What Should I Do?


Title
What Should I Do ?

Length
one shoot

Rating
PG 15

Genre
Romance

Author
elsagyu

CAST/Main Cast
Choi Hye Hoon, Lee Donghae, Cho Kyuhyun

 

 “Mana yang akan kau pilih?

Orang yang kau cintai?

Atau orang yang mencintaimu?”

Seorang gadis memejamkan mata sembari merentangkan tangannya lebar-lebar. Tak lupa ia menikmati hembusan angin laut yang sangat disukainya. Tiba-tiba terlintas bayangan yang mati-matian ia hindari. Ia mengingat saat melihat seseorang yang disukainya memeluk seorang gadis di taman dekat sekolahnya. Hatinya merasa sakit, lebih tepatnya sangat sakit.

Tak terasa air mata menetes di wajah cantiknya. Ia menangis. Menangisi kebodohannya sendiri karena mencintai seseorang tanpa mendapat balasan.

“SARANGHAE, CHOI HYE HOON”.

Ia mendengar teriakan seorang lelaki, dan ia yakin kalau orang itu berada di sampingnya karena telinga kanannya hampir pecah mendengar teriakan nyaring itu. Ia menoleh ke samping lalu menjitak orang yang berada di hadapannya.

Laki-laki itu berteriak kesakitan.

Ia tidak menghiraukannya dan malah membentak orang itu.

“ Yak! Darimana kau tahu aku ada disini,hah ? Kau tidak bosan menggangguku, Bodoh?”. Lelaki itu tersenyum dengan muka polos tanpa dosa.

“ Hoon~ah, aku tahu segala tentangmu dan aku tidak akan bosan mengganggumu sampai kau menerima pernyataan cintaku”.

Gadis itu mengangkat tangannya, hendak memukul kepala lelaki itu tetapi dalam gerakan cepat sang lelaki malah mendekapnya erat. Ia meronta-ronta dalam pelukannya, tetapi lelaki itu tak bergeming. Lelaki kurang ajar itu malah mempererat dekapannya. Saat gadis itu sudah tenang, lelaki tampan itu mengusap rambut “gadisnya” pelan. Lalu ia menundukkan wajahnya, menatap mata coklat gadis itu dalam-dalam. “ Hoon~ah, bisakah kau melupakannya dan mulai mencoba menatapku? ”

***

One Year Later

Choi Hye Hoon’s POV

Hari ini hari pertamaku masuk universitas. Bisa dibilang aku adalah seorang mahasiswi baru. Aku kuliah di tempat yang sama dengan orang yang kusukai tentunya. Walaupun aku hanya penggemar rahasianya, tapi aku tak bisa sehari pun tak melihat wajahnya. Makanya, aku merengek kepada orang tuaku yang bersikukuh menyuruh untuk berkuliah di Jepang agar aku tetap kuliah di Korea. Aku memang tidak mengambil jurusan yang sama dengan orang yang kusukai sejak tahun pertama di Senior High School itu. Tetapi setidaknya kalau kami kuliah di universitas yang sama, aku bisa bertemu dengannya,kan?.

Aku sengaja menunggu di depan pintu masuk universitas. Untuk menunggu pangeranku, tentunya. Aku juga sudah berjanji untuk menemui Min ah disini. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui kkk~.

Aku melambaikan tangan kepada Min ah yang baru saja keluar dari mobil. Ia menghampiriku dan langsung memelukku erat.

“ Hye hoon~ah, bogoshipeo”.

Aku menepuk-nepuk bahu teman baikku sambil menyeringai . Aku berbisik pelan “ Min Ah~a, lepaskan pelukanmu, semua orang memperhatikan kita.”

Aku memandang sekeliling dan menemukan objek yang paling sempurna di mataku.  Dialah lelaki yang sangat aku sukai.

Cho Kyuhyun.

Menyebutkan namanya saja sukses membuat detak jantungku tak karuan. Aku takut jika aku terus berada di dekatnya, jantungku tidak bisa berfungsi lagi (‾▽‾”)

Dia masih sama seperti terakhir kali kami bertemu di perpisahan sekolah tiga bulan lalu.

Wajahnya tampan dengan rambut coklat pendeknya, matanya coklatnya berukuran sedang, tidak terlalu sipit maupun besar.

Tiba-tiba ia menatapku. Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku buru-buru memalingkan wajah karena gugup dan rona merah muncul di pipiku. Saat aku menatapnya lagi, ia sudah menjauh dari pandanganku.

Lalu kurasakan ada kedua tangan kekar yang menghalangi pandanganku, setelah itu aku mendengar tawa khas seseorang yang sangat kubenci. Aku menepis tangannya dan menghadap ke arahnya dengan tatapan marah.

Ia malah menyunggingkan senyuman bodohnya dan menatapku dengan matanya yang teduh. “ Kenapa kau bisa disini, hah? Kau bilang kau akan kuliah di Amerika, kan ? “. Dia masih tersenyum, membuat amarahku semakin meluap.

“ Aku bilang aku tidak akan berhenti mengganggumu sebelum kau menerima cintaku, kan ? Aku hanya menepati janji itu.”

Selalu kata-kata itu yang dia ucapkan ? Apa dia tidak bosan? Aku saja bosan mendengarnya =__=

Aku melengos pergi sambil berteriak tak sabar .“ Terserah kau sajalah”.

Dan kudengar suara cempreng Min Ah meneriakkan namaku.

“ Choi Hye Hoon, Tunggu Aku !”

***

Aku tidak memperhatikan celotehan orang yang sedang berada di hadapanku, karena kenyataannya aku hanya menatap pangeranku yang sedang duduk dua meja dari meja tempat dudukku.

Aku tersenyum seperti orang gila sambil menatap ke arahnya. Dia memang membuatku gila ^^

Senyumku memudar setelah aku melihat ada wanita yang menghampirinya. Wanita yang selalu membuatku iri karena bisa memilikinya. Dia memang sempurna, jauh bila dibandingkan denganku. Cantik, pintar, bahkan berprofesi sebagai model. Siapa lelaki yang tidak terpesona olehnya ? Kurasa tidak ada.

Dia adalah Kang Hae Rim, pacarnya sejak tahun kedua Senior High School. Begitulah orang-orang mengatakannya padaku.

Aku menghentakkan kakiku dan buru-buru meninggalkan kantin itu. Sayup-sayup aku mendengar suara teriakan Donghae. “ Hoon~ah, tunggu aku”.

***

Aku tidak bisa berkonsentrasi dengan pelajaranku hari ini. Aku memikirkan kejadian tadi. Melihatnya dengan wanita lain membuat konsentrasiku kacau.

Aku tidak tahu seberapa besar rasa cintaku padanya, tetapi yang aku tahu aku tidak bisa hidup tanpa ada dia di dalamnya. Setiap hari bahkan setiap detik aku memikirkannya.

Usapan pelan di pipiku menyadarkanku dari lamunanku tentang Cho Kyuhyun. Mengganggu saja.

Aku mendongakkan kepalaku dan mendapati ada Donghae di depanku.  ‘Aissh anak ini cari mati rupanya’

Aku menepis tangannya kasar. Ia masih tersenyum menampakkan sedikit dari deretan gigi seri dan gusinya. Sama sekali tidak terpengaruh dengan perlakuanku.

“Kau sedang memikirkan lelaki sok tampan itu, iya kan? Atau kau sedang memikirkanku ?“ .  Dia menyeringai tak lupa dibubuhi dengan senyuman menjijikkannya itu.

Aku mendengus kesal. “ Aku tidak sudi memikirkanmu, namja bodoh.”

“ Ah, ya sudah lupakan. Aku akan membawamu ke suatu tempat, kau harus ikut.” Donghae menarik tanganku paksa tanpa mengindahkan protesku.

***

Kami melangkahkan kaki meninggalkan ruangan kelas. Aku menghentikan langkahku dan terkejut dengan pemandangan di ujung lorong ini.

Lelaki yang kucintai sedang menggenggam tangan wanitanya erat. Dan aku menangkap tatapannya itu seperti …… tatapan memohon ? Dan ada sesuatu keluar dari sudut matanya.

Ia….. menangis ?

Donghae’s POV

Aku menatap gadis di sampingku dengan intens, tapi gadis ini malah mengamati dua orang yang berada di ujung lorong.

‘ Kapan dia bisa menatapku seperti aku menatapnya?’

Cho Kyuhyun lagi?  Sudah kuduga. Sedetik kemudian aku mendengar jeritan tertahan dari lelaki itu.

