[ Ficlet ] Imperfect


Cast   :   Choi Hye Hoon (OC)

                Lee Donghae

                Choi Hye Rin (OC)]

Genre: Romance

Rating: PG-13

Length: One Shoot

Author: Elsagyu

Aku menatap bungkusan-bungkusan di hadapanku dengan bingung. Bagaimana caraku untuk mengangkat ini semua? Ini terlalu banyak. Tubuh mungilku tak akan mampu mengangkat barang sebanyak ini.Aku mencoba mengangkat semuanya dengan kedua tanganku. Baru saja beberapa langkah, keseimbangan tubuhku hilang. Maklumlah, hadiah-hadiah ini menghalangi penglihatanku.

Aku meringis kesakitan ketikan lututku mengalami benturan dengan lantai. Semua orang di jalan melihatku iba. Tapi aku tidak perduli dan segera mengumpulkan hadiah itu kembali. Tiba-tiba ada sepasang tangan yang membantuku. Dia memungut satu-persatu bungkusan itu.

“ Aku tidak butuh bantuanmu”. Nadaku terdengar sedikit memerintah, terlihat kasar memang, tapi aku sedang tidak mood untuk meladeni pria itu.

“ Aku memaksa. Dan aku akan mengantarmu pulang hari ini”. Aku menghela nafas. Sudah beberapa bulan ini aku terus menerus diganggu oleh pria ini.

“ Terima kasih, tetapi masih banyak taksi di luar sana yang bisa mengantarku”. Seakan tidak peduli, dia terus berjalan dan meletakkan bungkusan itu di mobilnya.

Lee Donghae memang tidak bisa dibantah.

***

“ Kau akan membawaku kemana?”. Aku bertanya malas. Sebenarnya aku sangat tidak ingin untuk memulai pembicaraanku dengannya.

Dia memamerkan seringaiannya.

“ Kau akan tahu sebentar lagi”.

 Aku menarik nafas dalam, meredakan emosiku. Aku hanya ingin pulang ke rumah sekarang. Mata kuliah statistika tadi membuatku sangat pusing, aku butuh istirahat.

Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya dia memarkirkan mobil sportnya di suatu restaurant mewah. Dia menarikku untuk memasuki tempat itu, tanpa menghiraukan penolakanku.

Suasana restaurant ini sangat romantis, tak heran banyak sekali pasangan yang menikmati makan malamnya disini. Apalagi hari ini hari yang spesial, pasti mereka tidak mau kehilangan moment penting ini.

Aku membenarkan kacamata tebalku, melihat ke sekeliling tanpa menghiraukan tatapannya. Berada berdua dengannya membuatku gugup. Entah sejak kapan, setiap melihatnya seperti ada kupu-kupu terbang di sekitar perutku, membuatku geli sekaligus senang.

“ Kau suka tempat ini?”. Aku menatap mata teduhnya. Jantungku berdebar kencang. Aku berusaha menetralkan debaran jantungku. Aku tidak boleh terlihat seperti orang bodoh di depannya.

“ Tidak. Bisakah kau segera membawaku pulang?”. Bodoh. Aku memang payah. Kenapa malah kata-kata itu yang keluar dari mulutku?

“ Hoon~ah, bisakah kau tidak bersikap dingin terhadap calon pacarmu?”. Aku memang sering mendengar kalimat itu, tetapi tetap saja kalimat itu membuat jantungku berdetak tak karuan.

Aku memang menyukainya, ani, bahkan mungkin mencintainya.

***

“ Eonnie, aku sudah meletakkan hadiah-hadiahmu di meja”. Dia tidak menghiraukanku dan masih berkutat dengan make up yang dipoleskan ke wajahnya.

Choi Hyerin. Dia adalah kakakku satu-satunya. Dia adalah seorang model, wajar saja kalau mempunyai banyak fans. Dari dulu, dia selalu menjadi primadona di sekolah. Saat dia sudah menginjak universitas pun, hal itu tidak berubah.

