Scar


Author :

Hyehoonssi/ elsagyu

Cast :

Lee Donghae

Choi Hye Hoon

Lee Hyukjae

Genre :

Romance, Angst

Rating :

PG 13

Length :

6500+ words

Disclaimer : This Story, plot, Lee Donghae, is mine kkk~

 

Annyeong, Choi Hye Hoon imnida.  Ini ff abal bin gaje jadi tolong maklum ya kalo aneh. Please RCL and visit my home elsagyu.wordpress.com and my twitter @elsagyu_ J

 

Luka itu akan tetap membekas sampai kapanpun,

seperti cinta yang tidak akan pernah menghilang”

 

Choi Hye Hoon POV

Aku melihat bayangan diriku sendiri di cermin. Pipiku lebam. Di sudut bibirku masih terdapat sisa darah kering dan sedikit bengkak. Mataku masih sembab karena menangis semalaman. Hari ini masih hari kerja, dan aku tidak mungkin bisa menutupi semua luka di wajahku.

Aku meringis pelan saat merasakan tangan kekarnya memeluk tubuhku dari belakang. Matanya masih setengah terpejam. Aku terkekeh pelan tapi kemudian berteriak kesakitan karena luka di bibirku masih basah. Dia terbelalak dan menatap bayanganku di cermin.

Dia membalikkan tubuhku dan dia menatap wajahku lekat. Dia terlihat sangat khawatir. Aku tersenyum singkat alih-alih mengatakan bahwa aku baik-baik saja.

“ Mau kuobati? Atau kita pergi ke dokter sekarang?”. Aku menggeleng pelan. Dia menyentuh ujung bibirku hati-hati tapi aku tetap meringis kesakitan.

“ Aku baik-baik saja. Aku akan menyiapkan sarapan sekarang. Oppa sebaiknya cepat bersiap-siap ke kantor. Aku akan menyiapkan pakaianmu, eo?”

 

Setelah dia berpakaian rapi, aku membantunya untuk memasangkan dasinya, dia malah menatapku lekat. Sedetik kemudian dia melingkarkan tangannya di pinggangku dan memelukku erat. Aku meringis kesakitan. Punggungku masih sakit karena menghantam pinggir ranjang tadi malam. Aku mendengarnya berbisik pelan.

Mianhae. Aku..”

“ Tidak perlu membahas masalah itu lagi. Sudah siang, sebaiknya Oppa segera sarapan dan pergi ke kantor, aku temani.”

***

Aku masuk shift siang hari ini. Aku memang meminta jadwalnya seperti itu karena aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaan rumahku. Jadi, aku selalu mengambil shift siang atau sore karena supaya aku bisa pulang lebih awal sebelum Donghae Oppa.

Aku menjadi salah seorang pelayan di suatu butik terkenal. Sudah sekitar 6 bulan aku bekerja disini. Sebenarnya awalnya Donghae Oppa melarangku untuk bekerja, tetapi aku memaksa karena aku tidak mau hanya berdiam diri di rumah.

Aku membungkukkan badanku untuk menyapa orang-orang memang tergolong baru di kehidupanku  tetapi sudah mengenalku, setidaknya mereka mengetahui namaku. Mereka juga bersiap-siap untuk berganti shift atau justru pulang karena jam kerjanya sudah habis. Aku mengganti bajuku menjadi baju seragam untuk pelayan butik ini dan melangkahkan kakiku ke belakang meja kasir.

Aku terpaku melihat dua wanita yang baru saja memasuki ruangan ini. Mereka adalah seorang yang sudah menginjak umur kepala 3 sedangkan yang satunya lagi memiliki umur beberapa tahun di atasku. Seperti biasa mereka langsung dilayani oleh Manager di butik ini, karena mereka memang tamu spesial.

Aku melayani beberapa pelanggan tetapi perhatianku tertuju pada mereka. Setelah beberapa menit, akhirnya mereka berdua ada di hadapanku. Wanita cantik berambut panjang itu menatapku haru. Aku tersenyum singkat.

“ Hoon~ah, apa kau baik-baik saja? Sepertinya lukamu cukup serius. Aku akan bicara pada Managermu untuk mengizinkanku membawamu ke dokter”. Aku menggeleng pelan. Eonnie terlihat sangat mengkhawatirkanku.

“ Aku baik-baik saja, Eonnie.”

“ Tapi kau…”

“ Sudahlah Jung Ah, tidak perlu memaksa orang yang tidak mau kau bantu. Bisakah kau segera melayani kami? Aku sudah tua, jadi tidak kuat berdiri lama-lama”. Aku menundukkan wajahku. Aku tahu, dia sangat membenciku. Bagaimanapun, ini semua salahku. Aku memang pantas menanggungnya.

“ Jeosonghamnida.”

Eomma sudah sangat membenciku sepertinya.’

***

Aku berjalan kaki menuju apartemen kami. Jarak dari butik ke rumah memang tidak terlalu jauh. Jadi, lebih baik aku menghemat uangku dan sekalian aku bisa membeli makanan untuk makan malam kami di perjalanan .

Suara klakson berbunyi berkali-kali.

Seseorang yang mengemudikan mobil sport berwarna hitam itu membuka kaca jendela mobilnya dan menatap ke arahku. Aku menyipitkan mataku. Mana mungkin aku tidak mengenali wajahnya, dia sahabat dekatku sejak kecil.

“ Choi Siwon?”.

Dia tersenyum memamerkan lesung pipinya. Dia memang lelaki sempurna, penampilan fisiknya sangat diidamkan oleh semua pria. Tubuhnya tinggi dan tegap, hidungnya mancung dan matanya besar. Dan itu alami, tidak pernah tersentuh oleh pisau bedah. Selain itu, dia juga sempurna dalam urusan materi. Dia adalah satu-satunya pewaris Hyundai Corp yang termasuk dalam 3 perusahaan terbesar di Korea.

“ Hei, kenapa bengong? Ayo masuk.”

Aku gelagapan. Aku tidak mungkin menolak ajakannya tetapi aku juga tidak mau terjadi salah paham lagi dengan Donghae.

Aku melirik jam tanganku. Masih jam tujuh malam. Donghae biasanya pulang jam Sembilan malam. Aku juga tidak enak untuk menolak ajakan sahabat baikku sendiri.

Aku memasuki mobilnya dan memakai sabuk pengaman. Dia masih menatap wajahku lekat. Ah, aku tahu dia pasti melihat luka di wajahku.

“ Kau dipukuli lagi?”

Aku memalingkan wajahku. Tak mau kalau ia mengamati luka di mukaku lebih dalam lagi.

Anieyo.  Kemarin aku terjatuh. Kau mau mengajakku kemana, Won~ah?”

Dia menatapku menyelidik.

“ Sudah lama kita tidak makan di restaurant favorit kita. Kau mau?”

Aku sebenarnya bingung harus menjawab apa, tapi sepertinya aku memang merindukan kebersamaanku dengannya. Setelah aku menjadi kekasih Donghae, hubungan kami merenggang. Kekasihku itu memang terlalu posesif.

Kaja”.

***

Kami melewati jalanan macet di Seoul dengan canda tawa. Hingga kami di tempat tujuan, kami masih berbincang dan sesekali tertawa dengan lelucon konyol yang dilontarkannya.