“ Kajima….. Jangan tinggalkan aku, Kang Hae Rim”

Baru kali ini aku melihat ekspresi lain dari muka lelaki itu. Cih, tidak kusangka seseorang yang dingin seperti Cho Kyuhyun bisa tunduk di hadapan perempuan.

Aku menarik tangan Hye Hoon untuk menjauh dari tempat ini. Tidak ada penolakan. Kami melangkah menuju mobilku yang diparkir di depan gedung. Tiba-tiba ia melepaskan genggaman tanganku.

“ Aku tidak bisa ikut denganmu hari ini, Donghae~ah” .

Aku ingin menanyakan alasannya, tetapi aku takut jawabannya malah membuat hatiku sakit.

Dia mengikuti Kyuhyun dari belakang . Aku tersenyum pahit.

‘ Bisakah kau tidak meninggalkanku demi laki-laki lain, Hoon~ah ?’

***

Choi Hye Hoon’s POV

Aku menyuruh supir taksi agar mempercepat laju kendaraannya, karena aku takut kehilangan jejak mobil Kyuhyun. Ya, aku sedang membuntuti lelaki itu. Aku takut terjadi sesuatu padanya.

Mobil Kyuhyun terparkir di salah satu club elit di Korea. Aku melihatnya masuk ke dalam club itu masih dengan langkah gontai.

Setelah aku memberikan beberapa lembar uang kepada supir taksi itu, aku berjalan ragu. Aku tidak pernah ke tempat seperti ini, tetapi aku sangat mengkhawatirkan Kyuhyun.

Akhirnya, aku memutuskan untuk menunggu di luar. Tetapi, Kyuhyun tak kunjung datang setelah aku menunggu selama beberapa jam.

Aku memberanikan diri memasuki  tempat itu. Seketika semua orang menatapku aneh. Bagaimana tidak ? Ada seorang wanita memasuki diskotik dengan t-shirt dan jeans ! Ada sebagian orang mentertawakanku. Aku tidak peduli , yang terpenting adalah aku bisa menemukan Kyuhyun.

Aku menghampirinya yang tertidur di meja bar. Dia menelungkupkan wajahnya di kedua tangannya dan seketika aku mencium bau alkohol dari mulutnya. Ia memejamkan mata, tetapi mulutnya berulang kali menyebutkan nama yang sama.

Hatiku sakit, sangat. Hatiku terlalu perih sampai aku tidak bisa mendeskripsikan perasaanku sekarang.

***

Tidak sia-sia aku menjadi stalkernya sejak tahun pertama Senior High School. Aku jadi mudah menemukan tempat tinggalnya disaat keadaan seperti ini. Kau memang hebat, Choi Hye Hoon (´⌣`ʃƪ)

Setelah dibantu oleh beberapa pelayannya, akhirnya aku bisa membaringkan dia  di tempat tidur. Aku melihatnya iba. Dia terlihat sangat hancur sekarang.

Aku menatap wajahnya intens. Keringatnya mengucur deras. Kepalanya bergerak-gerak seakan ia sedang mengalami mimpi buruk. Aku memberanikan diri untuk mengelus rambutnya agar ia bisa merasa lebih tenang. Aku melirik jam beker di meja ranjang.

‘ Sudah jam 12 malam, aku harus pulang’ .

“ Kyuhyun~ah, jaljayo “, bisikku pelan.

Kyuhyun’s POV

Aku memegangi kepalaku yang terasa sangat nyeri. Kepalaku masih berdenyut karena aku terlalu banyak meminum alkohol tadi malam.

Aku berusaha turun dari ranjang. Aku harus bergegas, hari ini ada kuliah pagi.

Aku tidak sengaja melihat sesuatu.

‘ Kalung siapa ini?’

Chakkaman, tadi malam aku ditolong oleh seorang wanita.

Ah, mana mungkin aku tidak mengingatnya. Dia, Choi Hye Hoon, orang yang pernah kusukai saat tahun pertama Senior High School. Tetapi aku tidak pernah berani mengatakannya karena ada seorang lelaki yang selalu berada di dekatnya.

‘ Kenapa kita dipertemukan lagi? Mungkinkah ini takdir?’

Aku tersenyum singkat.

***

Choi Hye Hoon’s POV

Aku tertegun saat dosen menghampiri tempat duduk kami satu persatu untuk mengumpulkan tugas kami. Aku sangat ketakutan, karena aku lupa tidak mengerjakan tugasnya (⌣́_⌣̀)

Min ah berkali-kali mengucapkan maaf kepadaku, tapi aku tidak menggubrisnya, karena yang sekarang aku pikirkan hanyalah nasibku di mata kuliah ini. Dosen ini terkenal sangat tegas jadi bisa saja aku dikeluarkan dari ruangan ini dan mendapat nilai E.

‘Ottokhae ? Eomma, Appa tolong aku (‾ʃƪ‾) ’

Do’aku terkabul. Beberapa lembar kertas melayang ke mejaku. Kulirik orang yang melempar kertas-kertas ini. Donghae hanya tersenyum saat aku melirik ke arahnya.

Apa dia sudah gila ? Dia rela untuk tidak lulus mata kuliah ini demi aku ? Dasar namja babo.

Seperti dugaanku, orang yang tidak mengumpulkan tugas disuruh meninggalkan kelas. Aku meliriknya sebentar dan dia malah mengedipkan matanya kearahku. Cih, laki-laki genit (¬_¬)

***

“  Mana imbalan untukku?” tembaknya langsung.

“ Imbalan ? Jadi kau tidak ikhlas membantuku ? Setahuku dari dulu kau tidak pernah meminta imbalan padaku, kan?” jawabku ketus.

“ Aigoo kau sangat romantis Donghae~ah, pengorbananmu sungguh mengagumkan”, celoteh orang yang duduk disampingku dengan muka dibuat-buat.

Donghae menaik-naikkan alisnya.

“ Min ah saja bilang begitu. Ayolah Hoon~ah, kabulkan satu saja permintaanku, hm ?”. Ia berkata dengan aegyonya yang sama sekali tidak lucu (¬_¬”)

Aku menyerah. “ Baiklah, katakan permintaanmu.”

Seseorang berdehem pelan di depanku. Aku mendongakkan kepalaku dan menemukan seorang pangeran tampan yang ketempanannya sampai bisa membuat mataku tak berkedip. Jantungku berdetak kencang. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan menunjukkannya di depan mataku.

Aku meraba leherku. Kosong.

‘Itu kan kalungku. Bagaimana dia bisa menemukannya ?’

Aku membukakan telapak tanganku, menerima kalungku kembali. Kalung silver polos dengan liontin berbentuk hati. Itu liontin kesayanganku, pemberian dari oppaku yang sekarang tinggal di London.

Saat aku hendak mengucapkan sesuatu kepadanya, ia malah berbalik dan buru-buru meninggalkan kami. Aku memandang punggungnya sampai sosoknya luput dari pandanganku.

Kedua orang disekitarku menatapku bingung. Aigoo aku lupa kalau kedua orang itu belum tahu kejadian kemarin. Aku buru-buru meninggalkan kantin itu tanpa berpamitan kepada mereka. Aku mendengar teriakan lantang dari Min ah . “ Choi Hye Hoon, kau mau kemana ?”

***

Donghae’s POV

Dia terlihat sangat bahagia. Walaupun dia tidak memandangku dan lebih memilih menikmati pemandangan dari jendela mobil, tapi aku bisa melihat lesung pipinya. Dan aku sangat tahu apa yang menyebabkan dia tersenyum. ‘ Pengaruh laki-laki itu sangat besar untukmu, Hoon~ah?’

“ Kau hutang bercerita padaku.”

Dia menatapku bingung, tapi kemudian seulas senyuman terpancar dari bibirnya.

Dia mengabaikan pertanyaanku dan malah memilih untuk membahas hal lain.

“ Donghae~ah, soal tadi. Apa permintaanmu?”

Aku harus melakukannya. Aku juga harus berjuang untuk mendapatkan cintanya, kan ?

“ Kau harus memberi kesempatan padaku. Kau harus menjadi pacarku selama sebulan dan aku tidak menerima penolakan. Titik.”

Sedetik kemudian aku mendengar teriakan nyaring keluar dari bibirnya “ MWO ?”

***

Choi Hye Hoon’s POV

Aku benci dalam keadaan seperti ini. Aissh Donghae itu, selalu saja bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tapi aku kan sudah berjanji padanya, jadi aku tidak bisa menolak permintaannya. Aku memukul kepalaku pelan. ‘ Aish, Choi Hye Hoon pabo’

“ Berhentilah memukul-mukul kepalamu, aku tidak mau IQ kekasihku menurun”. Ia berkata dengan santai dan tak lupa senyuman kebanggaannya tersungging di bibir tipisnya.

