramik tersebut.

 

Lelaki itu memegang kepalanya dengan kedua tangannya.  Dia menghalau semua pikiran yang sedari tadi mengganggunya.  Dia memendam semua rasa sakit dan kecewa yang dirasakannya sejak sekian lama sampai dia sudah tidak sanggup lagi untuk menahannya.

 

TOK TOK

 

Ketukan di pintu kaca tersebut mengalihkan perhatiannya.  Dan lelaki berambut coklat itu tahu siapa yang ada di balik pintu ruang kerjanya tersebut.

 

“ Kau boleh kembali bekerja Sekretaris Kim. Aku akan memanggilmu jika aku butuh bantuan.”

 

Wanita itu pasti ketakutan, pikirnya.  Tiba-tiba mendengar suara pecahan kaca yang berasal dari ruangan bos-nya pasti akan sangat mengerikan.  Tetapi mungkin ini juga adalah sebuah keuntungan bagi sekretarisnya itu.  Dia mendengar bahwa wanita yang berumur sama dengannya itu adalah salah satu wanita yang gemar bergosip ria.  Dan mungkin ini akan menjadi berita paling bagus selama dia bekerja di perusahaan ini.

 

‘Direktur Cho mengamuk tiba-tiba di ruang kerjanya’.

 

***

 

Sepasang sejoli sedang asyik menikmati kebersamaan mereka di sebuah café kecil di pusat kota.  Matahari sudah mulai tenggelam menambah suasana romantis yang diciptakan mereka sendiri.  Tidak perlu makan malam dengan lilin atau menikmati matahari tenggelam di pantai untuk menikmati suasana romantis bagi pasangan tersebut.  Mereka bisa menikmati keromantisan itu dimana saja asalkan mereka selalu bersama.  Itu hal yang selalu mereka pegang teguh.

 

Mereka memang bukan lagi anak remaja yang sedang menikmati manisnya cinta.  Mereka adalah orang dewasa yang memiliki berbagai macam masalah dan butuh penyelesaiannya. 

 

Lelaki itu mengulurkan tangan menyentuh jari-jari lentik dari wanita di hadapannya.  Dia meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya erat.  Wanita berambut panjang itu tersenyum menanggapi perlakuan kekasihnya tersebut.

 

“ Kau seperti anak berumur belasan tahun, kenapa memintaku untuk selalu datang ke tempat ini? Bisakah kau memilih restaurant mewah sekali-kali?  Apa kau takut aku tak bisa membayar tagihannya, hmm?”

 

Gadis itu hanya tertawa menanggapinya.  Dia tidak pernah sekali pun meragukan kemampuan ekonomi lelaki di hadapannya itu.  Hanya saja, dia sudah bosan berada di tempat mewah, dimana dia harus berpakaian resmi dan menjaga kelakuannya seanggun mungkin.

 

Setidaknya di tempat seperti ini, dia bisa mengenakan dress santai kesukaannya dan tidak perlu memikirkan tanggapan orang tentangnya.

 

“  Bukan begitu, sayang.  Aku terlanjur menyukai tempat ini.  Dan sepertinya aku sudah menetapkan tempat ini sebagai tempat favorit kita.  Kau tidak bisa protes lagi padaku sekarang”.

 

Lelaki itu hanya tersenyum melihat sikap kekanak-kanakan gadis itu.  Dia menjulurkan tangan bebasnya, menyentuh puncak kepala gadis itu, dan membelai rambut hitam panjangnya.

 

“  Baiklah.  Aku memang tidak akan menang jika berdebat denganmu”.

 

***

 

“  Ah, Oppa.  Wasseo?”

 

Kyuhyun mendekati gadis yang sedang menghapus make up tipis di depan meja rias di kamarnya.  Setelah selesai, dia menggelungkan rambutnya sehingga Kyuhyun dapat melihat dengan jelas leher jenjang gadis itu.  Sekilas Kyuhyun melihat pantulan diri mereka di cermin, lalu dari belakang dia mencium pipi gadis itu, membuat gadis itu tersenyum lebar.

 

“  Sudah makan?  Aku akan menghangatkan makanan yang tadi kubeli di bawah.  Kau sebaiknya membersihkan diri dulu, Oppa. Nanti susul aku ke meja makan”.

 

Hye Hoon beranjak dari kursinya dan hendak meninggalkan ruangan pribadi miliknya tetapi tangan besar lelaki itu menyambar lengannya, membuat dirinya membalikkan badan dan menatap wajah Kyuhyun yang terlihat sangat kelelahan.

 

“  Tidak perlu, tadi aku sudah makan malam di kantor.  Emm… hari ini kau pergi kemana, sayang?  Kenapa tadi kau tak bisa dihubungi?”

 

Tubuh Hye Hoon menegang.  Dia tidak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari mulut Kyuhyun, dan dia belum menyiapkan jawabannya sama sekali, membuat dirinya merasa sangat gugup sekarang.

 

“  Tadi…tadi Ahra Eonnie mengajakku memilihkannya gaun untuk acara kantornya.  Ya, dia memintaku memilihkannya dress yang cocok untuk dipakainya nanti ”.

 

Kyuhyun hanya mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan Hye Hoon.  Tadi dia juga sempat menanyakan tentang Hye Hoon kepada kakak kandungnya itu dan jawaban mereka sama.  Tapi, Kyuhyun tahu jika Hye Hoon tengah menyembunyikan sesuatu darinya.

 

‘Sampai kapan hubungan kita akan seperti ini, Hoon~ah?’

 

***

 

“ Kerja bagus, Donghae~ssi”.

 

“  Kamsahamnida, Sajangnim”.

 

Kyuhyun menaruh berkas yang diserahkan oleh bawahannya itu dengan senyuman lebar yang masih terpampang di wajah tampannya.  Kyuhyun menatap Donghae sekilas, sebelum kemudian mengeluarkan sesuatu dari bawah mejanya, dan menggesernya tepat ke hadapan Donghae.

 

“  Ambillah.  Kudengar adikmu menjalani operasi kemarin.  Semoga dapat sedikit membantu”.

 

Donghae mendongak, melihat wajah Kyuhyun yang angkuh seperti biasanya.  Kyuhyun menggedikkan bahunya, menyuruh Donghae untuk mengambil amplop putih itu.  Tetapi Donghae malah menyodorkan kembali benda tersebut ke hadapan Direktur perusahaannya itu.

 

“  Kamsahamnida, Sajangnim.  Tetapi saya bisa menyelesaikan masalah saya sendiri”.

 

Kyuhyun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.  Dia pun tak mendesak Donghae untuk menerima uang ‘sumbangan’ darinya, dan kembali memasukkan amplop itu ke dalam laci kerjanya.  Kyuhyun menyerahkan suatu berkas kepada salah satu Manager di perusahaannya itu, menyuruh Donghae untuk membaca dokumennya.

 

Kyuhyun mengalihkan perhatiannya ketika dilihatnya sekretarisnya datang bersama seorang gadis.  Dia menarik bibirnya simetris, menunjukkan kebahagiannya karena gadisnya mengunjunginya disaat-saat kerja seperti ini. 