Sedangkan aku? Sejak dulu aku hanya gadis biasa, tidak cantik bahkan tidak pernah memperhatikan penampilan. Aku memakai kacamata tebal, rambut yang selalu di kepang dua, bahkan tidak pernah memakai baju yang seksi.

Beberapa menit kemudian, akhirnya dia menjawab pernyataanku. “ Gomawo, Hoon~ah. Kau bisa pilih barang apa saja yang kau suka.”

Dia selalu membuatku iri. Dia dipuja semua orang. Sedangkan aku? Aku hanya seperti ‘ajudan’ nya. Tidak ada orang yang pernah mendekatiku dengan tulus. Mereka mendekatiku karena mereka ingin dekat dengan kakakku.

“ Tidak usah, Eonnie. Kalau begitu aku akan kembali ke kamarku.”

***

Beberapa hari ini aku tidak melihatnya. Aku khawatir. Apakah terjadi sesuatu dengannya? Aku menatap handphoneku pasrah. Sudah beberapa hari juga dia tidak pernah menghubungiku. Aku memang tidak pernah merespon panggilan atau pesan teksnya. Tapi bisakah dia tidak menghentikannya? Dia sungguh membuatku cemas.

Kenapa aku jadi mencemaskannya seperti ini? Aku bukan siapa-siapanya, kan?

“ Kenapa menatap ponsel seperti itu? Kau mencemaskanku, Hoon~ah?”. Aissh kenapa orang ini datang tiba-tiba disaat seperti ini? Sungguh dia membuatku seperti orang bodoh.

“ A-Anieyo. Aku sedang menunggu telepon dari kakakku”. Dia terdiam sejenak dan sedetik kemudian tertawa terbahak-bahak. Apa dia sudah gila?

“ Kau tidak pandai berbohong, Hoon~ah”. Dia masih tertawa, dan itu malah membuatku kesal. Aku menghentakkan kakiku dan meninggalkannya sendiri.

Aku selalu salah tingkah bila di dekatnya -_-

***

Jalanan ini sangat sepi, padahal ini belum terlalu malam. Mungkin karena ini malam Jum’at, jadi orang-orang tidak berani untuk berkeliaran di jalanan. Dikarenakan malam ini sering didapati adanya pemabuk yang seringkali mengganggu ketenangan. Sebenarnya aku juga bukan orang yang sering keluar rumah malam-malam begini, tapi tadi Hyerin Eonnie menyuruhku untuk membelikan krim malam nya yang sudah habis. Lokasi tempat toko alat kosmetiknya tidak terlalu jauh dari rumah, jadi aku tidak perlu naik taksi maupun bis.

Setelah membelinya, aku bergegas pulang ke rumah. Aku mempercepat langkahku ketika aku memiliki firasat bahwa ada seseorang yang mengikutiku dari belakang. Tetapi langkah orang itu lebih cepat, dia membekap mulutku dari belakang sehingga aku tidak bisa teriak. Bau alkohol menyeruak dari bibir orang itu.

Aku yang tidak bisa melawan dibawa orang asing tersebut ke sebuah gang kecil. Dia melepaskan tangannya dari mulutku dan aku berbalik menatap wajahnya. Dia sudah berusia paruh baya, tidak jauh berbeda dengan umur ayahku. Dia memojokkanku di dinding dan mencoba meraih bibirku.

Aku tak henti-hentinya berteriak dan memukul-mukul kepalanya agar menjauh dari tubuhku. Tapi tetap saja dia tidak bergeming karena tenagaku sebagai perempuan tidak sebanding dengannya.

Tiba-tiba tubuhnya menjauh karena ada seseorang yang menarik kerah bajunya dari belakang. Setelah dia menjauh, aku merosot ke tanah dan menenggelamkan wajahku di lututku sendiri. Aku takut.

Setelah beberapa saat, aku masih dalam posisi tadi sambil menangis.