Aku menatapnya garang. “ Berhentilah berbasa-basi, kau mau membawaku kemana”

“ Aigoo, ternyata kekasihku ini sangat tidak sabaran. Kau tidak sabar untuk kencan denganku, keudachi?”

“ YAK ! APA KAU SUDAH BOSAN HIDUP, LEE DONGHAE ?”

***

Aku mencium bau khas pantai dengan senyuman yang tak lepas dari bibirku. Dia memang sangat memahamiku. Sejak kecil, aku sangat suka pantai dan aku yakin dia pasti tahu hal itu. Dia tahu semua hal tentangku, karena selain kami berteman –dia mengganggapnya lebih- kami juga dekat dengan keluarga masing-masing. Jadi kalau kita menikah orang tua kami pasti langsung menyetujuinya. ‘ Aigoo, aku sudah gila ! Kalau laki-laki ini tahu apa yang kupikirkan, dia pasti langsung berpikiran macam-macam ><’

“ Hoon~ah, ayo turun. Kita sudah sampai”

Sedetik kemudian aku sudah melepaskan sneakersku dan berlarian seperti anak kecil, meninggalkan namja bodoh itu sendirian.

“ Lee Donghae, kau akan tetap diam disana, hah?”

***

Setelah seharian bermain di pantai, akhirnya kami duduk di pasir yang berwarna putih ini untuk menikmati pemandangan yang indah. Matahari tenggelam. Orang-orang menyebut ini adalah hal romantis yang dilakukan pasangan. Aku menoleh ke samping dan mendapati dia sedang tersenyum tanpa henti, mengekspresikan perasaannya saat ini.

“Hoon~ah, ini sangat romantis, kan ?”

“hmmm”

“ Kau sangat menyukainya ?”

“ Ya, sangat. Tapi aku akan lebih senang kalau aku melewatkan ini bersama Kyuhyun”. Jawabku sekenanya.

Dia menghembuskan nafasnya kasar.

“ Cih, terus saja menyebut namanya dan aku akan menceburkanmu ke dasar laut”

“ Yak ! Aku tidak yakin kau rela kehilangan gadis manis sepertiku”

Raut mukanya berubah serius, dan mata indahnya menatap mataku dalam. Dan baru aku sadari kalau tatapannya terasa…. hangat (?).

Aku terhipnotis oleh tatapannya sehingga aku tidak menyadari kalau sesuatu yang basah menyentuh pipiku.

Dia menyeringai senang saat aku mengerjapkan mataku berkali-kali untuk mengumpulkan kesadaranku.

Dia mencium pipiku.

Aku akan menjitak kepalanya tapi dia malah menarikku ke dalam dekapannya. Dejavu. Aku pernah mengalami hal ini sebelumnya.

Aku mendengar bisikan dari bibirnya tepat di indera pendengaranku.

“ Saranghae, Hoon~ah, jeongmal”

Dan aku merasakan ada yang aneh dari tubuhku. Pipiku memanas.

‘ Ada apa denganku ?’

***

Kami memasuki ruangan kelas dengan tangan bertaut dan membuat mata gadis bawel itu menyipit. Aku belum sempat cerita kepadanya tentang hubungan tiba-tiba kami. Bagaimana tidak ? beberapa hari ini aku terus saja direcoki oleh namja pabo ini ┒(⌣˛⌣)┎

Donghae sengaja menggengam tanganku lebih erat dan mengacungkannya di udara tepat di depan Min ah.

“ Kami telah berpacaran Min ah~ya , jika itu yang kau herankan,”

Mata Min Ah melebar sempurna. Ia lalu menepuk-nepuk dan mencubit pipinya sendiri.

“  Aku tidak bermimpi,kan ? ”

Bibir Donghae mengerucut kesal dan tanpa belas kasihan menjitak kepala Min ah.

Min Ah hendak melayangkan protes tetapi Donghae malah menarik lenganku dan mendorong pelan kursi di sebelah Min Ah dan mempersilahkanku duduk.

Ada semburat merah muda di kedua pipiku. Aku malu >_<

“ Aku punya kabar baik”.  Kata Min-ah tiba-tiba. Wajahnya terlihat sumringah.

“ Kabar apa ? “ timpal Donghae dengan tidak sabar.

“ 2 minggu lagi pesta angkatan kita diselenggarakan. Kau pasti akan senang Hye Hoon~ah “

Pesta angkatan tahunan. Aku pernah dengar acara ini. Ini memang agenda rutin yang dilaksanakan universitas kami untuk mahasiswa yang masih berada di tingkat 1 seperti kami.

Aku menatapnya bingung. “ Senang Kenapa Min Ah~ya?”

“ Karena kita akan bertemu dengan semua orang di angkatan kita, tentunya kau juga bisa bertemu dengan ‘ Pangeran’ mu itu.” Ia sengaja menekankan kata ‘ Pangeran ’ agar terdengar oleh Donghae. Menggelikan.

“ Jangan memancing emosiku, Min Ah~ya. Atau aku akan membuang semua koleksimu tentang super junior , ara?”

Min Ah menggembungkan pipinya.

***

Aku terpaksa menunggu di halte bus sendirian. Namja pabo itu mengantarkan ibunya berbelanja. Dasar anak mami -__-

Tidiit  (anggep aja suara klakson)

Bukankah itu mobil Cho Kyuhyun ?

Ternyata benar. Ia membuka kaca mobilnya dan tersenyum padaku.

Dia lebih tampan berkali-kali lipat saat tersenyum seperti itu. Respon tubuhku saat di dekatnya masih sama seperti dulu. Aku mungkin sangat menyukainya ? atau terlalu mencintainya ? Molla, yang jelas aku sangat senang berada di dekatnya ^^

“ Mau Kuantar Pulang ? “

Aku menganggukkan kepalaku singkat . Mimpi apa aku semalam ? Ini pertama kalinya aku pulang bersama dengan cinta pertamaku.kkk~

Dia turun dari mobilnya dan membukakan pintu untukku.

Aku mati-matian menahan senyumku. Aku harus terlihat lebih wajar, aku tidak boleh menunjukkan sikap ‘ke-fangirl-an’ ku di depannya.

Setelah aku duduk di bangku sampingnya kami tidak membuka pembicaraan apapun. Ini pertama kalinya untukku, aku terlalu gugup =_=

“ Gomawo”. Ucapnya pelan.

Dia berterima kasih padaku? Untuk apa?

“  Gomawo sudah mengantarkanku waktu itu. Aku sudah merepotkanmu.”

“ A-anieyo, itu bukan apa-apa. Aku juga berterima kasih kepadamu”

Dia melirikku heran dan kembali berkonsentrasi kepada jalanan di depannya.

“ Untuk ?”

“ Kau sudah menemukan kalungku. Dulu saat kau mengembalikannya aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu tapi kau buru-buru pergi.”

“ Sekali lagi , kamsahamnida Kyuhyun~ssi” kataku sambil menganggukkan kepalaku sedikit.

Ini percakapan terpanjangku dengannya. Dulu aku hanya bisa mengikutinya atau walaupun kami berpapasan kami hanya menganggukkan kepala untuk salam. Hari ini benar-benar anugerah untukku ^^

“ Hye Hoon~ssi , bisa kau tunjukkan kemana arah rumahmu?”

“ De?”

Aku terkejut. Bukan karena pertanyaannya, tetapi karena dia memanggil namaku. Selama ini kami tidak pernah berkenalan secara resmi dan dia tahu namaku. Aku sangat senang. Bahkan aku merasa dunia ini hanya milikku. Hehe

Setelah aku menunjukkan alamat rumahku, kami tidak berbincang lagi. Wajar saja, ini pertama kali kami mengobrol, jadi kami tidak tahu apa yang harus kami bicarakan. Terutama aku, berdua dengannya saja membuatku gugup setengah mati, jadi aku tidak bisa mencari topik untuk dibicarakan. Tapi tak apa, menurutku sikap diam kami malah membuat kami tambah dekat.

“ Kyuhyun~ssi, terima kasih telah mengantarku pulang”

****

Aku meloncat-loncat kegirangan di atas ranjangku sambil mengangkat tanganku ke atas, seperti orang yang menang lotre. Tapi aku lebih bahagia daripada itu ^^

Ponselku bergetar

Dengan malas kuambil handphone di tas ku dan melihat layar ponsel

Namja Pabo Calling…..

Dia lagi , dia benar-benar membuat moodku buruk

Aku memencet tombol hijau dengan kasar

“ Wae?” nada suaraku sangat ketus tapi aku yakin pria itu hanya akan terkekeh mendengarnya.