 

Setelah sekretarisnya keluar ruangan, Kyuhyun mengisyaratkan wanita itu untuk mendekat ke arahnya.  Dengan senang hati, gadis itu mengikuti perintah kekasihnya dan mendekati meja yang Kyuhyun tempati. 

 

Hye Hoon melemparkan senyum balik kepada lelaki tampan itu, dan mendekatinya sehingga tubuh mereka hanya terhalang oleh meja.

 

“  Sayang, kau masak apa hari ini, hmm?”

 

Mendengar nada lembut Kyuhyun, Donghae mendongak.  Lelaki itu mendapati wajah seorang gadis yang juga menatapnya dengan ekspresi terkejut, sama seperti dirinya.  Tetapi gadis itu buru-buru mengalihkan pandangannya dari Donghae dan segera mengkontrol kembali raut mukanya.

 

“  Aku….aku memasak bulgogi hari ini.  Apa aku mengganggumu, Oppa?  Aku tunggu di luar saja kalau begitu”.

 

Donghae menarik bangku yang didudukinya ke belakang dan menegakkan tubuhnya dari kursi itu.  Dia membungkukkan tubuhnya di hadapan atasannya, dan beralih kepada wanita yang berada di sampingnya, masih menghindari mata mereka untuk bertemu.

 

Donghae mengepalkan kedua tangannya, menyalurkan rasa nyeri yang dengan sekejap melandanya.  Tubuhnya memanas, dan dirinya mungkin dapat terbakar apabila lebih lama berada di dekat mereka berdua.

 

Hye Hoon menggigit bibir bawahnya, merasa tidak enak dengan situasi yang seperti ini.  Dari ujung matanya, Hye Hoon bisa melihat raut muka Donghae yang benar-benar kacau.  Dia sama sekali tidak tahu harus berbuat apa sekarang. 

 

Kyuhyun menatap gadisnya bingung, tetapi sedetik kemudian dia mengalihkan fokus gadis yang sedang larut dalam dunianya sendiri itu.

 

“  Kita makan sekarang?”

 

***

 

“  Ahhh aku iri.  Bagaimana bisa ada pasangan serasi seperti mereka berdua?  Aku mendengar bahwa mereka sudah berteman sejak mereka masih kecil.  Dan Sae Jin~ah, kau tahu? Walaupun saat ini Choi Hye Hoon adalah seorang mahasiswi, dia adalah salah satu pewaris di perusahaan keluarganya yang sangat terkenal.  Ah, pantas saja Cho Sajangnim memilih gadis itu sebagai kekasihnya”.

 

Wanita yang bernama Sae Jin itu mengangguk pelan, setuju dengan apa yang dikatakan rekan kerjanya.  Cho Kyuhyun memang terkenal dengan sikapnya yang dingin terhadap semua wanita, dan terkesan pemilih untuk menjalin suatu hubungan dengan seorang gadis.  Bagaimanapun, Cho Kyuhyun adalah seorang Direktur muda berbakat yang pasti diincar oleh banyak wanita. 

 

“  Ya, aku setuju.  Kau sudah mendengar bahwa mereka akan segera mengikat hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius?  Kudengar orang tua mereka sudah merencanakan pertunangan mereka dalam waktu dekat ini”.

 

Donghae mengeratkan genggamannya pada badan gelas yang sedang dia pegang.  Dia mendengar apa yang dikatakan kedua wanita bawahannya itu tentu saja, karena letak duduk mereka yang sangat dekat.  Donghae berpura-pura berkonsentrasi kepada makanan di hadapannya saat salah satu wanita yang mejanya bersampingan dengannya itu meliriknya.

 

“  Bukankah itu Choi Hye Hoon?”

 

“  Ya.  Tadi dia memang datang ke ruangan Cho Sajangnim untuk memberikan bekal makan siang untuknya.  Ah, mengapa mereka begitu romantis?”

 

Donghae memandang ke luar kafetaria kantor itu, ketika melihat arah pandang dari kedua wanita yang sedang menggosipkan atasannya itu.  Dengan segera dia menyambar handphone dan kunci mobil yang tergeletak di mejanya, bangkit dan segera melangkahkan kakinya lebar mengejar gadis itu.

 

***

 

Hye Hoon berjalan sambil menundukkan wajahnya, memikirkan kejadian yang menimpanya di ruangan Kyuhyun tadi.  Dengan tangan lunglai, dia menjulurkan remote yang berada di tangannya ke arah mobil berwarna putih miliknya. 

 

Hye Hoon tersentak ketika merasakan tangan besar yang menarik pergelangan tangannya.  Dia mendongak, mendapati lelaki yang membuat hatinya kacau karena rasa bersalah.  Hye Hoon masih tertegun ketika lelaki itu menariknya ke dalam mobil miliknya. 

 

“  Jadi, kau kesini hanya untuk mengantarkan bekal siang kepada kekasih tercintamu itu, hmm?”

 

Badan Hye Hoon gemetaran.  Sindiran dari Lee Donghae entah kenapa membuat dirinya takut.  Dia takut, Donghae akan semakin terluka dengan semua ini.  Tetapi dia tidak punya pilihan lain selain menjawab pertanyaan retoris dari lelaki di sampingnya itu.

 

“  Donghae~ya, mianhae.  Aku……”

 

“  Bukankah kau memanggilnya dengan sebutan Oppa?  Kenapa kau hanya memanggilku dengan namaku saja?”

 

“  Donghae~ya..”

 

Donghae menggenggam kedua tangan Hye Hoon, sambil tak sedikitpun mengalihkan matanya dari mata coklat gadis itu.  Dia ingin menunjukkan perasaan yang sejak tadi dipendamnya.  Donghae ingin Hye Hoon memperlakukannya sama seperti apa yang gadis itu lakukan terhadap Kyuhyun.  Dia cemburu.  Bagaimanapun, Donghae adalah kekasih Hye Hoon juga, kan?

 

“ Kau akan segera memutuskan hubunganmu dengan Kyuhyun, kan?  Lalu mengapa kau masih belum melakukannya, hmm? ”

 

“ Tidak semudah itu, Hae~ya.  Aku….. aku berjanji akan mencari waktu yang tepat untuk melakukannya.  Kau percaya padaku, kan? ”

 

Donghae mengecup kening Hye Hoon, menunjukkan dengan perlakuannya bahwa dia tentu saja mempercayai kekasihnya itu.  Mereka saling bertukar senyum ketika Donghae menjauhkan kembali jarak diantara keduanya.

 

“  Mana makan siang untukku?”

 

Cup

 

Hye Hoon mencium bibir Donghae sekilas, dengan semburat merah yang muncul di kedua belah pipinya.  Donghae menanggapinya dengan senyumannya yang khas, membuat rona merah di pipi gadis itu semakin terlihat.