Kami memasuki restaurant favorit kami itu dan terdengar bisikan-bisikan dari wanita yang ada di tempat ini. Siwon adalah pria yang sangat tampan, wajar saja banyak wanita yang mengaguminya atau ada juga yang nekat menyatakan perasaanya. Tapi Siwon memang tidak begitu tertarik dengan wanita. Dia sangat mementingkan karirnya dan mungkin menunggu orang tuanya menjodohkannya? Terakhir kudengar dia dijodohkan dengan anak pewaris tunggal dari Park Coopration.

Mungkin juga mereka heran kenapa dia membawa seorang wanita yang wajahnya penuh luka? Sepertinya nanti aku harus menjelaskan kalau bukan Siwon yang membuat luka-luka ini. Aku tidak mau Siwon di ‘cap’ sebagai Lelaki tidak baik gara-gara aku.

Dia menarik kursi dan mempersilahkanku duduk. Dia memang selalu bisa memperlakukan wanita dengan baik. Aku mengucapkan terima kasih dan duduk di kursi itu.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling dan tertohok ketika melihat Donghae Oppa melihat ke arahku. Sepertinya dia sedang makan malam dengan Sunbae-nya. Dia menguatkan cengkraman di cangkir yang dipegangnya. Aku bergidik ngeri.

Hatiku berdebar. Aku tahu hal apa yang akan terjadi selanjutnya.

Otakku seakan tidak berfungsi ketika dia dengan setengah berlari mendekatiku dan menarik tanganku kasar. Aku berdiri di sampingnya. Dia menatap Siwon dengan rahang mengeras.

“ Aku akan membawanya pulang.”

Siwon menatapku khawatir. Dia memang sudah tahu bagaimana keadaanku dan sifat kekasihku.

Aku menganggukkan kepalaku pelan. Meyakinkannya kalau aku baik-baik saja.

“ Aku pulang dulu, Siwon~ah.”

***

Author POV

Donghae menghempaskan tubuh kekasihnya kasar ke atas sofa yang berada di ruang tamu. Dia menatap mata coklat gadisnya dan mendekatkan tubuh mereka. Dia mengelus dahi Hye Hoon yang penuh keringat. Dengan gerakan cepat ia mengunci bibir Hye Hoon dengan bibirnya. Melampiaskan amarahnya dengan melumat habis bibir gadisnya yang membuat orang yang ada di dekapannya itu meringis kesakitan karena Donghae menggigit bibir bawah gadis itu kuat sedangkan luka bekas di bibir gadis itu masih terasa sakit.

Setelah mendengar ringisan pelan dari kekasihnya, Donghae melepaskan ciumannya.

PLAK

“ JADI KAU LEBIH SUKA DISENTUH OLEH PRIA LAIN?”

PLAK

“ KAU AKAN MENINGGALKANKU DEMI PRIA ITU?”

Kedua pipi Hye Hoon memanas, serta ada guratan merah bekas jari di pipinya. Dia menangis. Menangis histeris sampai tenaganya habis. Tapi dia tahu, kalau seorang Lee Donghae sedang kalap, dia tidak bisa menghentikannya dan hanya pasrah akan apa yang selanjutnya ia lakukan terhadapnya.

“ TERUSLAH MENANGIS, TIDAK AKAN ADA ORANG YANG MENOLONGMU”

Hye Hoon mendekati kekasihnya itu. Dia mengelus kedua pipi kekasihnya lembut, lalu memandangi wajahnya walaupun pandangannya kabur. Berharap Donghae akan luluh.

Donghae menarik tubuh Hye Hoon ke dekapannya. Dia memeluknya erat seakan mengekspresikan rasa takutnya. Takut kehilangan orang yang dicintainya.

“ Aku tidak akan meninggalkanmu, Oppa. Tidak akan pernah.”

Hye Hoon bernafas lega. Setidaknya untuk saat ini dia bisa mengendalikan emosi Donghae-nya. Donghae tidak melepaskan pelukan mereka, dan membawa tubuh mereka untuk tidur berdua di sofa yang sempit. Dia menenggelamkan kepalanya di bahu gadisnya, menghirup aroma tubuhnya.

Ada aroma parfum laki-laki lain di bajunya.

Donghae segera melepaskan pelukannya kasar dan berdiri meninggalkan Hye Hoon yang kebingungan. Tangannya mengepal. Dia menaiki satu persatu anak tangga menuju ke kamar mereka. Hye Hoon mengikuti langkah Donghae dan berhasil menggamit lengannya saat mereka berada di ujung tangga.

Wajah Donghae berubah mengerikan. Sama seperti tadi saat dia menampar wajah Hye Hoon. Dia melepaskan tangannya kasar, tetapi Hye Hoon tidak menyerah. Dia terus berusaha menggandeng tangan Donghae hingga akhirnya dia terjungkal dan jatuh berguling menuruni anak tangga.

Perlahan kesadaran Donghae mulai kembali. Dia melihat kekasihnya yang berada di lantai satu rumahnya itu tergeletak bersimbah darah. Dia berlari menghampiri gadis itu dan memegang tubuhnya, tak perduli kalau kemeja putihnya sudah berubah warna menjadi merah pekat. Dia menggoncang-goncangkan tubuh kekasihnya itu.

“  Hye Hoon~ah, bangun. Kau tidak boleh pergi meninggalkanku.”

***

Donghae menatap lorong itu dengan air mata yang masih membasahi pipinya. Dia sangat ingin berada sedekat mungkin dengan tubuh kekasihnya. Tapi, dia penyebab semua ini. Dia tidak peduli apabila seluruh keluarga Hye Hoon yang sedang khawatir itu memakinya atau membunuhnya sekalipun. Rasa bersalahnya cukup bisa menguasai pikirannya. Dia tidak boleh berada dalam jarak yang dekat dengannya bila tidak ingin menyakitinya.

Tangisan orang-orang di sekitar ruang gawat darurat itu semakin keras ketika dokter yang keluar dari ruangan menyampaikan kata-kata yang tidak bisa didengar oleh Donghae. Sepertinya orang berjubah putih itu membawa kabar buruk. Jantungnya berdebar kencang. Ia sangat tidak ingin kehilangan wanitanya.

Seorang perawat yang keluar dari ruangan yang sama berjalan ke arahnya. Dia segera menghentikan suster itu dan bertanya tanpa basa-basi.

“ Bagaimana keadaanya, Suster?”

“ Pasien mengalami koma.”

Nafasku tercekat. Jantungku serasa dicabut paksa.

Andwae. Aku tidak mau kehilangannya.

***

Dua minggu belakangan ini, hal yang dilakukannya selalu sama. Menunggu di sudut lorong sampai larut malam, sampai tidak ada orang yang menjaganya lagi. Dia memang pengecut. Dia belum berani untuk menampakkan batang hidungnya di depan keluarga Hye Hoon. Dia merasa sangat bersalah terhadap mereka, karena dia yang membuat Hye Hoon tak sadarkan diri.

Ruangan ini sangat hening. Dia hanya mendengar suara alat pendeteksi jantung yang masih berjalan, tak terbayangkan olehnya kalau suara itu sudah menghilang. Cukup dia melihat Hye Hoon menderita seperti ini karenanya.’ Kau berjanji tidak akan meninggalkanku, kan? Bertahanlah, Hoon~ah’.

