I Hate Coffee


Author : elsagyu

Cast       : Choi Hye Hoon , Lee Donghae, Cho Kyuhyun

Genre   : Romance, sad

Rating   : PG 13

Length  : One Shoot

“ I love everything about him. I can change my liking because of him.”

Choi Hye Hoon POV

Aku mengesap coffee di dalam cup yang aku genggam sedikit-sedikit. Takut kalau aku langsung meneguknya sekaligus, aku tidak akan bisa menikmati rasanya. Rasanya memang pahit, tetapi di dalam rasanya itu aku bisa menikmati kehadirannya. Aku memenjamkan mataku, lalu sekelibat bayangan itu muncul.

“ Hoon~ah, kau memesan coklat panas lagi?”. Aku memutar bola mataku. Dia memprotes tentang hal ini lagi? Dia memang laki-laki terbawel yang pernah kukenal selain Appaku. Aku memang menyukai coklat, jadi apa salahya? Dia ingin aku meminum cairan kental pahit itu ? Cih, itu tidak akan pernah terjadi.

“ Wae? Berhentilah menodongku untuk menyukai hal yang kau suka! Dan lagi, kau jangan terlalu banyak minum coffee, itu akan merusak kesehatanmu.” Aku mengaduk-aduk secangkir coklat panas yang terletak di meja di hadapanku tanpa menatapnya sedikitpun.

Dia seakan mengerti dengan sikap diamku, kalau aku sedang marah kepadanya. Dia menghembuskan nafas pelan. “ Arasso. Tapi suatu saat kau juga akan menyukai Coffee, sama sepertiku.”

Tebakanmu benar, Tuan Lee. Aku memang sangat menyukainya sekarang. Setiap hari aku tidak mementingkan urusan perutku dan dengan hanya meminum coffee ini saja membuat perutku kenyang. Dan hobby-mu yang selalu lembur di kantor pun menular padaku. Kau puas,  Lee Donghae~ssi ?

“ Hye Hoon~ah, maaf bukannya mengusirmu. Tapi aku harus pulang sekarang. Ini sudah sangat malam, apa kau mau aku mengantarmu?”. Sang pemilik toko menegurku. Kami memang sudah saling mengenal cukup lama. Dia adalah sahabat karib tunanganku.

“ Tidak usah, Hyukie~ya. Aku bisa pulang sendiri. Dan terima kasih kau sudah memberikan beberapa cangkir coffee gratis untukku.” Aku tertawa pelan, mungkin sedikit dipaksakan. Aku seakan tidak mengenal apa arti senyum atau tawa itu sekarang.

“ Bisakah kau menghentikan semua ini? Ini akan menyiksa dirimu sendiri dan Donghae pasti tidak akan suka melihatmu seperti ini, Hye Hoon~ah.”

***

Aku terbangun saat alarm dengan nada yang sama seperti biasanya mengganggu tidurku. Aku bergegas turun dari ranjang dan membersihkan diri. Aku memperhatikan wajahku di cermin. Mataku sembab dan terdapat lingkaran hitam di bawahnya. Mukaku pucat, seperti mayat hidup. Setelah itu, aku mengenakan pakaianku dan mengulaskan make up ke wajahku seadanya.

Aku memang selalu meminum beberapa cangkir kopi di malam hari. Aku tak mau melewatkan sedikitpun waktuku untuk tidak merasakan kehadirannya di dekatku, karena hanya cairan hitam itu yan g bisa membuatku seakan berada dengan jarak dekat dengannya. Jadi, setiap hari aku selalu tidur tengah malam atau bahkan tidak tidur sama sekali.

Aku cepat-cepat menuruni tangga dan dua orang yang berada di meja makan pun menatapku lekat. Aku menghampiri mereka, duduk di depan ibuku dan menyambar piring yang terdapat sandwich isi coklat di atasnya. Aku mulai memasukkan potongan sandwich itu ke mulutku.

“ Kau tidak ada acara hari ini ? Seperti yang eomma katakan sebelumnya, kau harus menghadiri acara makan malam kita dan keluarga Cho.” Eomma membicarakan hal itu lagi. Dan aku tidak punya alasan apapun untuk menolak. Dan aku tidak boleh mengabaikan perhatian orang tuaku. Mereka pasti tahu apa yang terbaik untukku.