 

Dari kejauhan, tanpa mereka sadari ada seseorang memegang erat handphone berwarna merah muda yang berada di tangan kirinya.  Dia bisa melihat dengan jelas apa yang kedua orang itu lakukan di bangku depan mobil tersebut.

 

***

 

“  Eonnie…”

 

Seorang gadis belia berumur sekitar delapan belas tahun yang sedang merebahkan diri di ranjangnya tersenyum bahagia ketika melihat seseorang masuk ke dalam ruangan pribadinya.  Sunyeon, nama gadis itu, melambaikan tangannya untuk mempersilahkan tamunya itu masuk.  Dan tak lama kemudian, orang yang tadinya berada di ambang pintu kamarnya itu mendekati tempat tidurnya dan mengelus rambutnya pelan.

 

“  Kim Ahjumma dimana?”

 

“ Ahjumma sudah pulang, Eonnie”.

 

“  Oppamu?”

 

Sunyeon menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan gadis yang lebih tua darinya itu.  Jujur, sebenarnya Sunyeon merasa kesepian karena dia tidak memiliki teman di luar sana.  Hanya kakaknya dan Kim Ahjumma-lah yang menemaninya di rumah ini.  Tentu saja dia senang saat ada orang lain yang menemaninya disini, terutama dia menilai teman wanita kakaknya ini adalah pribadi yang baik yang menyenangkan.

 

“  Kau sudah makan, Sunyeon~ah?”

 

Sunyeon menganggukkan kepalanya pelan, disambut gerakan tangan Hye Hoon yang menyentuh puncak kepalanya.  Hye Hoon tersenyum sambil terus menerus menatap wajah pucat gadis itu.  Dia merasa sangat prihatin dengan apa yang terjadi dengan gadis itu di umur yang masih belia seperti ini.  Sunyeon telah beberapa kali dioperasi karena penyakit yang dideritanya tak kunjung sembuh.  Gadis itu pun harus berpura-pura menjadi anak yang tegar karena tidak mau merepotkan kakaknya.

 

“  Aku membawa strawberry cake kesukaanmu.  Kau pasti tidak bisa menolaknya, iya kan?”

 

***

 

Hye Hoon menggerakkan ujung-ujung jemarinya, mengelus pelan puncak kepala gadis yang sedang tertidur itu.  Bibirnya sesekali melantunkan lagu pengantar tidur dengan suara pelan, dengan senyuman manis tersungging di bibirnya.

 

Krek

 

Suara pintu terbuka membuatnya sedikit menegakkan kepalanya untuk melihat siapa yang ada di balik pintu itu.  Bibirnya semakin melebar sempurna ketika matanya menangkap sosok yang begitu dirindunya.  Sosok itu mendekati ranjang tempat kedua gadis itu berbaring, lalu dengan gerakan cepat mendaratkan kecupan singkat di puncak kepala Sunyeon. 

 

Donghae menarik tangan Hye Hoon yang bebas, membuat Hye Hoon dengan enggan mengangkat tubuhnya dari ranjang.  Hye Hoon menutup pintu kamar itu dengan pelan dan menatap sekilas Sunyeon yang sedang larut dalam tidur lelapnya.

 

Saat ini mereka sedang berada di sofa ruang keluarga yang ukurannya tidak terlalu besar.  Hye Hoon berbaring dengan paha Donghae sebagai tumpuan kepalanya.  Donghae sedikit menunduk, menikmati keindahan wajah orang yang sedang berada di pangkuannya itu.  Lelaki itu menyingkirkan rambut-rambut kecil yang menghalangi wajah wanita itu, dan tangannya pun bergerak lembut menyusuri rambut hitam panjang milik gadis itu.

 

“  Aku ingin mengajakmu ke Mokpo, aku ingin mengenalkanmu kepada kedua orang tuaku.  Mereka pasti senang bisa bertemu calon menantunya.  Walaupun mereka sudah berada tenang di alam sana, tetapi aku yakin mereka bahagia jika melihatku bahagia”.

 

“  Siapa bilang aku akan menikahimu?  Kau terlalu percaya diri, Tuan Lee.”

 

Hye Hoon menyunggingkan senyum jahil sambil menaik-naikkan alisnya.  Sedangkan Donghae, mengerucutkan bibirnya, pura-pura kesal mendengar perkataan gadisnya itu.

 

“  Oh…jadi kau lebih memilih menikah dengan pria dingin itu dibandingkan denganku?”

 

“  Pria dingin?  Setidaknya dia selalu bersikap manis kepadaku”.

 

Donghae berteriak frustasi sambil mengacak rambutnya asal.  Jadi, sekarang Hye Hoon berani memuji lelaki itu di depannya, setelah dia melihat kemesraan mereka berdua tempo hari?

 

“  Aisshh Jadi kau akan benar-benar menikah dengannya, Choi Hye Hoon~ssi?”

 

“  Aktingmu sangat buruk, Donghae~ya.  Kau orang yang paling tahu, betapa aku sangat ingin meninggalkan rumah itu.  Aku lelah berpura-pura di hadapannya bahwa aku bahagia hidup bersamanya.  Aku ingin semua ini segera berakhir, tapi..”

 

Hye Hoon menghirup nafasnya dalam-dalam, meredakan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang hatinya.  Dia sangat tertekan dengan keadaannya yang seperti ini.  Tetapi apa boleh buat, dia tidak bisa melakukan apa yang diinginkannya sesuka hatinya.

 

“  Kyuhyun….aku tahu dia sangat mencintaiku.  Kami sudah terbiasa bersama sejak kecil, bahkan mungkin kami tidak bisa hidup terpisah satu sama lain.  Aku sangat menyayanginya.  Aku tak ingin membuatnya terluka Donghae~ya.  Dia…orang yang sangat penting di hidupku.  Aku tak mau kehilangannya”.

 

Mendengar pengakuan itu, tentu saja membuat Donghae merasakan perih di ulu hatinya.  Tetapi dirinya lebih merasakan sakit saat melihat cairan tak berwarna yang keluar dari ujung mata Hye Hoon. 

 

“  Jadi, kau tidak akan pernah bisa meninggalkannya, begitu?”

 

“  Donghae~ya..bukan itu maksudku…aku…aku hanya ingin meminta sedikit waktu darimu.  Bolehkah? ”

 

Donghae mengecup puncak kepala Hye Hoon, dan tanpa memangkas jarak diantara mereka berdua, lelaki itu mengelus dengan lembut pipi gadisnya.  Donghae menarik bibirnya ke belakang, menyetujui bujukan yang dilontarkan Hye Hoon.

 

“  Tentu saja.  Tapi kau harus meninggalkan dia secepatnya, hmm?”

 

Tanpa aba-aba, Donghae menyatukan bibir mereka berdua.  Donghae mencium gadis itu dengan lembut, dan dibalas gadis itu dengan perlakuan yang sama pula.  Tangan Hye Hoon melingkar di leher Donghae, seiring dengan ciuman mereka yang semakin dalam.  Mereka tak mempedulikan nafas mereka yang sudah terengah, karena mereka enggan melepaskan satu sama lain. 