Donghae memencet lagi speed dial nomor satu-nya dan mendekatkan handphonenya ke telinga. Sudah berkali-kali dia menghubungi gadis itu, tetapi tak sekalipun dia mendengar suaranya. Yang terdengar hanyalah suara operator yang bicara kalau nomor yang dia tuju sedang tidak bisa dihubungi.

Mereka memang sudah berjanji bertemu di café ini semenjak satu jam lalu. Wajar saja Donghae khawatir. Pasalnya, Pacarnya tidak pernah terlambat, dan biasanya dia yang menunggu Donghae. Dia paling tidak tega membiarkan Donghae menunggu, karena menurutnya Donghae itu pria yang dingin dan membosankan, jadi pasti akan lebih membosankan kalau dia hanya sendirian.

Dia bernafas lega setelah melihat siluet orang yang ditunggunya muncul. Dia meletakkan tangannya di dada, hendak memarahi gadis berambut panjang itu. Tapi, setelah gadis itu berada dekat dengan jarak pandangnya, Donghae merasa ada sesuatu yang aneh. Gadis itu berjalan tidak seperti biasanya. Dia melirik kaki gadis itu dan ternyata benar. Ada perban yang terlilit di kaki indahnya.

Tanpa aba-aba dia segera menggendong wanita itu dengan gaya seperti yang dilakukan oleh pengantin baru yang menggendong istrinya tanpa menghiraukan teriakan-teriakan kecil yang keluar dari mulut gadisnya. Dia segera membuka pintu mobil dan mendudukkan Hoon-nya disamping kemudi.

Sepanjang perjalanan Hye Hoon hanya memandang ke luar jendela. Ia masih tidak berani menatap lelaki di sampingnya. Pipinya masih merona. Dia masih malu atas kejadian di café tadi. Tetapi dia tetap kesal pada kekasihnya itu. Setelah susah payah datang ke café , dia tidak bisa menikmati spaghetti kesukaannya. Jadi, dia sedang mempertahankan diri untuk tidak merajuk dan tetap berpura-pura sedang marah padanya.

“ Sayang, apa yang terjadi? Kau baik-baik saja, kan?”

“ Tadi aku menolong anak kecil di jalan. Ada sebuah mobil yang tidak sengaja menabrak tubuhku. Aku baik-baik saja sebelum ada orang yang menarikku paksa ke mobil. Aigoo, apakah orang itu tidak tahu kalau aku sedang kelaparan?”

Donghae menggenggam tangan gadisnya erat, sedangkan tangan kanannya masih memegang kemudi.

“  Mianhae. Aku takut terjadi apa-apa padamu. Kau harus bisa menjaga dirimu sendiri, Sayang. Aku tidak mau hal yang sama terjadi padamu.”

Hye Hoon tersenyum. Dia tahu kekasihnya itu sangat mengkhawatirkannya. Dia mendekatkan tubuhya ke tubuh pria yang dicintainya itu dan menyenderkan kepalanya di bahu tegap lelakinya.

“ Arasso, Tuan Lee. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

***

Seperti biasanya Donghae mengendap ke kamar rawat Hye Hoon. Dia mendengar bahwa Hye Hoon sudah sadar dan ruangannya sudah dipindahkan ke kamar inap. Dia mengamati wajah pucat itu. Di dahinya masih ada perban yang menempel. Dia memegang tangan lembutnya erat dan mencium punggung tangannya berkali-kali.

Hye Hoon membuka matanya perlahan setelah mendengar bisikan orang yang meminta maaf berulang kali kepadanya. Matanya membesar setelah tahu siapa yang sedang berada di ruangannya itu. Walaupun ruangannya gelap, dia tidak mungkin salah mengenali bayangan itu.

Hye Hoon melepaskan tangan lelaki itu kasar. Dia memalingkan muka, tidak mau melihat wujud lelaki itu. Lelaki yang sudah menyakitinya berulang kali.

Dia berteriak histeris “ CEPAT PERGI DARI SINI! AKU SANGAT MEMBENCIMU, LEE DONGHAE”

Setelah itu, dia merasakan nafasnya tercekat dan dengan segera dia memencet tombol untuk memanggil perawat masuk ke kamar pasiennya.

***

 

Donghae segera meninggalkan rumah sakit tempat Hye Hoon dirawat. Dia masih sangat  ingin berada disana, tetapi keadaan yang membuat Hye Hoon menolaknya. Setelah sampai di rumah, lututnya lemas. Semua yang berada di rumah ini mengingatkannya pada Hye Hoon. Baik kenangan manis bersamanya, maupun kenangan buruk yang hampir membuat jantungnya tak berdetak lagi.

Dia segera membuka lemari pendingin. Dia ingat menyimpan beberapa botol minuman beralkohol disana. Mungkin dengan meminum minuman jenis tersebut bisa membuat pikirannya sedikit tenang. Dia sangat membutuhkan minuman itu sekarang.

Setelah meneguk beberapa botol dari minuman tersebut, kepalanya berputar. Toleransi kadar alkoholnya memang tidak tinggi. Tubuhnya ambruk di meja. Tanpa sadar, berulang kali dia mengucapkan nama kekasihnya sambil terisak. Air mata tak henti turun dari kedua matanya.

“ SIAPA LAKI-LAKI ITU ? APA YANG KAU LAKUKAN DENGANNYA?”

Wanita itu terisak. Darah menetes dari sudut bibirnya. Dia memegangi pipinya yang terasa sakit. Rasa sakit itu seakan merembet ke seluruh bagian tubuhya. Dia tidak bisa menopang tubuhnya dengan baik hingga dia jatuh berlutut di hadapan kekasihnya.

“ Dia teman kampusku Donghae~ya. Dia hanya mengantarkanku pulang, tidak lebih.”

“ BOHONG ”

BRAK

Tubuh wanita itu tersungkur di lantai .

***

“ EOMMA, AKU MOHON JANGAN TINGGALKAN AKU, EOMMA JANGAN PERGI, EOMMAAAAA.”

Seorang anak laki-laki yang masih berusia enam tahun itu berteriak tanpa henti. Dia meronta di dekapan sang ayah. Sedangkan ayahnya hanya bisa menatap kepergian istrinya pilu. Anak laki-laki itu tidak rela kalau ibunya pergi meninggalkan keluarganya begitu saja. Meninggalkan keluarganya dengan seorang lelaki tua yang tidak dikenalnya.

Dia mendengar ayahnya berbisik.

“ Relakan Eommamu pergi, nak. Mungkin itu yang terbaik untuknya.”

***

Lelaki tua yang sedang berbaring itu terlihat lemah. Mukanya pucat, bibirnya membiru. Keriputnya semakin terlihat jelas saat dia sedikit mengerutkan dahinya. Dia menatap lelaki muda di depannya lekat. Anak satu-satunya itu memang terlihat sangat khawatir dengan keadaan appanya.

“ Donghae~ya, jaga dirimu baik-baik. Dan jika kau bertemu dengan Eommamu, sampaikan permintaan maaf dari Appa.”

Donghae mengangguk singkat. Dia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun kepada ayahnya yang sudah sangat tidak berdaya.

TIIIIIIIIITTT

Layar menunjukkan garis lurus.

“ APPPAAAAA”

 

Donghae terbangun dari tidurnya seiring dengan mimpi buruknya berakhir. Dia ingin menegakkan kepalanya, tetapi tidak mampu. Kepalanya berdenyut seakan puluhan palu menghantam kepalanya. Akhirnya dia kembali pada posisinya, menelungkup di meja dan menjadikan kedua tangannya sebagai bantal.