“ Aku sangat merindukanmu. Aku kesal dengan eomma yang memaksaku menemaninya shopping. Ck, sepertinya eommaku itu harus segera mendapat menantu agar ada yang menemani hobby nya itu.”

“Kau mau kan segera menikah denganku ? ”

Hatiku berdebar.

Dia memang sama saja seperti dulu, selalu membuat segalanya menjadi sebuah lelucon. Apa dia tidak tahu kalau ucapannya itu membuatku nyaris kehabisan nafas ?

Aku tidak menjawab perkataannya.

Dan seperti biasa, ia tetap akan mengoceh sendiri walaupun aku tidak menanggapinya.

“ Hoon~a, eomma bilang kau harus ke rumahku besok, aku akan menjemputmu besok pagi. Kau harus bersiap-siap”

“ Tapi…..”

“ Tidak boleh membantah. Kau harus siap-siap besok pagi. Aku akan menjemputmu.”

***

Ini sudah ke sekian kalinya aku ke rumah ini, tapi ini terasa berbeda. Aku sangat gugup.

Mungkin karena aku kesini sebagai kekasih Lee Donghae ?

‘Tenang Choi Hye Hoon, segalanya akan sama seperti biasanya’. Aku menyemangati diriku sendiri.

Tangan Donghae yang besar memberikan kehangatan, juga memberikan ketenangan terhadap diriku.Tangan itu seperti meyakinkanku kalau dia akan selalu berada di sisiku sampai kapanpun.

Eomma memelukku sesaat setelah ia sampai di ruang tamu.

“ Eoremaniyo, Hye Hoon~ah. Bagaimana keadaan Eomma dan Appa mu di Jepang? “

“ Mereka baik-baik saja, eomma. Bagaimana dengan Appa?”

“ Baik-baik saja. Tapi sepertinya dia sudah ingin cepat berhenti menjadi direktur dan menyerahkan perusahaan kepada Donghae. Ia juga bilang ingin segera menimang cucu. Eomma sangat senang saat Donghae bilang kau bersedia menjadi kekasihnya, akhirnya impian eomma dan eommamu tercapai”.

“ De?”

Suara Donghae menginterupsi pembicaraan kami

“ Beginilah wanita. Kalau sudah bergosip pasti mengabaikan keadaan sekitar. “

Dia mendengus kesal.

Sedetik kemudian ia tersenyum padaku.

“Hoon~ah, kajja. “

***

Aku sudah tidak asing lagi dengan kamarnya, tetapi berdua di ruangan ini dengan status kami sekarang membuatku gugup. =_= .

Seharusnya aku tidak merasakan apa-apa, kan ?

Aku hanya memberi kesempatan padanya, tidak lebih.

Dan sampai sekarang di hatiku hanya ada seorang nama. Cho Kyuhyun.

“ Hoon~ah, apa kau sudah mulai mencintaiku ? “

Aku tertegun mendengarnya. Lidahku kelu. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan, padahal biasanya aku bisa dengan mudah menjawabnya dengan semua makianku.

Tiba-tiba ia mengalihkan topik pembicaraannya.

“ Hoon~ah, kau tahu kapan pertama kali kita bertemu?”

“ Keureomyeon, kita bertemu saat hari pertama masuk Senior High School. Kau memaksa ingin berkenalan denganku dan terus mengejarku kemanapun aku pergi .”

Aku tertawa mengingatnya.

Tetapi aku heran saat ia masih mempertahankan ekspresi serius di wajahnya. Dan seperti ada rasa kecewa bertengger di wajah tampannya.

“ Kita bertemu di ulang tahun pernikahan orang tuaku. Saat itu aku melihat seorang gadis kecil yang sedang menangis di halaman rumah. Dia kehilangan orang tuanya. Aku membawamu ke tempat orang tuaku untuk menemukan ayah dan ibumu. Sudah ingat?”

“ Jadi kau pangeran salju ku ?”

Aissh aku tidak bisa mengontrol bicaraku. Aku yakin sebentar lagi ia akan berteriak kegirangan.

“ Donghae~ah, Hoon~ah, cepatlah kesini. Makanan sudah siap.”

Eomma memanggil kami.

Syukurlah, aku terselamatkan kali ini. Tapi masih ada lain kali, karena dia tidak akan pernah lupa pembicaraan ini. Aissh bagaimana ini ?

***

“ Aku akan mengajakmu ke suatu tempat, jaraknya lumayan jauh. Kau boleh tidur kalau kau mau”

Aku menggeleng pelan.

“  Shireo, aku tidak capek. Dan aku tidak ingin nanti fotoku yang sedang tidur menyebar di twitter. Tidak akan terjadi.”

Dia menyeringai , membuatku bergidik. “Lihat saja nanti”

Donghae’s POV

Akhirnya, saat-saat paling kutunggu dalam hidupku sebentar lagi akan tercapai. Jantungku melompat kegirangan .

Wanita di sampingku ini membuatku sempurna. Dia membuatku terus menatap kepadanya tanpa mengizinkanku menoleh kemanapun.

Aku tidak akan melepasnya pergi, kecuali dia yang menginginkannya.

Sampai sekarang aku belum tahu apa perasaannya padaku, tetapi aku hanya ingin menikmati kebersamaanku bersamanya . Egois memang, tetapi terkadang cinta juga memerlukan keegoisan.

Aku mencibir saat gadis itu sudah terlelap di alam mimpinya.

Sedetik kemudian, aku tersenyum senang.  Akhirnya, aku bisa menunjukkan ini semua padanya.

Aku menelusuri wajah cantik yang tersaji di hadapanku. Mata coklatnya terpejam, tetapi ia masih terlihat menawan. Ia mungkin bukan orang tercantik di dunia ini, tetapi di mataku ialah orang tercantik yang pernah kutemui.

Kujulurkan tanganku, untuk membelai pipinya seperti yang selama ini sering aku lakukan.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Kurogoh handphoneku dan langsung memposisikan kamera tepat di hadapan tubuhnya. Aku mendekatkan bibirku ke pipinya lalu cahaya blitz menusuk ke retina mataku.

‘ Aku akan menguploadnya di twitter, gadis jelek’

Ia mengerjapkan matanya berkali-kali untuk menyesuaikan matanya dengan sinar di sekitarnya. Lalu ia menatap sekeliling dan langsung tersenyum senang. Aku sangat tahu kalau tempat ini adalah tempat favoritenya.

“ Kita dimana, Donghae~ah ?”

“Mokpo” , jawabku santai.

Matanya membulat.

Aku turun dari mobil dan menarik tangannya ke sebuah rumah di hadapan kami.

Choi Hye Hoon’s POV

Rumah ini terlihat sangat sederhana. Rumah minimalis dengan cat yang berwarna putih gading. Posisinya tepat menghadap ke arah laut. Terdapat banyak jendela dengan kaca besar sehingga aku tidak perlu capek-capek ke  luar rumah untuk menikmati pemandangan pantai. Dan ada satu hal lagi yang kusukai dari bangunan ini. Terdapat balkon di lantai dua. Tempat favoriteku.

Aku menghirup udara dalam-dalam. Udara yang paling kusenangi di dunia ini. Aku adalah penyuka laut, jadi wajar saja kalau aku sangat senang berada di sini.

Aku merasakan tangan kokoh merengkuh tubuhku dari belakang. Dia menempelkan dagunya di bahuku.

“ Kau suka rumah ini ? Aku sengaja membuatkan ini untukmu.”

Mataku terbelalak sempurna. Aku langsung menyingkirkan tangannya yang berada di pinggangku dan menatap matanya intens.

“ Kau membuat rumah ini, untukku ?”, tanyaku sambil menggunakan jariku untuk menunjuk ke arah tubuhku sendiri.

“ Ne” . Dia mengangguk mantap.

“ Kenapa kau melakukan semua ini? Aku tidak pernah memintanya kepadamu, kan?”

“ Kau sudah jelas tahu alasannya, kan ? “

“ Tapi walaupun kau mencintaiku kau tak…..hmmppp”

Dia dengan tiba-tiba mencium bibirku. Mataku terbelalak dan aku memukul-mukul dadanya agar dia melepaskan ciumannya. Tapi ia malah mengeratkan pelukannya di pinggangku , semakin memperkecil jarak diantara kami. Dia melumat pelan bibirku yang lama kelamaan lumatannya semakin kasar, membuatku kehabisan nafas.