 

Mereka ingin mengabaikan sejenak apa masalah rumit yang menerpa mereka.  Mereka juga ingin seperti pasangan lain, yang bisa memiliki satu sama lain dengan kebebasan, dan bukan dengan cara diam-diam seperti ini.

 

***

 

Hye Hoon menuruni anak tangga dengan membawa handphone yang didekatkan ke telinganya, sedangkan tangannya yang bebas menenteng tas kecilnya.  Sedari tadi, Ahra, yang merupakan kakak kandung dari Kyuhyun, terus mengomelinya untuk memakai semua perlengkapan yang sudah disiapkan wanita itu dari jauh hari.  Dan tentu saja, Hye Hoon tidak bisa menolak. 

 

Dia menaiki mobil berwarna putih kesayangannya, dan melemparkan tas mahalnya itu di jok samping.  Hye Hoon akan pergi ke suatu tempat yang merupakan tempat yang biasa dikunjungi Hye Hoon dan Kyuhyun disaat mereka berdua berkencan.

 

Hye Hoon memandangi gagang setirnya, sambil memikirkan apa yang telah direncanakannya sejak jauh hari.  Mungkinkah ini waktu yang tepat?  Hye Hoon menyadari, bahwa dia tidak akan bisa menunda lebih lama lagi.  Dan dia harus siap menanggung semua resikonya.

 

Drrrttt

 

Handphonenya berbunyi.  Dia mengambil tas tangan berwarna gold itu dan mengacak-acak isinya.  Setelah dia menemukan benda mungil berwarna merah muda itu, Hye Hoon menekan tombol hijau dengan cepat, tak peduli jika nomor yang menghubunginya itu adalah nomor tak dikenal.

 

Seketika Hye Hoon merasakan cemas yang berlebihan ketika mengetahui yang menghubunginya adalah Ahjumma yang bekerja di rumah Donghae.  Dia mengabarkan bahwa Sunyeon pingsan.  Hye Hoon tahu jika Donghae akan pulang ke Seoul malam ini, karena dia memang ada pekerjaan di Busan. 

 

Gadis itu segera menstarter mobilnya, melaju mengarungi jalanan Seoul yang ramai.  Tanpa dia sadari, handphone yang dia lempar di jok mobil di sebelahnya bergetar, menandakan bahwa ada panggilan yang masuk ke benda elektronik tersebut.

 

Kyuhyun Oppa.

 

Itulah nama yang tertera di layar handphone layar sentuhnya.

 

***

 

“  Syukurlah.  Sunyeon anak yang sangat kuat sehingga dia bisa melewati masa-masa kritis”.

 

Seketika dua orang wanita tersebut mendesah lega mendengar pernyataan dari pria paruh baya yang memakai pakaian serba putih itu.  Hye Hoon masih menangis di pelukan Kim Ahjumma, dengan isakannya yang masih belum mereda. 

 

Tak lama kemudian, seorang lelaki bertubuh tegap terengah menghampiri mereka berdua.  Hye Hoon segera mendaratkan tubuh mungilnya di dada bidang lelaki itu.  Lelaki itu mengelus puncak kepala Hye Hoon, mencoba menenangkan hati gadis itu.

 

“  Bagaimana keadaan Sunyeon, Ahjumma?”

 

“  Dia baik-baik saja.  Dokter bilang dia sudah bisa melewati masa-masa kritis.  Aigoo Hye Hoon~yang, kakimu baik-baik saja?”

 

Donghae menatap Bibi Kang heran, tetapi kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah kaki wanita yang sedang berada di dekapannya.  Pergelangan kaki kanannya terlihat merah dan gadis itu hanya menggunakan kaki kirinya sebagai satu-satunya tumpuan dari tubuhnya.  Donghae melepaskan pelukan mereka lalu memapah Hye Hoon ke bangku terdekat dari tempat mereka berada.

 

“  Ahjumma, kau sebaiknya pulang.  Anak-anakmu pasti sedang menunggumu.  Dan terima kasih atas bantuannya, aku tidak tahu apa yang terjadi jika tidak ada kau”.

 

“  Itu tanggung jawabku, Tuan.  Tidak perlu berterima kasih padaku.  Baiklah kalau begitu, saya pamit dulu”.

 

Setelah wanita paruh baya itu berlalu dari hadapan mereka, kedua mata itu bertemu kembali.  Mereka sama-sama merasakan rasa cemas dan takut yang berlebihan, sehingga melalui bathin mereka, mereka seakan saling menguatkan satu sama lain.

 

“  Kakimu….baik-baik saja?”

 

Hye Hoon mengangguk cepat.  Dia tidak mau menambah kekhawatiran Donghae lebih banyak lagi.  Seharusnya perhatian lelaki itu hanya untuk adiknya sekarang.  Lagipula, Hye Hoon masih bisa menahan rasa sakitnya, sehingga tak ada yang perlu dipikirkan mengenai dirinya.

 

“  Setidaknya biarkan perawat memperban kakimu”.

 

“  Tidak perlu”.

 

“  Dengarkan aku.  Jangan mengabaikan dirimu sendiri, Hoon~ah.  Setidaknya pikirkan kesehatanmu sendiri.  Demi aku, eo?”

 

Donghae sedikit menaikkan suaranya.  Hal itu dia lakukan agar gadis keras kepala di depannya bisa menuruti kata-katanya.

 

“  Tapi Hae~ya…Aku baik-baik saja.  Aku bisa berjalan dengan baik, lihatlah.”

 

Hye Hoon mencoba menegakkan tubuhnya, tetapi akhirnya dia roboh karena salah satu kakinya tidak bisa menapak lantai rumah sakit itu dengan sempurna.  Beruntung, tubuh Donghae dengan tanggap menopang tubuh gadis itu, dan dengan gerakan cepat, Donghae menggendong gadis itu sebatas dadanya.  Hye Hoon meronta tentu saja, pipinya bersemu merah karena perlakuan tiba-tiba dari lelaki itu.

 

“  Yak!  Turunkan aku, Lee Donghae”.

 

***

 

Sunyeon sudah dipindahkan ke kamar rawat biasa, karena kondisinya yang semakin membaik.  Donghae dan Hye Hoon bisa leluasa menjaga Sunyeon sekarang, karena jika di ruang gawat darurat mereka hanya bisa masuk sebentar dengan memakai pakaian steril, sedangkan disini mereka bisa menjaga Sunyeon di ruangannya.

 

Donghae duduk di sofa yang ditempati Hye Hoon setelah memastikan bahwa adiknya masih tertidur pulas.  Lelaki itu melingkarkan tangannya di bahu Hye Hoon, mendekap gadis itu yang terlihat sedang kedinginan.  Wajar saja, baju yang dipakai Hye Hoon adalah gaun tipis yang hanya menutupi sampai bagian pahanya.

 

“  Kau akan pergi kemana tadi?”