Mimpi buruk itu datang lagi. Kejadian-kejadian terpahit dalam hidupnya yang membuat dia menjadi orang yang seperti ini.

***

One Years Later

Mokpo. Tidak semua orang tahu tempat ini. Tempat yang indah dengan laut disekelilingnya. Hye Hoon sangat menikmati keindahan kota ini. Dia sudah tinggal disini sejak dia keluar dari rumah sakit. Orang tuanya bilang kalau ia harus menemukan tempat tinggal baru untuknya. Untuk melepas semua kenangannya. Dan ia memilih kota kecil ini. Karena suatu alasan. Pria itu sangat membenci Mokpo, dan dia tidak mungkin menginjakkan kakinya kesini.

Hati kecilnya tidak akan pernah berbohong. Dia sangat merindukan Donghae-nya.

Tapi banyak hal yang membuatnya ciut hingga dia tak berani mengungkapkannya keras-keras. Dia takut hatinya goyah. Dia takut mengorek lagi luka dalam yang rapat-rapat disimpannya.

Hye Hoon tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari pantai di depannya. Ia begitu mengagumi pemandangan alam yang satu ini. Apalagi, sekarang matahari mulai terbenam dan langit berubah warna menjadi kekuningan. Dia juga menikmati ombak yang saling berkejaran.

“ Sayang, kau tidak bosan memandangi laut seperti itu? Aku saja yang melihatmu dari tadi sudah bosan.”

“ Kenapa ? Toh aku menyukainya.”

“ Tapi aku tidak suka pantai, karena mengingatkanku pada satu tempat.”

“ Dimana?”

“ Mokpo. Tempat kelahiranku. Tempat dimana Eomma meninggalkan Appa karena pria lain. Tempat dimana Appa menghembuskan nafas terakhir sambil masih terus mengharapkan Eomma.”

TES

Cairan bening jatuh membasahi pipi namja itu. Dan Hye Hoon mengerti sekarang, apa yang terjadi pada kekasihnya sehingga kekasihnya itu sangat tidak suka melihatnya dengan pria lain.

Dia membuka matanya lagi. Membayangkan hal yang mereka alami membuat pertahanannya runtuh sehingga air mata mengalir di pipinya. Tiba-tiba ia merasakan tangan kekar yang memeluk tubuhnya dari belakang.

Dia memejamkan matanya. Dia tahu siapa orang yang sedang memeluknya, tetapi malah membayangkan orang yang mendekapnya itu adalah laki-laki lain.

“ Chagiya, kau curang. Kau mengunjungi pantai sendirian. Kenapa tidak mengajakku?”

“ Kenapa aku harus mengajakmu? Kau di Seoul, butuh beberapa jam untuk sampai kesini.”

Dia mengeratkan pelukannya di pinggang  gadisnya.

“ Besok kita kembali ke Seoul. Tuan muda Choi akan menikah minggu depan.”

***

“ Jadi hari ini hari terakhirku di Mokpo?”

“ Kau sudah ratusan kali bertanya hal itu padaku, Hoon~ah”.

Hye Hoon mengerucutkan bibirnya kesal. Orang yang bernama Lee Hyuk Jae ini memang menyebalkan. Dia baru mengenal lelaki ini sembilan bulan lalu, dan lelaki itu terus saja mengejarnya tanpa lelah. Akhirnya, dua bulan lalu mereka berhubungan lebih dekat. Hubungan keduanya masih singkat, tetapi mengingat usia Hyuk Jae yang sudah menginjak dua puluh enam tahun membuat hubungan mereka terlihat serius.

“ Ahh, aku masih ingin tinggal disini. Kalau si Seoul, pasti ada lelaki yang wajahnya seperti monkey terus merecokiku”. Hye Hoon terkekeh ketika melihat kekasihnya menggembungkan pipinya, tanda kalau dia sedang kesal.

Hye Hoon mencubit pipinya gemas. “ Tuan Lee, kau sangat tampan ^^”.

Cho Hye Hoon POV

Tuan Lee? Kepalaku berputar. Sekelibat bayangan muncul di pikiranku. Bahkan hanya satu kata itupun bisa membuat ingatanku kembali padanya, menandakan bahwa sedetikpun aku tidak pernah melupakannya.

Aku tersentak dari lamunanku saat Hyuk Jae balas mencubit pipiku pelan.

“ Aku sudah tahu kalau aku sangat tampan. Kau tidak perlu membeberkannya lagi”. Dia berkata dengan aegyo-nya yang sama sekali tidak imut.

“Cih!”

***

Setelah sampai di rumah, kami disambut hangat oleh seluruh keluarga besarku.

Keadaan hubunganku dengan keluargaku sangat amat membaik sekarang. Semenjak aku sembuh dari ‘koma’ dan setelah aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan lelaki itu, aku diterima lagi di rumah ini. Dari awal mereka memang tidak menyetujui hubunganku dengannya.

Aku langsung memeluk orang tuaku yang sangat kurindukan serta menyapa semua kerabatku. Melepas kerinduan dengan mereka karena sudah setahun lebih tidak berjumpa.

Dimana Tuan Muda Choi itu? Dia yang menyuruhku pulang tapi dia tidak ikut menyambutku? Menyebalkan. Syndrom workaholic-nya pasti kambuh lagi.

“ Eomma, Siwon tidak kesini ?”

Eomma menggelengkan kepalanya. ‘’Tidak”.

“ Hyukkie~ya, sebaiknya kau mengantar Hye Hoon ke kamarnya, pasti dia sangat kelelahan.”

***

Kamar ini masih sama seperti setahun lalu. Saat itu, aku menginap beberapa hari di rumah setelah dari rumah sakit. Lalu, aku meninggalkan lagi kamar ini saat aku pindah ke Mokpo.

Kamar ini cukup simple karena aku memang tidak suka banyak perabotan di kamar pribadiku. Hanya terdapat satu ranjang dan satu lemari. Selebihnya hanya ada meja belajar yang bisa dilipat mengingat aku jarang sekali memakainya.

Hyukjae membantuku berbaring di satu-satunya tempat tidur di kamar ini. Semenjak aku keluar dari pesawat, dia memang tidak pernah melepaskan tangannya dari tubuhku. Sesekali tangannya diletakkan di pundakku, seperti aku adalah orang sakit. Sesekali tangannya ada di pinggangku, menuntun jalanku. Dan itu karena hanya dengan bilang kepalaku sakit.

Dan luka itu terbuka kembali. Saat dia menyakiti fisikku. Menyakitiku seakan aku ini adalah budaknya. Menyakitiku seakan aku adalah wanita tukang selingkuh. Menyakitiku hingga………..

“ Chagiya, ada sesuatu yang mengganggumu? Kenapa kau melamun seperti itu? “

“ Ani Hyukkie~ya. Mungkin karena kondisi badanku kurang fit. Tidak perlu mengkhawatirkanku.”

“ Arasso. Tidurlah. Aku akan menungguimu sampai kau tertidur.”

“ Aku belum mau tidur, Hyuk. Sebaiknya kau segera pulang. Besok ada rapat penting, kan ? Jangan sampai kau terlihat kecapean. Perjalanan Mokpo-Seoul itu tidak sebentar. “

“ Aku tidak akan pulang sebelum kau memejamkan matamu. ”

“ Baiklah. Aku akan tidur sekarang. ”

jaljayo Hoon~ah.”