“ Baiklah, eomma. Aku pasti akan datang.” Aku memanggil pelayan dan menyuruhnya untuk membuatkan secangkir kopi hangat untukku. Aku yakin sebentar lagi eomma akan mengomeliku tanpa henti. Tapi aku tidak peduli. Karena meminum cairan pahit itu akan membuat pikiranku lebih segar.

Kali ini tebakanku salah. Eomma malah menangis dan aku mendengar isakannya. Aku benci melihatnya seperti ini. Aku tahu kalau sikapku tiga tahun terakhir ini membuat orang yang berada di sekitarku terluka. Tetapi aku tidak bisa mengakhirinya kecuali dia kembali padaku.

***

Rasanya aku ingin segera malam ini berakhir. Aku benci memakai high heels seperti ini ditambah dengan gaun ketat yang membalut tubuhku. Ini hanya makan malam di rumah dan aku harus berdandan seperti ini? Ck, sebenarnya laki-laki seperti apa yang membuat eomma membuatku seperti ini? Aku memang menolak untuk melihat fotonya, karena suka ataupun tidak, dia akan segera menjadi suamiku.

Aku segera melangkahkan kaki ke luar kamar. Aku ingin makan malam membosankan ini segera berakhir. Setelah jarakku dekat dengan mereka , keluarga Cho tepatnya, aku menundukkan kepalaku dan tersenyum kaku.

“ Annyeong haseyo, Choi Hye Hoon imnida. Bangapseumnida.” Aku membunggukkan tubuhku untuk menyapa mereka. Aku membubuhkan sedikit senyum kaku hanya sekedar untuk beramah-tamah.

Aku menduduki kursi di samping eomma, dan di depanku ada lelaki yang akan dijodohkan denganku. Namanya Cho Kyuhyun. Sikapnya sedikit dingin dan tidak bersahabat. Dia mengacuhkanku dan lebih berkonsentrasi kepada makanannya. Dia mengabaikanku rupanya.

Aku sama sekali tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Aku hanya mengangguk sesekali ketika mereka memanggil namaku dan menanyakan pendapatnya kepadaku. Aku sama sekali tidak ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Aku yakin mereka pasti akan membicarakan tentang pernikahan.

***

“ Cepatlah pilih, Hoon~ah. Nanti minumannya dingin.” Dia menyunggingkan senyum lebarnya dan terlihat seperti …. mengejekku? Kemana sifat romantisnya itu? Dia hanya menyodorkan secangkir hot chocolate dan Americano coffee untuk melamarku? Sepertinya otaknya sudah tidak waras karena terlalu banyak bergaul dengan lelaki mukanya mirip monkey itu. Aku harus menjauhkan tunanganku yang tampan ini darinya. Menyebalkan.

“ Oke, tapi kau yakin tidak akan menyesal?”. Aku memamerkan smirk-ku dan segera menyambar Hot Chocolatte yang ada di sisi kanan meja ini.

Matanya melebar. Aku yakin ia sangat terkejut sekarang. Bagaimana bisa tunangannya yang sangat mencintainya itu menolak lamarannya? Aku memasang ekspresi datarku tetapi sebenarnya aku sangat ingin tertawa terbahak-bahak sekarang. Raut mukanya sangat lucu. Ia terlihat sangat kecewa.

“ Kau yakin, Hoon~ah? Kau tidak mau menikah denganku?”. Dia terlihat sangat sedih, dan aku yakin sebentar lagi air mata akan keluar dari kelopak matanya. Oke, aku tidak tahan melihatnya dan mulai tertawa keras sambil memegangi perutku. Aku mengabaikan tatapan heran darinya dan dari semua pengunjung yang hadir di café ini.

“ Aku akan menikah denganmu, oppa. Aku hanya tidak ingin meminum kopi itu. Berhentilah memaksaku untuk menyukai hal yang kau suka.”

Senyuman bahagianya membangunkanku dari tidurku. Hampir setiap malam aku memikirkannya, bahkan mimpiku selalu berhubungan dengannya. Aku tidak mungkin melupakannya begitu saja. Senyumannya itu masih melekat di pikiranku. Semua tentangnya masih tertata rapi di otakku.