 

Hye Hoon bimbang, apakah dia harus berkata jujur atau tidak kepada Donghae.  Bukan perkara mudah untuk sekedar memberitahukan kepada lelaki itu, bahwa dirinya akan menikmati makan malam dengan pria lain.  Tetapi pada akhirnya Hye Hoon berpikir bahwa berkata jujur itu adalah pilihan yang terbaik.

 

“  Today is our 3rd anniversary.  Tadinya, aku akan merayakan hari jadi kami, seperti yang biasa kami lakukan”.

 

“  Maaf, karena Sunyeon kau jadi….”

 

“  Sebenarnya hari ini adalah hari yang sudah kutunggu sejak lama.  Aku….aku berencana untuk mengakhiri semuanya, mengakhiri hubunganku dengan Kyuhyun”.

 

Donghae terkejut, tentu saja.  Tetapi rasanya ada kembang api yang meletup-letup di dadanya, senang karena keputusan Hye Hoon yang dia tidak  menyangka akan secepat ini. 

 

Tidak ada percakapan lagi dari mereka berdua untuk sejenak.  Donghae tidak tahu apa yang harus ditanggapinya terkait keputusan Hye Hoon itu.  Tetapi ada rasa kecewa menelusup di dalam hatinya.  Berarti, Hye Hoon tidak jadi melakukan semua itu, kan?

 

Di hatinya, Donghae mengharapkan hal itu terjadi sehingga mereka akan lepas dari bayang-bayang seorang Cho Kyuhyun.

 

***

 

Kyuhyun menekan tombol speed dial nomor satu nya beberapa kali, dan dia tidak mendapatkan jawaban sama sekali.  Seketika rasa khawatir menyergap dirinya.  Dia takut terjadi sesuatu pada orang yang dicintainya itu.

 

Matanya menangkap dekorasi ruangan besar yang selama beberapa minggu ini direncanakannya.  Semua dipenuhi dengan macam-macam kesukaan gadis itu, seperti warna tembok ruangan yang di cat dengan perpaduan antara warna biru dan sedikit dipoles merah muda di beberapa bagian.  Tak lupa dengan bunga mawar putih yang menghiasi setiap sudut ruangan yang membuat kesan romantis itu terlihat.  Bahkan, lokasi restaurant ini yang terletak di bibir pantai tentu saja berdasarkan atas segala sesuatu yang Hye Hoon sukai.

 

Akhirnya Kyuhyun menyerah.  Dia menghubungi nomor lain untuk mengetahui keberadaan kekasihnya itu.  Awalnya dia sedikit ragu, tetapi toh selama ini dia pun sudah mengetahui semuanya.  Dan dia tahu, cepat atau lambat, Hye Hoon pun akan memberitahukan semuanya pada dirinya.

 

“  Ya, Tuan Cho.  Ada perlu apa?”

 

“  Kau…bisa menemukan dimana Hye Hoon sekarang?”

 

“  Dari nomor ponselnya, terlihat bahwa dia sedang berada di Seoul National Hospital.  Haruskah aku menyelidikinya lebih lanjut, Tuan?”

 

Kyuhyun menghela nafasnya kasar sebelum kemudian mengiyakan apa yang menjadi tawaran dari bawahannya tadi.  Lelaki itu membantingkan handphonenya kasar ke arah meja yang sedari tadi dia tempati.  Kyuhyun marah, tentu saja.  Karena dia mengetahui apa alasan yang membuat Hye Hoon lebih memilih pergi ke tempat itu dibandingkan bertemu dengannya.

 

Lelaki itu lagi. 

 

Kyuhyun meredam semua emosi yang bergejolak di dadanya.  Dia ingin menumpahkan semua kekesalannya terhadap gadis itu, tetapi dia sangat takut kehilangannya. 

 

Lelaki itu merogoh saku jas nya, sehingga di tangannya sekarang terdapat benda kotak dilapisi kain beludru berwarna merah yang membuatnya semakin elegan.  Dengan perlahan, dia membuka kotak itu, menampakkan cincin sederhana dengan sebuah berlian besar di tengahnya, mencirikan harga benda kecil itu berharga sangat mahal.

 

Ya, Kyuhyun memang ingin segera meminang gadis itu.  Dia akan melamar gadis itu malam ini, tetapi rencananya hancur hanya karena seorang lelaki yang tidak setara dengannya.

 

Seharusnya sejak awal Kyuhyun tidak menganggap lelaki itu sepele.  Seharusnya Kyuhyun bisa menyingkirkan lelaki itu sejak dulu.

 

Kyuhyun mengepalkan tangannya.  Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan menyelesaikan kerikil kecil itu dengan cepat. 

 

***

 

“  Kaja, aku akan mengantarkanmu masuk ”.

 

Donghae mengulurkan tangannya tepat ke hadapan Hye Hoon setelah membuka pintu kursi penumpang.  Mata Hye Hoon melebar.  Sepertinya Donghae tidak main-main dengan ucapannya. 

 

“  Tapi….”

 

“  Bukankah kau akan memutuskan hubungan dengannya?  Ini mempermudah, kan?  Lagipula, aku yakin kau pasti tidak bisa berjalan dengan benar tanpa bantuanku.  Kau mau kugendong seperti tadi?”

 

“  Andwae!  Kau boleh memapahku ke dalam, tapi kau harus berjanji bahwa kau akan langsung pulang”.

 

“  Hmm…jadi, kita masuk sekarang?”

 

Donghae membantu Hye Hoon untuk bangkit dari duduknya.  Hye Hoon meringis kesakitan, karena memang kakinya belum sepenuhnya pulih.  Sebenarnya agak riskan untuk membiarkan Donghae masuk ke rumah ini, mengingat semua masalah yang terjadi.  Tetapi senyuman yang ditujukan Donghae kepadanya membuat Hye Hoon yakin, bahwa semuanya akan baik-baik saja.

 

Hye Hoon menghembuskan nafasnya lega ketika dia tidak menemukan siapapun di ruang tamu.  Gadis itu menunjukkan jalan menuju kamarnya yang berada di lantai atas.  Hye Hoon kesulitan tentunya, untuk mendaki anak tangga tersebut, sehingga gadis itu pasrah saat Donghae membawa tubuhnya berada pada gendongannya.

 

Setelah beberapa langkah, mereka akhirnya sampai pada ruangan yang mereka tuju.  Donghae segera membaringkan tubuh mungil itu ke atas ranjang empuk yang berada di tengah-tengah ruangan besar ini.

 

“  Ingat janjimu?”

 

“  Baiklah, aku akan pergi.  Tapi, kau yakin tidak akan menghabiskan waktumu denganku di kamarmu ini, hmm?”

 

Donghae mengedipkan sebelah matanya, membuat Hye Hoon tertawa lepas.  Donghae mengalah, dan menuruti keinginan Hye Hoon untuk segera meninggalkan tempat ini.  Tetapi, sebelum itu, lelaki itu masih sempat menggoda Hye Hoon dengan mengecup sekilas bibir gadis itu.

 

“  Yak! Lee Donghae kau…..”

 

***

 

Hye Hoon mencoba untuk memejamkan matanya, untuk sedikit mengurangi rasa lelahnya.  Tetapi, telinganya menangkap suara pintu terbuka, membuat senyumannya kembali terlihat.