***

“ Hoon~ah, ada kiriman untukmu. Cepatlah kemari.”

“ Ne, Eomma.”

Aku segera meninggalkan kamarku dan menghampiri ruang tamu. Terlihat Eomma sedang memegang sebuket bunga. Eomma segera menyerahkan bunga itu padaku dan dan dia kembali ke dapur.

Aku menatap heran pada bunga yang kupegang. Kenapa ada orang yang mengiriminya bunga matahari? Atau bunga itu salah kirim? Setelah aku mengecek kartunya, bunga ini memang ditujukan untukku, tetapi tidak mencantumkan nama pengirimnya. Siapa orang misterius yang sengaja mengirim bunga matahari untukku? Mungkinkah….

“ Aku memberimu bunga matahari karena aku ingin kau seperti bunga matahari yang hanya melihat ke satu arah, yakni ke arahku.”

Bisikan itu terngiang ditelingaku. Aku menggelengkan kepalaku untuk menghapuskan bayangan itu. Bayangan tentang kenangan manis yang pernah kulalui. Bersamanya. Hatiku berdebar. Di sisi lain ada perasaan senang yang timbul dari tubuhku, tapi rasa sakit itu lebih mendominasi.

Suara dering telepon menginterupsi lamunanku. Aku segera memencet tombol hijau ketika melihat siapa peneleponnya.

Yoboseyo? Eonnie ? Ada apa?”

“……………..”

Arasso. Aku akan menyuruh Hyukie mengantarkanku kesana.”

“…………….”

Anieyo. Tidak apa-apa Eonnie, aku tidak keberatan sama sekali. Hyukie? Kurasa dia tidak terlalu sibuk, meetingnya sudah selesai tadi. Ne, aku akan segera kesana.”

Setelah memutuskan hubungan jarak jauh kami, aku segera memencet deretan angka yang sudah kuhapal di luar kepala.

“ Hyukie~ya, bisakah kau mengantarkanku?”

***

Setelah Eonnie meneleponku untuk memberitahukan kalau Chaerin, putri satu-satunya tiba-tiba sakit dan dia tidak bisa mengantarkannya ke rumah sakit karena sedang di luar kota. Aku segera meminta Hyukjae untuk mengantarkanku ke rumah Eonnie, dan kami langsung bergegas ke rumah sakit.

Kami berdua benar-benar panik. Kami segera mempercepat langkah kami memasuki rumah sakit dengan Chaerin yang berada di pangkuan kekasihku.

Setelah Chaerin diperiksa dokter, barulah kami bernafas lega. Chaerin hanya terkena demam biasa, dan bisa dibawa pulang setelah kami membeli obat berdasarkan resep tersebut. Anak berusia lima tahun itu memang sudah ditinggal ayahnya sejak sebelum dia mengenal dunia ini. Itulah yang membuat kakakku menjadi seorang Single Parent dan mengurus rumah tangga serta mencari nafkahnya sendiri. Sampai saat ini, kakak perempuanku itu selalu menolak untuk mencari  ayah baru untuk Chaerin, padahal suaminya sudah meninggal 5 tahun yang lalu.

Donghae POV

“ Bagaimana keadaanku sekarang, dokter?”

“ Jauh lebih baik. Kau tidak akan menceritakan sesuatu kepadaku? ”

Aku terkekeh pelan. Apakah sangat terlihat sekali kalau aku sedang bahagia? Bunga matahari itu memberi efek yang sangat baik untukku ternyata.

“ Bagaimana kau bisa tahu kalau sesuatu terjadi kepadaku, Min Ah~ssi?”

Gantian sekarang dia yang tertawa. Otakku belum bisa mencerna kenapa dia tiba-tiba tertawa. Apakah pertanyaanku lucu?

“ Kau lupa, aku lulus dari jurusan psikologi? Sudahlah, itu tidak penting. Malhebwa, apa yang terjadi padamu?”

“ Aku bertemu dengannya. Ani, mungkin belum bisa disebut bertemu karena hanya aku yang melihatnya sedangkan dia tidak mengetahui keberadaanku.”

“ Kau berhasil menemukannya?”

“ Hmm, tapi kurasa dia masih membenciku.”

“ Kau tidak akan tahu sebelum kau mencobanya, Donghae~ssi.”

Wanita itu tersenyum dengan tulus. Dia benar, aku harus bisa mencobanya. Mencoba untuk mengambil hatiku kembali.

***

 

Setelah berpamitan kepada dokter Min Ah, aku segera keluar dari ruangannya. Setelah berjalan beberapa langkah, aku melihat siluet orang yang sangat kukenal. Dia berjalan beberapa meter di depanku, disamping seorang pria yang sedang menggendong anak perempuan.

DEG

Jadi dia sudah menikah? Hye Hoon-ku sudah memiliki seorang suami dan anak? Jadi alasan dia pindah dari Seoul adalah karena dia mengikuti suaminya? Unbeleivable.

Tapi itulah kenyataannya. Apakah semudah itu aku harus melepasnya?

TIDAK.

Aku tidak akan melepasnya. Sampai kapanpun.

***

Aku mengikuti kemana mereka pergi. Mereka pergi ke suatu tempat dan menitipkan anak kecil itu kepada seorang wanita disana. Aku mengenalinya. Dari jarak sejauh ini aku bisa melihatnya dan yakin bahwa itu adalah kakaknya.

Aku tersenyum lega.

Ternyata anak itu adalah anak kakak perempuannya, dan aku yakin Hye Hoon belum menikah dengan laki-laki itu.

Setelah mereka pulang dari rumah itu, Hye Hoon dan lelaki yang disampingnya itu pun memasuki sebuah apartemen. Mungkin apartemen lelaki itu. Dengan langkah tak sabar aku pun mengikuti mereka sampai ke depan suatu kamar. Sebelum mereka masuk, aku segera menarik tangan Hye Hoon untuk menghentikannya. Dia menoleh ke arahku dan mulai berteriak.

“ LEPASKAN AKU!!”. Dia masih memberontak untuk melepaskan genggamanku. Tapi aku tidak akan melepaskannya begitu saja. Tidak lagi.

“ AKU TIDAK AKAN MELEPASMU! KAU HARUS KEMBALI PADAKU”. Aku menatapnya penuh dengan intimidasi. Dia membalas tatapanku tajam, terlihat banyak amarah yang terdapat di tatapannya itu.

Pria yang sejak tadi bersamanya pun tidak tinggal diam, dia melepaskan tangan kami yang bertaut dengan kasar. Aku sudah hilang kesabaran. Cukup sejak tadi aku melihat mereka berdua bermesraan di hadapanku. Aku sudah tidak bisa untuk menahan amarahku.

BRUK

Aku menghantamkan pukulanku di pipinya, sehingga menyebabkan sudut bibirnya berdarah. Hye Hoon berlutut untuk melihat keadaan pria itu. Mataku memanas. Dadaku seakan dihujani beribu pukulan hingga membuat hatiku sangat sakit.

Hye Hoon menatapku dengan penuh amarah, tetapi aku bisa melihat cairan bening keluar dari ujung matanya.

Tolong, jangan menangis karena aku lagi.