“ Agassi, Tuan Cho Kyuhyun mencarimu.”

***

Pria dingin ini tiba-tiba mendatangi rumahku dan memaksaku untuk ikut dengannya. Aku tidak mungkin menolaknya. Setidaknya kemarin ia sudah resmi menjadi calon suamiku.

Dia membawaku ke sebuah taman kota. Aku tidak menyangka orang sepertinya juga suka ke tempat seperti ini. Aku memang tidak tahu apapun tentangnya. Aku tidak mengenal calon suamiku sendiri.

“ Choi Hye Hoon~ssi, aku rasa kita tidak akan bisa menolak pernikahan ini, kan ? Jadi kurasa kita harus memikirkan bagaimana pernikahan ini nantinya.”

“ Kau ingin pernikahan kontrak? Baiklah. Kita akan menikah berapa lama? 3 bulan ? 6 bulan? Atau 3 tahun?”, sambarku.

Aku yakin dia tidak suka dengan perkataanku. Dia mengepalkan tangannya untuk menahan amarahnya.

“  Aku ingin kita pernikahan kita berhasil walaupun kita tidak saling mencintai, Choi Hye Hoon~ssi.”

***

Cho Kyuhyun segera pergi setelah dia mengatakan hal itu. Yang dikatakannya benar. Pernikahan itu bukan sekedar menyatukan kita berdua, tetapi menyatukan keluarga kita juga. Jadi, berhasil atau tidaknya pernikahan kita akan berpengaruh pada keluarga kita juga.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling dan melihat ada sepasang kakek-nenek yang sedang duduk di bangku taman. Mereka berpelukan. Kenangan itu muncul begitu saja di otakku.

“ Oppa, apa ada yang aneh dengan mereka?”. Aku menujuk ke arah pandangannya. Di sana terlihat seorang kakek sedang berjalan tertatih-tatih dibantu dengan seorang nenek tua yang memapahnya. Dia hanya memandangku dan tersenyum singkat.

“ Anieyo. Aku hanya membayangkan masa depan kita seperti itu.”

“ Kita?

Dia menganggukkan kepalanya singkat.

Aku menatapnya tidak mengerti. Seakan tahu maksudku, dia mulai menjelaskannya.

“ Aku ingin kita seperti itu lima puluh tahun ke depan. Saling mencintai selamanya. Aku ingin selalu berada di sisimu selamanya.”

Aku tersenyum singkat. “ Ara, Tuan Lee. Aku pasti akan berada di sisimu selamanya. Walaupun menjadi budakmu sekalipun.”

Aku menyenderkan kepalaku di bahunya dan memeluk tangannya. Dia membalasnya dengan melingkarkan tangannya di pinggangku.

TES

Tak terasa air mata menetes di pipiku. Butiran air mata itu semakin banyak sehingga membuat pandanganku kabur. Aku memegang dadaku yang terasa sakit. Sakitnya seakan membunuhku perlahan.Selama ini aku selalu mencoba menahan air mata itu, mencoba terlihat tegar di depan semua orang padahal hatiku sangat rapuh.

‘ Aku harus menikah dengan orang lain, oppa~ya. Ottokae ?’

***

Aku melihat pantulan diriku di cermin. Muka pucat dan lingkaran mataku memang sudah hampir tak terlihat. Aku memang tidak terlalu cantik, tetapi orang-orang bilang kau akan terlihat lebih bercahaya di hari pernikahanmu,kan?

Aku terduduk di meja rias, menunggu seseorang, tepatnya appaku, membawaku ke depan altar. Aku harus menjalani prosesi pernikahan dan akhirnya hidup bersama dengan orang asing.

‘ Kalau kau masih ada disini, aku tidak akan mengalami hal ini, oppa.’

Ketukan pintu bercat putih itu menyadarkanku dari lamunanku. Aku menghapus cairan bening yang sempat keluar dari sudut mataku. Memikirkan kalau aku akan menikah dengan namja selain Donghae Oppa membuat hatiku perih dan air mataku turun begitu saja.