 

“  Mau apa lagi?  Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk…..”

 

Mulutnya terkatup.  Hye Hoon menyangka bahwa yang masuk ke ruangan pribadinya itu adalah lelaki yang tadi mengantarnya.  Tetapi ternyata salah.  Dan entah mengapa dia yakin jika Kyuhyun sudah mengetahui tentang kejadian tadi.  Hatinya berdegup lebih kencang saat mata tajam Kyuhyun mengintimidasinya.

 

Tuhan, tolong aku.  Jeritnya dalam hati.

 

“  Ini aku, Kyuhyun.  Kau tidak mungkin lupa, sedangkan hanya satu hari kau bermalam dengannya, kan?”

 

Diam.  Hanya itu yang bisa Hye Hoon lakukan sekarang.  Gadis itu menggigit bibir bawahnya, menahan jeritan keras yang mendadak ingin keluar dari pita suaranya.  Nada bicara Kyuhyun sangat berbeda, dan tentu saja hal itu membuat Hye Hoon ketakutan.

 

“  Oppa….aku….”

 

“  Aku sudah mengetahuinya sejak dulu.  Kau…kau menjalin hubungan dengannya, kan?  Kau…teganya kau mengkhianatiku seperti ini, Choi Hye Hoon.  APA SALAHKU PADAMU?”

 

 

Air mata Hye Hoon mengalir tanpa bisa dia cegah.  Kyuhyun masih menatapnya intens, sambil menggoyang-goyangkan tubuh Hye Hoon yang sedang terduduk di kasurnya.  Wajah Kyuhyun tidak jauh berbeda, mukanya kusut dan diliputi rasa kesedihan yang mendalam.  Sungguh, Kyuhyun sangat tulus mencintai Hye Hoon, bahkan dia rela melakukan apa saja demi gadis itu.  Tetapi mengapa hal yang didapatnya adalah hal yang seperti ini?

 

“  Sejak awal, kupikir aku mencintaimu.  Ya, aku pernah mengira bahwa rasa yang kumiliki untukmu itu bukan sekedar perasaan sayang yang dimiliki kepada seorang sahabat, melainkan cinta yang biasa dimiliki oleh sepasang kekasih.  Keunde, saat aku bertemu dengannya, aku bisa membedakannya.  Aku….aku hanya merasa terbiasa denganmu, dan itu bukan cinta”.

 

Apakah dengan pengakuan Hye Hoon ini akan membuat Kyuhyun melepasnya?  Jawabannya adalah tidak.  Kyuhyun sangat mencintai gadis itu, dan dia tidak bisa hidup tanpanya.

 

“  Aku tidak peduli dengan perasaanmu, Hye Hoon~ah.  Meski pada akhirnya kau hanya mencintai pria itu, kau tetap hanya milikku”.

 

“  Kyuhyun~ah….”

 

Mata mereka bertemu.  Dan Hye Hoon bisa merasakan kilatan amarah yang semakin memancar dari mata hitam itu.  Ini pertama kalinya Kyuhyun bertindak sekasar itu padanya dan memandangnya dengan penuh kebencian.

 

“  Aku bisa menghancurkan Lee Donghae dalam waktu singkat.  Aku bisa membuatnya menderita.  Kau tahu, kan?  Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku”.

 

Kyuhyun membalikkan badannya, segera meninggalkan Hye Hoon yang sedang meratapi kepedihannya.  Ucapan Kyuhyun tentu membuat Hye Hoon khawatir dengan apa yang akan terjadi kepada lelaki yang dicintainya.  Hye Hoon mencoba bangkit dari tempat tidurnya, tetapi rasa sakit yang berasal dari kaki yang dibalut perban itu membuatnya merasakan nyeri, sehingga dia berteriak sekencang-kencangnya.

 

Mendengar teriakan dari bibir Hye Hoon, Kyuhyun segera menghampiri gadis itu, membawa gadis itu ke dalam pangkuannya, dan menempatkannya di tempat tidur milik gadisnya. 

 

“  Aku…aku akan melakukan apapun yang kau mau.  Tapi kumohon, jangan ganggu dia”.

 

***

Beberapa minggu kemudian…

 

Hye Hoon menyiapkan makanan ala kadarnya di meja ruang makan yang dipenuhi oleh peralatan yang terbuat dari kayu tersebut.  Kakinya sudah bisa berfungsi seperti biasanya, tetapi entah mengapa Hye Hoon sedikit enggan membuka perban yang membalut pergelangan kakinya. 

 

“  Selamat pagi”.

 

Sapaan itu membuat Hye Hoon menoleh dan mendapati lelaki yang mengenakan jas hitam tersenyum kepadanya, dan refleks dia pun membalas senyuman itu.  Tiba-tiba bau yang menyengat tercium oleh indera penciumannya, dengan gerakan cepat dia mematikan kompor dan tangannya menyentuh wajan penggorengan yang panas, otomatis membuatnya mengaduh karena tangannya kepanasan.

 

Kyuhyun sedikit berlari menuju ke arahnya, dan menarik tangannya yang sedikit memerah karena kejadian tadi.  Lelaki itu meniupnya sebentar, kemudian dengan tergesa melangkah ke arah kamar mandi dan kembali dengan pasta gigi yang berada di tangannya.

 

Lelaki itu membasuh tangan Hye Hoon dengan telaten, kemudian mengoleskan pasta gigi tersebut di bagian-bagian telapak tangan Hye Hoon yang memerah.

 

“  Orang-orang bilang, kalau kau terkena sesuatu yang panas, kau harus menemukan sesuatu yang dingin untuk menetralkannya”.

 

“  Kenapa kau tidak mengambil es saja?”

 

“  Kau cerewet sekali.  Emm…sepertinya aku tidak bisa sarapan di rumah, sayang.  Aku harus briefing pagi-pagi sekali.  Tidak apa-apa, kan?”

 

“  Hmm.  Lagipula makanannya gosong.  Kau harus janji, tidak boleh melewatkan sarapanmu”.

 

Kyuhyun mengangguk pelan.  Dia segera menyambar tas yang berada di meja makan, dan Hye Hoon mengantar lelaki itu sampai ke depan rumahnya.  Setelah mengecup kening Hye Hoon sekilas, Kyuhyun segera menghampiri mobil hitamnya dan naik ke dalamnya.

 

Hye Hoon menatap pemandangan sekelilingnya.  Sudah beberapa minggu ini, dia tidak pernah sekalipun meninggalkan rumah mewahnya.  Yang dia lakukan hanyalah berada di dalam rumah, tak melakukan apapun.  Sepertinya, dia sedikit merindukan udara luar.

 

Gadis itu memutuskan untuk duduk di bangku taman kecil di depan rumahnya.  Dia merogoh sakunya, mengambil ponsel yang tidak pernah dia hidupkan.

 

Dia melakukan hal itu dengan sengaja.  Ya, Hye Hoon melakukan semua ini untuk menghindari seseorang. 