“ PERGI! PERGI DARI SINI SEKARANG JUGA”

***

Choi Hye Hoon’s POV

“ Mianhae, gara-gara aku kau jadi begini.” Aku menundukkan kepalaku. Aku sangat malu dengan apa yang ‘mantan’ kekasihku lakukan kepada Hyukjae. Aku masih terkejut dengan kedatangannya tiba-tiba. Sungguh, aku tidak pernah ingin bertemu dengannya dengan situasi seperti ini. Kukira dia sudah berubah sekarang. Tapi nyatanya dia masih sama dengan Lee Donghae yang dulu.

Pria yang sedang berbaring di ranjangnya itu malah mengusap pipiku pelan. “ Ini bukan salahmu, berhentilah menyalahkan dirimu seperti itu. Aku kekasihmu, wajar kalau aku terluka untuk melindungimu.”

Aku terenyuh dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Aku tahu dia tulus, dia tulus untuk melindungiku dan menjagaku.

Dia mendongakkan wajahku lalu menghapus air mata yang menetes di pipiku. Dia mendekatkan wajahnya, meminimalisir jarak diantara kami. Aku terkejut dan buru-buru menghindarinya.

Selama beberapa bulan menjalin hubungan dengannya, aku memang tidak melakukan skinship selain pelukan atau sekedar berpegangan tangan. Tetapi dia selalu memakluminya. Dia tidak pernah menanyakan alasannya dan tidak pernah protes sedikitpun.

Dia memang lelaki yang sangat pengertian. Lalu, mengapa aku masih belum bisa mencintainya secara utuh?

***

A Few Days Later

Pesta pernikahan ini sangat mewah. Wajar saja, kedua mempelai adalah pewaris perusahaan keluarga yang cukup berpengaruh di Korea. Jadi, pernikahan ini tentunya juga berpengaruh terhadap bisnis perusahaan.

Setelah mereka melaksanakan acara pemberkatan di gereja terbesar di Seoul, malamnya mereka menyelenggarakan resepsi pernikahan yang diadakan di salah satu hotel milik keluarga Choi. Aku datang ke acara tadi pagi maupun malam ini, tetapi Choi Siwon itu belum saja menunjukkan batang hidungnya kepadaku sampai sekarang. Aku sangat kesal. Harusnya setelah aku pulang dari Mokpo dia menemuiku, tapi ini? Bahkan setelah pernikahannya pun dia tidakberusaha menemuiku.

Akhirnya dia menghampiriku, walaupun di setiap langkahnya dia harus tersenyum ke semua orang yang menyapanya dan menyambut jabatan orang yang member selamat kepadanya.

“Hoonnie~ya”. Dia menyapaku dengan nada yang biasa kudengar. Tidak ada satu hal pun yang berubah darinya. Dia masih sama, tetapi auranya hari ini berbeda dari biasanya.

Aku tidak menghiraukan panggilannya dan malah melingkarkan tanganku erat di lengan bawah kekasihku. Hyukjae pun tersenyum menatapku ketika tahu apa maksudku.

“Won~ah, dia sedang marah padamu. Kau tahu? Setiap hari dia mencoba menghubungimu dan terus menanyakan tentangmu padaku. Aku tidak bisa menjawab karena aku pun tidak tahu jejakmu. Akhirnya, dia merajuk sepanjang hari. Yak! Kau apakan kekasihku, huh?”

Aissh Hyukjae menyebalkan. Dia tetap saja laki-laki cerewet yang tidak bisa menjaga rahasia orang lain.

Siwon terkekeh mendengar perkataan Hyukjae. Dia pasti akan meledekku sekarang.

“Kau begitu merindukanku, Hoonie~ya? Mianhae, aku sibuk akhir-akhir ini. Aku akan mengambil cuti setelah menikah, jadi perkerjaanku lebih berat kemarin. Aku juga lelah mempersiapkan untuk pesta pernikahan ini”.

Aku tersenyum ke arahnya. Aku mengerti dengan segala kesibukannya, aku hanya sebal kenapa dia tidak bisa dihubungi. Aku khawatir padanya.

Aku mendekatkan tubuhku denganya dan menariknya dalam pelukanku. “ Aku sangat merindukanmu, berhentilah membuatku khawatir”.

Ehm

Ada suara orang yang berdehem di belakangku. Aku semakin mengeratkan pelukanku dengan teman baikku ini. Aku sangat ingin mengerjainya. Siwon yang mengerti maksudku pun tidak melepasnya.

Aku dan Siwon tertawa pelan saat Hyukjae menarikku untuk melepaskan pelukan kami. Bibirnya mengerucut kesal. Jadi, dia cemburu pada temannya sendiri?

“Yak! Berhentilah menertawakanku. Memang kenapa kalau aku cemburu pada Siwon? Dia juga kan pria. Sayang, kau harus menjauhinya. Dia sudah beristri sekarang.”

Aku terkekeh pelan. Kadang dia memang suka merajuk seperti anak kecil. “ Arasso, Sajangnim.”

Aku mengalihkan perhatianku pada Wonnie yang ada di depanku. “Wonnie~ya, chukkae. Semoga pernikahan kalian langgeng. Ngomong-ngomong, istrimu disana sepertinya sedang mencarimu.”

“Aku harus menemuinya, orang tua kami pasti mencariku. Hyukjae, tolong jaga gadis manja ini”. Dia segera pergi sebelum aku melayangkan pukulan di tubuhnya. Ahh, aku sangat merindukan kebersamaan kami.

Hyukjae pergi dari sampingku untuk membawakan kami minuman. Aku memutuskan untuk berkeliling karena aku tidak suka sendirian berdiri mematung seperti itu. Setelah berpapasan dengan banyak orang yang tidak pernah kulihat sebelumnya, akhirnya aku menemukan seseorang yang kukenal.

“Ji yeong~ssi?”. Aku yakin itu Ji Yeong, tapi aku takut salah mengenali karena potongan rambutnya yang berubah dan make up tipis yang menghiasi wajah cantiknya.

“ Eonnie”. Dia langsung memelukku dan melepaskannya kembali. “ Apa kabar, eonnie? Kudengar kau sakit saat keluar dari rumah Donghae Oppa.”

“ Aku baik-baik saja Jiyeong~ah. Aku sudah sembuh sekarang. Kau bagaimana?”. Dia memang belum tahu apa keadaanku. Biasanya, apapun yang terjadi kepadaku dia pasti orang yang pertama tahu. Setelah aku pindah ke rumah Donghae, memang dialah orang terdekatku. Kim ahjumma, Eomma Jiyeong, juga sangat dekat denganku. Mereka adalah tetangga yang seperti keluarga sendiri.

“ Aku baik-baik saja, Eonnie”. Dia tersenyum dan sedetik kemudian raut wajahnya berubah. Dia terlihat khawatir. “ Aku khawatir dengan Oppa, Eonnie~ya. Sejak tiga hari yang lalu, dia tidak keluar rumah. Parahnya, dia tidak membukakan kami pintu. Jadi, dia tidak makan apapun selama tiga hari”.

Aku tertegun. Mendengar keadaannya seperti itu membuat hatiku sakit. Apalagi, aku tahu apa yang membuatnya seperti ini.

“ Aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian. Tapi Oppa sudah mencoba untuk berubah, Eonnie~ya. Dia sudah menjalani terapi untuk kesembuhannya”. Aku masih tertegun. Aku tidak tahu harus mengatakan apa dan berbuat apa.