Ia melepaskan bibirnya dari bibirku dan sedetik kemudian ia mulai melumat bibirku pelan seakan aku adalah barang rapuh yang mudah retak. Aku terhanyut dalam sentuhan bibirnya sehingga secara perlahan aku pun membalas ciumannya. Kami bertahan dalam posisi itu selama beberapa menit sampai kami kehabisan nafas.

Ia mengeluarkan kotak dari sakunya.

Aku terkejut ketika melihat ada cincin di dalamnya. Cincin berwarna putih yang terdapat berlian di tengahnya. Sangat cantik.

“ Kau suka?”

“ hmm….. Tapi… apa kau mau melamarku dengan cincin ini?”

Dia tertawa terbahak-bahak. Aku merutuk bibirku sendiri yang tidak bisa menjaga ucapannya sendiri.

Setelah tawanya mereda, ia menatap mataku lekat.

“ Tidak secepat itu, Hoon~ah.  Cincin ini hanya pengikat di antara kita berdua. Sebenarnya, aku bisa melamarmu saat ini juga. Tapi, aku belum siap Hoon~ah, aku belum bisa bertanggung jawab untuk menghidupi keluarga kita nantinya.”

“ AKU TIDAK MENGHARAPKANMU UNTUK MELAMARKU SEKARANG, BODOH!”

***

Aku sebenarnya tidak suka sama sekali dengan pesta seperti ini, tapi karena ini acara kampus, apa boleh buat. Terlebih lagi, kalau aku tidak datang, gadis bawel bernama Min Ah itu pasti terus merecokiku. Dan sekarang, kemana gadis menyebalkan itu ? Dia meninggalkanku sendirian di saat seperti ini.  Aish, seharusnya dari awal aku tak usah datang ke pesta ini. Aku meniup poniku kesal.

Seseorang yang berada di atas panggung itu benar-benar menarik perhatianku.

Dia sangat tampan dengan jas berwarna cream yang membalut tubuhnya, membuatku tidak bisa bernafas dengan benar.

Suaranya yang khas dan berat benar-benar membuatku gila.

Dia terlalu mempesona.

Urin su nyeon jeone cheoeum manna

Cheot nune sarange ppajyeobeoryeotgo

Baby, naega eodil gadeun machi

Geurimjacheoreom nae gyeole seo itgo

Saranghandaneun ge ttaerun

Jeungmyeonghal ge neomu neomu manha

Apeul ttaedo naega munejil ttaedo

Geonyeomani naege nama itneungeol

Baby baby baby baby

Uril jeoldae haeojiji malja

Oh my lady lady lady lady

Naega jeongmal neoreul saranghanda

Shawty shawty shawty shawty

Ojik neoya nareul seontaekhan geon

Naui nunmulkkajido, jageun misokkajido

Ani?

Neorobuteo uneungoya

Super Junior- From U

Bait-bait lagu cinta itu terasa sangat merdu ketika ia melantunkannya.

Aku ikut bertepuk tangan bersamaan dengan riuh penonton yang ada di penjuru ruangan ini.

“ Lagu tadi saya persembahkan untuk seseorang yang telah menarik perhatian saya. Saya sangat menyukainya sejak kami bertemu di tahun pertama di Senior High School, tetapi aku tidak berani mengungkapkannya. Akhirnya, kami dipertemukan. Lagi disini. Mungkin ini takdir ? Yang jelas saya tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan kedua ini.”

“ CHOI HYE HOON, WOULD YOU BE MINE ?”

***

Aku mati-matian menahan air mata yang akan keluar dari kelopak mataku. Kyuhyun Oppa menenangkanku dengan merengkuh pinggangku dalam dekapannya. Aku menyembunyikan wajahku di dadanya dan kudengar suara menyebalkan itu memanggilku.

“ Yak, Choi Hye Hoon ! kau tidak akan memberikan salam perpisahan kepadaku ? “

Aku mencelos mendengarnya. Bukan karena mendengar kata-katanya, tetapi pada panggilan yang disematkannya untukku. Aku bukan Hoon-nya lagi.

Aku melepaskan tubuhku dari Kyuhyun Oppa dan menghempaskan tubuhku ke pelukannya.

Dia berbisik pelan.

“ Jagalah dirimu. Kau harus selalu bahagia, Choi Hye Hoon.”

Aku mengangguk pelan di dekapannya.

“ Tak perlu mengingatkanku, namja pabo.” , desisku pelan.

***

Donghae’s POV

Aku mencoba beberapa menit memejamkan mataku, tetapi tetap saja aku tidak bisa tidur.

Aku sangat tahu apa penyebabnya dan justru aku tidak bisa menghilangkan ingatan itu dari otakku.

Aku berlari secepat mungkin memasuki ruangan yang sudah ramai ini. Sial, gara-gara macet aku terlambat dan gadisku pasti sedang mati ke-bosan-an di tengah-tengah pesta karena Min Ah pasti meninggalkannya sendiri dan lebih memilih untuk mendekati laki-laki tampan yang ada di pesta ini.

Aku melayangkan pandanganku ke arah stage. Bukankah itu Cho Kyuhyun ? Wah, suaranya lumayan juga. Aku menelusuri ruangan ini, tapi belum menemukannya.

“Lagu tadi saya persembahkan untuk seseorang yang telah menarik perhatian saya. Saya sangat menyukainya sejak kami bertemu di tahun pertama di Senior High School, tetapi aku tidak berani mengungkapkannya. Akhirnya, kami dipertemukan. Lagi disini. Mungkin ini takdir ? Yang jelas saya tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan kedua ini.”

Ah, rupanya Cho Kyuhyun itu juga bisa menyukai seorang wanita lagi setelah ia ditinggalkan oleh pacarnya, aku penasaran siapa orang yang dia sukai ?

“ CHOI HYE HOON, WOULD YOU BE MINE ?”

Deg

Kata-kata itu membuat kepalaku berputar. Aku belum siap kehilangannya.

***

Aku masih di tempatnya semula, menatap punggungnya yang sangat kukenali. Aku sangat ingin melihat wajahnya, tapi aku tidak ingin melihatnya pada saat seperti ini. Aku tidak ingin hatinya bimbang karena memikirkan perasaanku. Ya, perasaanku. Karena dari awal hanya aku yang mencintainya.

Aku memencet speed dialku nomor 1 dengan gerakan ragu.

Setelah ia mengangkat teleponnya, aku menghembuskan nafasnya pelan. Tenggorokanku tercekat.

“ Kau dimana?”

Aku tidak menghiraukan pertanyaannya.

“ Hoon~ah ?”

“hmm..”

“ Aku sudah bilang kalau aku akan melepasmu saat kau menginginkannya, kan?”

“ hmm..”

“ Dan aku yakin kau menginginkannya sekarang.  Aku melepasmu hoon~ah. Berbahagialah dengannya”

Dengan cepat aku memutuskan sambungan teleponku.

Aku berbalik dan tak terasa sesuatu yang basah menyentuh pipiku.

‘ Aku mencintaimu, Hoon~ah’

Aku memang pengecut. Aku tidak bisa melihatmu bersama lelaki lain, meskipun hanya laki-laki itu yang hanya bisa membuatmu menjadi wanita paling bahagia di dunia ini. Be happy, Hoon~ah.

5 Years Later

Choi Hye Hoon’s POV

“ Silahkan Masuk”

Aku melihat wanita paruh baya memakai kacamata hitam memasuki ruanganku. Aku menyambutnya dengan cara membungkukkan tubuhku sopan ke arahnya sambil mengucapkan salam.

“ Annyeong Haseyo”.

Wanita itu malah mendekapku erat.

“ Hoon~ah, ini eomma. Apakah selama beberapa tahun tidak bertemu membuatmu lupa kepada eomma? ”

“ Anieyo, eomma. Aku tidak mengenalimu karena tadi eomma memakai kacamata dan eomma terlihat lebih cantik sekarang.”

“ Kau bisa saja membuat eomma-mu senang, Hoon~ah.”, serunya dengan rona merah yang menghiasi wajahnya.

Tidak baik menemui eomma di kantor, sebaiknya aku mengajaknya ke café.  Kebetulan ini sudah jam makan siang.

“ Eomma, apakah sebaiknya kita berbicara di café ? “

“ Tidak perlu Hoon~a. Aku disini hanya sebentar. Hanya meminta sedikit bantuanmu.”

Aku tersenyum mendengarnya.

“ Bisakah kau membantuku mempersiapkan pernikahan anakku?”

Anak ? Lee Ahjumma cuma punya satu anak. Dan itu berarti… Lee Donghae akan menikah ?

Aku merasakan ada luka yang terbuka di ulu hatiku, bahkan robekannya semakin parah hingga aku merasa sesak.