 

Banyak pesan singkat maupun pesan suara yang diterimanya.  Dia meyakinkan dirinya sendiri agar tidak membuka salah satu pesan suara itu.  Karena dia yakin, jika hal itu terjadi, dia akan lebih menderita karena semakin merindukannya.

 

Dicarinya nama familiar yang berada di kotak ponselnya, dan dengan segera dia menekan tombol hijau di ponsel layar sentuhnya itu.

 

“  Yoboseyo?”

 

“  Oppa, bisakah kau bertemu denganku sekarang?”

 

***

 

“  Caffe Latte and Americano, please”.

 

Setelah pelayan itu meninggalkan meja yang mereka tempati, seorang lelaki berperawakan tinggi dan berwajah sangat tampan itu memulai percakapan mereka.

 

“  Kyuhyun sudah memecatnya, dan sekarang, dia bekerja di sebuah proyek sebagai seorang tukang.  Tidak ada satu perusahaan pun menerima lamaran kerjanya.  Apa yang harus kulakukan untuknya, Hoon~ah?”

 

Hye Hoon mengetahui bahwa hal ini lambat laun pasti akan terjadi.  Kyuhyun bukan tipe orang yang akan melepaskan hal seperti ini begitu saja.  Dan perjanjiannya dengan lelaki itu tempo hari, tidak akan pernah mengurungkan niat tidak baik dari lelaki itu.

 

“  Kudengar Choi Corp akan membuka sebuah cabang baru di Jepang.  Bukankah kau yang mengurusnya, Oppa?  Bisakah….kau mempekerjakannya disana?”

 

Lelaki bernama Choi Siwon itu tersedak dari minuman yang sedang dinikmatinya karena mendengar pernyataan adiknya.  Lelaki itu berharap bahwa yang dikatakan adik semata wayangnya itu tidak benar.  Bagaimana bisa?

 

“  Hye Hoon~ah, kau yakin?  Kau yakin akan benar-benar melepasnya? ”

 

“  Aku belajar darimu, Oppa.  Kau menyerah atas cintamu kepada Soo Rin Eonnie, dan membiarkannya pergi dari sisimu untuk mengejar cita-citanya.  Mungkin kisah kita berbeda, Oppa.  Tetapi, yang aku inginkan adalah membuatnya bahagia, sama seperti yang kau lakukan”.

 

“  Hye Hoon~ah….”

 

“  Ini keputusanku, Oppa.  Kau mau membantuku, kan?”

 

Drrttt

 

Hye Hoon mengecek ponselnya, sebentar dia berpikir, apakah dia akan mengangkat telepon itu atau tidak.  Tetapi kemudian rasa khawatir menyergapnya, dan dengan tanpa ragu dia menerima panggilan tersebut.

 

“  Yoboseyo?”

 

“  Eonnie~ya..cepat kesini…tolong aku…”

 

“  Yoboseyo?  Sunyeon~ah?  Sunyeon~ah, Gwenchana?”

 

Hye Hoon menatap kakak lelakinya dengan pandangan menerawang.   Siwon membalasnya dengan tatapan cemas.

 

“  Itu adik Lee Donghae, kan?  Pergilah.  Sepertinya dia membutuhkanmu”.

 

***

 

Hye Hoon menggantungkan lengannya di udara, hendak memencet bel yang berada di samping pintu.  Ini sudah beberapa kali dia lakukan, sejak dia sampai di tempat ini lima menit yang lalu.  Hye Hoon belum siap bertemu dengannya.  Mentalnya belum cukup siap untuk berpura-pura tegar di hadapan lelaki itu.

 

Beberapa menit berlalu, akhirnya rasa tak tenang yang hinggap di hatinya membuat Hye Hoon menekan bel beberapa kali.  Tidak ada balasan.  Dengan tangan gemetar, Hye Hoon menekan deretan angka password yang dihapalnya.

 

Beep

 

Setelah pintu terbuka, Hye Hoon segera mendatangi ruangan dimana Sunyeon berada.  Dia bernafas lega ketika melihat Sunyeon yang tersenyum manis ke arahnya.  Sepertinya, gadis itu baik-baik saja.

 

“  Gwenchana, Sunyeon~ah?”

 

“  Aku baik-baik saja, Eonnie.  Mianhaeyo, sebenarnya aku berbohong padamu”.

 

Seketika raut muka Hye Hoon terlihat kebingungan tetapi detik berikutnya dia mengubahnya dengan senyuman yang terpatri di wajah cantiknya.  Tetapi, Sunyeon tidak membalasnya, dan wajah pucat gadis itu memancarkan kesedihan yang sebenarnya Hye Hoon sudah mengetahui alasannya.

 

“  Eonnie, kau tahu?  Oppa berubah banyak akhir-akhir ini.  Walaupun dia berusaha menyembunyikannya dariku, tapi aku tetap bisa melihatnya dari matanya.  Apakah…kalian ada masalah?”

 

Hye Hoon bungkam.  Gadis di hadapannya ini sangat sensitif sehingga dirinya tidak bisa dengan mudah membohonginya. 

 

“   Tidak ada apa-apa.  Semuanya baik-baik saja, Sunyeon~ah.  Dan satu lagi, kau harus lebih memikirkan kesehatanmu daripada memikirkan urusan orang dewasa, hmm?”.

 

Sunyeon menarik bibirnya simetris, dan menggenggam kedua tangan Hye Hoon erat.  Mata sayu Sunyeon menatap mata Hye Hoon lekat.  Hye Hoon merasa tidak enak berbohong dengan gadis itu, tetapi apa yang bisa dia lakukan?  Hye Hoon hanya tidak ingin membuat gadis kecil itu semakin khawatir dengan keadaan kakaknya.

 

“  Eonnie, berjanjilah padaku.  Berjanjilah padaku untuk tetap berada di sisi Donghae Oppa.  Dia membutuhkanmu, Eonnie~ya.  Dan jika suatu saat aku meninggalkannya, setidaknya dia tidak akan terlalu sedih jika kau ada di sampingnya”.

 

***

 

Hye Hoon mengusap matanya yang sembab karena terlalu banyak menangis.  Setidaknya dia lega karena Sunyeon sudah berada di alam bawah sadarnya dan dirinya berharap bahwa saat gadis itu terbangun, dia akan segera melupakan semuanya kekhawatirannya.

 

Mata Hye Hoon menangkap seseorang yang memakai sandal rumahan yang sepertinya sejak tadi berada di sekitar kamar Sunyeon.  Sedari tadi Hye Hoon memang menundukkan wajahnya, sehingga hanya pemandangan itulah yang bisa dia lihat.  Hye Hoon menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit yang menyerangnya. 

 

Dia takut.  Hye Hoon takut jika bertemu lelaki itu akan membuatnya goyah.

 

Hye Hoon semakin mempercepat langkah kakinya, dengan matanya yang masih tertuju pada lantai putih bergaris yang menjadi fokusnya.  Setelah berhasil melewati namja itu, dia merasakan cengkeraman yang cukup keras di bagian pergelangan tangannya.  Hye Hoon meringis dalam diam.