Dia menggenggam tanganku erat. “ Eonnie, aku mohon. Bisakah kau mengunjunginya? Hanya kau yang bisa membujuknya. Kalau kau memang benar-benar membencinya, bisakah melakukan semua ini untukku?”

“ Jiyeong~ah, aku…..”

“ Aku mengenalmu Eonnie~ya. Kau masih peduli padanya, kan? Tolong, Eonnie.”

Aku akan menjawabnya tetapi Hyukjae sudah berada di sampingku. Dia bingung mungkin karena aku berbicara dengan orang yang tidak dia kenal. Setelah aku mengenalkannya pada Jiyeong, kami segera meninggalkannya dan berpamitan kepada keluarga Siwon untuk pulang.

***

“ Kau kenapa, Hoon~ah? Kau terlihat menjadi pendiam sejak tadi. Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?”.

Aku sama sekali tidak berkonsentrasi karena memikirkannya. Aku sangat takut sesuatu terjadi padanya.

De?”

“ Kau kenapa, Hoon~ah? Sejak beberapa hari lalu kau berubah menjadi pemurung. Apa ini ada hubungannya dengan orang yang memukulku? Kalau kau tidak keberatan, kau bisa cerita padaku”.

Dia menatapku khawatir, tetapi bisa tetap berkonsentrasi pada jalanan di depannya.

Dia mengerti dengan keadaanku. Dia menggenggam tanganku erat dengan tangan kirinya yang bebas.

“ Aku tidak ingin memaksamu untuk bercerita padaku, tapi kau akan baik-baik saja, kan? Aku tidak mau ada sesuatu hal yang membebaniku”.

Dia selalu bisa membuatku tenang. Aku menganggukkan kepalaku pelan untuk meyakinkannya.

“Aku akan baik-baik saja, Hyukie~ya”.

Kurasa aku harus memastikannya. Aku tidak bisa menahan rasa takutku begitu lama.

“ Hyukie~ya bisakah kau mengantarkanku ke suatu tempat?”

***

“ Kau baik-baik saja sendiri? Aku akan menunggumu sampai kau selesai”.

Aku memang meminta Hyukjae untuk mengantarkanku ke rumah ini. Tetapi aku tidak memberitahunya siapa yang menempati rumah ini. Tapi aku tahu, dia pasti mengetahui siapa orang yang menempati rumah ini.

“Tidak perlu, Hyukie~ya. Aku bisa menginap di rumah Jiyeong. Aku juga sangat merindukannya.”

Aku tidak mau dia menungguku, karena aku tahu dia sangat lelah hari ini. Aku tidak bisa membiarkannya disini menungguku sedangkan aku menemui pria lain? Aku terlihat seperti wanita yang sangat kejam.

Aku melihat mobil Hyukie sudah meninggalkan jalanan depan pagar tinggi ini. Aku membuka pintu pagar yang tidak dikunci. Aku tahu kebiasaannya, dia memang tidak akan mengunci pintu gerbangnya jika dia sedang dalam keadaan kacau seperti ini.

Aku memasukkan deretan angka yang berada di gagang pintu. Setelah aku memencet enter, terdengar suara beep. Dia tidak mengganti passwordnya.

Setelah aku membuka pintu, ruangan yang gelap membuatku tidak bisa melihat apapun. Terlihat seperti tidak ada orang sama sekali di sini. Aku menaikkan saklar untuk menyalakan lampu di ruangan tamu. Seketika pemandangan yang sangat membuatku sakit tertangkap oleh kedua mataku. Dia sedang duduk di lantai dengan kepala yang diletakkan di atas meja. Di sekitarnya terdapat beberapa botol bekas minuman berarkohol yang berserakan.

Dia tidak pernah minum sebanyak ini sebelumnya. Apakah ini yang dia lakukan setelah aku pergi?

Badannya lebih kurus sekarang. Dan punggung itu terlihat sangat lemah. Dia masih memakai pakaian yang dikenakannya ketika menemuiku beberapa hari lalu.

Kemudian, aku mendengar suara tangisan. Dia menangis, karenaku. Tanpa sadar aku meneteskan air mataku dan aku menutup mulutku untuk menahan isak tangisku. Aku sangat tidak suka melihatnya seperti ini. Perasaan benciku padanya menguap begitu saja. Dia lebih menderita daripada aku.

Aku menghampirinya dan mencoba menegakkan tubuhnya. Dengan susah payah kubawa tubuhnya untuk berbaring ke kamarnya. Setelah dia berbaring, aku melepaskan sepatunya dan mengecek suhu tubuhnya dengan meletakkan punggung tanganku di dahinya.

Dia demam tinggi.

Aku mengelus rambutnya pelan, dan hal itu membuatnya perlahan membuka matanya.

Matanya mengerjap. Dia mengucek matanya dengan jari-jarinya untuk memperjelas pandangannya. Mungkin matanya belum terbiasa untuk terkena cahaya lampu yang menyinarinya.

“ Hye Hoon?”. Suaranya masih sama. Lembut dan menenangkan. Suaranya seperti suatu candu bagiku. Aku bisa tenang hanya karena mendengar suaranya. Dulu, sesekali dia memang sering menyanyikan lagu pengantar tidur untukku.

Aku hanya terdiam. Aku tak tahu harus berkata apa padanya. Aku harus menghindarinya. Aku memutuskan untuk mengambilkan kompres untuknya.  Tapi baru saja aku akan beranjak dari tempat tidur itu, ada sebuah genggaman yang menahan langkahku.

Aku menghela nafas dan membalikkan tubuhku menghadap ke arahnya. Dia menatapku dengan penuh permohonan.

“ Aku mohon jangan pergi, Hoon~ah.”

“ Aku hanya akan mengambil kompres untukmu”.

Setelah kata-kata itu keluar dari mulutku, aku menghentakkan tangannya kasar dan berjalan cepat ke arah dapur. Aku mengambil baskom dan mengisinya dengan air yang dicampur dengan es, dengan handuk kecil di dalamnya.

Setelah itu, aku memasak semangkok bubur untuknya. Setelah buburnya matang, barulah aku kembali ke kamar .

Aku mendekati kamar itu pelan, ingin kalau aku sudah berada di situ Donghae masih tertidur. Aku belum siap untuk bertatap muka lagi dengannya. Aku takut perasaanku yang selama ini kupendam dapat terbaca lagi.

Kudapati dia masih terbangun. Matanya melihat ke langit-langit kamar, seperti sedang memikirkan sesuatu. Apakah semenjak aku pergi dari rumah ini dia seperti itu?

Mendengar pintu dibuka, dia menoleh ke arahku dan tersenyum. Aku salah tingkah dan memfokuskan mataku pada lantai. Sepertinya dia masih memperhatikanku sampai aku duduk di samping ranjangnya. Aku mengalihkan pandanganku ke hal lain selain matanya.

Setelah meletakkan handuk kecil di dahinya, aku menyerahkan mangkok bubur itu padanya. Tapi dia menggeleng, dan memintaku untuk menyuapinya. Akhirnya aku mengalah, dan menyuapkan bubur di mangkok itu kepadanya hingga habis. Pada saat aku melakukannya, matanya tak lepas dari wajahku, membuatku risih.