“ Hoon~a, Gwenchana?”. Aku mengenal suara maskulin itu. Tanpa basa-basi aku langsung memeluknya erat. Masa bodoh dengan harga diri yang selalu kutunjukkan dihadapan lelaki itu. Aku butuh orang yang bisa menenangkanku sekarang.

Dia membalas pelukanku dan mengelus rambutku pelan. “ Kau akan baik-baik saja, Hoon~a. Tenanglah”.

***

Aku tidak memperdulikan suara klakson yang ditekan terus menerus oleh orang yang mengikutiku sejak tadi. Aku terus berlari ke halte bis karena aku sudah terlambat. Tapi sayangnya, sebelum aku mencapai tempat pemberhentian bis tersebut, bis itu sudah meninggalkan halte.

Suara klakson itu masih berbunyi di depanku, membuat semua orang di halte menatapku horror. Mungkin mereka terganggu dengan suara itu. Baiklah, aku mengalah.

Aku membuka pintu mobil itu dan seketika melihat pengemudinya tersenyum lebar. Dia terus memperhatikanku dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari bibirnya.

“ Kau sudah puas memandangiku? Cepatlah, aku sudah terlambat”.

Dia terkekeh dan segera men-starter mobilnya.

“ Mulai hari ini, setiap hari kau akan diantar jemput olehku. Kau tidak boleh pergi kemanapun sendirian”. Nadanya terdengar serius. Aku jarang mendengarnya berbicara dengan nada seperti ini.

“ Kau tidak berhak menyuruhku. Kau bukan siapa-siapaku”.

“ Mulai sekarang kau adalah kekasihku”.

“ De? Jangan bicara macam-macam, Tuan Lee”.

“ Kau mencintaiku, kan?”

DEG

Sejak kapan dia bisa membaca pikiran orang?

***

Aku memang tidak pernah mengiyakan kalau dia resmi menjadi kekasihku, tetapi dia memperlakukanku seolah hal itu benar-benar terjadi. Dia menepati janjinya untuk setiap hari mengantarku ke kampus dan pulang bersamanya jika kelas berakhir. Aku tidak bisa menolak, apalagi kalau dia sudah memamerkan ‘aegyo’ nya.

Hubungan kami memang semakin dekat, dia makin intens berada di sampingku, dan selalu menanyakan kabarku tiap menit jika aku jauh darinya.

Hari ini Eonnie melakukan peragaan busana di salah satu hotel terkenal, dan tentunya dia mengundang kami sekeluarga. Tapi Eomma dan Appa sedang sibuk, jadi aku berangkat sendiri, ditemani supir pribadiku.

Supir pribadi? Ah, ani. Kekasihku. Sebenarnya menyebutkannya sebagai kekasihku membuat pipiku merona. Aku malu karena  ini pertama kalinya aku mempunyai seorang kekasih.

Suara klakson berbunyi. Buru-buru aku keluar dari rumahku dan menguncinya. Langkahku sedikit terhambat karena dress yang kupakai dan high heels yang cukup tinggi membalut tubuhku. Aku tidak terbiasa memakai pakaian seperti ini. Tapi, tadi Eonnie menyiapkannya untukku, jadi aku tidak tega untuk tidak memakainya.

Aku masuk ke mobilnya lewat pintu di samping pengemudi, memasang sabuk pengaman dan siap untuk berangkat. Tapi, dia masih terpaku memandangiku.

“ Apa aku terlihat aneh? Ah, aku tahu jadinya akan begini. Kau tunggu disini, aku akan kembali lagi ke kamar dan bersiap-siap. Hanya sebentar”. Aku melepaskan safety belt yang kupakai, tetapi tangannya menghentikanku.

“ Jangan, kau terlihat sangat cantik”. Dia mendekatkan wajahnya ke arahku dan melepaskan ikat rambut yang kupakai, membuat rambut hitamku tergerai. Dia merapikan helaian rambutku dengan tangannya.

Jantungku berdetak tak karuan. Sungguh, ini pertama kalinya ada orang yang memujiku seperti itu.