“ Lee Donghae akan pulang beberapa hari lagi dengan calon istrinya”

Hatiku merasa tercabik-cabik. Aku sedang berada di ambang kehancuranku sekarang.

***

Aku menenggelamkan kepalaku di dada bidangnya. Inilah hal yang selama ini aku lakukan apabila aku sedang bersedih atau sedang banyak pikiran.

Dia mengelus rambutku pelan.

Dia selalu mengerti aku. Disaat aku sedang dalam keadaan seperti ini, dia tidak akan memaksaku untuk bercerita dan lebih suka membiarkannya sampai aku sendiri yang bercerita kepadanya.

Aku melepaskan diri dari pelukannya dan menatapnya intens.

“ Bagaimana harimu di kantor, oppa?”

“ Biasa saja, tapi aku memiliki kabar baik untukmu.”

“Jinja?”

“ Kau mau tahu berita baiknya apa ? Kata investorku yang berasal dari Amerika, Lee Donghae akan segera pulang ke Korea”

Deg

Itu topik yang sangat ingin kuhindari. Ia menyadari perubahan raut mukaku, dan aku berusaha untuk menutupinya dengan senyum terpaksaku.

Ia menatapku lagi. Kali ini tatapannya berbeda. Matanya yang sayu menatapku penuh cinta.

“  Chagiya, bogoshipeo.”

“ Nado”

Kyuhyun menempelkan bibirnya di bibirku.

Aku terdiam. Tidak melepaskan ataupun membalas ciumannya.

‘Aku tidak bisa berhenti memikirkannya.  Mianhae, oppa.’

***

Donghae’s POV

Aku melirik gadis di sampingku santai. Dia mengoleskan body lotion ke beberapa bagian tubuhnya.  Tentu saja gadis itu tidak akan membiarkan kulitnya terbakar matahari. ‘ Gadis manja’, cibirku dalam hati. Kalau aku mengungkapnya langsung dia pasti akan langsung berteriak-teriak sambil menggerutu. Dia sama seperti….. ah lupakan. Kenapa di pikiranku terus saja berputar memikirkannya?

“ Oppa “. Aku menoleh ke arahnya.

“ Kita akan langsung ke rumah, kan ?”

“ hmm. Eomma sudah sudah menunggu kita di rumah.”

Aku melihat ke luar jendela.

Pantai.

Aku merindukan pantai seperti aku merindukannya, merindukan Hoon-ku.

***

Choi Hye Hoon’s POV

Pemandangan orang-orang di ruangan ini membuatku tersenyum. Aku melihat banyak anak kecil memasuki café ini.  Sangat Lucu ^^. Banyak dari mereka juga yang mengunjungi café ini dengan orang tuanya. Wajar saja, sekarang musim panas dan hari ini hari sabtu , pastinya mereka menghabiskan waktu liburan mereka dengan keluarga. Selain itu, banyak juga pasangan yang memasuki ruangan ini. Aku jadi kesal dengan Kyuhyun oppa yang selalu saja masih sibuk di kantor di weekend seperti ini. Dia memang workaholic dan aku tidak suka dengan hal itu.

Apa kertas-kertas bodoh itu lebih penting daripada kekasihnya ?

Min Ah duduk di depanku dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya. Aku tahu penyebabnya. Pasti gara-gara namja bernama Eunhyuk itu.  Aku sudah biasa mendengar ocehannya tentang namja itu. Dasar gadis bawel.

Dia memamerkan jari-jari lentiknya dengan cincin polos berwarna keemasan di hadapanku.

“ Hye Hoon~ah, Eunhyuk oppa baru saja melamarku kemarin. Kau tahu ? Dia sangaaat romantis.”

Aku teringat sesuatu.

Sebuah bayangan masa lalu merasuk ke pikiranku.

***

Kepalaku pusing. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Dua namja itu bisa membuat kepalaku meledak. Kyuhyun menatapku dengan intens yang membuatku tak berkutik. Tersirat dari matanya kalau dia menginginkan jawaban atas pertanyaannya tadi.  Aku menghindari tatapan matanya. Aku belum siap untuk menjawab pertanyaannya sekarang. Masih ada masalah yang aku harus selesaikan saat ini.

“ Hye Hoon~ah, apa kau sudah memiliki jawaban atas pertanyaanku ?”

“hmm ? Ah.. Ne, maksudku, bolehkah aku memikirkannya dulu ? Kau akan menungguku, kan ?”

Ada raut kecewa tergambar di wajahnya.

“ Tentu saja, aku akan menunggumu sampai kapanpun. Mau kuantar pulang ? ”.

“ Ah, tidak perlu. Aku ditunggu oleh supirku di depan.”

Aku berbohong. Mianhae , Kyu. Tapi ada hal penting yang harus kuselesaikan sekarang.

***

Seperti dugaanku, dia pasti berada di sini. Duduk di ayunan taman. Ini tempat favorit kami. Setiap kami ada masalah, kami pasti akan bisa menyelesaikannya disini.

Raut wajah tampannya menyiratkan kesedihan. Dan aku tahu penyebabnya adalah aku.

Dia menatapku dengan mata hitamnya. Pipinya dikotori oleh bekas air mata yang berasal dari sudut matanya. Hatiku serasa teriris melihatnya.

“ Hoon~ah, Chukkae. Akhirnya mimpimu terwujud. Kau bisa mendapatkan pria idamanmu itu. Ah, dan soal permintaanku waktu itu. Walaupun belum satu bulan kita berpacaran tetapi aku rasa ini saatnya kita mengakhiri perjanjian konyol itu.”

Dia tertawa pelan tetapi matanya tetap memancarkan luka yang dalam. Kenapa kau terluka tapi tetap mau melepasku ? Namja pabo.

“ Aku….”

“ Hoon~ah, bisakah aku meminta cincin itu kembali?”

“ MWO ?”

‘Dia… meminta cincinnya kembali ? Sungguh lelaki yang sangat perhitungan’.

Aku melepaskan cincin itu kasar dan menyerahkannya ke telapak tangannya yang terbuka.

Sedetik kemudian aku berbalik dan meninggalkan tempat itu.

Air mataku keluar dengan sendirinya. Isakan kecil terdengar dari bibirku.

‘Kenapa dia memintaku meninggalkannya saat aku sudah mulai menatapnya?’

***

Aku menunduk melihat jari-jariku. Kosong. Tidak ada cincin itu lagi disana.

Min Ah mendengus pelan.

“ Aissh aku selalu saja tidak pernah mendengarku. Pasti kau sedang memikirkan namja bodohmu itu, benar kan ? Kalian saling mencintai tetapi malah menyakiti diri sendiri. Dan kau Hye Hoon~ah, kau seharusnya bisa menentukan perasaanmu dan tidak memberikan harapan kepada Kyuhyun. Akhirnya ini akan menyakiti kalian bertiga.”

Hatiku membenarkan ucapan Min Ah, tapi bibirku tidak.

“ Min Ah~ya, aku sudah 5 tahun menjalin hubungan dengan Kyuhyun Oppa, dan aku sangat mencintainya. Kenapa kau meragukan semua itu ? Dan soal Donghae, dia hanya teman kita, kan ? Dia memang mencintaiku dulu, tapi aku tidak memiliki perasaan padanya. “

“ Cih, terus saja berbohong sampai mulutmu berbusa, aku tidak akan pernah mempercayainya.”

Aku mengerucutkan bibirku kesal. Min Ah memang tidak pernah mau dibantah.

“ Donghae sebentar lagi akan menikah. Eomma menemuiku beberapa hari lalu, memintaku membantu mempersiapkan pernikahan mereka.”

“ Dan kau tidak menolak ?” . Dia mendelik.

“ Tentu saja, itu adalah pekerjaanku. Dan aku harus membantu temanku, kan ?”

“ Dan 3 bulan ke depan, kau harus membantuku menyiapkan pernikahanku dengan Eunhyuk Oppa.”

“ Aku sibuk, aku tidak bisa membantumu,”

“ MWOYA ? AWAS KAU CHOI HYE HOON.”

***

Aku melihat-lihat brosur gedung-gedung untuk venue pernikahan yang diserahkan asistenku tadi pagi. Aku harus memilih tiga dari puluhan gedung yang ada di brosur ini, dan aku harus memilihkan yang terbaik, aku tidak boleh mengecewakan eomma.

Suara ketukan di pintu mengalihkan fokusku. Assistenku, Lee Jin Ki, membukakan pintu dan masuk bersama pasangan yang menjadi klienku.

Mataku melebar melihat siapa yang datang bersama asistenku itu.

‘ Secepat itukah aku harus menemuinya ? Aku…. belum mempersiapkan hatiku.’