Jam sudah menunjukkan pukul 2 malam. Kurasa Sepertinya aku harus pulang. Aku melangkahkan kakiku tanpa pamit padanya. Ada sebersit rasa kecewa saat dia tidak menahanku untuk tetap tinggal. Sejurus kemudian aku merasakan sepasang tangan mendekap pinggangku erat. Dia meletakkan dagunya di pundakku, dan menghirup nafas disana.

“ Bisakah kau tidak pergi lagi dariku? Mianhae, aku tahu betapa menderitanya kau karenaku. Tapi, aku akan memperbaiki semuanya, Hoon~ah. Tolong, berikan aku kesempatan”.

Aku memejamkan mataku, menikmati pergolakan batinku yang sedang bertarung. Di satu sisi aku akui, aku masih sangat mencintainya. Tapi di sisi lain, amarahku padanya belum padam. Masih teringat perlakuan-perlakuan kasarnya padaku dulu. Tetesan air mataku mengekspresikan betapa buruknya suasana hatiku saat ini.

Kebencian menang.

Aku melepaskan lengannya yang sedang melingkar di pinggangku perlahan dan berjalan menuju pintu utama.

Dia menarik tanganku kasar, dan membawaku ke kamar yang di tempatinya. Dia mengunci pintunya dan menyimpan kuncinya di saku jeansnya.

Aku terpekik ketakutan. Bayangan tentang malam kelam itu muncul lagi. Tubuhku merosot ke lantai dan aku menenggelamkan kepalaku di lututku yang ditekuk.

Dia tidak menghiraukan kondisiku dan mengangkatku ke ranjangnya lalu membiarkanku berbaring.

“ Ini sudah malam, kau tidur disini saja. Aku tidak tega membiarkanmu pulang selarut ini.”

Dia mengecup keningku lembut dan menyelimuti tubuhku dengan kain tebal. Dia lebih memilih tidur di sofa yang tidak cukup menampung tinggi tubuhnya sehingga kakinya menggantung di kaki sofa.

Memang ini bukan pertama kali dia bersikap perhatian kepadaku. Tapi, ini sudah cukup lama, kan? Wajar saja pipiku memanas dan jantungku berdebar kencang.

***

Aku memandangi wajah pulasnya sejenak, sebelum kemudian melangkahkan kaki ke pintu kamar. Ahh aku lupa, dia kan yang memegang kuncinya?

Setelah memutar otakku cukup lama, akhirnya aku memberanikan diri untuk membangunkannya.

Aku menepuk bahunya pelan, dan dia dengan segera membuka matanya.

“ Pintunya dikunci, jadi… aku…”. Tak dipungkiri rasa gugup itu masih menyelimutiku. Apalagi berdua dengannya di kamar membuat suasana menjadi canggung.

“ Kau menginginkan kuncinya?” Aku mengangguk cepat. Dia menegakkan tubuhnya, tetapi tubuhnya limbung. Aku segera menahannya dan aku mengerjapkan mataku saat merasakan bahwa jarak kami sangat dekat. Dia menegakkan tubuhnya lagi dan aku melepaskan tanganku dari pinggangnya.

“ Biar aku saja. Kau serahkan saja kuncinya padaku dan kau bisa melanjutkan tidurmu.”

***

“ Kenapa tiba-tiba mengajakku berkencan, Hyukie~ya ?”. Tidak biasanya Hyukjae bersikap seperti ini. Hari ini masih hari kerja dan dia meninggalkan pekerjaannya hanya untuk mengajakku kencan? Sungguh mengejutkan dari workaholic seperti dirinya.

Dia memang tersenyum seperti biasanya. Tetapi aku menangkap ada sesuatu yang berbeda dari sikapnya. Telihat sedang mencemaskan sesuatu ? Itu yang kutangkap dari sorot matanya.

“ Kepalamu tidak terbentur dinding, kan?”. Dia terkekeh mendengar pertanyaan polosku. Sungguh,aku belum mengerti kenapa dia tiba-tiba berubah.

“ Wae? Kau seperti mendoakan agar hal itu terjadi padaku?”. Dia tertawa lagi.” Aku hanya ingin menghabiskan waktuku bersamamu, Hoon~ah.”

“ Jinja?”. Dia mengangguk semangat. Taman ini memang tidak terlalu ramai pada hari kerja seperti ini, tetapi pemandangannya jadi lebih asri dan aku sangat suka.

“ Kau duduk di sini, aku akan membelikanmu minuman sebentar”. Dia menunjuk bangku terdekat dari tempat kita berdiri saat ini, dan meninggalkanku sendiri.

Setelah beberapa lama menunggu, dia tak kunjung datang. Aku mengedarkan pandanganku sekeliling untuk mencarinya. Tapi mataku malah menemukan orang lain.

Dia berjalan menghampiriku. Suasana canggung masih menyelimuti kami.

“ Aku disini karena Hyukjae yang memintaku. Gwenchana?”

Aku menggelengkan kepalaku. Jadi, Hyukjae menyuruh Donghae kesini untuk menemuiku? Dan alasan dia meninggalkanku tadi karena dia ingin memberikanku waktu berdua dengan Donghae?

Aku menarik tasku secepatnya tapi gerakan Donghae lebih cepat daripada aku.

“ Hoon~ah, berhentilah bersikap seperti ini kepadaku“.

Aku menatap matanya dengan lantang.

“ Lalu aku harus bagaimana? Katakan Lee Donghae~ssi”.

Air mataku mengalir deras begitu saja.

Dia menarikku dalam pelukannya.

“ Maafkan aku. Aku sangat mencintaimu, Hoon~ah. Aku berjanji, aku tidak akan pernah melukaimu lagi.”

Aku melepaskan pelukannya dan menatap matanya dalam. Mata teduh favoritku.

Aku tersenyum singkat.

“ Aku juga masih mencintaimu, Oppa.”

END

61 thoughts on “Scar

  1. Seram bgt donghae oppa nya kasar sama Hye hoon, Hyukjae oppa yg notabene nya pacar Hye Hoon skrg daebak bgt merelakan kembali Hye Hoon kembali pd Donghae oppa krn ia th Hye Hoon msh mencintai Donghae oppa

  2. aku kira hye hoon akan sama hyukjae..
    akkh bijaksananya hyukjae membiarkan wanita yang di cintainya..
    kembali ke mantan ke kasihnya..

    dag dig dug sih bacanya..
    donghae posesif banget kayak psikofat gitu deh dia..
    aku tadinya setuju kalu hye hoon sama hyukjae aja..
    dan pada akhirnya hye hoon cinta sama hyukjae

  3. Dari awal sampe pertengahan bikin dag dig dug..
    Aku kira Donghae itu bipolar. Karna rasa takut kehilangan maka’a dia begitu sm Hye Hoon..
    Tp serius, ending’a kurang nampol..
    T’lalu sederhana bgt, padahal dari awal udh keren..
    Tp over all ttp bagus ko..
    Dalam cinta itu kan mmg hrs ada yg dikorbankan..

    Jia Jung

  4. si donghae bilang cinta tapi habis itu nyakitin hyehoon ._. tapi dia depresikan tuh? jadi yah wajar lah emosinya ga stabil
    tapi yang namanya sabar ada batasnya ya, hyehoonnya benci juga sama donghae kkk

    eh itu endingnya kurang greget ya, hyuknya berasa berubah jadi malaikat baik banget dia, mending hyuk sama aku aja sini hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s