Dia masih menatap mataku yang berwarna kebiruan karena memakai lensa kontak. Jarak kami masih sangat dekat. Dia mengecup puncak kepalaku perlahan, membuat aku memejamkan mataku, merasakan ketulusannya. Dia melepaskan bibirnya dari dahiku, dan tangannya mengusap pipiku dengan lembut.

“ Jangan pernah tampil cantik dihadapan orang lain selain aku.”

***

Sorak sorai membahana di seluruh penjuru ruangan saat kakakku muncul dari balik panggung. Dia adalah primadona untuk malam ini, yang memperagakan busana paling cantik dari desaigner ternama di Korea. Semuanya mengaguminya. Dia memang sangat sempurna. Tubuhnya semakin indah dibalut dengan gaun panjang berwarna silver itu.

Tiba-tiba aku merasa ada yang aneh pada diri kakakku. Dia terlihat sangat pucat walaupun wajahnya ditutupi make up tebal. Sebelum aku menyadarinya, seketika tubuh kakakku melemas dan terjatuh di atas stage.

Rasa terkejutku bertambah beberapa kali lipat saat orang yang berada di sampingku segera berlari kencang ke arahnya. Dia menggendongnya keluar dari kerumunan, mungkin membawa Eonnieku ke rumah sakit.

Dadaku sesak. Hatiku sangat sakit. Aku memang khawatir dengan keadaan kakakku, tetapi rasa sakit itu lebih mendominasi. Apakah ini rasanya, saat orang yang kau cintai ternyata melupakanmu hanya karena wanita lain?

***

Aku segera berlari di lorong rumah sakit sesaat setelah menanyakan dimana letak ruangannya kepada suster yang berada di depan tadi. Aku harus memastikan keadaan kakakku itu baik-baik saja, apalagi orang tuaku masih dalam perjalanan kesini.

Aku berniat membuka pintu tetapi aku mengurungkan niatku karena aku mendengar percakapan dari dalam

“ Kau bisa menghentikannya sekarang, Donghae~ya. Aku mau jadi kekasihmu. Bukankah aku sudah mengatakannya beberapa hari lalu? Kenapa kau masih belum meninggalkan adikku?”

DEG

Jadi, selama ini Donghae tidak benar-benar mencintaiku?

Air mataku lolos begitu saja. Tubuhku lemas, hingga aku jatuh terduduk di lantai.

“ Hoon~ah”. Donghae membuka pintu kamar rawat itu dan memanggil namaku. Aku tak bergeming sedikitpun dari posisiku.

Aku masih menundukkan  wajahku, tidak ada keinginan sama sekali untuk menatapnya. Dia mensejajarkan tubuh kami dan meraih daguku. Dia menaikkan wajahku, memaksaku untuk melihat ke arahnya.

“ Hoon~ah, itu tidak seperti……….”

“ Seharusnya aku tidak memiliki harapan yang terlalu tinggi bahwa akan ada pangeran yang mencintaiku dengan tulus. Nyatanya gadis jelek seperti aku tidak akan pernah mendapatkan semua itu. Lelaki sempurna pasti menginginkan wanita yang sempurna juga. Chukkae, semoga kalian bahagia”.

Aku melepas paksa tangannya dan berdiri dan mengambil langkah cepat untuk mendahuluinya. Aku tidak mendengar ada langkah kaki yang mengikutiku.

Dia tidak pernah mencintaimu, Hye Hoon……

***

Beberapa hari kemudian, kakakku sudah pulang dari rumah sakit. Sakitnya memang tidak terlalu parah, hanya capek dan lemas karena dietnya yang terlalu ketat.

Dia tidak mencoba menghubungiku sama sekali. Hubunganku dengan kakakku juga memburuk. Aku tidak pernah mengunjunginya lagi saat di rumah sakit, dan saat dia di rumah pun, aku tidak pernah bertukar sapa dengannya.