Lee Donghae’s POV

Eomma tidak main-main dengan ucapannya. Dia benar-benar telah mempersiapkan pernikahan kami. Aku benar-benar tidak suka keadaan ini. Aku baru 6 bulan mengenalnya, dan aku harus menikahinya ? Kalau Appa tidak mengancamku untuk menikah dengan ancaman riwayat kesehatannya , aku pasti akan menolak pernikahan ini mentah-mentah.

Gadis kekanakkan ini menarik tanganku memasuki gedung ini. Lalu setelah kami sampai di meja resepsionis, ada seseorang yang mengantarkanku untuk menemui orang yang akan membantu mempersiapkan pernikahanku.

‘ Kenapa tiba-tiba jantungku berdetak kencang?’

Aku menepiskan pikiran bodohku dan mengikuti langkah kaki dua orang di depanku ke sebuah ruangan di gedung ini.

Aku melihat seorang wanita sedang menatap kami dengan seksama.

‘ Choi Hye Hoon ? Aissh eomma selalu memberi kejutan yang tidak terduga untukku’

Dia membungkukkan badannya sopan.

“ Annyeonghaseyo, Choi Hye Hoon imnida. Bangapseumnida. “

Dia menatap ke  arah  Min Ji, tunanganku, dan memperkenalkan dirinya .

“ Annyeonghaseyo, Kim Min Ji Imnida. Ah, sebentar lagi marga ku akan berubah menjadi Lee.” ,ujar wanita itu dengan riang.

‘Sangat ingin menikah denganku, huh’ , cibirku.

Dia menatapku dengan senyumannya yang khas.

‘ Aku sangat merindukannya’.

“ Annyeong Donghae~ssi, oremanieyo.”

Sapaan itu lebih buruk daripada sebutan ‘namja pabo’ nya itu.

Aku menyunggingkan senyum kaku, seperti orang yang belajar tersenyum setelah sekian lama tidak melakukannya.

“ Annyeong Hye Hoon~ssi”.

Aku tidak mau tunanganku itu bertanya-tanya apa hubunganku dengannya, aku merasa ini lebih baik.

“ Hari ini kita akan melihat-lihat beberapa gedung untuk pernikahan kalian, kalian bisa memilih salah satu.”

***

Aku tidak mendengarkan penjelasan yang diberikan Hye Hoon tentang gedung ini, aku lebih suka memperhatikan wajah seriusnya ketika bekerja. Dia terlihat lebih dewasa, tapi tetap saja dimataku ia adalah gadis kekanakkan yang bisa dibujuk hanya menggunakan secangkir es krim cokelat >_<

“ Donghae~ssi, bagaimana? Apakah kau juga suka gedung ini? Min Ji~ssi sudah setuju untuk menggunakan gedung ini untuk resepsi pernikahan kalian.”

“ Ne ? Ah ye. Aku suka.”

‘ Aku suka padamu, Hoon~ah.’

Gadis yang sedang bergelayut manja di lenganku semakin mempererat cengkeramannya. Aku tahu kalau kelakuannya seperti ini, dia pasti menginginkan sesuatu.

“ Oppa, aku ingin makan jjangmyeon. Kita makan di restaurant favoritku ? “

Dia mengeluarkan aegyonya di hadapanku. Aku sama sekali tidak terpengaruh. Tapi, apa boleh buat ? Aku juga perlu mengisi perutku setelah seharian berjalan-jalan di beberapa gedung yang berbeda.

“ Saya rasa tugas saya hari ini sudah selesai. Saya mohon pamit.”

‘ Berpisah dengannnya saat ini ? Andwae, aku masih merindukannya =_=’

Aku akan mencoba menahannya pergi.

“ Hye hoon~ssi, sebaiknya anda ikut makan bersama kami. Atau ingin saya mengantarkan anda pulang ?”

Aku sangat tidak nyaman berbicara formal padanya. Tetapi hubungan kita berdua memang tidak seperti dulu lagi. Aku sedih mengingat kenyataan ini.

“ Tidak perlu. Aku sudah menghubungi seseorang, dan dia berjanji akan menjemputku.”

Suara cempreng Min Ji menginterupsi kami.

“ Ajak saja dia untuk makan bersama kita”.

***

Aku merutuk wanita di sampingku ini. Dia beraninya mengundang pria itu makan malam bersama kami ? Gadis manja ini tidak mengetahui kalau dia adalah rival terberat calon suaminya.

“ Kyuhyun~ssi, kapan kalian akan menikah? Kalian adalah pasangan yang serasi.”

‘ Pasangan serasi ? Otak gadis cerewet ini benar-benar terganggu.’ Aku mengepalkan tanganku yang berada di bawah meja saat melihat semburat rona merah muda nampak di pipi mulusnya.

“Kamsahamnida, Min Ji~ssi, aku pasti akan segera melamarnya.”

Aku semakin mengeratkan kepalan tanganku saat dia mengucapkan kalimat itu sambil bertatapan dengan ‘gadisku’ dan menggenggam tangannya erat.

Aku berdehem pelan untuk menghentikan aksi mereka. Dan kurasa tindakanku berhasil. Hoon-ku dengan malu-malu melepaskan tangannya dari tangan laki-laki itu.

“ Chagiya, kau ada waktu luang ? Bagaimana kalau kita berlibur di Jeju? Aku sudah lama tidak kesana.”

“ Kau lupa ? Kita sedang mempersiapkan pernikahan kita. Kita tidak mungkin seenaknya berlibur. Apa kau mau membatalkan pernikahan kita?”

‘ Bingo! Tepat sasaran. Ia langsung membelalakkan matanya’

“ Kalau begitu, kita bulan madu di Jeju. Aku tidak menerima penolakan.”

Choi Hye Hoon’s POV

“ Kalau begitu, kita bulan madu di Jeju. Aku tidak menerima penolakan.”

Aku menunduk setelah mendengar pernyataan itu. Mataku memanas. Bulan madu ? Mereka akan segera menikah, pasti sudah ada rencana untuk bulan madu, Hye Hoon bodoh.

Mengingat kata ‘ mereka akan menikah’ membuat hatiku nyeri. Aku seperti mendengar kata keramat yang akan membuatku mati perlahan. Tetapi itulah kenyataannya. Mereka akan menikah dua minggu lagi.

“ Ara. Kau puas ?”

Dia mengacak rambut calon istrinya pelan.

‘ Bisakah aku memutar waktu agar bisa mendapat perlakuan hangat lagi darinya lagi ?’

***

Eomma calling….

“ Yeoboseyo, ada apa eomma”

“ Eomma lupa memberitahukannya padamu. Kau tidak perlu memilihkan baju pengantin untuk mereka, karena eomma sudah mempersiapkannya.”

“  Ne, eomma. Kamsahamnida.”

Aku melirik jam tanganku sebentar. Kemana mereka? Aku sudah menunggunya setengah jam, tetapi mereka belum terlihat.

Ada seseorang yang menyodorkan sarung tangan di hadapanku.

Aku menerima benda itu dengan ragu.

“ Kenapa tidak menunggu di dalam? Cuaca hari ini sangat dingin, Hoon~ah”

Aku tertegun karena mendengar lagi nama itu dari bibirnya. Aku sangat merindukan suara itu memanggilku dengan panggilan kesukaannya . Aku tersenyum singkat.

Dia sendirian?

“ Donghae~ssi, kemana Min Ji~ssi?”

“ Dia tidak ikut. Dia sedang memanjakan dirinya di salon. Dan Hoon~ah jangan memanggilku seperti itu lagi. Aku tidak suka kau berbicara formal padaku. Kaja, kita masuk. “

***

“ Hoon~ah, kau suka ?”

“ Kenapa kau bertanya padaku? Ini kan untuk pernikahanmu.”

Aku sangat kesal. Dia memaksaku memilihkan mencicipi semua makanan disini. Cih, Lee Donghae yang menyebalkan sudah kembali rupanya.

Aku menggembungkan pipiku.

Dia mencubit pipiku gemas.

“ Aku menyukai apa yang kau sukai, Hoon~ah. Jadi jangan protes.”

“ Kau lupa aku wanita? Aku takut gemuk kalau memakan banyak makanan seperti ini. Kau sangat menyebalkan,”

“ Sejak kapan kau mengkhawatirkan berat badanmu? Apa karena kau takut Kyuhyun meninggalkanmu kalau kau berubah jadi jelek?”

Cissh aku tidak akan pernah menang jika berdebat dengannya.

***

“ Aku rasa ini bukan arah ke rumahku. Apa tinggal lima tahun di Amerika membuatmu lupa jalanan di Seoul ? “

“ Ani. Aku memang akan membawamu ke suatu tempat.”