 

“  Wae?  Kenapa kau berbohong padanya?  Mengapa kau tak berkata jujur, bahwa faktanya kau akan menikah dengan seorang Direktur perusahaan besar pada waktu dekat?  Ah, apa kau hanya tidak mau menambah beban Sunyeon dengan berkata bahwa kau akan menikah dengan lelaki miskin sepertiku?  Kau tidak usah berpura-pura baik terhadap orang-orang seperti kami, Choi Hye Hoon~ssi.  Aku merasa lebih menyedihkan sekarang.”

 

Hye Hoon menghapus butiran-butiran air mata yang mengalir deras di pipinya.  Nada bicara lelaki itu sarat akan kepedihan, dan perkataannya itu, sungguh membuat hatinya tersayat.  Jadi, anggapan Donghae tentangnya saat ini adalah seperti itu, berpura-pura baik terhadap orang miskin?

 

Gadis itu memberanikan dirinya untuk melepaskan genggaman tangan besar Donghae dan membalikkan badannya, menatap wajah lelaki itu.  Wajahnya dipenuhi dengan plester dan sedikit lebam, membuat Hye Hoon semakin tak tega melihatnya.

 

“  Aku ingin mempercayai, bahwa cintamu padaku itu tulus, setulus perasaan yang kuberikan padamu.  Tetapi aku bodoh, karena baru menyadari bahwa cinta bukanlah sesuatu yang penting bagi seseorang dengan status sosial yang tinggi sepertimu.  Apakah kau puas mempermainkanmu?”

 

“  Ya.  Aku hanya mempermainkanmu.  Aku…aku tidak mungkin meninggalkan seorang Cho Kyuhyun hanya demi lelaki sepertimu”.

 

Hye Hoon segera melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.  Dia tidak mau berada lebih lama disini membuatnya semakin enggan melepas satu-satunya lelaki yang dicintainya. 

 

“  Aku mencintaimu.  Walaupun cintamu padaku adalah sebuah kebohongan, aku tetap mencintaimu, Choi Hye Hoon.  Dan aku…aku tak bisa hidup dengan baik tanpamu”.

 

***

 

Kyuhyun bangkit dari kursi di ruang tamu rumah megahnya, ketika melihat pintu terbuka yang menampakkan seorang gadis yang berjalan lesu ke arahnya.  Mata dan hidungnya memerah, dan dia bisa melihat kantong mata gadis itu semakin membesar.

 

Dengan gerakan cepat, Hye Hoon segera membenamkan diri di dada lelaki itu.  Kyuhyun semakin heran dengan sikap tidak biasa gadis itu.  Dia menanggapi perlakuannya dengan mengecup puncak kepala Hye Hoon sambil mengusapnya sekali-kali, membiarkan gadis itu menangis dengan tenang di dadanya.

 

“  Dia membenciku.  Harusnya aku senang, kan?  Dia dengan segera akan melupakanku.  Tetapi kenapa rasanya dadaku semakin sesak, Oppa?  Bahkan seluruh tubuhku merasakan sakit saat kata-kata itu dilantunkan bibirnya”.

 

Kyuhyun tertegun.  Pengakuan Hye Hoon membuatnya merasakan rasa sakit juga, tetapi dengan alasan yang berbeda.  Pikiran Hye Hoon mungkin sedang kalut, sehingga dengan mudah dia bisa menumpahkan segala perasaannya pada Kyuhyun.

 

Kyuhyun tahu, tindakannya akan membuat Hye Hoon terluka, begitupun dengan Donghae.  Tetapi dia hanya tidak bisa.  Kyuhyun tidak bisa melepas orang yang menjadi alasannya untuk hidup begitu saja.  Kyuhyun akan tetap mempertahankan gadis itu untuk selalu berada di sisinya, walaupun kenyataannya Hye Hoon tidak pernah mencintainya.

 

Kyuhyun yakin, dia bisa membahagiakan Hye Hoon-nya, dengan caranya sendiri.  Dan dia akan membuat gadis itu melupakan pria bernama Lee Donghae.  Selamanya.

 

END

 

 

 another longshoot from me, do you like it?

Di fanfic ini memang lebih banyak percakapannya, lumayan daripada fanfic-fanfic aku yang lain yang penuh dengan penjelasan.   Maaf jika percakapannya gak jelas, karena memang gatau deh aku bikinnya sesuai apa yang ada di pikiran aku.

 Maaf sekali kalau endingnya gak memuaskan.  entah kenapa ide pas nulis itu selalu gak nyambung seperti ini.  Kamsahaeyo yang udah nyempetin baca.

untuk Comeback To Me, Baby part 3, aku sedikit ngalamin kesulitan untuk dapetin mood yang baik, ada beberapa faktor sih diantaranya silent reader yang semakin banyak, dan aku yang dasarnya memang orangnya perasa, saat melihat komentar yang kurang sreg di hati aku, rasanya bikin males nulis.  Bukan gak mau dikritik, tapi ya gitu deh aku juga gak ngerti sama diri aku sendiri <//3

oh ya, buat yang minta password wajib comment ya, aku nangkep ada beberapa orang yang udah dapet passwordnya eh ngilang gitu aja. serasa gak dihargain jadinya :(

Segitu aja curcol dari saya. maaf nge-spam.

See you on next fanfiction ^^

117 thoughts on “Unfaithful

  1. Kyuhyun yang egois dan keren. Ini memang permasalahan full dr Hyehoon. Dia gak mengungkapnya dari awal. Itu pun kyuhyun emang egois sampai akhir. Aku sih sdkt kecewa endingnya gini. Gak ada kebahagian sepertinya.

  2. huhu eonni bener2 suka yg hurt yah hehe aku suka eonni cuma kasian sama kyuhyunnya. ga tega liat dia menderita .. huaa
    tapi overall pengen ada lanjutannyatapi aku pengen kyu bahagia *abaikan tapi ya terserah eonni si . aku tetep suka kaya gini aja ga tega baa kesakitan kyu

  3. Bisakah perasaan Cho Kyuhyun ke Hye Hoon ku kategorikan obsesi?
    Kyuhyun yang sudah tahu sedari dulu jika Hye Hoon tak mencintainya, tetap mempertahankan Hye Hoon di sisinya.

    Kasihan abang Dongeku sayang, saking berkuasanya Cho Kyuhyun ia tak diterima kerja di manapun :(
    semoga rencana Hye Hoon yang akan mempekerjakan Dong Hae lewat kakaknya -Choi Siwon- membuat Dong Hae tak salah paham lagi terhadap Hye Hoon.
    Ah… Baik Hye Hoon, Dong Hae maupun Kyuhyun di sini semuanya tak bahagia. Jadi inget Losing You *modus*

  4. eehhh..
    hyehoon kok gtu sih..
    shrusnya dia ga selingkuhin kyu…
    klu dia emg ga cinta sama kyu, shrusnya sejak awal dia bilang klu mreka lebih cocok sahabatan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s