Dia memang kejam. Bagaimana mungkin dia meminta Lee Donghae untuk menjadikanku kekasih untuk syarat agar Lee Donghae bisa menjadi kekasihnya?

Aku masih berjalan pelan menuju kelas. Aku sangat malas sebenarnya masuk kelas hari ini. Karena dia juga akan menempati kelas yang sama denganku. Jika saja tidak ada tugas yang harus dikumpulkan, sepertinya aku akan memilih untuk tidak mengikuti mata kuliah ini.

Aku merasakan tanganku ditarik dari belakang oleh seseorang. Sepertinya aku tahu itu siapa, karena aku juga sering mengalami hal yang sama.

“ Yak! Lepaskan aku !”

“ Tidak sebelum aku bicara denganmu”.

***

Sungai Han. Aku sangat senang berada disini. Dan namja itu sudah tahu hal ini. Dia sengaja membawaku kesini untuk menyogokku, hah?

Kami duduk di mobil tanpa atap, dan masih terdiam.

“ Hoon~ah, aku sadar aku memang pernah berniat untuk mempermainkanmu, tetapi aku malah benar-benar mencintaimu, Hoon~ah. Mianhae, kau pantas membenciku untuk itu. Tapi kumohon, jangan tinggalkan aku”.

Matanya memancarkan ketulusan. Kuakui aku masih marah padanya, tapi aku juga masih mencintainya. Sangat. Dan sekarang aku bisa luluh hanya karena melihat matanya.

Aku masih tidak menjawab. Sebenarnya tidak tahu harus menjawab apa. Karena hatiku juga masih bingung dengan kejadian yang akhir-akhir ini menimpaku.

“ Aku sangat membencimu”.

“ Benarkah?”

Dia menatap mataku dalam, seakan menerawang apa sebenarnya isi hatiku.

“ Kau bohong. Kau mencintaiku juga seperti aku mencintaimu, Hoon~ah. Jangan membohongi dirimu sendiri”.

Aku memang tidak bisa menyembunyikan perasaanku.

“ Ya, aku memang mencintaimu. Lalu, aku harus bagaimana? AKU TIDAK TAHU APA YANG HARUS KULAKUKAN”.

Aku menaikkan suaraku dan isakan tangisku terdengar begitu saja. Bisakah dia mengerti apa yang kurasakan? Hatiku sangat sakit.

GREP

Dia menarikku ke pelukannya, membuat tangisanku semakin keras. Setelah itu, aku memukul-mukul dada bidangnya berulang kali, melampiaskan kekesalanku padanya.

“ I wish I can hate you, but I can’t. I love you too much, Donghae~ya”.

Dia melepaskan dekapannya dan masih menjaga jarak dekat kami. Dia menempelkan dahi kami berdua dan menatapku lekat. Dia menggunakan ibu jarinya untuk menghapus sisa-sisa air mata yang ada di pipiku.

“ Gomawo, Hoon~ah. Nado Saranghae”.

*END*

77 thoughts on “[ Ficlet ] Imperfect

  1. Kok jahat si hyerin:( bagus cerita ny unn cuma alurnya sekalu kecepatan jadi agak bingung gitu un hehe,tapi untung ending nya menyenangkan hae suka sama hyehoon wkwk

  2. Sadis amet donghae mainin hyehoon biar dapetin kakaknya. Sama aja dia ngerusak hub kakak-adik. Baru aja aku menghayati ceritanya eh uda end.
    Jadi donghae akhirnya sama hyehoon? Terus hyerin gimana?

  3. Donghae minta di tabok, masa mau sama kakaknya hyehoon tp malah manfaatin hyehoonnya. Jadinya ke karma kan suka beneran ama hyehoon

  4. Astaga,, ternyata hyerin jdiin hyehoon sbg syarat k hae?? Ckckck sungguh tega dirimu hyerin,,
    Bgus ceritanya,, alurnya da kecepetan,, walo d akhir agak maksa dikit sih,, soalny,, gmn hyerinnya?? Lngsung end aja…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s