“ Yak ! Beraninya kau membawaku kemanapun tanpa izinku. Putar balik sekarang!”

“ Ini yang terakhir, Hoon~ah. “

Deg

Kata sederhana itu sukses membuatku diam. Dadaku terasa sesak.

***

Aku sangat merindukan pantai. Sudah lama aku tidak menikmati tempat yang kusukai ini. Semua orang di sekitarku selalu sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Aku ingat terakhir aku kesini saat Kyuhyun melamarku. Ah, aku tidak mau mengingat hal itu sekarang.

“ Aku akan menunggumu sampai kau siap, Hoon~ah.”

Aku memejamkan mataku saat mengingat kata-kata itu keluar dari mulut kekasihku. Aku memang belum menerima pinangannya. Aku tidak tahu alasan sebenarnya kenapa aku belum siap menikah. Karena aku ingin fokus bekerja, mungkin? Atau mungkin karena aku bingung dengan perasaanku sendiri?

“ Kau selalu memikirkannya jika aku membawamu kesini. Ahh, aku lupa kalau kalian sudah menjadi sepasang kekasih sekarang. Kau pasti bahagia, kan ?”

Entah kenapa amarahku meluap mendengar kalimat yang keluar dari bibirnya.

“ Tentu saja.”

“ Baguslah, setidaknya aku tidak sia-sia melepasmu”

“ Kau selalu membuatku marah, Lee Donghae.”

“ Aku anggap itu sebuah pujian.”

“ Kau memang laki-laki bodoh.”

Aku mendengar isakanku sendiri. Entah sejak kapan, air mataku meluncur begitu deras dari kedua mataku. Aku tidak bisa mengkontrol perasaanku sendiri.

Dia menghapus cairan bening yang menetes di pipiku. Aku semakin terisak.

“ Aku benci kau, namja pabo.”

“ Aku mencintaimu, Hoon~ah. Dan sekarang aku yakin, kau merasakan hal yang sama.”

Berada sedekat ini dengannya membuatku tak berkutik. Menghirup aroma tubuhnya membuatku gila. Apalagi dengan pernyataan cintanya itu, dia benar-benar berniat membunuhku rupanya.

“ Kau lupa kau akan menikah? Kenapa kau malah merayuku?”

“ Aku bisa membatalkan semuanya, Hoon~ah. Cukup kau bilang kau tidak ingin kehilanganku dan aku akan membatalkan pernikahan sekarang juga. ”

” Aku tidak akan pernah memintamu melakukan semua itu, karena aku memang tidak menginginkannya.”

***

Donghae’s POV

Suara ketukan pintu terdengar di balik pintu.

“ Donghae~ah ini eomma.”

“ Masuklah, eomma.”

Kulihat eomma memasuki ruangan ini dan berdiri di samping ranjangku.

Aku menegakkan tubuhku dan duduk menyender pada ranjang.

“ Bisakah kau jelaskan pada eomma kenapa Min Ji tadi menangis ?”

Aku mendengus kesal.

“ Jadi gadis itu mengadu pada eomma?”

Eomma tidak menghiraukan pertanyaanku.

“ Kenapa kau memutuskannya? Kenapa kau membatalkan pernikahan kalian?”

Aku menjawab santai.

“ Eomma pasti tahu alasanku.”

“ Berhenti mengharapkan gadis itu, Donghae~ah. Dia sudah memiliki orang lain.”

“ Tidak eomma. Aku akan memperjuangkan cintaku sampai kapanpun, apalagi setelah aku tahu dia juga mencintaiku.”

Aku tersenyum mengingatnya.

Eomma mengacak rambutku pelan.

“ Baiklah, eomma akan memberitahukan kepada orang tua Min Ji untuk membatalkan pernikahan kalian.”

“ Gomawo, eomma.”

“ Cepatlah jadikan Hye Hoon istrimu.”

“ Tentu eomma, aku akan segera menikahinya.”

***

Choi Hye Hoon’s POV

Tubuhku terasa remuk. Bagaimana tidak ? Selama seminggu ini aku sibuk mempersiapkan pernikahan laki-laki itu.

Aku duduk di pinggir ranjang sambil membuka surat undangan yang kuterima 3 hari lalu.

Aku tersenyum miris. Besok dia akan berjanji sehidup semati dengan wanita lain.

Suara bel berbunyi berkali-kali.

Aku melangkahkan kakiku dengan langkah lebar. Aku takut tetangga akan terganggu dengan suara bel itu =_=

Aku membuka pintu dengan cepat dan menemukan orang yang sangat kurindukan disana.

“ Yak ! ini sudah malam, kau..”

GREP

Dia memelukku erat. Bahunya bergetar.

“ Mianhae, Hoon~ah. Aku takut kalau aku tidak akan bisa bertemu denganmu lagi. Cukup lima tahun lalu aku kehilanganmu dan aku tidak mau hal sama terulang kembali.”

***

Dia menyenderkan kepalanya di bahuku. Kami sudah berada dalam posisi ini selama beberapa menit.

Dia benar-benar gila ! Bagaimana dia berkeliaran di rumah wanita lain sedangkan dia akan menikah besok ?

Dia mengubah posisinya dan menatap tepat di manik mataku. Tatapannya menyiratkan kesedihan, tetapi aku masih melihat perasaan cinta yang begitu dalam untukku.

“ Hoon~ah, Katakan kau mencintaiku .”

“ MWO ? Kenapa aku harus mengatakan itu, aku tidak pernah mencintaimu, Tuan Lee”

“ Kau tak bisa selamanya membohongi perasaanmu sendiri, Hoon~ah”

Air mataku turun. Aku sudah tak sanggup menahan beban ini lagi. Isakan kecil terdengar dari bibirku.

Dia merengkuhku ke dalam pelukannya.

“ Uljima.”

Aku menangis sampai tubuhku merasa lelah hingga aku terlelap di bahunya.

***

Aku membuka mataku saat merasakan sesuatu yang basah mengenai pipiku. Aigoo, sejak kapan aku doyan membuat pulau seperti ini ?

Pertama kali aku bangun dari tidurku dan melihat pemandangan seindah ini.

Dia sangat tampan. Kenapa aku baru menyadarinya ? ^^

Aku mencermati sudut bibirnya yang basah. Oh, jadi dia yang membuat pulau baru di bantal ini ? Dasar Jorok >_<

Aku tersenyum melihatnya.

Pria berisik ini berubah menjadi malaikat jika sedang tidur. Neomu Kyeopta^^

“ Apakah kau sudah puas melihat namja bodohmu yang tampan ini?”. Dia membuka mulutnya tapi matanya tetap terpejam. Aissh kadang-kadang percaya dirinya itu suka terlalu over seperti ini. Menyebalkan.

“ Kau percaya diri sekali, namja bodoh”

Aku mencoba melepaskan pelukannya, tapi ia malah mengeratkan pelukan kami.

“ Aku tidak akan melepasmu sebelum kau memberikan morning kiss padaku.” Ia membuka matanya sambil tersenyum genit ke arahku. Dasar mesum =_=

“ Baiklah. Aku sedang berbaik hati padamu.”

Dia memejamkan matanya sambil memanyunkan bibirnya ke depan.

Aku malu ><

Aku mengecup bibirnya singkat.

“ Sudah, kan ? Lepaskan aku.”

“ Aku masih ingin menatap gadisku.”

“ Ara. Aku akan membiarkanmu menatapku sepuasnya.”

Kami hanya saling menatap dalam keheningan yang kami ciptakan sendiri.

“ Hoon~ah”

“ hmm”

“ Kau belum menjelaskan kenapa kau belum menjelaskan kenapa kau memanggilku dengan sebutan pangeran salju”

“ Kau benar-benar penasaran ?”

“ Ya”

“ Aku sangat menyukai pangeran salju itu. Aku pernah berjanji aku akan menikahinya jika aku sudah besar. Jangan mentertawaiku, itu kan janjiku saat masih kecil dulu.”

“ Kalau begitu , kita menikah sekarang.”

“ MWO ? “

-END-

Makasih yaa yang udah baca ^^

97 thoughts on “What Should I Do?

  1. klo dipikir secara logika sih mending milih orang yg mencintai kita karna mereka bisa bahagiain kita right? Wkwkwk
    Syukurlah hye hoon sma donghae kan yg mati-matian dptin hye hoon kan donghae hehehe 😁

  2. Ceritanya bagus kok kak, tp sayangnya kyuhyunnya ilang tanpa kejelasan jadinya kaya ada yg kurang. Tp untuk keseluruhan bagus kok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s