Appa pasti sudah mencariku. Dia mencariku untuk membawaku ke altar. Aku tersenyum miris. Aku tidak bisa melakukan apapun sekarang selain menikah dengan namja yang tak kukenal itu.

Aku membuka pintu dan tertegun saat melihat seseorang yang ada di balik pintu. Apakah aku bermimpi? Atau aku sedang membayangkannya ada di hadapanku?

Aku mencubit pipiku pelan. Sakit.

“ D-Donghae Oppa?”

Dia hanya tersenyum menatapku. Tubuhnya yang berada di kursi roda itu terlihat lemah. Dahinya masih tertutup perban. Aku meletakkan telapak tanganku di bibirku untuk menahan isakan kerasku.

Aku mensejajarkan wajahku dengannya, tak peduli dengan gaun putihku yang menyentuh lantai. Wajahnya tidak berubah sedikitpun, tetapi masih pucat. Aku meraba kedua pipinya dan mendekatkan wajahku padanya. Menatap matanya lekat.

“ Bogoshipeo, Oppa.”

Tangisanku semakin menjadi saat ia mendekapku erat dalam pelukannya dan membelai rambutku dengan lembut.

“ Nado, Hoon~ah.”

***

Three Months Later

“ Aku akan mengambilkan minum untukmu.”

“ Aniyeo, Oppa. Biar aku saja yang mengambilkannya. Kau duduk disini. Dan aku tidak menerima protes darimu.” Aku memeletkan lidahku dan segera menuju meja kasir untuk memesan minuman.

Aku tidak mengizinkannya bergerak banyak. Dia masih dalam proses terapi setelah empat tahun mengalami koma. Dia selamat dari kecelakaan pesawat tiga tahun lalu. Saat itu, dia berencana ke Jepang untuk menemui orang tuanya dan membawanya ke Seoul untuk melamarku.  Orang tuanya tidak mengenalku maka akhirnya aku tidak mendapat kabar apapun tentangnya. Aku sangat bersyukur dia masih bisa ada bersamaku.

Aku mendekatinya yang sedang memandangi orang-orang yang berlalu-lalang. Ini tempat favorit kami. Café milik Hyuk Jae. Aku meyodorkan segelas minuman padanya dan dia menatapku heran. Matanya melebar.

“ Kau tidak boleh minum Coffee, Tuan Lee.” Aku tersenyum ketika ia mulai menikmati secangkir coklat panas di hadapannya.

Dia memandangi cangkirku dengan seksama. “ Kau memesan Coffee, Hoon~ah?”

Aku membulatkan mataku dan meletakkan tanganku di atas pinggang. “ Wae? Kau tidak suka? Bukannya Oppa selalu memaksaku untuk meminumnya?”

“ Anieyo. Aku senang kau mulai menyukainya. Apa kau tahu kenapa aku suka Coffee?”

Aku menatapnya dengan seksama. Menunggu jawaban yang akan keluar dari mulutnya.

“ Aku suka Coffee karena Coffee membuatku bertemu denganmu”

“ I like Coffee because it reminds me about you.”

-END-

117 thoughts on “I Hate Coffee

  1. Dengan Donghae oppa yah endingnya?? Kirain bakalan dengan Kyuhyun.. kyuhyun sih jutek dan dingin banget disini.. gwencana donghae juga manis dan polos hehehe..

  2. Sbenernya pas baca bagian akhir aku ngga ngerti trus aku baca ulang dan akhirnya mengerti 😁 Aku pikir donghae meninggal makanya si hye hoon sedih bngt eh trnyata cuma sakit 👍 Good deh ceritanya ngga bisa ditebak

  3. dear author-nim, it’s too short ><
    baru aja dapet feel nya, tapi tiba-tiba -END-
    waks :v but still, it's a great story ^^

  4. sejujur ini alurnya agak kecepatan. memang di awal berhasil buat penasaran. ada apa dengan tuan lee, buat saya menerka nerka kenapa? mengapa?
    tapi kemasan akhirnya kurang epik, semacam kecepetan kesannya pingin cepet cepet end. tapi over all ini bagus. untuk kyu tak apalah kau gagal menikah mumpung kau belum mencintai.😘😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s